Anda di halaman 1dari 20

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Pasien Luka bakar


1. Pengkajian
a. Identitas klien dan keluarga
1). Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama,
pekerjaan, suku bangsa, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor
registrasi dan adekuat.
2). Identitas penanggung jawab.
Meliputi nama, jenis kelamin, pekerjaan, hubungan dengan klien
dan alamat.

b. Riwayat kesehatan
1). Keluhan utama
Biasanya pasien dengan luka bakar mengeluh adanya nyeri,
tergantung dari derajat luka bakar dan luasnya luka bakar juga
menentukan beratnya nyeri. Misalnya daerah wajah akan lebih
mengalami nyeri yang lebih berat bila dibandingkan dengan
daerah ekstrimitas. Selain itu luka bisa disertai dengan tanda-
tanda syok seperti penurunan kesadaran, tanda-tanda vital yang
tidak stabil.
2). Riwayat Kesehatan Sekarang
Saat dikaji pasien mengeluh Nyeri pada daerah yang terkena luka
bakar, napas sesak, sering merasa haus dan tidak napsu makan
3). Riwayat Kesehatan Dahulu
Perlu dikaji apakah pernah mengalami luka bakar sebelumnya,
riwayat pengobatan luka bakar terdahulu.Kaji riwayat penyakit
jantung, ginjal, paru-paru dan DM.

4). Riwayat Kesehatan Keluarga


Kaji adakah riwayat penyakit yang sama pada keluarga klien
seperti yang dialaminya sekarang. Apakah dalam keluarga klien
ada yang punya penyakit keturunan seperti asma, jantung dan
DM.

5). Struktur keluarga


Menggambarkan kedudukan klien dalam keluarga.

c. Data Biologis
Untuk mengetahui aktivitas antara di rumah dan di rumah sakit
meliputi pola makan, tidur, kebersihan dan eliminasi.

d. Pemeriksaan Fisik
1). Keadaan umum
Biasanya tanda-tanda syok seperti penurunan kesadaran dapat
dialami oleh pasien dan tanda-tanda vital tidak stabil.

2). Sistem pernafasan


Bila terjadi luka bakar didaerah wajah, leher, dan dapat
memungkinkan terjadinya obstruksi jalan napas yang
menyebabkan gangguan pertukaran gas, selain itu jaringan
nekrosis dari luka bakar dapat mengelurkan burn toksin ke dalam
sirkulasi sistemik yang menyebabkan disfungsi paru-paru
sehingga terjadi ARDS.

3). Sistem kardiovaskular


Terjadinya penurunan curah jantung akibat kehilangan cairan dan
berkurangnya volume vaskular.Terjadinya penurunan tekanan
darah yang merupakan awitan shock luka bakar.

4). Sistem pencernaan


Respon umum yang terjadi pada pasien luka bakar lebih dari 20
% adalah penurunan aktivitas gastrointestinal hal ini disebabkan
oleh kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologik serta
respon endokrin terhadap adanya luas luka bakar.

5). Sistem urinaria


Riwayat adanya haluaran urine dapat tidak memadai sebagai
akibat dari kehilangan cairan yang merupakan permulaan
terjadinya gagal ginjal akut.

6). Sistem persyarafan


Biasanya ditemukan nyeri yang hebat dan perubahan status
mental yang merupakan gejala awal terjadinya syok hipovolemik.

7). Sistem muskuloskeletal


Jarang ditemukan kelainan atau perubahan tetapi dapat juga
terjadi kontraktur akibat otot yang tidak digerakan.

