Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk
keberhasilan pembangunan bangsa. Untuk itu diselenggarakan
pembangunan kesehatan secara menyeluruh agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat setinggi– tingginya.
Pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019 adalah program
Indonesia Sehat dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status
gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masayarakat
yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemeretaan pelayanan
kesehatan.
Dalam Rencana Strategis Kementrian Kesehatan 2015-2019 tidak ada
visi dan misi, namun mengikuti visi dan misi Presiden Republik Indonesia
yaitu ”Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian
berlandaskan Gotong-royong”. Upaya untuk mewujudkan visi ini adalah
melalui 7 misi pembangunan yaitu yang pertama terwujudnya keamaan
nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian
ekonomi dengan mengamankan semberdaya maritim dan mencerminkan
kepribadian Indonesia sebagai Negara Kepulauan. Yang kedua mewujudkan
masyarakat maju, berkesinambungan dan demokratis berlandaskan negar
hukum. Yang ketiga mewujudkan politik luar negeri bebas dan aktif serta
memperkuat jati diri sebagai negara maritim. Yang keempat mewujudkan
kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera. Yang
kelima mewujudkan bangsa yang berdaya saing. Yang keenam mewujudkan
Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan berbasis
kepentingan nasional, serta yang ketujuh mewujudkan masyarakat yang
berkepribadian dalam kebudayaan.
Dalam NAWACITA yang ingin diwujudkan pada Kabinet Kerja point 5
meningkatkan kwalitas hidup manusia, Kementrian Kesehatan mempunyai
peran dan kontribusi dalam tercapainya seluruh NAWACITA.
Peningkatan status kesehatan masyarakat dilakukan semua kontinum
siklus kehidupan (life cycle), yaitu bayi, balita, anak usia sekolah, remaja,
kelompok usia kerja, maternal dan kelompok lansia.
Saat mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) secara
efektif pada tanggal 1Januari 2016. Pemberlakuan ASEAN Community yang
mencakup total populasi lebih dari 560 juta jiwa, akan memberikan peluang
(akses pasar) sekaligus tantangan tersendiri bagi Indonesia. Implementasi
ASEAN Economic Community, yang mencakup liberalisasi perdagangan
perdagangan barang dan jasa serta investasi sektor kesehatan. Perlu
dilakuakn upaya meningkatkan daya saing (competitiveness) dari fasilitas-
fasilitas pelayanan kesehatan dalam negeri. Pembenahan fasilitas-fasilitas
pelayanan kesehatan yang ada, baik dari segi sumber daya manusia,
peralatan, sarana dan prasarananya, maupun dari segi manajemennya perlu
digalakkan. Akreditasi fasilitas pelayanan kesehatan (Rumah Sakit,
Puskesmas, dan lain-lain) harus dilakukan secara serius, terencana, dan
dalam tempo yang tidak terlalu lama.
Dengan berakirnya agenda Millennium Development Goals (MDGs)
pada tahun 2015, banyak negara mengakui keberhasilan dari MDGs sebagai
pendorong tindakan-tindakan untuk mengurangi kemiskinan dan
meningkatkan pembangunan masyarakat. Khususnya dalam bentuk
dukungan politik. Kelanjutan program ini disebut Subtainable Development
Goals (SDGs), yang meliputi 17 goals. Dalam bidang kesehatan fakta
menunjukkan bahwa individu yang sehat memiliki kemampuan fisik dan daya
pikir yang lebih kuat, sehingga dapat berkontribusi secara produktif dalam
pembanguan masyarakat.
Penduduk yang sehat bukan saja akan menunjang keberhasilan
program pendidikan, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas dan
pendapatan penduduk. Untuk mempercepat keberhasilan pembangunan
kesehatan tersebut diperlukan kebijakan pembangunan kesehatan yang lebih
dinamis dan proaktif dengan melibatkan semua sektor terkait, pemerintah,
swasta dan masayarakat. Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya
ditentukan oleh kinerja sektor kesehatan semata, melainkan sangat
dipengaruhi oleh interaksi yang dinamis dari berbagai sektor.
Puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan terdepan yang
bertanggung jawab di satu wilayah kecamatan. Untuk menjamin pemerataaan
pelayanan kesehatan di wilayah UPTD Puskesmas Plosoklaten, selain
Puskesmas induk ada 3 Puskesmas Pembantu, 5 Pos Keehatan Desa
(Poskesdes) Polindes, 40 Posyandu Balita dan 38 Posyandu Lansia serta 1
Posbindu sebagai sarana pelayanan kesehatan yang harus semakin
ditingkatkan baik dari segi jumlah pemerataan dan kualitasnya. Namun masih
ada berbagai masalah yang dihadapi oleh puskesmas dan jaringannya dalam
upaya meningkatkan status kesehatan masyarakat. Beberapa masalah
tersebut antara lain ketersediaan dan distribusi tenaga kesehatan yang belum
merata, ketersediaan peralatan kesehatan yang masih perlu ditingkatkan,
keterbatasan obat-obatan dan logistik lainnya, keterbatasan biaya
operasional untuk pelayanan manajemen puskesmas yang masih perlu
dibenahi serta kemampuan dan ketrampilan tenaga kesehatan yang masih
perlu ditingkatkan. Selain itu perbedaan sosial ekonomi masyarakat, strata
pendidikan juga berpengaruh terhadap penyelenggaraan upaya kesehatan.
Berbagai upaya telah dan akan terus ditingkatkan baik oleh
pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar peran dan fungsi
Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan dasar semakin
meningkat. Upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan masyarakat, yaitu melalui dukungan dana Bantuan Operasional
Kesehatan (BOK), Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dana APBD bagi
Puskesmas untuk kegiatan operasional puskesmas dan dana retribusi
Puskesmas yang dikelola dalam BLUD.
Penyaluran dana-dana tersebut merupakan salah satu bentuk
tanggung jawab pemerintah dalam pembangunan kesehatan bagi
masyarakat di pedesaan khususnya dalam meningkatkan upaya kesehatan
promotif dan preventif guna tercapainya target Standar Pelayanan Minimal
(SPM) Bidang Kesehatan sebagai tolak ukur urusan kewenangan wajib
bidang kesehatan yang telah dilimpahkan oleh pemerintah kepada
pemerintah daerah. Puskesmas sebagai salah satu pelaksana pelayanan
bidang kesehatan juga mengemban amanat untuk mencapai target tersebut
sehingga masyarakat akan mendapat pelayanan kesehatan yang semakin
merata berkualitas dan berkeadilan.
Berdasarkan kebijakan tersebut, maka disusunlah Perencanaan
Usulan Kegiatan ( RUK ) Dalam lingkup pelayanan Keluarga Berencana
Tahun 2016 yang dapat memberikan petunjuk teknis secara umum dalam
mekanisme pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan oleh UPTD Puskesmas
Plosoklaten tahun 2018 .
Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi dilakukan dengan cara yang
dapat dipertanggung jawabkan dari segi agama, norma budaya, etika, serta
segi kesehatan ( Permenkes no 97 thn 2014, Bab.3,tentang Penyelenggaraan
Pelayanan Kontrasepsi ). Pelayanan kontrasepsi itu tertuang juga dalam
pelayanan Kesehatan Reproduksi yang mempunyai arti keadaan sehat
secara fisik , mental dan sosial secara utuh , tidak semata mata bebas dari
penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistim fungsi dan proses
reproduksi .
Adapun pelayanan reproduksi meliputi, pelayanan reproduksi remaja
,pelayanan kesehatan reproduksi sebelum hamil , pelayanan kesehatan masa
hamil , pelayanan kesehatan masa melahirkan dan pelayanan kesehatan
masa sesudah melahirkan ( PP No.61 thn 2014 , Bab 1 Pasal 1 )

