Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN TUGAS

DESAIN ELEMEN MESIN 3

PERANCANGAN RODA GIGI SEPEDA MOTOR SUZUKI


SHOGUN 110 PADA TRANSMISI 1

NAMA / NIM : INDRA PERMANA / 2111151088


DOSEN PEMBIMBING : BOYKE TAMPUBOLON Ir.

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2018
LAPORAN TUGAS
DESAIN ELEMEN MESIN 3

PERANCANGAN RODA GIGI SEPEDA MOTOR SUZUKI


SHOGUN 110 PADA TRANSMISI 1

Karya Tulis Ini Dibuat Untuk Memenuhi Syarat Mata Kuliah Praktikum
Desain Elemen Mesin 3

NAMA / NIM : INDRA PERMANA / 2111151088


DOSEN PEMBIMBING : BOYKE TAMPUBOLON Ir.

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2018

i
Fakultas Teknik Unjani
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN TUGAS DESAIN ELEMEN MESIN III

JURUSAN TEKNIK MESIN – FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

CIMAHI

2018

Mengetahui, Menyetujui,

Ka. Lab. Perancangan & Konstruksi Pembimbing

WAR’AN ROSIHAN, ST., MT. BOYKE TAMPUBOLON Ir.


NID. 4121.468.78 NID. 4121.958.84

ii
Fakultas Teknik Unjani
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN

Sebagai Mahasiswa Universitas Jenderal Achmad Yani, yang bertanda tangan


dibawah ini saya :
Nama : Indra Permana
NIM : 2111151088
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Jenderal Achmad Yani, Hak Bebas Royalti Non-Ekslusif (Non-Exclusive
Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
PERANCANGAN RODA GIGI SEPEDA MOTOR SUZUKI SHOGUN 110 PADA
TRANSMISI 1.

Dengan Hak Bebas Royalti Non-Ekslusif ini Universitas Jenderal Achmad Yani
berhak menyimpan, mengalih-mediakan / format, mengelolanya dalam bentuk
pangkalan data (Database), mendistribusikannya, dan menampilkan /
mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademik tanpa
perlu meminta ijin dari saya selama tetap mencantumkan saya sebagai penulis /
pencipta.
Saya bersedia untuk menanggung secara pribadi, tanpa melibatkan pihak
Universitas Jenderal Achmad Yani, segala bentuk tuntutan hokum yang timbul atas
pelanggaran Hak Cipta dalam Karya Ilmiah saya ini.
Demikian pernyataanb ini yang saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Cimahi
Pada Tanggal: 29 Mei 2018

Yang Menyatakan

Indra Permana
NIM. 2111151088

iii
Fakultas Teknik Unjani
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya tanpa hambatan
suatu apapun. Penulisan laporan ini juga berdasarkan dari literatur baik dari buku
maupun sumber lainnya.

Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada :

1. Bapak War’an Rosihan, S.T., M.T. selaku dosen mata kuliah Desain Elemen
Mesin 2 dan selaku Kepala Labolatorium Perancangan dan Konstruksi yang
telah membimbing dan memberikan materi – materi mata kuliah Desain
Elemen Mesin 2.

2. Bapak Boyke Tampubolon Ir. selaku dosen pembimbing yang telah


membimbing dalam proses praktikum Desain Elemen Mesin 2.

3. Keluarga yang telah memberikan dukungan baik moral maupun moril.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun karya ilmiah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Cimahi, 29 Mei 2018

Penyusun

Indra Permana

iv
Fakultas Teknik Unjani
ABSTRAK

ANALISIS REM SEPATU DALAM PADA MOTOR HONDA C70

Disusun Oleh :

INDRA PERMANA / 2111151088

Pada laporan ini menjelaskan tentang setiap elemen tentang putaran yang
mempunyai fungsi yang sama yaitu menyimpan / memindahkan energy putar. Pada
dasarnya terdiri dari 3 elemen: pertemuan permukaan gesek, memindahkan torsi dari
permukaan, dan mekanisme gerak. Tergantung pengoperasian mekanismenya, seperti
rem.
Di sistem pengereman, rem drum kebanyakan dipakai pada otomotif.
Perhitungan yang di analisis dalam laporan ini adalah menghitung ;

1. Gaya gerak
2. Kapasitas pengereman
3. Reaksi pena engsel

Kata kunci : Torsi, Diagram Benda Bebas, Gaya

v
Fakultas Teknik Unjani
ABSTRACT

INTERNAL EXPANDING RIM BRAKE ANALYSIS HONDA C70 BIKE

Created by :

INDRA PERMANA / 2111151088

This case is concerned with a group of elements usually associated with rotation
that have in common the function of storing and/or transferring rotating energy.
consists essentially of three elements: the mating frictional surface, the means of
transmitting the torque to and from the surfaces,and the actuating mechanism.
Depending upon the operating mechanism, such brake.
In braking systems, the internal-shoe or drum brake is used mostly for
automotive applications. In this case will concern :
1. Actuating force F.
2. Braking capacity.
3. Hinge-pin reactions.

Keywords : Torque, Reactions with directions , Force

vi
Fakultas Teknik Unjani
DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI........................................ iii


KATA PENGANTAR .................................................................................................. iv
ABSTRAK ..................................................................................................................... v
DAFTAR ISI ................................................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. viii
DAFTAR TABEL ......................................................................................................... ix
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG................................................................. x
BAB 1 ............................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2. Pembatasan Sistem Masalah ........................................................................... 1
1.3. Tujuan .............................................................................................................. 2
1.4. Sistematika Penulisan ...................................................................................... 2
BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................................ 3
2.1. Pengertian Sistem Rem ................................................................................... 3
2.2. Komponen – Komponen Rem Tromol ...........Error! Bookmark not defined.
2.3. Cara Kerja Rem Tromol .................................................................................. 5
2.4. Rumus Yang Digunakan ................................Error! Bookmark not defined.
BAB III TAHAP PROSES .......................................................................................... 20
3.1. Diagram Alir .................................................................................................. 20
3.2. Penjelasan Tahapan Proses .............................Error! Bookmark not defined.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 25
4.1. Pembahasan ................................................................................................... 25
4.2. Hasil............................................................................................................... 31
BAB V KESIMPULAN ............................................................................................... 31
5.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 31

vii
Fakultas Teknik Unjani
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Sepatu .......................................................Error! Bookmark not defined.


