Anda di halaman 1dari 46

DRAFT 18 Februari 2011

AGENDA NASIONAL
PENELITIAN HIV/AIDS 2010-2014

foto

Kelompok Kerja Penelitian, Komisi Penanggulangan


AIDS Nasional
2011

1
Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow.
The important thing is not to stop questioning.
(Albert Einstein)

2
Kata Pengantar
Sekretaris KPA Nasional

Puji syukur ke Hadirat Tuhan YME saya haturkan mengantar Agenda Penelitian Nasional
Penanggulangan HIV dan AIDS 2010-2014. Agenda ini diharapkan dapat memberi arahan
kepada peneliti dalam melakukan penelitian yang mendukung upaya penanggulangan AIDS
yang efektif, terintegrasi, dan berkualitas, sesuai dengan SRAN (Strategi dan Rencana Aksi
Nasional) 2010-2014. SRAN dikembangkan melalui proses kajian yang intensif, mengacu
kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014 di mana Kesehatan,
termasuk penanggulangan HIV dan AIDS sebagai salah satu prioritas nasional.

Penelitian merupakan sumber informasi strategis bagi pengembangan kebijakan yang


realistik sesuai kebutuhan, tepat sasaran, dan efektif. Penelitian-penelitian yang berangkat
dari masalah nyata di lapangan seyogiyanya mampu mendukung pencapaian program yang
efektif, berkelanjutan serta terus meningkatkan kemitraan. Sejarah di dunia menunjukkan
bahwa berbagai upaya hanya bisa efektif apabila dilakukan secara sinergis.

Tahun 2011 adalah tahun kelima setelah terbitnya Peraturan Presiden RI No.75 tahun 2006
yang memberi mandat kepada Komisi Penanggulangan AIDS Nasional untuk
mengintensifkan upaya penanggulangan AIDS agar epidemi dapat dikendalikan. Kajian
intensif yang menyeluruh terhadap hasil kerja sejauh ini merupakan salah satu tema utama
kegiatan tahun ini. Hasil kajian akan disebarluaskan kepada masyarakat melalui Pertemuan
Nasional yang akan diadakan di Yogyakarta pada bulan Oktober 2011. Tentu saja kajian-
kajian yang bermutu terus dilakukan sebagai proses yang intensif dalam memantau
perkembangan penanggulangan AIDS, agar pencapaian RPJMN 2010-2014, termasuk
pencapaian MDG, dapat terus dipantau sepanjang periode.

Kelompok Kerja Penelitian telah menunjukkan peran positif dalam memberikan kontribusi
terhadap perbaikan kebijakan dan program. Salah satu hasil kajian yang diadopsi sebagai
kebijakan adalah pendekatan intervensi struktural dalam meningkatkan efektivitas dan
memperkuat keberlangsungan program penanggulangan AIDS. Harus kita akui bahwa

3
tantangan dalam upaya penanggulangan AIDS masih sangat banyak dan bervariasi,
termasuk antara lain: penggunaan kondom untuk menekan penularan baru termasuk pada
ibu rumah tangga, peningkatan akses pengobatan berbasis masyarakat, dan penguatan
sistem kesehatan dan sistem masyarakat serta kaitannya dengan peningkatan jumlah
cakupan pencegahan HIV termasuk pada ibu dan anak. Semua topik tersebut dirangkum
dalam agenda penelitian yang sangat komprehensif ini. Dengan demikian diharapkan
peneliti-peneliti dapat mengambil butir-butir dari agenda ini untuk dijadikan acuan dalam
mengembangkan pertanyaan penelitian serta menajamkan hasil penelitian sehingga
menghasilkan rekomendasi yang tepat sasaran dan tepat guna.

Saya mengucapkan terima kasih yang sebesarnya atas dukungan Pokja Penelitian, HCPI
(HIV Cooperation Program for Indonesia) serta semua pihak yang berperan dalam
mempersiapkan agenda ini. Saya berharap agar agenda penelitian ini segera dapat
disebarluaskan agar dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh semua pihak.
Pemantauan dan evaluasi terhadap penggunaan dan manfaat Agenda penelitian ini perlu
dilakukan. Saya sadari bahwa dokumen ini juga harus mampu mengikuti perkembangan,
dan masukan-masukan untuk perbaikian akan sangat kami hargai. Oleh sebab itu, dokumen
ini akan menjadi dokumen yang selalu dapat diperbaiki mengikuti mekanisme evaluasi
tahunan.

Jakarta, 21 Februari 2011

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional


Sekretaris

Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH

4
Daftar Isi
Kata Pengantar...............................................................................................................2
Daftar Isi.........................................................................................................................5
Daftar Singkatan.............................................................................................................6
Bab 1. Latar Belakang....................................................................................................7

Bab 2. Kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS: Strategi dan Rencana Aksi
Nasional, 2010-2014......................................................................................................10

Bab 3. Kebutuhan penelitian HIV dan AIDS................................................................13


Area dan Fokus Penelitian............................................................................................13
Penulisan Usulan dan Hasil Penelitian..........................................................................15

Bab 4. Agenda Penelitian HIV dan AIDS, 2010-2014....................................................17

Bab 5 Pelaksanaan Penelitian.......................................................................................37


Penguatan Kapasitas.....................................................................................................37
Koordinasi dan jejaring penelitian...............................................................................38
Etik Penelitian...............................................................................................................39
Monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian................................................................41

Bab 6 Diseminasi Hasil Penelitian.................................................................................42


Laporan akhir penelitian..............................................................................................42
Strategi diseminasi........................................................................................................43

Bab 7 Penutup.....................................................................................................................45

Kontributor dan Tim Penyusun..........................................................................................47

5
Daftar Singkatan
AIDS : Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome
APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
ART : Antiretroviral Treatment
ARV : Antiretroviral
ASEAN : Association of Southeast Asian Nations
Askes : Asuransi Kesehatan
CD4 : Cluster of Differentiation 4
GWL : Gay, Waria, dan LSL lainnya
HCV : Hepatitis C Virus
HIV : Human Immunodeficiency Virus
IMS : Infeksi Menular Seksual
Jamkesmas : Jaminan Kesehatan Masyarakat
Jamsostek : Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Kemenakertrans : Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Kemendiknas : Kementerian Pendidikan Nasional
Kemenkes : Kementerian Kesehatan
Keppres : Keputusan Presiden
KIA : Kesehatan Ibu dan Anak
KPA : Komisi Penanggulangan AIDS
LJASS : Layanan Jarum dan Alat Suntik Steril
LSL : Lelaki Seks dengan Lekaki
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
MARP : Most At Risk Populations
Menkokesra : Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat
Monev : Monitoring Evaluasi
ODHA : Orang Dengan HIV/AIDS
P2MPL : Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan
Perda : Peraturan Daerah
Perpres : Peraturan Presiden
PICT : Provider-initiated HIV Counselling and Testing
PMTCT : Preventing Mother-to-Child Transmission
Pokja : Kelompok Kerja
PP : Peraturan Pemerintah
PTRM : Program Terapi Rumatan Metadon
RAN : Rencana Aksi Nasional
Satpol PP : Satuan Polisi Pamong Praja
SMS : Short Message Service
SRAN : Strategi dan Rencana Aksi Nasional
STBP : Survei Terpadu Biologis dan Perilaku
TB : Tuberculosis
TRM : Terapi Rumatan Metadon
UNAIDS : United nations Joint Programme on HIV/AIDS
UNGASS : UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS
UU : Undang-undang
VCT : Voluntary Conseling and Testing
WHO : World Health Organization
WPS : Wanita Pekerja Seks

6
Bab 1. Latar Belakang

There are in fact two things: science and opinions.


One begets knowledge, the latter ignorance.
(Hippocrates)

Segera setelah kasus AIDS dilaporkan resmi pertama kali tahun 1987, pemerintah bersama
masyarakat telah mengambil berbagai kebijakan dan tindakan penanggulangan. Pada tahun
yang sama, Menteri Kesehatan membentuk Panitia AIDS Nasional yang diketuai oleh
Dirjen P2MPL. Sektor terkait lain juga membentuk panitia, komisi dan kelompok kerja
penanggulangan, dan mengeluarkan berbagai perangkat peraturan. Masyarakat dan dunia
akademik membentuk berbagai organisasi, kelompok kerja, kelompok dukungan, dan
kelompok studi peduli HIV dan AIDS. Organisasi dan donor internasional juga mengambil
momentum melalui pemberian bantuan teknis dan dana bagi pengembangan dan
pelaksanaan program penanggulangan HIV dan AIDS.

Menyadari masalah HIV dan AIDS bukan semata masalah kesehatan, pemerintah melalui
Keppres 36/1994 membentuk Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Provinsi dan
Kabupaten/Kota dengan keanggotaan mewakili sektor dan organisasi terkait. Komisi ini
diketuai oleh Menkokesra dengan tugas mengembangkan kebijakan dan arahan program
penanggulangan, dan sektor terkait bersama lembaga swadaya masyarakat sebagai
pelaksana teknis program.

KPAN mengeluarkan Strategi Nasional dan Rencana Kerja Penanggulangan HIV dan AIDS
lima-tahunan, mulai dengan strategi nasional lima tahun 1994-1998. Mengacu kepada
kebijakan nasional ini, beberapa kementerian terkait, termasuk Kemenkes, Kemendiknas,
dan Kemennakertrans mengeluarkan peraturan dan melaksanakan upaya penanggulangan
sesuai dengan kebutuhan dan kewenangan masing-masing.

Keseriusan pemerintah dalam menanggulangi HIV dan AIDS tercermin melalui


keikutsertaan Indonesia menandatangani UNGASS tahun 2001, Komitmen Sentani tahun
2004, dan dikeluarkannnya Perpres 75/2006 tentang penguatan Komisi Penanggulangan
HIV dan AIDS. Melalui Peraturan Presiden ini, KPAN yang diketuai oleh Menko Kesra
bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Dalam menjalankan tugasnya Ketua KPA
Nasional didukung oleh Sekretariat yang diketuai oleh Sekretaris KPA Nasional, yang juga

7
anggota KPA Nasional sekaligus Ketua Tim Pelaksana KPA Nasional. Berbeda dari
sebelumnya, anggota KPA tidak saja berasal dari sektor pemerintah, tetapi juga lembaga
swadaya masyarakat, wakil organisasi profesi, sektor privat dan masyarakat sipil lainnya,
termasuk jaringan ODHA dan jaringan populasi kunci.

Sejak tahun 1994 penyakit AIDS diterima sebagai persoalan multi sektor, bukan semata
masalah kesehatan. Berbagai sektor perlu dilibatkan terkait intervensi pendidikan, intervensi
psikososial dan ekonomi karena tingkat kematian yang tinggi, pembiayaan pengobatan,
serta stigma yang melekat pada mereka yang tertular HIV. Meskipun telah dilakukan
berbagai upaya penanggulangan, masalah HIV dan AIDS di Indonesia masih membutuhkan
perhatian yang besar dan peningkatan dan perbaikan baik kebijakan dan programatik di
banyak tempat. Saat ini tidak ada provinsi di Indonesia yang bebas HIV. Bersama dengan
India dan Pakistan, Indonesia merupakan negara di Asia dengan laju epidemi HIV yang
cepat. Bahkan sejak lima tahun terakhir ini, laju epidemi HIV di Indonesia tercepat di
lingkungan ASEAN.1

Pertumbuhan epidemi HIV di Indonesia sebagian besar disumbang melalui dua modus
penularan: (1) penggunaan jarum dan alat suntik tidak steril pada pengguna napza suntik
(penasun), dan (2) hubungan seksual tidak aman, terutama di kalangan pekerja seks dan
pelanggan, dan waria serta kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL). Namun demikian jika
tidak dilakukan intervensi yang intensif, bukan tidak mungkin modus penularan lain akan
terus meningkat, seperti penularan perinatal.