8) Sistem integumen
Kerusakan system integumen yang terjadi akibat luka bakar
digambarkan dengan adanya bulae, bahkan dapat terjadi
kehilangan lapisan kulit akibat luka bakar yang dalam.

a. Data psikologi
Klien dengan luka bakar sering mengalami gangguan psikologi
berupa kecemasan yang meningkat akibat nyeri yang tidak bisa
ditanggulangi.Dan terdapatnya perubahan struktur tubuh akibat
kerusakan integritas kulit.

b. Data Sosial
Data yang diambil dari klien mengenai hubungan sosialnya dengan
keluarga dan gaya hidup klien. Klien dengan luka bakar menjadi
tidak percaya diri dalam bergaul karena takut dia tidak di terima
didalam masyarakat akibat struktur tubuhnya yang berubah.

c. Data spiritual
Kemungkinan terjadi perubahan dalam aktifitas spiritual yang
disebabkan karena kondisi luka bakar.

d. Data Penunjang
1) Hitung darah lengkap
Peningkatan Ht awal menunjukkan hemokonsentrasi sampai dengan
perpindahan atau kehilangan cairan.
2) Elektrolit
Kalium dapat meningkat pada awal sampai dengan cedera jaringan
atau kerusakan sel darah merah dan penurunan fungsi ginjal.

3) Rontgen dada
Dapat tampak normal pada paska luka bakar dini meskipun
dengan cedera inhalasi, namun cedera inhalasi sesungguhnya akan
tampak saat foto torax, kerusakan bagian-bagian paru.
4) EKG
Tanda ischemia, disritmia dapat terjadi pada luka bakar listrik.

2. Analisa Data
Data yang sudah ada dikumpulkan kemudian dikelompokkan berdasarkan
masalahnya kemudian dianalisa sehingga menghasilkan masalah
keperawatan yang nantinya akan terjadi diagnosa keperawatan.

3. Diagnosa Keperawatan yang muncul

a. Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan


cairan melalui rute abnormal, contoh luka, peningkatan kebutuhan:
status hipermetabolik, ketidak cukupan pemasukan, kehilangan
perdarahan.
b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak ade
kuat: kerusakan perlindungan kulit, jaringan traumatik, pertahanan
sekunder tidak adekuat, penurunan Hb, penekanan proses inflamasi.
c. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan,
pembentukan edema, manipulasi jaringan kerja contohnya debridement.
d. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan status hipermetabolik, katabolisme protein.
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma: kerusakan
permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial atau luka bakar
dalam).
f. Perubahan gangguan citra tubuh: penampilan, peran berhubungan
dengan krisis situasi: kejadian traumatik, peran pasien terganggu,
kecacatan, nyeri.

4. Perencanaan

a. Resiko tinggi Defisit volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan


melalui rute abnormal, contoh luka, peningkatan kebutuhan : status
hipermetabolik, ketidak cukupan pemasukan, perdarahan.
Tujuan : Defisit volume cairan tidak terjadi
Kriteria hasil :
1). Haluaran urine individu adekuat
2). Tanda vital stabil
3). Membran mukosa lembab

Intervensi Rasional

1. Awasi tanda vital, cvp, 1. Memberikan pedoman untuk


perhatikan pengisian kapiler menggantikan cairan dan
dan kekuatan nadi. mengkaji respon kardiovaskular

2. Awasi haluaran urine dan 2. Secara umum, penggantian


cairan harus difiltrasi untuk
observasi warna urine
meyakinkanrata-rata haluaran
urine. Urine dapat tampak hitam
kemerahan, pada kerusakan otot
massif sehubungan dengan
adanya darah dan mioglobin.

3. Perkirakan drainage luka dan 3. Peningkatan permeabilitas


kehilangan yang tak tampak kapiler, perpindahan protein,
proses inflamasi, dan kehilangan
evaporasi besar dapat
mempengaruhi volume sirkulasi
dan haluaran urine.
4. Pertahankan pencatatan
kumulatif Jumlah dan tipe 4. Penggantian masip/cepat dengan
pemasukan cairan tipe cairan berbedadan fluktuasi
kecepatan pemberian
memerlukan tabulasi ketat untuk
mencegah ketidak seimbangan
dan kelebihan cairan.
5. Obeservasi distensi abdomen,
hematemesis, faeces hitam 5. Stress (curling ulkus) terjadi pada
setengah dari semua pasien luka
bakar berat.

