Anda di halaman 1dari 13

CASE PRESENTATION II

KATARAK SENILIS IMATUR OS

Oleh :
Dewi Rabiatul Akhzami
H1A 013 017

Pembimbing:
dr. R. Gunawan E., MM. Sp.M

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN MATA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PATUT PATUH PATJU GERUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Katarak merupakan kelainan pada lensa berupa kekeruhan yang menyebabkan


penurunan penglihatan secara perlahan. Inidensi meningkat seiring dengan
pertambahan usia, namun terdapat faktor lain yang mungkin berperan, seperti trauma,
toksin, penyakit sistemik, merokok, dan herediter/keturunan. Patogenesis katarak
belum sepenuhnya diketahui. Namun perubahan protein akan menyebabkan daya
transparan lensa menurun sehingga berkas cahaya yang masuk terjadi bias atau
dihamburkan, perubahan protein juga dapat mengakibatkan perubahan warna lensa
menjadi keruh. 1 Selain itu, penambahan cairan pada lensa dapat menyebabkan lensa
menjadi keruh.2
Katarak merupakan penyebab kebutaan tertinggi di Indonesia. Banyaknya
jumlah tersebut diketahui karena penderita tidak mengetahui dirinya menderita
katarak (51,6%), tidak memiliki biaya (11,6%), dan takut untuk dioperasi (8,1).
Penduduk Indonesia memiliki kecenderungan 15 kali lebih cepat menderita katarak.3
Berdasarkan kejadiannya katarak dibagi menjadi 3 yaitu katarak kongenital, katarak
senilis dan katarak komplikata. Katarak kongenital ditemukan pada bayi baru lahir,
katarak senilis ditemukan pada dewasa lanjut dan katarak komplikata ditemukan
akibat penyakit mata yang lama seperti uveitis, Diabetes Mellitus, serta penggunaan
steroid jangka panjang.4

1
BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. F
Umur : 58 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Bangket Dalem, Gerung, Lombok Barat
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Tanggal pemeriksaan : 21 Mei 2018
RM : 525024
II. SUBYEKTIF
a. Keluhan Utama
Penglihatan kabur pada mata kiri
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RSUD Gerung dengan keluhan penglihatan kabur
pada mata kiri dan kontrol post operasi katarak pada mata kanan. Keluhan
ini dirasakan sejak 1 tahun yang lalu namun semakin memberat dan tak
bisa melihat dengan jelas sejak 1 bulan terakhir. Mata kanan pasien sudah
di operasi katarak dua minggu yang lalu dan tidak ada keluhan. Namun
pada mata kiri masih belum dapat melihat dengan jelas. Keluhan mata
nyeri dan kemerahan disangkal. Keluhan demam, lemas, pusing, mual, dan
muntah disangkal.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, diabetes mellitus, asma
dan penyakit jantung. Pasien tidak memiliki riwayat penggunaan kaca
mata.

2
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak memiliki keluhan atau penyakit yang sama
dengan pasien. Hipertensi, diabetes mellitus, asma dan penyakit jantung
disangkal.
e. Riwayat Pengobatan
Pasien tidak pernah memberikan pengobatan apapun pada mata kiri,
mata kanan diberikan terapi post operasi dengan penggunaan obat tetes
mata (steroid) yang teratur.
f. Riwayat Alergi
Pasien tidak memiliki alergi terhadap obat atau makanan.

III. PEMERIKSAAN FISIK


a. Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis (E4V5M6)
Tanda vital :
- Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Frekuensi napas : 20x/menit
- Frekuensi nadi : 90x/menit
- Suhu : 36,9°C
b. Status Ophthalmologis
No Pemeriksaan OD OS
1. Visus
- Sc 6/12 5/60
- Ph Tetap Tetap
2. Posisi Bola Mata Ortoforia Ortoforia

3
3. Pergerakan Bola Mata Baik ke segala Baik ke segala
arah arah

4 Lapang pandang

5. Palpebra Edema (-) (-)


Superior Hiperemi (-) (-)
Pseudoptosis (-) (-)
Entropion (-) (-)
Ektropion (-) (-)
Spasme (-) (-)
Poliosis (-) (-)
6. Palpebra Edema (-) (-)
Inferior Hiperemi (-) (-)
Entropion (-) (-)
Ektropion (-) (-)
7. Konjungtiva Hiperemi (-) (-)
Palpebra Cobble stone (-) (-)
Superior Sikatrik (-) (-)
Benda Asing (-) (-)
8. Konjungtiva Hiperemi (-) (-)
Palbebra Cobble stone (-) (-)
Inferior Sikatrik (-) (-)
Benda Asing (-) (-)

