Anda di halaman 1dari 13

Case Presentation 1

Miopia ODS

Putu Pradipta Shiva Darrashcytha


H1A013052

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MATARAM

2018

BAB I

PENDAHULUAN

0
Kelainan refraksi adalah keadaan bayangan tegas tidak dibentuk pada
retina. Secara umum, terjadi ketidakseimbangan sistem penglihatan pada mata
sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Sinar tidak dibiaskan tepat pada
retina, tetapi dapat di depan atau di belakang retina dan tidak terletak pada
satu titik fokus. Kelainan refraksi dapat diakibatkan terjadinya kelainan
kelengkungan kornea dan lensa, perubahan indeks bias, dan kelainan panjang
sumbu bola mata.1

Menurut laporan terbaru dari World Health Organization (WHO),


kesalahan refraksi yang tidak dikoreksi adalah penyebab gangguan
penglihatan yang paling umum di seluruh dunia, terhitung 43% kasus dan
merupakan penyebab kebutaan yang penting. Kesalahan refraksi yang tidak
dikoreksi juga dikaitkan dengan penurunan kualitas hidup terkait penglihatan
dan dengan hilangnya kemandirian.3

Penegakan diagnosis dari kelainan refraksi ini dapat ditegakkan


berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik saja. Keluhan utama yang
dirasakan pasien beripa penglihatannya yang kabur atau menurun. Banyak
faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan refraksi pada seseorang.
Untuk penanganan kasus gangguan refraksi ini sendiri dapat berupa dengan
cara optik ataupun operasi.1,2 Berikut akan dilaporkan kasus kelainan refraksi
yang penulis dapatkan di Rumah Sakit.

BAB II
LAPORAN KASUS

1
2.1 Identitas Pasien
Nama : Nn. NK
Umur : 22 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Bima
No. RM : 601382
Tanggal Pemeriksaan : 23 Juni 2018

2.2 Anamnesis
A. Keluhan Utama:
Pandangan kabur pada kedua mata.

B. Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang ke Poliklinik Mata RSUP Provinsi NTB dengan keluhan
pandangan kabur pada kedua mata. Pasien merasakan keluhan ini sejak 6
bulan lalu. Menurut pasien penglihatannya mulai kabur sejak 6 bulan lalu
dan memberat 2 bulan terakhir. Pasien juga susah untuk melihat benda
atau tulisan yang berada jauh dari diri pasien. Pasien harus memicingkan
mata jika ingin melihat benda atau tulisan yang jauh. Penglihatan pasien
menurun perlahan dan tidak dirasakan mendadak. Pasien menyangkal
adanya mata merah, gatal maupun berair. Pasien mengkau dirinya
memiliki kebiasaan memainkan handphone dalam posisi berbaring dan
menonton film menggunakan laptop dengan jarak yang dekat dalam
waktu yang cukup lama. Setelah melakukan aktivitas tersebut pasien
merasakan matanya perih dan terasa kering. Pasien mengatakan dirinya
menggunakan kacamata selama 2 tahun. Keluhan sakit kepala, pusing,
mual muntah disangkal oleh pasien.

C. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien mengaku memiliki keluhan pandangan kabur sejak 2 tahun lalu
dan sudah menggunakan kacamata S-0,5 kanan kiri selama 2 tahun ini
dan belum pernah mengganti kacamatanya. Riwayat hipertensi dan DM
disangkal oleh pasien.

D. Riwayat Penyakit Keluarga

2
Ayah pasien juga memiliki keluhan yang sama dengan pasien dan
menggunakan kacamata juga. Riwayat DM pada kakek pasien dan
riwayat hipertensi disangkal dalam keluarga.

E. Riwayat Alergi
Riwayat alergi obat dan makanan (-)

F. Riwayat Pengobatan
Pasien baru pertama kali berobat ke RSUP Provinsi NTB.

2.3 Pemeriksaan Fisik


− Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran/GCS : Compos mentis / E4V5M6
− Pemeriksaan Tanda Vital
Tekanan Darah : 100/70 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Frekuensi Napas : 18x/menit
Suhu : 36,5 0C