Kolaborasi

6. Pasang/pertahankan kateter
urine tak menetap 6. Memungkinkan observasi ketat
fungsi ginjal dan mencegah urine
statis.
7. Pasang/pertahankan kateter
IV
7. Memungkinkan infus cairan
cepat
8. Awasi pemeriksaan
laboratorium
8. Mengidentifikasi kehilangan
darah dan kebutuhan penggantian
9. Berikan obat sesuai indikasi :
cairan dan elektrolit.
Tambahkan elektrolit pada
air yang digunakan untuk
9. Larutan pembersih yang kurang
debridemen luka.
lebih sama dengan cairan
jaringan dapat meminimalkan
perpindahan cairan osmotik

b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat :


kerusakan perlindungan kulit, jaringan traumatic, pertahanan sekunder tidak
adekuat, penurunan HB, penekanan proses inflamasi.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil :
1). Area luka bakar mulai pulih secara adekuat
2). Suhu tubuh normal
3). Nilai-nilai laboratorium dalam batas normal
4). Jaringan sekitarnya bersih, kering dan utuh.

Intervensi Rasional

1. Tekankan pentingnya teknik 1. Mencegah kontaminasi silang


mencuci tangan sebelum dan dan menurunkan resiko infeksi
sesudah kontak dengan pasien

2. Gunakan teknik septic


2. Mencegah pasien terpajan
antiseptik ketat selama
pada organisme penyebab
perawatan luka berlangsung
infeksi

3. Awasi/batasi pengunjung
3. Mencegah kontaminasi silang
dari pengunjung.
4. Periksa area yang terbakar
secara rutin 4. Infeksi oportunistik terjadi
sehubungan dengan depresi
sistem imun atau proliferasi
flora normal tubuh selama
terapi antibiotik sistemik.
5. Awasi tanda vital
5. Indikasi resiko memerlukan
evaluasi cepat dan intervensi
Kolaborasi

6. Tempatkan infus pada area


6. Menurunkan resiko infeksi
yang tidak terbakar
pada sisi insersi dan
kemungkinan mengarah
septikimia.
7. Berikan agen topical sesuai
indikasi
7. Membantu untuk mencegah
infeksi luka dan mencegah
luka kering yang dapat
menyebabkan kerusakan lebih
lanjut.

c. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan, pembentukan


edema, manipulasi jaringan kerja, contoh debridement
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria hasil :
1). Pasien melaporkan rasa nyeri dalam batas yang dapat di toleransi
2). Wajah tenang dan rileks
3). Mengekspresikan kemampuan peningkatan jumlah jam tidur.

Intervensi Rasional
1. Tutup luka sesegera 1. Suhu berubah dan gerakan
mungkin kecualai udara dapat menyebabkan
perawatan luka bakar nyeri hebat pamajanan
metode pemajanan pada pada ujung saraf.
udara terbuka.

2. Tinggikan ekstermiatas 2. Peninggian mungkin


luka bakar secra periodik diperlukan pada awal
untuk menurunkan
pembentukan edema, setal
perubahan posisi dan
peninggian menurunkan
ketidaknyamanan serta
resiko kontraktur sendi.
3. Berikan tempat tidur 3. Peninggian linen dari luka
ayunan sesuai indikasi membantu menurunkan
nyeri
4. Ubah posisi dengan sering 4. Gerakan dan latihan dapat
dan rentang gerak pasif menurunkan kekakuan
dan aktif sesuai indikasi sendi dan kelelahan otot.
Latihan tergantung pada
lokasi dan luas cedera

5. Pertahankan suhu 5. Pengaturan suhu dapat


lingkungan nyaman, hilang karena luka bakar
berikan lampu mayor sumber panas
pengahangat, penutup ekstermitas perlu untuk
tubuh hangat mencegah menggigil

6. Kaji keluhan nyerim, 6. Nyeri hampir selalu ada


perhatiakan lokal/karakter pada beberapa derajat
danintesitas skala 1-10 beratnya keterlibatan
jaringan/kerusakan tetapi
biasanya paling berat
selama ganti balutan dan
debridemen.

