Anda di halaman 1dari 11

JSTFI

Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology


Vol.V, No.2, Juli 2016

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAN FRAKSI


DAUN Ficus pubinervis DENGAN METODE MIKRODILUSI

Feronia Reni, Diki Prayugo W., Dewi Astriany

Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia


________________________________________________________________________

Abstrak

Telah dilakukan penelitian antibakteri terhadap ekstrak dan fraksi daun Ficus pubinervis dengan
metode mikrodilusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol, fraksi n-heksan dan
fraksi etil asetat daun Ficus pubinervis memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri gram
positif (Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Bacillus subtilis) serta bakteri gram negatif
(Escherchia coli, Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), dan Pseudomonas
aeruginosa) terkecuali fraksi air yang tidak menunjukkan aktivitas antibakteri. Kemudian
dilakukan karakterisasi ekstrak dan fraksi dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT).
Ekstrak etanol daun Ficus pubinervis menunjukkan aktivitas antibakteri dengan Konsentrasi
Hambat Minimum dan Konsentrasi Bunuh Minimum lebih dari 1000 mg/mL, sedangkan pada
fraksi n-heksan dan fraksi etil asetat menunjukkan Konsentrasi Hambat Minimum lebih dari
1000 mg/mL.

Kata kunci : daun Ficus pubinervis, antibakteri, mikrodilusi, kromatografi lapis tipis

Abstract

There has been conducted research to determine antibacterial activity of extracts and fractions
from Ficus pubinervis leaf using microdilution method. The research shows that ethanol
extracts, n-hexane fraction and ethyl acetate fraction have antibacterial activity towards gram-
positive bacteria (Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, and Bacillus subtilis) and gram
negative bacteria (Escherchia coli, Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), and
Pseudomonas aeruginosa) but water fraction doesn’t showed any antibacterial activity. Extract
and fractions of Ficus pubinervis were characterized by Thin Layer Chromatography (TLC)
method. Ethanol extract of Ficus pubinervis leaf showed antibacterial activity with Minimum
Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) were found
more than 1000 mg/mL, while the n-hexane fraction and ethyl acetate fraction showed Minimum
Inhibitory Concentration (MIC) more than 1000 mg/mL.

Keywords : Ficus pubinervis leaf, antibacterial, microdilution, thin layer chromatography


