Anda di halaman 1dari 10

TEORI MENUA (AGING PROCESS)

SISTEM TUBUH III

MAKALAH

Oleh
1. Arie Puspa Ningtyas 141610101003
2. Arwinda Hening Pangestu 141610101010
3. Anindhita Virliana Juniar 141610101029

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB I. PENDAHULUAN

Gerontology merupakan ilmu yang berhubungan dengan orang tua dalam


beberapa waktu terakhir ini meluas menjadi pusat perhatian dalam pertemuan-
pertemuan baik antara ilmuwan maupun masyarakat awam. Akibat dari
membaiknya kondisi kehidupan sosial ekonomi, kemajuan kedokteran modern
dan pengaruh pola hidup, menyebabkan saat ini dunia banyak dihuni oleh
demikian banyak penduduk dengan usia lanjut (Lehr, 1998). Kemajuan terbesar
dalam seratus tahun terakhir ini adalah meningkatnya harapan hidup manusia.
Kecenderungan ini mulai terlihat selain di negara maju juga terjadi di negara
berkembang. Laporan yang dikemukaan oleh Prof. Sagaza pada Kongres Regional
Gerontology di Tokyo, pada tahun 2020 jumlah orang lanjut usia Asia
diproyeksikan sebesar 11,34%. Dari data USA Beureu of the Census, Indonesia
diperkirakan akan mengalami pertambahan warga usia lanjut sebesar 414% antara
tahun 1990-2025 (Doewes, 1996; Penhall, 2004).
Usia lanjut atau menua adalah suatu keadaan yang terjadi karena suatu
proses, proses menua ini adalah proses sepanjang hidup. Secara individu,
seseorang disebut usia lanjut atau menua jika telah berumur 60 tahun keatas
(dinegara berkembang) atau 65 tahun keatas (di negara maju). Diantara usia lanjut
yang berumur 60 tahun keatas dikelompokkan lagi menjadi young old (60-69
tahun), old (70-79 tahun) dan old-old (80 tahun keatas). Dari aspek kesehatan,
seseorang disebut sebagai usia lanjut (elderly) jika berusia 60 tahun keatas,
sedangkan penduduk yang berusia 49-59 tahun disebut sebagai pra-senile. Usia
lanjut yang berumur 70 tahun keatas disebut sebagai usia lanjut beresiko (Bebi,
2001).
Seseorang dikatakan usia lanjut atau menua lainnya selain oleh karena
jumlah umur adalah karena penampilan fisiknya ataupun karena perilaku yang
menyertainya. Menua merupakan suatu keadaan yang dapat dipandang dari tiga
sisi, yaitu sisi kronologis, fisis, dan psikologis (Rochmah dan Soedjono, 2001).
Menua juga merupakan proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan mempertahankan struktur
dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk
infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang dideritanya (Nursal, 2009). Proses
menua menyebabkan terjadinya perubahan anatomis dan fisiologis sehingga usia
lanjut rentan mengalami gangguan (impairement), ketidakmampuan (dissability),
meningkat menjadi tidak dapat menjalankan beberap fungsi (disfunction), dan
timbulnya rintangan (handicap) (Rochmah dan Soedjono, 2001).
Mekanisme dan faktor-faktor yang mendasari proses menua masih dalam
perdebatan. Banyak teori telah diajukan untuk mencoba menerangkan tentang
proses menua. Makalah ini mencoba menerangkan beberapa teori menua (aging
theory) yang dianggap dapat memenuhi dari aspek biologi, sosial, psikologi, dan
psikososial. Teori tersebut merupakan teori yang dianggap masuk akal (plausible),
yang mendapat dukungan luas, baik secara teoritis, maupun oleh data
eksperimental untuk menerangkan proses menua.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penuaan
Gerontology, studi ilmiah tentang efek tentang penuaan dan penyakit yang
berhubungan dengan penuaan pada manusia, meliputi efek biologis, fisiologis,
psikososial, dan espek rohani dari penuaan (Stanley 2006). Menua (aging) adalah
suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan
memperbaiki kerusakan yang diderita (Santoso 2009).
Penuaan adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan secara
perlahan-lahan untuk memperbaiki atau mengganti diri dan mempertahankan
struktur, serta fungsi normalnya. Akibatnya tubuh tidak dapat bertahan terhadap
kerusakan atau memperbaiki kerusakan tersebut (Cunnningham, 2003).
Banyak faktor yang dapat menyebabkan penuaan, salah satu faktor eksternal
yang dapat menyebabkan penuaan karena pola hidup yang tidak sehat yaitu
merokok. Merokok sudah menjadi kebiasaan masyarakat di seluruh dunia yang
susah dihilangkan. Asap rokok mengandung banyak zat yang mengandung radikal
bebas yang dapat menimbulkan stres oksidatif yang akan merusak sel-sel tubuh.
Apabila faktor-faktor penyebab penuaan dapat dihindari, proses penuaan tentu
dapat dicegah, diperlambat bahkn mungkin dihambat dan kualitas hidup dapat
dipertahankan (Pangkahila,2007).
Proses penuaan dapat berlangsung melalui tiga tahap sebagai berikut
(Pangkahila, 2007):
1. Tahap subklinik (usia 25-35 tahun). Pada tahap ini, sebagian besar hormon di
dalam tubuh mulai menurun, yaitu hormon testosteron, growth hormon dan
hormon estrogen. Pembentukan radikal bebas dapat merusak sel dan DNA
mulai mempengaruhi tubuh. Kerusakan ini biasanya tidak tampak dari luar,
karena itu pada usia ini dianggap usia muda dan normal.
2. Tahap transisi (usia 35-45 tahun): Pada tahap ini kadar hormon menurun
sampai 25%. Massa otot berkurang sebanyak satu kilogram tiap tahunnya.
Pada tahap ini orang mulai merasa tidak muda lagi dan tampak lebih tua.
Kerusakan oleh radikal bebas mulai merusak ekspresi genetik yang dapat
mengakibatkan penyakit seperti kanker, radang sendi, berkurangnya memori,
penyakit jantung koroner dan diabetes.
3. Tahap klinik (usia 45 tahun ke atas): Pada tahap ini penurunan kadar hormon
terus berlanjut yang meliputi DHEA, melatonin, growth hormon, testosteron,
estrogen dan juga hormon tiroid. Terjadi penurunan bahkan hilangnya
kemampuan penyerapan bahan makanan, vitamin dan mineral. Penyakit
kronis menjadi lebih nyata, sistem organ tubuh mulai mengalami kegagalan.

