Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH

AKUNTANSI YAYASAN

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Akuntansi Sektor Publik
Dosen Pengampu: Warsito Kawedar, Dr., S.E., M.Si., Akt.

Disusun oleh:

Kelompok 4
1. Hirawresti L.A. (12030117420065)
2. Suhita Whini Setyahuni (12030117420059)

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS


JURUSAN MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah
ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami akan
membahas mengenai “Akuntansi Yayasan”. Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Sektor Publik
Makalah ini ditulis dengan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
proses penyusunan makalah.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah ini. Kami
mengharapkan pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang membangun
untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi kita semua.

Semarang, Juli 2018

Penulis

ii
2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………..…i


DAFTAR ISI …………………………………………………………………….ii
KATA PENGANTAR ……..…………………………………………………...iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ……………………………………………………………….4
1.2. Rumusan Permasalahan ..…………………………………………………….5
1.3. Tujuan ………………………………………………………………………..5
1.4. Manfaat ………………………………………………………………………6
1.5. Metode Pengumpulan Data …………………………………………………..6
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Karakteristik Lingkungan dan Yayasan ……..………….……………………7
2.2. Akuntabilitas Yayasan ………………..………...………..………………….10
2.3. Pengendalian Keuangan …………….…..…………...…...…………………24
2.4. Aktivitas Pengendalian dalam Siklus Akuntansi …...………………………26
2.5. Investasi Yayasan …………………….……………...…...…………………30
2.6. Audit Investasi ………………………….……………...……………………35
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan .………………………………………………..……………… 47
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………….…………… 49

iii
3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Fenomena yang dapat diamati dalam perkembangan sektor publik adalah
semakin meningkatnya tuntutan pelaksanaan akuntabilitas publik oleh organisasi
sektor publik seperti halnya yayasan. Tuntutan akuntabilitas ini terkait
dengan perlunya transparansi dan pemberian informasi kepada publik dalam
rangka memenuhi hak-hak spublik. Organisasi nonprofit seperti yayasan ini
berbeda dengan organisasi profit, yakni pada sumber daya awal mekanisme
organisasi yang diperoleh dari sumbangan. Kreditor dan pemasok membutuhkan
pengukuran jumlah, saat dan kepastian arus kas masuk. Sehingga dapat menilai
apakah yayasan mampu memberikan jasa secara berkesinambungan (going
concern).
Yayasan harus mampu mengelola jasa serta diinformasikan kepada pihak-
pihak yang berkepentingan dalam bentuk laporan keuangan, dimana informasi
mengenai aktiva, kewajban, aktiva bersih, dan informasi mengenai hubungan
diantara unsur-unsur tersebut disampaikan. Laporan yang disusun tersebut juga
harus menyajikan secara terpisah aktiva bersih, baik terikat maupun tidak terikat
penggunaannya. Hasil pengelolaan sumber daya yayasan akan
dipertanggungjawbakan melalui penyajian laporan aktivitas dan laporan arus kas.
Laporan aktivitas akan menjelaskan mengenai perubahan yang terjadi dalam
kelompok aktiva bersih. Pengendalian keuangan yayasan juga diperlukan untuk
meminimalkan resiko, peningkatan konsistensi dan akurasi.
Menurut UU No.16 Tahun 2001, sebagai dasar hukum positif yayasan,
pengertian yayasan adalah badan hukum yang kekayaannya terdiri dari kekayaan
yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu dibidang
sosial, keagamaan dan kemanusiaan. Namun saat ini sulitnya membedakan
yayasan nonprofit dengan lembaga lainnya yang berorientasi terhadap laba.
Badan hukum yang memayungi yayasan tersebut digunakan untuk menyiasati
berbagai aktivitas di luar bidang sosial, keagamaan, kemanusiaan, kesehaan dan
pendidikan, hal ini menjadi sorotan dari berbagai pihak termasuk pihak

4
perpajakan. Akibatnya, sistem dunia usaha menghadapi risiko penghancuran
melalui regulasi serta kepatutan yang bersifat umum.
Yayasan memiliki karakteristik yang berbeda dengan organisasi swasta
(profit). Dimana organisasi swasta biasa memperoleh modal usaha awal dari
setoran modal para pemilik dengan cara penjualan saham, sedangkan Yayasan
memperoleh sumber daya awal yang dibutuhkan umumnya diperoleh dari
sumbangan. Pada beberapa bentuk organisasi nonprofit yang tidak ada
kepemilikan, kebutuhan modal didanai dari utang, sementara kebutuhan
operasinya diperoleh dari pendapatan atau jasa yang diberika, karenanya arus kas
merupakan ukuran yang penting bagi para pemakai laporan keuangan seperti
kreditor dan pemasok dana, karena dalam aruskas terdapat perubahan perubahan
yang terjadi pada aktivitas pendanaan dan aktivitas operasi.

1.2. Rumusan Permasalahan


Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, maka
permasalahan dalam penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik dan lingkungan yayasan?
2. Bagaimana akuntabilitas yayasan?
3. Bagaimana pengendalian keuangan?
4. Bagaimana aktivitas pengendalian dalam siklus akuntansi tahunan?
5. Bagaimana investasi yayasan?
6. Bagaimana audit yayasan?

1.3. Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka
tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui karakteristik dan lingkungan yayasan?
2. Untuk mengetahui akuntabilitas yayasan?
3. Untuk mengetahui pengendalian keuangan?
4. Untuk mengetahui aktivitas pengendalian dalam siklus akuntansi tahunan?
5. Untuk mengetahui investasi yayasan?
6. Untuk mengetahui audit yayasan?

5
1.4. Manfaat
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan
sebelumnya, maka manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Diharapkan mampu menambah wawasan dan pengetahuan pembaca
mengenai akuntansi yayasan
2. Diharapkan dapat memberi informasi bagi kita semua sehingga dapat
memperkaya bahan kajian tentang Akuntansi Sektor Publik.

1.5. Metode Pengumpulan Data


Metode yang kami gunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode
kepustakaan, yaitu dengan mencari literatur yang berhubungan dengan bahasan
makalah kami.

6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik dan Lingkungan Yayasan


2.1.1. Pengertian dan Ruang Lingkup Yayasan
Menurut UU No.16 Tahun 2001, sebagai dasar hukum positif yayasan,
pengertian yayasan adalah badan hukum yang kekayaannya terdiri dari kekayaan
yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu dibidang
sosial, keagamaan dan kemanusiaan. Yayasan dapat melakukan kegiatan usaha
untuk menunjang pencapaian maksud dan tujuannya dengan cara mendirikan
badan usaha dan atau ikut dalam sebuah badan usaha.
Yayasan sebagai suatu badan hukum mampu dan berhak serta berwenang
untuk melaksanakan tindakan-tindakan perdata. Dengan demikian, yayasan
merupakan subjek hukum dan dapat melakukan perbuatan hukum. Hak dan
kewajiban yang dimiliki oleh yayasan yang berbadan hukum adalah sebagai
berikut:
a. Hak: berhak untuk mengajukan gugatan
b. Kewajiban: wajib mendaftarkan yayasan kepada instansi yang berwenang
untuk mendapatkan status badan hukum

2.1.2 Sifat dan Karakteristik Yayasan Tujuan Yayasan


Setiap organisasi, termasuk yayasan, memiliki tujuan yang spesifik dan
unik yang dapat bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Tujuan kuantitatif
mencakup pencapaian laba maksimum, penguasaan pangsa pasar, pertumbuhan
organisasi, dan produktivitas. Sementara tujuan kualitatif dapat disebut sebagai
efisiensi dan efektivitas organisasi, manajeman organisasi yang tangguh, moral
karyawan yang tinggi, reputasi organisasi, stabilitas, pelayanan kepada
masyarakat, serta citra perusahaan.
Menurut UU No.16 Tahun 2001, yayasan mempunyai fungsi sebagai
pranata hukum dalam rangka mencapai tujuan tertentu dibidang sosial,
keagamaan, dan kemanusiaan. Undang – undang tersebut menegaskan bahwa
yayasan adalah suatu badan hukum yang mempunyai maksud dan tujuan yang

7
bersifat sosial, keagamaan, dan kemanusiaan yang didirikan dengan
memperhatikan persyaratan formal yang ditentukan berdasarkan undang-undang.

