Anda di halaman 1dari 50

CASE PRESENTATION

MANAJEMEN OBAT DI PUSKESMAS PANDANARAN


Laporan Kesehatan Masyarakat
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Dalam Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Di Puskesmas Pandanaran
Periode Kepaniteraan 19 Juni 2017 – 19 Agustus 2017

Oleh :
Riries Dwi Wibawanti
30101307063

Pembimbing :

dr. Suryani Yulianti M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2017

1
MANAJEMEN OBAT DI PUSKESMAS PANDANARAN
Periode 19 Juni 2017 – 19 Agustus 2017
Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di
Puskesmas Pandanaran Periode kepaniteraan 19 Juni 2017– 19 Agustus
2017

Yang dipersiapkan dan disusun oleh:

Riries Dwi Wibawanti


30101307063

Laporan Kasus yang telah diseminarkan, diterima dan disetujui di depan tim
penilai Puskesmas Pandanaran Semarang.
Semarang, Juli 2017
Disahkan Oleh:

Mengetahui
Pembimbing Puskesmas Pandanaran Pembimbing Kepanitraan IKM

Rida Indriyani S.farm, Apt dr.Suryani Yulianti,.M.kes

Kepala Puskesmas Pandanaran Kepala Bagian IKM FK Unissula

2
dr. Antonia Sadniningtyas Dr.Siti Thomas Z.,SKM,M.kes

PRAKATA

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah

memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan

laporan kasus mengenai Manajemen Obat di Puskesmas Pandanaran Semarang.

Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas-tugas dalam rangka

menjalankan Kepanitraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat. Laporan ini

memuat data tentang Manajemen Obat Puskesmas Pandanaran Semarang.

Laporan ini dapat diselesaikan berkat kerjasama tim dan bantuan dari

berbagai pihak. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya

kepada :
1. dr. Antonia, selaku Kepala Puskesmas Pandanaran yang telah memberikan

bimbingan dan pelatihan selama kami menempuh Kepanitraan Klinik Ilmu

Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Pandanaran Semarang.


2. Ibu Rida Indriyani, S.farm, Apt. selaku pembimbing di Puskesmas

Pandanaran yang telah memberikan bimbingan dan pelatihan selama kami

menempuh Kepanitraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di Puskesmas

Pandanaran Semarang.
3. Dokter, Paramedis, beserta Staf Puskesmas Pandanaran atas bimbingan dan

kerjasama yang telah diberikan.


Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan laporan ini masih jauh

dari sempurna karena keterbatasan waktu dan kemampuan. Karena itu kami

sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata kami berharap semoga hasil laporan kasus Manajemen Obat di

Puskesmas Pandanaran Semarang ini bermanfaat bagi semua pihak.

3
Semarang, Juli 2017

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN...................................................................... ii

4
PRAKATA.................................................................................................... iii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1
1.1. Latar belakang ................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah........................................................................... 3
1.3. Tujuan............................................................................................. 3
1.4. Manfaat Penelitian.......................................................................... 4
1.4.1. Bagi Dokter Muda.......................................................... 4
1.4.2. Bagi Puskesmas.............................................................. 4
BAB II DASAR MATERI DAN ANALISA SITUASI.......................... 5
2.1 Cara pengamatan dan waktu pengamatan……………......... 15
2.2 Hasil analisis situasi.............................................................. 15
2.2.1 Struktur Organisasi Manajemen Obat............. 16
2.2.2 Perencanaan Obat............................................ 16
2.2.3 Pengadaan Obat.............................................. 17
2.2.4 Penerimaan Obat............................................. 18
2.2.5 Penyimpanan Obat.......................................... 18
2.2.6 Pendistribusian Obat....................................... 21
2.2.7 Pemantauan Obat............................................ 23
2.2.8 Form-form yang digunakan............................ 24
BAB III PEMBAHASAN ...................................................................... 26
3.1 Prioritas Masalah................................................................... 29
3.1.1 Daftar Masalah................................................ 29
3.1.2 Prioritas Masalah dengan metode Hanloon.... 30
3.2 Analisis Kemungkinan Penyebab Masalah........................... 33
3.3 Analisis Akar Penyebab Masalah.......................................... 34
3.4 Usulan Pemecahan Masalah.................................................. 35
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN.................................................. 38
4.1 Kesimpulan............................................................................ 38
4.2 Saran...................................................................................... 39
BAB V PENUTUP....................................................................................... 40

5
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 41
LAMPIRAN ........................................................................................ 42

6
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) merupakan unit organisasi

pelayanan kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat

pengembangan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk

masyarakat yang tinggal di suatu wilayah kerja tertentu. Puskesmas sebagai

salah satu organisasi fungsional pusat pengembangan masyarakat yang

memberikan pelayanan promotif (peningkatan), preventif (pencegahan),

kuratif (pengobatan), dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan). Salah satu

upaya pemulihan kesehatan yang dilakukan melalui kegiatan pokok

puskesmas adalah pengobatan. Dalam memberikan pelayanan kesehatan

terutama pengobatan di Puskesmas maka obat-obatan merupakan unsur yang

sangat penting. Ketersediaan dan manajemen obat yang sesuai standar dan

memenuhi syarat yang ada memegang peranan penting dalam pengobatan.

Berdasarkan analisis pembiayaan kesehatan (Pemerintah dan Masyarakat

termasuk Swasta) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan, masyarakat

dan Bank Dunia selama tahun 1982/1983 dan tahun 1986/1987 menunjukkan

bahwa pengeluaran khusus obat-obatan di sektor pemerintah sebesar 18% dari

keseluruhan pembiayaan pelayanan kesehatan dan masyarakat mengeluarkan

sebesar 40% biaya pelayanan kesehatan mereka untuk membeli obat-obatan

(Anonim, 2002). Kebijakan Obat Nasional (KONAS) bertujuan untuk

1
2

menjamin ketersediaan obat baik dari segi jumlah dan jenis yang mencukupi,

juga pemerataan, pendistribusian dan penyerahan obat-obatan harus sesuai

dengan kebutuhan masing-masing Puskesmas. Dengan adanya pengelolaan

obat yang baik diharapkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat menjadi

lebih maksimal.

Pelayanan kefarmasian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

sistem pelayanan kesehatan puskesmas yang berorientasi kepada pelayanan

pasien, penyediaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis

pakai yang bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat termasuk

pelayanan farmasi klinik. Pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang

bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaikan masalah

terkait obat. Tuntutan pasien dan masyarakat akan peningkatan mutu

pelayanan kefarmasian, mengharuskan adanya perluasan dari paradigma lama

yang berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang

berorientasi pada pasien (patient oriented) dengan filosofi pelayanan

kefarmasian (pharmaceutical care).