_____________________________________________________________________________

23
JSTFI
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology
Vol.V, No.2, Juli 2016

PENDAHULUAN familia Moraceae. Di antara jenis spesies


Penggunaan bahan yang berasal ini diketahui mengandung saponin,
dari tanaman sebagai bahan obat tradisional flavonoid, dan polifenol. (Chiang, 2011)
mengalami peningkatan dengan Beberapa spesies Ficus telah
dilakukannya penelitian terhadap beberapa menunjukkan adanya aktivitas
tanaman yang bermanfaat di sekitar antimikroba, diantaranya Ficus benjamina
masyarakat, khususnya yang berkhasiat (Pertanika, 2001), Ficus microcarpa
dalam bidang pengobatan. (Changwei, 2007), Ficus cordata (Kuete,
Walaupun telah ditemukan obat- 2008), Ficus asperifolia (Annan, 2008),
obat antimikroba sejak lebih dari 50 tahun Ficus chlamydocarpa (Kuete, 2008), Ficus
yang lalu, infeksi masih merupakan ovata (Victor, 2009), Ficus carica (Jeong,
masalah kesehatan yang signifikan. Infeksi 2009), Ficus septica (Pierangeli et al., 2010),
disebabkan oleh masuknya mikroba atau Ficus polita Vahl. (Victor, 2011), Ficus
parasit atau bahkan metabolit dari satu racemosa (Murti, 2011), Ficus benghalensis
mikroba ke dalam sel tuan rumah dan (Murti, 2011), Ficus exasperata (Lawal,
menyebabkan gangguan fisiologis pada sel 2012), Ficus religiosa (Parasharami dkk.,
inang. Infeksi dapat terjadi jika 2014), Ficus deltoidea Jack (Bunawan
mikroorganisme yang masuk dapat dkk., 2014), Ficus hispida (Sanowar et al.,
mengalahkan pertahanan tubuh. Contoh 2014), Ficus pumila (Noronha, 2014), dan
mikroba antara lain kapang, fungi, bakteri, Ficus sycomorus (Saleh, 2015).
protozoa dan virus. Berbagai penelitian Di antara Ficus tersebut, salah
dilakukan dalam rangka mencegah dan satunya adalah Ficus sycomorus. Telah
mengobati penyakit infeksi. Pada terbukti bahwa ekstrak etanol daun Ficus
prinsipnya pengobatan penyakit infeksi sycomorus memiliki aktivitas antimikroba
mikroba dilakukan dengan cara terhadap Staphylococcus aureus dengan
menghambat pertumbuhan mikroba diameter zona inhibisi 16,5 ± 0,4 mm dan
penyebabnya, sehingga obatnya dikenal Acinetobacter baumannii dengan diameter
dengan istilah antimikroba. (Davey, 2006) zona inhibisi 23,0 ± 0,7 mm (Saleh, 2015).
Salah satu tanaman dari bahan alam Pengujian terhadap ekstrak metanol daun
adalah Ficus yang merupakan genus Ficus pubinervis telah dilakukan sebelumnya
tumbuh-tumbuhan yang secara alamiah menunjukkan adanya aktivitas antibakteri
tumbuh di daerah tropis dengan sejumlah dengan zona inhibisi 12,83 ± 0,58 mm pada
spesies hidup di zona ugahari. Terdiri dari bakteri Bacillus subtilis, dan 14,73 ± 0,15
sekitar 800 spesies dan 2000 jenis Ficus. mm terhadap Escherichia coli, namun tidak
Ficus dapat berupa semak, tanaman menunjukkan adanya aktivitas antimikroba
menjalar dan epifit serta hemi-epifit dalam pada jamur. Hal ini yang mendasari untuk

24
JSTFI
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology
Vol.V, No.2, Juli 2016

dilakukannya penelitian lebih lanjut aureus (MRSA) diperoleh dari koleksi


mengenai aktivitas antibakteri terhadap fraksi Sekolah Farmasi Institut Teknologi
ekstrak etanol daun Ficus pubinervis. Bandung. Bahan kimia yang digunakan
Aktivitas antibakteri dipengaruhi oleh adalah etanol, n-heksana, etil asetat, spirtus,
konsentrasi serta kemampuan antibakteri dari ammonia, kloroform, asam klorida 2N,
setiap tanaman berbeda, oleh sebab itu perlu pereaksi Mayer, pereaksi Dragendorff,
diketahui konsentrasi hambat minimum larutan besi (III) klorida, larutan gelatin
(KHM) dari setiap tanaman. 1%, serbuk magnesium, amil alkohol, eter,
Berdasarkan pendahuluan di atas, pereaksi Lieberman-Burchard, larutan
maka penelitian ini dimaksudkan untuk vanillin-asam sulfat, kalium hidroksida,
menguji aktivitas antibakteri dari ekstrak Mueller Hinton Agar (MHA), Mueller
etanol daun Ficus terhadap bakteri Bacilus Hinton Broth (MHB), DMSO, akuades
substilis, Staphylococcus aureus, steril, dan tetrasiklin.
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa,
Bacilus cereus, serta Methicillin resistant Determinasi Tanaman dan Persiapan
Staphylococcus aureus (MRSA). Bahan
Determinasi tanaman Ficus
METODOLOGI pubinervis dilakukan di Herbarium
Alat–alat yang digunakan adalah Bogoriense Pusat Penelitian Biologi
perlengkapan maserasi, timbangan analitik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(Henherr®), oven (Memmert), inkubator (LIPI).
(Jenaco®), autoklaf (My Life®), rotary Penyiapan bahan meliputi
®
evaporator (IKA ), spektrofotomeri UV pengumpulan daun Ficus pubinervis,
Visible (Shimadzu), lampu UV (Camag), pemilihan daun yang sehat (sortasi basah),
Laminar Air Flow (LAF), waterbath, pipet pencucian, pengeringan dilanjutkan dengan
mikro (Socorex), alat gelas kimia (Pyrex), perajangan sampai didapat potongan-
microplate, dan plat KLT (silika GF254). potongan kecil, kemudian penggilingan
Bahan yang digunakan yaitu daun bahan sehingga diperoleh serbuk kering.
Ficus pubinervis B.L. yang diperoleh dari
Herbarium Bogoriense Pusat Penelitian Skrining Fitokimia
Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Skrining fitokimia dilakukan
Indonesia (LIPI). Bakteri uji yang terhadap simplisia, ekstrak, serta fraksi dari
digunakan adalah bakteri Bacillus substilis, daun Ficus pubinervis, untuk memeriksa
Staphylococcus aureus, Escherichia coli, adanya senyawa metabolit sekunder. Secara
Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis umum pemeriksaan ini meliputi alkaloida,
dan Methicillin Resistant Staphylococcus flavonoid, tanin, polifenol, triterpenoid,