9. Konjungtiva Injeksi (-) (-)


Konjungtiva
Bulbi
dan Siliar

4
Pendarahan (-) (-)
Massa (-) (-)
Edema (-) (-)
10. Kornea Bentuk Cembung Cembung
Kejernihan Jernih Jernih
Permukaan Licin Licin
Sikatrik (-) (-)
Benda Asing (-) (-)
Massa (-) (-)
11. Bilik Mata Kedalaman Kesan dalam Kesan dalam
Depan Hifema (-) (-)
Hipopion (-) (-)
12. Iris Warna Coklat Coklat

Bentuk Bulat dan regular Bulat dan


regular
13. Pupil Bentuk Bulat, ukuran 3 Bulat, ukuran 3
mm mm
RCL (+) (+)
RCTL (+) (+)
14. Lensa Kejernihan pseudoafakia Keruh
15. TIO Palpasi Kesan normal Kesan normal

c. Pemeriksaan Penunjang
- Gula darah sewaktu
o 92 mg/dl (normal)
- Funduscopy, refleks fundus positif pada mata kanan dan mata kiri.

5
d. Foto Pasien

Gambar kedua mata pasien

Gambar mata kiri pasien

6
BAB III
IDENTIFIKASI MASALAH DAN ANALISA KASUS

a. Identifikasi Masalah
Berdasarkan data medis pasien di atas, didapatkan beberapa
permasalahan. Adapun permasalahan medis yang terdapat pada pasien adalah
sebagai berikut.
SUBJECTIVE
a. Keluhan penglihatan buram atau kabur pada mata kiri
b. Keluhan terjadi sejak lama dan perlahan.
c. Kontrol post operasi katarak mata kanan sekitar 2 minggu

OBJECTIVE
Pemeriksaan status lokalis pada mata kanan dan kiri didapatkan :
 Visus natural OD 6/12 (pinhole tetap), visus OS 5/60 (pinhole tetap)
 Lensa OS keruh
 Pseudoafakia OD

OD OS

Mata kanan didapatkan Mata kiri didapatkan lensa


pseudofakia mata keruh

7
b. Analisa Kasus
Pasien dengan keluhan penglihatan kabur dapat disebabkan karena
adanya kelainan atau gangguan pada media refraksi yaitu pada kornea sampai
retina. Pasien mengeluhkan penglihatan kabur yang terjadi secara perlahan sejak
1 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan lensa mata ditemukan kekeruhan lensa pada
mata kiri. Kekeruhan pada lensa disertai keluhan penglihatan kabur perlahan
dengan mata yang tenang dapat disebabkan karena katarak. Umumnya, katarak
merupakan penyakit yang terjadi pada usia lanjut yang disebut sebagai katarak
senilis, tetapi katarak dapat juga disebabkan oleh kelainan kongenital, komplikasi
penyakit mata lain, trauma mata, penyakit sistemik, riwayat penyakit sistemik
dan penggunaan steroid yang lama. Banyak teori yang mengemukakan proses
terjadinya katarak senilis, tetapi secara garis besar menjelaskan bahwa katarak
senilis disebabkan karena degenerasi lensa yang mengakibatkan pengerasan pada
nukleus lensa, khususnya pada usia lebih dari 40 tahun.2,5
Katarak dapat terdiagnosis hanya dengan anamnesis dan pemeriksaan
fisik saja. Pemeriksaan penunjang seperti slit lamp dan funduscopy dapat
mendukung diagnosa tersebut. Hasil funduscopy didapatkan reflex fundus positif
pada mata kanan dan mata kiri. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa
katarak pada pasien ini adalah katarak senilis imatur OS dan pseudoafakia OD.

c. Assessment
Diagnosis kerja: Katarak imatur OS

Diagnosis ini diajukan berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik


serta pemeriksaan penunjang yang mendukung diagnosis tersebut antara lain
sebagai berikut.
- Usia 58 tahun.
- Keluhan penglihatan kabur yang terjadi sejak 1 tahun yang lalu secara
perlahan.
- Penurunan visus OD 6/12 (ph tetap) dan OS 5/60 (ph tetap)