Pelayanan kefarmasian meliputi pengelolaan sumber daya (SDM, sarana

prasarana, sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan serta administrasi) dan

pelayanan farmasi klinik (penerimaan resep, peracikan obat, penyerahan obat,

informasi obat dan pencatatan/penyimpanan resep) dengan memanfaatkan

tenaga, dana, prasarana, sarana dan metode tatalaksana yang sesuai dalam

upaya mencapai tujuan yang ditetapkan.


3

Tujuan dari manajemen obat adalah agar obat dapat digunakan secara

bijaksana dan dapat mencegah penggunaan yang berlebihan pada pasien. Obat

harus dimanajemen dengan baik karena:

A. Obat merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan terhadap pasien.

Konsekuensinya, ketersediaannya atau ketidakadaanya akan berkontribusi

pada efek baik positif maupun negatif pada kesehatan.

B. Pengaturan obat yang buruk, terlebih dalam lembaga pelayanan kesehatan

masyarakat negara berkembang adalah masalah yang sangat penting.

Diperlukan perbaikan manajemen, agar institusi dapat menghemat biaya

dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

C. Permasalahan obat bukan hanya tanggung jawab petugas farmasi saja.

Oleh karena alasan-alasan tersebut diatas, maka seorang manajer harus

mampu dalam manajemen obat di sebuah institusi. Manajemen obat ini sama

seperti manajemen yang lain yaitu melibatkan perencanaan (planning),

pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengendalian

(controlling).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah “Bagaimanakah Tentang Manajemen Pengelolaan Obat di Puskesmas

Pandanaran Tahun 2017”

1.3 Tujuan

a) Mengetahui struktur organisasi obat, serta pembagian tugas tiap-tiap

bagian di Puskesmas Pandanaran


4

b) Mengetahui perencanaan kebutuhan obat di Puskesmas Pandanaran

c) Mengetahui tentang permintaan obat di Puskesmas Pandanaran

d) Mengetahui tentang penerimaan obat di Puskesmas Pandanaran

e) Mengetahui tentang penyimpanan obat di Puskesmas Pandanaran

f) Mengetahui tentang pendistribusian obat di Puskesmas Pandanaran

g) Mengetahui tentang pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan obat di

puskesmas Pandanaran

h) Mengetahui tentang pemantauan dan evaluasi pengelolaan obat di

puskesmas Pandanaran

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi Dokter Muda

Memperluas wawasan Dokter Muda mengenai manajemen

obat dan mampu menjalankan pelayanan kesehatan untuk

masyarakat dengan menggunakan sumber daya yang tersedia dan

mengikut sertakan peran serta masyarakat setempat.

1.4.2 Bagi Puskesmas Pandanaran

- Sebagai salah satu sumber informasi bagi pemerintah Kota

Semarang dalam rangka penentuan arah kebijakan, perbaikan

dalam hal pengelolaan obat di Puskesmas Pandanaran.

- Bahan masukan bagi Puskesmas Pandanaran dalam

pengelolaan obat dalam rangka peningkatan efisiensi.


5

- Sebagai aplikasi ilmu dan pengalaman berharga dalam

memperluas wawasan dan pengetahuan penelitian tentang

pengelolaan obat di Puskesmas Pandanaran.


BAB II
DASAR MATERI DAN ANALISA SITUASI

2.1 TINJAUAN PUSTAKA

2.1.1 Obat

Obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang digunakan untuk

mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi

dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,

peningkatan kesehatan dan kontrasepsi termasuk produk biologi. Obat

merupakan komponen yang penting dalam upaya pelayanan kesehatan di

Pusat Pelayanan Kesehatan primer maupun di tingkat pelayanan kesehatan

yang lebih tinggi. Keberadaan obat merupakan kondisi pokok yang harus

terjaga ketersediaannya. Penyediaan obat sesuai dengan tujuan

pembangunan kesehatan yaitu menjamin tersedianya obat dengan mutu

terjamin dan tersedia merata dan teratur sehingga mudah diperoleh pada

tempat dan waktu yang tepat.

Dari segi farmakologi obat didefinisikan sebagai substansi yang

digunakan untuk pencegahan dan pengobatan baik pada manusia maupun

pada hewan. Obat merupakan faktor penunjang dalam komponen yang

sangat strategis dalam pelayanan kesehatan. Upaya pengobatan di

puskesmas merupakan segala bentuk kegiatan pelayanan pengobatan yang

diberikan kepada seseorang dengan tujuan untuk menghilangkan penyakit

dan gejalanya yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan cara yang

khusus untuk keperluan tersebut.

5
6

2.1.2 Alat Kesehatan

Alat kesehatan adalah suatu instrumen, mesin, dan atau implan

yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah,

mendiagnosis, menyembuhkan, meringkankan penyakit, merawat orang

sakit, memulihkan kesehatan pada manusia dan atau membentuk struktur

dan memperbaiki fungsi tubuh. Dalam alat kesehatan ada istilah BMHP

(Bahan Medis Habis Pakai) yaitu alat kesehatan yang ditujukan untuk

penggunaan sekali pakai yang daftar produknya diatur dalam peraturan

perundang-undangan.

2.1.3 Manajemen

Manajemen adalah suatu proses kegiatan yang terdiri dari

perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan dengan

memadukan penggunaan ilmu dan seni untuk mencapai tujuan organisasi.

Konsep ini dikenal dengan POAC yaitu Planning (perencanaan),

Organizing (pengorganisasian), Actuating (pengarahan) dan Controling

(pengendalian). Agar tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dapat tercapai,

maka manajemen memerlukan unsur atau sarana atau “ the tool of

management” meliputi unsur 6M yaitu:

a. Man (manusia), yaitu sumber daya manusia organisasi, eksekutif dan

operatif. Sumber daya manusia meliputi tenaga kesehatan maupun non

kesehatan dilihat dari tingkat pendidikan, pengalaman bekerja di

puskesmas dan motivasi dalam bekerja.


7

b. Money (uang), yaitu dana operasional untuk mencapai tujuan. Dana

operasional meliputi jumlah yang diterima, jumlah yang digunakan dan

sisa baik kelebihan maupun kekurangan.

c. Methods (metode), yaitu cara-cara untuk mencapai tujuan yang sesuai

dengan jenis pelayanan.

d. Materials (bahan), yaitu bahan-bahan untuk mencapai tujuan. Bahan

yang dimaksud adalah bahan yang habis pakai seperti obat, vaksin,

kertas

e. Machine (mesin), yaitu mesin/ alat untuk mencapai tujuan.

f. Market (sasaran penduduk), yaitu sasaran berdasarkan ketepatan jumlah

dan persentase penduduk sasaran untuk mencapai tujuan.

Untuk dapat terselenggaranya manajemen yang baik, unsur-unsur

tersebut diproses melalui fungsi-fungsi manajemen. Prinsip manajemen

tersebut merupakan pegangan umum untuk terselenggaranya fungsi-fungsi

logistik dengan baik.

