Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dislokasi atau luksasio adalah kehilangan hubungan yang normal antara
kedua permukaan sendi secara komplet / lengkap ( Jeffrey. 1999) terlepasnya
kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi, Dislokasi ini dapat hanya
komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen
tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang
tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya
adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain :
sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi
bahu dan sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi
itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang
pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor.
Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.
Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan me
lindungin beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul.
Kerangka juga berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menye diakan
permukaan untuk kaitan otot-otot kerangka. Oleh karena fungsi tulang yang
sangat penting bagi tubuh kita, maka telah semestinya tulang harus di jaga
agar terhindar dari trauma atau benturan yang dapat mengakibatkan terjadinya
patah tulang atau dislokasi tulang.
Dislokasi terjadi saat ligarnen rnamberikan jalan sedemikian rupa
sehinggaTulang berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi.
Dislokasi dapat disebabkan oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan
(acquired) atau karena sejak lahir (kongenital).

1
B. Rumusan Masalah
1. Konsep Medis
a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan dislokasi?
b. Jelaskan anatomi dan fisiologi dislokasi?
c. Jelaskan klasifikasi dislokasi?
d. Jelaskan etiologi dislokasi?
e. Jelaskan patofisiologi dislokasi?
f. Jelaskan manifestasi klinis dislokasi?
g. Bagaimana pemeriksaan diagnosatik dislokasi?
h. Apa komplikasi dislokasi?
i. Jelaskan penatalaksanaan dislokasi?
2. Konsep Keperawatan
a. Jelaskan pengkajian dislokasi?
b. Apa diagnosa keperawatan dislokasi?
c. Bagaimana intervensi keperawatan dislokasi?
d. Bagaimana implementasi keperawatan dislokasi?
e. Bagaimana evaluasi keperawatan dislokasi?
C. Tujuan Penulis
1. Konsep Medis
a. Untuk mengetahui definisi dislokasi.
b. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi dislokasi.
c. Untuk mengetahui klasifikasi dislokasi.
d. Untuk mengetahui etiologi dislokasi.
e. Untuk mengetahui patofisiologi dislokasi.
f. Untuk mengetahui manifestasi klinis dislokasi.
g. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnosatik dislokasi.
h. Untuk mengetahui komplikasi dislokasi.
i. Jelaskan penatalaksanaan dislokasi
2. Konsep Keperawatan
a. Untuk mengetahui pengkajian dislokasi.
b. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan dislokasi.
c. Untuk mengetahui intervensi keperawatan dislokasi.
d. Untuk mengetahui implementasi keperawatan dislokasi.
e. Untuk mengetahui evaluasi keperawatan dislokasi.

2
BAB II
PEMBAHASAN
I. Konsep Medis
A. Pengertian Dislokasi
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi.
Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau
terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari
mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali
sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari
tempatnya. Dengan kata lain : Sendi rahangnya telah mengalami dislokasi
(Taqiyyah dan Mohammad, 2013).
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi
bahu dan sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi
itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang
pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor.
Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi (Taqiyyah dan Mohammad,
2013).
Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi
berhubungan, secara anatomis (tulang lepas dari sendi) (Brunner &
Suddarth)Keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi
merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera.(Arif
Mansyur, dkk. 2000). Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat
menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dis
lokasi.( Buku Ajar Ilmu Bedah, hal 1138). Berpindahnya ujung tulang patah,
karena tonus otot, kontraksi cedera dan tarikan Dislokasi adalah terlepasnya
kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi sering di temukan pada
orang dewasas dan jarang di temukan pada anak-anak, biasanya klien jatuh
dengan ekerasa dalam keadaan tangan out stretched. Bagian distal humerus
terdorong ke depan melalui kapsul anterior .misalkan oada radius dan ulna
mengalami dislokasi pada posterior oleh karna itu brakhialis yang mengalmi
robekan pada proseus karanoid .
B. Anatomi Fisologi
a. Histologi Tulang
Secara histologinya, pertumbuhan tulang di bagi dalam 2 jenis (Arif
Musstaqin, 2008) yaitu :
1. Tulang Imatur, terbentuk pada perkembangan emrional dan tidak terlihat
lagi pada usia satu tahun. Tulang imatur mengandung jaringan kolagen.
2. Tulang Matur, ada 2 jenis yaitu tulang kortikal dan tulang trabekular.