Gambar 2. 2 Tuas Penggerak ........................................Error! Bookmark not defined.
Gambar 2. 3 Pegas Pengendali ......................................Error! Bookmark not defined.
Gambar 2. 4 Kampas .....................................................Error! Bookmark not defined.
Gambar 2. 5 Pena Pivot.................................................Error! Bookmark not defined.

viii
Fakultas Teknik Unjani
DAFTAR TABEL

ix
Fakultas Teknik Unjani
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

Singkatan Arti Lambang


Mf Momen akibat gaya gesek N.m
𝑓 Koefisien gesek
𝑃𝑎 Tekanan Maksimum Pa
b Lebar muka asbes m
r Jari – jari rem m
𝑎 Jarak titik pusat ke engsel m2
T Torsi N.m
𝑅𝑥 Gaya reaksi dalam sumbu x
𝑅𝑦 Gaya reaksi dalam sumbu y
A
B
D

x
Fakultas Teknik Unjani
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu konsumen terbesar kendaraan bermotor di


dunia. Kendaraan tersebut dimaksudkan adalah kendaraan roda dua. Dalam hal ini
penulis fokus kepada roda dua yang berkaitan dengan skuter matik yaitu Suzuki Shogun
110 R. Meskipun banyak ragam tipe, merk, model, dan jenis kendaraan lainnya namun
kendaraan roda dua yang berjenis matik ini memiliki karakteristik tersendiri, karena
jenis matik ini berbeda dengan jenis kendaraan roda dua non matik. Inilah salah satu
bukti bahwa kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni
semakin pesat dalam perkembangannya.

Sepeda motor terdiri dari berbagai sistem dan komponen, salah satu
komponennya ialah roda gigi transmisi. Transmisi merupakan komponen yang dapat
menyesuaikan kecepatan kendaraan berdasarkan kondisi jalan dan beban yang
ditanggung oleh kendaraan itu sendiri. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis tertarik
untuk merancang roda gigi pada transmisi sepeda motor. Roda gigi sendiri banyak jenis-
jenisnya, namun yang akan dibahas oleh penulis disini ialah roda gigi lurus, mengacu
pada sepeda motor itu sendiri. Oleh karena itu penulis akan merancang yang berjudul
“Perancangan Transmisi Roda Gigi 1 pada Sepeda Motor Suzuki Shogun 110 R”.
Dengan perancangan yang dilakukan, penulis berharap dapat merancang roda gigi
seefektif mungkin.

1.2. Pembatasan Sistem Masalah

Karena banyaknya permasalahan dalam bidang ini, maka ruang lingkup


Pembahasan hanya pada :
1. Merancang roda gigi yang sesuai dengan kebutuhan
2.

1
Fakultas Teknik Unjani
1.3. Tujuan

Tujuan dari perancangan roda gigi pada transmisi yang penulis lakukan ialah
sebagai berikut :

1. Mengetahui gaya – gaya yang terjadi pada sistem transmisi.

2. Memahami prinsip roda gigi.

3. Mengetahui kukuatan roda gigi.

1.4. Sistematika Penulisan

1. BAB I = Membahas tentang latar belakang masalah, pembatasan sistem


masalah, dan tujuan pembuatan laporan.
2. BAB II = Membahas tentang teori dari laporan tersebut
3. BAB III = Membahas tentang penjelasan dari tahapan proses
4. BAB IV = Membahas tentang Analisis
5. BAB V = Membahas tentang kesimpulan dari isi laporan

2
Fakultas Teknik Unjani
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Sistem Rem

Roda gigi adalah salah satu jenis elemen transmisi vang penting untuk suatu
pemindahan gerak (terutama putaran) daya atau tenaga pada suatu sistem transmisi
antara penggerak dengan yang digerakan. Suatu konstruksi hubungan roda gigi
digunakan pula untuk sistim pengatur pada pemindah putaran, atau untuk merubah
gerak lurus menjadi gerak putar atau sebaliknya. Roda gigi memiliki gigi-gigi yang
saling bersinggungan dengan gigi dari roda gigi yang lain. Dua atau lebih roda gigi yang
bersinggungan dan bekerja bersama-sama disebut sebagai transmisi roda gigi, dan bisa
menghasilkan keuntungan mekanis melalui rasio jumlah gigi. Roda gigi mampu
mengubah kecepatan putar, torsi, dan arah daya terhadap sumber daya.
Roda gigi secara umum merupakan suatu mekanisme yang dipergunakan untuk
memindahkan elemen mesin yang satu kegerakan elemen mesin yang lain. Selain itu
roda gigi juga berfungsi mengubah jumlah putaran dan momen putar mesin, daya mesin
serta mengatur keduanya untuk kebutuhan kerja mesin. Ketika kendaraan mulai berjalan
diperlukan tenaga yang besar, setelah kendaraan berjalan bukan tenaga lagi yang
diperlukan melainkan kecepatan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan
transmisi yang lebih dari berbagai tingkat perbandingan gigi. Sebuah kotak transmisi
pada prinsipnya terdiri atas tiga bagian, yaitu :
 Poros penggerak
 Poros yang digerakkan
 Rangka pengikat
Transmisi tersebut ditetapkan antara clutch dengan propeller shaft (FR-
Type)atau antara clutch dengan drive shaft (FF-Type).