− Status Ophthalmologis
No Pemeriksaan OD OS

1. Visus
- Sc 6/50 6/18
- Ph 6/12 6/9
- Cc S-1.00 (6/6) S-0.75 (6/6)

2. Posisi Bola Mata Ortoforia Ortoforia

3. Pergerakan Bola Mata Baik ke segala Baik ke segala


arah arah

4 Lapang pandang

5. Edema (-) (-)

3
Palpebra Hiperemi (-) (-)
Superior Pseudoptosis (-) (-)
Entropion (-) (-)
Ektropion (-) (-)
Spasme (-) (-)
Poliosis (-) (-)
6. Palpebra Edema (-) (-)
Inferior Hiperemi (-) (-)
Entropion (-) (-)
Ektropion (-) (-)
7. Konjungtiva Hiperemi (-) (-)
Palpebra Cobble stone (-) (-)
Superior Sikatrik (-) (-)
Benda Asing (-) (-)
8. Konjungtiva Hiperemi (-) (-)
Palbebra Cobble stone (-) (-)
Inferior Sikatrik (-) (-)
Benda Asing (-) (-)
9. Konjungtiva Injeksi (-) (-)
Bulbi Konjungtiva
dan Siliar
Pendarahan (-) (-)
Massa (-) (-)
Edema (-) (-)
10. Kornea Bentuk Cembung Cembung
Kejernihan Jernih Jernih
Permukaan Licin Licin
Sikatrik (-) (-)
Benda Asing (-) (-)
Massa (-) (-)
11. Kedalaman Kesan dalam Kesan dalam
Hifema (-) (-)

4
Hipopion (-) (-)
Bilik Mata
12. Depan
Iris Warna Coklat Coklat
Bentuk Bulat dan Bulat dan
regular regular
13. Pupil Bentuk Bulat, ukuran 3 Bulat, ukuran 3
mm mm
RCL (+) (+)
RCTL (+) (+)
14. Lensa Kejernihan Jernih Jernih

15. TIO Palpasi Kesan normal Kesan normal

2.4 Dokumentasi Pasien

Gambar 1. ODS

5
Gambar 2. OD

Gambar 3. OS

6
BAB III
IDENTIFIKASI MASALAH DAN ANALISA KASUS

1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan data medis pasien di atas, didapatkan beberapa
permasalahan. Adapun permasalahan medis yang terdapat pada pasien adalah
sebagai berikut.
SUBJECTIVE
a. Keluhan penglihatan kabur pada kedua mata
b. Keluhan terjadi sejak lama dan perlahan.
c. Riwayat penggunaan kacamata selama 2 tahun
OBJECTIVE
Pemeriksaan status lokalis pada mata kanan dan kiri didapatkan :
 Visus natural OD 6/50 (pinhole 6/12), visus OS 6/18 (pinhole 6/9)
OD OS

Mata kanan tidak Mata kiri tidak didapatkan


didapatkan kelainan kelainan

2. Analisa Kasus

7
Pasien dengan keluhan penglihatan kabur dapat disebabkan karena
adanya kelainan atau gangguan pada media refraksi yaitu pada kornea sampai
retina. Kelainan refraksi adalah keadaan bayangan tegas tidak dibentuk pada
retina. Secara umum, terjadi ketidakseimbangan sistem penglihatan pada mata
sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Sinar tidak dibiaskan tepat pada
retina, tetapi dapat di depan atau di belakang retina dan tidak terletak pada
satu titik fokus. Kelainan refraksi dapat diakibatkan terjadinya kelainan
kelengkungan kornea dan lensa, perubahan indeks bias, dan kelainan panjang
sumbu bola mata2,3.
Pasien mengeluhkan penglihatan kabur yang terjadi secara perlahan sejak
6 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan mata didapatkan penurunan visus.
Penglihatan kabur perlahan dengan mata yang tenang dapat disebabkan karena
adanya kelainan refraksi berupa miopi. Miopia adalah salah satu bentuk
kelainan refraksi dimana sinar yang datang sejajar dari jarak yang tak
berhingga difokuskan di depan retina saat mata tidak berakomodasi. Pasien
dengan myopia akan menyatakan melihat lebih jelas bila dekat sedangkan
melihat jauh kabur atau pasien rabun jauh4.
Umumnya, miopi merupakan penyakit yang dapat terjadi pada semua
usia. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya miopi pada
seseorang, tetapi secara garis besar miopi disebabkan karena adanya kelainan
pada media refraksi. Miopi dapat terdiagnosis hanya dengan anamnesis dan
pemeriksaan fisik saja.3,5

Assessment
Diagnosis kerja: Miopia ODS
Diagnosis ini diajukan berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang mendukung diagnosis tersebut antara lain sebagai berikut.
- Keluhan penglihatan kabur yang terjadi sejak 6 bulan yang lalu secara
perlahan.
- Riwayat penglihatan kabur sejak 2 tahun lalu dan sudah menggunakan
kacamata sejak 2 tahun lalu.
- Penurunan visus OD 6/50 (ph 6/12) dan OS 6/18 (ph 6/9)

8
Planning
Tatalaksana
Penatalaksanaan miopia adalah dengan mengusahakan sinar yang masuk mata
difokuskan tepat di retina. Penatalaksanaan miopia dapat dilakukan dengan cara :

