Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Faktor utama yang menentukan nilai keamanan suatu bangunan atau rumah adalah
strukturnya, baik struktur yang ada di bawah maupun di atas. Strukur sendiri memiliki
bagian yang menyangga beban aksial tekan vertikal yaitu kolom. Selain sebagai komponen
struktur dari bangunan kolom juga berperan untuk menyalurkan beban yang ada diatasnya
ke pondasi. Sehingga perlu diperhatikan dalam mendesain bentuk dan ukuran kolom agar
kolom aman dari segi kekuatan dan kapasitas penampang yang akan menahan beban
diatasnya. Semakin besar penampang kolom maka semakin besar pula kapasitasnya untuk
menahan beban. Dimensi kolom yang terlalu kecil dan tidak memenuhi standar yang sudah
ditetapkan akan berdampak pada kegagalan struktur. Dimensi struktur yang terlalu besar
juga berdampak pada biaya dan durasi pengerjaan. Semakin besar dimensi struktur maka
semakin besar pula biaya dan durasi pengerjaannya.
Para developer dewasa ini cenderung menerapkan kolom setebal dinding. Dewasa ini
kolom setebal dinding merupakan kolom persegi panjang yang tebalnya sama dengan
dinding. Kolom setebal dinding dipakai dengan alasan menghilangkan kesan kolom yang
timbul sehingga terlihat rapi dan segaris dengan dinding. Sehingga rumah yang
menggunakan kolom setebal dinding terlihat lebih rapi dibandingkan rumah yang
menggunakan kolom biasa. Hal ini tentu akan mempengaruhi biaya pembuatan dan durasi
pengerjaannya. Semakin besar dimensi struktur, maka semakin besar pula biaya pembuatan
dan durasi pengerjaannya. Sehingga diperlukan perencanaan dimensi kolom yang tepat
agar aman, hemat biaya dan, hemat waktu.

1.2 Rumusan Masalah


Permasalahan yang dapat dirumuskan sesuai latar belakang tersebut sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana konsep dasar Kolom Pendek Beban Eksentris ?
1.2.2 Bagaimana analisis perencanaan dan perhitungan Kolom Pendek Beban Eksentris ?
1.2.3 Bagaimana mendesain kolom dengan menggunakan grafik-grafik pada Kolom
Pendek Beban Eksentris ?

1
1.3 Tujuan
Tujuan berdasarkan rumusan masalah tersebut sebagai berikut :
1.3.1 Untuk mengetahui bagaimana konsep dasar pada Kolom Pendek Beban Eksentris.
1.3.2 Untuk dapat merencanakan dan menghitung Kolom Pendek Beban Eksentris.
1.3.3 Untuk mengetahui cara mendesain kolom dengan menggunakan grafik-grafik pada
Kolom Pendek Beban Eksentris.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diperoleh dari penyusunan makalah ini sebagai berikut :
1.4.1 Penulis
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta dapat mengaplikasikan dan
mensosialisasikan teori yang telah diperoleh selama perkuliahan.
1.4.2 Lembaga
Dapat menjadi pertimbangan untuk diterapkan pada perkembangan ilmu Teknik Sipil
khususnya di bidang struktur beton bangunan.

2
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Definisi Kolom Pendek Akibat Beban Eksentris


Kolom pendek dengan beban eksentris merupakan kolom yang selain memikul beban
aksial tekan, pada saat yang bersamaan juga memikul momen lentur. Kolom yang menahan
beban eksentris mengakibatkan baja pada sisi yang tertarik akan mengalami tarik dengan
garis netral dianggap kurang dari tinggi efektif penampang (d). Apabila angka
kelangsingan klu/r ≤ 22 maka tergolong kolom pendek. Beban aksial eksentris ini dapat
terjadi karena dua hal yaitu :
(1) Gaya aksial yang terletak tidak tepat pada titik berat penampang atau
(2) Terdapat gaya aksial dan momen lentur pada penampang tersebut.
Kombinasi antara Mu dan Pu ini akan menyebabkan makin membesarnya tegangan
tekan pada tepi penampang terdekat dan makin mengecilnya tegangan tekan pada tepi
penampang terjauh dari titik eksentrisitas.
Bila momen lentur yang terjadi bertambah besar maka tepi penampang terjauh yang
semula tertekan akan berubah menjadi tertarik sedangkan tegangan tekan pada tepi
penampang tertekan makin bertambah besar sehingga penampang berperilaku tidak linier
lagi.

