Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya
140mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90mmHg. Hipertensi tidak hanya
beresiko tinggi menderita penyakit jatung, tetapi juga menderita penyakit lain
seperti penyakit saraf, ginjal, dan pembuluh darah dan makin tinggi tekanan
darah, makin besar resikonya (Sylvia, A. Price).
Hipertensi atau yang dikenal dengan penyakit darah tinggi adalah suatu
gangguan pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang
dibawa oleh darah terhambat sampai kejaringan tubuh yang membutuhhkannya
(Vita Health, 2005)
Prevelensi hipertensi semakin lama semakin meningkat. Dibanyak negara saat
ini, prevelensi hipertensi meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup seperti
merokok, obesitas aktivitas fisik dan stress psikososial. Saat ini hipertensi diderita
lebih dari 800 Juta orang di seluruh dunia. Kurang lebih 10 – 30 % penduduk
dewasa di hampir seluruh negara mengalami hipertensi. Hasil survey di Asia
menunjukkan prevalensi hipertensi diduduki oleh india (40 %), Jerman (60 % )
dan Indonesia menduduki peringkat ke 7 di Asia. WHO memperkirakan
prevalensi hipertensi lebih dari 20 % populasi penduduk dunia (Arrosyid Z, 2007)
Penyakit hipertensi sendiri membutuhkan penanganan baik farmakologi
maupun non farmakologi. Penatalaksanaan farmakologi maupu non farmakologi
pastinya mempengaruhi kesehatan, serta akan berdampak pada kualitas hidup
lansia (Yusuf 2010,dalam Norma 2012, h. 3)
Penelitian yang dilakukan oleh trevisol dkk 201) ditemukan bahwa pada
individu yang menderita hipertensi, memiliki kualitas hidup yang lebih rendah
dibandingkan pada individu dengan tensi yang normal. Pada pasien dengan
hipertensi namun menjalani pengobatan yang rutin juga dilaporkan memiliki

1
kualitas hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu dengan tekanan
darah tidak terkontrol dan tidak dalam pengaruh obat – obatan.
Menurut Li dkk (2005) pada invidu dengan hipertensi memiliki kualitas hidup
yang rendah terutama pada dimensi fisik. Kualitas hidup yang buruk ini
merupakan komplikasi dari hipertensi itu sendiri. Oleh karena itu untuk
menurunkan angka morbiditas dan angka morbilitas, salah satunya dngan
memperbaiki kualitas hidup pada lansia.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertaik untuk melakukan penelitian
mengenai “FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS
HIDUP LANSIA DENGAN HIPERTENSI”

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan
penelitian, yaitu “Apakah terdapat faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas
hidup lansia dengan hipertensi di Puskesmas Paliyan?”

C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai peneliti dalam penelitian ini adalah untuk
mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia dengan
hipertensi di wilayah Puskesmas Paliyan

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Bagi Masyarakat
Dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang faktor – faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup lansia dengan hipertensi
2. Manfaat Bagi Institusi
Memberikan informasi tentang faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas
hidup lansia dengan hipertensi

2
3. Manfaat Bagi Peneliti
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini dapat memberikan informasi
baru atau data bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian yang
berkaitan dengan faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia
dengan hipertensi.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. HIPERTENSI
1. Pengertian
Istilah hipertensi diambil dari bahasa Inggris hypertension yang
berasal dari bahasa Latin “hyper” dan “tension. “Hyper” berarti super atau
luar biasa dan “tension” berarti tekanan atau tegangan. Hypertension
akhirnya menjadi istilah kedokteran yang populer untuk menyebut penyakit
tekanan darah tinggi. Tekanan darah adalah tenaga yang dipakai oleh darah
yang dipompakan dari jantung untuk melawan tahanan pembuluh darah, jika
tekanan darah seseorang meningkat dengan tajam dan kemudian menetap
tinggi, orang tersebut dapat dikatakan mempunyai tekanan darah tinggi atau
hipertensi (Gunawan, 2001).
Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140
mmHg atau lebih dan tekanan diatolik 120 mmHg. Hipertensi dapat
didefinisikan sebagai tekanan darah persisten, di mana tekanan sistoliknya
di atas 140 mmHg dan diastolic di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia,
hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan
diastolik 90 mmHg.
Menurut WHO 1996, batasan tekanan darah normal orang dewasa
adalah maksimum 140/90 mmHg. Apabila tekanan darah seseorang di atas
angka tersebut pada beberapa kali pengukuran di waktu yang berbeda, orang
tersebut bisa dikatakan menderita hipertensi. Penderita hipertensi memiliki
resiko lebih besar untuk mendapatkan serangan jantung dan stroke
(Suwarsa, 2006).
Prevelensi hipertensi semakin lama semakin meningkat. Dibanyak
negara saat ini, prevelensi hipertensi meningkat sejalan dengan perubahan
gaya hidup seperti merokok, obesitas aktivitas fisik dan stress psikososial.

