Anda di halaman 1dari 34

AKUNTANSI FORENSIK

PENYUAPAN, KORUPSI, DAN PENCUCIAN UANG


KASUS SIMULATOR SIM

Ditulis Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Forensik


Dosen Pengampu Tarmizi Achmad,PhD,Ak,CPA

Disusun oleh:

Hilda Anggraeni 12030117420074


Suhita Whini Setyahuni 12030117420059

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI & BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan
tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai “Analisis Kasus
Penyuapan, Korupsi, dan Pencucian Uang : Studi Kasus Simulator SIM”. Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Forensik
Makalah ini ditulis dengan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan
makalah.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah ini. Kami
mengharapkan pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang membangun untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi kita semua.

Semarang, Juli 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul........................................................................................... i
Kata Pengantar …………………………………………………………. ii
Daftar Isi ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Lata 1
r Belakang .................................................................................
B. Ru 2
musan Masalah …………………………………………………
C. Tuju 2
an ..............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Kro
nologi Kasus Simulator SIM .....................................................
B. Fra
d Triangle Kasus Simulator SIM ………………………………
C. Ske
ma Fraud Kasus Simulator SIM ...............................................
D. Red
Flags Kasus Simulator SIM ....................................................
E. Mo
del Deteksi Kasus Simulator SIM .............................................
F. Pe
ncegahan Kasus Simulator SIM .................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................
B. Sara
n ................................................................................................
Daftar Pustaka .........................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Terjadinya Kasus Simulator SIM


Suatu kegiatan operasional institusi kepolisian dalam Proyek
pengadaan driving simulator SIM yang menggunakan anggaran tahun 2011 mulai muncul
ketidakwajaran dalam menggunakan anggaran yang semestinya. Berdasarkan
penelusuran media informasi kasus ini berawal setelah PT CMMA, perusahaan milik
Budi Susanto, menjadi pemenang tender proyek. Perusahaan tersebut membeli barang
dari PT ITI senilai total Rp 90 miliar. Sementara nilai total tender proyek simulator roda
empat dan roda dua yang dimenangkan PT CMMA mencapai Rp 198,7 miliar. Dari
proyek tersebut, diduga muncul kerugian negara sekitar Rp 100 milyar. Maka suatu
institusi pemerintah yang bergerak dalam bidang korupsi ingin mengusut tuntas pada
kasus simulator SIM tersebut.
Untuk melakukan penyelidikan tersebut, pimpinan KPK menghadap ke Kapolri.
Namun Kapolri meminta waktu satu atau dua hari untuk mendiskusikan tindak lanjutnya
dengan alasan Polri juga tengan menyelidiki kasus tersebut. Usai pertemuan tersebut,
Bareskrim menghubungi ajudan pimpinan KPK untuk meminta waktu menghadap ketua
KPK. Kemudian disetujui untuk diadakan pertemuan. Polri berniat akan
mempresentasikan hasil penyelidikan pada KPK untuk ditingkatkan pada tahap
penyidikan dihadapan pimpinan KPK. KPK dianggap menyerobot kesepakatan untuk
melakukan pertemuan tersebut. KPK menggeledah gedung Korlantas usai para pimpinan
melakukan pertemuan. Pertemuan para pimpinan di ruang kerja Kapolri tak menyinggung
rencana KPK menggeledah gedung Korlantas Polri. Pada akhirnya, KPK datang
melakukan penggeledahan dengan mengatakan bahwa Kapolri telah mengizinkannya.
Masyarakat menduga, sikap keras Polri untuk menangani kasus ini lebih tertuju pada
upaya melokalisir kasus dalam kemungkinan keterlibatan jenderal lain. Sikap Polri yang
senantiasa menyatakan adanya barang bukti yang tidak relevan dengan kasus (driving
simulator), nampaknya lebih menggambarkan kepanikan atas kemungkinan terbukanya
kasus-kasus lain yang ada dalam barang bukti yang disita KPK.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kronologi kasus simulator SIM?
2. Apa saja skema fraud yang terdapat dalam kasus simulator SIM?
3. Bagaimana pencegahan kasus simulator SIM agar kejadian serupa tidak terjadi
lagi?
4. Bagaimana model pendeteksian kasus simulator SIM?

C. Tujuan
1. Mengetahui kronologi kasus simulator SIM.
2. Mengetahui skema fraud dalam kasus simulator SIM.
3. Mengetahui cara pencegahan kasus simulator SIM.
4. Mengetahui model pendeteksian kasus simulator SIM.
BAB II
PEMBAHASAN