Visi Yayasan
Visi merupakan suatu gambaran yang menantang tentang suatu keadaan
dimasa depan yang berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan suatu yayasan.
Rumusan visi harus memperhatikan beberapa hal berikut:
a) Mencerminkan apa yang ingin dicapai sebuah yayasan
b) Memberikan arah dan fokus strategi yang jelas
c) Memiliki orientasi terhadap masa depan, sehingga segenap jajaran
harus berperan dalam mendefinisikan dan membentuk masa depan
yayasan.
d) Mampu menumbuhkan komitmen seluruh jajaran dalam lingkungan
yayasan.
e) Mampu menjamin keseimbangan kepemimpinan yayasan.
Rumusan visi yang jelas diharapkan mampu untuk :
a) Menarik komitmen dan menggerakkan orang
b) Menciptakan makna bagi kehidupan pengurus yayasan
c) Menciptakan standar keunggulan
d) Menjembatani keadaan sekarang dan keadaan masa depan
Visi perlu ditanamkan pada setiap unsur yayasan, sehingga visi bersama
(shared vision), pada gilirannya mampu mengerahkan dan menggerakkan segala
sumber daya.

Misi
Misi adalah sesuatu yang dilaksanakan oleh suatu yayasan sebagai
penjabaran atas visi yang telah ditetapkan. Misi harus jelas dan sesuai dengan
tugas pokok dan fungsi. Perumusan misi harus memperhatikan masukan pihak-
pihak yang berkepentingan (stakeholders), dan memberikan peluang untuk
perubahan (setting) sesuai dengan tuntutan perkembangan lingkungan strategik.
Perumusan misi harus mampu:

8
a) Melingkupi semua pesan yang terdapat dalam visi
b) Memberikan petunjuk terhadap tujuan yang akan dicapai
c) Memberikan petunjuk kelompok sasaran mana yang akan dilayani
d) Memperhitungkan berbagai masukan dari stakeholders.

Sumber Pembiayaan/Kekayaan
Sumber pembiayaan yayasan berasal dari sejumlah kekayaan yang
dipisahkan dalam bentuk uang atau barang. Selain itu, yayasan juga memperoleh
sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat, yang berupa :
a) Wakaf
b) Hibah
c) Hibah wasiat
d) Perolehan lain yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar Yayasan
dan atau peraturan perundang – undangan yang berlaku.
Jika kekayaan yayasan berasa dari wakaf, maka berlaku ketentuan hukum
perwakafan. Kekayaan yayasan yang dimiliki tersebut dipergunakan untuk
mencapai maksud dan tujuan yayasan. Dalam hal tertentu, negara dapat
memberikan bantuan kepada yayasan.

Pola Pertanggungjawaban
Dalam yayasan, pengelola (pengurus dan pengawas) bertanggungjawab
kepada pembina yang disampaikan dalam Rapat Pembina yang diadakan setahun
sekali. Pola pertanggungjawaban diyayasan bersifat vertikal dan horizontal.
Pertanggungjawaban vertikal adalah pertanggungjawaban atas pengelolaan dana
kepada otoritas yang lebih tinggi, seperti pertanggungjawaban yayasan kepada
pembina. Pertanggungjawaban horizontal adalah pertanggungjawaban ke
masyarakat luas.

Karakteristik Anggaran
Dilihat dari karakteristik anggaran, rencana anggaran yayasan
dipublikasikan kepada masyarakat secara terbuka untuk dikritisi dan
didiskusikan. Anggaran tidak boleh menjadi rahasia internal yayasan yang

9
bersangkutan dan harus diinformasikan kepada publik untuk dikritisi,
didiskusikan, dan diberi masukan. Anggaran yayasan merupakan instrumen
akuntabilitas atas pengelolaan dana publik dan pelaksanaan program-program
yang dibiayai dengan uang publik.
Anggaran merupakan artikulasi dari hasil perumusan strategi dan
perencanaan strategik yang telah dibuat. Anggaran pada yayasan berisi rencanan
kegiatan kepada yang dipresentasikan dalam bentuk rencana perolehan
pendapatan dan belanja menurut satuan moneter.Dalam bentuk sederhana,
anggaran merupakan suatu dokumen yang menggambarkan kondisi keuangan
yayasan yang meliputi informasi mengenai pendapatan, belanja, dan aktivitas.

Sistem Akuntansi
Sistem akuntansi merupakan prinsip akuntansi yang menentukan kapan
transaksi keuangan harus diakui untuk tujuan pelaporan keuangan. Sistem
akuntansi ini berhubungan dengan waktu pengukuran dilakukan dan pada
umumnya bisa dipilah menjadi sistem akuntansi berbasis kas dan berbasis akrual.
Selain kedua sistem akuntansi tersebut, banyak variasi atau modifikasi dari
keduanya, yaitu modifikasi dari akuntansi berbasis kas dan modifikasi dari
akuntansi berbasis akrual. Jadi, basis akuntansi adalah :
a) Akuntansi berbasis kas (cash basis of accounting);
b) Modifikasi dari akuntansi berbasis kas (modified cash basis of
accounting);
c) Akuntansi berbasis akrual (accrual basis of accounting);
d) Modifikasi dari akuntansi berbasis akrual (modified accrual basis
of accounting).

2.2. Akuntabilitas Yayasan


2.2.1. Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang
relevan untuk memenuhi kepentingan para penyumbang, anggota pengelola,
kreditor, dan pihak lain yang menyediakan sumber daya yayasan.

10
Pihak pemakai laporan keuangan yayasan memiliki kepentingan bersama
dalam rangka menilai:
a) Jasa yang diberikan oleh yayasan dan kemampuannya untuk terus
memberikn jasa tersebut
b) Cara pengelola melaksanakan tanggung jawabnya dan aspek lain dari
kinerja yayasan

Secara rinci, tujuan laporan keuangan termasuk cacatan atas laporan


keuangan, adalah untuk menyajikan informasi mengenai:
a. Jumlah dan sifat aktiva, kewajiban, serta aktiva bersih suatu yayasan.
b. Pengaruh transaksi, peristiwa, dan situasi lainnya yang mengubah nilai
serta sifat aktiva bersih.
c. Jenis dan jumlah arus masuk serta arus keluar seumber daya selama satu
periode dan hubungan diantara keduanya.
d. Cara suatu yayasan mendapatkan dan membelanjakan kas, memperoleh
pinjaman dan melunasi pinjaman, serta faktor lainnya yang berpengaruh
terhadap likuiditasnya.
e. Usaha jasa suatu yayasan.
Setiap laporan keuangan menyediakan informasi yang berbeda, dan
informasi dalam suatu laporan keuangan biasanya melengkapi informasi laporan
keuangan lainnya.

2.2.2. Unsur-Unsur dalam Sistem Akuntansi


Sistem akuntansi terdiri dari catatan-catatan akuntansi (buku, cek, jurnal,
dan buku besar), serta serangkaian proses dan prosedur yang ditetapkan oleh staf,
sukarelawan, dan/atau para profesional dari luar yayasan. Tujuan sistem
akuntansi adalah untuk memastikan bahwa data keuangan dan transaksi ekonomi
diinputkan secara tepat ke dalam catatan akuntansi, serta laporan-laporan yang
perlu disajikan secara akurat dan tepat waktu.

