Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH SEJARAH LAHIRNYA

MUHAMMADIYAH

DISUSUN OLEH:

DEWI RAKLI AGUSTI LISAYANTI

TAHUN 2015-2016

STKIP MUHAMMADIYAH PRENGSEWU


LAMPUNG
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Alloh s.w.t. karena atas rahmat dan hidayah-Nya lah
saya dapat menyelesaikan Makalah Sejarah Berdirinya Muhammadiyah. Tidak
lupa saya ucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Mata Kuliah Al
islam dan Kemuhammadiyahan yaitu Bapak dan pihak-pihak lain yang telah
mendukung dalam kelancaran pembuatan makalah ini. Adapun maksud dan
tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Al
islam dan Kemuhammadiyahan. Di dalam penulisan ini, saya menyadari bahwa
masih terdapat kekurangan serta kekeliruan. Untuk itu, saya mengharap kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk menyusun laporan ataupun tugas lain
di masa yang akan datang. Akhirnya saya mengharapkan semoga makalah ini
dapat bermanfaat, tidak hanya bagi saya, tetapi juga untuk rekan-rekan. Akhir
kata saya mengucapkan terima kasih.

Penulis.
Daftar Isi

Cover

Kata pengantar

Daftar isi

Bab I. Pendahuluan

Bab II. Latar belakang

Bab III. Pengertian

1.1 Sejarah berdirinya muhammadiyah


1.2 Proses berdirinya muhammadiyah
1.3 Pekembangan muhammadiyah

Bab IV. Visi ,Misi,dan Tujuan muhammadiyah

Bab V. Kesimpulan

Bab VI. Penutup

Bab VII. Daftar pustaka


Bab I. Pendahulan

Muhammadiyah merupakan gerakan umat Islam yang lahir di


Yogyakarta pada tanggal 8 Djulhijah 1330 H, atau Pada masa
kepemimpinan Ahmad Dahlan (1912-1923), pengaruh
Muhammadiyah terbatas di karesidenan-karesidenan seperti:
Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan, daerah
Pekalongan sekarang. Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah
berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul
Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat
dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam tempo
yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar
ke seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian
Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan
Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar
keseluruh Indonesia. Terdapat pula organisasi khusus wanita bernama
Aisyiyah. tanggal 18 November 1912 M.
Bab II. Latar belakang

Sejak awal, gerakan Muhammadiyah telah berkecimpung dalam bidang sosial,


terutama pendidikan. Sekolah yang pertama didirikan oleh Kyai Haji Ahmad
Dahlan pada tahun 1911 di Yogyakarta diselenggarakan dengan fasilitas yang
amat sederhana.Sekolah kecil ini akhirnya menjadi titik awal munculnya
organisasi secara formal pada tahun 1912 di bawah pimpinan Kyai Haji Ahmad
Dahlan. Setelah resmi menjadi organisasi, Muhammadiyah terus berangsur-
angsur mengembangkan sayapnya melalui berbagai aktifitas sosial. Mulai dari
pendidikan, pelayanan masyarakat, kesehatan, dan lain-lain sehingga pada
akhirnya aktifitas dalam bidang sosial ini dapat menjadikan Muhammadiyah
sebagai gerakan sosial keagamaan yang memperoleh sukses besar.Ditinjau dari
aspek tertentu, berdirinya Muhammadiyah merupakan suatu kemunculan
gerakan iman, ilmu, dan amal. Sebagai gerakan iman, Muhammadiyah dapat
dilihat kepeloporannya dalam usaha mengembalikan paham agama kepada
ajaran Tauhid murni tanpa dicampuri oleh unsur-unsur syirik, takhayul, dan
khurafat. Dalam versi lain gerakan ini sering disebut “gerakan purifakasi”.
Sedangkan indikasinya sebagai gerakan ilmu dapat dilihat pada komitmennya
terhadap persoalan pendidikan, di samping keberaniannya mendobrak tradisi
lama untuk membuka kembali pintu ijtihad yang telah dinyatakan tertutup sejak
Abad Pertengahan.
Bab III. Pembahasan

