Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN GENERAL X-RAY 3 FASA

LABORATORIUM PERALATAN RADIOLOGI III

Dosen Pembimbing:

Tribowo Indrato, ST, MT


NIP: 19581118 198503 1 002

Oleh:

M. Rizky Pratomo P27838115025


Dewi Nofitasari P27838115031
M. Nezar Abdillah M. P27838115032
Decoriza Kurnia Abadi P27838115039

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK

2018
Kata Pengantar

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
praktikum yang berjudul General X-Ray 3 Fasa ini dengan baik dan tepat waktu.
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui X-ray 3 Fasa secara umum dan
mempelajari komponen apa saja yang menjadi penyusun General X-Ray 3 Fasa
tersebut.
Dengan selesainya laporan praktikum ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak
yang telah memberikan masukan-masukan kepada penulis. Untuk itu penulis
mengucapkan banyak terimakasih kepada :

1. Dosen Mata kuliah Praktikum Peralatan Radiologi III, Bapak Tri Bowo
Indrato.
2. Orangtua kami yang selalu mendoakan serta mendukung kelancaran
pembuatan laporan ini.
3. Rekan-rekan sekelompok dan teman-teman lainnya yang sudah membantu
menyusun dan memberi masukan penyusunan laporan ini.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan ini, baik dari
materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan
pengalaman penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat
penulis harapkan.
Surabaya, 08 April 2018
Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Radiologi adalah cabang atau spesialisasi kedokteran yang berhubungan
dengan studi dan penerapan teknologi pencitraan seperti x-ray dan radiasi untuk
mendiagnosa dan mengobati penyakit.
Selain digunakan untuk mendiagnosis penyakit, radiologi juga digunakan
untuk terapi radiasi. Terapi radiasi adalah cara pengobatan dengan memakai
radiasi. Terapi seperti ini biasanya digunakan dalam pengobatan kanker.
Pemberian terapi dapat menyembuhkan, mengurangi gejala, atau mencegah
penyebaran kanker, bergantung pada jenis dan stadium kanker:

1. Radiodiagnostik
Radiodiagnostik adalah kegiatan penunjang diagnostik menggunakan
perangkat radiasi sinar pengion (sinar x), untuk melihat fungsi tubuh
secara anatomi. Ahli dalam bidang ini dikenal sebagai radiolog. Salah satu
contoh radiodiagnostik adalah rontgen. Radiodiagnostik dilakukan
sebelum melakukan radioterapi
2. Radioterapi
Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion
untuk mematikan sel kanker sebanyak mungkin, dengan kerusakan pada
sel normal sekecil mungkin. Tindakan terapi ini menggunakan sumber
radiasi tertutup pemancar radiasi gamma atau pesawat sinar-x dan berkas
elektron.

2. Tujuan
a. Untuk mempelajari X-Ray 3 Fasa secara umum.
b. Untuk mempelajari lebih dalam komponen-komponen penyusun General X-
Ray 3 Fasa.
3. Alat dan Bahan
a. Alat :
 Obeng
 Tang
 Multimeter
b. Bahan :
 Control table
 HTT Tank
 X-Ray tube unit
 Patient table
BAB II

DASAR TEORI

1. Pesawat Rontgen
Pesawat rontgen adalah alat / pesawat medik yang bekerjanya dapat
menghasilkan radiasi sinar X, baik untuk keperluan fluoroskopi maupun
radiografi. Output yang dihasilkan dari pesawat ini adalah berkas sinar ( x-ray)
Proses terjadinya sinar –x yaitu:
a. Didalam tabung rontgen ada katoda dan anoda yang dipanaskan (besar
20.000oC) sampai menyala dengan mengalirkan listrik yang berasal dari
transformator
b. Karena panas electron-electron dari katoda (filament) terlepas
c. Sewaktu dihubungkan dengan transformator tegangan tinggi , electron-
elektron gerakannya dipercepat menuju anoda yang berpusat di focusing
cup
d. Awan-awan electron mendadak dihentikan pada target (sasaran) sehingga
terbentuk panas (99%) dan sinar x (1%)
e. Pelindung (perisai) timah akan meencegah keluarnya sinar – x sehingga
sinar –x yang terbentuk hanya dapat keluar melalui jendela
f. Panas yang tinggi pada target (sasaran) akibat benturan electron
dihilangkan radiator pendingin
Blok diagram pesawat sinar-x:
Sebuah sumber tegangan tinggi dari 20 – 200 kV diperlukan untuk
menghasilkan sinar-x pada tabung sinar-x. Penentuan waktu durasi tegangan
tinggi yang dipakai pada tabung harus dibatasi dengan hati-hati supaya pasien
tidak menerima dosis yang berlebihan, film tidak menjadi terlalu hitam, dan
tabung sinar-x tidak terlalu panas. Selama tabung sinar-x dioperasikan dalam
batas termalnya, intensitas sinar-x diatur oleh arus filamen. Sebagai sebuah
proteksi terhadap kelebihan panas, temperatur anoda dimonitor oleh
pendeteksi temperatur. Jika temperaturt anoda melebihi nilai tertentu,
kelebihan panas akan dideteksi dan suplai tegangan tinggi akan mati secara
otomatis. Sebagian besar anoda tabung sinar-x diputar oleh motor induksi
untuk membatasi daya sinar-x pada satu titik dan membantu pendinginan
anoda. Sumber tegangan tinggi pada gambar 2.2 dihasilkan oleh sebuah trafo
tengangan tinggi ke tingkat 20 – 200 kV. Tegangan tinggi kemudian
disearahkan dan dihubungkan ke tabung sinar-x yang akan melewatkan arus
konvensional hanya dalam satu arah dari anoda ke katoda. Produksi sinar-x
oleh anoda merupakan radiasi bremstrahlung yang terdiri dari sebaran
frekuensi. Sinar-x dengan frekuensi rendah tidak memiliki kontribusi yang
berarti dalam data diagnostik tetapi akan meningkatkan dosis yang diterima
pasien. Untuk mereduksi sinar-x frekuensi rendah digunakan filter aluminium
sedangkan kolimator digunakan untuk membatasi luas paparan radiasi sinar-x.