11
Secara tradisional, sistem akuntansi terdiri dari komponen-komponen
berikut ini:
a) Bagan pekiraan/ akun. Bagan perkiraan adalah daftar masing-masing
item, dimana pencatatannya dibagi kedalam lima katagori yaitu aktiva,
utang, aktiva bersih, pendapatan dan belanja.
b) Buku besar
c) Jurnal
d) Buku cek
e) Manual prosedur akuntansi
f) Siklus akuntansi

Siklus akuntansi dapat dikelompokkan kedalam tiga tahap yaitu:


1) Tahap pencatatan
 Kegiatan pengidentifikasian dan pengukuran dalam bentuk bukti
transaksi dan bukti pencatatan.
 Kegiatan pencatatan bukti transaksi ke dalam buku harian atau jurnal.
 Memindahbukukan (posting) dari jurnal berdasarkan kelompok
atau jenisnya ke dalam akun buku besar.
2) Tahap pengikhtisaran
 Penyusunan neraca saldo (trial balance) berdasarkan akun-akun buku
besar.
 Pembuatan ayat jurnal penyesuaian.
 Penyusunan kertas kerja (work sheet).
 Pembuatan ayat jurnal penutup (closing entries).
 Pembuatan neraca saldo setelah penutupan.
 Pembuatan ayat jurnal pembalik.
3) Tahap pelaporan
 Neraca
 Laporan Surplus Defisit/Laporan Aktivitas
 Laporan Arus Kas
 Laporan Perubahan Aktiva Bersih
 Catatan atas Laporan Keuangan.

12
2.2.3. Tahap Pengembangan Sistem Akuntansi
Sistem akuntansi yang diterapkan akan berubah sebagaimana halnya
dengan sumber daya dan kebutuhan yayasan. Yayasan berskala kecil yang baru
berdiri hanya perlu mempertahankan akurasi catatan aktivitas dalam buku cek.
Jika jumlah transaksi berkembang, yayasan akan menambahkan pembayaran kas
secara manual dan jurnal untuk transaksi penerimaan kas dengan menyiapkan
laporan bulanan yang berupa ringkasan item pendapatan dan biaya. Pada akhirnya,
yayasan akan mendapatkan aktiva dari kas, akrual yang ditambahkan, dan
karenanya transaksi menjadi lebih kompleks. Jika sistem buku besar yang
lengkap perlu dikembangkan.
Dengan kompleksitas dan volume kerja yayasan yang semakin
berkembang, aktivitas manajeman keuangan memerlukan peningkatan jumlah
staf yang pada akhirnya makin rumit, apakah itu staf sukarelawan atau staf yang
dibayar atau kombinasi staf dan penyedia jasa dari luar. Jadi, sistem akuntansi
harus dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kompetensi pemakainya.

Perbedaan antara akuntansi untuk yayasan dan organsasi bisnis


Prinsip akuntansi yang diterima umum bisa diterapkan dalam praktek
akuntansi nonprofit. Namun, ada beberapa perbedaan yang signifikan yaitu:
a) Akuntansi untuk sumbangan
Yayasan yang memenuhi syarat mendapat status bebas pajak akan
ditunjuk untuk menerima sumbangan, yaitu pajak yang sudah dikurangi
untuk donor.
b) Kapitalisasi dan penyusutan aktiva
Yayasan perlu mencatat pembelian peralatan dan barang substansial
jangka panjang.
c) Klasifikasi biaya fungsional.
Yayasan perlu melaporkan pengeluaran kas sesuai dengan klasifikasi
fungsinya.
d) Implikasi perbedaan antara akuntansi nonprofit dan akuntansi swasta
Implikasi dari perbedaan praktek akuntansi nonprofit dan akuntansi
swasta adalah diperlukannya keahlian tambahan bagi personal, penasihat

13
keuangan, atau auditor. Jadi, sumbangan dan pembelian barang-barang
serta peralatan yang memerlukan penanganan khusus, diatur dengan
melibatkan seorang akuntan spesialis yayasan.

2.2.4. Perbedaan Akuntansi Berbasis Kas dan Akrual


Akuntansi berbasis kas dan akuntansi berbasis akrual menggunakan
kriteria yang berbeda untuk menentukan kapan mengakui serta mencatat
pengeluaran dan penerimaan dalam catatan keuangan. Pada akuntansi berbasis
kas, pendapatan diakui ketika kas diterima dan disetorkan, sementara biaya
dicatat dalam periode akuntansi ketika tagihan dibayarkan. Dalam akuntansi
berbasis akrual, pendapatan diwujudkan dalam periode akuntansi ketika
pendapatan itu diperoleh; misalnya, saat jasa yang dikontrak diberikan dan
ketentuan hibah terpenuhi, tanpa menghiraukan waktu penerimaan kas dari
donasi. Belanja dicatat sebagai pengurang utang saat pembayaran; misalnya,
ketika membayar persediaan yang dipesan, membayar lembur karyawan, dan
meminjam printer untuk pencetakan.
Untuk menggambarkannya, mari kita perhatikan contoh sederhana
berikut. Dalam kegiatan outbond training diakhir tahun, terdapat catatan
pengeluaran dan setoran (laporan disebelah kiri) buku cek.
Setelah informasi tersebut diketahui dari aktivitas dalam buku cek,
laporan akan dibuat menurut basis kas. Namun, beberapa informasi yang
bersangkutan telah dicatat, seperti:
a. Yayasan memberikan panitia outbond hibah sebesar Rp 10.000.000 untuk
memberikan beasiswa kepada anak yang kurang mampu. Anak-anak itu
lalu menghadiri outbond, tetapi yayasan belum mengirimkan cek.
b. Kas tidak mencukupi karena panitia belum membayar cicilan akhir
atas pembelian printer secara kredit pada tahun ini. Panitia berhutang
Rp. 1.500.000
c. Premi asuransi dibayarkan pada bulan Desember dan mencakup
periode November hingga Desember.
Untuk melibatkan ketiga faktor tersebut ke dalam pertimbangan laporan
keuangan, pendapatan dan biaya harus dicatat atas basis akrual. Beberapa item

14
sejenis juga harus ditambahkan kedalam neraca untuk memperbaharui laporan
keuangan. Item-item tersebut akan dijelaskan berikut ini:

Contoh sederhana Laporan Keuangan Berbasis Kas


Outbond & Training
1 September – 31 Agustus 2016
(dalam ribuan)
LAPORAN PENDAPATAN NERACA
Pendapatan Aktiva
Bantuan (Hibah) 3000 Kas 127
Sumbangan 4500 Barang-barang, Gedung dan 120000
Peralatan
Uang dari para peserta 25000 Dikurangi :
Akumulasi penyusutan (100000)
Total Pendapatan 32500 Total bersih aktiva tetap 20000
TOTAL AKTIVA 20127
Biaya Pasiva
Gaji 20000 KEWAJIBAN
Makanan dan persediaan 6000 Pinjaman dari pemerintah 5000
Asuransi 4200
Keperluan lain 2000 AKTIVA BERSIH 15127
Telepon 750
Percetakan dan perangko 3500 KEWAJIBAN DAN 20127
Total biaya 36450 AKTIVA BERSIH

Akun Piutang
Melaporkan pendapatan yang telah diperoleh, tetapi belum disetorkan.
Misalnya, pembayaran dari hibah pemerintah berupa voucher yang belum disetor,
merupakan suatu akun piutang. Dalam kasus ini, panitia memiliki piutang
sumbangan sebesar Rp 10.000.000 sejak anak-anak hadir dalam outbond.
Oleh karena itu, panitia “mendapatkan” uang beasiswa dari yayasan.