3
Fakultas Teknik Unjani
Gambar 0.1 Tata nama roda gigi

Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukannya transmisi yang terdiri dari


berbagai tingkat perbandingan gigi (Gear Ratio).
Adapun fungsi dari sistem transmisi pada kendaraan bermotor antara lain:
 Mengatur kecepatan kendaraan sesuai dengan beban dan kondisi jalan.
 Merubah arah putaran roda, sehingga kendaraan dapat berputar maju dan
mundur.
 Memutuskan dan menghubungkan putaran kendaraan sehingga kendaraan dapat
berhenti walaupun mesin dalam keadaan hidup.
Sedangkan pada sistem transmisi dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu
:
1. Transmisi langsung dimana sebuah piringan atau roda pada poros yang satu
dapat menggerakkan roda serupa pada poros kedua melalui kontak langsung
(roda gesek dan roda gigi).
2. Elemen sebagai penghubung sementara, dimana gerakkan poros pertama akan
menggerakkan poros kedua menggunakan elemen penghubung antara (Sabuk
dan rantai).

4
Fakultas Teknik Unjani
Adapun jenis transmisi yang digunakan pada kendaraan dapat digolongkan
sebagai berikut :
 Selective Gear Transmission
 Automatic Transmission
 Planetary Gear Transmission

2.2. Prinsip Roda Gigi

Konstruksi roda gigi mempunyai prinsip kerja berdasarkan pasangan


gerak.Bentuk gigi dibuat untuk menghilangkan keadaan slip, putar dan daya dapat
berlangsung dengan baik.

Gambar 2.2 Prinsip roda gigi


Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

Selain itu dapat dicapai kecepatan keliling (Vc) yang sama pada lingkaran singgung
sepasang roda gigi. Lingkaran singgung ini disebut lingkaran pitch atau lingkaran tusuk
yang merupakan lingkaran khayal pada pasangan roda gigi, tapi berperan penting dalam
perencanaan konstruksi roda gigi. Pada sepasang roda gigi maka perlu diperhatikan,
bahwa jarak lengkung antara dua gigi yang berdekatan (disebut "pitch") pada kedua
roda gigi harus sama, sehingga kaitan antara gigi dapat berlangsung dengan baik.
Bentuk lengkung pada suatu profil gigi, tidak dapat dibuat semaunya, melainkan
mengikuti kurva-kurva tertentu yang dapat menjamin terjadinya kontak gigi dengan
baik.

5
Fakultas Teknik Unjani
2.3. Cara Kerja Rem Tromol

Pada saat pedal rem diinjak / ditekan, maka tuas akan mendorong pegas. pegas
menekan silinder piston, tekanan ini akan diteruskan merata ke seluruh silinder roda,
piston silinder roda mendapat dorongan / tekanan dari piston meneruskan gaya ini
menekan sepatu rem dan sepatu rem menekan dinding dalam drum sehingga terjadi
gesekan atau pengereman. Pada saat pedal rem dilepas, pegas pedal rem akan menarik
pedal rem dan pegas sepatu rem akan menarik sepatu rem.

2.4. Jenis – Jenis Roda Gigi

Jenis-jenis Roda gigi dapat dibedakan pula dari keadaan konstruksi alur bentuk
gigi sena berdasarkan bentuk serta fungsi konstruksinya.

1. Roda Gigi Lurus


Roda gigi lurus adalah roda gigi dengan bentuk profil gigi beralur lurus dengan kondisi
penggunaan untuk sumbu sejajar. Pada konstuksi berpasangan, penggunaannya terdapat
dalara tiga keadaa, yaitu :
a. Roda Gigi lurus eksternal (spur gear)
b. Roda Gigi lurus internal (planetcry gear)
c. Roda Gigi lurus Rack dan pinion.

Gambar 2.3 Roda gigi lurus


Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

6
Fakultas Teknik Unjani
Penggunaan Roda gigi lurus ini cukup luas terutama spur gear pada konstruksi
general mekanik yang sederhana sampai sedang putaran dan beban relatip sedang. Dan
ketiga jenis Roda gigi ini, rnaka Internal Gear memilikitingkat kesulitan pemasangan
yang agak sulit, sehubungan dalam menentukan ketepatan pemasangan sumbu.
Sedangkan untuk jenis Rack dan Pinion Gear, mempunyai kekhususan dalam
penggunaannya, yaitu untuk pengubah gerak putar ke gerak lurus atau sebaliknya,
sedangkan pada Rack gear mempunyai sumbu Pitch yang lurus. Pembebanan pada gigi-
giginya mempunyai distribusi beban yang paling sederhana, yaitu gaya Normal yang
terurai menjadi gaya keliling (gaya targensial) dan gaya Radial.

2. Roda Gigi Miring


Bentuk dasar geometrisnya sama dengan roda gigi lurus, tetapi arah alur profil giginya
mempunyai kemiringan terhadap sumbu putar. Selain untuk posisi sumbu yang sejajar,
Roda Gigi miring dapat digunakan pula untuk pemasangan sumbu bersilangan. Dengan
adanya kemiringan alur gigi, maka perbandingan kontak yang terjadi jauh lebih besar
dibanding Roda gigi lurus yang seukuran, sehingga pemindahan putaran maupun beban
pada gigi-giginya berlangsung lebih halus. Sifat ini sangat baik untuk penggunaan pada
putaran tinggi dan beban besar.

Gambar 2.4 Roda gigi miring


Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

Selain itu, dengan adanya sudut kemiringan mengakibatkan terjadinya gaya aksial yang

7
Fakultas Teknik Unjani
harus di tahan oleh tumpuan bantalan pada porosnya. Sistim pelumasan harus
diperhatikan dengan cermat untuk meningkatkan umur pakai dari gigi yang saling
bergesekan. Khusus untuk penggunaan dalam posisi sumbu sejajar, serta untuk
menetralisir gaya aksial yang terjadi, dibuat roda gigi miring atau lebig populer disebut
Roda gigi "Herring bone", yaitu dengan dibuat dua alur profil gigi dengan posisi sudut
kemiringan saling berlawanan.
Roda gigi Herring bone dapat dibuat dalam tiga macam, yaitu :
a. Herring bone dengan gigi V setangkup
b. Herring bone dengan gigi V bersilang
c. Herring bone dengan gigi V berpotongan tengah
3. Roda Gigi Payung
Roda Gigi Payung sering disebut juga Roda Gigi kerucut atau Bevel Gear.
Peaggunaannya secara umum untuk pengtransmisian putaran dan beban dengan posisi
sumbu menyudut berpotongan dimana kebanyakan bersudut 90o. Khusus jenis Roda
gigi payung hypoid, posisi sumbunya bersilangan. Pada pemasangan Roda gigi payung
umumnya salah satu dipasang dengan kanstruksi tumpuan melayang, terutama pada
Roda gigi penggerak. Dari bentuk serta arah alur giginya, terdapat beberapa jenis Roda
gigi payung, diantaranya :
a. Roda Gigi Payung Gigi Lurus