2.2 Kekuatan Kolom Pendek Akibat Beban Eksentris


Penampang melintang suatu kolom segiempat tipikal dengan diagram distribusi
regangan tegangan dan gaya yang bekerja padanya dapat dilihat pada Gambar 2.1 di
bawah:

Pn

ec = 0,003 0,85 fc'


d' Cs e
e'S Cs
As' a Cc Cc
y h/2 c

h d g.n (d - d')
sumbu kolom

As
ds Ts Ts
eS
b Regangan
Tegangan Gaya dalam

Penampang melintang
Cc = 0,85 fc'.be
sumbu kolom fs = Es . es = fy
es = 0,003.((d-c)/e) Cs = As'.fs'
es' = 0,003.((c-d')/e) f s' = Es . e's = fy Ts = As.fs

c = jarak sumbu netral


y = jarak sumbu kolom
e = eksentrisitas beban ke sumbu kolom
d' = selimut efektif tulangan tekan

Gambar 2.1.
Tegangan dan gaya-gaya kolom (Namy, 1990)

3
Gaya nominal memanjang Pn bekerja pada keadaan runtuh dan mempunyai
eksentrisitas e dari sumbu lentur kolom.
Persamaan keseimbangan gaya dan momen pada kolom pendek dapat dinyatakan
sebagai:
Pn = Cc + Cs – Ts………………………………………………………..……...(2.1)
Momen tahanan nominal Mn yaitu sebesar Pn.e dapat dihitung dengan keseimbangan
momen terhadap sumbu lentur kolom.
Mn = Pn . e
=

a
Cc ( y − ) + Cs ( y−d ' )+T (d− y)..................................................(2.2)
2
Karena : Cc = 0,85 f’c ba, Cs = As’f’s dan Ts = Asfs
Maka persamaan 2.2 dapat ditulis sebagai:
Pn = 0,85f’cba + As’fs…………………………………………….............……(2.3)
Mn = Pn e =

a
0, 85 f ' cba ( y− )+as' f ' s( y−d ' )+ Asfs(d− y ).. . .... . .... . .... . .... . .. .(2. 4 )
2
Perlu ditekankan di sini bahwa gaya aksial Pn tidak boleh melebihi kuat tekan
aksial maksimum Pn (maks) yang dihitung dengan menggunakan rumus beban sentris.
Tegangan f’s pada baja dapat mencapai fy apabila keruntuhan yang terjadi berupa
hancurnya beton.
Apabila keruntuhannya berupa lelehnya tulangan baja, besaran yang disubsitusikan
dengan fy. Apabila f’s atau fs lebih kecil daripada fy, maka yang disubstitusikan adalah
tegangan aktualnya.
0,003(c−d ' )
f ' s=Es εs'=Es ≤fy . .. . .. .. . .. .. . .. .. .. . .. .. . .... . .. ... .. .. . .. .. . .. .... . .. .. ... .. . .... (2 . 5)
c
fs = Ess=Es

0,003(d−c)
≤fy .............................................................................(2 .6)
c
Apabila Pn adalah beban aksial dan Pnb adalah beban aksial pada kondisi balanced
maka:
Pn < Pnb ; terjadi keruntuhan tarik

4
Pn = Pnb ; terjadi keruntuhan balanced
Pn > Pnb ; terjadi keruntuhan tekan

a. Kondisi keruntuhan balanced


Jika eksentrisitas semakin kecil maka ada suatu transisi dari keruntuh tarik ke
keruntuhan tekan. Kondisi kerutuhan balanced tercapai apabila tulangan tarik
mengalami regangan leleh dan saat itu pula beton mengalami regangan batasnya.
Dari segitiga yang sebangun pada gambar 3.2 dapat diperoleh persamaan tinggi
sumbu netral pada kondisi balanced cb yaitu:
cb 0, 003
=
d 0, 003+fy E s …………………………………………………….