Klasifikasi Pesawat Sinar-X


Pesawat sinar-x dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok.
a. Berdasarkan kegunaan
Berdasarkan kegunaannya pesawat sinar-x dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Pesawat sinar-x diagnostik
Pesawat sinar-x diagnostik digunakan untuk melihat organ bagian
dalam tubuh seperti tulang, paru-paru, jantung dan sebagainya. Pesawat
jenis ini dapat mendeteksi adanya keretakan tulang maupun tumor pada
jaringan tubuh. Tegangan tabung sinar-x yang digunakan dalam pesawat
jenis diagnostik tidak lebih dari 150 kV.
2) Pesawat sinar-x terapi
Pesawat sinar-x terapi digunakan untuk merusak jaringan kanker atau
tumor. Pesawat sinar-x jenis ini menggunakan tegangan tabung lebih
besar dari pesawat jenis diagnostik yaitu berkisar dari 400 kV hingga
belasan MV (Wiryosimin, 1995 ).

b. Berdasarkan Cara Penempatan


1) Pesawat sinar-x portabel
Pesawat sinar-x portabel adalah pesawat sinar-x yang dapat dipindah
pindahkan. Pesawatini biasanya berukuran kecil. Contoh: pesawat sinar-
x jenis mobile.
2) Pesawat sinar-x fixed
Pesawat sinar-x fixed adalah pesawat sinar-x yang tidak dapat
dipindah pindahkan.

c. Berdasarkan Penerapan
Pesawat sinar-x juga dapat dibedakan berdasarkan bidang terapannya
yaitu
1) Pesawat sinar-x industri
Pesawat sinar-x industri digunakan untuk keperluan dibidang
industri misalnya untuk keperluan radiografi dalam teknik uji tak
merusak, difraktometri atau kristalografi.
2) Pesawat sinar-x medik
Pesawat sinar-x yang digunakan dalam bidang medik dibedakan
dalam dua kelompok, yaitu jenis pesawat sinar-x diagnostik dan jenis
terapi.
2. Blok diagram Pesawat roentgen konvensional

1. Blok Diagram Power Supply

Ragkaian ini berfungsi untuk mendistribusikan tegangan pada


seluruh rangkaian pesawat sesuai yang dibutuhkan oleh masing-
masing rangkaian

2. Blok Rangkaian Pemanas Filamen.


Fungsinya untuk memberikan catu daya dan mengatur besar arus
pemanas filament agar terjadinya termionic emission bisa di kendalikan
sehingga jumlah electron – electron bebas yang dihasilkan pada filament
tabung rontgen bisa dicontrol.

3. Blok Rangkaian Tegangan Tinggi

Pada rangkaian ini terdapat trafo tegangan tinggi yang berfungsi


untuk memberikan beda potensial antara anoda dan katoda dimana anoda
harus selalu mendapat polaritas positif dan katoda harus selalu mendapat
polaritas negatif agar elektron-elektron bebas yang ada disekitar katoda
dapat ditarik ke anoda.

Transformator adalah alat yang berfungsi untuk menaikkan atau


menurunkan tegangan dari satu rangkaian kerangkaian lain. Bila
transformator tersebut untuk menaikkan tegangan disebut transformator
step up ( pada HTT )dan apabila untuk menurunkan tegangan disebut
transformator step down ( pada trafo filamen ). transformator step up
mempunyai jumlah lilitan sekunder lebih banyak dari pada jumlah lilitan
primernya sedangkan transformator step down mempunyai jumlah lilitan
sekunder lebih sedikit dari pada jumlah lilitan primernya. Pada HTT jenis
transformator yang digunakan adalah step up dan perbandingan
transformasinya bisa mencapai 1 : 1000 atau tergantung dari desain
pabrik pembuatan

4. Blok rangkaian tabung rontgen

Merupakan sebuah tabung diode yaitu tabung vakum yang terdiri


dari dua elektrode, yaitu anode dan katode. X ray tube adalah tempat
berlangsungnya proses terbentuknya sinar x.