25
JSTFI
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology
Vol.V, No.2, Juli 2016

steroid, kuinon, saponin, monoterpen, dan 2. Penyiapan Media


seskuiterpen. Media agar dibuat dengan cara
melarutkan Mueller Hinton Agar (MHA)
Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Ficus sebanyak 3,8 gram dalam 100 mL akuades,
pubinervis dan 3,6 gram Mueller Hinton Broth (MHB)
Ekstraksi daun Ficus dilakukan dalam 100 mL akuades. Media agar
dengan metode dingin yaitu maserasi. disterilisasi menggunakan autoklaf selama
Simplisia diekstraksi dengan etanol selama 15 menit pada tekanan 1 atm dengan suhu
3 x 24 jam. Setelah itu maserat dipisahkan 121 ºC.
dari residu dan selanjutnya dikentalkan 3. Penyiapan Mikroba
menggunakan alat vakum putar (rotary Mikroba uji diremajakan terlebih
0
evaporator) pada suhu 40-50 C. dahulu pada agar miring, lalu diinkubasi
pada inkubator. Mikroba uji hasil dari
Pengujian Aktivitas Antimikroba peremajaan masing-masing disuspensikan
Ekstrak dan Fraksi daun Ficus dalam larutan Mueller Hinton Broth
pubinervis (MHB), dengan mengambil 1 ose bakteri
Pengujian aktivitas antimikroba dari kemudian di inkubasi selama 18-24 jam.
ekstrak etanol daun Ficus dilakukan Suspensi bakteri kemudian diukur
menggunakan metode mikro dilusi (difusi absorbansinya dengan spektrofotometer
agar). Tahap-tahap yang dilakukan untuk UV-Vis (absorbansi = 0,08-0,150). Setelah
pengujian aktivitas antimikroba adalah mencapai absorbansi tertentu kemudian
sebagai berikut : dilakukan pengenceran 1 : 20 (CLSI).
1. Sterilisasi alat dan bahan 4. Penentuan Konsentrasi Hambat
Peralatan dan bahan yang digunakan Minimum (KHM)
dalam pengujian disterilisasi terlebih Penentuan KHM dilakukan pada
dahulu. Alat seperti gelas kimia, tabung ekstrak etanol daun Ficus dengan metode
reaksi, batang pengaduk, vial, erlenmeyer mikrodilusi. Pada mikroplate dimasukkan
ataupun bahan uji seperti Mueller Hinton media Mueller Hinton Broth (MHB)
Agar (MHA), Mueller Hinton Broth sebanyak 100 µL. Kemudian dimasukkan
(MHB), dan akuades disterilisasi ekstrak daun Ficus pubinervis dengan
menggunakan autoklaf pada suhu 121 ºC variasi konsentrasi yaitu 16.000 ppm, 8.000
selama 15 menit. Untuk alat seperti kawat ppm, 4.000 ppm, 2.000 ppm, 1.000 ppm,
ose, spatel disterilkan dengan cara 500 ppm, 250 ppm, 125 ppm, 62,5 ppm,
dipanaskan di atas nyala api. dan 31,25 ppm. Selanjutnya ditambahkan
suspensi bakteri sebanyak 10 µL. Sebagai
kontrol positif digunakan tetrasiklin.

