Anda di halaman 1dari 166

I MADE YULISTYA NEGARA

USTAKAAN
RSIPAN
WATIMUR
.31
ID
2
M"nAHATTMU

TI[{IIIl{
TIGRII GfiII TIII GGI
Prinsip dan Aplikasi Praktis

I MADE YULISTYA NEGAHA


TEKNIK TEGANCAN TINCGI
Prinsip dan Aplikasi Praktis l'-
t; i- i.
I ''',,..', I
Penulis: I Made Yulistya Negara
/%2**wZ;,:o
n,,,;:, o';;.;;,,;,'-' I
I
Edisi Pertama
Cetakan Pertama,2013

Hak Cipta O 2013 pada Penulis,


Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam
bentuk apa pun, secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya,
tanpa izin terfulis dari penerbit.

GRAHA ILMU
Ruko Jambusari No. 7A
Yogyakarta 55283
Telp. : 0274-889836;0274-889398
Fax. : 0274-889057
:
E-mail info@grahailmu.co.id

Negara, I MaC' Yulistya


TEKNIK TEGANGAN TIGGI; Prinsip dan Aplikasinya/I Made Yufistya Negara
-Edisi Pertama - Yogyakarta; Graha IImu, 201-3
xvi + 162 hfm, 1 Jil ' : 26 cm.
ISBN: 918-979-756-958-7

1. Teknik I. .Iudul
Kata Pengantar

Jika kita mendiskusikan tegangan tinggi, maka kecenderungan yang kita diskusikan adalah sistem penyaluran
tenaga listrik. Hal ini tidakiah keliru, karena perkembangan tegangan tinggi dimuiai dengan keinginan
membangkitkan tegangan tinggi untuk kemudahan penyaluran tenaga listrik. Jika kita mendiskusikan Iebih
detil ternyata aplikasi tegangan tinggi tidak hanya menyangkut sistem penyaluran tenaga listrik melainkan
penggunaan tegangan tinggi sering kita jumpai pada keseharian. Seperti yang sangat umum kita jumpai
adalah mesil printer dan mesin fotokopi yang ternyata menggunakan tegangan tinggi dc.
Buku ini membahas teknik tegangan tinggi dari sisi yang tidak berhubungan langsung dengan sistem
penyaluran tenaga listrik. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian besar yakni pembangkitan tegangan tinggi
yang dipergunakan untuk pengujian yang dibahas pada bagian I, bagian II membahas proses kegagalan
pada bahan isolasi gas, cair, dan padat. Bagian akhir membahas sekilas tentang fenomena tegangan
lebih sesaat dalam hal ini fenomena petir beserata teknik perlindungannya dan koordinasi isolasi. Buku
ini dikembangkan dari Vorlesungsbegler,tung d,er Hochsytannungstechni,k II bei Dr.-Ing. R.ainer Badent von
Institut fiir Elektroenergiesysteme und Hochspannungstechnik, Universitdt Karlsruhe.
Buku ini ditujukan untuk para mahasiswa teknik elektro, praktisi dan profesional yang ingin mempelajari
prinsip tegangan tinggi beserta aplikasi praktis tegangan tinggi'
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr.-Ing Rainer Badent, Dr.-
Ing. Bern Hoferer yang telah menjadi sahabat selama di Jerman. Penrrlis juga tidak lupa mengucapkan
terima kasih Prof. Masanori Hara dan Prof. Junya Suehiro yang membuat penulis semakin matang selama
menempuh pendidikan di Jepang. Terima kasih penulis sampaikan kepada rekan-rekan Jurusan Teknik
Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember khusus Prof. Ontoseno Penangsang yang telah menerjunkan
penulis pada bidang tegangan tinggi'
Terakhir, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran membangun dari seluruh pembaca demi
penyempurnaan buku ini ke yulistya@ee.its.ac.id.

Penulis

I Made Yulistya Negara


Daftar Isi

1" Pendahuluan 1

1.1 Klasifikasi'Iingkat Tegangan 1


1,2 Sejarah Perkembangan Transrnisi Tegangan Tinggi 2

Bagian I PEMBANGKITAN TEGANGAN TINGGI


Pembangkitan Tegangan Tinggi AC .. 7
2.1 Trafo Uji Tegangan Tinggi 7
2.1,L Konstruksi trafo uji tegangan tinggi . 8
2.1.2 Rarrgkaiansatutingkat ....... 9
2.1.3 Rangkaian pengganti trafo. . I

",.,,' "|.'
,,,ig1ffi$ffi
3 Pembangkitan Tegangan Tinggi DC ..
..... ....... ... . r ...... .* 1l
19
3.1 Besaran besaran tegangan tinggi DC 19
3.2 Penyearah seietrgah gclorrrl )al]g .
. 20
3.3 Penyearah Gelourbaug Pcnrth 2t
oo
3.4 Rangkaian Pelipatganda Tegangan Dc. . . ZJ
3.4.7 Rangkaian Delon . 23
3.4.2 Rangkaian Delon Ganda - Liebenov Greinacher 23
3,4.3 Rangkaian Villard 24
3.4.4 Kaskade Greinacaher (Cochroff - Walton) 24
3.5 Generator Elektrostatik .... 25
3.5.1 Generator Van de Graaff - Generator Pita . . 26
3.5.2 Trommel Generator Felici ' 27
qa
3.6 Soal Telaah LI

4 Pembangkitan Tegangan Tinggi Impuls ,o


4.1 Besaran Besara,n Tegangan Impuls 29
4.2 Rangkaian Pembangkit Tegangan Impuls Satu Tingkat 31
e.l
4.2.I Rangkaian dan Prinsip Kerja Pembangkit Tegangan Impuls
4.2.2 Perhitungan Besaran Besaran Tegangan Impuls 32
4.2.3 Induktansi parasit 35
9r
4.3 Rangkaian Pelipatganda. .. . .
viii TeknikTeganganTinggi; Prinsip danAplikasinya

4.3.7 Rangkaian Pengganti Generator Marx. 35


4.3.2 Perhitungan besaran besaran impuls pada generator Marx 37
4.3.3 Induktansi Parasit 38
4.3.4 Masalah Penyalaan 39
4.4 Soal Telaah 40

5 Arus Impuls 47
5.1 AruslrnpulsEksponensial'.... 47
5.2 Arus inipuls waktu panjang atau arus impuls segiempat 42
5.3 Soal Telaah 43

BagiAN II PROSES KEGAGALAN BAHAN ISOLASI

6 Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas.. 47


6.1 Karakteristik Dasar Gas... 47
6.1.1 Kecepatan l\{olekui Gas . . 47
6.1.2 Panjang Jzrlur Bebas Rata-rata 49
6.1.3 Proses Benturan Elastis 52
6.2 Pembangkitan Pembawa Nfuatan 53
6.2.1 Proses Ionisasi 54
6.2.2 Proses Emisi Permukaatl . 57
6.3 Rekombinasi Pembawa Muatan 60
6.3.1 Rekombinasielektrode .""" 60
6.3.2 Rekombinasi Ruang 60
6.4 Kecepatanlayangdanmobilitas..... 63
6.4.1 Pergerakan pembawa puatan pada vakum 64
6.4.2 Pergerakan pembawa muatan pada gas 65
6.5 Karakteristik arus-tegangan stasioner .. '.. """' 66
6.b.1 Peluahan tak bertahan sendiri (non-self sustained discharge) 66
6.5.2 Peiuahanbertahansendiri(selfsustaineddischarge) .. ..'."' 69
6.6 Perhitungan Tegangan Gagal Statis 74
6.7 Perhitungan Tegangan Penyalaan Dinamis 75
6.7.1 Hukum Paschen . .. .... 77
6.7.2 Pengaruh Kekasaran trlektrode pada Kegagalan . . .. .. . . . 79
6.8 Kegagaian pada Medan Tak-Seragam 80
6.8.1 l{orona 81
6.8.2 Peluahan Streamer 84
6.8.3 Peluahanleader ...;.. 85
6.9 Isolasi Vakum 86
6.9.1 Emisi Elektron pada Vakum 86
6.9.2 Kegagalan Vakum 87
6.10 Soal Telaah 90

7 Kegagalan pada bahan Isolasi Cair dan Isolasi Padat 93


7.1 Kegagalan pada Isolasi Cair . 94
7.1.1 Mekanisme Konduksi pada Dielektrik Cair 95
7.L.2 lVlekanisme Kegagalan pada Dielektrik Cair 103
7.1.3 Jenis Isolasi Cair . . 704
7.2 Kegagalan pada Isolasi Padat . 108
Daftar isi tx

7.2.L Rugi
lVlekanisme Konduktansi dan . . . 108
7.2.2 Padat.
Proses Kegagalan pada Isolasi ...... 119
JenisbahanlsolasiPadat.
7.2.3 ....I25
7.3 Soal Telaah .. . . . 127
8 Fenomena Petir .... 129
8.1 PembentukanBadai ...129
8.2 PeluahanPetir. .......131
8.3 Jenis-JenisPetir.. .....131
8.3.1 Petir Awan-Bumi. . ... . 132
8.3.2 Petir Bumi-Awan. ..... 134
8.4 Efek Parameter Arus Petir . . . 734
8.4.1 Nilai arus maksimum .. 134
8.4.2 lVluatanaruspetir .....135
8.4.3 Energispesifikaruspetir .....136
8.5 Tingkatkecuramartaruspetir .......138
8.6 Deteksi Lokasi Petir . . . 138
8.7 PengamanPetir. ..'...139
8.8 SoalTelaah!!!..i .....141
9 Koordinasilsolasi..... ...143
9.1 Tegangan Lebih Luar .. 144
9.2 Tegangan lebih dalam .. L45
9.3 GelombangBerjalan ...146
9.3.1 Panjang dan pendek secara elektrik .. 146
9.3.2 PersamaanPenghantar .......148
9.3.3PerhitungangeIombangberjaIanpadapenghantar..
9.3.4 Perhitungan sederhana rangkaian penghantar ..... 154
9.3.5 Proses perhitungan gelombang berjalan dengan bantuan "peta jalan gelombang" . . . . 156
9.4 Koordinasilsolasi menurut VDE 0111 ...... 156
9.5 soalTelaah .....159
Pustaka' "' 161
Daftar Gambar

1.1 Perkembangan tegangan transmisi ac .. . 3

2.1 Rangkaian pengganti trafo uji satu tingkat. (1). Inti besi; (2) Belitan primer; (3) Belitan
sekunder; (4) Belitan transfer I
2.2 Diagramtrafouji """' 10
2.3 Rangkaian pengganti trafo uji satu tingkat 10
2.4 Rangkaian pengganti trafo uji satu tingkat beserta besaran-besaran yang diperoleh dari uji
hubung singkat dan uji terbuka 11

2.5 Rangkaian pengganti trafo uji satu tingkat saat berbeban.... 72


2.6 Prinsip rangkaian trafo uji bertingkat ...... ' L2
2.7 Rangkaian pengganti trafo ideal n-tingkat 13
2.8 Tegangan lebih pada trafo uji karena beban kapasitif . 14
2.g Rangkaian resonansi seri untuk pembangkitan tegangan tinggi ac " '''' ' 16
2.10 Rangkaian resonansi paralel untuk pembangkitan tegangan tinggi ac 16

3.1 Rangkaian penyearah setengah gelombang dan bentuk tegangan luaran tanpa beban 20
3.2 Rangkaian penyearah setengah gelombang dan bentuk tegangan luaran berbeban 2T
3.3 Rangkaian penyearah setengah gelombang dan bentuk tegangan luaran berbeban karena
jatuh tegangan pada trafo uji tegangan tinggi . 22
3,4 Rangkaian titik tengah penyearah gelombang penuh . r.,.. 22
3.5 Rangkaian jembatan penyearah gelombang penuh 22
3.6 Rangkaian Delon dan bentuk gelombang masukan dan luaran 23
J. I Rangkaian Delon ganda (Liebenov-Greinacher) dan bentuk gelombang masukan dan luaran . . 24
3.8 Rangkaian Villard dan bentuk gelombang masukan dan hraran 25
3.9 Rangkaian Kaskade Greinacher (Cochroff-Walton) dan bentuk gelombang masukan dan luaran 26
3.10 Generator van de Graaff. . . . . 27
3.11 Tbommel generator Felici 28

4.1 Standar tegangan impuls petir . 30


4.2 Beberapa contoh tegangan impuls dengan osilasi dan overshoot. (a) ,(b) Tinggi tegangan uji
adalah kurva rata-rata (garis putus-putus); (.), (d) Tinggi tegangan uji ditentukan oleh titik
tertinggi kurva . 30
4.3 Standar tegangan impuls kontak 31
4.4 Rangkaian pengganti pembangkit tegangan impuls tipe 1 dan tipe 2 . 32
4.5 Rangkaian pengganti pembangkit tegangan impuls tipe 1 transformasi Laplace 33
4.6 Gelombang tegangan impuls dan komponen-komponennya ' 34
4.7 Rangkaian osilasi pada generator impuls 35
4.8 Rangkaian pengganti generator Marx . 36
4.9 Rangkaian osilasi generator Marx. 38
xu Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

5.i Bcntuk gelombang arus irnpuls cksporrensiai . . . . . 4t


5.2 Diagram skematik rangkaian pengganti perrrbangkit arus impuls eksponensial .... . 42
5.3 Bentuk gelonrbang arus impuls segiempat 42
5.4 Diaglanr skcmatik rangkaian pengganti pembangkit arus impuls segiempat 43

6.1 1>r'r'grrrir-klirr r;ro1rll^ril ilalzitrr gas . " 48


6.2 I-i i,ct. ri l r r s i B r I 1 :r. z r i r i lrn - ii I axri cl 1
r r. r
48
6.3 .\"{o<icl 1:,.lgtr','ii<:tir i.irt.tr l.rr:rtuian c-laiain gas .. 50
6..r Hukrurr 1;:rl.jriirq,]ahrr O1:iirsiLis . . . . 51
6.5 Iouisasi i)clrlirLiiir iiirc i, ir) cir:ktr:orr rnelnberttur molekul; b) mcilekul mcmbentur molekul .... 54
tl. t) Ir,tri.ii-i i)( l.l ilr';r1r r i1r,' l. ;1) erlektlon mernbcntur molekul; b) moiekul membentur moiekul . . . . 54
o.t f ingkat eritrrli-i tiriLtrtirl, a) taripa rnedan listrik; b) akibat pengaruh medarl listrik . 59
6.E i}nisi s,'l rtt;rlr 1,1:,rlrrlr. 60
6.9 Erriisi cluii brrah phcrtori . .. . . 61
6.10 Pro,ses Liga i-.c'uturatl . . . . . 61
6.11 aml.ripr;1ai: difnsi . . ., 62
6.12 xlotlel pcrgclakan cickl ron pada ruang gas akiba,t pengaruh medan listrik . 63
6. i3 Kalirl<t,t'ri-.1 ik arus- LcganiJan stasionr:r . . . . . 67
6.14 prinsip rlar,rraii ()hnr pridii r:lclttrodr: plat sejajar 67
6.15 Skenra 1;er'L,arrlakai r ek:ktlon 68
6.16 Skenra r)rrrl<iiuisl ilo'fblr,nsend 70
6.r 7 Krtrrtlisi nrirlir.rr l)aCii rircl<irlrisrne strr:aurLrr . . . 71
6. 18 Pei lir:nr i rarrga rt st rear-ner 7L
6.19 tiirclllt pr:lrrairiLrr ;llr.rrv . . 72
6.2r) Profil tr:rrrpr:r'atrtt irrrsrrr apl . . 1,7
o.t L Iirirr.a tcgalrgal)-anis busur api . . . 75
6.22 I(araktcristik tcgarrgan-r,vaktu untuk tegangan impuls 76
6.23 Kurva tegangan-waktu untrrk berbagai tegangan impuls 77
6.24 Kurva Paschen 78
6.25 Peningkatan rnedan karena kekasaran permukaan elektrode 79
6.26 Batas kegagalan pada SF6 terhadap kekasaran permukaan 79
6.27 lbgangan gagal dan tcgangan mula pra-kegagalan tergantung pada tingkat kehomogenan
medan 80
6.28 Mekanisme korona rrcgatif 81
6.29 Karakteristik Tiichei pulse. . R.t
6.30 Mode korona negatlf seiring peningkatan tegangan 82
6.31 Nlekanisuie korona positif . 83
6.32 N,fode korona negatif sciring peningkatan tegangan 84
6.33 Nlckauisme streamer 84
6.34 Nlekanisme leader . 85
6.35 I\{ekanisme pertukaran partikcl pacla kegagalan vakum 88
6.36 Mekanisme pemanasan anode pada kegagalan vakum 89
6.37 Mekanisrne pelnanasan katode pada kegagalan vakum 89
6.38 N{ekanisme clunip pada kegagalan vakum 90

7.1 Orde tirrgkat kegagalan material isolasi 94


7.2 Konduktansi arus scarah isolasi rninyak seriring waktu pemberian tegangan 95
7.3 Rangkaian pcrrgganti paralei dan seri 97
7.4 Definisi firktor rugi . . 98
Daftar Gambar xlll

7.5 Kctergantungau ef dan tan d; terhadap frckuensi pada temperatur konstan. e!, : ero-konstan
pada frekuensi rendah ... 100
7.6 KeterganLurrgan ef, €", dan tandp terhadap frckuensi. s adalah daerah dispersi anomali ...,, 102
7.7 Ketergantungan ef dan tan d isolasi minyak terhadap frekuensi ... 102
7.8 Struktur rrolekul dari mirryak mineral ....... 105
7.9 Skematik ilizrgronr pcrubahan dar-a, hanta.r arus scarah isolasi padat seiring waktu .. '. 109
7.10 Skema encrgi rurtuk (ir)Kon<Liktor: (b)Scirrikonduktor: (c)Isoiator. PK:Pita I(onduktansi,
P\r:PitaValensi, Dl':f)aerah tt:rlarang .... 111
7.11 Skema pita euergi untuk isola,tor. PK:Pita Konduktansi, PV:Pita Valensi, DT:Daerah
ter'larang tlertgarr clektron. I'l Jarak Pita . . .. 111
7.12 Ketergzrntuugart antara, daya h:rntar arus searah dan kuat medan .. ' '.. 113
7.13 Penggattrbai'an nrclclel prolarisasi batas pcrmukaan.. .... " ' 115
7.14 Prinslp ketergantungan konstarrta didcktrik e,. dan faktor mgi tan6, terhadap frekuensi
padzl ternperatur d : 20"C 116
7.15 Ketcrgantungan koristanta clielektrik e,. dan faktor rugi tand terhadap temperatur 116
7.16 (a)Bahan dielektrik padat dengan rongga udara; (b)Rangkaian pengganti bahan dielektrikum
dengan rolrgga udara . 777
7.17 Bentuk l,egtrngan dan arus pada dielektrikurn dengarl rongga udara tanpa dan dengan
peluahan pada rongga 118
7.18 Ketergantungan faktor rugi tand76. terhadap tegangan Vp. (a) Untuk sebuah rongga udara;
(b) Untuk beberapa rongga udara dengan konclisi penyalaan berbeda t20
7.19 KetcrgarltLlirgan i<uat mcdan gagal -Ea terhadap vu'aktu pengoperasian t20
7.20 l(etelgantringan kuat medan gagal ,Ea terhadap rvaktu pengoperasian pada polyethylen . . . . ' I2T
7.21 Perrggambaran fisik efek voltirne. (a) N'Iodcl kapasitor dengan daerah muatan ruang; (b)
Karakteristik meclan dengan inuatan ruang pada daerah batas sesuai dengan (u) ' . . 122
7.22 Karukteristik ruedan listrik pada efek volume untuk variasi tebal isolasi dari 51 menjadi 52 . . 123
7.23 Kurva penjclasan kondisi stabil termal . . . . . . 724
7.24 Diagram skematik dari pohon elektrik (treeing)

8.1 Pembentukan sebuah sel badai 130


8.2 Pembentukanselbadaidankarakteristikkuat meclan diatas perrnukaanbumi. . '.... ' 131

8.3 Skematik perkembangan stepped leader dan penangkap peluahan sebuah petir negatif
awan-bumi """ t32
8.4 Jenis-jenis petir yang melibatkan awan dan bumi. (a)Petir negatif awan bumil (b)Petir
positif awan bumi; (c)Petir negatif bumlawanl (d)Petir positif bumi-awan ' ' ' ' ' 132
8.5 Bentuk tipikal arus impuls (a)negatif dan (b)positif . . . . . " 133
8.6 Petir awan-bumi negatif berantai " " ' 133
8.7 Karakteristik arus petir awan-bumi negatif berantai ' ' ' ' ' ' 134
8.8 Arah gaya pada penghantar yang cliaiiri arus " " " ' 137
8.9 Sistem cleteksi lokasi petir dengan antena magnetik " " " ' 139
8.10 Sistem deteksi iokasi petir dengan antena elektrik ' ' 139
8.11 Ruarrgperlindunganpetirh<r. ""'i40
8.12 Penentuan sudrtt perlindungan p dan $ .... .... " ' 140
8.13 Nletocle penentttan letak penangkap petir dengan metode bola petir . . . ' ' 141

9.1 JenisTeganganLebih .:.... t43


9.2 Sambaran petir pada kawat penghantar .
144
9.3 Sambalan petir pada kawat tanah yang menyebabkan back flashover pada kawat penghantar. t45
9.4 Tcgangan impuls terpotong t45
xiv Telcnik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

9.5 Penggambaran penghantar panjang dan pendek pada domain frekuensi .. 146
9.6 Penggambaran penghantar panjang dan pendek pada domain waktu .. '. 747
9.7 Rangkaian pengganti sepotong penghantar sepanjang Ar ... '. ' . ' 148
9.8 Rangkaian pengganti sebuah penghantar tanpa rugi-rugi, 7: s'r' . ... . 150
9.9 Karakteristik tegangan pada ujung awal dan akhir penghantar . .. 754
9.10 Karakteristik tegangan padaujung akhir penghantar. .. ' '. 155
9.11 Rangkaian pengganti penghantar ..... '..... 155
9.12 Peta jalan gelombang . '' 157
9.13 Karakteristik tegangan ujung awal dan akhir 158
9.14 Gambar untuk soal telaah 3 ......... 160
Daftar Tabel

1.1 Sistcm tegatigern di Eropa, Arrterika, dan Indonesia . ".. 2

6.1 Relatif masa molekrri dan kecepatan efektif molekul untuk berbagai gas pada 273 K . . . ' ' ' . ' 49
6.2 Panjang jalur bebas ratn-rata untuk N{olekul dan elektron pada berbagai gas . 51
6.3 KonstantaAdan B ... 56
6.4 Paujang gelourbairg dan errergi kuantum beberapa jenis cahaya 57
6.5 Tipikai ftuigsi kerja dari beberapa bahan katode 58
6.6 Afinitas eiektron beberapa gas dau elemen 63
6.7 Pergerakan/rnobilitas positive dan ncgative ion pada tekanan 1 bar dan temperatrrr 20C
dalarn kuat rnedan yang satrgat kecil . . 66
6.8 Normalisai Luasan-Pembentukan ,4/d urrtuk beberapa susunan elcktrode dengan isolasi udara 77
6.9 Tegangan gagal minimai beberapa gas . . 78

7.1 Karakteristik rrrinyak minerai pada 20oC dengan kandungan air iebih kecil dari 10 ppm ..... 106
7.2 Bahanisolasipaclaianorganik. ......126
I -,1 Rangkuman matcrial siirtetis poiymere tinggi menurut jenis polyreaction . . . . . . 127

8.1 Tingkat perlindungan terhadap arus petir ..' 135


8.2 Tingkat perlindungan terhadap muatan arus petir 135
8.3 Nilai-nilai untuk meterial penghantar tipikal .. 136
8.4 Tingkat perlindungan terhadap energi spesifik arus petir '. 136
8.5 Peningkatan tempcratur beberapa penghantar karena energi spesifik arus petir . . . .... 137
d.t) Tingkat pengamanan terhadap kecuraman dildt. ... 138
8.7 Tingkat pengaman terhadap sambaran petir yang bergantung pada jari jari jarak ujung
kegagalan L4l
8.8 Hubungan antara sudut pengamanan dan tinggi terminal udara penangkap petir .. .. . l4l

9.1 Tegangan pada ujung awal dan akhir penghantar 153


9.2 Standar tingkat isolasi untuk dacrah
9.3 Standar tingkat isolasi untuk daerah
9.4 Standar tingkat isolasi untuk daerah C 159
Pendahuluan

Tegangan tinggi banyak dijumpai pada berbagai bidang teknik. Penggunaan tegangan tinggi dalam
keseharian dapat kita lihat pada bidang kedokteran dengan peralatan rontgen, pada peralatan kantor dengan
mesin fotokopi, pada industri yakni penggunaan filter listrik (electrical precipitator), pengecatan bubuk
(powder coating), dlsbnya. Akan tetapi penggunaan yang paling banyak adalah pada penyaluran tenaga
ti.trit . Setelah penemuan prinsip elektrodinamik, penggunaan tegangan tinggi pada penyaluran energi listrik
jarak jauh berkembang dengan sangat pesat.

1.1- Klasifikasi Tingkat Tegangan

Secara umum, jika dihubungkan dengan sistem transmisi dan distribusi maka tegangan tinggi adalah
tegangan yang lebih tinggi dari 20 kV. Tetapi sesuai dengan The International Electrotechnical Commission
(IEC), yang dimaksud dengan tegangan tinggi adalah tegangan yang lebih besar dari 1000V ac dan lebih
besar dari 1200V dc. Sampai saat ini tegangan yang dipergunakan dalam transmisi daya listrik telah
mencapai lebih dari 800 kV dan secara umum terbagi menjadi beberapa beberapa tingkat tegangan seperti
yang terlihat pada tabel 1.1 Dari tabel 1.1 terlihat bahwa setiap negara mempunyai tingkat tegangan
vang berbeda-beda. Bahkan negara seperti Jepang mempergunakan sistem 100 volt pada sistem tegangan
i"rrJahrryu. Hal ini muncul dari perbedaan batas operasi yang mereka pergunakan. Bahkan pada tiap kelas
tegangan mempunyai nilai yang berbeda, yang mungkin beberapa diantara tingkat tegangan ini sudah tidak
dipergunakan. Perbedaan tingkat tegangan antar negara-negara ini umumnya tidak lebih dari 20%. Dari
tabel 1.1 terlihat pula bahwa sistem frekuensi yang dipergunakan hanya 2 yakni 50 Hz dan 60 Hz. Negara
baik besar ataupun kecil sudah menstandarkan frekuensi sistem yang dipergunakan, karena jika hal ini
tidak dilakukan akan memerlukan peralatan konversi frekuensi yang mahal pada sistem interkoneksinya.
Akan tetapi, Jepang memiliki dua sistem frekuensi antara jepang timur dan jepang barat. Pada tabel 1.1
tersebut juga terlihat bahwa lompatan.tingkat tegangan berkisar 2 kali lipat. Tidak ada alasan teoritikal
tentang hal ini akan tetapi mungkin ada beberapa alasan praktis dan ekonomi yang mendasari lompatan
ini. Pertama, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, para insinyur desain merasa lebih aman dalam
meningkatkan level tegangan menjadi dua kali lipat. Kedua, sepanjang 50-60 tahun pertama abad ini rata-
Teknik Tbgangan Tinggi ; Prins ip dan Apl ikasinya

Tabel 1.1: Sistem tegangan di Eropa, Amerika, dan Indonesia

Tegangan Normal Line


Eiopa Amerika Indonesia
Kelas Tegangan (50 Hz) (60 Hz) (50 Hz)

Low (LV) 22o1240 120(1 d) 2201380


38014 1 5 208
650 600
1000

KV KV
N,ledium (N{\/) 2.4
5 6.9 6.6
11 72.47 11
22 20
J+.D DO

t,6 69 70

High (HV) 110 i15


132 138
156 161 150
220 230

Extra High (EHV) 275 287


380 345
400 500 500
S00 (USSR, China, India) 765

UHV IQQQ+ 1600


under consideration

rata peningkatan konsumsi litrik pada negara-negara industri adalah 2 kali lipat setiap 10 tahun. Alasan
ekonomi adalah alasan yang paling relevan untuk perningkatan tingkat tegangan ke tingkat yang lebih tinggi.
Seperti diketahui untuk daya tertentu, tegangan yang lebih tinggi akan memerlukan arus yang lebih rendah
dan karenanya memerlukan diameter konduktor yang lebih kecil yang berarti menurunkan biaya investasi
untuk konduktor. Selain itu akan menurunkan rugi tembaga karena arus (12-B). Karena rugi-rugi ini bernilai
sekitar 3-4Vo dari nilai total penyaluran, penghematan ini menjadi sangat berarti.

1.2 Sejarah Perkembangan tansmisi Tegangan Tinggi

Ditahun 1866, secara ekonomis penrbangkitan energi listrik dimungkinkan dan pada tahun 1882 sudah mulai
direalisasikan penyaluran energi jarak jauh yang pertama dari Miesbach ke Munchen sepanjang 57 km
dengan claya 1,4 kW dengan tegangan DC 2 kV. Pada tahun yang sama di London beroperasi stasiun
pembangkit umum yang pertama. Semenjak itu sejumlah penyuplai listrik publik berkembang dengan pesat.
Penelitian yang sangat intensif untuk penyaluran tegangan tinggi di seluruh dunia memungkinkan tegangan
tinggi disalurkan secara ekonomis. Beberapa peekembangan penyaluran daya dengan tegangan tinggi adalah
sebagai berikut:
1. Tahun 1912 berdiri pertama kali penyaluran 110 kV dari Lauhchamrner menuju Riesa di Jerman
Bab 1: Pendahuluan

USA dan Rhein westfalen' Jerman


2. Tahun 1926 dan 1929 penyaluran tegang an 220 kv di Pennsylvania,
3. Tahun 1936 penyaluran 287 kV di Boulder Dam, USA
4. Tahun 1952 penyaluran 380 kV dari Harsprd'nget menuju Hallsberg' Swedia
5. 1959 penyaluran d,aya525 kV dioperasikan di USSR dan
Manicouagan menuju Montreal'
6. 1965 penyaluran dengan tegangan tertinggi 735 kv disalurkan dari
Kauada.
Semenjak penyaluran tegangan tinggi jarak
jauh dc pertama kali dioperasikan pada tahun 1882' terjadi
persaingan penggunaan penyaluran dengan tegangan tinggi dc dan
ac'
pada tahun 1906 terealisasipenyaluran dengin tegangan DC 125 kV dengan daya 20 MW sepanjang
150
ini dipergunakan 10 generator yang
km dari Moutier menuju Lyon oleh Ren6 thury. Pada penyaluran
tegangan ac untuk penyaluran energi listrik'
dihubungkan ,eri. Disinijelas terlihat keuntungan penggunaan-
disalurkan dan clidistribusikan sampai pada
Dengan bantuan transformator, tegangan auplt r..u* efektif
pelanggan dengan tingkat kesulitan rendah'
penggunaan tegangan dc dalam penyaluran energi
saat ini dengan perkembangan teknologi elektronika daya
dimulai kembali' Penyaluran tegangan
Iistrik, khusus untuk jarak liurg "ukrrp jauh, tanpa masalah stabilitas,
berbeda. Terlihat teknik tegangan tinggi
tinggi dc mampu menghubungkan jaringan listrik dengan frekuensi
dan penggunaannya memberikan arti
mempunyai peran sangat penting pada penyediaan energi listrik
pada bidang teknik yang lain juga
penting secara ekonom]. Disamping itu, penggunaan tegangan tinggi
aplikasi pada elektro-filter dan sistem
mempunyai arti penting, seperti pada bidanillekt.ortatik dengan
pengecatan. Dalam bidlng elektronik terlihat penggunaanya
pada rontgen teknik, tabung katode pada
televisi dan osiloskoP. sistem
peningkatan pertumbuhan energi listrik yang fenomenal dapat dijelaskan dari sejarah perkernbangan
yang lebih tinggi dapat dilihat pada
transmisi ac. Kecenderungan penggunaan l"grrrgun ke tegangan ini akan dibahas
teknik, pada buku
Gambar 1.1. Melihat pentingnya peran tegang"u, Iinggi dalarn aplikasi

1990

Gambar 1.1: Perkembangan tegangan transmlsl ac

praktis. Buku ini dibagi dalam dua bagian


dasar-dasar fenomena tegangan tinggi beserta beberapa aplikasi
isolasi, baik gas, cair, maupun padat'
besar. pada bagian pertama akan dibahas proses kegagalan pada bahan
Petir' Pada bagian kedua akan
Dengan penekanan isolasi gas. Juga akan dibahas sekilas tentang fenomena
tegangan tinggi ac' dc' dan impuls'
dibahas cara-cara pembangkitan dan pengukuran beserta arti penting

-oo0oo-
ICDNI.L NYDT{YDST NVJIXDNYSI^Ifl d
I UBIEBg
Pembangkitan Tegangan Tinggi AC

Tegangan tinggi ac yang dibahas pada bab ini adalah tegangan tinggi ac yang dibangkitkan untuk pengujian
sistern isolasi peralatan-peralatan tegangan tinggi bukan untuk penyaluran energi listrik. Secara umum
tegangan tinggi ac ini dibangkitkan dengan sebuah trafo uji khususnya satu fasa. Disamping menggunakan
trafo uji, pembangkitan tegangan tinggi ini dapat pula dilakukan dengan rangkaian resonansi.
Standar internasional mensyaratkan tegangan tinggi ac o(t) ini mempunyai bentuk sinus yang baik,
pangaturan peningkatan tegangan yang cukup halus. Nilai puncak tegangan 0 tidak boleh bervariasi Iebih
dari *5% nilai tegangan efektif %yy dikali r/7. Nitai tegangan efektif ini didefinisikan sebagai:

V.f I: + l"'
a2(t)dt (2.1)

akan tetapi tinggi tegangan uji ditandai dengan 01rt, karena kuat gagal kebanyakan bahan isolasi tergantung
dari nilai sesaat 0.
Peralatan yang dipergunakan pada jaringan tegangan tinggi umumnya diuji dengan tegangan 2 sampai
5 kali lipat tergantung dari tegangan operasi untuk mengetahui faktor keamanan, proses penuaan, dan
memperkirakan umur peralatan jika dipergunakan pada tegangan operasinya.

2.1 TYafo Uji Tegangan Tinggi

Trafo uji tegangan tinggi merupakan trafo satu fasa. Rating trafo uji disesuaikan dengan benda uji yang
umumnya bersifat kapasitif. JLU.a" q adalah kapasitansi benda uji dan V* adalah tegangan rms (root mean
square) nominal suplai tegangan uji, maka rating nominal P, untuk perancangan dapat dihitung dengan
persamaan berikut:
Pn: lc V* w Ct (2.2)
Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

k adalah faktor dimensi. Kapasitansi benda uji sangat bervariasi, sehingga faktor k harus mempunyai
toleransi tertentu yang mungkin menyebabkan kelebihan rancang (over dimension) trafo.
Niiai tipikal C1 untuk beberapa peralatan tegangan tinggi adalah sebagai berikut:
1. Isolator gantung dan tumpang beberapa 10pF
2. Bushing berkisar -100 s.d. 1000pF
3. Trafo tegangan berkisar -200 s.d. 500pF
4. Trafo daya:
a. <1000kVA - 1000pF
b. >1000kVA - 1000 s.d.10000pF
5. Kabel Tegangan Tinggi
a. Impregnasi Minyak-kertas - 250 s.d. 300pp
b. berisolasi gas - 60pF
6. Metal Clad substation, berisolasi SF6 - 1000 s.d.10000pF
Penentuan faktor li juga harus memperhitungkan kapasitansi tambahan dari seluruh rangkaian
uji dan
beberapa faktor keamanan, seperti tambahan kapasitansi yang berasal dari elektrode tegangan tinggi,
konduktor antara benda uji dan sumber tegangan dan lain-lain. Secara praktis nilai k tidak lebih dari
2.
Kita dapat menghitung arus nominal dari persamaan (2.2) untuk tegangan uji berbeda, Ci berbeda dan
faktor keamanan k. Dari estimasi ini, nilai arus berada pada kisaran beberapa 10 mA untuk tegangan uji
100kV sampai beberapa ampere untuk tegangan uji MV. Meskipun arus ini tidak terlalu tinggi dan nominai
daya cukup beasr. peralatan uji harus tetap sekecil mungkin karena keterbatasan ruang dan harga peralatan
uji tegangan tinggi yang sangat mahal.
tafo uji sangat jarang beroperasi dalam waktu panjang, secara umum panas lebih belitan tegangan
rendah
disebabkan oleh beban. Sementara belitan tcgangan tinggi dibuat dengan dimensi berlebih karena
alasan
mekanis dan sangat jarang mengalami panas berlebih. Meskipun demikian, konstanta waktu panas
lebih
yang cukup besar menyebabkan trafo uji dapat dibebani berlebih dalam jangka waktu pendek.
Meskipun
trafo uji tahan terhadap arus lebih akibat hubung singkat sesaat, trafo uji ."*ru umum dilengkapi dengrl
peralatan pengaman arus lebih.
Hubung singkat pada sisi sekunder tidak menyebabkan kerusakan mekanis pada belitan karena gaya
magnet
yang timbul akibat arus hubung singkat sangat kecil.

2.1.1 Konstruksi trafo uji tegangan tinggi

Ttafo uji tegangan tinggi secara umum tidak mengalami masalah dengan pendinginan karena umumnya
dioperasikan dalam waktu singkat dan efek gaya magnetik dapat diabaikan. OIJ sebab itu konstruksi
trafo uji tegangan tinggi sangat ditentukan oleh isolasi belitan. Seperti yang teiah disebutkan sebelumnya
trafo uji tegangan tinggi adalah trafo satu fasa dengan frekuensi sesuai dengan frekuensi benda u;i (bo
atau 50 Hz). Terkadang dipergunakan untuk frekuensi tinggi pada tegangan rating. Untuk pengujianirafo,
dipergunakan frekuensi rendah untuk menghindari saturasi inti besi. Dengan pertilbangan kesulitan
isolasi
dan pertimbangan ekonomi, belitan tegangan tinggi umumnya dapat dilsolasi sampai derrgu., beberapa
100
kV. Sehingga untuk tegangan yang lebih tinggi dipergunakan rangkaian trafo bertingkat (cascade).
Bab 2: Pembangkitan Tegangan Tinggi AC

2.1.2 Ra,ngkaian sa,tu ti,ngkat

Pada rangkaian satu tingkat, trafo memiiiki fluks utama bersama yang artinya hanya terdiri dari sebuah
inti besi. Pada Gambar.2.l terlihat trafo memiliki belitan transfer (4) yang memiliki jumlah belitan
yang sama dengan belitan primer (2). inti besi (1) diketenahkan, belitan primer diletakkan antara inti
dan belitan sekunder (3). Belitan transfer terletak pada potensial sekunder yang tidak diperlukan jika
trafo uji dioperasikan pada rangkaian satu tingkat tetapi akan dipergunakan pada rangkaian bertingkat.
Gambar.2.2(a) dan 2.2 (b) menunjukkan dua jenis konstruksi trafo uji tegangan tinggi. Salah satu dari

Gambar 2.1: Rangkaian pengganti trafo uji satu tingkat. (1). Inti besi; (2) Belitan primer; (3) Belitan
sekunder; (4) Belitan transfer

konstruksi itu menggunakan bushing yang berarti mempunyai permukaan lebih luas dan ini mengakibatkan
disipasi panas yang lebih baik, tetapi dengan tambahan bushing tersebut diperlukan ruang yang lebih tinggi
yang secara ekonomis akan lebih mahal. Pada konstruksi yang lain bushing tidak dipergunakan sehingga
membutuhkan ruangan tidak terlaiu tinggi akan tetapi disipasi panasnya kurang baik karena terisolasi
mantel. Konstruksi tanpa bushing ini umumnya dipcrgunakan untuk rangkaian bertingkat' Untuk daya
yang besar dimungkinkan menggunakan pendingin seperti sirip pendingin.

2.1.3 Rangkaian pengganti trafo

Rangkaian pengganti elektrik trafo dapat dilihat pada Gambar.2.3. Besaran-besaran rangkaian tersebut
diperoleh dari uji hubung singkat yang menghasilkan besaran bagian jalur Iurus trafo dan dari uji rangkaian
terbr.rka diperoleh besaran bagian melintang trafo. Cara mencari besaran-besaran tersebut akan dijelaskan
melalui contoh berikut.
Dalam hal ini, X1o: Reaktansi belitan primerl R1 :Tahanan belitan primer; Rp": Rugi besi; Xs: Reaktansi
utama; X2o: Reaktansi belitan sekunder dari sisi primer; R!: Tahanan belitan sekunder dari sisi primer; C!:
Kapasistansi beiitan.

