Anda di halaman 1dari 24

KEBIJAKAN

AKREDITASI DAN MUTU PELAYANAN RS


DI INDONESIA
dr. Desriana Elizabeth Ginting, MARS

Disampaikan pada Pelatihan Infection Prevention Control Nurse (IPCN)


Twin Plaza Hotel Jakarta, 20 Desember 2017
POKOK BAHASAN
1
Pendahuluan
2
Program Indonesia Sehat
3
Kebijakan Nasional Peningkatan Mutu Rumah Sakit
4
Akreditasi Rumah Sakit
5
Penutup
2
LATAR BELAKANG
di dunia: diperkirakan lebih 1 juta
kematian pasien meninggal karena Perubahan paradigma keselamatan pasien
kesalahan penanganan yang dapat
dicegah
WHO
AS: sampai 1.000.000 kematian yang dapat
dicegah/tahun Keselamatan Keselamatan
Keselamatan pasien di pasien di
Eropa: 150 kematian yang dapat pasien di RS pelayanan komunitas/
dihindari/minggu primer publik

INDONESIA BUDAYA MELAPOR


INSIDEN KESELAMATAN PASIEN PERLU
DITINGKATKAN
Sumber: WHO
Baru 103 RS melaporkan insiden
ANCAMAN GLOBAL RESISTENSI
PENDAHULUAN

Deaths attributable to AMR every year


Compared to other major couses of death DAMPAK RESISTENSI ANTIMIKROBA

Mengancam upaya pencegahan dan pengobatan efektif untuk


berbagai infeksi yang terus meningkat, yang disebabkan oleh
bakteri, parasit, virus dan jamur

 Secara global 480,000 orang mengalami MDR TB/tahun


 Mempersulit pemberantasan infeksi HIV dan malaria

Mutu pelayanan kesehatan menurun, karena lama perawatan


memanjang, resiko kematian tinggi
Mengancam upaya pengobatan modern (seperti operasi open
heart, transplantasi organ)
Meningkatkan beban ekonomi, karena perpanjangan lama rawat
 Perkiraan kematian akibat AMR saat ini sebesar 700.000/ thn inap, penggunaan antimikroba yang lebih mahal dan lebih lama
 Tahun 2050- ada 10 juta kematian/tahun karena AMR
 Angka kematian lebih tinggi dibandingkan dengan akibat kanker*
ANCAMAN KESELAMATAN PASIEN
PROGRAM INDONESIA SEHAT
RENSTRA 2015-2019

PILAR 1. PARADIGMA PILAR 2. PENGUATAN PILAR 3. JKN


YANKES
SEHAT
Program
• Peningkatan Akses Program
Program terutama pd FKTP • Benefit
• Pengarusutamaan • Optimalisasi Sistem
kesehatan dalam Rujukan
• Sistem
pembangunan • Peningkatan Mutu pembiayaan:
• Promotif - Preventif asuransi – azas
sebagai pilar utama Penerapan pendekatan gotong royong
upaya kesehatan continuum of care • Kendali Mutu &
• Pemberdayaan Kendali Biaya
masyarakat Intervensi berbasis
resiko kesehatan • Sasaran: PBI &
(health risk) Non PBI

D
T
KELUARGA SEHAT P
K
ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

Penguatan Pelayanan Kesehatan di Indonesia

PROGRAM
PENINGKATAN PROGRAM Terwujudnya
AKSES PENINGKATAN MUTU Akses Pelayanan
• SARANA • AKREDITASI RS Kesehatan Dasar
PRASARANA • AKREDITASI PKM dan Rujukan
• KOMPETENSI SDM yang Berkualitas
• ALAT KESEHATAN Bagi Masyarakat

6
KOMPETENSI FASKES PADA UHC 2019

UHC 2019

KOMPETENSI
PELAYANAN AKSES DAN MUTU
KESEHATAN FASKES

Sistem Pelayanan
Mutu melalui
Sarana Prasarana Alat Kesehatan dan sistem
rujukan akreditasi RS
Farmasi

DISTRIBUSI
Sumber Daya
Kesehatan
KOMPETENSI KOMPETENSI
KOMPETENSI
PROFESIONAL MANAJERIAL
INTERPROFESIONAL
(KLINIS)

KEPEMIMPINAN KEMAMPUAN
KLINIS TEKNIS MEDIS
PENGUATAN RS RUJUKAN NASIONAL, PROVINSI, DAN REGIONAL

Pemenuhan Sumber Daya Kesehatan

*Perpres Nomor 4 / 2017


ttg Wajib Kerja Dr. Spesialis (WKDS)