3
b. Komponen Penyusun Tulang
Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun atas tiga jenis sel :
1. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe 1 dan
proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu
proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan
osteoid, osteoblas menyekresi sejumlah besar fosfatase alkali yang
memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke
dalam matriks tulang. Sebagai fosfatase dari alkali akan memasuki aliran
darah sehingga kadar fosfatase alkali dalam darah dapat menjadi
indicator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah
mengalami patah tulang.
2. Osteosit adalah sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan
untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.
3. Osteoklas adalah sel besar yang berinti banyak yang memungkinkan
mineral dan matriks tulang diabsorpsi. Tidak seperti osteoblast dan
osteosit, osteoklas mengikis tulang. Sel ini menghasilkan proteolitik yang
memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang
sehingga kalsium dan fosfat terlepas kedalam aliran darah (Arif
Mustaqqin, 2008).
c. Fungsi Utama Tulang
Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai fungsi
utama yaitu :
1. Membentuk rangka badan
2. Sebagai pengumpil dan tempat melekat otot
3. Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-
alat dalam (seperti otak, sumsum tulang belakang, jantung, dan paru-
paru).
4. Sebagai tempat mengatur dan deposit kalsium, fosfat, magnesium, dan
garam.
5. Ruang ditengah tulang tertentu sebagai organ yang mempunyai fungsi
tambahan lain, yaitu sebagai jaringan hemopoletik untuk memproduksi
sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit (Arif Mustaqqin, 2008)
D. Klasifikasi
Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Dislokasi Kongenital
Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
2. Dislokasi Patologik
Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor,
infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang
berkurang.

4
3. Dislokasi Traumatic
Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan
mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema
(karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga
dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga
merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan
terjadi pada orang dewasa. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi menjadi :
a. Dislokasi Akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut
dan pembengkakan di sekitar sendi.
b. Dislokasi Berulang
Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi
dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut
dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello
femoral joint. Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang/
fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh
karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.
E. Etiologi
Dislokasi disebabkan oleh :
1. Cedera Olahraga
Olahraga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki,
serta olahraga yang berisiko jatuh misalnya : Terperosok akibat bermain ski,
senamm, voli. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering
mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja
menangkap bola dari pemain lain.
2. Trauma yang tidak berhubungan dengan olahraga.
Benturan keras pada sendi saat kecelakan motor biasanya menyebabkan
dislokasi.
3. Terjatuh
Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin.
4. Patologis
Terjadinya Tear ligament dan kapsul artikuler yang merupakan komponen
vital penhubung tulang.
F. Patofisiologi
Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan. Humerus terdorong
kedepan, merobek kapsul atau menyebakan tepi glenoid teravulsi. Kadang-
kadang bagian posterolateral kaput hancur. Mesti jarang prosesus akromium
dapat mengungkit kaput kebawah dan menimbulkan luksasio erekta (dengan
tangan mengarah) ; tengan ini hampir selalu jatuh membawa kaput ke posisi
bawah karakoid) (Taqiyyah dan Mohammad, 2013).

5
G. Manifestasi Klinis
Nyeri terasa hebat .Pasien menyokong lengan itu dengan tangan sebelahnya
dan segan menerima pemeriksaan apa saja .Garis gambar lateral bahu dapat
rata dan ,kalau pasien tak terlalu berotot suatu tonjolan dapat diraba tepat di
bawah klavikula.
1. Deformitas pada persendiaan
Kalau sebuah tulang diraba secara sering akan terdapat suatu celah.
2. Gangguan gerakan
Otot-otot tidak dapat bekerja dengan baik pada tulang tersebut.
3. Pembengkakan
Pembengkakan ini dapat parah pada kasus trauma dan dapat menutupi
deformitas.
4. Rasa nyeri sering terdapat pada dislokasi Sendi bahu, sendi siku, metakarpal
phalangeal dan sendi pangkal paha servikal.
5. Kekakuan.
H. Pemeriksaan Diagnosatik
Dengan cara pemeriksaan sinar-X (Pemeriksaan X-Rays) pada bagian
anteroposterior akan memperlihankan bayangan yang tumpang-tindih antar
kapit humerus dan fossa Glenoid. Kaput biasanya terletak dibawah dan melalui
terhadap mengkuk sendi.
I. Penatalaksanaan
1. Dislokasi Reduksi : dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan
anastesi jika dislokasi berat.
2. Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke
rongga sendi.
3. Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan
dijaga agar tetap dalam posisi stabil.
4. Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 3-
4X sehari yang berguna untuk mengembalikan kisaran sendi
5. Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa
penyembuhan.
J. Komplikasi
a. Cedera Saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan
otot deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot
tesebut
b. Cedera Pembuluh Darah : Arteri aksilla dapat rusak
c. Fraktur Disloksi
Komplikasi lanjut.
1. Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan
kekakuan sendi bahu, terutama pada pasien yang berumur 40
tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara otomatis
membatasi abduksi