A. KRONOLOGI KASUS SIMULATOR SIM


Berikut kronologi kasus Simulator SIM yang dimuat dalam situs Anti Corruption
Clearing House KPK :
Tahun 2010
1. Agustus 2010, Budi Susanto mengadakan pertemuan dengan Sukotjo
Sastronegoro Bambang di Starbucks Coffe-TIS-Tebet Jakarta Selatan yang
membicarakan bahwa pada TA 2010 di Korlantas Polri akan diadakan pekerjaan
Pengadaan Optimalisasi Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi Roda Dua (R-2)
sebanyak 1000 unit dan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi Roda Empat (R-4)
sebanyak 1000 unit yang akan dilaksanakan dari bulan Oktober-Desember 2010
dengan menggunakan dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan ia
meminta Sukotjo agar bersedia mengerjaakan penyediaan barang-barang yang
dimaksud. Namun Sukotjo menyampaikan bahwa perusahaannya tidak sanggup
dengan alasan keterbatasan tempat, pegawai, dan dana yang terbatas. Kemudian
Budi hanya meminta agar Sukotjo cukup menyediakan tempat dan pegawainya,
sedangkan dana akan ia sediakan. Di Kantor Korlantas Polri mereka berdua kembali
bertemu diruangan kerja Teddy Rusmawan, dalam kesemptan tersebut Sukotjo
menyatakan bahwa ia bersedia membantu Budi Susanto terkait pengadaan tersebut.
2. Sekitar bulan September 2010, Budi Susanto meminta Sukotjo agar
membantu Ni Nyoman Suartini dan Wandy Rustiwan membuat usulan pengajuan
anggaran untuk pekerjaan Pengadaan Optimalisasi Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi R-2 sebanyak 1000 unit dan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi
R-4 sebanyak 1000 unit di Korlantas Polri TA 2010. Namun karena PNBP di
Korlantas Polri pada TA 2010 tidak memenuhi target, maka yang terealisasi hanya
100 unit untuk R-2 dan 50 unit untuk R-4.
3. Sekitar bulan Oktober 2010, Sukotjo menemui Darsian (bag.
Keuangan Mabes Polri) atas permintaan Budi Susanto untuk meminta
informasi mengenai jumlah dana yang akan dialokasikan terkait Pengadaan
Optimalisasi Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R2 dan Driving
Simulator Uji Klinik Pengemudi R-4 TA 2011 dan kemudian memberikan
uang Rp50 juta kepada Darsian serta staffnya sebesar Rp15 juta. Sebelum
dilakuakn penyusunan pagu anggaran definitif Korlantas Polri TA 2011,
dilaksanakan rapat yang dipimpin oleh Inspektur Jendral Polisi Drs. Djoko
Susilo S.H., M.Si., yang pada saat itu memerintahkan para Kasubbag, para
Kasubid di Bagian Renmin, dan Ni Nyoman Suartini bersama dengan
Subbag Renmin dibantu oleh Sukotjo melakukan penghitungan harga
satuan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 dan Driving Simulator Uji
Klinik Pengemudi R-4 TA 2011 mengacu pada Pagu Anggaran TA 2010.
Selanjutnya hasil perhitungan tersebut dipaparkan dalam rapat yang
dipimpin oleh Didik Purnomo selaku Wakil Ketua Korlantas Polri dan
disahkan oleh Djoko Susilo dalam bentuk Rencana Kegiatan Anggaran
Kementrian/ Lembaga (RKA-KL) Korlantas Polri dan kemudian RKA-KL
tersebut dikirimkan ke Asrena Polri untuk diteruskan ke Direktur Jendral
Anggaran Kementrian Keuangan RI guna mendapatkan Pengesahan
menjadi Pagu Anggaran Definitif Korlantas Polri TA 2011.
4. November 2010, Budi Susanto terkait pengadaan TA 2011 tersebut
mengajukan Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar Rp101 miliar ke Bank BNI
SKM Jakrta Gunung Sahari menggunakan nama PT CMMA dengan
menjaminkan Surat Perintah Kerja (SPK) Pengadaan Driving Simulator Uji
Klinik Pengemudi R-2 dan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-4 TA
2011 dan tanggung renteng dengan jaminan atas fasilitas kredit yang
sedang berjalan ke Bank BNI di SKM Jakarta Gunung Sahari. Padahal saat
pengajuan kredit tersebut pekerjaan maupun SPK pengadaan tersebut
belum ada. Kemudian pihak Bank melakukan verifikasi kebenaran data yang
dijadikan jaminan permohonan kredit kepada Djoko Susilo selaku pejabat
yang berkompeten atas pengadaan tersebut dan hal tersebut dibenarkan
oleh Djoko Susilo, padahal Rencana Umum Anggaran belum ditetapkan dan
belum diumumkan serta belum ada pengesahan Pagu Anggaran Definitif
Korlantas Polri TA 2011.
5. 29 Desember 2010, Setelah mendapat kepastian kebenaran data
pihak Bank melalui surat menyetujui pemberian KMK dengan nilai
maksimum sebesar Rp100 miliar kepada Budi Susanto. Pada bulan
Desember 2010 pagu anggaran DIPA Korlantas ditetapkan dalam APBN
Murni TA 2011 yang didalamnya terdapat penganggaran kegiatan
pengadaan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi. Untuk melaksanakan
kegiatan pengadaan tersebut Djoko Susilo membentuk panitia Pengadaan
Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 dan Driving Simultaor Uji Klinik
Pengemudi R-4 TA 2011 yang diketuai oleh Teddy Rusmawan dengan
anggota Ni Nyoman Suartini. Setelah panitia tersebut terbentuk Djoko Susilo
diruang kerjanya bersama Budi Susanto memanggil Teddy Rusmawan agar
menunjuk Budi Susanto menjadi pelaksana dalam pengadaan TA 2011.
Tahun 2011
6. Januari 2011 Djoko Susilo memimpin rapat yang dikiuti oleh Teddy
Rusmawan, Budi Setyadi (Kabag Renmin), Endah Purwaningsih (Kasubbag Ren
dan anggota panitia pengadaan), Heru Trisasono (Kasubbag ADA dan anggota
panitia pengadaan), Ni Nyoman Suartini (anggota panitia pengadaan), dan Wandy
Rustiwan (anggota panitia pengadaan) yang membahas pengadaan Driving
Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 dan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi
R-4 TA 2011. Pada kesempatan tersebut Djoko Susilo secara bertentangan dengan
hukum memerintahkan Budi Setyadi bahwa produk milik Budi Susanto sebagi
penyedia barang tidak bagus dan sebaiknya spesifikasinya mengacu Driving
Simulator yang ada di Singapura, sehingga Djoko Susilo memerintahkan untuk
menyiapkan tim studi banding ke Singapura.
7. 12 Januari 2011, sebagai tindak lanjut dari persetujuan pemberian
KMK Rp100 miliar pihak bank BNI SKM Jakarta Gunung Sahari
memberitahukan kepada Budi Susanto melalui surat bahwa telah
mentransfer uang sejumlah Rp35 miliar ke rekening PT ITI di Bank BNI KLN
Cijeruk Bandung den Direktur Sukotjo S.Bambang.
8. 13 Januari 2011, Budi Susanto memerintahkan Sukotjo
S.Bambang bersama Ijay Herno membawa uang sebesar Rp2 miliar yang
dibungkus 1 buah kotak kardus ke kantor Korlantas Polri untuk diberikan
kepada Djoko Susilo namun beliau tidak bearda ditempat sehingga uang
tersebut dititipkan kepada sekertaris pribadinya Erna. Selanjutnya Sukotjo
S.Bambang menghubungi Budi Susanto bahwa paket sudah diberikan
kepada Djoko Susilo.
9. 14 Januari 2014, Atas biaya Budi Susanto, ia bersama Teddy
Rusmawan, Heru Trisasono, dan Tejo berangkat ke Singapore Safety Driving
Center (SSDC) untuk melihat contoh alat Driving Simulator di Singapura
berdasarkan perintah Djoko Susilo. Saat pelaksanaan studi banding di
Singapura, Teddy Rusmawan meminta uang sebesar Rp7 miliar kepada
Budi Susanto untuk disetorkan ke rekening PRIMKOPPOL Ditlantas Polri.
Setelah kunjungan ke SSDC, Teddy Rusmawan melaporkan kepada Djoko
Susilo bahwa anggaran di Korlantas Polri tidak akan mencukupi apabila
dibandingkan dengan harga Driving Simulator dari Singapura. Berdasarkan
hal tersebut kemudian Djoko Susilo meminta Budi Susanto dan Teddy
Rusmawan agar spesifikasi teknis Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-
2 dan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-4 TA 2011 disamakan
dengan pengadaan TA 2010. Selanjutnya Budi Susanto bersama-sama
dengan Djoko Susilo melakukan kesepakatan tentang Harga Perkiraan
Sendiri (HPS) Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 dan Driving
Simulator Uji Klinik Pengemudi R-4 yang nilainya tidak sama persis dengan
HPS TA 2010 dengan tujuan untuk menghindari kecurigaan pihak luar
Korlantas. Demi mewujudkan kesepakatannya tersebut Budi Susanto
meminta Sukotjo S.Bambang bersama dengan Ni Nyoman Suartini
menyusun HPS yang dimaksud dengan menggelembungkan harganya. HPS
yang disusun tersebut selanjutnya oleh Teddy Rusmawan diserahkan
kepada Didik Purnomo selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untung
ditandatangani dan ditetapkan sebagai HPS Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi R-2 dan R-4 TA 2011.
10. 24 Januari 2011, Panitia Pengadaan Korlantas Polri mengumumkan
adanya Pelelangan Umum Pengadaan Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi R-2 TA 2011 dengan HPS Rp55,3 miliar dan Pelelangan Umum
Pengadaan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-4 TA 2011 dengan
HPS Rp143,5 miliar. Dalam upaya meloloskan PT. CMMA sebagai
pemenang lelang dengan seolah-olah dilakukan pelelangan secara terbuka,
maka pada sekitar akhir bulan Januari 2011, Budi Susanto atas
sepengetahuan Teddy Rusmawan, memerintahkan Sukotjo S.Bambang agar
menyiapkan perusahaan-perusahaan yang akan dijadikan sebagai peserta
pendamping dalam proses pelelangan tersebut. Sukotjo S.Bambang
meminta bantuan Warsono Sugantoro alias Jumadi untuk menyiapkan
perusahaan-perusahaan yang dapat dipinjam namanya sebagai peserta
pendamping untuk mengikuti lelang pengadaan tersebut dengan imbalan
uang sebesar Rp20 juta. Untuk mengatur agar PT CMMA menjadi
pemenang, maka dalam pelaksanaan proses lelang tersebut sudah diatur
agar PT CMMA yang dinyatakan lulus administrasi dan teknis.
11. 17 Februari 2011, Oleh Panitia Pengadaan PT CMMA ditetapkan
sebagai pemenang lelang pengadaan tersebut. Kemudian Teddy Rusmawan
melaporkan pada Djoko Susilo bahwa pada saat proses pelelangan, tidak
ada perusahaan-perusahaan lain yang memasukan dokumen penawaran
kecuali perusahaan-perusahaan yang sudah dikondisikan oleh Budi
Susanto. Oleh karena nilai pengadaan Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi R-4 TA 2011 lebih dari Rp100 miliar maka yang berwenang
menetapkan pemenang lelang adalah KAPOLRI selaku Pengguna Anggaran.
12. 25 Februari 2011, Didik Purnomo (PPK) dan Budi Santoso (PT
CMMA) menandatangani SPJB pengadaan Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi R-2 dengan nilai kontrak Rp54,5 miliar untuk 700 unit dengan
harga satuan Rp77,8 juta. 5 Maret 2011, setelah dilakukan perhitungan
dengan mengurangi body dan hidrolic serta penawaran harga oleh Budi
Santoso, Sukotjo S. Bambang memaparkan harga Driving Simulator Uji
Klinik Pengemudi R-4 mencapai Rp80 juta per unit dan untuk R-2 sebesar
Rp43 juta per unit, keduanya sudah termasuk biaya instalasi, training dan
perawatan tetapi tidak termasuk biaya pengiriman.
13. 14 Maret 2011, Budi Susanto selaku Direktur PT CMMA
Mengajukan Pencairan anggaran untuk pembayaran untuk pengadaan
Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 TA 2011 Kepada Kolantas Polri
sebesar 100%, meskipun pekerjaan pengadaan belum diselesaikan
seluruhnya. Menindaklanjuti pengajuan pencairan anggaran dari Budi
Susanto tersebut Ni Nyoman menghubungi Murtono dan mengatakan "Pak
Murtono nanti akan dibuat BAPPM dan BAPPB R-2. Tolong nanti segera
ditanda tangani karena ini perintah pimpinan." Kemudian Murtono
menjawab "Saya akan periksa dulu. Ikuti saja ketentuan supaya sama-sama
aman." Beberapa saat kemudian Wahyudi selaku staf dari Ni Nyoman
Suartini datang keruangan Murtono mengantarkan Draft BAPPM dan
BAPPB yang isinya menerangkan sebanyak 700 unit Driving Simulator Uji
Klinik Pengemudi R-2 TA 2011 dalam kondisi siap dioperasionalkan, namun
Murtono tidak mau menandatangani BAPPM dan BAPPB tersebut
dikarenakan belum melakukan pemeriksaan dan pengecekan terhadap
barang pengadaan tersebut.
14. 15 Maret 2011, Budi Susanto keruangan Legimo di Bensar
Korlantas Mabes Polri dan mengatakan : " Pak lek, saya diperintah Kakor
nii.. suruh cepet." Menindaklanjuti permintaan dari Budi Susanto tersebut,
Legimo melakukan verfikasi pada dokumen pengajuan pencairan anggaran
untuk pembayaran pekerjaan pengadaan Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi R-2 TA 2011, dan setelah dilakukan verifikasi terhadap dokumen
tersebut diserahkan Legimo kepada Budi untuk dilengkapi dengan
mengatakan "Ini belum lengkap, berita acaranya belum ada... Tolong
dilengkapi." 16 Maret 2011, dokumen pengjuan pencairan anggaran untuk
pembayaran pekerjaan pengadaan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-
2 TA 2011 yang diserahkan Legimo kepada Budi pada tgl 15 Maret 2011