4
Saat ini hipertensi diderita lebih dari 800 Juta orang di seluruh dunia.
Kurang lebih 10 – 30 % penduduk dewasa di hampir seluruh negara
mengalami hipertensi. Hasil survey di Asia menunjukkan prevalensi
hipertensi diduduki oleh india (40 %), Jerman (60 % ) dan Indonesia
menduduki peringkat ke 7 di Asia. WHO memperkirakan prevalensi
hipertensi lebih dari 20 % populasi penduduk dunia (Arrosyid Z, 2007)
Data menunjukkan hampir 90% penderita hipertensi tidak diketahui,
namun para ahli telah mengungkapkan, bahwa terdapat dua faktor yang
memudahkan seseorang terkena hipertensi, yakni faktor yang tidak dapat
dikontrol dan faktor yang dapat dikontrol. Beberapa faktor resiko yang
termasuk dalam faktor yang tidak dapat dikontrol seperti genetik,usia, jenis
kelamin, dan ras. Sedangkan faktor resiko yang dapat dikontrol berupa
perilaku atau gaya hidup seperti obesitas, kurang aktivitas, stres dan
konsumsi makanan (Rawasiah, 2014). Konsumsi makanan yang memicu
terjadinya hipertensi diantaranya adalah konsumsi makanan asin, konsumsi
makanan manis, konsumsi makanan berlemak.
Terjadinya hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya
adalah genetik, umur, obesitas, diet tinggi natrium, peningkatan konsumsi
alkohol, dan tidak pernah olah raga (Davis, 2004). Hal ni didukung oleh
penelitian yang dilakukan oleh Prasetyaningsih (2007), hasil dari
penelitiannya adalah ada hubungan antara senam lansia dengan kejadian
hipertensi pada lansia.

5
2. Klasifikasi Hipertensi

Kategori TDD (mmHg) TDS (mmHg)


Normal <85 <130
Normal Tinggi 85 -89 130 -139
Hipertensi
Tinggi (ringan) 1 90 - 99 140 – 159
Tinggi (sedang) 2 100 – 109 160 – 179
Tinggi (berat) 3 110 – 119 180 – 210
Tinggi (sangat berat) 4 ≥120 ≥210

Keterangan :
TDD : Tekanan Darah Dastolik
TDS : Tekanan Darah Sistolik

Nugroho (2012) mengatakan hipertensi pada lanjut usia dibedakan atas :


1. Hipertensi pada tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan
tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg
2. Hipertensi sistolik terisolasi : tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg
dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg

3. Etiologi

Penyebab hipertensi pada lanjut usia dikarenakan terjadinya


perubahanperubahan pada; elastisitas dinding aorta menurun, katup jantung
menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun
1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, sehingga kontraksi dan
volumenya pun ikut menurun, kehilangan elastisitas pembuluh darah karena
kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigen, meningkatnya
resistensi pembuluh darah perifer (Brunner & Suddarth, 2000).

6
Meskipun hipertensi primer belum diketahui pasti penyebabnya, namun
beberapa data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering
menyebabkan hipertensi, yaitu:

a. Faktor Keturunan: Jika seseorang memiliki orang-tua atau saudara yang


memiliki tekanan darah tinggi, maka kemungkinan ia menderita tekanan
darah tinggi lebih besar. Statistik menunjukkan bahwa masalah tekanan
darah tinggi lebih tinggi pada kembar identik daripada yang kembar tidak
identik. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada bukti gen yang
diturunkan untuk masalah tekanan darah tinggi. Faktor genetik
tampaknya bersifat mulifaktorial akibat defek pada beberapa gen yang
berperan pada pengaturan tekanan darah.

b. Ciri Perseorangan: Usia; penelitian menunjukkan bahwa seraya usia.


seseorang bertambah, tekanan darah pun akan meningkat. Anda tidak
dapat mengharapkan bahwa tekanan darah anda saat muda akan sama
ketika anda bertambah tua. Namun anda dapat mengendalikan agar
jangan melewati batas atas yang normal. Jenis kelamin; laki – laki lebih
mudah terkena hipertensi dari pada perempuan. Ras; ras kulit hitam lebih
banyak terkena hipertensi daripada ras kulit putih.