Contoh: Sebuah Tlafo MWB-Kaskade dengan data-data sebagai berikut:


- Tegangan nominal adalah 0.5/300-600-900kV
- Arus nominal adalah 96011.2-1.2-1.2 A
10 Teknik Tegangon Tinggi ; P r ins ip dan Apl ikas iny a

Belitan
Transfei

Belitan-
Sekunder

Belitan
Primer

diketanahkan

(a) Trafo uji dengan bushing (b) Trafo uji tanpa bushing

Gambar 2.2: Diagram trafo uji

!u
xh

Gambar 2.3: Rangkaian pengganti trafo uji satu tingkat

- Kompensasi sebesar 300-450-600 kVar


- Tegangan hubung singkat 2.8-8.5-18.4%
- Tegangan uji adalah 1080kV
- Operasi singkat 8 jam
Nitai-nilai yang diperoleh dari uji hubung singkat adalah:
Vn": L3'2kV
In" :960A
Pn":2'5kW

Dari data uji hubung singkat tersebut diperoleh:


Bab 2 : Pembangkitan Tegangan Tinggi AC t1

lZn"l:*:t3.75ma
Rh" : '+ :2.7mQ
1fr"

* Xn" : \EZ- R'*: l3.48m7

Dengan membagi dua untuk sisi primer dan sekunder diperoleh:

Xro : XL,:21'45P'H
Rt : RL: l36m2
Nilai yang diperoleh dari uji rangkaian terbuka:

Vr:500V
Vz:300kV
It:42'2A
Po.:5'2kW
Dari pengukuran resonansi C! diperoleh 765p$, dan diperoleh:

RF":
v? soo2v :48e
*: irg
_e vr 500
'rlc^:---:-:-:l0.4lA
Rp" 48

I, : \E - I'*: 40.9Abersifat kapasitif


IcL : V1 .uCtB: l20.lA
* I* : IcL - Ie :79.2A
Sehingga diperoleh:
Xn: vr ffi,:6.310
500
=+ Ln - 20.lmH
i:
Dengan hasil tersebut diperoleh rangkaian pengganti trafo seperti terlihat pada Gambar 2.4

Gambar 2.4: Rangkaian pengganti trafo uji satu tingkat beserta besaran-besaran yang diperoleh dari uji
hubung singkat dan uji terbuka
I2
Te knik Tbgangan Tinggi ; prins ip dan Ap I ikas
inya

Dalam keadaan berbeban bagian melintang dapat


diabaikan karena mempunyai tahanan yang jauh
tinggi dari padajalur lurus pada rangkaian pengganti lebih
trafo. Dengan pengabaian iersebut rangkaian pengganti
trafo menjadi sangat sederhana seperti yang terlihat pada
Garnbar z.s

431tH 2.7mQ

Gambar 2.5: Rangkaian pengganti trafo uji satu tingkat


saat berbeban

2. 1./r Rangkaian bertingkat

Rangkaian bertingkat dipergunakan untuk trafo dengan


tegangan luaran >g00 kv, karena kesulitan
isolasi yang tidak lagi sesuai secara ekonomi, rangkaian sistem
bertligkl,t bahkan sudah dipergunakan pada tegangan
yang lebih rendah yakni pada kisaran 300-500
kv. Keunturg:un tri' dari rangkaian bertingkat
adalah berat
keseluruhan peralatan uji akan terbagi dalam unit-unit
turiggal. Hal ini me]nudahkar, auu,* transportasi
dan perangkaian unit-unit pengujian.
Prinsip rangkaian bertingkat dapat dilihat pada Gambar.2.6.
Pada rangkaian bertingkat terlihat kegunaan

l. Belitan Primer:
2. Belitan sekund'er:
3. Belitan transfer

P
2V

Gambar 2.6: prinsip rangkaian trafo uji bertingkat

dari belitan transfer yakni sebagai belitan eksitasi untuk


tingkat berikutnya. suplai tegangan rendah
Bab 2 : Pembangkitan Tegangan Tinggi AC t3

dihubungkan dengan belitan primer " 1" trafo uji I yang menghasilkan tegangan luaran V, seperti dua trafo
Iainnya. Belitan transfer "3" menyuplai primer unit rafo uji II. Belitan sekunder "2" kedua unit terhubung
seri, sehingga menghasilkan tegangan 2V. Proses unit III sama dengan unit IL
Kekurangan dari trafo uji bertingkat adalah pembebanan yang berat pada belitan primer tingkatan terbawah.
Pada Gambar. 2.6 beban ditandai dengan P yang merupakan perkalian tegangan dan arus untuk setiap
belitan. Untuk trafo uji tiga tingkat, kVA luaran adalah 3P sehingga setiap belitan "2" membawa arus
I : PlV. Jadi hanya belitan primer trafo III yang terbebani dengan P, tetapi daya ini diambil dari belitan
transfer trafo II. Oleh sebab itu primer tingkat II terbebani 2P. Artinya total daya 3P harus disediakan oleh
primer trafo I, sehingga diperlukan dimensi yang tepat untuk belitan primer dan belitan transfer.

2.1.5 Reaktansi hubung singkat trafo uji bertingkat

Sebuah trafo uji bertingkat mempunyai prinsip yang sama dengan trafo dengan tiga belitan. Dengan
mengabaikan arus magnetisasi dan rugi daya pada belitan, trafo ini dapat digambarkan hanya dengan
reaktansi ketiga belitan. Reaktansi ini dapat diperoleh dengan percobaan hubung singkat. Rangkaian
pengganti untuk rz tingkat trafo uji digambarkan pada Gambar.2.7. Reaktansi hubung singkat X,", dari

t E2=1 ut
1u":o
Iun: Is
Y-ffiifl x',,|/i, lrHn Vu,=Vs
Tingkatl i "'Tingkat2 i i Tingkatn
(a) Rangkaian total dengan tiga belitan
X."* .+1., n^r:.^-, prrmer
n- Belitan '
^-r E:
Cat.
I | U: Belitan transfer
v'tl H: Belitan sekunde
- I"
tu) *;;",,*.,**;
Gambar 2.7: Rangkaian pengganti trafo ideal n-tingkat

n tingkat trafo uji didefinisikan sebagai berikut:


IHN X,"" Ih* X,." (2.3)
"sc VnN VuN InN
(Indeks N adalah nilai nominal). Dari rangkaian pengganti Gambar.2.7 besaran yang dicari adalah Vn Iu
maka kondisi yang harus dipenuhi adalah:

IhX,.": El=tQ2n,Xn, + I';,x'u, + IE,x'*,) (2.4)

I?rX.,"" adalah jumlah daya dari masing-masing tingkat. Indeks u adalah tanda dari tingkat-tingkat yang
diamati. Arus yang mengalir pada setiap tingkat dapat dinyatakan sebagai:

IL: Iu * I'u (2.5)


l4 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Semua arus yang mengalir dapat dinyatakan dalam bentuk arus 1p'. Sehingga:

Ix : Ino : IHt: Ixz: ... (2.6)


Ib,:(n-u)In; (2.7)
Il,:(n*l-u)Ip; (2.8)

Dengan menyulih persamaan (2.7) dan persamaan (2.8) pada persamaan (2.\ dan membaginya dengan .If,
akaa diperoleh
X,.": Ei=r(Xu, + (n - r)2x'u, * (n+ 1- u)zX'r,) (2.g)
Untuk tiga trafo yang sama yang dihubungkan seri maka X,." : 3(Xru * XI + Xil + 2x[ * 11X!, nilai
ini lebih besar dari hanya penjumlahan linier reaktansi.

2.1.6 Tegangan Lebih Kapasitif


tafo uji secara umum terbebani dengan benda uji yang secara umum bersifat kapasitif, pembagi tegangan
kapasitif, dan kapasitor kopling. Bahkan pada keadaan tanpa bebanpun trafo uji telah terbebani kapasitif
oleh kapasitansi belitan. Dalam hubungan dengan induktansi parasit trafo uji yang cukup besar, hal ini
dapat menimbulkan tegangan lebih kapasitif yang cukup besar sperti yang diilustrasi pada Gambar. 2.8

Segitiga
Kapp
rxkl

Gambar 2.8: Tegangan lebih pada trafo uji karena beban kapasitif

Dengan besarnya arus beban kapasitif, arus magnetisasi yang melalui induktansi utama dan rug-rugi besi
dapat diabaikan. Tegangan lebih kapasitifdiberikan dari rangkaian pengganti hubung terbuka dilihat dari sisi
sekunder (sisi tegangan tinggi). .R7r adalah jumlah tahanan belitan dengan memperhitungkan perbandingan
trafo (ii :VNzlVNr):
Rx:Rr'il2+Rz
Dengan cara yang sama Ly dan Xy adalah

Lx:Lot'u2+L,z (2.10)
Xx:Xot'il2*Xoz (2.11)

Tegangan lebih kapasitif 4 dalam bentuk komplek adalah


Bab 2 : Pembangkitan Tbgangan Tinggi AC 15

trlvi: euc)-t llRx * jwLx + (jwc)-tl (2.12)

Dengan besar
rt : VzlVi: [(1 - u2 Ly C)2 * (aR C)21-r1z (2.13)

Akibat tegangan lebih kapasitif, tegangan sisi sekunder tidak dapat ditentukan dari tegangan sisi primer.
Artinya pengukuran tegangan uji harus dilakukan pada sisi sekunder.

Contoh:
Dengan mengacu pada Gambar. 2.8 diketahui trr : 180pH; Rt : 5mf2. Perbandingan sisi tegangan
rendah dan sisi tegangan tinggi trafo adalah u : VtlVz :500V/900kV. C :5nF yang berarti C' -
CI ii' : 16.2mF. Sehingga:

Vl:SooV
IL: V/ .u)C' :2.54kA
R*. IL:12.7v
Xn' IL: l43V
1V1 - VJ - Xx' IL:357V

Ini berarti dengan memberikan tegangan 357V pada sisi primer, sisi sekunder telah mencapai tegangan
nominal 900kV. Jika pada sisi primer diberi tegangan nominal 500 V maka tegangan pada sisi sekunder
menjadi:
Vz:900'g:1260kV
JC/

2.2 Rangkaian Resonansi Seri

Pada pengujian peralatan tegangan tinggi dengan kapasitansi yang besar memerlukan trafo uji dengan daya
nominal yang besar (beberapa puluh I\{VA). Tiafo uji semacam itu sangat mahal, sehingga secara ekonomi
sangat menguntungkan jika tegangan tinggi uji ac dibangkitkan dengan rangkaian resonansi. Rangkaian
resonansi sebagai pembangkit tegangan ini dibangun pada beberapa tahun terakhir atau kemunculannya
sangat terlambat dibanding dengan teori pembuatannya. Hal ini disebabkan karena rangkaian ini harus
mempunvai regulator induktansi yang halus tanpa tingkatan agar mampu memenuhi syarat resonansi
untuk berbagai kapasitansi beban. Akan tetapi secara teknis, merealisasikan reaktor tegangan tinggi
dengan menggunakan induktansi variabel sangat sulit. Secara sederhana rangkaian resonansi seri untuk
membangkitkan tegangan tinggi ac dapat dilihat pada Gambar 2.9

Rangkaian resonansi seri mempunyai beberapa karakteristik yang menguntungkan antara lain:
1. Tegangan output eksitasi trafo sebuah rangkaian resonansi sangat kecil, karena daya kapasitif benda
gi (VfiwC) dikompensasi oleh daya induktif dalam rangkaian resonansi (= VlrluL). Daya eksitasi
hanya untuk mengkompensasi rugi-rugi tahanan (umumnya < 5%o daya kapasitif).
2. Bentuk tegangan tidak mengandung harmonisa meskipun tegangan Iuaran trafo mengandung
harmonisa karena rangkaian hanya untuk resonansi pada frekuensi fundamental (50/60 Hz).
3. Apabila terjadi kegagalan pada benda uji, rangkaian resonansi akan "putus", sehingga arus hubung
singkat relatif kecil dan kerusakan pada benda uji dapat diminimalisasi.
4. Induktansi variabel dapat direalisasikan dengan reaktor yang inti besinya dapat digerakkan.
Te kn i k Tegangan Ti nggi ; P r ins ip dan Apl ikas i ny a

F
Gambar 2.9: Rangkaian resonansi seri untuk pembangkitan tegangan tinggi ac

Kemungkinan yang paling mudah dari rangkaian resonansi adalah dengan memberikan input variabel
frekuensi. Tetapi kemungkinan ini hanya dipergunakan untuk kepentingan penelitian, karena pengujian
pada industri hanl'a menggunakan frekuensi yang sudah ditentukan (16 2 3 50 60 Hz)
Reaktor tegangan tinggi dengan daya yang sama mempunyai ukuran lebih ringan dan lebih kecil
dibandingkan trafo uji.

2.3 Rangkaian Resonansi Paralel

Berbeda dengan rangkaian resonansi seri, disini diperlukan sebuah transformator tegangan tinggi sebagai
sumber tegangan. tansformator harus mampu mengatasi kerugian rangkaian resonansi paralel. Rangkaian
ini dapat juga dilihat sebagai rangkaian kompensasi.
Secara sederhana rangkaian resonansi seri untuk membangkitkan tegangan tinggi ac dapat dilihat pada
Gambar 2.10

T,"

Gambar 2.10: Rangkaian resonansi paralel untuk pembangkitan tegangan tinggi ac

Pada rangkaian ini tidak harus berada pada kondisi resonansi, karena tergarrtung pada transformator uji
setidaknya telah dibangkitkan daya buta. Bahkan kompensasi dapat diperoleh menggunakan reaktor dengan
induktansi tetap. Dengan demikian kesulitan teknik untuk membuat reaktor dengan induktansi variabel
dapat teratasi.

2.4 Soal Telaah

1. Apakah perbedaan autara transforrnator uji tegangan tinggi dengan transfolmator daya?
Bab 2 : Pembangkitan Tbgangon Tinggi AC t7

2. Jelaskan kelebihan dan kekurangan duajenis transformator uji tegangan tinggi dengan dan tanpa bushing!
.).Mengapa pada pembangkitan tegangan tinggi ac pengukuran tegangan nominal selalu harus dilakukan
pada sisi tegangan tinggi dari rangkaian pengujian
4. Gambarkan skema hubungan rangkaian transformator bertingkat dalam pembangkitan tegangan tinggi
acl
D. Jelaskan prinsip pembangkitan tegangan dengan menggunakan rangkaian resonansi! Sebutkan
keuntungannya dibandingkan dengan transformator uji ac bertingkat!
Sebuah trafo tegangan tinggi TEO 100/10 dari MWB mempunyai data sebagai berikut:
Rating tegangan: 220V l100ky; Rating arus 22,7 A/0,05 A.
Dari percobaan hubung singkat diperoieh nilai-nilai:
Ur : 10,6 V
Ir:23A
Pr :87,5W
Data dari percobaan rangkaian terbuka:
Ur:220V
Uz : 100 kV
h :1,42 A
Pz,:80W
Dari pengukuran resonansi diperoleh kapasitansi sendiri trafo uji adaiah Cr : 287 pF
a. Dari data yang diperoleh tentukan rangkaian pengganti lengkap trafo uji tersebut!
b. Pada suatu percobaan, trafo ini dibebani dengan sebuah kapasitor yang hanya boleh dipergunakan
sebagai kapasitor penyerarah atau pembangkitan tegangan impuls. Kapasitor tersebut mempunyai
kapasitansi C : 10.000 pF. Hitunglah tegangan pada sisi tegangan tinggi, jika sisi tegangan rendah
berada pada tegangan ratingnya.
C. Hitunglah tegangan primer (dengan beban seperti soal diatas), dimana sisi sekunder berada pada rating
tegangan. Buktikan apakah trafo ini terbebani secara termal atau tidak (1 > 1,31N )

-oo0oo-

*t,',i];-il .-
(- \
i O"'"ttt I'c;Prriin!'ar:t I
I .l *t, hrtr rsip'ir 1

I r-,'l .'f'":]iTul-J
ry
Pembangkitan Tegangan Tin ssi DC
#
trgangan tinggi DC banyak dipergunakan pada berbagai bidang penelitian. Tlansmisi tegangan tinggi dc
memperoleh perhatian kembali seiring dengan perkembangan teknologi penyearah tegangan. Dibidang
teknik elektro tegangan tinggi dc umumnya dipergunakan untuk pengujian peralatan atau komponen-
komponen transmisi tegangan tinggi dc. Tegangan tinggi dc dipergunakan untuk pengujian kabel transmisi
"on site" untuk mengetahui keamanan operasi kabel transmisi yang telah Iama dioperasikan. Dalam bidang
penelitian fisika kita jumpai penggunaan tegarrgan tinggi dc pada "particle accelerator" dan mikroskop
elektron. Pada bidang teknik medikal, teknik rontgen dan terapi elcktrik juga menggunakan tegangan tinggi
dc. Penggunaan tegangan tinggi dc di industri dapat kita lihat pada "electrostatic precipitator", "powder
coating", dan juga mesin foto copy.
Tegangan dc umumnya dibangkitkan dcngan mengunakan rangkaian penyearah (diode) apabila diperlukan
arus yang besar (-tgp4;.

3.1 Besaran besaran tegangan tinggi DC

Besaran-besaran tinggi dc yang perlu diperhatikan agar sesuai dengan standar tegangan uji dc adalah sebagai
berikut
1. Polaritas, dalam hal ini polaritas tegangan dc yakni dc positif dan dc negatif memberikan pengaruh
berbeda pada pengujian bahan isolasi tegangan tinggi.
2. Amplitudo, didefinisikan sebagai nilai rata rata aritmatik
.^T
o: + u(t)dt
J,
3. Ripple, didefinisikans sebagai:
V*ok" - V^in
6,:
20 TeknikTeganganTinggi; Prinsip danAplikasinya

4. Sesuai dengan IEC 60, saat pengujian ripple tidak melebihi J%.

3.2 Penyearah setengah gelombang

Penyearah setengah gelombang adalah rangkaian yang paling banyak dipergunakan untuk membangkitkan
tegangan tinggi dc. Rangkaian penyearah setengah gelombang dan bentuk gelombang luaran tanpa beban
dapat dilihat pada Gambar. 3.1(a) dan (b). Seiring dengan peningkatan beban, ripple juga akan mengalami
peningkatan, karena kapasitor penyearah hanya termuati kembali dalam waktu yang lebih singkat.

vl

(a) Rangkaian penyearah setengah gelombang

(b) Bentuk gelombang luaran penyearah


setengah gelombang tanpa beban

Gambar 3'1: Rangkaian penyearah setengah gelombang dan bentuk tegangan luaran tanpa beban

Tegangan luaran adalah


%: rt.vzert (3.1)
Tegangan kerja diode setidaknya dua kali tegangan dc yang diinginkan. Hal ini disebabkan karena saat mode
balik (reverse mode), diode mendapatkan tegangan positif pada satu sisi dan tegangan negatif pada sisi yang
lain
Vo :2'V" (3.2)

Pembebanan penAearah setengah gelombang

Tegangan V" > Vz hampir sepanjang gelombang sinus yang berarti diode dalam keadaan tidak menghantar.
Beban menarik muatan dari kapasitor C6 selama Vo ) Vz.Hanya pada rentang waktu o yang relatif
pendek Vz ) V,, artinya diode dalam keadaan menghantar dan kapasitor penyearah akan termuati kembali.
Gambar.3.2 menunjukkan rangkaian penyearah setengah gelombang berbeban dan bentuk gelombang
rangkaian tersebut.
saat diode dalam tidak menghantar arus yang mengalir ke beban adalah It: valRdan mengambil muatan
pada kapasitor penyearah C6.
Bab 3: Pembangkitan kgangan Tinggi DC 21

(a) Rangkaian penyearah setengah gelombang berbeban

(b) Bentuk gelombang luaran penyearah setengah gelombang


berbeban

Gambar 3.2: Rangkaian penyearah setengah gelombang dan bentuk tegangan luaran berbeban

AQ * Ia. At,mit, At x T - AQ x Ia. T (3 3)

AQ: C.26V - 26\' :'#: h (3.4)

Dari persamaan tersebut terlihat, ripple bertambah besar seiring dengan peningkatan arus beban dan dapat
diperbaiki dalam hal ini diperkecil dengan memperbesar kapasistansi kapasitor penyearah atau dengan
meningkatkan frekuensi tegangan sumber ac.
Penurunan persamaan di atas mengabaikan jatuh tegangan pada diode dan pada trafo uji tegangan tinggi.
Dalam kenyataan hal tersebut tidak dapat diabaikan, karena trafo uji tegangan tinggi mempunyai tahanan
dalam yang cukup besar. Hal ini menyebabkan tegangan pada C6 saat diode dalam keadaan menghantar
Iebih kecil dafiV2 sehingga arus charging yang besar ini menyebabkan jatuh tegangan pada stray reaktansi
trafo uji. Gambar rangkaian dan bentuk gelombang rangkaian ini dapat dilihat pada Gambar.3.3.

3.3 Penyearah Gelombang Penuh

Pada penyearah gelombang penuh, penggunaan trafo menjadi efektif karena kedua siklus setengah gelonrtrang
terbebani. Ripple pada rangkaian penyearah gelombang penuh dua kali iebih kecil daripada penyearah
setengah gelombang. Rangkaian ini juga mempunyai arus hantar puncak yang lebih rendah. Ripple rangkaian
ini adalah
26V : (3 5)
2C.f
Secara umum terdarpat dua jenis penyearah gelombang penuh. Pertama seperti yang ditunjukan pada Gambar
3.4. Rangkaian ini sering disebut dengan rangkaian titik tengah. Tegangan blocking diode pada rangkaian
ini adalah 2.\/r.V"1y dan trafo harus diketanahkan tepat pada titik tengahnya.
Rangkaian kedua ditunjukan pada Gambar.3.5 dan rangkaian ini disebut dengan rangkaian jembatan.
Tegangan blocking diode hanya ,/Z .V.ff. Belitan tegangan tinggi trafo harus diisolasi terhadap tanah
sebcsar Ji.V"rt.
22 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Sist. pengukuran i Beban


(a) Diagram pembangkitan tegangan tinggi dc secara praksis

(b) Bentuk gelombang tegangan luaran akibatjatuh tegangan pada tralb uji

Gambar 3.3: Rangkaian penyearah setengah gelombang dan bentuk tegangan luaran berbeban
jatuh tegangan pada trafo uji tegangan tinggi

Gambar 3.4: Rangkaian titik tengah penyearah gelombang penuh

Gambar 3.5: Rangkaian jembatan penyearah gelombang penuh


Bab 3: Pembangkitan kgangan Tinggi DC 23

3.4 Rangkaian Pelipatganda Tegangan Dc

3./r.1 Rangkaian Delon

Secara prinsip rangkaian delon sama seperti rangkaian penyearah setengah gelombang akan tetapi pada
rangkaian ini tegangan tidak diambil pada kapasitor penyearah tetapi pada diode. Rangkaian dan bentuk
gelombang dari rangkaian delon dapat dilihat pada Gambar. 3.6. Dengan rangkaian ini akan diperoleh
tegangan sesaat yang tinggi dengan tegangan maksimal sebesar Vo^o, : 2 . t/r.Vt.f f .Tetapi rangkaian
ini memiliki ripple yang sangat tinggi yakni 2. 6VlA :200Y0. Rangkaian ini sering dijumpai penggunaannya
pada electro precipitator dan electrostatic painting.

It
(a) Rangkaian Delon

200 kv

100 kv

-100 kv

(b) Celombang masukan dan luaran rangkaian Delon

Gambar 3.6: Rangkaian Delon dan bentuk gelombang masukan dan luaran

3./r.2 Rangkaian Delon Ganda - Liebenou Greinacher

Rangkaian ini menggunakan dua buah diode dan dua buah kapasitor penyearah. Tegangan tinggi dc
diperoleh dari selisih tegangan pada sisi positif dan sisi negatif. Tegangan tinggi dc yang diperoleh adalah
Vo : 2 . rt .Vf f .Rangkaian dan bentuk gelombang dapat dilihat pada Gambar. 3.7.
24 Teknik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

(a) Rangkaian Delon ganda (Liebenov-Greinacher)

200 kv

100 kv

-100 kv

(b) Celombang masukan dan luaran rangkaian Delon ganda (Liebenov-Greinacher)

Gambar 3.7: Rangkaian Delon ganda (Liebenov-Greinacher) dan bentuk gelombang masukan dan luaran

3.4. 3 Ro,ngkaian Villard

Gambar.3.8 adalah gambar rangkaian villard dan bentuk gelombangnya.


Rangkaian ini terdiri dari rangkaian delon yang kemudian dilewatkan pada sebuah diode dan kapasitor
penyearah. Artinya tegangan antara titik 2-0 sesaat sebesar 2.0 dan tegangan output menjadi

Vao:2.rt.V.7y (3.6)

ripple dari rangkaian ini adalah


I
25V: Ccl (3.7)

Tegangan blocking pada diode adalah Vbto.k : Z. t/1 .Vf f

3.4.4 Kaskade Greinacaher (Cochroff - Walton)


Rangkaian Kaskade Greinacher adalah rangkaian yang penting untuk membangkitkan tegangan tinggi dc dari
sumber ac yang relatif kecil (i00-200kV). Rangkaian ini juga menghasilkan daya yang besar karena dapat
membangkitkan beberapa MV dengan arus sampai dengan 100mA. Gambar 3.g menunjukkan rangkalan
sederhana dari kaskade Greinacher berserta bentuk gelombang masukan dan luararrnya.
Bab 3: Pembangkitan Tegangan Tinggi DC 25

f 0

(a) Rangkaian Villard

(b) Bentuk gelombang rangkaian Villard

Gambar 3.8: Rangkaian Villard dan bentuk gelombang masukan dan luaran

Dalam gambar terlihat dengan jelas bahwa rangkain kaskade Greinacher tiga tingkat sama dengan tiga buah
rangkaian Villard. Tegangan yang dihasilkan adalah

VAo:n.2-rt.V.yy (3.8)

Secara teoritis, kaskade Greinacher dapat membangkitkan tegangan tinggi dc setinggi mungkin. Akan tetapi
pada saat pembebanan Ripple meningkat secara tidak proporsional seiring peningkatan tingkatan generator
ini.

3.5 Generator Elektrostatik

Prinsip dari pembangkitan tegangan tinggi dc dengan generator elektrostatik adalah pemisahan muatan baik
positifatau negatifdan dikumpulkan pada sebuah elektrode. Tegangan dc yang dibangkitkan oleh generator
elektrostatik tidak memiliki ripple.
26 Teknik kgangdn Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

(a) Rangkaian kaskade Greinachlr (b) Bentuk gelombang masukan dan luaran

Gambar 3.9: Rangkaian Kaskade Greinacher (Cochroff-Walton) dan bentuk gelombang masukan dan
luaran

3.5.1 Generator Van de Graaff ' Generator Pita

Generator ini dikembangkan pertama kali oleh fisikawan Amerika Robert Van de Graaff. Skcrrratik generator
van de Graaff dapat diiihat pada Gambar. 3.10.
Adapun prinsip dari band generator adalah sebagai berikut: Melalui peluahan korona pada elektrode
jarum-pla1 akan terbentuk ion positif atau nagatif tergantung dari polaritas sumber tegangan dc untuk
membangkitkan korona. Muatan ini bergerak pada pita yang berputar dan terkumpul pada elektrode
tegangan-tinggi, sehingga elektrode tegangan tinggi termuati secara elektro statis. Kekurangan dali generator
van de Graaff adalah kesulitan dalam pengaturan dan pembebanan yang terbatas. Arus yang dihasilkan pada
pita tergantung dari kerapatan muatan bidang, kecepatan pita dan lebar pita,
Iband: o 'u 'b (3.e)

dalam hal ini a adalah kerapatan muatan bidang, u adalah kecepatan pita, dan b adalah lebar pita.
Tlansportasi muatan dibatasi oleh lebar pita. Kerapatan muatan bidang dibatasi oleh kuat medan gas
di sekitar elektrode jarum plat.
Tinggi tegangan dc di tentukan oleh tahanan isolasi, besarnya arus pita, dan tegangan awal korona. Secara
Bab 3: Pembangkitan Tegangan Tinggi DC 27

\+
I
+
il
+ +l\ A+

fqlektrode tegangan tinggi


+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
Sistem pemisahan
muatan (corona)

Gambar 3.10: Generator van de Graaff

praktis peningkatan tegangan hingga tak berhingga tidaklah mungkin karena setelah tegangan awal korona
terlewati akan terjadi peningkatan arus bocor secara tidak proporsional.

3.5.2 h'ornmel Generator Felici


Generator ini dikembangkan oleh Noel J Felici. Prinsip generator ini sama dengan prinsip genarator van
de Graaff. tommel termuati secara elektrostatik melalui korona pada elektorde jarum-plat. Muatan akan
bergerak dan memuati kapasitor melalui sikat. Skematik diagram dari rangkaian trommel generator dapat
dilihat pada Gambar. 3.11.
Secara teknis mekanisme pergerakan rotasi trommel generator lebih sederhana dari pergerakan translasi
generator van de Graaff. Kecepatan trommel dapat Iebih tinggi dari kecepatan generator van de Graaff,
sehingga arus pemuatan dan juga pembebanan lebih tinggi dari generator van de Graaff. Tegangan
maksimum dibatasi seperti halnya pada generator van de Graaff oleh rugi rugi peluahan korona.

3.6 Soal Telaah

1. Jelaskan dengan gambar, perbedaan rangkaian-rangkaian penyearah untuk membangkitkan tegangan dc!
28 Teknik kgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Sikat penerima

II
tt-Trommel dari
bahan isolasi
L--I
Gambar 3'11: Tlommel generator Felici

2. Jelaskan dengan singkat, mengapa pada pembangkitan tegangan dc penyearah setengah gelombang
tegangan blocking diode minimal 2 kali tegangan dc yang ingin dibangkitkan!
3. Berikan persamaan ripple dan jelaskan cara mengurangi ripple!
4. Dengan rk"tru sederhana, jelaskan cara kerja generator Van de Graaff dan jelaskan faktor-faktor yang
membatasi tercapainya tegagnan maksimum!

-oo0oo-
Pembangkitan Tegangan Tinggi Impuls

6 rfat alami yang tidak bisa dihindari saat pengoperasian peralatan listrik tegangan tinggi adalah bahwa
D peralatan-peralatan tersebut sering terkena tegangan lebih impuls, baik impuls karena petir maupun
impuls karena sistem kontak. Impuls akibat sambaran petir disebut dengan impuls petir dan impuls akibat
buka tutup kontak disebut dengan impuls kontak. Sehingga untuk mengetahui kekuatan isolasi peralatan
terhadap berbagai bentuk tegangan impuls ini, sangat diperlukan pengujian laboratorium terhadap peralatan
peralatan tegangan tinggi.
Tinggi tegangan lebih yang mungkin terjadi pada jaringan menentukan kekuatan dan jenis isolasi. Amplitudo
dan besaran waktu tegangan lebih telah distandarisasikan. Standarisasi ini telah diusahakan mendekati
kemungkinan pembebanan peralatan secara praktis akibat tegangan lebih impuls petir ataupun impuls
kontak. Pengujian dengan standarisasi tegangan impuls ini adalah sebuah pendekatan dari kemungkinan
yang terjadi pada pengoperasian nyata peralatan tegangan tinggi. Seperti yang kita ketahui besaran waktu
dari impuls kontak pada jaringan sangat tergantung dari konfigurasi jaringan, oleh sebab itu besaran waktu
impuls kontak sangat bervariasi pada setiap titik jaringan.
Demikian juga arus akibat sambaran petir adalah merupakan distribusi statistik, sehingga gelombang
berjalan tegangan akan berbeda beda. Karena bentuk gelombang impuls ini bervariasi, maka dibuat
standarisasi international untuk tegangan impuls (IEC60)

4.1 Besaran Besaran Tegangan Impuls

Tegangan impuls petir

Bentuk standar tegangan impuls petir dapat dilihat pada Gambar.4.1.


Besaran waktu tegangan impuls petir adalah l,2f 501ts. Dengan Ts : Tr :L,2 lts t 30% dan 7:11 : f,
: 50 ps + 2O%. Waktu ke puncak, ?s' diperoleh dari 1,67 kali rentang waktu antara 30% dan 90% nilai
tegangan. Dalam hal ini tidak dipergunakan nilai 10%, karena pada pembangkitan tegangan tinggi impuls,
osilasi pada awal tegangan impuls mempersulit menentukan nilai 10%. Harus pula diperhatikan dalam hal
30 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Gambar 4.1: Standar tegangan impuls petir

ini awal perhitungan tidak dimulai dari naiknya tegangan tetapi adanya nol virtual pada sumbu r akibat
tarikan garis Iurus antara 30To dan 90% nilai tegangan.
Waktu punggung adalah waktu antara mulairrya impuls dan 50% nilai tegangan pada punggung gelombang.
Tegangan impuls petir diharapkan unipolar. Osilasi dan overshoot di sekitar nilai puncak tegangan diijinkan,
jika nilai amplitude yang terbesar tidak melebihi \Vo nilai tegangan puncak. Osiiasi pada bagian pertama
tegangan impuls (V < 50%.V) aiiiinkan selama amplitudonya tidak melebihi 25% nilai puncak. Gambar 4.2
menunjukkan beberapa contoh tegangan impuls petir dengan osilasi dan overshoot beserta cara menentukan
nilai puncak tegangan impuls petir.

Gambar 4.2: Beberapa contoh tegangan impuls dengan osilasi dan overshoot. (a) ,(b) Tinggi tegangan uji
adalah kurva rata-rata (garis putus-putus); (c), (d) Tinggi tegangan uji ditentukan oleh titik
tertinggi kurva
Bab 4: Pembangkitan Tegangan Tinggi Impuls 3t

Tegangan impuls kontak

Besaran waktu standar untuk tegangan impuls kontak adalah 25012500ps. Dengan Tc, :
Tt:250 1L's 20% t
*
danT2:)gQ0 p.s 60%. Bentuk standarisasi gelombang tegangan impuls kontak dapat dilihat pada Gambar
4.3.

Gambar 4.3: Standar tegangan impuls kontak

Waktu ke puncak ?6, diperoleh dari rentang waktu antara awal impuls dan tercapainya nilai puncak.
Osilasi frekuensi tinggi saat pembangkitan tegangan impuls masih ada akan tetapi hal ini secara praktis tidak
berpengaruh karena konstanta waktu tegangan impuls petir jauh lebih besar dari osilasi ini' Waktu punggung
T2 merupakan rentang waktu antara awal impuls dan nilai 50% nilai tegangan puncak pada punggung
gelombang. Waktu punggung ini mempunyai toleransi sangat besar, karena tergantung dari impedansi benda
uji, realisa-si waktu punggung ini bisa menjadi sangat sulit. Toleransi nilai puncak tegangan impuls kontak
harus tetap 3%. Permasalahan penentuan nilai puncak seperti pada tegangan impuls petir tidak ditemui
karena proses osilasi telah hilang saat mencapai nilai puncak. Besaran lain yang biasa melengkapi besaran
tegangan impuls kontak adalah Waktu puncak Ta lang didefinisikan sebagai rentang waktu dimana nilai
tegangan lebih besar dari 90%.

4.2 Rangkaian Pembangkit Tegangan Impuls Satu Tingkat

Tegangan impuls sampai dengan nilai puncak 300kV umumnya dibangkitkan dengan rangkaian satu tingkat'
Untuk tegangan yang lebih tinggi dipergunakan pelipatganda tegangan atau sering disebut dengan Marx
generator.
.:.. Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

1.2.1 Rangkai.an d,an Pri,nsi,p Kerja Pembangkit Tegangan Irnpuls


):a t1'pe rangkaian pembangkit tegangan impuls dapat dilihat pada Gambar. 4.4. trnergi tersimpan pada

(b) Tipe 2

Gambar 4.4: Rangkaian pengganti pembangkit tegangan impuls tipe 1 dan tipe 2

kapasitor impuls, C, yang termuati secara perlahan melalui transformator tegagangan tinggi dan penyearah.
Konstanta waktu pemuatan 2 berkisar s ... min. Setalah kapasitor dimuati sesuai dengan tegangan
pemuatan yang diinginkan, kontak sela bola S.F ditrigger. Tegangan pada beban saat ini masih OkV karena
kapasitor diketanahkan melalui Ro. Setelah kontak sela bola terhubung akan terjadi pemindahan muatan dari
kapasitor impuls ke beban yang kebanyakan bersifat sebagai kapasitor. Konstanta waktu pemindahan muatan
ini ditentukan oleh tahanan redam l?p dan kapasitansi beban Cr. Secara bersamaan peluahan Cs dan Cp
melalui E6 sudah dimulai. Konstanta waktu dari peluahan ini ditentukan oleh nilai Cs dan -86. Secara
praktis, rangkaian tipe yang umum digunakan dalam membangkitkan tegangan impuls, karena efisiensi
^1
rangkaian tipe 1 \ : V lVt (Perbandingan antara nilai puncak tegangan dan nilai tegangan pemuatan)
Iebih baik daripada rangakaian tipe 2. Ini terlihat jelas, berbeda dengan tipe 1, pada tipe 2 Rp dan RB
membentuk pembagi tegangan sehingga tegangan output menjadi lebih kecil dibandingkan dengan tipe 1.
Satu satunya alasan menggunakan rangkaian tipe 2 adalah jika -BE secara bersamaan dimanfaatkan sebagai
pembagi tegangan untuk keperluan pengukuran tegangan impuls.

4.2.2 Perhi,tungan Besaro,n Beso,ran Tegangan lrnpuls


Rangkaian Tipe 1 dapat dijelaskan secara matematis dengan persamaan diferensial berikut.

+P*o#rBu(t) :g (4.1)
Bab 4: Pembangkitan kgangan Tinggi Impuls 33

Persamaan menggunakan transformasi Laplace dan dengan bantuan Gambar 4.5.

D
l/s G l\D

I l/s cs
)vt,
J'^" rG)

Gambar 4.5: Rangkaian pengganti pembangkit tegangan impuls tipe 1 transformasi Laplace

r(r) : T Zt Zzl lQz + Z+) Za (4.2)


+ Zz/ /Qz + 24) Zs + Z4
dengan:
Z1 :1, SU.g
zz:Ra: Zs: Ro: Z+: s\,
--;-R
1
(4.3)

yang mana
o- | 1

^- Ro.co- ao.gt-- Rr.ct (4.4)

dan
1
o- (4.5)
- Rn'Ce'Ra'Cs
Untuk Tipe 2 diperoleh B dan K adalah sama seperti tipe 1 tetapi

a 111 t (4.6)
^- RD.qs- Ro.cu-
-r- nu.gu
Persamaan diferensial ini dapat diselesaikan dcngan hukum eksponensial. Kondisi mula yang harus
diperhatikan adalah saat waktu t : 0, tegangan pada Cs adalah Ut dan tegangan pada Cs bernilai 0.
Penyelesaiannya menjadi:
tr(t) :* e-o,t) (4.7)
_+.(e-o,'-
Dengan

a7,2 :l o* lT - *dan K : Ro. cB (4.8)

Dari persamaan yang telah diuraikan dapat dilihat bahwa gelombang impuls terbentuk dari dua buah
persamaan ekponensial yang secara grafis dapat dilihat pada Gambar 4.6 Dari analisa tersebut di atas,
nilai 30% dan 90% dari tegangan puncak juga harus diperhitungkan. Sehingga akan diperoleh nilai waktu
ke puncak dan waktu punggung besaran tegangan tinggi impuls. Secara pendekatan praktis di peroleh
34 Teknik Tegangan Iinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Gambar 4.6: Gelombang tegangan impuls dan komponen-komponennya'

Ts :2,96' Ro 9^'-r 'P. (4.e)


wa Cs
Ta:0,73'RE'Ce * Cs (4.10)
Cs
.r ep*Cs
m:- (4.11)

redam Rn
Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa waktu ke puncak. ?s dipengaruhi oleh tahanan
olejh tahanan peluahan R6
dan rangkaian serta cs dan crr. sedangkan untuk waktu punggung dipengaruhi
aan ,anluian pararel dari Ca dan Cs. Efisiensi diperoleh dari perpindahan muatan'
V Cs
Cs'Vr,: (Cn + Cs) 'l/ a q - Vr Co*Cs
(4.12)

Semua persamaan tersebut diatas adalah untuk rangkaian tipe 1' Untuk
tipe 2 diperoleh:

,rv !''
:2's6' R! 9'
Ts
Rn*Ro CntCs '! (4.13)

?n - 0,73'(RE + EP) 'Ca * Cs (4.14)

q: 6TRpR; c;TCs c, (4.15)

pengali yang dipergunakan tidak


Untuk tegangan impuls kontak dengan besaran waktu 25012500 ps faktor
Iagi 2,96 dan 0,73 melainkan 2,41 dan 0,87.
Bab 4: Pembangkitan Tegangan Tinggi Impuls 35

4.2. 3 Induktansi parasit

Pada rangkaian tegangan tinggi disamping keberadaan stray kapasitansi tidak dapat dihindarkan pula
dengan keberadaan induktansi parasit. Induktnsi parasit pada kapasitor impuls (yang membedakan baik
dan buruknya generatol impuls) dan pada kabel yang menghubungkan ke kapasitansi beban salam hal ini
test obyek harus diatur.
Besar induktansi dalam sebuah kapasitor impuls secara umum tidak dapat kita ubah (kecuali melakukan
pemilihan yang baik saat penibelian) akan tetapi kita dapat mengurangi indukatansi kabel dengan cara
memperpendek rangkaian pongujian (rangkaian pcngujian yang kompak). Untuk keperluan analisis pengaruh
ind.uktansi tersebut dapat diganti dcngan menggunakan induktansi terpusat seperti pada Gambat.4.7.Dati

Gambar 4.7: Rangkaian osiiasi pada generator impuls

induktansi ini akan terbentuk rangkaian osilasi Cs - Ls - CB yang akan teredam oleh tahanan redam Ep.
Untuk Cs ) C6 rangkaian osilasi ini akan teredam kritis, ftp > 2\/Tre;. Dengan demikian terdapat
sebuah persyaratan tambahan untuk .Rp. Yang perlu diperhatikan adalah makin besar E6r maka waktu ke
puncak 7s juga akan semakin besar. Sehingga secara praktis, nilai .ED dipilih sedemikian rupa sehingga
pada satu sisi ?s masih dalam batas toleransinya (R, < Rp-"*)dan di sisi lain osilasi harus teredam tidak
melewati atas yang diijinkan (maksimal 5Vo dari n @" > zJECB)
Pada -Ls yang relative besar sering kali hal tersebut diatas tidak dapat dipenuhi, Dalam hal ini, jika tidak
waktu ke puncak maka osilasinya yang terlaiu besar. Karena kapasitansi beban merupakan nilai tetap maka
masalah ini hanya dapat dipecahkan dengan mengurangi induktansi.

4.3 Rangkaian Pelipatganda

Untuk membangkitkan tegangan impuls yang lebih besar dari 300kV tanpa pengecualian selalu menggunakan
rangkaian pelipatgandaan tegangan menurut Marx yang sering disebut dengan generator Marx. Prinsip dari
rangkaian ini adalah beberapa kapasitor impuls termuati secara parallel pada tegangan pemuatan V1, dan
melalui kontak sela bola akan terhubung dan membuang muatan secara seri pada beban.

4.3.1 Rangkaian Pengganti Generator Marr


Rangkaian pengganti generator Marx secara sederhana dapat dilihat pada Gambar 4.8
36 Teknik Tegangan Tin ggi ; P rins ip dan Apl ikas iny a

Gambar 4.8: Rangkaian pengganti generator Marx

Proses pemuatan

Kapasitor impuls Cs akan termuati pada tegangan [, oleh trafo tegangan tinggi dan diode melalui tahanan
pemuatan ,3!, tahanan redam .R'p dan tahanan peluahan .R'r. Agar semua kapasitor impuls termuati dengan
tegangan pemuatan V7 fang sama maka tahanan depan ,87,6 ) R'7 agar pemuatan jauh lebih lambat
dari konstanta waktu pemuatan masing masing kapasitor (rt - R'".Ct) pada setiap tingkat. Tahanan
pemuatan .R, diperlukan untuk memisahkan setiap tingkatan setelah penyalaan kontak sela bola. Nilai
tahanan pemuatan ,E! dibuat sedemikian rupa agar saat pemuatan seolah terhubung singkat dan saat
penyalaan kontak sela bola seolah terbuka. Nilai minimal dari r9! harus memperhitungkan konstanta waktu
untuk tegangan impuls kontak (Tz :2500tts). Nilai konstanta waktu pemuatan umumnya pada orde rL x 20
ms. Sehingga jika nilai kapasitor impuls diketahui (nilai tipikal 0,5 ' . . 2p F) maka nilai .Bf dapat diketahui.
Pemuatan harus sedemikan lambat sehingga tingkat ke n pun termuati secara penuh dengan tegangan
pemuatan yang diinginkan. Waktu pernuatan urnumnya berkisar pada 30 s .2 min.

