Anda di halaman 1dari 7

Cedera umum medula spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan tidak komplit

berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan di bawah lesi. Terdapat 5 sindrom


utama cedera medula spinalis inkomplet menurut American Spinal Cord Injury
Association yaitu :
(1) Central Cord Syndrome
(2) Anterior Cord Syndrome
(3) Brown Sequard Syndrome
(4) Cauda Equina Syndrome
(5) Posterior Cord Syndrome

Nama Sindroma Pola dari lesi saraf Kerusakan


Central cord syndrome Cedera pada posisi Menyebar ke daerah sacral.
sentral dan sebagian Kelemahan otot
daerah lateral. ekstremitas atas lebih berat
Sering terjadi pada dari ekstremitas bawah.
trauma daerah servikal
Brown- Sequard Cedera pada sisi Kehilangan proprioseptif
Syndrome anterior dan posterior dan kehilangan fungsi
dari medula spinalis. motorik secara ipsilateral
Cedera akan
menghasilkan
gangguan medulla
spinalis unilateral
Anterior cord syndrome Kerusakan pada Kehilangan funsgsi
anterior dari daerah motorik dan sensorik
putih dan abu- abu secara komplit.
medulla spinalis
Posterior cord syndrome Kerusakan pada Kerusakan proprioseptif
posterior dari daerah diskriminasi dan getaran.
putih dan abu- abu Fungsi motorik juga
medulla spinalis terganggu
Cauda equine syndrome Kerusakan pada saraf Kerusakan sensori dan
lumbal atau sacral lumpuh flaccid pada
sampai ujung medulla ekstremitas bawah dan
spinalis kontrol berkemih dan
defekasi.

1
Selain itu, Spinal Cord Injury juga dibagi menjadi 3 fase yaitu:
1) Fase akut / spinal shock ( 2-3 minggu ), cirinya :
a. Gangguan motorik
Bila terjadi pada daerah cervical maka kelumpuhan terjadi pada ke empat
extremitas yang disebut tetraplegi, sedangkan pada lesi di bawah daerah cervical
akan terjadi kelumpuhan pada anggota gerak bawah yang disebut paraplegi.
b. Gangguan sensorik
Sensasi yang terganggu sesuai dengan deramtom di bawah lesi, hal yang
terganggu berupa sensasi raba, sensasi nyeri, sensasi temperatur ataupun sensasi
dalam.
c. Gangguan fungsi autonom (bladder, bowel, dan seksual )
Di sini bisa terjadi gangguan pengosongan kandung kemih dan saluran
pencernaan, fungsi seksual, fungsi kelenjar keringat dan juga tonus pembuluh
darah di bawah lesi. Pada fase ini urine akan terkumpul di dalam kandung kemih
sampai penuh sekali dan baru dapat keluar apabila sudah penuh.
d. Gangguan respirasi (tergantung letak lesi )
Dapat terjadi gangguan respirasi jika terletak lesi yang terkena level C4
yaitu cabang dari C4 adalah keluarnya n.prenicus yang mempersarafi tractus
respiratorius, jika terkena maka diafragma pasien tidak akan bekerja secara
maksimal sehingga dapat terkena gangguan pernafasan.
e. Hipotensi orthostatik
Tidak adanya tonus otot di daerah abdomen dan extremitas inferior
menyebabkan darah terkumpul di daerah tersebut, akibatnya terjadi penurunan
tekanan darah. Problem ini timbul pada saat pasien bangkit dari posisi terlentang
ke posisi tegak atau perubahan posisi tubuh yang terlalu cepat. Hal ini terjadi pada
pasien yang bed rest lama dan endurancenya menurun.
2). Fase sub akut / recovery (3 minggu – 3 bulan)
Dibagi dalam kriteria:
a. Kriteria 1
Komplit lesi LMN, yang ditandai dengan adanya gangguan sensorik,
motorik, vegetatif, flacciditas dan arefleksia.
b. Kriteria 2
Komplit lesi UMN, yang ditandai dengan adanya gangguan sensorik,
motorik, vegetatif, spastik, dan hiperrefleksia.

