Anda di halaman 1dari 30

CASE BASED DISCUSSION

MODUL 2
(PENYAKIT KELAINAN JARINGAN PERIODONTAL)

“Gingival Enlargement”

Diajukan untuk memenuhi syarat dalam melengkapi


Kepaniteraan Klinik pada Modul 2

Oleh:
NAIM BARIYAH
17100707360804026

Dosen Pembimbing
drg.

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PA D A N G
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Case Based Discussion ”
Gingival Enlargement” untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan
kepanitraan klinik modul 3 (Lesi Jaringan Lunak Mulut) dapat diselesaikan.

Dalam penulisan Laporan Kasus penulis menyadari, bahwa semua


proses yang telahdilalui tidak lepas dari bimbingan drg. ............. Selaku dosen
pembimbing, bantuan, dan dorongan yang telah diberikan berbagai pihak lainnya.
Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu.

Penulis juga menyadari bahwa laporan kasus ini belum sempurna


sebagaimana mestinya, baik dari segi ilmiah maupun dari segi tata bahasanya,
karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan dari pembaca.

Akhir kata penulis mengharapkan Allah SWT melimpahkan berkah-Nya


kepada kita semua dan semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat serta dapat
memberikan sumbangan pemikiran yang berguna bagi semua pihak yang
memerlukan.

Padang, 2018

NAIM BARIYAH
MODUL 2

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS BAITURRAHMAH

PADANG

HALAMAN PENGESAHAN

Telah didiskusikan Case Based Discussion Gingival Enlargement guna


melengkapi persyaratan Kepaniteraan Klinik pada Modul 2.

Padang, 2018

Disetujui Oleh
Dosen Pembimbing

(drg. .............................................)
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit pada jaringan periodontal yang diderita manusia hampir diseluruh dunia

dan mencapai 50% dari jumlah populasi dewasa. Menurut hasil survey kesehatan

gigi dan mulut di Jawa Timur tahun 1995, penyakit periodontal terjadi pada 459

diantara 1000 penduduk. Negara Asia dan Afrika prevalensi dan intensitas

penyakit periodontal terlihat lebih tinggi dari pada di Eropa, Amerika dan

Australia. Penyakit periodontal di Indonesia menduduki urutan kedua utama yang

masih merupakan masalah utama di masyarakat (Wahyukundari, 2008).

Penyakit atau kelainan pada jaringan penyangga yang paling banyak terjadi

adalah kelainan gingiva (gusi), karena merupakan bagian dari jaringan penyangga

yang terletak di permukaan. Salah satu kelainan itu adalah pembesaran gingiva

yang dapat terjadi karena peradangan, tanpa peradangan, kombinasi keduanya,

pengaruh sistemik dan neoplastik (Care, 2014).

Gingiva merupakan salah satu jaringan periodonsium yang mendukung dan

mengelilingi gigi.Salah satu fungsi dari gingiva adalah melindungi jaringan yang

dibalutnya. Gingiva yang sehat berwarna merah muda pucat terkadang bervariasi

menjadi warna lainnya dengan kepekatan pigmen yang terlihat. Kondisi yang

sering menyertai penyakit - penyakit gingiva yaitu perubahan ukuran yang

bertambah yang disebut gingival enlargement (Daliemunthe, 2008).

Masalah yang sering dikeluhkan oleh pasien dengan kondisi gingival

enlargement adalah faktor estetika walaupun sebenarnya aspek kesehatan jaringan

pendukung gigi dan mulut juga mengalami gangguan. Gingival enlargement di


daerah papilla interdental, kontur gingiva yang menebal dan membulat, perasaan

tidak nyaman, penampakan morfologi mahkota gigi yang terkesan tidak baik

menjadikan permasalahan utama yang harus ditangani agar penampilan dan

fungsinya menjadi optimal (Suryono, 2007).

Gingiva merupakan bagian dari jaringan periodonsium yang menutupi gigi

dan berfungsi sebagai jaringan penyangga gigi. Penyakit periodontal yang paling

sering terjadi adalah penyakit gingiva, karena gingiva merupakan bagian terluar

dari jaringan periodonsium yang dapat terlihat secara langsung sehingga

mempengaruhi faktor estetik. Salah satu penyakit gingiva yang sangat menggangu

estetik dan fungsional gigi adalah terjadinya pembesaran gingiva. Kelainan ini

menyebabkan perubahan bentuk gingiva yang secara klinis terlihat lebih besar

dari normal (Lindhe et al, 2008).

.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Gingiva

Gingiva merupakan bagian dari jaringan periodonsium yang menutupi gigi

dan berfungsi sebagai jaringan penyangga gigi. Penyakit periodontal yang paling

sering terjadi adalah penyakit gingiva, karena gingiva merupakan bagian terluar

dari jaringan periodonsium yang dapat terlihat secara langsung sehingga

mempengaruhi faktor estetik. Salah satu penyakit gingiva yang sangat menggangu

estetik dan fungsional gigi adalah terjadinya pembesaran gingiva. Kelainan ini

menyebabkan perubahan bentuk gingiva yang secara klinis terlihat lebih besar

dari normal (Lindhe et al, 2008).