Penyalaan kontak sela bola

Setelah semua kapasitor impuls termuati dengan nilai tegangan yang diinginkan, maka kontak sela bola
tingkat terbawah akan ditrigger. Pada kontak sela bola yang lain akan terjadi tegangan lebih sesaat akibat
proses transient, sehingga seluruh kontak sela bola akan mengalami penyalaan secara bersamaan. Potensial
Bab 4: Pembangkitan Tegangan Tinggi Impuls 37

pada titik 2 yang semula nol akan meningkat seperti tegangan pada titik 1 yang sama dengan V7,. Sehingga
pada titik 3 akan mempunyai potensial 2.Vy.Padatitik sisi tegangan tinggi akan bernilai n.V7,. Kapasitansi
benda uji akan termuati melalui tahanan redam /?'r. Secara bersamaan peluahan sudah dimulai melalui rB!
pada setiap tingkat.

/r.3.2 Perhitungan besaran besaran impuls pado, generator Marn

Besaran besaran impuls pada generator Mark dapat diperoleh dengan membawa rangkaian generator Marx
kembali pada rangkaian tipe 1. Perhitungan perhitungan dilakukan dengan menggunakan nilai nilai efektif
komponen komponen rangkaian tersebut.
o Kapasitansi kapasitor impuls efektif, Cs dihitung dari Cs : Cbln, karena kapasitor impuls tehubung
secara seri.
o Tegangan pemuatan efcktif V7 adalah V! .n
o Tahanan redam efektif, Rp diperoleh dari n. R'n (karena ierhubung seri)
o Tahanan peluahan efektif Rn : n. R'o
Perhitungan parameter tegangan impuls Ts,Ta dilakukan seperti rangkaian satu tinggat dengan
menggunakan nilai nilai efcktif komponen generator impuls. Pada generator impuls bertingkat harus di
perhatikan bahwa kapasitansi efektif kapasitor impuls berkurang dengan meningkatnya jumlah tingkat
generator impuls. Umumnya dalam pengujian menggunakan tegangan impuls tidak menggunakan kapasitas
tegangan secara penuh, sehingga ada kemungkinan untuk mnengurangi tingkatan generator impuls, artinya
tegangan tinggi tidak diambil dari titik 2n tetapi misalnya pada titik 4 atau 6. Dengan variasi rangkaian ini
harus diperhatikan bahwa ,11 pada tingkatan yang tidak dipergunakan harus dilepas dan kapasitor impuls
harus dihubungsingkatkan.

Contoh: Generator impuls 18 tingkat dengan Cb:0,51tF,V!^"*:200kV, Vout:850kV, Cau: CB


:5nF.
Variasi A: 18 tingkat

c" : at^
fr:27,8 nF

, : --9!-:
USi + UB
o,gb

-- vL:vout - looo kv
rl
r,' V7
-vL:f:55,0tv

Variasi B: 5 tingkat
38 Teknik Tegangan Tinggi ; Prins ip dan Apl ikas inya

,, : ?:1oo nF
,t : c# cr:0.952
. (JL:vo't -8g2,g kv
rl

,Vl.:*:rza,auv
\ aria''i B mempunyai perbandingan kapasitansi impuls efektif dengan kapasitansi beban jauh lebih besar dari
variasi A (B : CslCa: 20 dan A: CslCs: 5,56). Hal ini mempermudah menjaga parameter tegangan
irnpuls Ts,Tn berada pada tolcransinya dibandingka,n dcngan variasi A. Kekurangan dengan mengurangi
tingkatan generator impuls adalah kapasitor impuls termuati dengan tegangan pemuatan lebih tinggi. Nur"*
n.rasa pakai kapasitor impuls (jumlah pemuatan dan peluahan) meningkat secara tid.ak proporsional
dengan
berkulangnya tegangan pemuatan. Schingga disarankan menggunakan tingkat sebanyak mungkin. Secara
praktis sebaiknya menggunakan tingkat sebanyak mungkin tetapi parameter tegangan impuls tetap terjaga
pada toleransinya.

/r. 3. 3 Induktansi Parasit

Seperti juga pada generator impuls satu tingkat, induktansi parasit pada rangkaian pelipatganda tegangan
menimbulkan osilasi yang harus diredam. Induktansi total adalah L : n. L,s * Lxot (L,s: induktansi satu
tingkat). Di sini juga berlaku bahwa dengan pengurangan rangkaian seri perbandingariantara LICB lebih
menguntungkan dibandingkan dengan rangkaian penuh.
\ilai tipikal ,Ls berkisar 26 ps per tingkat dan kawat penghubung adalah lpHlm. Rangkaian osilasi terbentuk
darirangkaianCl-SF-R'o-L's-Cb--..R'r-L's-L*oa-C6.Rangkaiarrosilasitersebutdapat
diiihat pada Gambar. 4.9, Disamping rangkaian osilasi dengan orde frekuensi lMHz ini ada pula osiiasi

SFRDL

c.
Ir
-__-_--I-
T1" -L
T
CB

Dengan: C.=C./n; Ro=R'o. n L=Z'5. n+Z*,0

Gambar 4.9: Rangkaian osilasi generator Marx

1'ang disebabkan oleh stray kapasitansi. Khususnya yang disebabkan oleh stray kapasitansi antar tingkat
yang paralel dengan ,Bi. Sehingga rangkaian osilasi ini secara keseluruhan memilili frekuensi yang
b-esar
("f - 3"'10 MHz). Osilasi ini teredam oleh tand kapasitor impuls juga oleh dielektrikum benda
uji (Ca)
dan tahanan peredam rRf,. Osilasi akan semakin nyata dengan makin besarnya Rp. Osilasi yang terjadi pada
awal impuls dan mempengaruhi bentuk gelombang dapat diabaikan karena osila^Ji pada awal impuis sampai
39
Bab 4: Pembangkitan Tegangan Tinggi Impuls

dengan u (0,b 0 dengan amplitude samapi dengan 25V00 masih diijinkan. Osilasi ini dapat dihindari atau
di kurangi clengan mengganti tahanan peredam dengan batang penghantar (menghubungsingkatkan stray
kapasitoiberarti menghilangkan pengaruh stray kapasitor) dan menggunakan tahanan peredam luar.

/r. 3. /, Masalah P enYalaan

pada generator impulse bertingkat, kontak sela bola diatur sedemikian rupa sehingga tegangan responnya
generator satu tingkat setelah
i"Lin U'.r- (sekitai 5%) dari tegangan pemuatan, Seperti halnya proses pada
diperoieli tegangan pemuatan yang diinginkan kontak scla bola terbawah ditrigger. Sebelum penyalaan
kontak sela bola tegangan pada elektrode tegangan tinggi (titik 2n) berada pada tegangan tanah. Tegangan
pada sebuah kapasitoi tidak dapat meningkat secara tiba-tiba, sehingga tepat setelah penyalaan kontak
pada titik 2n masih tetap 0. Kontak sela bola terbawah telah ternyalakan, potensial
seia bo1a, tegangan
peluahan R'8, maka
pada titik ZL""juai Vi. Jika kita mengabaikan tahanan peredam terhadap tahanan
iuhurru, peluahah aarilitit< 2 saurpai titik 2n membentuk rangkaian pembagi tegangan. Jatuh tegangan
pada tahanan peluahan tingkat ke 2 menjadr u:VLl(n - 1). Tegangan ini terletak seri dengan tegangan
ic kapasitor impuls dan ini menyebatrkan tegangan lebih sesaat pada kontak sela bola. Teganganhanya lebih
ini menurun dengan meningkatnya jumlah tingkat generator impuls. Mekanisme ini hanya berfungsi
sampai dengan beberapa tingkat generator impuls (sampai dengan 10 tingkat)'
pada kenyatuu, g"rrurulor impuls mencapai v = 20. . . 30 tingkat dan kontak sela bola setiap tingkatnya tetap
ke tanah harus
dapat ternyalakan secara bersamaan. Dengan pengamatan yang lebih detil, stray kapasitansi
diperhitungkan (Csr"r, CsT,", CsTuu, dst), artinya potensial pada titik 2,4,6 dst tidak dapat meningkat
,""uru cepJt sesuai a""rg"r, fon.tarrtu waktu masing masing. Pada titik 2 bernilai 12: R'o'Csr,r, untuk
titik 4 bernilai ra : (2Hp* R'r).Csrn* dstnya. Dengan bertambahnya jumlah tingkat, stray kapasitansi ke

tanah memang bertamb"ah keJil tetapitonstanta waktu jika dibandingkan dengan tingkat ke 2 tetap lebih
besar karena dengan bertambahnya tingkat, tahanan efektif menjadi lebih besar. Pengaruh stray
kapasitansi
ke tanah ini meyebabkan tegangan lebih transien sesaat pada kontak sela bola tingkat ke 2 dan akhirnya
meny-ebabkan penyalaa.r pada kontak sela bola ini. Hal ini akan berlanjut sampai tingkat ke n dengan
perbedaan waktu yang dapat diabaikan. Kesulitan yang paling besar adalah penyalaan tingkat ke 2, karena
penyalaan selalu lebih mudah. Adapun persyaratan utama
i"rrgul bertambahnya tingkat, kondisi untuk
mula telah tersedia diantara ruang medan kontak
penlalaan ini adalah saat terjadinya tegangan lebih elektron
kontak sela bola in
sela bola. Hal ini diperoleh dengan desain penempatan sela bola yang tepat. Apabila
yang dihasilkan pada penyalaan kontak sela bola
terlihat satu sama lainnya dalam satu lajur, sinar ultraviolet
yang pertama menghasilkan elektron mula pada kontak sela bola tingkat berikutnya, demikian seterusnya'
karikteristik penyalaan genarator impuls sangat dipengaruhi oleh layout instalasi (stray kapasitansi ke

tanah) generator impuls,-artinya dua buah generator impuls dengan komponen yang sama tetapi layout
p"r"*putun yang berbeda dapat mempunyai karakteristik penyalaan berbeda.
begitu
Fada pembangkitan tegangan- impuls kontak pengaruh tegangan iebih pada kontak sela bola tidak
tegangan impuls petir
besar seperti pada pembangkitan tegangan impuls petir, karena pada pembangkitan
R,, mempunyui rritui tidak sama yang mana tegangan pada titik 2 meningkat secara perlahan' Oleh karena itu
pida pembangkitan tegangan impuls kontak, tahanan peredam tingkat terbawah diparalel dengan sebuah
Lpasitor yang sering air"Urrt dengan penunjang penyalaan. Kapasitor ini untuk memastikan terjadinya
telangan fuUitr paaa ,R/, tingkat ke 2 yang berdampak positif pada karakteristik penyalaan.
Meskilun tetat aiiet#t<an Lerbagai efek diatas, masalah penyalaan selalu muncul pada pembangkitan
tegangan impuls. Penyebab utamanya adalah waktu pemuatan yang terlalu pendek. Dalam hal ini tegangan
p""*ult"n pLa" C,, tingkat lebih tinggi tidak tercapai dan tegangan lebih transien pada kontak sela bola
iiduk -.ryebabkan penyalaan. Hal dapat diperbaiki dengan memperpanjang waktu pemuatan'

'r-...,,;r .r1r.,.,t,,..
40 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

4.4 Soal Telaah

1. Sebutkan standar waktu tegangan impuls petir dan impuls kontak! Berapa besar toleransi yang diijinkan
pada besaran-besaran waktu tersebut?
2. Gambarkan rangkaian-rangkaian pembangkit tegangan impuls dan jelaskan keuntungan dan kerugain dari
rangkaian rangkaian tersebutl
Gambarkan secara sederhana rangkaian generator marx! Jelaskan cara manghitung besaran-besarannya
jika dikembalikan pada rangkaian dasar satu tingkat!
4. Jelaskan pengaruh induktansi pada bentuk gelombang tegangan impuls pada pembangkitan tegangan
impuls!
5. Pada rangkaian pembangkitan tegangan impuls, sebutkan komponen-komponen yang mempengaruhi
waktu ke puncak dan waktu punggung tegangan tersebut.
6. Jelaskan masalah penyalaan pada generator impuls bertingkat!

-oo0oo-
ffi
ffi
Arus Impuls

Lzepasitor arus impuls dipergunakan untuk pengujian arrester seperti juga untuk pengujian EMC
I\ peralatan (pengaruh induktansi) dan juga untuk simulasi sambaran petir langsung (sambaran petir
merupakan sumber arus). Arus impuls terdiri dari arus impuls eksponensial dan arus impuls waktu panjang
(arus impuls segiempat)

5.1- Arus Impuls Eksponensial


Bentuk arus impuls eksponensial dapat dilihat pada Gambar 5.1. Besaran besaran arus impuls eksponensial

Gambar 5.1: Bentuk gelombang arus impuls eksponensial

adalah sebagai berikut:


42 Teknik kgangan Iinggi; Prinsip dan Aplikasinya

1. Waktu ke puncak, 7r, didefinisikan sebagai 1.25 kali rantang waktu antara 10% dan g0% nilai arus.
2. Waktu punggung, 72, didefinisikan sebagai rentang waktu antara impuls awal virtual, 01, dan nilai 50%
arus pada punggung impuls.
3. Adapun toleransi dari besaran besaran tersebut adalah
o Nilai puncak adalah *10%
o Waktu ke puncak, 7r adalah +70%
o Waktrr punggung, T2 adalah tl\To
Pembangkitan arus impuls eksponensial dilahukan dengan rangkaian osilasi periodik atan rangkaian osilasi
periodik teredam. Rangkaian pembangkit arus impuls secara sederhana dapat dilihat pada Gambar b.2.
Induktansi .Ls umumnla bukanlah komponen riil tetapi ditentukan oleh induktansi kabel rangkaian dan

Gambar 5.2: Diagram skematik rangkaian pengganti pembangkit arus impuls eksponensial

induktansi benda uji. Kuaiitas pembangkit arus impuls umumnya ditentukan oleh nilai arus maksimum
yang dibangkitkan dan beban induktif maksimum yang dapat ditanggung oleh pembangkit.
Arus impuls yang umum adalah : 4ll01rs 8f 20p,s, 10/350ps, arus maksimum,'i^o1", sampai dengan 100kA.

5.2 Arus impuls waktu panjang atau arus impuls segiempat

Bentuk arus impuls eksponensila dapat dilihat pada Gambar 5.3. Besaran arus impuls ini umumnya diberikan

I
0.el

Gambar 5.3: Bentuk gelombang arus impuls segiempat


Bab 5: Arus Impuls 43

dengan lama waktu puncak, Tp,lang didefinisikan dengan rentang waktu selama arus bernilai Iebih besar
dari 90% dengan toleransi untuk nilai puncak *20% dan -0% dan toleransi rentang waktu *20% dan -0%
Arus impuls ini umumnya dibangkitkan dengan rangkaian penghantar berantai. Magnitudo arus impuls
divariasikan melalui tegangan pemuatan sementara lama waktu puncak divariasikan melalui jumlah rantai
atau tingkatan rangkaian.
Rangkaian pembangkitan arus impuls segiempat dapat dilihat pada Gambar 5.4.

Gambar 5.4: Diagram skematik rangkaian pengganti pembangkit arus impuls segiempat

5.3 Soal Telaah

1. Berikan standard waktu arus impuls eksponensial dan arus impuls waktu panjang (segiempat) beserta
toleransinya!
2. Gambarkan rangkaian pembangkitan arus impuls segiempat!
Bagaimanakah cara memperpanjang waktu impuls pada pembangkitan arus impuls segiempat?

-oo0oo-
Bagian II
PROSES KEGAGATAN BAHAN ISOLASI

i,

t 1..;l;.-,, ;..:, . :',;,,1i$, .lI


I d an l(rarti.prin I
t
I
\ Propinsi Jawr Timn? sl
Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas

6.1 Karakteristik Dasar Gas

Proses kegagalan pada bahan isolasi gas sangat tergantung dari pembarva muatan daiam gas. Pernbawa
mltatan dalam hal ini adalah clcktron-clektron dan ion-ion. Pembawa muatan ini bergerak karena medan
Iistrik dan dalam pergerakannya mencapai energi tertentu untuk mernbentuk pembawa muatan baru melalui
proses ionisasi. Karakteristik pembawa muatan pada gas sangat dipengaruhi oleh proscs benturan dengan
molekul. Sehingga pada bagian awal dari proses kegagalan bahan isolasi gas akan dibahas pergerakan molekul
pada bahan isolasi gas.

6.1.1 Kecepatan Molekul Gas

Pergerakan termal sebuah molekul dalam gas bersifat acak atau tak beraturan. Molekul bergerak dengan
arah dan panjang jalur pergerakan yang berbeda-beda. Jalur ini mempunyai sudut tajam pada tempat di
mana molekul ini mengalami benturan dengan molekul lain dan secara sederhana dapat digambarkan seperti
yang terlihat pada Gambar 6.1.

Molekul bergerak dengan kecepatan berbeda-beda bergantung pada temperatur dan berat molekul. Pada gas
ideal kecepatan molekul atau partikel mengikuti distribusi Boltzmann-Maxwell seperti yang terlihat pada
Gambar 6.2.
Distribusi Boltzmann-Maxwell dapat dijelaskan secara matematik dengan persamaan sebagai berikut:

#(*)' *ol-(#)'l
dN(u)lN
- dr6; = (6. 1)

Dalam hal ini N(o) jumlah partikel dengan kecepatan u, ly' adalah jumlah total partikel dan o. adalah
kecepatan yang paling mungkin. Kecepatan rata-rata u*karena ketidaksimetrian distribusi lebih besar dari
48 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Gambar 6.1: pergerakan molekul dalam gas

Gambar 6.2: Distribusi Boltzzmann-Maxwell

u.,. Demikian pula dengan kecepatan efektif u"y1 lebih besar dari kecepatan rata-ratauml

uull)um)Uw (6.2)

I\{elalui penurunan dan pembentukan nilai rata-rata diperoleh:

-2
um:o:Gu-:r'128u- (6.3)

u"f f : JA : 1/-s1zr- : 1.22u- (6.4)

Melalui pertukaran energi pada proses benturan, semua partikel yang bergerak hanya karena pergerakan
termal berada dalam keadaan setimbang dan memiliki energi kinetik rata-rata yang sama. Dengan gambaran
model bola elastis, gas tidak dapat menerima energi selain dari energi akibat pergerakan ini atau energi
kinetik. Energi kinetik rata-rata sebuah partikel dengan massa rn adalah:
mu?,, f
et I J , m
(6.5)
Wnnn: ,,

k adalah konstanta Boltzmann : 1.38.10-23ws/'K(;oulel'K) atau sama dengan 8.617'10-5eV/K dan T


adalah temperatur mutlak dan / adalah derajat kebebasan yang nilainya tergantung dari jenis gas ("f : 3
untuk gas satu atom, gas rnurni dan elektron (3 derajat kebebasan translasi); I : 5 untuk gas 2 atom (3
transla^si dan 2 rotasi) dan / : 6 untuk gas sama dengan dan lebih 3 atom (tiga translasi dan 3 rotasi)).
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 49

Energi pada gas hanya ditentukan oleh temperatur partikel. Untuk gas satu atom, dari persamaan (6.3),
(6.4) dan (6.5) dapat diperoleh parameter berbeda distribusi kecepatan:

uel J
likr u-:l lrkr
:U;' un-
8kr (6.6)
m; m

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa makin kecil massa molekul, makin tinggi kecepatannya. Pada
temperatur T : 273.15oK kecepatan berbagai gas dapat dilihat pada tabel 6.1. Dengan massa elektron
me : 9.1 .10-31 kg dan massa proton/Neutron mo : 1.67 .10-27 kg - 1840rn". Dalam proses peluahan
(discharge) dalam gas, akibat pergerakan termal molekul gas hanya bergerak maksimal sejauh 1mm dalam
1ps, sedangkan elektron bergerak sejauh 100 mm. Tetapi hal ini tidak linear karena pergerakan molekul atau
partikel yang tak beraturan akibat perubahan arah saat benturan.

Tabel 6.1: Relatif masa molekul dan kecepatan efektif molekul untuk berbagai gas pada 273 K

ls Masa molekul relatil u" 1 1(km/s) tlm ( KIII/ S

]f2 2E 0.49 0.45


Oz 32 0.46 0.42
H2 28 1.84 L.70
H2O(uap) 18 0.61 0.55
Coz 44 0.39 0.36
SFo 146 o.22 0.20
Elektron tlt840 111 .6 100

6.1,2 Panjang Jalur Bebas Rata-rata

Pada model gas ideal, partikel bergerak sepanjang jalur bebas, l, sebelum proses benturan dengan partikel
Iain. Panjang jalur bebas pergerakan partikel sangat bervariasi dan merupakan proses statistik yang
memunculkan parameter panjang jalur bebas rata-rata .\-. Parameter ini mempunyai arti yang sangat
besar pada interaksi partikel bermuatan listrik dengan atom netral dan molekul-molekul gas dalam proses
peluahan gas (gas discharge). Partikel bermuatan mengambil energi dari medan Iistrik dan memberikannya
sebagian pada molekul dan atom gas saat proses benturan. Proses benturan ini dapat mengakibatkan ionisasi
yang dapat menyebabkan terjadinya pertambahan pembawa muatan (elektron) dan dapat menyulut proses
kegagalan pada bahan isolasi gas. Proses ini terjadi apabila energi dan juga kecepatan pembawa muatan
melampaui suatu nilai batas tertentu. Gaya akibat medan listrik pada pembawa muatan menyebabkan
pergerakan termal yang semula tak beraturan menjadi pergerakan beraturan yang searah medan. Pergerakan
sebuah partikel jenis A dengan jari-jari r4 dalam perjalanamya melalui gas dengan jenis partikel B seperti
yang terlihat pada Gambar 6.3

Sebuah luasan bentura antara partikel A dan partikel B yang ditandai dengan permukaan lingkar putus-putus
disebut dengan cross-section (luasan) benturan atau luasan efektif a"

a":r(rolr)2
50 Telvtik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Gambar 6.3: Model pergerakan dan benturan da'lam gas

partikel B diasumsikan dalam keadaan statis. Kemungkinan (probabilitas) benturan antara partikel A dan
partikel B dalam jalur zigzag adalah:
dw : nB ' as ' d,s (6'7)

rzr adalah kerapatan molekul gas. Karena panjang jalur bebas bernilai rata-rata .\-, maka probabilitas
terjadi sebuah proses benturan pada jalur ds adalah

dw: (6.8)
{a'
dari persamaan (6.7) maka diperoleh
\m--_ 1
(6.e)
TIB ' &s
panjang jalur bebas rata-rata tergantung dari kerapatan gas np dan luasan efektif o". Dengan asumsi bahwa
t eberaJaan partikel A sangat seaitit dalam gffi B, sehingga dengan
pengabaian partikel A yang mana berarti
n: nB dan dengan
p.V: N'kT )n:+: # (6.10)

akan diperoleh:
Am_
tkT (6.11)
- asP
--
jalur bebas rata-rata'
Disamping temperatur dan tekanan, luas lawan bentur sangat menentukan panjang
gas statis, artinya ra (1 r3, maka jalur bebas rata-rata elektron
Jika elektron bertemu dengan molekul
dalam gas menjadi
r_ kr
\"* x rrfo p (6.12)

Jika Ion-ion yang bergerak membentur molekul gas yang mana berarti r4 x ra maka panjang jalur bebas

rata-rata ion-ion dalam gas menjadi


\t* = -;----T-
1kT (6.13)
+Trh p
Untuk panjang jalur bebas rata-rata molekul gas harus diperhatikan bahwa kecepatan lawan bentur rata-
rata telak lurus satu sama lainnya dan panjang jalur bebas rata-rata molekul gas akan diperkecil kembali
dengan f.aktor rt lkT
\n* x (6.14)
Affirr, p
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 51

Dengan demikian panjang jalur bebas rata-rata elektron dalam gas jauh Iebih besar dari panjang jalur bebas
rata-rata gasnya sendiri. Dari persamaan (6.12), (6.13), (6.14) diperoleh:

\.* * 4^/r^s* = 5.661e- (6.15)


),"* x 4\i* (6.16)

Panjang jalur bebas rata-rata molekul dan elektron pada berbagai gas dapat dilihat pada tabel 6.2.

Tabei 6.2: Panjang jalur bebas rata-rata untuk Molekul dan elektron pada berbagai gas

Jenis Gas I *(p,m) ),"*jtm)


Hz 0.11 0.63
N2 0.058 0.33
0z 0.064 0.36
Hzo 0.041 0.23
Coz 0.039 o.22
SF 0.025 0.13

Gambaran model molekul dan ion berbentuk bola dan elektron berbentuk titik hanya memberikan
pendekatan untuk keadaan nyata. Antara pembawa muatan dan molekul dipengaruhi oleh gaya elektrik
yang berefek tidak saja sesaat sebelum benturan tetapi sudah jarak tertentu sebelum benturan. Sehingga
Iuasan efektif lebih besar daripada model molekul yang digambarkan pada Gambar 6.3.
Distribusi panjangjalur bebas dapat digambarkan dengan model gas yang dalam proses benturan satu dengan
yang lainnya bersifat elastis. Pembawa muatan bergerak di dalam gas terlihat seperti yang digambarkan pada
Gambar 6.4.

@-O O
o -*--f
@r...-.----* O
N(r)/Na(

Gambar 6.4: Hukum panjang jalur Clausius

Ne(r) adalah jumlah pembawa muatan, yang setelah bergerak sepadang r tidak mengalami benturan,
sehingga panjang jalur bebasnya sama dengan atau lebih besar dari r. Jumlah pembawa muatan yang
terbebas saat benturan akan mengalami perubahan menjadi dl/a pada daerah batas dimana tempat terjadi
benturan. Persamaan (6.17) memberikan probabilitas dr.u untuk proses benturan sebuah pembawa muatan.
Untuk NA pembawa muatan dengan ds : dr
52 Teknik Tegongan Tinggi; Prinsip dan Aplikosinya

a(r) : - Ne(r)d,w : - wa@)


d,N
ff
l{a(r) : l{n(0) exP(-rl)'^)
sehingga akan diperoleh hukum panjang jalur Clausius (Clausius-freepath law);

":ffi:*'(-*) (6.17)

P menggambarkan bagian dari partikel yang memiliki jalur bebas rata-rata ) yang sama dengan atau lebih
besar dari r.Dengan memperhatikan sebuah pembawa muatan (Na(0) : 1) berarti P adalah probabilitas
jalur bebas rata-rata yang mencapai atau melebihi z. Artinya 37Yo dari semua partikel memiliki jalur bebas
rata-rata yang lebih besar atau sama dengan )*(r: A*)

6.1.3 Proses Benturan Elastis

Dalam menganalisa pergerakan molekul gas, benturan antar partikel diasumsikan sebagai proses benturan
elastis artinya tidak ada transfer energi potensial (eksitasi, ionisasi) saat terjadi benturan. Partikel 1 dengan
massa m1, kecepatan tr1 membentur pusat partikel 2yang statis dengan massa m2 dan kecepatan az:0.
Dengan memperhatikan hukum kekekalan momentum:

'trtt'ur * mz "D2 : rrly ul + m2'u', (6.18)

dan hukum kekekalan energi:


TlLl .ur+ T11,2
.uz: Tlll , 7Tl2 ,
.ur+
2 2 2 2 'ui (6.1e)

dengan u2 :0 maka diperoleh


mz. uL+ 4 ul - 2m2uy. uL : o. (6.20)
lflt
Disini akan diambil dua kasus khusus:
1. Jika uL:0 a vt, - 111
ini adalah nilai yang trivial atau tidak nyata, karena kedua partikel setelah benturan mempunyai
momentum dan energi yang sama seperti saat sebelum terjadi benturan artinya seolah-olah tidak terjadi
benturan.
2. Jika" a'r l0 maka

m,>.at"+4,r', :2m2. ut (6.21)


lTLl

,,(r**) - 2ut (6.22)

2mt
u', wt (6.23)
mt*mz
Sehingga energi yang ditransfer pada saat benturan adalah:

AW : !r*r.ri: lr*rffi .r? (6.24)


Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 53

Jika energi ini dihubungkan dengan energi partikel 1 sebelum benturan:

Y : lmt
2
.ul (6.25)

diPeroleh:
-;:ffi
aw 4mtmz (6'26)

Pada kasus-kasus batas:


l. m1 :rn2) AWIW:l
artinya seluruh energi kinetik partikel 1 ditransfer pada partikel 2
2. mt 11rn2 s AWIW = 4mrlmz << L

Energi yang ditransfer sangat kecil seperti elektron membentur molekul. Dalam banyak kasus rn2 )) m1,
artinya partikel 1 dipantulkan hampir tanpa kehilangan energi.
Dengan asumsi bahwa tumbukan terjadi pada pusat pertikel dan jika semua distribusi statistik arah benturan
diperhatikan maka akan diperoleh
-i:ffi
AW Zmtmz
(6'27)

pada benturan elektron dengan molekul diperoleh:

1Y"
W.
:'*' rn2
(6.28)

Contoh
1. Sebuah elektron menumbuk elastis sebuah Molekul Oz
Ine: lf l840mo; mz - 32mo

AWe
: 2'*o : 3.4. lo-b
W. L840 .32'mo
2. Sebuah ion O, menumbuk elastis sebuah Molekul 02
m7:m2
I AWt :!
i

ti
Wr2
artinya sebuah ion oksigen mentransfer energi kinetiknya saat benturan dengan molekul 02 sebesar 50%,
sementara elektron hanya berkisar 0.003%.

6.2 Pembangkitan Pembawa Muatan

' Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, proses kegagalan pada isolasi gas sangat ditentukan oleh pembawa
muatan dalam hal ini adalah elektron dan ion. Pembangkitan pembawa muatan ini secara umum terjadi
melalui dua proses yakni proses ionisasi dan proses emisi. Proses ionisasi terjadi pada ruang gas sedangkan
proses emisi terjadi pada permukaan elektrode.
54 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

6.2.1 Proses lonisasi

Proses ionisasi adalah sebuah proses perbanyakan elektron pada ruang gas. Beberapa jenis ionisasi dapat
dijelakan sebagai berikut.

6.2.L.L Ionisasi benturan

Proses ionisasi ini dibedakan menjadi dua yakni benturan tipe 1 dan tipe 2 seperti yang terlihat pada Gambar
6.5 dan Gambar 6.6,
Pada benturan tipe 1 menghasilkan ionisasi langsung, tanpa harus lawan bentur mengalami kondisi eksitasi.
Pada benturan tipe 2 terjadi pertukaran energi potensial (kondisi tereksitasi). Pada peluahan gas, yang
paling menentukan adalah proses benturan yang menghasilkan elektron. Agar pada saat benturan, elektron
dapat mengionisasi atau mengeksitasi sebuah molekul maka energi yang dimiliki oleh elektron akibat gaya
medan Iistrik harus sebanding atau lebih besar dari energi ionisasi atau energi eksitasi molekul.
Gaya medan yang bekerja pada elektron dan ion adalah:

F:(E +W*n:ry (6.29)

/-'^4, oy'
a) g---+iOif O Ionisasi

/
,r--'Q. .t""'O.. ,,'""-14.. O
b) i O ;*\ O I tt...9-,,, O,'-'--'
Gambar 6.5: Ionisasi benturan tipe 1, a) elektron membentur molekul; b) molekul membentur molekul

Energi eksitasi, W" I


,,'"--'1a.. ,'-'Q..
a) e+iOifiOioilfri-,,"\.......-..,,,,,

** o-+
,"'-"'ar r"""'Q. .r"""Q,
b) ,, G,,-?,.. O il lg", Ionisasi

O---+
Gambar 6.6: Ionisasi benturan tipe 2, a) elektron membentur molekul; b) molekul membentur molekul
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 55

Jil,a,W1"in> Wt. maka akan terjadi benturan tipe 1 yang menyebabkan ionisasi langsung. Disisi lain apabila
Wxtn I V% ionisasi terjadi melalui benturan tipe 2 atau ionisasi bertingkat. Ionisasi bertingkat hanya
mungkin terjadi pada keadaan metastabil karena keadaan eksitasi hanya berlangsung dalam waktu singkat.
Seperti pada proses benturan elastis, pada benturan tak-ela-stis hanya sebagian energi kinetik yang berubah
menjadi energi potensial. Dalam hal ini berlaku:
AWpot rn2
: (6.30)
W' rnt * rnz

Sebuah elektron m" memberi hampir semua energi pada molekul saat benturan, sementara sebuah
.,\.--??22
ion hanya memberikan energi kinetiknya berkisar 50%. Artinya ion hams mengakumulasi energi kinetik dua
kali lipat, sebelum dia dapat mengionisasi melalui benturan.

I(oefesien Ionisasi Townsend Pertama

Sebuah elektron mencapai energi kinetik dalam gas

W : eE\" (6.31)

dengan .\* adalah jalur bebas rata-rata efektif.

* ^*..w.
o:-m:
\ (6.32)

Jika W ) Wi maka akan terjadi ionisasi (ionisasi bertingkat umumnya diabaikan)

Ai:#e), :o## (6.33)

Probabilitas untuk panjang jalur bebas )) .\1 adalah

-),
P: exP=j (6.34)
An

Jumlah semua benturan rata-rata per satuan jarak adalah I f \^ dan karenanya sebuah elektron menimbulkan
proses ionisasi persatuan jarak sebesar:

(t:
1 / )r\
l*"*P \t- u/
o adalah koefesien ionisasi Townsend pertama yang didefinisikan sebagai jumlah ionisasi (pasangan pembawa
muatan) per cm panjang jalur' Karen a - 1/p untuk ? konstan dan )r - t I E maka
^m
(6.35)
7:o"*otfr)
dengan
as a,' AW"'Wt
A_ KT,
uk-- -
w".ekr
(6.36)
56 TeknikTbganganTinggi; Prinsip danAplikasinya

Konstanta untuk.4 dan B untuk berbagai ga*s dapat dilihat pada tabel 6.3

Tabel 6.3: Konstanta A dan B

Jenis gas A(cm bar)' B(kV/cm bar) Daerah


berla.ku
(kV/cm bar
E/p)
Hz 3760 97.7 110. . .300
Nz 9770 255 75...450
HzO(Uap) 9770 218 110. . .750
Coz 15000 349 370...750
udara 11300 274 110. . .450

6.2.1.2 fonisasi Photon

Proses ionisasi photon melibatkan energi cahaya atau photon. Keseimbangan energi untuk penyerapan sebuah
photon adalah:
h. u : w, ++ (6.32)

yang mana y adalah frekuensi dan h adalah konstanta Planck (6.626 .10-34 J. s). Photon dengan energi
yang cukup tinggi dapat mengionisasi atau mengeksitasi molekul sesuai dengan persamaan 6.37. Kelebihan
energi akan ditransformasikan menjadi energi kinetik. Dengan kata lain penyerapan kuantum cahaya dapat
menyebabkan ionisasi jika:
h..u)Wr: ,:9 (6.38)

atau memiliki panjang gelombang cahaya: ^


3!
r.-Wr (6.3e)

Proses ionisasi langsung pada gas normal (tabel 6.4) memerlukan cahaya dengan intensitas yang tinggi
dengan panjang gelombang berkisar 65 sampai dengan 100 nm.
Cahaya dengan gelombang pendek sampai dengan daerah UV, yang mempunyai panjang gelombang berkisar
200 nm, hanya mampu mencapai energi eksitasi We Eas, sehingga ionisasi photo hanya dapat berlangsung
secara berantai. Akan tetapi pada kerapatan cahaya yang tinggi, kemungkinan proses terjadinya ionisasi
bertingkat ini sangat tinggi sehingga proses ini akan dapat mempengaruhi perkembangan discharge. Melalui
ionisasi cahaya seperti ini, setiap proses discharge hanya akan menghasilkan ketersediaan elektron awal.

6.2.1.3 Ionisasi Termal

Ionisasi termal dimengerti sebagai proses ionisasi yang terjadi karena pergerakan termal molekul pada
gas. Sesrrai dengan Boltzmann-Maxwell, pada temperatur ruang kemungkina\ Wrm ) W1 dapat terjadi.
Akan tetapi kemungkinan ini kecil, sehingga mekanisme ini dapat diabaikan pada proses awal peluahan
Bab 6: Kegagolan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 57

Tabel 6.4: Panjang gelombang dan energi kuantum beberapa jenis cahaya

Jenis cahaya Panjang gel.


Infra merah 750... 12. . . 1.65
Cahaya kasat mata 450. . .750 1.65. . .2.75
- Merah -700 *1.77
- Kuning -480 -1.58
- Hijau -520 -2.38
- Biru -450 -2.76
Ultraviolet 15. . .380 3.26...82.7
-A 315. . .380 3.26. ..3.94
-B 280. . .315 3.94. . .4.43
-Cr 240...2AO 4.43. ..5.17
Ultraviolet vakum 15. . . 160 7.75...8.27
Cahaya 7 0.0005. . .0.01 2.5.106...1,2.105

gas. Sedangkan pada busur cahaya atau busur api, ionisasi termal merupakan proses yang sangat dominan
dalam pembentukan pembawa muatan. Sebuah ukuran kuantitatif derajat ionisasi 1 dapat diperoleh dari
persamaan Eggert-Saha

,J*: c .rzsexr(-#) (6 40)

dengan
(2 .r .m")r 5. 112'5
C_ h3
dan
x- NIN
dengan p adalah tekanan dalam bar; 7 adalah temperatur dalam Kalvin; k dan h masing masing adalah
konstanta Boltzmann dan konstanta Planck; I,Izr adalah energi ionisasi; rn" adalah massa elektron; Nr dan
N masing masing adalah jumlah pasangan ion dan jumlah total partikel.
Pada temperatur ruang belaku Wkon - #."V, artinya dalam 1 cm3 udara akan terjadi sebuah ionisasi dalam
500 tahun.

6,2.2 Proses Emisi Permukaan

Proses emisi dimengerti sebagai pembentukan pembav/a muatan pada sebuah elektrode. Semua proses emisi
ini berarti bahwa elektron hanya dapat dilepaskan dari material katode melalui pemberian energi fungsi
kerja material, Wo

Wo : Voe

Energi emisi dapat diperoleh dengan berbagai cara.

$
i

I
l
58 Telcnik Tbgangan Tinggi; prinsip dan Aplikasinya

Tabel 6.5: Tipikal fungsi kerja dari beberapa bahan katode

Bahan W6 dalam eV
ffi
Aluminium 1.7 ...3.95
Cooper 3.89 . ..4.82
Cooperoxide 5.34
Silver 3.09. ..4.74
Gold 4.33. ..4.9
Iron 3.92...4.79

6,2.2.1 Emisl Elektron Sekunder (Proses 7)

Emisi elektron sekunder sama dengan proses ionisasi benturan. Benturan ion positif pada permukaan katode
dapat membebaskan elektron. Agar elektron dapat diemisikan, 2 buah elektron harus dibebaskan melawan
fungsi kerja ikatan metal. Energi ionisasi Wr yang terbebaskan dan energi kinetik ion untuk membebaskan
elektron kedua dari katode harus lebih besar atau sama dengan 2Wo, sehingga kelebihan elektron sebagai
emisi elektron kedua:

f;*r'+wt 22wo (6.41)

Koefesien 7/ memberikan jumlah elektron emisi setiap bertemu ion dan disebut dengan koefesien ionisasi
Townsend kedua. Karena pada persamaan (6.41) secara umum trft melebihi energi kinetik, koefesien ionisasi
yang kedua 7l hanya sedikit tergantung pada kuat medan tetapi sangat tergantung padajenis gas dan bahan
elektrode. 7 untuk udara, SFo dan logam biasa terletak pada orde 10-5.

6.2.2.2 Emisi Photon

Photon dapat membebaskan elektron dari material padat jika energi photon h.z lebih besar dari fungsi kerja
[7". Kelebihan energi elektron bebas akan ditransformasikan meniadi energi kinetik elektron dan berlaku:

h.u:Wr+Tu' (6.42)

Kondisi panjang gelombang cahaya harus terpenuhi untuk emisi adalah:

(6.43)
^=w,
atau
-wo (6.44)
h
Karena fungsi kerja metal lebih kecil dari energi ionisasi molekul gas, cahaya dengan panjang gelombang
pendek dan energi lemah dapat membebaskan elektron.
Untuk Aluminium (Wo : 1.77) eV, dengan l < 700 mm, artinya cahaya merah kasat mata dapat
membebaskan elektron dari elektrode aluminium.
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 59

6.2,2.3 Emisi Termal

Pada temperatur yang cukup tinggi bebeberapa elektron yang karena pergerakan termal memiliki energi
kinetik yang lebih besar dari fungsi kerja bahan elektrode. Efek ini banyak digunakan pada katode termal
pada tabung elektrode. Arus emisi termal 7 dapat diperoleh dengan pendekatan persamaan Richardson:

j: AT2exp(-W"lkT), (6.45)

A_ 4re.m"k2 : t.2.t06Af m2K2


h3
Pada temperatur medan, arus emisi melalui emisi termal dapat diabaikan. Contoh yang bisa diambil adalah
aluminium elektrode dengan We - 1.77 eY, pada temperatur ? : 300oK kerapatan arus j adalah 2.
10-1eA/m2 sedangkan pada temperatur ?: 100oK kerapatan arus j adalah 1.3. 103A/m2

6.2.2.4 Ernisi Medan

Elektron dapat langsung dilepaskan dari ikatan metal elektrode pada medan listrik yang cukup besar (,8 >
10e V/m). Elektron merupakan barier potensial pada lapisan batas metal/dielektrikum yang magnitudenya
sebanding dengan fungsi kerja metal. Dengan memberikan medan luar barier ini menjadi bukit potensial yang
dapat dilalui elektron secara mekanika quantum (tunnel effectf efek gorong-gorong). Perubahan potensial ini
dapat dilihat pada Gambar 6.7.

pita valensi

Gambar 6,7: Tingkat energi material, a) tanpa medan listrik; b) akibat pengaruh medan listrik

Adanya kontaminasi dan puncak mikro pada elektrode menyebabkan kuat medan miskrokopis jauh lebih
besar dalipada kuat medan mikroskopis rata-rata sehingga dengan kuat medan E < 10-ev/m telah
terdeteksi arus emisi yang signifikan. Persamaan Fowler-Nordheim memberikan besaran kerapatan arus
emisi kuantitatif:
i:eff"*r?ry) (6.46)

dengan
.e3 o 8rr/ffi
"--
i_
dan
^- Bnh sh"
60 Teloik kgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

6.3 Rekombinasi Pembawa Muatan

Seperti pembentukan pembawa muatan, terjadi pula pemusnahan muatan. Pada keadaan setimbang artinya
tanpa medan listrik atau pada sebuah peluahan gas yang stabil, pembangkitan dan pemusnahan pembawa
muatan mernpunyai jumlah sama besar. Rekombinasi seperti juga pembentukan pembawa muatan dibedakan
antara efek ruang dan efek elektrode.

6.3. 1 Rekombinasi elektrode

Elektron akan diserap oleh elektrode dan melepaskan ion. Energi kinetik dan potensial pembawa muatan
ditransformasikan menjadi panas atau energi cahaya.