(2.7a)
atau dengan menggunakan Es = 2.105 MPa
600 d
c b=
600+fy ………………………………………………..………..
(2.7b)
600 d
ab =β 1. d
600+fy ………………………………………….………….
(2.8)
Pnb = 0,85 f’c b ab + As’f’s – As fy……………………………………....(2.9)
cb
Mnb=Pnb c b =0,85 f ' c bab ( y− )+ A ' s f ' s ( y−d )+ A s fy( d− y )
2 ………….....
(2.10)

b. Kondisi Tarik Menentukan


Awal keadaan runtuh dalam hal eksentrisitas yang besar dapat terjadi dengan
lelehnya tulangan baja yang tertarik. Peralihan dari keruntuhan tekan ke keruntuhan
tarik terjadi pada eksentrisitas sama dengan eb. jika e lebih besar daripada eb atau Pn <
Pnb maka keruntuhan yang terjadi adalah keruntuhan tarik yang diawali dengan
lelehnya tulangan tarik.
Dalam praktek biasanya digunakan penulangan yang simetris yaitu A’ s= As dengan
maksud mencegah kekeliruan dalam penempatan tulang tarik dan tulangan tekan
didalam pelaksanaan dilapangan. Penulangan yang simetris juga diperlukan apabila ada

5
kemungkinan tegangan berbalik tanda misalnya karena arah angina atau gempa yang
berbalik.
Apabila tulangan tekan diasumsikan telah leleh dan A’ s= As maka dapat ditulis
sebagai:
Pn = 0,85f’cba……………………………………………………..…...(2.11)
a
Mn = Pn e = 0,85f’cba (y - 2 ) + A’sfy (y – d’) + Asfy (d - y)….......................
(2.12)
Jika tinggi sumbu lentur kolom diganti dengan h/2 untuk tulangan yang simetris
dan A’s diganti dengan As serta Persamaan 2.11 dengan 2.12 digabungkan maka
menghasilkan persamaan untuk mencari Pn.
h a

Pn e = Pn ( 2 2 ) – Asfy (d – d’)……………………………..............……..
(2.13a)
Karena a = Pn/0,85f’cb, diperoleh:
2
Pn h
−Pn( −e )− A s fy(d−d ' )
1,7 f ' c . b 2 = 0………..............……………………..
(2.13b)
Dengan rumus ABC didapat:

h h

2 A f ( d−d ')
( −e+ ( −e )2 + s y 1
Pn = 0,85f’cb[ 2 2 0, 85 fc b …………..............………..….
(2.14)
As fy
dan m =
Jika  = ’ = bd 0, 85 fc1 maka persamaan 1.14 dapat ditulis sebagai:

h−2 e
Pn = 0,85fcb [( 2 d
)+
√( h−2 e 2
2d ) d'
( )
+2 mp 1− ]
d …………................………..
(2.15)
Sedangkan apabila tulangan tekan belum leleh maka selain, memerlukan persamaan
dasar keseimbangan yaitu persamaan 3.8 dan 3.9 juga deprluan prosedur coba-coba
dan penyesuaian.
Apabila tidak memenuhi maka semua langkah diatas diulangi sampai terjadi
konvergensi yaitu eksentrisitas yang dihitung sama dengan eksentrisitas yang
diberikan.

6
Langkah-langkah dari prosedur coba-coba dan penyesuaian diatas dapat dituliskan
sebagai berikut:
1. jarak sumbu netral c ditetapkan
2. tinggi blok tegangan ekivalen a = 1.c,
3. tegangan baja tekan dan tarik yaitu:
0,003 (c−d ')
≤fy
f’s = Es s’ = Es c ………………………….......…..………... (2.5)
0,003 (c−d )
≤fy
fs = Es s = Es c ……………………………............................(2.6)
4. beban aksial nominal
Pnb = 0,85f’cba + As’f’s – As fs…………………………...............…..........(2.9)
5. eksentrisitas yang terjadi dihitung
a
Mn = Pn e = 0,85f’cba (y - 2 ) + A’sf’s (y – d’) + Asfs (d - y)…......................(2.4)
6. hitungan dihentikan bila sudah tercapai syarat konvergensi yaitu eksentrisitas hasil
hitungan kira-kira sama dengan eksentrisitas yang diberikan.

c. Kondisi Tekan Menentukan.


