Anda di halaman 1dari 37

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1. 1 LATAR BELAKANG
Walaupun telah banyak kemajuan dalam penatalaksanaannya , penyakit
jantung koroner ( PJK ) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang cukup penting. Di negara-negara maju dan beberapa negara
berkembang seperti Indonesia, PJKmerupakan penyebab kematian utama.Di Amerika
Serikat didapatkan bahwa kurang lebih 50 % dari penderita PJKmempunyai
manifestasi awal Angina Pectoris Stabil ( APS ). Jumlah pasti penderita anginapectoris
ini sulit diketahui. Dilaporkan bahwa insidens angina pectoris pertahun padapenderita
diatas usia 30 tahun sebesar 213 penderita per 100.000 penduduk. Asosiasijantung
Amerika memperkirakan ada 6.200.000 penderita APS ini di Amerika serikat.
Tapidata ini nampaknya sangat kecil biladibandingkan dengan laporan dari dua studi
besar dari Olmsted Country dan Framingham,yang mendapatkan bahwa kejadian
infark miokard akut sebesar 3% sampai 3.5% daripenderita APS pertahun, atau kurang
lebih 30 penderita APS untuk setiap penderita infarkmiokard akut Mengingat
banyaknya jumlah penderita APS dan kerugian yang ditimbulkannya terutama secara
ekonomi, diperlukan penatalaksanaan yang lebih komprehensif.
Tetapi APS terutama ditujukan untuk menghindarkan terjadinya infarkmiokard
akut dan kematian sehingga meningkatkan harapan hidup, serta mengurangisymptom
dengan harapan meningkatnya kualitas hidup. Pada penderita yang berdasarkanriwayat
penyakit dan pemeriksaan awal didapatkan kemungkinan sedang atau tinggi
untukmenderita suatau PJK perlu dilakukan test secara non invasif maupun invasive
untuk
Memastikan diagnosa serta menentukan stratifikasi resiko.Penderita APS
dengan resiko tinggi atau resiko sedang yang kurang berhasil dengan terapi standart,
perlu dilakukan tindakanrevaskularisasi, terutama bila penderita memang
menghendaki.Makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan
mampumenerapkan keperawatan pada klien dengan angina pectoris.

1
2

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan hasil pembahasan di atas “Bagaimana pelaksanaan asuhan
keperawatan Ny. A dengan diagnosa medis Angina Pectoris di ruang ICVCU RSUD.
dr. Doris Sylvanus Palangkaraya, mulai dari pengkajian, diagnosa, intervensi,
implementasi sampai dengan evaluasi keperawatan?”.
1.3. TUJUAN TEORITIS
1.3.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan penulisan study kasus ini adalah sebagai berikut:
1. Diperoleh pengetahuan mengenai Angina Pectoris.
2. Diperoleh gambaran pelaksanaan keperawatan dengan Angina Pectoris.
1.3.2Tujuan Khusus
1. Mendapat gambaran dalam melakukan pengkajian pada pasien dengan Angina
Pectoris.
2. Mendapatkan gambaran dalam menentukan masalah keperawatan pada
pasien dengan Angina Pectoris.
3. Mendapat gambaran dalam merencanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan
Angina Pectoris.
4. Mendapat gambaran dalam melaksanakan evaluasi pada pasien dengan Angina
Pectoris.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Bagi peningkatan kualitas asuhan keperawatan
Laporan studi kasus ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu acuan
dalam meningkatkan kualitas pelayanan asuhan keperawatan pada pasien Angina
Pectoris Stabil yang digunakan dalam peningkatan profesi keperawatan dan pelayanan
kesehatan.
1.4.2 Bagi pengembangan IPTEK
Dengan adanya laporan studi kasus diharapkan dapat menimbulkan ide-ide
dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang keperawatan
terutama penembangan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan dengan konsep
pendekatan proses keperawatan.
3

1.4.3 Bagi Institusi


1.4.3.2 Pendidikan
Sebagai tolak ukur tingkat kemampuan mahasiswa dalam penguasaan terhadap
ilmu keperawatan dan pendokumentasian proses keperawatan khususnya bagi
mahasiswa STIKES Eka Harap Palangka Raya dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien Angina Pectoris Stabil sehingga dapat diterapkan di masa
yang akan datang.
1.4.3.2 Rumah Sakit
Memberikan kerangka pemikiran ilmiah yang bermanfaat bagi rumah sakit
dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan memberikan gambaran pelayanan
asuhan keperawatan pada pasien dengan kasus Angina Pectoris Stabil.
1.4.3.3 Bagi profesi
Asuhan keperawatan dengan pasien Angina Pectoris Stabil ini diharapkan dapat
memberikan masukan sebagai salah satu referensi bagi perawat untuk meningkatkan
mutu asuhan keperawatan.
4

BAB 2
TINJAUAN TEORITIS

2.1 KONSEP DASAR ANGINA PEKTORIS STABIL


2.1.1 PENGERTIAN
Angina pektoris adalah nyeri dada intermiten yang disebabkan oleh iskemia
miokard yang reversibel dan sementara.(Kumar,dkk.2007:hal 89).
Angina pektoris adalah nyeri hebat yang berasal dari jantung dan terjadi sebagai
respons terahadap suplai oksigen yang tidak adekuat ke sel-sel miokardium. ( Corwin,
Elizabeth J. 2009).
Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan
sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali
menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera hilang
bila aktifitas berhenti.(Sjaifoellah Noer, 2006: hal 67).
Angina Pektoris merupakan nyeri dada sementara atau perasaan tertekan
(kontriksi ) didaerah jantung. ( Brenda Walters. 2003 ).
Angina pektoris adalah nyeri dada yang disebabkan oleh tidak adekuatnya
aliran oksigen terhadap miokardium.( Maryllin E. Doengoes. 2002).
2.1.2 ETIOLOGI
Menurut Kumar,dkk.2007 penyebab terjadinya angina pectoris adalah :
a. Ateriosklerosis
Ateriosklerosis adalah radang pada pembuluh darah manusia yang disebabkan
penumpukkan plak ateromatus. Ateriosklerosis, menurunnya elastisitas pembuluh
darah besar (arteri), akibat penebalan hialina pada pembuluh yang menyebabkan
stenosis konsentrik pada dinding pembuluh.
b. Spasme arteri koroner
Spasme arteri koroner adalah pengetatan (kontraksi) singkat dan sementara dari
otot-otot di dinding arteri. Hal ii dapat mempersempit dan menurunkan sementara
atau bahkan mencegah aliran darah ke bagian otot jantung.

4
5

c. Anemia berat
Anemia berat adalah kondisi dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya
kurang dari 12gram%. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan
dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah.
d. Artritis
Artritis adalah peradangan atau inflamasi pada satu atau lebih persendian, yang
disertai dengan rasa sakit, kebengkakan, kekauan, dan keterbatasan bergerak.
e. Aorta Insufisiensi
Aorta insufisiensi adalah penyakit katup jantung dimana katup aorta tidak
menutup rapat. Hal ini memungkinkan darah mengalir dari aorta (pembuluh darah
besar) ke ventrikel kiri (ruang jantung). Aorta insufisiensi menyebabkan suplai
darah ke seluruh tubuh berkurang.

