Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah
ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Nya mungkin penyusun tidak akan
sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Antropologi Hukum yang kami
sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh
penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang “Keterkaitan Antropologi Hukum dengan Religi”
.Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada guru pembimbing yang telah
banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Kendari, September 2016


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………(i)

DAFTAR ISI………………………………………………………………………..(ii)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………...1


1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………..…..
1.3 Tujuan Makalah…………………………………………………………………...

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Apa Yang Dimaksud Dengan Antropologi Hukum...............................................2


2.2 Bagaimana Tanggapan Para Antrolog Mengenai Agama………………………..5
2.3 Dampak Negatif dan Positif Terhadap Agama Di Lihat Dalam Perspektif
Antropologi………………………………………………………………………7

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………….9
3.2 Saran……………………………………………………………………………...9

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Pendekatan antropologi adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara
melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
Maka dengan pendekatan ini, problematika dalam agama terlihat jelas. Dengan
pendekatan ini pula kita bisa mendeskripsikan masalah-masalah yang fenomenal.
Antropologi pada hakikatnya membahas mengenai pembahasan budaya manusia.
Namun dalam budaya, terdapat unsur yang sangat melekat yaitu agama. Tak heran
jika agama merupakan salahsatu yang unik dimata para antropolog.
Karena banyak ritual keagamaan yang menyatu dengan budaya manusia.
Antropologi mempu menjelaskan masalah-masalah yang tidak ditemukan dalam
teologi normatif. Oleh karenanya, pendekatan antropologi sangat diperlukan dalam
kehudapan manusia. Namun kebanyakan pembahasan mengenai antropologi hanya di
batasi pada budaya saja, sehingga untuk membedakan, mana yang termasuk agama
dan budaya sangat sulit.
Maka disini kita harus mencari solusi. Bagaimana untuk membedakan dua hal
tersebut yang saling berkaitan.Mengapa antropologi saling berkaitan ? karena agama
merupakan sebagian dari budaya manusia, meskipun hal ini masih dipertentangkan
dikalangan ahli ahli agama. Tapi dilihat dari relitasnya, agama tidak lepas dari
kebuyaan daerahnya. Pengamalan agama setiap daerah berbeda-beda, meskipun
agamanya sama. Misalnya, pengamalan Islam di Indonesia dengan di Arab sangat
berdeda. Dalam bentuk asasnya juga berbeda, di Indonesia memakai asas pancasila
misalnya, di Turki sistemnya liberalisme padahal-sama Islam agamanya. Inilih yang
pandang unik oleh para antropolog. Namun pandangan selajutnya menurut para
antropolog seperti apa. Inilah yang akan kita bahas pada bab selanjutnya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud pendekatan antropologi ?
2. Bagaimana tangggapan para antropolog mengenai agama ?
3. Apa dampak positif dan negatif terhadap agama di lihat dalam perspektif
antropologi ?

1.3 Tujuan Makalah


1. Untuk mengetahui keterkaitan antropologi hukum dan religi
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendekatan Antropologi

Untuk dapat dimengerti apa itu pendekatan antropologi, maka terlebih dahulu
penulis bahas makna tersebut satu-per-satu. Pendekatan dalam bahasa inggris,
approach yang diartikan dengan mendekat, datang, menjelang dan tiba. Namun yang
dimaksud disini pendekatan adalah suatu disiplin ilmu untuk dijadikan landasan
kajian sebuah studi atau penelitian. Pendekatan dalam aplikasinya lebih mendekati
disiplin ilmu karena tujuan utama pendekatan ini untuk mengetahui sebuah kajian dan
langkah-langkah metodologis yang dipakai dalam mengkaji atau peneliti itu sendiri.
Setiap disiplin ilmu mempunyai kekhususan metodogi sebab tidak ada sebuah metode
yang dapat digunakan dalam semua disiplin ilmu. Jika seorang pengkaji telah
menentukan pendekatan yang di gunakannya, akan dengan mudah terbaca langkah-
langkah metodelogis yang digunakannya.
Adapun antropologi dalam bahasa Yunani terdapat dua kata yaitu, anthropos
berarti manusia dan logos berarti studi. Jadi, antropologi merupakan suatu studi
disiplin ilmu yang berdasarkan rasa ingin tahu yang tiada henti-hentinya tentang
makhluk manusia. Namun secara istilah antropologi diartikan, ilmu pengetahuan
yang mempelajari umat manusia sebagai satu kesatuan fenomena bio-sosial secara
utuh, yakni manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial budaya.
Dari paparan diatas dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan
pendekatan antropologi dalam memahami agama yaitu sebagai salahsatu upaya
memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat.

