Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara wilayah laut dan wilayah darat,
dimana daerah ini merupakan daerah interaksi antara ekosistem darat dan ekosistem
laut yang sangat dinamis dan saling mempengaruhi, wilayah ini sangat intensif
dimanfaatkan untuk kegiatan manusia seperti :pusat pemerintahan, permukiman,
industri, pelabuhan, pertambakan, pertanian dan pariwisata.

Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi dengan banyak pilihan wisata
pantai. Sumatera barat terletak disepanjang pesisir barat pulau Sumatera sehingga
tidak mengherankan jika di daerah ini banyak ditemukan tempat wisata pantai yang
indah. Setiap kota dan kabupaten di Sumatra Barat memiliki potensi wisata yang bisa
menambah pendapatan daerah sehingga dapat mendatangkan devisa bagi Negara.

Kabupaten Pesisir Selatan merupakan salah satu kabupaten yang memiliki banyak
potensi destinasi wisata pantai yang terdiri dari Kawasan Wisata Mandeh, Pantai Batu
Kalang, Air Terjun Bayang Sani, Pantai Muara Bayang, Jembatan Akar, Goa Batu
Ngalau Dewa, Kawasan Wisata Pantai Carocok.

Wilayah pesisir merupakan suatu kawasan yang sangat potensial sekali untuk
dikembangkan menjadi lebih baik, akan tetapi kawasan pesisir tersebut juga harus
dilestarikan dengan melakukan pendayagunaan sumber daya pesisir serta pemanfaatan
fungsi wilayah secara terencana dan rasional.

Meskipun daerah pesisir tersebut merupakan daerah potensial untuk dikekola,


namun juga terdapat dampak lain dalam pengelolaan wilayah pesisir. Yakni
Kebijakan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut terhadap Masyarakat. Terutama
dikawasan Mandeh dan Pantai Batu Kalang.

1.2 Tujuan dan Manfaat


Tujuan dari penulisan laporan ini adalah :
1. Untuk mengevaluasi dampak dan mengetahui kendala dari kebijakan
pengelolaan wilayah pesisir dan laut.
1
2. Sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah Pengelolaan Wilayah Pesisir.

Adapun manfaat dari penulisan laporan ini adalah :

1. Mahasiswa/i mengetahui dampak dan kendala dari pengelolaan wilayah


pesisir.
2. Membangun kerjasama dan koordinasi dalam satu tim.
3. Membandingkan antara teori dan pengaplikasian secara langsung di lapangan.

1.3 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan


Lokasi yang dibahas dalam laporan ini adalah Kawasan Wisata Mandeh, dan

Pantai Batu Kalang. Dimana waktu pelaksanaan survey yaitu Kamis 3 mei 2018.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Informasi Umum Daerah


A. Pesisir Selatan
Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia.
Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi ±420.000 jiwa. Ibu
kotanya ialah Painan. Wikipedia Luas: 5.795 km² Jumlah penduduk: 451.553 (2014)
Provinsi: Sumatera Barat.

Kabupaten Pesisir Selatan, sebelah utara berbatasan dengan Kota Padang, sebelah
timur dengan Kabupaten Solok dan Provinsi Jambi, sebelah selatan dengan Provinsi
Bengkulu dan sebelah barat dengan Samudera Indonesia.

Kabupaten Pesisir Selatan terletak di pinggir pantai, dengan garis pantai sepanjang
218 kilometer Topografinya terdiri dari dataran, gunung dan perbukitan yang
merupakan perpanjangan gugusan Bukit Barisan. Berdasarkan penggunaan lahan,
45,29 persen wilayah terdiri dari hutan, termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci
Seblat, Cagar Alam Koto XI Tarusan, dan rawa gambut.

B. Objek Wisata

Pesisir Selatan memiliki panorama alam yang cukup cantik dan mempesona.
Kawasan Mandeh misalnya, sekarang kawasaan wisata ini oleh pemerintah pusat
masuk dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPNAS)
mewakili kawasan barat Indonesia.

Kawasan wisata potensial lainnya adalah Jembatan Akar, Water Pall Bayang Sani,
Cerocok Beach Painan, Bukit Langkisau, Nyiur Melambai serta sejumlah objek
wisata sejarah, seperti Pulau Cingkuak (Cengco), Peninggalan Kerajaan Inderapura
dan Rumah Gadang Mandeh Rubiah Lunang.