8
- Kekeruhan lensa OS
- Reflex fundus positif OS

d. Planning
1. Usulan pemeriksaan lanjutan
- Slit lamp
Pemeriksaan slit lamp dilakukan untuk mengetahui kondisi bagian
depan mata sampai lensa yang diperlukan untuk mendukung hasil
pemeriksaan yang lainnya.5
- Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi sistemik
pasien seperti gula darah dan darah lengkap pasien sebagai persyaratan
dilakukannya operasi katarak.5
- USG A-Scan
Untuk mengukur diameter IOL yang akan ditanam.5,6
2. Tatalaksana
Operasi merupakan satu-satunya terapi atau terapi definitif katarak
yang dilakukan bila penurunan tajam penglihatan penderita sudah
mengganggu kegiatan sehari-hari atau menimbulkan gangguan penglihatan
yang signifikan dan tidak dapat dikoreksi dengan kacamata, atau ada indikasi
lain untuk operasi. Operasi katarak dapat dilakukan dengan beberapa metode,
yakni ECCE (Extra Capsular Cataract Extraction) dan ICCE (Intra
Capsular Cataract Extraction). Pada pasien ini akan dilakukan operasi teknik
ECCE dengan Phacoemulsification (PE). Selain itu, pasien dipersiapkan
untuk dilakukan implantasi lensa tanam (IOL: intraocular lens).6

9
e. KIE
1. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyakit
katarak.
2. Memberitahukan keluarga dan pasien untuk kontrol teratur jika sudah
didiagnosa katarak dan setelah dilakukan operasi untuk mencegah terjadinya
komplikasi.
3. Memberitahukan keluarga dan pasien bahwa katarak merupakan gangguan
penglihatan yang dapat diperbaiki dengan operasi.
4. Memberikan informasi mengenai risiko, keuntungan, dan kerugian operasi
serta harapan yang sewajarnya dari hasil operasi.
5. Memberitahukan bila sudah dioprasi dilarang menunduk, mengkucek mata,
dan terkena air.

f. Prognosis
1. Ad vitam : Bonam
2. Ad functionam : Dubia ad bonam
3. Ad sanationam : Dubia ad bonam

10
BAB IV
RINGKASAN AKHIR

Pasien seorang perempuan berusia 58 tahun datang dengan keluhan


penglihatan kabur sejak 1 tahun yang lalu. Riwayat hipertensi, asma, diabetes
mellitus disangkal. Pada pemeriksaan status lokalis didapatkan visus OD 6/12 dan
visus OS 5/60, tampak lensa keruh pada mata kiri, pada pemeriksaan penunjang
funduscopy didapatkan reflex fundus positif pada mata kiri.
Pasien didiagnosis dengan katarak senilis imatur OS yang ditegakkan dari
hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan.
Selain itu, dirancanakan pemeriksaan laboratorium untuk persyaratan tindakan
operasi. Penatalaksaan yang dipilih adalah tindakan operatif pada mata kiri. Prognosis
penglihatan pada pasien ini adalah dubia ad bonam.

11
Daftar Pustaka

1. Vaughan Daniel G., Asbury T. Oftalmologi Umum. Edisi 17 (Alih Bahasa:


Waliban dan Bondan Hariono); Widya Medika: Jakarta. 2015

2. Ilyas, S, Yulianti, SR. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 5. Badan Penerbit FK UI :


Jakarta. 2015

3. Kementerian Kesehatan RI. Situasi Gangguan Penglihatan dan Kebutaan.


2014. [online] Available at :
http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/inf
odatin-penglihatan.pdf [Accessed on May 22th 2018].

4. Ilyas, S. Mailangkay, Taim H., Saman RR., Simartama, M., Widodo PS., Ilmu
Penyakit Mata Ed.2 Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. Sagung
Seto: Jakarta. 2002

5. Salvi, S.M., Akhtar,S., & Currie, Z. Ageing Changes in The Eye. Postgrad
Med, vol. 86, pp. 581-587. 2006. [online] Available at: <
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2585730/pdf/581.pdf>
[Accessed on May 22th 2018].

6. Budiono, S, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Mata. Airlangga University


Press: Surabaya. 2013

12