Anda di halaman 1dari 5

MEMANFAATKAN POTENSI PERTANIAN,

LANGKAH DESA JEMBATAN BASAH


MENUJU DESA YANG MANDIRI

Gambar 1. Kakao menjadi salah satu potensi pertanian


Yang bisa dikembangkan di Desa jemabatan Basah

Setiap Desa di Indonesia tentu mengharapkan untuk bisa menjadi Desa


yang mandiri, tidak terkecuali Desa Jembatan Basah. Desa yang terletak di
Kecamatan Bula Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Provinsi Maluku,
memiliki impian besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui
pengembangan potensi Pertanian dan Perkebunan. Hal tersebut juga
diungkapkan oleh Kepala Desa Jembatan Basah, Ibrahim Boinauw. Beliau
mengungkapkan bahwa Desa ini memiliki potensi besar di bidang pertanian dan
perkebunan, terutama untuk tanaman hortikultura dan palawija, mengingat
luasnya lahan pertanian yang tersedia, yaitu lebih dari 250 Ha, dan kondisi tanah
yang subur memungkinkan berbagai jenis tanaman untuk tumbuh. Salah satu
potensi perkebunan yang paling berkembang di Desa jembatan Basah dan
kecamatan Bula Barat ini adalah perkebunan Kakao.
Jika dibandingkan dengan kecamatan lain di kabupaten Seram Bagian
Timur, Kecamatan Bula Barat merupakan salah satu daerah penghasil kakao
tertinggi. Berdasarkan data yang diambil pada tahun 2015, Kecamatan Bula Barat
memiliki luas tanaman perkebunan kakao seluas 198 Ha dengan produktifitas
rata-rata mencapai 1,2 ton/Ha. Pada tahun 2015 Kecamatan Bula Barat sudah
memproduksi kakao sebanyak 89 ton. Jumlah petani kakao di kecamatan
tersebut yaitu sebanyak 901 orang. Di Desa Jemabatan Basah sendiri sudah ada
lahan sekitar 25 Ha yang diusahakan untuk perkebunan kakao. Meski demikian,
para petani melakukan budidaya kakao dengan teknik yang masih sangat
tradisional. Bahkan beberapa masyarakat di Desa hanya membiarkan kakao
tumbuh dengan sendirinya tanpa ada perawatan yang intensif. Hasilnya, kakao
yang dikembangkan banyak terserang hama dan penyakit yang menyebabkan biji
kakao yang di produksi tidak memiliki kualitas yang baik. Selain itu biji kakao
yang dijual petani hanya sampai pada pedagang pengumpul, dengan harga yang
relatif kecil. Hal ini membuat perkebunan kakao tidak menjadi penghasilan
utama masyarakat di Desa Jembatan Basah. Masyarakat lebih memilih untuk
bertani sayuran.
Selain teknik budidaya yang masih sangat tradisional, masyarakat juga
masih belum mengenal pengolahan kakao secara utuh. Masyarakat biasanya
hanya menjual biji kakao yang dikeringkan tanpa melakukan proses untuk
dilakukan pengolahan lebih lanjut. Padahal dari biji kakao sebenarnya dapat
dihasilkan berbagai produk setengah jadi seperti bungkil, pasta, dan yang paling
banyak dikenal masyarakat yaitu bubuk kakao. Lebih jauh lagi, menurut Ruku
(2008) pengolahan biji kakao dapat dilakukan sampai ke tahap finished product
yang pasarnya bisa sampai ke luar negeri. Untuk melakukan pengolahan tersebut
tentu saja membutuhkan peralatan yang tidak sederhana, terutama untuk
mencapai finished product. Akan tetapi jika Desa ini konsisten dalam
memproduksi kakao, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan akan
ada investor yang melirik perkebunan kakao di Desa tersebut. Pemanfaatan kulit
kakao juga sebenarnya tidak hanya sebatas pada bijinya saja. Kulit buah kakao
juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk unggulan lain, seperti
pakan ternak dan pupuk organik. Pengolahan buah kakao secara utuh tentu akan
mneguntungkan para petani, karena mereka kakao tidak hanya mendapatkan
penghasilan dari hasil penjualan biji saja, tapi juga dari hasil pengolahan kulit
buah kakao menjadi pupuk dan pakan ternak hasil olahan kulit kakao.
Potensi pertanian di Desa Jemabatan Basah tidak hanya berhenti di Kakao
saja. Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2015, Kecamatan Bula Barat
juga menjadi salah satu Kecamatan dengan produksi jagug tertinggi yaitu sebesar
201 ton dari luas panen 50 Ha, dan Desa Jembatan Basah menjadi salah satu
penghasil jagung tertinggi di Kecamatan Bula barat bersama dengan Desa
Banggoi R. Saat ini Desa Jembatan Basah juga sedang mengadakan program
penanaman jagung seluas 250 Ha. Bibit jagung yang ditanam adalah bibit jagung
hibrida yang merupakan bantuan dari Dinas Pertanian. Sementara Desa
menyediakan lahan untuk penanaman menggunakan Anggaran Dana Desa.