2.1.3 FAKTOR-FAKTOR RESIKO


Adapun factor yang menpengaruhi terjadinya angina pectoris menurut Lecture
Notes Kardiologi. Gray, Huon.H, dkk.2008adalah :
1. Dapat Diubah (dimodifikasi)
1) Diet (hiperlipidemia)
2) Rokok
3) Hipertensi
4) Stress
5) Obesitas
6) Kurang aktifitas
7) Diabetes Mellitus
8) Pemakaian kontrasepsi oral
2. Tidak dapat diubah
1) Usia
2) Jenis Kelamin
3) Ras
4) Herediter
5) Kepribadian tipe A
6

2.1.3 FAKTOR PENCETUS SERANGAN


Menurut Lecture Notes Kardiologi. Gray, Huon.H, dkk.2008 Faktor pencetus yang
dapat menimbulkan serangan antara lain :
1. Emosi
2. Stress
3. Kerja fisik terlalu berat
4. Hawa terlalu panas dan lembab
5. Terlalu kenyang
6. Banyak merokok.

2.1.5 KLASIFIKASI ANGINA PEKTORIS


Adapun klasifikasi angina pectoris menurut Kumar,dkk.2007 adalah:
1. Angina pectoris stabil kronis /tipikal:
Mengacu pada nyeri dada episodik saat pasien berolahraga atau mengalami bentuk
stress lainnya. Angina pektoris stabil biasanya disebabkan oleh penyempitan
ateroskelrotik tetap ( biasanya 75% atau lebih )satu atau lebih arteri koronaria.
2. Angina varian ( Prinzmetal ) :
Rasa tidak enak pada dada, terjadi pada saat istirahat atau membangunkanpasien
tidur. Angina varian disebabkan oleh spasme fokal dari koronaria epikardial yang
proksimal. Terdapat obstruksi arteri koronaria arterosklerotik, dalam kasus
vasospasme terjadi dekat lesi stenotik.
3. Angina pectoris tidak stabil :
Angina pektoris tidak stabil dapat dicetuskan oleh suatu keadaan ekstrinsik
terhadap lapisan vaskular koroner yang memperhebat iskemia miokardial, seperti
anemi, demam, infeksi takiaritmia, stres emosional atau hipoksemi, dan dapat juga
setelah infark miokardial spasme segmental disekitar bercak ( plaque arterosklerotik )
juga dapat memainkan suatu peranan dalam perkembangan angina yang tidak stabil.
Pasien dapat dikatakatakan Angina pectoris tidak stabil:
1) Pasien dengan angina yang baru mulai ( < 2 bulan ) yang hebat atau sering (> atau
= 3 episoda tiap hari)
2) Pasien dengan angina dipercepat : angina stabil kronis yang mengembangkan
7

angina secara nyata lebih sering, hebat,berkepanjangan.


3) Mereka dengan angina saat istirahat

2.1.6 PATOFISIOLOGI
Angina pectoris terjadi sebagai konsekuensi dari iskmeik miokard.Pasokan
oksigen gagal memenuhi kebutuhan oksigen, selalu karena penurunan pasokan
sebagai akibat aliran arteri koroner. Faktor utama yang mempengaruhi konsumsi
oksigen niokard (MVO2) antara lain tegangan dinding sistolik, keadaan kontraktil,
dan denyut jantung. Subendokard paling sensitif terhadap iskemia, dan redistribusi
perfusi miokard pada stenosis koroner dapat berperan dalam suseptibilitas infark
subendokard. Adanya hipertrofi vantrikel merupakan faktor tambahan yang
mempengaruhi kemungkinan timbulnya iskemia subendokard ( Corwin, Elizabeth
J. 2009 ). Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidakadekuatan
suply oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekakuan arteri dan
penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara
pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang
bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis. Ateriosklerosis merupakan
penyakir arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban kerja suatu
jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan
meningkat pada jantung yang sehat maka arteri koroner berdilatasi dan mengalirkan
lebih banyak darah dan oksigen keotot jantung. Namun apabila arteri koroner
mengalami kekakuan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi
sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik
(kekurangan suplai darah) miokardium. Dengan tidak adanya fungsi ini dapat
menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat
penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang. Penyempitan atau
blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %.
Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka suplai
darah ke koroner akan berkurang. Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob
untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Metabolisme ini menghasilkan asam laktat
yang menurunkan ph miokardium dan menimbulkan nyeri. Apabila kenutuhan energi
sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot
kembali fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan
asam laktat. Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan reda.
8

2.1.7 WOC (Web Of Caution)

Sumber: Corwin, Elizabeth J


9

2.1.8 GAMBARAN KLINIS


Tanda dan gejala yang sering timbul pada khasus angina pectoris menurut
Corwin, Elizabeth J. 2009 adalah :
1. Nyeri dada substernal ataru retrosternal menjalar ke leher, tenggorokan daerah
inter skapula atau lengan kiri.
2. Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas, kadang-
kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest discomfort).
3. Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit, tidak lebih daari 30 menit.
4. Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian nitrogliserin.
5. Gejala penyerta : sesak nafas, perasaan lelah, kadang muncul keringat dingin,
palpitasi, dizzines.
6. Gambaran EKG : depresi segmen ST, terlihat gelombang T terbalik.
7. Gambaran EKG seringkali normal pada waktu tidak timbul serangan.

2.1.9 KOMPLIKASI
Menurut Ardiansyah (2012: 30-31) mengemukakan ada 4 komplikasi pada
Angina Pektosris Stabil yaitu :
2.1.9.1 Edema paru-Paru
Edema paru terjadi dengan cara yang sama seperti edema yang muncul di bagian
tubuh mana saja, termasuk faktor apapun yang menyebabkan cairan interstitial paru-
paru meningkat dari batas negatif ke batas positif. Penyebabb kelainan paru yang
paling umum adalah:
1. Gagal jantung sisi kiri (penyakit katup mitral) yang mengakibatkan peningkatan
tekanan kapiler paru-paru, sehingga membanjiri ruang nterstitial dan alveoli.
2. Keruskan pada membran kapiler paru-paru yang disebabkan oleh infeksi seperti
pneumonia atau terhirupnya bahan-bahan yang berbahaya (misalnya gas klorin
atau gas sulfur dioksida).
2.1.9.2 Syok Kardiogenik
Syok kardiogenik ditandai dengan adanya gangguan fungsi ventrikel kiri.
Dampaknya adalah terjadi gangguan berat pada perfusi jaringan dan pengahantaran
oksigen ke jaringan. Stadium dari gagal jantung kiri, kongestif akibat penurunan curah
jantung dan perfusi jaringan yang tidak adekuat ke organ vital (jantung dan otak.
10

2.1.9.3 Episode trombolik


Trombus terbentuk karena imobilitas pasien dan gangguan sirkulasi dengan
aktivitas trombus dapat menyumbat pembuluh darah.
2.1.9.4 Efusi perikardial dan tamponade jantung

2.1.10 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Menurut Sudoyo, Aru W. 2009 test pemeriksaan yang dilakukan adalah :
1. Elektokardiografi ( EKG )
Elektrokardiografi (EKG) adalah pemeriksaan kesehatan terhadap aktivitas elektrik
(listrik) jantung. Elektrokardiogram adalah rekaman aktivitas elektrik jantung
sebagai grafik jejak garis pada kertas grafik. Bentuk jejak garis yang naik dan turun
tersebut dinamakan gelombang.
2. Uji latih
Uji latih yang dilakukan adalah uji latih jantung/treadmill test. Treadmill test adalah
iji latih jantung dengan cara memberikan stress fisiologi yang dapat menyebabkan
abnormalitas kardiovaskuler yang tidak ditemukan pada saat istirahat. Di tempat
yang tidak memiliki treadmill, test latihan jasmani dapat dilakukan dengan cara
master, yaitu latihan dengan naik turun tangga dan dilakukan pemeriksaan EKG
sebelum dan sesudah melakukan latihan tersebut.

