Anda di halaman 1dari 19

Case Presentation 1

Proptosis Bulbi OD Et Causa Suspek Kista


Dermoid Kornea + Ptisis Bulbi OS dengan
Anemia Berat + Gizi Buruk tipe Marasmus

Oleh:

Dewi Rabiatul Akhzami


H1A 013 017

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MATARAM

2018

BAB I

0
PENDAHULUAN

Kista dermoid orbital merupakan kelainan kongenital pada mata yang umum
terjadi pada anak-anak yang berasal dari elemen ektoderm selama proses
penutupan tabung saraf yang berdekatan dengan fetal suture line. Kista dermoid
merupakan tumor orbital yang paling umum terjadi pada anak-anak.1
Lokasi kista tersebut paling sering pada daerah dekat kantus lateral pada
sutura zigomatik fronto-temporal di bagian atas bagian tepi dari orbital superior.
Lokasi paling umum kedua yaitu pada bagian rim orbital superomedial.2,3
Kista dermoid dibagi menjadi dua tipe yaitu kista dermoid superfisialis dan
profunda. Kista dermoid superfisilais biasanya langsung terlihat pada masa anak-
anak dan bisa membesar seiring bertambahnya usia. Adapun kista dermoid
profunda biasanya muncul pada masa remaja hingga dewasa. Kista dermoid ini
sering disertai dengan proptosis. Pecahnya kista tersebut dapat menyebabkan
reaksi peradangan yang berat pada jaringan sekitar.4,5

Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk menambah pengetahuan


penulis terkait dengan kasus kista dermoid korneal dan penulis memilih kasus ini
karena penulis menganggap kasus ini cukup menarik dan jarang didapatkan
selama tahap profesi di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat.

BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Irsyad Maolana Ramadhan
Umur : 1 tahun 11 bulan 11 hari (04-06-2016)
Jenis Kelamin : Laki-laki

1
Agama : Islam
Suku : Sasak
Alamat : Sembalun, Lombok Timur
No. RM : 01 07 79
Tanggal Pemeriksaan : 7 Mei 2018

2.2 Anamnesis
A. Keluhan Utama:
Terdapat benjolan di mata kanan pasien.

B. Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang ke Poliklinik Mata RSUP Provinsi NTB dengan keluhan
terdapat benjolan di mata kanan pasien. Menurut ibu pasien, benjolan
tersebut muncul sejak lahir. Benjolan tersebut berwarna kecoklatan
dengan lokasi menutupi seluruh bagian hitam mata pasien sehingga
pasien tidak dapat melihat sama sekali. Ukuran benjolan sejak lahir
hingga sekarang tidak membesar maupun mengecil. Selain itu, mata
pasien sebelah kiri agak sulit dibuka. Menurut ibu pasien, saat pasien
lahir, bola mata sebelah kiri tidak ada, kemudian sekitar usia 3 hari baru
muncul namun sangat kecil kemudian sedikit demi sedikit ukuran bola
matanya semakin membesar namun tetap berukuran lebih kecil
dibandingkan mata normal.

C. Riwayat Penyakit Dahulu


Ibu pasien menyangkal adanya penyakit yang sama sebelumnya, riwayat
trauma, riwayat kejang. Kadang-kadang pasien mengalami keluhan batuk
dan pilek.

D. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarganya yang mengalami hal serupa dengan pasien ataupun
kelainan lain yang timbul sejak lahir.

