Anda di halaman 1dari 4

Tugas Resume Buku

2024 Hijrah Untuk Negeri

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Akuntansi Multiparadigma

Oleh:
Muhammad Aliza Shofy
176020310011021

JOINT PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2018
2024 Hijrah untuk Negeri

Bab 1- Indonesia Di “Ruang” Dunia Menjelang 2024


Semua negara tentunya ingin menjadi negara yang makmur. Proses menjadi negara
makmur bukan dicapai dengan proses yang cepat melainkan harus melalui instutional drift
dalam institusi ekonomi dan politik yang inkusif. System inkusif melindungi kekayaan
rakyat, menciptakan area kompetisi yang adil, mendorong investasi teknologi baru,
peningkatan sumber daya manusia sehingga menciptakan iklim kondusif bagi pertumbuhan
ekonomi. Dengan pola demikian terbukti Negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat,
Jepang, Autraly, Korea Selatan menjadi makmur hal ini dibuktikan dengan tingginya tingkat
pendapatan perkapita, usia harapan hidup yang tinggi, dan tingkat pendidikan yang tinggi.
Sementara itu, negara penganut Institusi politik dan Ekonomi ekstraktif berada dalam
kehancuran. Hal itu dikarnakan pada system ini, kekuasaan cenderung dipusatkan pada
sekelompok elit tertentu yang bergerak demi keuntungan mereka sendiri serta memanfaatkan
sumber daya demi mempertahankan kekuasaannya.
Berkembangnya institusi ekonomi dan politik yang inkusif mendorong penggunaan
sumber daya alam secara besar-besaran dan keinginan untuk memperoleh profit yang
setinggi-tigginya melalui aktivitas bisnis. Karna terbatasnya sumber daya dan ingin mengejar
keuntungan dari banyak sumber tanpa kehilangan pendapatan dari daerah asal muncullah
suatu bisnis internasional. Jika dimataforakan, akan dimetaforakan dalam pertandingan
sepakbola di mana para pemainnya adalah para perusahaan multi nasional. Institusi
internasional/ pembuat peraturan adalah WTO, IMF, World Bank, dll. Sedangkan wasitnya
adalah GATT, dan AFTA. Jika dilihat indonsia tentunya meliki perusahaan bersekala besar
juga, sebut saja PERTAMINA, PGN, BNI, Bank Mandiri, dan banyak perusahaan lainnya,
namun posisi perusahaan-perusahaan tersebut adalah berada pada liga kecil, dan kalau mau
ikut final dan menang mereka harus mengikuti model FIFA. Dan agar bisa ikut bertanding di
kelas dunia mereka harus menjual dirinya kepada pihak asing.

Bab II- Melihat Dunia Dari Kacamata (Kritis) Alternatif


Sistem ekonomi dan politik yang inkusif terbukti dapat memakmurkan bangsa
penganutnya jika ditinjau dari sudut pandang kemapanan materi, kecukupan sandang pangan
papan, kesehatan diri dan keluarga, serta kreatifitas aktivitas bisnis yang menjamin kebebasan
akses ladang-ladang ekonomi masyarakat namun tanpa dibatasi aspek moralitas dan kaidah
kebaikan serta agama.
Pada saat ini “Tuhan” telah tersisihkan dalam dunia keilmuan. Nilai-nilai relius dan jiwa
(subjektif) manusia yang menjadi pusat dari pertemuan nilai-nilai Tuhan dan kesadaran akan
kebenaran mutlak kitab suci tidak lagi diperbolehkan masuk dalam ranah semesta dan realitas
kemasyarakatan secara ilmiah. Terdapat perbedaaan antar pandangan Barat dan Timur
mengenai agama dan Tuhan. Hal tersebut tentunya berpengaruh terhadap pola gaya hidup
keseharian yang bisa kita toleransi. Pada bab 1, kita sangat mengagung-agungkan system
institusi ekonomi dan politik yang inkusif yang bisa menciptakan kemakmuran dengan
pendapatan perkapita yang tinggi, tingkat pendidikan yang timggi, dan lain sebagainya. Akan
tetapi pendidikan yang tinggi tidak menjamin moralitas yang baik pada suatu negara hal ini
terbukti dengan adanya pelegalan pernikahan sesame jenis, penggunaan mariyuana, aborsi,
kebebasan tidak beragama, minuman keras. Agama-agama maju malah dinilai sebagai negara
dengan tingkat cyber-crime tertinggi serta angka kejahatan yang tinggi. Selain itu, negara-
negara maju yang berorientasi Eropasentris Barat yang mengedepankan liberalisasi,
demokrasi, pertumbuhan ekonomi yang luar biasa berdampak pada moralitas yang rentan,
sifat egois, dan mengesampingkan agama.
Bab III- Melampaui Kemakmuran Materi Mendorong Religiositas Berkebudayaan
Suatu pengembangan peradaban tidak perlu terjebak pada gagasan seperti pembangunan
di bawah maupun participatory development saja. Model pembangunan di Indonesia perlu
mengembangkan manajemen pembangunan sosial dan lembaga pedesaan di mana masyarakat
banyak yang berinteraksi di sana untuk melakukan sosial learning dan bukan menekankan
pada ranah politik dan ekonomi. Suatu pembangunan negeri harus bergeser dari paradigma
politik dan ekonomi menjadi pembangunan kebudayaan dengan tetap mengedepankan tradisi
tanpa mengedepankan modernitas dengan cara pandang yang baru misalnya gotong royong
berdasakan rasa kekeluargaan bukan dalam mekanisme masyarakat tertutup, bukan melalui
koperasi yang berakar pada susunan agraris feodal.