untuk dilengkapi sudah berada di meja Legimo, dan diatas dokumen
tersebut terdapat selembar kertas yang bertuliskan nomor atau angka.
Kemudian apda siang harinya Budi Susanto ke ruangan Legimo dan Legimo
menanyakan lembaran kertas tersebut berasal darimana. Kemudian Budi
Susanto menjawab bahwa nomor tersebut dari Ni Nyoman. Setelah
mengetahui nomor tersebut dari Ni Nyoman , Legimo menelpon Ni Nyoman
dan mengatakan : " Man mana berkasnya? kok cuma catatan nomor dan
tanggal saja?" Kemudian dijawab oleh Ni Nyoman dengan mengatakan
"Sebentar pak lek, itu nomor dan tanggalnya dulu.. berkasnya masih
diproses". Selanjutnya dokumen pengajuan pencairan anggaran tersebut
yang belum lengkap tapi sudah ada nomornya tidak ditindak lanjuti oleh
Legimo karena menunggu berita acara yang masih dalam proses. Namun
pada sore harinya Budi Susanto mendesak dokumen tersebut untuk segera
diselesaikan, Legimo menelepon Djoko Susilo dengan mengatakan : "
Mohon ijin pak, ini berkas Driving Simulator R-2 masih belum lengkap ...
mohon petunjuk." Atas pertanyaan dari Legimo tersebut Djoko Susilo
menjawab "Yasudah... sampean bantu saja." Selanjutnya karena sudah ada
perintah dari Djoko Susilo untuk mrncairkan dana anggaran pekerjaan
pengadaan yang diajukan oleh Budi Susanto tersebut, kemudian Legimo
menindaklanjuti perintah dari Djoko Susilo dengan memproses pengajuan
pencairan anggaran. Sekitar pukul 16.00 WIB, Djoko Susilo dengan
menyalahgunakan kewenangan dalam jabatannya selaku KPA atau
kedudukannya selaku Kepala Korps Lalulintas Polri menandatangani
pengajuan pencairan anggaran untuk pembayaran pekerjaan pengadaan
barang Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 TA 2011 berupa 1 lembar
asli Surat Perintah Membayar dengan nilai nominal Rp48.760.186.364,-.
Setelah dokumen pencairan anggaran tersebut disetujui dan ditanda tangani
oleh Djoko Susilo, kemudian Budi menanyakan kepada Legimo apakah
sudah selesai dan Legimo memberitahu bahwa dokumen tersebut sudah
selesai. Selanjutnya Budi meminta Legimo segera merealisasikan perintah
Djoko Susilo mencairakan anggaran atas pengadaan tersebut.
15. 17 Maret 2011, dilakukan pencairan dana anggaran pembiayaan
Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 sebesar 100% yaitu
Rp48.760.186.364,- setelah potong pajak yang selanjutnya ditransfer ke
rekening PT CCMA, padahal pekerjaan Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi R-2 TA 2011 belum selesai 100%. Seminggu setelah pencairan
tersebut, Wahyudi staf dari Budi Santoso menitipkan 4 kardus yang berisi
uang Rp30 miliar kepada Legimo untuk diberikan kepada Djoko Susilo.
16. Tgl 24 s/d 25 Maret 2011, 18 April 2011, serta tgl 6 Mei 2011, Tim
Pemeriksa dan penerima barang yang dibentuk berdasarkan Surat Perintah
dari Djoko Susilo selaku kepala Korlantas Porli dan KPA melakukan
pengecekan barang Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 TA 2011 ke
lokasi perakitan pembuatan spare part dan gudang penyimpnan PT CMMA
di Bandung, dan hasil pengecekan barang tersebut dilaporkan secara
tertulis kepada Djoko Susilo dan Didik Purnomo (PPK) dengan dibuat
BAPPM tgl 6 Mei 2011 yang ditandatangani oleh Murtono, Wishnu
Buddhaya, Edith Yuswo Widodo, Wahyudi, Suyatim selaku Tim Pemeriksa
dan Penerima Barang dan Didik Purnomo selaku PPK. Selanjutnya BAPPM
tersebut diajukan kepada Legimo untuk dimintakan nomor, tetapi Legimo
tidak mau memberikan nomor untuk BAPPM tgl 6 Mei 2011 tersebut karena
sebelumnya sudah ada Berita Acara yang dibuat yaitu BAPPM tgl 14 Maret
2011 dan berita acara penyerahan pengadaan barang Driving Simulator Uji
Klinik Pengemudi R-2 Korlantas Polri TA 2011 Tgl 15 Maret 2011.
17. Sekitar bulan Juni 2011, Teddy Rusmawan memberitahu Wishnu B.
bahwa Driving Simulator Uji Kilinik Pengemudi R-2 TA 2011 yang telah
dinyatakan lengkap oleh Tim Pemeriksa dan Penerima Barang pada tgl 6
Mei 2011 sebanyak 700 unit, tetapi kotak untuk menyimpan barang tersebut
yang sudah jadi banyak yang kosong dan tidak ada isinya. 16 Juni 2011
Djoko Susilo mengeluarkan surat perintah yang memerintahkan Teddy
Rusmawan dan Sumardi untuk melaksanakan kunjungan di Pabrikan dan
Pengecekan Gudang Penitipan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2
di Bandung.
18. 4 Juli 2011, Teddy Rusmawan bersama-sama dengan Budi
Santoso melakukan pengecekan ulang ke gudang PT CMMA dan ternyata
benar kotak untuk menyimpan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2
masih banyak kosong dan Teddy Rusmawan marah kepada Sukotjo S.
Bambang. Setelah peristiwa tersebut, kemudian dilakukan rapat yang
dipimpin Budi Setyadi yang bersepakat untuk melaporkan Sukotjo S.
Bambang ke Polisi dengan sangkaan melakukan tindak pidana penggelapan
guna melindungi Djoko Susilo, yang telah memerintahkan melakukan
pencairan anggaran pembayaran pekerjaan pengadaan Driving Simulator Uji
Klinik Pengemudi R-2 TA 2011 sebesar 100% padahal pekerjaan belum
selesai.menyimpan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 masih
banyak kosong dan Teddy Rusmawan marah kepada Sukotjo S. Bambang.
Setelah peristiwa tersebut, kemudian dilakukan rapat yang dipimpin Budi
Setyadi yang bersepakata untuk melaporkan Sukotjo S. Bambang ke Polisi
dengan sangkaan melakukan tindak pidana penggelapan guna melindungi
Djoko Susilo, yang telah memerintahkan melakukan pencairan anggaran
pembayaran pekerjaan pengadaan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-
2 TA 2011 sebesar 100% padahal pekerjaan belum selesai.
19. Setelah itu dibuat laporan hasil pengecekan barang alat UKP R-2 TA
2011 di Bandung dengan membuat tanggal mundur yaitu tertanggal 14
Maret 2011 yang ditandatangani oleh Murtono selaku Ketua Tim Pemeriksa
dna Penerima Barang, padahal sebenarnya Tim Pemeriksa tidak pernah
melakukan pengecekan pada tanggal tersebut dan pengecekan baru
dilakukan pada tanggal 24 Maret 2011 di Gudang Perakitan PT ITI Bandung
dengan kesimpulan : Pada tabel Pengecekan Gudang Perakitan : Alat UKP
R-2 Citra Motor SP (Sample) sebanyak 1 unit sesuai dengan Spektek dengan
keterangan sebanyak 85 dalam proses pengerjaan, dna pada tabel
pengecekan penyimpanan : UKP R-2 yang telah dikemas dalam peti
sebanyak 200 unit sesuai dengan spektek dengan keterangan siap dikirim.
Adapun foto-foto yang disusun sebagai lampiran pada laporan hasil
pengecekan barang alat UKP R-2 TA 2011 Di Bandung tertanggal 14 Maret
2011 tersebut, sebenarnya foto-foto tersebut diambil pada saat dilakukan
pengecekan pada tanggal di gudang PT CMMA Di Bandung tgl 6 Mei 2011.
Atas laporan hasil Pengecekan Barang Alat UKP R-2 TA 2011 di Bandung
yang dibuat dengan tanggal mundur tersebut selanjutnya dibuat nota dinas
yang diberi nomor dan tanggal mundur yaitu tertanggal 9 Maret 2011
perihal Laporan Hasil Pengecekan Barang UKP Driving Simulator R-2 tgl 14
Maret 2011 di Gudang PT CMMA Bandung Jawa Barat dari Murtono selaku
ketua Tim Pemeriksa dan Penerima Barang kepada Djoko Susilo. Selain itu
dibuat juga BAPPM yang diberi Nomor dan tanggal mundur tertanggal 14
Maret 2011, padahal pada tanggal tersebut Tim Pemeriksa dan Penerima
Barang belum melakukan Pengecekan di Gudang PT CMMA sehingga
belum diketahui berapa jumlah produksi alat Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi R-2 yang sudah jadi, alat tersebut sudah sesuai atau tidak
dengan spektek, serta kelengkapan seluruhnya dalam kondisi baik atau
tidak. Selanjutnya dibuat BAPPB Driving Simulator UKP R-2 Korlantas Polri
2011 yang diberi nomor dna tanggal mundur tertanggal 15 Maret 2011,
padahal Tim Pemeriksa belum melakukan pengecekan di Gudang PT CMMA
pada tanggal 14 Maret 2011 dan pengecekan baru dilakukan pada tanggal
24 s/d 25 maret 2011, 18 April 2011, serta tgl 6 Mei 2011.
20. 19 Juli 2011, Budi Santoso dengan dalih untuk meyelesaikan
pekerjaan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 dan R-4 TA 2011
kemudian mengambil alih manajemen PT ITI dari Sukotjo S. Bambang.
September 2011 Tim Pemeriksa dan Penerima Barang pengadaan Driving
Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 melakukan pemeriksaaan ulang ke
gudang PT CMMA. Sampai dengan bulan Oktober 2011 PT CMMA baru
dapat menyelesaikan pekerjaan pengadaan Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi R-2 TA 2011 dan mendistribusikannnya sebanyak 579 unit,
sedangkan untuk pekerjaan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-4 TA
2011 baru dapat diselesaikan dan didistribusikan sebanyak 556 unit.
21. Awal bulan Desember 2011, Budi Santoso (PT CMMA) mengajukan
pencairan 100% anggaran untuk pembayaran pekerjaan Driving Simulator
Uji Klinik Pengemudi R-4 TA 2011 sebesar Rp127.526.116.109,- kepada
Djoko Susilo kemudian Legimo membuat dokumen pengajuan pencairan
tersebut. 6 Desember 2011 dana tersebut dicairkan, padahal pada
kenyataannya pendistribusian Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-4 ke
Polda diseluruh Indonesia baru selesai dilakukan pada bulan April 2012.
Budi Santoso dalam pelaksanaan pekerjaan Driving Simulator Uji Klinik
Pengemudi R-2 dan R-4 TA 2011 di Kantor Korlantas POLRI dengan cara
menggelembungkan harga kontrak dan menyediakan barang yang tidak
sesuai spesifikasi teknis yang tersebut dalam kontrak, sehingga
mengakibatkan penegeluaran keuangan negara cq. Korlantas POLRI yang
tidak seharusnya dibayarkan sebesar Rp122 miliar.
Indikasi fraud pada kasus ini adalah adanya mark-up yang dilakukan oleh Budi
Santosa sebagai Direktur PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (CMMA) yang menjadi
pemenang tender proyek pengadaan driving simulator SIM di Korlantas Porli tahun 2011
dengan nilai pengadaan driving simulator sebanyak 700 unit sepeda motor senilai Rp
54.453.000.000,- dan sebanyak 556 unit mobil senilai Rp 142.453.000.000 sehingga total
proyek pengadaan driving simulator senilai Rp 196.870.000.000,-.
Dalam proses melaksanakan proyek pengadaan driving simulator SIM ini PT CMMA
memperoleh keuntungan besar karena pengadaan Driving Simulator SIM hanya Sebesar
Rp 116.000.000.000,- dimana dalam dokumen perjanjian pembelian barang yang
seharusnya harga simulator sepeda motor senilai Rp 42.800.000,-/unit nilainya di mark
up menjadi Rp 77.790.000,-/unit dan harga simulator mobil senilai Rp 80.000.000,-/unit
menjadi Rp 256.142.000,-/unit, namun keuntungan itu tidak dinikmati sendiri melainkan
dibagi-bagi sebagaimana BUDI SANTOSO memerintahkan SUKOTJO S. BAMBANG
untuk memberikan Rp 4.000.000.000,- yang dimana pembagiannya Rp 2.000.000.000,-
untuk BUDI SANTOSO dan sisanya Rp 2.000.000.000,- diberikan kepada TIWI yang
merupakan sekretaris pribadi DJOKO SUSILO.
Tiga teknik dalam penggelembungan yang dilakukan Budi, yaitu komponen utuh dibuat
harga terpisah, perincian komponen dihitung kembali sehingga terhitung sebanyak dua
kali. Dan memasukkan harga bagian yang tak terpakai. Kemudian, ketiga menaikkan
harga setiap komponen menjadi lebih tinggi dari harga pasar.
Rangkaian perbuatan Djoko Susilo dengan menyalah gunakan kewenangan dalam
jabatannya selaku KPA atau kedudukannya selaku Kepala Korps Lalulintas Polri yang
telah melanggar Hukum dengan menyalahgunakan kewenangan yang ada padanya
karena jabatan selaku KPA bersama-sama dengan Didik Purnomo selaku pejabat pembuat
Komitmen dan Teddy Rusmawan selaku ketua Panitia Pengadaan serta bersama-sama
dengan Budi Susanto selaku Direktur PT CMMA dan Sukotjo S. Bambang selaku
Direktur PT ITI telah menguntungkan Djoko Susilo sebesar Rp32 miliar serta
menguntungkan orang lain atau suatu korporasi Didik Purnomo sebesar Rp50 juta, Budi
Susanto Rp93,4 miliar, Sukotjo S. Bambang (PT ITI) sebesar Rp4 miliar ,
PRIMKOPPOL Mabes Polri sebesar Rp15 miliar , Wahyu Indra P sebesar Rp500 juta,
Gusti Ketut Gunawan sebesar Rp50 juta, Darsian sebesar Rp50 juta dan Warsono
Sugantoro alias Jumadi sebesar Rp20 juta. Akibat perbuatan Djoko Susilo dengan
menyalahgunakan kewenangan jabatannya tersebut telah merugikan keuangan negara
sebesar Rp145 miliar atau setidak-tidaknya Rp121.830.768.863,59 sesuai dengan Surat
dari BPK tertanggal 27 Maret 2013 perihal penyampaian hasil investigatif dalam rangka
penghitungan kerugian negara atas pengadaan Driving Simulator R-2 dan R-4 pada
Korlantas Polri TA 2011.