3. Ekokardiografi
Ekokardiografi adalah sebuah alat yang dapat mengeluarkan gelombang suara
ultrasonik atau USG untuk menilai jantung. Ekokardiografi dapat menilai struktur
dan fungsi jantung dengan akurat.
4. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus
dengan mengambil bahan atau sampel dari penderita, dapat berupa urine (air
kencing), darah, sputum (dahak), dan sebagainya untuk menentukan diagnosis atau
membantu menentukan diagnosis penyakit bersama dengan tes penunjang lainnya.
5. Foto Thorax
Foto thorax atau sering disebut Chest X-ray (CXR) adalah suatu proyeksi radiografi
dari thorax untuk mendiagnosis kondisi-kondisi yang mempengaruhi thorax, isi,
dan struktur-struktur didekatnya, seperti pneumonia dan gagal jantung kongestif
sering terdiagnosis oleh foto thorax.
11

6. Angiografi koroner
Angiografi koroner adalah pemeriksaan medis yang dilakukan untuk mengamati
pembuluh darah jantung dengan menggunakan teknologi pencitraan sinar-X.
Prosedur ini dilakukan terutama untuk mengamati bgaimana darah mengalir
melalui arteri jantung dan menentukan apakah terdapat penyumbatan atau
penyempitan arteri.

2.1.11 PENATALAKSANAAN
Menurut Sudoyo, Aru W. 2009 penatalaksanannya yang sering dilakukan adalah:
1. Istirahat dan Tidur
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar. Istirahat yang baik adalah sekitar 7-
8 jam dalam sehari.
2. Glyseril trinitrat
GTN yang diletakkan di bawah lidah atau obat semprot dapat mengendurkan arteri
pada jantung dan dapat mengurangi serangan Angina.
3. Aspirin
Aspirin dengan dosis yang rendah, misalnya Angettes 75 yang dapat mengurangi
kecenderungan dari sel darah merah dan membantu pencegahan pembentukan
maupun pengaturan trombosit.
4. Terapi Nitrogliserin
Nitrogliserin merupakan obat yang paling utama. Nitrat efektif pada angina dengan
cara menurunkan konsumsi oksigen miokardium lewat penurunan tekanan darah
dan tekanan intrakardiak. Nitrogliserin ini diserap dari mukosa pipi dan dapat
meredakan angina dalam 2- 4 menit.
5. Isosorbid dinitrat (sorbitrat)
Isosorbid dinitrat (sorbitrat) diberikan dengan jumlah dosis 10- 20 mg tiap 2- 4 jam.
Merupakan suatu sediaan nitrat kerja lama yang dapat membantu mencegah angina,
meski mempunyai efek yang berbeda- beda. Obat ini lebih jarang menimbulkan
nyeri kepala dibandingkan dengan nitrogliserin
12

2.2 KONSEP MANAJEMEN KEPERAWATAN


2.2.1 Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan tahap awal pada proses asuhan keperawatan dimana
pengkajian mencakup data-data pasien sehingga dapat mengidentifikasi, menganalisa
masalah kebutuhan kesehatan dan keperawatan fisik, mental, sosial dan lingkungan
(Doenges, 2007:165).
2.2.2 Aktivitas/istirahat
Gejala: Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari, insomnia, nyeri dada
dengan aktivitas, dispnea pada saat istirahat atau aktifitas.
Tanda: Gelisah, perubahan status mental misalnya letargi, tanda-tanda vital berubah
pada aktivitas.
2.2.3 Pemeriksaan fisik B1-B6 (Ardiansyah 2012: 38-42)
2.2.3.1 B1 (Breathing)
Pengkajian yang didapat dengan adanya tanda kongesti vaskular pulmonal
adalah dispnea, ortopnea, dispnea nokturnal paroksimal, batuk, dan edema pulmonal
akut. Hal ini dikenali sebagai bukti gagal ventrikel kiri. Sebelum crackles dianggap
sebagai kegagalan pompa, klien harus diinstruksikan untuk batuk dalam guna
membuka alveoli basilaris yang mungkin di kompresi dari bawah diafragma.
2.2.3.2 B2 (Bleeding)
1. Inspeksi
Inspeksi (pemeriksaan) adanya parut pasca pembedahan jantung. Lihat adanya
dampak penurunan curah jantung.
2. Palpasi
Karena peningkatan frekuensi jantung merupakan respons awal jantung terhadap
stres, ainus takikardi mungkin di curigai dan sering ditemukan pada pemeriksaan klien
dengan kegagalan pompa jantung. Irama lain berhubungan dengan kegagalan pompa
meliputi kontraksi atrium preamture, takikardia atrium paroksimal, dan denyut
ventrikel prematur. Perubahan nadi selama gagal janung menunjukkan denyut yang
cepat dan lemah. Denyut nadi takikdardia mencerminkan respon terhadap rangsangan
saraf simpatis.
13

3. Auskultasi
Tanda fisik yang berkaitan dengan kegagalan ventrikel kiri dapat dikenali dengan
mudah yaitu dua cara. Pertama, bunyi jantung ketiga dan keempat (S3, S4) serta bunyi
crakles pada paru-paru. S4 atau gellop atrium mengikuti kontraksi atrium dan
terdengar paling baik dengan menggunakan bel stetoskop yang ditempelkan tepat pada
apeks jantung. Kedua, S1 tidak selalu tanda pasti kegegalan kongestif, tetapi dapat
menurunkan komplain (peningkatan kekauan) miokard.
2.2.3.3 B3 (Brain)
Kesadaran penderita biasanya agak terganggu apabila terjadi gangguan perfusi
jaringan dalam skala berat. Pengakjian objektif terhadap pasien ditandai dengan wajah
pasien yang terlihat meringis, menangis atau merintih. Kesadaram compos mentis,
didapatkan sianosis perifer apabila gangguan perfusi jaringan berat.
2.2.3.4 B4 (Bladder)
Pengukuran volume keluaran urine berhubungan dengan asupan cairan, karena itu
perawat perlu memantau adanya oliguria karena merupakan tanda awal dari syok
kardiogenik.
2.2.3.5 B5 (Bowel)
Klien biasanya merasakan mual dan muntah, penurunan nafsu makan akibat
pembesaran vena dan stasis vena di dalam rongga abdomen, serta penurunan berat
badan.
2.2.3.6 B6 (Bone)
Hal-hal yang biasanya terjadi dan ditemukan pada pengkajian B6 adalah sebagai
berikut:
1. Kulit dingin
Gagal depan pada ventrikel kiri menimbulkan tanda-tanda berkurangnya perfusi
ke organ-organ.
2. Mudah lelah
Mudah lelah terjadi akibat curah jantung yang kurang, sehingga menghambat
jaringan dari sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya pembuangan sisa hasil
katabolisme.
14

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon
manusia (status kesehatan atau bresiko perubahan pola) dari individu atau kelompok
dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan
intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi,
mencegah dan merubah. Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan Krisis
Hipertensi menurut Ardiansyah (2012: 42-52) yaitu :
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan spasme arteri koroner.
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas
miokardial/perubahan inotropik, perubahan frekuensi, irama dan konduksi
listrik, perubahan struktural.
3. Aktivitas intoleran berhubungan dengan ketidakseimbangan antar suplai
oksigen, kelemahan umum, tirah baring lama/immobilisasi.
4. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi
glomerulus (menurunnya curah jantung)/meningkatnya produksi ADH dan
retensi natrium/air.
5. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan
membran kapiler-alveolus
6. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah
baring lama, edema dan penurunan perfusi jaringan.
7. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan program
pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang
Angina Pektoris Stabil.

