Anda di halaman 1dari 10

KASUS ETIKA BISNIS "SKANDAL EMISI

VOLKSWAGEN"

Disusun oleh:

Andika Saputra 16312367


Fajar Maulana 16312352
Revaldo Ramadan 16312355

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA 2017/2018
KASUS ETIKA BISNIS "SKANDAL EMISI
VOLKSWAGEN"

Volkswagen (biasa disingkat VW) adalah sebuah perusahaan mobil yang berbasis
Wolfsburg, Lower Saxony, Jerman. Perusahaan ini didirikan oleh Serikat Buruh Jerman
(Deutsche Arbeitsfront) pada tahun 1937. Volkswagen merupakan merk asli dari Grup
Volkswagen, yang juga membawahi beberapa merk mobil lain seperti Audi, Bentley
Motors,Bugatti Automobiles, Automobili Lamborghini, SEAT, Škoda Auto dan sebuah pabrikan
kendaraan komersial Scania. Volkswagen mempunyai 3 mobil yang masuk di daftar 10 mobil
paling laris sepanjang sejarah menurut situs web 24/7 Wall St: Volkswagen Golf, Volkswagen
Beetle, dan Volkswagen Passat. Pada saat itu dipilihlah Ferdinand Porsche sebgai pengembang
proyek mobil ini. Pada saat itu Porsche sudah menjadi desainer Mercedes 170H dan juga pernah
bekerja pada Steyr untuk beberapa saat akhir 1920an.Dr. Ferdinand Porsche setuju untuk
membuatkan mobil rakyat tersebut untuk Hitler. Perbaikan pada efisiensi bahan bakar, daya
tahan, penggunaan mudah, dan suku cadang yang murah dan efisien terus diusahakan dalam
proyek VW ini. Kemudian muncullah prototipe mobil dengan nama “KdF-Wagen” yang dibuat
di Stuttgart pada tahun 1936. Mobil ini sudah memiliki mesin berpendingin udara, 4 silinder,
dan terletak di belakang.Nama perusahaan pun dibuat dengan nama Gesellschaft zur
Vorbereitung des Deutschen Volkswagens mbH pada 28 Mei 1937.

Tanggal 16 September 1938 namanya diganti menjadi “Volkswagenwerk GmbH”.


Pada saat berperang dengan Sekutu, seluruh industri di Jerman akan ditahan. Produksi mobil-
mobil Jerman pada saat itu pun dibatasi sampai maksimal 10% dari jumlah produksi mobil tahun
1936.Pabrik Volkswagen di Wolfsburg dikontrol oleh Inggris pada tahun 1945 meskipun tidak
ada pabrikan Inggris yang mau mengambil alih pabrik.Pabrik pun bertahan dengan memproduksi
mobil untuk Angkatan Darat Inggris. Sekutu pun akhirnya mengubah kebijakan “pembongkaran”
mereka di akhir 1946 sampai pertengahan 1947, meski kebijakan untuk industri alat berat tetap
berlanjut sampai tahun 1951. Berkat jasa seorang Angkatan Darat Inggris Ivan Hirst, Volkswagen
berhasil bertahan di waktu-waktu yang sulit ini, untuk kemudian bangkit dan menjadi bagian dari
pemulihan ekonomi Jerman.
Kini, Volkswagen mempunyai pabrik di banyak negara di dunia, baik pabrik produksi maupun
perakitan untuk pasar lokal. Pabrik milik Volkswagen tersebar di Jerman, Slowakia, China, India,
Indonesia, Rusia, Brasil, Argentina, Portugal, Spanyol, Polandia, Meksiko, Bosnia dan
Herzegovina, dan Afrika Selatan. Volkswagen juga punya pabrik baru di Amerika Serikat.
Perusahaan akhirnya memutuskan untuk melakukan merger dengan Porsche yang merupakan
perusahaan mobil sport yang berpusat di Zuffenhausen karena hubungan baik yang telah lama
dijalin oleh kedua perusahaan ini. Selain itu kedua perusahaan juga telah melakukan beberapa
kolaborasi dan kerjasama dalam memproduksi beberapa produk mobil.