8
Fakultas Teknik Unjani
Gambar 2.5 Roda gigi payung lurus
Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

Untuk jenis ini mempunyai konstruksi yang sederhana dibandins jenis roda
gigi payung laiimya. Pembuatannya relatip mudah dan penggunaannya untuk
konstruksi umum yang sederhana sampai sedang, baik dalam menerima beban maupun
putaran.
Berdasarkan pembuatan bentuk gigi roda gigi payung gigi lurus menyudut. Bentuk gigi
pada penampang potong, menyudut ke titik pusat kerucutnya, bentuk gigi penampang
potong sejajar dengan sumbu kerucutnya.
b. Roda Gigi Payung Gigi Miring.

9
Fakultas Teknik Unjani
Gambar 2.6 Roda gigi payung miring
Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

Disebut juga Spiral bevel gear. Perbendaan antara Bentuk gigi lurus dengan bentuk gigi
miring pada Roda Gigi payung ini, kurang lebih seperti perbedaan yang terdapat pada
Roda gigi lurus dengan Roda gigi miring (Spur Gear), dimana dengan adanya
kemiringan tersebut akan meningkan kemampuan menerima beban, mengurangi
kebisingan sehingga dapat digunakan pada putaran yang lebih tinggi dibanding dengan
Roda Gigi payung gigi lurus pada ukuran geometris yang sama.

c. Roda Gigi Payung Zerol.

10
Fakultas Teknik Unjani
Gambar 2.7 Roda gigi payung zerol
Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

Bentuk gigi berupa lengkung spiral dengan sudut spiral nol derajat, sehingga secara
sepintas tampak seperti Roda gigi lurus dengan gigi melengkung. Kemampuan Roda
Gigi Payung Zerol ini kurang lebih sama seperti Roda Gigi payung gigi miring (Spiral),
hanya pembuatannya lebih sulit dan bekerja lebih tenang serta tahan lama.

d. Roda Gigi Payung Hypoid.

Gambar 2.8 Roda gigi payung hypoid


Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

Jenis Roda Gigi payung ini lebih populer digunakan pada, kendaraan bermotor saja, tapi
untuk konstruksi general, mekanik yang memerlukan putaran tinggi serta beban besar
yang dinamis dapat menggunakan jenis Roda gigi payung ini. Bentuk alur giginya
berupa lengkung hypoid, sehingga posisi sumbu tidak tegak lurus berpotongan, tetapi
bersilangan, sehingga akan memudahkan pemasangan tumpuan bantalan pada kedua
Roda giginya.

e. Roda Gigi Cacing.

11
Fakultas Teknik Unjani
Gambar 2.9 Roda gigi cacing
Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

Roda gigi cacing di gunakan untuk posisi sumbu bersilangan dan pengtransmisian
putaran selalu berupa reduksi.Pada sepasang roda gigi cacing terdiri dari batang cacing
yang selalu sebagai penggerak dan Roda gigi cacing sebagai pengikut.Bahan batang
cacing umumnya lebih kuat dari pada roda cacingnya,selain itu batang cacing umumnya
di buat berupa kontruksi terpadu,dimana bentuk alur cacingnya berupa spiral, seperti
ulir dengan penampang profil gigi seperti jenis Roda gigi lainnya. Selain sebagai sistim
transmisi saja, Roda Gigi cacing sering juga difungsikan sebagai pengunci transmisi,
misalnya pada peralatan angkat. Dari bentuk konstruksi berpasangan terdapat dua jenis
konstruksi Roda cacing, yaitu :
1. Roda Gigi Cacing Silindrik.
2. Roda Gigi Cacing Glogoid (Cone-drive).
Perbedaan dan kedua jenis ini terdapat pada bentuknya. Sedangkan untuk profil gigi
mempunyai kurva yang tetap sama, sehingga dalam penggunaannva dapat salmg
bervariasi antara Batang Cacing dengan Roda Cacingnya.

12
Fakultas Teknik Unjani
Gambar 2.10 Roda gigi cacing
Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

Pada Roda gigi cacing silindrik, bentuk luar batang cacing maupun Roda Cacing berupa
siUnder sedang pada jenis glogoid, baik batang maupun Roda Cacingnya saling
mengikuti bentuk pasangannya.

Gambar 2.11 Pasangan roda gigi cacing


Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

Konstruksi batang cacing pada umumnya dibuat terpadu, tetapi untuk ukuran, besar
dapat saja batang cacing dibuat berupa pasangan dengan poros.

