Anda di halaman 1dari 6

PEMERINTAH KOTA PALEMBANG

DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS OPI
Jl. OPI Raya Perum OPI Kelurahan 15 Ulu Kecamatan Jakabaring Palembang
Telp/Fax. (0711) 5620648
Email : puskesmas_opi@yahoo.co.id

PEDOMAN PEMERIKSAAN PENUNJANG MEDIK

BAB I
PENDAHULUAN

Tantangan pembangunan kesehatan dan permasalahan pembangunan kesehatan


makin bertambah berat , komplek, dan bahkan terkadang tidak terduga. Pembangunan
kesehatan dilakasanakan dengan memperhatikan dinamika kependududkan, epidemiologi
penaykit, perubahn ekologi dan lingkungan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta globalisasi dan demokkratisasi dengan semangat kemitraan, kerjasama lintas sektoral
serta mendorong peran serta aktif masyarakat. Demi meningkatkan taraf kehidupan
masyarakat maka pembangunan kesehatan dilakukan oleh semua komponen dunia
kesehatan. Pembangunan yang dimaksud untuk mewujudkan visi yang telah dibuat oleh
kementrian kesehatan yaitu masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan (KEMENKES
2010) .
Pembangunan dibidang kesehatan pada masa ini tidak bisa terlepas dari adanya
reformasi di bidang kesehatan tidak bisa terlepas dari adanya reformasi di bidang
kesehatan. Dalam reformasi tersebut, profesionalisme merupakan salah satu strategi dalam
mewujudkan visi Kementrian Kesehatan. Profesionalisme sebagai strategi tersebut
sebelumnya telah di cantumkan untuk mencapai Kementrian Kesehatan yaitu Indonesia
sehat 2010 menurut SK Menteri Kesehatan RI No.983 / Menkes / SK / IX / 1992 pasal 29
( Depkes, 1992 ).
Profesionalisme dalam penyelenggaraan pelayanan Puskesmas di lakukan
peningkatan mutu pelayanan umum dan pelayanan medik. Maka, perlu disusun pedoman
penyelenggaraan Puskesmas yang merujuk pada persyaratan minimal di berbagai standar,
pedoman dan indikator. Tujuan pedoman ini adalah sebagai acuan bagi pemilik dan
pengelola puskesmas untuk menata puskesmas agar dapat meningkatkan kemampuan dan
mutu pelayanan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kesehatan, perubahan peraturan perundang-undangan, dan harapan masyarakat. Pedoman
ini juga melingkupi pelayanan penunjang kesehatan medik sebagai salah satu syarat
pelayanan kesehatan yang bermutu. ( Depkes,2008 ).
Pedoman ini dibuat untuk menunjukan tentang berbagai hal mengenai seluk-
beluk pelayanan penunjang medik terutama di puskesmas pada pedoma ini akan dibahas
mengenai teori pelayanan penunjang medik hingga pedoman-pedoman yang telah tertera
pada peraturan-peraturan yang berlaku.

