Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap hari kita selalu berhubungan dengan fluida hampir tanpa sadar.
Banyak gejala alam yang indah dan menakjubkan, seperti bukit-bukit pasir dan
ngarai-ngarai yang dalam, terjadi akibat gaya-gaya yang ditimbulkan oleh aliran
udara atan air serta perilaku aliran fuida itu ketika menjumpai halangan.
Pipa air, baik yang dialiri air bersih maupun air limbah, sarna sekali bukan
barang yang aneh. Boleh jadi kita sadar bahwa pipa air minum, misalnya, harns
mempunyai diameter yang lebih besar dari suatu harga minimum agar aliran air di
keran-keran dapat mencukupi kebutuhan. Kita mungkin juga terbiasa dengan
benturan antara air dan pipa ketika keran air ditutup secara tiba-tiba. Pusaran air
yang kita tihat ketika air dalam bak mandi dikeluarkan melalui lubang
pembuangannya pada dasamya sama dengan pusaran tornado atau pusaran air di
batik jembatan. Radiator air atau uap panas untuk memanaskan rumah de radiator
pendingin dalam sebuah. Mobil bergantung pada aliran fluida agar dapat
memindahkan panas dengan efektif.
Hambatan aerodinamik bilamana kita sedang berjalan atau berkendara
menentang angin yang cukup kencang. Kalau kita sedang berkayuh dengan
perahu terasa bahwa kita harus mengayuh lebih keras agar dapat melaju lebih
cepat, bukan hanya untuk mempercepat laju perahu tetapi juga untuk
mempertahankan kecepatan yang tinggi. Permukaan lambung kapal dan sayap
serta badan pesawat terbang dibuat rata agar dapat mengurangi hambatan, bola
golf justru diberi permukann kasar guna mengurangi hambatan dalam geraknya.
Babkan pakar fisiologi pun berkepentingan dengan konsep-konsep
mekanika fluida. Jantung adalah sebua pompa yang mendorong sebua fluida
(darah) melalui sebuah sistim pipa (pembuluh-pembuluh darah). Pendek kata kita
selalu berurusan dengan fluida baik yang diam maupun yang bergerak.
Kemajuan yang dicapai selama abad ini meliputi studi-studi baik secara
analitik. numerik (komputer). maupun eksperimen tentang aliran dan
pengendalian lapisan batas, smlktur turbulensi, kemantapan aliran, aliran

1
multifase. pemindahan panas ke dan dari fluida yang mengaIir serta banyak
masalah daIam penerapan.

1.2. Defenisi Mekanika Fluida


Mekanika fluida adalah subdisiplin dari mekanika kontinyu yang
mempelajari tentang fluida (dapat berupa cair dan gas). Fluida sendiri merupakan
zat yang bisa mengalami perubahan bentuk secara kontinyu atau terus menerus
bila terkena atau gaya geser walaupun relatif kecil atau bisa juga dikatakan suatu
zat yang mengalir. Sedangkan, seperti batu atau benda-benda keras lainnya
seluruh zat padat tidak digolongkan kedalam fluida karena tidak bisa mengalir.
Mekanika fluida dapat dibagi menjadi fluida statis dan fluida dinamis.
Fluida statis mempelajari fluida pada keadaan diam, sedangkan fluida dinamis
mempelajari fluida yang bergerak.
Semua fluida (gas dan zat cair) memiliki besaran-besaran khusus yang dapat
diketahui, antara lain: massa jenis (density), kekentalan (viscosity), tekanan fluida,
massa jenis campuran, kecepatan aktual aliran fluida, fraksi volumetrik fluida,
kecepatan superfisial aliran fluida, bilangan reynold.