Selain jangkauan program yang masih rendah, efektivitas pelaksanaan program juga masih
menjadi isu yang harus terus kita cermati. Dalam hal program pengurangan dampak buruk
penyuntikan narkoba, misalnya program terapi rumatan metadon (PTRM) 2 dan program
layanan jarum dan alat suntik steril (LJASS) telah menjangkau sebagian besar penasun,
namun Survei Terpadu Biologi Perilaku (STBP) 2007 menunjukkan masih banyak penasun
melakukan ritual penyuntikan berkelompok dengan berbagi jarum dan alat suntik. Hasil
survei ini juga menunjukkan sebagian besar penasun yang mengikuti PTRM ternyata masih
tetap menyuntik.

1
UNAIDS. Fact Sheet, 08.
http://www.icaap9.org/uploads/200907281116090.20080715_fs_asia_en.pdf Diunduh 31 August 2009.
2
Program terapi rumatan metadon ditujukan kepada penasun supaya mereka dapat mengganti cara
penyuntikan dengan cara meminum dalam menggunakan narkoba, sehingga menurunkan risiko penularan
HIV.

8
Walaupun penggunaan kondom merupakan cara efektif dalam mencegah penularan HIV
melalui hubungan seksual, hasil survei surveilans menunjukkan penggunaan kondom secara
konsisten pada kalangan pelaku seks komersial masih sangat rendah dan belum
memperlihatkan peningkatan bermakna dalam kurun waktu 2002-2007 (STBP, 2007). Saat
ini hampir semua daerah di Indonesia telah masuk kategori epidemi terkonsentrasi dengan
prevalensi HIV pada salah satu kelompok kunci di atas 5% dan populasi umum di bawah
1%.3 Hasil survei menunjukkan 43% sampai 56% penasun, 6% sampai 16% wanita pekerja
seks,14% sampai 34% waria, dan 2% smpai 8% kelompok lelaki suka lelaki di banyak
daerah telah terinfeksi HIV (STBP, 2007).

Di Papua, epidemi HIV sudah masuk kategori epidemi ‘umum’ walaupun masih tingkat
rendah (low level generalized epidemic) dengan prevalensi HIV pada penduduk usia 15-49
tahun sebesar 2,4% (STBP, 2007).4 Secara nasional, prevalensi HIV pada penduduk laki-
laki dan perempuan usia 15-49 tahun diproyeksikan meningkat dari 0,2% pada tahun 2008
menjadi 0,4% pada tahun 2014. Peningkatan ini terutama akan disumbang oleh kasus baru
pada kelompok-kelompok populasi kunci, termasuk pekerja seks, pelanggan pekerja seks,
pengguna napza suntik, pasangan seksual intim populasi kunci, dan kelompok lelaki suka
lelaki. Selanjutnya, peningkatan prevalensi HIV pada perempuan juga berdampak terhadap
peningkatan kasus HIV pada anak.

Sejalan dengan peningkatan prevalensi, jumlah ODHA (orang dengan HIV/AIDS)


diproyeksikan meningkat dari taksiran 404.600 pada tahun 2010 menjadi 813.720 pada
tahun 2014.5 Dengan kriteria CD4 sebesar 200, kebutuhan ART juga meningkat dari
taksiran 50.400 orang pada tahun 2010 menjadi 86.800 orang pada tahun 2014. Kebutuhan
ini akan lebih meningkat lagi apabila kebijakan kriteria CD4 berubah dari sebelumnya 200
menjadi 350.

3
Definisi epidemi terkonsentrasi dan epidemi umum, lihat Wilson, David (2006). HIV epidemiology: a review
of recent trends and lessons. Global HIV/AIDS Program, the World Bank.
4
KPAN (2009). Strategi dan Rencana Aksi Nasional (SRAN) Penanggulangan HIV dan AIDS 2010-2014.
Jakarta.
5
Pemodelan Matematik Epidemi HIV di Indonesia, 2010-2025, dikutip dalam SRAN 2010-2014 . KPAN
(2010).

9
Bab 2. Kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS: Strategi dan
Rencana Aksi Nasional, 2010-2014

Science knows no country, because knowledge belongs to humanity,


and it is the torch which illuminates the world.
(Louis Pasteur)

Strategi dan Rencana Aksi Nasional (SRAN) 2010-2014 dikembangkan berdasarkan kajian
paruh waktu yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari unsur pemerintah, masyarakat sipil
maupun mitra internasional. Tim ini bekerja dengan Tim Pelaksana sebagai komite pengarah
dan didukung oleh Kelompok Kerja (Pokja) Monev dan Pokja Penelitian. SRAN 2010-2014
ini meneruskan RAN 2007-2014 sebagai acuan upaya penanggulangan HIV dan AIDS lima
tahun kedepan yang komprehensif dan strategik. Tujuan penanggulangan AIDS di tanah air
adalah untuk: mencegah dan mengurangi penularan HIV; meningkatkan kualitas hidup
ODHA; dan mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat HIV dan AIDS pada individu,
keluarga dan masyarakat.

Sebagaimana telah dikemukakan SRAN mendorong tersedianya layanan komprehensif,


untuk memaksimalkan jangkauan dan efektivitas program. Intervensi struktural
diperkenalkan sebagai pendekatan untuk lebih mengungkit dampak terhadap perubahan
perilaku pada populasi kunci dengan peningkatan pemberdayaan baik dari populasi kunci
maupun pemangku kepentingan dalam membentuk perilaku yang aman dari penularan HIV.
SRAN juga menggarisbawahi pentingnya pemenuhi hak azasi manusia serta sensitif gender.

Dengan sumber dana yang terbatas, maka ditetapkan prioritas program pada intervensi yang
memiliki dampak besar (high impact) dengan dana yang relatif rendah (low cost). Oleh
sebab itu target cakupan layanan pencegahan sampai dengan akhir tahun 2014 ditujukan
pada mereka yang paling berisiko tertular HIV serta pada ODHA agar kualitas hidup mereka
meningkat.

Secara terinci prioritas tersebut masuk dalam promosi dan pencegahan; perawatan,
dukungan dan pengobatan; pemberdayaan sosial dan ekonomi; penciptaan lingkungan fisik
dan sosial yang kondusif terhadap upaya penanggulangan; dan penguatan kelembagaan.
Program layanan pencegahan penularan lewat penyuntikan tidak aman, termasuk program
LJASS (Layanan Jarum dan Alat Suntik Steril), layanan TRM (Terapi Rumatan Metadon),

10
layanan rujukan VCT (Voluntary Counseling and Testing), dan layanan terapi pemulihan
adiksi ditujukan kepada penasun, program layanan pencegahan penularan lewat hubungan
seksual, termasuk promosi penggunaan kondom pada hubungan seksual tidak aman dan
pengobatan IMS (infeksi menular seksual) ditujukan kepada pekerja seks dan pelanggan,
penasun, waria dan kelompok LSL, dan ODHA, serta pasangan seksual mereka. Program
layanan pencegahan penularan dari ibu dengan HIV ke anak diberikan kepada ibu hamil dan
pasangan melalui program layanan KIA (kesehatan ibu dan anak) yang sudah ada dengan
pemberian layanan VCT (voluntary counseling and testing) dan jejaring rujukan PMTCT
(prevention of mother to child transmission).

Program perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA (orang dengan HIV dan AIDS)
guna meningkatkan kualitas hidup mereka dilakukan melalui VCT, dan perawatan dan
pengobatan ARV dan infeksi oportunistik, termasuk penjaminan kualitas pelaksanaan dan
program layanan berbasis masyarakat. Program pemberdayaan ekonomi dan sosial ODHA
serta anak dan keluarga yang terpengaruh, termasuk anak yatim, orang tua tunggal, dan
janda melalui program dukungan peningkatan pendapatan, pelatihan ketrampilan, dan
pendidikan peningkatan kualitas hidup. Program penciptaan lingkungan fisik, sosial dan
psikologis yang kondusif bagi upaya penanggulangan melalui intervensi struktural. Dalam
hal ini termasuk upaya mendorong peningkatan peran aktif masyarakat dan pemangku
kepentingan terutama tingkat lokal, dan pengembangan lingkungan/tatanan fisik, sosial,
kemasyarakatan, budaya dan kebijakan yang menjamin koordinasi semua sektor mendukung
upaya penanggulangan.

Di samping memperkuat berbagai program layanan yang sudah ada, perlu dikembangkan
pula upaya-upaya baru yang dapat menjangkau luas kelompok-kelompok populasi kunci
tersebut dan efektif memperbaiki perilaku mereka baik perilaku berisiko penularan maupun
pencarian layanan, menghentikan penularan atau mengurangi angka peneluran HIV, dan
meningkatkan kualitas dan produktivitas ODHA dan mereka yang terpengaruhi oleh HIV
dan AIDS.

Penguatan kelembagaan diarahkan untuk dapat mendukung jalannya program-program di


atas. Penguatan kelembagaan tersebut termasuk termasuk penguatan kemitraan, sistem
kesehatan dan sistem masyarakat; penguatan koordinasi pemangku kepentingan dan
mobilisasi sumber dana; dan penguatan kapasitas daerah dalam penentuan prioritas masalah,

11
perencanaan dan pelaksanaan program dengan mendasarkan pada data dan kebutuhan
lapangan. Penguatan kemitraan dilakukan melalui penguatan kerjasama antara sektor
layanan dan masyarakat, dan integrasi layanan ke sistem kesehatan dan sistem masyarakat
yang ada. Penguatan koordinasi mencakup perbaikan tata-kelola upaya penanggulangan
yang berbasis eviden dan mobilisasi sumber daya dan dana dari dalam negeri, termasuk
swasta, dan integrasi upaya penanggulangan kedalam upaya pembangunan. Penguatan
kapasitas daerah ditujukan pada kapasitas mengembangkan perencanaan yang sesuai dengan
kebutuhan dan melaksanakan program yang sesuai dengan konteks sosial budaya dan
keterbatasan sumber daya yang tersedia.

Skenario sasaran strategi dan rencana aksi adalah sebanyak 80% populasi kunci terjangkau
program efektif, paling sedikit 60% populasi kunci berperilaku aman, dan 70% kebutuhan
pendanaan program dapat dipenuhi melalui sumber dalam negeri. Populasi kunci termasuk
pekerja seks dan pelanggan, penasun dan pasangan seksual mereka, dan waria serta
kelompok lelaki suka lelaki diharapkan berperilaku aman menjauhi perilaku berisiko
penularan HIV. Mereka perlu menggunakan kondom setiap kali berhubungan seksual
dengan pasangan seksual mereka dan bagi penasun menggunakan jarum dan alat suntik
steril setiap kali penyuntikan. Makna strategis skenario ini adalah kebutuhan menjamin
layanan rutin yang bermutu yang mampu menjangkau luas populasi kunci.