Terjadi keruntuhan tekan diawali dengan hancurnya beton. Eksentrisitas gaya
normal yang terjadi lebih kecil daripada eksentrisitas eb dan beban tekan Pn melampaui
kekuatan berimbang Pnb.
Dalam komdisi ini dicoba menggunakan prosedur pendekatan dari Whitney (Wang,
1986). Salah satu metoda yang berlaku untuk hal dimana penulangan ditempatkan
simetris dalam lapis tunggal yang sejajar dengan sumbu lentur adalah prosedur yang
diusulkan oleh Whitney.
Dengan mengambil momen dari gaya-gaya dalam Gambar 3.3 terhadap tulangan tarik
diperoleh:
d −d ' a
Pn (e+ )=Cc (d− )+Cs (d−d ' )
2 2 ........................................................
(2.16)
Didalam menaksir gaya tekan Cc dalam beton untuk tinggi distribusi tegangan persegi
Whitney menggunakan harga rata-rata yang berdasarkan keadaan regangan berimbang
a = 0,54d, sehingga:
Cc = 0,85f’cba = 0,85f’cb(0,54d) = 0,459bdf’c

7
a 0,54 d 1
Cc (d- 2 ) = 0,459bdf’c (d- 2 ) = 3 f’cbd2..................................................
sumbu kolom
(2.17)
As As'

d-d' d'
d
h
Pn
e
N.A.

0,85 fc'

T
0,27 d

Cc Cs

0,54 d
Harga rata-rata untuk
keadaan regangan berimbang

Gambar 2.2.
Pendekatan Whitney kondisi tekan menentukan [Wang, 1986]
Bila tekan menentukan tulangan tekan biasanya leleh, jika regangannya c = 0,003
terjadi pada serat tekan ekstrim.
Dengan mengabaikan beton yang dipindahkan maka:
Cs = A’sf’y........................................................................................................(2.18)
Pemasukan Persamaan 2.17 dan 2.18 ke dalam Persamaan 2.16 menghasikan,

1 1 2 1
fc bd A s
f y ( d−d 1 )
3
Pn= +
d−d 1 d−d 1
e+ e+
2 2
1
fc 1 bh A sf y
Pn= +
3 he 3( d−d ) h
1 e
+ +0,5
d2 2d 2 d−d 1 ..............................................................
(2.19)
Berdasarkan pengamatan whitney, untuk gaya beton sebesar 0,85f’ cbh maka kondisi
dibawah ini cukup memuaskan hasilnya:
6 dh−3 h2 1
= =1, 18
2 d2 0,85

8
Sehingga Persamaan 2.19 menjadi:

1
As f y bhfc 1
Pn= +
e 3 he
1
+ 0,5 +1,18
d −d d2 .........................................................................
(2.20)

2.3 Kolom Berpenampang Bundar Dengan Beban Eksentris


Kolom dengan penampang bundar tidak mengenal istilah beban biaksial yaitu
beban yang bekerja secara bersamaan terhadap sumbu lentur x dan y, seperti halnya
pada kolom penampang persegi atau bujursangkar. Dalam hal ini digunakan istilah
beban eksentris yaitu beban yang bekerja pada suatu eksentrisitas tertentu, tanpa
membedakan arah x maupun y. karena dimanapun letak beban tersebut maka
penampang beton selalu membentuk daerah beton bertekanan yang sama yaitu
berbentuk tembereng lingkaran serta garis netralnya selalu sejajar dengan sumbu lentur
yang terjadi akibat beban yang bekerja.
Sedangkan bila ditinjau terhadap penampang persegi atau bujursangkar, letak beban
terhadap sumbu x dan y cukup mempengaruhi daerah beton yang bertekanan, sehingga
keadaan ini selalu membedakan antara beban biaksial, dan uniaksial. Untuk beban
biaksial, garis netralnya selalu membetuk sudut  terhadap garis horisontal (keterangan
lebih lanjut dapat dilihat Sub Bab mengenai Lentur Biaksial dan Tekan). Sedangkan
untuk beban uniaksial, garis netralnya sejajar dengan sumbu lentur. Untuk memperjelas
perbandingan daerah beton yang tertekan ini dapat dilihat Gambar 3.4 berikut:

(a)
(b)

(c)

Gambar 2.3.