15
Pengaruh:
Menambah pendapatan hibah sebesar Rp. 10.000.000
Menambah piutang sumbangan sebesar Rp. 10.000.000

Akun Pembayaran
Melaporkan pengeluaran yang belum dibayarkan merupakan akun
utang. Misalnya utang untuk pembuatan brosur sebesar Rp 1.500.000
Pengaruh:
Menambah biaya brosur sebesar Rp. 1.500.000
Menambah akun utang sebesar Rp. 1.500.000

Biaya Dibaya Dimuka


Melaporkan pengeluran kas yang telah dibayarkan, khususnya untuk
periode yang akan datang. Dalam contoh ini, biaya asuransi dibayar tiga bulan
dimuka.

Pengaruh:
Menambah pengeluaran asuransi dari Rp1.050.000 ([4.200.000/12bln] x 3 bln)
menjadi Rp 3.150.000
Menambah biaya dibayar dimuka hingga Rp 1.050.000
Jika dilaporkan menurut basis akrual, dengan menggunakan kategori-
kategori yang digambarkan sebelumnya, laporan keuangan kegiatan outbond
terlihat seperti berikut:

16
Contoh sederhana Laporan keuangan Berbasis Kas
Outbond Training
1 September – 31 Agustus 2016 (dalam ribuan)

LAPORAN PENDAPATAN NERACA

Pendapatan Aktiva
Hibah 13000 Kas 127
Sumbangan 4500 Akun Piutang 100000
Uang dari para peserta 25000 Pengeluaran dibayar dimuka 1050
Total bersih aktiva tetap 20000
Total Pendapatan 42500

TOTAL AKTIVA 31177

Biaya Pasiva
Gaji 20000 KEWAJIBAN
Makanan dan persediaan 6000 Akun pembayaran 1500
Asuransi 3150 Pinjaman dari pemerintah 5000
Keperluan lain 2000 AKTIVA BERSIH 24677
Telepon 750
Percetakan dan perangko 500 KEWAJIBAN DAN 31177
Total biaya 36900 AKTIVA BERSIH

Contoh ini menggambarkan pelaporan keuangan berbasis akrual, dimana


pengunaan katagori akan memberikan lebih banyak gambaran tentang kondisi
keuangan yayasan secara lengkap dan akurat. Namun, akuntansi berbasis kas
lebih mudah digunakan dalam pencatatan harian dengan jumlah transaksi yang
lebih sedikit. Terkait dengan kelebihan serta kekurangan basis kas dan basis
akrual, beberapa yayasan, terutama yang memiliki anggaran lebih kecil, telah
melakukan modifikasi atas kebijakan akuntansinya seperti:

Mempertahankan pembukuan berbasis kas dan menyiapkan laporan


keuangan berbasis akrual. Caranya adalah dengan melakukan penyesuaian akrual

17
untuk piutang dan pembayarannya dalam kertas kerja pelaporan keuangan, tanpa
secara formal dicatat kedalam pembukuan.Beberapa yayasan tidak memiliki
sumber daya untuk mengembangkan sistem akuntansi yayasan. Faktor – faktor
pertimbangan basis akuntansi adalah:
a. Besaran transaksi yayasan dalam piutang dan pembayaran atas basis yang
terusmenerus. Jika tagihan tidak dibayar atau hibah belum dilunasi atau
biaya sepanjang tahun belum dicatat, maka akuntansi berbasis kas akan
memberikan gambaran keuangan yang sama baiknya dengan akuntansi
berbasis akrual
b. Keahlian dan waktu yang membatasi staf bagian pembukuan
c. Posisi arus kas yayasan. Jika arus kas dijadikan fokus, maka akun
pembayaran dan piutang dapat menjadi akun pengendali.
d. Ukuran anggaran yayasan. Beberapa yayasan yang baru, masih kecil,
belum memiliki kewajiban pembayaran, dan tidak punya piutang, akan
memilih akuntansi berbasis kas. Disisi lain, jika anggaran dan transaksi
keuangan sudah mulai berkembang, peralihan dari akuntansi berbasis kas
ke akuntansi berbasis akrual akan terjadi.

2.2.5. Bagan Akun

Unsur-Unsur yang Harus Ada dalam Bagan Akun


Bagan akun merupakan daftar perkiraan (rekening) sistem akuntansi yang
dirancang untuk mendapatkan informasi keuangan, mempertahankan jalur
informasi keuangan dan membuat keputusan keuangan. Informasi tersebut hanya
dicatat dengan kode akun dari bagan akun.
Bagan tersebut dibagi kedalam lima katagori, yaitu aktiva, utang, aktiva
bersih, pendapatan, dan biaya. Masing-masing akun itu ditentukan dengannomor
identifikasi yang biasa digunakan dalam sistem akuntansi. Selain persetujuan
terkait, penomoran danurutan informasi yang disajikan dapat disesuaikan dengan
kebutuhan yayasan. Untuk memutuskan apa yang harus dimasukkan kedalam
bagan akun, beberapa pertanyaan berikut ini juga perlu dipertimbangkan:

18
 Laporan apa yang perlu dipersiapkan?
 Keputusan, evaluasi, dan penilaian keuangan apa yang perlu dibuat
secara teratur?
 Tingkat perincian apa yang diperlukan?
 Kapasitas apa yang perlu dimiliki untuk melacak informasi keuangan?
Cara terbaik untuk merancang bagan akun atau perkiraan adalah dengan
mempertimbangan laporan apa yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan
eksternal, pengambilan keputusan, dan penilaian pengelola. Kategori transaksi
juga perlu dipilah menurut jenis yang direncanakan. Sebagai contoh, bagan akun
harus berhubungan dengan katageri anggaran, sehingga laporan yang dihasilkan
dapat membandingkan apa yang dianggarkan dengan realisasinya.
Sebagaimana dengan jenis pendapatan yang berbeda dari penerimaan
yayasan, berbagai pertanyaan tentang laporan keuanganyang perlu dilontarkan
adalah: perlukan membedakan transaksi antara hibah yayasan dan badan hukum?
Apakah biaya untuk beberapa jasa perlu diakui? Dapatkah semua biaya tersebut
dikombinasikan ke dalam satu akun? Dan apakah informasi biaya dapat dijejaki
ke jenis aktivitasnya?
Selaras dengan pertanyaan laporan keuangan, pertanyaan tentang
pengeluaran yayasan dapat juga dilontarkan seperti: apa yang menduduki tingkat
terendah dari informasi rinci yang ditemukan dalam catatan keuangan?
Bagaimana informasi tersebut digunakan dalam pencatatan? Misalnya, sebagian
besar yayasan harus mencatat persediaan kantor dari segi jumlah daripada
mencatat penjepit kertas, pena, plester, dll secara terpisah. Contoh yang kurang
jelas adalah perangko: apakah biaya perangko harus diklasifikasikan sebagai
biaya kurir atau biaya pengiriman atau biaya perangko saja? Jika dianalisis atas
tingkat rincian tersebut dilaksanakan, maka penentuan katagori ini dapat
dilakukan melalui pembuatan faktur khusus sesuai bukti pengiriman.
Selain jenis pendapatan dan biaya, ada juga faktor-faktor lain yang harus
dipertimbangkan dalam bagan akun. Jika lebih dari satu tempat, apakah informasi
yang terpisah dibutuhkan untuk masing-masing tempat? Atau, jika lebih dari satu
program apakah item-item seperti persediaan, perangko, dan gaji diungkapkan
untuk masing- masing program? Dan akhirnya berdasarkan Pernyataan Dewan

19
Standar Akuntansi Keuangan yang baru No.116 dan 117, organisasi nonprofit
seperti yayasan harus melaporkan pendapatan dan belanjanya dalam tiga
katagori yaitu: tidak terikat, terikat temporer, dan terikat permanen. Ini berarti
bahwa akun mendukung persyaratan pelaporan. Ciri ciri bagan akun yang
sederhana:
a. Aktiva
Aktiva adalah item nyata dari suatu yayasan dimana sumber daya,
termasuk kas, piutang, perlengkapan, dan kekayaan, diungkapkan. Aktiva
biasanya dimasukkan dalam daftar menurut urutan dari likuiditasnya. Hal
ini berarti bahwa kas dan aktiva lainnya yang mudah diubah menjadi kas
dicantumkan pada urutan awal dan aktiva tetap seperti kekayaan dan
peralatan diurutkan terakhir. Akun aktiva biasanya dimulai dengan angka
“1”.
b. Utang
Utang adalah kewajiban ke kreditor seperti pinjaman dan utang usaha.
c. Aktiva bersih
Aktiva bersih mencerminkan nilai keuangan dari suatu yayasan.