c. Kebiasaan Hidup: Konsumsi garam tinggi (lebih dari 30 gram); garam


dapat meningkatkan tekanan darah dengan cepat pada beberapa orang,
khususnya bagi penderita diabetes, penderita hipertensi ringan, orang
dengan usia tua, dan mereka yang berkulit hitam. Makan berlebihan
(kegemukan); orang yang memiliki berat badan di atas 30 persen berat
badan ideal, memiliki kemungkinan lebih besar menderita tekanan darah
tinggi. Kandungan lemak yang berlebih dalam darah Anda, dapat
menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah

4. Manifestasi klinis

Pada hipertensi tanda dan gejala dibedakan menjadi:

7
a. Tidak Bergejala: maksudnya tidak ada gejala spesifik yang dapat
dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan
tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa, jika kelainan arteri tidak
diukur, maka hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa.

b. Gejala yang lazim: gejala yang lazim menyertai hipertensi adalah nyeri
kepala, kelelahan. Namun hal ini menjadi gejala yang terlazim pula pada
kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.

Menurut Rokhlaeni (2001), manifestasi klinis pasien hipertensi


diantaranya: mengeluh sakit kepala, pusing, lemas, kelelahan, gelisah, mual
dan muntah, epistaksis, kesadaran menurun. Gejala lainnya yang sering
ditemukan: marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur,
mata berkunang-kunang.

5. Pemeriksaan penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium; Hb/Ht:

untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas)


dan dapat mengindikasikan faktor resiko seperti: hipokoagulabilitas,
anemia. BUN/ kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi/fungsi
ginjal. Glukosa: Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin. Urinalisa: darah,
protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.

b. CT Scan: mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.

c. EKG: dapat menunjukan pola regangan, di mana luas, peninggian


gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.

d. IU:mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti: batu ginjal,


perbaikan ginjal.

8
e. Poto

dada: menunjukkan destruksi kalsifikasi pada area katup, pembesaran


jantung

6. Komplikasi

Pasien hipertensi biasanya meninggal dunia lebih cepat apabila


penyakitnya tidak terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke
beberapa organ vital. Sebab kematian yang sering terjadi adalah penyakit
jantung dengan atau tanpa disertai stroke dan gagal ginjal. Dengan
pendekatan perorgan sistem, dapat diketahui komplikasi yang mungkin
terjadi akibat hipertensi, yaitu antara lain Jantung; infark miokard, angina
pectoris, gagal jantung kongestif. Sistem

Saraf Pusat; stroke, hypertensive encephalopathy. Ginjal; penyakit ginjal


kronik. Mata; hipertensive retinopathy. pembuluh darah perifer; peripheral
vascular disease (Anonim, 2009).

B. KUALITAS HIDUP LANSIA


1. Pengertian

Kualitas hidup lansia merupakan suatu kondisi yang menyatakan tingkat


kepuasan secara batin, kenyamanan dan kebahagiaan hidup lansia (Yusup,
2010) Menurut (DegI’Innocenti, 2002). Mengatakan bahwa kualitas hidup
lansia dapat dinilai melalui fungsi kognitif lansia. Pengobatan hipertensi
pada orang tua harus mempertimbangkan dampak negatif yang mungkin
dapat terjadi sehingga dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia (Fogari
dan Zoppi, 2004). Namun, manajemen individual terapi non medis
diperlukan untuk menghindari penurunan kualitas hidup lansia gaya hidup
(Ogihara dan Rakugi, 2005)

Kualitas hidup lansia adalah tingkat kesejahteraan dan kepuasan dengan


peristiwa atau kondisi yang dialami lansia, yang dipengaruhi penyakit atau

9
pengobatan. Kualitas hidup lansia bisa didapatkan dari kesejahteraan hidup
lansia, emosi, fisik, pekerjaan, kognitif dan kehidupan sosial (Fogari dan
Zoppi, 2004).

Menurut Pangkahila (2007). Kualitas hidup lansia meliputi:

a. Ranah fisik: yang meliputi kenyamanan, energi, kelelahan dan istirahat

b. Psikososial: yang mencakup perasaan positif dan negatif, harga diri, citra
tubuh dan penampilan diri

c. Tingkat independensi: yang meliputi aktifitas fisik, ketergantungan obat


dan kapasitas kerja

d. Hubungan sosial: yang meliputi: hubungan pribadi, dukungan sosial,


aktivitas seksualitas

e. Lingkungan: lansia berkesempatan mendapatkan informasi.

