Anda di halaman 1dari 19

Kebakaran Pabrik

Bukti Lemahnya Penerapan Prosedur Keselamatan Kebakaran


Dalam satu pekan terakhir, si Jago Merah telah melalap sejumlah bangunan

milik industri di Kabupaten Bandung hingga gedung bertingkat di Jakarta.

Meski tak ada korban jiwa, kebakaran mengakibatkan kerugian yang tidak

sedikit.

Kebakaran gudang pabrik cokelat di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Dayeuhkolot,


Kabupaten Bandung, Kamis (31/5/2018)
Sumber: tribunnews.com

Insiden kebakaran yang melanda bangunan milik industri hingga gedung

bertingkat terus terjadi. Dalam satu pekan terakhir, kebakaran telah melalap

sejumlah pabrik di Kabupaten Bandung dan salah satu gedung bertingkat di

Jakarta.
Berikut fakta peristiwa kebakaran yang terjadi dalam satu pekan terakhir:

1. Kebakaran Gudang Pabrik Cokelat, 31 Mei 2018

Gudang pabrik cokelat di Jalan Mengger Baru, Kampung Mengger Hilir,

Kelurahan Sukapura, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung terbakar,

Kamis (31/5/2018) lalu pada pukul 07.20 WIB dan pemadaman usai pukul

12.30 WIB. Penyebab kebakaran diduga akibat korsleting listrik.

Untuk memadamkan api di gudang tersebut, 6 unit mobil pemadam kebakaran

Kabupaten Bandung dan bantuan 2 unit mobil kebakaran Kota Bandung

diterjunkan ke tempat kejadian. Upaya pemadaman api sempat mengalami

kendala karena di area gudang tersebut hanya terdapat satu akses untuk

keluar-masuk kendaraan. Gudang pabrik juga hanya memiliki satu unit hydrant

dan tidak berfungsi, pasokan air untuk memadamkan api diambil dari air

sawah. Kondisi ini menghambat proses evakuasi dan penanggulangan api.

2. Kebakaran Gudang Pabrik Kain, 4 Juni 2018

Pabrik kain di Jalan Kopo Bihbul, Kopo Permai, Kecamatan Margahayu,

Kabupaten Bandung terbakar, Senin (4/6/2018) lalu. Awalnya, api melalap

gudang pemintalan kapas, lalu merembet ke gudang lain di lokasi sama.

Pemadaman dilakukan menggunakan 11 unit mobil pemadam kebakaran.


Sama halnya seperti kebakaran yang terjadi di pabrik cokelat, petugas

pemadam juga menghadapi kendala akses masuk mobil pemadam ke titip api.

Area gudang juga tidak memiliki sumber air atau hydrant. Petugas

memanfaatkan air kolam yang ada di depan Samsat (Margahayu) untuk

memadamkan api.

Pemicu kebakaran diduga korsleting listrik. Tidak ada korban jiwa akibat

kebakaran tersebut, namun kerugian diperkirakan mencapai 2 miliar.

3. Kebakaran Gedung Pusat Niaga Arena JI EXPO, Pekan Raya Jakarta (PRJ), 5

Juni 2018

Kebakaran di Gedung Pusat Niaga Arena JI EXPO, Pekan Raya Jakarta, Jakarta

Pusat terjadi pada Selasa (5/6/2018) lalu, pukul 17.05 WIB dan pemadaman

usai pukul 18.25 WIB. Lokasi kebakaran adalah gedung yang sedang dalam

tahap pembangunan. Tidak termasuk area gelaran Jakarta Fair 2018, sehingga

tidak ada korban jiwa.

Sebanyak 24 mobil pemadam kebakaran diterjunkan untuk memadamkan api.

Petugas pemadam berhasil mengevakuasi empat pekerja kontraktor yang

sebelumnya terjebak di lokasi kebakaran. Evakuasi dilakukan melalui tangga

penghubung Gedung Convention Center and Theater dan Gedung Pusat Niaga.
Dilansir detik.com, Kasi Ops. Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Pusat,

Syarifudin menyatakan, evakuasi para pekerja dilakukan melalui tangga dalam.

Petugas mengarahkan evakuasi, karena jalur tangga itu gelap. Berdasarkan

keterangan saksi, kebakaran terjadi karena korsleting pendingin ruangan.

Namun polisi masih mendalami penyebab kebakaran.