26
JSTFI
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology
Vol.V, No.2, Juli 2016

Selanjutnya bakteri diinkubasi pada suhu Fraksi kental diuapkan dengan penangas air
37 ºC selama 18-24 jam, dan diamati pada suhu 40-50 ºC sampai diperoleh fraksi
kekeruhannya. kering. Ketiga fraksi yang diperoleh,
5. Penentuan Konsentrasi Bunuh kemudian diuji aktivitas antimikrobanya.
Minimum (KBM) (Salni dkk., 2011)
Penentuan KBM dilakukan pada
ekstrak etanol daun Ficus dengan Pengujian Aktivitas Antimikroba Fraksi
menggunakan metode difusi padat. Ekstrak Daun Ficus pubinervis
Pengujian dilakukan menggunakan media Pengujian aktivitas antimikroba
Mueller Hinton Agar (MHA). Cawan petri dilakukan pada fraksi n-heksan, etil asetat,
disiapkan kemudian dimasukkan ke dan air, sebagai kontrol positif digunakan
dalamnya media Mueller Hinton Agar tetrasiklin. Uji aktivitas dilakukan terhadap
(MHA) sebanyak 15 mL dan didiamkan bakteri Bacillus substilis, Staphylococcus
sampai padat, kemudian dioleskan suspensi aureus, Escherichia coli, Pseudomonas
bakteri, selanjutnya diinkubasi pada suhu aeruginosa, Bacillus subtilis dan
37 ºC selama 18-24 jam. Methicillin Resistant Staphylococcus
aureus (MRSA). Aktivitas antimikroba
Fraksinasi tersebut meliputi penentuan KHM dan
Pemisahan ekstrak etanol kental KBM dari setiap fraksi.
dilakukan dengan metode ECC (Ekstraksi 1. Penentuan Konsentrasi Hambat
Cair-Cair) dengan pelarut n-heksan, etil Minimum (KHM)
asetat dan air secara sinambung. Fraksinasi Penentuan KHM dilakukan pada
dilakukan sebagai berikut : ekstrak etanol fraksi n-heksan, etil asetat, dan air daun
dilarutkan dalam air 40 ºC sebanyak 100 Ficus dengan menggunakan metode
mL kemudian disaring. Selanjutnya filtrat mikrodilusi. Pada mikroplate dimasukkan
dimasukkan ke dalam corong pisah, media Mueller Hinton Broth (MHB)
ditambahkan 100 mL n-heksan, dikocok sebanyak 100 µL, kemudian ditambahkan
secara perlahan-lahan, setelah didiamkan ekstrak daun Ficus pubinervis dengan
terjadi pemisahan antara fraksi n-heksan variasi konsentrasi yaitu 16.000 ppm, 8.000
dan air. Fraksi n-heksan dipisahkan, ppm, 4.000 ppm, 2.000 ppm, 1.000 ppm,
kemudian diulangi beberapa kali sampai 500 ppm, 250 ppm, 125 ppm, 62,5 ppm,
larutan berwarna bening. Fraksinasi dan 31,25 ppm sebanyak 100 µL.
dilanjutkan menggunakan etil asetat dengan Selanjutnya ditambahkan suspensi bakteri
proses yang sama dengan n-heksan. Fraksi sebanyak 10 µL. Sebagai kontrol positif
n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air digunakan tetrasiklin. Selanjutnya bakteri
diuapkan, sehingga diperoleh fraksi kental.