9
Bentuk-bentuk daerah tekan beton: (a) akibat beban eksentris
(b) akibat beban uniaksial (c) akibat beban biaksial

Seperti pada kolom persegi, kolom bundar juga menggunakan keseimbangan


momen dan gaya guna mencari gaya tahanan nominal Pn untuk suatu eksentrisitas
yang diberikan Persamaan keseimbangan tersebut serupa dengan Persamaan 2.3 dan
2.4 dengan perbedaaan dalam hal:
1. bentuk luas yang tertekan yang merupakan elemen lingkaran, dan
2. tulangan-tulangan tidak dikelompokkan kedalam kelompok tekan dan tarik yang
sejajar
Dengan demikian gaya dan teganga pada masing-masing tulangan harus ditinjau
sendiri-sendiri. Luas dan titik berat segmen lingkaran yang tertekan harus dihitung
dengan menggunakan persamaan matematisnya. Pendekatan akurat ini akan menjadi
mudah apabila diselesaikan dengan bantuan komputer. Tetapi dalam tulisan ini sebagai
penyederhanaan hitungan maka digunakan persamaan Whitney.
Whitney mengasumsikan behwa kolom bundar dapat ditransformasikan menjadi
kolom segiempat ekuivalen untuk keadaan balanced dan keruntuhan tekan (Nawy,
19900. tetapi untuk keruntuhan tarik, tetap digunakan kolom aktual namun masih
memakai pengelompokkan tulangan tekan dan tarik. Untuk jelasnya bisa melihat
gambar 2.4.

0,003 mm/mm 0,85 fc'


d'
a Cs
As'=Ast/2 c Cc
d
2/3 Ds 0,8 h g.n

Pn As=Ast/2
Ts
ds eS < fy
e
b
Regangan Tegangan
Ast Penampang ekivalen
Ds
(b)

0,003 mm/mm 0,85 fc'


h
As'=0,4 Ast c a Cs
Cc
(a) g.n
h 3/4 Ds
As=0,4 Ast
Ts
eS < fy

Regangan Tegangan
Penampang ekivalen

(c)

10
Gambar 2.4.
Penampang ekivalen berdasarkan asumsi Whitney: (a) penampang aktual (Ast =
luas tulangan memanjang total), (b) penampang segiempat ekivalen (keruntuhan tekan) (c)
penampang kolom ekivalen (keruntuhan tarik) [Nawy, 1990)

a. Keruntuhan Balanced
Pada keadaan ini penampang kolom bundar ditransformasikan menjadi penampang
persegi ekivalen, dengan ketentuan sebagai berikut:
1. tinggi dalam arah lentur sebesar 0,8h, dimana h adalah diameter luar kolom bundar,
2. lebar kolom segiempat ekivalen diperoleh dengan membagi luas bruto penampang
kolom bundar dengan 0,8h, jadi b = Ag/0,8h
3. luas tulangan total A ekivalen didistribusikan pada dua lapis sejajar dengan jarak
2Ds / 3 dalam arah lentur, dimana D adalah diameter lingkaran tulangan (terjauh) as
ke as.
Selanjutnya untuk menghitungtinggi garis netral tinggi blok tegangan beban aksial
tekan dan momen pada keadaan balanced, dapat mengikuti Persamaan pada kondisi
keruntuhan balanced sebelumnya.

b. Keruntuhan Tekan
Menurut Whitney penampang kolom bundar dapat diubah menjadi penampang
segiempat ekivalen bila kegagalannya berupa keruntuhan tekan, dengan ketentuan
seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Persamaan keruntuhan tekan dapat diperoleh dengan menggantikan A s’ menjadi
0,5Ast (d-d’) menjadi 2Ds / 3 dan d menjadi 0,5(h + 2D s / 3), serta menggantikan h
menjadi 0,8h yang terdapat pada Persamaan 3.25.

As 1 f y Ag f 1
c
Pn= +
3e 9,6 he
+1 + 1,18
ds ( 0,8 h+ 0, 67 D s )2 ..............................................................
(2.21)

c. Keruntuhan Tarik.

11
Apabila keruntuhannya berupa kerntuhan tarik maka digunakan kolom aktual untuk
menghitung Cc, tetapi 40% dari luas tulangan A st dikelompokkan sejajar berjarak
0,75Ds.
Dengan menganggap tulangan tekan telah leleh dan daerah tekan beton mempunyai
luas A, Whitney (Park, 1974) berasumsi bahwa jarak pusat penampang terhadap pusat
berat luasan A, diberikan sebagai:
2A
x = 0,21 lh + 0,293 (0,785h - h )...................................................................
(2.22a)
Bila diasumsikan juga bahwa tulangan tekan telah leleh dan A s’ = As maka dari
Persamaan 3.8 diperoleh:
Pn
0,85 f
Pn = 0,85fc’A atau A = c1