Pelaksanaan SRAN melalui berbagai program layanan di atas tidak bebas dari hambatan dan
tantangan di berbagai tingkatan administratif dan birokrasi, baik yang datangnya dari dalam
program, dari luar program, maupun dari masyarakat populasi kunci. Serangkaian penelitian
dibutuhkan untuk dapat memberikan bukti atau eviden dalam memahami dan menemukan
solusi mengatasi tantangan dan hambatan pelaksanaan program HIV dan AIDS.

12
Bab 3. Kebutuhan penelitian HIV dan AIDS
The health research system is the brain of the health system: it is a tool
to organize, understand, operate and improve it.
(Prawase Wasi)

Bagian ini menjelaskan fokus atau area penelitian serta penulisan proposal dan hasil
penelitian yang dibutukan dalam rangka mendukung pelaksanaan SRAN.

Area dan Fokus Penelitian


Kebutuhan penelitian yang menunjang SRAN 2010-2014 mencakup spektrum yang cukup
luas dengan 8 topik teratas sebagai berikut:

o Estimasi terkait epidemiologi serta jumlah dan karakteristik populasi yang


perlu layanan,
o Pola perilaku berisiko penularan dan faktor yang melatar-belakangi,

o Kajian lapangan untuk pengembangan dan perbaikan kebijakan dan program,


termasuk untuk tujuan perencanaan dan penganggaran,
o Pengembangan atau perbaikan strategi layanan pencegahan

o Pengembangan cara-cara yang efektif sebagai dasar untuk memperbaiki


layanan perawatan dan pengobatan,
o Penelitian-penelitian basic sciences dalam bidang immunologi, virologi atau
genetik sebagai upaya mengembangkan perawatan dan pengobatan AIDS
yang tepat sasaran6
o Penguatan kelembagaan di berbagai tingkatan dalam mengembangkan dan
menjalankan layanan HIV dan AIDS kepada masyarakat,
o Inovasi-inovasi dalam penanggulangan HIV dan AIDS.

o Pengembangan teori dan metodologi penelitian yang sesuai dengan konteks


ragam sosial budaya Indonesia

Berdasarkan temuan bahwa kita masih menghadapi banyak tantangan dalam upaya
perubahan perilaku pada populasi paling berisiko, maka informasi yang komprehensif

6
http://hivthisweek.unaids.org/posts/304

13
mengenai konteks lingkungan sosial, ekonomi, budaya dan politik sangat dibutuhkan guna
memandu pelaksanaan program. Begitu pula dalam aspek strategis kelembagaan, informasi
mengenai komponen-komponen yang perlu diperkuat serta metode yang efektif dalam
lingkup birokrasi di berbagai daerah juga sangat berharga. Penelitian yang dilakukan untuk
pengembangan teori dan metodologi di bidang HIV dan AIDS di Indonesia juga merupakan
satu area yang harus diperdalam guna meningkatkan validitas dan reliabilitas penelitian
yang berikutnya. Termasuk dalam area pengembangan ini adalah metode investigasi dan
evaluasi, pembangunan teori, metode penarikan sampel pada populasi kunci tertentu,
pengumpulan dan analisis data, maupun penyebarluasan dan penggunaan hasil penelitian.

Untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan SRAN, dibutuhkan area penelitian yang cukup
luas, termasuk penelitian biomedis/klinis, penelitian epidemiologi, penelitian sosial dan
penelitian program/operasional. Manfaat penelitian untuk perbaikan kebijakan dan
pelaksanaan program lebih diutamakan. Penelitian biomedis/klinis fokus pada masalah
perjalanan dan gambaran klinik penyakit, serta perawatan dan pengobatan penyakit.
Penelitian epidemiologi fokus pada besaran, distribusi penyakit dan faktor latar belakang
biologi, sosial dan ekonomi. Penelitian sosial fokus pada fenomena sosial dalam masyarakat
atau kelompok masyarakat, termasuk penjelasan perilaku dan struktur sosial masyarakat.
Sedangkan penelitian program atau penelitian operasional fokus pada masalah-masalah
strategik pelaksanaan program, termasuk interaksi antara layanan dan penerimaan klien.

Secara garis besar area dan fokus kebutuhan penelitian yang dibutuhkan untuk mendukung
pelaksanaan SRAN adalah sebagai berkut.

Table 1. Diagram kebutuhan penelitian HIV dan AIDS

14
Muara penelitian Lingkup masalah
Biomedis/ Epidemiologi Sosial Program/
Klinis Operasional
Efektivitas program (cakupan,
kualitas, dan kelangsungan)
program:
Promosi dan pencegahan pada
populasi kunci
Perawatan, dukungan dan
V V V V
pengobatan ODHA
Pemberdayaan ekonomi dan sosial
ODHA, dan anak dan keluarga
terpengaruh
Penciptaan lingkungan kondusif
penanggulangan
Penguatan kelembagaan V V V V
Upaya baru V V V V
Teori/Metodologi V V V V

Penulisan Usulan dan Hasil Penelitian


Kebutuhan penelitian memiliki rentang tujuan dari taraf diagnostik sampai dengan analitik
yang memerlukan pengelolaan data yang lebih advanced. Penelitian taraf diagnostik atau
formatif dibutuhkan untuk identifikasi masalah serta pemahaman terhadap dinamika serta
aspek strategis maupun faktor-faktor yang berpengaruh. Penelitian analitik diarahkan pada
penemuan solusi atau pendekatan dibandingkan dengan yang sudah dilaksanakan sampai
saat ini. Contoh dari penelitian ini adalah studi cost-effectiveness suatu program dari satu
pendekatan dibandingkan pendekatan lain.

Setiap penelitian perlu berangkat dari suatu masalah nyata di lapangan, bukan teoritik atau
akademik, walaupun kita perlu menggunakan teori untuk memahami masalah, pertanyaan
atau hipotesis penelitian tersebut. Suatu penelitian perlu memiliki makna strategis dalam arti
bermanfaat dalam rangka peningkatan efektifitas program penanggulangan AIDS dan
sekaligus dapat dilaksanakan sesuai dengan sumber daya dan teknologi yang tersedia. Di
samping itu pula suatu penelitian perlu fokus, dalam arti menjawab hanya satu masalah
prioritas. Apabila ada masalah-masalah strategik lain yang diajukan dalam penelitian
tersebut, maka masalah-masalah ini perlu mengerucut kepada satu masalah strategik
prioritas.

15
Untuk melakukan suatu penelitian, calon peneliti perlu membuat suatu konsep usulan
penelitian. Suatu usulan penelitian yang baik ditulis secara singkat dan lugas melalui
argumen dan penjelasan yang ditopang dengan fakta dan rujukan yang relevan. Suatu
usulan penelitian perlu mempunyai kejelasan dan kelayakan tentang masalah apa yang
diteliti, pertanyaan apa yang mau dijawab dan/atau hipotesis penelitian apa yang akan diuji,
dan rancangan dan metode yang digunakan. Suatu usulan penelitian perlu memberikan
argumen bahwa hasil penelitian bermanfaat terhadap kebijakan dan program
penanggulangan HIV dan AIDS, dan rancangan dan metode penelitian yang digunakan akan
dapat dilaksanakan dan menjawab pertanyaan penelitian.

16
Bab 4. Agenda Penelitian HIV dan AIDS, 2010-2014

If you think research is expensive, try disease.


(Mary Lasker)

Berikut merupakan agenda penelitian HIV dan AIDS yang disusun sebagai suatu panduan
tentang tema-tema penelitian yang menjadi prioritas kebutuhan, terutama yang menunjang
SRAN. Atas dasar pertimbangan lingkup masalah dan tujuan penelitian dan kemungkinan
metodologis, agenda penelitian mencakup 4 tema besar: (1) Penelitian klinik dan
epidemologi; (2) Penelitian pencegahan penularan HIV; (3) Penelitian perawatan, dukungan
dan pengobatan; dan (4) Penelitian sistem kesehatan dan sistem masyarakat. Pada setiap
tema besar dikelompokkan menjadi sub-tema dan pada setiap tema disampaikan sub-sub
tema atau topik yang lebih spesifik. Tema-tema spesifik ini dimaksudkan lebih dapat
membantu peneliti atau mereka yang berminat meneliti mengembangkan masalah,
pertanyaan dan tujuan penelitian yang sesuai dengan kebutuhan program penanggulangan
HIV dan AIDS. Perlu dicatat bahwa tema-tema tersebut tidaklah terpisah sama sekali (tidak
mutually exclusive), tetapi kemungkinan besar saling terkait.

1. Penelitian Klinik dan Epidemiologi

Kepatuhan terhadap ARV. Karena ARV masih menjadi salah satu kunci dasar keberhasilan
hidup sehat penderita HIV/AIDS, maka berbagai topik penelitian berikut masih dibutuhkan:

 Faktor-faktor klinis dan sosial yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan ARV dan
efek samping pada berbagai kelompok risiko dan usia, termasuk waktu transisi
seperti kehamilan, pertumbuhan menjadi remaja kemudian dewasa.

 Perubahan sifat alami dari infeksi kronis HIV dan pemakaian seumur hidup ARV,
dan kemungkinan resistensi HIV terhadap ARV.

 Penularan ‘nosocomial’ TB di fasilitas layanan, sehubungan dengan banyaknya


ODHA dengan TB yang menggunakan akses layanan ARV.

 Dampak pengobatan ARV terhadap kemungkinan kemunculan kanker atau penyakit


sekunder lain di kalangan ODHA Indonesia.

17
 Perbedaan perkembangan klinis dari infeksi HIV menurut populasi yang berbeda.

 Ko-infeksi dan perkembangan gangguan metabolisme, kardiovaskuler dan


neurologis pada ODHA yang menerima terapi ARV.

 Kemungkinan pemunculan dan pola penularan HIV yang drug resisten.

 Pola akses, kepatuhan dan paparan terhadap layanan ARV dan hubungan dengan
HIV-drug resistance dan beragam infeksi o portunistik.

 Pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi


kegagalan dan kehilangan kontak layanan ARV dan kualitas hidup ODHA yang
kehilangan kontak layanan ARV

Penyakit tropis endemik. Penyakit tropis lain yang endemik, seperti malaria, dapat
mempengaruhi perjalanan infeksi HIV. Walupun konsekuensi ko-infeksi malaria dan HIV
belum sepenuhnya dimengerti, ko-infeksi sering memperburuk klinis HIV.

 Strategi pencegahan, perawatan, dan monitoring pengobatan penyakit endemis pada


ODHA dewasa, remaja, anak-anak, dan bayi.

 Ketersediaan antibiotik dan regimen prophylaxis untuk optimasi pendekatan teraputik


TB dan penyakit endemis lain dalam konteks layanan ARV, termasuk terapi terbaru
TB dan ko-infeksi lain.