E. Riwayat Kehamilan dan Persalinan


 Riwayat Kehamilan
Ibu pasien mengatakan bahwa pasien merupakan anak pertama.
Selama hamil ibu pasien tidak pernah demam, namun ibu pasien
mengalami keluhan batuk saat usia kehamilan 9 bulan namun

2
langsung ke dokter dan diberikan obat batuk. Pada saat hamil, ibu
pasien tidak pernah mengkonsumsi obat-obat tertentu selama hamil
tanpa adanya resep dari dokter dan hanya mengkonsumsi suplemen
ibu hamil yang diberikan di posyandu. Ibu pasien pernah mengalami
keputihan yang minimal dan tidak berbau dan keputihan tersebut
hanya terjadi sebelum mengalami menstruasi dan pada saat hamil. Ibu
pasien mengaku dulu tidak mengetahui bahwa dirinya sedang hamil
hingga usia kandungan 1 bulan (ibu pasien menyadari dirinya hamil
setelah terlambat haid sekitar 1 bulan). Ibu pasien juga tetap ke
posyandu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan namun tidak
pernah melakukan USG selama kehamilan. Berat badan selama hamil
kadang meningkat kadang menurun namun pernah berat badan ibu
pasien saat hamil menurun hingga 10 kg (dari 50 kg menjadi 40 kg)
yang terjadi pada trimester ketiga. Selama hamil, ibu pasien tidak
pernah memelihara binatang tertentu seperti kucing.
 Riwayat Persalinan
Pasien lahir cukup bulan yaitu usia kehamilan 9 bulan 10 hari (37-38
minggu) dengan berat badan lahir 2300 gram dan panjang badan lahir
56 cm. Ibu pasien melahirkan di puskesmas ditolong oleh bidan. Saat
lahir pasien tidak langsung menangis sehingga dirujuk ke Rumah
Sakit Umum Soedjono Selong dan hanya mendapatkan terapi cairan
tanpa mendapatkan terapi oksigen.

F. Riwayat Alergi
Riwayat alergi obat dan makanan disangkal.

G. Riwayat Pengobatan
Ibu pasien hanya pernah membawa pasien ke puskesmas (tidak diberikan
obat apapun) kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Soedjono Selong
(diberikan obat tetes mata) kemudian di rujuk ke Rumah Sakit Umum
Provinsi NTB.
H. Riwayat Nutrisi dan Perkembangan
Ibu pasien mengatakan berat badan pasien tidak ada kenaikan sejak pasien
berusia 6 bulan. Menurut penuturan ibu pasien, pasien sejak kecil

3
mendapatkan ASI namun hanya sampai usia 3 bulan. Setelah usia 3 bulan,
pasien diberikan makanan pendamping ASI berupa pisang dengan
frekuensi pemberian 2-3 kali sehari, saat usia 6 bulan makanan
pendamping ASI berupa roti SUN dengan frekuensi pemberian 2-3 kali
sehari, dan saat usia 1 tahun pasien diberikan makan nasi dengan
frekuensi 2 kali sehari dan ibu pasien berhenti memberikan ASI.
Pasien saat ini hanya bisa mengatakan minum, makan, bapak dan mama.
Pasien belum bisa berjalan, belum bisa berdiri meskipun hanya sebentar.
Ibu pasien mengatakan bahwa pasien baru bisa duduk saja.

I. Riwayat Imunisasi
Menurut ibu pasien, pasien sudah mendapatkan imunisasi dasar secara
lengkap.
J. Riwayat Sosial dan Lingkungan
Ibu pasien saat usia kehamilan sekitar 11-12 minggu tetap bekerja
menyabit rumput namun tidak setiap hari. Pekerjaan tersebut dilakukan
mulai pukul 07.00 WITA hingga pukul 16.00 WITA. Ibu pasien mengaku
selama bekerja menggunakan sarung tangan dari kain dan tetap
menggunakan alas kaki. Ibu pasien juga mengaku tetap mencuci tangan
sebelum makan, minum, dan lain-lain namun waktu dan cara cuci
tangannya tidak sesuai dengan yang dianjurkan.

Pasien bersama keluarga tinggal di sebuah rumah dengan anggota


keluarga sebanyak 5 orang. Jarak antara rumah pasien dengan tetangga
tidak ada (temboknya menempel). Rumah pasien dekat dengan kandang
ayam dan kambing dan di sekitar rumah pasien banyak kucing yang
berkeliaran.