B. FRAUD TRIANGLE KASUS SIMULATOR SIM


OPPORTUNITY

Fraud Triangle
PRESSURE RATIONALIZATION
1. Kesempatan (Opportunity)
Kesempatan (Oppertunity) merupakan suatu celah seseorang (pelaku) dalam
melakukan fraud. Faktor utama dalam Kesempatan (Oppertunity) adalah kontrol
internal. Kelemahan atau tidak adanya kontrol internal yang baik memberikan
kesempatam bagi seseorang (pelaku) untuk melakukan kejahatan fraud.
Pada kasus simulator SIM tersangka yang terlibat adalah Irjen (Pol) Djoko Susilo
sebagai Kepala Korps Lalu Lintas serta Direktur PT CMMA (Citra Mandiri
Metalindo Abadi) Budi Susanto, berdasarkan majalah tempo “SIMSALABIM
SIMULATOR SIM” menurut pengakuan Sukotjo S. Bambang melalui kedekatan
Budi Susano dengan Djoko Susilo yang menyebabkan tender tersebut dapat diatur
sedemikian rupa untuk kemenangan PT CCMA (Citra Mandiri Metalindo Abadi).
Sehingga melalui kedekatan tersebut Budi Susanto mengambil kesempatan
(opportunity) menyuap Djoko Susilo untuk kemengan tender diberikan kepada PT
CCMA (Citra Mandiri Metalindo Abadi) dan tingginya jabatan yang dimiliki oleh
Djoko Susilo sebagai Kepala Korps Lalu Lintas menyebabkan peluang yang sangat
besar untuk pengadaan simulator SIM diberikan kepada PT CCMA (Citra Mandiri
Metalindo Abadi).
2. Tekanan (Pressure)
Tekanan (Pressure) merupakan suatu keadaan yang menyebabkan seseorang
(pelaku) melakukan fraud. Pada kasus simulator SIM keserakahan Budi Susanto
sebagai Direktur PT CCMA (Citra Mandiri Metalindo Abadi) untuk memenangankan
tender pengadaan simulator SIM yang nyatanya adalah perusahaan PT CCMA (Citra
Mandiri Metalindo Abadi) tidak memiliki kemampuan untuk dalam pembuatan
Riding Simulator dan Driving Simulator. Sehingga pada akhirnya pengadaan barang
diberikan kepada PT ITI (Inovasi Teknologi Indonesia) yang dipilih sebagai
subkontraktor dan Direktur PT CCMA (Citra Mandiri Metalindo Abadi) yaitu Budi
Susanto mengambil keuantungan akan kemenangan tender tersebut.
3. Rasionalisasi
Rasionalisasi (Rationalization) merupakan suatu keadaan mencari pembenaran
sebelum melakukan kejahatan, bukan sesudahnya. Mencari pembenaran sebenarnya
merupakan bagian yang harus ada dari kejahatan itu sendiri, bahkan merupakan
bagian dari motivasi untuk melakukan kejahatan.
Pada kasus simulator SIM yang terlibat dalam pengadaan barang simulator SIM
tersebut yaitu Irjen (Pol) Djoko Susilo sebagai Kepala Korps Lalu Lintas, keterlibatan
tersebut membuat para pelaku seperti Budi Susanto berfikir rasional bahwa proyek
simulator SIM akan berjalan dengan baik ketika tender diatur sedemikian rupa untuk
kemengan PT CCMA (Citra Mandiri Metalindo Abadi) dan pada saat dilakukan
penyuapan kepada Djoko Susilo, hal itu merupakan biasa karena sebagai tanda
terimakasih atas kemenangan tender untuk PT CCMA (Citra Mandiri Metalindo
Abadi).