A. Latar Belakang Antrpologi Hukum

Sub judul diatas sangat menarik untuk dibahas, karena berkaitan dengan historis
penggunaanya. Hal yang menjadi pertanyaan, mengapa antropologi di pakai untuk
mengkaji atau memahami agama ? padahal antropologi sendiri berasal dari budaya
manusia dan agama berasal dari intervensi wahyu, atau memang ada hubungannya
antara budaya dan agama? jawabanya, iya. Karena agama sebagian dari budaya
keyakinan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu,
antropologi di gunakan sebagai alat untuk meneliti dan mengkaji
agamadalamperspektifantropologi.
Selain itu juga, sejak awal permulaan sejarah umat manusia, agama sudah terdapat
pada semua lapisan masyarakat dan seluruh tingkat kebudayaan. Dewasa ini agama
semakin terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang di hadapi
umat manusia. Agama tidak boleh di jadikan sekedar lambang kesalehan atau terhenti
hanya untuk berpidato saja, tetapi secara konsepsional, menunjukan cara-cara yang
paling efektif dalam memecahkan masalah.
Tuntutan agama seperti itu dapat di jawab manakala pemahaman agama yang
selama ini banyak menggunakan teologis normatif di lengkapi dengan pemahaman
agama yang menggunakan pendekatan lain yang secara operasional konseptual dapat
memberikan jawaban terhadap jawaban yang timbul. Kenyataan ini merangsang
timbulnya minat para ahli untuk mengamati dan mempelajari agama, baik sebagai
ajaran yang di turunkan melalui kewahyuan maupun bagian dari masyarakat. Minat
orang untuk mengamati dan mempelajari agama itu didasarkan atas anggapan dan
pandangan bahwa agama merupakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan
pribadinya dan untuk manusia. Akan tetapi, juga ada yang didasarkan atas pandangan
negatif dengan anggapan yang dengan anggapan yang sinis terhadap agama karena
agama baginya merupakan khayal ilusi dan merusak masyarakat.

B. Definisi Agama Menurut Antropolog

Dalam mendefisikan agama para tokoh sangat mengalami kesulitan. Dari segi
etimologi mungkin ada kesepakatan diantara tokoh agama. Tetapi dalam
mendefinisikan secara istilah sudah masuk pada subjektifitas para pemeluknya. Maka
sangat sulit untuk didefinisikan. Hal tersebut dialami oleh para tokoh antropolog
dalam mendefinisikan agama. Maka untuk memperjauh pendapat tersebut, mari kita
simak pendapat para antropolog mengenai agama :

1.EdwardBurnettTylor(1832-1917)
Tylor mengusulkan definsi agama adalah kepercayaan pada makhluk spiritual ( a
belief in spritual being ). Tylor menganggap karakteristik yang dimiliki oleh semua
agama besar maupun kecil, kuno atau modern, adalah kepercayaan kepada ruh yang
berfikir, bertindak dan merasa seperti pribadi manusia. Esensi agama menurut Tylor
adalah animisme, yakni kepercayaan pada kekuatan pribadi yang hidup dibalik semua
benda.

2. James George Frazer (1854-1941)


Frazer sebenarnya tidak mengajukan definisi agama sendiri. Ia sepenuhnya sepakat
dengan defini Tylor, hanya ia ingin membedakan agama denga magic sebagai sistem
yang menurutnya mendahului agama. Pada masyarakat primitif, kata Frazer, ketika
kondisi alam tidak mengakomodir kepentingan manusia, maka usaha mereka untuk
memahami dan mengubahnya mengambil magic yakni pola tindakan manusia untuk
mencapai tujuannya dengan cara memperdayakan kekuatan supranatural. Namun
kemudian setelah magic dianggap sering gagal maka manusia beralih pada agama.