6.3.2 Rekombino,si Ruang

Rekombinasi ruang adalah proses yang dominan pada plasma tekanan tinggi. Rekombinasi ruang adalah
proses lawan dari ionisasi.

6.3.2.1 Proses dua benturan

Emisi sebuah photon


Penggambaran emisi sebuah photon dapat dilihat pada Gambar 6.8. Sebuah elektron dengan energi kinetik
yang dapat diabaikan mendekati sebuah ion statis dan terekombinasi. Energi ionisasi yang terbebaskan
Wr tidak dapat ditransformasikan menjadi energi kinetik atom/molekul karena tidak memenuhi hukum
kekekalan energi dan kekekalan momentum. Artinya energi terbebaskan akan diberikan dalam bentuk
kuantum cahaya. Ini juga beriaku jika elektron energi kinetik tambahan sebelum rekombinasi.

e +,'.:...-o;r,:. *Jd*
*
Gambar 6.8: Emisi sebuah photon

Wt *Wxtn - h'u * AWp4no,"^ "rekomb'inas'icahaya"


Emisi dua photon
Pertama-tama terbentuk sebuah atom tereksitasi dengan A.O diskrit. Energi yang terpancarkan h.z bersifat
berkelanjutan karena elektron dapat menerima energi kinetik tak terbatas. Atom yang tereksitasi jatuh ke
keadaan dasar dengan memancarkan spektrum garis.
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isctlasi Gas 61

Wt *W*tn": h'ur * h'u2


Energi photon teremisi mempunyai energi yang lebih rendah dari energi emisi sebuah photon. Photon yang
dihasilkan disini hanya dapat mengionisasi molekul atau ion yang tereksitasi, karena

h. 4 1W1; h' uz < Wr

Hal ini dapat diilustrasikan seperti yang terlihat pada Gambar 6.9.

e +,:,,,}r,,:'} * iil* r *Jd-


Gambar 6.9: Emisi dua buah photon

6.3,2,2 Proses tiga benturan

Melalui efek lawan bentur ketiga adalah memungkinkan energi ionisasi ditransformasikan menjadi energi
kinetik dan tetap memenuhi hukum kekekalan energi atau hukum kekekalan momentum. Hal ini digambarkan
pada Gambar 6.10
Wkir":Wxtn*Wxtnz*Wt

......5 r',::....fi rMLin" =w'lrn' +wkn2+w,

:>
Gambar 6.10: Proses tiga benturan

6.3.2.3 Difusi

Setiap gas mempunyai kecenderungan mengisi ruang yang tersedia dengan kerapatan yang sama tidak
tergantung dari keberadaan gas-gas lain. Ini berlaku untuk partikel netral dan juga elektron beserta ion.
Difusi menyebabkan komponen kecepatan bergerak ke arah konsentrasi gas yang lebih kecil.

G: -D gradn (6.47)

ini G adalah kerapatan arus partikel; n adalah kerapatan partikel dan D adalah konstanta difusi.
dald,m hal
Tanda dari persamaan difusi adalah negatif karena arus partikel mengarah ke kerapatan yang lebih rendah.
Kerapataan arus untuk partikel bermuatan adalah:
62 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

j:e'G
ie : e' D. gtadn.
ir* : -" 'D7* gradnT*
jr- : -e' D1- gradnl-

Dengan koefesien difusi:


D: ),.! a
d

untrrk arah r maka


dn
\T
- --. ^D
3dx-
Difusi ambipolar
Dengan memperhatikan ilustrasi pada Gambar 6.11, elektron terdifusi secara cepat kearah kanan, sehingga
akan terbentuk medan listrik antara awan elektron dan ion positif. Medan ini akan menahan pergcrakan
elektron dan mempercepat pergerakan ion sehingga ion dan elektron akan terikat daiam keadaan setimbang.
Proses ini disebut dengan difusi ambipolar dan sering juga diartikan plasma hampir netral (Quasi Neutral
Plasma)

F
Gambar 6.11: ambipolar difusi

6.3.2.4 Pengikat elektron, afinitas elektron

Elektron bebas dapat diikat oleh atom netral dan molekul. Efek ini sangat terlihat pada atom dengan
kulit elektron luar yang tidak tertutup atau berisi lebih dari 50% artinya elemen-elemen pada kelompok
V. VI dan VII. Elektronegatifitas sebuah elemen tergantung dari struktur atom. Yang paling terlihat
adalah Halogen, karena hanya membutuhkan sebuah elektron untuk mencapai konfigurasi gas mulia. Afinitas
elektron adalah ukuran untuk energi ikat elektron. Energi ini akan dibeba,skan pada saat pengikatan atau
harus ditransformasikan untuk membebaskan elektron contohnya melalui photon. Tabel. 6.6 menunjukkan
energi afinitas beberapa gas dan elemen. Dari tabel diatas terlihat beberapa gas yang mempunyai afinitas
elektron yang lebih besar dari SF6 1zang umum dipergunakan dalam peralatan tegangan tinggi seperti O, F,
Dan Cl. Akan tetapi gas-gas tersebut tidak stabil. Elemen O sangat mudah menjadi 02 dan elemen F dan
Cl bersifat racun dan tidak stabil dalam molekul.
Pengikatan elektron ini dapat dijelaskan dengan koefesien ikatan, 4. Koefesien ikatan ini mempunyai
dimensi yang sama dengan koefesien ionisasi Townsend pertama dan mempunyai efek berlawanan. Koefesien
penyatuan, 4 didefinisikan sebagai jumlah elektron yang tertangkap per satuan panjang jalur atau
probabilitas penyatuan sebuah elektron persatuan panjang. Sehingga sering didefinisikan sebuah besaran
yakni koefesien ionisasi efektif (a* : a - q).
Melalui pengikatan ini tidak ada pembawa muatan yang dimusnahkan. Namun demikian melalui pengikatan,
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bqhan Isolasi Gas 63

Tabel 6.6: Afinitas elektron beberapa gas dan elemen

Element Elektron afinitv, eV


He 0.08
F 3.4
C1 a-

o 7.47
Oz 0.4
S 2.1
Br 3.5
SFo 0.05. . .0.10 (nilai mula)
1.0...1.7

proses peluahan gas akan kehilangan elektron yang diperlukan untuk pembentukan luruhan elektron, karena
ion tidak berperan atau hanya sedikit berperan pada pelipatgandaan pembawa muatan.
SF6 /ang mempunyai kekuatan elektrik relatif tinggi, tidak karena kecilnya koefesien ionisasi o tetapi karena
besarnya koefesien ikat 4, artinya seluruh elektron (dibawah kuat medan gagal) segera terikat menjadi ion
negatif yang tidak berpengaruh pada luruhan elektron.

6.4 Kecepatan layang dan mobilitas

Gambar 6.12:

Pada kesetimbangan termal, gerak moiekul antar benturan dalam gas memiliki lintasan lurus tak
beraturan. Dengan pengaruh medan listrik luar ketakberaturan pergerakan termal berubah menjadi
pergerakan terarah, ini adalah Drift atau layang atau rimban. Pembawa muatan bergerak pada lintas sejajar
atau paralel. Pergerakan ini dapat digambarkan secara dua dimensi seperti yang ditunjukkan pada Gambar
6.12.
F : Q.E: -e.E
menunjukkan pengaruh gaya pada sebuah elektron kearah anode.
$
j

*
{
.1

t
*
I
64 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

6,/r.1 Pergeraka,n pembau)a puata??, pado, aakurn

Pada vakum tinggi proses benturan pembawa muatan dengan partikel lain dapat diabaikan karena rendahnya
kerapatan molekul. Kecepatan pergerakan pembawa muatan hanya tergantung pada efek medan listrik.
Sehingga pembawa muatan harus tersedia dari trlektrode. Kecepatan penrbawa muatan ini akan terus
menerus meningkat dalam ruang medan. Jika elektron teremisi dari katode, maka pada elektron akan bekerja
gaya karena medan listrik.
F : -e.E
Energi yang diambli dari medan listrik bernilai

w: JIpa" t Eds:e.l/
Energi ini akan ditransformasikan menjadi energi kinetik e lektron. Dengan energi kinetik bernilai

1
Wx;n : -m,- .u!,
2"
dengan menyamakan:

diperoleh:

(6.+r,;

Hubungan ini hanya berlaku untuk percepatan tegangan yang tidak begitu tinggi, karena dengan kecepatan
elektron u. sangat tinggi, dan massa elektron tidak lagi merupaka massa elektron statis tetapi massa elektron
relativitas. Sehingga dipergunakan energi kinetik relatifitas:

e.V : Wp.;.n.

: t, u' untuk kecepatanrendahdanm t rns


;*.
: (m - ms) untuk energi kinetik relatifitas dan m * mo

Contoh:
l. V :30kV maka

1,
e,.V:-m,-u'
2
u=108m/sxcf3+AmxSVo

2. V :500kV maka
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 65

1 .'.U-'
e.v == -TrL
u x 2.5. 108m/s ) Am x 100%

Artinya, dengan beberapa 100 kV percepatan tegangan, partikel akan bersifat relatifistik. Elektron
akselerator pada vakum ini diaplikasikan pada tabung rontgen, tabung televisi, Akselerasi tegangan berada
pada daerah 4kV. . . 130kV. Pada penelitian dasar fisika akselerasi partikel mencapai 25MV dan dpergunakan
pada pembangkit ran der Graaff.

6.4.2 Pergerakan pernba,u)& rrLuo,tan pa,da gas

Pada sebuah gas, kecepatan pembawa muatan akan meningkat karena benturan dengan partikel netral dan
menuju pada sebuah nilai batas tertentu. Antar dua benturan, partikel bermuatan (elektron/ion) akan
mengambil energi tertentu dari medan. Energi yang terambil ini sebanding dengan panjang jalur bebas
rata-rata. Pada benturan lanjut, partikel akan memberikan bagian energinya kepada lawan bentur. Karena
transfer energi ion pada partikei netral sangat besar, ion akan mencapai kecepatan akhir setelah beberapa
benturan. Besar kecepatan akhir ion hanya sedikit lebih besar dari kecepatan rata-rata partikel netral.
Sehingga secara mikroskopis temperatur ion sama dengan temperatur gas.
Disisi lain, elektron pada saat benturan memberikan hanya sedikit energi, sehingga kecepatan elektron akan
jauh lebih besar seperti tanpa pemberian medan. Temperatur elektron lebih tinggi daripada temperatur
ion/gas.
Pada keadaan stasioner berlakrr:
u : b.E (6.49)
dalam hal ini u adalah kecepatan layang (drift velocity) dan b adalah mobilitas. Kecepatan layang u
sebanding dengan kuat medan dengan faktor propostionalitas yang disebut dengan b,

b- q'\
2m.u
Untuk kuat medan yang kecil, energi yang diambil dari medan }istrik saat benturan jauh lebih kecil daripada
energi termal rata-rata. Hal ini hampir selalu berlaku untuk ion.
Untuk Elektron berlaku:
e.B. ),*
AW' e.' E"\-
- AW.
- W. - Ll2m..u2,
(6.50)

Sehingga:

:
V.o Konst.'t/E
b: Konst.. I
\/E

Pergerakan untuk beberapa ion dapat dilihat pada tabel ( 6.2)


Nilai-nilai pergerakan elektrou dan ion pada tekanan 1 bar, temperatur OoC dan kuat medan sekitar 30kV/cm
diudara adalah sebagai berikut:
bl"luktror,; : b" N 500cm2 fV s
66 Teknik Tegangan Tinggi ; P rins ip dan Aplikas iny a

Tabel 6.7: Pergerakan/mobilitas positive dan negative ion pada tekanan 1 bar dan temperatur 20C dalam
kuat medan yang sangat kecil

enrs gas a, cm
Hz 6.7 7.9
N2 1.6
Oz 1.4 1.8
coz 1.1 1.3
SFo 0.8 0.8

b11on) : bl x b, = (1 .. .2)cm2lVs
biio, r,."r,; = (10-a .. .10-1)an2 lV s

Ion besar dalam hal ini adalah partikel debu atau air yang bermuatan yang terdapat pada udara. Untuk
kegagaian kuat medan berkisar 30 kV/cm diudara memberikan kecepatan drif sbagai berikut;

7.8("r"ktro.) : l5\mml p,s


V.s(io.) : (0.3 ...0.6)m.mly,s

6.5 Karakteristik arus-tegangan stasioner

Karakteristik arus-tegangan stasioner dapat dilihat pada Gambar 6.13.


Pada gambar terlihat karakteristik pergerakan arus seiring dengan kenaikan tegangan arus searah pada
elektrode plat sejajar. Daerah peluahan dapat dibagi menjadi dua daerah besar yakni:
a. Peluahan tak bertahan sendiri (non-self sustained discharge)
Arus mengalir selama pembawa muatan terbentuk pada ruang gas akibat pengaruh luar (mekanisme
ionisasi), contoh: tabung vakum
b. Peluahan bertahan sendiri (self sustained discharge)
Setelah penyalaan (ignition) arus mengalir walau tanpa pengaruh luar. Karakteristik arus tergantung
pada jenis gas, tekanan ga,s, geometri elektrode dan material elektrode.

Daerah-daerah pergerakan arus seiring peningkatan tegangan pada kurva tersebut akan dibahas secara detil
pada subbab-subbab berikut.

6.5.1 Peluahan tak bertahan sendi,ri, (non-self sustained di,scharge)

6.5.1.1 Daerah ohm

Daerah ini berada pada jalur A-B pada Gambar 6.13. Pada daerah ohm ini gas berprilaku seperti tahanan
ohm, artinya arus meningkat secara Iinier seriring dengan peningkatan tegangan. Mekanisme ini hanya
berlaku untuk kuat medan yang relatif kecil artinya selama konsentrasi pembawa muatan dalam ruang
medan tidak dipengaruhi oleh medan listrik. Gambar 6.14 menunjukan prinsip daerah ohm pada elektrode
plat sejajar.
Kerapatan arus j adalah:
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 67

RV

lv lv"

normal glow
discharge (corona-
stabilization)

dark discharge C

Gambar 6. 13: Karakteristik arus-tegangan stasioner

Gambar 6.14: prinsip daerah Ohm pada elektrode plat sejajar

i+ : n+'q'b+'E
j*:n-'s'b-'E
j : j+ I j- :E(n+ . Q.b+ *n-. q-b-) : E'o

Kandungan ion pada udara berkisar 100... 500 lonen/cm3 dengan ba x b-


Untuk udara pada daerah satu memberikan nilai tahanan spesifik sebesar
= 1.6 cm2/Vs.

a- Lf o : lO15 ...l0L6Ocrrt
68 Teknik Tbgangan Ttnggi; Prinsip dan Aplikasinya

6,5.1.2 Daerah jenuh

Daerah ini berada pada jalur B-C pada Gambar 6.13. Pada daerah ini semua pembawa muatan tersapu
medan listrik. Arus dibatasi oleh ion yang terbentuk persatuan waktu pada ruang medan.

6.5.1.3 Penguatan gas (gas ampliffcation)

Berada pada daerah C-D pada Gambar 6.13. Elektron akan dipercepat oleh gaya medan. Karena pada saat
benturan elektron kehilangan energi potensial sangat sedikit, sehingga setelah beberapa benturan Elran ) Ei
dan elektron tambahan akan terbentuk melalui ionisasi benturan. Penguatan gas terjadi dan luruhan elektron
(clectron avalanche) akan terbentuk. Secara skematis dapat dilihat pada Gambar 6.15.

N(r * Ar) : N(c) + N(c) .o./r


\*#@=N(r).o
;E.re*e:Y:N(z)'a dN(z) _
NGI
: ot'on
^, A^
f
lnN(z) : adx
J
---; N : No exp (l
"*)
Hubungan ini hanya berlaku untuk kasus tanpa muatan ruang (space charge free). Untuk N > 106 pergerakan
pembentukan pembawa muatan melambat dan awan ion positif melemahLn medan luar
Contoh pada medan seragam:
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 69

N : No exp(a d)
d:l cm; No:1; a: l2lcm
N : 1' exp(l2f cm'1cm) : e12:163.000
eod adalah penguatan
Pada gas eiektronegatif berlaku:
N:No"",
l@-rt)dr
Batas kuat medan yang mana terjadi peningkatan arus yang sangat cepat adalah:

(E ldo : 24,4kY lcm bar untuk udara

dan
(E ldo : 87 ,7 kY lcm bar untuk SF6

6.5.2 Peluahan bertahan sendiri (self sustained discharge)

Peluahal akan bertahan sen.diri, jika tambahan elektron awal terbentuk karena pengaruh efek sekunder yakni
koefesien ionisasi Townsend ke 2.
'y : 7t *'Yz l'ls
dalam ha1 ini:
71 adalah pelepasan elektron dari katode karena ion positif
72 adalah pembangkitan elektron pada ruang gas karena ion positif
73 adalah pelepasan elektron dari katode karena photon.

6.5.2.L Mekanisme Townsend

Mekanisme Townsend berlaku untuk iuruhan penguatan gas sampai dengan N < 108. Mekanisme ini secara
ringkas dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Didepan katode terdapat Ns elektron mula.
2' Melaluipembentukan luruhan pada anode datang sebanyak Na : No'eod pembawa muatan'
3. Pasangan pembawa yang terbentuk pada ruang gas berjumlah:
Na - No - Ns. eod - No - N6' ("oo - t)
artinya terbentuk No . (e"d - 1) ion positif
4. Ion positif ini menghasilkan generasi ke-2 elektron mula baru 7 'N6 ' (eod - 1) .
5. Melalui pembentukan luruhan terbentuk elektron pada anode NAz : 7'No' ("oo - 1) '"od dan seterusnya
6. Jumlah total semua elektron karena elektron mula Ns berjumlah:
N :No.eod +7.N0. (""d - 1)'""d +72'No' ("oo - 1)2'e"d +...
Deret goemetri ini konvergen saat

eod
N: No
1-7(eoa-t)
untuk ?(eod - 1) < 1 (6.51)
It Teknik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Dan syarat penyalaan Townsend adalah:

7(""d - 1) : t :+ / --+ oo Daerah"D" (6.52)

Sebuah elektron mula menghasilkan (era - 1) positif ion, ini kembali menghasilkan elektron mula baru
generasi ke-21. (era 1). Peluahan menjadi peluahan yang bertahan dengan sendirinya jika elektron mula
-
generasi ke-1 dan luruhan yang dibentuknya meninggalkan elektron mula kembali untuk luruhan generasi
ke-2, dengan kata lain Setiap elektron awal harus diproduksi sendiri.
Untuk gas elektro negatif, syarat penyalaan menjadi:
t.a _ tl =t
a-q l"@_n)
L J

Skema mekanisme Townsend dapat dilihat pada Gambar 6.16

o
E
c
"'\*"*

,"rr"^-rt1
\rNo(ed-r)e,

Gambar 6.16: Skema mekanisme Townsend

Mekanisme Townsend berlaku selama electron aualanche atau luruhan elektron atau lawina N< 108, karena
untuk luruhan yang lebih besar muatan ruang positif menggangu medan dan harus diperhitungkan artinya
pada jarak yang pendek dan tekanan rendah. Untuk N > 108(= pd > 200...1000 Torr cm) berlaku
mekanisme Streamer. Mekanisme Townsend hanya menjelaskan pembentukan kegagalan. Setelah penyalaan,
jika muatan ruang terbentuk, keberadaan spark harus diperhitungkan.

6.5.2.2 Mekanisme Streamer

Pengamatan dilakukan pada sebuah medan homogen, yang pada ruang gasnya terdapat elektron awal yang
menyebabkan lawina seperti yang digambarkan pada Gambar 6,17.
Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
71
Bab 6: Kegagalan Elektik pada Bahan Isolasi Gas

Gambar 6.17: Kondisi medan pada mekanisme streamer

1. Luruhan Townsend bergerak kearah Anode, kecepata,n muka luruhan uL


: uD kecepatan elektron'
luruhan terdiri dari ion positif yang mempunyai
Sehingga muka luruhan dibentuk oleh elektron dan ekor
gerak Iebih lambat dari pada elektron.
2. Untuk N > -, 106 terbentuk muatan ruang karena u. x 100u1 depan dan
3. U;;k N fOt terjadi gangguan medan dimana E ) Eo yang berarti o > o6 pada bagian
belakang muka luruhan.
pada Gambar 6'18'
Anak luruhan akan terjadi muka luruhan dan ekor luruhan seperti yang diilustrasikan

ffi
ffi-
ffi< <A/\^--€
ffihu Gambar 6.18: Perkembangan streamer

(E > El),
Depan: Elektron mula yang lepas karena photon beara pada medan yang menguntungkan
menimbulkan luruhan [u., yurg selanjutnya terus menginisiasi anak luruhan'
Hal ini menyebabkan
meningkatnya kecepatan berkembangnya streamer'
photon ke
Belakang: Anak luruhan yang bergerak ke titik berat muatan ruang positif terinisiasi oleh Hal ini
didepan katode'
arah katode dan meninggalkan muatan ruang positifnya sendiri semakin dekat
p.rg.r.run daerah maksimurn-ionisasi (muka luruhan) perlahan kgarah katode' Secara
menyebabkan
katode ke anode'
visual seolah ionisa^si bergerak kearah katode meskipun semua luruhan bergerak dari

li
72 Telcnik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

5. Bertemunya streamer pada elektrode membentuk gelombang ionisasi baru. Streamer masih memiliki
tahanan yang cukup tinggi, sehingga tegangan tidak jatuh. Proses-proses yang terjadi pada elektrode
adalah sebagai berikut:
Katode: Ion positif streamer katode yang bertemu dengan katode menghasilkan jumlah elektron mula
yang sangat banyak, sehingga gelombang ionisasi arus kuat (luruhan paralel) dapat bergerak ke anode.
Anode: Jika elektron diserap oleh anode, muatan ruang positif akan bertahan didepan anode sehingga
anode seolah terdapat pada ruang medan (seolah-olah bertambah panjang).

6. Geiombang ionisasi berlipat bergerak ke sana ke mari dan memanaskan kanal streamer, tahanannya
menjadi rendah dan akhirnya menyebabkan terjadinya kegagalan.

6.5.2.3 Bentuk-bentuk peluahan gas bertahan sendiri

Peluahan pendar (Glow Discharge)


GIow pada katode disebabkan olch pelepasan elektron karena positif ion. Pada glow tidak terlihat dengan
jelas pengaruh ionisasi termal sehingga katode dapat dikatakan dingin. Tegangan turun di dekat anode dan
katode. Sebuah glow dapat bagi menjadi bebarapa daerah seperti pada Gambar 6.19.

cathode Farac

HW:m
Gambar 6.19: daerah peluahan glow

1. Ruang katode
ruang katode terbentuk karena elektron sekunder, yang bergerak cepat pada medan listrik. Pada
awalnya ruang katode ini memiliki energi rendah dan dapat mengakibatkan atom gas bercahaya. Dengan
pergerakan yang makin cepat diameter efektifnya semakin menurun dan diikuti dengan sebuah ruang
gelap.
2. Ruang gelap katode
Pada raung gelap ini elektron bergerak sangat cepat dan kerapatannya masih kecil . Ruang gelap ini
adalah daerah mautan ruang.
3. Pendar negatif
elektron yang bergerak pada lapisan batas akan diperbanyak melalui benturan gas. Suatu saat arus
elektron ini menjadi sangat besar sehingga cukup efektif mengeksitasi partikel netral dan membentuk
glow negatif. Luruhan ini menyebabkan terbentuknya elektron dengan kerpatan tinggi dan menyebabkan
terbentuknya daerah muatan ruang negatif pada ujung ruang gelap katode. Medan listrik membatasi glow
negatif ini dan menjadi ruang gelap Faraday.
7i
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas

4. Ruang gelap Faraday


Ruang gelap Faraday ini rnemisahkan glow negatif dan kolom positif dimana medan
listriknya sangat
kecil.
5. Kolom positif
kolom positif ini
kolom positif menggambarkan hubungan antara lapisan katode dan elektrode lawan.
peluahan'
dapat memiliki panfng beragam cian keberadaallnya kurang begitu jelas pada proses
6. Ruang gelap anode
perkembangnnya
,rurrg-g"tup anode mempunyai keadaan yang sama dengan Iuang gelap katode. Tetapi
,or.gut ticlak begitu kuat karena pada daerah ini tegangan jatuhnya sangat kecil'
yang
Jika keselumhan elektrode terlingkupi pendar, peningkatan arus hanya diperoleh dengan tegangan
Iebili tinggi. Hal ini disebut dengan anomali pendar'

Busur api
Iokal dan pendar
Dengan menirrgkatlya arus dan meningkatnya benturan positif ion, katode akan terpanaskan
100 kV/cm' Proses
kato<le akan menjadi busur katode (j-'- LOiAlcm2). Kuat medan pada katode berkisar
ionisasi termal sangat dominan pada kolom busur. Temperatur busur adalah:

"I ;
T = 10"-, (6.53)
16'rt
arus 20 kA
yang rnaria r0 adalah jari jari inti; E dalam V/m dan .I dalam Ampere. Pada pemutus dengan
ion dikarenakan
pada adalah seban<linjdengan 30 ribu Kalvin. Temperatur elektron sama dengan temperatur
kerapatan arus
Lu,ryok,ryu jumlah benturan elektron memberikan energi kinetik yang besar dan tingginya
plasma juga memanaskan ion. Gambar 6.20 menunjukkan profi.l temperatur busur api pada
menyebabkan
"SFu terdisosiasi artinya
gu^, ,lan Nz. Sf'u aaatat sebuah gas rnolekul yang pada temperatur rendah sudah
disosiasi busur api' Inti
I"-p".utrrrya rendah pada sisi Iuar busur karena energi akan terambil melaiui kecil'
yang terkandung sangat
busur sangat kurus dibandingkan dengan nitrogen ygn berarti pula energi
sebuah gas
oleh sebab itu busur api pada sFo akan dapat dengan sangat mudah dipadamkan. sFe adalah
pemutus yang sangat baik.

Gambar 6.20: Profil temperatur busur api

secara makroskopis busur api dapat dijelaskan dengan keseimbangan daya:


74 Teknik Tegangan Tinggi ; Prinsip dan Aplikas inya

u(t) 'i(t) : P* + #
day a di serap : daAa di,lepas * perubahan panas

Tahanan efektif busur api tergantung dari panas yang tersimpan'

: Focxp
/ -o\ ; fro : Qs Lcrgantung pada jenis gas
.R
( 8o )
lnF:-ff,rRs+lri *:-&
e : --eo," *,#
dQ dR
-"R Rodl:-QodR
dt --n..Ro.l R dt
,u(t).itt): Pab-*# - Pab-fu: *(i)
u(t).i.(t) - Pab-fu;
i (,* -,#)
+ u(t) . ,(i) : pot
- eo (:# -i#)
1di\ P"u - u(t) .i(t) r-u(t).i(t)lP"b
(:# _ __idt)-I - Qo Qo/P"t

Dilihat dari kurva busur api (Gambar 6.21), hanya titik 2 yang stabil:
Isz*AI+VBlVo-R'I+-AI
Inz- AI +Vs lVo- R'I + +AI
Im* AI +Ve lVo- R'I + +AI
Iat-AI+VB)Vo-R'I+-AI

Sebuah busur api dapat dipadamkan jika kurva busur api V : f(I) berubah sedemikian rupa sehingga
tidak terdapat titik kerja yang stabil (garis putus-putus pada Gambar 6.2t). Pemadaman busur api dapat
dilakukan dengan memaksakan keadaan Vs > Vo - R' I

6.6 Perhitungan Tegangan Gagal Statis

Tegangan gagal statis berlaku untuk tegangan searah dan juga peningkatan tegangan yang lambat (50H2).
Untuk perhitungan dipergunakan persyaratan penyalaan masing-masing.
1. Townsend (medan homogen)
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 75

vo

Gambar 6.21: Kulva tegangatl-arus busur api

^l(""d - 1) : 1 dengan eod >> I+ eod : ll'y


4 ^s
4uu- -ln(l/i)
ltr\r//, dengan
u\ a: A'p'cxp, f +")
\ E )

+Ap "",, (#) ,: In(1/1)

".0(+2) :HH *-#:-1,#i',


dengan V : E' r/nrakriv : -B-:l:-!- : f(p' d)
ttt
11"("/
Terlihat tegangan penyalaan 7 merupakan fungsi p.d artinya tnerupakan fungsi tekanan dan jarak'

2. Kegagalan kanal - mekanisme streamer


Mekanisme streamer terjadi biia eod > 108 sehingga secara empiris diketahui

eod > 108 --+ ad: 18.5

+e:lY*g:18'5,
d p p'a
darig :, (il makal"adatahv,

Pada mekanisme streamer tegangan penyalaan adalah sama dengan medan penyalaan. Pada mekanisme
ini faktor 7 tidak muncui yang berarti materiai katode tidak begitu penting.

6.7 Perhitungan Tegangan Penyalaan Dinamis

Selama ini yang selalu diperhatikan adalah tegangan gagal statis, YanB berarti tegangan diasumsikan
diberikan pada waktu yang lama atau meningkat secara lambat. Sehingga waktu tunda kegagalan sering tak
teramati. Pada tegangan transien atau tegangan yang meningkat dengan cepat, harus diperhatikan bahwa
meskipun tegangan gagal 7s telah terlewati, kegagalan hanya akan terjadi jika elektron mula tersedia setelah
76 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

waktu tunda statistik, ts (waktu tunda sampai sebuah elektron mula muncul untuk menginisiasi kegagalan)
dan jika dalam rentang waktu ln (waktu pembentukan) terbentuk kanal konduktansi. Selanjutnya kegagalan
terjadi pada waktu fp, /ang merupakan waktu pembcntukan peluahan dengan arus tinggi. Karakteristik
tegangan-waktu impuls dapat dilihat pada Gambat 6.22'

Gambar 6.22: Karaktcristik tcgangan-waktu untuk tegangan impuls

Sehingga waktu kegagalan, ta adalah

ta: to * ts * tt * tr (6.54)

dari persamaan dan Gambar. 6.22 tegangan gagal dapat terjadi jauh di atas tegangan gagal statis dengan
impuls faktor sebesar

f: V*""lVo (6.55)

dan faktor impuls ini lebih besar dari 1. Jumlah waktu ts * te disebut dengan waktu tunda
peluahan,ty. Waktu tunda statistik ts menurun seiring peningkatan volume gas karena kemungkinan
keberadaan elektron mula meningkat dengan pertambahan volume gas (Hukum Volume-waktu). Waktu
pembentukan, 14 dari luruhan pertama hingga terbentuk kanal konduktansi (waktu pembentukan streamer)
mempunyai nilai sangat beragam. Agar terjadi kegagalan sesuai dengan mekanisme Townsend diperlukan
Iuruhan berantai hingga terbentuk kanal konduktansi. Nilai ta berada pada orde 10ps. Kecepatan
perkembangan/pertumbuhan kanal streamer semakin besar dengan semakin jauhnya/tingginya tegangan
Y(t) melewati tegangan Ve.
Dengan asumsi bahwa V(t) proporsional terhadap perbedaan antaraT.,(t) dan Vs maka untuk jarak elektrode
tertentu berlaku:

V(t)dt : A: const (6.56)


l:,"::,".'"
to*t s lt,+
[r(t) - Vo] - A: const (6.57)

A adalah luasan Tegangan-Waktu yang bernilai konstan. Luasan ini disebut juga sebagai Luasan-
Pembentukan. Luasan ini sangat bergantung pada geomeri elektrode dan meningkat seiring dengan jarak
sela antar elektrode. Normalisasi Luasan-Pembentukan terhadap jarak sela A/d menunjukan ketergantungan
Bqb 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 77

yang kecil terhadap bentuk medan, sehinggajarak sela sering dipakai sebagai parameter kegagalan terutama
pada jarak sela yang besar. Tabel 6.8 menunjukkan beberapa luasan pembentukan yang diperoleh dari
beberapa percobaan.

Tabel 6.8: Normalisai Luasan-Pcmbentukan A/d untuk beberapa susunan elektrode dengan isolasi udara

Susunan Elektrode Ald dalalrl kV pslm


Susunan jarurn-plat, jarum positif 650
Susunan jarurn-plat, jarum negatif 400
Susunan jarum-jarum, jarum negatif 620
Susunan iarum-iarum, iarum positif 590

Penggunaan kriteria Luasan Tegangan-Waktu sangat sederhana jika untuk sebuah susunan tertentu
nilai 7i dan A diketairui, maka kita ciapat menentukan nilai tegangan tahan impuls dari berbagai bentuk
gelombang dan karakteristik kurva tegangan impuls, jika semua waktu tunda penyalaan diasumsikan sebagai
pembentukan peluahan streamer. Hal ini dapat diliirat pada Garnbar 6.23 yang merupakan kurva Tegangan-
Waktu. Kurva ini diperoleh dengan cara sebagai berikut.
Sebuah benda uji diberikan tegangan impuls dengan bentuk yang sama tetapi dengan amplitude berbeda'
Nilai uji impuls yang menyebabkan kegagaian akan diambil. Masing-masing nilai tertinggi yang dicapai
tegangan akan disusun waktu kegagalannya dan dengan cara ini akan menggambarkan titik-titik karakteristik
te[anan-waktu. Nilai tegangan yang diambi] adalah nilai tegangan saat terjadi kegagalan jika terjadi pada
*ukt., mrika impuls. Sedangkan jika kegagalan terjadi pada waktu punggung impuls, nilai yang diambil
adalah nilai puncak impuls.

Gambar 6.23: Kurva tegangan-waktu untuk berbagai tegangan impuls

6.7.1 Hukum Paschen

Paschen membuktikan secara experimental bahwa pada medan serbasama dengan jarak elektrode d dan
tekanan p tegangan gagal Va hanya tergantung pada perkaii at p' d,i Kurva Paschen menunjukkan karakteristik
78 Teloik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

tegangan tembus minimum V1*in pada nilai (p. d)*n. Dibawah tegangan gagal minimum ini tidak mungkin
terjadi penyalaan. Gambar 6.24 menunjukkan kurva Paschen dan Tabel. 6.9 nilai minimum untuk berbagai
gas, yang sangat tergantung pada material elektrode.

Tabe] 6.9: Tegangan gagal minirnal beberapa gas

Jenis Gas (ps)^tn Vb^,i.n


10-3 bar cm V
Udara 0,73 352
SFo 0,35 507
N2 0,86 240
Hz 1,40 230
Oz 0,93 450
Coz 0,68 420
He 5,32 155
Ne 5,32 245
Na 0,07 320

Gambar 6.24: Kurva Paschen

Prinsip kurva Paschen dapat pula dimengerti dengan mudah secara fisik. Dengan meningkatnya p.d pad.a
tegangan konstan maka kuat medan, panjang jalur bebas dan juga energi elektrik menurun. Artinya akan ada
peningkatan kekuatan dielektrik. Pada sisi lain apabila p.d menurun jumlah ionisasi dan mekanisme yang
diperlukan untuk pelipatgandaan elektron akan menurun. Jika d kecil, elektron akan terserap pada elektrode
sebelum luruhan kritis terbentuk dan jika p kecil, panjang jalur bebas terlalu besar yang menyebabkan efek
yang sama dengan d kecil. Ini menyebabkan peningkatan tagangan gagal pada nilai p.d yang kecil.
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 79

6.7.2 Pengamrh Kekasaran Elektrod,e pada Kegagalan

Pada seluruh analisa yang telah dilakukan, elektrode dianggap sangat halus atau absolut halus yang secara
praktis sangat sulit dicapai. Karena proses pabrikasi kekasaran elektrode tidak bisa dihindarkan. Pada
permukaan yang telah dipoles tingkat kekasaran masih berkisar 3pm sampai dengan 6pm. Kekasaran
semacam itu menyebabkan peningkatan medan pada permukaan elektrode. Medan mikro ini dapat
menyebabkan penurunan tegangan tembus. Secara grafis dapat digambarkan seperti Gambar.6.25.

peningkatan medan mikro

Gambar 6.25: Peningkatan medan karena kekasaran permukaan elektrode

Efek tonjolan pada elektrode yang berbentuk hemi,sphericalpada permukaan elektrode datar ideal telal
diestimasi oleh Pedersen menggunakan sebuah model yang dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:

P' R*o, : dUEold*""]


dalam hal inip adalah tekanan gffi, R^o, adalah ketinggian maksimum kekasaran dan (Eslp)^o: di: ':
batas maksimum nilai medan mikroskopik didekat elektrode. Untuk SF6 bernilai S9kV/cm atm da-n '::: .
udara bernilai2T kYlcm atm. Hasil estimasi untuk gas SF6 dapat dilihat pada Gambar 6.26 [1]. Te:-::-::
pada gambar, untuk nilai p. B ( 40bar.mm kekasaran permukaan tidak memiliki pengaruh terhada;, - i
ambang. Disisi lain, Cooke pada [11] menyarankan bahwa nilai kegagalan mengalami penurunan apab' o - - '
p. R> 80bar.mm.