C. SKEMA FRAUD KASUS SIMULATOR SIM


Skema yang digunakan tersangka dalam kasus tersebut adalah skema korupsi.
Korupsi adalah salah satu bentuk kecurangan dengan menyalahgunakan kewenangan
jabatan atau kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Maka dari itu pelaku korupsi ini
biasanya merupakan orang-orang yang memiliki kedudukan dalam suatu instansi maupun
organisasi untuk kepentingan pribadi dalam hal ini adalah untuk memperkaya diri sendiri.
Skema korupsi “Simulator SIM” melibatkan Irjen Pol Djoko Susilo yang ketika itu
menjabat sebagai KAKORLANTAS POLRI, beserta pejabat POLRI lainnya dengan PT
Citra Mandiri Metalindo Abadi (PT CMMA) sebagai perusahaan pemenang tender
proyek simulator SIM serta PT Inovasi Teknologi Indonesia (PT ITI) selaku perusahaan
yang digandeng untuk membuat simulator. Djoko Susilo resmi menjadi tersangka dalam
kasus pengadaan ini, KPK menjerat Djoko dengan pasal 2 dan pasal 3 UU 31/1999
tentang pemberantasan korupsi terkait penyalahgunaan wewenang dan memperkaya diri
sendiri. Skema korupsi dalam kasus “simulator SIM” ini dibagi sebagai berikut:
a. Skema penyuapan (bribery)
Bentuk korupsi dalam bentuk suap, penawaran, pemberian, penerimaan atau
permohonan sesuatu dengan tujuan untuk mempengaruhi pembuat keputusan dalam
membuat keputusan bisnis. Adapun alasannya adalah PT Citra Mandiri Metalindo
Abadi itu menangkan tender proyek simulator Korlantas, sudah disetting/diatur sejak
awal. Jadi penyuapan ini dengan tujuan untuk mempengaruhi pembuat keputusan
yaitu Irjen Pol Djoko Susilo dalam mengambil keputusan untuk memenangkan PT
Citra Mandiri Metalindo Abadi (PT CMMA) dari empat peserta pesaing tender dalam
proyek simulator SIM. Dalam tender, Ketua Primer Koperasi Polisi (Primkoppol)
Korlanrtas AKBP Teddy Rusmawan ditunjuk sebagai ketua tim pengadaan. Padahal
PT Citra Mandiri Metalindo Abadi tak pernah punya pengalaman menggarap proyek
itu. Berdasarkan keterangan Bambang, PT Citra Mandiri Metalindo
Abadi memenangi proyek simulator kemudi sepeda motor dan mobil itu senilai Rp
196,87 miliar. Jadi penyuapan dilakukan untuk mempengaruhi keputusan dalam hal
ini keputusan untuk mengatur PT Citra Mandiri Metalindo Abadi memenngkan tender
proyek simulator SIM. Kemudian keuntungan dari adanya proyek tersebut dibagikan
kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya kepada pejabat polri.
b. Skema Konflik Kepentingan
Yang merupakan pertentangan kepentingan terjadi ketika karyawan, manajer dan
eksekutif perusahaan memiliki kepentingan pribadi terhadap transaksi yang
mengakibatkan dampak kurang baik terhadap organisasi. Pada pertengahan Juni 2011,
Bambang selaku pemilik PT ITI dilaporkan ke polisi oleh bos PT CMMA berinisial
BS konflik ini terjadi karena Bambang dituduh gagal memenuhi target proyek. Sejak
awal, Bambang memang menyatakan tidak sanggup memenuhi, namun dia tetap
diminta memproduksi alat itu. Sebelumnya PT ITI merupakan perusahaan yang diajak
bekerjasama oleh PT CMMA untuk menangani proyek simulator SIM. Polres
Bandung dengan dugaan penipuan dan penggelapan. Saat ini, Bambang meringkuk di
tahanan Kebon Waru, Bandung. Kasusnya masih berjalan di tahapan kasasi. Bambang
juga sudah berkali-kali diperiksa KPK terkait kasus yang melibatkan mantan
Kakorlantas Irjen Djoko Susilo ini. Berdasarkan peemeparan diatas konflik
kepentingan terjadi antara Bos PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (PT CMMA)
sebagai perusahaan pemenang tender proyek simulator SIM dengan PT Inovasi
Teknologi Indonesia (PT ITI) selaku perusahaan yang digandeng untuk membuat
simulator yang berujung pelaporan kepada pihak berwajib atas dasar bos PT Citra
Mandiri Metalindo Abadi (PT CMMA) dengan dugaan peniipuan dan penggelapan.
Bambang dituding gagal memenuhi target proyek. Padahal sejak awal, Bambang
memang menyatakan tidak sanggup memenuhi, namun dia tetap diminta
memproduksi alat itu.
Mengarahkan secara terus-menerus terkait pengadaan barang pada perusahaan
tertentu, untuk melaksanakan kegiatan pengadaan tersebut Djoko Susilo membentuk
panitia Pengadaan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 dan Driving
Simultaor Uji Klinik Pengemudi R-4 TA 2011 yang diketuai oleh Teddy Rusmawan
dengan anggota Ni Nyoman Suartini. Setelah panitia tersebut terbentuk Djoko Susilo
diruang kerjanya bersama Budi Susanto memanggil Teddy Rusmawan agar menunjuk
Budi Susanto menjadi pelaksana dalam pengadaan TA 2011.
Membatasi persaingan dengan mengatur proses prakualifikasi dan memberikan
informasi penting dan rahasia sehingga walaupun dilakukan tender, akan
dimenangkan oleh pihak yang diinginkan, sekitar bulan Oktober 2010, Sukotjo
menemui Darsian (bag. Keuangan Mabes Polri) atas permintaan Budi Susanto untuk
meminta informasi mengenai jumlah dana yang akan dialokasikan terkait Pengadaan
Optimalisasi Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 dan Driving Simulator Uji
Klinik Pengemudi R-4 TA 2011.
c. Skema Pencucian Uang
Pencucian uang adalah proses yang dilakukan oleh atau atas nama penjahat
dengan tujuan menyembunyikan atau menyembunyikan aktivitas kriminal mereka
dan asal usul hasil terlarang mereka. Kasus Irjen Djoko Susilo pada kasus pencucian
uang terkait korupsi simulator SIM, Djoko didakwa Pasal 3 dan atau 4 Undang-
undang nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pencucian Uang dan Pasal 3 ayat 1 dan atau Pasal 6 ayat 1 UU 15/2002 tentang TPPU
dengan pidana penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar.
Hal ini terbukti dengan di sitanya beberapa rumah milik Djoko Susilo di
antaranya di Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Dia memakai hasil tindak pidana
korupsi dalam simulator SIM dengan melakukan pencucian uang dengan
mengubahnya dengan menyamarkan hasil uang haram itu dengan membeli beberapa
rumah. Selain itu Komisi Pemberantasan Korupsi bisa menjerat istri-istri Inspektur
Jenderal Polisi Djoko Susilo dengan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU)
selama ditemukan dua alat bukti yang cukup. Menurut surat dakwaan, istri-istri Djoko
ikut menguasai aset yang diduga berasal dari tindak pidana korupsi. Terdapat
sejumlah aset Djoko yang diatasnamakan istri-istrinya.
Surat dakwaan Djoko menyebutkan, jenderal bintang dua itu diduga
menyamarkan beberapa hartanya tahun 2010 dengan menggunakan nama Djoko
Waskito (ayah kandung Dipta Anindita, istri muda Djoko). Djoko membeli tanah
lengkap dengan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta Utara. Harga
di akta Rp 5,3 miliar, harga sebenarnya Rp 11,5 miliar.Pada tahun 2012, Dipta
dibelikan tanah senilai Rp 7,1 miliar di Semarang. Ia juga dibelikan tanah di
Surakarta senilai Rp 6 miliar. Pada tahun 2011, mengatas namakan istri kedua,
Mahdiana, terdakwa Djoko Susilo membeli sebidang tanah di Jakarta Selatan senilai
Rp 46 juta dan Rp 6,1 miliar. Pembelian Rp 6,1 miliar menggunakan perantara Erick
Maliangkay. Mahdiana juga dibelikan tanah senilai Rp 5 miliar pada 2012. Terdakwa
membeli tanah dengan menggunakan nama lain, yaitu Mudjiharjo. Empat bidang
tanah dibeli di Yogyakarta tahun 2011 dan 2012 senilai Rp 3 miliar dan Rp 389 juta.
Untuk pembelian kendaraan, terdakwa menggunakan nama Sudiyono. Selain itu,
Djoko diduga menyamarkan hartanya dengan menggunakan nama Eva Handayani.
Wanita ini diduga sebagai istri mudanya yang lain. Aset yang disamarkan atas nama
Eva di antaranya berupa SPBU, tanah beserta bangunannya di daerah Depok, Jawa
Barat, dan tanah di Jagakarsa seluas 200 meter persegi. Djoko juga diduga membeli
sebidang tanah di Subang untuk istri pertamanya, Suratmi.