13
Fakultas Teknik Unjani
Gambar 2.12 Pasangan roda gigi
Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

2.5. Klasifikasi Roda Gigi

Letak Poros Roda Gigi Keterangan


Roda gigi Roda gigi lurus (Klasifikasi atas
dengan poros Roda gigi miring dasar bentuk alur
sejajar Roda gigi miring ganda gigi)
Roda gigi luar Arah putaran
Roda gigi dalam dan pinyon berlawanan arah
Batang gigi dan pinyon putaran
sama. Gerakan
lurus dan berputar
Roda gigi Roda gigi kerucut lurus (Klasifikasi atas
dengan poros Roda gigi kerucut spiral dasar bentuk jalur
berpotongan Roda gigi kerucut ZEROL gigi)
Roda gigi kerucut miring
Roda gigi kerucut miring ganda
Roda gigi permukaan dengan poros (Roda gigi dengan
berpotongan poros berpotongan

14
Fakultas Teknik Unjani
berbentuk
istimewa)
Roda gigi Roda gigi miring silang Kontak titik
dengan poros Batang gigi miring silang Gerakan lurus dan
silang berputar
Roda gigi cacing silindris
Roda gigi cacing selubung ganda
(globoid)
Roda gigi cacing samping
Roda gigi hipoerboloid
Roda gigi hipoid Roda gigi
permukaan silang

Tabel 2.1 Klasifikasi roda gigi

15
Fakultas Teknik Unjani
Gambar 2.13 Klasifikasi roda gigi
Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

2.6. Profil Roda Gigi

Untuk mendapatkan keadaan transmisi gerak dan daya yang baik, maka profil
gigi harus mempunyai bentuk yang teratur sehingga kontak gigi berlangsung dengan
mulus. Oleh karena itu profil gigi dibuat dengan bentuk geometris tertentu, agar
perbandingan kecepatan sudut antara pasangan roda gigi harus selalu sama. Agar
memenuhi hat tersebut dikenal 3 jenis konstruksi profil gigi, yaitu :

16
Fakultas Teknik Unjani
1. Konstruksi kurva evolvent
Kurva evolvent adalah kurva yang dibentuk oleh sebuah titik yang terletak pada sebuah
garis lurus yang bergulir pada suatu silinder atau kurva yang dibentuk oleh satu titik
pada sebuah tali yang direntangkan dari suatu gulungan pada silinder.
Keuntungan kurva evolvent antara lain :
a. Pembuatan profil gigi mudah dan tepat, karena menggunakan sisi cutter (pisau
potong) yang lurus.
b. Ketepatan jarak sumbu roda gigi berpasangan tidak perlu presisi sekali.
c. Jika ada perubahan kepala gigi atau konstruksi gigi pada suatu pengkonstruksian
perubahan dapat dilakukan dengan sutler (pisau pemotong).
d. Dengan modul yang sama, walaupun jumlah giginya berbeda, maka pasangan dapat
dipertukarkan.
e.Arab dan tekanan profil gigi adalah sama.

Gambar 2.14 Kurva evolvent


Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

2. Konstruksi kurva sikloida


Profil sikloida digunakan karena cara kerja sepasang roda gigi sikloida sama seperti dua
lingkaran yang saling menggelinding antara yang satu dengan- pasangannya.
Kurva sikloida adalah kurva yang dibentuk oleh sebuah titik pada sebuah lingkaran yang
menggelinding pada sebuah jalur gelinding. Dari keadaan konstruksi pasangan roda
gigi, maka kurva sikloida dapat berupa:
a. Orthosikloida, lingkaran mengge- linding pada jalur gelinding berupa garis lurus.

17
Fakultas Teknik Unjani
b. Episikloida, lingkaran menggelinding pada jalur gelinding berupa sisi luar lingkaran.
c. Hiposikloida, lingkaran menggelinding pada jalur gelinding berupa sisi dalam
lingkaran.
d. Profil sikloida bekerja berpasangan dan dengan jarak sumbu yang presisi, sehingga
tidak dapat dipertukarkan dengan mudah, kecuali yang dibuat berpasangan yang sama.

Keuntungan penggunaan profil sikloida antara lain :

a. Mampu menerima beban yang lebih besar.

b. Keausan dan tekan yang terjadi lebih kecil.

c. Cocok digunakan untuk penggunaan presisi.

d. Jumlah gigi dapat dibuat lebih sedikit.

Pada proses pembuatannya menggunakan roda gelinding berpasangan (generating


method) yaitu :

Roda gelinding 1 (cutter) digunakan untuk membentuk profil roda gigi 2, dan
sebaliknya, roda gelinding 2 sebagai pasangan roda gelinding 1, membentuk profil gigi
roda 1.

Gambar 2.15 Kurva sikloida

Sumber : http://saw56.blogspot.co.id/2014/macam-roda-gigi.html

18
Fakultas Teknik Unjani
3. Profil equidistanta

Kurva dari jarak yang sama terbadap sikloida yang dibentuk oleh roda gelinding 2
terhadap jalur gelinding pasangannya. Profil ini dipakai konstruksi pasangan antara roda
gigi profil dengan roda pena (pasangannya bukan berupa gigi, tapi berupa yang berjarak
teratur melingkar pada suatu roda). Dan lebih umum lagi digunakan pada hubungan gigi
dan rantai.Konstruksi prProfil gigi ini digunakan pada suatu hubungan transmisi dengan
rasio yang besar misalnya ; untuk pemutar derek dan pasangan konstruksi bukan berupa
dua roda gigi, tapi satu roda gigi dengan satu roda pena atau rantai.

19
Fakultas Teknik Unjani
BAB III
TAHAP PROSES

3.1. Diagram Alir

START

mmk, mb, m01,


m02, m03, mbb,
𝜌bensin, ∅, V2,
t1, t2, t3

𝜔 = 𝑚 . 9,81 𝑚/𝑠 2
𝑅∅𝑖 = σ 𝜔𝑖 . Sin ∅𝑖
𝑎̅ = 1/3 (𝑎1 + 𝑎2 + 𝑎3)
Ri = m . 𝑎

𝜔, 𝑅∅𝑖 , 𝑎̅, Ri.