1.3. Definisi Fluida

Definisi yang lebih tepat untuk membedakan zat padat dengan fluida adalah
dari karskteristik deformasi bahan-bahan tersebut. Zat padat dianggap sebagai
bahan yang menunjukkan reaksi deformasi yang terbatas ketika menerima atau
mengalami suatu gaya geser (shear). Sedangkan fluida memperlihatkan penomena
sebagai zat yang teros menerus berubah bentuk apabila mengalami tekanan geser;
dengan kata lain yang dikategorikan sebagai fluida adaIah suatu zat yang tidak
mampu mcnahan tekanan geser tanpa berubah bentuk.

1.4. Sifat-Sifat Fluida


fluida adalah suatu zat yang mempunyai kemampuan ber-ubah secara
kontinyu apabila mengalami geseran, atau mempunyaireaksi terhadap tegangan
geser sekecilapapun.dalam keadaan diam atau dalam keadaan keseimbangan,

2
fluida tidak mampu menahan gaya geser yang bekerja padanya,dan oleh sebab itu
fluida mudah berubahbentuk tanpa pemisahan massa.
 GAS
Tidak mempunyai permukaan bebas, dan massanya selalu berkembang
mengisi seluruh volume ruangan serta dapat dimampatkan
 CAIRAN
Mempunyai permukaan bebas, dan massanya akan mengisi seluruh sesuai
dengan volumenya, serta tidak termampatkan.

1.5. Istilah Dalam Mekanika Fluida


 Kerapatan(dellsity): adalah jum)ah / kwantitas suatu zat pada suatu unit
volume density dapat dinyatakan dalwn 6ga bentuk :
1. Mass density (p) satuan dalam SI adalah (kglm\
2. Berat spesifik (specific weight) (y) = p . g satuan dalam 31 = N/m3
dimana g = percepatan gravitasi (~9,81 mls2)
3. Spesifik gravity (s.g) merupakan perbandingan antara density dengan
berat spesifik suatu zat terhadap density atau bera~ spesifik suatu standard
zat (umumnya terhadap air). Jadi s.g tidak mempunyai satuan.

 Viskositns. Viskositas suatu fluida merupakan UkW-Sllketuh811ansmuu fluida


terhadap deformasi stau perubahan bentuk.
Dalam sistim SI tegangan ('t) = µ (du/dy), atau dengan kata lain tegangan
geser diekspresikan dalam N/m2 (Pa) dan gradien kecepatan (du/dy) dalam
(mIs)/m, karena itu satuan 31untuk viskositm;dinamik adalah : N.s/m2 atau
kg/m.s. Sedang viskositas kinematik (v) didefernisikan sebagai
perbandingan viskositas dinamik terhadap kerapatan (density) v = µ/p
dalam SI viskositas kinematik mempunyai satuan m2ls.

3
BAB II

PENGAPUNGAN DAN PENGAMBANGAN

2.1. Pengapungan

Hampir semua persoalan mengenai benda terapung, baik terbenam


seluruhnya dalam air maupun sebagian seperti halnya kapal laut adalah persoalan
keseimbangan antara gaya-gaya berat dari benda terapung dan resultante tekanan
dari cairan terhadap permukaan benda terapung tersebut.

Selain dari soal keseimbangan ada hal lain yang juga penting yaitu soal
“kestabilan”, jadi sebuah kapal laut tidak cukup hanya berada dalam
keseimbangan tetapi juga harus berada dalam keadaan stabil pada setiap posisi
yang dikehendaki, sehingga bila kapal itu tergoyang kedepan maupun kebelakang
ataupun kesamping, maka “momen untuk mengembalikan pada posisi
keseimbangan” akan timbul dalam kapal akan berada dalam keadaan lurus
kembali.

Gaya resultante yang dilakukan terhadap Buatu benda oleh fluida statik
tempat benda itu terendam atau terapung dinamakan gaya apung. Gaya apung
selalu beraksi vertikal ke atas. Tidak mungkin terdapat komponen horisontal dari
resultantenya karena proyeksi benda yang terendam atau bagian yang terendam
dari benda terapung itu pada bidang vertikal selalu nol.

