Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkatNya Penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul “Trakeostomi”. Penulis juga
berterima kasih kepada dr. Farida Nurhayati, Sp. THT-KL, M.Kes yang telah membimbing
selama di kepaniteraan Ilmu Telinga Hidung Tenggorokan dalam penulisan referat ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan referat ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk
itu kritik dan saran sangat diharapkan untuk kemajuan bagi Penulis.
Akhir kata Penulis mengucapkan terima kasih dan berharap penulisan referat ini dapat
berguna bagi setiap mahasiswa kedokteran dan juga bagi para pembaca untuk menambah
wawasan mengenai trakeostomi.

Jakarta, 5 April 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR I
DAFTAR ISI II
BAB I PENDAHULUAN 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2
2.1 Anatomi dan Fisiologi Trakea 2
2.2 Definisi 3
2.3 Insidensi 3
2.4 Fungsi Trakeostomi 4
2.5 Keuntungan Trakeostomi 4
2.6 Indikasi Trakeostomi 5
2.7 Kontraindikasi Trakeostomi 5
2.8 Prosedur Trakeostomi 6
2.8.1 Instrumentasi 6
2.8.2 Teknik pemasangan 6
2.9 Dekanulasi 11
2.10 Komplikasi 11
BAB III KESIMPULAN 12
DAFTAR PUSTAKA 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Trakeostomi merupakan sebuah tindakan medis berupa pembuatan lubang pada


dinding anterior trakea untuk memintas jalan napas atas. Trakeostomi pertama kali dilakukan
atas indikasi sumbatan jalan napas atas, namun saat ini indikasi trakeostomi bergeser dan
lebih sering dilakukan atas indikasi pemakaian mesin ventilator dalam jangka waktu lama.1
Akses saluran napas untuk ventilasi dapat diwujudkan menggunakan
endotracheal/tracheostomy tube. Saat terjadi gagal napas, pasien biasanya dilakukan
pemasangan ETT dan dilakukan ventilasi manual. Mengganti ETT ke tracheostomy tube
seringkali diperlukan saat ventilasi mekanik dalam periode waktu lama diperlukan.2 Pada
keadaan emergensi, seringkali dilakukan krokotiroidotomi, yang terkadang juga disebut
“high tracheostomy”. Prosedur ini akan memungkinkan selang masukmelalui insisi pada
membran krikotiroid untuk membebaskan jalan napas. Prosedur ini memiliki sejarah
kontroversial saat penciptanya, dr. Chevalier Jackson melakukan sebuah “high tracheostomy”
dan memublikasikannya. Perlakuan ini muncul sebelum adanya antibiotik dan sering
dilakukan pada pasien yang infeksi parah atau terkena difteri. Dr. Jackson menjadi terkenal
tetapi beliau banyak dirujuk oleh dokter lain karena banyaknya stenosis trakea yang terjadi
pada pasien yang dilakukan krikotiroidektomi sesuai cara yang ia publikasikan. Setelah itu, Ia
secara terbuka tidak mendukung teori yang sudah dia ciptakan.2

BAB II

1
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI TRAKEA


Trakea atau saluran napas atas adalah tabung fleksibel dengan diameter sekitar 2,5cm
dan panjang 11cm trakea berada di anterior dari C6 menempel pada kartilago krikoid dengan
ligament. Trakea berakhir pada mediastinum setingkat vertebra T5, diamana trakea bercabang
menjadi bronchus kanan dan kiri. Epitel trakea merupakan perpanjangan dari epitel laring
sehingga serupa dengan laring. Dan mukosa trakea mirip dengan mukosa yang terdapat pada
hidung dan nasofaring, submucosa jaringan ikat sekitar trakea, memiliki kelenjar mucus yang
berhubungan dengan permukaan epitel melalui ductus – ductus sekretori. Trakea memiliki 15
sampai 20 kartilago yang berfungsi untuk memperkuat dinding trakea dan melindungi saluran
napas. Kartilago ini juga berfungsi untuk mencegah kolapsnya atau membengkaknya saluran
napas karena perubahan tekanan di sistem respirasi.3
setiap kartilago berbentuk “C” bagian yang tertutup menuntupi bagian anterior dan
lateral trakea, yang terbuka menghadap ke posterior, karena kartilago tersebut memiliki jarak
trakea posterior dapat dengan mudah menyesuaikan ketika makan atau menelan terutama jika
makan dalam jumlah banyak.3
Sebuah ligament elastis dan otot trakealis menghubungkan ujung dari masing –
masing kartilago trakea. Kontraksi otot ini mempersempit diameter trakea. Penyempitan ini
meningkatkan resistensi terhadap aliran udara. Diameter normal trakea berubah dari waktu ke
waktu, terutama karena control sistem saraf simpatis. Stimulasi simpatis akan meningkatkan
diameter trakea dan membuat udara lebih mudah melewati saluran napas.3