σ 𝐹𝑥 ,
෍ 𝐹𝑦 , ෍ 𝑀

𝐹𝑇𝑅, 𝑁𝑟 , 𝑁𝑓

𝐹𝑐 = 𝐹𝑇𝑅 . 𝑅
𝑏𝑎𝑛

20
Fakultas Teknik Unjani
a

𝐹𝑐

𝑇𝑝𝑜𝑟𝑜𝑠 = 𝐹𝑐 . 𝑅
𝑠𝑘

𝑇𝑝𝑜𝑟𝑜𝑠

STOP

END

21
Fakultas Teknik Unjani
3.2. Spesifikasi Sepeda Motor

Model: Suzuki Shogun 110


Kode: FD110
Mesin: 4-stroke, 1 cylinder
Kapasitas mesin: 109 cc (110)
Valves per cylinder: 2
Bore x stroke: 53.5 x 48.8 mm
Rasio kompresi: 9,3 : 1
Max. power: 9,8 hp @ 7000 rpm
Pendingin: udara
Karburator: Mikuni VM 17SH
Fuel control: OHC
Pengapian: DC-CDI
Lubrication system : wet sump
Tangki bbm: 4,5 liter
Starter: electric dan kick

Dimensi:
Panjang x lebar x tinggi: 1930 x 710 x 1200 mm
Jarak ke tanah: 143 mm
Jarak as roda: 1225 mm
Tangki bbm: 4,5 liter
Berat: 105 kg

Suspensi:
- depan: telescopic
- belakang: swing arm, double shock
Rem:
- depan: - 1995-1997: tromol
- 1997-2003: cakram
- belakang: tromol
Ban:
- depan: 2.50-17"
- belakang: 2.75-17"

22
Fakultas Teknik Unjani
3.3. Analisis Data

Setelah data-data diperoleh maka langkah selanjutnya menganalisisnya,


berikut adalah langkah-langkah untuk menganalisis data yang sudah diperoleh:
1. Mencari nilai percepatan, menghitung gaya serta hambatan yang terjadi
baik dari kendaraan maupun beban penumpang:
 Mencari titik berat sepeda motor (Wmk);
 Mencari titik berat bahan bakar (Wbb);
 Mencari titik berat bagasi (Wb);
 Mencari titik berat orang pertama (WO1);
 Mencari titik berat orang kedua (WO2);
 Mencari titik berat orang ketiga (WO3);
 Menghitung gaya berat sepeda motor kosong (Wmk);
 Menghitung gaya berat bahan bakar (Wbb);
 Menghitung gaya berat bagasi (Wb);
 Menghitung gaya berat orang pertama (WO1);
 Menghitung gaya berat orang kedua (WO2);
 Menghitung gaya berat orang ketiga (WO3);
 Mencari nilai percepatan sepeda motor (a);
 Menghitung hambatan inersia massa dari sepeda motor (RiWmk);
 Menghitung hambatan inersia massa dari bahan bakar (RiWbb);
 Menghitung hambatan inersia massa dari bagasi (RiWb);
 Menghitung hambatan inersia massa dari orang pertama (RiWO1);
 Menghitung hambatan inersia massa dari orang kedua (RiWO2);
 Menghitung hambatan inersia massa dari orang ketiga (RiWO3);
2. Menghitung hambatan tanjakan (RØ)
3. Menghitung gaya-gaya dan hambatan yang terjadi pada roda depan:
 Gaya normal (Nf);
 Hambatan inesrsia (Ibf);
 Hambatan gelinding (RRf).

23
Fakultas Teknik Unjani
4. Menghitung gaya-gaya yang terjadi pada roda belakang:
 Gaya normal (Nr);
 Hambatan Inersia (Ibr);
 Hambatan gelinding (RRr).
5. Menghitung gaya tarik pada motor (Ft);
6. Menghitung gaya pada sproket (Fc);
7. Menghitung torsi yang terjadi pada roda belakang (TT);
8. Menghitung daya yang diperlukan (PTmax).
9. Menghitung Torsi Sprocket depan (Tspock)
10. Menghitung Kecepan putaran pada transmisi ke-3 (ω)
11. Menghitung putaran (n)
12. Menghitung Kecepatan garis puncak (V)
13. Menghitung Beban yang dipindahkan (Wt)
14. Menghitung Faktor Dinamika (Kv)
15. Menghitung Tegangan Aktual (σ)