6
2. Dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul
terlepas dari bagian depan leher glenoid.
3. Kelemahan otot.
II. Konsep Keperawatan
A. Pengkajian
1. Anamnesis
a. Identitas klien meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama,
bahasa yang digunakan, status perkawinan, pendidikan,
pekerjaan,asuransi golongan darah ,nomor registrasi , tanggal dan jam
masuk rumah sakit, (MRS), dan diagnosis medis. Dengan fokus
,meliputi :
1) Umur , pada pasien lansia terjadi pengerasan tendon tulang
sehingga menyebabkan fungsi tubuh bekerja secara kurang normal
dan dislokasi cenderung terjadi pada orang dewasa dari pada anak-
anak , biasanya klien jatuh dengan keras dalam keadaan strecth out.
2) Pekerjaan, Pada pasien dislokasi biasanya di akibatkan oleh
kecelkaan yang mengakibatkan trauma atau ruda paksa, biasaya
terjadi pada klien yang mempunyai pekrjaan buruh bangunan.
Seperti terjatuh , atupun kecelakaan di tempat kerja , kecelakaan
industri dan atlit olahraga, seperti pemain basket , sepak bola dll.
3) Jenis kelamin, Dislokasi lebih sering di temukan pada anak laki –
laki dari pada permpuan karna cenderung dari segi aktivitas yang
berbeda .
b. Keluhan utama
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien meminta
pertolongan kesehatan adalah nyeri, kelemahan dan kelumpuhan,
ekstermitas, nyeri tekan otot, dan deformitas pada daerah trauma,untuk
mendapatkan pengkajian yang lengkap mengenai nyeri klien dapat
menggunakan metode PQRS.
c. Riwayat penyakit sekarang
Kaji adanya riwayat trauma akibat kecelakaan pada lalu lintas
,kecelekaan industri , dan kecelakaan lain ,seperti jatuh dari pohon atau
bangun, pengkajian yang di dapat meliputi nyeri, paralisis extermitras
bawah, syok.
d. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat penyakit,
seperti osteoporosis, dan osteoaritis yang memungkinkan terjadinya
kelainan, penyakit alinnya seeperti hypertensi, riwayat cedera, diabetes
milittus, penyakit jantung, anemia, obat-obat tertentu yang sering di
guanakan klien, perlu ditanyakan pada keluarga klien .

7
e. Pengkajian Psikososial dan Spiritual
Kaji bagaimana pola interaksi klien terhadap orang – orang
disekitarnya seperti hubungannya dengan keluarga, teman dekat,
dokter, maupun dengan perawat.
2. Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan klien
pemekrisaan fisik sangat berguna untuk mendukung pengkajian anamnesis
sebaiknya dilakukan persistem B1-B6 dengan fokus pemeriksaan B3(
brain ) dan B6 (bone)
a. Keadaan Umum
Klien yang yang mengalami cedera pada umumnya tidak mengalami
penurunan kesadaran ,periksa adanya perubahan tanda-tanda vital ,yang
meliputi brikardia, hipotensi dan tanda-tanda neurogenik syok.
1. B3 ( brain)
a) Tingkat kesedaran pada pasien yang mengalami dislokasi adalah
kompos mentis.
b) Pemeriksaan fungsi selebral
Status mental : Observasi penampilan ,tingkah laku gaya bicara,
ekspresi wajah aktivitas motorik klien.
c) Pemeriksaan saraf kranial.
d) Pemeriksaan refleks .pada pemeriksaan refleks dalam ,reflecs
achiles menghilang dan refleks patela biasanya meleamh karna
otot hamstring melemah
2. B6 (Bone)
a) Paralisis motorik ekstermitas terjadi apabila trauma juga
mengompresi sekrum gejala gangguan motorik juga sesuai
dengan distribusi segmental dan saraf yang terken.
b) Look, pada insfeksi parienum biasanya di dapatkan adanya
pendarahan ,pembengkakakn dan deformitas
c) Fell, kaji adanya derajat ketidakstabilan daerah trauma dengan
palpasi pada ramus dan simfisi fubis.
d) Move, disfungsi motorik yang paling umum adalah kelemahan
dan kelumpuhan pada daerah ekstermitas.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri Akut berhubungan dengan agens cedera fisik (misalnya mengangkat
berat dan olahraga berlebihan).
2. Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal,
kaku sendi dan pergerakan.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan dislokasi.
4. Resiko Infeksi