d. Pemberian Tidak Sah


Pemberian tidak sah adalah pemberian sesuatu yang bernilai kepada
seseorang/kelompok yang didahului oleh terciptanya keputusan bisnis yang
menguntungkan pemberi. Pada kasus ini, tanggal 17 Maret 2011, dilakukan pencairan
dana anggaran pembiayaan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2 sebesar
100% yaitu Rp48.760.186.364,- setelah potong pajak yang selanjutnya ditransfer ke
rekening PT CCMA, padahal pekerjaan Driving Simulator Uji Klinik Pengemudi R-2
TA 2011 belum selesai 100%. Seminggu setelah pencairan tersebut, Wahyudi staf dari
Budi Santoso menitipkan 4 kardus yang berisi uang Rp30 miliar kepada Legimo
untuk diberikan kepada Djoko Susilo.
e. Pemerasan Ekonomi
Permintaan dari seseorang atau kelompok dalam organisasi kepada pihak tertentu
dimana pihak tersebut telah diuntungkan oleh keputusan bisnis yang dibuat oleh
organisasi. Tanggal 14 Januari 2014, atas biaya Budi Susanto, ia bersama Teddy
Rusmawan, Heru Trisasono, dan Tejo berangkat ke Singapore Safety Driving Center
(SSDC) untuk melihat contoh alat Driving Simulator di Singapura berdasarkan
perintah Djoko Susilo. Saat pelaksanaan studi banding di Singapura, Teddy
Rusmawan meminta uang sebesar Rp 7 miliar kepada Budi Susanto untuk disetorkan
ke rekening PRIMKOPPOL Ditlantas Polri.

D. RED FLAGS KASUS SIMULATOR SIM


Red flag yang mungkin timbul dari kasus SIMULATOR SIM, adalah :
a. Red flags untuk skema penyuapan
1. Anomali dalam menyetujui vendor
Anomali dalam menyetujui vendor merupakan suatu keganjilan, keanehan atau
penyimpangan dari keadaan biasa/normal yang berbeda dari kondisi umum
dalam menyetujui vendor/pemasok. PT CMMA sebagai pemenang tender proyek
simulator Korlantas, dimana sudah disetting sejak awal. Padahal PT CMMA
tidak pernah punya pengalaman menggarap proyek tersebut. Ada empat peserta
pesaing tender dalam proyek tersebut. Namun semua hanya pelengkap saja.
Dalam tender, Ketua Primer Koperasi Polisi (Primkoppol) Korlanrtas AKBP
Teddy Rusmawan ditunjuk sebagai ketua tim pengadaan.
2. Penemuan hubungan antara karyawan dan vendor
Hal ini diawali pada pertengahan Juni 2011, Bambang selaku pemilik PT ITI
dilaporkan ke polisi oleh bos PT CMMA berinisial BS karena dituduh gagal
memenuhi target proyek. Sejak awal, Bambang memang menyatakan tidak
sanggup memenuhi, namun dia tetap diminta memproduksi alat itu. Direktur
Utama PT Inovasi Teknologi Indonesia (PT ITI) Sukotjo S Bambang yang
membeberkan masalah ini. Perusahaan yang dipimpinnya digandeng untuk
membuat simulator SIM oleh PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (PT CMMA),
perusahaan pemenang tender proyek itu di Korlantas Polri. Berdasarkan
keterangan Bambang, PT CMMA memenangi proyek simulator kemudi sepeda
motor dan mobil itu senilai Rp 196,87 miliar. Masing-masing untuk motor
sebanyak 700 unit senilai Rp 54,453 miliar dan mobil 556 unit senilai Rp
142,415 miliar. Sedangkan, PT CMMA membeli alat-alat itu ke PT ITI dengan
harga total Rp 83 miliar. PT CMMA itu menang tender proyek simulator
Korlantas. Itu sudah disetting sejak awal. Padahal mereka tak pernah punya
pengalaman menggarap proyek itu, Erick menambahkan, ada empat peserta
pesaing tender dalam proyek itu. Namun semua hanya pelengkap saja. Dalam
tender, Ketua Primer Koperasi Polisi (Primkoppol) Korlanrtas AKBP Teddy
Rusmawan ditunjuk sebagai ketua tim pengadaan. harga disepakati simulator
motor Rp 77,79 juta per unit dan mobil Rp 256,142 juta per unit. Tapi itu mahal
banget, ke klien saya, PT CMMA bayar Rp 42,8 juta motor dan mobil Rp 80 juta
per unit.
3. Perubahan Gaya Hidup
Harga disepakati simulator motor Rp 77,79 juta per unit dan mobil Rp 256,142
juta per unit. PT CMMA membayar Rp 42,8 juta motor dan mobil Rp 80 juta per
unit. Untungnya lebih dari 100 persen," papar Erick seraya menduga uang
keuntungan proyek itu disebar ke sejumlah pihak, termasuk pejabat
kepolisian. Djoko resmi menjadi tersangka dalam kasus pengadaan ini. KPK
menjerat Djoko dengan pasal 2 dan pasal 3 UU 31\/1999 tentang pemberantasan
korupsi terkait penyalahgunaan wewenang dan memperkaya diri sendiri. Kasus
ini terbukti memperkaya tersangka atau pihak yang terlibat dan mengakibatkan
kerugian Negara. Dengan gaji resminya yang hanya berjumlah 30 juta rupiah
sebulan, Kekayaan Djoko Susilo pada 2003-2010 berjumlah Rp 54,625 miliar,
dan US$ 60 ribu, tetapi laporan harta kekayaannya hanya Rp 1,2 miliar.
b. Red Flag Konflik kepentingan
Kecurangan konflik kepentingan melibatkan karyawan yang memiliki hubungan
dengan pihak ketiga dimana karyawan dan / atau pihak ketiga memperoleh
keuangankeuntungan. Penipu menggunakan pengaruh untuk kepentingan pihak ketiga
karena kepentingan pribadi ini pada pihak ketiga. Entitas harus memiliki
kebijakan(etika atau kecurangan) yang secara khusus melarang kegiatan semacam ini.
Red flags meliputi:
1. Sejumlah besar transaksi dengan vendor tertentu
Berdasarkan keterangan Bambang, PT CMMA memenangi proyek simulator
kemudi sepeda motor dan mobil itu senilai Rp 196,87 miliar. Masing-masing
untuk motor sebanyak 700 unit senilai Rp 54,453 miliar dan mobil 556 unit
senilai Rp 142,415 miliar. Sedangkan, PT CMMA membeli alat-alat itu ke PT
ITI dengan harga total Rp 83 miliar. Harga disepakati simulator motor Rp 77,79
juta per unit dan mobil Rp 256,142 juta per unit. Akan tetapi PT CMMA hanya
membayar Rp 42,8 juta motor dan mobil Rp 80 juta per unit. Sehingga mendapat
keuntungan lebih dari 100%, Erick menduga uang keuntungan proyek itu
disebar ke sejumlah pihak, termasuk pejabat kepolisian.
2. Penemuan hubungan antara karyawan dan pihak ketiga itu
sebelumnya tidak diketahui.
Hal ini diawali pada pertengahan Juni 2011, Bambang selaku pemilik PT ITI
dilaporkan ke polisi oleh bos PT CMMA berinisial BS karena dituduh gagal
memenuhi target proyek. Sejak awal, Bambang memang menyatakan tidak
sanggup memenuhi, namun dia tetap diminta memproduksi alat itu. "Setelah itu
dilaporkan klien kami ke Polres Bandung dengan dugaan penipuan dan
penggelapan," terangnya. BS belum bisa dimintai konfirmasi hingga saat ini.
Inilah awal terungkapnya kasus korupsi yang melibatkan pejabat polri. Saat ini,
Bambang meringkuk di tahanan Kebon Waru, Bandung. Kasusnya masih
berjalan di tahapan kasasi. Bambang juga sudah berkali-kali diperiksa KPK
terkait kasus yang melibatkan mantan Kakorlantas Irjen Djoko Susilo ini.