1.1 Pengertian Muhammadiyah


Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi
munkar, berasa Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist.
Gerakan Muhammadiyah bermaksud untuk berta’faul
(berpengharapan baik) dapat mencontoh dan meneladani jejak
perjuangan nabi Muhammad SAW, dalam rangka menegakkan dan
menjunjung tinggi agama Islam semata-mata demi terwujudnya izzul
Islam wal muslimin, kejayaan Islam sebagai idealita dan kemuliaan
hidup sebagai realita.
1.2 Sejarah Berdirinya Muhammadiyah
Kyai Haji Ahmad Dahlan (1868-1923) Pendiri Muhammadiyah
Ahmad Dahlan (bernama kecil Muhammad Darwisy), adalah pelopor
dan bapak pembaharuan Islam. Kyai Haji kelahiran Yogyakarta, 1
Agustus 1868, inilah yang mendirikan organisasi Muhammadiyah
pada 18 November 1912. Pahlawan Nasional Indonesia ini wafat
pada usia 54 tahun di Yogyakarta, 23 Februari 1923. Kyai Haji
Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk
melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di nusantara. Ia ingin
mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal
menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam
Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-
Hadits. Ia mendirikan Muhammadiyah bukan sebagai organisasi
politik tetapi sebagai organisasi sosial kemasyarakatan dan
keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan. Pada saat Ahmad
Dahlan melontarkan gagasan pendirian Muhammadiyah, ia mendapat
tantangan bahkan fitnahan, tuduhan dan hasutan baik dari keluarga
dekat maupun dari masyarakat sekitarnya. Ia dituduh hendak
mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang
menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda
yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula
orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan
tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk
melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air
bisa mengatasi semua rintangan tersebut. Pertama, atas jasa-jasa Kyai
Haji Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini
melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah
Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional
dengan surat Keputusan Presiden No. 657 tahun 1961
Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional didasarkan pada empat
pokok penting yakni:
 Pertama, Kyai Haji Ahmad Dahlan telah mempelopori
kebangkitan umat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai
bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat
 Kedua, dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya,
telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada
bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan
beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan
Islam.
 Ketiga, dengan organisasinya, Muhammadiyah telah
mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat
diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan
jiwa ajaran Islam.
 Keempat, dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian
wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita
Indonesia untuk mengecap pendidikan.
Diasuh di lingkungan pesantren Muhammad Darwisy lahir dari
keluarga ulama dan pelopor penyebaran dan pengembangan Islam di
tanah air. Ayahnya, KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib
terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta, dan ibunya, Nyai
Abu Bakar adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat
penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. Ia anak keempat dari
tujuh orang bersaudara, lima saudaranya perempuan dan dua lelaki
yakni ia sendiri dan adik bungsunya. Dalam silsilah, ia termasuk
keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang
wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang
merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan
Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Silsilah lengkapnya
ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH Abu Bakar bin
KH Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin
Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan
bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana
Muhammad Fadlul'llah (Prapen) bin Maulana 'Ainul Yaqin bin
Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968).
Sejak kecil Muhammad Darwisy diasuh dalam lingkungan pesantren,
yang membekalinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Pada usia
15 tahun (1883), ia sudah menunaikan ibadah haji, yang kemudian
dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah
selama lima tahun. Ia pun semakin intens berinteraksi dengan
pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti
Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah.
Interaksi dengan tokoh-tokoh Islam pembaharu itu sangat
berpengaruh pada semangat, jiwa dan pemikiran Darwisy. Semangat,
jiwa dan pemikiran itulah kemudian diwujudkannya dengan
menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah.
Bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-
Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat
ortodoks (kolot). Ahmad Dahlan memandang sifat ortodoks itu akan
menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi
(keterbelakangan) ummat Islam. Maka, ia memandang, pemahaman
keagamaan yang statis itu harus diubah dan diperbaharui, dengan
gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali
kepada al-Qur'an dan al-Al Hadist. Setelah lima tahun belajar di
Makkah, pada tahun 1888, saat berusia 20 tahun, Darwisy kembali ke
kampungnya. Ia pun berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Lalu, ia
pun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan Kesultanan
Yogyakarta. Pada tahun 1902, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua
kalinya, sekaligus dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama
kepada beberapa guru di Makkah hingga tahun 1904. Sepulang dari
Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak
Kyai Penghulu Haji Fadhil. Siti Walidah, kemudian lebih dikenal
dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan
pendiri Aisyiyah. Pasangan ini mendapat enam orang anak yaitu
Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti
Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). 3 Di samping itu, Kyai Haji
Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H.
Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir
Krapyak. Kyai Haji Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari
perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu)
Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah
dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).
Mendirikan Muhammadiyah semangat, jiwa dan pemikiran
pembaharu dalam dunia Islam, yang diperolehnya dari Muhammad
Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, ibn Taimiyah dan lain-lain .
Ahmad Dahlan memandang sifat ortodoks itu akan menimbulkan
kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi
(keterbelakangan) ummat Islam. Maka, ia memandang, pemahaman
keagamaan yang statis itu harus diubah dan diperbaharui, dengan
gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali
kepada al-Qur'an dan al-Hadits Dahlan sendiri sadar bahwa
semaangat pembaharuannya tidak akan serta-merta dapat dipahami
dan diterima keluarga dan masyarakat sekitarnya. Tidak mudah
melakukan pemharuan pada suatu sifat ortodoks yang sudah
membeku. Maka, entah terkait atau tidak, ada sebuah nasehat yang
ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri. Bunyinya
demikian: "Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan
peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus
engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan
selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai
Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang
diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian,
pengadilan, hisab, surga, dan neraka.Dan dari sekalian yang engkau
hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah
lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo). Dalam artikel
riwayat Ahmad Dahlan di situs resmi Parsyarikatan Muhammadiyah
(muhammadiyah.or.id), pesan ini disebut menyiratkan sebuah
semangat yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai
kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap
orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan
memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama
Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing
mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah.
Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat
yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-
upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat
manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.
Dijelaskan dalam artikel itu, kesadaran seperti itulah yang
menyebabkan Dahlan sangat merasakan kemunduran ummat Islam di
tanah air. Hal ini merisaukan hatinya. Ia merasa bertanggung jawab
untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka.
Dahlan sadar bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilaksanakan
seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh beberapa orang yang
diatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa orang itu tidak
mungkin tanpa organisasi. Perkumpulan, parsyarikatan dan gerakan
dakwah: Muhammadiyah. Dahlan pun memilih strategi yang amat
baik dengan lebih dahulu membina angkatan muda untuk turut
bersama-sama melaksanakan upaya dakwah tersebut, sekaligus
meneruskan cita-citanya memajukan bangsa ini. Apalagi ia
berkesempatan mengakselerasi dan memperluas gagasannya tentang
gerakan dakwah Muhammadiyah itu dengan mendidik para calon
pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang dan
para calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta.
Karena, ia sendiri diizinkan oleh pemerintah kolonial untuk
mengajarkan agama Islam di kedua sekolah tersebut.
Tentu saja para calon pamongpraja tersebut dapat diharapkan
mengaselerasi dan memperluas gagasannya tersebut, karena mereka
akan menjadi orang yang mempunyai pengaruh luas di tengah
masyarakat. Begitu pula para calon guru akan segera mempercepat
proses transformasi ide tentang gerakan dakwah Muhammadiyah,
kepada murid-muridnya. Guna mengintensifkannya, Dahlan pun
mendirikan sekolah guru yang kemudian dikenal dengan Madrasah
Mu'allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu'allimat
(Kweekschool Istri Muhammadiyah). Di sekolah ini, Dahlan
mengajarkan agama Islam dan menyebarkan cita-cita
pembaharuannya. Dahlan dikenal sebagai seorang yang aktif dalam
kegiatan bermasyarakat. Dengan gagasan-gagasan cemerlang dan
kegiatan kemasyarakatannya, Dahlan juga dengan mudah diterima
dan dihormati di tengah kalangan masyarakat. Termasuk dengan
cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi
Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi
Muhammad saw. Pada tahun 1912, tepatnya tanggal 18 Nopember
1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah
untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam. Ia punya visi untu
melakukan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal
menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam
Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-
Hadits. Berbagai tantangan ia hadapi sehubungan dengan gagasan
pendirian Muhammadiyah itu. Bahkan ia dituduh hendak mendirikan
agama baru yang menyalahi agama Islam. Kiai palsu. Sampai ada
pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan
tersebut dihadapinya dengan sabar. Dahlan teguh pada pendiriannya.
Pada tanggal 20 Desember 1912, ia mengajukan permohonan kepada
Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum.
Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat
Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Tampaknya,
Pemerintah Hindia Belanda ada kekhawatiran akan perkembangan
organisasi ini. Sehingga izin itu hanya berlaku untuk daerah
Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah
Yogyakarta.