8
C. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1. Domain : 12 (kenyamanan) Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri :
Kelas : 1 (Kenyamanan keperawatan selama 3x24 jam 1. Lakukan pengkajian nyeri
Fisik) maka di harapkan nyeri komprehensif yang
Kode : 00132 berkurang/terkontrol dengan meliputi lokasi,
Halaman : 469 indikator : karakteristik, durasi,
Diagnosa : 1. Pasien dapat mengenali kualitas, intensitas atau
Nyeri Akut berhubungan kapan nyeri terjadi. beratnya yeri dan factor
dengan agens cedera fisik 2. Pasien dapat pencetus.
(misalnya mengangkat berat menggambarkan faktor 2. Pastikan perawatan
dan olahraga berlebihan).
penyebab nyeri. analgesic bagi pasien
3. Pasien dapat dilakukan dengan
menggunakan tindakan pemantauan yang ketat.
pencegahan. 3. Gunakan strategi
4. Menggunakan analgesic komunikasi terapeutik
yang direkomendasikan. untuk mengetahui
5. Pasien melaporkan pengalaman nyeri dan
nyerinya terkontrol. sampaikan penerumaan
pasien terhadap nyeri.
4. Pertimbangkan pengaruh
budaya terhadap nyeri
5. Ajarkan prinsip prinsip
manajemen nyeri
6. Pertimbangkan tipe dan
sumber nyeri ketika
memilih strategi
penurunan nyeri
7. Berikan individu penurun
nyeri yang optimal dengan
peresepan analgesic.
8. Dorong pasien untuk
menduskusikan
pengalaman nyerinya,
sesuai kebutuhan
2. Domain : 4 Setelah dilakukan tindakan Terapi Latihan : Mobilitas
(Aktivitas/Istirahat) keperawatan selama 3x24 jam Sendi
Kelas : 2 maka di harapkan bergerak 1. Tentukan batasan
(Aktivitas/Olahraga) dengan baik dengan indikator pengerakan sendi dan
Kode : 00085 : efeknya terhadap fungsi
Halaman : 232 1. Keseimbangan baik. sendi.
Diagnosa : 2. Cara berjalan baik. 2. Jelaskan pada pasien atau
Hambatan Mobilitas Fisik 3. Gerakan otot aktif. keluarga manfaat dan
berhubungan dengan 4. Gerakan sendi baik. tujuan melakukan

9
gangguan muskuloskeletal, 5. Berjalan baik. pergerakan sendi.
kaku sendi dan pergerakan. 3. Monitor lokasi dan
kecenderugan adanya nyeri
dan ketidaknyamanan
selama pergerakan atau
aktivitas.
4. Pakaikan baju yang tidak
menghambat pergerakan
pasien.
5. Lindungi pasien dari
trauma selama latihan.
6. Bantu pasien mendapatkan
posisi tubuh yang optimal
untuk pengerakan sendi
pasif maupun aktif.
7. Lakukan latihan ROM
pasif atau ROM dengan
bantuan, sesuai indikasi.
8. Bantu untuk melakukan
pergerakan sendi yang
ritmis dan teratur sesuai
kadar nyeri yang bisa
ditoleransi, ketahanan dan
pergerakan sendi.
3. Domain : 11 (keamanan/ Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor ketat area yang
perlindungan) keperawatan selama 3x24 jam mengalami kemerahan
Kelas : 2 (cedera fisik) maka diharapkan dapat 2. Berikan perlindungan pada
Kode : 00046 menunjukkan peningkatkan kulit seperti krim
Halaman : 425 penyembuhan dan komplikasi pelembab atau penyerap
Diagnosa : Kerusakan dengan indicator : cairan, untuk mengatasi
integritas kulit berhubungan 1. Tidak terdapat ruam kulit basah berlebih
dengan dislokasi. setempat (local) 3. Lembabkan kulit yang
2. Tidak terdapat rasa gatal kering dan pecah- pecah
setempat (local) 4. Hindari air panas dan
3. Tidak terdapat gunakan sabun yang
peningkatan suhu kulit lembut saat mandi
setempat (local) 5. Dokumentasikan
4. Tidak terdapat lecet pada gambaran perkembangan
kulit kulit setiap hari mulai dari
hari pertama dirawat