1.2 Gingival Enlargement

Gingival enlargement adalah keadaan dimana besar gingiva bertambah dari

normal. Keadaan ini merupakan gambaran yang sering menyertai penyakit

gingiva (Daliemunthe, 2008).

Gingival enlargement dengan menggunakan kriteria letak dan penyebarannya,

dapat digambarkan seperti berikut (Newman., Takei., Carranza, 2006) :

Terlokasi : Terbatas pada gingiva di dekat satu gigi atau sekelompok

gigi

Umum : Melibatkan gingiva diseluruh mulut

Marginal : Terbatas pada gingiva marginal

Papilar : Terbatas pada papila interdental


Difusi : Melibatkan marginal, attached gingiva dan papila

Terbatas : Tonjolan terilosasi atau pelebaran seperti tumor yang tidak

merata

Intensitas gingival enlargement menurut Mc Graw index yang ditetapkan

berdasarkan catatan Cheklis yang dipantau pada masing- masing pasien dengan

ketentuan sebagai berikut (Ghafari, 2008) :

Grade 0 : Tidak ada gingival enlargement (dengan margin tipis)

Grade 1 : Gingival enlargement hanya pada papila interdental

Grade 2 : Gingival enlargement menutupi sekurang-kurangnya

sepertiga mahkota gigi (dental crown)

Grade 3 : Gingival enlargement menutupi lebih dari sepertiga

mahkota gigi (dental crown)

1.2.1 Etiologi Gingival Enlargement

Penyebab gingival enlargement terdiri dari faktor lokal dan faktor

sistemik, faktor lokalnya adalah: kesehatan mulut yang buruk, malposisi gigi, cara

menyikat gigi yang salah, trauma oklusi, tambalan kurang baik, iritasi, cangkolan

protesa, alat orthodontik dan kebiasaan bernapas melalui mulut. Faktor

sistemiknya adalah: kelainan hormonal, malnutrisi, kelainan darah, obat- obatan

dan sebab- sebab lain yang tidak diketahui (Usri dkk , 2006).

Gingival enlargement disebabkan juga oleh pemaparan dalam jangka

waktu yang lama oleh plak gigi. Faktor-faktor yang memudahkan penumpukan
plak dan retensi termasuk diantaranya kebersihan rongga mulut yang jelek seperti

iritasi yang disebabkan oleh abnormal anatomis dan penambalan yang tidak tepat

serta alat-alat orthodonti. Gingival enlargement dihasilkan oleh bakteri yang

terbawa ke bagian dalam jaringan sewaktu adanya benda – benda asing yang

masuk (misalnya bulu sikat gigi, pecahan biji apel, bagian cangkang lobster atau

kepiting) yang tertanam kuat kedalam gingiva (Newman., Takei., Carranza,

2006).

1.2.2 Klasifikasi Gingival Enlargement

Peningkatan dari ukuran gingiva merupakan ciri utama dari penyakit gingiva.

Berikut ini klasifikasi gingival enlargement (Carranza., Newman, 2006) :

a. Enlargement Karena Inflamasi

1. Enlargement Inflamasi Akut

Abses gingiva merupakan lesi meluas secara tepat, terasa sakit dan

terlokasi yang biasanya merupakan serangan tiba-tiba. Enlargement

inflamasi akut berasal dari bakteri yang terbawa jauh kedalam jaringan

ketika substansi asing seperti bulu sikat gigi, sepotong serat apel, atau

pecahan cangkang lobster tertekan ke gingiva (Newman., Takei.,

Carranza, 2006)

2. Enlargement Inflamasi Kronis

Pembesaran inflamatoris adalah berupa pembesaran papila interdental

dan gingiva bebas. Stadium awal pembesaran ini adalah berupa

pembesaran berbentuk pelampung yang mengelilingi gigi yang terlibat.

Pembesaran bisa bertambah besar sehingga menyelubungi sebagian


mahkota gigi. Distribusi pembesaran pada papila marginal lokalisata

dan generalisata. Perkembangannya lambat dan tidak disertai nyeri sakit

sampai terkomplikasi oleh infeksi akut atau trauma. Kadang-kadang

pembesaran inflamtoris sebagai massa diskret atau masa bertangkai

yang menyerupai tumor. Distribusinya bisa diinterproksimal atau pada

gingiva bebas atau gingiva cekat. Lesi bertangkai ini lambat

perkembangannya dan biasanya tidak disertai nyeri sakit. Lesi ini

mengecil secara spontan disertai eksaserbasi dan berlanjut pembesaran.