2.2.3 Intervensi Keperawatan


Intervensi keperawatan diartikan sebagai suatu dokumentasi tulisan tangan
dalam menyelesaikan masalah, tujuan, dan intervensi (Nursalam, 2001:51).
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas
miokardial/perubahan inotropik, perubahan frekuensi, irama dan konduksi
listrik, perubahan struktural.
Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung.
15

Kriteria hasil : Tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia
terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung, melaporkan penurunan
episode dispnea, angina, ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja
jantung.
Intervensi :
1) Auskultasi nadi apikal, kaji frekuensi dan irama jantung.
Rasional : biasanya terjadi takikardi (meskipun pada saat istirahat) untuk
mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikel.
2) Catat bunyi jantung.
Rasional : S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa. Irama
Gallop umum (S3 dan S4) dihasilkan sebagai aliran darah ke serambi yang
distensi. Murmur dapat menunjukkan inkompetensi/stenosis katup.
3) Palpasi nadi perifer.
Rasional : penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi radial,
popliteal, dorsalis, pedis dan posttibial. Nadi mungkin cepat hilang atau tidak
teratur untuk dipalpasi dan pulsus alternan.
4) Pantau tekanan darah.
Rasional : pada GJK dini, sedang atau kronis tekanan darah dapat meningkat.
Pada HCF lanjut tubuh tidak mampu lagi mengkompensasi dan hipotensi tidak
dapat normal lagi.
5) Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis.
Rasional : pucat menunjukkan menurunnya perfusi perifer sekunder terhadap
tidak adekuatnya curah jantung, vasokontriksi dan anemia. Sianosis dapat terjadi
sebagai refraktori GJK. Area yang sakit sering berwarna biru atau belang karena
peningkatan kongesti vena.
6) Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker dan obat sesuai
indikasi (kolaborasi).
Rasional : meningkatkn sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard untuk
melawan efek hipoksia/iskemia. Banyak obat dapat digunakan untuk
meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan
kongesti.
7) Berikan obat sesuai indikasi : diuretik, vasodilator, antikoagulan.
16

Rasional : tipe dan dosis diuretik tergantung pada derajat gagal jantung dan status
fungsi ginjal. Penurunan preload paling banyak digunakan dalam mengobati
pasien dengan curah jantung relative normal ditambah dengan gejala kongesti.
Diuretik mempengaruhi reabsorpsi natrium dan air. Vasodilator digunakan untuk
meningkatkan curah jantung, menurunkan volume sirkulasi dan tahanan vaskuler
sistemik, juga kerja ventrikel. Antikoagulan digunakan untuk mencegah
pembentukan thrombus/emboli pada adanya faktor risiko seperti statis vena, tirah
baring, disritmia jantung.
8) Pemberian cairan Intra vena.
Rasional : karena adanya peningkatan tekanan ventrikel kiri, pasien tidak dapat
mentoleransi peningkatan volume cairan (preload). Pasien GJK juga
mengeluarkan sedikit natrium yang menyebabkan retensi cairan dan
meningkatkan kerja miokard.
9) Pantau seri EKG dan perubahan foto dada.
Rasional : depresi segmen ST dan datarnya gelombang T dapat terjadi karena
peningkatan kebutuhan oksigen miokard, meskipun tak ada penyakit arteri
koroner. Foto dada dapat menunjukan pembesaran jantung.
10) Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh BUN, kreatinin.
Rasional : peningkatan BUN/Kreatinin menunjukan hipoperfusi/gagal ginjal.
2. Aktivitas intoleran berhubungan dengan ketidakseimbangan antar suplai oksigen,
kelemahan umum, tirah baring lama/immobilisasi.
Tujuan : Klien dapat melakukan aktifitas yang di inginkan
Kriteria hasil : Berpartisipasi pada aktivitas yang di inginkan, memenuhi
perawatan diri sendiri, mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat
diukur, dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan kelelahan.
Intervensi :
1) Catat frekuensi jantung, irama dan perubahan Tekanan Darah selama dan
sesudah aktivitas
Rasional : Respon klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan adanya
penurunan oksigen miokard
2) Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas, dan berikan aktivitas senggang yang tidak
berat
17

Rasional : menurunkan kerja miokard/konsumsi oksigen


3) Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdomen, misal:
mengejan saat defekasi.
Rasional : Dengan mengejan dapat meningkatkan bradikardi, menurunkan curah
jantung dan takikardia, serta peningkatan Tekanan Darah
4) Pertahankan klien dalam posisi tirah baring sementara sakit akut
Rasional : Untuk mengurangi beban jantung
5) Tingkatkan klien duduk di kursi dan tinggikan kaki klien.
Rasional : Untuk meningkatkan venus return
6) Pertahankan rentang gerak pasif selama sakit kritis
Rasional : menignkatkan kontraksi otot sehingga membantu venous return
7) Evaluasi tanda vital saat kemajuan aktivitas terjadi
Rasional : untuk mengetahui fungsi jantung bla dikaitkan dengan aktivitas
8) Pertahankan penambahan O2 sesuai kebutuhan
Rasional : untuk meningkatkan oksigenasi jaringan
9) Selama aktivitas kaji EKG, dispnea, sianosis, kerja dan frekuensi napas, serta
keluhan subjektif
Rasional : melihat dampak dari aktivitas terhadap fungsi jantung.
10) Berikan diet sesuai kebutuhan (pembatasan air dan Na)
Rasional : untuk mencegah retensi cairan dan edema akibat penurunan
kontraktilitas jantung
11) Rujuk ke program rehabilitasi jantung
Rasional : Meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk pemakaian miokardium
sekaligus mengurangi ketidaknyamanan sampai dengan iskemia.
3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi
glomerulus (menurunnya curah jantung)/meningkatnya produksi ADH dan retensi
natrium/air.
Tujuan : Tidak terjadi kelebihan volume cairan
Kriteria hasil : Klien akan mendemonstrasikan volume cairan stabil dengan
keseimbangan masukan dan pengeluaran, bunyi nafas bersih/jelas, tanda vital
dalam rentang yang dapat diterima, berat badan stabil dan tidak ada edema,
menyatakan pemahaman tentang pembatasan cairan individual.
18

Intervensi :
1) Pantau pengeluaran urine, catat jumlah dan warna saat hari dimana diuresis
terjadi.
Rasional : pengeluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi
ginjal. Posisi terlentang membantu diuresis sehingga pengeluaran urine dapat
ditingkatkan selama tirah baring.
2) Pantau/hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam.
Rasional : terapi diuretik dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tiba-
tiba/berlebihan (hipovolemia) meskipun edema/asites masih ada.
3) Pertahakan duduk atau tirah baring dengan posisi semifowler selama fase akut.
Rasional : posisi tersebut meningkatkan filtrasi ginjal dan menurunkan produksi
ADH sehingga meningkatkan diuresis.
4) Pantau TD dan CVP (bila ada).
Rasional : hipertensi dan peningkatan CVP menunjukkan kelebihan cairan dan
dapat menunjukkan terjadinya peningkatan kongesti paru, gagal jantung.
5) Kaji bising usus, catat keluhan anoreksia, mual, distensi abdomen dan
konstipasi.
Rasional : kongesti viseral (terjadi pada GJK lanjut) dapat mengganggu fungsi
gaster/intestinal.
6) Pemberian obat sesuai indikasi (kolaborasi) : diuretik, tiazid.
Rasional : diuretik meningkatkan laju aliran urine dan dapat menghambat
reabsorpsi natrium/klorida pada tubulus ginjal. Tiazid meningkatkan diuresis
tanpa kehilangan kalium berlebihan.
7) Konsultasi dengan ahli diet.
Rasional : perlu memberikan diet yang dapat diterima klien yang memenuhi
kebutuhan kalori dalam pembatasan natrium.
4. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
kapiler-alveolus.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan pertukaran gas
Kriteria hasil : Klien akan mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenisasi
adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh oksimetri dalam rentang normal dan bebas
19