3. Sistem Listrik 3 Fasa


Listrik 3-phase adalah listrik AC (alternating current) yang
menggunakan 3 penghantar yang mempunyai tegangan sama tetapi berbeda
dalam sudut phase sebesar 120 degree. Ada 2 macam hubungan dalam
koneksi 3 penghantar tadi : hubungan bintang (“Y” atau star) dan hubungan
delta. Sesuai bentuknya, yang satu seperti huruf “Y” dan satu lagi seperti
simbol “delta”. Tetapi untuk bahasan ini kita akan lebih banyak
membicarakan mengenai hubungan bintang saja.
Sistem 3-Phase Hubungan Bintang dengan tegangan 380/220V.
Gambar diatas adalah contoh sistem 3-phase yang dihubung bintang. Titik
pertemuan dari masing-masing phase disebut dengan titik netral. Titik netral
ini merupakan common dan tidak bertegangan.
Ada 2 macam tegangan listrik yang dikenal dalam sistem 3-phase ini :
Tegangan antar phase (Vpp : voltage phase to phase atau ada juga yang
menggunakan istilah Voltage line to line) dan tegangan phase ke netral (Vpn :
Voltage phase to netral atau Voltage line to netral). Sistem tegangan yang
dipakai pada gambar dibawah adalah yang digunakan PLN pada trafo
distribusi JTR (380V/220V), dengan titik netral ditanahkan.
Pada istilah umum di Indonesia, sistem 3-phase ini lebih familiar
dengan nama sistem R-S-T. karena memang umumnya menggunakan simbol
“R”, “S” , “T” untuk tiap penghantar phasenya serta simbol “N” untuk
penghantar netral.
BAB III
PEMBAHASAN
1. Gambar Rangkaian

Rangkaian Gabungan Pesawat X-ray 3 phase

Rangkaian Interlock
2. Penjelasan Rangkaian General X-Ray 3 Fasa
Ketika main switch ditekan ke posisi ON kontaktor 1 aktif, kemudian
tegangan PLN 3 phase masuk ke primer autotransformator melalui
sambungan delta yang sebelumnya sudah melewati fuse pengaman. Besarnya
tegangan yang masuk dapat diketahui pada Line Volt Meter. Tegangan yang
masuk pada alat harus persis menunjukkan pada indikator yang ditentukan.
Jika tegangan tidak sesuai dapat diatur dengan menggunakan Line Voltage
Compensator yaitu dengan menambah atau mengurangi lilitan autotrafo. Lalu
pada sekunder autotrafo terdapat pemilihan KV mayor & KV minor untuk
memilih besarnya beda potensial antara anoda dan katoda pada insert tube.
Selanjutnya output pemilihan KV Mayor terhubung dengan kontaktor 2 yang
jika push button ekspose ditekan, kontaktor akan aktif dan menghubungkan
tegangan ke HTT. Hal itu terjadi sesuai dengan pengaturan waktu pada timer.
Output KV Mayor & KV Minor disambung ke input primer HTT dengan
sambungan delta karena pada primer HTT memerlukan tegangan yang kecil
dan arus yang besar. Output sekunder HTT dihubungkan dengan diode
sebagai penyearah gelombang dengan output +V1 terhubung ke PB pemilihan
tabung dan anoda tabung I, II, atau III. Output –V1 & +V2 terhubung ke mA
sebagai penunjuk arus tabung. Output –V2 terhubung ke common (0)
sekunder trafo filament. Input primer trafo filament ada 2 yang seperti saklar
dihubungkan ke salah satu phase R, S, atau T; sedangkan input satunya
dihubungkan ke common (0). Input dengan pengaturan seperti saklar itu
digunakan untuk pemilihan small focus / large focus. Lalu untuk sekunder
HTT terdapat 3 output-an yaitu tegangan untuk small focus, large focus, dan
common (0). Output-output tadi terhubung ke 3 set kontaktor yang masing-
masing untuk mengendalikan/mengatur sambungan tegangan ke katoda
pemilihan tabung yaitu tabung I, II, atau III.

3. Penjelasan Rangkaian Interlock


BAB IV

KESIMPULAN

 (berupa point-point tentang pembelajaran rangkaian radiologi selama


perkuliahan).
DAFTAR PUSTAKA
[1] https://medicareku.blogspot.co.id/2016/04/laporan-pratikum-peralatan-
radiologi.html
[2] http://rasyanto.blogspot.co.id/p/ms-ct-scan-64-slices.html
[3] http://putriradiografer.blogspot.co.id/2014/12/pesawat-rontgen.html