Penyusutan
Yayasan harus mencatat pembelian peralatan dan kekayaan substansial
yang bersifat jangka panjang karena jenis aktiva tersebut menanggung biaya
pertahun sesuai dengan umur manfaatnya. Proses tersebut disebut sebagai
kapitalisasi dan penyusutan aktiva tetap.
Sebagai contoh, misalkan pada tanggal 1 Januari suatu yayasan membeli
komputer yang memiliki umur manfaat selama empat tahun seharga Rp 2.500.
ketika pembelian dicatat, jurnalnya adalah :

Aktiva Tetap (bertambah menjadi) Rp 2.500


Kas (berkurang menjadi) Rp 2.500
Penjelasan: untuk mencatat pembelian komputer seharga Rp2.500

20
Pada akhir tahun keempat, jurnalnya adalah :
Biaya Penyusutan Rp 625
Akumulasi Penyusutan Rp 625
Penjelasan: untuk mencatat biaya penyusutan selama tahun tersebut

Pajak penghasilan dari usaha yang tidak terkait


Pendapatan usaha yang tidak terkait adalah pendapatan yang dihasilkan
dari suatu perdagangan atau aktivitas usaha yang tidak terkait secara substansial
dengan tujuan yayasan.
Pajak yang dibayar atas pendapatan lain-lain yang diperoleh yayasan dari
usaha yang tidak terkait ditetapkan sesuai dengan ketentuan pajak badan hukum.
Tanpa pajak, yayasan akan mendapatkan keuntungan yang substansial dipasar,
jika dilihatdalam konteks persaingan pasar.
Yayasan yang melakukan aktivitas nonusaha dapat dianggap bukan
merupakan subjek pajak penghasilan jika memenuhi kondisi berikut:
a) Semua usaha dilakukan oleh sukarelawan
b) Secara substansial, seluruh barang dagangan yang dijual didapatkan
dari pemberian
c) Aktivitas yang dilakukan adalah untuk fasilitas kemudahan anggota, pasien,
dan karyawan yayasan.

Mencatat akun sumbangan


Komitmen untuk memberikan kontribusi secara tertulis bisa dijadikan
dasar untuk pencatatan transaksi utang sumbangan. Sebagai contoh, seorang
donatur berjanji secara tertulis akan memberikan sumbangan senilai Rp 10.000
selama tiga tahun mendatang. Contoh lainnya adalah seorang donatur berjanji
secara tertulis akan memberikan sumbangan senilai Rp 5.000 setiap bulannya
melalui pemotongan gaji untuk tahun yang akan datang.

Apakah Akuntansi Hibah Perlu Dicatat?


Piutang hibah yang bisa dipercaya sebaiknya dicatat dalam sistem
akuntansi. Indikator bahwa suatu piutang dianggap valid adalah apabila hal itu

21
disertai dengan bukti tertulis yang dibuat donatur dengan menggunakan kata
seperti “sepakat” atau “menyetujui” atau apakah piutang tersebut secara sah bisa
diwujudkan atau tidak.
Terdapat dua jenis piutang, yaitu piutang yang mengikat dan piutang yang
tidak mengikat. Piutang yang tidak mengikat adalah piutang yang dilakukan oleh
donaturuntuk memberikan hibah kepada yayasan dimasa yang akan datang.
Namun yayasan tersebut tidak perlu memenuhi beberapa persyaratan khusus
sebelum menerima hibah dan tidak ada kondisi lain yang ditetapkan oleh donatur.
Contoh – contoh diatas merupakan piutang yang tidak mengikat. FASB – SFS 116
menegaskan bahwa piutang yang tidak mengikat harus dicatat dalam catatan
keuangan ketika piutang tersebut dibuat.
Piutang yang mengikat adalah kesatuan peristiwa yang tidak menentu
dimasa mendatang. Misalnya seorang donatur berniat untuk memberikan uang
sebesar Rp. 1.000 jika yayasan memperoleh hibah yang sesuai sebesar Rp 2.000
dari sumber yang baru. Piutang yang mengikat ini hanya dicatat apabila
kondisi tersebut terpenuhi sehingga piutang ini tidak akan dicatat sebagai
penerima sebelum penyesuaian hibah diperoleh. (Saat kondisinya telah terpenuhi,
yaitu apabila hibah yang sesuai telah diperoleh, piutang tersebut menjadi tidak
mengikat dan dicatat). Sebelum memenuhi kondisi yang ditentukan donatur,
piutang yang mengikat dimasukkan dalam catatan kaki laporan keuangan.

Akuntansi untuk pencatatan piutang hibah


Pada akhir tahun pembukuan 2012, ada dua piutang yang tidak terpenuhi, yaitu:
a) Piutang hibah sebesar Rp 1.000 selama tahun berikutnya
b) Piutang hibah sebesar Rp 2.000 pertahun selama tiga tahun berikutnya,
sehingga totalnya adalah Rp 6.000
Jurnal pada akhir tahun untuk mencatat piutang yang tidak mengikat ini adalah
sebagai berikut:
Piutang Hibah Rp. 7.000
Piutang Sumbangan Rp. 7.000
Untuk mencatat piutang hibah

22
Ketika pembayaran piutang sebesar Rp 1.000 diterima pada tahun 2013,
jurnalnya adalah sebagai berikut :
Kas Rp 1.000
Piutang Hibah Rp 1.000
Untuk mencatat penerimaan piutang hibah

Bantuan sebesar Rp 1.000 diakui sebagai penerimaan pada tahun 2012


dan bukan ditahun 2013, ketika kas telah diterima.

Contoh piutang yang mengikat, seorang donatur berjanji untuk


memberikan hibah/bantuan sebesar Rp 25.000 guna memperbarui separuh rumah
yang kondisinya rusak sewaktu dibeli. Piutang ini hanya akan disebutkan
dicatatan kaki. Ketika yayasan membeli bangunan tersebut, piutang akan dicatat
dan diakui sebagai penerimaan.

Bagaimana mencatat piutang yang tidak dapat terkumpul?


Akuntansi untuk piutang yang dapat terkumpul serupa dengan akuntansi
untuk piutang yang tidak dapat terkumpul. Misalnya, dana sebesar Rp 20.000
berupa piutang (sumbangan) yang tidak terikat yang diberikan kepada yayasan
selama tahun berjalan, menunjukkan bahwa rata-rata 20% dari dana tersebut
tidak terkumpul. Akun pengeluaran yang dibuat dalam kasus ini disebut sebagai
Cadangan untuk Piutang yang Tidak Dapat Terkumpul. Jurnal yang akan dibuat
pada akhir tahun adalah:
Pengeluaran piutang yang tidak terkumpul Rp 4.000
Cadangan untuk piutang yang tidak terkumpul Rp 4.000
Untuk mencatat akun piutang yang tidak terkumpul

Akun cadangan akan dikurangi dari nilai piutang pada neraca sebagai berikut:

Piutang hibah Rp 20.000

Dikurangi:

Cadangan untuk piutang yang tidak terkumpul Rp 4.000

Total bersih piutang hibah Rp 16.000

23
2.3. Pengendalian Keuangan
2.3.1. Pengendalian Sistem Pengendalian Akuntansi
Dalam pengembangannya yang efektif adalah mengidentifikasi bidang
dimana penyalahgunaan atau kesalahan-kesalahan mungkin terjadi. Memasukan
bidang dan tujuan pengembangan sistem pengendalian yang efektif.
a. Penerimaan Kas, untuk memastikan seluruh kas telah diterima serta dicatat
dengan sesuai.
b. Pengeluaran Kas, untuk memastikan semua pembayaran kas dilakukan
atas kewenangan pengelola yang tepat serta di catat dengan tepat.
c. Kas Kecil
d. Gaji
e. Hibah, Sumbangan dan Warisan
f. Aktiva Tetap
Sistem pengendalian juga diperlukan untuk memastikan perencanaan
yang tepat atas barang yang didermakan, sumbangkan dan penerimaan lainnya.
Laporan keuangan dan pengendalian informasi harus dicatat secara akurat serta
tepat dan memenuhi peraturan pemerintah lainnya.
Untuk mencapai tujuan ini yayasan perlu menetapkan prosedur yang jelas
untuk menangani per bidang, termasuk sistem check and balance. Prinsip ini
disebut pemisahan tugas, dimana tugas dapat dibagi di antara staf dan suka
relawan yang dibayar. Misalnya, dalam yayasan yang kecil, direktur menyetujui
pembayaran sekali dan menandatangani cek yang disiapkan oleh kasir atau
manajer kantor. Sementara itu, bendaharakan meninjau pembayaran tersebut
dengan disertai dokumen bulanan menyiapkan rekonsiliasi bank, dan meninjau
ulang cek-cek yang dibatalkan. Disamping itu, ada juga hal-hal umum yang
memerlukan perhatian pengendalian yang akan dibahas berikut ini:
a. Pengeluaran cek
b. Setoran
c. Transfer
d. Persetujuan rencana dan komitmen sebelum dilaksanakan
e. Kebijakan-kebijakan personalia

24
2.3.2. Manual Prosedur Akuntansi
Kebijakan dan prosedur untuk menangani transaksi keuangan di
dokumentasikan dalam manual prosedur akuntansi, diaman tugas-tugas
administrasi dan siapa yang bertanggung jawab atas masing-masing tugas tersebut
akan dijelaskan. Manual tersebut merupakan gambaran yang sederhana tentang
penanganan fungsi seperti pembayaran tagihan, setoran kas, dan transfer uang.
Revisi atas manual prosedur akuntansi biasanya dilakukan untuk mengevaluasi
efektivitas pengendalian yang ada.

2.3.3. Mempertahankan Pengendalian yang Efektif


Pelaksana biasanya bertanggung jawab atas pengawasan pelaksanaan
kebijakan dan prosedur yang ada. Dengan persayaratan yang rinci dari lembaga
donor, sebaiknya harus ada satu orang dalam yayasan yang memahami dan
memonitor peraturan khusus serta faktor pemenuhannya.
Surat menajemen merupakan indikator kualitas sistem pengendalian
akuntans dan bagian dokumen audit yang menyebutkan kelemahan signifikan dari
sistem yayasan atau pelaksanaannya. Periodik sistem pengendalian akunansi dan
di modifikasi sesuai kebutuhan baru.

2.3.4. Pengendalian Internal yang Dibutuhkan untuk Pembayaran Kas


Tujuan pengendalian internal atas pembayaran kas adalah untuk
memastikan ketepatan otorisasi pembayaran kas, keakurasian pencatatan
transaksi dan pencapaian tujuan yayasan.
a. Pemisahan Tugas. Berarti penanganan transaksikeuangan oleh lebih dari
satu orang sejak dari awal hingga akhir. Masing-masing aktivitas seperti
kuasa pembayaran, menandatangai cek, mencatat pembayaran ke dalam
buku, dan merekinsiliasi laporan bank harus dilakukan oleh orang yang
berbeda.
b. Otorisasi dan Proses Pembayaran. Kebijakan menengenai siapa petugas
pengesahan pembayaran perlu ditentukan. Dalam berbagai yayasan,
pengurus merupakan orang yang bertangangung jawab atas pembayaran
uang. Pengelola adalah pihak yang menyetujui anggaran tersebut dengan

25
pengesahan per item anggaran. Seluruh pembayaran sebaiknya
disertai dengan dokumentasi yang memadai seperti; kuitansi atau fraktur.
c. Pengelola Dana Terbatas. Sumbangan terikat adalah bentuk penerimaan
yang unik bagi yayasan. Peranan pengelola adalah memastikan
pemenuhan kewajiban yayasan kepada donor.
d. Penandatangan Cek. Pengesahan cek merupakan titik kritis. Tujuan
pengendalian internal ini adalah untuk memastikan siapa yang membayar
seberapa besar jumlah pembayaran, dan kapan pembayaran tagihan
dilakukan.
e. Checklist Pengendalian Akuntansi Internal. Beberapa pertanyaan yang
mencerminkan pengendalian akuntansi atas pembayaran daftar tagihan
yang akan digunakan untuk meninjau ulang pengendalian akuntansi.
f. Apakah Pengendalian Internal Diperlukan untuk Gaji?. Tujuan
pengendalian internal ini adalah untuk memastikan bahwa pegeluaran gaji
hanya di buat oleh otorisasi yang tepat untuk karyawan yang berhak,
dicatat secara tepat, dan persyaratan hukum yang terkait
dipenuhi.Presensi adalah alat dokumentasi jam karyawan , juga dapat
dirancang untuk menggabungkan informasi tentang libur, cuti sakit dan
libur hari raya.Cek gaji sebaiknya di tulis dalam pembukuan sesuai
dengan prosedur pengeluaran kas. Karyawan perlu menandatangani daftar
gajinya untuk mengesahkan tanda terima cek.

2.4. Aktivitas Pengendalian dalam Siklus Akuntansi Tahunan


2.4.1. Pengelolaan Anggaran Operasional
Anggaran mengambarkan apa yang di harapkan menyangkut belanja
(pengeluaran) dan pendapatan (penerimaan) pada suatau periode waktu.
Anggaran tersebut berguna untuk memproyeksi berapa banyak uang yang
dbutuhkan untuk inisiatif utama seperti pembelian fasilitas dan kontrak
karyawan.

26
Bagaimana anggaran tahunan dipersiapkan?
a. Pemilihan waktu aktivitas anggaran
Anggaran biasanya sesuai dengan tahun pembukuan yang
mencerminkan siklus operasional yayasan.
b. Siapa yang sebaiknya terlibat dalam proses anggaran?
Pengelola harus berpartisipasi. Perencanaan program sering kali di
pandang sebagai kewenangan dewan pengurus.
c. Langkah-langkah dalam proses penganggaran
1. Langkah pertama adalah mereview program dan pencapaian
manajemen serta pelaksanaan keuangan pada akhir tahun.
2. Perkiraan biaya yang diperlukan meliputi staf, persediaan dan
sumber daya lainnya.
3. Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa anggaran harus seimbang
pada setiap periode anggran.
4. Program dan aktivitas manajemen harus dievaluasi ulang dan
disesuaikan. Memotong seluruh jenis pengeluaran dalam persentase
yang tetap bukan cara yang efektif untuk mengurangi pengeluaran.
5. Ketika rencana diubah termasuk anggaran, pengeluaran dan
penerimaan diharapkan bisa tepat.
d. Menyiapkan anggaran bulanan. Dengan menyiapkan rincian anggaran
bulanan dan realisasinya, akurasi oerubahan dan revisi anggaran dapat
dilakukan secara tepat.
e. Kriteria untuk cadangan operasional yayasan. Hal ini mirip dengan sisa
laba atau kekayaan pemilik.yaitu dana yang biasanya terakumulasi
selama beberapa tahun digunakan oleh yayaysan denga kebijakan
pengurus. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan antara pendapatan
operasional dan pengeluaran untuk bertahan hidup.