 Prinsip Archimedes
 Benda yang dalam fluida mengalami gaya apung ke atas sebesar berat
fluida yang dipindahkannya
 Benda yang memindahkan fluida yang beratnya sama dengan berat benda
tersebut.
Tekanan keatas akan bekerja melalui titik berat benda cair yang
dipindahkan yang disebut “titik pusat apung’’ (centre of buoyancy).
 Gaya resultan keatas
FB=FV(2)-FV(1) Berat fluida diatas (2) dikurangi berat fluida diatas (1)
Berat fluida sama dengan volume benda

4
Atau

FB = ʃ ( P2 – P1 ) dAH = Pg ʃ ( z2 – z1) dAH


FB =( Pg )(Volume Benda)
2.2.Benda terapung
Hanya sebagian benda tersebut terbenam, dan sebagian tersembul
dipermukaan. Bagian yang terbenam adalah volume yang dipindahkan.

FB = (Pg) (volume yang dipindahkan) = berat benda terapung

Contoh soal:
Sebuah benda berbentuk prisma 203,2 mm, tebalnya dikali 203,2 mm, lebar
dikali 406,4 mm, panjangnya ditimbang dalam air pada kedalaman 508 mm dan
beratnya didapat 48,93 N. Berapakah beratnya diudara dan rapat relatifnya ?

Jawab:
Dengan melihat ke diagram benda bebas dalam Gambar 3-2, ∑ 𝑌 = 0, maka :
w – PV bersih – 48,93 N = 0 atau (1) w = 48,93 + PV bersih

5
Gaya apung PV = berat cairan yang didesak
= 1000(203,2 x 203,2 x 406,4) x 10-9 x 9,81
= 164,62 N
Maka dari (1), w = 48,93 + 164,62 = 213,55 N dan rp rl = 213,55/164,62 = 1,30
2.3.Kemantapan (STABILITY)
Benda terapung mungkin tidak cocok dengan posisinya, dan akan berubah
bila ada kesempatan, mencari posisi baru, (tidak mantap secara statis), dalam
perancangan perlu dihindari.

 Kestabilan benda apung ditentukan posisi metapusat.


 G (pusat massa), B (pusat apung), Dq (sudut pengusikan), B’(pusat
apung setelah di usik), M (meta pusat, garis vertkal keatas dari B (pusat
apung) yang memotong sumbu simetri)
 Jjika M terletak diatas G (MG positif), ada momen pemulih atau posisi
benda mantap) (W dan FB arahnya menuju posissi mantap, gambar b)
 Jika M terletak dibawah G (MG negatif, tak ada momen pemulih atau
benda tidak mantap) (lihat arah gaya W dan FB menyebabkan benda
semakin terguling, gambar c)

2.4. Pengambangan

Ambang pengukur aliran dapat dipasang pada tempat penampang air


biasanya bagian atas, bila terpasang berada diatas permukaan air. Ambang yang
berukuran besar dipasang untuk mengukur aliran air sungai atau aliran-aliran
disaluran untuk irigasi.

Ambang persegi panjang:

6
Contoh soal:

Buktikan bahwa aliran melalui ambang persegi panjang adalah:

2
𝑄 = 3 𝐵√(2𝑔)𝐻3/2 bila B = lebar ambang, H = tinggi air diatas ambang.

Dan terangkan juga mengapa rumus diatas memerlukan perubahan dalam praktek.
Bila besarnya aliran 0,14 m3/dtk dan tinggi air diatas ambang 23 cm dan koefesien
pengaliran sebesar 0,6. Hitunglah lebarnya ambang.

Jawab:

Dengan menggunakan rumus Torricelli, maka kecepatan dari bagian


elementer aliran air pada sembarang ketinggian adalah (2gh) dan tentunya harga
ini berubah-berubah dari dasar sampai permukaan air.