Bila semua potensi pariwisata Pesisir Selatan tersebut dapat diekelola secara
profesional tentu akan jadi sumber PAD andalan daerah pada masa mendatang. Untuk
itu pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan membuka diri selebar lebarnya kepada
investor yang berminat menanamkan modatnya di daerah ini.

Di Pesisir Selatan banyak terdapat objek wisata baik objek wisata alam maupun
wisata sejarah dan budaya. Ada beberapa objek wisata yang terkenal, antara lain:

3
1. Mandeh (Koto XI Tarusan)
2. Bendungan Amping Parak Timur (Teratak Panas)
3. Pantai Mandeh, Pantai Batu Kalang dan Taluak Sikulo (Tarusan)
4. Pulau Keong (Batang Kapas)
5. Pulau Cubadak
6. Jembatan Akar (Bayang Utara)
7. Air Terjun Bayang Sani (Bayang)
8. Puncak Langkisau (Painan)
9. Pantai Carocok (Painan)
10. Benteng Portugis di Pulau Cingkuk (Painan)
11. Bekas pertambangan emas di Salido
12. Pantai Pasir Putih di Kambang
13. Puing-puing Istana Kerajaan Inderapura di Muaro Sakai (Inderapura)
14. Istana Mande Rubiah di Lunang
15. Sako di Tapan
16. Air Terjun Telun Berasap di Malepang Tapan
17. Air Terjun Malaca di Panadah Tapan
18. Pantai Sembungo Indah di Silaut

C. Pantai Batu Kalang

Pantai Batu Kalang ini terletak di Nagari Ampang Pulau yang masuk dalam
wilayah Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. Pantai ini berjarak
kurang lebih 55 kilometer dari pusat kota Padang. Sementara kalau dari kota Painan,
Batu Kalang kurang lebih mempunyai jarak sejauh 30 kilometer.

Gambar. 1 Pantai Batu Kalang.

4
D. Pantai Carocok

Lokasi Pantai Carocok.

Karena membentang antara Painan dan Kota Padang, secara administratif Pantai
Carocok terletak di Painan, Kabupaten Pesisir Selatan dan Kecamatan IV Jurai Kota
Padang, Sumatera Barat.Pantai ini berjarak 2 KM dari Pasar Painan. Dari Kota
Padang, objek wisata ini berjarak sekitar 75 KM atau 2 jam perjalanan darat.

Sejarah Pantai Carocok

Pada zaman dahulu, Carocok hanyalah daerah pemukiman penduduk biasa, tidak
ada yang menarik dari daerah ini. Hal ini dikarenakan kawasan Pantai Carocok hanya
digunakan untuk kegiatan harian warganya, bahkan pantai ini disebut sebagai
“kandang Jawi” (artinya “Kandang Sapi’) oleh masyarakat sekitar karena tempat ini
sering digunakan untuk menambatkan sapi peliharaan warga.

Gambar.2 pantai carocok

2.2 Pengelolaan Wilayah Pesisir


Wilayah pesisir diartikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan
lautan yaitu batas kearah daratan meliputi wilayah-wilayah yang tergenang air
maupun yang tidak tergenang air yang masih terpengaruh oleh proses laut seperti
pasang surut, angin laut, dan intrusi garam. Sementara batas kearah lautan adalah
daerah yang terpengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sendimentasi dan

5
mengalirnya air tawar kelaut serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh
kegiatan-kegiatan manusia di daratan.

Wilayah pesisir memilikinilai ekonomi tinggi, namun terancam keberlanjutannya. Dengan


potensi yang unik dan bernilai ekonomi tadi maka wilayah pesisir dihadapkan pada ancaman
yang tinggi pula, maka hendaknya wilayah pesisir ditangani secara khusus agar wilayah ini
dapat dikelola secara berkelanjutan.

Transisi antara daratan dan lautan di wilayah pesisir telah membentuk ekosistem
yang beragam dan sangat produktif serta memberikan nilai ekonomi yang luar biasa
terhadap manusia. Sejalan dengan pertambahan penduduk dan peningkatan kegiatan
pembangunan sosial-ekonomi “nilai” wilayah pesisir terus bertambah. Konsekuensi
dari tekanan terhadap pesisir ini adalah masalah pengelolaan yang timbul karena
konflik pemanfaatan yang timbul akibat berbagai kepentingan yang ada di wilayah
pesisir.