Namun seiring berjalannya waktu Skandal emisi Volkswagen terungkap pada September
2015 ketika mereka mengakui kecurangan dalam tes emisi di Amerika Serikat (AS).
Sekitar 600.000 unit di AS dan 11 juta unit mobil berbahan bakar disel di seluruh dunia
yang terkena selama kecurangan itu terjadi enam tahun.Kasus ini bukan sekadar recall
karena cacat komponen. Bahkan Chief Executive Officer (CEO) Volkswagen saat itu
Martin Winterkorn telah mengundurkan diri. Para pakar otomotif menyebut skandal ini
sebagai kegagalan sistemik yang disengaja Demikian heboh skandal ini hingga aktor dan
aktivis lingkungan hidup Leonardo DiCaprio hendak membuatkan film tentang hal ini.
Demikian heboh skandal ini hingga aktor dan aktivis lingkungan hidup Leonardo
DiCaprio hendak membuatkan film tentang hal ini.Departemen Perlindungan Lingkungan
Hidup AS (Environmental Protection Agency) dan California Air Resources Board
menyatakan Volkswagen menggunakan software yang dirancang untuk mengelabui hasil
tes emisi di AS selama hampir satu dekade. VW juga mengakui bahwa mereka
melakukan hal yang sama untuk 11 juta unit mobil di seluruh dunia. Kerugian VW
sebagai produsen mobil terbesar kedua di dunia ini jika dihitung dari turunnya nilai
saham mencapai US$ 29 miliar. Kepercayaan konsumen AS diduga merosot tajam.
Bahkan Departemen Perlindungan Lingkungan Hidup AS (Environmental Protection
Agency) menyatakan VW bisa dikenakan penalti US$ 18 miliar.Sedangkan US
Department of Justice akan menggugat perdata hingga US$ 90 miliar dengan perincian
penalti US$ 37.500 per unit. Diperkirakan para pengguna yang terkena akan juga
melakukan class action lawsuit, sehingga jumlah kerugian VW semakin membengkak.
Software ini juga pada saat yang sama menyalakan komponen khusus yang
menurunkan emisi. Namun komponen tersebut tidak bekerja ketika unit mobil sedang
berjalan di jalan raya, sehingga emisi yang dihasilkan melebihi standar. Mengapa
demikian? Tujuannya mungkin meningkatkan akselerasi, daya tarik, dan hemat bahan
bakar. Sampai sekarang, belum jelas komponen sistem bagian mana yang telah
dimodifikasi. Para pakar berpendapat bahwa emisi berlebihan yang dihasilkan dari
kecurangan ini dapat mengakibatkan masalah pernapasan, seperti emfisema, bronkitis
dan sebagainya. Lalu, tes yang mana yang berhasil mengungkap adanya kecurangan
tersebut? Tes di jalan (on-road testing) di bulan Mei 2014 yang dijalankan di West
Virginia University menarik perhatian California Air Resources Board. Dua model VW
dengan spesifikasi mesin disel 4 silinder dengan turbocharge 2 liter menghasilkan
nitrogen oksida 40 kali lipat batas legal.Yang menarik, dari kasus skandal emisi VW ini,
ternyata ini bukan yang kali pertama di Amerika Serikat. Di tahun 1970an, Amerika
Serikat, VW termasuk salah satu dari beberapa produsen mobil yang nakal dan tertangkap
kecurangannya.Di tahun 1973, VW terkena dipenalti US$ 120.000 karena menginstalasi
alat tertentu yang mematikan sistem kontrol polusi. Dan ternyata, beberapa dekade
kemudian, VW kembali mengelabui konsumennya

Pelanggaran yang dilakukan VW

1. Jika dilihat menurut UUD,

VW sudah melanggar beberapa pasal, yaitu :


Pasal 4, hak konsumen adalah :
Ayat 1 : “hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa”.
Ayat 3 : “hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa”.
Pasal 7, kewajiban pelaku usaha adalah :
Ayat 2 : “memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan
pemeliharaan”
Pasal 8
Ayat 1 : “Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang
dan/atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan
dan ketentuan peraturan perundang-undangan”
Ayat 4 : “Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang
memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari peredaran”
Pasal 19 :
Ayat 1 : “Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa
yang dihasilkan atau diperdagangkan”
Ayat 2 : “Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian
uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau
perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku”
Ayat 3 : “Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah
tanggal transaksi”
Menurut pasal tersebut, PT Nabisco harus memberikan ganti rugi kepada konsumen
karena telah merugikan para konsumen.

VW pun telah mempersiapkan provisi US$ 7,3 miliar untuk mengatasi masalah
ini. Bagi setiap unit mobil yang terkena problem ini, akan disediakan US$ 1.000 dengan
perincian US$ 500 untuk perbaikan dan US$ 500 untuk produk VW lainnya. Angka ini
jelas tidak mencukupi, tapi merupakan langkah awal yang menunjukkan itikad baik (good
faith) VW.