 Uji coba cara skrining sederhana yang sensitif dan spesifik mengidentifikasi TB aktif
di kalangan ODHA dalam konteks upaya peningkatan layanan TB ko-infeksi.

 Dampak terapi ARV terhadap kerentanan tertular penyakit endemik (misal, TB, HCV,
malaria), dan cara pengobatan terjangkau dan aman pada ODHA dewasa, anak-anak
dan remaja.

 Interaksi terapi, termasuk efek obat anti malaria terhadap ARV, atau pengaruh ARV
terhadap perkembangan parasit malaria lokal.

Co-morbiditas psikiatri di kalangan ODHA. Penyakit mental, rasa tidak percaya kepada diri
sendiri dan orang lain, dan stigma sebagai salah satu penyebab buruknya kepatuhan minum

18
ARV dan perilaku berisiko lainnya. Pendekatan spiritualitas dan keagamaan mungkin dapat
membantu menurunkan tingkat depresi.

 Hubungan antara spiritualitas, keagamaan dan ‘self-reported’ depresi di kalangan


ODHA Indonesia.

Pengembangan metodologi penelitian klinik dan epidemiologi. Penelitian semestinya


mengikuti perkembangan metodologi mutakhir – dalam modeling epidemiologi, analisis
statisik, dan pendekatan yang seusai dengan konteks lokal - untuk memahami karakteristik
masyarakat sasaran dan kebutuhan intervensi. Pengembangan metodologi penelitian perlu
mengacu pada upaya-upaya memahami lebih baik aspek medis, sosial dan budaya terkait
epidemi HIV dari ragam latar-belakang sosial-budaya masyarakat.

Terkait Metode penelitian

 Pemakaian rancangan ‘quasi-experimental’ dan evaluasi ‘natural experiments’ pada


derajat tertentu apabila dana dan syarat etika memungkinkan.

 Integrasi variabel-variabel sosial, perilaku dan biologi dalam upaya peningkatan


validitas dan reliabilitas cara sampling, pengukuran perilaku risiko, evaluasi
intervensi, alat ukur pemakaian narkotika, dan pengukuran insiden HIV.

 Penggunaan metode etnografi dan eksperimen dalam menjelaskan budaya sekitar


pelaksanaan program pencegahan.

 Perbaikan metodologi pengumpulan dan analisis data penelitian kuantitatif maupun


kualitatif dalam menjelaskan faktor sosial dan perilaku sekitar masalah HIV/AIDS –
termasuk cara pengumpulan dan validasi data ‘self report’, alat ukur yang sensitif
terhadap budaya lokal, dan reliabel.

 Cara-cara mengukur peran jaringan sosial (social network) dari penularan HIV di
berbagai kelompok masyarakat.

 Cara-cara pemakaian Internet atau SMS dalam upaya pencegahan penularan HIV di
kalangan kelompok tersembunyi (Remaja, GWL, penyedia layanan pendamping).

Terkait dengan modeling

 Model matematika menghubungkan intervensi perubahan perilaku dengan penurunan


penularan HIV di berbagai situasi prevalensi melalui variabel sosial seperti nilai

19
budaya tradisional, perpindahan penduduk, perkembangan politik dan kebijakan, dan
situasi ekonomi terakhir.

 Model ramalan ‘caseload AIDS’, kebutuhan dan pemakaian layanan kesehatan,


dengan pertimbangan jenis perawatan dan keberhasilan hidup klien, yang nantinya
dapat dipakai memperkirakan kebutuhan layanan pencegahan.

 Sistem modeling efektitifas suatu kebijakan pemerintah dalam mengurangi penularan


HIV di Indonesia.

Terkait dengan rancangan dan analisis statistik

 Metode sampling kelompok tersembunyi (anak-anak jalanan, tuna wisma, pemakai


narkotika, orang tua, WPS dan GWL), mereka yang terkait masalah wilayah geografi
(rute migrasi manusia, rute trafficking narkotika dan manusia), dan penduduk di
wilayah politik tidak stabil dan bencana alam hebat.

 Metode inovatif penelitian longitudinal di kalangan populasi rentan dan tertular HIV,
termasuk strategi menjamin partisipasi peserta dan metode mengukur dan
menganalisa pola perubahan perilaku nonlinear.

 Rancangan alternatif penelitian HIV/AIDS selain ‘randomized controlled trial’ yang


cost effective pada tingkat individu maupun komunitas.

2. Penelitian pencegahan penularan HIV

Program pencegahan penularan baru HIV di masyarakat masih prioritas. Beberapa jenis
upaya pencegahan yang dilakukan bersama, misal intervensi biomedis seperti vaksin,
microbicides, dan/atau preexposure prophylaxis dengan ARV bersama dengan intervensi
perilaku lebih efektif dibanding satu jenis upaya pencegahan berdiri sendiri. Beberapa upaya
pencegahan yang telah diterapkan di Indonesia termasuk VCT, pemberian ARV dalam
pencegahan penularan ibu ke bayi, dan harm reduction7. Program seperti sunat pada laki-
laki dewasa di wilayah prevalensi sunat rendah mungkin perlu diadopsi sebagai salah satu
metode pencegahan infeksi baru (UNAIDS, WHO l). Lebih lanjut faktor biologi, perilaku
dan dinamika sosial berpengaruh terhadap penularan.
7
Harm reduction di Indonesia sudah ditetapkan dengan Permenkokesra No.2/2007, dimana dalam bahasa
Indonesia disebutkan sebagai “pengurangan dampak buruk”. Demi efektifitas penulisan serta bahwa istilah
harm reduction sudah diketahui secara umum maka tetap menggunakan istilah tersebut.

20
Pengembangan vaksin. Penelitian vaksin disesuaikan dengan kemampuan finansial,
teknologi, jaringan kerja dan keahlian. Peneliti Indonesia hendaknya berusaha terlibat dalam
penelitian lokal dan internasional paling mutakhir pengembangan vaksin HIV baik dari
sudut tekhnologi, tenaga ahli atau uji-coba vaksin.

Penelitian Microbicides: Penelitian produk-produk antimikrobial dengan tujuan pencegahan


penularan HIV lewat hubungan seks di dunia intenasional terus dilakukan. Negara-negara
pendukung penelitian di bidang ini berharap bahwa aplikasi microbicides bisa menjadi alat
efektif pencegahan penularan HIV. Peneliti Indonesia perlu terlibat dalam penelitian
microbicides yang komprehensif baik dari sudut teknologi biologi dan sosial.

Penelitian pencegahan di bidang perilaku dan sosial: Penelitian ini dapat membantu
pemahaman bagaimana mengubah perilaku dan penyakit pada ODHA. Penelitian perilaku
dan sosial juga dapat diterapkan pada program-program perawatan dan pengobatan ARV
dengan dampak pencegahan penularan HIV.

Terkait dengan konsekuensi sosial dan budaya

 Proses pengambilan keputusan dan perilaku petugas kesehatan dalam pemberian


konseling, testing, dan cara pencegahan lain termasuk pemberian obat-obat terkait
HIV.

 Perubahan risiko penularan sebagai hasil dari perkembangan tubuh atau peristiwa
hidup seperti menanjak remaja, melahirkan, menikah atau mengikat janji hidup
bersama, cerai atau berpisah, dan penuaan.

 Penelitian multi disiplin masalah perilaku seksual di masyarakat terkait gender dan
identitas seksualitas.

 Masalah pemilihan pasangan, dinamika hubungan, dan stabilitas pasangan terkait


dengan risiko penularan HIV.

 Surveilans perubahan perilaku akibat penyebaran informasi dan pemakaian internet


tentang nilai budaya, sikap dan harapan perilaku terkait penularan HIV.

21
Terkait dengan konteks populasi

 Strategi inovatif mengidentifikasi serta mengorganisir ‘populasi tersembunyi’ seperti


pemakai narkotika muda atau di luar jangkauan institusi, WPS dan pelanggan di
masyarakat, serta GWL dengan konteks sosial budayaserta aturan agama (yang ketat)

 Peran alkohol dan obat-obatan psikotropika pada kelompok MARP terhadapefektifitas


program pencegahan.

 Pengembangan intervensi berkesinambungan pada level individu, jaringan sosial


mereka, dan komunitas untuk mencegah penularan HIV dan hepatitis C akibat
pemakaian narkotika suntik dan akitifitas seksual.

 Penelitian multidisipliner masalah ‘bio-behavior’ dan ‘socio-behavior’ (pemakaian


narkotika dan perilaku seksual berisiko) yang terkait penularan HIV.

 Penelitian intervensi di kalangan penasun dan cara pemakaian narkotika lain pada
anak-anak jalanan, WPS, GWL dengan penekanan pada kaitan antara pemakaian
narkotika dan risiko penularan HIV lewat aktivitas seksual.

 Penelitian pada populasi laki-laki dewasa umum tentang KAB dalam konteks
seksualitas, HIV dan narkoba.

 Penelitian formatif di kalangan populasi yang sekarang ini dianggap atau beranggapan
berisiko rendah penularan (tidak aktif seksual, remaja tidak pakai narkotika, sub-
populasi heteroseksual dan perempuan, kelompok paro baya) namun memiliki
kemungkinan perilaku berisiko meningkat.

 Penelitian intervensi individu di dalam/di luar penjara, dan yang kembali ke


masyarakat dalam kaitan dengan upaya peningkatan akses terhadap informasi,
pendidikan, pengobatan, layanan subtitusi narkotika, dan layanan pencegahan.

 Penelitian intervensi di kalangan populasi laki-laki berpindah (awak kapal, supir truk,
dan pekerja migran di didang konstruksi, penebang hutan, dan penambangan) dengan
memasukkan faktor peningkatan pendidikan dan informasi HIV dan AIDS,
pengobatan terkait infeksi HIV, layanan ketergantungan narkotika, layanan
pencegahan dan kesertaan dalam penelitian.

22
 Penelitian warga binaan di lembaga pemasyarakatan dan warga militer dan polisi yang
mengukur faktor pendidikan dan informasi HIV dan AIDS, pengobatan terkait infeksi
HIV, dan layanan pencegahan HIV, dan kesertaan dalam penelitian.

 Penelitian kualitatif di kalangan germo WPS dengan menekankan topik: hubungan


germo dengan WPS; cost benefit pemakaian kondom, program pengobatan IMS di
industri seks; dan modeling usaha lokalisasi WPS yang sehat.

 Penelitian dampak bencana alam, konflik politik dalam kaitan dengan penularan HIV
yang ditandai dengan kemunculan kelompok WPS migran atau meningkatnya
kunjungan laki-laki dari wilayah terkait ke tempat pelacuran di wilayah lain.

Terkait kesehatan jiwa

 Komorbiditas antara pekerja seks, penggunaan Napza, minoritas seksual dengan


gangguan jiwa sebagai faktor dominan dalam rangka meningkatkan efektifitas
layanan HIV dan Napza

 Mengukur pengaruh motivational interview yang diarahkan pada permasalah depresi


atau burn out pada pasien PTRM untuk meningkatkan retensinya dalam program

 Faktor-faktor gangguan jiwa (depresi, dampak stigma, suicidal, dll) dikaitkan dengan
perilaku resiko atau kepatuhan

Terkait penularan melalui ibu ke bayi

 Kelayakan prosedur pelaksanaan unlinked anonymous testing pada ibu-ibu yang


mengakses layanan KIA di wilayah epidemi HIV.