2.3 Pemeriksaan Fisik


− Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak pucat dan lemas
Kesadaran/GCS : Compos mentis / E4V5M6
− Pemeriksaan Tanda Vital
Nadi : 100 kali/menit
Frekuensi Napas : 28x/menit
Suhu : 370C

4
− Status Gizi dan Penilaina Pertumbuhan dan Perkembangan
Berat badan sekarang : 6,6 kg
Panjang badan : 74 cm
Lingkar kepala : 40 cm (normosefali)
BB/U : < -3 SD (gizi buruk)
PB/U : < -3 SD (sangat pendek)
BB/PB : < -3 SD (sangat kurus)
− Status Lokalis
No Pemeriksaan Mata Kanan Mata Kiri
1. Posisi bola mata Ortoforia Tidak dapat dievaluasi
2. Gerakan bola mata Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
3. Lapang pandang Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
4. Palpebra Edema (-) (-)
Superior
Hiperemi (-) (-)
Pseudoptosis (-) (-)
Entropion (-) (-)
Ektropion (-) (-)
Spasme (-) (-)
5. Palpebra Edema (-) (-)
Inferior
Hiperemi (-) (-)
Entropion (-) (-)
Ektropion (-) (-)
6. Konjungtiva Hiperemi (-) (-)
Palpebra
Sikatrik (-) (-)
Superior
Masa (-) (-)
Eksudat (-) (-)
Nyeri tekan (-) (-)
7. Konjungtiva Hiperemi (-) (-)
Palpebra
Sikatrik (-) (-)
Inferior
Masa (-) (-)
Eksudat (-) (-)
8. Konjungtiva Injeksi (+) (-)
Bulbi Konjungtiva
Injeksi Siliar (-) (-)
Massa (-) (-)

5
Edema (-) (-)
9. Sklera Massa (-) (-)
10. Kornea Bentuk Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
Kejernihan Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
Permukaan Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
Sikatrik Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
Benda Asing Tampak massa yang Tidak dapat dievaluasi
menutup seluruh bagian
kornea, berwarna
cokelat, dengan ukuran
sekitar 1,5 cm x 1 cm,
konsistensi lunak,
berbatas tegas,
permukaan licin,
bergerak mengikuti
gerakan bola mata, tanpa
nyeri tekan
11. Bilik Mata Kedalaman Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
Depan
Hifema Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
Hipopion Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
12. Iris Warna Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
Bentuk Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
13. Pupil Bentuk Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
Ukuran Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
Refleks cahaya Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
langsung
Refleks cahaya Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
tidak langsung
14. Lensa Kejernihan Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
15. TIO Palpasi Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
16. Funduskopi Refleks Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
Fundus
Gambaran Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi
fundus

2.4 Gambar Pasien


ODS

6
7
2.5 Pemeriksaan Penunjang
USG Mata

8
Pemeriksaan Darah Lengkap
Hb : 6,8 gr/dl (menurun)
MCV : 52,5 fL (menurun)
MCH : 14,5 pg (menurun)
MCHC : 27,7 gr/dl (menurun)
WBC : 10,980 /uL (normal)
PLT : 230.000 /ul (normal)

Radiologi Radiologi

Interpretasi : cor dan pulmo dalam batas normal

9
BAB III
IDENTIFIKASI MASALAH DAN ANALISA KASUS

3.1 Identifikasi Masalah


Berdasarkan data medis pasien yang diperoleh dari anamnesis dan
pemeriksaan oftalmologi, terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi,
yakni:
A. Subjektif
OD :
- Mata kanan tidak bisa melihat
- Terdapat benjolan berwarna kecoklatan yang menutupi seluruh bagian
kornea
OS
- Mata kiri tidak bisa melihat
- Ukuran bola mata kiri lebih kecil dibandingkan mata normal
Beberapa masalah lainnya yang dapat diidentifikasi dari anamnesis antara
lain:
- Pasien lahir tidak langsung menangis
- Berat badan pasien tidak mengalami kenaikan sejak usia 6 bulan
- Asupan nutrisi pasien tergolong kurang
Beberapa masalah perkembangan yang dapat diidentifikasi dari anamnesis
antara lain:
- Pasien pada usia sekarang hanya bisa duduk, belum bisa berdiri dan
berjalan.
- Pasien baru bisa mengatakan kata “mama, bapak, makan dan minum”
saja.