 Cara optik
1. Kacamata (Lensa Konkaf)
Koreksi miopia dengan kacamata, dapat dilakukan dengan menggunakan
lensa konkaf (cekung/negatif) karena berkas cahaya yang melewati suatu lensa
cekung akan menyebar. Bila permukaan refraksi mata mempunyai daya bias
terlalu tinggi atau bila bola mata terlalu panjang seperti pada miopia, keadaan ini
dapat dinetralisir dengan meletakkan lensa sferis konkaf di depan mata. Lensa
cekung yang akan mendivergensikan berkas cahaya sebelum masuk ke mata,
dengan demikian fokus bayangan dapat dimundurkan ke arah retina.2,4
2. Lensa kontak
Lensa kontak dari kaca atau plastik diletakkan dipermukaan depan kornea.
Lensa ini tetap ditempatnya karena adanya lapisan tipis air mata yang mengisi
ruang antara lensa kontak dan permukaan depan mata. Sifat khusus dari lensa
kontak adalah menghilangkan hampir semua pembiasan yang terjadi dipermukaan
anterior kornea, penyebabnya adalah air mata mempunyai indeks bias yang
hampir sama dengan kornea sehingga permukaan anterior kornea tidak lagi
berperan penting sebagai dari susunan optik mata. Sehingga permukaan anterior
lensa kontaklah yang berperan penting.3,5

 Cara operasi
Ada beberapa cara, yaitu :
1. Insisi Radikal
Untuk membuat insisi radial yang dalam pada pinggir kornea dan
ditinggalkan 4 mm sebagai zona optik.Pada penyembuhan insisi ini terjadi
pendataran dari permukaan kornea sentral sehingga menurunkan kekuatan
refraksi. Prosedur ini sangat bagus untuk miopi derajat ringan dan sedang.5

9
2. Laser photorefractive keratektomy (PRK)
Pada teknik ini zona optik sentral pada stroma kornea anterior difotoablasi
dengan menggunakan laser excimer (193 nm sinar UV) yang bisa menyebabkan
sentral kornea menjadi flat. Sama seperti RK, PRK bagus untuk miopi -2 sampai
-6 dioptri.5
3. Laser in-situ Keratomileusis (LASIK)

Pada teknik ini, pertama sebuah flap setebal 130-160 mikron dari kornea
anterior diangkat. Setelah Flap diangkat, jaringan midstroma secara langsung
diablasi dengan tembakan sinar excimer laser , akhirnya kornea menjadi flat.
Sekarang teknik ini digunakan pada kelainan miopi yang lebih dari - 12 dioptri.4,5
Kriteria pasien untuk LASIK:
 Umur lebih dari 20 tahun.
 Memiliki refraksi yang stabil,minimal 1 tahun.
 Motivasi pasien
 Tidak ada kelainan kornea dan ketebalan kornea yang tipis merupakan
kontraindikasi absolut LASIK

KIE
1. Memberikan informasi kepada pasien mengenai penyakitnya.
2. Memberitahukan pasien untuk kontrol apabila keluhan memberat atau
tidak membaik.
3. Memberitahukan pasien untuk membaca dengan pencahayaan yang
cukup.
4. Memberitahukan pasien untuk menghindari membaca sambil tiduran.
5. Memberitahukan pasien agar tidak terlalu lama menggunakan gadget dan
mengistirahatkan mata jika mulai terasa lelah.
6. Memberitahukan pasien untuk terus memakai kacamatanya.

Prognosis
1. Ad vitam : Bonam
2. Ad functionam : Dubia ad bonam
3. Ad sanationam : Dubia ad bonam

10
BAB IV

RINGKASAN AKHIR

Pasien seorang perempuan, usia 22 tahun dengan keluhan penglihatan kabur


pada kedua mata sejak 6 bulan lalu yang dirasakan menurun perlahan. Pasien
memiliki riwayat penglihatan kabur sejak 2 tahun lalu dan sudah menggunakan
kacamata sejak 2 tahun lalu. Ayah pasien juga memiliki keluhan yang sama
dengan pasien. Pada pemeriksaan fisik didapatkan mata dalam keadaan normal
dan pada pemeriksaan visus didapatkan visus OD 6/50 (pinhole 6/12) dan visus
OS 6/18 (pinhole 6/9). Rencana pemberian lensa baru pada pasien. Prognosis
penglihatan dubia ad bonam.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan Daniel G., Asbury T. Oftalmologi Umum. Edisi 17 (Alih Bahasa:


Waliban dan Bondan Hariono); Widya Medika: Jakarta. 2015
2. Ilyas, S, Yulianti, SR. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 5. Badan Penerbit FK
UI : Jakarta. 2015
3. Kementerian Kesehatan RI. Situasi Gangguan Penglihatan dan Kebutaan.
2014. [online] Available at : http://www.depkes.go.id/download.php?
file=download/pusdatin/infodatin/infodatin-penglihatan.pdf.
4. Chiefer, U, dkk. Refractive Errors. Continuing Medical education. Deutch.
2016
5. Budiono, S, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Mata. Airlangga University
Press: Surabaya. 2013

12