24
Fakultas Teknik Unjani
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pembahasan

kg
𝑀𝑡 = 𝜌 . 𝑣 = 0,77 . 4,5 𝑙 = 3,465 𝑘𝑔
𝑑𝑚3

1. Mencari Tiap Beban (𝜔)

𝑚
𝜔𝑚𝑘 = 105 𝑘𝑔 . 9.81 = 1030,1 𝑁
𝑠2

𝑚
𝜔𝑏 = 25 𝑘𝑔 . 9.81 = 245,3 𝑁
𝑠2

𝑚
𝜔01 = 80 𝑘𝑔 . 9.81 = 748,8 𝑁
𝑠2

𝑚
𝜔02 = 60 𝑘𝑔 . 9.81 = 588,6 𝑁
𝑠2

𝑚
𝜔03 = 65 𝑘𝑔 . 9.81 = 637,7 𝑁
𝑠2

𝑚
𝜔𝑏𝑏 = 3,465 𝑘𝑔 . 9.81 = 34 𝑁
𝑠2

2. Mencari Hambatan Kemiringan (∅)

𝑅∅𝑖 = ෍ 𝜔𝑖 . 𝑆𝑖𝑛 ∅𝑖

= ( 1030,1 + 245,3 + 784,8 + 588,6 + 637,7 + 34)𝑁 . 𝑆𝑖𝑛 15°

= 860

25
Fakultas Teknik Unjani
3. Mencari Percepatan Rata – rata (𝑎̅)

𝑘𝑚
Dik : 𝑉2 = 20 𝑗𝑎𝑚 𝑡2 = 2,71 𝑠

𝑡1 = 2,83 𝑠 𝑡3 = 2,68 𝑠

𝑘𝑚
20 𝑗𝑎𝑚 . 103 𝑚
𝑉= = 5,56
3,6 . 103 𝑠

𝑚 𝑚
𝑉2 − 𝑉1 5,56 𝑠 − 0 𝑠
𝑎1 = = = 1,964 𝑚/𝑠 2
𝑡1 2,83 𝑠

𝑚 𝑚
𝑉2 − 𝑉1 5,56 𝑠 − 0 𝑠
𝑎2 = = = 2,051 𝑚/𝑠 2
𝑡1 2,71 𝑠

𝑚 𝑚
𝑉2 − 𝑉1 5,56 𝑠 − 0 𝑠
𝑎3 = = = 2,074 𝑚/𝑠 2
𝑡1 2,68 𝑠

1
𝑎̅ = (𝑎 + 𝑎2 + 𝑎3 )
3 1

1
= ( 1,964 + 2,051 + 2,074 )𝑚/𝑠 2
3

= 2,036 𝑚/𝑠 2

4. Mencari Hambatan Inersia

𝑚
𝑅𝑖𝑏 = 𝑚𝑏 . 𝑎̅ = 25 𝑘𝑔 . 2,036 = 50,90 𝑁
𝑠2
𝑚
𝑅𝑖03 = 𝑚03 . 𝑎̅ = 65 𝑘𝑔 . 2,036 = 132,34 𝑁
𝑠2
𝑚
𝑅𝑖02 = 𝑚02 . 𝑎̅ = 60 𝑘𝑔 . 2,036 = 122,16 𝑁
𝑠2
𝑚
𝑅𝑖01 = 𝑚01 . 𝑎̅ = 80 𝑘𝑔 . 2,036 = 162,88 𝑁
𝑠2

26
Fakultas Teknik Unjani
𝑚
𝑅𝑖𝑚𝑘 = 𝑚𝑚𝑘 . 𝑎̅ = 105 𝑘𝑔 . 2,036 = 213,78 𝑁
𝑠2
𝑚
𝑅𝑖𝑏𝑏 = 𝑚𝑏𝑏 . 𝑎̅ = 3,465 𝑘𝑔 . 2,036 = 7,05 𝑁
𝑠2

5. Mencari Gaya & Momen

(+→) ෍ 𝐹𝑥 = 𝐹𝑇𝑅 − 𝑅𝑅𝑟 − 𝑅𝑅𝑓 − 𝑅∅𝑏 − 𝑅∅03 − 𝑅∅02 − 𝑅∅01 − 𝑅∅𝑏𝑏 − 𝑅∅𝑚𝑘

− 𝑅𝑖𝑏 − 𝑅𝑖03 − 𝑅𝑖02 − 𝑅𝑖01 − 𝑅𝑖𝑚𝑘 − 𝑅𝑖𝑏𝑏

= 𝐹𝑇𝑅 − 𝑅𝑅𝑟 − 𝑅𝑅𝑓 − 𝜔𝑏 . 𝑠𝑖𝑛 ∝ − 𝜔03 . 𝑠𝑖𝑛 ∝ − 𝜔02 . 𝑠𝑖𝑛


∝ − 𝜔01 . 𝑠𝑖𝑛 ∝ − 𝜔𝑚𝑘 . 𝑠𝑖𝑛 ∝ − 𝜔𝑏𝑏 . 𝑠𝑖𝑛
∝ −𝑅𝑖𝑏 − 𝑅𝑖03 − 𝑅𝑖02 − 𝑅𝑖01 − 𝑅𝑖𝑚𝑘 − 𝑅𝑖𝑏𝑏

= 𝐹𝑇𝑅 − (𝑅𝑅𝑟 . 0,07) − (𝑅𝑅𝑓 . 0,07) − (245,3 𝑁. sin 15°)


− (637,7 𝑁. sin 15°) − (588,6 𝑁. sin 15°)
− (784,8 𝑁. sin 15°) − (1030,1 𝑁. sin 15°)
− (34 𝑁. sin 15°) − (50,90 𝑁) − (132,34 𝑁)
− (122,16 𝑁) − (162,88 𝑁) − (213,78 𝑁) − (7,05 𝑁)

= 𝐹𝑇𝑅 − (𝑅𝑅𝑟 . 0,07) − (𝑅𝑅𝑓 . 0,07) − (63,48 𝑁) − (165,04 𝑁)


− (152,34 𝑁) − (203,12 𝑁) − (266,60 𝑁)
− (8,79 𝑁) − (50,90 𝑁) − (132,34 𝑁) − (122,16 𝑁)
− (162,88 𝑁) − (213,78 𝑁) − (7,05 𝑁)

𝐹𝑇𝑅 − (𝑅𝑅𝑟 . 0,07) − (𝑅𝑅𝑓 . 0,07) = − − − − − − − − − − − − −[1]

27
Fakultas Teknik Unjani
(+↑) ෍ 𝐹𝑦 = 𝑁𝑟 + 𝑁𝑓 − 𝑅∅𝑏 − 𝑅∅03 − 𝑅∅02 − 𝑅∅01 − 𝑅∅𝑏𝑏 − 𝑅∅𝑚𝑘

= 𝑁𝑟 + 𝑁𝑓 − 𝜔𝑏 . 𝑐𝑜𝑠 ∝ − 𝜔03 . 𝑐𝑜𝑠 ∝ − 𝜔02 . 𝑐𝑜𝑠 ∝ − 𝜔01 . 𝑐𝑜𝑠


∝ − 𝜔𝑚𝑘 . 𝑐𝑜𝑠 ∝ − 𝜔𝑏𝑏 . 𝑐𝑜𝑠 ∝

= 𝑁𝑟 + 𝑁𝑓 − (245,3 𝑁. cos 15°) − (637,7 𝑁. cos 15°) − (588,6 𝑁. cos 15°)


− (784,8 𝑁. cos 15°) − (1030,1 𝑁. cos 15°) − (34 𝑁. cos 15°)

= 𝑁𝑟 + 𝑁𝑓 − 236,94 𝑁 − 615,97 𝑁 − 568,54 𝑁 − 785,05 𝑁 − 9,95 𝑁


− 32,84 𝑁

𝑁𝑟 + 𝑁𝑓 = 3234,34 𝑁 − − − − − − − − − − − − − − − − − − − −[2]