B. Objektif
OD :
- Terdapat massa yang menutup seluruh bagian kornea, berwarna
cokelat, dengan ukuran sekitar 1,5 cm x 1 cm, konsistensi lunak,
berbatas tegas, permukaan licin, bergerak mengikuti gerakan bola
mata, tanpa nyeri tekan.
OS :

10
- Mata kiri hanya bisa melihat cahaya namun dengan respon minimal
- Ukuran bola mata kiri lebih kecil dibandingkan mata normal
Beberapa masalah lainnya yang dapat diidentifikasi dari pemeriksaan fisik,
antara lain:
- Status nutrisi pasien tergolong kategori gizi buruk, sangat pendek dan
sangat kurus.

3.2 Analisa Kasus


Ibu pasien mengatakan bahwa benjolan tersebut muncul sejak lahir pada
mata kanan dan pasien tidak bisa melihat. Benjolan tersebut berwarna kecoklatan
dengan lokasi menutupi seluruh bagian hitam mata pasien sehingga pasien tidak
dapat melihat sama sekali. Ukuran benjolan sejak lahir hingga sekarang tidak
membesar maupun mengecil. Selain itu, mata pasien sebelah kiri agak sulit
dibuka. Menurut ibu pasien, saat pasien lahir, bola mata sebelah kiri tidak ada,
kemudian sekitar usia 3 hari baru muncul namun sangat kecil kemudian sedikit
demi sedikit ukuran bola matanya semakin membesar namun tetap berukuran
lebih kecil dibandingkan mata normal. Kemudian pada pemeriksaan fisik pada
mata kanan terdapat massa yang menutup seluruh bagian kornea, berwarna
cokelat, dengan ukuran sekitar 1,5 cm x 1 cm, konsistensi lunak, berbatas tegas,
permukaan licin, bergerak mengikuti gerakan bola mata, tanpa nyeri tekan. Pada
mata kiri pasien hanya bisa melihat cahaya namun dengan respon minimal.
Ukuran bola mata kiri lebih kecil dibandingkan mata normal. Dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik ini pasien dicurigai mengalami kista dermoid kornea pada mata
sebelah kanan dan mengalami ptisis pada mata kiri.1,2,6,7
Kista dermoid orbital merupakan kelainan kongenital pada mata yang
umum terjadi pada anak-anak. Kista dermoid orbital ini termasuk tumor koristoma
yang didefinisikan sebagai jaringan normal yang tumbuh pada lokasi yang
abnormal. Kista dermoid orbital ini dapat berasal dari derivat epitel atau elemen
jaringan aktif pada proses embriogenesis atau dari kegagalan pemisahan ektoderm
pada permukaan tabung saraf.8,9
Kista dermoid sekitar 3% hingga 9% dari seluruh tumor orbital. Insidensi
tumor orbital pada anak bervariasi dalam penelitian yang berbeda. Pada populasi
anak-anak, kista dermoid orbital sekitar 1,6% hingga 52% dari seluruh tumor
orbital yang terdiagnosis. Pada sumber lain disebutkan sekitar 24% dari seluruh
massa orbital dan kelopak mata dan sekitar 80% massa orbital kistik. Kista