 Status kesehatan ibu yang tertular HIV selama kehamilan dan menyusui dan
ketahanan hidup anak-anak yang dilahirkan baik yang terdeteksi HIV positif maupun
negatif.

Terkait perempuan dan remaja perempuan

23
 Konsekuensi psikologis hasil HIV positif pada perempuan termasuk remaja, masa
reproduksi aktif, menopause, dan post menopouse dan dampak keputusan mencari
perawatan dan bereproduksi.

 Efektifitas pengobatan terkait HIV di kalangan perempuan dan remaja perempuan,


termasuk waktu memulai pengobatan, waktu putus berobat dan siklus pengobatan
karena kondisi ko-morbiditas tertentu dan kehamilan.

 Interaksi obat terkait HIV dengan obat lain di kalangan perempuan termasuk ARV
dengan obat IO, terapi hormon tertentu, terapi penyalahgunaan narkotika, dan obat-
obat complimentary dan alternative lain.

Sunat laki-laki sekarang ini semestinya menjadi bagian tidak terpisahkan dalam pencegahan
HIV di Indonesia. Upaya yang dilakukan termasuk penyediaan layanan sunat tanpa biaya
pada komunitas dengan prevalensi sunat rendah. Namun kemungkinan hambatan sosial dan
budaya perlu dipertimbangkan, terutama di wilayah non-Muslim. Menawarkan sunat yang
aman dalam jumlah yang berpengaruh terhadap epidemi perlu biaya pekerjakan, pelatihan
petugas, alat bedah, alat medis dan sterilisasi peralatan.

 Penilaian dampak sunat laki-laki pada level individu dan komunitas, termasuk
pencegahan dan insiden HIV pada laki-laki sunat dan pasangan, perilaku seksual dan
sikap terkait HIV dari komunitas yang disunat dan tidak.

 Cara pelaksanaan sunat dari sudut pandang keamanan, cost-effectiveness, dan


dampak terhadap penularan HIV.

 Pengembangan upaya pencegahan di kalangan laki-laki melalui pendekatan sunat


dikombinasikan dengan metode pencegahan yang ada seperti: pelayanan kesehatan
reproduksi, pengurangan jumlah pasangan seks, pemakaian kondom, dan kontrol
IMS.

3. Penelitian perawatan, dukungan dan pengobatan

24
Penelitian ini terkait dengan pelaksanaan program perawatan, dukungan dan pengobatan,
termasuk VCT; perubahan klinis dan psikososial ko-infeksi dan ko-morbiditas; strategi terapi
dan jenis regimen ARV; obat alternatif sebagai ‘complementary medicine’; strategi
pengobatan IMS dan HVC pada berbagai kelompok masyarakat. Penelitian dalam tema ini
dapat terkait dengan tema umum lain, seperti epidemiologi, klinis dan pencegahan.

Penyediaan ARV untuk pengobatan dan pencegahan. Penelitian metode pengobatan untuk
pencegahan terus dilakukan pada berbagai kelompok masyarakat, misal pencegahan
penularan dari ibu hamil kepada bayinya dari sudut cakupan VCT dan pemberian obat.
Pelaksanaan VCT perlu disesuaikan dengan kondisi epidemi berbagai kelompok di masing
masing wilayah. Metode-metode pengobatan untuk pencegahan lain yang perlu
dipertimbangkan antara lain: post-exposure prophylaxis (pencegahan setelah terpapar HIV)
termasuk pemberian obat kepada petugas yang terpapar di tempat kerja; pre-exposure
prophylaxis jangka panjang bagi kelompok berperilaku risiko tinggi.

 Perilaku dan masalah sosial lain terkait penerimaan metode skrining HIV, cara
konseling dan testing, PICT, dan dampaknya terhadap penurunan perilaku berisiko.

 Cost-effectiveness VCT melalui program outreach dan sistem rujukan dan


dampaknya terhadap penurunan risiko penularan pada berbagai tingkat epidemi.

 Pengembangan PICT pada kehamilan awal, atau orang tua mengantar bayi/anak
yang tampak memiliki gejala-gelaja tertular HIV di puskesmas atau layanan
kesehatan umum, dalam kaitan dengan kepatuhan mencari informasi pencegahan
penularan HIV.

 Pelaksanaan PICT pada kelompok MARP yang mengakses layanan di puskesmas.

 Penyesuaian pelaksanaan PICT pada sistem kesehatan ibu dan anak menurut tingkat
epidemi. Misal di wilayah dengan epidemi menyangkut masyarakat umum, atau
kasus terlapor TB yang tinggi, bisa menganjurkan orang tua agar bayinya menjalani
tes antibodi HIV atau tes viral sedini mungkin.

Penyediaan dan kepatuhan terhadap ARV. Masalah ketidakpatuhan minum obat ARV perlu
diperhatikan guna mencegah terjadi HIV kebal obat, yang bisa berakibat buruk bagi
kesehatan masyarakat. Sering terjadi ODHA ikut terapi ARV mengalami kemajuan

25
kesehatan dan kembali berperilaku risiko. Pemahaman peran faktor sosial dan budaya dalam
perubahan perilaku berisiko tetap merupakan prioritas penelitian pencegahan.

Terkait dampak klinis dan penyediaan ARV

 Modeling dampak penyediaan ARV, dan manajemen serta perawatan ko-morbiditas


terhadap penurunan prevalensi atau insiden HIV pada kelompok risiko tinggi.

 Pengembangan regimen ARV yang terjangkau, aman dan efektif, termasuk waktu
mulai dan lama pengobatan.

 Kemungkinan kaitan status dan intervensi gizi dengan kelangsungan hidup, kekebalan
tubuh, efektitifitas dan kemampuan mentolerir pengobatan ARV.

Terkait uji-coba pengobatan alternatif dan ‘complementary’

 Evaluasi keuntungan atau risiko pemakaian obat ‘complementary’ (herbal,


homeopathic, dan/atau naturopathic) pada terapi ARV.

 Evaluasi pengaruh chemo-preventive termasuk micronutrients dosis tinggi (vitamin


dan unsur-unsur terkait) dan macronutrients terhadap konsisi tubuh dan komplikasi
terkait infeksi HIV.

 Evaluasi keamanan dan efesiensi non-pharmacologic complementary dan alternative


medicine (olah raga, gizi, dan siklus tidur) dalam penanganan penyakit komplikasi
terkait infeksi HIV.

Layanan pengobatan IMS merupakan bagian tidak terpisahkan dalam intervensi HIV dan
AIDS. Skrining IMS dan pengobatan presumptive ditujukan kepada komunitas berisiko
tinggi. Di samping itu, masalah prevalensi hepatitis C yang tinggi di kalangan IDU
memerlukan perhatian. Upaya pencegahan awal dan sekunder hepatitis C di kalangan IDU
yang sudah berjalan belum cukup memberikan dampak jangka panjang.

 Cost-effectiveness penanganan sindromatik IMS pada ODHA.

 Pengurangan stigma dan diskriminasi dalam program pengobatan IMS.

26
 Pengembangan Periodic Presumptive Treatment skala besar pada populasi risiko
tinggi.

 Cakupan, kualitas dan penggunaan layanan pengobatan IMS pada kelompok risiko
tinggi.

 Pendekatan inovatif pengobatan terhadap pasangan yang sesuai dengan kondisi


lapangan.

 Pendekatan inovatif layanan obat substitusi oral terhadap kelompok penasun guna
mengurangi penularan hepatitis C.

4. Penelitian sistem kesehatan dan kesadaran masyarakat

Kerjasama penyedia layanan dan masyarakat sebagai penguna layanan perlu ditingkatkan,
termasuk koordinasi dan integrasi berbagai layanan terkait. Dalam HIV, termasuk layanan
IMS, PTMC, dan TB/HIV.

Intergrasi program HIV dan AIDS dalam program kesehatan umum. Integrasi tidak sebatas
kepentingan sesaat, tetapi dalam kerangka sistem yang lebih luas, termasuk sistem
Jamkesmas dan program kesehatan masyarakat lain. Masyarakat umum di tingkat lokal
dapat dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan program. Puskesmas dan
sejenisnya bisa berperan meningkatkan kunjungan ODHA dan kelompok lain yang
membutuhkan sehingga dapat membantu efektifitas program layanan.

Terkait kerjasama antara sektor, LSM, dan masyarakat dalam sistem layanan

 Kerjasama sektor pemerintah dan LSM terkait dalam fasilitasi masyarakat


mengakses layanan HIV dan AIDS dalam kerangka sistem kesejahteraan sosial,
seperti Jamsostek, Jamkesmas, Askes, dll.

 Hambatan politik dan struktural di masyarakat, termasuk stigma dalam layanan HIV
dan AIDS, termasuk penyediaan obat-obatan dan ARV.

 Potensi pendanaan oleh swasta dan pemerintah dalam program layanan HIV dan
AIDS.

27
 Tranparansi keuangan, dan upaya menghindari korupsi materi dan power oleh
pelaksana program HIV dan AIDS.

 Peran donor internasional terhadap pelaksanaan program HIV dan AIDS.

 Kemitraan pemerintah, masyarakat sipil (LSM, kelompok komunitas, ormas) , dan


jaringan ODHA dalam perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring dan evaluasi
program HIV dan AIDS.

 Desentralisasi dan perencanaan, pembiayaan dan pelaksanaan program HIV dan


AIDS.

 Kajian organisasional dari manajemen melalui contracting out pelayanan HIV


kepada pihak swasta untuk meningkatkan cakupan dan efektifitas program8

Terkait perubahan layanan kesehatan terhadap ODHA

 Perencanaan dan pelaksanaan program layanan yang sesuai dengan kebutuhan dan
situasi karakteristik ODHA.

 Pengetahuan dan kesadaran hak kesehatan reproduksi, seksualitas dan hak asasi
manusia dari pengguna layanan HIV dan AIDS.

 Integrasi layanan HIV dan AIDS dengan sistem layanan kesehatan ibu dan anak.

 Konsistensi kualitas layanan dan keterlibatan masyarakat pengguna layanan dalam


program layanan HIV dan AIDS.

 Keterlibatan ODHA dan peningkatan ayanan HIV dan AIDS.

 Faktor yang mempengaruhi peningkatan cakupan layanan VCT atau PICT di


berbagai kelompok masyarakat.

 Evaluasi keberhasilan program layanan HIV dan AIDS.

Terkait perspektif pekerja layanan

8
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10133098;
http://www.who.int/management/resources/finances/ContractingPrimaryHealtServicesEvidence.pdf

28
 Kemampuan teknis dan manajerial petugas layanan dalam penanganan infeksi
oportunistik, pencegahan penularan HIV dari ibu hamil, dan pengobatan TB dan
Hepatitis.

 Kemampuan petugas layanan dalam negosiasi belanja alat-alat dan obat-obatan


layanan HIV dan AIDS.

 Kecukupan kuantitas dan kualitas tenaga program layanan HIV dan AIDS.