Pembiayaan
 DAK REGULER
 DAK PENUGASAN

14 20 110
 DAK AFIRMATIF

RS Rujukan RS Rujukan RS Rujukan Untuk pemenuhan sarana, prasarana dan alkes

Nasional Provinsi Regional

8
KONDISI FASKES SAAT INI
PENDAHULUAN

PERBANDINGAN PEMENUHAN SARANA PRASARANA DAN ALKES


PADA RS RUJUKAN (NASIONAL, PROVINSI, REGIONAL) DAN NON RUJUKAN
120,00

100,00 96,878
94,062
91,325
85,429 87,317

80,00 75,184
70,1 68,569 67,513
65,047
SARANA
60,00
PRASARANA
45,800
43,376
ALKES
40,00

20,00

,00
RS Rujukan Nasional (14 RS) RS Rujukan Provinsi (20 RS) RS Rujukan Regional (110 RS) Non Rujukan (530 RS)

9
PERSENTASE PEMENUHAN SARANA, PRASARANA
DAN ALKES RUMAH SAKIT
TAHUN 2016 DAN 2017
TAHUN 2016 TAHUN 2017

14%
26% 30%

58% 29%

43%

69% RS : Pemenuhan SPA > 60% 87% RS : Pemenuhan SPA > 60%
Sumber data : ASPAK Maret 2017
Rasio Dokter Spesialis
Per 100 ribu Penduduk Tahun 2016

WKDS
Wajib Kerja Dokter Spesialis
Perpres Nomor 4 Tahun 2017

Target 10,4
Konsil Kedokteran Indonesia, Desember2016
Realisasi 13,6
MEMBANGUN STANDAR PELAYANAN

MEMBANGUN STANDAR PELAYANAN PADA TIAP LEVEL FASKES


 PRIMER, SEKUNDER DAN TERSIER

Input Proses Output

• Standar fasilitas medik • PNPK •Angka pasien jatuh


•Kepatuhan Clinical Pathway
• PPK
• Standar fas non medik
• CP
HTA •Kecepatan mengatasi
komplain, dll
• Standar SDM
• HTA
• Tarif
• MUTU (Akreditasi)

EFISIENSI COST EFFECTIVENESS INDIKATOR MUTU PELAYANAN


Design & Layout: Lydia Okva Anjelia, S.I.Kom
REGULASI AKREDITASI
PENDAHULUANRUMAH SAKIT

UU No. 44/2009 : Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan RS wajib


terakreditasi secara berkala 3 tahun sekali
Permenkes 34 Tahun 2017 tentang Akreditasi RS
Pasal 4
Pasal 3 (1) Akreditasi dilaksanakan oleh lembaga
(1) Setiap Rumah Sakit wajib terakreditasi. independen penyelenggara Akreditasi yang
(2) Akreditasi sebagaimana dimaksud pada berasal dari dalam atau luar negeri.
ayat (1) diselenggarakan secara berkala (2) Lembaga independen penyelenggara
paling sedikit setiap 3 (tiga) tahun. Akreditasi sebagaimana dimaksud pada
(3) Akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.
ayat (1) dilakukan oleh Rumah Sakit paling (3) Lembaga independen penyelenggara
lama setelah beroperasi 2 (dua) tahun Akreditasi sebagaimana dimaksud pada
sejak memperoleh izin operasional untuk ayat (1) harus telah terakreditasi oleh
pertama kali. lembaga International Society for Quality
in Health Care (ISQua).
REGULASI AKREDITASI
PENDAHULUANRUMAH SAKIT

Permenkes No. 99/2015: Revisi Permenkes 71/2013:


Pelayanan Kesehatan Pada JKN,
masa transisi persyaratan Akreditasi: 5 Tahun

28 November 2013 Faskes yang bekerja sama


dengan BPJS Kesehatan
28 November 2018 Harus Terakreditasi
Regulasi Perumahsakitan  SNARS Edisi 1

PPI  Permenkes 27/2017

Keselamatan Pasien  Permenkes 11/2017

Pelayanan Geriatri (Permenkes 79/2014), RAN Kesehatan Lansia


(Permenkes 45/2016)

PPRA (Permenkes 8/2015)

Rumah Sakit Pendidikan Permenkes 1069/2008 dan PP 93/2015 tentang


RS Pendidikan
Permenkes tentang Pedoman Pengukuran Dan Evaluasi Mutu Pelayanan Rumah Sakit:

12 Indikator Mutu Pelayanan RS


Kepatuhan Penggunaan
1 Kepatuhan Identifikasi Pasien* 7
Formularium Nasional (FORNAS)*
Emergency Respon Time < 5
2 8 Kepatuhan Cuci Tangan*
menit
Kepatuhan Upaya Pencegahan Resiko
3 Waktu Tunggu Rawat Jalan* 9 Cedera Akibat Pasien Jatuh
Kepatuhan Terhadap Clinical
4 Penundaan Operasi Elektif 10 Pathway*
Ketepatan Jam Visite Dokter
5 11 Kepuasan Pasien dan Keluarga
Spesialis*
Waktu Lapor Hasil Tes Kritis Kecepatan Respon Terhadap
6 12
Laboratorium* Komplain*
* Indikator Kinerja Individu Direktur Utama RS UPT Vertikal dan Kepala Balai * Indikator Kinerja Terpilih
Pemantauan Mutu
12,00%
Angka kejadian Penundaan Operasi Elektif
Definisi Operasi elektif adalah waktu yang
9,00% operasional diperlukan pasien sejak dijadwalkan operasi
sampai dengan dilakukannya operasi elektif.
6,00% Jika tidak dilakukan sesuai jadwal maka
disebut terjadi penundaan.
3,00%