11
dermoid ini dapat bersifat dominan autosomal, resesif x-linked dan
multifaktorial.10,11,12
Kista dermoid orbital dibagi menjadi dua tipe yaitu tipe superfisialis dan
tipe profunda. Tipe superfisialis biasanya muncul pada usia sekitar 1-3 tahun,
namun dapat muncul sejak lahir dan berkembang secara perlahan. Kista dermoid
orbital ini sering ditemukan secara tidak sengaja oleh orang tua saat
membersihkan daerah wajah anak, namun kista ini juga mungkin tidak terlihat
saat anak-anak namun terlihat jelas saat remaja hingga dewasa. Kista dermoid ini
biasanya dapat digerakkan (mobile) tanpa rasa nyeri, konsistensi lunak, berbatas
tegas. Kista dermoid ini dapat meluas ke bola mata dan memberikan efek massa.
Kista dermoid orbital biasanya terjadi unilateral dan lokasi tersering yaitu di
limbus infertemporal.13,14,15
 Kista dermoid superfisialis16
- Manifestasi klinis: nodul tanpa nyeri, umumnya di bagian
superotemporal dan superonasal pada mata, biasanya pada anak-anak
- Tanda : berbatas tegas, bulat, konsistensi lunak, ukuran 1-2 cm, dapat
digerakkan, dengan margin posterior dapat teraba jelas.
 Kista dermoid profunda16
- Manifestasi klinis : umumnya pada remaja atau dewasa
- Tanda : proptosis, dystopia atau lesi massa, margin posterior tidak
teraba jelas

Kista dermoid tipe profunda mungkin tidak terdeteksi pada usia remaja
kemudian terdeteksi pada usia dewasa. Keluhan utama pasien biasanya
mengalami proptosis. Pada kista dermoid orbital tipe profunda ini biasanya
dibutuhkan pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan pencitraan untuk
mengetahui lokasi kista tersebut secara pasti karena dapat terjadi erosi pada tulang
sehingga menyebabkan deformitas lokal dan menyebabkan pembesaran orbital.
Kadang-kadang erosi dapat meluas melalui dinding orbita lateral dan dapat pula
meluas hingga bagian intrakranial.17
USG (ultrasonografi) sangat membantu menentukan lokasi dari kista
dermoid orbital ini dan merupakan alat skrining awal. Adapun CT (computed
tomography) mampu membedakan struktur normal dan abnormal dari berbagai
kepadatan jaringan. CT scan dapat melihat kalsifikasi internal pada tulang, dan
pada intracranial. CT dan MRI (magnetic resonance imaging) dapat membantu

12
secara akurat dalam menentukan lokasi, ukuran, ekstensi dari kista dermoid serta
membedakan dengan kista yang disertai dengan bagian padat, membantu
mengidentifikasi tipe kista dermoid tersebut dan membantu dalam merencanakan
managemen pada kasus-kasus sulit.5,9
Kista dermoid superfisialis dapat didiagnosis secara klinis dengan
manifestasi klinis yang khas yaitu berupa massa, yang tidak rapuh, dapat
digerakkan (mobile) yang sering pada anak kecil. Jika massa tersebut disertai
dengan peradangan mungkin menandakan adanya kista dermoid yang pecah.
Adapun diagnosis bandingnya sebagai berikut (Tabel 1).1

Tabel 1. Diagnosis Banding Kista Dermoid Orbital

Kista dermoid merupakan kelainan perkembangan atau koristoma. Kista


dermoid dilapisi oleh epitelium kutaneus yang terletak pada jaringan dermis yang
mengandung bagian asesoris kulit (seperti folikel rambut, kuku, dan lain-lain) dan
mungkin memiliki pedicle attachment ke periorbita. Pada pemeriksaan patologi
secara makroskopis menunjukkan adanya folikel rambut dan material sebasea
lainnya. Keratin dan debris lipid akan mengisi lumen kista. Pada pemeriksaan
patologi secara mikroskopis (histologi) menunjukkan bahwa dinding kista dilapisi
oleh keratin, epitel skuamous kompleks yang berisi folikel rambut, kelenjar
sebasea dan kelenjar keringat serta keratin. Isi kista seperti bahan putih yang
disekresi oleh lapisan epitel, disertai dengan adanya rambut, cairan hemoragik dan
kristal kolestrin. Kista dermoid orbital dapat disertai dengan adanya keganasan