Namun, walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain


seperti Srandakan, Wonosari, dan Imogiri dan lain-lain tempat telah
berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan
dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya,
maka Kyai Haji Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan
agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain.
Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama
Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di Solo
berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang
mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota
Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama'ah dan
perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan
kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jama'ah-jama'ah
ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang di antaranya
ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-
Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub,
Thaharatul-Aba, Ta'awanu alal birri, Ta'ruf bima kan,u wal-Fajri,
Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan
Safwan, 1991: 33). Gagasan pembaharuan Islam, Muhammadiyah
disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke
berbagai kota, di samping juga melalui relasi-relasi dagang yang
dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar
dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari
berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan
dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama
makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu,
pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada
pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang
Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan
oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Dalam bulan Oktober 1922, Ahmad Dahlan memimpin delegasi
Muhammadiyah dalam kongres Al-Islam di Cirebon.
Kongres ini diselenggarakan oleh Sarikat Islam (SI) guna mencari
aksi baru untuk konsolidasi persatuan ummat Islam. Dalam kongres
tersebut, Muhammadiyah dan Al-Irsyad (perkumpulan golongan
Arab yang berhaluan maju di bawah pimpinan Syeikh Ahmad
Syurkati) terlibat perdebatan yang tajam dengan kaum Islam ortodoks
dari Surabaya dan Kudus. Muhammadiyah dipersalahkan menyerang
aliran yang telah mapan (tradisionalis-konservatif) dan dianggap
membangun mazhab baru di luar mazhab empat yang telah ada dan
mapan. Muhammadiyah juga dituduh hendak mengadakan tafsir
Qur'an baru, yang menurut kaum ortodoks-tradisional merupakan
perbuatan terlarang. Menanggapi serangan tersebut, Ahmad Dahlan
menjawabnya dengan perkataan, "Muhammadiyah berusaha bercita-
cita mengangkat agama Islam dari keadaan terbekelakang. Banyak
penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada
Qur'an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Qur'an dan
Hadits. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya
melalui kitab-kitab tafsir". Sebagai seorang yang demokratis dalam
melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan
juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses
evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah.
Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah,
telah diselenggarakan duabelas kali pertemuan anggota (sekali dalam
setahun), yang saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering
(persidangan umum). Di samping aktif dalam menggulirkan
gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga tidak
lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab
pada keluarganya. Sebagai salah seorang keturunan bangsawan yang
menduduki jabatan sebagai Khatib Masjid Besar Yogyakarta, ia
mempunyai penghasilan cukup tinggi. Ia juga berkecimpung sebagai
seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik.

1.3 Proses Berdirinya Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam


Pada mulanya Muhammadiyah hanyalah sebuah kelompok kecil
yang mepunyai misi agak bertentangan dengan kebiasaan-kebiasaan
penduduk Indonesia. Namun Muhammadiyah merupakan kelompok
yang terdiri dari orang-orang yang peuh pengabdian serta mempunyai
rasa tanggung jawab yang tinggi atas tersebarnya apa yang mereka
yakini sebagai ajaran yang benar dari Muhammad s.a.w. dan dalam
rangka peningkatan kehidupan keagamaan mereka sendiri. Pada
masa-masa awal sebelum dan setelah Muhammadiyah didirikan, Kyai
Haji Ahmad Dahlan lebih menekankan usahanya dengan
menginsyafkan beberapa 15 Orang keluarganya serta teman-teman
sejawatnya di Yogyakarta dengan menyalurkan cara-cara berfikir
baru melalui pengajian-pengajian dan ceramah agama.
Kegiatan-kegiatan tersebut dapat dilihat melalui keterlibatannya
dalam organisasi Budi Utomo dan Syarikat Islam
(SI).Muhammadiyah secara resmi didirikan di Yogyakarta pada
tanggal 18 November 1912 M, bertepatan dengan tanggal 18
Dzulhijjah 1330 H oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan. Para tokoh yang
turut menjadi anggota pimpinan Muhammadiyah pada masa
berdirinya itu adalah:

1. Kyai Haji Ahmad Dahlan (Ketua)


2. Abbdullah Siradj (Sekretaris)
3. Haji Achmad
4. Haji Sarkawi
5. Haji Muhammad
6. Raden Haji Djaelani
7. Haji Anies
8. Haji Muhammad Pakih
Pada tanggal 20 Desember 1912 organisasi baru ini mengajukan
permohonan badan hukum kepada pemerintahan kolonial Belanda
dengan dilengkapi Rancangan Anggaran Dasarnya. Namun
pemerintah Belanda belum memberikannya, karena masih merasa
keberatan atas territorial yang meliputi Jawa dan Madura yang
tercantum dalam Rancangan Anggaran Dasar itu. Atas nasehat
Liefrinck-Resident kolonia Belanda di Yogyakarta dan Rinkers,
seorang penasihat untuk urusan pribumi. Akhirnya Gubernur Jendral
Hindia Belanda mengeluarkan Besluit No. 18, tertanggal 22 Agustus
1914 sebagai pengakuan secara legal atas berdirinya Muhammadiyah
dengan wilayah operasionalnya terbatas pada residensi
Yogyakarta.Setelah Muhammadiyah menerima Besluit tersebut,
selanjutnya organisasi itu merumuskan tujuannya sebagai berikut:
 Menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad
s.a.w kepada penduduk Indonesia di dalam residensi
Yogyakarta.
 Memajukan hal agama kepada anggota-anggotanya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Muhammadiyah memulai
gerakannya secara sederhana. Pada mulanya kurang terlihat adanya
pembagian kerja dengan tugas dari para pimpinanya yang terdiri dari
sembilan orang itu. Menurut Deliar Noer (1991), hal ini disebabkan
oleh masih terbatasnya daerah aktifitas yang hanya meliputi Kauman
Yogyakarta saja.
Sampai pada tahun 1917 gerakan Muhammadiyah masih terbatas di
kota Yogyakarta saja. Kegiatan yang dilaksanakann masih terbatas
pengajian-pengajian dengan menteri keagamaan dan keorganisasian.
Bertepatan menjelang diselenggarakannya Kongres ke-9 Budi Utomo
pada tahun 1917, pembenahan administrasipun dimulai untuk
menyambut pengembangan Muhammadiyah keluar Yogyakarta.
Momentum yang sangat tepat telah diperoleh Muhammadiyah ketika
Kyai Haji Ahmad Dahlan mendapat kesempatan untuk ber-tabligh
dalam konggres Budi Utomo. Tabligh Kyai Haji Ahmad Dahlan
sangat menarik para peserta konggres yang banyak di antara mereka
datang dari luar kota Yogyakarta, sehingga kemudian
Muhammadiyah banyak menerima permohonan yang datang dari
beberapa daerah diJawa untuk mendirikan cabangnya.Setelah
keluarnya izin pemerintah untuk mendirikan cabang-cabangnya di
luar Yogyakarta dan Jawa pada tahun 1921, maka mulailah gerakan
tersebut meluas hingga ke Surabaya, Srandakan, Imogiri, Blora,
Kepanjen,(cabang-cabangnya berdiri tahun 1921), Solo, Purwokerto,
Pekalongan, Pekajangan, Banyuwangi, Jakarta, dan Garut (cabang-
cabangnya berdiri tahun 1922). Pada tahun 1925 berdiri cabang
Muhammadiyah di Kudus dan pada tahun itu juga, Muhammadiyah
telah mendirikan cabangnya di Padang Panjang, Sumatera Barat.
Hingga tahun 1938 cabang Muhammadiyah telah merata ke seluruh
daerah di Hindia – Belanda.Seiring dengan berkembanganya
Muhammadiyah secara kelembagaan merata di seluruh daerah
Nusantara hingga masa kemerdekaan, dari ide pembaharuan pun turut
berkembang pula. Namun antara keduanya semakin memiiki rentan
jarak yang makin tidak seimbang. Dengan arti kata bahwa
pembaharuan yang dapat diukur dengan menggunakan standar amal
praktis kelihatan melaju, sementaraide pembaharuan dalam bidang
pemikiran dipandang mengalami gejala kemandekan. Gejala
kemandegan ini diduga muncul dari adanya aspek “rutinitas”, yaitu
17 Keasyikan para pemimpin dalam mengeluti urusan-urusan teknis
keseharian organisasi sehingga melengahkan dan mematikan
dinamika berfikir serta kreatifitas dalam meresponi persoalan-
persoalan mendasar yang terus berkembang.