Gamba.r 6.26: Batas kegagalan pada SF6 terhadap kekasaran permuka,an


80 Teknik Tegangan Tin ggi ; P rins ip dan Aplikas inya

6.8 Kegagalan pada Medan Tak-Seragam

Pada medan homogen atau medan tak homogen lemah kegagalan streamer terjadi tanpa didahului oleh
pra-peluahan. Pada tingkat ketidakseragaman medan yang lebih tinggi setelah tercapainya kriteria streamer
maka pertama-tama akan terbentuk pra-peluahan yang stabil atau korona pada daerah yang dibatasi oleh
medan setempat yang tinggi sesuai dengan Gambar.6.27.

id
d
bo
d
oo
vo
.l.i
.a
d€
o0=
&E
66
oo oo
ad ad
o0 00
flfl

Gambar 6.27: Tegangan gagal dan tegangan mula pra-kegagalan tergantung pada tingkat kehomogenan
medan

Jika tegangan ditingkatkan pra-peluahan akan berkembang menjadi peluahan yang menghubungkan kedua
elektrode. Secara umum ini berupa peluahan streamer yang pada kasus khusus yakni jarak sela yang
panjang dan pada tegangan impuls berkembang menjadi Leader. Streamer dan leader ini akan menyebabkan
terjadinya kegagalan. Kita harus membedakan antara tegangan mula (inception voltage) pra-peluahan I/i
dan tegangan gagalVa.
lvlelalui pra-peluahan khususnya pada elektrode yang sangat tajam akan terbentuk muatan ruang. Akibat
perbedaan pembentukan peluahan dan perbedaan pergerakan elektron dan ion, interaksi antara medan
muatan ruang dan pembentukan muatan ruang tergantung pada polaritas ujung elektrode dan disebut
sebagai efek polaritas.
Pada peluahan sebagian luar, arus peluahan ditentukan oleh peluahan itu sendiri dan tidak ditentukan
oleh tahanan dalam sumber. Seiring dengan peningkatan tegangan, pada susunan elektrode dengan tingkat
ketidakhomogenan yang tinggi akan terjadi peluahan berikut:
o Korona
r Streamer
o Leader
o kegagalan
81
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas

6.8.1 Korona

Fenomena korona mendapat perhatian yang cukup serius


dan memegang peranan p8nting pada teknik
penyebab timbulnya fenomena ini tidak dapat
tegangan tinggi karena ketakseragaman *Jdu, sebagai
tegangan tinggi keberadaan korona
dihindari pada peralatan tegangan tinggi. Pada sistem transmisi
penurunan akibat tumbukan bertubi pada
menimbulkan ruglrugi daya. i(ekluatan bahan isolasi mengalami
Korona memiliki frekuensi tinggi yang tidak
bahan isolasi dan reaksi kimia yang terbentuk akibat korono.
hai tertentu diharapkan
jarang menyebabkan interferensi fada sistem komunikasi radio. Korona dalam
korona adalah glow pada tekanan
dan dalam hal lain tidak diharapkan. Pada karakteristik arus-tegangan
korona ini seperti elektro filter (elektrical
yang tinggi. Beberapa aplikasi industri memanfaatkan fenomena
prec"ipitJir) ataupun pengecatan elektrostatik (electrostatic painting).
positif, korona timbul dalam bentuk
visual korona dipengaruhi oleh polaritas tegangan. Pada tegangan
penghantar atau elektrode' Sedangkan pada
lapisan putih kebiruan pada keseluruhan peimukaan kawat
glow kemerahan yang tersebar pada kawat
tegangan negatif korona timbul dalam bentuk spot-spot
pada tegangan dc' Pada subbab-subbab
konduktor. Korona pada ac mempunyai penampakan seSenis dengan
berikut akan dibahas kedua jenis korona ini'

6.8.1.1 Jarum negatif-Plat (Korona negatif)


fisik korona adalah elektrode seia
Konfigurasi elektrode yang sangat baik untuk mengamati mekanisme
diperoleh dengan cara memvariasikan iari-
Jarum-plat. Pada elektrode ini, variasi ketakhomogeiun medan korona karena
jari elektrode jarum. Tegangan impuls sangat baik dlpergunakan untuk mengamati mekanisme medan
ruang yang akan mempengaruhi keadaan
akan memperkecil bahkan meniadakan pengaruh muatan
tegangan impuls' _
pada sela. pada buku irri tidak dibahas mekanisme korona dengan
proses korona negatif dapat dilihat pada Gambar 6'28' Dalam hal ini elektron
Penggambaran sederhana
dari elektrode jarum' Jika kepala luruhan
mula terbentuk tepat di depan jarum khusus irelalui pror", emisi
perkembangan luruhan akan terhenti (ri > o)'
melewati panjang kritis r7., kuat medan akan telalu iemah dan
baru yang membentuk luruhan pada
Ion positif melalui emisi elektron sekundermembentuk elektron mula
sisinya. Elektron akan terdorong ke luar daerah medan tinggi
(r ) 16) dan menjadi ion negatif yang relatif
statis (tidak bergerak). Awan ion negatif mengurangi t ruiL"au"
di depan elektrode jarum dan peluahan
anode. setelah perpindahan ini' keadaan medan
akan terhenti. Muatan ruang negatif bergerak-1a.r.bat ke
mulai dari awal'
elektrostatik kembali sepertilemula dan peluahan akan terbentuk

*
t
il
Gambar 6.28: Mekanisme korona negatif

{
.i

I
I

I
82 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Gambar 6.29: Karakteristik Trichel pulse

Dengan cara ini akan terbentuk pulsa yang diberi nama sesuai dengan yang menemukan yaitu pulsa
Ttichel (Gambar 6.29). Pulsa ini memiliki waktu ke puncak beberapa ns atau frekuensi berkisar pada
100 kHz sampai dengan MHz. Dengan peningkatan tegangan, kecepatan perpindahan ion positif semakin
tinggi artinya meningkatnya frekuensi pulsa. Jika aliran ion akhirnya sebanding dengan pembangkitan, maka
peluahan akan stabil dan akan terbentuk pra-peluahan tanpa pulsa (glow).
Mode korona negatif seiring dengan peningkatan tegangan dapat dilihat pada Gambar 6.30

lz
tJ
1'
c
o
Ol
c(,
O) transition
.o
F

Jarak sela (cm)

Gambar 6.30: Mode korona negatif seiring peningkatan tegangan

6.8.1.2 Jarum positif-Plat (Korona positif)

Mekanisme korona positif sama dengan korona negatif. Elektron mula yang terbentuk didepan jarum pada
ruang gas bergerak ke jarum, membentuk luruhan dan meninggalkan muatan ruang positif pada medan.
8-i
Bab 6: Kegagalan Elektik pada Bahan Isolasi Gas

penggambaran sederhana proses korona positif dapat dilihat pada Gambar 6.31. Kesan optis yang teramati
jarum yang terjadi akibat
aurii"trurran ini adalah glow lemah yang berwarna biru di dekat elektrode jarum akan menurun dan
photon. Jika muatan ruang positif ini cukup besar, kuat medan pada
radiasi cahaya
peluahan akan terhenti. proses ini akan berulang
jika ion telah bergerak ke elaktrode dan medan elektrostatik
gas ke arah katode semakin kuat. Ujung elektrode
kembali terbentuk. Akan tetapi kuat medan pudu.rung
solah-olah terlihat bergeser memperpendek ruang gas dan
berlanjut menjadi kegagalan'

I
I
I
I
I
I
I
I
I
I

X Xp

Gambar 6.31: Mekanisme korona positif

Secara umum medan pada ruang gas di antara elektrode akan semakin homogen' Dalam hal ini akan

berlaku
Va(jarum negatif) > Vafiarum positif)
Pada udara berlaku:
Vin"(jantm negatif ) < V6n.(jatum positif )

Pada kasus tegangan arus bolak-balik, setengah periode


positif menentukan kegagalan' Sekilas kegagalan
terjadi pacla tegangan puncak Va. Dalam hal ini berlaku
ta: Va(ia'um Positif)

Mode korona positif seiring dengan peningkatan tegangan dapat


dilihat pada Gambar 6'32' Gambar 6'32
2 cm dan tegangan dinaikan secara perlahan'
dapat dijelaskan sebagai berikut. Jika jarak sela kuiang- dari
jarak sela menyebabkan distribusi
tak teramati adanya ionisasi hingga terjadi kegagalair. Peningkatan filament bercabang'
medan semakin tidak homogen dan saat peningkatan tegangan, pertama-tama terlihat
(steady state) streamer berkembang
bentuk peluahan ini disebut dengan streamer. Pada keadaan tunak
arus yang sebanding dengan panjang fisik streamer'
dalam berbagai frekuensi dan memberikan peningkatan
burst pulse'
Streamer ini sering disebut dengan strearner onset atau
sampai pada berhentinya aktifitas
Jika tegangan semakin ditingkatkan, aktifitas streamer semakin sering
(seff-susiai'ned) hingga menjadi glow muncul
transient dan peluahan menjadi bertahan d;;". sendirinya
tetapi arus ini bersifat fluktuatif'
disekitar anode. Glow ini memberikan kenaikin arus secara kontinyu
Iumen glow' Peningkatan arus menimbulkan
Peningkatan arus menyebabkan peningkatan Iuas dan intensitas
streamer baru yang semakin kuat dan mengakibatkan kegagalan'
84 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

.rz
U 1
E
c(E
ol
c(o
Or
g

10 15 20 25
Jarak sela (cm)

Gambar 6.32: Mode korona negatif seiring peningkatan tegangan

6, 8,2 Peluahan Streamer

Pada tingkat ketaksereagaman rendah atau tegangan lebih besar, Iuruhan mencapai jumlah pembawa muatan
yang besar (N > 108). Akibatnya adalah terbentuknya anak luruhan di depan dan di belakang kepala luruhan
yang disebabkan karena peningkatan medan pada daerah tersebut (bandingkan dengan medan seragam).
Juga memungkinkan terjadi ionisasi pada ruang medan dengan kuat medan statis rendah (E < Eo).
Skematik sederhana tentang proses ini dapat dilihat pada Gambar 6.33. Prinsip peluahan streamer dapat

dijelaskan sebagai berikut. Sebuah elektron mula pada daerah medan tinggi (E > E0) di depan katode akan
menyebabkan luruhan. Karena jumlah pembawa muatan N akan lebih besar dari 108, menyebabkan radiasi
photon yang intensif karena peningkatan medan lokal ini, Pada daerah belakang, dibelakang ekor luruhan,
luruhan baru dapat terbentuk jika medan dasar meningkat karena muatan ruang sedemikian tinggi sehingga
E>Eo.
Sementara elektron terserap pada anode, ion positif tetap berada pada ruang medan dan membentuk
"perpanjangan jarum" dengan kuat medan yang relatif tinggi. Zone pasif antara kepala streamer dan anode
seolah netral dan merupakan penghantar lemah. Kuat medan pada daerah ini tergantung polaritas bernilai:
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 85

E+ - 5kV/cm
,E--10-15kV/cm
Peluahan streamer akan terhenti jika medan muatan ruang bersama dengan medan dasar tidak lagi
mencukupi untuk penyebaran luruhan elektron. Secara eksperimen diketahui medan dasar minimum pada
udara adalah 4kV/cm untuk streamer positif dan 15kV/cm untuk streamer negatif. Pertumbuhan streamer
ditentukan melalui photon oleh karena itu dia akan tersebar relatif cepat yang m&n& u.r - 10 - 100cm/ps

6.8.3 Peluahan Leader

Peluahan leader khususnya terbentuk pada jarak sela eiektrode yanga besar dan tegangan impuls kontak
(Switching Impulse Voltage) dan mempunyai efek yang jelas pada karakteristik kegagalan. Karena
pada polaritas positif tegangan kegagalan Iebih randah dibandingkan dengan polaritas negatif, sehingga
keberadaan peluahan leader positif sangat menentukan dalam menentukan sistem dan peralatan. Prinsip

Kepala streamer
Kanal
streamer

Batas
tonrSas

Gambar 6.34: Mekanisme leader

perkembangan leader positif ditunjukan pada Gambar 6.34. Leader terdiri dari Kanal Leader (1), Kepala
Leader (2), dan Korona Leader (3). Dalam kanal leader dengan diameter d;, terdapat kerapatan arus yang
relatif tinggi, yang menyebabkan tingginya temperatur Eas Tc dan ionisasi termal. Ini akan memberikan
kerapatan pembawa muatan yang relatif tinggi dimana jumlah elektron dan ion positif hampir sama. sehingga
gradien tegangan pada kanal leader relatif kecil. Besaran-besaran tipikal untuk sebuah kanal leader dengan
panjang beberapa meter di udara adalah:

iy x0,6 - | A; Ey x 1,5 kV/cm; dt <3 mm T6= 5000'C

Perkembangan Leader sangat ditentukan oleh energi yang dialirkan melaiui arus leader, sehingga temperatur
leader yang diperlukan untuk ionisasi termal dapat dipertahankan. IMekanisme awal terjadinya leader
(leader inception) yang tepat dapat dikatakan masih belum jelas, tapi terdapat beberapa hipotesa.
Pada setiap kasus awal terjadinya leader selalu memerlukan kerapatan arus pada kaki leader yang
menyebabkan peningkatan temperatur. Peningkatan temperatur ini menyebabkan penurunan kerapatan gas
yang menghasilkan peningkatan energi elektron dan frekuensi ionisasi benturan. Lebih lanjut energi termal
86 Teknik Tbgangan Tin ggi ; P rins ip dan Ap likas inya

yang tinggi menyebabkan hilangnya elektron semakin tinggi melalui proses attachment; koefesien attachment
untuk pembentukan ion negatif juga menurun.

6.9 Isolasi Vakum

Ide menggunakan vakum sebagai isolasi merupakan ide lama. Teori Townsend menyebutkan bahwa arus
tergantung dari pergerakan partikel bermuatan pada sela. Pada vakum, ketidaktersediaan partikel, khususnya
pada vakum sempurna, menyebabkan tidak terjadi konduksi dan vakum seharusnya merupakan media
isolasi yang sempurna. Akan tetapi dalam prakteknya, keberadaan elektrode metal dan permukaan isolasi
vakum merupakan isu yang komplek dan meskipun pada isolasi vakum, tegangan yang cukup tinggi dapat
menyebabkan terjadinya kegagalan. Beberapa tahun terakhir banyak sekali usaha dan penelitian yang
dilakukan untuk mengetahui karakteristik elektrik media isolasi vakum. Hal ini terutama ditujukan untuk
peralatan peralatan listrik yang digunakan secara luas seperti pemutus dan kontaktor vakum, kapasitoe
frekuensi tinggi dan relai, generator elektrostatik, dll, Penggunaan kontaktor dan pemutus (Circuit breaker)
menggunakan vakum sebagai media isolasi mengalami peningkatan pada sistem tenaga. Sistem vakum adalah
sebuah sistem dengan nilai tekanan jauh lebih kecil dari tekanan atmosfer, Pada sistem vakum tekanan
selalu diukur dalam terminologi milimeter raksa, dalam hal ini standar tekanan 1 atmsofer adalah 760
milimeter raksa pada temperatur 0o, Terminologi "milimeter raksa" telah distandarkan oleh organisasi vakum
international (International Vacuum Society) sebagai "Torr", dimana satu milimeter raksa sama dengan satu
torr. Vakum dapat digolongkan menjadi:
Vakum tinggir 1'10-3 sd 1.10-6
Vakum sangat tinggi: 1.10-6 sd 1.10-8
Vakum ultra tinggi: dibawah 1'10-e
Untuk keperluan isolasi listrik, vakum yang digunakan umumnya adalah vakum tinggi dengan tekanan
berkisar 10-3 sd 10-6

6.9.1 Emisi Elelctron pada Vakum

Beberapa mekanisme telah diusulkan untuk menjelaskan emisi elektron dari permukaan. Mekanisme yang
paling luas diterima adalah emisi dingin yang diusulkan oleh Fowler dan Nordheim. Kerapatan arus J karena
emisi medan pada ujung runcing elektrode sesuai dengan usulan ini adalah:

J : AD2expl?Be 1.5 u(y\lEl Alm2 (6.5e)

dalam hal ini A: (L.54.10-')l[p t2(y)], B: -6.831.10e dan p: fungsi kerja metal.
Besaran t(y) dan t;(g) fungsi peubah yang bisa dianggap konstan. Sehingga persamaan(6.59) dapat
dinyatakan sebagai berikut:

toglJ I E2) : -tosl7 I A)(- B *''u u (y)) Q I n\ I 2.3026 (6.60)

Karena A, g, dan u(y) adalah konstan, sebuah plot log Jf E2 terhadap LIE menghasilkan garis lurus yang
memiliki gradient negatif. Garis lurus ini sering digunakan untuk mengevaluasi relevansi hubungan Fowler-
Nordheim dengan data percobaan. Akan tetapi pada elektrode yang luas, bentuk geometri tonjolan dan
ketidaknormalan permukaan tidak diketahui. Dengan mempertimbangan faktor ini, Alpert memodifikasi
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 87

persamaan (6.60) sebagai berikut:

toglr I V2 | : -los [1 / (A' A P\)(- B et 5 u (y)ld I vl I 2.3026 B (6.61)

A, aclalah luas elektrode dan d adalah panjang sela, J diganti dengan (1lA') dan modifikasi medan ditulis
sebagai perkalian antara faktor peningkatan medan setempat B dan medan rata-rata E(:Vld). Area emisi
aktual digantikan sebagai A'B. Persaman (6.59 s.d 6.61) telah dibuktikan secara eksperimental oleh banyak
investigator. Jika B tinggi dan medan kritis makroskopis jauh lebih besar dari medan pada sela, tempat
emisi meledak, membebaskan uap metal.
Pada vakum, permukaan elektrode dengan jarak sela yang panjang menghasilkan pulsa berenergi rendah
yang disebut dengan peluahan mikro (microdischarge). Pcluahan ini berdurasi 0.1 s.d 100ms, berfrekuensi
0.1 ;.d 100H2 dengan amplitudo <10mA. Hai ini mungkin disebabkan oleh partikel-partikel kecil material
elektrode yang keluar dari satu elektrode dan memukul elektrode yang lain, atau sinar lccutan elektron dari
sebuah katode yang dapat menguapkan elektrode material dalam kuantitas kecil. Pada tekanan tertentu,
frekuensi peluahan mikro meningkat seiring peningkatan tegangan yang dapat menyebabkan terjadinya
kegagalan (breakdown)

6. 9. 2 Kegagalan Valeurn

Ionisa,si benturan pada ruang gas merupakan proses yang paling menentukan dalam proses kegagalan
streamer ataupun proses kegagalan. Akan tetapi dcngan penurunan tekanan, frekuensi benturan elektron
menurun dalam pergerakan menuju anode. Pada tekanan 10-a mbar, jalur bebas rata-rata mencapai 40 cm
dan secara teknis pada jarak sela seperti ini kegagalan dengan mekanisme seperti diatas tidak dimungkinkan.
Sehingga pada tekanan serendah ini, mekanisme kegagalan lain harus diperkenalkan.
Selama 70 tahun, diusulkan berbagai mekanisme kegagalan pada vakum. IVlekanisme ini secara kasar dapat
dibagi dalam 3 katagori.
1. Mekanisme pertukaran partikel
2. Mekanisme emisi medan
3. Teori Clump

6.9.2.1 Mekanisme pertukaran partikel

Pada mekanisme ini diasumsikan bahwa sebuah pertikel bermuatan teremisi dari sebuah elektrode, dan jika
menumbuk pada elektrode yang lain, dia akan membebaskan partikel dengan muatan berlawanan karena
ionisasi gas. Partikel-partikel ini terakselerasi oleh tegangan kembali menuju elektrode pertama dimana
mereka membebaskan lebih banyak partikel dari pada tipe partikel awal. Jika proses ini menjadi kumulatif,
reaksi berantai akan terjadi dan menyebabkan terjadinya kegagalan.
Mekanisme pertukaran partikel in melibatkan elektron, ion-ion positif, photon dan gas yang terserap pada
permukaan elektrode. Secara kualitatif, keberadaan elektron pada sela vakum terakselerasi menuju anode
dan pada belturan akan melepaskan A ion positif dan C photons. Ion-iou positif ini akan terakselerasi menuju
katode dan pada benturan setiap ion positif membebaskan B elektron dan setiap photon membebaskan D
elektron. Secara skematik digambarkan pada Gambar (6.35). Kegagalan akan terjadi jika koefesien produksi
elektron kedua lebih besar satu. Secara matematika dapat ditulis sebagai berikutl

(AB+CD)>7 (6.62)
88 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Gambar 6.35: Mekanisme pertukaran partikel pada kegagalan vakum

Akan tetapi, Tlump dan Van de Graaff mengukur koefesien ini dan menunjukkan bahwa koefesien ini
terlalu kecil untuk terjadinya proses kegagalan, Sehingga teori ini di perbaiki dengan melibatkan keberadaan
ion negatif dan kriteria kegagalan menjadi

(AB+EF)>7 (6.63)

dalam hal ini .E dan r, merepresentasikan koefesien pembebasan ion positif dan ion negatif oleh ion positif dan
negatif. Secara ekperimental ditemukan bahwa nilai perkalian EF mendekati satu untuk elektrode tembaga,
aluminium dan stainless steel untuk membuat mekanisme ini dapat diterapkan pada tegangan diatas 250kV

6,9,2,2 Teori Emisi Medan

Mekanisme pemanasan Anode


Teori ini mengasumsikan bahwa elektron yang dihasilkan secara mikro pada katode karena emisi medan
membombardir anode menyebabkan peningkatan temperatur setempat sehingga pelepasan gas dan uap pada
vakum. Elektron ini mengionisasi atom pada gas dan menghasilkan ion-ion positif. Ion-ion positif ini tiba
pada katode, meningkatkan emisi elektron utama karena pembentukan muatan ruang dan menghasilkan
elektron sekunder karena pemborbardiran permukaan. Proses ini berlanjut sampai sejumlah elektron yang
dihasilkan mencukupi untuk terjadinya kegagalan, seperti mekanisme Townsend pada gas bertekanan rendah.
Ini ditunjukkan secara skematik pada Gambar. 6.36.

Mekanisme pemanasan Katode


Mekanisme ini mengasumsikan bahwa mendekati tegangan gagal pada sela, titik tajam pada permukaan
katode bertanggung jawab terhadap keberadaan arus pra-gagal yang terbentuk akibat proses emisi medan
seperti penjelasan berikut.
Arus ini menyebabkan pemanasan pada ujung titik dan jika kerapatan arus kritis tercapai, ujung titik
ini akan mencair dan meledak kemudian menginisiasi peluahan vakum. Mekanisme ini disebut dengan emisi
medan seperti yang ditunjukkan secara skematik pada Gambar 6.37, Inisiasi kegagalan tergantung pada
kondisi dan karakteristik permukaan katode. Percobaan menunjukkan bahwa kegagalan terjadi pada proses
ini apabila medan listrik efektif pada katode berkisar 106 s.d. 107
Bab 6: Kegagalan Elektrik pada Bahan Isolasi Gas 89

Gambar 6.36: Mekanisme pemanasan anode pada kegagalan vakum

L
Gambar 6.37: Mekanisme pemanasan katode pada kegagalan vakum

6.9.2.3 Mekanisme Clump

Pada dasar teori ini dikembangkan dengan asumsi asumsi (Garnbar. 6.38):

1. Adanya gumpalan partikel yang mudah terlepas pada salah satu permukaan elektrode.
2. Pada pemberian tegangan tinggi, partikel ini termuati, selanjutnya partikel ini terlepas dari elektrode asal
dan terakselerasi menyeberangi gap.
3. Kegagalan terjadi karena peluahan pada uap atau gas yang terlepas karena benturan partikel pada
elektrode target.

Teori ini pertamakali diusulkan oleh Cranberg. Pada awalnya Cranberg mengasumsikan bahwa kegagalan
akan terjadi apabiia energi per unit area, W, terkirim ke elektrode target oleh gumpalan melewati nilai
konstanta karakteristik pasang elektrode, C/. Kuantitas W, adalah perkalian tegangan sela, y dan kerapatan
muatan pada gumpalan. Kerapatan muatan sebanding dengan medan listrik, ,E pada elektrode asal. Sehingga
kriteria gagal adalah:

VE: C, (6.64)

Pada elektrode paralel, medan E : Vld, d adalah jarak antar elektrode. Sehingga kriteria kegagalan
secala umum:

v : (cd)1/2 (6.65)
90 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

lo
IK
lo
IO.
ItD

(a) gumpalan clump yang mudah lepas


dari permukaan

H€
,t?;:t'#fi *il##;:?11
u""o'
E

\(
,l^l
5i ****"a-3e

)[
(c) tumbukan clump Pada anode
menyebabkanterlepasnya gumpalan
uap metal

Gambar 6.38: Mekanisme clump pada kegagalan vakum

C adalah konstanta termasuk Ct dankondisi permukaan elektrode. Cranberg menunjukkan kriteria kegagalan
ini cukup memuaskan dengan hasil percobaan yang dilakukan dengan tingkat akurasi yang baik. Dia
menyataLn bahwa asal gumpalan adalah katode dan memperoleh nilai untuk konst anta C adalah 60 ' 1010
Y2fc;rg (untuk partikel besi). Akan tetapi selanjutnya persamaan tersebut di perbaiki menjadi V : Cdo,
a bervariasi antara 0.2 s.d 1.2 tergantung pada jarak sela dan material elektrode dengan nilai maksimum
pada 0.6. KetergantunganV pada material elektrode berasal dari pengamatan penandaan pada permukaan
elektrode. Cekungan kecil teramati pada anode dan daerah leleh pada katode dan sebaliknya setelah
kegagalan tunggal.
Dari beberapa mekanisme kegagalan pada vakum, secara ringkas dapat disimpulkan bahwa keberadaan uap
metal yang terlepas dari elektrode baik karena emisi medan ataupun temperatur memegang peranan yang
sangat penting sebagai penyebab kegagalan pada vakum

6.10 Soal Telaah

1. Jelaskan perbedaan proses perbanyakan elektron pada poses ionisasi dan emisi!
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan jalur bebas rata-rata (mean free path) sebuah elektron
3. Apa yang didefinisikan oleh koefesien ionisasi Townsend pertama dan koefesien ionisasi Townsend kedua?
4. Jelaskan perbedaan antara ionisasi photon dan emisi photon!
Bab 6: Kegagalan Elek*ik pada Bahan Isolasi Gas 91

5. Apa yang dimaksud dengan tunnel efffect pada proses emisi medan?
6. Pada sebuah tabung percobaan dibakar sebuah gas mulia. Derajat ionisasi gas dapat diprediksi dengan
persamaan Eggert-Saha
a. Hitungiah dcrajat ionisasi Helium, jika pada peluahan gas bertekandn p : 5 Bar, temperatur ? :
5000K. Energi ionisasi Helium Wt:24.59eY
b. Berapakah besar volume Neon pada kondisi tekanan 4 Bar, Temperatur 4000 K, dimana rata-rata 1
juta atom terionisasi (WtN"on: 21.56 eV)
c. Hitunglah tekanan pada peluahan Xenon dengan temperatur 8000 K. Pada kondisi tersebut 1 ion
terionisasi pada setiap 1000 atom (W,i,x.non:13'13 eV)
7. Apa yang dimaksud dengan gas elektronegaiif. Apa sebabnya gas ini merniliki kuat gagal yang lebih tinggi
dibandingakn dengan gas-gas lain ?

8. Jelaskan mekanisme Townsend pada proses kegagalan gas!


9. Gambar dan Jelaskan kondisi mdan pada mekanisme streamerl
10. Gambarkan bentuk kurva Paschen! Jelaskan, mengapa pada daerah sebelah kiri dan kanan dari (p .d)^;n
kuat gagal gas semakin meningkat?
11. Jelaskan proses transisi dari tichel pulses ke Pulseless glow pada korona negatif seriring dengan
peningkatan tegangan!
12. Diskusikan berbagai proses kegagalan pada isolasi vakum!

-oo0oo-

*
{i
1',
Kegagalan pada bahan Isolasi Cair dan Isolasi Pada
7
pada isolasi cair dan padat belum
Tidak seperti teori kegagalan pada isolasi gas, kegagalan dan peluahan
dapat dijelaskan secara komprehensif melalui teori fisik'
Bahan isolasi padat dan cair terdiri dari berbagai substansi dengan
sifat kimia dan- fisik yang berbeda-
juga terjadi sebagai akibat dari perbedaan
beda. Disamping itu, perubahan-perubahan sifat-kimia dan fisik
besar bisa terjadi antara kekuatan
kondisi produksi, kontaminasi, proses penuaan. Perbedaan yang sangat
ideal (kondisi laboratorium) dengan kekuatan teknis (kondisi penggunaan
di lapangan)' Kecenderungan
akan semakin- sulit jika kerapatan isolasi (berkurangnya
yang berlaku adalah proses petranun dan kegagalan
panjang jalur bebas elektron) dan ikatan meningkat. Dengan demikian bisa dikatakan kekuatan
"l.f,tr.-orrrryu isolasi padat' Kekuatan elektrik
elektrik meningkat dari bahan isolasi gas, isolasi cair kemudian bahan
pada Gambar 7'1' Pada gambar terlihat'
beberapa bahan isolasi dengan beberapa efek khusus dapat dilihat
kekuatan bahan dielektrik padat dan cair yang murni .""uru teknis
terletak pada daerah tengah' Kekuatan
tingkat kemurnian yang tinggi dan pada lapisan lebih
vang Iebih tinggi diperoleh dari bahan isolasi i"r,gun
iipiJ. Nitui yan! rendah terlihat pada material yang terkontaminasi.
masing-masing' Terlepas dari kekuatan
Bahan isolasi gas, cair, dan padaf memiliki teteUifran dan kekurangan
masing masing:
elektriknya, mlreka sesuai dipergunakan untuk fungsinya
yang sempurna' bersifat stabil dalam
1. Media isolasi gas mempunyai kelebihan, Iebih ringan, sifat mengisi
terhitung murah
jangka panjang, tidak te;lalu sensitif terhadap pel,-Lhan (sampai dengan busur kontak)'
(khususnya untuk udara).
pembebanan (akibat pergeseeran
Kekurangannya adalah i<ekuatan elektrik (pada tekanan normal) dan
medan (Field displacement)) yang rendah'
isolasi cair atau padat jika tuntutan
Gas (udara) aaalan bahan isolasi alami yang hanya digantikan dengan
karakteristik terhadapnya tidak sesuai'
2. Media isolasi *u*punyai kelebihan sebagai bahan pengisi yang baik, kekuatan elektrik yang lebih
".ir, hantar panas yang tinggi melalui proses konfeksi
tinggi dan kemampuan
penuaan dan kontaminasi,
Kekurangannya adalah lebih terat, kekuatan elektrik berkurang akibat
pemuaian panas, membutuhkan wadah kedap air dan harga Iebih mahal
cairan adalah bahan yang sangat umunl. dipakai sebagai media pengisi peralatan
listrik dengan
94 Teknik Tbgangan Tinggi ; Prinsip dan Aplikasinya

E6 (kV/mm)
1000

100

10

0.1
Vakum Gas Cair Padat

Gambar 7.1: Orde tingkat kegagalan material isolasi

kemungkinan a6anya "cavity" yang tinggi (Kapasitor, Trafo, Kabel dll). Dia
juga berfungsi sebagai
pendingin untuk mengurangi rugi rugi panas (pada trafo)'
s. Media isolasi padat, keuntungan yang utama dari media isolasi padat terletak pada kekuatan elektrik
yang sangat tinggi, mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi. Resin dapat dipergunakan sebagai media
pengisi dan memungkinkan kontruksi tanpa minyak'
peluahan tidak
Kekurangannya antara lain kemampuan daya hantar panas rendah, kerusakan akibat
dapat diperbaiki, berat dan tantangan teknologi yang tinggi dalam proses produksi'
Isolasi padat sering dipergunakan pada peralatan dcngan tuntutan kekuatan dielektrik tinggi
(kapasitor,
bushing, kabel), p""gi-tut touUel dan juga untuk isolasi dengan kemampuan mekanis (Isolator dll.)

7.1 Kegagalan pada Isolasi Cair


pada trafo,
Isolasi cair mempunyai spektrum penggunaan yang sangat luas. Isolasi cair dipergunakan
beberapa fungsi
rangkaian pemutls (Cr),- kondensator, kabel, dll dan pada saat yang sama memenuhi
antara lain:
1.Bahan isolasi antar bagian bertegangan, seperti pada trafo'
2. Bahan pengisi (impragnation maierial) pada dielektrik beriapis seperti dielektrikum
minyak/kertas pada
kondensator dan kabel.
3. Bahan pendingin pada trafo.
4. Bahan pe*ad** busur apai pada rangkaian pemutus minyak (oil cB)
5. Dielektrikum yang mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi pada kapasitor'
penggunaan bahan isolasi cair sangat bergantung pada tujuan penggunaannya. Ada isolasi cair dengan
viskositas yang tinggi atau rendah dengan menggunakan minyak mineral atau produk sintetis seperti silikon,
polyalkene (eotyisoUutylen), Alkylbenzole (Dodecylbenzol), Chlorbenzoi, Chlorine Biphenyle, dll'
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolasi Padat 95

7.1.1 Mekanisme Konduksi, pada Dielektri'k Cair

7.L.l.L Konduktansi Arus Searah

Ttansportasi muatan pada dielektrik cair terjadi melalui ion positif dan ion negatif yang terbentuk akibat
disosiasi dari ketidakmurnian dan produk penuaan yang terbentuk dengan sendirinya dan juga melalui
keberadaan elektron-elektron, yang efeknya tetapi dapat diabaikan pada kuat medan yang tidak terlalu
tinggi. Penyebabnya adalah elektron-elektron setelah pembebasannya melalui interaksi yang intensif sangat
U"rgubung lagi dengan molekul yang lain membentuk ion positif atau molekul netral. Oleh sebab
itu kerapatan elektron dapat diabaikan. Konduksi pada cairan yang utamanya disebabkan oleh ion juga
"uput
bertambah akibat konduksi elektrophoretis, jika pada cairan mengandung zat-zat aditif. Zat aditif ini
termuati dan ikut berperan dalam transportasi muatan'
pada medan listrik searah, kerapatan arus J tergantung dari muatan q, konsentrasi n, dan mobilitas rata-rata
pembawa muatan b seperti halnya juga kuat nredan E. Hubungan tersebut berlaku:

J : qnbE (7.1)

Selama tidak terjadi saturasi dan ionisasi, maka konduktansinya adalah:

u-qnb (7.2)

Mobilitas b tergantung dari muatan q seperti juga besarnya ion dengan radius r dan berbanding terbalik
dengan viskositas 4 media sekitar:
b: oT\r
=Q
(7.3)

Karakteristik konduksi arus searah pada dielektrik cair dapat dibagi menjadi empat daerah seperti yang
terlihat pada Gamb ar 7.2. Pada gambar terlihat konduktansi menurun seiring dengan waktu pemberian

l0-3 l0-l l0 10, l0' ttuEtrr.,

Gambar 7.2: Konduktansi arus searah isolasi minyak seriring waktu pemberian tegangan
96 Telvtik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

tegangan. Keempat daerah tersebut adalah:


Daerah A Arus mengalami penurunan karena orientasi dipol (dwi kutub)
Daerah B Pergerakan pembawa muatan bebas ke arah elektrode dibawah pengaruh medan listrik.
Konduktansi pada daerah ini ditandai sebagai konduktansi sesungguhnya, karena konduktansi ini
sebanding dengan konduktansi arus bolak-balik yang terukur pada frekuersi 5O Hz, x-.
Daerah C Penurunan arus akibat berkurangnya pembawa muatan secara cepat seperti halnya
pembentukan muatan ruang di depan elektrode.
Daerah D Terjadinya arus stasioner yang disebabkan karena ion-ion baru yang selalu terbentuk kembali
akibat disosiasi.
Konsentrasi pembawa muatan dan viskositas sangat tergantung pada temperatur sehingga konduktansi juga
berubah terhadap temperatur. Batasan daerah temperatur mengikuti hukum Van't Hoff:

21: %o erp(-F/kT) (7.4)

(k Konstanta Boltzmann; 7 Temperatur mutlak; z16, .F konstanta bahan) Hukum Van't Hoff hanya berlaku
pada karakteristik Ohm (hubungan linier antara kerapatan arus dan kuat medan) artinya tanpa adanya
saturasi dan ionisasi.

7.L.L.z Rugi-rugi dielektrik dan konstanta dielektrik

Konstanta dielektrik dan rugi-rugi dielektrik adalah besaran-besaran penting untuk menilai suatu bahan
dielektrik. Nilai dan ketergantungannya pada temperatur, frekuensi, dan tegangan sangat menentukan untuk
penggunaannya sebagai bahan isolasi dan berlaku sebagai kriteria kualitas, tingkat kemurnian dan juga
sebagai kriteria kondisi penuaan bahan isolasi.

7.1.1-.3 Terminologi, Deffnisi dan Rangkaian Pengganti

Sebuah isolasi secara elektrik digambarkan sebagai kapasitansi dengan rugi-rugi, yang karakteristiknya
ditentukan oleh konstanta dielektrik dan resistansinya.
Konstanta dielektrik, e, sebuah bahan isolasi (relative permittivity) adalah perbandingan dari kapasitansi, C,
rangkaian kondensator bahan isolasi tersebut sebagai bahan dielektrikum dengan kapasitansi Co kondensator
tersebut dengan vakum sebagai bahan dielektriknya:

C,
,r--1
Konstanta dielektrik vakum e6 dikenal juga sebagai konstanta medan listrik yang bernilai €o : 8,854' 10-12
Fl^
Konstanta dielektrik sebuah bahan isoiasi, e (permittivity) adalah perkalian dari konstanta dielektrik e, dan
konstanta dielektrik vakum €o:
e: ere1

Untuk penanganan matematis dari mekanisme polarisasi diperlukan pengenalan konstanta dielektrik
komPleks Yakni:
e, : e!, - jer
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolasi Padat 97

(ef adalah bagian riil dari konstanta dielektrik kompleks; ef adalah bagian imajiner dari konstanta dielektrik
kompleks, yang juga disebut sebagai angka rugi dielektrik (loss indeks))
Pada tabel teknis dan spesifikasi sering dipergunakan e, untuk penyederhanaan.
Melalui perkalian konstanta dielektrik kompleks dengan konstanta dielektrik vakum akan diperoleh konstanta
dielektrik kompleks bahan isolasi.
e:ereo:G!,_jrll)ro
Rugi dielektrik tan d didifinisikan sebagai perbandingan antara daya nyata dengan daya buta pada tegangan
yang diletakkan pada sebuah kapasitor:

tan6:ffi:ffi:;
- dayanyata VI cos? I- (7.5)

dengan d adalah sudut rugi. Sudut ini adalah sudut pergeseran fasa antara I dan V melalui dielektrikum
yang lebih kecil dari 90o seperti yang ditunjukkan pada Gambar 7.3.

t,

Iw

Gambar 7.3: Rangkaian pengganti paralel dan seri

Rugi daya dielektrik diperoleh dari:


1^
Pdi"r : dengan? cosl:i-:iatanS (7.6)
,Oi"ord
dan
1"
Pdi"l : dengan ia: ttuC
)iutand
dan
Pdi"r : tan6 : VzuC tan6 (7.7)
f,ozuC
Dari persamaan (7.7) terlihat rugi daya dielektrik sebanding dengan peningkatan faktor rugi tan5. Faktor
rugi ini dapat dipergunakan sebagai ukuran perkiraan rugi dielektrik dan pemanasan bahan isolasi saat
operasional.
Untuk melghitung faktor rugi, maka diperlukan penggambaran rangkaian pengganti dielektrikum yang
mengandung rugi. Arus yang melalui dielektrikum terdiri dari arus bagian tahanan dan bagian kapasistansi,
16 dan.Ic. Rangkaian ini dapat berupa rangkaian seri atau rangkaian paralel B dan C seperti yang terlihat
98 kknik kgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

pada Gambar 7.4. Kedua rangkaian tersebut dapat dipergunakan dan mempunyai kebenaran yang sama.
Akan tetapi kedua rangkaian tersebut tidak dapat menjelaskan karakteristik temperatur dan frekuensi faktor
rugi dengan memuaskan.

+r R. cs
-

Gambar 7.4: Definisi faktor rugi

Kekurangan ini tetapi dapat dihindari, jika bagian arus tahanan dan bagian arus kerja yang tergantung
pada temperatur dan frekuensi dari dielektrikum disusun sebagai sebuah kapasitor kompleks yang dapat
melewatkan arus tahanan dan juga arus kapasitansi.
Kita akan memperhatikan hal ini melalui angka dielektrik kompleks:
I .il
er:er-Jer (7.8)

Dengan memperhatikan pula kapasiatansi C6 (aapasitansi pada vakum), dengan mengambil contoh kapasitor
plat sejajar:
Co: ro* (7.e)

sehingga memberikan kapasitansi kompleks

C : €r Cs : (e!, _ jui) Co (7.10)

Dengan demikian untuk sebuah dielektrikum yang mengandung rugi-rugi dapat digambarkan sebagai
rangkaian paralel -B dan C.
Dari rangkaian pengganti ini, faktor rugi dielektrik,tan d dapat dihitung. Arus kompleks yang melalui
dielektrikum adalah:

r : iv + jw(e', - jei) csv


: (* *aellc.+ 1we!,co)v (7.11)

Dengan pemisahan bagian riil dan imajiner arus kompleks ini maka diperoleh arus kerja dan arus buta

,- : (*+,,ico) v , Iu: ue!, co v (7.12)

dan fa,ktor rugi diperoleh:


99
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolasi Padat

, c: I-
r,alro
(fi + weico) V
-:Ia ----we'"Cg V
tand:
#d.t
tan6:tandz,*tandp
(7.13)

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa faktor rugi dielektrik dapat dibagi menjadi dua. tan 62,
bagian faktor rugi karena
menggambarkan bagian faktor rugi karena hantaran elektrou dan tan6p adalah
repolarisasi dalam dielektrikum.

7.\,L.4 Mekanisme Ilantaran dan Mekanisme Polarisasi


Pembawa Konduktansi/Konduktansi ion
frekuensi yang tidak terlalu tinggi
Secara prinsip mekanisme konduktansi ion pada medan bolak balik dengan
bebas dibawah pengaruh
sama dengan konduktansi pada u.rr. ."u.uh yakni perpindahan pembawa muatan
konduktansi ion' Tidak tergantung
medan listrik. proses ini pada isolasi cair secara umum disebut dengan
pada medan bolak-balik berhubungan dengan
dari jenis pembawa muatan, pergeseran pembawa muatan
nilai sama dengan konduktansi
konduktansi arus bolak-b alik, x- yang pada frekuensi 50 hz mempunyai
(7'2)'
arus searah, :a setelah 10-2 detik. Sehingga x- iuga sesuai dengan persamaan

x- - qnb

pada rentang frekuensi 0,1H2 sampai dengan beberapa 100H2 konduktansi arus bolak-balik ini tidak
dan mobilitas pembawa
bergantung pada frekuensi tetapi hanya be-rgantung pada muatan, konsentrasi,
muatan. pada sebuah rangkaian isolasi tertintu de"ga" dielektrikum cair, tahanan R, sesuai dengan
rangkaian pengganti yrrrg a[iti], (rangkaian paralel R dan C), menyebabkan penambahan faktor rugi melalui
pembawa konduktansi:
tan57 : 1 g.LA)
d^
dan temperatur konstan ef
Dari penelitian yang telah dilakukan, dibuktikan bahwa pada frekuensi rendah
tidak tergantung pada frekuensi tetapi hanya bergantung pada .R dan c, sehingga ef sering didefinisikan
pembawa konduktansi, kebergantungan faktor
\;"brcJ."'. ir."".tr"ta dielektrik statis). Sehingga pudu du"1uh
lurus secara proporsional dengan c''':
rugi pada frekuensi pada temperatur i<onstan berbanding
1 1
(7.15)
tandl: 2rf
Rue,oCo u
frekuensi (Gambar 7'5)'
Faktor rugi tand7, semakin rendah secara hiperbolis dengan meningkatnya
tahanan E terhadap
Kebergantungan tan61, terhadap temperatur ditentukan ol"h k"t"tgantungan
konduktansi arus
temperatur, oleh karena itu ers tergantung pada temperatur. Jika kita memperhatikan
bolak balik u- dan dengan memperhatikan persamaan
€0 (7.16)
RCo: %-

Sehingga untuk faktor rugi


tan 6r, : '- (7.17)
UerOeO
100 Teknik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

terlihat bahwa tan51, tergantung pada temperatur seperti pada konduktansi arus bolak balik N-. Sesuai
dengan persamaan (7.4), faktor rugi menjadi

tand;, : - n9-"-r1nr (7.18)


U€gey6

tan 6
tt.

Gambar 7.5: Ketergantungan ef dan tandl terhadap frekuensi pada temperatur konstan. e/.
€ro:konstan pada frekuensi rendah

Rugi-rugi polarisasi
Disamping rugi-rugi akibat konduktansi pembawa muatan, pada isolasi cair terdapat pula bagian rugi-rugi
arus bolak-balik yang pada persamaan (7.13) berkarakteristik

e!,
tandl: (7.1e)
eti

Rugi-rugi polarisasi ini disebabkan oleh mekanisme-mekanisme sebagai berikut:


Polarisasi deformasi. Molekul tunggal atau atom dalam ikatan molekul berosilasi sesuai dengan medan
bolak balik. Osilasi yang sama dapat pula terjadi antara inti atom dan kulit-kulit elektron. Jika hanya
polarisasi ini yang terjadi maka material ini adalah material non polar.
Polarisasi batas permukaan. Pada material isolasi yang tidak homogen seperti kristal, muatan berkumpul
pada batas permukaan yang mengalami polarisasi sesuai dengan medan bolak balik. Pada struktur cair
polarisasi ini tidak dapat terjadi.
Polarisasi Orientasi (arah). Mekanisme polarisasi ini selalu muncul pada pada bahan isolasi dengan dipol
permanen. Pada molekul dengan dipol permanen, titik berat antara muatan positif dan negatif tidak
beraturan. Pada medan listrik, permanen dipol ini akan mengarah sesuai dengan arah medan atau searah
dengan medan bolak balik.

Mekanisme polarisasi yang paling mendominasi pada bahan isolasi cair adalah polarisasi orientasi.
Ketergantungan frekuensi dari rugi-rugi polarisasi dapat dijelaskan dengan persamaan Debye
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolasi Padat 101

er : e'r + jell
. €ro - €ro
e,(a) a-
| -
-Lr@ L+JQT
. €ro - €ra
er
- Lroo ' L -f (ur)z
I-

rt
er : €ro - ercrc
'Qr
7a r*
Sehingga diperoleh faktor rugi yang tergantung pada frekuensi sebagai berikut:

^
tandy:
e'J €rO - €rcp (7.20)
= ero + er@larz )
Dalam hal ini, r adalah waktu relaksasi masing-masing mekanisme polarisasi, er6 adalah bagian riil konstanta
dielektrik kompleks pada frekuensijauh di bawah frekuensi relaksasi dan e,- adalah bagian riil dari konstanta
dielektrik kompleks pada frekuensi jauh diatas frekuensi relaksasi.
Grafik faktor rugi, bagian riil dan bagian imajiner konstanta dielektrik dapat dilihat pada Gambar.7.6.
Faktor rugi menunjukkan lokal maksimum pada frekuensi:

** _ \r,lTr*I _-

,r*,
L
(7.21)

Untuk frekuensi di atas dan di bawah nilai ini, tan67 bergerak menuju nol. Bergantung pada mekanisme
polarisasi, artinya bergantung pada besar dan momen dwikutub molekul polar, waktu relaksasi mempunyai
nilai berbeda-beda; pada frekuensi yang lebih lebar nilai polarisasi maksimal seperti ini dapat lagi terjadi.
Pada temperatur konstan, pergerakan faktor rugi dan konstanta dielektrik sebuah isolasi minyak dapat
dilihat pada Gambar. 7.7

Daerah I:

tan57:
Q€,rO€O

Daerah II:

tandp : ei
et,

Tidak seperti kandungan air yang pengaruhnya sangat jelas pada faktor rugi, pengaruh kandungan gas
terlarut terhadap faktor rugi belum dapat dipastikan. Faktor rugi meningkat secara eksponensial seiring
peningkatan kandungan air. Dalam jumlah yang sangat sedikit, kandungan air ini hampir tidak berpengaruh
pada faktor rugi,
Seperti yang juga telah dijelaskan pada efek kuat medan terhadap konduktansi (efek Wien), faktor
rugi dielektrik juga meningkat dengan peningaktan kuat medan, jika daerah dengan karakterisik resistif
terlampaui.
t02 Telcnik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Gambar 7.6: Ketergantungan ef, e". dan tandp terhadap frekuensi. s adalah daerah dispersi anomali

Gambar 7.7: Ketergantungan ef dan tand isolasi minyak terhadap frekuensi


Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolasi Padat

7.1.2 Mekanisme Kegaga,lan pada Dielektri,k Cair

Kegagalan elektrik pada isolasi cair dipengaruhi oleh berbagai hal. Disamping dipengaruhi oleh jer--. -,*::,"'
dan besar tegangan yang dikenakan pada isolasi cair juga dipengaruhi oleh bentuk, material da:. :-:-iu.
kesempurnaan penyelesaian elektrode. Tegangan gagal isolasi cair sangat ditentukan oleh kandL-rli- i*
dan air serta ketidakmurnian isolasi cair tersebut. Karena hal tersebut, tidak ada satu kesatuan tc--:, "r-:-:
bisa menjelaskan proses kegagalan pada isolasi cair
Bergantung pada dominasi penyebab kegagalan, beberapa gambaran mekanisme kegagalan isolasi c-: ',, :
diuraikan sebagai berikut.