gejala distress pernapasan, berpartisipasi dalam program pengobatan dalam batas


kemampuan/situasi.
Intervensi :
1) Pantau bunyi nafas, catat krekles.
Rasional : menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan secret menunjukkan
kebutuhan untuk intervensi lanjut.
2) Ajarkan/anjurkan klien batuk efektif, nafas dalam.
Rasional : membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran oksigen.
3) Dorong perubahan posisi.
Rasional : membantu mencegah atelektasis dan pneumonia.
4) Kolaborasi dalam Pantau/gambarkan seri GDA, nadi oksimetri.
Rasional : hipoksemia dapat terjadi berat selama oedem paru.
Berikan obat/oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional : meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar, yang dapat memperbaiki/
menurunkan hipoksemia jaringan.
5. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring
lama, edema dan penurunan perfusi jaringan.
Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit.
Kriteria hasil : Klien akan mempertahankan integritas kulit,
mendemonstrasikan perilaku/teknik mencegah kerusakan kulit.
Intervensi :
1) Pantau kulit, catat penonjolan tulang, adanya edema, area sirkulasinya
terganggu/pigmentasi atau kegemukan/kurus.
Rasional : kulit beresiko karena gangguan sirkulasi perifer, imobilisasi fisik dan
gangguan status nutrisi.
2) Pijat area kemerahan atau yang memutih.
Rasional : meningkatkan aliran darah, meminimalkan hipoksia jaringan.
3) Ubah posisi sering ditempat tidur/kursi, bantu latihan rentang gerak pasif/aktif.
Rasional : memperbaiki sirkulasi waktu satu area yang mengganggu aliran darah.
4) Berikan perawatan kulit, minimalkan dengan kelembaban/ekskresi.
Rasional : terlalu kering atau lembab merusak kulit/mempercepat kerusakan.
5) Hindari obat intramuskuler.
20

Rasional : edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorbsi obat


dan predisposisi untuk kerusakan kulit/terjadinya infeksi.
6. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan program
pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman tentang hubungan fungsi
jantung/penyakit/gagal jantung.
Tujuan : Pengetahuan klien bertambah
Kriteria hasil : Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkan episode
berulang dan mencegah komplikasi, mengidentifikasi faktor resiko dan beberapa
teknik untuk menangani, melakukan perubahan pola hidup/perilaku.
Intervensi :
1) Diskusikan fungsi jantung normal.
Rasional : pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan
pada program pengobatan.
2) Kuatkan rasional pengobatan.
Rasional : klien percaya bahwa perubahan program pasca pulang dibolehkan bila
merasa baik dan bebas gejala atau merasa lebih sehat yang dapat meningkatkan
resiko eksaserbasi gejala.
3) Rujuk pada sumber di masyarakat/kelompok pendukung suatu indikasi.
Rasional : dapat menambahkan bantuan dengan pemantauan
sendiri/penatalaksanaan dirumah.

2.2.4 Implementasi Keperawatan


Tahap awal tindakan keperawatan menuntut perawat mempersiapkan segala
sesuatu yang diperlukan dalam tindakan. Persiapan tersebut meliputi kegiatan-
kegiatan: Review tindakan keperawatan yang diidentifikasi pada tahap
perencanaan,menganalisa pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang
diperlukan, mengetahui komplikasi dari tindakan keperawatan yang mungkin
timbul,menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan, mempersiapkan
lingkungan yang konduktif sesuai dengan yang akan dilaksanankan mengidentifikasi
aspekhukum dan etik terhadap resiko dari potensial tindakan.
21

2.2.5 Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang menandakan seberapa
jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil
dicapai. Tujuannya adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan,
sehingga perawat dapat mengambil keputusan dalam mengakhiri rencana tindakan
keperawatan (klien telah mencapai tujuan yang ditetapkan), memodifikasi rencana
tindakan keperawatan (klien mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan pertama),
meneruskan rencana tindakan keperawatan (klien memerlukan waktu yang lebih lama
untuk mencapai tujuan). Proses evaluasi terdiri dari 2 tahap yaitu tahap mengukur
pencapaian tujuan klien yang terdiri dari komponen kognitif, afektif, psikomotor,
perubahan fungsi tubuh dan gejala. Sedangkan tahap kedua adalah tahap penentuan
keputusan pada tahap evaluasi. Dalam tahap yang kedua ini terdapat 2 komponen
untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan yaitu proses (formatif) dan hasil
(sumatif).
2.2.5.1 Proses (formatif)
Fokus evaluasi tipe evaluasi ini adalah aktivitas dari proses keperawatan dan
hasil kualitas pelayanan tindakan keperawatan. Evaluasi proses baru dilaksanakan
segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu keefektifitasan
terhadap tindakan dan harus dilakukan terus menerus sampai tujuan yang telah
dilakukan tercapai.
2.2.5.2 Hasil (Sumatif)
Fokus evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atas status kesehatan pada akhir
tindakan keperawatan.Adapun langkah-langkah evaluasi keperawatan :
1. Mengumpulkan data perkembangan pasien.
2. Menafsirkan (menginteprestasikan) perkembangan pasien.
3. Membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan
menggunakan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
4. Mengukur dan membandingkan perkembangan pasien dengan standar norma yang
berlaku.
Seorang perawat harus mampu menafsirkan hasil evaluasi dari masalah
keperawatan klien yaitu sebagai berikut :
1) Tujuan tercapai
22

Bila klien menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan


sesuai dengan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
2) Tujuan tercapai sebagian
Bila klien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan hanya
sebagian dari kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
3) Tujuan tidak tercapai
Bila klien menunjukkan tidak ada perubahan perilaku dan perkembangan
kesehatan atau bahkan timbul masalah baru.
23

BAB 3
TINJAUAN KASUS

Nama Mahasiswa : Ameriano


NIM : 2013.C.05a.0407
Ruang Praktek : ICVCU
Tanggal Praktek : 20 Maret 2018
Tanggal dan Jam Pengkajian : 20 Maret 2018/ pukul 13.00 WIB

3.1 PENGKAJIAN
3.1.1 Identitas Klien
Nama: : Ny. A
Umur: : 66 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku Bangsa : Dayak/Indonesia
Agama: : Islam
Pekerjaan: : Tidak Bekerja
Pendidikan : SD
Status Perkawinan : Kawin
Alamat : jln. Marang
Tgl MRS : 18 Maret 2018
Diagnosa Medis : Angina Pectoris

3.1.2 Riwayat Kesehatan/Perawatan


3.1.2.1 Keluhan Utama :
Pasien mengatakan: P: Nyeri di dada sebelah kiri, Q: seperti di tusuk-tusuk, R:
di dada bagian kiri, S: skala nyeri 6 (nyeri sedang), T: nyeri terasa hilang timbul
berlangsung ± 10 menit.
3.1.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit ia mengeluh nyeri dada dan
sesak napas lalu pada tanggal 18 Maret 2018 pasien dibawa oleh keluarganya
ke RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya pukul 14:13 wib pasien tiba di