Kecepatan melalui 𝛿 h = √2𝑔ℎ

Luasnya adalah 𝛿 h x B = 𝛿 hB

jadi dQ debiet air melalui celah 𝛿 h = √2𝑔ℎ . 𝛿 hB

integrasi dari dasar sampai permukaan maka:

Q = ʃ dQ = ʃ√2𝑔ℎ . 𝛿 Hb

2
= B √2𝑔 ʃh1/2 𝛿 h = 3 B √2𝑔 H 3/2

Rumus diatas adalah rumus teoritis.

Besarnya aliran yang diukur dengan rumus diatas hasilnya terlalu besar
karena tidak diperhitungkan kehilangan enersi dan juga karena pengecilan dari
aliran.

Pengurangan aliran terjadi baik pada tingginya aliran maupun lebatnya


jadi debiet yang sebenarnya adalah debiet teoritis dikalikan dengan koefesien
pengaliran Cd’jadi:

2
Q= Cd B√(2𝑔) H3/2
3

7
Bila:

Q = 0,14 m3 /det

Cd = 0,6

H = 23 cm = 23 cm

𝑄 𝑄
B= 2 = 2 = 0,72 m.
Cd√(2𝑔) H3/2 x 0,6√(2𝑔) (0,23)3/2
3 3

8
BAB III

TRANSLASI DAN ROTASI MASSA CAIRAN

3.1. Pengertian Translasi

Translasi adalah transformasi (atau perubahan) setiap titik dengan jarak


dan arah yang tetap.

Dalam vector, translasi atau pergeseran adalah penambahan setiap titik


(x,y) dengan vector tertentu (a,b) sehingga menghasilkan (x + a, y + b).

Suatu fluida dapat mengalami translasi dan rotasi dengan percepatan tetap
tanpa ada gerak relatif diantara partikel-partikel. Keadaan ini merupakan salah
satu keseimbangan relatif dan fluida itu bebas dari gesekan. Pada umumnya tidak
ada gerakan antara fluida dan bejana tempatnya.

Fluida dapat mengalami translasi dan rotasi dengan percepatan tetap tanpa
ada gerak relatif antara partikel-partikel, ini merupakan keseimbangan relatif dan
fluida tersebut bebas dari geseran.
 Gerak Mendatar
Mengakibatkan permukaan akan menjadi bidang miring dengan
kemiringan
𝑎
𝑡𝑎𝑛θ =
𝑔

a (percepatan linier)
g percepatan grafitasi)

 Gerak Vertikal
Akibat gerak vertikal, akan menimbulkan tekanan di sembarang titik
dalam cairan, percepatan positif keatas, dan negatif kebawah.
𝑎
P = Pgh 1±
𝑔

9
Contoh soal:

Sebuah tangki panjang 6 m kali dalam 1,8 m, kali lebar 2,1 m, berisi 0,9
m. Jika percepatan linear mendatar dalam arah panjangnya tangki 2,45 m/dtk2, (a)
Hitunglah gaya total akibat air yang bekerja pada setiap ujung tangki dan (b)
tunjukan bahwa perbedaan diantara gaya-gaya ini sama dengan gaya tak seimbang
yang diperlukan untuk mempercepat massa cairan.

Jawab:

𝑝𝑒𝑟𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑙𝑖𝑛𝑒𝑎𝑟 2,45


a. 𝑡𝑎𝑛θ = = = 0,250 dan θ = 14⁰2'
𝑝𝑒𝑟𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑔𝑎𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 9,81

Kedalaman d di ujung dangkalnya adalah d = 0,9 – 3 tan 14⁰2' = 0,15 m


dan kedalaman diujung dalamnya adalah 1,65 m, maka
y = 3 tg 14,2 = 0,75
PAB = Pghcg A = 9810 (1,65/2)(1,65 x 2,1) = 28 000 N
PCD = Pghcg A = 9810 (0,15/2)(0,15 x 2,1) = 230 N

b. Gaya yang diperlukan = massa air x percepatan linear


6 𝑥 2,1 𝑥 0,9 𝑥 9810
= 𝑥 2,45 = 27800 N,
9,81

dan PAB - PCD = 28000 – 230 = 27700 N, yang diperiksa dalam ketelitian
jangka sorong.

