Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH SWAMEDIKASI “SELESMA DAN FLU”

Oleh:

1. Roudlotul Jannah (S1 Farmasi/10115073)


2. Bagus Wahyu S (S1 Farmasi/10115074)
3. Citra Rahma W (S1 Farmasi/10115075)
4. Rizky Darmawan (S1 Farmasi/10115076)
5. Wardah Fahrun N (S1 Farmasi/10115077)
6. Camelia Cindy L (S1 Farmasi/10115078)
7. Anisa (S1 Farmasi/10115079)
8. Lenny Kurnia R (S1 Farmasi/10115080)
9. Atikah Kumala S (S1 Farmasi/10115082)

PRODI S1 FARMASI
FAKULTAS FARMASI
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2018
PENDAHULUAN

A. Definisi
a. Salesma (Pilek)
Rinitis atau dikenal juga sebagai Common Cold, Coryza, atau
selesma didefinisikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas dengan
gejala utama pilek dan batuk akut ringan tanpa komplikasi,
disebabkan oleh berbagai virus dan bersifat selflimited (Heikkinen
dan Jarvinen, 2003; Turner dan Hayden, 2004).
b. Flu
Influenza (flu) adalah penyakit pernapasan menular yang
disebabkan oleh virus influenza yang dapat menyebabkan penyakit
ringan sampai penyakit berat (Abelson, 2009). Virus ditularkan
melalui air liur terinfeksi yang keluar pada saat penderita batuk, bersin
atau melalui kontak langsung dengan sekresi (ludah, air liur, ingus)
penderita. Ada dua jenis virus influenza yang utama menyerang
manusia yaitu virus A dan virus B (Spikler, 2009).
B. Etiologi
a. Salesma
Terdapat lebih dari 200 virus penyebab common cold dan yang
tersering adalah Rhinovirus (khususnya pada dewasa). Penyebab lain
selain rhinovirus antara lain respiratory sincitial virus, coronaviruses,
virus influenza, virus parainfluenza, adenovirus, echovirus, dan virus
coxsackie. Proses transmisinya dapat melalui inokulasi mukosa
hidung 8 dengan virus yang berada pada benda hidup (tangan) atau
benda mati (gagang pintu dan telepon). Rhinovirus merupakan
organisme mikroskopis yang menyerang sel-sel mukus pada hidung,
merusak fungsi normal mereka serta memperbanyak diri di sana.
Virus tersebut dapat bermutasi dan hingga saat ini ada sekitar 250
strain atau jenis rhinovirus. Selain virus, batuk dan pilek dan demam
juga disebabkan oleh bakteri (Aden, 2010).
b. Flu
Terdapat tiga jenis influenza musiman (seasonal) yakni A, B dan
Tipe C. Di antara banyak subtipe virus influenza A, saat ini subtipe
influenza A (H1N1) dan A (H3N2) adalah yang banyak beredar di
antara manusia. Virus influenza bersirkulasi di setiap bagian dunia.
Kasus flu akibat virus tipe C terjadi lebih jarang dari A dan B. Itulah
sebabnya hanya virus influenza A dan B termasuk dalam vaksin
influenza musiman. Influenza musiman menyebar dengan mudah Saat
seseorang yang terinfeksi batuk, tetesan yang terinfeksi masuk ke
udara dan orang lain bisa tertular. Mekanisme ini dikenal sebagai air
borne transmission. Virus juga dapat menyebar oleh tangan yang
terinfeksi virus. Untuk mencegah penularan, orang harus menutup
mulut dan hidung mereka dengan tisu ketika batuk, dan mencuci
tangan mereka secara teratur (WHO, 2009).
C. Patofisiologi
a. Salesma
Rhinovirus mengikat molekul intraseluler 1 reseptor yang melekat
pada sel-sel ephitelial pernapasan di hidung dan nasofaring sehingga
dapat bereplikasi dan menyebar. Sel yang terinfeksi melepaskan
chemokine “sinyal bahaya” dan sitokin yang mengaktifkan mediator
inflamasi dan refleks neurogenik, sehingga ada tambahan mediator
inflamasi, vasodilatasi, transudasi plasma, sekresi kelenjar, stimulasi
saraf nyeri, refleks bersin dan batuk. Rhinovirus berada dalam
nasofaring selama 16 sampai 18 hari setelah infeksi awal. Infeksi virus
berakhir dengan antibodi penetral (sekretori imunoglobulin A atau
serum imunoglobulin G) masuk ke dalam mukosa sampai akhir
replikasi virus (Berardi, 2004).
b. Flu
Patofisiologi influenza menggambarkan inhalasi droplet virus
influenza, diikuti replikasi virus dan kemudian infeksi virus
menyebabkan inflamasi pada saluran pernafasan. Virus influenza
masuk melalui inhalasi dari droplet yang infeksius, aerosol partikel
mikro, maupun inokulasi langsung lewat sentuhan tangan dari
penderita. Virus kemudian mengikat reseptor asam sialat yang terdapat
pada sel epitel jalan napas, khususnya di trakea dan bronkus.
Kemudian, replikasi virus mencapai puncaknya dalam 48 jam pasca
infeksi dan jumlah virus berhubungan langsung dengan derajat
keparahan penyakit. Pada kasus yang berat, terdapat perluasan infeksi
virus mencapai bagian paru-paru distal yang sesuai dengan
karakteristik pneumonitis interstisial. Kerusakan pada alveoli yang
disertai pembentukan membran hialin menyebabkan perdarahan dan
eksudat keluar dari kapiler alveolar menuju lumen yang kemudian
mengakibatkan gangguan pertukaran gas dan disfungsi napas berat
(WHO, 2009).
D. Manifestasi Klinik
a. Selesma
1. Gejala mulai timbul dalam waktu 1-3 hari setelah terinfeksi.