2.1.4. Proses Pengelolaan Obat dan Alat Kesehatan

Hal yang masih menjadi masalah di bidang pelayanan kefarmasian,

obat, sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah menyangkut ketersediaan,

keamanan manfaat, serta mutu dengan jumlah dan jenis yang cukup serta

terjangkau dan mudah di akses oleh masyarakat.

Untuk memberikan/melaksanakan pelayanan kefarmasian yang

berorientasi pada penerapan hasil pengobatan yang optimal bagi pasien

maka diperlukan jaminan ketersediaan barang dan dana yang cukup


8

sehingga pelayanan kepada pasien berjalan lancar. Hal ini berarti

operasional pelayanan yang telah disusun harus dilakukan proses

pengendalian persediaan obat-obatan yang tujuannya agar tidak terjadi

gangguan dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Sistem

pengendalian obat-obatan yang bertujuan untuk meningkatkan kelancaran

pelayanan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan, sering didapat

masalah-masalah dalam sistem pengendalian persediaan obat-obatan yang

mempengaruhi kelancaran pelayanan itu sendiri.

Menurut Handoko yang dimaksud persediaan adalah suatu istilah

umum yang menunjukkan segala sesuatu sumber daya organisasi yang

disimpan dalam antisipasi terhadap pemenuhan permintaan-permintaan akan

sumber daya internal atau external. Persediaan ini memungkinkan organisasi

dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung dari suplier. Proses

pengelolaan obat terdiri dari beberapa tahap yaitu tahap perencanaan, tahap

pengadaan, penyimpanan, tahap distribusi dan tahap penggunaan.

Pengadaan obat dan alat kesehatan adalah salah satu aspek penting

dan menentukan dalam pengelolaan obat dan alat kesehatan. Tujuan

pengadaan obat adalah tersedianya obat dengan jenis dan jumlah yang

cukup sesuai dengan kebutuhan dengan mutu yang terjamin serta dapat

diperoleh pada saat yang diperlukan. Pengelolaan obat dan alat kesehatan

adalah suatu urutan kegiatan yang mencakup perencanaan, permintaan obat,

penerimaan obat, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian obat,


9

pencatatan/pelaporan obat dan pemantauan serta evaluasi pengelolaan obat

dan alat kesehatan.

a. Perencanaan obat dan alat kesehatan merupakan proses kegiatan seleksi

obat untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan

kebutuhan Puskesmas yang mengacu pada Daftar Obat esensial

Nasional (DOEN) dan Fomularium Nasional (FORNAS), serta

KOMPENDIUM alat kesehatan. Perencanaan kebutuhan obat di

Puskesmas setiap periode dilaksanakan oleh Ruang Farmasi di

Puskesmas. Proses perencanaan kebutuhan obat pertahun dilakukan

secara berjenjang (bottom up). Puskesmas menyediakan data pemakaian

obat dan alat kesehatan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan

Lembar Permintaan Obat (LPLPO). Selanjutnya Instalasi Farmasi Kota

akan melakukan kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan Obat

Puskesmas di wilayah kerjanya, memperhitungkan waktu kekosongan

obat, buffer stock, serta menghindari stok berlebih. Perencanaan obat

dapat dihitung menggunakan metode konsumsi obat dan metode

morbiditas.

1) Metode konsumsi

Metode ini dilakukan dengan menganalisis data konsumsi

obat tahun sebelumnya untuk mengetahui estimasi kebutuhan obat

yang akan dianggarkan untuk 1 tahun.

2) Metode morbiditas
10

Metode ini dilakukan dengan menganalisis kebutuhan obat

berdasarkan pola penyakit, perkiraan kunjungan dan waktu tunggu

(lead time). Langkah-langkah dalam metode ini antara lain dengan

menentukan jumlah penduduk yang akan dilayani, menentukan

jumlah kunjungan kasus berdasarkan frekuensi penyakit,

menyediakan standar/pedoman pengobatan yang digunakan,

menghitung perkiraan kebutuhan obat, penyesuaian dengan alokasi

dana yang tersedia.

b. Permintaan obat dan alat kesehatan bertujuan memenuhi kebutuhan

obat di Puskesmas, sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah

dibuat. Permintaan diajukan kepada Dinas Kesehatan Kota, sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan

pemerintah daerah setempat.

c. Penerimaan obat dan alat kesehatan adalah suatu kegiatan dalam

menerima obat dan alat kesehatan dari Instalasi Farmasi Kota sesuai

dengan permintaan yang telah diajukan. Tujuannya adalah agar obat dan

alat kesehatan yang diterima sesuai dengan kebutuhan berdasarkan

permintaan yang diajukan oleh Puskesmas. Semua petugas yang terlibat

dalam kegiatan pengelolaan bertanggung jawab atas keterlibatan

penyimpanan, pemindahan, pemeliharaan dan penggunaan obat berikut

kelengkapan catatan yang menyertainya. Petugas penerimaan wajib

melakukan pengecekan terhadap obat yang diserahkan, mencakup

jumlah kemasan/peti, jenis dan jumlah obat, bentuk obat sesuai dengan
11

isi dokumen (LPLPO, ditandatangani oleh petugas penerima, dan

diketahui oleh Kepala Puskesmas. Bila tidak memenuhi syarat, maka

petugas penerima dapat mengajukan keberatan. Masa kadaluarsa

minimal dari obat yang diterima disesuaikan dengan periode

pengelolaan di Puskesmas ditambah satu bulan.

d. Penyimpanan obat dan alat kesehatan, setiap obat yang disimpan

dilengkapi dengan kartu stok untuk mencatat setiap mutasi obat.

Penyimpanan obat harus sedemikian rupa sehingga memudahkan

distribusi obat secara FIFO (first in first out), yaitu sisa stok tahun lalu

digunakan lebih dahulu daripada pengadaan baru untuk mencegah

terjadinya obat rusak atau obat kadaluwarsa.

e. Pendistribusian obat dan alat kesehatan merupakan kegiatan

pengeluaran dan penyerahan obat secara merata dan teratur untuk

memenuhi kebutuhan sub unit/ satelit farmasi Puskesmas dan

jaringannya. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan obat sub

unit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas dengan

jenis, mutu, jumlah dan waktu yang tepat. Sub unit di Puskesmas dan

jaringannya antara lain : Sub unit pelayanan kesehatan di dalam

lingkungan Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling,

Posyandu, Polindes. Pendistribusian ke sub unit dilakukan dengan cara

pemberian obat sesuai resep yang diterima (floor stock), pemberian obat

per sekali minum (unit dose dispensing system) atau kombinasi,


12

sedangkan pendistribusian ke jaringan Puskesmas dilakukan dengan

cara penyerahan obat sesuai dengan kebutuhan (floor stock).

f. Pengendalian obat dan alat kesehatan adalah suatu kegiatan untuk

memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi

dan program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan

kekurangan/kekosongan obat di unit pelayanan kesehatan dasar yang

terdiri dari pengendalian persediaan, pengendalian penggunaan, dan

penanganan obat hilang, rusak dan kadaluwarsa.