1.2 Tujuan dan Manfaat


a. Tujuan Umum
Meningkatnya status kesehatan masyarakat dan meningkatnya daya
tanggap (responsiveness) dan perlindungan masyarakat terhadap resiko
sosial dan finansial di bidang kesehatan dan untuk menyusun Rencana
Usulan Kegiatan ( RUK ) Program Kesehatan Reproduksi di tahun 2018

b. Tujuan Khusus
1. Menggerakkan promosi kesehatan secara berkesinambungan ( terus
menerus )
2. Meningkatkan Kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam
berperilaku hidup sehat
3. Meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan kesehatan
reproduksi yang bermutu , bagi seluruh lapisan masyarakat
4. Bekerja sama dengan Linprog dan Lintor dalam penyediaan Obat dan
Alat ( edukasi , kontrasepsi ) dalam program pelayanan kesehatan
reproduksi .
5. Meningkatkan tata kelola di bidang kesehatan secara optimal ( Tata
Kelola Kesehatan tercipta dengan baik )
6. Memperbaiki Tata cara pelaksanaan pencatatan pelaporan program
Kesehatan Reproduksi .
7. Meningkatkan profesionalisme dalam bekerja .
Dalam arti seluruh pegawai puskesmas bekerja secara profesional
sesuai dengan kompetensinya masing – masing .
8. Dan tujuan khusus dari pembuatan Rencana Usulan Kegiatan ( RUK )
ini adalah , untuk melakukan analisa situasi saat inin, teridentifikasinya
masalah kesehatan reprodoksi pada saat ini , menyusun
masalahbdalam skala prioritas , dan merencanakan strategi
pemecahan masalah sesuai prioritas .

1.3 Visi, Misi Dan Tata Nilai

VISI : ”Terwujudnya Pelayanan Kesehatan Yang Profesional Dan


Optimal Menuju Masyarakat Sehat.”

MISI :

1. Peningkatan mutu pelayanan dan manajemen kesehatan


2. Peningkatan perkembangan sdm secara profesional
3. Peningkatan kwalitas pelayanan dengan penuh keiklasan ,kejujuran
untuk mencapai pelayanan yang optimal
4. Peningkatan upaya kesehatan yang bersumber daya masyarakat
dengan perilaku hidup bersih dan sehat

MOTTO:

Selalu Ramah Senyum, Salam Dan Sapa Dalam Pelayanan


TATA NILAI

JOSS ( Jujur, Optimis, Semangat, Sukses )

a. JUJUR
Sebagai insan yang beriman UPTD Puskesmas Plosoklaten selalu
memberikan pelayanan dengan tidak membedakan kelas.
b. OPTIMIS
Maju bersama memberikan pelayanan sesuai standart
c. SEMANGAT
Mempunyai inovasi untuk maju dan meningkatkan kualitas
pelayanan.
d. SUKSES
Bersama-sama ingin menggapai derajat