2. Biasanya gejala awal berupa rasa tidak enak di hidung atau
tenggorokan.
3. Penderita mulai bersin-bersin, hidung meler dan merasa sakit
ringan.
4. Biasanya tidak timbul demam, tetapi demam yang ringan bisa
muncul pada saat terjadinya gejala.
5. Hidung mengeluarkan cairan yang encer dan jernih dan pada hari-
hari pertama jumlahnya sangat banyak sehingga mengganggu
penderita.
6. Selanjutnya sekret hidung menjadi lebih kental, berwarna kuning-
hijau dan jumlahnya tidak terlalu banyak.
7. Gejala biasanya akan menghilang dalam waktu 4-10 hari, meskipun
batuk dengan atau tanpa dahak seringkali berlangsung sampai
minggu kedua.
Gejala yang umum adalah batuk, sakit tenggorokan, pilek,
hidung tersumbat, dan bersin, kadang-kadang disertai dengan mata
merah, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, kelemahan otot, menggigil
tak terkendali, kehilangan nafsu makan, dan kelelahan ekstrim jarang.
Demam lebih sering merupakan gejala influenza, virus lain atas infeksi
saluran pernapasan yang gejalanya luas tumpang tindih dengan dingin,
tapi lebih parah. Gejala mungkin lebih parah pada bayi dan anak-anak
(karena sistem kekebalan tubuh mereka tidak sepenuhnya berkembang)
serta orang tua (karena sistem kekebalan tubuh mereka sering menjadi
lemah).
Gejala yang timbul biasanya diawali dengan nyeri atau gatal
tenggorokan, diikuti mampet dan meler pada hari kedua dan ketiga,
dan selanjutnya dapat timbul batuk (Pujiarto, 2014).
b. Flu
Gejala influenza biasanya diawali dengan demam tiba-tiba, batuk
(biasanya kering), sakit kepala, nyeri otot, lemas, kelelahan dan
hidung berair. Pada anak dengan influenza B dapat menjadi lebih
parah dengan terjadinya diare serta nyeri abdomen. Kebanyakan orang
dapat sembuh dari gejala-gejala ini dalam waktu kurang lebih satu
minggu tanpa membutuhkan perawatan medis yang serius. Waktu
inkubasi yaitu dari saat mulai terpapar virus sampai munculnya gejala
kurang lebih dua hari (Abelson, 2009).
E. Pencegahan
1. Menjaga kebersihan perorangan seperti sering mencuci tangan,
menutup mulut ketika batuk dan bersin, dan membuang ludah/dahak
dari mulut dan ingus hidung dengan cara yang bersih dan tidak
sembarangan.
2. Bila memungkinkan, hindari jangan sampai berjejal di satu ruangan,
misalnya ruang keluarga, atau tempat tidur. Ruangan harus memiliki
ventilasi yang cukup lega.
3. Berpola hidup sehat, hindari minum alkohol, stres, istirahat cukup.
4. Mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan.
5. Bila akan menyentuh/menggendong bayi, cucilah tangan dahulu.
6. Makan makanan yang bersih, higienis, sehat, gizi-nutrisi seimbang.
Idealnya empat sehat lima sempurna.
F. Terapi Farmakologi
Pada umumnya obat influenza mengandung antara lain
antihistamin, dekongestan, analgetik/antipiretik, ekspektoran, antitusif.
Menggunakan obat yang mengandung antihistamin dan dekongestan.
Antihistamin adalah suatu kelompok obat yang dapat berkompetisi
melawan histamin, yaitu salah satu mediator dalam tubuh yang dilepas
pada saat terjadi reaksi alergi. Obat yang tergolong antihistamin antara lain
: klorfeniramin maleat (CTM), difenhidramin HCl, promethazin.
Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat-obat
antihistamin yaitu : hindari dosis melebihi yang dianjurkan, hindari
penggunaan bersama minuman beralkohol atau obat tidur, penderita
gloukoma atau retensi urine akibat hipertrofi prostat apabila menggunakan
obat yang mengandung antihistamin agar dikonsultasikan dahulu dengan
dokter, jangan minum obat antihistamin bila akan mengemudikan
kendaraan dan menjalankan mesin. Efek samping yang mungkin timbul
yaitu : mengantuk, pusing, gangguan sekresi saluran nafas, mual dan
jarang terjadi muntah.
Aturan pemakaian :
a. Klorfeniramin maleat (CTM) untuk dewasa 1 tablet (2 mg) setiap 6-8
jam, untuk anak kurang dari 12 tahun ½ tablet setiap 6-8 jam
b. Difenhidamin HCl untuk dewasa 1-2 kapsul (25-50 mg) setiap 8 jam,
untuk anak ½ tablet (12,5 mg) setiap 6-8 jam.
c. Promethazin untuk dewasa 50-300 mg sehari, untuk anak usia 1-5 tahun
5-15 mg sehari, usia 5-10 tahun 10-25 mg setiap hari (Berardi, 2004).
Dekongestan adalah obat yang mempunyai efek mengurangi
hidung tersumbat. Berdasarkan cara pemberiannya dapat dibedakan antara
dekongestan oral (melalui mulut) dan dekongestan topikal (diteteskan ke
dalam hidung). Obat dekongestan oral antara lain: fenilpropanolamin,
fenilefrin, pseudoefedrin, efedrin.
Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan obat dekongestan
oral adalah hati-hati pada penderita diabet juvenil karena dapat
meningkatkan kadar gula darah, penderita tiroid, hipertensi, gangguan
jantung, dan penderita yang menggunakan obat antidepresi. Efek samping
yang mungkin timbul dari penggunaan obat dekongestan oral yaitu :
menaikkan tekanan darah, aritmia terutama pada penderita penyakit
jantung dan pembuluh darah.