27
JSTFI
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology
Vol.V, No.2, Juli 2016

diinkubasi pada suhu 37 ºC selama 18-24 HASIL DAN PEMBAHASAN


jam. Bahan baku daun Ficus pubinervis
2. Penentuan Konsentrasi Bunuh diperoleh dari Pusat Konservasi Tumbuhan
Minimum (KBM) Kebun Raya Bogor. Determinasi tanaman
Penentuan KBM dilakukan dengan Ficus pubinervis dilakukan di Herbarium
fraksi daun Ficus yang memberikan Bogoriense Pusat Penelitian Biologi
aktivitas antimikroba menggunakan metode Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
difusi padat. Pengujian dilakukan (LIPI). Hasil determinasi menyatakan
menggunakan media Mueller Hinton Agar bahwa tanaman yang diperiksa benar
(MHA). Cawan petri disiapkan kemudian merupakan tanaman dari Ficus pubinervis.
dimasukkan media Mueller Hinton Agar
(MHA) sebanyak 15 mL dan didiamkan Ekstraksi Ficus pubinervis
sampai padat, kemudian dioleskan suspensi Simplisia daun Ficus pubinervis
bakteri, selanjutnya diinkubasi pada suhu sebanyak 790,55 gram diekstraksi dengan
37 ºC selama 18-24 jam. metode maserasi menggunakan penyari
etanol. Pemilihan metode tersebut karena
Kromatografi Lapis Tipis belum ada literatur yang menjelaskan
Pengujian dengan metode tentang stabilitas zat yang memiliki
kromatografi lapis tipis dilakukan untuk aktivitas antibakteri dari daun Ficus
mengetahui nilai Rf senyawa aktif pubinervis. Rendeman ekstrak kental
antimikroba. Pengujian dilakukan dengan ditentukan. Nilai rendemen menunjukkan
menotolkan ekstrak dan fraksi pada plat persentase ekstrak yang didapat dari
silika gel GF254, kemudian dikembangkan sejumlah simplisia. Hasil ekstrak kental
dengan fase gerak yang sesuai untuk daun Ficus pubinervis adalah sebesar 81,32
pemisahan senyawa. Keberadaan metabolit gram dengan rendemen sebesar 10,29%.
sekunder dipantau dengan penampak
bercak UV 254 nm dan 366 nm. Hasil KLT Penapisan Fitokimia
kemudian disemprot dengan pereaksi Penapisan fitokimia merupakan tahap
H2SO4, ammonia dan FeCl3, kemudian awal untuk mengidentifikasi golongan
diamati perubahan warna spot pada senyawa yang terdapat pada daun Ficus
lempeng KLT. pubinervis. Pengujian fitokimia dilakukan
terhadap simplisia, ekstrak dan fraksi daun
Ficus pubinervis. Hasil penapisan fitokimia
daun Ficus pubinervis dapat dilihat pada
Tabel 1.

28
JSTFI
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology
Vol.V, No.2, Juli 2016

Tabel 1. Hasil Penapisan Fitokimia Simplisia, Ekstrak, dan Fraksi Ficus pubinervis
Ekstrak Fraksi
Golongan Senyawa Simplisia
Etanol n-Heksan Etil Asetat Air
Alkaloid + + - - +
Flavonoid + + - + +
Tanin + - - - -
Monoterpen dan Seskuiterpen + + + + -
Steroid dan Terpenoid - - - - -
Kuinon + + + + +
Saponin - + - - -
Fenolat + + + + +
Keterangan : (-) tidak terdeteksi ; (+) terdeteksi