E. MODEL DETEKSI KASUS SIMULATOR SIM


Model deteksi untuk kasus simulator SIM adalah :
1. Dokumentasi
Pencarian dokumen yang tidak lengkap. Prosedur lelang pengadaan alat simulator
SIM harus dilengkapi dokumen yang memadai. Saksi kasus korupsi simulator Surat
Izin Mengemudi (SIM) Sukotjo Sastronegoro Bambang mengaku menyiapkan
dokumen empat perusahaan bayangan untuk mengikuti lelang fiktif. Dokumen
perusahaan itu dibuat atas perintah Teddy Rusmawan (Ketua Panitia Lelang
Simulator SIM tahun 2011), Ni Nyoman Suartini (Sekretaris), dan Budi Santoso
(Direktur PT Citra Mandiri Metalindo Abadi). Ketiga orang tersebut selanjutnya
meminta kemenangan mutlak lelang fiktif oleh PT Citra Mandiri Metalindo Abadi.
Empat perusahaan yang dokumennya direkayasa agar bisa mengikuti lelang adalah
PT Bentina Agung, PT Kolam Intan, PT Digo Mitra Slogan dan PT Prima Kasih
Sentosa. Bambang mengaku, saat dibuka tender pengadaan simulator SIM roda dua
dan mobil di Korlantas pada 2011, Budi memintanya menyiapkan persyaratan
dokumen-dokumen tender. Karena PT CMMA sebagai peserta tender tak mampu
menyusun dokumen. Didik didakwa mengetahui penunjukan langsung perusahaan
pemenang lelang PT Citra Mandiri Metalindo Abadi milik Budi Santoso melalui
lelang fiktif. Padahal, pelelangan tak pernah dilakukan. Meski perusahaan tersebut
dinyatakan sebagai pemenang tender, namun proyek justru digarap oleh PT Inovasi
Teknologi Indonesia, perusahaan yang dikelola oleh Sukotjo. Dengan demikian,
dokumen lelang PT CMMA dapat dipastikan tidak lengkap dan janggal.
2. Hubungan antara pihak pertama dan vendor
Untuk melaksanakan proyek simulator, Korlantas membentuk Panitia Pengadaan yang
diketuai Teddy. Sebelum lelang, Djoko memanggil Teddy dan menyampaikan proyek
simulator dikerjakan Budi. Pernyataan Djoko diteruskan pada Kabag Renmin Budi Setyadi.
Kabag Renmin memperingatkan, barang perusahaan Budi tidak bagus dan dia
meminta driving simulator mengacu pada spesifikasi yang ada di Singapura. Permintaan itu
disetujui, kemudian ada tim yang melakukan studi banding ke Singapura. Tapi, dari hasil
kunjungan itu, Teddy melaporkan kepada Djoko anggaran yang tersedia tidak cukup untuk
membeli driving simulator seperti yang dimiliki Singapura. Djoko lalu memerintahkan
spesifikasi teknis driving simulator tahun 2011 disamakan dengan pengadaan tahun 2010.
Teddy menindaklanjutinya dengan mengadakan pembahasan spesifikasi bersama Sukotjo dan
teknisi PT ITI. Djoko bersama-sama Budi melanjutkan kesepakatan mengenai penetapan
Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Agar tidak menimbulkan kecurigaan, HPS untuk R2
ditentukan Rp79,930 juta per unit, sedangkan HPS untuk R4 Rp258,917 juta per unit.
Tindakan Djoko dan Budi menurut penuntut umum sama dengan penggelembungan harga.
Salah satunya dengan menaikan harga satuan komponen dari harga sebenarnya. Dari uraian
tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa vendor PT CMMA memiliki hubungan dengan pihak
polri yaitu Djoko Susilo.
3. Waktu Pemrosesan
Waktu pemrosesan dan persetujuan pemenang lelang yang singkat dapat dijadikan
alat pendeteksian kasus simulator SIM. PT CMMA sebagai pemenang tender proyek
simulator Korlantas, dimana sudah disetting sejak awal. Padahal PT CMMA tidak
pernah punya pengalaman menggarap proyek tersebut. Ada empat peserta pesaing
tender dalam proyek tersebut. Namun semua hanya pelengkap saja. Dari penyelidikan
aktivitas operasi PT CMMA diketahui bahwa PT CMMA adalah produsen tutup
botol, bukan produsen peraga simulator SIM. Sehingga model deteksi dapat
dikembangkan dengan melakukan background check setiap perusahaan peserta
lelang.
4. Keterlibatan karyawan
Apakah ada keterlibatan karyawan dalam proses pengadaan? Campur tangan yang berlebihna
dari senior manajer atau top manajemen, memberikan petunjuk penting untuk mendeteksi
kasus fraud. Dalam kasus Simulator SIM, keterlibatan Djoko Susilo sejak awal memang patut
dicurigai. Djoko memanggil Teddy dan menyampaikan proyek simulator dikerjakan Budi.
Pernyataan Djoko diteruskan pada Kabag Renmin Budi Setyadi. Kabag Renmin
memperingatkan, barang perusahaan Budi tidak bagus dan dia meminta driving simulator
mengacu pada spesifikasi yang ada di Singapura. Permintaan itu disetujui, kemudian ada tim
yang melakukan studi banding ke Singapura. Tapi, dari hasil kunjungan itu, Teddy
melaporkan kepada Djoko anggaran yang tersedia tidak cukup untuk
membeli driving simulator seperti yang dimiliki Singapura. Djoko lalu memerintahkan
spesifikasi teknis driving simulator tahun 2011 disamakan dengan pengadaan tahun 2010
5. Peserta Lelang yang tidak qualified
Dari penyelidikan aktivitas operasi PT CMMA diketahui bahwa PT CMMA adalah
produsen tutup botol, bukan produsen peraga simulator SIM. Ini menunjukkan bahwa
vendor PT CMMA sebenarnya tidak qualified untuk memenangkan lelang pengadaan
simulator SIM. Sehingga model deteksi dapat dikembangkan dengan melakukan
background check setiap perusahaan peserta lelang.
6. Pembatalan Vendor Lainnya
Apakah ada pengunduran diri dari vendor-vendor lain setelah pengumuman lelang
dilakukan? Jika ada anomali atau kejadian janggal tentang pengunduran diri vendor-
vendor peserta lelang secara mendadak, dapat dijadikan petunjuk bagi auditor
forensik untuk mengungkap kecurangan dalam proses pelelangan. Dalam kasus
simulator SIM, yang digunakan adalah perusahaan fiktif, agar tidak terkesan
penunjukan langsung. Sekali lagi, background check kepada seluruh peserta lelang
menjadi petunjuk penting untuk pengungkapan kasus Simulator SIM.
7. Seleksi vendor
Mereview proses seleksi vendor penting untuk menemukan bukti kecurangan dan
kejanggalan dalam proses pengadaan barang dan jasa. Dalam kasus simulator SIM, a gar PT
CMMA menjadi pemenang lelang pengadaan driving simulator, sekitar Januari 2011, Budi
atas sepengetahuan Teddy memerintahkan Sukotjo menyiapkan beberapa perusahaan untuk
menjadi peserta pendamping. Mereka meminjam bendera perusahaan, seperti PT Bentina
Agung, PT Digo Mitra Slogan, PT Kolam Intan Prima, dan PT Pharma Kasih Sentosa.
Saat evaluasi administrasi, sejumlah perusahaan itu sengaja tidak memberikan dokumen dan
spesifikasi yang lengkap. Maka PT CMMA memenangkan lelang. Sekitar Maret 2011, Teddy
dipanggil Djoko untuk membahas perintah Kapolri mengenai pembentukan tim sepak bola
PS Bhayangkara. Djoko menanyakan mengenai dana yang dapat dicairkan dalam waktu dekat
dan Teddy menjawab dana simulator. Selain itu, Budi meminta kepada Sukotjo uang Rp1,5
miliar untuk Tim Itwasum Mabes Polri guna memenangkan PT CMMA sebagai pelaksana
pekerjaan simulator. Atas dasar rekomendasi Tim Itwasum, Kapolri selaku Pengguna
Anggaran mengeluarkan Surat Keputusan yang menetapkan PT CMMA sebagai pemenang
lelang, dimana kemudian ditandatangani Teddy selaku ketua panitia pengadaan.