g. Pencatatan/Pelaporan obat dan alat kesehatan merupakan fungsi

pengendalian dan evaluasi administratif obat mulai dari perencanaan,

pengadaan, penyimpanan, sampai pendistribusian obat. Pencatatan

perencanaan kebutuhan jumlah dan jenis obat digunakan untuk

mengevaluasi kesesuaian dengan pengadaan obat. Pencatatan

penggunaan total semua jenis obat pada pasien puskesmas, sisa stok

obat, dan pola penyakit dapat digunakan untuk perencanaan kebutuhan

obat tahun mendatang.

h. Pemantauan dan evaluasi pengelolaan obat dan alat kesehatan dilakukan

secara periodik dengan tujuan mengendalikan dan menghindari

terjadinya kesalahan dalam pengelolaan obat sehingga dapat menjaga

kualitas maupun pemerataan pelayanan, memperbaiki secara terus

menerus pengelolaan obat dan memberikasn penilaian terhadap capaian

kinerja pengelolaan.

2.1.5. Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) Pengelola Obat di Puskesmas


13

Sesuai dengan pedoman pengelolaan obat publik dan perbekalan di

puskesmas menurut Depkes tahun 2003, bahwa Tugas dan Fungsi

(TUPOKSI) pengelola obat di puskesmas meliputi tahap kegiatan

perencanaan, pengadaan, pendistribusian dan penggunaan, dengan uraian

tugas masing-masing tahap kegiatan sebagai berikut:

a. Perencanaan merupakan suatu proses kegiatan seleksi obat untuk

menentukan jumlah obat sesuai kebutuhan puskesmas. Tugas pengelola

obat dalam kegiatan perencanan ini adalah menyusun data obat yang

masih tersedia (stok) dan menghitung kebutuhan obat puskesmas.

b. Pengadaan merupakan proses kegiatan penyediaan obat puskesmas

sesuai kebutuhan. Tugas pengelola obat dalam kegiatan pengadaan ini

adalah pengadaan rutin sesuai jadwal dari Dinas Kesehatan, pengadaan

obat khusus bila terjadi kebutuhan meningkat, menghindari

kekosongan, penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB), setiap pengadaan

obat petugas harus melakukan pengecekan (jumlah, kemasan, jenis dan

jumlah obat) disesuikan dengan dokumen pengadaan obat, melakukan

penyimpanan obat sesuai dengan memperhatikan: kondisi persyaratan

gudang, pengaturan penyimpanan obat, kondisi penyimpanan

(kelembaban, sinar matahari, temperatur/panas, kerusakan fisik,

kontaminasi bakteri, pengotoran), memperhatikan tata cara

penyimpanan obat, dan pengamatan mutu obat

c. Distribusi merupakan kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat secara

merata dan teratur untuk memenuhi sub-sub unit pelayanan puskesmas.


14

Tugas pengelola obat dalam tahap distribusi adalah menentukan

frekuensi distribusi, menentukan jumlah dan jenis obat yang diberikan,

melaksanakan penyerahan obat, dan melakukan pengendalian obat

untuk menghindari kelebihan dan kekosongan obat di unit pelayanan.

d. Penggunaan adalah proses kegiatan yang meliputi penerimaan resep

dokter sampai penyerahan obat kepada pasien. Tugas pengelola obat

pada tahap penggunaan ini adalah penetapan ruang pelayanan obat,

penyiapan obat, penyerahan obat, memberikan informasi obat,

memperhatikan etika pelayanan, dan membuat daftar perlengkapan

peracikan obat.

Tupoksi berdasarkan pengelolaan obat publik dan perbekalan di

puskesmas merupakan pedoman umum untuk seluruh unit pelayanan

(puskesmas dan puskesmas pembantu) di seluruh Indonesia, namun dalam

pelaksanaannya di lapangan, setiap puskesmas dapat membuat tupoksi

tersendiri dengan tetap berpedoman kepada pedoman umum yang telah

ditetapkan.
2.2 Analisa Situasi

2.1 Cara Pengamatan Dan Waktu Pengamatan


2.1.1 Cara Pengamatan
Lokasi pengamatan adalah Puskesmas Pandanaran
Semarang. Jenis penelitian yang digunakan adalah rancangan
penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui teknik
in-depth interview (wawancara mendalam) dan observasi.
Informan yang dipilih adalah yang mengetahui permasalahan
dengan jelas, dapat dipercaya untuk dapat menjadi sumber data
yang baik serta mampu mengemukakan pendapat secara baik dan
benar (Notoatmojo, 2005).

2.1.2 Waktu Pengamatan


Pengamatan dilakukan pada satu minggu saat jam kerja di

Puskesmas Pandanaran Semarang Waktu pengamatan pada tanggal

3 Juli 2017 s.d. 8 Juli 2017.


2.2 Hasil Analisa Situasi
2.2.1 Struktur Organisasi Manajemen Obat dan pengelolaan sumber daya

manusia
Pada Puskesmas Pandanaran, terdapat tim khusus yang

menangani manajemen obat, dimana dibagi menjadi tim

perencanaan, tim pengadaan dan pembelanjaan, tim pemeriksa,

kepala puskesmas sebagai penanggung jawab. Struktur organisasi

dan pembagian tugas untuk tim obat di Puskesmas Pandanaran

sudah baik, setiap petugas memegang tanggung jawab sesuai tugas

dan perannya masing-masing, mulai dari koordinator hingga

pelaksana lapangan, semua sudah diatur dan terstruktur dengan

baik, sumber daya manusia di ruang farmasi Puskesmas

pandanaran ada 3 orang yang terdiri dari 1 orang apoteker dan 1

15
16

orang asisten apoteker, serta 1 orang yang membantu peracikan,

dimana 3 petugas bagian farmasi ini dibebankan pekerjaan untuk

memegang pengelolaan obat mulai dari perencanaan, permintaan/

pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pelayanan

farmasi klinik
Bagan 2.2.1 Struktur Organisasi Manajemen Obat di

Puskesmas Pandanaran

Kepala Puskesmas
dr. Antonia S.
Koordinator UKP
drg. Uki W
Koordinator ruang farmasi

Rida Indriyani, S.farm, Apt.


Pelaksana pelayanan farmasi
2.2.2 Perencanaan Kebutuhan Obat Pelaksana Gudang Farmasi
Rida Indriyani, S.farm, Apt.
Rida Indriyani, S.farm, Apt.
- Perencanaan obat di puskesmas dimaksudkan agar
Hesti P
ketersediaan
Nurul obat di unit pelayanan dapat ditingkatkan dengan

memanfaatkan dana yang tersedia secara efektif dan efisien,

sehingga dapat dihindari tumpang tindih penggunaan anggaran

perencanaan obat dan mengurangi kemungkinan menumpuknya

suatu jenis obat tertentu. Untuk memenuhi kebutuhan obat,

Puskesmas Pandanaran mendapatkan dropping dari Instalasi

Farmasi (IF) Dinas Kesehatan Kota Semarang. Perencanaan obat

dilakukan dengan menghitung kebutuhan obat selama 1 tahun.