Kasus kebakaran yang terjadi beberapa hari lalu terbilang sangat besar, butuh

waktu berjam-jam untuk bisa memadamkannya. Meski tidak ada korban jiwa,

kerugian yang dialami perusahaan juga tidak sedikit.

Namun kini pertanyaannya adalah mengapa peristiwa kebakaran yang

melanda pabrik atau gedung bertingkat terjadi berulang kali? Bagaimana

dengan penerapan prosedur keselamatan kebakaran pada bangunan tersebut?

Apakah prosedur yang ada tidak diterapkan atau bahkan tidak memiliki

prosedur sama sekali?


Kebakaran Pabrik Cokelat hingga PRJ, Bagaimana dengan

Penerapan Prosedur Keselamatan Kebakarannya?

Penyebab paling umum kebakaran besar adalah ketidakmampuan

pengusaha atau pengendali bangunan untuk mengelola dan mengurangi

risiko kebakaran dengan tepat dan aman.

Dalam peristiwa kebakaran yang melanda pabrik cokelat, pabrik kain, hingga

PRJ, penyebab kebakaran semakin membesar umumnya karena rancangan

bangunan yang buruk, hambatan rute evakuasi, sistem proteksi kebakaran


yang tidak memadai, lemahnya penerapan prosedur darurat, dan penandaan

rute evakuasi yang tidak memadai.

Dilansir ayobandung.com, Kasi Rescue Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten

Bandung, Suswanto, menyatakan ada beberapa penyebab kebakaran hebat

yang selalu terjadi di bangunan milik industri, seperti pabrik cokelat dan pabrik

kain tersebut.

Pihaknya mengaku mengalami kesulitan dalam memadamkan api karena pihak

pabrik dalam membangun bangunan tidak ramah terhadap bencana,

khususnya bencana kebakaran. Banyak juga industri yang tidak memiliki Alat

Pemadam Api Ringan (APAR) yang ideal.

Selain itu, banyak pabrik yang tidak membangun fasilitas hydrant sebagai

sumber air bagi petugas pemadam kebakaran apabila terjadi kebakaran.

Pembangunan pabrik juga sering tidak mengindahkan tata ruangan. Seperti

kasus kebakaran yang terjadi di pabrik cokelat, di bangunan tersebut hanya

terdapat satu akses untuk keluar-masuk kendaraan.

Selain rancangan bangunan dan tata ruangan yang buruk serta sistem proteksi

yang tidak memadai, hambatan rute evakuasi juga dirasakan petugas

pemadam kebakaran Jakarta Pusat saat hendak mengevakuasi para pekerja

yang terjebak dalam kebakaran PRJ.


Meski evakuasi berhasil dilakukan, petugas harus mengarahkan para pekerja

melalui tangga penghubung ke gedung sebelah dengan keadaan jalur yang

gelap.

Masalah-masalah seperti inilah yang sering kali menghambat proses evakuasi

dan penanggulangan kebakaran. Akibatnya, setiap kejadian kebakaran selalu

berakhir dengan habisnya bangunan dilalap api yang berimbas pada kerugian

perusahaan dalam jumlah yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap pengusaha atau pengelola

bangunan untuk menerapkan prosedur keselamatan kebakaran dengan baik,

sehingga potensi kebakaran yang lebih besar dapat dicegah, kerugian akibat

kebakaran dapat diminimalkan serta proses evakuasi ketika terjadi kebakaran

dapat lebih cepat dan aman.


Prosedur Keselamatan Kebakaran: Sistem Proteksi Aktif

dan Pasif Harus Memadai

Penerapan prosedur keselamatan kebakaran bukan sekedar untuk

memenuhi regulasi, namun untuk melindungi jiwa manusia, bangunan dan

aset saat atau bahkan sebelum bahaya kebakaran terjadi.

Sebagian perusahaan menganggap mereka telah aman dari risiko kebakaran,

sehingga mereka tidak memiliki perhatian khusus atas masalah kebakaran.

Padahal, kebakaran di tempat kerja bisa terjadi di mana pun, kapan pun, dan

mengakibatkan kerugian material maupun imaterial.