23
24

IGD dengan keluhan nyeri dada seperti ditekan benda berat (+), sesak (+), baru
pulang 2 hari yang lalu dari ruang sakura, mendapatkan penatalaksanaan medis
NaCl 0,9% 7 lpm, inj. Ranitidin 2x10 mg melalui iv, syring pump cedocart 0,5
mg/jam melalui iv, brilinta 1-0-0 melalui oral, aspilex 50 mg 1-0-0 melalui
oral, Antorvastatin 40 mg 0-0-1 melalui oral, sucralfat syirup 3x1 melalui oral,
lalu pasien dianjurkan untuk rawat inap di ruang ICVCU hingga sekarang
dikaji oleh mahasiswa.
3.1.2.3 Riwayat Penyakit Sebelumnya
Pasien mengatakan : Dari bulan desember 2017 sudah sering sakit dan dirawat
di rumah sakit sudah 6 kali, baru saja tanggal 16 Maret 2018 dirawat di ruang
sakura. Pasien tidak pernah menjalani operasi.
3.1.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan didalam anggota keluarganya memiliki penyakit keturuna
seperti penyakit diabetes mellitus. Secara spesifik hubungan anggota keluarga
Ny. A dapat dilihat pada Genogram 3 (tiga) generasi di bawah ini.

66
6

Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Garis Keturunan
: Tinggal Serumah
: Meninggal Dunia
: Pasien
25

3.1.3 Pemeriksaan Fisik


3.1.3.1 Keadaan Umum
Keadaan umum pasien tampak lemah, berbaring semi fowler atau bebas tingkat
kesadaran pasien compos menthis, penampilan pasien tampak rapi dan bersih,
terpasang infus Nacl 0,9% 500cc/ 24 jam di lengan sebelah kanan, terpasang Oksigen
nasal kanul 3 lpm, terpasang Bed Side Monitor untuk memantau tekanan darah, nadi,
respirasi.
3.1.3.2 Status Mental
Tingkat kesadaran compos menthis, ekspresi wajah tampak meringis, bentuk
badan sedang (tidak gemuk atau tidak kurus), suasana hati sedih, berbicara lancar,
fungsi kognitif orientasi waktu pasien dapat membedakan antara pagi, siang, malam,
orientasi orang pasien dapat mengenali keluarga maupun petugas kesehatan, orientasi
tempat pasien mengetahui bahwa sedang berada di rumah sakit. Insight baik,
mekanisme pertahanan diri adaptif.
3.1.3.3 Tanda-tanda Vital
Pada saat pengkajian tanda–tanda vital, tekanan darah 130/75 mmHg, Nadi 99
x/menit, pernapasan 22 x/menit dan suhu 36,50C.
3.1.3.4 Pernapasan (Breathing)
Bentuk dada simetris, pasien tidak merokok, nyeri dada (+), tidak ada sesak
napas, type pernafasan dada dan perut, irama pernafasan teratur, bunyi napas
vesikuler, tidak ada bunyi napas tambahan. terpasang Oksigen nasal kanul 3
Liter/menit.
Keluahan Lainnya : Tidak ada keluhan
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan
3.1.3.5 Cardiovasculer (Bleeding)
Adanya nyeri di bagian dada kadang-kadang, dengan P: Nyeri di dada sebelah kiri, Q:
seperti di tusuk-tusuk, R: di dada bagian kiri, S: skala nyeri 6 (nyeri sedang), T: nyeri
terasa hilang timbul berlangsung ± 10 menit, cappilary refill ≤2 detik, pasien tidak
pucat, dan ditemukan odema kaki, pusing (-), Ictus Cordis tidak terlihat, tidak ada
peningkatan Vena Jugularis, Bunyi Jantung S1 S2 tunggal Lub-dub
Masalah Keperawatan: Iskemia miokardium
26

3.1.3.6 Persyarafan (Brain)

Nilai GCS E:4 ( membuka mata spontan ), V:5 ( orentasi dengan baik ), M
6 ( bergerak sesuai perintah ) dan total Nilai GCS:15 normal, kesadaran Ny.A
compos menthis, pupil Ny.A isokor tidak ada kelainan, reflex cahaya kanan dan kiri
positif.
Uji Syaraf Kranial :
Nervus Kranial I : Olfaktorius (pasien dapat mencium bau-bauan seperti :
minyak kayu putih)
Nervus Kranial II : Optikus (Pasien dapat melihat dengan jelas orang yang
disekitarnya)
Nervus Kranial III : Okulomotoris (Pupil pasien dapat berkontraksi saat
melihat cahaya)
Nervus Kranial IV : Trochlearis (Pasien dapat menggerakkan bola
matanya ke atas dan ke bawah)
Nervus Kranial V : Trigeminus (Pasien dapat mengunyah makanan,
seperti nasi, kue, buah)
Nervus Kranial VI : Abdusen (Pasien dapat melihat ke samping)
Nervus Kranial VII : Fasialis (Pasien dapat tersenyum)
Nervus Kranial VIII : Verstibulocochlearis (Pasien dapat mendengar
perkataan Dokter, Perawat dan keluarganya)
Nervus Kranial IX : Glosofaringeus (Pasien dapat membedakan rasa
pahit, manis)
Nervus Kranial X : Vagus (Pasien dapat berbicara dengan jelas)
Nervus Kranial XI : Asesoris (Pasien dapat mengangkat bahunya)
Nervus Kranial XII : Hipoglosus (Pasien dapat mengatur posisi lidahnya
ke atas dan ke bawah).
Uji Koordinasi
Ekstrimitas atas jari ke jari positif, jari ke hidung positif, ekstrimitas bawah
tumit ke jempol kaki positif. Uji kestabilan tubuh uji kestabilan tubuh Ny. A negatif.
Refleks kanan dan kiri positip tidak ada yang mengalami kekakuan, uji sensasi Ny. A
tidak di kaji tidak ada keluhan dan tidak ada masalah dalam pergerakan atau mental
Ny. A.
27

3.1.3.7 Eliminasi Uri (Bladder)

Produksi urine 150 ml/6 jam dengan 2 kali 150 cc/6 jam buang air kecil (BAK)
warna urine kuning, bau urine amoniak. Eliminasi Ny. A tidak ada masalah atau lancer
yang di alami Ny. A tidak ada keluahan ataupun masalah keperawatan.
3.1.3.8 Eliminasi Alvi (Bowel)

Mulut dan Faring


Bibir tidak pucat, cukup kering. gigi sudah ada yang tanggal, lidah tidak ada
lesi, mukosa baik, tonsil baik, gusi tidak temukannya peradangan ataupun
pembengkakkan. Saat pengkajian pasien tidak ada BAB.
Keluahan Lainnya : Tidak ada keluhan
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan
3.1.3.9 Tulang - Otot – Integumen (Bone)
Pergerakan Ny. A secara bebas dan tidak terbatas, ekstremitas atas 5/5 dan
ekstremitas bawah 5/5 normal pergerakanya dan tidak ada peradangan maupun
deformitas pada tulang, maupun patah tulang. Tidak ada masalah keperawatan
3.1.3.10 Kulit-Kulit Rambut
Riwayat alergi pasien tidak pernah mengalami alergi obat, alergi makanan,
alergi kosmetik. Suhu kulit Ny. A hangat , warna kulit normal tidak ada kelainan,
turgor kulit halus tidak kasar maupun kemerahan tidak ada peradangan, jaringan parut
tidak ada, tekstur rambut lurus, distribusi rambut merata, bentuk kuku simetris tidak
ada kelainan tidak ada masalah keperawatan.
3.1.3.11 Sistem Penginderaan
1) Mata/Penglihatan
Fungsi penglihatan Ny.A baik, gerakan bola mata normal, sklera normal/putih,
konjungtiva tidak pucat, kornea bening, tidak ada keluhan dan nyeri yang di rasakan
pasien, pasien juga tidak menggunakan alat bantu atau kacamata.
2) Hidung/Penciuman
Fungsi penciuman pasien baik, hidung simetris tidak ada peradangan maupun
kelainanan yang di alami pasien.
28