2
Gambar 1. Anatomi trakea

2.2 DEFINISI
Trakeostomi adalah pembuatan lubang dinding anterior trakea untuk mempertahankan
jalan nafas atau tindakan membuat stoma agar udara dapat masuk kedalam paru-paru dengan
memitas jalan nafas atas untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalu lintas udara
pernafasan.4

2.3 INSIDENSI
Trakeostomi jarang dilakukan tetapi berbeda beda tergantung fasilitas kesehatan,
beberapa penelitian menunjukan trakeostomi mencakup 1% dari semua intubasi yang
dilakukan di IGD dan 10,9% dari intubasi yang dilakukan sebelum masuk rumah sakit.5
Dengan adanya teknik video laringoskopi dan teknik pembebasan jalan nafas yang
non invasive kemungkinan besar tingkat penggunaan trakeostomi akan menurun. Meskipun
begitu, tetap menjadi alat bantu terakhir dalam membebaskan jalan nafas, sampai saat yang
belum bisa dipastikan.5

2.4 FUNGSI TRAKEOSTOMI


Fungsi trakeostomi selain mengatasi obstruksi saluran nafas, trakeostomi juga
mempunyai beberapa fungsi fisiologi lain yaitu : 2
3
a. Tindakan trakeostomi untuk mengurangi jumlah ruang hampa dalam traktus trakheobronkial
70 sampai 100 ml. Penurunan ruang hampa dapat berubah ubah dari 10 sampai 50%
tergantung pada ruang hampa fisiologik tiap individu.
b. Tindakan trakeostomi untuk mengurangi tahanan aliran udara pernafasan yang selanjutnya
mengurangi kekuatan yang diperlukan untuk memindahkan udara sehingga mengakibatkan
peningkatan regangan total dan ventilasi alveolus yang lebih efektif.
c. Trakeostomi dilakukan untuk proteksi terhadap aspirasi.
d. Trakeostomi memungkinkan pasien menelan tanpa reflek apnea, yang sangat penting pada
pasien dengan gangguan pernafasan.
e. Trakeostomi memungkinkan jalan masuk langsung ke trachea untuk pembersihan.
f. Trakeostomi memungkinkan pemberian obat-obatan dan humidifikasi ke traktus.
g. Trakeostomi mengurangi kekuatan batuk sehingga mencegah pemindahan secret ke perifer
oleh tekanan negative intra toraks yang tinggi pada fase inspirasi batuk yang normal.

2.5 KEUNTUNGAN TRAKEOSTOMI


Trakeostomi vs intubasi2

Trakeostomi Intubasi
Keuntungan Lebih mudah diganti Lebih cepat dipasang oleh
dokter berpengalaman
Lebih mudah berbicara dan Tidak memerlukan skill
menelan bedah yang tinggi
Lebih mudah untuk
suctioning
lebih nyaman untuk pasien
Kerugian Komplikasi pada cuff Komplikasi laringeal
komplikasi stoma mengganti tube perlu skill
yang tidak rendah
Peningkatan risiko infeksi Sering menimbulkan cedera
paru pada hidung

2.6 INDIKASI TRAKEOSTOMI


Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson.
1. Jackson I ditandai dengan sesak, stridor inspirasi ringan, retraksi suprasternal, tanpa
sianosis.
2. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra
dan infraklavikula, sianosis ringan, dan pasien tampak mulai gelisah.