3.Lucien Levy-Bruhl (1857-1945)


Bruhl mengkritik pendapat Tylor tentang agama. Bagi Bruhl, manusia priminif terlalu
bodoh untuk bisa berfikir abstrak tentang adanya jiwa dibalik setiap benda-benda
seperti yang diteorikan oleh Tylor. Menurut Bruhl, agama adalah adalah pandangan
dan jalan hidup manusia priminif. Agama, sebagaimana megic, tidak pernah mampu
mengatarkankehidupan manusia kepadakemajuan

4.Radcliffe Brown (1881-1955)


Brown mengemukakan definisi agama adalah ekspresi dalam satu atau lain bentuk
tentang kesadaran terhadap ketergantungan kepada suatu kekuatan diluar diri kita
yang dapat dinamakan dengan kekuatan spiritual atau moral

5. Clifford Greetz (1926 )


Geerz memandang agama sebagai sistem budaya, maksudnya : ”Sebuah sistem simbil
yang berperan membangun suasana hati dan motivasi yang kuat, perfasiv dan tahan
lama di dalam diri manusia dengan cara merumuskan konsepsi tatanan kehidupan
yang umum dan membungkus konsepsi ini dengan suatu aura fakutalitas semacam itu
sehingga suasan hati dan motivasi tampak realistis secara unik”.Dari berbagai definisi
agama yang dikemukakan para tokoh antropog diatas, dapat kita simpulkan bahwa
agama adalah kepercayaan pada sesuatu yang gaib diyakini mempunyai kekuatan
yang lebih. Dan dapat mendorong pada diri seseorang untuk berbuat kebaikan.

C. Agama Dalam Kehidupan Manusia

Sejatinya, agama adalah gejala universal yang terjadi dalam kehidupan manusia
kapan dan dimana pun. Beragama pada dasarnya adalah keyakinan terhadap adanya
kekuatan gaib, luar biasa atau supranatural yang berpengaruh terhadap kehidupan
manusia baik secara individual maupun kemasyarakatan. Keyakinan itu menimbulkan
prilaku tertentu seperti rasa takut, optimis, pasrah, yang dalam kehidupan modern
sering kali dipandang unik atau aneh. Unik karena meskipun keyakinan agama itu
sering tampak tidak rasional, tidak empirik dan tidak ilmiah, tapi nyatanya ia tetap
bertahan hidup dalam peradaban seperti sekarang.

Betapapun aneh atau uniknya fenomena beragama, khususnya dalam dunia modern,
tentu tidak mungkin agama itu dapat terus bertahan dalam kehidupan manusia jika
agama tidak memiliki fungsi dan peranan bagi individu dan masyarakat. Diantara
fungsi dan peranan agama dapat dirasakan dalam kehidupan kita adalah
1. Transendensi: memberikan arah dan tujuan akhir yang luhur bagi manusia untuk
keselamatan abadi di akhirat.
2. Edukasi: mendidik manusia untuk berwawasan dan berperilaku religius.
3. Motivasi: menggerakan kesadaran manusia untuk berperilaku dan bertindak benar
dan baik menurut agama.
4. Tranformasi: memberikan wawasan dan menggerakan kesadaran manusia untuk
merubah tatanan sosial masyarakat ini menjadi lebih baik.
5. Sublimasi: mengendalikan potensi laten dan sifat buruk manusia agar tidak
manifest menjadi perilaku buruk.
6. Idetifikasi: memberikan ciri tertentu bagi para pemeluk suatu agama sebagai
identita kelompok dalam kehidupan.
7. Integrasi: mempersatukan individu-individu atas dasar persamaan agama dan
Tujuan hidup.
8. Konflik: mengandung potensi pertentangan antara umat yang berbeda agama
antara umat yang beragama dan tidak beragama ( atheis dan agnotik)