0,00% Numerator Jumlah pasien yang mengalami penundaan


operasi elektif.
JAN
FEB
MAR
APR
MEI
JUN
JUL
AGT
SEP
OKT
NOP
DES
JAN
FEB
MAR
APR
MEI
JUN
JUL
AGT
SEP
OKT
NOP
DES
JAN
FEB
MAR
APR
MEI
JUN
JUL
TAHUN 2013 TAHUN 2014 TAHUN 2015 Denominator Jumlah tindakan operasi elektif.
Capaian Target

Ketepatan Jam Visite dokter Spesialis


120,00%
Definisi Visite dokter spesialis adalah kunjungan dokter
100,00% operasional spesialis setiap hari kerja sesuai dengan
ketentuan waktu kepada setiap pasien yang
80,00%
menjadi tanggung jawabnya, yang dilakukan
60,00% antara jam 08.00 sampai dengan 14.00.

40,00% Numerator Jumlah visite dokter spesialis antara jam 08.00


sampai dengan 14.00 yang disurvei.
20,00%

0,00%
JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOP DES JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOP DES JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL
Denominator Jumlah pelaksanaan visite dokter spesialis yang
TAHUN 2013 TAHUN 2014 TAHUN 2015
disurvei.

Realisasi Target

17
Menjaga mutu
Target 2
mutu
International/national standard
A P

S D
Perbaikan mutu
Target 1

A P
baseline
S D

waktu
P; plan, D; do, S: study, A; action

SKEMA UPAYA PENINGKATAN MUTU RUMAH SAKIT 18


Quality improvement  Continuous improvement  Transformasi budaya
Process Output
Input
(Concurrent control) (Backward control)
(Forward control)
TARGET INDIKATOR MUTU
SDM
Brain ware PERBEDAAN/CELAH
Residen
Tenaga Medis Di bawah target
Tenaga Non Medis
Management

Software Kebijakan
Panduan
Prosedur
Hardware A P
Meeting
Infoware Sistem pelaporan Mencari akar masalah
S D
SIMRS

Healthware Motivasi
Improvement Plan Feedback
19
INDIKATOR RPJMN DITJEN YANKES

JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG MEMILIKI


JUMLAH KECAMATAN YANG MEMILIKI MINIMAL 1
MINIMAL 1 RSUD YANG TERSERTIFIKASI
PUSKESMAS YANG TERSERTIFIKASI AKREDITASI
AKREDITASI NASIONAL

*Jumlah Kumulatif 5600*) *Jumlah Kumulatif


4900*) 481*)
384*)
2800*) 287*)
700*) 2018 2019 190*) 2018 2019
2017 2017
350*) 2016 2016
95*)
2015 2015
STATUS AKREDITASI RUMAH SAKIT

JUMLAH RUMAH SAKIT DI INDONESIA


TAHUN 2017 STATUS AKREDITASI RUMAH SAKIT

SWASTA/LAINNYA 1195
BUMN 62 PERDANA
ORGANISASI NON… 570 503; 41% 526; 43%
POLRI 44 DASAR

TNI 127
MADYA
KEMENTERIAN LAIN 18 1.218
PEMDA KOTA 84 UTAMA
PEMDA KABUPATEN 509
PEMDA PROVINSI 135 100; 8% 29; 3% PARIPURNA
KEMENKES 32
60; 5%

TOTAL : 2.776 RUMAH SAKIT 43,87% RS telah terakreditasi


Sumber: RS Online 19 Desember 2017 Sumber: Website KARS 19 Desember 2017
21
TARGET, RENCANA, DAN CAPAIAN AKREDITASI RS 2015-2019
600

500
481

384
KABUPATEN/KOTA

400

287
300

190 259
200
201
94
100

0 53
2015 2016 2017 2018 2019
RPJMN 94 190 287 384 481
Realisasi 53 201 259

65 RSUD 278 RSUD 377 RSUD - -


DAK NF (-) 214 RSUD 142 RSUD Usulan 120 RSUD
Penerima DAK NF Penerima DAK NF Penerima DAK NF 22
PENUTUP
PENDAHULUAN

1. Membangun budaya mutu dan keselamatan pasien adalah


kebutuhan Rumah sakit.
2. Perlu pemenuhan sarana, prasarana, alkes, farmasi, SDM, regulasi,
penggunaan IT dan tata kelola yang baik agar didapatkan produk
Rumah sakit yang bermutu.
3. Permenkes 34/2017 tentang Akreditasi Rumah Sakit diharapkan dapat
mendorong kelanjutan pembangunan budaya mutu dan
keselamatan pasien di Rumah sakit.
4. Perlu upaya semua pihak, agar Rumah sakit yang bekerja sama
dengan BPJS Kesehatan terakreditasi sebelum tahun 2019.
TERIMA KASIH

24