4
3. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal,
epigastrium, dan sianosis lebih jelas.
4. Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang, dan
terkadang gagal napas.2
Pasien yang diindikasikan adalah pasien yang mengalami sumbatan jalan nafas dan
gagal intubasi dengan ETT maupun nasogastric. Ketika klinisi tidak dapat mengintubasi
maupun memberikan oksigenasi, penting untuk membebaskan jalan nafas, karena jika gagal,
akan menurunkan tingkat oksigen ke otak dan menyebabkan esefalopati anoksia dan
kematian.2 Trakeostomi umumnya diindikasikan pada sumbatan jalan napas stadium Jackson
III.1 Trakeostomi umumnya juga sering dilakukan pada kondisi perdarahan hebat, emesis
massif, trismus, lesi obstruktif seperti tumor/polip, trauma serta anomaly kongenital.2
Banyak klinisi berpendapat bahwa pasien tidak boleh dilakukan ventilasi
menggunakan ETT selama lebih dari tiga minggu kecuali sangat tidak stabil. Pandangan ini
diperkuat dari fakta bahwa penggantian metode menjadi trakeostomi pada pasien yang
memerlukan ventilasi dalam jangka waktu lebih lama memberikan keuntungan dan
kenyamanan lebih bagi pasien.1
Salah satu artikel menunjukkan bahwa trakeostomi yang dilakukan lebih awal dapat
memperbaiki keadaan klinis, tetapi memiliki kerugian dalam seringnya komplikasi yang
berkaitan dengan tindakan bedah yang telah dilakukan maupun berkaitan dengan stoma. Studi
tersebut meneliti 419 pasien yang memakai ventilasi mekanik dalam dua kelompok, median 7
hari, dan 14 hari. Pasien yang diganti lebih awal menjadi trakeostomi lebih cepat lepas dari
ventilasi mekanik dan keluar dari ICU, dan lebih sedikit mengalami pneumonia.6

2.7 KONTRAINDIKASI
Kontraindikasi relatif trakeostomi adalah: umur di bawah 15 tahun, kelainan
perdarahan, deformitas bentuk leher karena hematoma, tumor, tiromegali, maupun bekas luka
pembedahan, curiga trakeomalasia, tidak bisa ekstensi leher karena fusi cervical, artritis
rematoid yang membuat instabilitas tulang servikal. Perlu diingat bahwa seluruh
kontraindikasi di atas relatif. Terdapat contoh trakeostomi perkutan dilatasional sudah pernah
dilakukan oleh operator berpengalaman pada pasien geriatri, obesitas, pernah trakeostomi
sebelumnya dan terdapat trombositopenia. Sebuah studi menunjukkan bahwa komplikasi
akibat perdarahan dapat diprediksi meningkat hanya ketika trombosit kurang dari 50000 atau
adanya dua atau lebih kelainan koagulasi. Angka ini dapat menjadi batas apakah pasien

5
trombositopenia dengan trombosit di atas 50000 dapat dilakukan trakeostomi atau tidak. Pada
pasien yang tengah dalam terapi heparin, trakeostomi juga dapat dilakukan.5,6

2.8 PROSEDUR TRAKEOSTOMI


2.8.1 INSTRUMENTASI
Sebelum dilakukan pembedahan, maka alat-alat yang perlu dipersiapkan adalah
semprit yang berisi obat analgesia, pisau, pinset anatomi, gunting panjang yang tumpul,
sepasang pengait tumpul, klem arteri, gunting kecil yang tajam serta kanul trakea dengan
ukuran yang sesuai untuk pasien. Pasien atau keluarganya yang akan dilakukan tindakan
trakeostomi harus dijelaskan segala resiko tindakan trakeostomi termasuk kematian selama
prosedur tindakan.2

Gambar 2. Alat-alat yang digunakan untuk trakeostomi

Jenis Kanul
Kanul yang digunakan adalah berbentuk kurva yang diinsersikan masuk ke dalam
stoma. Ada beberapa macam kanul, dengan bagian-bagian kanul yang hampir sama.2 Kanul
Portex tersedia dalam berbagai ukuran baik untuk bayi, anak-anak dan orang dewasa. Semua
kanul bersifat non toksik sehingga aman digunakan dan sesuai dengan suhu tubuh.Jenis –
jenis kanul Portex yaitu2

6
Portex Blue line
Kanul ini digunakan pada bayi, anak-anak dan orang dewasa. Kanul pada bayi dan
anak-anak dibuat dari bahan implant. Bentuknya tidak bercuff dan didesain sesuai bentuk
anatomi trakea. Bersayap sehingga pergerakan kanul minimal dan mengurangi trauma pada
saluran pernapasan.2 Kanul pada orang dewasa dibuat dari bahan yang lembut sesuai suhu
tubuh dan sesuai anatomi saluran napas. Kanul ini mengurangi trauma dan meningkatkan
kenyamanan pasien. Bentuk kanul pada orang dewasa yang bercuff sifatnya volume tinggi
dengan tekanan intracuff yang rendah, fleksibel dan dapat berputar.2