2.2 Pendapat Para Antropologi Mengenai Agama

Kajian antropologi terhadap agama hanya akan menjangkau aspek penghayatan dan
perilaku umat beragama yang empirik, karena itu penjelasan para antropolog tentang
agama dibawah ini harus ditempatkan pada posisi yang proposonal
1. Kark Marx melihat agama sebagai opium atau candu masyarakat tertentu sehingga
mendorongnya untuk memperkenalkan teori konflik atau disebut dengan teori
pertentengan kelas. Menurutnya, agama bisa disalahfungsikan oleh kalangan tertentu
untuk melestarikan status quo peran tokoh-tokoh agama yang mendukung sistem
kapiltalis di Eropa beragama Kristen
2. Maxime Radinson dalam bukunya, Islam and Capitalism, menganggap bahwa
ekonomi Islam lebih dekat kepada system kapitalisme, atau sekurang-kurangnya tidak
mengharamkan system kapitalisme. Juga dapat dilihat pula kajian dengan pendekatan
antropologis, yakni hubungan agama dengan mekanisme pengorganisasian
(socialorganization).
3. Clifford Greetz adalah seorang antropolog yang pernah meneliti di Indonesia, dan
dapat kita lihat dalam bukunya, the Religion of Java, memberikan elaborasi bahwa
ada klasifikasi sosial dalam masyarakat Muslim di jawa, antara santri, priyayi, dan
abangan. Sungguh pun hasil penelitian yang ada di Jawa Timur ini mendapat
sanggahan dari berbagai dari berbagai ilmu sosial lainnya, kontruksi stratifikasi sosial
yang dikemukakan cukup membuat orang untuk berfikir ulang tentang keabsahannya.
4. Mak Weber dan Robet N Bellah, adalah dua tokoh ini mempunyai pemikiran yang
sama yaitu melihat adanya korelasi positif antara ajaran agama togowa, yakni
semacam adanya. pencampuran antara ajaran agama Buddha dan Sinto. Pada era
pemerintahan Meiji dengan semangat etos kerja orang jepang modern

D. Model Pendekatan Antropologi Atas Agama

Dalam meneliti suatu agama, antropoli menyamakan dengan budaya. Artinya metode
yang digunakan dalam meneliti agama, antropologi menggunakan rumusan-rumusan
yang dipakai untuk budaya. Pada dasarnya antropologi mempelajari manusia secara
totalitas, melingkupi fisik-biologis, masyarakat dan budayannya. Selanjutnya
antropologi memandang budaya sebagai kata kunci yang menjelaskan. Ketika
mempelajari budaya itulah antropologi bertemu dengan agama, sebagai salahsatu
unsur yang hidup dalam kebudayaan manusia. oleh karena itu kajian antropologi
terhadap agama juga sama seperti mengkaji kebudayaan. Maka untuk memperjelas
sifat-sifat kajian antropologi, simak pembahasan berikut :

1. Grounded reseach adalah model penelitian antropologi yang di gunakan Greetz,


dalam meneliti masyarakat Islam di Jawa. Dalam penelitiannya, teori ini tanpa
membawa teori dari luar, melainkan mencari dan menemukan teori di lapangan atau
lokasi penelitian. Lebih lanjut, ia menyuguhkan hasil penelitiannya tentang
masyarakat Islam di Jawa yang memiliki ragam budaya setidaknya masyarakat Jawa
telah melakukan asimilasi denngan berbagai budaya yang mempengaruhinya tanpa
melakukan justifikasi, namun justru ia menggali berdasarkan budaya yang
berkembang.
2. Empirik, artinya antropologi mengamati fenomena agama sejauh yang terjangkau
oleh panca-indra, yakni gagasan yang terucap dan prilaku keagamaan para pemeluk
agama; atau dengan kata lain antrologi sebenarnya hanya sampai pada peneliti agama
yang hidup dan dipraktekan dalam kehidupan manusia beragama, bukan agama
sebagai yang diajarkan Tuhan dalam Kitab Suci. Jadi yang diteliti Antropologi dari
agama sesungguhnya adalah budaya agama
3. Integratif, artinya antropologi memandang agama sebagai unsur kebudayaan yang
tidak dapat dilepaskan pembahasannya dari unsur kebudayaan yang lain, yaitu:
bahasa, sistem pengetahuan, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi
sosial dan kesenian
4. Komparatif, artinya antropologi mengkaji agama semata-mata untuk kepentingan
kategorisasi ilmiah dalam rangka menjelaskan keragaman budaya agama manusia;
buksn untuk menhakimi kebenaran agama
5. Objektifitas-naturalistik, artinya nilai kebenaran riset antropologi atas budaya
agama pada suatu masyarakat, tidak dapat dikelain sebagai kebenaran objektif yang
berlaku kapan dan dimana pun tanpa kecermatan mempertimbangkan konteks ruang
dan waktu saat penelitian itu dilangsungkan.
2.3 Dampak Negatif dan Positif Terhadap Agama Di Lihat Dalam Perspektif
Antropologi