1.4 Perkembangan muhammadiyah


 Perkembanngan secara Vertikal
Dari segi perkembangan secara vertikal, Muhammadiyah telah
berkembang ke seluruh penjuru tanah air. Akan tetapi, dibandingkan
dengan perkembangan organisasi NU, Muhammadiyah sedikit
ketinggalan. Hal ini terlihat bahwa jamaah NU lebih banyak dengan
jamaah Muhammadiyah. Faktor utama dapat dilihat dari segi usaha
Muhammadiyah dalam mengikis adat-istiadat yang mendarah daging
di kalangan masyarakat, sehingga banyak menemui tantangan dari
masyarakat.
 Perkembangan secara Horizontal
Dari segi perkembangan secara Horizontal, amal usaha Muhamadiyah
telah banyak berkembang, yang meliputi berbagai bidang kehidupan.
Perkembangan Muhamadiyah dalam bidang keagamaan terlihat
dalam upaya-upayanya, seperti terbentukanya Majlis Tarjih (1927),
yaitu lembaga yang menghimpun ulama-ulama dalam
Muhammadiyah yang secara tetap mengadakan permusyawaratan dan
memberi fatwa-fatwa dalam bidang keagamaan, serta memberi
tuntunan mengenai hukum. Majlis ini banyak telah bayak memberi
manfaat bagi jamaah dengan usaha-usahanya yang telah dilakukan:
1. Memberi tuntunan dan pedoman dalam bidang ubudiyah sesuai
dengan contoh yang telah diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
2. Memberi pedoman dalam penentuan ibadah puasa dan hari raya
dengan jalan perhitungan “hisab” atau “astronomi” sesuai dengan
jalan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
3. Mendirikan mushalla khusus wanita, dan juga meluruskan arah
kiblat yang ada pada amasjid-masjid dan mushalla-mushalla sesuai
dengan arah yang benar menurut perhitungan garis lintang.
4. Melaksanakan dan menyeponsori pengeluaran zakat pertanian,
perikanan, peternakan, dan hasil perkebunan, serta amengatur
pengumpulan dan pembagian zakat fitrah.
5. Memberi fatwa dan tuntunan dalam bidang keluarga sejahtera dan
keluarga berencana.
6. Terbentuknya Departemen Agama Republik Indonesia juga
termasuk peran dari kepeloporan pemimpin Muhammadiyah.
7. Tersusunnya rumusan “Matan Keyakinan dan Cita-Cita hidup
Muhammadiyah”, yaitu suatu rumusan pokok-pokok agama Islam
secara sederhana, tetapi menyeluruh.
Dalam bidang pendidikan, usaha yang ditempuh Muhammadiyah
meliputi:
1. mendirikan sekolah-sekolah umum dengan memasukkan ke
dalamnya ilmu-ilmu keagamaan, dan
2. mendirikan madrasah-madrasah yang juga diberi pendidikan
pengajaran ilmu-ilmu pengetahuan umum.
Dengan usaha perpaduan tersebut, tidak ada lagi pembedaan mana
ilmu agama dan ilmu umum. Semuanya adalah perintah dan dalam
naungan agama.
Dalam bidang kemasyarakatan, usaha-usaha yang telah dilakukan
Muhammadiyah meliputi:
1. Mendirikan rumah-rumah sakit modern, lengkap dengan segala
peralatan, membangun balai-balai pengobatan, rumah bersalin,
apotek, dan sebagainya.
2. Mendirikan panti-panti asuhan anak yatim, baik putra maupun
putri untuk menyantuni mereka.
3. Mendirikan perusahaan percetakan, penerbitan, dan toko buku
yang banyak memublikasikan majalah-majalah, brosur dan buku-
buku yang sangat membantu penyebarluasan paham-paham
keagamaan, ilmu, dan kebudayaan Islam.
4. Pengusahaan dana bantuan hari tua, yaitu dana yang diberikan pada