 Keselamatan dan keamanan kerja petugas layanan terhadap penularan HIV.

 Situasi psikologis dan depresi petugas layanan perawatan, dukungan dan pengobatan
ODHA.

Potensi pendanaan program daerah. Pendanaan program HIV dan AIDS menghadapi banyak
hambatan karena epidemi masih dianggap rendah, dan banyak masalah kesehatan lain
dianggap lebih prioritas. Pemahaman pejabat dan masyarakat daerah terhadap HIV dan
AIDS perlu diperbaiki guna meningkatkan cakupan dan kualitas layanan. Masyarakat
dilibatkan dalam pengawasan pelaksanaan program. Sejauh ini sebagian besar dana upaya
penanggulangan HIV dan AIDS berasal dari luar negeri. Mobilisasi dana dari dalam negeri,
termasuk swasta, pemerintah daerah dan masyarakat, perlu ditingkatan guna lebih menjamin
kualitas dan kelangsungan program.

Terkait kemitraan pendanaan program HIV dan AIDS

 Efektifitas sistem akses dan distribusi pendanaan program di daerah yang dijalankan
sektor pemerintah, LSM atau organisasi kemasyarakatan lain. Perlu dilihat mengapa
suatu program mendapat dana, sementara yang lain tidak.

 Potensi pendanaan program HIV dan AIDS di daerah dari APBD dan swasta dengan
pertimbangan cost-efektif.

 Pendanaan program HIV dan AIDS dari dana-dana yang dihimpun masyarakat
melalui mobilisasi tradisional, seperti bazaar, zakat, dan sumbangan organisasi
keagamaan.

29
 Pengembangan modeling keuangan usaha hiburan yang menyisihkan dana program
penanggulangan HIV dan AIDS bagi pekerja dan klien.

Terkait mobilisasi masyarakat dalam penghapusan stigma dan diskiminasi

 Karakter khusus kepemimpinan daerah yang mendukung upaya penanggulangan


HIV dan AIDS.

 Minat masyarakat sekitar lokalisasi, misal: mucikari, tukang ojek, pedagang


makanan, dalam penangulangan HIV dan AIDS.

 Minat institusi pendidikan baik sekolah maupun perguruan tinggi dalam


penaggulangan HIV dan AIDS.

 Efektifitas bentuk kontrak kerja dari pemerintah kepada LSM dalam melaksanakan
bagian tertentu program penanggulangan HIV dan AIDS.

 Dokumentasi bentuk upaya masyarakat dalam penanggulangan HIV dan AIDS.

 Penyiapan ketenagaan program penanggulangan HIV dan AIDS di sektor yang


relevan.

Struktur sosial masyarakat dan intervensi HIV. Pembahasan terhadap proses konstruksi
sosial dan reaksi masyarakat terhadap HIV dan masih terbatas. ODHA yang memiliki
informasi akses layanan mungkin saja mengurungkan niat berobat karena takut perlakuan
diskriminatif petugas layanan atau tidak mau membuka status kepada keluarga karena takut
dikucilkan. Konflik kehidupan sehari-hari yang dihadapi ODHA karena lingkungan dan
sistem tidak mendukung sebagai bukti bahwa hanya pengetahuan atau penguasaan
penguasaan informasi saja tidak cukup, tetapi dibutuhkan pula dukungan struktur sosial
dalam kehidupan msyarakat. Sektor kesehatan dan sektor sosial lain perlu bekerja bersama
dalam perencanaan, pembiayaan dan pelaksanaan program HIV dan AIDS, tetapi hubungan
berbagai sektor ini di tingkat nasional ataupun daerah sering kali kurang optimal.

Terkait kerjasama antara sektor dalam perumusan kebijakan HIV dan AIDS

30
 Peran masing-masing sektor terkait di semua tingkatan birokrasi dalam perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi program HIV dan AIDS.

 Dinamika politik dan sosial pembentukan kebijakan dukungan program


penanggulangan HIV dan AIDS di tingkat pelaksanaan program (kabupaten,
kecamatan, desa).

 Ketimpangan pelaksanaan kebijakan HIV dan AIDS oleh instansi pemerintah atau
LSM yang berafiliasi dengan pemerintah. Misal: Satpol PP menutup lokasi
pelacuran yang memasang poster 100% penggunaan kondom anjuran Kemkes.

 Peran KPA Provinsi/Kabupaten/Kota, LSM pemerhati hak asazi manusia dan


organisasi lain dalam menjembatani ketimpangan aturan main kebijakan HIV dan
AIDS di tingkat pelaksanaan program. Misalnya kesenjangan kebijakan hukum
terhadap pemakai narkotika suntik yang tertangkap di sekitar tempat layanan harm
reduction, atau perlakuan tidak pantas media elektronik terhadap WPS yang
ditangkap Satpol PP atau masyarakat umum.

Kebijakan dan Program berbasis penelitian. Kebijakan HIV dan AIDS sering dikembangkan
tanpa pertimbangan data kebutuhan yang relevan, karena keinginan bertindak cepat
menanggapi laporan kasus HIV dan AIDS di masing daerah. Kebijakan politik yang didasari
ideologi tertentu sering berakibat ketidakacuhan terhadap hasil penelitian terkait. Dunia
penelitian perlu mempertimbangkan cara-cara membangun hubungan sehat dengan politisi.
Peneliti perlu mampu menerjemahkan bahasa ilmiah kedalam bahasa yang bisa dimengerti
politisi dan calon pemberi dana yang awam HIV dan AIDS. Peneliti perlu memahami sudut
berpikir pembuat, pemegang dan pelaksana kebijakan di berbagai tingkat pemerintahan.

Terkait ketimpangan kebijakan atau program HIV dan AIDS

 Ketimpangan pengetahuan dan persepsi kebutuhan, kondisi epidemi dan potensi


sumber daya dari pembuat kebijakan HIV dan AIDS di daerah.

 Ketimpangan komunikasi penelitian dengan upaya pengembangan kebijakan HIV dan


AIDS.

31
 Pola kerja sama peneliti dengan pengambil dan pemegang kebijakan dalam
pengembangan kebijakan yang mendukung program HIV dan AIDS, termasuk analisis
organisasi dan struktur kekuasaan yang melibatkan aktor-aktor sosial, ekonomi dan
politik setempat.

 Intervensi internasional dalam pengambilan kebijakan nasional HIV dan AIDS.

 Dampak dari berbagai kebijakan dan perubahan kebijakan terhadap pelayanan dan
pemanfaatan layanan HIV dan AIDS, dan perkembangan HIV di kalangan perempuan
dan remaja perempuan.

 Peran media cetak dan elektronik dalam pengembangan dan perbaikan kebijakan HIV
dan AIDS.

 Pola-pola pendekatan kepada pembuat kebijakan dalam alokasi dana dan pelaksanaan
kebijakan HIV dan AIDS terhadap masyarakat berisiko tinggi.

 Undang-undang penjualan dan pemakaian alkohol dengan perilaku berisiko tertular


HIV di masyarakat, terutama remaja.

 Pengembangan kebijakan HIV dan AIDS yang melibatkan masyarakat dan sesuai
kebutuhan.

 Pengaruh UU pornografi dan Perda terhadap penjangkauan layanan HIV dan AIDS
terhadap kelompok GWL dan lesbian.

 Pelibatan pemuka-pemuka adat dan agama dalam pembuatan kebijakan terkait HIV
dan AIDS pada wilayah dengan lokalisasi berbasis masyarakat, dan tingkat epidemi
relatif cukup tinggi.

 Produk hukum dan kebijakan yang mendukung atau menghambat pengaksesan


layanan HIV dan AIDS, termasuk IMS lewat Jamkesmas, Jamsostek dan program
asuransi sosial lainnya. Misal: jaminan hukum membeli jarum suntik steril di apotik
bagi penasun yang terdaftar ikut program LJASS di puskesmas.

Terkait dengan norma sosial, peran individu pembuat keputusan lokal, dan peran institusi
formal/non formal (agama, ekonomi, pendidikan, dll.) setempat dalam pengembangan
kebijakan HIV dan AIDS.

32
 Hubungan antara nilai sosial dan kebijakan terkait dengan hak azasi manusia yang
mempengaruhi upaya pencegahan dan penyediaan layanan kesehatan terhadap
populasi kunci.

 Hubungan antara ketersediaan sarana fisik layanan, sosial budaya setempat dan
keterjangkauan layanan (dari sudut harga layanan dan biaya pendukung lainnya)
terkait dengan HIV dan AIDS (Outreach, CST, LJASS dan RTM).

 Penjualan kondom dan alat pencegahan penularan HIV melalui berbagai jenis usaha
(warung-warung, Circle K, apotik, dll) di semua wilayah yang dianggap memiliki
angka kasus HIV tinggi.

 Hubungan dinamika sosial dan ekonomi seperti migrasi tidak seimbang secara gender
dan mekanisme birokrasi propinsi-kabupaten dengan pengembangan kebijakan dan
AIDS.

 Faktor struktural seperti kondisi ekonomi, migrasi, urbanisasi, politik lokal dan
kekerasan lain dalam kaitan dengan penularan HIV dan akses layanan program.

 Pengaruh UU anti pornografi terhadap keberadaan lokalisasi dan pelaksanaan


program struktural HIV dan AIDS.

 Kondisi lingkungan hunian kelompok populasi kunci dan kerentanan mereka terhadap
penularan HIV.

 Program penunjang (ketrampilan, seni, ekonomi, politik) perubahan perilaku


kelompok- kelompok tertentu, seperti anak muda anarkis, WPS, penasun, dll.

 Alternatif program yang dilandasi kekuatan hukum mengikat seperti compulsory


testing, mandatory testing untuk kehamilan, dan pendidikan intensif tentang
kepatuhan ARV.

 Karakteristik struktur hubungan pribadi (pasangan tetap, menikah dengan perempuan,


dll.) di kalangan GWL dalam kaitan dengan perilaku risiko tertular HIV di lokasi
tertentu: Spa, taman kota malam hari, dll.

 Perspektif pelaksanaan kebijakan mendukung penganggulangan HIV. Misal persepsi


satuan polisi akan tertular HIV dalam kerja, atau upaya mereka membantu

33
pencegahan penularan di kalangan penasun tanpa melanggar hukum dan kode etik
kerja polisi.

 Dinamika bertetangga di wilayah populasi rentan perilaku risiko tertular HIV dan
IMS, kemungkinan termasuk keakraban dan kepadatan hunian.

 Pengembangan program layanan HIV dan AIDS yang sesuai dengan dinamika sosial
dan budaya di lingkungan pangkalan truk, atau terminal transportasi darat dan laut
dengan dominasi laki-laki.

Pengaruh struktur sosial terhadap perempuan dan remaja perempuan. Penelitian sekitar
kerentanan sosial ataupun biologis perempuan dan remaja perempuan terhadap penularan
perlu mendapat perhatian. Walaupun dasar mekanisme replikasi virus dan patogenesis tidak
terlalu berbeda antara laki-laki dan perempuan, interaksi HIV dalam tubuh selama infeksi dan
perjalanan penyakit mungkin berbeda menurut jenis kelamin. Banyak pertanyaan belum
terjawab terkait dengan anatomi dan karakteristik psikologi perempuan dan remaja
perempuan dan hubungannya dengan kerentanan penularan HIV.