Dasar yang digunakan untuk merencanakan pengadaan obat di


17

Puskesmas Pandanaran adalah dengan menggunakan metode

konsumsi, yaitu obat yang paling banyak digunakan pada tahun

sebelumnya. Pemakaian tersebut ditambah dengan ditambah 10%

dari jumlah tersebut agar tidak sampai kehabisan stok obat. Dasar

dari perencanaan tersebut adalah Laporan Pemakaian dan Lembar

Permintaan Obat (LPLPO) yang dimintakan persetujuan kepala

puskesmas, kemudian diajukan ke IF. Perencanaan obat di

Puskesmas Pandanaran dilakukan satu tahun sekali.

2.2.3 Pengadaan Obat

- Pengadaan atau permintaan obat di Puskesmas

Pandanaran dilakukan untuk memperoleh jenis dan jumlah obat,

obat dengan mutu yang tinggi, menjamin tersedianya obat dengan

cepat dan tepat waktu serta sesuai dengan formularium untuk

pelayanan kesehatan tingkat 1 dan obat-obat yang masuk dalam E-

catalog serta menggunakan E-Purchasing. Oleh karena itu

pengadaan atau permintaan obat harus memperhatikan dan

mempertimbangkan bahwa obat yang diminta atau diadakan sesuai

dengan jenis dan jumlah obat yang telah direncanakan. Pengadaan

obat di Puskesmas Pandanaran didapatkan dari dropping IF Dinas

Kesehatan Kota Semarang tiap 3 bulan sekali atau bila ada KLB

atau obat habis bisa meminta sewaktu-waktu ke IF. Selain dari

droppng IF, Puskesmas Pandanaran juga melakukan pengadaan

obat dengan swadana. Pengadaan obat dengan swadana ini


18

dilakukan apabila IF tidak mampu memenuhi permintaan obat atau

stock obat kosong. Obat yang dipesan sesuai dengan formularium

untuk pelayanan kesehatan tingkat 1 dan obat-obat yang masuk

dalam E-catalog dipesan melalui proses E-Purchasing. Sumber

dana untuk pengadaan swadana obat berasal dari dana JKN. Untuk

pengadaan obat, Puskesmas Pandanaran memiliki tim pengadaan

khusus dari staf farmasi yang ditunjuk untuk pembelanjaan obat.

Tim khusus ini bertanggungjawab atas pengadaan obat dan

bertanggung jawab langsung terhadap kepala puskesmas. Hingga

saat ini masalah pengadaan di puskesmas pandanaran adalah terjadi

out of stock beberapa obat, antara lain papaverin, sefiksim, dan

Cloramphenicol tetes telinga, hal ini dikarenakan dari pihak pabrik

menghentikan produksi.

2.2.4 Penerimaan Obat


Obat dari IF diterima oleh koordinator ruang farmasi di

instalasi puskesmas. Setelah itu dilakukan pemeriksaan oleh

koordinator ruang farmasi Puskesmas Pandanaran Semarang.

Pemeriksaan bertujuan untuk mengecek kondisi obat. Pemeriksaan

yang dilakukan meliputi jumlah barang, nomer batch dan ED

(kadaluarsa), dan tidak ada kerusakan. Apabila kondisi barang

sudah sesuai, maka selanjutnya dilakukan penyimpanan perbekalan

di gudang obat puskesmas.


2.2.5 Penyimpanan Obat
Setelah obat diterima dari IF dengan jenis dan jumlah yang

sesuai dengan dokumen Surat Bukti Barang Keluar (SBBK), maka


19

setiap jenis obat harus segera dicatat dalam kartu stok dan

disimpan di ruangan khusus (gudang obat), yang sudah disusun

secara alfabetis dan sudah sesuai sediaan berdasarkan waktu ED.

Obat psikotropika dan narkotika disimpan di lemari khusus dengan

dua pintu ganda dengan dua kunci yang berlainan (kunci bagian

luar dan kunci bagian dalam) yang masing-masing kunci dipegang

oleh orang yang berbeda. Gudang obat dilengkapi alat pendingin

yang telah dilengkapi monitoring suhu dan kelembabannya.

Jendela dan pintu gudang obat dilengkapi dengan teralis untuk

keamanan. Vaksin disimpan di dalam lemari es untuk menjaga agar

vaksin tetap efektif. Puskesmas Pandanaran memiliki 1 Cold chain

(lemari pendingin vaksin) untuk menyimpan vaksin. Dan

Pemusnahan obat kadaluarsa akan dipisahkan penyimpanannya

dalam kurun waktu 3 bulan terakhir kemudian dilaporkan ke dinas

kesehatan kota dan dimusnahkan secara serentak.


2.2.6 Pendistribusian Obat
Pendistribusian obat adalah kegiatan pengeluaran dan

penyerahan obat secara merata dan teratur dari gudang puskesmas

untuk memenuhi kebutuhan sub unit di lingkungan puskesmas

maupun unit pelayanan kesehatan lainnya antara lain sub unit

pelayanan kesehatan di lingkungan Puskesmas (ruang farmasi,

laboratorium, IGD, poli gigi, KIA, Puskesmas keliling, dan

ambulan hebat). Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan sub

unit di lingkungan maupun sub unit pelayanan kesehatan lainnya


20

yang ada di wilayah kerja puskesmas dengan jenis, jumlah, dan

waktu yang tepat. Pendistribusian obat menggunakan sistem FEFO

(First Expired-First Out), yaitu obat yang lebih awal

kadaluwarsanya harus dikeluarkan lebih dahulu dari obat yang

kadaluwarsanya kemudian. penyimpanan obat yang mempunyai

batas kedaluwarsanya lebih dekat, diletakkan di depan, sedangkan

yang kedaluwarsanya masih jauh diletakkan di belakang. Cara

lainnya adalah penyimpanan obat dengan sistem FIFO (First In,

First Out) adalah obat yang pertama kali masuk harus keluar lebih

dahulu. Obat yang didapat lebih awal, dipakai atau didistribusikan

lebih dulu dibandingkan obat yang baru datang. Berikut adalah alur

distribusi obat di Puskesmas Pandanaran.


Bagan 2.2. Alur Distribusi Obat di Puskesmas

Pandanaran

IF (DINKES)

Puskesmas Induk

Gudang Puskesmas

Ruang Farmasi

IGD, laboratorium Ruang poli gigi KIA


21

Obat yang telah diterima dari IF disimpan di gudang obat

puskesmas. Setelah diperiksa kemudian obat-obatan disimpan didalam

gudang puskesmas, kemudian obat didistribusikan ke ruang farmasi, dan

unit-unit seperti ruang IGD, Laboratorium, ruang KIA, dan ruang poli gigi.