Aturan pemakaian :
a. Fenipropanolamin untuk dewasa maksimal 15 mg per takaran 3-4 kali
sehari, untuk anak 6-12 tahun maksimal 7,5 mg per takaran 3-4 kali
sehari.
b. Fenilefrin untuk dewasa 10 mg 3 kali sehari, untuk anak 6-12 tahun 5
mg 3 kali sehari.
c. Pseudoefedrin untuk dewasa 60 mg 3-4 kali sehari, untuk anak 2-5
tahun 15 mg 3-4 kali sehari, untuk anak 6-12 tahun 30 mg 3-4 kali
sehari.
d. Efedrin untuk dewasa 25-30 mg setiap 3-4 jam, untuk anak sehari 3
mg/kg berat bada dibagi dalam 4-6 dosis yang sama.
Termasuk dekongestan topikal adalah oksimetazolin. Hal yang
perlu diperhatikan dalam penggunaan obat tersebut yaitu : hindari dosais
melebihi yang dianjurkan, hati-hati sewaktu meneteskan ke hidung, dosis
tepat dan masuknya ke lubang hidung harus tepat, jangan mengalir ke luar
atau tertahan, tidak boleh digunakan lebih dari 7-10 hari, segera minum
setelah menggunakan obat, karena air dapat mengencerkan obat yang
tertelan, ujung botol obat dibilas dengan air panas setiap kali dipakai,
penggunaan obat pada pagi dan menjelang tidur malam, dan tidak boleh
digunakan lebih dari 2 kali dalam 24 jam.
Obat tidak boleh digunakan untuk anak berumur dibawah 6
tahun, karena efek samping yang timbul lebih parah, dan ibu hamil muda.
Efek samping obat ini yaitu : merusak mukosa hidung karena hidung
tersumbat makin parah, rasa terbakar, kering, bersin, sakit kepala, sukar
tidur, berdebar.
Aturan pemakaian : Oksimetazolin untuk dewasa dan anak di
atas 6 tahun 2-3 tetes/semprot oksimetazolin 0,005% setiap lubang hidung,
untuk anak usia 2-5 tahun 2-3 tetes/semprot oksimetazolin 0,025% setiap
lubang hidung, untuk anak kurang dari 2 tahun ikuti petunjuk dokter.