Terkait konsekuensi sosial dan ekonomi dari HIV dan AIDS pada perempuan dan remaja
perempuan.

 Pencegahan penularan dan penjaminan kualitas hidup di kalangan pasangan yang


HIV-serodiscordant.

 Konsekuensi infeksi HIV terhadap kesehatan reproduksi dan keputusan reproduksi


pada perempuan dan remaja perempuan.

 Konsekuensi psikologi, sosial, ekonomi, pendidikan dan akses layanan dari infeksi
HIV pada perempuan dan remaja perempuan.

 Dampak intervensi pencegahan HIV dan AIDS di kalangan laki-laki terhadap


pencegahan penularan HIV dan IMS pada perempuan.

 Dampak dari intervensi program layanan HIV dan AIDS di masyarakat terhadap
perempuan dan remaja perempuan.

 Dinamika sosio-demografi dan perubahan perilaku berisiko penularan HIV.

34
 Perilaku masyarakat dengan prevalensi rendah HIV, seperti perempuan paruh baya,
mereka dengan keterbatasan metal dan fisik, perempuan bi-seksual, remaja
perempuan, dan remaja perempuan di pedesaan.

 Dampak kejadian besar seperti bencana alam, perang suku, dan instabilitas
kedaerahan terhadap risiko penularan HIV pada perempuan dan remaja perempuan
di wilayah tertentu.

Papua dan wilayah dengan kondisi epidemi khusus. Situasi epidemi di Papua
merefleksikan keragaman epidemi di Indonesia. Prevalensi HIV di Papua ditengarai jauh
lebih tinggi dibanding wilayah lain. Papua sudah memasuki tahap ‘early generalized
epidemic’ dengan potensi penyebaran epidemi lebih luas lewat perilaku seksual berisiko.
Papua membutuhkan suatu program dengan strategi menyeluruh guna mengendalikan
epidemi, termasuk program pengobatan terkait infeksi HIV pada populasi rentan.
Kekhususan wilayah dan epidemi membutuhkan kekhususan program, termasuk penelitian.

Terkait pelibatan masyarakat umum Papua dalam pencegahan HIV

 Kerjasama antara masyarakat umum, akademisi, dan swasta dalam meneliti dan
promosi pencgahan HIV.

 Pengembangan model penelitian ‘participatory’ yang dapat melibatkan masyarakat


yang sangat terimbas oleh HIV/AIDS.

 Dampak HIV dan AIDS terhadap perekonomian tingkat keluarga di Papua.

Terkait sosial-budaya, kebijakan pemerintah lokal, sistem kesehatan dan ketimpangan


layanan informasi, perawatan dan pengobatan

 Dampak kemiskinan, keterbatasan pendidikan, pengalaman dipenjara dan ketidak-


tahuan informasi kesehatan terhadap situasi epidemi.

 Pengaruh gender dan kesukuan terhadap nilai-nilai sosial dan budaya yang terkait
dengan risiko penularan HIV.

35
 Pengaruh stigma, kesukuan, anti homoseksual, dan rasa kedaerahan terhadap layanan
kesehatan, termasuk VCT.

 Faktor-faktor perilaku individual dan struktur sosial masyarakat yang mempengaruhi


minat VCT.

Terkait faktor-faktor khusus perilaku risiko penularan HIV

 Pola dan perubahan perilaku dan pembentukan peer group pada remaja dalam kaitan
risiko penularan HIV.

 Dampak pola perpindahan penduduk musiman antar Papua dan Papua New Guinea
terkait risiko tertular HIV dan IMS.

 Kondisi perbatasan antara Papua dan Papua New Guinea terhadap perilaku berisiko
dan juga akses layanan VCT dan pengobatan terkait infeksi HIV dan IMS.

 Strategi komunikasi kesehatan yang bisa dipakai sektor swasta dalam


mengembangkan program pencegahan yang efektif di Papua.

 Peran keluarga besar di Papua dalam pendidikan dan pedoman pencegahan HIV di
kalangan remaja.

 Pola perpindahan penduduk dan jaringan seksual dari nelayan di pelabuhan–


pelabuhan di Papua.

 Peran pemimpin adat dalam program pencegahan HIV/AIDS dan bagaimana cara-cara
tradisional mereka dalam memobilisasi masyarakat dengan efektif.

 Penelitian formatif menemukan cara pengembangan pesan-pesan HIV dan AIDS


terutama pada masyarakat tidak baca dan tulis di dataran tinggi.

Bab 5 Pelaksanaan Penelitian

36
Knowing is not enough, we must apply,
willing is not enough, we must act.
(Johann Wolfgang von Goethe)

Pelaksanaan penelitian di negara berkembang seperti Indonesia menghadapi berbagai


hambatan, a.l. kapasitas penelitian yang masih rendah, lemahnya koordinasi di antara
berbagai lembaga penelitian, kurangnya kesadaran akan pentingnya etika penelitian serta
lemahnya monitoring & evaluasi program penelitian. Faktor-faktor tersebut perlu mendapat
perhatian khusus bila kita ingin meningkatkan upaya dan mutu penelitian HIV/AIDS.

Penguatan Kapasitas

Penguatan kapasitas penelitian sangat menentukan untuk menjamin mutu penelitian.


Peningkatan kapasitas meliputi peningkatan kemampuan peneliti dan kemampuan
kelembagaan.

Faktor-faktor yang menentukan mutu peneliti dan lembaga penelitian a.l. ialah adanya:

1. kepemimpinan yang kuat dan komitmen untuk menghasilkan pekerjaan yang


berkualitas;

2. tradisi meneliti yang disertai disiplin serta manajemen penelitian yang yang kuat;

3. dokumentasi kegiatan profesional dan ilmiah, termasuk publikasi yang sistematik;

4. sumber daya manusia dan dana yang memadai dan berkesinambungan;

5. lingkungan yang kondusif untuk riset dan memberi motivasi untuk peneliti muda;

6. hubungan dan kerjasama yang erat dengan pembuat kebijakan dan keputusan;

7. kerjasama dan berjaringan yang erat dengan lembaga penelitian lain serta badan donor
internasional.

Untuk mampu mencapai kapasitas yang memadai, saat ini perlu dilakukan pemetaan atau
inventarisasi yang berkesinambungan atas lembaga-lembaga penelitian ataupun organisasi
yang aktif di bidang penelitian HIV/AIDS. Informasi ini sangat penting untuk memberi daya
ungkit pada produk penelitian kita melalui upaya mensinergikan kekuatan dan kelemahan dari

37
masing-masing lembaga/organisasi. Suatu jejaring untuk memfasilitasi komunikasi,
kerjasama serta peningkatan kapasitas di bawah koordinasi Kelompok Kerja Penelitian
KPAN akan sangat mendukunga upaya penguatan kapasitas.

Salah satu mekanisme yang digunakan untuk meningkatkan partisipasi penelitian, baik yang
mewakili individu maupun institusi, adalah melalui undangan untuk mengajukan usul
penelitian (call for proposals). Setiap tahun KPAN mengundang secara terbuka semua pihak
untuk mengajukan usul penelitian, yang kamudian diseleksi dalam panel. Penguatan kapasitas
diberikan dalam kerangka ini melalui suatu seri lokakarya pelatihan, a.l. pengembangan
proposal, metodologi penelitian, penyusunan protokol/instrumen penelitian, analisis data,
penulisan laporan, publikasi hasil penelitian dan lain-lain cara diseminasi hasil penelitian.

Selain memberi penguatan kapasitas untuk peneliti-peneliti secara umum, kerjasama dengan
luar negeri juga ditingkatkan. Selain untuk mendapat sumber dana, kerjasama dengan luar
negeri ini memberi kesempatan untuk terjadinya transfer of technology. Pelaksanaannya
mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan
Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing, Lembaga Penelitian Asing,
Badan Usaha Asing dan Orang Asing. PP tersebut a.l mengharuskan adanya peneliti
Indonesia sebagai mitra dan suatu organisasi Indonesia sebagai penjamin serta ijin dari
Kemristek.

Dengan langkah-langkah diatas diharapkan pada tahun 2014 Indonesia telah memiliki peneliti
HIV/AIDS dalam jumlah yang cukup (critical mass) dari berbagai disiplin ilmu, yang mampu
menghasilkan penelitian secara mandiri yang dibutuhkan untuk pemecahan masalah yang
dihadapi program.

Koordinasi dan jejaring penelitian

Dalam rangka peningkatan koordinasi dan jejaring antar lembaga penelitian, susunan
Kelompok Kerja Penelitian KPA Nasional perlu diperluas dan diperbaharui untuk masa kerja
2011-2014. Semua pemangku kepentingan seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian,
organisasi profesi, lembaga swadaya/organisasi serta kelompok masyarakat dan instansi
pemerintah yang bergerak di bidang penelitian perlu diwakili dalam kelompok kerja
penelitian.

38
Tugas-tugas Pokja Penelitian a.l. ialah:

1. Menyusun agenda riset untuk mendukung Strategi & Rencana Aksi Penanggulangan
HIV dan AIDS 2010-2014

2. Mengembangkan kerjasama antar lembaga penelitian di Indonesia dan menjalin kerja


sama internasional

3. Mengembangkan jejaring (networking) penelitian HIV dan AIDS

4. Mengadakan seleksi usulan penelitian yang diajukan kepada KPA Nasional

5. Meningkatkan mutu penelitian dan pemanfaatannya untuk pengembangan program


dan kebijakan penanggulanga HIV & AIDS

6. Meningkatkan dokumentasi dan diseminasi dari hasil penelitian HIN & AIDS

7. Mengadakan monitoring & evaluasi kegiatan program penelitian HIV & AIDS

Etik Penelitian

Penelitian yang menggunakan manusia sebagai subyek penelitian perlu didasarkan pada
prinsip umum etika, yaitu: menghormati harkat martabat/otonomi manusia (respect for
persons), berbuat kebaikan (beneficence), tidak merugikan (nonmaleficence), dan berkeadilan
(justice).

Prinsip menghormati harkat martabat manusia merupakan bentuk penghormatan sebagai


pribadi yang memiliki kebebasan berkehendak atau memilih dan sekaligus bertanggung
jawab secara pribadi terhadap keputusannya sendiri (otonomi dan self-determination). Prinsip
berbuat baik menyangkut kewajiban mengupayakan manfaat maksimal dengan kerugian
minimal. Prinsip tidak merugikan menyatakan bahwa jika orang tidak dapat melakukan hal
yang bermanfaat, setidaknya jangan merugikan orang lain. Prinsip keadilan mengacu pada
kewajiban untuk memperlakukan setiap orang (sebagai pribadi otonom) sama dengan moral
yang benar dan layak dalam memperoleh haknya. Prinsip etik keadilan terutama menyangkut
keadilan distributif yang mempersyaratkan pembagian seimbang (equitable) dalam hal beban
dan manfaat dari keikutsertaan dalam penelitian.