f. Spiritual

2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup

Nofitri (2009) mengatakan faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas


hidup sebagai berikut

a. Gender atau jenis kelamin

b. Usia

c. Pendidikan

d. Pekerjaan

e. Status pernikahan

f. Penghasilan

g. Hubungan dengan orang lain

10
3. Komponen – Komponen Pendukung Kualitas Hidup

Menurut Hardywinoto dalam Purwanti (2009). Komponen - komponen yang


mendukung kualitas hidup lansia, antara lain:

a. Aspek Demografi yaitu jenis kelamin, umur, harapan hidup, pekerjaan,


penghasilan dan lain-lain

b. Aspek Biologis meliputi sistem kekebalan tubuh, kerusakan sel dan


jaringan akibat radikal bebas.

c. Aspek sosial dan budaya yaitu kesejahteraan sosial lanjut usia meliputi
kesehatan, kesempatan kerja, bantuan sosial

d. Aspek ekonomi yang mencakup kondisi sosial ekonomi lanjut usia.

e. Aspek hukum dan etika yaitu mencakup keterbatasan sumber daya


manusia dan hubungan lansia dengan keluarga.

f. Aspek psikologi dan perilaku dipengaruhi oleh hal-hal yang disadari dan
tidak disadari bagi lansia.

g. Aspek agama dan rohani yaitu upaya bagi lansia mengatasi kesulitan
hidup dan percaya bahwa diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa

h. Aspek kesehatan mempengaruhi kehidupan lanjut usia seperti kesehatan


fisik dan mental.

i. Aspek pembinaan kesehatan: untuk meningkatkan derajat kesehatan dan


mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berguna.

j.Aspek pelayanan kesehatan: untuk meningkatkan kualitas pelayanan


kesehatan bagi perawatan lansia.

k. Aspek keperawatan lansia: bertujuan mempertahankan kesehatan dan


semangat hidup lansia dengan meningkatkan perawatan secara promotif,
preventif, dan kuratif.

11
3. Domain Kualitas Hidup Lansia
Menurut (Skevington, Lotfy dan Connell, 2004). Ada enam domain yang
bisa menilai kualitas hidup antara lain sebagai berikut:
a. Domain fisik
Nyeri dan ketidaknyamanan, energi kelelahan, aktivitas sosial, tidur
istirahat, fungsi sensori.
b. Domain Psikologis
Perasaan positif, negative, berfikir, memori, konsentrasi, harga diri,
penampilan.
c. Domain kesejahteraan
(kemerdekaan) Mobilitas, kegiatan hidup seharihari, ketergantungan
obat, komunikasi, kapasitas kerja.
d. Domain hubungan sosial
Hubungan pribadi, dukungan sosial.
e. Domain Lingkungan
Kebebasan, keamanan, kepuasan akan kerja, ekonomi,
kesehatan,perawatan sosial,

4. Instrument Kualitas Hidup Lansia


Kualitas hidup lansia dapat diukur menggunakan instrument dari
WHOQOL- OLD yang terdiri dari enam domain (Wangsarahardjo,
Darmawan dan Kasim, 2007) sebagai berikut:
a. Kemampuan sensori (Sensory abilities)
kemunduran panca indra, penilaian terhadap fungsi sensori, kemampuan
melakukan aktivitas, kemampuan berinteraksi.

b. Otonomi (autonomy)
Kebebasan mengambil keputusan, menentukan masa depan, memilih
gaya hidup dan melakukan hal-hal yang dikehendaki dan dihargai

12
kebebasannya.
c. Aktivitas masa lampau, kini dan yang akan datang (past, present, and
future activities)
Hal-hal yang diharapkan, pencapaian keberhasilan, penghargaan yang
diterima serta pencapaian dalam kehidupan.
d. Partisipasi Sosial (Social Participation)
Penggunaan waktu, tingkat aktivitas, kegiatan tiap hari, partisipasi
kegiatan masyarakat.
e. Kematian dan Keadaan terminal (death and dying)
Jalannya atau cara meninggal, mengontrol akhir hidup, takut akan akhir
hidup, merasakan sakit pada akhir hidup.
f. Persahabatan dan cinta kasih (intimacy)
Persahabatan dalam kehidupan, cinta dalam kehidupan dan kesempatan
dicintai dan mencintai.