13
sehingga perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menyingkirkan
keganasan.8,9,11
Kista dermoid orbital dapat menyebabkan komplikasi lokal karena efek
massa tersebut. Kista dermoid orbital yang berukuran besar dapat menyebabkan
kelainan lokal pada tulang dan masalah motilitas okular. Ruptur kista dermoid
perinatal dapat menyebabkan komplikasi berupa congenital oculomotor palsy.
Kista dermoid orbital yang terletak di otot rektus lateralis dan secara klinis dapat
mirip dengan sindrom Duane tipe II. Proptosis dapat terlihat dengan
berkembanganya kista dermoid orbital tipe profunda.16,17

3.3 Assessment
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, tanda dan gejala yang dialami
pasien mengarahkan kepada diagnosis proptosis bulbi et causa kista dermoid
kornea pada mata kanan dan ptisis bulbi pada mata kiri. Selain itu, pasien juga
mengalami anemia berat dan gizi buruk tipe marasmus.
Diagnosis Kerja:
Proptosis bulbi OD et causa kista dermoid kornea + ptisis bulbi OS disertai
dengan anemia berat + gizi buruk tipe marasmus.

3.4 Planning
A. Usulan Pemeriksaan Lanjutan
- Konsul bagian anak untuk manajemen gizi buruk
- Transfusi darah untuk meningkatkan hemoglobin dalam darah
- Perlu pemeriksaan histopatologis benjolan pada mata kanan
B. Tatalaksana
Bedah eksisi kista secara utuh tanpa memecahkan kista merupakan
managemen pilihan dan standar penatalaksanaan pada kista dermoid
orbita. Secara klasik, pada bedah eksisi ini dibutuhkan anestesi umum.
Jika kista tersebut pecah dalam proses bedah eksisi, dapat menyebabkan
peradangan berat pada daerah sekitarnya. Pada kasus kista pecah tanpa
disengaja, irigasi normal salin dianjurkan untuk dilakukan. Selain itu,
keadaan hemostasis pasien harus diperhatikan sebelum dilakukannya
bedah eksisi. Guerrissi dkk (2004) menjelaskan bahwa operasi kista
dermoid orbital memiliki tiga langkah dan dengan bantuan endoskopi
yaitu: insisi, tampakkan bagian kista dan evakuasi kista.

14
Pada kista dermoid tipe profunda, pemeriksaan pencitraan harus
disiapkan juga saat rencana bedah. Tujuan bedah eksisi tetap sama yaitu
bedah eksisi secara utuh tanpa memecahkan kista untuk menghindari
cedera pada isi orbita termasuk jaringan okular, pembuluh darah dan saraf.
Pada perluasan kista dermoid orbita hingga ke intracranial, maka
diperlukan penanganan multidisipilin oleh dokter spesialis mata dan bedah
saraf.
Komplikasi dapat terjadi pula dalam proses operasi pengangkatan
kista. Pecahnya kista dermoid merupakan komplikasi utama yang dapat
terjadi jika perawatan yang lokasi kista dermoid dan keterikatannya
dengan struktur-struktur yang berdekatan tidak diidentifikasi sebelum
dilakukannya operasi. Selama operasi, dapat juga terjadi trauma pada
jaringan sekitar kista yang dapat menyebabkan defek fungsional.

3.5 KIE
- Pasien diberikan informasi terkait penyakit yang dialaminya
- Orang tua pasien diberikan edukasi untuk membawa anaknya kontrol
kembali ke bagian anak untuk penatalaksanaan gizi buruk dan untuk
mengetahui gangguan perkembangan yang dialami oleh anak
- Orang tua pasien diminta untuk terus emberikan nutrisi cukup bagi anak.
3.6 Prognosis
Prognosis untuk penglihatan pasien pada kasus ini adalah dubia ad malam.
Sedangkan prognosis untuk keselamatan nyawa pasien pada kasus ini adalah
dubia ad bonam.