3.2. Rotasi Massa Cairan

Rotasi adalah transformasi dengan cara memutar objek dengan titik pusat
tertentu atau memutar objek terhadap titik tertentu dibidang xy. Bentuk dan

10
ukuran objek tidak berubah. Untuk melakukan rotasi perlu diketahui sudut rotasi
titik rotasi dimana objek dirotasi.

 Arah rotasi:
1. Nilai positif dari sudut rotasi menentukan arah rotasi berlawanan dengan
jarum jam
2. Dan sebaliknya nilai negative akan memutar objek searah jarum jam.

o Pusat A(a,b)

Rotasi Titik P(x,y) diputar dengan


x’ = x cosӨ – y sinӨ dan
y’ = x sinӨ + y cosӨ
𝑥′
atau (𝑦′ ) = (𝑐𝑜𝑠Ө−𝑠𝑖𝑛Ө
𝑠𝑖𝑛Ө−𝑐𝑜𝑠Ө
) (𝑦𝑥 )

Rotasi Titik P(x,y) diputar dengan sudut Ө:


y’ ± a = (x±a)cosӨ – (y±b)sinӨ dan y’ = (x±a)sinӨ + (y±b)cosӨ
𝑥′
atau (𝑦′ ) = (𝑐𝑜𝑠Ө−𝑠𝑖𝑛Ө
𝑠𝑖𝑛Ө−𝑐𝑜𝑠Ө
) (𝑥−𝑎
𝑦−𝑏
)+(𝑎𝑏)

Mengakibatkan permukaan akan menjadi bidang miring dengan


kemiringan bentuk permukaan fluida terbuka dalam bejana yang berputar adalah
paraboloida dengan persamaan.

𝑤2
y= x2
2𝑔

11
X dan y adalah koordinat dalam meter dan w adalah kecepatan sudut
dalam rad/det.

 Rotasi Massa Fluida (Bejana Terbuka)


Bentuk permukaan cairan yang bebas dalam sebuah bejana yang berputar
adalah semacam paraboloida perputaran. Sembarangan bidang yang
melalui sumbu putaran yang momotong fluida akan menghasilkan sebuah
parabola.
 Rotasi Massa Fluida (Bejana Tertutup)
Tekanan dalam sebuah bejana tertutup akan naik dengan memutar bejana.
Kenaikan tekanan diantara suatu titik pada sumbu putaran dan suatu titik x
meter jauhnya dari sumbu tersebut adalah:
𝑤2
P (pa) = rho.g. x2
2𝑔
Atau kenaikan head tekanan (m) adalah:
𝑝 𝑤2
=y= x2
𝑟ℎ𝑜.𝑔 2𝑔
Persamaan diatas serupa dengan persamaan bejana terbuka yang berputar.
Karena kecepatan linear V = x.w, maka suku x2w2/2g yang nanti akan diterima
sebagai head kecepatan dalam satuan meter.

Contoh soal:
Sebuah tangki selinder terbuka, tinggi 2 m dan garis tengah 1 m, berisi 1,5
m air. Jika selinder itu berputar pada sumbu geometrinya, (a) berapakah kecepatan
sudut tetap yang dicapai tanpa menumpahkan air setitikpun? (b) berapakah
tekanan dasar tangki C dan D bila 𝜔 = 6,00 𝑟𝑎𝑑/𝑑𝑡𝑘 ?
Jawab:
1
a. Volume parabola perputaran = 2 (volume selinder yang dibatasi)
1 1
= 2 [ 2 𝜋 12 (0,5 + y1)]

Jika tak ada cairan yang ditumpahkan, volume ini sama dengan volume
diatas permukaan air semula A-A, atau