Dari hasil penapisan fitokimia kemudian difraksinasi menggunakan


simplisia, ekstrak dan fraksi daun Ficus metode ekstraksi cair-cair (ECC) dengan
pubinervis diketahui bahwa simplisia daun tujuan yaitu untuk memisahkan satu
Ficus pubinervis mengandung senyawa komponen bahan atau lebih dari suatu
fenolat, kuinon, monoterpen dan campuran pelarut, serta didasarkan pada
seskuiterpen, flavonoid, alkaloid serta distribusi zat terlarut dengan perbandingan
tannin. Ekstrak daun Ficus pubinervis tertentu antara dua pelarut yang tidak saling
mengandung senyawa kimia alkaloid, bercampur. Fraksinasi dilakukan untuk
flavonoid, monoterpen dan seskuiterpen, memisahkan kandungan metabolit sekunder
kuinon, saponin dan fenolat. Fraksi ekstrak berdasarkan sifat kepolarannya. Ekstrak
etanol daun Ficus pubinervis memiliki etanol daun Ficus pubinervis difraksinasi
kandungan senyawa kuinon dan fenolat, menggunakan tiga macam pelarut yang
untuk fraksi n-heksan juga mengandung memiliki perbedaan kepolaran. Pemilihan
senyawa monoterpen dan seskuiterpen. pelarut dengan kepolaran bertingkat
Kemudian fraksi etil asetat juga bertujuan agar terjadi pengelompokan
mengandung monoterpen dan seskuiterpen senyawa berdasarkan tingkat kepolarannya.
serta flavonoid. Fraksi air mengandung Adapun pelarut yang digunakan pada
metabolit sekunder lain seperti alkaloid dan proses fraksinasi daun Ficus pubinervis
flavonoid. yaitu n-heksan, etil asetat dan air. Hasil
fraksi ekstrak etanol daun Ficus pubinervis
Fraksinasi Ficus pubinervis dapat dilihat pada Tabel 2.
Ekstrak kental yang diperoleh Hasil fraksi etil asetat memberikan

Tabel 2. Hasil Fraksinasi Ekstrak Etanol Daun Ficus pubinervis


Fraksi Berat Fraksi (g) Persentase Fraksi terhadap ekstrak
Fraksi n-heksan 0,060 0,10 %
Fraksi etil asetat 10,357 17,26 %
Fraksi air 6,056 10,09 %

29
JSTFI
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology
Vol.V, No.2, Juli 2016

rendemen paling besar yaitu sebesar Pengujian Konsentrasi Bunuh Minimum


17,26%. Hal ini menunjukan bahwa (KBM) Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun
senyawa-senyawa aktif ekstrak etanol daun Ficus pubinervis
Ficus pubinervis relatif bersifat semipolar. Hasil pengujian konsentrasi bunuh
minimum (KBM) dari ekstrak etanol dan
Pengujian Konsentrasi Hambat fraksi daun Ficus pubinervis terhadap
Minimum (KHM) Ekstrak Etanol dan bakteri Bacillus subtilis, Escherichia coli,
Fraksi Daun Ficus pubinervis Pseudomonas aeruginosa, Staphyloccus
Pengujian KHM bertujuan untuk aureus, Bacillus cereus, dan Methicillin
mengetahui kadar minimal yang diperlukan Resistant Staphylococcus aureus (MRSA)
yang masih mampu menghambat dapat dilihat pada Tabel 4.
pertumbuhan bakteri. Penetapan KHM Berdasarkan pada pengujian aktivitas
dilakukan dengan metode mikrodilusi antibakteri fraksi daun Ficus pubinervis
terhadap bakteri Bacillus subtilis, didapat bahwa ketiga fraksi tidak memiliki
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, KBM mengingat konsentrasi hambat
Staphyloccus aureus, Bacillus cereus, dan minimumnya terdapat pada konsentrasi
Methicillin Resistant Staphylococcus yang tinggi. Ekstrak etanol daun Ficus
aureus (MRSA). Hasil penetapan pubinervis memiliki konsentrasi bunuh
konsentrasi hambat minimum (KHM) dari minimum lebih dari 1000 mg/mL pada
ekstrak dan fraksi daun Ficus pubinervis bakteri Escherichia coli, Staphyloccus
terhadap bakteri dapat dilihat pada Tabel 3. aureus, Bacillus cereus dan Methicillin
Berdasarkan hasil pengujian aktivitas Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).
antibakteri, fraksi daun Ficus pubinervis
memiliki aktivitas antibakteri dengan tidak Pemantauan Metabolit Sekunder dengan
terbentuknya kekeruhan. Dalam metode Kromatografi Lapis Tipis
mikrodilusi adanya kekeruhan Pengujian dengan kromatografi lapis
menunjukkan tidak ada aktivitas tipis dilakukan untuk memantau kandungan
antibakteri. Pengujian dilakukan pada metabolit sekunder yang terkandung dalam
rentang konsentrasi dari 16.000 ppm hingga ekstrak dan fraksi Ficus pubinervis.
31,25 ppm. Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa Pemantauan dilakukan terhadap fraksi yang
konsentrasi hambat minimum (KHM) dari memiliki aktivitas antibakteri yaitu fraksi
ekstrak dan fraksi daun Ficus pubinervis etil asetat, menggunakan fase gerak etil
berada pada rentang lebih dari 1000 asetat, n-heksan dan etanol. Hasil KLT
mg/mL. dideteksi menggunakan lampu UV 254 nm
dan 366 nm. Perbandingan fase gerak etil