3.1.3.12 Leher Dan Kelenjar Limfe


Massa tidak ada, jaringan parut tidak ada, kelenjar limfe tidak teraba, kelenjar
tyroid tidak teraba, mobilitas leher bergerak bebas tidak terbatas.
3.1.3.13 Sistem Reproduksi
Reproduksi tidak ada mengalami kemerahan, gatal-gatal, perdarahan, tidak ada
kelainan pada sistem reproduksi. Tidak ada masalah keperawatan

3.1.4 Pola Fungsi Kesehatan


3.1.4.1 Persepsi Terhadap Kesehatan dan Penyakit
Pasien mengatakan ia ingin cepat sembuh dan cepat pulang ke rumah.
3.1.4.2 Nutrisi dan Metabolisme
Tinggi badan 149 cm, berat badan sebelum sakit 55 kg, berat badan saat sakit
55 kg. Diet nasi lembek, diet jantung rendah garam, tidak kesukaran menelan
atau normal.
Pola Makan Sehari-hari Sesudah Sakit Sebelum Sakit
Frekuensi/hari 3x sehari 3x sehari
Porsi 1 piring makan 1 piring makan
Nafsu makan Baik Baik
Jenis Makanan Nasi, lauk, sayur, buah Nasi, lauk, sayur
Jenis Minuman Air putih Air putih, teh
Jumlah minuman/cc/24 jam 220 cc/6 jam 600cc/6 jam
Kebiasaan makan Pagi, siang, malam Pagi, siang, malam
Keluhan/masalah Tidak ada Tidak ada
Tabel 2.1 Pola Makan Sehari-hari Ny. A di Ruang ICVCU

3.1.4.3 Pola istirahat dan tidur


Pasien mengatakan sebelum sakit tidur pada malam hari 6-8 jam sedangkan pada
siang hari 1-2 jam. Saat sakit pasien tidur 6-9 jam dan siang hari 1-2 jam tidak ada
masalah keperawatan
29

3.1.4.4 Kognitif
Pasien mengatakan: saya sering masuk rumah sakit karena penyakit yang sama, saya
tau penyakit saya dan saya tidak menyalahkan siapa-siapa terhadap penyakit saya, ini
semua karena saya tidak bisa menjaga kesehatan saya, sayaa ingin cepat sembuh.
Tidak ada masalah keperawatan
3.1.4.5 Konsep diri (Gambaran diri, identitas diri, harga diri, peran )
Gambaran diri: pasien menyukai tubuhnya secara utuh, ideal diri: pasien ingin cepat
sembuh dari penyakit yang di deritanya, identitas diri: pasien seorang ibu dari
anaknya, harga diri: pasien sangat di perhatikan oleh keluarga, Peran: pasien adalah
sebagai ibu untuk anaknya. Tidak ada masalah keperawatan
3.1.4.6 Aktivitas Sehari-hari
Pasien mengatakan sebelum sakit dirumah ia hanya beristirahat dan menjaga
cucu-cucunya, saat sakit hanya berbaring di atas tempat tidur dan mengobrol dengan
keluarga. Tidak ada masalah keperawatan
3.1.4.7 Koping –Toleransi terhadap Stress
Pasien mengatakan bila ada masalah pasien bercerita kepada anak dan
keluarganya. Tidak ada masalah keperawatan
3.1.4.8 Nilai-Pola Keyakinan
Pasien dan keluarga mengatakan tidak ada tindakan medis yang bertentangan
dengan keyakinan yang dianut. Tidak ada masalah keperawatan
3.1.4.9 Sosial-Spritual
3.1.4.10 Kemampuan berkomunikasi
Pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan sangat kooperatif.
3.1.4.11Bahasa sehari-hari
Bahasa yang digunakan pasien sehari-hari, yaitu bahasa dayak, banjar dan
indonesia.
3.1.4.12Hubungan dengan keluarga
Baik, ditandai dengan perhatian yang diberikan oleh keluarga saat Ny. A di
rawat di ICVCU terlihat keluarga selalu menjenguk dan menjaganya.
3.1.4.13 Hubungan dengan teman/petugas kesehatan/orang lain
Pasien dapat berinteraksi dengan baik pada orang lain baik itu dengan
lingkungannya sekitar, perawat maupun dokter.
30

3.1.4.14Orang berarti/terdekat
Orang yang paling dekat dengan Ny. A adalah anaknya.
3.1.5.15 Kebiasaan menggunakan waktu luang
Pasien mengunakan waktu yang luang dengan berkumpul bersama keluarga,
menjaga cucunya dan beristirahat di rumah.
3.2 Data Penunjang (Radiologis, Laboratorium, Penunjang lainnya)
Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 20 Maret 2018
Jenis pemeriksaan Hasil Nilai normal
Glukosa puasa 125 mg/dl 65-100 mg/dl
Glukosa 2 jam pp 189 mg/dl < 140 mg/dl
Natrium (Na) 133 mmol/L 135-148 mmol/L
Kalium (K) 4,3 mmol/L 3,5-5,3 mmol/L
Calcium (Ca) 1.11 mmol/L 0,98-1,2 mmol/L
Tabel 2.2 Data Penunjang Tn.M

Pemeriksaan EKG tanggal 20 Maret 2018


- Hasil: Gelombang Isoelektrik tinggi dilihat dari p1, p2, dan p3

1.1.7 Penatalaksanaan Medis


Terapi Medis Tanggal 17 Januari 2018
- O2 nasal kanul 3 lpm
Nama Obat Terapi Indikasi

Inf. NaCl 0,9 % 500 cc/24 jam Pengganti cairan plasma iotonik yang hilang dan
pengganti cairan pada kondisi alkalosis hipokloremia

Inj. Ranitidine 2x 1 Ampul Via IV Tukak lambung dan doudenum, tukak pasca operasi,
esofagitis erosif, refluks esofagitis, keadaan
hipersekresi patologis. Pengobatan jangka pendek
untuk pasien yang tidak mau diberikan ranitidine oral
31

Syhiring pump cedocard 0,5 mg/jam Obat cedocard atau obat isosorbide dinitrate
merupakan obat anti angina yang biasa diresepkan
oleh dokter untuk mengatasi gejala yang timbul pada
saat terjadi serangan angina atau serangan jatung.
Selain itu obat ini juga sering diresepkan pada pasien
yang mengalami gagal jantung kongestif untuk
mengurangi sesak dan gejala lainnya.