12
1 1 1
[ 𝜋 12 (0,5 + y1)] = 4 𝜋2 (0,5) dan y1 = 0,5 m
2 2

Untuk menyamaratakan, titik pada sumbu putaran turun dengan jarak yang
sama dengan kenaikan cairan pada dinding bejana.
Dari keterangan ini, koordinat x dan y dari titik B masing-masing 0,5 dan
1,0 m dari titik asal S. Maka
𝑤2
y= x2
2𝑔
𝑤2
I= (0,5) 2 dan
2 𝑥 9,81

𝜔 = 8,86 rad/dtk
b. Untuk 𝜔 = 6,00 rad/dtk
𝑤2 6,00
y= x2 = (05)2 = 0,46 m dan S
2𝑔 2(9,81)

1
Titik asal S turun y = 0,23 m dan S sekarang 1,50 – 0,23 = 1,27 m dari
2

dasar tangki kedalamannya = 1,27 + 0,46 = 1,73 m (1,5 + 0,23 = 1,73 m).
At C.PC = Pgh = 9810 x 1,27 = 12 500 Pa
At C.PD = Pgh = 9810 x 1,73 = 17 000 Pa

13
BAB IV

ANALISIS DIMENSIONAL DAN KESERUPAAN HIDROLIK

4.1. Analisis Dimensional

Beberapa persoalan yang dijumpai dalam mekanika fluida telah


dipecahakan dengan menganalisa persoalan yang sudah diformulasikan secara
matematis. Dalam soal yang demikian, baik variabel yang berpengaruh maupun
hubungan antara variabel tersebut telab diketahui. Seringkali formulasi demikian
diperoleh dengan menggunakan anggapan penyederhanaan. Untuk
memperhitungkan efek yang diabaikan, dalam pendekatan selanjutnya digunakan
koefisien yang ditentukan secara eksperimental. Hal ini seringkali merupakan cara
penyelesaian yang praktis, karena penyelesaian persamaan yang
memperhitungkan efek yang diabaikan tadi sangal rumit dan sukar dipecahkan.
Sebagai contoh , persamaan Navier-stokes pada umumnya tidak dapat dipecahkan
secara kwantitatif. kecuali untuk beberapa hal yang sederhana Cara lain yang
dapat digunakan sebagai penyelesaian pendekatan diperoleh dengan mencoba
menentukan secara umun bagaimana koefisien yang dapat ditetapkan secara
eksperimental tersebut bergantung pada variabel yang mempengaruhi persoalan.
Cara demikian ini, yang akan diuraikan lebih lanjut dalam boo illi dan dikenal
sebagai analisa dimensional, dipergunakan bila variabel yang mempengaruhi
suatu gejala fisik diketahui, akan tetapi hubungan antara masing-masing belum
diketabui.
a. variabel fisik yang ditinjau, yang timbul akibat gerak benda dalam fluida
atau sebaliknya, misalnya gaya, tegangan geser, dan sebagainya.
b. Variabel geometri benda saluran atau kedua-duanya, seperti ukuran
panjang, bentuk, dan sebagainya.
c. Variabel yang menyangkut gerak benda dalam fluida atau sebaliknya
misalnya kecepatan V, pereepatan a dan sebagainya.
d. Variabel yang menyatakan sifid fluida, misalnya massajenis 0, tekanan p,
viskositas M-tegangan permukaall 0, dan sebagainya.
e. Variabel yang menyatakan sifat benda misalnya massa jenis m, modulus
elastisitas E,dan sebagainya. (dalam mekanika fluida, variabel ini

14
umumnya dapat diabaikan; dalam persoalan aeroelastisitas atau
hydroelastisitas, variabel perlu diperhatikan).