Stok obat yang berada di IGD digunakan untuk pemberian yang bersifat

segera misalkan pemberian obat emergensi, pemasangan infus, rawat luka,

dan lain-lain. Pasien yang mendapat pemeriksaan di poli umum dan lansia,

poli gigi, KIA dan MTBS pasien akan di beri resep dan dapat mengambil

obat ke ruang farmasi. Untuk obat obat yang out of the stock akan di

ajukan ke instalasi farmasi melalui dinas kesehatan kota dan jika tidak

tersedia maka akan menggunakan anggaran dari JKN.

2.2.7 Pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan


Pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan merupakan rangkaian

kegiatan dalam rangka penatalaksanaan obat dan bahan medis

habis pakai secara tertib, baik obat dan bahan medis habis pakai

yang diterima, disimpan, didistribusikan, dan digunakan di

puskesmas atau unit pelayanan lainnya.


Tujuan pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan adalah:
- Bukti bahwa pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai telah

dilakukan
- Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian, dan
- Sumber data untuk pembuatan laporan
2.2.8 Pemantauan dan evaluasi pengelolaan obat dan bahan medis habis

pakai
Pemantauan dan evaluasi pengelolaan obat dan bahan

medishabis pakai dilakukan secara periodik dengan tujuan untuk:


22

- Mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam

pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai sehingga dapat

menjaga kualitas maupun pemerataan pelayanan.


- Memperbaiki secara terus menerus pengelolaan dan bahan medis

habis pakai
- Memberikan penilaian terhadap capaian kinerja pengelolaan.
2.2.9 Form-Form Yang Digunakan
Form-form yang Digunakan
Form yang digunakan di Puskesmas Pandanaran terdiri dari :
a) Kartu stok gudang obat puskesmas
Kartu stok adalah kartu yang dipergunakan untuk mencatat mutasi obat

(penerimaan dan pengeluaran) dan harus berada di gudang obat

puskesmas. Fungsinya dari kartu stok gudang puskesmas adalah :


- Untuk mencatat mutasi obat (penerimaan dan pengeluaran)
- Untuk mengetahui jumlah obat pada waktu tertentu dengan cepat
- Data pada kartu stok digunakan untuk menyusun laporan pemakaian

obat dengan format Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat

(LPLPO). Form ini mencatat tanggal transaksi, pihak pemberi (gudang

farmasi obat) atau penerima obat (Pustu/ruang farmasi), jumlah obat

yang diterima dari pihak pemberi dan jumlah obat yang dikeluarkan

untuk pihak penerima obat, sisa stok obat pada gudang puskesmas,

tanggal kadaluarsa, dan no batch. Informasi dan manfaat kartu stok :

o Informasi
 Jumlah obat yang tersedia (sisa stok)
 Jumlah obat yang diterima selama 1 bulan/1 periode
 Jumlah obat yang keluar selama 1 bulan/1 periode
 Jangka waktu/lama kekosongan obat
 Neraca pemasukan dan pengeluaran obat
o Manfaat
 Untuk pengisian LPLPO/LB2
 Menentukan jenis dan jumlah permintaan obat

 Mengawasi neraca pemasukan dan pengeluaran obat.


23

Kartu Stok gudang obat puskesmas pandanaran sudah digunakan

sesuai dengan fungsinya dan sudah dicatat dengan baik oleh petugas.

b) Laporan penggunaan psikotropika


Digunakan khusus untuk mencatat pihak pemberi atau penerima

obat golongan psikotopika, jumlah obat golongan psikotropika yang

diterima dari pihak pemberi dan jumlah obat golongan psikotropika yang

dikeluarkan untuk pihak penerima obat, serta stok awal dan akhir obat

golongan psikotropika yang ada di gudang puskesmas.


c) Laporan pemakaian dan lembar permintaan obat dinas kesehatan

Digunakan untuk mencatat jumlah stok awal, penerimaan, persediaan,

pemakaian dan sisa stok obat yang ada di puskesmas. Pelaporannya

dilakukan setiap bulan oleh petugas farmasi. LPLPO berisi informasi

penggunaan serta stock obat dan alat kesehatan sebagai sarana pengadaan

obat dan sarana untuk mengusulkan permintaan obat habis ke IF.


BAB III
PEMBAHASAN

Perencanaan obat Puskesmas Pandanaran dilakukan 1 tahun sekali.

Dasar yang digunakan untuk merencanakan pengadaan obat di Puskesmas

Pandanaran adalah dengan menggunakan metode konsumsi, yaitu obat

yang paling banyak digunakan pada tahun sebelumnya ditambah 10% dari

jumlah tersebut.

Pengadaan obat Puskesmas Pandanaran didapatkan dari dropping

IF Dinas Kesehatan Kota Semarang tiap 3 bulan sekali. Selain dari

dropping IF, Puskesmas Pandanaran juga melakukan pengadaan obat

dengan swadana apabila IF tidak mampu memenuhi permintaan obat atau

stock obat kosong. Sumber dana untuk pengadaan swadana obat berasal

dari dana JKN yang berasal dari anggaran APBD. Di puskesmas

Pandanaran terdapat masalah pada pengadaan obat yaitu terjadi out of

stock obat, antara lain obat Papaverine, cloramphenicol tetes telinga, dan

cefixim. Berdasarkan wawancara dengan petugas farmasi puskesmas

pandanaran, untuk obat Papaverine memang telah out of stock dari pabrik

dikarenakan pabrik kekurangan bahan baku jadi tidak memungkinkan jika

dilakukan swadana, selama ini puskesmas menanggulangi dengan

mengganti dengan obat simptomatis yaitu obat Scopma tab.

Cloramphenicol tetes telinga di puskesmas pandanaran merupakan obat

generik yang di dropping dari Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota

Semarang, selama ini puskesmas menanggulanginya dengan meresepkan

26
27

ke luar jika ada pasien yang harus diberikan resep cloramphenicol tetes

telinga. Pihak puskesmas belum mencoba untuk melakukan swadana ke

pabrik lain dikarenakan ada kendala biaya dikarenakan anggaran APBD

yang jumlahnya tidak banyak sedangkan harga obat paten cloramphenicol

yang terlalu mahal, cloramphenicol tidak dapat diganti dengan tetes telinga

lain karena didalam FORNAS obat tetes telinga yang ada di fasilitas

pelayanan kesehatan tingkat 1 (Puskesmas) hanya cloramphenicol saja

sehingga puskesmas tidak bisa mengganti dengan obat tetes telinga lain.

Untuk obat cefixim terjadi out of stock dikarenakan cefixim merupakan

obat program, puskesmas menanggulangi dengan mengganti dengan

ciprofloxacin.