39
Subyek yang akan mengikuti penelitian perlu memberi persetujuan setelah mendapat
penjelasan (informed consent). Sebelum meminta persetujuan, peneliti harus memberi
informasi mengenai tujuan penelitian, pemanfaatan hasilnya, jaminan kerahasiaan, metode
yang digunakan, risiko yang mungkin timbul dan hal-hal lain yang perlu diketahui yang
bersangkutan.

Semua penelitian yang menggunakan manusia perlu mendapat persetujuan dari suatu komisi
etik penelitian institusi dimana ia bekerja. Bila institusi peneliti belum mempunyai komisi
etik penelitian, persetujuan dapat diminta dari dari komisi yang terdekat.

Para peneliti perlu memahami isi buku: Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan yang
telah dikeluarkan Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan.

Dalam rangka pengumpulan informasi melalui penelitian perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut:

 Apakah penelitian ini dibutuhkan dan dapat dibenarkan?

 Apakah disain penelitian ini akan menghasilkan informasi yang valid?

 Apakah pendapat/masukan masyarakat dan pemangku kepentingan telah


diperhatikan?

 Apakah kerugian (bagi peserta) yang mungkin timbul akibat akibat penelitian ini
sudah diperhitungkan?

 Apakah semua prosedur untuk menjamin kerahasiaan/konfidensialitas terjamin?

 Apakah prosedur untuk menjamin keselamatan peserta sudah disiapkan?

 Apakah sudah disediakan rencana dan dana untuk tindak lanjut penelitian ini?

Monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian

Monitoring ialah usaha rutin untuk memantau dan melaporkan informasi penting mengenai
proyek atau program penelitian, sedangkan evaluasi lebih banyak ditujukan untuk
pengumpulan informasi mengenai outcome dan dampak dari penelitian.

40
Beberapa informasi yang perlu diketahui adalah antara lain:

 Jumlah dan ragam penelitian yang didanai, dilaksanakan, disebarluaskan dan


diketahui oleh pemegang program dan pemangku kepentingan

 Peneliti dan lembaga/organisasi yang terlibat dalam penelitian

 Jumlah dan ragam sumber daya manusia yang telah ikut kegiatan penguatan kapasitas
penelitian

 Jumlah produk dan publikasi kasil penelitian

 Hasil penelitian yang dimanfaatkan untuk penyempurnaan kebijakan dan program


penanggulangan HIV/AIDS.

Kegiatan untuk monitoring & evaluasi penelitian HIV dan AIDS meliputi:

 Kunjungan ke lapangan (lokasi penelitian) dan lembaga penelitian

 Inventarisasi/penyusunan database penelitian yang telah dilaksanakan

 Dokumantasi/penyusunan bibliografi hasil penelitian

 Mengadakan tinjauan kritis (critical review) dan sistematik (systematic review) dari
hasil penelitian

 Mengadakan evaluasi dari efektivitas pendanaan penelitian oleh KPAN.

Bab 6. Diseminasi Hasil Penelitian

Knowledge is….a special species of money, which is valued greatly, but


only adds to our well-being in proportion as it is communicated.
(Jean-Jacques Rousseau)

41
Hasil penelitian perlu dikomunikasikan kepada para pemakai/pemangku kepentingan dalam
bentuk yang dapat dipahami dan mudah dilaksanakan. Hasil-hasil penelitian diharapkan dapat
dipakai untuk meningkatkan jangkauan dan mutu dari program, baik pada tingkat mikro
(intervensi oleh unit pelaksana pemerintah maupun LSM) dan tingkat makro (penyempurnaan
kebijakan pada tingkat nasional dan berbagai tingkat administrasi pemerintahan). Dengan
demikian dianjurkan agar setiap penelitian yang berdampak pada daerah penelitian
didiseminasikan kepada pemangku kepentingan terkait seselesainya pelaksanaan penelitian.
Diseminasi tidak hanya terkait intervensi yang efektif tetapi juga yang tidak efektif
dipublikasi dan didiseminasi. Penelitian demikian juga berharga sebagai pelajaran, agar
kesalahan tidak diulang lagi.

Publikasi penelitian baik di media nasional maupun internasional tidak hanya menjadi nilai
tambah bagi peneliti sendiri tetapi juga baik dunia penelitian nasional.

Laporan akhir penelitian

Suatu laporan akhir penelitian, sebagai pertanggungan jawab kepada sponsor/pemberi dana,
dapat memuat hal-hal sebagai berikut:

 Halaman depan (judul, penulis, institusi, tanggal publikasi)

 Kata pengantar

 Abstrak/Ringkasan eksekutif

 Latar belakang

 Studi kepustakaan

 Metodologi

 Hasil/temuan

 Pembahasan (termasuk implikasi untuk program)

 Kesimpulan dan rekomendasi

 Daftar rujukan

 Lampiran-lampiran

42
Strategi diseminasi

Laporan sedapatnya disesuaikan dengan sasaran/audiens yang dituju. Laporan untuk manajer
program perlu difokuskan pada implikasi temuan penelitian untuk perbaikan program. Detail
mengenai metodologi ilmiah tidak terlalu ditonjolkan, bila perlu disampaikan dalam
lampiran. Untuk para pemegang program sebaiknya dibuatkan Ringkasan Eksekutif yang
dapat dibaca tersendiri, terpisah dari laporan yang lengkap.

Bila laporan ditulis untuk para peneliti atau staf akademik, laporan lebih menekankan aspek
ilmiah dan metodologinya, sehingga peneliti lainnya dapat mengulang penelitian di daerah
lain dengan subyek penelitian lain.

Sangat bermanfaat untuk diseminasi hasil kepada para pemegang program ialah mengadakan
suatu seminar setelah penelitian selesai. Dalam seminar tersebut para pemegang program dan
peneliti dapat mendiskusikan temuan-temuan dan menyusun rekomendasi untuk perbaikan
program.

Suatu strategi diseminasi yang baik ialah mengadakan pertemuan kecil dengan para
pemegang program dan lain pemangku kepentingan selama penelitian berjalan, baik dari
pihak pemerintah maupun non-pemerintah Dalam pertemuan tersebut dibahas perkembangan
penelitian/hasil sementara penelitian. Pertanyaan dan komentar dari para pemegang program
akan sangat bermanfaat bagi para peneliti dan memudahkan diterimanya hasil penelitian di
kemudian hari untuk perbaikan program.

Di samping seminar akhir penelitian dapat ditempuh berbagai cara lainnya untuk
mendiseminasikan hasil penelitian:

 Memasukkan laporan akhir/ringkasan eksekutif di Website (AIDSINDONESIA,


AIDSina, dll.)

 Mengadakan press release/jumpa pers

 Mengadakan briefing utuk para stakeholders/pemangku kepentingan

 Mempresentasikan hasil penelitian diberbagai seminar, konperensi, lokakarya,


kongres (Loknas Penelitian Tahunan dari KPAN, Pertemuan Nasional AIDS,
kongres/pertemuan ilmiah berbagai perkumpulan profesi)

43
 Menulis Letter to the Editor di majalah/jurnal

 Menulis berita dalam newsletter berbagai organisasi

 Publikasi dalam majalah/jurnal ilmiah

Bab 7. P e n u t u p

It is often necessary to make a decision on the basis of information


sufficient for action but insufficient to satisfy the intellect.
(Immanuel Kant)

Respons yang efektif terhadap HIV dan AIDS membutuhkan penelitian yang berorientasi
kepada perbaikan intervensi dan kebijakan secara terus menerus.

44
Berbagai penelitian yang dibutuhkan meliputi penelitian klinis, epidemiologis, sosial-
perilaku dan operasional. Sangat penting ialah penelitian operasional untuk membantu para
pemegang program/pembuat kebijakan mendapat informasi strategis guna memperbaiki
kinerja program penanggulangan HIV dan AIDS: meningkatkan jangkauan, kualitas,
efisiensi dan efektivitas dari program dan layanan.

Pentingnya penelitian ditekankan kembali oleh Deklarasi Sydney Tahun 2007 yang disusun
selama IAS Conference on Pathogenesis, Treatment and Prevention IV di Sydney. Deklarasi
Sydney menganjurkan pemerintah-pemerintah dan lembaga-lembaga donor internasional
untuk mengalokasikan 10 % dari dana program AIDS bagi penelitian yang bisa menjadi
masukan untuk perbaikan program.

Untuk peningkatan mutu penelitian dibutuhkan usaha untuk meningkatkan kapasitas


penelitian, baik pengembangan sumber daya manusia, maupun infrastruktur kelembagaan
penelitian. Kerjasama antar lembaga penelitian, baik nasional maupun internasional perlu
ditingkatkan. Kerjasama yang erat juga perlu dikembangkan antara peneliti dan pemegang
program/pembuat kebijakan agar hasil penelitian dapat langsung dimanfaatkan untuk
perbaikan program dan layanan. Konsultasi antara peneliti dan pemegang
program/kebijakan sudah harus dilakukan sejak awal penelitian.

Hasil-hasil penelitian perlu dikumpulkan, dianalisa secara kritis agar dapat dimanfaatkan
untuk perbaikan kebijakan dan program.

Hasil-hasil penelitian, dalam bentuk yang sesuai dengan kelompok sasaran, perlu
didesiminasikan kepada semua pemangku kepentingan. Publikasi hasil penelitian di jurnal
ilmiah, baik di dalam maupun luar negeri perlu ditingkatkan.

45
Kontributor

1. Prof. Samsuridjal Djauzi (FK UI)


2. Prof. Zubairi Djoerban (MPAI)
3. Dr. Sabarinah Prasetyo (Puslitkes UI)
4. Drs. Heru Suparno (Puslitkes UI)
5. DR. Irwanto (Universitas Katholik Atmajaya)
6. Dr. Paul Frans Matulessy (FK UKI)
7. DR. Rifatul Widjhati (BPPT)
8. DR. Sri Sunarti Purwaningsih ( LIPI)
9. Prof. Charles Surjadi (JEN)
10. Dr. Pandu Riono (FKM UI)
11. Prof. Gde Dewa Wirawan (FK UNUD)
12. DR. Dede Oetomo (Gaya Nusantara)
13. Dr. Bachti Alisjahbana (FK Unpad)
14. Prof. Jusuf Barakbah (FK Unair)
15. Dr. Sri Pandam (WHO)
16. Dr. Siti Pariani (JEN)
17. Dr. Rita Damayanti (Puslitkes UI)
18. DR. Lely Wahyuniar (UNAIDS)
19. Dra. Siti Isfandari (Badan Litbangkes)
20. Dr. Yanri Wijayanti Subroto (FK UGM)
21. Dr. Heri Widyawati (Kemristek RI)
22. Dr. Nurcholis Madjid (FHI)
23. Syahrul Aminullah, MS (IAKMI)
24. Togi Siahaan, MS (BPS)
25. DR. Abby Ruddick (HCPI)
26. Dr. Dyah A. Waluyo (IDI)

Tim Penyusun:
1. DR. I Made Setiawan (Konsultan)
2. Prof. Budi Utomo (HCPI)
3. Dr. Suriadi Gunawan (KPAN)
4. Dra. Psi. Wenita Indrasari, MPH (KPAN)
5. Irawati Atmosukarto, S.Sos, MPP (KPAN)
6. Ratna Soehoed, SS (HCPI)

46