7.1.2.'J.. Kegagalan Elektronik

Mekanisme kegagalan ini terkadang disebut dengan "samaran peluahan gas". Pada tegangan bolak-ba--.- :r l
singkat atau khususnya pada tegangan impuls, kegagalan isolasi cair disebabkan oleh mekanisme c'-'...-: :
Elektron mula yang diperlukan berasal dari masing masing elektrode yang teremisi akibat meda:: ----:,.
seperti yang dijelaskan pada proses kegagalan isolasi gas. Pembawa muatan tambahan terjadi akibat c:..:-::
(Efek Wien, peningkatan konduktansi pada elektrolit karena pengaruh gradien medan).
Beberapa peneliti membuktikan bahwa kuat gagal beberapa hidrokarbon ditentukan oleh kerapat&r , -:. -- -
-

untuk ruang bebas cairan), tekanan parsial komponen-komponennya dan energi ionisasinya. D: :.,
diasumsikan, antara molekul-molekul cair terdapat ruang kosong (hole). Ruang kosong ini mengar.:--:
komponen minyak yang mudah berpindah atau mengandung gas asing yang terlarut pada minyak' R'-.-,:
bebas mikro dalam minyak ini, akibat pemisahan gas dibawah pengaruh medan listrik dan saling tur:,:'-'-
menghasilkan pembawa muatan (ion positif dan negatif) berimbang.
Karena tekanan listrik, panas yang disebabkan proses ionisasi pada ruang gas menyebabkan dekompio-.
minyak dan hal ini menyebabkan betambahnya pembentukan gas. Hal ini menyebabkan penambai-:;-
konsentrasi pembawa muatan akibat proses ionisasi dan disosiasi. Peningkatan arus akan menyebab.=;
tambahan panas dan berakibat pembentukan gelembung gas. Proses ionisasi pada gelembung g-'
meningkatkan konduktansi dan menyebabkan distorsi distribusi medan. Ini akan membentuk avalarlci:e
(luruhan) dengan kuat medan maksimum dan memungkinkan ionisasi Iangsung atau ionisasi bertingkat
pada cairan, jika diberikan tegangan dengan besar yang sesuai. Avalanche yang membentuk kanal peluahan
gas mengakibatkan terjadinya ionisasi termal dan pada akhirnya menyebabkan kegagalan total pada ruang
minyak. Dari penjelasan tersebut diatas proses kegagalan pada isolasi minyak terkadang disebut "samarai
peluahan gas".

7.L.2.2 Kegagalan akibat partikel pejal

Meskipun isolasi cair yang dipergunakan sebagai pengisi (mis. pada reaktor, trafo, dll) sebelum dipergunaka:
telah difilter, didegasifikasi, dikeringkan (dalam hal ini adalah untuk menghilangkan kandungan *--
(desiccation)), saat pengoperasian beberapa lama timbul pengotoran pejal mikro (Fiber atau partikel :*:-
terlarut lain) dari isolasi kertas atau struktur komponen dasar peralatan. Pada peralatan yang tidak tertu:'j:
(enclosed) seperti trafo, dari kontak dengan atmosfer dan proses penuaan bahan isolasi itu sendiri dap":
menimbulkan air pada isolasi cair. Fiber selulosa menyerap kelembaban dan hal ini menyebabkan perbaa:a:
konstanta dielektrik. Dengan pemberian medan listrik, fiber akan terpolarisasi, bergerak ke daerah k:a:
medan yang lebih tinggi dan kernudian membentuk jembatan konduktansi antar elektrode. Peningka:a::
kerapatan arus pada jembatan fiber menimbulkan panas yang membentuk uap dari kelembaban yang tersedla
104 Teknik Tbgangan Tinggi; prinsip dan Aplikasinya

dan dari komponen cair yang mempunyai titik didih rendah di dekat fiber.
Gelembung gas yang terbentuk
ini memicu kegagalan (yang sering dapat disebut dengan kegagalan termal lokal).

7.L.2.3 Teori volume minyak tertekan (stressed oil volume Theory)


Seperti yang telah dijelaskan, kuat gagal sangat ditentukan oleh ketidakmurnian
atau kontaminasi dari isolasi
minyak tersebut. Secara statistik, kuat gagal listrik isolasi minyak ditentukan
oleh daerah titik terlemah dari
isolasi minyak yakni daerah dimana tekanan dan oleh voluml minyak pada
daerah tersebut. pada medan
tak seragam, volume minyak bertekanan adalah volume pada daerah antara medan maksimum
(E^"k) i;;
0'9 E*o1". Berdasarkan teori ini, kuat gagal berbanding terbalik dengan volume
minyak tertekan.
gagal sqngat dipengaruhi oleh kandungan gas pada minyak, kekentalan
1"s3"s1" minyak, dan keberadaan
kontaminasi lainnya. Hal ini terdistribusi secara tidak merata, sehingga peningkatan
volume minyak tertekan
menyebabkan penurunan tegangan gagal.

7'L'2'4 Pengaruh Temperatur, Kandungan Gas dan Air terhadap Kekuatan Gagal
fsolasi
Cair

Ketergantungan kuat gagal isolasi cair pada temperatur dan juga pada kandungan
air d.apat ditentukan
dari ketergantungan isolasi cair pada kelembaban relatif minyak (L.rirngur, ui,
."'rrrrggrhnya pada minyak
terhadap konsentrasi jenuh pada temperatur tertentu). Jika kuat gagai minyak
mileral diplot terhadap
kelernbaban relatif, maka semua nilai kegagalan terletak pada garis tr.ru yurg
,ama, tidak tergantung pada
temperatur dan kandungan air. Dengan meningkatnya kelembaban relatif maL kekuatan
jika kelembaban relatif mencapai 100% dibawah nilai batas maka elektrik menurun,
kekuatan elektrik mendekati nilai konstan.
Pada daerah sangat jenuh (Emulsi air pada minyak), kuat medan gagal tidak
tergantung pada kandungan
air dan bernilai sangat rendah.
Seperti yang sering tertulis pada literatur bahwa kuat gagal isolasi cair tergantung pada
temperatur adalah
pernyataan yang tidak tepat. Pada cairan kering ( kadungan air dibawah pp*
r (pait per million)), kuat gagal
isolasi cair tidak tergantung pada temperatur. Isolasi cair yang lembab-hanya
terlihat seperti tergantung
pada temperatur, karena pada isolasi cair dengan kandungan air tertentu
memperkecil kelembaban relatif
(seperti kita memanaskan isolasi cair) dan kuat gagal meningkat tanpa perubahan
kandungan mutlak air.
Disisi lain kuat gagal isolasi cair pada daerah gas terlarut tidak bergantung
dari jumlah gas terlarut.
Terkadang dapat diketahui pengaruh jenis gas pada kuat elektrik, yang
bergantLrng darisifat kiriia-fisika gas
tersebut' Jika dalam keadaan terlarut gelembung gas terbentuk, kuat elektrik
uiur, -".rrrrun yang terjadi
akibat proses peluahan sebagian (partial discharge) pada gerembung ga^s.

7.1.3 Jenis Isolasi Cair

7.1.3.L Isolasi minyak berbasis minyak mineral

Isolasi minyak berbasis minyak mineral adalah campuran hidrokarbon


berbeda-beda yang diperoleh dari
minvak alam mentah melalui proses destilasi bertingkat dan proses rafinasi yang
tepat. Komponen utamanya
adalah (Gambar 7.8):
Paraffine 40 sd 60%
Naphthene 30 sd b0%
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolasi Padat 105

tl<
Aromate 5 sd 20%
Olefine 1%

Parafin
..cH2-cH2 -cHz -cH2 -cH2 -cHr... (tak bercabang

..'CHz
I

f ...cH:-cH-cH2-cH-cH2 Iso-parafin
I (bercabang)
CH- CH
o
I
CHr... o

H,C- CHr H2 H2 }(
t -.r,
,i. .[; H,c-c -cH- Napthene
tllll (Cyclo-parafin
H,C
'\C/ CH.
- H,C
--C- CH-C- CH,
H2 H2 H2

H HH
zzC -
HC CH HC -C-C-C-CH
ril
HC
I Aromate
--c-
CH HCCCH
\c/ \c/ o
H HH
o
...CH2- CH = CH - CH - CH2 €6
I ,&
o
...CHz
Olefin
CH2- CH = CH:
I CH,
CH,- CH,- CHi

Gambar 7.8: Struktur molekul dari minvak mineral

Bahan dasar dipergunakan adalah minyak mentah dengan basis naphthene dari Venezuela. \lin1'ak
ini tidak mengandung komponen lilin yang pada temperatur rendah mengurangi sifat alir minyak. Sejak
beberapa tahun terakhir juga dipergunakan minyak mentah dengan basis dominan parafine. Pour-point
(Pourpoint adalah titik temperatur dimana minyak masih bisa mengalir) minyak ini 10 K lebih tinl5i
sehingga mempengaruhi kema,mpuan alir saat dingin dibandingan dengan minyak berbasis domrr,an
naphthele yang terletak berkisar pada temperatur -30oC. Beberapa karakteristik minyak mineral derlgan
viskositas rendah ditampilkan pada tabel 7.1 Seperti yang telah dijelaskan, sifat elektrik minyak mineral
oC sampai denga:l
memburuk dengan meningkatnya kandungan air. Faktor rugi konstan pada temperatur 40
kandungan air 40 ppm, pada kondisi ini kuat elcktrik sangat berkurang dibandingkan dengan kandungan air
yang lebih kecil. Jika kandungan air melebihi 40 ppm, faktor rugi meningkat dengan tajam dan kuat elektrik
semakin menurun.

Penuaan (ageing)
Selama pengoperasian sebuah pcralatan listrik dengan isolasi minyak berbasis minyak mineral akarr
mengalami penuaan akibat pengaruh oksigen dan kelembaban lingkungan, peningi<atan temperatur. dalr
106 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Tabel 7.1: Karakteristik minyak mineral pada 20oC dengan kandungan air lebih kecil dari 10 ppm

Breakdown field strength Ea:2oo...350 kV/m


Dielectric constant er x 2,2 at 50 Hz
Density 'y : 0,9 g/cm3
Dielectric loss factor tand < 10-3 at 50 Hz

keberadaan katalisator (spt. tembaga atau bahan metai lainnya ya,ng terdapat dalam peralatan). Oksigen
yang terserap akan bereaksi dengan hidrokarbon membentuk peroksida dan seianjutnya membentuk
produk-produk oksidasi seperti alkohol, keton, asam dan ester sebelum akhirnya membentuk ikatan
molekul tingkat tinggi, yang pada awalnya masih terlarut dalam minyak. Hal ini akan memperburuk sifat
elektrik isolasi minyak seperti kuat gagal dan faktor rugi dielektrik. Pada penuaan berkelanjutan yang
melibatkan perbesaran ikatan molekul akan menghasilkan endapan ya,ng pada kanal minyal alihqr manghalangi
pendinginan dan pada belitan menyebabkan pemanasan pada beiitan saat pembebanan termdlgrang tinggi
yang pada akhirnya menimbulkan bahaya kegagalan termal.
\
Karakteristik Gas \ \
Isolasi minyak juga dibedakan dari karakteristiknya terhadap gas saat dikenai medan listrik. Dalam nlirrl
adalah karakteristik isolasi minyak pada perbatasan fasa gas-minyak akibat pengaruh peluahan pendar
(glow discharge). Keadaan ini adalah keadaan dirnana minyak yang mengambil gas atau minyak yang
memisahkan gas. Karakteristik gas pada sebuah minyak tidak hanya tergantung pada struktur minyak
tetapi juga tergantung pada energi peluahan. Jika efek energi peluahan melampaui nilai ambang batas,
pertama-tama minyak akan mempunyai sifat melarutkan gas dan jika energi peluahan ini makin besar maka
sifat minyak terhadap gas akan beralih menuju sifat memisahkan gas. Jika energi peluahan ini terlalu tinggi
semua jenis minyak rnempunyai sifat memisahkan gas.

Analisa gas terlarut dalam minyak (Disolved Gas Analysis)


Disamping pengawasan terhadap peningkatan penuaan minyak mineral pada trafo dengan cara mengambil
sample (contoh) minyak secara teratur dan menganalisa sifat elektrik rlan sifat kimia fisik dari minyak, saat
ini tersedia alat bantu yang sangat bermanfaat untuk pengenal awal ketidaksempurnaan atau kesalahan trafo
dengan cara menganalisa gas terlarut pada minyak. Saat ini dengan mengetahui gas terlarut pada minyak
akibat kerusakan trafo dapat dikctahui intcnsitas dan juga jenis kerusakan trafo. Dengan metode ini dapat
diketahui jcnis dan jumlah gas yang terbentuk akibat:
1. Peluahan sebagian dengan berbagai intensitas
2. Peluahan dengan energi lemah (peluahan spark (spark discharge))
3. Busur api atau peluahan arus tinggi
4. Panas lebih lokal (local overheating)
Peluahan sebagian dan peluahan denga,n energi lemah akan dominan menghasilkan gas H2 dan CHa, peluahan
dengan arus tinggi akan menghasilkan terutama gas C2I{2 dan H2. Hotspot yang menyebabkan panas lebih
setempat memperbanyak kandungan CHa, C2Ha dan C3H6. Pada bahan isolasi dengan basis selulosa pada
pemanasan lebih lokal akan melepaskan CO dan CO2. Perbandingan jumlah gas terlarut pada minyak yang
diperoleh dengan analisa gas terlarut akibat gangguan diatas mempunyai nilai tipikal. Dengan demikian kita
dapat memperkirakan tingkat kerusakan (keberbahayaan) peraiatan dalam hal ini trafo.
107
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolqsi Padat

7.1.3.2 Isolasi Cair Sintetis

Hidrokarbon murni
polyisobuten adalah sebuah hasil polimerisasi buten dari rantai polyolefin. Bahan isolasi ini memiliki
viskositas cukup tinggi sebagai bahan pengisi kapasitor dan juga kabel'
Dod,ecylbenzol adalah isolasi cair dengan viskositas rendah dengan daya
serap gas cukup baik dari rantai
juga kapasitor'
Alkylbenzol yang umumnya dipergunakan pada kabel minyak tekanan rendah dan

Askarel
dengan Tri - dan atatt
Askarel sering disebut Polychlorinated Biphenyl (PCB) pada hal tertentu dicampur
Tetrachlorbenzol. pCB adalah isolasi dan bahan pendingin yang tidak mudah
terbakar (inflammable) yang
dipergunakan pada trafo. Bahan isolasi ini mempunyai permitvitas tinggi
(e, : 4 ' ' ' 6 pada temperatrtr
sangat sulit terurai
20"C) yang juga dipergunakan sebagai bahan penslsi kapasitor. PCB secara biologis yang sangat
produk
Disamping itu dengan pengaruh temperatur tinggi dapat menghasilkan dekomposisi
pCS telah dilarang di seruluh dunia. Peralatan yang masih
beracun (Dioksin). Saat ini penggunaan
membakar pada temperatur
menggunakan PcB harus diganti dan pemusnahan dapat dilakukan dengan
yang sangat tinggi.

Cairan Silikon
silikon adalah
Cairan silikon sering disebut dengan nama yang kurang tepat yakni minyak Isolasi ini
dengan dua methyl'
oolvdimethylsiloxane linier nrurni yang terdiri dari i rantai Silizium-Oksigen
5il;;;#;il;r;;"r" untuk mengganti askar:el pada kapasitor atau trafo distribusi' Yang membedakarr
ketidakberacunannya drr. kerumuhan pada lingkungan akan tetapi
tidak dapat
;;;T;;;i'rllo.a" thermal sampai
ffilffi;; i,].l,i t".t udap api seperti askret. sitikon cair ini tahan terhadap tekanantidak mengalami
;;;;"",iW.'C;;;l;s" umia 1ot<siaatif diudara sampai dengan suhu 180oc), sehingga oC
operasi normal dan mempunyai.karakte.irtik yang baik pada temperatur 20
il:;;rrftr'r.""itlt "l"kt.ic
ian 50 Hi adalah: E4 = 300-400kV/cm, tand < l0-4, e, x2'6
cair hampir tidak tergantung pada temperatur; Titik bekunya sangat
rendah:
ffi;;;1l".irtr,r."" titik
dibandingkan dengan isolasi minyak berbasis mirl".ul, .ilikon cair memiliki
titik didih dan bakar
isolasi minvak berbasis
yang sangat tinggi. Kekurangannya adalah sangat mahal dibandingkan dengan
pada kapasitor, Iilikon cair ini memiliki konstanta dielektrik vang lebih
mineral dan untuk pemakaian
isolasi minvak mineral
renrlah dibandingkan askarel. Yang perlu diperhatikan jika dibandingkan dengan
koefesien pemuaian panas (thermal
adalah kemampuan disipasi panasnya lebih tidak menguntungkan dengan
pada jarak isolasi yang panjattg'
expansion) yang jauh teUif, ti.rggi dan kemampuan isolasi yang lebih rendah
Faktor rugi dielektrik relatif tinggi.

Cairan organik lainnYa


Disamping silikon cair, isolasi cair yang juga menjadi perhatian adalah ester
cair. Dibandingkan dengarr
minyak mineral, ester memiliki permitivitaf yang tinggi €r
:3'3 dan faktor rugi tand > 10-3' Dengan
2000h' Kekuatan
penuaan thermal pada temperatur 150'C, tand -1"ing[at dengan faktor 10 dalamjangka
kelembaban karena mempunvai
dielektriknya sebanding, tetapi sangat tidak tergantung pada kandungan
daya serap air yang tinggi (2700 ppm pada 20'c) aemitia,
juga dengan faktor ruginya' Ester memiliki
oC dan
beku yang sangat ."nauf, -50'C dan mempunyai titik didih dan titik bakar
masing-masing275
titik
310"c. Nilai ini hampir dua kali lipat dari tipikal nilai minyak mineral.

P enggant'i Askarel untuk K apasitor


108 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Sebagai pengganti untuk chloride Biphenyl, beberapa tahun terakhir dikembangkan non-chlor Hidrokarbon
dengan stabilitas termal yang baik dan mempunyai daya serap gas 112 seperti juga dapat terurai secara
biologis dengan baik. Khususnya BNC (Benzylneocaprat), PXE (Phenyl-Xylyl-Ethan). MIPB (Mono-
Isopropyl-Biphenyl), DTE (Ditolylether), dan Baylectoral 4900 yang sangat ramah lingkungan dan sangat
sesuai sebagai bahan pengisi kapasitor.

Pengganti Askarel untuk Tlafo


Pada trafo sedang dikembangkan bahan pengganti askarel baik yang mengandung klorin maupun non klorin
dana beberapa telah diujicoba.
Bahan pengganti non-klorin memiliki titik didih yang tinggi (210 s.d 305'C), titik bakar tinggi
(310s.d360'C). Tingkat keramahlingkungan sebanding dengan hidrokarbon konvensional. Kekurangannya
adalah karakeristik hantaran panas yang kurang baik dan pada busur api dapat membentuk gas yang mudah
terbakar dan meledak. Termasuk dalam bahan pengganti ini adalah minyak HTK, Hidrokarbon temperatur
tinggi, Silikon cair dan Ester cair dengan basis Karboxylatester.
Bahan pengganti dengan kandungan klorin diantaranya adalah Tetrachlorethen dan sebuah campuran
Dichlorbenzyldichlortoloul dengan Trichlorbenzol telah diujicobakan. Meskipun cairan ini tidak memiliki
titik bakar dan tidak menghasilkan gas ledak dan gas mudah terbakar pada busur api tetapi lebih berbahaya
dari bahan pengganti non-klor walaupun masih dibawah askarel.

7.2 Kegagalan pada Isolasi Padat

Isolasi padat umumnya juga mempunyai peran mekanik untuk menunjang struktur tegangan tinggi dan
pada saat bersamaan mempunyai fungsi isolasi dari satu bahan penghantar dengan penghantar yang lain.
Secara urrum struktur isolasi merupakan kombinasi padat dengan cair atau padat dengan gas. Pada dasarnya
mekanisme hantaran dan mekanisme rugi pada isolasi padat adalah sama seperti pada isolasi cair. Disamping
rugi hantaran dan rugi polarisasi seperti pada isolasi cair, pada isoalsi padat ditambah lagi dengan rugi-rugi
karena ionisasi yang pada isolasi cair tidak memiliki arti penting.
Pada isolasi padat ada kerugian yang disebabkan karena kegagalan disipasi panas secara konveksi, hal ini
menyebabkan pemanasan yang kuat pada bahan dielektrikum dan dapat mengakibatkan kerusakan bahan
isolasi.

7.2.1 Mekanisme Konduktansi dan Rugi

Pada dasarnya mekanisme konduktansi dan rugi pada isolasi pada sama dengan pada isolasi cair. Berbagai
jenis rugi pada isolasi pada mempunyai arti khusus karena rugi rugi akibat ketiadaan pemindahan panas
secara konveksi menyebabkan peningkatan panas pada dielektrikum dan pada akhirnya menyebabkan
kerusakan pada bahan Isolasi. Bahan isolasi padat adalah non self heali,ng isolasi artinya bahan isolasi
yang tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri.

Konduktansi arus searah


Seperti bahan isolasi cair dan gas, bahan isolasi padat mempunyai pembawa muatan dengan konsentrasi
tertentu yang berpindah pada dielektrikum karena pengaruh medan listrik. Proses ini disebabkan oleh
pergeseran muatan pada daerah tertentu atau melalui pengarahan dipol secara perlahan dalam medan.
Arus yang timbul pada dielektrikum padat sesaat setelah pemberian tegangan searah merupakan gabungan
I Ltg
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolasi Padat

dari berbagai proses. Magnitudo kemampuan hantar arus spesifik adalah:


x: L qnb
(Kerapatan pembawa)(1/cm3): Qr'. 't' ;
(n jumlah masing masing jenis pembawa muatan per satuan volume
masing masing pembawa (As); b mobilitas (cm2/Vs)
pemberian tegangan seart,:- ' : -
Bergalturrg dlii mobilitas masing masing pembawa muatan pada
setelah beberapa u'ak:-' -'-'
ditingkatkan secara konstan akan terjadi r"rri"tun proses dan pada akhir
memberikankontribusipadatotalkemampuanhantararuSSearah.SehinggahampirSemuabai:..'- -
seiring dengan waktu ?'::" ' -
padat mempunyai karakieristik penurunan kemampuan hantar arus searah
tegangan seperti yang terlihat pada Gambar 7'9'

isolasi padat seiring u'akt:


Gambar 7.9: Skematik diagram perubahan daya hantar arus searah
iit..

gii
'
padat dibedakan menjadi da'''' --; '"
Dari karakteristik tersebut, daya hantar arus searah bahan isolasi
dalam waktu beberapa :-- 'i ffir
transien dan daya hantar arus stasioner. Nilai akhir stasioner dicapai
padat, tingkat kemurnian' temperatu:
.--' 1"c"" '
dengan beberapa bulan tergantung pada jenis isolasi
H
dengan semakin tinggir:"':' ''
medan uji. Secara umum. keadaan stasioner semakin cepat tercapai fl
spesifik, temperatur bahan isolasi dan kuat medan uji'
mekanisme sebagai berik:-:
Komponen transien flaya hantar arus diuraikan menjadi beberapa
dan molekul non-pola: 1 '' I
1. Pergeseran titik berat muatan positif dan negatif pada atom netral
medan Iistrik (poiarisasi defor=--- : irrilr

kelompok molekul yurg ,.r.rr-rya berlawanan dengan arah


ion; jangka waktu proses ini dalam hitungan piko detik)
molekul (dipol pe::-'-
2. penyearahan molekul netral dalam hal inimolekul polar atau kelompok jam)
medan (polarisasi orientasi; jangka waktu proses ini sampai dengan beberapa
terbatas sampao pada stnrk:':-- 'i: '- *.: r ill
3. pergeseran muatan positif dan negatif dalarn daerah volume
sampai dengan bt':r:'":" --"
(polarisasi antar muka dan polarisasi volume; jangka waktu proses ini
daerah elektrode teta;: :'1Lr :'
4. Pergeseran muatan pada keseluruhan volume sampai pada batas
"

(polarisasi lapisan batas beri'.': -'-' "


meninggalkan dietektrikum karena keterbatasan energi
rL

dengan beberapa ming


pembentukan muatan ruang heteropolar; jangka waktu sampai
.^

volume bahan i-ri ---' r" 1 'r'


b. perpindahan pembawu rnrruiu., ke elektrode aLu bersatu kembali dalam
pembawa muatan; jangka waktu proses ini sampai dengan beberapa
bulan)
(pengayaan eleki: - :'-r Lr"
6. Emisi pembawa muatan dari katode dan tersimpan pada bahan isolasi
"

dengan pembentukan muatan ruang homopoiar di depan katode "


muatan ruang pemt' r: i' L- i'
*ut t, proses ini sampai dengan beberapa bulan)
il0 Teknik kgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Disisi lain bagian stasioner dari daya hantar arus searah hanya dapat terjadi dari pembawa muatan bebas
(elektron dan ion) yang bergcrak di keseluruhan volume bahan isolasi dan setelah pemisahan melalui proses
konduktansi (seperti peluahan pada elektrode atau proses rekombinasi) menghasilkan sejumlah pembawa
tnuatan baru. Dalam kasus ion, lial ini terjadi melalui disosiasi dengan molekui asing (misalnya difusi
dengan udara, kelembaban. kontaminasi dlsb )atau juga mclalui pelepasan matcrial dari benda padat itu
sendiri sebagai akibat tumbukan molekul tereksitasi termal atau cahaya dan pada akhirnya karena ionisasi
tr:mbukan elektron. Ketersediaan elektron baru terjadi melalui emisi dari elektrode.
Dari berbagai mekanisme yang dijelaskan sebelumnya dapat dimengerti bahwa sebuah pengukuran terintegral
kematnpuan hantar atau konduktansi sendiri tidak memberikan sedikitpun informasi tentang penyebab
proses dan keterlibatan jenis pembawa muatan. Pemisahan antara komponen transien dan stasioner sendiri
khususnl'a untuk bahan sintetis isolasi tinggi (Polyethylen, Epoxidharz, dll) dalam pemeriksaan konduktansi
rutin pada temperatur ruang dan medan yang tidak tcrlalu tinggi hampir tidak mungkin karena waktu
percobaan sampai dengan kondisi stasioner memerlukan waktu sampa,i dengan beberapa bulan.
Karakteristik akan berbeda pada kuat medan yang tinggi terutama pada batas kuat elektrik bahan isolasi.
Dari berbagai hasil pengukuran, dapat diketahui bahwa pada kondisi ini elektron lebih berperan sebagai
pembawa muatan sedangkan komponen ion kurang berperan pada total konduktansi. Sehingga persamaan
7.22 menjadi:
x : €flebe (7.23)
(n" jumlah elektron per satuan volurne (Kerapatan pembawa); e muatan dasar (e : 1.6' 10-1e As); b"
mobilitas elektron)
Karena muatan dasar e adalah besaran konstan, daya hantar arus searah pada kuat medan yang tinggi
ditentukan oleh nilai perkalian kerapatan elektron n" dan mobilitas clektron b".
Hal ini mempunyai arti khusus pada bahan isolasi polimer tinggi karena pada material ini tidak terdapat
kecepatan rimban yang konstan dan sama dari pembawa muatan seperti pada bahan isolasi gas dan cair.
Proses konduktansi pada polimer tinggi sebagian besar berlangsung dalam bentuk yang disebut dengan
"hopping-conductance" antar kondisi energi.
Penjelasan secara fisika dengan menggunakan model pita cncrgi Frohlich akan memberi gambaran yang
Iebih jeias. Pada model ini kondisi energi dalam sebuah isolasi padat dibagi menjadi dua pita energi, yakni
pita konduktansi yang tidak mengandung elektron dan pita valensi yang penuh elektron. Hanya elektro
pada pita konduktansi yang bergerak dan terlibat pada transportsi muatan pada material padat, sedangkan
elektron pada pita valensi terikat pada molekul atau atom material padat sehingga tidak terlibat langsung
dengan proses konduktansi. Pada pita valcnsi yang tidak penuh, elektron valensi dapat bertukar tempat
akibat medan listrik, dimana, holc (iubang) bergcrak kearah katode (konduktansi lubang, hole conductance).
Walaupun dcmikian scmlranya adalah proses elektronik maka istilah yang digunakan secara umum adalah
konduktansi elektron. Letak pita konduktansi dan pita valensi sangat menentukan apakah sebuah material
bersifat konduktor, semi konduktor, atau isolator. Kondisi-kondisi tersebut dilukiskan pada Gambar.7.10
dan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pada konduktor, pita konduktansi dan pita valensi saling tumpang tindih artinya elektron dari pita
valcnsi setiap saat dapat mencapai pita konduktansi walau tanpa dorongan energi dan berperan pada
transportasi muatan.
2. Pada semikonduktor, pita valensi dan pita konduktansi dipisahkan oleh celah energi W < I eV. Pada
pita celah yang juga disebut dengan daerah terlarang karena alasan energi tidak mungkin menjadi tempat
elektron. Elektron dari pita valensi dapat melampaui atau melewati daerah terlarang dan mencapai pita
konduktansi bila mendapatkan energi termal atau elektrik yang cukup.
3. Isolator dibedakan dengan semikonduktor dari }ebar daerah terlarang dengan W :2.. .10 eV sangatlah
besar dan kemungkinan elektron valensi menuju pita konduktansi sangat kecil. Ini menjelaskan kecilnya
konduktansi sendiri bahan isolasi yang tak terkontaminasi.
t11
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolasi Pqdat

[\\\\," N\\\*
Llt: O.l ...1 e\tl lY:2...10 eY

T/Tr-ry7-
(b)
ruT7,.
(c)

Gambar 7.10: Skema energi untuk (a)Konduktor; (b)Semikonduktor; (c)Isolator. PK:Pita Konduktansi,
PV:Pita Valensi, DT:Daerah terlarang

Aktivasi elektron dari tingkat valensi ke tingkat konduktansi didorong oleh energi termal dan energi elektrik'
Hubungan antara kerapatan elektron n. dengan energi termal dan energi elektrik dapat dilakukan dengan
bantuan statistik Boltzmann dan efek Schotty sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut:

ne:tu.",., (r- o-ffi.) l-r) (7.24)

[-
Dalam hal ini n, adalah kerapatan semua elektron yang terakifasi termal dengan iarak W dari pita
konduktansi dan k adalah konstanta Boltzmann. e adalah mua,tan dasar (elektron); -E adalah kuat medan
listrik; e6 adalah konstanta dielektrik vakum; e, adalah konstanta dielektrik bahan padat; C- adalah faktor
pengali yang besarnya tergantung dari sistem ukur yang dipergunakan dan mempunyai besar 1/1'6' 101e
eV/Ws
perhitungan matematik berdasarkan persamaan 7.24 derrgat asumsi bahwa aktifasi hanya terjadi dari pita
valensi, Jiperoleh nilai 10-30 S/cm untuk karakteristik isolasi dengan jarak pita lebih dari 5 eV, kuat
medan 46kV/mm dan temperatur 100'C. Nilai ini sangat jauh dari konduktansi spesifik yang terukur
secara
ini.diperkirakan karena
eksperimental bahan isolasi padat yang bernilai (tO-ro s.d 10-13 S/cm). Perbedaan
keberadaan elektron pada daerah terlarang seperti yang tergambar secara skematis pada Gambar 7'11

Sr"
II DT

Gambar 7.11: Skema pita energi untuk isolator. PK:Pita Konduktansi, PV:Pita Valensi, DT:Daerah
terlarang dengan elektron, W Jarak Pita
il2 kknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Selama tempat elektron dalam kondisi netral tidak terisi, maka kita definisikan sebagai perangkap. Jika
terisi dengan elektron, kita bicara sesuatu yang pada fisika semikonduktor disebut dengan Donatur atau
kondisi yang mirip donatur, yang dengan sedikit energi termal dan medan listrik dapat menyediakankan
elektron untuk proses konduktansi (trfek Pooie-Frenkel) karena jaraknya dengan kondisi konduktansi sangat
kecil. Penyebab keberadaan kondisi elektron pada daerah terlarang adalah ketidakteraturan struktur seperti
kontaminasi dan molekul asing, batas rantai, titk percabangan, lapisan batas, d11.
Sumber lain pembawa muatan yang terlibat untuk proses hantaran adalah katode metal. Katode dapat
menginjeksikan elektron ke bahan isolasi jika dorongan energi elektrik dan atau termal mencukupi. Trasnsisi
elektron dari elektrode ke bahan isolasi dibawah pengaruh medan listrik yang tinggi dapat dijelaskan dengan
dua mekanisme yakni medan yang nrempermudah injeksi termal (injeksi Rchardson-Schottky) dan injeksi
medan murni (injeksi Fowler-Nordheim). Dalam kasus mekanisme Richardson-Schottky, kerapatan arus
katode Srr diberikan oleh persamaan:

" ( wo-wa-BEP_5,\
SKR: AnT(-t"*, I -- (7.25)
krt-r
\ )
dengan

dan C- mempunyai nilai seperti yang ditunjukkan pada persamaar (7.24).

Dalam kasus injeksi Fowler-Nordheim:

5\
: . to-, 6.9.107(Lyo - I,yA)t
Sxp r.ss
ffi",.o (- Ea) (7.26)

Kerapatan arus pada kedua persamaan tersebut mempunyai satuan Af cm2 dengan:
46 konstanta Richardson (Af cm2K2); k konstanta Boltzmann (9.02. tO-s eV lK);71-; temperatur mutlak
katode (K); Wo fungsi kerja elektron katode metal dalam vakum (eY); Wa elektron afinitas dielektrikum
(eV); E1-1 nilai efektif kuat medan katode (V/cm); e muatan dasar (elektron (1.6.10-le As)); ese, konstanta
dielektrik bahan isolasi (As/Vcm)
Perhitungan kuantitatif yang dilakukan menunjukkan bahwa sampai dengan kuat medan antara 200 s.d 300
kV/mm didominasi oleh mekanisme Richardson-Schottky, sementara beban diatas tersebut didominasi oleh
mekanisme emisi medan dingin menurut Fowler-Nordheim.
Hubungan antara konduktansi dan kuat medan pada temperatur konstan dan seiang waktu pengukuran
yang sama ( misalnya masing-masing sepuluh menit setelah pemberian tegangan) dapat dibagi menjadi tiga
daerah seperti pada Gambar 7.12:
1. Dacrah I dengan beban kecil, pada daerah ini konduktansi tidak bergantung pada kkuat medan, x :
%o: Konston. Pada daerah ini, konduntansi ion dan atau berbagai proses polarisasi yang bertanggung
jawab terhadap rz
2. Daerah transisi II, pada daerah ini konduktansi mulai meningkat dengan meningkatnya tegangan atau kuat
medan. Transportasi muatan yang awalnya disebabkan oleh pergeseran ion meningkat melalui superposisi
proses elektronik.
3. Daerah III, pada daerah ini konduktansi meningkat sebanding dengan hukum pangkat kuat medan listrik.

% - E'" denganm ) 0 (7.27)


113
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolasi Padat

Gambar 7.12: Ketergantungan antara daya hantar arus searah dan kuat medan

Daerah ini menunjukkan daerah konduktansi medan tinggi yang rilai u ditentukan sebagian besar oieh
mekanisme transportasi elektronik.
pada beberapa penelitian, daerah jenuh teramati diluar daerah III yang keberadaannya masih belum dapat
dijelaskan dengan memuaskan. Akan tetapi dapat dipastikan bahwa hal ini disebabkan oleh fcnomena
elektronik yang melibatkan perubahan medan karena muatan ruang melalui emisi dan elektron Yang
tersimpan pada tempat penahanan (perangkap).
Disamping kuat medan listrik, pu.urn"t". lain yang mempengaruhi mekanisme konduksi pada material
isolasi
padat adalah temperatur. Sepeiti pada isolasi tair, untuk material isolasi padat pada daerah kuat medan dan
iemperatur tertentu berlaku hukum Van't Hoff sesuai dengan persamaan 7.4. Hubungan ini berlaku
pada
)

dimana
daerah konduksi ion dan daerah polarisasi dan juga pada daerah kuat medan tinggi konduktansi
transportasi muatan diatur oleh mekanisme elektronik. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan mobilitas dan
jumprh secara eksponensial pembawa muatan (dalam hal ini ion bebas dan elektron) yutg terlibat dalam
proses pergeseran atau perpindahan muatan. Dalam kasus ion hal ini disebabkan oleh peningkatan disosiasi
termal.