C. KERANGKA TEORI

Lansia

13
Kualitas Hidup
Lansia

Domain Fisik Domain Domain Sosial Domain Lingkungan


psikologis

Faktor Faktor Yang


Mempengaruhi Kualitas
Hidup

Jenis Status penghasilan


Kelamin Pendidikan pernikahan

Usia Pekerjaan Hubungan


dengan
orag lain

HIPERTENSI

D. KERANGKA KONSEP

14
Variabel Bebas Variabel Tergantung
Kualitas Hidup Lansia Hiprtensi

E. HIPOTESIS
Ho Bila Ʈ= 0, p ≥ 0,05
Ha jika Ʈ > 0, p < 0,05

Hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kualitas


hidup dengan hipertensi pada lansia di wilayah Puskesmas Paliyan

15
BAB III
METODE PENELITIAN

A. RANCANGAN PENELITIAN
Pada penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan
kuantitatif yaitu mengungkapkan faktor – faktor yang mempengarhi kualitas
hidup lansia sebagai variabel bebas dan hipertensi sebagai variabel tergantung /
terikat.
Dalam pengolahan data, peneliti menggunakan teknik analisis data statistik
deskriptif. Teknik ini digunakan peneliti karena pengumpulan dilakukan degan
cara penyebaran kuisioner. Penggunaan pendekatan penelitian berdasarkan
pada quisioner yang dipakai yaitu : data quisioner pertanyaan yang mempunyai
opsi yaitu : sangat setuju, setuju, ragu – ragu, kurang setuju, dan tidak setuju

B. SUBJEK PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di wilayah Puskemas Paliyan. Subjek yang diteliti
adalah lansia. Peneliti menetapkan subjek tersebut dalam penelitian ini karena
peneliti ingin meneliti faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia
dengan hipertensi.

C. BESAR SAMPEL
Populasi adalah keseluruhan objek yang akan diteliti. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh lansia yang ada di wilayah Puskesmas Paliyan
sebesar 20 0rang.
Sebagai sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi
Sampel pada penelitian ini adalah lansia yang ada di Puskesmas Paliyan
Untuk menentukan besar sampel yang akan di ambil penelitan menggunakan
formula slovin :
Formula Slovin (Ridwan dan Sunarto, 2007)

16
n: N
N. d2. + 1
Keterangan
n: sampel
N : populasi
d: nilai resisi 95% atau 0, 05

n: 20
(20 ( 0,05)2 + 1)
: 20
6
: 3, 3

Hasil dari pengolahan data populasi di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah /
besar sampel pada penelitian ini adalah 6 orang

D. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL


Pengambilan sampel, dimana sampel yang diambil adalah sampai yang
benar – benar representasi atau yang mewakili seluruh populasi . Pada
penelitian untuk pengambilan sampel menggunakan teknik random samplin,
dengan ciri utama sampling ini ialah setiap usur dari keseluruhan populasi
mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih

E. INSTRUMEN PENELITIAN
Alat ukur variabel kualitas hidup berupa kuisioner yang dibuat oleh WHO
yaitu World Health Organization Quality Of Life Bref (WHOQOL –BREF)
yang merupakan pengembangan dari alat ukurr WHOQOL – 100. Alat ukur ini
alat ukur yang valid dan reliable dalam mengukur kualitas hidup

F. ANALISA DATA

17
Analisi Bivariat ini di gunakan untuk mengetahui faktor – faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup lansia dengan hipertensi. Uji statistik yang
digunakan adalah uji ehi square.

18
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Penderita Hipertensi Rawan Lupa.

Arrosyid Z. 2007. Tekanan Darah Tinggi.

Davis, Leslie. 2004. Cardiovascular Nursing SECRET. Elsevier MOSBY: USA.

Gunawan, Lany. (2001). Hipertensi: Tekanan Darah Tinggi. Yogyakarta: Penerbit


Kanisius.

Gunawan, Lany. (2001). Hipertensi: Tekanan Darah Tinggi. Yogyakarta: Penerbit


Kanisius.

Nofitri. 2009.Gambaran Kualitas Hidup Penduduk Dewasa pada Lima Wilayah


di Jakarta Skripsi Psikologi. Jakarta : Universitas Indonesia.

Nugroho, Wahjudi. 2000. Keperawatan Gerontik. EGC: Jakarta

Prasetyaningtiyas, Nico Desy. 2007. Hubungan Frekuensi senam Lansia Dengan


Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di RW 10 Desa Gambiran Kecamatan
Umbulharjo Yogyakarta Tahun 2007, KTI, Yogyakarta.

Prince Sylvia A. 2003. Patofisiologi. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC

Rawasiah, A.B. (2014). Hubungan Faktor Konsumsi Makanan Dengan Kejadian


Hipertensi Pada Lansia Di Puskesmas Pattinggalloang. Makassar.

19
Trevisol DJ, Moreira LB, Kerkhoff A, Fuchs SC, Fuchs FD. 2011. Healthrelated
quality of life and hypertension: a systematic review and meta-analysis of
observational studies. J Hypertens.

Vitahealth. 2005. Hipertensi. PT. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

20