Sehingga,
Pn
0,85 f
x = 0,21 lh + 0,293 (0,785h - c1 )............................................................
(2.22b)
Dari beberapa asumsi mengenai keruntuhan tarik, maka momen yang terjadi terhadap
tulangan baja dapat ditulis sebagai berikut:
Pn (e + 0,375Ds) = Cc (x + 0,375Ds) + Cs (0,375Ds).........................................(2.23a)
Atau
Pn (e + 0,375Ds) = Pn (x + 0,375Ds) + 0,4Ast fv...............................................(2.23b)

Subtitusikan harga x pada Persamaan 2.23b, sehingga didapatkan persamaan kuadrat


dalam Pn. Dengan menggunakan rumus ABC diperoleh:

Pn=0, 85 h2 f c ' .[
√ 0, 85 e
h
mρ D 0, 85 e
−0, 38 )2 + g s −(
2,5 h h
−0, 38 )]
...........................
(2.24)
dimana:
S st fy
, m=
Ag 0, 85 f
g = c1 , dan
e = eksentrisitas gaya tekan nominal terhadap sumbu lentur kolom.

12
Jika tulangan tekan belum leleh maka selain menggunakan persamaan dasar
keseimbangan, juga digunakan cara coba-coba dan penyesuaian. Prosedur ini analog
seperti yang dijelaskan pada bagian kondisi tarik menentukan untuk penampang
persegi. Perbedaannya terletak pada daerah beton yang tertekan yang merupakan
fungsi dari sudut penampang persegi. Perbedaan terletak pada daerah beton yang
tertekan yang merupakan fungsi dari sudut  (Lihat Gambar 2.5).

da
? =a

h ? =0

Gambar 2.5.
Daerah tekan beton yang merupakan fungsi sudut 6 [Wicaksono, 1993]

Saat gaya aksial bekerja pada kolom bundar yang berdiameter h maka menderita tekan
dapat dinyatakan dalam a. seperti yang diperlihatkan Gambar 2.5, luas penampang
tekan beton dapat dihitung dengan memakai ilmu ukur analit. Yang mana luas bagian
yang diarsir dinyatakan oleh:
dAc = 2(0,5h sin) da..........................................................................................(2.25)
Harga a dapat diekspresikan sebagai:
a = R – R cos
= 0,5h(1 - cos)
Yang kemudian dideferensialkan terhadap  sehingga:
dA
=0,5 h sin θ , da=(0,5 h sin θ )dθ

Bila harga da disubtitusikan ke Persamaan 2.25, maka akan diperoleh:
dAc = 2(0,5h sin)(0,5h sin)d
1
= 2 h2 sin2 d……………………...............……………………………..
(2.26)

13
Selanjutnya luas tampang tekan beton dihitung dengan cara mengintegralkan
Persamaan 2,26 sehingga diperoleh:
θ=0
h2

2 θ=0
sin 2 θ dθ
Ac =

Ac = h2
[ α−sin α cosα
4 ] ………………………………………..............…….
(2.27)
Persamaan 2.27 ini berlaku untuk a lebih kecil atau lebih besar dari jari-jari (R) kolom
bundar.
Apabila tidak memenuhi maka langkah-langkah diatas diulangi terus sampai
tercapai konvergensi.
Langkah-langkah dari prosedur coba-coba dan penyesuaian telah dituliskan dalam
kondisi tarik penampang persegi sebelumnya.
Prosedur coba-coba dan penyesuaian ini bila dihitung secara manual tidak akurat
serta perlu waktu yang cukup lama. Sehingga agar diperoleh hasil yang optimum teliti
dan cepat maka umumnya digunakan komputer sebagai program bantu.