F. PENCEGAHAN KASUS SIMULATOR SIM


Pencegahan kasus Simulator SIM dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Pengawasan (Surveillance)
Pada kasus proyek pengadaan barang simulator SIM tahapan korupsi dilakukan sejak
dalam melobi-lobi kepentingan untuk kemenangan tender PT CCMA (Citra Mandiri
Metalindo Abadi). Hal tersebut, mengindentifikasikan kurangnya pengawasan yang
baik dalam kasus proyek pengadaan barang simulator SIM. Dalam pengawasan
birokrasi terdiri dari 2 bentuk pengawasan, yaitu pengawas internal dan pengawasan
eksternal. Pengawas internal yaitu teridiri dari Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP) serta Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara
(MENPAN), selanjutnya pengawas eksternal yaitu terdiri dari Badan Pemeriksaan
Keuangan (BPK), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK). Badan pengawas tersebut harus lebih baik lagi memberikan jaminan
keyakinan terhadap publik untuk kasus proyek Hambalang melalui sebuah
pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor eksternal birokerasi, dalam hal ini Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sehingga
kasus proyek Hambalang tidak terulang kembali.
2. Otorisasi Transaksi
Proses pengadaan dan pembelian barang dan jasa harus melalui otorisasi yang cukup
dari pejabat yang berwenang. Dalam kasus simulator SIM, tampak bahwa Djoko
Susilo sebagai Kakorlantas Polri memiliki wewenang untuk mengotorisasi seluruh
proses lelang pengadaan simulator SIM. Seharusnya, Kapolri menjadi pihak yang
harus bertanggung jawab mengotorisasi seluruh kebijakan pembelian dan pengadaan
barang dan jasa.
3. Pemisahan Fungsi
Pemisahan fungsi untuk bagian yang memproses kontrak dengan vendor dan bagian
pembayaran perlu dilakukan untuk menghindari adanya manipulasi proses pengadaan
barang dan jasa. Fungsi yang memproses order pembelian, receipt, dan invoices juga
harus berbeda.
4. Membangun Internal Control yang Efektif
Kontrol internal yang bagus, paling tidak harus mencakup kontrol lingkungan yang bagus,
sistem akuntansi yang bagus, dan kontrol prosedur (aktivitas) yang juga bagus. Becermin dari
sebuah pernyataan Committee of Sponsoring Organization (COSO) “the control environment
sets the tone of the organization, and is largely responsible for employees being conscious
(and therefore vigilant) about controls”. Intinya, kontrol lingkungan harus mencakup
integritas; nilai etika dan kompetensi sumber daya manusia (SDM); gaya dan filosofi
manajemen; gaya manajemen dalam mengalokasikan wewenang, tanggung jawab, dan
pengembangan SDM; serta perhatian dan arahan dewan direksi.
Sementara, sistem akuntansi yang bagus harus memberikan informasi yang benar,
lengkap, dan tepat waktu. Kontrol prosedur yang bagus harus mencakup kontrol fisik
atas aset-aset, otorisasi yang tepat, segregasi tugas, pengecekan independen, dan
dokumentasi yang lengkap. Perlu dicermati, tidak ada sistem kontrol internal yang
kebal terhadap fraud serta efektivitasnya akan sangat bergantung pada kompetensi
orang-orang di bank yang harus memastikan pelaksanaan internal kontrol yang tepat
dan solid. Sistem kontrol internal hanyalah salah satu elemen program pencegahan
fraud yang komprehensif. Dari kasus Simulator SIM, dapat dipastikan bahwa Internal
Control di tubuh Polri lemah atau tidak efektif, sehingga banyak kasus-kasus fraud
terjadi di kepolisian.
5. Rotasi Pekerjaan
Employee melalui pengendalian system rekrutmen, proses mutasi dan rotasi karyawan
dan kebijakan cuti wajib (block leave). Sistem rekrutmen dengan memperhatikan
catatan kriminal dan riwayat hutang. Perusahaan sebaiknya tidak menerima
karyawan baru yang memiliki indikasi tersebut.
Pemberian cuti dan rotasi kerja juga harus dilakukan secara rutin. Apabila ada
indikasi menolak cuti dan rotasi, perusahaan perlu mencurigai dan menindaklanjuti
hal tersebut. Dalam kasus Simulator SIM, tersangka Djoko Susilo telah menduduki
jabatan di Satlantas Polri sejak tahun 2009.
6. Kebijakan Etika
Konsistensi pelaksanaan kebijakan dan prosedur fraud penting untuk menciptakan
iklim antifraud. Mempunyai sederet peraturan jika tidak dilaksanakan akan sia-sia.
Kebijakan dan penanaman nilai-nilai budaya antifraud harus dimulai dari atasan,
dalam hal ini Kapolri sebagai Tone at the top, yang diikuti komitmen dari seluruh
organisasi. Penanaman budaya antifraud juga berlaku bagi polisi muda yangbaru
direkrut. Faktanya, untuk mendaftar menjadi taruna masih ada praktik-praktik suap
dalam masa pendaftaran taruna baru. Hal ini sama saja dengan menyemai benih-benih
fraudster baru di tubuh kepolisian. Upaya mencegah dan memberantas fraud harus
tuntas sampai pada seleksi taruna baru, yang diberikan pelatihan dan kebijakan
antifraud. Dengan demikian, apabila buadaya antifraud telah tertanam pada
organisasi, akan mengurangi dan mencegah potensi terjadinya fraud.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proyek pengadaan driving simulator SIM yang menggunakan dana anggaran
tahun 2011 muncul dalam ketidakwajaran menggunakan anggaran yang tidak
semestinya. Berawal setelah PT CMMA, perusahaan milik Budi Susanto, menjadi
pemenang tender proyek. Perusahaan tersebut membeli barang dari PT ITI senilai
total Rp 90 miliar. Sementara nilai total tender proyek simulator roda empat dan roda
dua yang dimenangkan PT CMMA mencapai Rp 198,7 miliar. Dari proyek tersebut,
diduga muncul kerugian negara sekitar Rp 100 milyar. Terdapat empat tersangka
dalam kasus simulator SIM, yaitu Djoko Susilo, Didik Purnomo, Budi Susanto,
Sukotjo S. Bambang, dan Tedi Rusmawan.
Model deteksi yang dapat dikembangkan untuk kasus simulator SIM adalah
mengecek dokumentasi, mencari hubungan antara pihak pertama dan vendor, menilai
waktu pemrosesan kontrak lelang, menemukan adanya keterlibatan karyawan,
mereview apakah ada peserta lelang yang mengundurkan diri, mereview kualifikasi
peserta lelang, dan menyeleksi vendor serta background check kepada setiap vendor
peserta lelang.
Adapun metode pencegahan fraud untuk kasus simulator SIM yang dapat
dikembangkan antara lain : adanya pengawasan, melakukan otorisasi transaksi,
melakukan pemisahan fungsi, membangun internal kontrol yang efektif, melakukan
rotasi kerja, dan menerapkan kebijakan etika.
Tindak Pidana Korupsi dengan Tindak Pidana Pencucian uang memiliki hubungan
yang sangat erat. Hal tersebut secara jelas dapat dilihat dalam Pasal 2 ayat 1 Undang
– Undang No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang. Dari ketentuan Pasal tersebut di atas, bahwa tindak pidana korupsi
merupakan salah satu dari jenis tindak pidana asal yang berkaitan dengan tindak
pidana pencucian uang. Tindak Pidana asal (predicate crime) adalah tindak pidana
yang memicu (sumber) terjadinya tindak pidana pencucian uang, sehingga
penanganan perkara tindak pidana pencucian uang mempunyai arti penting bagi
pengembalian asset Negara terkait dengan pemberantasan tindak pidana korupsi.
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang melalui hasil dari Korupsi, perlu
melibatkan kerjasama antara PPATK dengan Kepolisan, PPATK dengan Kejaksaan,
PPATK dengan Kehakiman, dan PPATK dengan KPK.

B. Saran
Untuk mengatasi masalah yang terjadi seperti kasus di atas, seharusnya di dalam
instansi pemerintah itu adalah ditempatkan atau dipilih orang-orang yang tepat dalam
arti mereka adalah orang yang bersedia mengabdi kepada negara dan rakyat. Dan
pemerintah harus bertindak tegas dalam memberikan hukuman yang pantas kepada
para koruptor dan bertindak cepat dalam memberantas korupsi maupun tindak
kejahatan lainnya yang dapat merugikan rakyat dan negara.
Seharusnya dalam mengadakan sebuah proyek, harus ada tahapan-tahapan yang
memang telah menjadi standar dalam pemilihan tender, sehingga bisa meminimalisir
kecurangan-kecurangan dalam pemilihan tender apalagi sampai terjadi
persekongkolan tender ataupun penggandaan tender. Kasus ini sangat tidak
diharapkan terjadi kembali, karena sangat mencoreng citra kepolisian. Apalagi hingga
terjadi penggelembungan dana anggaran sehingga dapat merugikan Negara lebih
besar lagi. DPR dan pemerintah, seharusnya mengawasi kejadian-kejadian tersebut
supaya tidak terjadi lagi kerugian negara yang semakin besar. DPR sebagai lembaga
negara yang menyetuji anggaran setiap lembaga negara juga harus ikut
bertanggungjawab memonitoring setiap mitra kerjanya. Selama ini DPR hanya
menyetujui anggarannya saja, tanpa ada pengawasan intensif kepada lembaga negara,
itupun kalau DPR mendapat keuntungan dari anggaran yang disetujui. Pemerintah
juga harus membuktikan komitmennnya untuk selalu menghemat anggaran negara,
jangan ada anggaran yang dikeluarkan sia-sia, apalagi akhirnya malah dikorupsi.

DAFTAR PUSTAKA
Coenen, T., 2008, Essential of Corporate Fraud, New York: John Wiley & Sons, Inc.
Golden, T. W., Skalak, S.T., Clayton, M. M., 2006, A Guide to Forensic Accounting
Investigation, New York: John Wiley & Sons, Inc
Singleton, TM and Singleton, AJ, 2010, Fraud Auditing and Forensic Accounting, 4th ed.,
New Jersey : John Wiley & Sons, Inc.
http://www.gresnews.com/berita/hukum/74589-penyelesaian-kasus-simulator-sim-
harus-sampai-aktor-kunci-/
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20150205134352-12-29882/perusahaan-peserta-
lelang-simulator-sim-dibayar-rp-15-juta
http://www.tribunnews.com/nasional/2012/08/02/pt-cmma-tak-bisa-susun-dokumen-
tender-simulator-sim
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5177483faa5c6/petualangan-korupsi-djoko-
susilo
https://acch.kpk.go.id/id/jejak-kasus/60-budi-susanto