2
c. Kriteria 3
Inkomplit lesi LMN, yang ditandai dengan adanya perbaikan fungsi
sensorik/ motorik/ vegetatif, lalu ada hiporefleksia dan hipotonus.
d. Kriteria 4
Inkomplit lesi LMN, yang ditandai dengan adanya perbaikan fungsi
sensorik/motorik, vegetatif, lalu ada hiperrefleksia, dan spastis.
3). Fase kronik (di atas 3 bulan)
Cirinya apabila setelah fase recovery kondisi pasien menjadi complete /
incomplete maka akan timbul gambaran klinis lain, yaitu :
Setelah fase recovery kondisi pasien complete/ incomplete vital sign
pasien menurun dan autonomic dysrefleksia, yaitu suatu kondisi yang berlebihan
pada sistem autonom. Fenomena ini tampak pada cedera medula spinalis di atas
Th6. Hal ini disebabkan aksi relatif dari sistem saraf otonom sebagai respon dari
beberapa stimulus, seperti kandung kemih, fesces yang mengeras (konstipasi),
iritasi kandung kemih, manipulasi rectal, stimulus suhu atau nyeri dan distensi
visceral. Tandanya yaitu hipertensi mendadak, berkeringat, kedinginan, muka
memerah, dingin dan pucat dibawah level lesi, hidung buntu, sakit kepala,
pandangan kabur, nadi cepat lalu menjadi lambat.

A. Gejala Spinal Cord Injury


Spinal Cord Inury mempunyai gambaran klinik yang berbeda-beda tergantung letak
lesinya. Pasien dengan cedera medulla spinalis dapat merasakan nyeri yang hebat atau mati
rasa pada area-area tertentu pada tubuhnya. Selain itu, cedera tulang belakan dapat
menyebabkan gangguan kontrol otot seperti tidak terkontrol, melemah, sampai tidak dapat
digerakkan. Selain itu, dapat juga ditemui adanya gangguan fungsi otot autonom sehingga
pasien tidak dapat menahan BAB maupun BAK.
Pada cedera medulla spinalis terutama cedera cervical, gejala-gejala yang timbul
antara lain:
Cedera pada segmen C1-C2 menyebabkan gangguan bernafas
Cedera pada segmen C3 menyebabkan gangguan fungsi diafragma
Cedera pada segmen C4 menyebabkan hilangnya fungsi otot bisep dan bahu
Cedera pada segmen C5 menyebabkan hilangnya gerakan pergelangan tangan dan
telapak tangan
Cedera pada segmen C6 menyebabkan berkurangnya kontrol pergelangan tangan dan
kehilangan fungsi telapak tangan
Cedera pada segmen C7 menyebabkan berkurangnya fungsi jari-jari

3
B. Pemeriksaan Penunjang

1. Foto Polos Vertebra


Merupakan langkah awal untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang melibatkan medula
spinalis, kolumna vertebralis dan jaringan di sekitarnya. Pada trauma servikal digunakan foto AP,
lateral, dan odontoid. Pada cedera torakal dan lumbal digunakan foto AP dan lateral.

2. CT-scan Vertebra
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan jaringan lunak, struktur tulang, dan kanalis
spinalis dalam potongan aksial. CT-Scan merupakan pilihan utama untuk mendeteksi cedera
fraktur pada tulang belakang.

3. MRI Vertebra
MRI dapat memperlihatkan seluruh struktur internal medula spinalis dalam sekali
pemeriksaan.

C. Rehabilitasi Medis pada Spinal Cord Injury


Rehabilitasi medis pada Spinal Cord Injury dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Fase akut
a. Positioning
Positioning dapat dilakukan oleh perawat maupun fisioterapis, terutama jika pasien
hanya mampu bergerak dengan bantuan orang lain. Positioning diperlukan untuk
mengatur posisi anggota gerak agar tidak terjadi deformitas maupun timbulnya
kelainan lain seperti decubitus.
b. Latihan gerak pasif.
Latihan gerak pasif harus dilakukan pada semua sendi pada anggota gerak yang
mengalami plegi. Pada lesi di lumbal yang harus diperhatikan adalah saat
menggerakkan hip jangan sampai spine juga ikut bergerak. hal yang sama juga perlu
diperhatikan saat menggerakkan anggota gerak atas bila lesi terdapat pada cervical.
c. Chest terapi
Chest terapi dilakukan pada pasien-pasien dengan gangguan nafas atau penyakit paru
kronik. Pasien dengan tetraplegi memerlukan chest terapi karena dapat terjadi atopi
pada otot-otot intercostalis.
d. Exercise
1) Paraplegi : Latihan penguatan untuk anggota gerak atas dilakukan seawal mungkin
2) Tetraplegi : Gerakan aktif pada anggota gerak atas dilakukan pada posisi yang
tidak mengganggu posisi cervical.