Bab 1V- Dramaturgi Dan Subhat Komunal Negeri: Di Mana Manusia Indonesia Dan
Kebudayaan
Pada saat ini, manusia modern cenderung lebih suka memahami kebenaran kekinian
kedisinian sosiologis daripada mempelajari budaya, kebiasaan, dan kearifan lama. Mereka
lebih menyukai gemerlapnya janji, mimpi keindahan dari sejarah modernitas yang penuh atas
hegemoni price dan teknologi. Akibatnya kebanyakan orang membangga-banggakan ISO,
namun tidaklah kita tau apakah ISO dan standar kelayakan Internasional juga membayangkan
bahwasannya kenyamanan dan kebersihan bahkan keselamatan bekorelasi dengan alam.
Saat ini terjadi fenomena subhat komunal terjadi pada lingkungan dan kearifan lokal,
pendidikan ekonomi dan bisnis, politik islam dan demokrasi liberal, dan ranah sosial
kemasyarakatan karena kebudayan nasional kita krisis akibat kemalasan dank arena “amnesia
budaya”. Amnesia budaya adalah konsisi lupa akan sejarah dan kehilangan kemampuan
untuk melihat ke masa depan yang seharusnya didasari oleh pengetahuan masa lalu. Manusia
di Indonesia merupakan cetakan dari pembaratan (mutan) yang tidak kunjung selesai.
Pada saat ini banyak stigma intovertisasi kedirian yang menyatakan bahwa Indonesia
tidak memiliki kriteria kemanusiaan yang sesuai dengan dengan kehidupan pascamodernitas,
tidak memiliki kesantunan global, tidak memiliki semangat keasi bahkan kemauan kerja
keras, tidak sesuai dengan nilai kemodernan, tidak layak menempuh dan menembus batas
internasional, dll. Koentjaraningrat bahkan menyebut bahwa manusia Indonesia merupakan
manusia yang memiliki mental jalan pintas. Sedangkan menurut Mochtar Lubis manusia
Indonesia memiliki enam sifat yaitu munafik/ hipokrit, tidak bertanggungjawab, feudal,
percaya tahayul, artistic, dan memiliki karakter yang lemah. Padahal kita telah
mendeklarasikan bahwa diri kita merupakan manusia pancasila yang berketuhanan,
berprikemanusiaan, bersatu, berkemusyawarakatan, dan berkeadilan.
Untuk mengatasi tudingan di atas, terdapat saran dari para akademisi muslim. Saran
tersebut diucapkan oleh Amin rais yang menyarankan bahwa: (1) Indonesia harus
melanjutkan pembangunan nasional dan tidak boleh berhenti, oleh karena itu menjadi
manusia dan negeri yang unggul adalah kemustian, (2) pelestarian lingkungan merupakan
titik tekan yang penting bagi keberlangsungan masyarakat, (3) perumusan ulang atas model
alih teknologi pro lingkungan, (4) antisipasi adanya kecenderungan proteksionisme blok-blog
dagang melalui management of change.