7. Lakukan penggantian 7. Menurunkan terjadinya


balutan dan debredemen. distres fisik dan emosi
sehubungan dengan
penggantian balutan dan
debridemen.
8. Berikan tindakan 8. Meningkatkan relaksasi
kenyamanan dasar contoh menburunkan tegangan
pijatan pada area yang tak otot dan kelelahan umum
sakit perubahan posisi
dengan sering
9. Dorong penggunaan 9. Memfokuskan kembali
teknih manejemen stres, perhatian, meningkatkan
contoh relaksasi progresif, relaksai dan meningktakan
napas dalam, bimbingan rasa kontorl yang dapat
imajinasi, dan visualisasi. menurunka
ketergantungan
farmakologis

10. Berikan aktivitas 10. Membantu mengurangi


terapeutik tepat untuk konsentrasi nyeri yang
usia/kondisi dialami dan memfokuskan
kembali perhatian

11. Tingkatkan periode tidur 11. Kekurangan tidur dapat


tanpa gangguan meningkatkan persepso
nyeri/kemampuan koping
menurun
Kolaborasi :
12. Berikan analgesik sesuai 12. Metode IV sering
indikasi digunakan pada awal
untuk memasimalkan efek
obat.

D.Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan


status hipermetabolik, katabolisme protein

Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi


Kriteria hasil :

1) Berat badan stabil/massa otot terukur


2) Keseimbangan nitrogen positif
3) Pemasukan nutrisi adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme
Intervensi Rasional

1. Auskultasi bising usus. 1. Ileus sering berhubungan


Perhatikan dengan periode pasca luka
hipoaktif/tidak ada bakar tetapi biasanya
bunyi dalam 36-48 am diamana
makanan oral dapat
dimulai

2. Pertahankan jumlah
2. Pedoman tepat untuk
kalori ketat. Timbang
pemasukan kalori tepat.
tiap hari, kaji ulang
Sesuai penyembuhan luka
persen area permukaan
, presentasi area luka bakar
tubuh terbuka/luka tiap
dievaluasi untuk
minggu
menghitung bentuk diet
yang diberikan dan
penilain yang teapat dibuat

3. Berikan makan dan 3. Membantu mencegah

makanan kecil sedikit distensi

tapi sering gaster/ketidaknyaman dan

Makan meningkatkan pemasukan

4. Kalori/protein diperlukan
4. Dorong pasien untuk
untuk mempertahankan
memandang diet
berta badan, kebutuhan
sebagai pengobatan dan
memenuhi metabolik dan
untuk membuat pilhan
meningktakan
makanan/mainuman
penyembuhan.
yang tinggi
protein/kalori

5. Dorong pasien untuk


duduk saat 5. Duduk dapat membantu
mencegah aspirasindan
membantu pencernaan
makanan yang baik
6. Berikan kebersihan oral
sebelum makan 6. Mulut/palatum bersih
meningkatkan rasa dan
Kolaborasi membantu nafsu makan
yang baik
7. Rujuk ke ahli diet/tim
7. Berguna dalam membuat
dukungan nutrisi
kebutuhan nutrisi individu.
8. Berikan diet tinggi
8. Kalori (3000-5000/hari).
kalori/protein dengan
Protein dan vitamin yang
tambahan vitamin
dibutuhkan untuk
memenuhi peningktan
kebutuhan metabolik,
mempertahankan berat
badan dan mendorong
regrenasi jaringan.
9. Pasang/pertahankan
9. Memberi makanan
makanan sedikit
kontinu/tambahan bila
melalui selang
pasein tidak mampu untuk
enterik/tambahan bila
mengkonsmsi kebutuhan
perlu dibutuhkan
kalori total harian secara
oral
10. Berikan hiperalimentasi
10. Akan mempertahankan
parenteral sesuai
pemasukan
indikasi
nutrisi/memenuhi
kebutuhan metabolik pada
adnya komplikasi berat
atau berlanjutnya
esofagial/gastrik yang
tidak memungkinkan
11. Berikan insulin bila makan per enteral
diperlukan 11. Peningkatan kadar glukosa
serum dapat terjadi
sehubungan dengan
respons stres terhadap
cedera , pemsukan tinggi
12. Awasi pemeriksaan kalori/protein.
laboratorium contoh 12. Indikator kebutuhan nutrisi
albumin serum, dan keadekuatan
kreatinin, transferin, diet/terapi
nitrogen urea urine

e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma: kerusakan permukaan


kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam).
Tujuan :
Kriteria Hasil :
1.) Menunjukan regenerasi jaringan
2.) Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka bakar

Intervensi Rasional
Mandiri
Praoperasi
1. Kaji/catat ukuran, warna, 1. Memberikan informasi dasar
kedalaman luka, perhatikan tentang kebutuhan penanaman
jaringan nekrotik dan kondisi kulit dan kemungkinan
sekitar luka. petunjuk tentang sirkulasi pada
area graft.