Kadang-kadang terjadi ulserasi yang disertai nyeri sakit yang hebat

pada lipatan antara masa bertangkai dengan gingiva yang berdekatan

(Daliemunthe, 2008)

b. Enlargement Karena Obat-Obatan

Enlargement yang terjadi merupakan kombinasi dari pertambahan

ukuran karena obat- obatan dan komplikasi inflamasi karena bakteri.

Pertumbuhan mulai berupa pembesaran pada papila interdental dan meluas ke

marginal gingiva fasial dan lingual. Gingival enlargement papila dan marginal

menyatu, serta bisa berkembang kelipatan jaringan besar yang mencakup

bagian mahkota yang luas, dan bisa mengganggu oklusi (Newman., Takei.,

Carranza, 2006).

Gingival enlargement dapat terjadi akibat berbagai penyebab.

Penggunaan obat-obatan dengan tujuan pengobatan sistemik dapat

menyebabkan gingival enlargement. Mekanisme terjadinya gingival


enlargement karena obat-obatan belum dapat ditentukan secara pasti.

Prevalensi dan insidensi gingival enlargement karena obat-obatan

dihubungkan dengan beberapa faktor seperti farmakologikal, demografik

individu (Husin, 2009).

Secara umum gingival enlargement berkembang beberapa bulan

pemakaian terapi obat-obatan, biasanya menyeluruh. Gingival enlargement

yang terjadi karena obat-obatan dapat terjadi pada mulut yang bebas iritasi dan

dapat pula tidak terjadi pada mulut dimana iritasi lokal menumpuk

(Daliemunthe, 2008).

Obat-obat yang dapat menyebabkan gingival enlargement adalah:

1. Phenytoin

Phenytoin pertama disintesa oleh Blitz pada tahun 1908 dan

diperkenalkan sebagai obat antiepilepsi. Aksi farmakologis utama dari

phenytoin adalah fungsi motorik susunan saraf pusat tanpa mempengaruhi

efek sensoriknya. Phenytoin merupakan obat antikonvulsan yang

mempunyai pengaruh terhadap jaringan gingiva yang menyebabkan

gingival enlargement. Gingival enlargement terjadi setelah 2 sampai 3

bulan penggunaan obat dan mencapai kondisi yang terparah setelah 12

sampai 18 bulan.Mekanisme terjadinya gingival enlargement karena

penggunaan phenytoin secara pasti belum dapat ditentukan. Menurut

penelitian dengan pengkulturan jaringan menunjukkan adanya stimulasi

langsung oleh phenytoin pada proliferasi fibroblast “fibroblast like cell”.

Fibroblas dari gingival enlargement yang disebabkan oleh phenytoin


secara in vitro terlihat meningkatkan sintesa matrik non kolagen seperti

glycosaminoglycan dan proteoglycan, dalam jumlah yang lebih banyak

dari matrik kolagen. Phenytoin dapat merangsang penurunan degradasi

kolagen sebagai akibat dari produksi kolagen fibroplastik yang inaktif

(Gehrig, 2008).

2. Cyclosporine

Gingival enlargement adalah salah satu komplikasi yang paling

rumit ditimbulkan akibat efek samping penggunaan cyclosporine.

Penggunaan obat ini mempengaruhi gaya hidup pasien dan dapat

melemahkan fungsi saluran pencernaan (Ghafari dkk, 2010)

Mekanisme terjadinya gingival enlargement karena pemakaian

obat-obatan belum diketahui dengan jelas, gingival enlargement karena

cyclosporine menunjukkan terjadinya pengurangan degradasi kolagen

yang menyebabkan peningkatan jumlah fibroblast dan volume dari matrik

ekstraseluler. Cyclosporin menunjukkan adanya penekanan produksi

antibodi terhadap antigen sel T. Sel yang menjadi sasaran antara lain sel T-

helper dan kemungkinan T-supresor. Cyclosporine menekan respon imun

seluler dengan memproduksi limpokin (Newman., Takei., Carranza,

2006).

Cyclosporine sangat cocok pada pasien yang telah menjalani

transplantasi jaringan maupun organ dan pengobatan penyakit autoimun.

Penggunaan cyclosporine secara klinis dilaporkan pada tahun 1978, sejak

itu penggunaannya telah meluas pada transpantasi ginjal, sumsum tulang,


hati, kornea, jantung, paru-paru. Ketika pasien menerima transplantasi

organ, tubuh akan mencoba untuk menolak transplantasi organ, maka

cyclosporine akan bekerja mencegah respon ini (Gehrig, 2008).

Gingival enlargement karena cyclosporine dipengaruhi oleh

berbagai faktor yaitu pemakaian secara kombinasi, lama pemakaian, dosis

cyclosporine, usia, jenis kelamin, kontrol plak, oral higiene. Diperkirakan

25% pasien yang menggunakan cyclosporine sebagai pengobatan sistemik

mengalami gingival enlargement (Dannewizt, 2007 ; Husin, 2009).