Portex DIC
Kanul seperti ini mempunyai kanul dalam yang disposibel. Kanul luarnya ada yang
rigid dan ada yang fleksibel. Kanul luar fleksibel untuk pasien yang tidak bisa bertoleransi
dengan kanul luar rigid. Kanul dalam yang disposibel akan meningkatkan perawatan
trakeostomi, tetapi akan menurunkan waktu perawatan.5

Portex Specialty tubes, yang dibagi lagi yaitu :


1. Portex Laryngectomy Tubes
Kanul laringektomi Portex DIC digunakan untuk mempertahankan jalan napas pasien selama
laringektomi.2

2. Portex Trach-Talk Tracheostomy Tubes


Kanul ini didesain untuk menuntun pasien dapat berbicara dengan suara rendah. Kanul ini
dibuat untuk mengeliminasi masalah psikologik dan komunikasi semua pasien trakeostomi.2

3. Extra Horizontal LengthTracheostomy Tubes


Kanul ini didesain untuk pasien yang ada ” bull neck ” . Bentuknya yang ekstra panjang
dengan aksis horisontal akan memberikan kemampuan bernapas bagi pasien.2

4. Portex Mini-Trach II
Kanul ini dimasukkan ke dalam trakea melalui membran krikitiroid dengan menggunakan
kanul kecil (4,0 mm), skalpel dan penuntun. Kanul ini dperuntukkan bagi pasien yang
mengalami retensi sputum.2

7
5. Lo-Profile Tracheostomy Tubes
Kanul ini untuk pasien yang memerlukan trakeostomi jangka panjang. Kanul ini dibuat sesuai
kosmetik, mudah penggunaannya, aman dan menyenangkan bagi pasien.2

6. Portex Per-fit Percutaneous Tracheostomy Kit


Digunakan untuk melakukan tindakan trakeostomi perkutaneus berseri. Berguna bagi dokter
untuk melakukan tindakan trakeostomi perkutaneus yang aman dan efisien.
Jenis kanul yang lain adalah :2

a. Flexible Shiley Tracheostomy Tube


Kanul ini digunakan pada pembedahan dan insersi perkutaneus. Terdiri dari dua kanul
di mana kanul dalam yang dapat dipakai untuk pembedahan atau insersi perkutaneus. Dapat
dipakai untuk perawatan di rumah sehingga biaya perawatan tidak banyak dan waktu
perawatan tidak lama.5

Gambar3 .Kanul Flexible Shiley

b. Kanul Trakeostomi ber-Cuff


Kanul ini mempunyai balon dengan tekstur yang lembut dan pada bagian bawahnya
berfungsi untuk ventilasi bila terjadi kegagalan pernapasan. Cuff bervolume rendah
bentuknya seperti balon, sedangkan cuff bervolume tinggi bentuk seperti silinder. Cuff
bervolume tinggi lebih bagus karena mencegah terjadinya stenosis. Fungsi kanul ber-cuff

8
secara umum adalah membersihkan udara, proteksi terhadap aspirasi, memberikan ventilasi
tekanan positif.2

Gambar 4. Plain Tracheostomy

c. Kanul Trakeostomi non-Cuff


Kanul ini berfungsi untuk membersihkan jalan napas tetapi tidak mencegah terjadinya
aspirasi.5

Gambar 5. Plain Cuffed Tube.

d. Kanul Trakeostomi bentuk Fenestrated


Kanul seperti ini mempunyai lubang yang berfungsi untuk berbicara melalui jalan
napas atas. Bentuk kanul seperti ini cocok untuk anak kecil. Fungsi lain dari kanul ini adalah

9
memberikan kemampuan kepada pasien untuk dapat bernapas secara normal (persiapan
dekanulasi ).5

Gambar 6. a. Plain Fenestrated Tube b. Cuffed Fenestrated Tube

Langkah Trakeostomi Emergency:7


1. Letakkan pasien pada posisi supine dengan leher pada posisi netral
2. Palpasi tonjolan tiroid, membran krikotiroid, dan tonjolan sternal sebagai orientasi
3. Insisi kulit secara vertical
4. Insisi membrane krikotiroid secara horizontal
5. Masukan kait trakea
6. Masukan dilator trousseau dan buka supaya insisi melebar secara vertical
7. Masukan tabung trakeostomi
8. Lepaskan obturator
9. Masukan kanula kedalam dan kembangkan balon
10. Kaitkan trakeostomi tube ke ventilator atau bag valve device