Rugi Tegangan Bolak-Balik


pergeseran muatan dalam
Secara prinsip seluruh mekanisme yang terlibat dalam proses transportasi dan
terdapat
tegangan searah dapat menyebabkan kerugian pada medan bolak balik. Disamping hal tersebut
pJ, pror", yang pada tegangan searah tidak berpengaruh pada bahan isolasi padat tetapi mempunyai
pengaruh penting paaa meaan tegangan bolak-balik: penggunaan energi melalui proses ionisasi dan
proses

peluahan lanjut, seperti pembentukan gas pada dielektrikum, YanB menyebabkan bentuk rugi ionisasi dan
rugi peluahan menjadi sangat berperan.
jumlahnya
Faktor rugi menurut mekanisme penyebabnya dibedakan menjadi tiga komponen, yang
membentuk besaran tand material:

tan d : tan d'; * tan d'p * tan d7s (7.28)

Subcript L,P, d.an 7-E masing-masing menyatakan rugi-rugi konduksi (ion dan elektron), rugi karena
polarisasi (polarisasi deformasi, orientasi, batas permukaan dan juga polarisasi lapisan batas), dan rugi
karena peluahan sebagian atau proses ionisasi (rugi ionisasi).
t14 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

a) Rugi, Konduks'i
Rugi konduksi seperti yang sudah dijelaskan disebabkan oieh elektron dan ion yang lebih kurang bergerak
bebas dalam keseluruhan dielektrikum. Hal ini menyangkut pembawa muatan yang bertanggung jawab
terhadap komponen stasioner konduktansi spesifik arus searah. Antara komponen u* dan faktor rugi tandl
mempunyai hubungan:
tan
._:
dr (7.2s)
--::-
Q€g€y

dengan
N*:niqibiln.eb" (7.30)

dengan n,q, darr b masing masing adalah kerapatan, muatan dan mobilitas ion (subscript z) dan elektron
(subscript e) yang berperan daiam konduktansi stasioner; e adalah muatan dasar, e : 1.6 ' 10-1e As; 0..,

adalah frekuensi tegangan jaringan; es konstarrta dielektrik vakum (eo : 8.854 pF/m); e" adalah konstanta
dielektrik bahan isolasi (permivitas relatif).
Dari persamaan7.29, terlihat pengaruh frekuensi terhadap faktor rugi konduksi:

-1
tand. (7.31)
- -
Ketergantungan temperatur dan kuat medan dari faktor rugi ditentukan oleh karakteristik konduktansi
stasioner yakni
tan67 - 21* (7.32)
untuk c..r, e9, e, konstan.
Dan akan diperoleh peningkatan tand secara eksponensial dengan peningkatan temperatur (sesuai dengan
hukum Van't Hofft, persamaan 7.4):

tand : tan drs exp(- F I kT) (7.33)

(k konsta.nta Boltzmann; 7 Temperatur mutlak; F fungsi kerja termal; tan d1,s rating fiktif untuk temperatur
7 --+ oo.)
tan61, juga sesuai dcngan Gambar 7.12 dan pada daerah III sebanding dengan hukum pangkat medan listrik
tan 67, - E- denga, m ) 0 (7.34)

Sumber dan mekanisme penyedia,an pembawa muatan yang terlibat dalam proses ini sama seperti pada
medan searah. Namun demikian terdapat dua poin yang sangat rnenyimpang dari pcrsamaan7.24 yakni:
1. Transisi dari daerah kondutansi ion yang tidak tergantung medan (daerah I) ke daerah medan tinggi
akibat proses elektronik (daerah II atau daerah IIi) pada medan bolak balik memerlukan tekanan listrik
lebih tinggi dibandingkan pada medan searah (tergantung dari bahan isolasi dan temperatur mempunyai
kisaran nilai 5 kV/mm s.d > 100 kV/mm dibandingkan 0.5 kV/rnrn s.d 2 kV/mm);
2. Pada daerah medan iinggi (daerah III) faktor rugi meningkat pada kisaran satu orde dibandingkan dengan
faktor rugi dari hasii perhitungan.
b) Rugi, polari,sas'i
Rugi polarisasi pada medan bolak balik mempunyai proses fisik, yang juga bertanggung jawab terhadap
proses polarisasi, yang sama dengan medan searah: polarisasi deformasi, ion, orientasi, batas permukaan,
dan juga polarisasi lapisan batas. Polarisasi yang paling tipikal pada material padat adalah polarisasi batas
permukaan yang selanjutnya akan dijelaskan lebih detil. Penyebab dari polarisasi batas permukaan adalah
pembawa muatan bebas yang berkumpul pada batas permukaan seperti pada batas butir butir material
polikristal. Pada pemberian tegangan bolak-balik, polaritas pembawa muatan pada batas akan berubah.
Bab 7: Kegagalan Pqda Bahan Isolqsi Cair dan Isolqsi Padat It5

Hal ini berhubungan dengan rugi dielektrik. Proses ini sangat tergantung pada temperatur dan frekuensi'
Fenomena ini dapat dijelaskan dengan mudah pada contoh sebuah material padat polikristal. Sebuah kristal
dengan konstanta dielektrik riil e,1 dan konduktansi arus searah ul,batas butiran er2 dan:az. Substansi yang
dijelaskan tersebut digambarkan sebagai kapasitor untuk menggambarkan proses ketergantungan konstanta
dielektrik pada frekuensi. Model tersebut dapat dilihat pada Gambar 7.13 Untuk kerapatan arus pada dua

Srt,Kr=r+ ?
Ct 6,r, Kr
2, K2

C2 a,2. K2

simolified |
a T95t.pltr,"$ I
-
Gambar 7.13: Penggambaran model polarisasi batas permukaan

permukaan dielektrik berlaku:


Sr_ NrEt (7.35)
Sz xzEz
Dengan menggunakan persamaan syarat batas dielektrikum:

ege71E1 : €Oer2E2 (7.36)

diperoleh
S_t _ (O€rz _z4er2
4.t (7.37)
Sz %2eo€rt 2erl
Perbandingan antara 51/.92 secara umum tidak sama dengan 1, sehingga kerapatan arus setiap lapis berbeda.
Hal ini hanya dapat dijelaskan, bahwa muatan terkumpul pada batas permukaan, yang pergeserannya saat
diberikan tegangan bolak batik menyebabkan tambahan rugi-rugi yang disebut dengan rugi rugi polarisasi
batas permukaan.
Karakteritik ketergantung faktor rugi dan konstanta dielektrik terhadap frekuensi dari polarisasi batas
permukaan mempunyai karakteristik yang sama dengan kasus pada orientasi dipol (lihat Gambar 7.6). Akan
tetapi pada temperatur ruang, frekuensi relaksasi polarisasi batas permukaan terletak pada frekuensi 1 s.d.
103 Hz. freklenis ini sangat rendah dibandingkan dengan polarisasi orientasi yang terletak pada frekuensi
108 s.d. 1012.
Jika konstanta dielektrik dan faktor rugi diletakkan pada frekuensi yang lebih lebar dalam sebuah diagram
maka akan terdapat berbagai jenis polarisasi, seperti yang ditunjukkan Gambar 7.14. Pada gambar tersebut
terlihat jelas hubungan antara karakteristik e, dan tandp. Lokal maksimum faktor rugi terbentuk pada
daerah anomali sebaran konstanta dielektrik. Berbagai jenis mekanisme polarisasi terpisah sepanjang
daerah frekuensi. Keseluruhan mekanisme polarisasi dapat terjadi pada frekuensi 50 Hz sebagai akibat
ketergantungan mekanisme polarisasi terhadap temperatur. Karena secara teknis pada bahan isolasi terdapat
berbagai jenis dipol dengan berbagai moment dipol dan juga kondisi dengan berbagai konstanta dielektrik
dan kolduktansi, oleh sebab itu akan terdapat beberapa nilai maksimal dari faktor rugi seperti yang terlihat
pada Gambar 7.15. Pada temperatur yang tinggi terdapat tambahan komponen faktor rugi karena pembawa
konduktansi tan6y.
c) Rugi ion'isasi
Rugi ionisasi akan selalu terjadi jika terjadi peluahan sebagian pada daerah dielektrikum. Ini dapat terjadi
pada ujung tajam metal, kontaminasi dan gas yang terperangkap pada dielektrikum. Pada teknologi bahan
r16 Teknik kgangan frnggi; Prinsip dan Aplikasinya

Gambar 7.14: Prinsip ketergantungan konstanta dielektrik e. dan faktor rugi tand, terhadap frekuensi
padatemperaturd:20oC

E,
tan
tan
tan

Gambar 7.15: Ketergantungan konstanta dielektrik e. dan faktor rugi tand terhadap temperatur

isolasi, ionisasi pada gas terperangkap ini memiliki arti penting karena dapat menyebabkan kerusakan total
bahan isolasi.
Hal ini dapat dimodelkan dengan kapasitor plat dengan dielektrikum homogen yang di dalamnya terdapat
rongga yang berisi gas seperti pada Gambar 7.L6. Secara umum kekuatan listrik material isolasi cair den
padat lebih besar dari udara dan gas-gas lain, sehingga pada tegangan tertentu Vp a}an terjadi proses
ionisasi dan kegagalan lokal pada ruang gas. Untuk perhitringan rugi ionisasi terkait dipergunakan rangkaian
pengganti kapasitif seperti yang juga digambarkan pada Gambar 7.16:
Proses peluahan pada ruang gas berjalan sebagai berikut: jika tegangan AC, u, diberikan pada benda uji,
maka tegangan pada ruang gas tanpa kegagalan adalah:

ai,CzCz
: up K
Cfr = drokarenaC2
C1 (7.38)
117
Padat
Bab 7: Kegagalan Pada Bahqn Isolasi Cair dan Isolasi

vp= vt + v2

Gambar 7.16: (a)Bahan dielektrik padat dengan rongga udara; (b)Rangkaian pengganti bahan
dielektrikum dengan rongga udara

maka terjadi jatuh tegangan pada C1 artinya


Jika nilai tegangan sesaat u1 mencapai tegangan gagal V,
sisa yang diasumsikan nol' Kapasitansi C1 total
tegangan gagal pada .ru*g gu., sampai A""Su; t:Ct"g*
saat jatuh, tegangan padaC2 sesaat meningkat
terluahkan sehingga peluahan sebagian akan berakhir. Sesaat
sebesar AV :V, artinya terjadi pemuatan padaC2'
penyalaan ruang gas tidak berubah setelah
Dengan asumsi bahwa beniuk, kapasitansi dan tegangan
tegangan uo samp^ai tegangan penyalaan V'
l

kegagalan pertama, kapasitor Cr kembali termuati *""gitt"ti


tegangan ini bersifat intermiten (berselang) '
tercapai dan peluahan sebagian akan kembali terjadi..lutri,
karena pada frekuensi yang sama dengan
semakin tinggi tegan gan uu semakin besar taju peluahan
peningkatan tegangan gradien tegangan-wakt, s"Inut in besar'
Bentuk tegangan pada dielektrikum dengan
bentuk arus nya digambarkan secara skematik
rongga udara tanpa dan dengan peluahan pada rongga serta
pada Gambar 7.17 pe'-
persamaan 7'38 dan rangkaian pengganti
Perhitungan rugi ionisasi atau faktor rugi mempergunakan
jika harga puncak ?rp mencapai nilai:
Gambar 7.16. peluahan sebagian dari cr akan terladi

^ Ct*Cz
0r"::Ljt'V'
dan nilai efektitnYa mencapai:
ir,,:+g#v,:fil,,
Dengan asumsi bahwa tegangan luar sangat rigid, energi
listrik yang dialirkan pada dielektril-u= t!tii;:Ie!!

perbedaan energi yang tersimpan pada ba55; siruddr


peluahan sebagian yang pertam aifi AW dihituig dari
sesaat sebelum dan sesudah kegagalan'
Sesaat sebelum kegagalan bernilai:
LrcrrT
w, -- +lrcrrZ +f,crr',

dengan
Ut * UZ :'U3 : U' : 0P' - t/iVO'

dengan memperhatikan rangkaian seri dari Cr dan C2 maka

w,:;tz,(#h*r,)
: (#h+cs)v],
118 Teknik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Sesaat setelah kegagalan pertama C1, nilai energi yang tersimpan pada bahan isolasi W1y dengan asumsi
bahwa C1 seolah-olah menjadi konduktor akibat spark dan muatannya terluahkan total adalah:

wN : )4,Q, + c2) = v;,(ct + c2)


Sehingga perbedaannya menjadi:
/a2
v2 rr2
lWx -Wvl: AW: Ql$uo' (7.40)

Jumlah kegagalan sebagian per periode diberikan dengan:

n:4t:4*untukVo)Vo, (7.41)

n=0untukVp<Vp,
Sehingga dibutuhkan energi setiap periode:

ra2
rrl
vv :nAW:nefr;rvwvo
- (7.42)

Daya nyata adalah perbandingan energi dengan periode:

(a) Tanpa peluahan pada rongga

(b) Dengan peluahan pada rongga

,I

(c) Arus peluahan ,

Gambar 7.17: Bentuk tegangan dan arus pada dielektrikum dengan rongga udara tanpa dan dengan
peluahan pada rongga
119
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dqn Isolasi Padat

:Y : wt : nf c#c;vo"v, (7.43)
"*
Daya buta kapasitif dari total susunan bernilai:

Pu : VpI" : ViuCrorot -- ar f V] (#A* (7.44)


"r)
dan daya buta:
Faktor rugi sesuai dengan definisinya adalah perbandingan antara daya nyata
c?
" P1ry 2 die; Vp"
tan075: Pb:;M+qv, LITL?

c3 Vo"
r CrCz * Cs(Q + Cz) ve

dengan orde kapasitansi masing masing kapasitor:


Cz )) Cz )) C1 sehingga:
- ,=
tan6a6 :L Y|'
= Zr C1C3 untut ver >vp"
V.p
\ i.+-

dan
tanSrn: 0 untuk Vp < Vp,
untuk dielektr:i':::
Karakteristik ketergantungn faktor rugi pada tegangan dapat dilihat pada Gambar 7.18
dengan sebuah rongga udara dan beberapa rongga udara'

7.2.2 Proses Kegagalan pado, Isolasi Padat


penelitian kegagalan pada isolasi padat secara experimental menunjukkan bahwa tinggi kuat gagal ma:-
jenis tegangan. Kegagalan pada L-:--'-
ditentukan oleh strukiur mikroskopik benda uji, bentuk medan, dan
padat disebabkan oleh berbagai hal bergantung pada jenis isolasi padat dan jenis tekanan listrik r':- a
adalah ketergantu;-ga:
dikenakan pada isolasi padatl OIeh sebab itu yang pertama akan diperhatikan
tegangan kegagalan pada temperatur dan jangka waktu pengujian'
dapat dilihat Paca
Hubungan tegangan gagal ba-han isolasi terhidap lama tekanan listrik yang diberikan
7.20 untuk material dengan tand kecil'
Gambar 7.1g untuk in'aterial dengan tand tinggi dan Gambar
isolasi mesin listrik) dapat dibag:
Untuk material dengan tan 5 tingli (seperti p"rtirru*, PVC dan beberapa
menjadi tiga daerah (lihat Gambar 7.19) dan daerah tersebut adalah:
1. Kegagalan elektrik murni (intrinsic breakdc,wn), terjadi khususnya untuk tekanan listrik
singkat dan
temperatur yang tidak terlalu tinggi
2. Kegagalap t"rmut lth"r*ul brealiown), kegagalan termal terjadi saat waktu tekanan listrik
cukup
panjang, saat mana bahan isolasi mengalami kerusakan secara termal'
penuaan pada tekanan
S. kegugalan erosi adalah sebuah kegagalan jangka panjang sebagai akibat dari proses
dengan
tistrik tinggi. Kegagalan ini berhubungu" a*gr" teknik proses produksi sehingga sering disebut
kegagalan karena taknologi atau juga kegagalan cacat.

Kegagalan bahan isolasi yang memiliki tan d rendah seriring dengan durasi waktu tekanan
listrik dapat
garis luras
dilihat pada Gambar 7.20 (selerti Polyethylen, PTFE, dlt). ili adalah apa yang disebut dengan
termal, karena rugi
unxur operasi polyethylen. O"put dilihat pada grafik tersebut ketiadaan daerah kegagalan
120 Teknik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Gambar 7.18: Ketergantungan faktor rugi tan dlB terhadap tegangan Vp. (a) Untuk sebuah rongga udara;
(b) Untuk beberapa rongga udara dengan kondisi penyalaan berbeda

l-
Tegangan Impuls
Tegangan lebih wa&tu larna

Gambar 7.19: Ketergantungan kuat medan gagal Ea terhadap waktu pengoperasian


121
Bab 7: Kegagalan Padq Bahqn Isolasi Cair dqn Isolasi Padal

l03
E
E

1
r{"

Gambar 7.20: Ketergantungan kuat medan gagal Ea terhadap


waktu pengoperasian pada polyethylen

daerah kegagalan elektrik langsung


karena kerusakan termal pada materiat tidak mencukupi. Jadi setelah
diikuti daerah kegagalan cacat dimana proses penuaan material kembali terlibat'

7.2.2.L Kegagalan Elektrik


pada bahan isolasi bergantung pada
Terdapat beberapa teori berbeda tentang proses kegagalan elektrik
metode pengamatan yang dilakukan.

kegagagala elektrik murni pada isolar


o Teori yang sampai saat ini masih dipergunakan untuk menjelaskan
paad bahan isolasi' Teori i-'
padat adalah kegagalan yang disebabkan karena pergerakan elektron bebas
secara prinsip sama atau dapat dijelaskan seperti puJu
proru. kegagalan pada gas, dimana proses isni<;-+
tumbukan menyebabkan perbanyakan elektron hingga terj adi breakdown.
tumbukan yang bert^"it---
o Ada pula teori yang tidak menyebutkan elektron bebas ataupun ionisasi
model pita valensi' Eek-*-:n
jawab terhadap kegagalan elektrik pada isolasi padat. Teori ini menggunakan
terdapat elektron-elektron (do:x;
aktifasi berasal dari elektron itu sendiri dan pada daerah terlarang
akan meningkatkan daya haa:a; 'tcoi
Dengan meningkatnya energi listrik dalam hal ini medan listrik
muatan dari daerab i:c'uc;';r
pada akhirnya akan menyflabkan kegagalan karena aktifasi pembawa :u;'r'.r
percobaan yang dilakukan pada kristal poli*", seperti polypropylen dan polyethylen membul:"jsa':
jalur peluahan kanal kegagalan terjadi sepanjanj batas permukaan yang disebut dengan
spb*':-:* '"tu:'4

merupakan titik lemah dari kristal polimer'

gagal dengan peningsa:'r ;':r I'JIP


o Teori yang lain adalah "nol,u,me effect" yaitu penurunan kuat medan
bahan isolasi maka *'c''qr i'r&-rir
Hal ini dapat dijelaskan, bahwa dengan semakin meningkatnya volume rrulr
dan kemungkinac iiecu4r*i;
meningkat pula jumlah ketidakhomogenan (titik lemah) -b1hr" isolasi
maka =i:s :* :*{r--'{
titik lemah ini akan meningkat pula.- Karena hal ini berhubungan dengan statistik
disebut pula dengan efek volume statistik'
122 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Dari berbagai penelitian yang dilakukan, diketahui pula kegagalan pada bahan isolasi paclat tcitcriir
disebabkan oleh penguatan medan muatan ruang. Persyaratan untuk pembeptukan muatan ruang adaiah
kemampuan bahan sintetis polymer tinggi dengan konduktansi yang sangat rendah dalam menyimpan
pembawa muatan (elektron) dalam jangka waktu yang panjang pada volumenya.
Pada tegangan ac, elektron akan teremisi dari katode sesuai dengan Fowler-Nordheim pacla setiap setengah
siklus negatif, elektron ini akan terperangkap pada daerah shallow trap. Pad,asetengah siklus positif uehuglor,
elektron ini akan bergerak kembali ke elektrode. Sisanya tetap di dielektrikum. Dengan asumsi ini r,aka
akan terbentuk muatan ruang negatif didepan eiektrode. Keberadaan muatan ruang ini rnengakibatkan
peningkatan medan pada tegangan bolak balik, karena pada setiap setengah siklus terjadi perbedaa* rn*.t.n
atrtara muatan ruang dan elektrode didekatnya. Sehingga pada daerah dekat elektrode akan terjatli gra6icrr
potensial tinggi setempat dan menyebabkan tegangan Iebih pada daerah batas. Hal ini dapat r,ci-*ir:ri
kegagalan. Hal ini dapat dijelaskan secara sederhana dengan ilustrasi yang ditunjukkan pada Gambar.T 2i.
Pcningkatan medan pada anode berbanding lurus dengan kerapatan muatan ruang dan tebal daerah ur_ialij.l!
ruang ds. Kedua besaran ini meningkat seiring dengan waktu. Jika waktu ini clkup lama maka ke6ua <1aei.ah
muatan ruang ds akan mengarah ke tengah dan menyatukan elektrode.

lai
l^l
[.? i

oi
^i
t-t
vi i

n;
v;
i

ei
t-l :

ds l-
I

Gambar 7.21: Penggambaran fisik efek volume. (a) Model kapasitor dengan daerah muatan ruang; (b)
Karakteristik medan dengan muatan ruang pada daerah batas sesuai dengan (a)

Perbandingan karakteristik pergerakan medan seiring dengan perubahan tebal bahan isolasi dapat dilihat
pada Gambat 7.22. Pada, gambar terlihat bahwa daerah Si1, dimana pada daerah ini terjadi peningkatan
medan katakanlah lebih dari 50Vo Eo, dengan peningkatan tebal bahan isolasi dari 51 menjadi 52 ma,ka
daerah S11 bertambah menjadi Szz, Ini berarti dengan penambahan tebal isolasi menyebabkarr volir,e
yang mengalami tekanan listrik tinggi akan bertambah besar dan kemungkinan terjadinya kegagalatri
akr,r
bertambah besar meskipun nilai absolut peningkatan medan maksimum bernilai tetap.

7.2.2.2 Kegagalan Termal

Kegagalan termal sebuah peralatan akan terjadi apabila rugi panas konduktor yang terbentuk karena
arus
lebih yang disalurkan pada dielektrikum dan rugi daya yang terbentuk paaa aiilektrikum itu sendiri
tidak
dapat disalurkan pada lingkungan sekitar melalui konduktansi, hal ini akan menyebabkan peninghatan
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolqsi Cair dan Isolasi Padat 123

AK

Gambar 7.22: Karakteristik medan listrik pada efek volume untuk variasi tebal isolasi dari 51 menjadi 52

temperatur tak terbatas pada bahan isolasi.


Hal yang menyebabkan ketidakseimbangan termal pada bahan isolasi padar yang relatif tinggi adalah
dielektrikum yang kurang baik dengan talnS (Pi, : V2uC tanS) yang tinggi dan koefesien temperatur
d.ari rugi daya spesifik per satuan volume mempunyai nilai positif:

dPildr > o. (7.46)


i

Sebaliknya koefesien temperatur negatif berarti bahwa rugi daya yang terbentuk dengan peningkatan
temperatur lebih kecil daripada daya spesifik yang terbuang per satuan volume Pjo melalui konduktansi
termal ke lingkungan. Sistem akan stabil dengan sendirinya apabila

dP'"bldr >_ dPildr (7.47)

Kondisi termal stabil terpenuhi apabila


ttl
tV-tab t>l (7.48)
-

atau
dP:bldr : dPildr (7.4e)

Untuk menunjukkan keadaan operasi termal dari sebuah susunan isolasi, dipergunakan model
sangatsederhana yakni kapasitor plat yang mempunyai dielektrikum dengan ketebalan s dan temperatur
tertentu yang tidak tergantung posisi ? dan rugi daya hanya dapat didisipasikan dengan lingkungan sekitar
melalui eiaktiode (Tr.mgx < Jika konstanta transisi temperatur antara bahan isolasi dan elektrode adalah
").
a dengan luasan kontak Amaka rugi daya spesifik per satuan volume P{7 bernilai:
Pi,, : E2P(T) (7.50)
p(T):psexplB(T-7r)l (7.51)

sehingga
Pi: E'poexplBQ -"0)l) (7.52)

Dengan .E adalah kuat medan; ? adalah temperatur mutlak; B adalah koefesien temperatur; poadalah
konstanta rugi ruang pada temperatur ft; p(?) adalah konstanta rugi ruang pada temperatur ?1 untuk
tegangan DC, p(T): z; untuk tegangan ac, p(T) : u)eoertand, Sehingga rugi total pada volume V dengan
asumsi ? adalahr

Pv -- PiV - E2,explB(T -"0)]


- V2,explg(T -
"o)l
124 Teknik kgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

untuk V : Es dan s adalah konstan. Dengan persyaratan di atas maka disipasi panas menjadi;

Pab: c\ Ag - TLtrsx) (7"53)


P"b-(T-Trhsp)
Gambar 7.23 menunjukkan hubungan antara Pv, Pob, dan T dengan berbagai variasi V, a, dan Titrsk.
Keadaan stasioner berada pada titik-titik,4r, Bi, dan C yang bergerak antara Py dan P.6. Pada titik B,

Gambar 7.23: Kurva penjelasan kondisi stabil termal

terletak titik instabil termal karena dP"bldT < dPvldT. Titik,4, adalah stabil termal sementara titik C
adalah titik batas kerja.

7.2.2.3 Peluahan Sebagian, Kegagalan Erosi, Penuaan Elektrik

Disamping kegagalan elektrik dan kegagalan termal, teramati pula jenis kegagalan yang terjadi dalam.jangka
waktu lama dan jauh dibawah kekuatan termal bahan isolasi. Kegagalan ini didahului atau dimulai clengan
peluahan sebagian (partial discharge) yang terjadi pada bagian dalam bahan isolasi seperti pada batas
Iapisan bahan isolasi, rongga udara, retakan, atau karena kontaminasi pada bahan isolasi akibat kesalahan
pabrikasi. Pada daerah-daerah ini akan terjadi peningkatan medan dan menyebabkan kegagalan lokal darr
menyebabkan kerusakan sebagian daerah dielektrikum (treei,ng, peluahan sebagian) yang juga dikenal dengarr
kegagalan tidak total. Hal ini menyebabkan kanal bercabang dan akan berkembang seiring waktu sampai
akhirnya menimbulkan kegagalan total bahan dielektrikum. Kegagalan ini memerlukan waktu yang panjang
sehingga disebut dengan kegagalan erosi. Kegagalan ini dalam bentuk pohon elekirik dapat dilihat sectrra
skematik pada Gambar 7.24.
Disisi lain, peluahan sebagian dapat menghasilkan produk samping (ozon, hidrogen, hidrokarbon, dli) yang
merusak bahan isolasi secara kimia. Jika kualitas bahan isolasi ini seiring waktu semakin buruk karena
peluahan sebagian (proses ini sering disebut dengan penuaan elektrik) maka dapat menyebabkan kegagalan
total dalam bentuk kegagalan elektrik atau kegagalan termal.
Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah pada intensitas peluahan yang sama menimbulkan efek yi:"ng
berbeda pada bahan isolasi. Pada polyethylene kegagalan dapat terjadi pada hitungan dctik atau menit.
Pada epoxy resin kegagalan terjadi dalam bulanan atau tahunan. Mika bisa dikatakan ticlak terlalu sensitlf
terhadap peluahan sebagian.
12s
Padat
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolasi

Gambar 7.24: Diagram skematik dari pohon


elektrik (treeing)

7.2.3 Jeni's bahan Isolasi Pad'at


padat juga mempunyai fungsi Iain terutama fungsi
mekar:-'
Seperbi bahan isolasi cair, bahan isolasi oleh bahan isolasi padat aniara
Tergantung pudu p"**kuiurrry, beberapa kiiteria
iu*Uut'u" harus dipenuhi
lain:

pada sistem kelistrikan seperri


' ffilT,:;,T,T:B1t:ering dipergunakan untuk penunjang atau support
mernpunyai kekuatan mekanis yang memadai'
isolator gantung, bushing dll sehingga diharapkan
2. Kemudahan pembentukan . L-r^^.^ :^^r^-i -^,r. harus mempun]-a:
beragam sehingga bahan isolasi padat
Bentuk-bentuk peralalan tegangan tinggi sangat
tekanan, casting, sintering'
karakterisktik kemudahan pembentut ur, uuiul""gan-pembakaran,
padat ini langsung berinter,-':-'-
' i'#j'"t::ilii'ffi juga harus stabil secara kimia karena umumnva isolasi
k'abut garam (salt fog), lapisan polusi
(polution ia-'-;:
dengan Lingkungan seperti harus tahan terhadap
ata,ipun alus bocor datam hal ini " creepage c'u'rrent"
4. stabil secara temperatur atau tahan terhadap temperatur
temperatur artinya karakteristik bahan isolasi ;,;:i.
Bahan isolasi padat diharapkan pula tahan terhada-p
tidak berubah secara ekstrem terhadap temperatur'
5. Aging stabilitY
Karakteristik bahan isoiasi padatsepertibaliariisolasilainnyadiharapkantidakberubahseirinq..,-:."
bertambahnYa usia oPerasi bahan isolasi.

7,z.g,L Bahan Isolasi Anorganik


porselin, kaca (gelas), dan mika' Bahan-:*i:'--
-:-
Bahan isolasi padat anorganik diantaranya adalah (anti :"::-rlri
mempunyai karakteristik inta.a lain tahan
(anti) terhadap peluahan sebagian' tahan
-
kekurangan dari bahan isolasi ini ada-.,- - ''.
peluahan permukaan, stabil secara temperatui' Adup"" ^sifut
aari bahan tersebut dapai ':';-:- "t -:
pecah atau getas dan secara teknis susah Jib"r,t,rk. "l"ktrik
tabel7.2
126 Teknik kgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Tabel 7.2: Bahan isolasi padat anorganik

7.2.3.2 Bahan Isolasi Organik

Bahan alami
Bahan isolasi organik yang bersifat alami adalah kertas dan kertas pelapis belitan trafo ( Thansfomer board,).
Bahan dasar dari material isolasi ini adalah selulosa (natron selulosa, sulfat selulosa) yang utamanya berasal
dari kayu. kertas pelapis belitan trafo terbentuk dari sejumlah kertas tipis (ketebalan n: J[p6 ) dengan
proses tekanan panas(hotpressing). Material ini mempunyai sifat dielektrik sebagai berikut
a €r:6
. tand:3. 103
o Ep x 30 - 100kV/mm
Bahan Sintetis
Monorner dihasilkan dari minyak bumi, batubara, kapor dan oksigen. Monomer ini selanjutnya dapat
diubah menjadi molekui makro melalui proses polyreaction yakni polymerisation, polycondensation dan
polyaddition.
Polymerisation merupakan polyreaction dengan monomer yang sama. Produknya mengandung ikatan
ganda yang mana perbesaran molekul ini tanpa pemisahan produk samping. Melalui rantai ikatan yang
berjejer satu sama lainnya ini terbentuk molekul makro liner. Adapun beberapa produk ini adalah
o Polyethylene (PE)
r Polyvinylchloride (PVC)
o Polytetraflourethylene (PTFE/Teflon)
Polycondensation berbeda dengan polymerisation, pada polyreactiou ini monomer yang tak sejenis
membentuk rantai molekul makro satu dengan lainya. Makro molekul ini terangkai dengan pemisahan
produk samping seperti air, amoniak, Asam khlorida dll. Produk samping ini membentuk rongga, sehingga
produk polykondensation sebagian besar hanya dipergunakan pada tegangan rendah. salah satu produk
polycondensation adalah Phenolic Resin (PF)
Polyaddition adalah rangkaian yang berasal dari monomer yang mempunyai kemampuan bereaksi
membentuk makro molekul tanpa pemisahan produk samping. Umumnya dengan pergeseran atom
hidrogen. Contoh produk ini adalah Epoxy resin.

Karakteristik Mekanis
Berdasarkan karakteristik mekanis bahan isolasi padat sintetik ini dapat dibedakan menjadi:
1. Thermoplast
Merupakan molekul filamen linear dimana rantai rangkaian merupakan garis lurus tanpa cabang. Disebut
sebagai thermoplast karena sangat mudah dibentuk dengan pemanasan sehingga secara mekanis sangat
mudah diubah bentuknya dengan pengecoran atau pengelasan. Material ini adalah PVC, PE, Teflon
Bab 7: Kegagalan Pada Bahan Isolasi Cair dan Isolqsi Padat 127

2. Duroplast
Merupakan makro molekul dengan rantai yang terangkai sangat sempit atau rekat sehingga setelah
terangkai sangat sulit untuk dibentuk ulang, tak tercairkan dan tak dapat dilas (not weldable). Mempunyai
kemampuan termal dan mekanis yang lebih tinggi dari thermoplast. Beberapa contoh material ini adalah
Epoxy resin dan Phenol resin
3. Elastomere
Material yang juga sering disebut karet adalah makro molekul dengan rantai dengan ikatan sangat
renggang me}alui proses vulcanisation. Seperti Duroplast, material ini tak tercairkan dan juga tidak
dapat dilas, tahan terhadap creepage current (arus bocor), dan tahan terhadap air. Contohnya adalah
vulcanized Silikon dan EPDM (Ethylpropylen-Dien-Terpolymerisat)
Ringkasan beberapa material sintetik polymer tinggi penting yang dipergunakan pada teknik tegangan tinggi
menurut jenis polyreaction dapat dilihat pada tabel 7.3

Tabel 7.3: Rangkuman material sintetis polymere tinggi menurut jenis polyreaction

Polyreaction Duroplast Thermoplast

Polymerisasi Rangkaian Polyester Polyethylene (PE)


resin dengan basis Polypropylene (PP)
polyester tak jenuh Polyvinylchloride (PVC)
Polvmethylmethacrylat (PMMA)
Polystyrol (PS)
Polyacetal (POM)
Polytetrafl uorethylene (PTEE)
Polyisobutylene (PIB)

Polycondensation Phenol resin (PF) Polyester resin linier jenuh:


Melamin resin (MF) - Polycarbonate (PC)
Urea resin - Polyterephthalate (PETP)
Alkyd resin Polyimide (PA) linier:
- Tlogamid T
- Perlon
- Nylon
Polyimide (PA)

Polyaddition Epoxy resin (EP) Polyurethane linier


Polyurethane (PUR)
terangkai
Polvimide

7.3 Soal Telaah

1. Sebutkan beberapa fungsi bahan isolasi cair seiain sebagai bahan isolasi pada peralatan listrik!
, Jelaskan definisi dari rugi dielektrik (tan 5) gunakan gambar bila perlu!
t28 Teknik kgangan Tinggi; prinsip dan Aplikasinya

3. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis polarisasi pada bahan isolasi!


4. Jelaskan proses kegagalan elektronik pada bahan isolasi cair!
5. Apa yang dimaksud dengan teori volume miny_ak tertekan? Bagaimana teori ini menjelaskan kegagalan
pada dielektrik cair dengan volume yang besar?
6. Sebutkan komponen utama dari isolasi minyak!
t, Sebutkan beberapa jenis isolasi cair sintetis! Mangapa penggunaan PCB (Askarel) saat ini
sebagai bahan
isolasi dilarang?
8. Apakah yang dimaksud dengan kegagalan termal pada bahan isolasi padat? Mengapa kegagalan
ini secara
praktis paling penting dibandingkan dengan mekanisme kegagalan yang lain?
I. Jelaskan fenomena internal discharge pada bahan isolasi padat, gambarkan bentuk tegangan
dan arus
dari fenomena ini. Mengapa fenomena ini menyebabkan kegagalan pada bahan isolasi puautf
10. Sebutkan beberapa jenis bahan isolasi sintetis beserta karakteristik mekanisnya!

-oo0oo-
Fenomena Petir

Meskipun petir secara alami telah diketahui sejak jaman kuno, pengertian tentang petir rela::: :'---
Eksperimen petir telah dilakukan Benjamin Franklin pada pertengahan tahun 1700 akan tetapi pen3e:a:-r:
tentang petir diperoleh secara detil pada 50-70 tahun terakhir ini. insentif studi tentang petir [3;1 ii-a- *:r -
ketika saluran transmisi harus dilindungi dari petir.
r-o:- '
Pada dasarnya petir adalah sebuah peluahan listrik yang sangat besar dan spark (lecutan). Pada
proses peluahan petir akan dibahas secara garis besar.

8.1 Pembentukan Badai

Persyaratan terbentuknya badai petir adalah keberadaan rlassa udara panas dengan kelembaban 1-a::- -'.- -:
tinggi yang ditransportasikan ke ketinggian tertentu. Hal ini terjadi karena beberapa hal antara lain
1. Permukaan bumi terpanaskan oleh cahaya matahari yang sangat intensif khususnya saat terjat :.;:.'
panas menyebabkan lapisan udara dekat permukaan bumi terhangatkan, menjadi ringan dan ber:t::.. -r:
atas.
2. Saat badai orografis, udara panas dekat permukaan bumi akan bergerak ke atas saat terbentur p€ra.:ai:
bumi vertikal seperti bukit atau gunung.
3. dll
Gerak vertikal masa udara ini diperkuat oleh dua efek:
1. Udara yang bergerak keatas mengalami pendinginan dan pada akhirnya mencapai temperatur -'t:'J--
uap air. Disini akan terbentuk butiran air dan akhirnya menjadi awan. Pada proses kondensasi ic: a-ka:
terlepaskan dan kembali menghangafkan udara. Udara akan semakin ringan dan akan naik ke ketir.gg"iaa
lebih tinggi.
2. Pada batas 0 oC butiran air mulai membeku dan mempunyai efek yang sama seperti kondensasi.
Hal ini akan membentuk aliran udara vertikal dengan kecepatan 100 km/h dan membentuk awan menjulang
tinggi dengan diameter 5-10 km pada ketinggian 5-12 km.
130 Teknik kgangan linggi; prinsip dan Aplikasinya

Melalui pemisahan tnuatan elektrostatik karena gesekan dll, butiran air dan partikel es akan termuati
pada
awan Partikel dengan muatan positif umumnya lebih ringan daripada yang termuati negatif. Sehingga
arus udara vertikal menyebabkan pemisahan muatan dengan luasan yang relatif besar; balian utus
uuiin
badai bermuatan positif sedangkan bagian bawah bermuatan negatif. Pada bagian kaki awan terdapat
pusat muatan positif yang kecil yang terjadi karena muatan korona yang berasal dari benda
tinggi pada
permukaan tanah (spt tumbuhan, dll) yang terpancar akibat medan purmuku* bumi yang cukup
tinggi aan
ditransportasikan oleh angin vertikal. Proses ini secara skematik dapat dilihat pada iambar g.1

12.5

l0 \$-rc
1.5
,J-GB
5

2 mt
Gambar 8.1: Pembentukan sebuah sel badai

Secara elektrofisik, badai merupakan sebuah generator elektrostatik raksasa dengan


butiran air dan partikel
es sebagai pembawa muatan. Udara
vertikal berperan sebagai alat transportasi muatan dan matahari adalah
penghantar energi yang memanaskan lapisan udara dekat permukaan bumi dan menguapkan air
untuk
menyediakan kelembaban.
Konfigurasi sebuah badai secara umum terdiri dari bebetapa sel badai dengan diameter beberapa kilometer.
Setiap sel hanya aktif selama 30 menit dan rata-rata menghasilkan2-4petii setiap menit. Sel badai memiliki
stadium kematangan berbedayang berturut-turut adalah stadium pembentukan, stadium aktifdan stadium
akhir.
Tipikal pembentukan sebuah sel badai dan ka.rakteristik kuat medan pada permukaan bumi dapat dilihat
pada Gambar 8.2
Sel badai mengembang sampai dengan ketinggian lebih dari 10 km. Sementara batas bawah awan terletak
pada ketinggian 1-2 km. Temperatur menurun seiring ketinggian, dari *25 oC pada permukaan
bumi sampai
dengan -50'C pada-batas atas awan. Kerapatan muatan ruang negatif dan positif bernilai beberapa nC/m3
(1 nC : 10-e As/m3) yatg mana pada daerah dengan diameier 100 m kerapatan muatan dapat mencapai
- 10 nC/m3.
Pada Gambar 8.2 juga tergambar karakteristik kuat medan listrik lokal pada permukaan bumi. Daerah
muatan diasumsikan berbentuk bola ideal dengan kerapatan muatan 1.5 nC/m3. Nilai kuat medan
maksimal berkisar 50 kV/m. Tetapi saat permukaan bumi mempunyai kuat medan beberapa kV/m,
muatan korona positif terpancarkan dengan kerapatan arus permukaan mencapai 10nA/m2. Muatan
korona
positif ini mengurangi kuat medan permukaan sampai bernilai makdlmal tO t<V/m pada permukaan
bumi.
Pada perairan kuat medan meningkat sampai beberapa puluh kV/m tergantung dari keadaan
ketinggian
permukaan air.
Bab 8: Fenomena Petir 131

- ++ +I +r+, +
* .y kistales '.i *
^
-,.* 1**1tl*t*

]+,Ei
**ffi*r&'!ti'Tu"'""
r+
Penyederhaoail
kuar mcdan oermukaan
denaan muatan korona
posilifdi atas laut
kut mede fiktif
pcmukau.ta!pa muaun -60
korona posilrl kv/m kust medan pemukaan bumi

Gambar 8.2: Pembentukan sel badai dan karakteristik kuat medan diatas permukaan bumi

8.2 Peluahan Petir

Kerapatan peluahan lokal pada sel badai menunjukkan perbedaan yang besar. Jika secara kebetulan
konsentrasi muatan ruang menyebabkan kuat medan beberapa 100kV/m, maka penghantar petir yang bisa
disamakan dengan peluahan Ieader dimulai pada ketidakhomogenan (tetesan air, kristal es). Peluahan ini
berbentuk silinder dengan diameter beberapa 10 m dan terdiri dari muatan ruang negatif dan inti plasma
tipis yang terionisasi tinggi. Peluahan ini tumbuh dengan kecepatan berkisar 300km/s menuju bumi. Dengan
semakin mendekatnya peluahan ini, pada perrnukaan bumi terbentuk penangkap peluahan. Bertemunya
peluahan dan penangkap peluahan menyebabkan terbentukn;ra peluahan utama. Dalam hitungan 10 s.d 100
ps muatan yang tersimpan akan dilepaskan. Proses ini akan terlihat sebagai cahaya kilat peluahan petir
sesungguhnya. Gambaran proses ini dapat dilihat pada Gambar 8.3.

8.3 Jenis-Jenis Petir

Beberapa jenis petir a,kan dijelaskan secara singkat pada subbab ini. Secara umum jenis petir adalah
petir yang melibatkan awan-bumi juga petir yang melibatkan awan-awan. Petir awan-awan menyebabkan
keseimbangan antara muatan awan positif dan negatif pada pusat awan. Sedangkan petir yang melibatkaa
awan-bumi adalah netralisasi muatan awan dengan muatan yang terefek pada permukaan bumi. Petir i-ang
melibatkan awan bumi in dapat dibagi menjadi empat jenis yakni petir negatif awan-bumi, petir positi:
awan-bumi, petir negatif bumi-awan, dan petir positif bumi-awan. Gambaran kasat tentang keempat jenl'
petir ini dapat diiihat pada Gambar 8.4
Petir awan-bumi dapat dikenali dari arah stepped. lead,er yang mengarah ke bumi. Petir awan-bumi negat::
adalah jenis petir yang paling sering terjadi. Pada petir jenis ini, badai awan denga muatan negatif bergse:
ke arah bumi dalam bentuk memanjang, Petir awan-bumi positif terjadi dari daerah muatan positif basi'al'
Sedangkan petir awan-bumi positif yang berasal dari pusat muatan awan bagian atas sangat jarang terja&.
Jikapun terjadi, hal ini hanya dapat ditemui pada akhir fasa aktif sel badai, dimana setelah hiloangnya pu-<at
muatan negatif, pusat muatan positif akan terlepaskan ke bumi melalui petir tunggal yang sangat kuat.
132 Teknik Tb gangan Tinggi ; Prinsip dan Apl ikas inya

lt't
muatan
dEt drL
positif terinduksi

Gambar 8.3: Skematik perkembangan stepped leader dan penangkap peluahan sebuah petir negatif awan-
bumi

,t\
d --\
C}
l:a.
Cl*5 5-- -_\
r-l-:11
&1\
r
--l
J ,-
9a.--- - -\-\

( 1l-
re
(a)
ffiHtrg
(b)
J-
(c)
*(d)
Gambar 8.4: Jenis-jenis petir yang melibatkan awan dan bumi. (a)Petir negatif awan bumi; (b)Petir positif
awan bumi; (c)Petir negatif bumi-awan; (d)Petir positif bumi-au'an

Petir bumi awan dapat terjadi pada puncak bukit atau menara seperti menara pemancar televisi. Pada jenis
petir ini stepped leader berkembang dari bumi ke awan. Petir bumi-awan akan memberi tingkat bahaya yang
lebih tinggi daripada petir bumi awan pada benda tersambar.
Petir awan-awan sangat berpengaruh terhadap sistem peralatan elektronik karena pancaran medan
elektromagnetik impuls (LEMPs:Lightning Electromagnetic Pulses).

8.3.1 Petir Auan-Burni

Dalam subbab sebelumnya telah dijelaskan bahwa petir awan-bumi negatif adalah jenis petir yang paling
sering terjadi. Pada subbab ini akan dijelaskan tentang karakteristik petir awan-bumi negatif dengan lebih
seksama.
Pada jenis petir ini arus impuls peluahan petir meningkat sampai nilai maksimum tipikal 10 kA dalam jangka
133
Bab 8: Fenomena Petir

sebelum akhirnya hilang


waktu mikro detik dan mempunyai waktu punggung beberapa puluh mikro detik
secara eksponensial. Muatan yurri dipind"hL, t"rru*uan dengan arus
impuls ini bernilai beberapa ampere
petir awan-bumi positif' Akan
detik (As : Ampere second). Kaiakieristik yang sama juga ditunjukkan oleh
tetapi peluahan yang berasal dari pusat *rlutun positif bagian atas awan ini menyebabkan
arus impuls
dengan arus
,"prtut kali lipat lebih panlang danlni berarti memindahkan muatan lebih besar dibandingkan contoh
pada benda tersambar'
irapuls negatif. sehingga petir ini memberikan efek bahaya yang khusus
tipit<at ,ntrk u.r, impuls negatif dan positif dapat ditihat pada Gambar 8.5.

Gambar 8.5: Bentuk tipikal arus impuls (a)negatif dan (b)positif

petir awan-bumi negatif juga memiliki sifat khusus yang tidak dijumpai pada petir awan-bumi positif yakni
skematik pada Gambar 8'6
sifat peluaha, uerantai (*Zttl,etu d,ischarge). Ferromlrra ini ditunjukkan secara

+{ t+
lms
*l n.
El /L A t--I-
ekor arus
n-
waktu=

Gambar 8.6: Petir awan-bumi negatif berantai

Ha,l ini terjadi karena setelah jeda 10-100 mili detik, pada
jalur petir pertama yang masih terionisasi terbentuli
yang baru ini bergerak dengal
stepped leader baru yang teriorong ke bumi dari badai awan. Stepped leader
proses ini terjadi pada jalur
kecepatan lebih tinggi yakni pada kisaran 1/100 kecepatan cahaya karena
yrrrg tuluh terbentu[ yang memiliki tahanan jauh lebih rendah. Hal ini terjadi sampai beberapa puluh kali
sebuah peluahan petir awan-bumi negatif
berturutan dalam jangka iaktu iebih dari r aeiitt. Karateristik arus
berantai dapat dilihat pada Gambar 8.7.
pada jenis peluahan petir berantai dapat terjadi sebuah fenomena yang disebut dengan ekor arus pada salah
1/10 detik' Arus
satu bagian petir. Pada ekor arus ini rnengalir arus beberapa ratus ampere dalam waktu
ini prinsip terjadi karena
inilah ying berperan besar dalam menimbulkan bahaya kebakaran. Ekor arus secara
t34 Teknik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

I I Arus imouls densan nilai


JZ
\o antara 7 dah 63 kA -
i !
T
J .\l
\o
$ -v
a
n I
t .< I
t{
It
t (detik)
-
Gambar 8.7: Karakteristik arus petir awan-bumi negatif berantai

superposisi antara petir awan-bumi dan petir bumi-awan. Peluahan berantai ini sering dapat tertangkap
oleh kamera statis karena angin badai memisahkan setiap jaiur petir satu dengan yang lain. Bahaya dari
hal ini adalah sambaran pertama menyambar sistem pengaman petir tetapi sambaran lanjutan dapat
menyambar tempat yang tidak terlindungi akibat pergerakan kanal plasma. Mekanisme ini menyulitkan
sistem pengamanan terhadap petir.