2. Berikan perawatan luka bakar 2. Menyiapkan jaringan untuk


yang tepat dan tindakan kontrol penanaman dan menurunkan
infeksi. resiko infeksi/kegagalan graft.
Pascaoperasi 3.
3. Pertahankan penutupan luka
sesuai indikasi, contoh : a. Kain nilon/membran silikon
a. balutan biosintetik mengandung kolagen porcine
peptida yang melekat pada
permukaan luka sampai
lepasnya atau mengelupasnya
secara spontan kulit
repitelisasi. Berguna untuk
bebas jaringan parut luka
bakar ketebalan parsial
menunggu autograft karena
dapat menetap ditempatnya 2-
3 minggu atau lebih lama dan
permeabel sampai agen
antimikrobial topikal.

b. Balutan hidroaktif yang


b. Balutan sintetik melekat pada kulit untuk
menutupi luka bakar ketebalan
parsial kecil dan interaksi
dengan eksudat luka untuk
membentuk jel lembut yang
membantu sisi donor.

c. Tipis, transparan, elastik, tahan


c. Op-site air balutan oklusif (permeabel
pada kelembaban dan udara)
yang digunakan untuk
menutup luka ketebalan parsial
bersih dan membersihkan sisi
donor.

4. Menurunkan pembengkakan/
4. Tinggikan area graft bila membatasi resiko pemisahan
mungkin/tepat. Pertahankan graft. Gerakan jaringan di
posisi yang di inginkan dan bawah graft dapat mengubah
imobilisasi area bila di posisi yang mempengaruhi
indikasikan. penyembuhan optimal.

5. Area mungkin ditutupi oleh


5. Pertahankan balutan diatas area bahan dengan permukaan
graft baru dan atau sisi donor tembus pandang tak reaktif
sesuai indikasi, contoh (antara balutan graft dan
berlubang, petroleum, tak bagian luarnya) untuk
berperekat. menghilangkan robekan dari
epitel baru/melindungi
jaringan yang telah sembuh.
6. Mengevaluasi keefektifan
6. Evaluasi sisi warna graft dan sirkulasi dan mengidentifikasi
donor; perhatikan adanya/tak komplikasi.
adanya penyembuhan.

7. Kulit graft baru dan sisi donor


7. Cuci sisi luka dengan sabun yang sembuh memerlukan
ringan, cuci dan oleskan dengan perawatan khusus untuk
lotion beberapa waktu dalam mempertahankan kelenturan.
sehari, setelah balutan dilepas
dan penyembuhan selesai.
8. Bleb berisi cairan mencegah
8. Aspirasi bleb di bawah kulit graft graft melekat pada jaringan di
dengan jarum steril atau gulung bawahnya.
dengan lidi kapas steril.

Kolaborasi 9.
9. Siapkan/bantu prosedur
bedah/balutan biologis. Contoh : a. Graft kulit diambil dari kulit
a. Homograft (alograft) orang itu sendiri atau orang
yang sudah meninggal,
digunakan untuk penutupan
sementara pada luka bakar luas
sampai kulit orang itu siap
ditanam (tes graft), untuk
menutup luka terbuka secara
cepat setelah eskarotomi untuk
melindungi jaringan granulasi.

b. Kulit graft diambil mungkin


b. Heterograft (xenograft, porcine) dari binatang dengan
penggunaan yang sama untuk
homografi atau untuk menutup
autograft yang berlubang.
c. Kulit graft diambil dari bagian
c. Autograft pasien yang tidak cidera;
mungkin ketebalan penuh atau
ketebalan parsial.

f. Perubahan gangguan citra tubuh: penampilan, peran berhubungan dengan


krisis situasi; kejadian traumatik, peran pasien terganggu, kecacatan, nyeri.
Tujuan :
Kriteria Hasil :
1.) Menyatakan penerimaan diri.
2.) Bicara dengan keluarga/orang terdekat tentang situasi, perubahan yang
terjadi
3.) Membuat tujuan realitas/rencana untuk masa depan
4.) Memasukan perubahan dalam konsep diri tanpa harga diri negatif.

Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji makna 1. Episode traumatik
kehilangan/perubahan pada mengakibatkan perubahan tiba-
pasien/orang terdekat. tiba, tak di antisipasi membuat
perasaan kehilangn pada
kehilangan aktual/yang
dirasakan. Ini memerlukan
dukungan dalam perbaikan
optimal.

2. Terima dan akui ekspresi 2. Penerimaan perasaan sebagai


frustasi, ketergantungan, repon normal terhadap apa
marah, kedukaan, dan yang terjadi membantu
kemarahan. Perhatikan perbaikan. Ini tidak membantu
perilaku menarik diri dan atau kemungkinan mendorong
penggunaan penyangkalan. pasien sebelum siap untuk
menerima situasi.
Penyangkalan mungkin lama
dan mungkin mekanisme
adaptif, karena psien tidak siap
mengatasi masalah pribadi.

3. Susun pembatasan prilaku 3. Pasien dan orang terdekat


meladaptif (contoh: cenderung menerima krisis ini
manipulasi/agresif). Perhatikan dengan cara yang sama dimana
perilaku tak menilai saat mereka telah mengalaminya
memberikan perawatan, dan waktu lalu. Staf menghadapi
membantu pasien untuk kesulitan dan frustasi untuk
mengidentifikasi perilaku mengatasi perilaku yang
positif yang membantu mengganggu/tidak membantu,
perbaikan. tetapi harus menyadari bahwa
perilaku biasanya ditunjukan
pada situasi yang bukan
pemberi asuhan.

4. Bersikap realitis dan positif 4. Meningkatkan kepercayaan dan


selama penobatan, pada mengadakan hubungan antara
penyuluhan kesehatan, dan pasien dan perawat
menyusun tujuan dalam
keterbatasan. 5. Meningkatkan perilaku positif
dan memberikan kesempatan
5. Berikan harapan dalam untuk menyusun tujuan dan
parameter situasi individu, rencana untuk masa depan
jangan memberikan keyakinan berdasarkan realitas.
yang salah.

6. Kata-kata penguatan dapat


mendukung terjadinya perilaku
6. Berikan penguatan positif koping positif.
terhadap kemajuan dan dorong
usaha untuk mengikuti tujuan 7. Memungkinkan pasien/orang
rehabilitasi. terdekat menjadi realistis alam
harapan. Juga membantu
7. Tunjukan film atau gambar demonstrasi
perawatan luka bakar/hasil pentingnya/perlunya alat dan
pasien lain, seleksi apa yang prosedur tertentu.
ditunjukan cocok dengan
situasi pasien. Dorong diskusi
perasaan tentang apa yang 8. Mempertahankan/membuka
mereka lihat. garis komunikasi dan
memberikan dukungan terus-
8. Dorong interaksi keluarga dan menerus pada pasien dan
dengan tim rehabilitasi. keluarga.

9. meningkatkan ventilasi
perasaan dan kemungkinan
9. Berikan kelompok pendukung respons yang lebih membantu
untuk orang terdekat. Berikan pasien.
mereka informasi tentang
bagaimana mereka dapat
membantu pasien.

10.membantu dalam identifikasi


Kolaborasi cara/alat untuk meningkatkan/
10. Rujuk terapi fisik/kejujuran, mempertahankan kemandirian.
konsul psikiatrik, contoh klinik Pasien dapat memerlukan
spesialis perawatan psikiatrik, bantuan lanjut untuk
pelayanan sosial, psikologis mengatasi masalah emosi
sesuai kebutuhan mereka bila mereka menetap
(contoh: respons pasca
trauma)