2.2 Teori Penuaan


2.2.1 Teori biologis proses penuaan
a. Teori radikal bebas
Teori radikal bebas pertama kali diperkenalkan oleh Denham Harman pada
tahun 1956, yang menyatakan bahwa proses menua adalah proses yang normal,
merupakan akibat kerusakan jaringan oleh radikal bebas. Radikal bebas adalah
senyawa kimia yang berisi elektron tidak berpasangan. Karena elektronnya tidak
berpasangan, secara kimiawi radikal bebas akan mencari pasangan elektron lain
dengan bereaksi dengan substansi lain terutama protein dan lemak tidak jenuh.
Sebagai contoh, karena membran sel mengandung sejumlah lemak, ia dapat
bereaksi dengan radikal bebas sehingga membran sel mengalami perubahan.
Akibat perubahan pada struktur membran tersebut membran sel menjadi lebih
permeabel terhadap beberapa substansi dan memungkinkan substansi tersebut
melewati membran secara bebas. Struktur didalam sel seperti mitokondria dan
lisosom juga diselimuti oleh membran yang mengandung lemak, sehingga mudah
diganggu oleh radikal bebas. Sebenarnya tubuh diberi kekuatan untuk melawan
radikal bebas berupa antioksidan yang diproduksi oleh tubuh sendiri, namun
antioksidan tersebut tidak dapat melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal
bebas tersebut (Setiati et.al, 2009).
b. Teori imunologis
Penurunan atau perubahan dalam keefektifan sistem imun berperan dalam
penuaan. Tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan proteinnya sendiri
dengan protein asing sehingga sistem imun menyerang dan menghancurkan
jaringannya sendiri pada kecepatan yang meningkat secara bertahap. Disfungsi
sistem imun ini menjadi faktor dalam perkembangan penyakit kronis seperti
kanker, diabetes, dan penyakit kardiovaskular, serta infeksi (Potter dan Perry,
2006).
c. Teori DNA repair
Teori ini dikemukakan oleh Hart dan Setlow. Mereka menunjukkan bahwa
adanya perbedaan pola laju perbaikan (repair) kerusakan DNA yang diinduksi
oleh sinar ultraviolet (UV) pada berbagai fibroblas yang dikultur. Fibroblas pada
spesies yang mempunyai umur maksimum terpanjang menunjukkan laju DNA
repair terbesar dan korelasi ini dapat ditunjukkan pada berbagai mamalia dan
primata (Setiati et.al, 2009).
d. Teori genetika
Teori sebab akibat menjelaskan bahwa penuaan terutama di pengaruhi oleh
pembentukan gen dan dampak lingkungan pada pembentukan kode genetik.
Menurut teori genetika adalah suatu proses yang secara tidak sadar diwariskan
yang berjalan dari waktu ke waktu mengubah sel atau struktur jaringan. Dengan
kata lain, perubahan rentang hidup dan panjang usia ditentukan sebelumnya
(Stanley dan Beare, 2006).
e. Teori wear-and-tear
Teori wear-and- tear (dipakai dan rusak) mengusulkan bahwa akumulasi
sampah metabolik atau zat nutrisi dapat merusak sintensis DNA, sehingga
mendorong malfungsi organ tubuh. Pendukung teori ini percaya bahwa tubuh
akan mengalami kerusakan berdasarkan suatu jadwal. Sebagai contoh adalah
radikal bebas, radikal bebas dengan cepat dihancurkan oleh sistem enzim
pelindung pada kondisi normal (Stanley dan Beare, 2006).
2.2.2 Teori Psikologi
Teori ini lebih luas cakupannya dari teori yang lain karena dipengaruhi oleh