27
Seberapa besar cadangan tersebut ?
Jumlah cadangan operasional yang diperlukan oleh suatu yayasan
tergantung pada karakteristik individu dan hal-hal sebagai berikut :
 Realibilitas sumber daya pendapatan. Jika pendapatan terutama
berasal dari keanggotaan dewan atau badan penyumbang yang dapat
diprediksi, tingkat cadangan operasional secara umum mungkin lebih
rendah dari pada jika pendapatan dihasilkan terutama dari besarnya hibah
atau sumbangan.
 Arus kas musiman. Jika arus kas bersifat tidak tetap, yang
dikategorikan oleh periode yang tidak aktif (biasanya disebabkan oleh
konvensi/pertemuan besar tahunan).
 Skedul arus kas. Jika terjadi penundaan yang penting dalam
penagihan piutang, maka keputusan yang tepat adalah menetapkan
cadangan yang lebih besar dibandingkan penerimaan pendapatan.
 Ketersediaan keuangan eksternal. Jika sumber-sumber eksternal
untuk kredit tersedia, atau jika aktiva tetap atau aktiva investasi (dana
abadi) tersedia sebagai jaminan, tingkat cadangan operasional pada
umumnya lebih rendah daripada jika tidak ada sumber keuangan
eksternal untuk menutupi keadaan darurat.
 Stabilitas pengeluaran. Jika pengeluaran bersifat tetap dan dapat
diperkirakan, maka pada umumnya cadangan lebih rendah daripada jika
pengeluaran bervariasi dan tidak dapat diprediksi. Jika suatu yayasan
memiliki aktiva tetap yangmungkin perlu diganti atau diperbarui, maka
cadangan operasional sebaiknya lebih besar. Cadangan operasional
sebaiknya dihimpun selaras dengan umur aktiva tetap, sehingga
pergantian dan perbaikan tersebut dapat didanai.
 Sifat-sifat utang. Yayasan memiliki utang jangka panjang, utang
usaha, dan pendapatan diterima dimuka yang signifikan sebaiknya
memiliki cadangan operasiona yang lebih besar . utang tidak lancar dan
utang lancar akan mengurangi fleksibilitas operasional serta akses ke
sumber keuangan eksternal, dan meningkatkan risiko hukuman serta
bunga untuk pembayaran kembali sebelum waktunya.

28
 Sifat-sifat aktiva lainnya. Cadangan mungkin berkurang akibat adanya
peningkatan investasi atau dana abadi yang tidak dibatasi.
 Sifat-sifat kesempatan. Jika kesempatan memerlukan pengeluaran yang
lebih umum harus lebih tinggi daripada jika kesempatan itu terjadi atas
basis yang lebih reguler atau dapat diprediksi. Sebagai contoh, ketika
organisasi merencanakan untuk membeli gedung dalam lima tahun yang
akan datang, dan ada kesepakatan yang baik, organisasi itu harus
mempertahankan tingkat cadangan yang besar.

2.4.2. Manajemen Kas


Pentingnya Manajemen Kas
Pengertian manajemen kas untuk yayasan dan organisasi swasta adalah
sama. Usaha bisa berkembang dengan pesat dan meraih keuntungan yang besar.
Namun, seorang pengelola yayasan tidak pernah merasa mempunyai cukup
banyak uang untuk membayar beberapa tagihan.
Pengelola yayasan mengetahui bahwa kas yang mengalir ke dalam tidak
sinkron dengan kas yang dikeluarkan. Hal tersebut menggambarkan bahwa untuk
sementara waktu pengelola yayasan terjebak dengan tagihan-tagihannya.
Pengelola yayasan perlu melakukan perencanaan ke depan untuk mengetahui
apakah yayasan mempunyai cukup kas atau tidak ketika membutuhkannya.

Bagaimana Mengelola Kas dengan Baik ?


Pengelola yayasan mungkin dapat menghindarkan penggunaan kartu kreditnya
untuk membiayai tagihan yayasan jika memiliki manajemen kas yang baik.
Manajemen kas yang baik merupakan hal yang sederhana, yaitu :
a. Mengetahui kapan, dimana, dan bagaimana menggunakan kas tersebut.
b. Mengetahui sumber terbaik apa untuk memenuhi kebutuhan kas tersebut.
c. Menyiapkan dana untuk memenuhi kebutuhan kas ketika diperlukan,
dengan mempertahankan hubungan baik dengan bankir dan kreditor
lainnya.

29
2.5. Investasi Yayasan
2.5.1. Program Investasi yayasan
Investasi memiliki kaitan yang serta dengan penganggaran modal/investasi,
yang merupakan proses untuk menganalisis proyek-proyek dan memutuskan
apakah proyek tersebut dapat di akomodasi oleh anggaran modal/investasi atau
tidak. Analisis investasi ini berhubungan erat dengan penganggaran funsional,
alokasi sumber daya, dan praktek manajemen keuangan di sektor publik. Selain
itu, program investasi juga merupakan bentuk dari dual budgeting, yaitu
pemisahan anggaran modal/investasi dari anggaran rutin.
Dalam prakteknya, terdapat beberapa permasalahan yang sulit untuk
diselesaikan, seperti:
a. Memastikan bahwa program investasi yang diajukan merupakan
program yang komprehensif.
b. Memperkirakan pengeluaran yang dibutuhkan dimasa yang akan
datang.
c. Mengevaluasi relevansi proyek-proyek yang ada.
d. Mengembangkan analisis dan perencanaan untuk pengeluaran investasi
serta pengeluaran rutin.
Sebelum mengambil keputusan untuk melakukan investasi, kebutuhan
investasi perlu ditentukan terlebih dahulu. Untuk menentukan kebutuhan invetasi,
tahapan-tahapan evaluasi berikut harus ditempuh:
a. Inventarisasi investasi yang memuat daftar nama dan jenis investasi, nilai
investasi dan kondisi barang modal yang saat ini ada apakah baik ataukah
buruk.

b. Cakupan layanan dengan tingkat investasi yang ada sekarang


c. Tambahan cakupan layanan yang dibutuhkan saat ini dan dimasa yang
akan datang
d. Kriteria kelayakan investasi yang meliputi aspek-aspek teknis,
sosial budaya, keuangan, ekonomi, dan aspek distribusi. Perhitungan
kelayakan investasi dapat dilakukan dengan menggunakan alat analisis
seperti: NPV, IRR, ARR, PP (Payback Period), Cost Benefit Analysis,
dan Cost Effectiveness Analysis.

30
2.5.2. Membentuk dan Mengelola Dana Abadi
Dana Abadi untuk Keberlanjutan Keuangan
Winder mendefinisika dana abadi sebagai “aset” permanen-uang, surat
berharga, atau properti yang diinvestasikan untuk memperoleh pemasukan yang
kemudian akan digunakan untuk mendukung aktivitas yayasan” (1998).
Sementara itu, Horkan dan Jordan mengklarifikasi bahwa istilah-istilah “hibah”
(trust), “modal pokok” (capital fund), “dana mengendap” (singking fund), dan
“dana abadi” (endowment) mengacu pada pengelolaan keuangan yang serupa
satu sama lain (1996). Dana abadi, berarti modal pokok yang dikelola oleh
sebuah yayasan untuk mendukung aktifitas yang menjadi tujuan yayasan yang
berangkutan.
Dalam dana abadi, ada sejumlah dana (aset) tertentu yang diinvestasikan
untuk menghasilkan pendapatan yang kemudian akan diberikan kepada
penerima. Penerima dana ini bisa berupa lembaga (LSM atau lembaga
Kemasyarakatan), sesorang yang menerima penghargaan, hadiah, atau dalam
beberapa kasus, seorang peminjam. Persetujuan dan pemberian dana kepada
penerima biasanya diatur oleh serangkaian pedoman atau program yang ditangani
sebuah badan, biasanya Dewan Penyantun, yang mungkin berbeda satu negara ke
negara lain. Namun demikian, dalam banyak kasus, Dewan penyantun secara
legal bertanggung jawab terhadap dana abadi.