Gambar 2. Kecamatan bula Barat sebagai salah satu daerah penghasil


Jagung tertinggi di SBT

Setiap kelompok tani disini saling bekerja sama untuk mensukseskan


program ini dengan melakukan penanaman secara serentak. Dengan adanya
program ini tentu saja Desa ini menjadi salah satu Desa yang mendapatkan
perhatian, baik itu dari pemerintah Kecamatan, maupun Kabupaten. Petani
sangat berharap program ini bisa berjalan dengan baik dan mendapatkan hasil
panen yang maksimal.

Gambar 3. Sekelompok Petani di Desa Jembatan Basah


Sedang melakukan program penanaman Jagung

Seperti halnya kakao, hasil panen jagung pun belum bisa diolah secara
dengan baik. Masyarakat lebih memilih untuk menjual jagung utuh karena dinilai
lebih praktis daripada harus mengolahnya menjadi produk olahan. Jika dalam
beberapa tahun kedepan Desa ini konsisten dalam memproduksi jagung,
Pemerintah daerah tentu harus membatu masyarakat Desa untuk
mensosialisasikan program pengolahan produk jagung, sehingga nilai jual jagung
bisa menjdai lebih tinggi, dan petani jagung bisa lebih sejahtera.
Semua Potensi pertanian yang ada di Desa ini sebenarnya bisa
dimanfaatkan oleh Badan Usaha Miliki Desa (BUMDes) sebagai Produk Unggulan
Desa (Prukades). Saat ini memang BUMDes di Jembatan Basah masih belum
berjalan, tetapi setidaknya dengan melihat potensi ini, para pengurus BUMDes
bisa tergerak untuk segera merealisasikan programnya menjadi Desa yang
Mandiri. Dalam hal ini BUMDes dapat menampung semua hasil panen (Biji kering
dan kulit kakao) dari para petani, dan kemudian dilakukan pengolahan kulit
menjadi pupuk dan pakan ternak yang dikemas dan dipasarkan dengan merek
dagang khas Desa. Selain akan menguntungkan petani kakao, Desa juga memiliki
keuntungan dengan mendapatkan pendapatan asli desa dari hasil penjualan
pengolahan kulit kakao tersebut.
Pengembangan komoditi pertanian dan perkebunan memang merupakan
suatu usaha yang tidak mudah dilakukan. Butuh ketekunan dan konsistensi, tidak
hanya dari Pemerintah Desa dan petani, tetapi juga dibutuhkan adanya
pengawasan yang terkontrol dari pemerintah daerah, sehingga aktivitas
pertanian bisa berjalan dengan baik dan menguntungkan masyarakat di Desa.
Semua stakeholder yang terkait harus saling bekerjasama untuk membangun
Desa, Karena bagaimanapun, faktor yang paling menetukan dalam proses
pembangunan Desa bukanlah sumber daya alam yang melimpah, melainkan
kualitas sumber daya manusianya. -