2.9 DEKANULASI
Dekanulasi dapat dilakukan jika ventilasi mekanik tidak lagi diperlukan, batuk sudah
cukup baik, sekresi sudah bisa terkontrol, dan tidak ada obstruksi saluran napas atas.
Dekanulasi dapat dilakukan secara bertahap dengan secara progresif mengurangi ukuran
tabung trakeostomi atau menutup lubang trakeostomi yang terfenestrasi secara bertahap
selama 12, 24 sampai 48 jam, hingga pasien toleransi.2

2.10 KOMPLIKASI
Kekerapan komplikasi sangat bervariasi tergantung dari populasi pasien keadaan
klinis, level pelatihan dan lokasi prosedur. Variasi tersebut dapat mencakup 0 – 54%

10
perdarahan biasanya muncul saat awal dan tidak parah, jika perdarahan muncul dapat diatasi
dengan dep kasa.2
Komplikasi lainya meliputi :
a. Laserasi kartilago krikoid atau trakea
b. Perforasi trakea posterior
c. Masuk ke saluran yang salah
d. infeksi
komplikasi jangka panjang melputi stenosis sub glottis dan perubahan suara. Faktor
resikonya adalah intubasi yang terlalu lama, adanya kelainan laring dan usia yang masih
muda. Pada pasien yang curiga cedera servikal tidak ada data yang pasti tentang keamanan
trakeostomi pada populasi tersebut.8

BAB III
KESIMPULAN

Trakeostomi merupakan sebuah tindakan medis berupa pembuatan lubang pada


dinding anterior trakea untuk memintas jalan napas atas. Trakeostomi pertama kali dilakukan
atas indikasi sumbatan jalan napas atas, namun saat ini indikasi trakeostomi bergeser dan
lebih sering dilakukan atas indikasi pemakaian mesin ventilator dalam jangka waktu lama.
Trakeostomi memiliki beberapa teknik pemasangan dan bermacam instrumentasi
yang dapat menjadi pilihan sesuai dengan kondisi dilapangan. Terdapat berbagai keuntungan
dan kekurangan trakeostomi dalam membebaskan jalan napas pada saat terjadi obstruksi
saluran napas atas. Sehingga, sangat penting untuk mengetahui indikasi dan kontraindikasi
kapan sebaiknya trakeostomi dilakukan.
Tindakan trakeostomi dan dekanulasi yang baik dan benar dapat memperkecil
kemungkinan terjadinya komplikasi.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Cox C, Carson S, Holmes G, Howard A, Carey T. Increase in Tracheostomy for


Prolong Mechanical Ventilation in North Carolina, 1993 – 2002. Crit Care Med.
2004;32(11):2219-26
2. Hyzy RC, Mathur PN, Finlay G. Overview of tracheostomy [online]. 2013 [cited
2017 April 5]. Available at: http://www.uptodate.com/contents/overview-of-
tracheostomy#H1
3. Ober WC, Ober EC, Welch K. Anatomy of Trachea. In: Martini F, Nath J,
Bartholomew EF. Fundamentals of Anatomy & Physiology. 8th ed. San Francisco:
Pearson education. 2009; p. 219-25.
4. Adam GL, Boies LR, Higler PA. In: Effendi H, Santoso K, Wijaya C (editors)
Boeis Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Philadelphia : WB Saunders. Jakarta.
Penerbit EGC. 1997. p.473-85.
5. Bishop MJ. The timing of tracheotomy. An evolving consensus. Chest 1989;
96:712.
6. Terragni PP, Antonelli M, Fumagalli R. Early vs late tracheotomy for prevention
of pneumonia in mechanically ventilated adult ICU patients: a randomized
controlled trial. JAMA 2010; 303:1483.

12
7. American College of surgeon. Advanced trauma life support : student course
manual. 9th at. Chicago: American College of Surgeon; 2012
8. Beiderlinden M, Eikermann M, Lehmann N. Risk factors associated with bleeding
during and after percutaneous dilational tracheostomy. Anaesthesia 2007; 62:342.

13