Penyimpanan obat di gudang farmasi puskesmas pandanaran telah

sesuai dengan pedoman penyimpanan obat, namun terdapat masalah pada

penyimpanan obat di ruang farmasi, di ruang farmasi puskesmas

pandanaran terdapat 1 buah kulkasyang digunakan untuk menyimpan

makanan dan obat, obat yang disimpan di kulkas tersebut antara lain obat

anti hemoroid dan obat stesolid rectal yang memang membutuhkan suhu

rendah untuk stabilitas obat, sehingga untuk penyimpanan dibutuhkan

kulkas tersendiri yang khusus digunakan untuk menyimpan obat-obat

tersebut dan tidak dicampur dengan dengan makanan. Hal lain yang

penulis temukan adalah penyusunan obat di ruang farmasi belum

berdasarkan alfabetis, namun hal ini tidak berpengaruh langsung pada

pelayanan kepada pasien, berdasarkan indikator pelayanan mutu di


28

puskesmas pandanaran, waktu yang dibutuhkan dari mulai apoteker

menerima resep sampai pasien menerima obat yaitu selama 5 menit dan

hal ini sudah terpenuhi berdasarkan 10 sampel pasien yang diambil setiap

harinya.

Pendistribusian obat telah diterima dari IF dan masuk ke gudang

obat puskesmas induk, adalah ke ruang farmasi, dimana ruang farmasi

bertanggung jawab atas unit-unit seperti IGD, KIA, poli gigi, dan

laboratorium.

Manajemen obat di Puskesmas Pandanaran telah menerapkan manajemen

Preventif, yaitu:

1. Planning

- Perencanaan obat selalu didasarkan pada pemakaian obat selama 1

tahun sebelumnya ditambah dengan 10% dari jumlah tersebut sebagai

antisipasi bertambahnya jumlah kunjungan.

- Perencanaan juga mempertimbangkan sisa obat tahun lalu. Hal ini juga

untuk mencegah jumlah obat yang berlebihan.

- Terjadi out of stock obat, antara lain papaverin, cloramphenicol tetes

telinga, dan cefixim, hal ini dikarenakan dari pihak pabrik

menghentikan produksi obat sehingga puskesmas menanggulanginya

dengan menggunakan obat simptomatis dan mengganti resep dengan

resep luar.

2. Organizing
29

Terdapat tim khusus yang menangani manajemen obat dengan pembagian

tugas sebagai tim perencanaan, pengadaan, pemeriksa, dan pembelanjaan

barang sehingga ketersediaan obat lebih terjamin.

3. Actuating

- Pendistribusian obat kepada subunit pelayanan disesuaikan dengan

jumlah permintaan atau stok di gudang obat puskesmas.

- Masalah yang mungkin ditemukan pada pelaksanaan yaitu terdapat

beberapa obat yang penyimpanannya di kulkas bersamaan dengan

makanan dan minuman.

- Lemari dan penataan obat di gudang yang sudah baik dan

penyusunannya sudah alfabetis. Di ruang farmasi penyusunan obat

belum alfabetis namun hal ini tidak berpengaruh langsung pada

pelayanan pasien hal ini telah dibuktikan dengan terpenuhinya

indikator mutu waktu yang dibutuhkan dari mulai apoteker menerima

resep hingga pasien menerima obat.

4. Controlling

- Setiap penerimaan, pemakaian dan persediaan obat dicatat dan

dilaporkan dalam buku khusus di tiap sub unit pelayanan yang

selanjutnya setiap bulan diserahkan petugas gudang obat. Dengan

demikian arus barang obat dapat terpantau dengan baik.

- Adanya perhatian khusus untuk obat-obat psikotropika dan narkotika,

pemakaiannya dicatat secara khusus dalam laporan penggunaan

psikotropika. Penyimpanan juga terjamin aman karena terdapat 2


30

macam penguncian dari dalam dan dari luar. Hal ini berguna untuk

mencegah penyalahgunaan obat-obatan psikotropika.

- Penyimpanan berbeda-beda, tergantung tempat. Obat di gudang obat

disimpan di rak, obat di ruang disimpan di rak atau lemari kayu. Obat-

obatan psikotropika dan narkotika disimpan di lemari kayu yang

terkunci dengan double kunci. Vaksin disimpan dilemari pendingin.

Keluar masuknya obat juga dicatat pada kartu stelling dan buku

pencatatan khusus yang dilakukan oleh petugas. Keamanan obat

dikontrol seorang penanggung jawab dalam ruangan. Gudang dan

ruang obat di luar jam kerja akan dikunci.

Dari Analisa situasi tersebut maka dapat disusun daftar masalah sebagai

berikut :

1) Obat yang membutuhkan stabilisasi suhu seperti obat anti hemoroid

dan obat stesolid rectal disimpan di kulkas bersama dengan makanan

2) Out of stock obat


31

3.1.1 Prioritas Masalah dengan Metode Hanloon Kualitatif

Prioritas Masalah

Prioritas masalah berdasarkan metode Hanlon Kualitatif dengan kriteria

sebagai berikut:

Permasalahan yang teridentifikasi tersebut kemudian ditentukan

prioritas masalahnya dengan menggunakan metode Hanlon kualitatif

dengan 3 Kelompok kriteria :

1. Kelompok kriteria U : Mendesak (Urgency)


Pertimbangan ini dari aspek waktu, masih dapat ditunda atau harus

segera ditanggulangi. Semakin pendek tenggang waktunya, semakin

mendesak untuk ditanggulangi.


2. Kelompok Kriteria S : Kegawatan (Seriousness)
Besarnya akibat atau kerugian yang dinyatakan dalam besaran

kuantitatif berapa rupiah, orang dll.


3. Kelompok Kriteria G : Perkembangan (Growth)
Kecenderungan atau perkembangan akibat dari suatu permasalahan.

Semakin berat masalah, semakin diprioritaskan.

3.1.1.1 Urgency

No Permasalahan Nilai Skor U


1 Out of stock obat 3
2 Obat yang membutuhkan stabilisasi suhu 2

seperti obat anti hemoroid dan obat stesolid

rectal disimpan di kulkas bersama dengan

makanan
Tabel 3.3 Kriteria Urgency

3.1.1.2 Seriously
32

No Permasalahan Nilai Skor S


1 Out of stock obat 3
2 Obat yang membutuhkan stabilisasi suhu 2

seperti obat anti hemoroid dan obat stesolid

rectal disimpan di kulkas bersama dengan

makanan
Tabel 3.3 Kriteria Seriously

3.1.1.3 Growth

No Permasalahan Nilai Skor G


1 Out of stock obat 3
2 Obat yang membutuhkan stabilisasi suhu 2

seperti obat anti hemoroid dan obat stesolid

rectal disimpan di kulkas bersama dengan

makanan

Tabel 3.4 Kriteria Growth

3.1.1.4 Tabel total USG

Masalah Urgency Seriously Growth Total Prioritas


Out of stock obat 3 3 3 9 I
Obat yang

membutuhkan

stabilisasi suhu seperti

obat anti hemoroid


2 2 2 6 II
dan obat stesolid

rectal disimpan di

kulkas bersama

dengan makanan
33

Tabel 3.5 Tabel total USG

Urutan masalah berdasarkan prioritas masalah adalah :