3. Nifedipine

Nifedipine merupakan obat vasodilator yang dipergunakan secara

luas pada perawatan gangguan kardiovaskuler seperti hipertensi, angina

pectoris, ventricular arhytmias. Kerja utama dari nifedipine yaitu

merelaksasikan otot-otot polos pembuluh jantung dengan menghambat

pergerakan kalsium melalui kanal kalsium tanpa merubah konsentrasi

kalsium dalam darah. Proses kontraksi dari otot jantung dan otot polos

pembuluh tergantung pada pergerakan ion kalsium ekstraseluler ke dalam

sel melalui kanal ion, dengan menghambat pergerakan kalsium, nifedipine

menghambat proses kontraksi yang selanjutnya akan menyebabkan dilatasi

arteri jantung dan keseluruhan tubuh (Gehrig, 2008)

Gingival enlargement yang dipengaruhi oleh obat nifedipine

ditandai dengan terjadinya peningkatan fibroblast gingiva dan matriks

estraseluler jaringan ikat, dengan berbagai tingkat peradangan kronis

(Fernandes dkk, 2010).


Efek samping penggunaan nifedipine dapat menyebabkan gingival

enlargement. Gingival enlargement terjadi setelah 1 sampai 2 bulan

pemberian nifedipine dengan dosis 90 mg per hari. Mekanisme terjadinya

gingival enlargement belum dapat dipastikan, dari hasil penelitian

menyatakan bahwa perubahan level kalsium intraseluler pada sel gingiva

berperan penting akan terjadinya gingival enlargement akibat penggunaan

obat tersebut jika berkombinasi adanya inflamasi gingiva (Gehrig, 2008).

Gambaran histopatologi dari gingival enlargement karena obat-obatan adalah

terlihat acanthosis dari epitelium dan pemanjangan rete pegs yang meluas ke

dalam jaringan penghubung yang memperlihatkan gumpalan kolagen padat,

peningkatan fibroblast dan pembuluh darah. Pembesaran yang rekuren terlihat

berupa jaringan granulasi yang terdiri dari berbagai kapiler dan fibroblast yang

memiliki susunan yang tidak teratur (Gehrig, 2008).

c. Enlargement Berkaitan dengan Penyakit Sistemik

Beberapa penyakit sistemik dengan mekanisme yang berbeda,

mengakibatkan gingival enlargement. Pembesarannya bisa berupa pembesaran

difus yang melibatkan gingiva, berupa pembesaran pada gingiva bebas saja,

atau berupa massa seperti tumor yang diskret di interproksimal. Gambaran

histopatologi dari gingival enlargement pada leukemia adalah menunjukkan

derajat berbagai peradangan kronis dengan leukosit matang dan daerah

jaringan ikat ditutupi massa padat dengan leukosit berkembang biak dan

belum dewasa, sifat spesifik bervariasi jenis leukemia dengan capillaris


membesar, pembengkakan dan mengalami degenerasi jaringan ikat, dan

epitelium dengan berbaga iinfiltrasi leukositik dan edema ditemukan.Daerah

terisolasi dari permukaan Peradangan akut necrotizing dari fibrin pseudo

membran, sel epitelnekrotik, neutrofilpolimorfonuklear(PMN) dan bakteri

yang sering terlihat (Newman., Takei., Carranza, 2006).

1. Enlargement yang terkondisi

a. Pubertas

Enlargement terlihat dikedua papila interdental dan marginal

yang ditandai dengan adanya tonjolan bulat pada papila

interproksimal. Gingival enlargement selama pubertas mempunyai ciri

yang sama dengan penyakit inflamasi kronis gingiva. Pubertas

merupakan suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi

kematangan alat-alat seksual dan tercapai kemampuan untuk

reproduksi. Periode masa pubertas biasanya usia 12-18 tahun. Pubertas

terjadi karena tubuh mulai memproduksi hormon-hormon seks seperti

steroid seks. Hormon steroid seks yang mempengaruhi perempuan

adalah estrogen dan progesteron sedangkan pada laki-laki diproduksi

adalah testosteron (Yassin, 2011).

Masa pubertas kadang-kadang dapat terjadi gingival

enlargement, baik pada laki-laki maupun perempuan, dan terjadinya

pada daerah-daerah yang ada iritan lokal seperti plak bakteri.

Keparahan respon gingiva pada inflamasi yang dihubungkan dengan

peningkatan sirkulasi hormon estrogen dan progesteron pada

perempuan dan testosteron pada laki-laki disaat masa pubertas. Hal ini
terjadi karena ketidak seimbangan hormon pada masa pubertas yang

menimbulkan perubahan permeabilitas dan peningkatan akumulasi

cairan pada jaringan gingiva, yang menimbulkan oedema dan gingival

enlargementm dengan adanya plak bakteri (Daliemunthe, 2008 ;

Gehrig, 2008).

Gambaran histopatologi dari gingival enlargement karena

pubertas adalah gambaran mikroskopik adalah bahwa peradangan

kronis dengan edema menonjol dan perubahan degeneratif yang terkait

(Newman., Takei., Carranza, 2006).