Dengan analisa dimensional, gejala fisik dapat diformulasikan sebagai


hubungan antara variabel yang berpengaruh ini, yang telah dikelompokkan dalam
serangkaian kelompok bilangan yang tak berdimensi. jumlah kelompok bilangan
yang tak berdimensi ini jauh lebih sedikit dari jumlah variabel yang semula. Cara
ini sangat berguna dalam metoda analisa persoalan secara eksperimental, terutama
karena jumlah eksperimen yang harus dilakukan dapat.diperkecil, dan
eksperimennya sendiri dapat lebih disederhanakan.
Sebagai contoh, tinjau persoalan yang dibadapi untuk menentukan gaya
tahanan D dari suatu bola berdiameter d dan. yang permukaannya licin yang
bergerak dengan kecepatan V, di dalam fluida viskos yang illkompresibel.
Variabel geometri benda adalah d, variabel gerak benda adalah V, variabel yang
menyatakan sifat fluida adalah p dan p. sedangkan besarm.1isik yang ditinjau
adalah gaya tahanan D. perlu diperhatikan, bahwa langkah pertama yang penting
di sini adalah pengenalan variabel yang berpengaruh ini, dan dengan berdasarkan
pada analisn, observasi dan anggapan penyederhanaan, jumlah variabel yang
diperhitungkan hanyalah variabel yang penting saja.

4.2. Keserupaan Hidrolik

keserupaan dalam pengertian yang umum berarti indikasi adanya


keadaan tertentu yang diketahui antara dua fenomena. Dalam mekanika fluida,
hubungan ini merupakan hubungan aliran sesungguhnya dengan aliran yang
menyangkut model yang batas-batasnya serupa secara geometris tetapi lebih keeil
ukurannya.walaupun demikian perlu dijelaskan, bahwa dalam mekanika fluida
berlaku pula hukum keserupaan untuk aliran dengan batas yang tidak serupa.
Misalnya, ada hubungan keserupaan antara aliran subsunik kompressibel ( M < 1)
sekitas suatu benda dengan aliran inkompresibel sekitar benda yang kedua yang
bentuknya serupa dengan benda peertama yang diseformasikan menurut cara
tertentu, dan ini dikenal sebagai aturan kesempaan Gotherl. Demikian pula dalam
hidrologi diperlukan suatu model dari sungai-sungai yang pandangan atasnya

15
serupa, tetapi dalamnya tidak serupa. Selanjutnya akan dibahas aliran secara
geometris. Dua aliran yang mempunyai garis arus yang sempa disebut aliran yang
serupa secara kinematis. Karena batas benda merupakan garis arus, tentunya
aliran yang serupa kinematis harus pula serupa secara geometris. Akan tetapi hal
sebaliknya belum tentu benar. disim digambarkan garis arus sekitar benda yang
berbentuk belah ketupak dalam aliran dua dimensi. menunjukkan aliran subsonik,
M < l. aliran super sonik,M < l. Dapat dilihat bahwa garis alurnya tidak serupa.
Selanjutnya dua aliran dikatakan serupa secara dinarnis, bila distribusi
gaya pada kedua aliran adalah sedemikian, sehingga pada titik yang
berkorespondensi, gaya yang sejenis ( misalnya gaya geser, tekanan, dan
sebagainya) saling sejajar. dan memunyai perbandingan yang sarna dengan pada
pasangan tink yang berkorenspondensi lainnya. Selanjutnya angka perbandingan
inl juga sarna untuk jenis gaya yang lain. Karena gaya seperti gaya angkat dan
tahanan untuk skala sebenamya biasanya diramalkan dengan mengukur gaya.
yang serupa pada model-model yang lebih kecil, jelaslan mengapa keserupaan
dinamis sangat penting dalam pengujian.
Akan ditunjukkan bahwa keserupaan dinamis mensyaratkan dipenuhinya
keserupaan kinematik, dan syarat bahwa distribusi massa adalah sedemikian
sehingga. perbandingan massa jenis pada titik dalam aliran yang berkorespondensi
mempunyai harga yang sarna pada setiap pasang titik. Aliran yang memenuhi
syarat yang terakbir ini disebut aliran distribusi masa yang serupa. Syarat
keserupaan kinematis berarti babwa kecepatan dan percepatan pada titik yang
berkorespondensi, adalah sejajar dan perbandingan besar harga mutlaknya adalah
kobstan. Aliran yang serupa secara kinematis dan mempunyai distribus masa yang
serupa, dari hukum newton, juga mempunyai gaya resultan yang perbandingan
harga mutlaknya sarna untuk titik yang saling berkorespondensi. Selain itu pada
tink yang berkorespondensi juga sejajar. Jadi aliran yang serupa secara kinematis
dan distribusi masanya serupa memenuhi syarat keserupaan.