1. Out of stock obat.

2. Obat yang membutuhkan stabilisasi suhu seperti obat anti hemoroid

dan obat stesolid rectal disimpan di kulkas bersama dengan

makanan
33

Analisis kemungkinan penyebab masalah dengan menggunakan Fishbone Analysis:

MAN MONEY METHOD

Pengadaan obat
Kurangnya anggaran
kurang maksimal
untuk swadana obat
ke pabrik lain

Out of stock obat

MACHINE MATERIAL MARKET


Distribusi obat kurang
praktis karena gudang
penyimpanan
34 dan ruang
IF tidak satu lantai

3.2 Analisis Akar Penyebab Masalah Berdasarkan Pendekatan Sistem

Komponen Kekurangan
Input
Man
-
Money Kurangnya anggaran untuk swadana obat ke pabrik lain
Method Pengadaan obat kurang maksimal

Machine -
Material -
Market -

Proses
P1
Perencanaan dan pengadaan manajemen obat ke pasien kurang

maksimal
P2 Pabrik sudah tidak memproduksi obat Papaverin, Cloramphenicol tetes
telinga, dan Cefixim
P3

Lingkungan Stok obat dari pabrik kosong

Umpan Balik Out of stok obat menyebabkan pelayanan pada pasien kurang maksimal

Tabel 3.6 Identifikasi kemungkinan penyebab masalah Tahap Analisis Pendekatan Sistem
35

Tabel 3.7 Tabel Plan of Action

Indikator
No Kegiatan Tujuan Sasaran Lokasi Pelaksana Waktu Pendanaan Metode
keberhasilan

1 Melakukan Agar pasien Koordinat Puskesmas Dokter Juli 2017 - diskusi Farmasi
. Advokasi tetap bisa or farmasi Pandanaran Muda, dengan puskesmas
dengan petugas mendapatkan puskesmas Petugas petugas pandanaran
farmasi dan tatalaksana pandanara Farmasi farmasi dan terhindar dari
kepala penyakit n kepala out of stock
puskesmas untuk Semarang puskesmas obat dan pasien
mengajukan obat untuk tetap
pengganti ke mengajukan mendapatkan
Instalasi Farmasi obat tatalaksana
kota Semarang pengganti ke yang sesuai
obat dengan Instalasi
khasiat yang Farmasi kota
sama Semarang
obat dengan
khasiat yang
sama
36

2 Melakukan Agar Kepala Puskesmas Dokter Juli 2017 - Diskusi Farmasi


. Advokasi puskesmas puskesmas Pandanaran muda, puskesmas
dengan kepala mendapatkan petugas pandanaran
puskesmas untuk penambahan farmasi mendapatkan
mengajukan dana JKN obat yang sama
proposal ke untuk swadana dan terhindar
DKK kota obat ke pabrik dari out of stock
semarang guna lain
penambahan
anggaran JKN
untuk melakukan
swadana obat
paten dari
pabrik.
37

3 Melakukan Agar Kepala Puskesmas Dokter Juli 2017 - Diskusi Farmasi


. advokasi ke puskesmas Puskesmas Pandanaran muda, puskesmas
kepala memiliki petugas pandanaran
puskesmas untuk kulkas khusus farmasi mendapatkan
pengadaan obat yang kulkas khusus
kulkas khusus membutuhkan obat
untuk obat yang stabilisasi suhu
membutuhkan
stabilisasi suhu
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

1) Terdapat 3 masalah manajemen farmasi puskesmas pandanaran yaitu

Terjadi out of stock beberapa obat, Obat yang membutuhkan

stabilisasi suhu seperti obat anti hemoroid dan obat stesolid rectal

disimpan di kulkas bersama dengan makanan.

2) Prioritas masalah adalah Out of stock obat.

3) Alternatif pemecahan masalah yaitu dengan Melakukan diskusi

dengan petugas farmasi untuk mengajukan obat pengganti ke Instalasi

Farmasi kota Semarang obat dengan khasiat yang sama serta

Melakukan Advokasi dengan kepala puskesmas untuk mengajukan

proposal ke DKK kota semarang guna penambahan anggaran JKN

untuk melakukan swadana obat paten dari pabrik.

4.2 Saran
1) Mengadakan pertemuan atau diskusi berkala antar pihak Puskesmas

untuk menyampaikan, membahas, dan menyelesaikan masalah dari

masing-masing divisi.
2) Saling bekerja sama dan mendukung antar tenaga kesehatan khususnya

bidang farmasi agar mengikuti aturan dan metode yang sesuai dengan

SOP.
39

BAB V
PENUTUP

Demikianlah laporan dan pembahasan mengenai hasil peninjauan tentang

manajemen obat di Puskesmas Pandanaran . Kami menyadari bahwa kegiatan ini

sangat penting dan bermanfaat bagi para calon dokter, karena dokter juga berperan

sebagai manajer.

Akhir kata kami berharap laporan ini bermanfaat sebagai bahan masukan

dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Puskesmas Pandanaran.


DAFTAR PUSTAKA

Depkes, 2004, Pedoman Pengelolaan Obat Program Kesehatan, Ditjen Pelayanan


Farmasi dan Alat Kesehatan, Depkes RI, Jakarta

Depkes RI. Jakarta, 2000. Jasa Konsultan Pelatihan Manajemen Obat Puskesmas
Pengelolaan dan pelayanan obat di Puskesmas.

Depkes, Permenkes RI, No. 30/Menkes/2014 tentang Standar Pelayanan


Kefarmasian di Puskesmas. (Jakarta: Depkes RI. 2014)

Depkes RI. 2006. Pedoman Pelayanan Kefarmasia di Puskesmas. Jakarta:


Direktorat Jendral Nina Kefarmasian dan Alat kesehatan.

George R. Terry, Ph.D., Office Management and Control, Fourth Edition, Richard
D. Irwin Inc., Homewood, Ilinois, 1992, Halaman 21

Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta

Permenkes RI, No. 11/Menkes/2017 Tentang Keselamatan Pasien

Trisnantoro, L., 2001. Sistem Kesehatan Wilayah Pasca Desentralisasi, Makalah


Seminar, PMPK FK UGM, Yogyakarta.

Widhayani, 2002. Studi Tentang Pengelolaan Obat dengan Menggunakan Analisis


Pareto di Puskesmas Patingaloang Kec. Ujung Tanah Kota Makassar. Skripsi
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Makass
41

LAMPIRAN

DOKUMENTASI RUANG FARMASI, GUDANG FARMASI, DAN KARTU

STOK OBAT

1. Gudang Farmasi

2. Ruang Farmasi (Obat dan

BMHP)
42

KARTU STOK OBAT


43
44