Selain itu, mereka juga sedang mempertimbangkan untuk buyback alias membeli
kembali unit-unit yang telah terjual. Meskipun, sampai saat ini, belum ada realisasi pasti.
jadi pertanyaan adalah, bagaimana VW bisa melakukan kecurangan itu selama hampir
satu dekade? Jawaban singkat teknisnya: software khusus yang dirancang untuk
mendeteksi bahwa unit mobil sedang dites pengeluaran emisinya akan menyala secara
otomatis.
Selama ini, masyarakat mengesankan VW adalah kendaraan praktis, ekonomis,
dan bertanggung jawab. Branding yang mereka lakukan cukup berhasil, namun
sayangnya tidak disertai dengan etika bisnis terbaik. Pelajaran berharga bagi semua
bisnis. Perbaiki setiap masalah yang timbul secepat mungkin. Semakin lama ditunggu,
semakin tinggi biaya perbaikan.
Jangan cari-cari masalah dengan mengelabui konsumen karena akhirnya akan ketahuan
juga. Ingat, kepercayaan konsumen sangat menentukan keberhasilan setiap bisnis. Produk
apapun yang dijual dengan kepercayaan konsumen, niscaya sukses di pasar.

2. Jika dilihat menurut sudut pandang Etika Bisnis,

A. Pelanggaran Prinsip Etika Bisnis yang dilakukan olehVW yaitu


Prinsip Kejujuran

Perusahaan tidak memberikan peringatan kepada konsumennya mengenai kandungan


yang ada pada produk mereka yang sangat berbahaya untuk kesehatan dan perusahaan
juga tidak memberi tahu.
Melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan pada dasarnya boleh
dilakukan asal tidak merugikan pihak mana pun dan tentu saja pada jalurnya. Disini
perusahaan seharusnya lebih mementingkan keselamatan konsumen yang menggunakan
produknya karena dengan meletakkan keselamatan konsumen diatas kepentingan
perusahaan maka perusahaan itu sendiri akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar
karena kepercayaan / loyalitas konsumen terhadap produk itu sendiri.

B. Pelanggaran etika bisnis terhadap hukum

Sebuah perusahaan X karena kondisi perusahaan yang pailit akhirnya memutuskan


untuk PHK kepada karyawannya. Namun dalam melakukan PHK itu, perusahaan sama
sekali tidak memberikan pesangon sebagaimana yang diatur dalam UU No. 13/2003
tentang Ketenagakerjaan. Dalam kasus ini perusahaan x dapat dikatakan melanggar
prinsip kepatuhan terhadap hukum.

C. Pelanggaran etika bisnis terhadap transparansi

Sebuah Yayasan X menyelenggarakan pendidikan setingkat SMA. Pada tahun ajaran


baru sekolah mengenakan biaya sebesar Rp 500.000,- kepada setiap siswa baru. Pungutan
sekolah ini sama sekali tidak diinformasikan kepada mereka saat akan mendaftar,
sehingga setelah diterima mau tidak mau mereka harus membayar. Disamping itu tidak
ada informasi maupun penjelasan resmi tentang penggunaan uang itu kepada wali murid.
Setelah didesak oleh banyak pihak, Yayasan baru memberikan informasi bahwa uang itu
dipergunakan untuk pembelian seragama guru. Dalam kasus ini, pihak Yayasan dan
sekolah dapat dikategorikan melanggar prinsip transparansi

D,Pelanggaran etika bisnis terhadap akuntabilitas

Sebuah RS Swasta melalui pihak Pengurus mengumumkan kepada seluruh karyawan


yang akan mendaftar PNS secara otomotais dinyatakan mengundurkan diri. A sebagai
salah seorang karyawan di RS Swasta itu mengabaikan pengumuman dari pihak pengurus
karena menurut pendapatnya ia diangkat oleh Pengelola dalam hal ini direktur, sehingga
segala hak dan kewajiban dia berhubungan dengan Pengelola bukan Pengurus.

Pihak Pengelola sendiri tidak memberikan surat edaran resmi mengenai kebijakan
tersebut.Karena sikapnya itu, A akhirnya dinyatakan mengundurkan diri. Dari kasus ini
RS Swasta itu dapat dikatakan melanggar prinsip akuntabilitas karena tidak ada kejelasan
fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban antara Pengelola dan Pengurus Rumah
Sakit.

E. Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip pertanggungjawaban


Sebuah perusahaan PJTKI di Jogja melakukan rekrutmen untuk tenaga baby sitter.
Dalam pengumuman dan perjanjian dinyatakan bahwa perusahaan berjanji akan
mengirimkan calon TKI setelah 2 bulan mengikuti training dijanjikan akan dikirim ke
negara-negara tujuan. Bahkan perusahaan tersebut menjanjikan bahwa segala biaya yang
dikeluarkan pelamar akan dikembalikan jika mereka tidak jadi berangkat ke negara
tujuan. B yang terarik dengan tawaran tersebut langsung mendaftar dan mengeluarkan
biaya sebanyak Rp 7 juta untuk ongkos administrasi dan pengurusan visa dan paspor.
Namun setelah 2 bulan training, B tak kunjung diberangkatkan, bahkan hingga satu tahun
tidak ada kejelasan. Ketika dikonfirmasi, perusahaan PJTKI itu selalu berkilah ada
penundaan, begitu seterusnya. Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa Perusahaan PJTKI
tersebut telah melanggar prinsip pertanggungjawaban dengan mengabaikan hak-hak B
sebagai calon TKI yang seharusnya diberangnka ke negara tujuan untuk bekerja.

F. Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip kewajaran

Sebuah perusahaan property ternama di Yogjakarta tidak memberikan surat ijin


membangun rumah dari developer kepada dua orang konsumennya di kawasan kavling
perumahan milik perusahaan tersebut. Konsumen pertama sudah memenuhi
kewajibannya membayar harga tanah sesuai kesepakatan dan biaya administrasi
lainnya.Sementara konsumen kedua masih mempunyai kewajiban membayar kelebihan
tanah, karena setiap kali akan membayar pihak developer selalu menolak dengan alasan
belum ada ijin dari pusat perusahaan (pusatnya di Jakarta).Yang aneh adalah di kawasan
kavling itu hanya dua orang ini yang belum mengantongi izin pembangunan rumah,
sementara 30 konsumen lainnya sudah diberi izin dan rumah mereka sudah dibangun
semuannyaAlasan yang dikemukakan perusahaan itu adalah ingin memberikan pelajaran
kepada dua konsumen tadi karena dua orang ini telah memprovokasi konsumen lainnya
untuk melakukan penuntutan segera pemberian izin pembangunan rumah. Dari kasus ini
perusahaan property tersebut telah melanggar prinsip kewajaran (fairness) karena tidak
memenuhi hak-hak stakeholder (konsumen) dengan alasan yang tidak masuk akal.
G. Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip kejujuran

Sebuah perusahaan pengembang di Sleman membuat kesepakatan dengan sebuah


perusahaan kontraktor untuk membangun sebuah perumahan. Sesuai dengan kesepakatan
pihak pengembang memberikan spesifikasi bangunan kepada kontraktor. Namun dalam
pelaksanaannya, perusahaan kontraktor melakukan penurunan kualitas spesifikasi
bangunan tanpa sepengetahuan perusahaan pengembang. Selang beberapa bulan kondisi
bangunan sudah mengalami kerusakan serius. Dalam kasus ini pihak perusahaan
kontraktor dapat dikatakan telah melanggar prinsip kejujuran karena tidak memenuhi
spesifikasi bangunan yang telah disepakati.

H. Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip empati

Seorang nasabah, sebut saja X, dari perusahaan pembiayaan terlambat membayar


angsuran sesuai tanggal jatuh tempo karena anaknya sakit parah. X sudah
memberitahukan kepada pihak perusahaan tentang keterlambatannya membayar
angsuran, namun tidak mendapatkan respon dari perusahaan. Beberapa minggu setelah
jatuh tempo pihak perusahaan langsung mendatangi X untuk menagih angsuran dan
mengancam akan mengambil mobil yang masih diangsur itu. Pihak perusahaan menagih
dengan cara yang tidak sopan dan melakukan tekanan psikologis kepada nasabah. Dalam
kasus ini kita dapat mengakategorikan pihak perusahaan telah melakukan pelanggaran
prinsip empati pada nasabah karena sebenarnya pihak perusahaan dapat memberikan
peringatan kepada nasabah itu dengan cara yang bijak dan tepat.

Kesimpulan

Mengingat VW juga merupakan produsen Audi dan Porsche, bisa saja skandal ini juga
menurunkan omzet penjualan mereka. Bahkan, apabila spillover effect semakin melebar, image
buruk terhadap German engineering bisa semakin dalam. Efeknya bisa menyebar ke seluruh
industri permobilan asal Jerman. Selama ini, masyarakat mengesankan VW adalah kendaraan
praktis, ekonomis, dan bertanggung jawab. Branding yang mereka lakukan cukup berhasil,
namun sayangnya tidak disertai dengan etika bisnis terbaik. Pelajaran berharga bagi semua
bisnis. Perbaiki setiap masalah yang timbul secepat mungkin. Semakin lama ditunggu, semakin
tinggi biaya perbaikan. Jangan cari-cari masalah dengan mengelabui konsumen karena akhirnya
akan ketahuan juga. Ingat, kepercayaan konsumen sangat menentukan keberhasilan setiap bisnis.
Produk apapun yang dijual dengan kepercayaan konsumen, niscaya sukses di pasar.

sumber :

http://kolom.kontan.co.id/news/677/Belajar-dari-skandal-emisi-Volkswagen
http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/15/09/24/nv5dqn377-skandal-emisi-ceo-
volkswagen-mundur
https://kolom.kontan.co.id/news/677/Belajar-dari-skandal-emisi-Volkswagen