Gambar 4. Gingival enlargement karena pubertas


(Mozartha, M. 2011)
http://www.klikdokter.com/userfiles/periodental
2/, Diakses 12 mei 2015)

b. Kehamilan

Selama kehamilan terjadi peningkatan kadar progesteron dan

estrogen, yang pada akhir trimester ketiga, mencapai tingkat 10 dan 30

kali tingkat selama siklus menstruasi, masing-masing. Perubahan

hormon ini menyebabkan perubahan dalam permeabilitas pembuluh


darah menyebabkan gingiva edema dan respon inflamasi meningkat

menjadi plak gigi. Mikrobiota subgingiva juga dapat mengalami

perubahan, termasuk peningkatan Prevotella intermedia (Newman.,

Takei., Carranza, 2006).

Gambar 5. Gingival enlargement karena kehamilan


(Mozartha, M.2011)
http://bentengkehidupan.wordpress.com/2011/03/
26/pembekakan-gusi-saat-hamil/ , Diakses 12 Mei
2015)

Gambaran histopatologi dari gingival enlargement karena

kehamilan adalah angiogranuloma. Pembesaran marjinal terdiri

darimassa pusat dari jaringan ikat, dengan berbagai difus diatur,yang

baru terbentuk, dan membesar kapiler dilapisi oleh sel endotel

berbentuk kubus dan stroma cukup berserat dengan berbagai tingkat

edema dan inflamasi kronis menyusup.Epitel skuamosa bertingkat

kental, dengan retepegs menonjol dan beberapa derajat jembatan antar

sel, dan infiltrasileukocytic. Meskipun temuan mikroskopis merupakan

ciri khas dari pembesaran gingiva pada kehamilan, tetapi tidak

pthognomonic karena tidak dapat digunakan untuk didiferensiasi

pasien hamildan tidak hamil.


Gambaran klinis biasanya cenderung lebih ke interproksimal.

Pembesaran dapat terjadi karena pendarahan secara spontan akibat

respon inflamasi lokal dan kondisi pasien. Biasanya muncul setelah

trisemester pertama atau sebelumnya (Daliemunthe, 2008 ).

c. Defisiensi vitamin C

Secara akut kekurangan vitamin C tidak menyebabkan

perdarahan, degenerasi kolangen dan edema dijaringan ikat gingiva.

Perubahan ini mengubah respon dari gingiva ke plak menjadi gingival

enlargement. Ciri-cirinya adalah berwarna kebiruan merah, lunak,

gembur, permukaan mengkilat (Daliemunthe, 2008).

Defisiensi vitamin C mempunyai manifestasi di rongga mulut

seperti gusi mudah berdarah dan pembesaran jaringan gingiva.

Pembesaran yang terjadi karena defisiensi vitamin C merupakan

respon akibat adanya plak bakteri. Defisiensi vitamin C tidak

menyebabkan hemoragik, degenerasi kolagen dan edema pada jaringan

ikat gingiva. Perubahan ini memodifikasi respon gingiva terhadap

iritan lokal sehingga reaksi terhadap pertahanan yang normal

terhambat dan inflamasi bertambah parah. Kombinasi efek defisiensi

vitamin C akut dengan inflamasi menyebabkan gingival enlargement

yang mencolok (Yedriwati, 2006).

Gambaran histopatologi dari gingival enlargement karena

defesiensi vitamin C adalah gingiva memiliki infiltrasi seluler kronis

inflamasi akut dengan respon dangkal. Ada daerah yang tersebar


perdarahan, dengan membesar kapiler. Ditandai menyebar edema,

degenerasi kolagen, dan kekurangan fibril kolagen atau fibroblas

adalah temuan mencolok (Newman., Takei., Carranza, 2006).

Gambar 6. Gingival enlargement karena defisiensi vitamin C


(Syaify, A.2011)
http://www.klikdokter.com/userfiles/periodental2/,
Diakses 12 mei 2015)

d. Gingiva sel plasma

Enlargement ini disebut juga atipikal dan sel plasma

gingivostomatitis yang dimulai dari marginal meluas ke gingiva.

Secara klinis gingiva tampak merah, bulat, dan berdarah dengan

mudah (Newman., Takei., Carranza, 2006).

2. Enlargement yang tidak terkondisi

a) Enlargement yang disebabkan leukemia

Gingival Enlargement yang disebabkan oleh zat kimia bisa

lokalisata atau generalisata. Pembesarannya bisa berupa pembesaran

difus yang melibatkan gingiva, berupa pembesaran pada gingiva bebas,


atau masa seperti tumor diskret di interproksimal. Warna gingiva yang

terlibat biasanya merah kebiru-biruan dengan permukaan yang

berkilat. Konsistensinya agak padat, tetapi ada kecenderungan menjadi

friable (mudah tercabik), dan pendarahan yang terjadi secara spontan

atau dengan iritasi ringan. Kadang-kadang bisa terjadi inflamasi

ulseratif nekrosis akut pada celah yang berbentuk antara perbatasan

gingiva yang membesar dengan permukaan gigi yang berbatasan. Pada

leukemia lapisan inflamasi gingiva kronis simpel tanpa keterlibatan

sesl-sel leukemia dengan gambaran klinis dan mikroskopis yang

serupa dengan gambaran yang dijumpai pada pasien non leukemia.