saat seseorang tidak lagi bisa abekerja karena usia telah tua atau cacat
jasmani.
5. Memberikan bimbingan dan penyuluhan keluarga mengenai hidup
sepanjang tuntunan Ilahi.
Dalam bidang politik, usaha-usaha Muhammadiyah meliputi:
1. Menentang pemerintah Hindia Belanda yang mewajibkan pajak
atas ibadah kurban. Hal ini berhasil dibebaskan.
2. Pengadilan agama di zaman kolonial berada dalam kekuasaan
penjajah yang tentu saja beragama Kristen. Agar urusan agama di
Indonesia, yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, juga
dipegang oleh orang Islam, Muhammadiyah berjuang ke arah cita-
cita itu.
3. Ikut memelopori berdirinya Partai Islam Indonesia. Pada tahun
1945 termasuk menjadi pendukung utama berdirinya partai Islam
Masyumi dengan gedung Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah
Yogyakarta sebagai tempat kelahirannya.
4. Ikut menanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia
di kalangan umat Islam Indonesia dengan menggunakan bahasa
Indonesia dalam tabligh-tablighnya, dalam khotbah ataupun tulisan-
tulisannya.
5. Pada waktu Jepang berkuasa di Indonesia, pernah seluruh bangsa
Indonesia diperintahkan untuk menyembah dewa matahari, tuhan
bangsa Jepang. Muhammadiyah pun diperintah untuk melakukan Sei-
kerei, membungkuk sebagai tanda hormat kepada Tenno Heika, tiap-
tiap pagi sesaat matahari sedang terbit. Muhammadiyah menolak
perintah itu.
6. Ikut aktif dalam keanggotaan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia)
dan menyokong sepenuhnya tuntutan Gabungan Politik Indonesia
(GAPI) agar Indonesia mempunyai parlemen di zaman penjajahan.
Begitu juga pada kegiatan-kegiatan Islam Internasional, seperti
Konferensi Islam Asia Afrika, Muktamar Masjid se-Dunia, dan
sebagainya, Muhammadiyah ikut aktif di dalamnya.
7. Pada saat partai politik yang bisa amenyalurkan cita-cita
perjuangan Muhammadiyah tidak ada, Muhammadiyah tampil
sebagai gerakan dakwah Islam yang sekaligus mempunyai fungsi
politik riil. Pada saat itu, tahun 1966/1967, Muhammadiyah dikenal
sebagai ormaspol, yaitu organisasi kemasyarakatan yang juga
berfungsi sebagai partai politik.
Dengan semakin luasnya usaha-usaha yang dilakukan oleh
Muhammadiyah, dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja yang
berkedudukan sebagai badan pembantu pemimpin persyarikatan.
Kesatuan-kesatuan kerja tersebut berupa majelis-majelis dan badan-
badan. Selain majelis dan lembaga, terdapat organisasi otonom, yaitu
organisasi yang bernaung di bawah organisasi induk, dengan amasih
tetap memiliki kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri.
Dalam persyarikatan Muhammadiyah, organisasi otonom (Ortom) ini
ada beberapa buah, yaitu:
1. ‘Aisyiyah
2. Nasyiatul ‘Aisyiyah
3. Pemuda Muhammadiyah
4. Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM)
5. Ikatan Mahasiswa Muhamadiyyah (IMM)
6. Tapak Suci Putra Muhamadiyah
7. Gerakan Kepanduan Hizbul-Wathan
Organisasi-organisasi otonom tersebut termasuk kelompok Angkatan
Muda Muhammadiyah (AMM). Keenam organisasi otonom ini
berkewajiban mengemban fungsi sebagai pelopor, pelangsung, dan
penyempurna amal usaha Muhammadiyah.
BAB IV.VISI,MISI DAN TUJUAN