Keunikan wilayah ini mengisyaratkan pentingnya pengelolaan wilayah tersebut


untuk dikelola secara terpadu dan bijaksana. Secara biofisik wilayah pesisir memiliki
karakteristik sebagai berikut:

a. Secara empiris terdapat keterkaitan ekologis (hubungan fungsional) baik antar


ekosistem di dalam kawasan pesisir maupun antara kawasan pesisir dengan lahan atas
(upland) dengan laut lepas. Perubahan yang terjadi pada suatu eksosistem pesisir,
cepat atau lambat, langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi ekosistem
lainnya. Begitu pula halnya jika pengelolaan kegiatan pembangunan (industri,
pertanian, pemukiman, dan lain-lain) di lahan atas (upland) suatu DAS (Daerah Aliran
Sungai) tidak dilakukan secara bijaksana akan merusak tatanan dan fungsi ekologis
kawasan pesisir dan laut.

b. Dalam suatu kawasan pesisir, biasanya terdapat lebih dari dua macam
sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang dapat dikembangkan untuk
kepentingan pembangunan. Terdapat keterkaitan langsung yang sangat komplek
antara proses-proses dan fungsi lingkungan dengan pengguna sumberdaya alam.

c. Dalam suatu kawasan pesisir, pada umumnya terdapat lebih dari satu kelompok
masyarakat (orang) yang memiliki keterampilan/keahlihan dan kesenangan
(preference) bekerja yang berbeda sebagai petani, nelayan, petani tambak, petani

6
rumput laut, pendamping pariwisata, industri dan kerajinan rumah tangga dan
sebagainya. Pada hal sangat sukar atau hampir tidak mungkin untuk mengubah
kesenangan bekerja (profesi) sekelompok orang yang sudah mentradisi menekuni
suatu bidang pekerjaan.

d. Baik secara ekologis maupun secara ekonomis, pemanfaatan suatu kawasan


pesisir secara monokultur (single use) adalah sangat rentan terhadap perubahan
internal maupun eksternal yang menjurus pada kegagalan usaha. Misalnya suatu
hamparan pesisir hanya digunakan untuk satu peruntukan, seperti tambak, maka akan
lebih rentan, jika hamparan tersebut digunakan untuk beberapa peruntukan.

d. Kawasan pesisir pada umumnya merupakan sumberdaya milik bersama


(common property resources) yang dapat dimanfaatkan oleh semua orang (open
access). Pada hal setiap sumberdaya pesisir biasanya berprinsip memaksimalkan
keuntungan. Oleh karenanya, wajar jika pencemaran over eksploitasi sumberdaya
alam dan konflik pemanfaatan ruang seringkali terjadi di kawasan ini, yang pada
gilirannya dapat menimbulkan suatu tragedi bersama (open tragedy).

2.3 Dampak Pengelolaan Wilayah Pesisir


1. Dampak terhadap Masyarakat

Berdasarkan hasil penulisan bahwa kebijakan ini diharapkan partisipasi


masyarakat cenderung naik dan ikut berperan aktif dalam pengelolaan wilayah pesisir
dan laut.Namun dampak tersebut nampaknya belum secara optimal dapat
terwujud.Seperti yang terjadi di pantai batu kalang dimana masyarakat mampu
membangun kawasan mangrove.Selain untuk meningkatkan pendapatan masyarakat
desa, hal itu juga dapat melindungi ekosistem wilayah pesisir dan laut.

Namun hal yang berbeda terjadi di wilayah pesisir seperti misalnya di kawasan
pantai batu kalang dimana masyarakat masih membuang sampah di laut.Kebersihan
pantainya juga.

Kehidupan masyarakat disekitar pantai tesebut masih rendah dan kurang


kesadaran terhadap perkembangan pengelolaan wilyah sekitar pesisir tersebut.Dimana
untuk pengelolaan pariwista masih bisa dikatakan kurang dan jauh dari memadai.
Masih banyak yang perlu dikelola dan dikembangkan. Namun pada dasarnya
kesadaran dan ke ikut sertaan masyarakat sendiri itulah yang kurang.

7
8
BAB III
PELAKSANAAN

3.1 Alat dan Bahan