30
JSTFI
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology
Vol.V, No.2, Juli 2016

asetat, n-heksan dan etanol yang paling baik kehitaman dengan Rf 0,37; 0,55; 0,71 dan
adalah 6,5 : 3 : 0,5. 0,84 yang terbentuk menunjukkan adanya
Hasil KLT fraksi etil asetat daun senyawa karbon. Pereaksi yang digunakan
Ficus pubinervis dengan fase gerak etil selanjutnya adalah FeCl3 yang
asetat : n-heksana : etanol yang diamati menghasilkan satu spot berwarna hitam
pada panjang gelombang 254 nm dengan Rf 0,71 diduga sebagai senyawa
menghasilkan satu spot berwarna abu-abu fenolat (Andersen et al., 2006).
gelap dengan Rf 0,55; sedangkan pada Kromatogram lainnya disemprot dengan
panjang gelombang 366 nm menghasilkan pereaksi ammonia memberikan spot
dua spot dengan Rf 0,37 dan 0,84. berwarna semula biru muda menjadi murup
Untuk lebih memperjelas golongan biru muda dengan Rf 0,37 dan 0,84.
senyawa yang terdapat pada ekstrak dan Melihat dari ciri-ciri metabolit
fraksi daun Ficus pubinervis, maka sekunder yang terdapat dalam fraksi etil
dilakukan penyemprotan kromatogram asetat memberikan fluoresensi berwarna
menggunakan beberapa pereaksi penampak biru muda, metabolit sekunder tersebut
bercak, seperti asam sulfat pekat yang diduga merupakan golongan isoflavon.
disemprotkan pada kromatogram kemudian (Markham, 1988).
dipanaskan sehingga terbentuk bercak
hitam kecoklatan pada spot. Bercak coklat

Tabel 3. Hasil Pengujian KHM Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Ficus pubinervis
Konsentrasi (ppm)
Tanaman
BS EC PA SA BC MRSA
Ekstrak Etanol >1000 >1000 >1000 >1000 >1000 >1000
Fraksi n-heksan >1000 - >1000 >1000 >1000 >1000
Fraksi etil asetat >1000 >1000 >1000 >1000 >1000 >1000
Fraksi air - - - - - -
Keterangan :
BS : Bacillus subtilis SA : Staphyloccus aureus,
EC : Escherichia coli BC : Bacillus cereus
PA : Pseudomonas aeruginosa MRSA : Methicillin Resistant S.A

Tabel 4. Hasil Pengujian KBM Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Ficus pubinervis
Konsentrasi (ppm)
Tanaman
BS EC PA SA BC MRSA
Ekstrak Etanol - >1000 - >1000 >1000 >1000
Fraksi n-heksan - - - - - -
Fraksi etil asetat - - - - - -
Fraksi air - - - - - -
Keterangan :
BS : Bacillus subtilis SA : Staphyloccus aureus,
EC : Escherichia coli BC : Bacillus cereus
PA : Pseudomonas aeruginosa MRSA : Methicillin Resistant S.A

31
JSTFI
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology
Vol.V, No.2, Juli 2016

A B C D E
Gambar 1. Kromatogram hasil KLT fraksi etil asetat daun Ficus pubinervis dengan fasa
gerak etil asetat : n-heksana : etanol (6,5 : 3 : 0,5) tampak visual A : UV 254
nm; B : UV 366 nm; C : penampak bercak H2SO4; D : penampak bercak
FeCl3; E: penampak bercak ammonia.