1
BAB II

ISI

A. Teori
Pelayanan penunjang medik/ pelayanan penunjang klinis (Clinical Support
Services/ CSS) di puskesmas menurut John R.Griffith meliputi pelayanan
diagnostik,terapeutik dan kegiatan di masyarakat umum. Pelayanan yang dimaksud juga
meliputi tes laboratorium pengobatan, prosedur pembedahan, dan terapi fisik.
Banyak juga pasien yang memerlukan pelayanan sosial dan edukasi kesehatan.
Pelayanan penunjang medik ini di lakukan oleh unit-unit atau petugas profesional yang di
tunjuk untuk melakukan tugas tersebut di masaing-masing Center kesehatan seperti
puskesmas ( Griffith,2006 ).
Kebanyakan pelayanan penunjang medik merupakan rujukan dari dokter. Dokter
memerlukan pelayanan penunjang medik untuk melakukan pencegahan, diagnosis, terapi,
dan rehabilitasi pada pasien baik itu pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap
( Griffith,2006 ).
Organisasi penyelenggara kesehatan ( Healthcare organization / HCO ) harus
menyediakan pelayanan penunjang medik secara tepat, cepat, dan biaya yang efektif.
Organisasi penyelenggara kesehatan harus mengusahakan jumlah dan jenis pelayanan
penunjang medik untuk pelayanan pada pasien. Pelayanan penunjang medik yang terlalu
banyak, terlalu sedikit, kesalahan atau kualitas yang buruk pada piranti penunjang
medik akan mengurangi kualitas pelayanan kesehatan secara umum dan mengakibatkan
peningkatan biaya yang dikeluarkan. Optimalisasi pelayanan penunjang di melakukan
dengan menyediakan kombinasi dan waktu pemeriksaan yang tepatm, dan juga harus
mempunyai kualitas yang bermutu dan biaya yang murah ( Griffith,2006 ).
Pelayanan penunjang medis di organisasi penyelenggara kesehatan meliputi
pelayanan diagnostik, pelayanan teraperik dan pelayanan komunitas. Pelayanan
penunjang medik diagnostik meliputi :
a. Laboratorium
b. Kimiawi
c. Hematologi
Pelayanan Penunjang Medik terapeutik meliputi
a. Farmasi
b. Ruang Melahirkan/Persalianan
c. Unit Gawat Darurat
Pelayanan Penunjang Medik di Masyarakat Umum meliputi
a. Imunisasi
b. Program skrining berbagai penyakit tertentu ( TB, Kusta )
c. Keluarga berencana dan KIA(Griffith, 2006)

2
B. Jenis-jenis pelayanan penunjang medis

Penanggung jawab laboraturium puskesmas adalah seorang dokter, di


kerjakan oleh seorang analis.
Dalam menyelenggarakan pelayanan laboratorium, puskesmas harus mempunyai
kebijakan, prosedur sesuai pedoman praktek laboratorium yang benar ( Goog Laboratory
Practice ) yang di terbitkan oleh Departemen Kesehatan RI untuk melaksanakan dan
mendokumentasikannya, pedoman GLP tersebut mencakup persyaratan sarana prasarana,
peralatan, reagenisasi, penanganan dan pemeriksaan specimen, pencatatan dan pelaporan,
upaya menjamin mutu hasil pemeriksaan laboratorium serta keselamatan kesehatan kerja
( K3 ) di laboratorium ( Dirjen Yanmed, 2008 ).

3
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
 Manajemen pelayanan penunjang medis, sesuai dengan pasal 29 PERMENKES 983/1992
tentang reformasi bidang kesehatan.
 Pelayanan penunjang medis merupakan peralatan yang dimiliki Puskesmas dimana harus
memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
 Pedoman sesuai dengan fungsi klinis dan fungsi manajerial untuk menjamin mutu
pelayanan yang baik.
 Pelayananan penunjang medis merupakan bagian integral yang penting dan menentukan
dalam pelayanan kesehatan.
 Organisasi penyelenggara kesehatan (Healthcare organization / HCO) harus
menyediakan pelayanan penunjang medik secara tepat, cepat, dan biaya yang efektif.
 Penanggung jawab laboraturium puskesmas adalah seorang dokter, di kerjakan
oleh seorang analis.

B. SARAN
 Optimalisasi Fungsi dan Peran tiap Instalasi penunjang Medik
 Menjadi tim yang solid.
 Memperluas jangkauan pelayanan yang bersifat : promotif dan preventif kepada
masyarakat.
4
DAFTAR PUSTAKA

Griffith JR, White KR.2006. Clinical Support Services.The Well- Managed Healthcare

Organization 6 th. Chicago :Health Administration Press. Halaman 293-340.

Peraturan Menteri Kesehatan No.411/MENKES/PER/III/2010 tentang


Laboratorium Klinik.

Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.HK.03.01-160 tentang RENSTRA 2010-2014