Bab V- Melacak Ruh Kearifan Sejarah: Dari Peradaban Islam Menuju Nusantara
Terdapat seruan Al-Quran agar dalam berfikir manusia menggunakan akal dan
mempertimbangkan segala sesuatu secara rasional sekaligus menjadikan firman Allah
sebagai dasar pertimbangan rasional. Dalam Agama Islam seseorang harus berfikir dalam
ruang aqli dan naqli. Ruang aqli merupakan argumentasi dalam bentuk rasional (akal)
sementara ruang naqli menyatakan bahwa segala sesuatu pengetahuan yang diambil harus
merujuk firman Allah, Al-Quran, Uswah, dan Hadist Rasul SAW. Hal ini tentunya berbeda
dengan cara pikir orang Barat yang cenderung hanya menerima sesuatu yang rasional,
kontekstual, dan empiris yang bisa dibuktikan secara matematis dan kuantitatif. Hal inilah
yang membuat pandangan mereka menjadi secular dan lebih parahnya lagi mereka selalu
menilai bangsa lain dengan sudut pandang mereka sendiri (orientalis).
Jika Nabi Muhamad SAW berpikir layaknya orang barat yang cenderung secular, maka
Nabi Muhamad SAW bisa jadi tidak akan hijrah karena sebelum menjadi Nabi Beliau
merupakan seorang kaum bangsawan yang sangat berkuasa (suatu hal yang diinginkan oleh
kaum sekularis). Penyebaran Agama Islam di muka bumi ini bisa berhasil karena-Nya,
sementara penyebaran Agama Islam di Pulau jawa disebarkan oleh Wali Songo.
Peradaban dunia silih berganti baik dari Asia, Afrika, Amerika lama, Eropa Barat,
Islam, dan lain-lain. Semua peradaban saling berayun membentuk keseimbangan-
keseimbangan meskipunbegitu bila dilihat dalam pola ayunan ternyata terjadi anomaly
peradaban Kristen barat
(AS, Kanada, Australia, Jepang, Korea Selatan, Rusia, dll), anomaly yang terjadi pada
saat Islam bergerak menjadi peradaban besar peradaban lain di dunia seperti di Afrika, Asia,
AS tidak terganggu dan cenderung menjadi bergerak bersama akan tetapi pada saat negara
barat menjadi besar maka peradaban lain cenderung terganggu dan mengalami deklinasi yang
signifikan.
Bab VI- Hijrah Untuk Negeri: Konstruksi Peradaban Menuju 2024
Pada masa kemerdekaan tepatnya pada masa orde lama terjadi perbedaan dan rembesan
linear dari idealism islam dengan model politik berbasis legitimasi islam yang secara dinamis
berdiskursus secara epistemis (kekuatan ideologis) maupun praksis (Partai Politik seperti
Masyumi, NU, PSII berhadapan dengan PNI, PSI, PKI, dll). Masa tersebut merupakan masa
transisi pertarungan ideologi sekaligus perembesan transitif pendidikan barat yang telah
dimulai sejak Politik Balas Budi. Pada masa ini masyarakat mulai mengenyam pendidikan
barat meskipun system tradisional masih dominan.
Sementara itu, terjadinya perubahan drastis terjadi ketika system politik Orde Baru
menghendaki pemberangusan segala ideology termasuk Ideology Islam, Nasionalisme
Soekarnois dan Komunis. System kepartaian dipangkas dan dikaburkan secara simbolik
walaupun tetap merepresentasikan nilainya dengan nama yang tidak mencerminkan ideology
seperti Partai Persatuan Pembangunan sebagai representasi Umat Islam, GOLKAR sebagai
representasi penguasa, Partai Demokrasi Indonesia sebagai representasi kaum nasionalis dan
Agama Non-islam. Puncaknya adalah pada terjadinya penyeragaman asas bagi semua
gerakan sosial politik menjadi Asas Tunggal Pancasila sehingga menyempitkan ruang gerak
islam. Meski pancasila menjadi jargon pembangunan dan penataan system sosial, politik,
model ekonomi dan hukum. Pendidikan diarahkan pada system yang liberal, positif, dan
secular. System ini jelas memberikan keterbatasan gerak bagi Gerakan Islam sedangkan
masyarakat menjadi terpola dalam sitem ekonomi, hokum, dan pendidikan yang liberal,
positif, dan secular. Hal tersebut mereduksi nilai dan keislaman pada nilai yang liberal,
positif, dan secular.
Negeri kita perlu hijrah dari kebudayaan yang hedonis, secular, dan westernisasi
pendidikan dimana pendidikan kita sangat terkooptasi dengan mentalitas barat yang
menanamkan logika liberalism yang selalu bermuatan materialism dan individualism. Selain
itu kita juga perlu hijrah dari ekonomi yang berpaham neoliberal menuju kerakyatan yang
berkeadilan sosial.