Kebanyakan gingival enlargement yang disebabkan leukemia dijumpai

sekaligus gambaran inflamasi kronis simpel dan infiltrat. Gingival

enlargement yang disebabkan leukemia biasanya terjadi pada penderita

leukemia akut, bisa juga terjadi pada penderita leukemia sub akut. Lesi

ini jarang sekali terjadi pada penderita leukemia kronis (Daliemunte,

2008).

b) Penyakit granulomatosa (Wegener’s granulomatosis, Sarcoidosis)

Enlargement pada penyakit granulomatosa secara klinis

berwarna merah keunguan, mudah berdarah (Newman., Takei.,

Carranza, 2006).

d. Enlargement neoplastis (tumor gingiva)

Epulis adalah istilah yang digunakan secara klinis untuk menandai

semua tumor yang tersebar, dan massa seperti tumor yang berada di

gingiva ini hanya untuk menentukan lokasinya bukan untuk menerangkan


tumor itu sendiri. Kebanyakan lesi yang dirujuk sebagai ‘epulis’ adalah

lebih kepada peradangan dibandingkan dengan neoplastik. Tumor pada

gingiva muncul dari jaringan ikat gingiva atau dari ligamen periodontal.

Tumbuhnya lambat, tumor berbentuk bulat yang cendrung menjadi kenyal

atau kuat, serta bernodul tapi cendrung menjadi lunak dan mudah

berdarah. Fibroma yang keras pada gingiva jarang terjadi. Kebanyakan

lesinya yang di diagnosa secara klinis sebagai fibroma adalah gingival

enlargement karena peradangan (Newman., Takei., Carranza, 2006).

e. False enlargement

False enlargement sebenarnya bukan dari jaringan gingiva tetapi

mungkin muncul sebagai akibat dari peningkatan ukuran di underlying

osseous dan jaringan gigi.

1. Lesi di bawah tulang

Enlargement di bawah tulang yang paling umum terjadi pada

exostosis, tetapi bisa terjadi pada fibrous dysplasia, cherubism, central

giant cell granuloma, osteoma, osteosarcoma.

2. Bawah jaringan gigi

Tahap erupsi gigi primer gingiva sudah menunjukkan distorsi

marginal disebabkan oleh superimposition yang menonjol dari enamel

setengah gingiva dimahkota (Yassin, 2011).

1.2.3 Gambaran Klinis GingivalEnlargement

Gambaran klinis dari gingival enlargement karena obat-obatan

adalah :
a. Tahap awal gingiva terlihat tanda-tanda pembesaran papila interdental

yang diikuti dengan pembentukan lobul-lobul yang meluas kearah labial

dan lingual.

b. Mempunyai warna merah muda, berkonsistensi keras, kaku dan lenting.

Kadang-kadang dijumpai stippling, permukaan bergranul atau licin dan

tidak mudah berdarah.

c. Bila lesi bertambah besar, pembesaran margin gingiva dan interdental

gingiva menyatu dan berkembang menjadi massa yang besar sehingga

menutupi setengah bahkan seluruh permukaan mahkota gigi sehingga

mengganggu fungsi pengunyahan (Daliemunthe, 2008).

Gambaran klinis dari gingival enlargement kerena penyakit sistemik

adalah :

a. Warna gingiva yang terlibat biasanya merah kebiru-biruan dengan

permukaan yang berkilat.

b. Konsistensinya agak padat, tetapi ada kecenderungan menjadi friabel

(mudah tercabik) dan pendarahan yang terjadi secara spontan atau dengan

iritasi ringan.

c. Inflamasi necrotizing ulcerative kadang-kadang terjadi di servikal dan

gingiva membesar dan permukaan gigi terputus.

d. Pembesaran leukemia bisa difus, marjinal, lokal atau umum.

e. Gingival enlargement pada pasien penyakit Wegener’s granulomatosis

berbentuk buah strawberry

f. Gingival enlargement pada pasien penyakit sarcoidosis gingiva cenderung


membesar secara merata dan berwarna kemerahan (Khera., Zirwas.,

Joseph, 2005).

Gambaran klinis dari gingival enlargement karena pubertas adalah :

a. Pembesaran berkaitan dengan pubertas mempunyai ukuran atau besar yang

jauh melebihi pembesaran biasa yang diakibatkan oleh faktor lokal yang

setara.

b. Distribusi pada marginalis dan interdental.

c. Ciri khasnya adalah papilla interdental berbentuk berlobus - lobus.

d. Melibatkan gingiva pada permukaan vestibular sedangkan bagian oral

relatif tidak terlibat.

e. Setelah pubertas gingival enlargement berkurang tetapi hilang secara

tuntas, sebelum faktor iritan lokal dihilangkan (Daliemunthe, 2008).