4
2. fase pemulihan

a. Paraplegia

1) Sitting balance

Walau terjadi gangguan sensasi pada bagian bawah tubuh, namun sitting balance
bisa dicapai. Pasien dapat belajar untuk menggunakan sensasi pada bagian atas tubuh dan
menggunakan pandangan dengan lebih intensif. Ada banyak metode yang dapat
digunakan dalam melatih balance.

2) Mobilisasi dengan kusi roda

Kursi roda yang digunakan bisa berupa kursi roda manual ataupun kursi roda
elektrik. Penggunaan kursi roda ini sangat penting bagi pasien untuk dapat bergerak dan
membangun kemandirian. Pasien dengan kursi roda manual dapat berlatih untuk
mengoperasikan kursi rodanya pada jalan yang menanjak atau menurun serta pada jalan
yang ada tangganya.

3) Transfer

Pada saat awal pasien dapat diajarkan untuk miring kanan dan miring kiri dan
duduk di atas tempat tidur. Lalu dapat dilanjutkan untuk berpindah dari tempat tidur ke
kursi roda dan sebaliknya.

4) Perawatan diri

Perawatan diri harus dimulai saat awal terapi. Pasien harus diajarkan untuk
mengurangi tekanan-tekanan pada bagian tubuhnya (dudukannya) setiap 10 – 15 menit,
sehingga selanjutnya hal tersbut dapat menjadi suatu reaksi yang otomatis. Pasien juga
harus diajarkan cara mengobservasi daerah yang tertekan, atau bila areanya tidak dapat
terlihat oleh pasien, maka harus ada orang lain yang dapat mengobservasinya.

Pasien diajarkan untuk melatih gerakan pasif sendiri dan melaporkan kepada
terapis bila ada gerakan yang sulit dilakukan. Pasien diajarkan untuk melakukan beberapa
kegiatan fungsional yang mungkin untuk dilakukannya, seperti berpakaian dan mandi.

5
5) Penguatan anggota gerak atas

Hal ini dapat dilakukan pada matras atau kursi roda. Untuk memulai latihan,
pasien dapat menggunakan tahanan secara manual. Selanjutnya pasien dapat
menggunakan paralatan dengan beban atau dengan menggunakan beban berat badannya
sendiri. Selain itu pasien dapat melakukan olah raga untuk meningkatkan kekuatan otot
ekstemitas.

6) Latihan berdiri dan berjalan

Seperti saat latihan duduk, pasien harus diajarkan untuk mengkompensasi sensoris
yang hilang pada tubuh bagian bawah. Untuk dapat berdiri dan berjalan pasien akan
membutuhkan beberapa orthosis atau dengan menggunakan kruk, tergantung level lesi
yang terkena dan kondisi pasien.

7) Kemandirian

Untuk seorang muda yang menderita paraplegia, kemungkinan besar ia akan


dapat hidup secara mandiri dan dapat kembali bekerja. Modifikasi pekerjaan mungkin
diperlukan apabila pekerjaannya yang lama tidak dapat dilakukan dengan nyaman pada
kondisinya saat ini. Hal yang penting adalah bahwa persiapan untuk hidup mandiri harus
dilakukan sejak awal program terapi.

b. Tetraplegia

Walaupun beberapa tujuannya sama, pada kondisi tetraplegia dibutuhkan waktu


yang lama dan akan lebih sulit untuk mencapai target terapi. Salah satu masalah yang
timbul pada SCI yang lebih tinggi adalah adanya hipotensi postural yang timbul akibat
hilangnya kontrol vasomotor. Pasien dapat diajarkan untuk beradaptasi dengan perubahan
posisi, dan mereka harus mengenali tanda-tanda bila ia akan pingsan.

Kursi roda yang akan digunakan memerlukan adaptasi, seperti sandaran yang
tinggi. Pada kondisi pasien dengan lesi pada cervical bawah, pasien mampu untuk
transfer, namun pada lesi cervical atas, akan memerlukan bantuan untuk transfer.

Pada pasien dengan tetraplegi, tidak mudah untuk melakukan perawatan diri, tapi
pasien harus mampu mengetahui apa yang ia butuhkan dan tahu kapan ia harus
memerlukan bantuan dari orang lain. Derajat kemandirian yang dapat dicapai oleh
6
seorang dengan tetraplegi tidak akan setinggi penderita paraplegia, sehingga ia harus
diperiksa dengan hati-hati.

3. Evaluasi

Evaluasi dapat dilakukan secara berkala, dimana tujuan dari evaluasi ini adalah
untuk mengetahui apakah terapi yang kita berikan bermanfaat atau berguna bagi
penyembuhan pasien ataukah harus diubah jika ada perubahan terhadap penyembuhan
masalah yang dihadapi pasien.