Ketidakmampuan pengusaha atau pengelola bangunan untuk mengelola

kebakaran bisa menyebabkan kematian manusia. Penyebab paling umum

kebakaran besar berubah menjadi bencana besar bagi manusia adalah

ketidakmampuan orang-orang yang terjebak di dalam bangunan untuk keluar

dari bangunan secara tepat waktu dan aman serta ketidakmampuan

mengendalikan kebakaran dan memadamkannya.

Alasan berbagai ketidakmampuan tersebut bisa karena kondisi atau praktik

yang tidak aman, seperti:

• Rancangan bangunan yang buruk

• Hambatan rute evakuasi

• Tidak adanya sistem peringatan dini jika terjadi kebakaran

• Tidak adanya prosedur darurat

• Sistem proteksi aktif yang tidak memadai.

Pengurangan dan Pengendalian Risiko Kebakaran

Pada dasarnya, berdasarkan implementasi dan cara pelaksanaannya,

pengurangan dan pengendalian risiko kebakaran biasanya diaplikasikan dalam

dua jenis, yaitu sistem proteksi aktif dan sistem proteksi pasif.

Keduanya diupayakan bersama-sama dalam pengurangan dan pengendalian

risiko kebakaran.
a. Sistem Proteksi Aktif

Sistem proteksi kebakaran aktif berupa alat atau instalasi yang disiapkan untuk

mendeteksi dan/ atau memadamkan kebakaran, di antaranya:

• Sistem deteksi dan alarm kebakaran (otomatis atau manual)

Alat yang dirancang untuk mendeteksi terjadinya kebakaran pada area yang

dipasang. Alarm kebakaran akan mengeluarkan bunyi yang bising dan

lampu indikator sebagai sinyal untuk memberi tahu kepada penghuni

bangunan jika sedang terjadi kebakaran di area yang telah dipasang sistem

alarm kebakaran.

Sistem deteksi alarm kebakaran bisa berupa smoke detector atau heat

detector. Smoke detector atau detektor asap akan aktif dan mengeluarkan

bunyi bila alat mendeteksi asap yang cukup. Sedangkan heat detector, alat

ini akan aktif dan mengeluarkan bunyi bila terdeteksi panas yang berlebih.

• Sistem sprinkler

Sistem pemadam api ini akan bekerja secara otomatis bila terjadi kebakaran

dan panas ruangan mencapai 68°C, maka sumbat warna merah pada kepala

sprinkler akan pecah dan air akan menyemprot dengan keras. Apabila

kepala sprinkler ini pecah, maka sistem alarm kebakaran juga akan

berbunyi.
• Sistem hydrant

Seluruh area gedung harus dilengkapi dengan sistem pemadam api hydrant,

di antaranya:

✓ Hydrant cabinet yang berisi alat-alat perlengkapan guna memadamkan

kebakaran yang dilengkapi selang kebakaran, nozzle, dan hydrant valve.

✓ Hydrant pillar, alat ini disambungkan langsung dengan jaringan pipa

PAM. Sistem ini disediakan untuk keperluan Dinas Pemadam Kebakaran.

Biasanya dipasang di luar gedung atau halaman gedung. Hydrant dan

sambungannya ke pasokan air harus dapat dijangkau oleh pemadam

kebakaran.

• Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

Alat Pemadam Api Ringan (APAR) berfungsi untuk memadamkan api

kebakaran-kebakaran ringan/kecil atau pada awal terjadinya kebakaran,

sebelum alat pemadam api hydrant perlu dipergunakan.

b. Sistem Proteksi Pasif

Sistem proteksi kebakaran pasif berupa alat, sarana atau metode/cara

mengendalikan asap, panas maupun gas berbahaya apabila terjadi kebakaran,

di antaranya:
• Rambu Evakuasi dan Alat Pemadam Api

✓ Rambu evakuasi

Rambu evakuasi berguna memberi petunjuk arah evakuasi serta lokasi pintu

keluar dan titik kumpul saat terjadi keadaan darurat.

Pastikan rambu K3 evakuasi/petunjuk arah jalan keluar terbuat dari bahan

glow in the dark atau luminous serta piktogram, ukuran, lokasi, dan posisi

pemasangan rambu harus tepat sesuai regulasi yang berlaku. Hal ini

dimaksudkan untuk membantu proses penyelamatan diri lebih cepat dan

aman.