Gambaran klinis dari gingival enlargement karena kehamilan adalah :

a. Lesi muncul seperti jamur, massa bulat pipih yang menonjol dari margin

gingiva atau lebih umum di ruang interproksimal.

b. Cenderung untuk memperluas lateral, dan tekanan dari lidah dan pipi

memerah. Warna kehitaman atau magenta, memiliki permukaan halus,

berkilau yang sering menunjukkan merah tua.

c. Lesi dangkal dan biasanya tidak menyerang tulang yang mendasarinya

(Newman., Takei., Carranza, 2006).

Gambaran klinis dari gingival enlargement karena defesiensi


Vitamin C adalah distribusi gingival enlargement yang berkaitan dengan

defisiensi vitamin C adalah marginalis, gingiva merah kebiru-biruan,

lunak, mudah tercabik, dengan permukaan yang licin dan berkilat.

Pendarahan gingiva bisa terjadi secara spontan atau dengan iritasi

ringan. Pada permukaan gingiva sering terjadi nekrose disertai

pembentukan membran semu (Yassin, 2011).

1.3 Perawatan Gingival Enlargement

1.3.1 Gingivektomi

Secara harafiah gingivekvomi berarti eksisi dari gingiva. Dengan

disingkirkannya dinding saku yang terinflamasi akan diperbaiki visibilitas dan

aksesbilitas ke permukaan akar gigi sehingga penyingkiran iritan lokal berupa

deposit dapat dilakukan secara tuntas.Tersingkirkannya jaringan yang terinflamasi

dan iritan lokal akan menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi

penyembuhan gingiva dan restorasi kontur gingiva yang fisiologis.

1. Indikasi gingivektomi

a. Penyingkiran saku supraboni,tanpa melihat kedalamannya, bila

konsistensi dinding sakunya fibrous dan padat serta zona gingiva

cekatnya adekuat.

b. Penyingkiran gingival enlargement.

c. Penyingkiran abses periodontal dengan saku supraboni.

2. Kontra indikasi gingivektomi

a. Terdapat cacat tulang yang memerlukan koreksi atau pemeriksaan bentuk

dan morfologi tulang alveolar.

b. Dasar saku berada dekat atau diapikal batas muko gingiva.


c. Gingival enlargement yang terlalu besar, sepeti hiperplasia gingiva yang

diinduksi obat-obatan.

d. Karena pertimbangan estetis, khususnya pada saku disisi vestibular

anterior rahang atas.

3. Prosedur gingivektomi

a. Anestesi, sebelum melakukan gingivektomi daerah yang dikerjakan

terlebih dulu diberi anestesi lokal.

b. Penandaan dasar saku, dengan memakai alat yaitu pocketmarker.

c. Mereseksi gingiva, reseksi gingiva dapat dilakukan dengan beberapa

macam alat yaitu pisau gingivektomi, pisau bedah (skalpel), gunting, alat

bedah elektro (laser).

d. Menyingkirkan gingiva bebas dan gingiva interdental, gingiva yang telah

direseksi disingkirkan dengan menggunakan kuret.Alat kuret diselipkan

sedalam mungkin ke daerah yang diinsisi sampai berkontak dengan

permukaan gigi, lalu dengan sapuan kearah koronal jaringan yang telah

direseksi disingkirkan.

e. Penyingkiran jaringan granulasi dan kalkulus, setelah gingiva bebas dan

gingiva interdental disingkirkan akan tersingkap jaringan granulasi yang

terinflamasi dan kalkulus yang belum tersingkirkan pada fase terapi inisial.

f. Pembersihan daerah kerja, daerah yang di gingivektomi dibilas dengan

aqudes atau larutan garam fisiologis.

g. Pemasangan pembalut periodontal, setelah bekuan darah terbentuk, luka

bedah ditutup dengan pembalut periodontal ( Daliemunthe, 2006)


BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Kasus

Seorang pasien laki-laki berusia 22 tahun datang ke RSGM Baiturrahmah

dengan keluhan adanya pembesaran pada gusi belakang atas yang mengganggu

penampilan dan sering tersodok saat menyikat gigi namun tidak sakit. Pasien

menyadari adanya pembesaran setelah pemakaian kawat gigi 2 tahun yang lalu.

Pasien telah memakai kawat gigi selama 5 tahun dan tidak melakukan kontrol ke

dokter gigi hampir 1 tahun terakhir. Pemeriksaan klinis ditemukan adanya

pembesaran pada regio 15 dengan keadaan jaringan periodontal normal, warna

coral pink, dan tekstur permukaan stipling (+).