biologi dan sosiologi sehingga tidak bisa dipisahkan dari kedua aspek tersebut
(Lueckenotte, 2000). Perubahan psikologis yag terjadi dapat dihubungkan pula
dengan keakuratan mental dan keadaan fungsional yang efektif. Adanya
penurunan dari intelektalitas yang meliputi persepsi, kemampuan kognitif,
memori dn belajar pada lanjut usia menyebabkna mereka sulit untuk dipahami dan
berinteraksi. Dengan adanya penurunan fungsi sistem sensorik, maka akan terjadi
pula penurunan kemampuan untuk menerima, memproses, dan merespon stimulus
sehingga terkadang akan muncul aksi/reaksi yang berbeda dari stimulus yang ada
(Maryam et.al, 2008).

2.2.3 Teori Sosial


Ada beberapa teori sosial yang berkaitan dengan proses penuaan, yaitu teori
interaksi sosial, teori penarikan diri dan teori perkembangan.
a. Teori interaksi sosial
Teori ini mencoba menjelaskan mengapa lanjut usia bertindak pada suatu
sistem tertentu, yaitu atas dasar hal-hal yang dihargai masyarakat. Kemampuan
lanjut usia untuk terus menjalin interaksi sosial merupakan kunci untuk
mempertahankan status sosialnya atas dasar kemampuannya untuk melakukan
tukar menukar. Pada lanjut usia, kekuasaan dan prestisenya berkurang, sehigga
menyebabkan interaksi sosial mereka juga berkurang, yang tersisa hanyalah harga
diri dan kemampuan mereka untuk mengikuti perintah (Maryam et.al, 2008).
Pokok-pokok teori interaksi sosial adalah sebagai berikut :
a) Masyarakat terdiri atas aktor-aktor sosial yang erupaya mencapai
tujuannya masing-masing
b) Dalam upaya tersebut terjadi interaksi sosial yang memerlukan biaya dan
waktu
c) Untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai, seorang aktor harus
mengeluarkan biaya
d) Aktor senantiasa berusaha mencari keuntungan dan mencegah terjadinya
kerugian
e) Hanya interaksi ekonomis saja yang dipertahankan olehnya.
b. Teori penarikan diri
Cumming dan Henry (1961) dalam Potter & Perry (2005) menyatakan
bahwa orang yang menua menarik diri dari peran yang biasanya dan terikat pada
aktifitas yang berfokus pada diri sendiri. Menurunnya derajat kesehatan
mengakibatkan seorang lansia menarik diri secara perlahan-lahan dari pergaulan
sekitarnya. Kemiskinan yang diderita lanjut usia dan menurunnya derajat
kesehatan mengakibatkan seorang lanjut usia secara perlahan-lahan menarik diri
dari pergaulan di sekitarnya. Menurut teori ini lanjut usia dinyatakan mengalami
proses penuaan yang berhasil apabila ia menarik diri dari kegiatan terdahulu dan
dapat memusatakn diri pada persoalan pribadi serta mempersiapkan diri dalam
menghadapi kematiannya (Maryam et.al, 2008).
c. Teori perkembangan
Pokok-pokok dalam teori perkembangan ini adalah (Maryam et.al, 2008) :
1) Masa tua merupakan saat lanjut usia merumuskan seluruh masa
kehidupannya.
2) Masa tua merupakan masa penyesusaian diri terhadap kenyataan sosial yang
baru, yaitu pensiun dan atau menduda / menjanda.
3) Lanjut usia harus menyesuaikan diri sebagai akibatnya perannya yang
berakhir didalam keluraga, kehilangan identitas, dan hubungan sosialnya
akibat pensiun, serta ditinggal mati oleh pasangannya atau teman-temannya.