Pendekatan antropologi memang sangat bermanfaat bagi agama sebagaimana


disebutkan diatas. Namun, banyak pengaruh yang diakibatkan dengan menggunakan
pendekatan itu. Kenapa ? karena, pendekatan antropologi hanya melihat yang
nampak dan empiris saja. Dan ini akan adanya penjustifikasi terhadap agama baik itu
positif maupun negatif. Penjustifikasian ini akan menjadi masalah baru dalam
kehidupan beragama. Tidak sedikit perpecahan atau perbantaian manusia akibat dari
ulah manusia yang salah menafirkan ajarannya.
Negatifnya, antropologi memandang bahwa agama sebagai kebudayaan atau
sebagian dari kebudayaan. Padahal agama merupakan ajaran murni Tuhan. Hanya
saja ajaran-ajaran agama menyusup dalam kebudayaan. Kenapa ? karena itu
merupakan politik Tuhan agar ajarannya dapat diterima manusia. Sebagai contoh al-
Qur’an yang diyakini kesucian dan murni dari Tuhan tapi memakai bahasa arab
merupakan bahasa manusia dan budaya manusia. itulah kejelekan kajian antropologi
dalam mengkaji agama sehingga adanya penjustifikasian.
Karena antropologi memandang agama sebagai salah satu unsur dari kebudayaan,
maka subjek kajian antropologi tentang agama pun dapat di tinjau dari setiap unsur
kebudayaan yang ada, yaitu pola gagasan ( sistem kultural), tindakan pola ( sistem
sosial ) dan kebudayaan fisik. Atas dasar itulah maka subjek kajian antropologi
tentang agama adalah:
1. Asal usul terbentuknya suatu agama sebagai reprentasi dari gagasan masyarakat
tentang kepercayaan pada kekuatan supranatural serta makna historisnya dalam
membangun kontruksi budaya mereka;
2. Pola ritual dan tindakan umat beragama dalam merespon tantangan bersama serta
fungsinya bagi kontruksi sosial pada masyarakat yang bersangkutan;
3. Benda-benda atau bangunan yang dibuat oleh umat yang beragama sebagai bentuk
dan bukti dari manifes dari keyakinan, sarana ritual dan wadah apresiasi religius
mereka

E. Manfaat Pendekatan Antropologi dengan Religi

Diantara manfaat yang dapat kita rasakan dengan menggunakan pendekatan


antropologi terhadap agama sebagai berikut:

1.Melalui pendekatan antropologi ini, kita dapat melihat agama ada hubungannya
dengan mekanisasi perorganisasian ( social organization ) juga tidak kalah menarik
untuk di ketahui oleh para peneliti sosial keagamaan. Kasus di Indonesia, Karya
Cliffort Geertz, The Region Of Java, dapat dijadikan contoh dalam bidang ini.
2. Juga melalui pendekatan antropologi fenomenologis ini, kita juga dapat melihat
hubungan antar agama dan negara ( state and religiona ). Sebagai contoh vatikan
bandingannya dengan negara-negara sekuler di sekelilingnya di Eropa Barat. Juga
melihat kenyataan negara Turki modern yang manyoritas penduduknya beragama
Islam, tetapi konstitusi negaranya menyebut sekularisme sebagai prinsip dasar
kenegaraan yang tidak di tawar-tawar. Dan juga Indonesia yang mayoritas
penduduknya beragama Islam tetapi menjadikan Pancasila sebagai dasar keagamaan.
3.Tak kalah menariknya, bahwa melalui pendekatan antropologis dapat di temukan
keterkaitan agama dengan psikotrapi. Yang pernah mengaitkan pendekatan ini adalah
Sigmun Freud ( 1856-1935 ) yaitu pernah mengaitkan agama dengan oedipus
komplek, yakni pengalaman infantile seorang anak yang tidak berdayadihadapan
kekuatan dan kekuasaan bapaknya. Agama sebagai neurosis. Lebih lanjut ia
mengaitkan hubungan antara id, ego dan superego. Meski pernyataan ini di bantah
oleh C. G. Jung. Jung berpendapat adanya korelasi yang positif adanya agama dan
kesehatan mental.
4. Juga dengan pendekatan antropologi, kita melihat bahwa agama ternyata agama
berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam
hubungan ini, jika ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang, maka
dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaannya
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari penjelasan diatas, dapat kita pahami bahwa pendekatan antropologi sangat
diperlukan, sebab banyak hal yang yang dibicarakan agama hanya bisa di jelaskan
dengan tuntas melalui pendekatan antropologis. Misalkan kejadian-kejadian yang
bersifat kebudayaan hanya dapat dijelaskan dengan antropologi. Kisah-kisah dalam
al-Qur’an seperti ash-habul kahfi dan yang lainnya. Selain antropologi juga Islam
membutuhkan pendekatan-pendakatan yang lainnya, agar kehadiran Islam sangat
dirasakan dalam kehidupan yang modern ini
. Agama sangat diperlukan dalam kehidupan. Karena agama akan menjadi panduan
dalam setiap kehidupan. Oleh karena itu, agama dipaksa harus ikut andil dalam
menyelesaikan masalah-masalah yang sifatnya sosial. Pahadal agama tanpa harus
dipaksa pun sudah ikut andil dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial. Dan itu
dapat dipahami dengan pendekatan-pendekatan sosial.
Dalam pendekatan-pendekatan itu tentunya ada dampak positip dan negatipnya.
Dan ini menjadi bahan pertimbangan bagi kita, agar lebih cermat dalam mensikapi.
Agar kekeliruan dapat terminimalisir. Contoh, agama disebut-sebut sebagai
munculnya terorisme. padahal anggapan itu keliru, kalau kita cermati. Dalam agama
manapun tidak ada paham yang mengajarkan pembantaian terhadap manusia dan
kerusakan di muka bumi

3.2 Saran
Seharusnya manusia menjadikan hukum antropologi sebagai suatu hal berkorelasi dengan
religi/agama, dan dengan hal itu manusia dapat lebih santun hidup bermasyarakat, saling
menghargai dan menghormati.
DAFTAR PUSTAKA

 Anwar, Rosihon, ddk, Pengantar Studi Islam, Cet. 1, Pustaka Setia, Bandung:
2011.
 Ashari, Julian, Dari Bumi Untuk Langit, Bandung: 2014.
 Sahrodi, Jamali, Metode Studi Islam, Cet. 1, Pustaka Setia, Bandung: 2008.
 Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Rajawali Press, Jakarta: 2002.
 Zakiah, Darajdat, Perbandingan Agama, Bumi Aksara, Jakarta: 1996.
 Kontjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropoli, Rineke Cipta, Jakarta: 1990.
 M. Echols, John dan Shadily, Hassan, Kamus Inggris-Indonesia, Gramedia, Jakarta
: 2005.
 http://suhendra25.blogspot.co.id/2014/05/makalah-agama-dalam-
perspektif.htm?m=1
ANTROPOLOGI HUKUM

(keterkaitan antropologi hukum dan religi)

KELOMPOK 4

WAHYUDI H1A115369
YUNAZZIL RAHMAT FURQAN YASIN H1A115375
WA ODE SITTI DJULIANA H1A115367
WA ODE NUR HIKMAH H1A115366
TUTUT EKA PARTI DEGANI H1A115363
HASMAN H1A115400
JOMO TAKHIR H1A115405
WIRDA H1A115425
YETIN SASMITA HAKIM H1A115
WAODE QHINANTY H1A115371

ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016