8. 3. 2 P eti,r Bumi,- Ataan

Pada benda atau objek yang tinggi seperti menara pemancar atau diatas pucuk bukit dapat terjadi hal yang
berlawanan dengan petir awan-bumi. Inisiasi peluahan leader terjadi karena tingginya medan listrik bukan
pada awan melainkan akibat dari distrosi medan sangat ekstrem pada puncak benda tinggi ygn menyebabkan
stepped leader tergeser ke atas bersama dengan selimut muatan ke awan. Arus mengalir dari benda berada
pada kisaran 100 Ampere dalam beberapa 1/10 detik (serupa dengan ekor arus pada petir awan-bumi). Petir
bumi-awan dapat diikuti oleh petir awan-bumi pada jalur yang dibentuk oleh petir bumi awan. Mekanisme
ini menyebabkan benda tinggi dapa tersambar petir beberapa kali.

8.4 Efek Parameter Arus Petir

Sambaran petir dapat menimbulkan berbagai kerusakan. Untuk mengurangi kerusakan akibat sambaran
ini maka orang berusaha membuat sistem penangkap petir yang cocok sehingga bangunan, peralatan dan
penghantar terhindar dari pengaruh sambaran petir. Dari berbagai karakteristik arus petir empat parameter
penting menjadi pertimbangan untuk teknik perlindungan terhadap petir.

8,/r. 1 Ni,lai o,mt s nl,aksirnunl,

Nilai puncak arus ipsr rn€D€rtukan tegangan jatuh maksimum pada tahanan pentanahan Bs bangunan.
Karena nilai tahanan pentanahan beberapa O maka akan timbul peningkatan tegangan transient sebesar 10
Bab 8: Fenomena Petir 135

s.d. 100 kV. Hal ini kemudian menyebabkan flasli,ouer dan kegagalan balik (backfi,ashou er) pada jaringan.
Tabel 8.1 menunjukkan nilai batas tingkat periindunga,n sesuai dengan IEC TC 81.

'fabel 8.1: Tingkat pcrliridrtngan icrhadap arus petir

l'ilgkat pet linclitngart r'rrr,,1(kA)


norrnal 100
Tinggi 150
Llkstrcni 200

5"4.2 Mu,ata,rL a,rus pet'ir

I,lrratarr alrls [)ctir {i: !lrli tnr,rri'rrtrrkien crrtrlgi ]'ariq rli1.r'rrrisfortlasikan, 17, pada tempat sarlbaran petir.
1>rLrla f,itik kaki l:rt,*ur api dibcrikan scbagai perkalitrn antara muatan
Iilergi 1'arrg rlitra.rslo,'riiiisilian dan
tcrgarlgarl anorlo atau kirtocle )'ang rllL.irrp1,l1]\rai uiliri pa<ll kisaratr bebcrapa 10 V pada daerah prm'

fi' : I u' tlt)tlt :l/ - i(t)tlt :V' Q (8.1)


,l

Nilai batas tingha.t tutrt,utan perlillduligal] uutuk ntttatan Q arus petir sesuai IEC dapat dilihat pada tabel
8.2. Dcngan asumsi yang disederhanakan, bahrva criergi busur api W akan memanaskan dan melelehkan

Tabel 8.2: Tingkat perlindungan terhadap muatan arus petir

Tinggi 75 150
Ekstrem 100 200

metal. Lolehan metal akan tcrciprat dibawah tekanan busur api, sehingga volume V vang melcleh pada
anode atau katode dapat dihitung dengan:

V:Y c,(0"-0u)+c"
^l
1
(8.2)

dengan:
l4l : energi busur api da,lam Ws
7: kerapatan dalam kg/-s
cr, : kapasitas panas spesifik dalarn Ws/kg K
d" : temperatur leleh dalam K
d, : ternperatur lingkungan dalam K
cs : panas lclch spcsifik dalam Ws/kg K
136 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

nilai nilai tersebut untuk beberapa material penghantar tipikal dapat dilihat pada tabel 8.3.
Contoh:

Tabel 8.3: Nilainilai untuk meterial penghantar tipikal

Besaran Al Fe Cu
.y(ks/m') 2700 7700 8920
e"(K) 931 1803 1353
c, (Ws/kg) 397.103 272.to3 209.103
c-(Ws/kg) 908 463 385
p(9^) 29'10-e 120.10-e 17.8.10-e
a(t/\<) 4.0.10-3 6.s.10-3 3.92.10-3

Untuk
Q:150As
0u:293K
Va,x : 30 Y
maka
Y.ar. :1.70 cm3
Y F. :0.60 cm3
Ycu:0.82 cm3.

Muatan juga menentukan kebakaran pada elektrode dan merupakan kriteria penting untuk dimensi sela
spark atau sela bola.
Jika sambaran tidak terjadi pada batang elektrode melainkan pada sebuah lembar metal maka dapat
menimbulkan lubang pada lembar metal. Ini merupakan bahaya pada pesawat udara jika tersambar petir.

8.4.3 Energi spesifik o,rus petir

Integral ! l,1t72at adalah merupakan ukuran untuk pemanasan dan efek gaya pada penghantar metal.
Tbntutan untuk tingkat pengamanan energ ini dapat dilihat pada tabel 8.4 Pemanasan penghantar dapat

Tabel 8.4: Tingkat perlindungan terhadap energi spesifik arus petir

fingkat perlindungan J i(t)zdt d,alam


(kA)2s
normal 2.5
Tinggi 5.6
Ekstrem 10

dihirung dengan asumsi penerimaan energi adiabatis:

Ao:!1"*rlta''"''
a Q' '^l'c-
-r1l (8.3)
L
Bab 8: Fenomena Petir 137

dengan
o: koef'esien ternperatur, 1/K
p: tahanan spesifik pada bemperatttr ruang, Om
q: Iuas penghantar, m2
1: kerapatan, kg/-'
c,: kapasitas panas spcsifik, Ws,/li' 11
Paringkatan ternpcratur bcbcra,pa pcnghaltai citrl-ta.t' tiilriiili, pti<l.r rabcl 8.5

I'a,bcl 8.5: I]crringkatan temperatur beberapa pcr',gtiantar karena encrgi spesifik arus petir

AI Ii: Cu
q rDm2 t lt)Ltt kA) 1,11, dt, (kA)zs I i(t)dt, (kA)zs
L;t 5.6 1t 2.5 5.ti 1C 2.) 5.6 1C

4
10 564 169 542
16 146 45,r t 120 56 743 309
25 283 2rt !113 22 <1 98
5tl t2 28 96 2tL 5 t2 22
100 3 7 12 I 20 37 1 5

8.4.3.1 Efek gaya pada penghantar

Karena panjang efek gaya elcktromagnetik aclalah kecil dibandingkan dengan panjang osilasi mekanis
penghantar maka gaya impuls pada fasa arus impuls menjadi signifikan. Gaya impuls ini sebanding dengan
energi spesifik I iQ)2dt. Gaya irnpuls yang bekerja pada dua buah penghantar yang teraliri arus dengan arah
yang sama dapat dilihat pada Gambar 8.8 dihitung dengan :

[ ,ovr:10-7 . I iuf a,!-


J " J" S

bitati(t)zdt:5.6(kA)2s; s:0,1mdanl:3mmaka/F(t)dt:16.3Ns.Efekgayaelektromagnetikpada
arus impuls urnumnya mcmpunyai arti yang tidak begitu penting.

\i6'at \i(t)'dt
-+ "+

fl^
ll:_
U"
l<--
Gambar 8.8: Arah gaya pada penghantal yang dialiri arus
138 Telvtik Tegangan Iinggi; Prinsip dan Aplikasinya

8.5 Tingkat kecuraman arus petir

kecuraman arus pada waktu ke puncak arus petir difdt bertanggungiawab untuk ketinggian tegangan
induksi elektromagnetik pada semua loop penghantar baik yang terbuka maupun tertutup. Tegangan yang
diinduksikan berniiai:
V : IvI .4
dt
,421 adalah induktansi mutual. Tabel 8.6 menunjukan nilai batas pengamanan terhadap tingkat kecuraman
di / dt.

Tabel 8.6: Tingkat pengamanan terhadap kec;.traman d,if d,t

Tingkat pengaman Nilai batas di ldt dalam kAlps


oetir oertama petir susulan negatil
nor nlal 10 100
tinggi 15 150
ekstrem 20 200

8.6 Deteksi Lokasi Petir

Berbagai tujuan dapat dicapai dengan pendeteksian keberadaan petir, diantaranya:


1. Penelitian sel badai, frekuensi petir, arah pergerakan badai, sararrg petir dll
2. Penyelidikan korelasi antara kerusakan akibat petir dan petir oleh perusahaan penyedia tanaga listrik,
perusahaan telekomunikasai dan perusahaan asuransi.

Pada dasarnya ada dua prinsip sistem deteksi petir:


1. Antene arah magnetik silang. Sistem ini mendeteksi petir segaris dengan arah antene berdasarkan LEMP
(Lightning Electromagnetic Pulse). Dari perpotongan tiga garis lurus akan memberikan apa yang disebut
dengan arah segitiga yang dapat menentukan lokasi sambaran petir. Gambaran sederhana sistem ini dapat
ditunjukkan pada Gambar 8.9.

2. Stasiun antene elektrik yang tidak bergantung arah. Pada sistem ini yang diukur adalah perbedaan waktu
tiba LEMP. Disini dapat dihitung dengan menggunakan persamaan hiperbola kompleks yang memiliki
radius r dan waktu gerak 7. Sistem ini digambarkan pada Gambar 8.10.
Bab 8: Fenomena Petir t39

stasiun 2

staslun

Galrrbal E.9: Sistclr dctr:ksi loktrsi pctir clcngan antena magnetik

busur arah
segitiga arah

staslun

( stasiun 2
antena
elektrik
stasiun pusat

T: waktu pergerakan sinyal


tasiun 3

Gambar 8.10: Sistem deteksi lokasi petir dengan antena elektrik

8.7 Pengaman Petir

Pada petir awan-burni titik sambaran ditentukan mclalui titik mula penangkap peluahan. Penghantar petir
menyebabkan peningkatan kuat medan permukaan bumi. Jika pengha,ntar petir berjarak cukup dekat
ii (10-100m) dengan sebuah objek pada permukaan bumi maka kepala penghantar petir akan menyambar
I

penangkap peluahan. Dari model ini diturunkan beberapa perhitungan ruang perlindungan terhadap petir.
Tabel 8.7 rnenunjukan tingkat pengaman terhadap sambaran petir yang bergantung pada jari jari ujung
kegagalan. Salah satu perhitungan ruang perlindungan terhadap petir dapat dilihat pada Gambar 8.11.
Pada Gambar 8.11 terlihat sistem pengaman petir dimana h < r. Jika sambaran petir tegak lurus
terhadap daerah batas busur ,4, maka sambaran akan berhasil menyambar batang penangkap petir. Jika
petir menyantbar pada daerah batas B rnaka sambaran akan mengenai permukaan tanah. Titik batasnya
berada pada titik Mk. Titik Mp adalah titik kritis yang mana jika kepala stepped leader menyambar pada
daerah ini maka kemungkinan petir tertangkap oleh terminal petir sangat kecil. Daerah terlindungi pada
sistem ini adalah daerah C. Perhitungan praktis untuk menentukan daerah perlindungan berdasarkan sudut
t40 Teknik Tegangan Tlnggi; Prinsip dan Aplikasinya

ruans
perliidungan

Gambar 8.11; Ruang perlindungan petir h ( r

perlindungan (p dan'ry' seperti yang telihat pada Gambar 8.12.

Gambar 8.12: Penentuan sudut perlindungan 9 dan rl.t

e: arcsin(, - l) dalamderajat (8.4)

tt : arctan (; . T - $or" "or+) dalam derajat (8.5)

dengan hadalah tinggi terminal petir dalam meter, r adalah jarak akhir sambaran dalam meter, dan
o, : \/fri=W dalam meter. Kedua persamaan tersebut hanya berlaku untuk h ( r. Hubungan antara
sudut pengamanan dan tinggi terminal udara penangkap petir dapat dilihat pada tabel 8.8

Disamping metode tersebut, orang juga membuat bola petir yang jari-jarinya merupakan jarak ujung
kegagalan. Bola ini digelindingkan pada semua sisi objek yang akan dilindungi. Objek akan terlindungi
jika sisi yang tersentuh bola saat digelindingkan dipasang sistem penangkap petir. Metode ini dapat dilihat
pada Gambar 8.13.
Bab 8: Fenomena Petir 141

Tabel 8.7: Tingkat pengaman tcrhadap sambaran petir yang bcrgantung pada jari jari jarak ujung
kegagalan

'I'ingkatperlindungan Jarakkegagalan
akhir
normal 45
Tinggi 30
EksLrel'r 20

Tabel 8.8: Hubrtngan antat'a sudut penganlan.i,ii rlan tir.rggi terrninal udara penangkap petir

Tirrggi tcrrnirral udara 'I'ingkat pengamanan


h dalarn rn.
oksl,flrIl tirggi normal
I t I !, I 1b

i) 49 58 56 65 63 70
5 49 58 56 65 63 70
LO 30 4D 54 51 61
15 14 3,1 30 42 54
20 0 19 38 34 48
9.6 30 26 42
30 0 19
.J5 13 32
40 6.4 28
45 0 23
x tidak didefinisikal karena h > r

Gambar 8.13: Metode penentuan letak penangkap petir dengan metode bola petir
i

8.8 Soal Telaah


il
f 1. Jelaskan proses pembentukan badai petir!
I
.i 2. Jelaskan bagaimana proses peiuahan petir!
i
3. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis petir!
4. Jelaskan metode-metode pendeteksian petir!
5. Jelaskan salah satu metode untuk pemasangan pengaman petir!

-oo0oo-
Koordinasi Isolasi

Tegangarrlebihmemainkatrpcratl}rangsallgatpelrtingtialainukuratrisolasipadajaringantenagalistrik.
Teganga, lebih ini sangat merrentukan k"kuftun irolasi peralatan
listrik yang dipergunakan pada jaringan'
berjalan dan koordinasi isolasi berdasarkan
Pada bab ini akan clibahas koorclinasi isolasi, prinsip ge,lonrllang
VDE 0111 juga akan dibalias secara ritrgkas'
Tegangarr tlfin aapat dibeciakan seperti ya,g terlihat
pacia Gambar 9.1.

Tegangan Lebih Dalam

Tesansan Lebih Transien


iTigarigan Lebih Kontak)

Tesansan Lebih Frekuensi Kerja


Peluahan atmosferik (-H-ubu""g Singkat ke Tanah)
di dekat sebuah Penghantar

Gambar 9.1: Jenis Tegangan Lebih

adalah:
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam koordinasi isolasi
o Tegangan lebih maksimal yang mungkin terjadi r ! r^!^ :^-.
Tegangan Iebih pada frekuensi kerja dan tegangan lebih kontak
dapat dihitung dari data jaringan'
sedangkan tegangan lebih luar hauya bisa diperkirakan'
lebih yang mungkin terjadi'
o Kekuatan dielektrik peralatan harus disesuaikan dengan tinggi tegangan
144 Teknik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

Pengaman tegangan lebih harus diproyeksikan sedemikian rupa sehingga peralatan tidak rusak karena
kemungkinan tegangan lebih yang terjadi. (pemiiihan jenis dan posisi dari arrester tegangan lebih)
Tingkat keamanan yang diinginkan terhadap tegangan lebih yang ditentukan dari semua point diatas.

9.1 Tegangan Lebih Luar

Penyebab tegangan iebih luar atau tegangan lebih atmosfer adalah sambaran petir pada peralatan operasi
penyerlia energi atau sambaran di dekat saluran udara seperti yang diiiustrasikan pada Gambar 9.2.

Gambar 9.2: Sambaran petir pada kawat penghantar

Tegangan sambaran petir pada penghantar kawat udara:

^i ;'zo
u: (e.1)
z

Cara mengatasi tegangan lebih akibat sambaran petir ini adalah antara lain dengan:
1. pemasangan kapasitor
2. pemasangan arrester petir
3. pemasangan kawat pelindung petir atau groundwire
Petir juga dapat menyambar langsung kawat tanah sistem transmisi dan mengalir pada salah satu kawat
fasa seperti yang diilustrasikan pada Gambar 9.3. Hal ini dapat diatasi dengan pentanahan yang baik.

Tegangan impuls terpotong (chopped impulse voltage) yakni tegangan impuls yang terpotong pada waktu
muka akan tnuncul jika gelombang tegangan impuls mengalir pada penghantar dan mengenai isolator atau
terpotong arrester. Bentuk tegangan ini digambarkan seperti pada Gambar g.4.
Tegangan ini mempunyai magnitude 10kV. . . MV tergantung pada tegangan yang mengenai isolator.
Tegangan impuls terpotong ini sangat berbahaya karena mempunyai kecuraman yang sangat tinggi pada
punggung atau ekor gelombang tegangan. Hal ini dapat menyebabkan tekanan sangat kuat yang tidak
diijinkan pada belitan trafo akibat resonansi.
Bab 9: Koordinasi Isolasi l4s

Gambar 9.31 Sambaran petir pada kawat tanah yang menyebabkan back flashover pada kawat penghantar

Gambar 9.4: Tegangan impuls terpotong

9.2 Tegangan lebih dalam

Gangguan pada jaringan dan pengoperasian kontak dapat menimbulkan osilasi yang berhubungan dcngan
transien tegangan lebih. Adapun penyebab dari tegangan lebih ini adalah:
1. pemasukan penghantar panjang tanpa beban
2. pemutusan arus induktif
3. pentanahan pada jaringan (tergantung cara pentanahan pada rangkaian bintang)
4. tegangan lebih akibat resonansi
Panjang tegangan lebih dapat mencapai beberapa periode dengan tinggi berkisat 2...3'V^'r,4' Hat ini
dapat dikurangi dengan beberapa cara seperti:
1. penggunaan pemutus daya yang baik (tanpa arus balik)
2. pemasukan melaiui tahanan
3. menggunakan tahanan pentanahan yang kecil pada titik bintang jaringan
146 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

9.3 Gelombang Berjalan

9.3.1 Paniang dan pendek secara elektri,k

9.3.L.1 Definisi pada dr:main frekuensi

Jika kita memberikan tegangan sinus bolak balik pada penghantar panjang tak berhingga dengan frekuensi
f : 50H z maka pada waktu tertentu saat sumber tegangan mencapai titik silang nol (zero cross) dan akan
diperoleh kejadian berikut.
Tegangan pada panghantar mempunyai nilai berbeda tergantung pada tempat r dan pada beberapa titik
secara bersamaan mencapai titik silang nol, Perubahan pada sumber tegangan terlihat nyata pada tempat
r setelah waktu gerak r : r/c. Gambaran ini dapat dilihat pada Gambar 9.5

Gambar 9.5: Penggambaran penghantar panjang dan pendek pada domain frekuensi

Pada domain frekuensi sebuah penghantar disebut panjang secara elektrik bila amplitude tegangan komplek
tergantung pada tempat:
V: Y(r)
Sebaliknya disebut pendek secara elektrik jika amplitude tegangan sepa,njang penghantar mendakati konstan:

! = konstan, artinyar ( )
Pada teknik telekomunikasi berlaku untuk penghantar dengan panjang:

l'a )
sebagai pendek secara elektrik. Pada energi teknik persyaratannya lebih ketat. Sebagai contoh bila jatuh
tegangan AV < 0.5% maka panjang penghantar tidak boleh melebihi ,\/60.
Dengan bantuan persama,an untuk panjang gelombang:

^<:J
dan berbeda dengan vakum kecepatan cahaya berkurang pada sebuah materi:
Bab 9: Koordinasi Isolasi 147

Cnateri: untukP, = t
,fu*

maka untuk kawat penghantar (p' : li e, :1; f :50H2):

r"' : ? - 3oo'990-ltm/s : 6oookm


l 50/s

sehingga lmak: l00km.


Untuk kabel (P. - 1; e, : 4; f: 50H z):

ry,9ffiW:Boookm
^*:T:
sehingga lmok :50km.

9.3.1.2 Deffnisi pada domain waktu

Jika sumber tegangan searah diberikan pada sebuah penghantar panjang tak berhingga, proses kontak
ini menimbulkan gelombang berjalan sepanjang penghantar. waktu ke puncak gelombang berjalan ini
ditentukan oleh sifat kontak dan tahanan dalam induktif sumber. Penyebaran gelombang berjalan pada
sebuah penghantar panjang dapat dilihat pada Gambar 9'6.

Gambar 9.6: Penggambaran penghantar panjang dan pendek pada domain waktu

Pada domail waktu sama seperti pada domain frekuensi, penghantar disebut panjang secara elektrik bila
pada titik waktu pengamatan, amplitude tegangan sebagai fungsi tempat mempunyai nilai berbeda:

V:V(r)
artinya jika waktu ke puncak gelombang berjalan mempunyai nilai pada orde atau jauh dibawah waktu
berjalan. Pada waktu ke puncak To < 70r maka proses ini memerlukan persamaan telegraph atau persamaan
gelombang.
Pendek elektrik sebuah penghantar jika amplitude tegangan sepanjang penghantar mendekati konstan:

V: konstan
148 Teknik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

artinya jika waktu ke puncak gelombang berjalan jauh lebih besar dari waktu berjalan penghantar Q ;
r : llu. Untuk waktu ke puncak To > 70r yang memberikan perubahan amplitude tegangan AV < l0%
maka diijinkan menggunakan teori jaringan quasi stasioner.
Pada domain waktu tidak diperlukan pembedaan antara kawat penghantar dan kabel karena perbedaan
kecepatan penyebaran memperhatikan waktu berjalan pada penghantar kawat dan kabel.

9. 3. 2 P ersamaan Pengha,ntar

Persamaan penghantar diturunkan dari sebuah panghantar panjang elektrik satu fasa. Perhitungan
karakteristik transmisi ini dilakukan dengan asumsi bahwa penghantar adalah homogen. Penghantar memiliki
tahanan, E, tertentu. Arus yang mengalir dan kembali pada pengantar membentuk loop penghantar yang
terkait dengan fluks dan merupakan induktansi pada rangkaian pengganti, Tegangan antara penghantar dan
tanah membentuk medan listrik yang digambarkan sebagai kapasitansi pada rangkaian pengganti.
Sebuah potongan penghantar dapat digambarkan dengan sebuah rangkaian pengganti ekivalen seperti pada
Gambar 9.7.

Gambar 9.7: Rangkaian pengganti sepotong penghantar sepanjang 4z

Dengan menggunakan aturan mesh Xu :0 dan aturan node Xe : 0 akan diperoleh:


Pada dorrrain frekuensi yang ditransformasikan ke domain Laplace:

dV: (R' * jul').dr.Ia f,l/(a,s) : (/?/* sLt).dr..I(r,s) (e.2)


dI : (G' * jwC'). dr.V a f,l(a,s) : (G/ * sCt). dr.V(r,s) (e.3)

akab diperoleh:

d1(r, s)
: (Gt + sC,) .V (r, s) (e.4)
dr
d.I(r,s) : (R/ + sL,). I(r,s) (e.5)
dn
selanj utnya dengan mendiferensialkan sekali lagi :
Bab 9: Koordinasi Isolasi t49

YP : (G, +,c).*[rz(r,s)] (e.6)

ry{: (.R/ +,r,) .


* [r(r,s)] (e.7)

dengan menyulihkan persamaan (9.4) pada persamaan (9.7) dan dengan menyulihkan persamaan (9.5) pada
persamaan (9.6) diperoleh:

(r, s)
d2V
t : (G,+ sC,)(R, * slt).V(r,s) (e.8)

d2I(r, s)
t - (Gt + sC,)(R, * sLt). .r(r, s) (e,e)

Dengan memperkenalkan kependekan untuk konstanta transmisi:

(e.10)

maka:
d2V(x,s) d21(c.s)
:ry2.--.
, V(x,s) , #:12'I(r,s)
dr2
Penyelesaian umum menurut d'Alembert:

V(r,s) - Ar . exp (+7(s) .u) + Az 'exp (-7(s) .r) (9.11)


I(r,s) - 81 . exp (+7(s) .r) + 82.exp (-7(s) .r) (9.12)

Dalam hal ini At,Az,B1,danB2 adalah fungsi s, /(s). Jika penyelesaian ini disulih pada persamaan (9.4)
diperolah:

tG) .
h. .r) - r(s) . 82 .exp (-r(") '")
exp (+7(s)
: (G/ + sC') A1. exp (+7(s) .x) + A2. exp (-7(s) .r)
Dengan penyamaan koefesien diperoleh:

"y(s) ' Br .exp (+"7(s) .r) : (G' * sC') A1 .exp (+7(s) .r)
)Br:(G't2c').e,
^ r(s)
tG) . Bz.exp (-7(s) . r) : (Gt * sCt) A2.exp (-t(s) .
")
+8,:-(G'tlc').*
- ?(s) '
Dengan penyingkatan:

(G'+sC'): ,f?',l-:L',
z(s): ,:!9:
U G'+sC'
(e.13)

sehingga diperoleh persamaan penghantar untuk penghantar dengan rugi-rugi dalam domain Laplace:

v(n,s): Ar(s) .exp(+7(s) .r) + Az(s).exp(-7(s).r) (e.14)

I(r,s):
#.exp(+7(s) d - 28.exp(-7(s)
.z) (e.15)
150 Teknik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

denganZ(s) :@
Konstanta .Al(s) dan ,42(s) diperoleh dari syarat batas permasalahan yang dibahas seperti tegangan awal
dan akhir sebuha penghantar dengan panjang tertentu.
Tlansformasi balik persamaan umum penghantar dari domain gambar ke domain waktu sangat sulit.
Sehingga hal paling mudah adalah dengan melakukan pengabaian pengabaian yang diijinkan dalam
transformasi balik.
Untuk keadaan transien persamaan diatas disederhanakan menjadi:
11
v:i.v2(stx +e-'v,) *i rTZ(ew +e-7,)
1
I:;.12(e1',u, r o-,s\),2
-l .V',^r,
Z\- +e-?')
dengan e'+ e-' : 2coshr
dan e'- e-' :2sinhr
maka:

Vt : Vz. cosh(7 .l) + 12. Z sinh(1 .l)


It : Iz.cosh(7 ,) * ?sinh(7.1)

9.3.3 Perhitungan gelornbang berjalan pada penghantar

Perhitungan gelombang berjalan pada penghantar dapat dilakukan dengan bantuan Gambar 9.8.

Gambar 9.8: Rangkaian pengganti sebuah penghantar tanpa rugi-rugi, 1 = s.at

Pendekatan:

v, :
;.v2(str + e-'v,) -', t, zs(stc + e-7,)
. (e.16)

I : *. Iz("r' + e-'v') -
i.*n"" + e-"v') (e.17)

Vr:Vo-It'Zt (e.18)
Vz: Iz' Zz (e.1e)
Bab 9: Kootdinasi Isolasi 151

Sistem persamaan tersebut dapat diselesaikan terhadap besaran-besaran yang diinginkan, di sini misalnya
V2: dati persamaan (9.19) yang disulih pada persamaan (9'16) diperoleh:

1 - I Vz.Zo
V:;.V2(str+e-?")-; T(er"+e-r';
(9.20)

r:;.2r""'+e-7') -*.hn' +e-7') (e.21)

Persamaan (9.20) dan (9.21) disulih pada persamaan (9.18) dan mengalikan kedua sisi dengan e-1' maka:

* 2t')
f;v,6
e-zt') * lrrffo - e
: voe-1, - irr$u + e-2^r,) - irr'du - e-zt')
u,llo + e-21') . *2u - e-2t*) - l$u* "-'"')] *

"li'au-.-"")]
: Vo'e-1'
Dengan pengelompokan:

v,
[rr
+ e-2,,) (;.;Z)+ (1- e-2,,) (r*,.;2\:vo e-1.

'rr,lu + e-21') ('*)+


(1 - e-2t') (+33)] :', "-'"
,r lZr+ Zrn-21r _ Z&+ ZtZr^-2-tr tZz* Zt ZtZ2l
V,-L I
z, "-'- zrh " - z, -
-23+
zrh )
:2Vo .e'1'
,, l -.r,,ZzZo* ZtZo- Z& - ZtZ2 , ZzZo-f ZtZo+ Z3+ hZzl
-
" l" zrh zrzo )
:2Vo'e-1'

ry:,%
Dengan mengubah bentuk pembagian

Zo(Zt - Zo) - Z2(ZL - Zo) : (4 - Zo)(Zo * Zz) : -(Zr - Zo)Q2 - Zo)

akan diperoleh:
152 Teknik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

zg:)V' - Zo) (h * zo)(Zo - z)1


,rl-"-,r,(z'-
t,

' L-' zrh *


+
zrh - ):zvoe
i'
-
vz l-e-2t" 121 - zo)(22 - zo) + (Zt + zo)(zo - z))-: 2zzzovoe-1,

v. l. - Vt -
zdez -
?"_rr_1 : _ _?l^r,
' lt ffi +z;io + zr)vss-"tr
et
Dengan mengubah cara penulisan diperoleh:

@t - Zd Q, - ?) : 2znz,
v^1, - ffi d+a" "-27,1 @nzia-;Tz;vss'1t
'L'- -
Dengan
(zt - zo): rt @z- zo) : : s' r
(zlljl ;
1v;t71 " i^tr
Sehingga untuk penghantar tanpa rugi-rugi diperoleh:

v2(s):l.0(s)
@J#eT6 # @.22)

dalam hal ini 11 adalah faktor pantulan awal dan 12 adalah faktor pantulan akhir.
Faktor pantulan 12 adalah perbandingan antara gelombang tegangan pantul,V., dan gelombang tegangan
terusan, Vl,pada ujung akhir penghantar.
rr: Vv (9.23)

Untuk perhitungan selanjutnya dipergunakan deret pangkat:

*:1*r* 12+rs+..' untukr(1


sehingga dari persamaan (9.22) akan diperoleh:

v2(s) :I,0(s)' e-""' (r + rs2' + rlrl' ...


@JXeTr;' "-2sr "-4sr+ )

Dengan persamaan ini semua proses gelombang berjalan pada sebuah penghantar tanpa rugi-rugi dapat
dihitung. Untuk kasts 22: co (rangkaian terbuka pada ujung akhir penghantar) akan diperoleh tegangan
pada ujung awal penghantar:

v1(s):vo(,)
@3,,11**l rrr*r
Dengan deret pangkat diperoleh

v1(s) : vo(s)' +e-2'")' (r - rs2'


@3r;(1 "-2sr+...)
Contoh I
Zt : L00Q; Zz = @; Zo :300Q
Dengan masukan transien: 7(s) : ]Iz6
Bab 9: Koordinasi Isolasi 1s3

(zr - Zo) (100 - 300) t


'''
: (zr-+4i: : -ri (22 - zo\
(64: L
1oo + 3oo
":
yr(s) :
+ #%. (r +
"-2,,; (r - i
.e-2't, +f,. ,.
"-n )
v2(s) :+ e-21,(, - ;,e-2t, +rn."-n,,. )
;;4.
sebagai pengingat:

Hasil perhitungan tersebut dapat dilihat pada tabel 9.1

Tabel 9.1: Tegangan pada ujung awal dan akhir penghantar

t 01t1r r1.t12r 2r{t{3t 3r{t14r


V 3/4Vo 3/4Vs 314(r+L/2):e/1va 9/8Vo
Vz 0 3/2Vs 3/2Vo 3/4Vo

Bentuk tegangan sebagai fungsi waktu dapat dilihat pada Gambar 9.9
154 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

r 21 31 4r,
(a) ujung awal penghantar

Gambar 9.9: Karakteristik tegangan pada ujung awal dan akhir penghantar

Contoh 2

Zr: Zo , ,r: padaujungakhirpenghantaradalahkapasitor


*
V6(s) : :Yo i rr :0
1

2ZoZz
Vz$) : lYo
' z\-'t
. e-s7
s'' ZtZ2 * ZsZ2 + ZrZo + Zd

v2(s) : !u07fi; r."-""


v2(s):\;-
"-""
u
vz(t) : rzo (r - e-t/zo'c) .o$ - r)
Bentuk tegangan pada ujung akhir tegangan sesuai contoh 2 dapat dilihat pada Gambar 9.10.
Perhitungan yang telah dilakukan untuk penghantar tanpa rugi dan tegangan Vr dan % diturunkan secara
matematis serta hanya memperhatikan kasus-kasus khusus.

9, 3. /r P erh'i,tungan sederhana ranglc,aian penghanta,r

Rangkaian pengganti rangkaian penghantar dapat dilihat pada Gambar 9.11.


Bab 9: Koordinasi Isolasi t55

Gambar 9.10: Karakteristik tegangan pada ujung akhir penghantar

Gambar 9.11: Rangkaian pengganti penghantar

11
V: ,Vz@-'"
+ e"") -
ilrzo@-"'- ""')
t, : r,
tr1"-,, + e",) -
*Zn-"" - e"")
Dari gambar rangkaian pengganti diperoleh: Vz: Iz. 22 d.an h: h*
Untuk gelombang berjalan pada penghantar berlaku:

Vz : V + V, : tegangan gelombang transmisi -l tegangan gelombang pantul


,, -_r;r;rr:
vt + v
Pertimbangan kasus-kasus khusus:
1. Penghantar terbuka: Zz: q;Zr: Zo
disini berlakt V : V, * Vz : 2V.Tegangan pada ujung penghantar terbuka adalah dua kalinya, karena
V: Vol2 makaV2:Vo-o(t - r)
2. Awal dan akhir penghantar dihubungkan dengan tahanan gelombang

* f1: T2:0
Vz:Iz'Z
V
) V2 :0.5-s ' e-""
156 Teknik Tegangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

9,3.5 Proses perhitungan gelornbang berjalan dengan bantuan "peta jalan


gelornbang"

Perhitungan tegangan pada ujung awal dan akhir sebuah penghantar dapat diperoleh dengan bantuan "peta
jalan gelombang" seperti pada Gambar 9.12.
Jika nilai-nilai dari peta jalan gelombang ditulis dalam sebuah diagram sebagai fungsi waktu diperoleh seperti
yang terlihat pada Gambar 9.13.

9.4 Koordinasi Isolasi menurut VDE 0111

T\rgas dari koordinasi isolasi adalah pernilihan tingkat isolasi setiap peralatan dibandingkan dengan tegangan
lebih yang mungkin timbul pada jaringan dimana peralatan akan dipasang. Selain itu, karakteristik
pengaman tegangan lebih diperhatikan sedemikian rupa sehingga kemungkinan kerusakan isolasi peralatan
atau kemungkinan terganggunya kontinuitas operasi dapat diperkirakan dengan baik. OIeh karena itu
tegangan pada frekuensi kerja, tegangan lebih sesaat, tegangan lebih kontak, dan tegangan Iebih petir harus
diperhatikan.
Tingkat isolasi peralatan dibagi menjadi tiga daerah tegangan
1. Daerah A: 1 kV< V^ < 52kY
2. Daerah B: 52 kV< Y", < 300 kV
3. Daerah C: V^ > 300 kV
seperti yang ditunjukkan masing-masing pada tabel 9.2, tabel 9.3, dan tabel 9.4

Tabel 9.2: Standar tingkat isolasi untuk daerah A

Highest voltage Standard short-time Standard


for equipment power-frequency lightning impulse
V^ withstand voltage voltage
KV KV KV
rms value rms value peakvalue

40
3.6 10 20
40
7.2 40
60
t2 60
75
95
t7.5
95
95
L25
t45
36 70 145
t70
Bab 9: Koordinasi Isolasi t57

ZF ll3 Zo

Y*= 314 Vo
,,=
fuv6=3t4v6

Zt-Zo
' zz+zo
V*= 12.Y-:314 Vs
Y*= 314 V6 V2=Yq*Y1:3/2 Vo

,,:ffi:ln
V++: r"r .Y+=-318 Yo
V; V*+ V++ V+i 1.125 I/o

Y+r rz.Y-*: -318 Vn


V2 = Ya* Y 1 * Yaa+ Y1
-= 3 /4 Vn

Yaa: -3/8 Vn

\t++= rr.V++ = 1116 Vo

Y-**= 7l16 ltn

Gambar 9.12: Peta jalan gelombang


t58 Teknik Tbgangan Tinggi; Prinsip dan Aplikasinya

(a) ujung awal penghantar

r2r3r
(b) ujung akhir penghantar

Gambar 9.13: Karakteristik tegangan ujung awal dan akhir

I'abel 9.3: Standar tingkat isolasi untuk daerah B

Highest voltage Standard short-time Standard


for equipment power-frequency lightning impulse
Vm withstand voltage voltage
KV KV KV
rms value rms value peakvalue

72.5 t40
t23 (185) 450
230 550
745 ( 185) (450)
230 550
275 650
770 (230) (550)
275 650
325 750
\275) (650)
(325) (750)
360 850
395 950
460 1050

Pada tabel 9.2, tabel 9.3, dan tabel 9.4 terlihat satu atau lebih saran unutk nilai tingkat isolasi yang
berhubungan dengan nilai maksimal tegangan standar. Jika diberikan lebih dari satu nilai tingkat isolasi
maka sebaiknya dipergunakan nilai tingkat tertinggi untuk peralatan. Dalam sebuah jaringan bisa terjadi
perbedaan tingkat isolasi misalnya untuk sistem pada tempat yang berbeda atau untuk peralatan berbeda
pada sebuah sistem.
Nilai dalam tanda kurung menunjukkan bahwa jika nilai dalam tanda kurung tidak mencukupi untuk
memverifikasi tegangan tahan (withstand voltage) konduktor-konduktor maka diperlukan test tegangan
tahan tambahan.
Pada standard tingkat tegangan daerah C, tegangan lebih kontak menjadi pilihan pertama untuk pemilihan
Bab 9: Koordinasi Isolasi t59

Tabel 9.4: Standar tingkat isolasi untuk daerah C

Highest voltage Standard switching impulse withstand voltage Standard


for equipment lightning im-
V* insulation conductor to pulse withstand
KV KV KV conductor-earth voltage
rms value peak value peak value peak value KV

950
850 1.50 950
1050
850 1.50 950
1050
1.50 1050
tt75
420 850 1.60 1050
1175
1.50 1t75
1300
1050 1.50 1300
t425
525 950 t.70 t775
1300
1050 1300
t425
950 tl75 L425
1550
765 11,75 7.70 t675
1800
1 175 t425 1800
1950
t775 1550 1.60 1950
2100

tingkat isolasi.

9.5 Soal Telaah

1. Sebutkan dan jelaskan tegangan lebih yang mungkin terjadi dalam sistem tenagal listrik!
2. Bagaimana cara mengatasi tegangan lebih akibat petir pada sistem transmisi agara tidak merusak
peralatan sistem tanaga listrik?
3. Melalui proses switching, sambaran petir, hubung singkat dll proses gelombang berjalan dapat terjadi
pada sistem transmisi tenga listrik yang menyebabkan tegangan lebih lokal. Analisa pergerakan tegangan
terhadap waktu pada lokasi tertentu pada jairngan dapat dicari dengan konsep peta jalan gelombang.
Untuk penjelasan konsep ini bisa dengan memperhatikan Gambar 9.14. Pada waktu t : 0 switching
ditutup dan gelombang tegangan bergerak kearah impedansi beban 27. Konduktor dianggap tanpa rugi
dengan tahanan gelombang Zs.
160 Teknik Tbgangan Tinggi ; Prins ip dan Apl ikas inya

z=0 z=l
I--------

Gambar 9.14: Gambar untuk soal telaah 3

a. Carilah koefesien pantulan pada setiap titik dalam sistem


b. Berapakah besar tegangan stasioner padabeban Z7
c. Dengan bantuan peta jalan gelombang, carilah pergerakan tegangan dan arus terhadap waktu pada
lokasi z : ll4 padadaerah O I t < 4r
d. Dengan r : lp,s, Zc : 300A, Zo : 100O, dan Zt : 60Q. Dengan bantuan peta jalan gelombang
berjalan,hitunglahpergerakantegangandanarusterhadapwaktupadaZ:0danZ:t(0<t<10ps,
Vo :400V)
e. Kerjakan ssperti item d, dengan Zr:0 (Hubung singkat)

-oo0oo-
Pustaka

1. A.Pedersen,"TheEffectofSurfaceRoughnessonBreakdowninSF6",IEEETlans.onPowerApparatusandSystem.\bl.
PAS-94, No. 5, pp.1749-1754,1975
2. M. Meyer, W. Boeck, K. Mueller, W. Zaengl, "Hochspannungstechnik: Theoretische and praktische Grundlagen". Spr:ngt-:
Verlag, 1986
3. A. Kuechler, "Hochspannungstechnik: Grundlagen-Technologie-Anwendungen", VDI Verlag, 1996
4. E. Kuffel, W.S. Zaengl, J. Kuffel," High Voltage Engineering: Fundamental", Newnes, 2005
5. A. Haddad, D. Warne (Editor), "Advances in High Voltage Engineering"IEE,2004
6. M.S. Naidu, V. Kamaraju, "High Voltage Engineering" Mc Graw Hill, 2004
7. T. J. Gallagher, A. J. Pearmain, "High Voltage: Measurement, Testing and Design" John Wiley & Son, 1984
8. P.J. Harrop, "Dielectrics" Butterworth, London, 1972
9. D. Kind, H. Karner, "High-Voltage Insulation Technology" Vieweg, 1985
10. H. M. Ryan (Editor), "High Voltage Engineering and Testing", Peter Peregrinus, 1994
11. C. M. Cooke, "Ionization, Electrode Surface, and Discharge in SF6 at Extra High Voltage",IEEE Tfans. on Power S1'stem
Apparatus, Vo;. PAS-95, pp. 1518-1523, 1975
12. N. Giao tinh, " Partial Discharge XIX: Discharge in Air Part I: Physical Mechanisms" , IEEE Electrical Insulation \Iagazine.
Vol. 11, No.2 March/April 1995
13. N. Giao TYinh , "tichel Streamer and Their Tiansition into Pulseless Glow Discharge", Journal of Applied Physics. \bl
41 No. 10, Sept. 1970
14. Hermstein W., "Die Stromfaden-Entladung und ihr Uebergang in das Glimmen", Archive fuer Elektrotechnik, Eingang am
4. November 1959
15. Hermstein W., "Die Entwicklung der positiven Vorentladungen in Luft zum Durchschlag", Archive fuer Elektrotechnik.
Eingang am 3. Dezember 1959

-oo0oo-

.t
.ll..l I

d ttt lita rl,lpal t

ProPinsi .1nwr
Tirnnr I