2.4 Analisis Kolom Metode Pendekatan Diagram Pn - Mn


Diagram Pn - Mn yaitu suatu grafik daerah batas yang menunjukkan ragam
kombinasi beban aksial dan momen yang dapat ditahan oleh kolom secara aman.
Diagram interaksi tersebut dibagi menjadi dua daerah yaitu daerah keruntuhan tekan
dan daerah keruntuhan tarik dengan pembatasnya adalah titik balance. Beton
mencapai kekuatan maksimum f’c pada saat regangan desak beton maksimal mencapai
0,003. Tulangan dipasang simetris untuk mempermudah pelaksanaan, mencegah
kekeliruan dalam penempatan tulangan tarik atau tulangan tekan dan mengantisipasi
perubahan tegangan akibat beban gempa. Analisis kolom dengan diagram P n - Mn
diperhitungkan pada tiga kondisi yaitu :
a. Pada Kondisi Eksentrisitas Kecil
14
Prinsip-prinsip pada kondisi ini dimana kuat tekan rencana memiliki nilai
sebesar kuat rencana maksimum.
ϕPn = ϕPn max = 0,80 ϕ (Ag – Ast) 0.85 f’c + Ast fy ………………………..…. (2.28)
sehingga kuat tekan kolom maksimum yaitu :

φ Pu max
n=¿ …………………………………………………………………
φ
P¿
(2.29)
b. Pada Kondisi Momen Murni
Momen murni tercapai apabila tulangan tarik belum luluh sedangkan tulangan
tekan telah luluh dimana fs adalah tegangan tulangan tekan pada kondisi luluh.
Pada kondisi momen murni keruntuhan terjadi saat hancurnya beton (P n = Pu =
0). Keseimbangan pada kondisi momen murni yaitu :
ND1 + ND2 = NT .......................................................................................... (2.30)
Dimana :
ND1 = 0,85 f’c b a .......................................................................................(2.31)
ND2 = f’s A’s ................................................................................................................................................................ (2.32)
NT = fy As....................................................................................................(2.33)
Selisih akibat perhitungan sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Persamaan
yang diperoleh dari segitiga sebangun dengan tinggi sumbu netral pada c yaitu:

0,003 ( c−d ' )


f ' s=E s ε ' s =Es ................................................................
c
(2.34)
Momen rencana dapat dihitung sebagai berikut :
Mr = ϕMn .................................................................................................. (2.35)
Mn = Mn1 + Mn2 = ND1 Z1 + ND2 Z2 ........................................................ (2.36)

c. Pada Kondisi Balance


Kondisi keruntuhan balance tercapai apabila tulangan tarik luluh dan beton
mengalami batas regangan dan mulai hancur. Persamaan yang diperoleh dari
segitiga yang sebangun dengan persamaan sumbu netral pada kondisi balance
(Cb) yaitu :

15
Cb 0,003
=
d f ............................................................................................
0,003+ y
Es
(2.37)
atau dengan Es = 200000, maka :
600 d
Cb = .............................................................................................
600+f y
(2.38)
600 d
ab =β 1. d
600+fy ………………………...…………………………….
(2.39)
Pnb = 0,85 f’c b ab + As’f’s – As fy……………..………………………...(2.40)
cb
Mnb=Pnb c b =0,85 f ' c bab ( y− )+ A ' s f ' s ( y−d )+ A s fy( d− y )
2 …..
(2.41)
Persamaan kesetimbangan pada kondisi balance :
Pb = ND1 + ND2 – NT ................................................................................ (2.42)
Sehingga eksentrisitas balance (eb) dapat ditulis sebagai berikut :
Pb (eb + d/2) = Mnb ................................................................................... (2.43)
Mrb = ϕPb eb ............................................................................................. (2.44)

2.5 Disain Kolom dengan Menggunakan Grafik-Grafik


Untuk keperluan disain praktis kolom yang dibebani beban aksial dan momen
lentur dapat digunakan grafik-grafik diagram interaksi non-dimensional yang telah banyak
dikembangkan.
Grafik-grafik diagram interaksi tsb, dapat digunakan untuk disain penulangan untuk
kolom persegi maupun kolom bundar, untuk tulangan yang dipasang simetris pada 2 sisi
maupun yang dipasang sama rata pada sisi-sisi penampang.
Grafik diagram interaksi tersebut pada sumbu vertikal dinyatakan dalam :
Pu
φ . A gr .0, 85 . f 'c

dan pada sumbu horizontal dinyatakan sebagai :

Pu et
()
φ . A gr .0, 85 . f 'c h
16
Besaran pada kedua sumbu dapat dihitung dan ditentukan, kemudian suatu nilai “ r
“ dapat dibaca pada grafik yang sesuai.
Luas total tulangan yang diperlukan adalah :

A s total = ρ. A gr
Dimana, ρ = r.β

nilai  tergantung dari mutu beton yang digunakan

17