2.2.4 Teori psikososial proses penuaan


a. Teori disengagment
Teori disengagment (teori pemutusan hubungan), menggambarkan proses
penarikan diri oleh lansia dari peran masyarakat dan tanggung jawabnya. Proses
penarikan diri ini dapat diprediksi, sistematis, tidak dapat dihindari, dan penting
untuk fungsi yang tepat dari masyarakat yang sedang tumbuh. Lansia dikatakan
bahagia apabila kontak sosial berkurang dan tanggung jawab telah diambil oleh
generasi lebih muda (Stanley dan Beare, 2006).

b. Teori aktivitas
Teori ini menegaskan bahwa kelanjutan aktivitas dewasa tengah penting
untuk keberhasilan penuaan. Orang tua yang aktif secara sosial lebih cendrung
menyesuaikan diri terhadap penuaan dengan baik (Potter dan Perry, 2006).
DAFTAR PUSTAKA

Bebi, Romansus. 2001. Kesejahteraan Usia lanjut Masa Depan : Sehat, Produktif,
dan Mandiri. Warta Demografi. vol 31(1).

Cunningham, J.D. 2003. Human Body. Random Hausem: New York.

Doewes, Muchsin. 1996. Penuaan dan Kapasitas Kerja. Jakarta: Penerbit buku
EGC.

Lehr, U. 1998. The longevity revolution: Impact on the society, family, and the
individual. Geronto-Geriatrics. vol 1(1) : 7-24.

Lueckenotte, A.G. 2000. Gerontologic Nursing 2nd ed. Missouri : Mosby.

Maryam, R., Siti, Mia Fatma Ekasari., Rosidawati, Ahmad Jubaedi., dan Irwan,
Batubara. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta:
Salemba Medika

Nursal, Dien GA. 2009. Pengukuran Aktivitas Fisik Pada Usia Lanjut. Jurnal
Kesehatan Masyarakat. vol 3(1) : 38-42.

Pangkahila, W. 2007. Anti Aging Medicine: Memperlambat Penuaan,


Meningkatkan Kualitas Hidup. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.

Penhall, R.K. 2004. Understanding Geriatric Assesment in Continuum of Care of


Healthy Elderly and Geriatric Patient. Jakarta : Pusat Informasi dan
Pendidikan Bagian Ilmu Penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas
indonesia.

Potter, P.A. dan Perry, A.G. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses dan Praktik ed. 4. Alih bahasa : Renata Komalasari.
Jakarta: EGC.

Rochmah, Wasilah dan Aswin, Soedjono. 2001. Tua dan Proses Menua. Berkala
Ilmu Kedokteran. vol 33(4) : 221-227.

Santoso, H. 2009. Memahami Krisis Lanjut Usia. Jakarta: PT.Gunung Mulia

Setiati, S,, A.W, Sudoyo., B. Setiyohadi., I. Alwi., dan M. Simadibrata. 2009.


Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II edisi V. Jakarta: Interna
Publishing.

Stanley, M dan Beare, P.G. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta:
EGC.