Analgetik/antipiretik adalah obat yang digunakan untuk


menghilangkan nyeri dan menurunkan demam. Obat yang termasuk
analgetik/antipiretik yang dapat dibeli bebas yaitu: parasetamol
(asetaminofen) dan aspirin (asetosal). Hal yang perlu diperhatikan dalam
penggunaan parasetamol yaitu : dosis harus tepat, bila dosis berlebihan
dapat menimbulkan gangguan fungsi hati dan ginjal, sebiknya diminum
setelah makan, hindari penggunaan campuran obat demam lain karena
dapat menimbulkan over dosis, hindari penggunaan bersama dengan
alkohol karena dapat meningkatkan resiko gangguan fungsi hati, bila
diminum dengan kopi atau minuman lain yang mengandung kofein dapat
memperkuat efek obat. Parasetamol tidak boleh digunakan pada penderita
gangguan fungsi hati, penderita yang alergi terhadap obat ini, dan pecandu
alkohol.
Aturan pemakaian : Parasetamol untuk dewasa 1 tablet (500 mg)
setiap 4-6 jam, untuk anak usia 0-1 tahun ½-1 sendok teh sirup setiap 4-6
jam, untuk anak usia 1-5 tahun 1-1½ sendok teh sirup setiap 4-6 jam,
untuk anak usia 6-12 tahun ½-1 tablet (250-500 mg) setiap 4-6 jam.
Beberapa obat paten yang mengandung parasetamol antara lain : sanmol,
biogesic, bodrex, farmadol (Depkes RI, 2007).
Asetosal berkhasiat mengurangi rasa nyeri, menurunkan demam,
dan antiradang. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan asetosal
yaitu : aturan pemakaian harus tepat, diminum setelah makan atau bersama
makan untuk mencegah nyeri dan perdarahan lambung, jangan diminum
bersama minuman beralkohol karena dapat meningkatkan resiko
perdarahan lambung, anak-anak dengan selesama atau influenza tidak
dianjurkan menggunakan obat ini karena dapat menimbulkan sejenis
radang otak (rye sindrom), begitu pula wanita hamil dan menyusui
sebaiknya tidak menggunakan obat ini. Efek samping yang mungkin
terjadi pada penggunaan asetosal yaitu : nyeri lambung, mual muntah,
pemakaian dalam waktu lama dapat menimbulkan tukak dan perdarahan
lambung. Asetosal tidak boleh digunakan pada penderita alergi, asma,
tukak lambung (maag), penderita hemofili dan trombositopenia.
Aturan pemakaian : Asetosal untuk dewasa 1 tablet (500 mg) setiap 4 jam
maksimal selama 4 hari, untuk anak usia 2-3 tahun ½-1½ tablet 100 mg
setiap 4 jam, untuk anak usia 4-5 tahun 1 ½-2 tablet 100 mg setiap 4 jam,
untuk anak usia 6-8 tahun ½-3/4 tablet 500 mg setiap 4 jam. Beberapa obat
paten yang mengandung asetosal antara lain : aspirin, bodrexin, farmasal,
naspro, dll.
Ekspektoran/antitusif adalah obat yang digunakan untuk mengatasi
batuk berdahak/batuk kering yang menyertai gejala selesma atau influenza
(Puspitasari, 2010).
STUDI KASUS

A. Kasus
Anak usia 3 tahun datang dengan keluhan batuk disertai dahak, hidung
berair, gatal, bersin-bersin, sulit bernafas dan demam.Pasien telah sakit
selama 2 hari dan adanya anggota keluarga dalam satu rumah yang
menderita batuk dan pilek. Tidak ada riwayat atopi pada anak
ataupunkeluarga.Tidak ada ronkhi ataupun whezzing dan nafsu makan
normal.