Injeksi Lovenox 0,6 2x1 Terapi angina yang tidak stabil dan infark miokard
gelombang non-Q jika diberikan bersama dengan
asetosal.
Injeksi Lavemir 0-0-8 Levemir Flexpen Injection diindikasikan untuk
perawatan Diabetes tipe 2 pada orang
dewasa, Diabetes tipe 2 pada orang dewasa, Diabetes
tipe 1 pada orang dewasa dan anak-anak yang berusia
minimal 2 tahun dan kondisi lainnya.
Brilinta 1-0-0 Diberikan bersama dengan asam asetil salisilat untuk
mencegah masalah trombosis (kematian jantung, MI
& stroke) pada pasien dengan sindrom koroner akut
(angina yang tidak stabil, NSTEMI & STEMI)
termasuk pasien yang dalam penanganan medis,
dengan intervensi koroner perkutan atau by pass arteri
coroner.
Aspilex 0-1-0 Untuk mengatasi trombosis atau antitrombotik. Obat
ini dapat digunakan untuk pencegahan terhadap
terjadinya serangan jantung, pengobatan gejala pada
saat serangan jantung, dan sebagai pengobatan
tambahan pada saat pasca stroke.
Atorvastatin 40 mg 0-0-1 Atorvastatin adalah obat yang digunakan untuk
menurunkan kadar kolesterol, dan mencegah penyakit
yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler
32

(jantung).
Sucraflat Syrup 3 x 15ml Pengobatan jangka pendek pada ulkus duodenum dan
gaster, gastritis kronis

Metformin 500 mg 3x1 Obat penurun gula darah bagi penderita kencing manis
(diabetes). Terdapat beberapa golongan obat diabetes.
Metformin termasuk dalam golongan obat yang
bekerja menghambat pembentukan gula di dalam hati.

Nitrokap 2x1 Digunakan untuk membantu mengobati angina (nyeri


mendadak di dada), gagal jantung dan operasi jantung.

Table 2.3 Penatalaksanaan Medis Pada Ny. A Di Ruang ICVCU

Palangka Raya, 20 Maret 2018


Mahasiswa,

Ameriano
2013.C.05a.0407

N
I
M
.

2
0
1
0
.
C
.
0
33

3.2 Analisa Data


Data Subyektif dan Data Kemungkinan : Masalah
Obyektif Penyebab
Data Subyektif : “Pasien Kekurangan 02 pada Iskemia miokardium
mengatakan dada saya Jantung
terasa nyeri.
Pasien mengatakan:
Iskemi berlangsung
P: Nyeri di dada sebelah
lama
kiri.

Q: seperti di tusuk-tusuk.
Iskemia miokardium
R: di dada bagian kiri.

S: skala nyeri 6 (nyeri


sedang)

T: Nyeri terasa hilang


timbul berlangsung ±
10 menit.

Data objektif:

- pasien tampak meringis


- Pasien tampak lemas
- Tekanan darah :130/75
mmHg, Nadi :99 x/menit,
Respirasi :22 x/menit dan
Suhu:36,50C.
- Skala nyeri 6 (nyeri
sedang)
- Suara jantung normal S1-
S2 tunggal (lub-dub)
- Hasil pemeriksaan EKG :
Isoelektrik dilihat dari
34

p11,p2, dan p3
gelombangnya tinggi dari
batas normal garis
isoelektrik.

3.3 Prioritas Masalah


1. Iskemia miokardium berhubungan dengan kekurangan 02 pada jantung
dibuktikan dengan pasien mengeluh nyeri di dada sebelah kiri, seperti di tusuk-
tusuk, di dada bagian kiri, skala nyeri 6 (nyeri sedang), nyeri terasa hilang timbul
berlangsung ± 10 menit, pasien tampak meringis, pasien tampak lemas tekanan
darah :130/75 mmHg, Nadi :99 x/menit, Respirasi :22 x/menit dan Suhu:36,50C,
skala nyeri 6 (nyeri sedang), suara jantung normal S1-S2 tunggal (lub-dub), hasil
pemeriksaan EKG : Isoelektrik dilihat dari p11,p2, dan p3 gelombangnya tinggi
dari batas normal garis isoelektrik.
35

3.4 Intervensi Keperawatan


Nama Pasien : Ny. A
Ruang Rawat : ICVCU
Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi Rasional

Iskemia miokardium Setelah dilakukan 1) Observasi tanda-tanda vital pasien 1) Keadaan umum dan tanda-tanda vital
pemberian asuhan
berhubungan dengan 2) Lakukan manajemen nyeri merupakan langkah awal untuk
keperawatan selama 1x7
kekurangan 02 pada jam maka diharapkan : (latihan nafas dalam, distraksi dada menentukan intervensi selanjutnya.
jantung Tujuan : Rasa nyeri dan lain-lain) Pada gagal jantung biasanya didapatkan
berkurang 3) Atur posisi pasien nadi terjadi takikardi.
Menunjukan/menggunakan
perilaku untuk mengurangi 4) Kolaborasi dengan tim dokter dalam 2) Untuk mengurangi nyeri dengan cara
kekambuhan. pemberian terapi analgetik melakukan pengalihan nyeri
Kriteria Hasil : 5) Jelaskan tentang nyeri kepada pasien 3) Memberikan rasa nyaman bagi pasien
- Klien mengatakan nyeri dan keluarga 4) Analgetik memblok lintasan nyeri
berkurang, 5) Penting agar klien mengetahui
- Ekspresi wajah Klien
tidak tampak kesakitan. penyebab dari nyeri dadanya
- Skala nyeri 0.
- TTV dalam batas
normal.
TD : 120/80 mmHg
S : 36,5 oC
RR : 16x/menit
N : 80x/menit

35
36

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN


Hari/Tanggal/ Diagnosa Keperawatan Implementasi Evaluasi
Jam
Selasa, 20 Iskemia miokardium 1. Mengobservasi tanda tanda vital pasien Selasa, 20 Maret 2018 jam 13:00wib –
Maret 2018 berhubungan dengan dipantau melalui monitor 21:00wib
13:00-21.00 kekurangan 02 pada jantung TD : 130/75 mmHg S : Pasien mengatakan : “ Nyeri dada
WIB N : 99 x/m saya sudah berkurang “
RR : 22 x/m O:
1. 13 : 10 wib S : 36,5oC - Klien dapat istirahat dan tidur
2. 13 : 15 wib Dan menanyakan kepada pasien pqrst. - Klien melaporkan nyeri dengan
3. 13 : 20 wib pasien mengeluh nyeri di dada sebelah skala 3 (nyeri ringan)
4. 13 : 25 wib kiri, seperti di tusuk-tusuk, di dada bagian - Hasil TTV :
5. 13 : 35wib kiri, skala nyeri 6 (nyeri sedang), nyeri Pukul 16:30 Wib
terasa hilang timbul berlangsung ± 10 TD : 125/80mmHg
menit. N : 93x/m
2. Mengajarkan pasien teknik relaksasi S : 36,5oC
dengan menarik napas dalam dan distraksi RR : 20 x/m
mendengarkan music/mengobrol dengan - Pasien mendapat tindakan masase
keluarga dari keluarga.
3. Mengatur posisi pasien senyaman - Injeksi ranitidine 1 ampul 50 mg
mungkin yaitu dengan cara menaikan bad melalui intravena
bagian atas sehingga posisi pasien - Penkes nyeri (+)

36
37

berbaring dan semi fowler. A : Masalah Teratasi Sebagian


4. Kolaborasi dengan tim Dokter dalam P : Lanjutkan Intervensi:
pemberian terapi analgetik mendapatkan - Mengobservasi Tanda-tanda
terapi injeksi ranitidine 1 ampul 50 mg vital
melalui iv - Mengtur posisi pasien senyaman
5. Menjelaskan tentang nyeri kepada pasien mungkin
dan keluarga - Kolaborasi dengan tim dokter
1. Pengertian nyeri. dalam pemberian terapi
2. Macam-macam nyeri. analgetik.
3. Penyebab nyeri.
4. Tujuan mengatasi nyeri.
5. Cara mengatasi nyeri.

37