SIMPULAN Staphyloccus aureus, Bacillus cereus, serta


Hasil penapisan fitokimia simplisia, Methicillin Resistant Staphylococcus
ekstrak dan fraksi Ficus pubinervis aureus (MRSA). Fraksi n-heksana
mengandung senyawa fenolat dan kuinon. memiliki aktivitas antibakteri terhadap
Senyawa alkaloid terkandung dalam bakteri Escherichia coli, dan fraksi air
simplisia, ekstrak dan fraksi air. Senyawa Ficus pubinervis tidak menunjukan adanya
flavonoid terkandung dalam simplisia, aktivitas antibakteri. Ekstrak Ficus
ekstrak, fraksi etil asetat dan fraksi air. pubinervis menunjukan adanya aktivitas
Senyawa monoterpen dan seskuiterpen antibakteri terhadap bakteri Staphyloccus
terkandung dalam simplisia, ekstrak, fraksi aureus dan Bacillus cereus dengan KBM
etil asetat dan fraksi n-heksan. Senyawa diatas 1000 ppm.
saponin terkandung dalam ekstrak Ficus
pubinervis. Senyawa tanin terkandung DAFTAR PUSTAKA
dalam simplisia Ficus pubinervis. Senyawa Berg, C. C. & Corner, E. J. H. 2005.
steroid dan terpenoid tidak terkandung pada Moraceae. In: Flora Malesiana Ser I,
semua jenis Ficus pubinervis. vol.17, Part 2.
Berdasarkan hasil pengujian Chiang, Y. M., Su, J. K., Liu, Y. H., dan
dibuktikan bahwa ekstrak dan fraksi etil Kuo, Y. H, 2011, New
asetat Ficus pubinervis memiliki aktivitas cyclopropyltriterpenoids from the
antibakteri dengan KHM lebih dari 1000 aerial roots of Ficus microcarpa,
ppm terhadap bakteri Bacillus subtilis, Chemical and Pharmaceutical
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Bulletin, 49 May, 581-583.

32
JSTFI
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology
Vol.V, No.2, Juli 2016

Davey, Patric. 2006. Medicine at a Glance.


(diterjemahkan oleh : Annisa
Rahmalia, Cut Novianty) : Erlangga.
Hal. 60-62.
Markham, K. R. 1988. Cara
Mengidentifikasi Flavonoida.
Terjemahan Kosasih Padmawinata :
ITB Press. Bandung. Hal. 15-36.
McFarlane et al. 2002. Essential of
Microbiology for Dental Student.
New York : Oxford.
Samah, O. A., N. T. A. Zaidi, and A. B.
Sule. 2012. Antimicrobial activity of
Ficus deltoidea Jack. Pakistan
Journal of Pharmaceuticals Sciences,
vol. 25 no. 3, pp. 675-678.
Salni, Marisa, H., dan Mukti, R.W., 2011,
Isolasi Senyawa Antibakteri Dari
Daun Jengkol (Pithecolobium
lobatum Benth) dan Penentuan Nilai
KHM-nya, Jurnal Penelitian Sains,
14, No., 1 (D):38-41.
Sastrohamidjojo, H., 1983, Kromatografi,
Universitas Gajah Mada, Yogyakarta,
hlm.29.
Shahriar, M., S. Islam, S. Parvin, S. Hoque.
2013. Thrombolytic Activity and
Antimicrobial Properties of Ficus
hispida. J. Sci. Res. 5 (2), 393-397.

33