16
Contoh soal:
Penggunaan Dimensi untuk menghitung factor konversi dari satuan-
satuan.
Koefesien dari kekentalan dinamis air pada temperature 95°F adalah
1,505x10-5 ft slug sec, berapakah nilai itu dalam satuan-satuan:
a. cgs absolute
b. satuan dinamis (SI Units)

Jawab:
ɳ (cgs absolut) [𝑀/𝐿𝑇]
a. = [𝑀∗/𝐿∗𝑇∗]
ɳ (ft slug sec)
𝑀 𝐿∗𝑇∗
= 𝐿𝑇 x 𝑀∗

𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎(𝑐𝑔𝑠 𝑎𝑏𝑠𝑜𝑙𝑢𝑡) 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔(𝑓𝑡 𝑠𝑙𝑢𝑔 sec) 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢(𝑓𝑡 𝑠𝑙𝑢𝑔 sec)


x 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔(𝑐𝑔𝑠 𝑎𝑏𝑠𝑜𝑙𝑢𝑡) x 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢(𝑐𝑔𝑠 𝑎𝑏𝑠𝑜𝑙𝑢𝑡)
𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎(𝑓𝑡 𝑠𝑙𝑢𝑔 sec)

1 slug = 32,2 Ib massa = 32,2 x 453,6 gram massa.


1 ft = 30,48 cm.
Jadi:
ɳ (cgs absolut) = ɳ (ft slug sec) x
32,2 𝑥 453,6 1 1
x 30,48 x 1
1

1,505 𝑥 105 𝑥 32,2 𝑥 453,6


= 30,48

= 7,2 x10-3 gram/cm sec

𝑀
ɳ (𝑆𝐼) [ ]𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑓𝑡 𝑠𝑙𝑢𝑔 sec 𝑢𝑛𝑖𝑡𝑠 𝑀 𝐿∗𝑇∗
𝐿𝑇
b. = [𝑀∗/𝐿∗𝑇] 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑆𝐼 𝑢𝑛𝑖𝑡𝑠
= 𝐿𝑇 x
ɳ (𝑓𝑡 𝑠𝑙𝑢𝑔 sec) 𝑀∗

𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 (𝑆𝐼) 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 (𝑓𝑡 𝑠𝑙𝑢𝑔 𝑠𝑒𝑐) 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑓𝑡 𝑠𝑙𝑢𝑔 𝑠𝑒𝑐)
= 𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎(𝑓𝑡 𝑠𝑙𝑢𝑔 sec) x x
𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔(𝑆𝐼) 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢(𝑆𝐼

17
1 slug = 32,2 Ib massa = 32,2 x 0,4536 kg massa.
1 ft = 0,3048 m
Jadi:
32,2 𝑥 0,4536 1 1
ɳ (SI) = ɳ (ft slug sec) 𝑥 𝑥 𝑥
1 0,3048 1

= 7,2 x 10-4 kg/m sec.

18
BAB V

PENUTUP

Kesimpulan

19
Daftar Pustaka

Ir.s soedrajat s. 1983. Mekanika Fluida dan Hidrolika


Penerbit “ NOVA”
Ridwan. Mekanika Fluida Dasar
Penerbit “GUNADARMA”
Modul Mekanika Fluida

Indi Muhammad Budiman. Mekanika Fluida

Modul pengapungan dan pengambangan

20