15
BAB IV

RINGKASAN AKHIR

Pasien seorang laki-laki, usia 1 tahun 11 bulan 11 hari dengan keluhan


terdapat benjolan pada mata kanan pasien sehingga tidak bisa melihat dan mata
sebelah kiri berukuran lebih kecil dari normal dan mengalami gangguan
penglihatan juga. Pada pemeriksaan fisik pada mata kanan terdapat massa yang
menutup seluruh bagian kornea, berwarna cokelat, dengan ukuran sekitar 1,5 cm x
1 cm, konsistensi lunak, berbatas tegas, permukaan licin, bergerak mengikuti
gerakan bola mata, tanpa nyeri tekan. Pada mata kiri pasien hanya bisa melihat
cahaya namun dengan respon minimal. Diagnosis kerja : proptosis bulbi OD et
causa kista dermoid kornea + ptisis bulbi OS disertai dengan anemia berat + gizi
buruk tipe marasmus. Prognosis penglihatan dubia ad malam.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Ahja R and Azar N F. Orbital Dermoids in Children. Volume 21. 2006:


pages 207-211.
2. Nadeem S and Raza A. presentation of Ocular and Orbital Dermoid Cyst
at Holy Family Hospital Rawalpindi. Journal ophthalmology. Volume 28.
Number 2. 2012: pages 95-98
3. Eldesouky M A and Elbakary M A. Orbital Dermoid Cyst: Classification
and Its Impact on Surgical Management. Seminars of Ophthalmology.
2016
4. Moin M et al. Ocular and Periocular Dermoid Cyst: A Clinico-
Pathological Study. Volume 21. 2005
5. Vaselinovic D et al. Orbital Dermoid and Epidermoid Cyst: Case Study.
Volume 138, Number 11-12. 2010: pages 755-759
6. Gujjar P V et al. External Angular Dermoid Cyst: An Unusual Case Report
with Surgical Interventiom and Clinico-Pathological Analysis. Volume 19,
Number 4. 2018: pages 110-113
7. Ahmed R A and Elltanamly R M. Orbital Epidermoid Cyst: A Diagnosis to
Consider. Journal of Ophthalmology. 2014: pages 1-6
8. Abou-Rayyah Y et al. Clinical, Radiological and Pathological
Examination of Periocular Dermoid Cysts: Evidence of Inflammation from
an Early Age. Volume 16. 2002: pages 507-512
9. Cavazza S et al. Orbital Dermoid Cyst of Childhood: Clinical Pathologic
Finding, Classification and Management. International Journal of
Ophthalmology. Volume 31. 2011: pages 93-97
10. Lang SJ et al. Surgical Management of Corneal Limbal Dermoids:
Retrospective Study of Different Techniques and Use of Mitomycin C.
Volume 28. 2014: pages 857-862
11. Udayakumar D et al. Surgical Excision of Congenital Dermoid Cyst in the
Orbit. Volume 14. Number 11. 2015: pages 30-39
12. Atik B et al. Minimal Invasive Excision of Intraorbital Dermoid Cyst.
Volume 4, Number 2. 2007: pages 87-90
13. Zhu J et al. Studies of a Pedigree with Limbal Dermoid Cyst. International
Journal of Ophthalmology. Volume 5, Number 5. 2012

17
14. El-Ghafar A A and Elkhair H A. Evacuation of Dermoid Cysts Before
Excision. Journal of Egyptian Ophthalmological Study. 2018: pages 235-
238
15. Pirouzian A. Management of Pediatric Corneal Limbal Dermoids. Clinical
Ophthalmology. Volume 7. 2013: pages 607-614
16. Thera JP et al. Corneal Dermoid: A Rare Case Covering the Whole
Cornea. Volume 3, Number 12. 2015: pages 1216-1217
17. Barroso F et al. Ophthalmology Case. Birth and Growth Medical Journal.
Volume 26. 2017

18