Rambu K3 Jalur Evakuasi


✓ Rambu Alat Pemadam Api

Rambu alat pemadam api berguna untuk memberi informasi tentang lokasi

alat-alat pemadam api dan peralatan kebakaran lainnya agar petugas dapat

menanggulangi keadaan darurat dengan segera. Rambu K3 ini harus dapat

dibaca dengan jelas beserta piktogram dan kata-kata dalam bahasa Inggris

dan bahasa setempat.

Dari segi grafis hingga format sign dipertimbangkan untuk menentukan

visibilitas optimal dari berbagai sudut pandang. Bahan glow in the dark atau

luminous juga sebaiknya digunakan sebagai material sign agar rambu dapat

terlihat dengan jelas dalam kondisi gelap.

Rambu K3 Alat Pemadam Api


Penting!
Sign berbahan luminous atau glow in the dark dapat
menyala/memendarkan cahaya sendiri dalam kondisi gelap. Artinya, bila
sign dipasang di dalam ruangan yang terdapat cahaya lampu, stiker
luminous akan menyerap atau mengumpulkan cahaya lampu tersebut, lalu
mengeluarkannya kembali saat kondisi gelap.
Karena sifatnya yang menyerap cahaya, sign akan selalu menyala atau
bercahaya dengan sendirinya setiap ada perubahan kondisi penerangan
dari terang ke gelap dengan seketika. Material sign ini biasanya digunakan
untuk rambu pintu exit dan evakuasi, rambu peralatan darurat, dan rambu
alat pemadam api.

• Penerangan darurat

Harus dipasang di sepanjang rute sarana keluar, di jalan keluar, di tangga

darurat dan lokasi lain yang dibutuhkan. Penerangan darurat harus selalu

menyala setiap saat, baik mendapat suplai daya dari PLN atau tidak.

• Tangga darurat

Tangga darurat harus tertutup dengan pintu tahan api dan hanya dapat

terbuka dari satu sisi. Tangga darurat harus mudah dilihat dan dicapai serta

dilengkapi dengan rambu penunjuk arah. Pastikan penanda pada handrail

atau anak tangga menuju jalan keluar saat kondisi darurat juga terbuat dari

bahan glow in the dark atau luminous.


Sumber: amazon.com

• Pintu darurat

Hanya dapat digunakan apabila terjadi kebakaran. Pintu harus tahan api

sekurang-kurangnya dua jam dan dilengkapi dengan alat penutup

otomatis (door closer) dan kaca tahan api.

• Konstruksi atau struktur tahan api

Konstruksi bangunan, penyekat ruangan, dan plafon dirancang tahan

api. Hal ini memungkinkan memperlambat api untuk menjalar.


• Komunikasi darurat

Untuk mengurangi kepanikan pada waktu terjadi bahaya kebakaran

maka pada dinding tangga darurat dipasangi pengeras suara (speaker)

yang berfungsi sebagai pemandu menunjuk jalan keluar menuju tempat

berkumpul yang ditetapkan.

Ada beberapa poin penting lainnya yang harus Anda perhatikan dalam

pengendalian risiko kebakaran, di antaranya:

1. Semua rute evakuasi dari kebakaran harus diperiksa secara berkala

untuk memastikan rute tersebut tidak terhambat dan pintu darurat

dapat dibuka dengan mudah.

2. Pekerja, kontraktor, dan tamu harus diberi instruksi tentang prosedur

evakuasi. Prosedur ini mencakup keharusan menghindari penggunaan

lift dan menutup pintu api saat keluar.

3. Prosedur evakuasi dari kebakaran harus menjadi unsur utama K3 dalam

pelatihan pekerja.

4. Pekerja juga harus diberi instruksi dan informasi mengenai metode

alternatif untuk mengevakuasi sebuah bangunan jika rute evakuasi tidak

dapat diakses.
5. Terkait alat pemadam api juga harus diperhatikan. Peralatan pemadam

kebakaran harus dapat diakses dari posisi yang aman, terpasang benar

dan ditandai.

Penerapan prosedur keselamatan kebakaran merupakan tanggung jawab

mendasar bagi setiap pengusaha. Pasalnya, kebakaran yang serius bisa

menghancurkan bisnis dan mengakibatkan kematian pada penghuni bangunan.

Kerja sama antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah dalam pengelolaan

kebakaran ─ mencakup instalasi proteksi aktif dan pasif ─ sangat penting untuk

keberhasilan pencegahan dan pengendalian kebakaran di tempat kerja.

Semoga Bermanfaat, Salam safety!