3.2 Identifikasi pasien

3.2.1 Pemeriksaan

A. Data Pasien

 Nama : Adila Dalista

 Umur : 22 tahun

 Jenis kelamin : Perempuan

 Pekerjaan : Mahasiswa

 Alamat : Pondok Kopi Siteba

 Tanggal Pemeriksaan : .... April 2018


B. Pemeriksaan subyektif

 Keluhan utama

 Pasien datang ingin memperbaiki gusi bagian belakang atas

yang membesar

 Keluhan tambahan

 Pasien mengeluhkan gusi belakang atas mulai membesar

setelah pemakaian kawat gigi 5 tahun yang lalu

 Pasien tidak melakukan kontrol 1 tahun terakhir

 Pasien tidak nyaman dan tidak percaya diri dengan keadaan

gusi yang membesar pada satu gigi belakang atas, dan

merasa terganggu saat melakukan penyikatan gigi

 Riwayat Medis Gigi dan Mulut :

 Pasien menggunakan kawat gigi

 Terdapat karies email pada gigi ........

 Pasien setiap kali kontrol tidak dilakukan pembersihan

karang gigi

 Pasien terkahir dibersihkan karang giginya 6 bulan yang

lalu

 Riwayat Penyakit Keluarga : -

C. Pemeriksaan obyektif

 Ekstra Oral

 TMJ : Normal
 Lympnode : Normal

 Bibir : Normal

 Intra Oral

 Mukosa Lidah : Normal

 Mukosa Palatum : Normal

 Mukosa Pipi : Normal

 Mukosa Bibir : Normal

 Dasar Mulut : Normal

 Gigi

KS KS
18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25 26 27 28
48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 37 38
Keterangan :
16 : karies superfisial
17 : karies superfisial

 Kondisi jaringan periodontal interdental regio 31 dan 32

 Jaringan periodontal : Pembesaran Gingiva

 Warna : Coral pink

 Tekstur permukaan : Stipling (+)

 Pemeriksaan kebersihan mulut

Debris Calculus
Kana Ant Kir Tota Kana Ant To
V/O V/O Kiri
n . i l n . tal

Atas 1/0 0/0 1/0 2/0 Atas 1/0 0/0 1/0 2/0

Bawa
Bawah 0/1 0/0 0/l 0/2 0/1 1/0 0/1 0/3
h
DI =
CI =

OHI-S = DI + CI = 0,66 + 0,83 = 1,49 (sedang)


Skor OHI-S : 0 - 1,2 = Baik

1,3 - 3,0 = Sedang

3,1 - 6,0 = Buruk

D. Pemeriksaan Rontgen Foto

Pemeriksaan rontgen foto tidak dilakukan.

E. Pemeriksaan Oklusi

 Statis : Normal

 Berfungsi : Normal

 Protesa : (-)

1.3.2 Diagnosa

Gingiva Enlargement inflamasi kronis pada regio gigi 15 karena

penempukan plak akibat pemakaian piranti orhodonti cekat.

1.3.3 Prognosis

Prognosis untuk perawatan pasien adalah sedang, dengan alasan sebagai

berikut:

 Gingival enlargement dapat kembali lagi dikarenakan pasien masih

menggunakan orthodonti cekat

 Pasien kooperatif

 Pasien masih muda dan tidak mempunyai penyakit sistemik

 OH pasien didapatkan sebesar 1,49 dimana berdasarkan Skor OHI

level kebersihan oral pasien sedang


Gambar Pasien

DAFTAR PUSTAKA

Arfani, A. 2011. Pembesaran gingiva karena leukemia. http://asnuldentist..com


/2011/02/22/pembekakangusi leukemia/,pdf/. [12 mei 2015]

Carranza FA, Hogan EL. Gingiva Enlargement. In: Newman MG, Takei HH,
Klokkevold PR, Carranza FA (eds), Clinical Periodontology, 10th edition,
St. Louis, Saunders-Elsevier, 2006, p: 373-90.

Daliemunthe, S.H. 2006. Terapi Periodontal. Departemen Periodonsia Fakultas


Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Medan. Hlm: 34-39.

Daliemunthe, S.H. 2008. Periodonsia. Departemen Periodonsia Fakultas


Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Ed : Revisi. Medan.
Hlm: 101-102.
Lindhe J, et al. Clinical periodontology and implant dentistry. 5th ed. Oxford:
Blackwell Munksgaard, 2008: 395.
Syaify, A. 2011. Pembesaran gingiva karena defisiensi vitamin
C.http://www.klikdokter.com/userfiles/periodental2/, [12 mei 2015]

Mozartha, M. 2011. Pembesaran Gingiva Karena Pubertas. http://www.


klikdokter.com/userfiles/periodental2/, [12 mei 2015 ]

Yedriwati. 2006. Kebutuhan Vitamin C dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan


Tubuh Dan Rongga Mulut. Dentika Dental Jurnal. Edisi 11. Hal 78,
82.