(+) σ 𝑀 = 0

= (𝐹𝑇𝑅 . 0) + (𝑅𝑅𝑟 . 0) + (𝑁𝑟 . 0) + (𝑁𝑓 . 0,122𝑚) + (𝜔𝑏 . 𝑐𝑜𝑠


∝ .0,942𝑚) + (𝜔03 . 𝑐𝑜𝑠 ∝ .1,130𝑚) − (𝜔02 . 𝑐𝑜𝑠
∝ .1,036𝑚) − (𝜔01 . 𝑐𝑜𝑠 ∝ .1,036𝑚) − (𝜔𝑚𝑘 . 𝑐𝑜𝑠
∝ .0,282𝑚) − (𝜔𝑏𝑏 . 𝑐𝑜𝑠 ∝ .0,645𝑚) + (𝜔𝑏 . 𝑠𝑖𝑛
∝ .0,942𝑚) + (𝜔03 . 𝑠𝑖𝑛 ∝ .1,130𝑚) + (𝜔02 . 𝑠𝑖𝑛
∝ .1,036𝑚) + (𝜔01 . 𝑠𝑖𝑛 ∝ .1,036𝑚) + (𝜔𝑚𝑘 . 𝑠𝑖𝑛
∝ .0,282𝑚) + (𝜔𝑏𝑏 . 𝑠𝑖𝑛
∝ .0,645𝑚) + (𝑅𝑖𝑏 . 0,942𝑚) + (𝑅𝑖03 . 1,130𝑚)
+ (𝑅𝑖02 . 1,036𝑚) + (𝑅𝑖01 1,036𝑚) + (𝑅𝑖𝑚𝑘 . 0,282𝑚)
+ (𝑅𝑖𝑏𝑏 . 0,645𝑚) + 𝐼 ∝ +𝐼 ∝

28
Fakultas Teknik Unjani
= 0 + 0 + 0 + (𝑁𝑓 . 0,122𝑚) + (236,94𝑁 .0,942𝑚)
+ (615,90𝑁 .1,130𝑚) − (568,54𝑁 .1,036𝑚)
− (785,05𝑁 .1,036𝑚) − (995𝑁 .0,282𝑚)
− (32,84𝑁 .0,645𝑚) + 63,48𝑁. 0,942𝑚)
+ (165,04 𝑁. 1,130𝑚) + (152,34 𝑁. 1,036𝑚)
+ (203,12𝑁 .1,036𝑚) + (266,6,60𝑁 .0,282𝑚)
+ (8,79𝑁 .0,645𝑚) + 13,17𝑁 .0,942𝑚)
+ (34,25𝑁 .1,130𝑚) + (31,61𝑁 .1,036𝑚)
+ (42,15𝑁 .1,036𝑚) + (55,33𝑁 .0,282𝑚)
+ (1,82𝑁 .0,645𝑚)
𝑚
+ (16 𝑘𝑔. 0,20 𝑚2 . (2,036 /0,20𝑚))
𝑠2
𝑚
+ (16 𝑘𝑔. 0,20 𝑚2 . (2,036 2 /0,20𝑚))
𝑠

= 0 + 0 + 0 + (𝑁𝑓 . 0,122𝑚) + 222,72 𝑁𝑚 + 695,96 𝑁𝑚


− 585,59 𝑁𝑚 − 808,60 𝑁𝑚 − 21,01 𝑁𝑚
− 278,60 𝑁𝑚 + 59,67 𝑁𝑚 + 186,49 𝑁𝑚
+ 156,91 𝑁𝑚 + 209,21 𝑁𝑚 + 5,62 𝑁𝑚 + 74,64 𝑁𝑚
+ 14,88 𝑁𝑚 + 38,70 𝑁𝑚 + 32,55 𝑁𝑚 + 43,41 𝑁𝑚
+ 1,16 𝑁𝑚 + 15,49 𝑁𝑚 + 6,51 𝑁𝑚 + 6,51 𝑁𝑚

= (𝑁𝑓 . 0,122𝑚) + 76,63 𝑁𝑚

76,63𝑁𝑚
𝑁𝑓 = = 62,55 𝑁 − − − − − − − − − − − − − − − [3]
0,122𝑚

29
Fakultas Teknik Unjani
[3]-----[2]

𝑁𝑟 + 𝑁𝑓 = 3234,34 𝑁

𝑁𝑟 + 62,55 𝑁 = 3234,34 𝑁

𝑁𝑟 = 3234,34 𝑁 − 62,55 𝑁

= 3171,79 𝑁

[2]-----[1]

𝐹𝑇𝑅 − (𝑁𝑟 . 0,07) − (𝑁𝑓 . 0,07) = 1370,88 𝑁

𝐹𝑇𝑅 − (3171,79𝑁 .0,07) − (62,55𝑁 .0,07) = 1370,88 𝑁

1597,28𝑁
𝐹𝑇𝑅 = 221,97𝑁 + 4,37𝑁 + 1370,88 𝑁 = 1597,28 𝑁 =
9,81𝑚/𝑠 2
= 162,82 𝑘𝑔

6. Menentukan Gaya Rantai

𝐹𝑐 . 𝑅𝑠𝑏 = 𝐹𝑇𝑅 . 𝑅𝑟𝑜𝑑𝑎

𝐹𝑐 . 0,067 𝑚 = 1579,28𝑁 . 0,20𝑚

1579,28𝑁 . 0,20𝑚
𝐹𝑐 =
0,067𝑚

= 4768𝑁

7. Menentukan Torsi poros

𝑇𝑝𝑜𝑟𝑜𝑠 = 𝐹𝑐 . 𝑅𝑠𝑘
𝑇𝑝𝑜𝑟𝑜𝑠 = 4768 𝑁 . 0,027𝑚
𝑇𝑝𝑜𝑟𝑜𝑠 = 128,73 𝑁𝑚

30
Fakultas Teknik Unjani
4.2. Hasil

BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil pengukuran pada rem drum sepatu dalam sepeda motor Honda C70
diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

DAFTAR PUSTAKA

1. Sularso., Suga, K. (2004). Dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin (11th ed).
Jakarta : Pradnya Paramita.

2. G. Richard., Nisbett K. (2011). Shigley’s Mechanical Engineering Design (9th ed)


New York : The McGraw-Hill.

31
Fakultas Teknik Unjani
LAMPIRAN