10
4. Domain 11 : Setelah dilakukan tindakan Kontrol infeksi
(Keamanan/perlindungan) keperawatan selama 3x24 1. Bersihkan lingkungan
Kelas : 1 (Infeksi) jam, diharapkan status dengan baik dan jaga
Kode. 00004 imunitas meningkat dengan lingkungan aseptik yang
Diagnosa : kriteria hasil: optimal.
Risiko infeksi 1. Integritas kulit normal 2. Tempatkan isolasi sesuai
2. Suhu tubuh dalam batas tindakan pencegahan yang
normal sesuai.
3. Skrining untuk infeksi 3. Anjurkan pasien dan
bejalan dengan baik. keluarga mengenai teknik
mencuci tangan dengan
tepat.
4. Gosok kulit pasien dengan
agen anttibakteri yang
sesuai.
5. Anjrkan pasien untuk
meminum antibiotik
seperti yang diresepkan.
Perlindungan Infeksi
1. Monitor tanda-tanda
sistemik dan lokal dan
gejala infeksi.
2. Pertahankan teknik isolasi.
3. Ajarkan pasien dan
keluarga bagaimana
menghindari infeksi,
4. Sediakan kamar pribadi
sesuai kebutuhan.
5. Pantau tanda-tanda vital.

11
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan merupakan proses keperawatan dengan
melaksanakan berbagai strategi tindakan keperawatan yang telah direncanakan.
E. Evaluasi
Evaluasi keperawatan merupakan suatu aktifitas yang direncanakan, terus
menerus, aktifitas yang disengaja yaitu klien, keluarga, perawat dan petugas
kesehatan lain menentukan kemajuan klien terhadap outcome yang dicapai dan
keefektifan dari rencana asuhan keperawatan.

PATHWAY DISLOKASI

Etiologi : Cedera akibat olahraga, kecelakaan dan lain-lain

12
Terlepasnya jaringan kompresi dari kesatuan

Struktur sendi dan ligamen

Penguatan jaringan yang terdorong kedepan

Merobek atau menyebabkan glenoid teravulasi

Tulang berpindah dari posisi normal


(Dislokasi)

Deformitas Nyeri Akut Perubahan jaringan-


jaringan sekitar sendi

Hambatan
Mobilitas Fisik Laserasi kulit

Kerusakan Integritas
kulit

Resiko Infeksi

13
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi.
Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau
terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari
mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali
sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari
tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi
bahu dan sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi
itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang
pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor.
Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.
Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan
melindungin beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul.
Kerangka juga berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menye diakan
permukaan untuk kaitan otot-otot kerangka. Oleh karena fungsi tulang yang
sangat penting bagi tubuh kita, maka telah semestinya tulang harus di jaga agar
terhindar dari trauma atau benturan yang dapat mengakibatkan terjadinya patah
tulang atau dislokasi tulang.
B. Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi
makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan
pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth. (2001) Buku Ajar Keperawatan-Medikal Bedah, Edisi 8


Volume 3. EGC : Jakarta

14
Doengoes, Mariliynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta :
EGC

Muttaqin.A. (2008). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Muskuloskletal, Jakarta : EGC

Bararah, Tagiyyah dan Mohammad Jauhar. (2013). Asuhan Keperawatan


Panduan Lengkap Menjadi Perawat Profesional, Jilid 2. Jakarta : Prestasi Pustaka

http://www.slideshare.net/ardiartana/savedfiles?s_title=askep-
dislokasi&user_login=septianraha. Diakses pada tanggal 25 Juli 2018.

15

Anda mungkin juga menyukai