B. Penatalaksanaan Terapi
1. Secara Farmakologi
Nama Obat : OBH Combi Anak
Komposisi : - Succus liquiritiae extract (100
mg)
- Paracetamol (120 mg)
- Ammonium Chloride (50 mg)
- Pseudoephedrin HCl (7,5 mg)
- CTM (1 mg)
Indikasi : mengobati batuk yang disertai
gejala influenza seperti demam,
sakit kepala, hidung tersumbat,
dan bersin-bersin
Dosis & Aturan Pakai : - Anak usia 2-5 tahun : 3 x sehari
1 sendok teh
- Anak usia 6-12 tahun : 3 x sehari
2 sendok teh
Cara Penggunaan : Digunakan secara oral
Efek Samping : Kerusakan hati, nausea, vomiting,
sakit kepala, mengantuk, vertigo,
aritmia, takikardia.
Kontraindikasi : - Jangan diberikan untuk pasien
yang memiliki riwayat
hipersensitif terhadap salah satu
komponen obat ini.
- Pasien yang memiliki kepekaan
terhadap obat simpatomimetik
lain seperti, pseudoefedrin,
fenilefrin juga kontraindikasi
menggunakan obat ini
- Pasien penderita hipertensi
parah, penyakit jantung, diabetes
mellitus, dan gangguan fungsi
hati yang parah tidak boleh
menggunakan obat ini.
- Kontraindikasi juga bagi pasien
yang sedang menggunakan obat-
obat golongan monoamine
oksidase (MAO) inhibitors,
karena bisa meningkatkan
tekanan darah.

Kajian Komposisi:
a. Paracetamol
Digunakan sebagai analgetic (pereda nyeri) dan antipiretik
(penurun demam) yang bisa diperoleh tanpa resep dokter. Meskipun
paracetamol memiliki efek anti inflamasi, obat ini tidak dimasukkan
sebagai obat NSAID, karena efek anti inflamasinya dianggap tidak
signifikan. Mekanisme obat ini yaitu menghambat enzim
siklooksigenase seperti halnya aspirin mengurangi produksi
prostaglandin, yang berperan dalam proses nyeri dan demam sehingga
meningkatkan ambang nyeri, namun hal tersebut terjadi pada kondisi
inflamasi, dimana terdapat konsentrasi peroksida yang tinggi.
b. Succus liquiritae
Succus liquiritiae adalah sediaan galenik dari
radixliquiritiae.Berfungsi sebagai ekspektoran.
c. Pseudoephedrin HCl
Pseudoephedrine adalah obat yang digunakan sebagai nasal
dekongestan, stimulan, dan sebagai wakefulness promoting agent.
Obat ini termasuk obat simpatomimetik dari kelas phenethylamine dan
amfetamin. Obat ini biasanya digunakan dalam bentuk garamnya yaitu
pseudoephedrine hydrochloride. Obat ini bekerja dengan cara langsung
terhadap reseptor di otot polos dan jantung dan juga secara tak
langsung dapat membebaskan noradrenalin.
d. Ammonium Chloride
Ammonium chloride adalah senyawa anorganik yang banyak
digunakan sebagai agen ekspektoran dalam obat batuk. Efek
ekspektoran ini terjadi dengan cara mengiritasi mukosa bronkial yang
mempermudah pengeluaran dahak. Namun karena obat ini mengiritasi
mukosa lambung, dapat menyebabkan mual dan muntah.
e. CTM
CTM adalah obat yang termasuk golongan alkilamina
antihistamin generasi pertama. Obat ini digunakan untuk mengobati
gejala alergi seperti rhinitis dan urtikaria. Dibandingkan dengan
antihistamin generasi pertama lainnya, chlorpheniramine maleate
memiliki efek sedatif yang relatif lemah.Mekanisme kerja
klorfeniramin maleat adalah sebagai antagonis reseptor H 1,
klorfeniramin maleat akan menghambat efek histamin pada pembuluh
darah, bronkus dan bermacam-macam otot polos; selain itu
klorfeniramin maleat dapat merangsang maupun menghambat susunan
saraf pusat (Tjay, 2002; Siswandono, 1995).
2. Secara Non Farmakologi (Berardi, 2004).
a. M i n u m t e h l e m o n d a n m a d u h a n g a t
Minuman inilah yang merupakan obat efektif untuk mengatasi
penyakit selesma yang sedang Anda derita. Untuk membuatnya
sangat mudah.Anda hanya tinggal membuat teh seperti biasanya
lalu menambahkan perasan lemon dan madu.
b. B i l a s l u b a n g h i d u n g
Memang sangat sakit dan perih ketika kita harus membilas hidung
yang sedang tersumbat. Akan tetapi sebenarnya jika Anda sering
membilas hidung, maka rasa perih atau nyeri tersebut akan hilang
dengan sendirinya. Anda bisa menggunakan larutan garam untuk
membilas hidung yang tersumbat akibat penyakit selesma.
Usahakan untuk membilas satu hidung dan mengeluarkan air
bilasanya ke lubang hidung yang satunya. Jika kesulitan Anda bisa
menggunakan bantuan pot neti yang banyak dijual di apotek.
c. M a n d i a i r h a n g a t
Dengan mandi air hangat ini tubuh Anda yang semula tidak
enak seperti panas atau demam akan hilang dengan sendirinya.
Bahkan dengan mandi air hangat hidung yang semula tersumbat
akibat penyakit selesma bisa lega kembali. Anda bisa mandi
menggunakan shower ataupun gayung seperti biasanya, usahakan
suhu air berada di atas 30 derajat celcius.
d. Mengkonsumsi sop hangat mempunyai aktivitas sebagai anti
inflamasi.
e. Minum yang banyak untuk mengganti cairan tubuh yang hilang
karena demam
f. Istirahat yang cukup untuk memulihkan daya tahan tubuh.
DAFTAR PUSTAKA