1.4. VISI

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-


Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa istiqomah dan aktif
dalam melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar di semua bidang
dalam upaya mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin menuju
terciptanya/terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

2.4.MISI

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar


memiliki misi :

1. Menegakkan keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah SWT
yang dibawa oleh para Rasul sejak Nabi Adam as. hingga Nabi Muhammad
saw.

2. Memahami agama dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa


ajaran Islam untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan
kehidupan.

3. Menyebar luaskan ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an sebagai


kitab Allah terakhir dan Sunnah Rasul untuk pedoman hidup umat manusia.

4. Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan


masyarakat.
Bab V.Kesimpulan

Munculnya gerakan pembaharuan di dunia islam secara umum merupakan


pengaruh dari perubahan sosial orang Barat, yang disebabakan oleh kemajuan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sementara itu pada saat yang sama kejayaan
umat islam yang telah berabab-abab menguasai dunia semakin mundur. Kondisi
itu terus berlanjut sehingga bangsa barat dapat menguasai dunia islam. Dalam
keadaan semacam ini, muncullah para tokoh pembeharu islam yang berusaha
untuk membangkitkan kembali kejayaan islam. Mereka berusaha menyadarkan
umat islam agar dapat lepaskan diri dari dominasi Barat dan mengejar
ketertinggalan dengan menyesuaikan diri pada kondisi yang ada. Gerakan ini
mulai muncul pada awal abad ke-19 M. Dan kemudian dikenal dengan nama
“gerakan pembaruan” dalam islam. Segera setelah kemunculannya di Jawa
Tengah, gerakan pembaruan dalam islam selanjutnya merambah keseluruh
penjuru dunia islam yang pada umumnya memiliki nasib serupa, yaitu di bawah
dominasi bangsa Barat, termasuk kepulauan Nusantara yang dihuni mayoritas
oleh umat islam. Tapi gerakan pembaharuan di kepulauan Nusantara ini baru
terlihat secara pesat pada abab ke-20 M, ditandai dengan munculnya berbagai
organsasi islam yang bercorak modernis, seperti Syarikat Islam (SI), Persis,
Muhammadiyah. Melalui berbagai amal usaha sosial ini, Muhammadiyah
segera dikenal oleh berbagai lapisan masyarakat, dan semakin banyak anggota
sertsosialnya simpatisannya, sehingga amal usaha Muhammadiyah memperoleh
kemajuan yang pesat. Semua amal usaha Muhammadiyah yang merupakan
realisasi dari gerakan sosialnya itu, dimaksudkan untuk mengamalkan perintah
Alloh dan itttiba kepada Rasul-Nya. Menurut keyakinan Muhammadiyah,
semua amal usaha itu pada demikian, maka implikasi paham keagamaannya
dalam setiap gerakan sosial intens. Paham keagamaan Muhammadiyah yang
pada garis besarnya meliputi pesoalan Aqidah, Akhlaq, Ibadah, dan Mu’amalah
itu, secara umum masih relevan dan konduksif terhadap perubahan tuntunan
zaman. Kemungkinan ini terutama dapat dilihat dengan adanya sikap
keterbukaan Muhammadiyah terhadap adanya berbagai perkembangandan
perubahan baru, serta semangat ijtihadnyayang masih tetap dipertahankan
sebagai ciri khas gerakan ini. Dalam bidang ibadah, Muhammadiyah juga secara
ketat merujuk pada al-Qur’an dan as-Sunnah secara langsung. Tetapi persoalan
yang muncul kemudian adalah kesiapan Muhammadiyah sendiri, terutama dari
segi sumber manusia yang akan menjadi penggerak utama untuk menghadapi
perubahan dan perkembangan.
Bab VI. Penutup

Ahmad Dahlan (bernama kecil Muhammad Darwisy), adalah pelopor dan bapak
pembaharuan Islam. Kyai Haji kelahiran Yogyakarta, 1 Agustus 1868, inilah
yang mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912.
Pahlawan Nasional Indonesia ini wafat pada usia 54 tahun di Yogyakarta, 23
Februari 1923. Pada saat Ahmad Dahlan melontarkan gagasan pendirian
Muhammadiyah, ia mendapat tantangan bahkan fitnahan, tuduhan dan hasutan
baik dari keluarga dekat maupun dari masyarakat sekitarnya. Ia dituduh hendak
mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya
kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-
macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya.
Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan
hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah
air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. Atas jasa-jasa KH Ahmad Dahlan
dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan
pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai
Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961.
Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional didasarkan pada empat pokok penting
yakni: Pertama, KH Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat
Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus
belajar dan berbuat. Atas jasa-jasa KH Ahmad Dahlan dalam membangkitkan
kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka
Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional
dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Penetapannya sebagai
Pahlawan Nasional didasarkan pada KH Ahmad Dahlan telah mempelopori
kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah
yang masih harus belajar dan berbuat