Abelson, Johnson. 2009. Pengguaan Obat Sakit Kepala, Demam Dan Flu
(Hasil Analisis Lanjut Data Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
2001). Jakarta : Jurnal Kedokteran YARSI.

Aden, H dan Lestari, Yuspuji. 2010. Swamedikasi Penyakit Salesma Pada


Mahasiswa Bidang Kesehatan Di Univeritas Muhammadiyah Surakarta.
Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Berardi, G.R dan Alfirdaus, Iqra. 2004. Menjadi dokter di rumah sendiri untuk
penyembuhan diri sendiri. Yogyakarta : Flashbooks.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Penggunaan


Obat Bebas Dan Obat Bebas Terbatas. Jakarta : Deprtemen Kesehatan
Republik Indonesia.

Heikkinen, T and Jarvinen A. 2003. Pengobatan Sendiri Sakit Kepala, Demam


Batuk Dan Pilek Pada Masyarakat Di Dea Ciwalen, Kecamatan Warung
Kondang, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Cianjur : Majalah
Ilmu Kefarmasian.

Pujiarto, PS. 2014. Batuk Pilek (Commond Cold) Pada Anak Dan Orang
Dewasa. Jakarta : Majalah Ilmu Kefarmasian.

Puspitasari, I. 2010. Bahan Aktif Dalam Kombinasi Obat Flu Dan Batuk-Ilek
Serta Pemilihan Obat Yang Rasional.Yogyakarta : Bentang Pustaka.

Siswandono, S dan Notosiswoyo, M.1995. Pengaruh Penyuluhan Obat


Terhadap Peningkatan Perilaku Pengobatan Sendiri Di Kabupaten
Banyumas. Purwokerto : Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah
Purwokerto.

Spikler, S.T dan Vinker, S. 2009. Pengaruh Iklan Obat Salesma (Influenza) Di
Televisi Terhadap Pengobatan Sendiri Pada Masyarakat Kecamatan
Puring Kabupaten Kebumen. Purwokerto : Fakultas Farmasi Universitas
Muhammadiyah Purwokerto.
Tjay, H.T dan Rahardja, K. 2002. Obat-obatan penting. Jakarta : Elex Media
Komputindo.

Turner, RB and Hayden, C. 2004. Evaluasi Echinaccea Angustifolia Dalam


Infeksi Rhinovirus Eksperimental. Inggris : N Engl J Med.

[WHO] World health organization. 2009. Influenza : Tanda-Tanda, Gejala


Dan Komplikasi Serta Rekomendasi Pencegahannya. Eropa : WHO
Regional Office For Europe.