Gambar 2.5 Arus Dana dalam Pengelolaan Dana Abadi

31
Pembentukan Dana Abadi
Persyaratan Dasar untuk membentuk dana dan mengembangkan dana
abadi bisa diidentfikasi sebagai berikut:
1. Tujuan Jangka Panjang
2. Sektor dengan Prioritas Tinggi
3. Keterbukaan Kebijakan
4. Badan Legal
5. Ketersediaan Dana
Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi yang membantu
merealisasikan dana abadi, yaitu:
1. Tekanan sosial politik dari penerima
2. Tekanan sosial politik dari donor
3. Mandat tingkat tinggi dari sis donor
Setelah para pemrakarsa berhasil memanfaatkan faktor-faktor yang
berpengaruh tersebut untuk memenuhi persyaratan pembentukan dana abadi, tiga
tahap perkembangan akan dilalui, yaitu:
1. Penggalangan dana abadi
2. Pengembangan dana abadi: Pertumbuhan
3. Pengembangan dana abadi: Penggunaan dan Pengembalian

2.5.3. Penentuan Kebutuhan Investasi


Penentuan kebutuhan investasi berkaitan dengan jumlah anggaran yang
akan ditetpkan bagi masing-masing yayasan. Ada beberapa cara untuk
mengklasifikasikan asal-usul investasi, dimana salah satunya adalah :
a. Investasi penggatian
b. Investasi penambahan kapasitas
c. Investasi baru

Aspek Kelayakan Investasi


Dalam melakukan perencanaan dan analisis investasi, ada beberapa aspek
yang secara bersama-sama menunjukan keuntungan atau manfaat yang diperoleh
dari investasi tertentu seperti itu yang harus dipertimbangan serta di evaluasi

32
dalam setiap tahap perencanan anggaran dan siklus pelaksanaan, karena aspek-
aspek tersebut satu sama lain saling berhubungan dan saling mempengaruhi aspek-
aspek tersebut satu sama lain saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Yaitu:
a. Aspek Teknis
b. Aspek Sosial dan Budaya
c. Aspek Ekonomi dan
keuangan
d. Aspek Ditribusi

2.5.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Investasi


Tingkat Diskonto
Tingkat diskonto merefleksikan tingkat pengembalian (rate of return)
yang diperoleh dari suatu proyek dengan tingkat risiko tertentu. Jika suatu proyek
tidak memberikan keuntungan yang diisyaratkan, maka proyek tersebut harus
ditolak. Perhitungan tingkat diskonto merupakan bagian yang cukup kompleks
dalam analisis investasi untuk memudahkan pemahaman mengenai konsep ini,
terlebih dahulu akan dijelaskan praktek yang dilakukan di sektor swasta.
Pada sektor swasta ada dua sumber pendanaan, yaitu pembiayaan dengan
modal dan pembiayaan dengan utang. Keuntungan yang diperoleh para
kreditor sebagai pemberi utang adalah berupa dividen dan pengembalian atas
saham yang dimilikinya. Harga pasar saham merefleksikan laba yang diharapkan
dimasa depan. Pembiayaan dengan utang memiliki risiko yang lebih rendah
dibandingkan pembiayaan dengan modal, sehingga kreditor akan meminta
tingkat pengembalian yang lebih rendah.
Semakin tinggi risiko investasi, semakin tinggi keuntungan (laba) yang
diharapkan. Disamping itu, pembiayaan dengan utang juga memiliki biaya yang
lebih kecil dibandingkan pembiayaan dengan modal. Biaya utang lebih murah
dibandingkan dengan biaya modal sendiri karena pembayaran bunga utang
merupakan biaya yang mengurangi pajak. Biaya modal total dapat dinyatakan
dalam bentuk biaya modal rata- rata tertimbang dengan rumus:

33
Inflasi
Penilaian investasi harus memperhitungkan perkiraan tingkat inflasi.
Semakin tinggi tingkat inflasi, semakin rendah nilai riil keuntungan yang
diharapkan dimasa depan sehingga semakin tinggi tingkat pengembalian yang
diisyaratkan (required rate of return) semakin tinggi.

Risiko dan Ketidakpastian


Required rate of return akan semakin tinggi jika risiko investasi baik.
Ketidakpastian ekonomi dan hukum, kekacauan sosial politik, tidak ada jaminan
keamanan, dan kebijakan yang tidak konsisten dapat meningkatkan risiko
investasi suatu negara (country risk), yang jika sudah sangat parah dapat mengarah
pada kategori default country. Terjaminnya keamanan berinvestasi, penegakan
hukum dan demokrasi, serta terjaminya property rigth dan contract right dapat
menurunkan risiko investasi.

Capital Rationing (Penjatahan Modal)


Capital Rationing atau penjatahan modal adalah keadaan dimana yayasan
menghadapi masalah ketersediaan dana untuk melakukan pengeluaran investasi.
Dalam keadaan seperti ini, terdapat beberapa alternatif investasi yang dapat
dilakukan, tetapi tidak tersedia cukup dana untuk membiayai investasi-investasi
yang diajukan. Oleh karena itu, semua investasi yang tersedia tersebut harus
diberi peringkat yang dapat dilakukan dengan menggunakan rasio biaya manfaat,
atau dapat juga menggunakan model pemrograman linear.
Di organisasi sektor publik, selain harus memperhatikan faktor-faktor
diatas, penilaian investasi juga harus memperhatian hal-hal berikut:
a. Tingkat utang pemerintah
b. Tingkat kesempatan sosial yang dikorbankan (social opportunity cost rate)
c. Social time preference rate
Social time preference rate terkait dengan pengertian bahwa proyek
pemerintah harus dapat menghasilkan tingkat pengembalian (return) yang
minimal sama dengan tingkat pengembalian proyek sektor swasta, dengan
menggunakan dana yang sama. Atau dengan kata lain, dengan jumlah investasi

34
yang sama, proyek investasi yang dilakukan yayasan harus memiliki kualitas
yang minimal sama jika proyek tersebut dilakukan oleh pihak swasta. sementara
itu, social time preference rate merefleksikan tingkat pengembalian yang
diisyaratkan oleh masyarakat jika menunda konsumsi saat ini untuk kepentingan
konsumsi dimasa depan.

2.6. Audit Yayasan


Audit adalah proses pengujian keakuratan dan kelengkapan informasi
yang disajikan dalam laporan keuangan yayasan. Proses pengujian ini akan
memungkinkan akuntan publik independen yang bersertifikasi mengeluarkan
suatu pendapat atau opini mengenai seberapa baik laporan keuangan yayasan
mewakili posisi keuangan yayasan, dan apakah laporan keuangan tersebut
memenuhi prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum atau Generally
Accepted Accounting Principles (GAAP). GAAP ditetapkan oleh the
American Institute of Certified Public Accountants (AICPA). Anggota dewan
pengurus, staf, dan snak keluarganya tidak dapat melakukan audit, karena
hubungan kekeluargaan dengan yayasan akan mempengaruhi independensi
auditor.

Laporan Hasil Pemeriksaan ditujukan kepada dewan pengurus, yang


biasanya mencakup hal-hal sebagai berikut:
 Surat Pengantar yang ditandatangani oleh auditor yang menetapkan
opini sebagaimana yang digambarkan di atas.
 Laporan kuangan, termasuk laporan posisi keuangan (neraca), laporan
aktivitas keuangan (laporan laba-rugi), dan laporan arus kas. Organisasi
pelayanan sosial dan kesehatan juga memiliki laporan pengeluaran
fungsional. Bebrapa kertas kerja audit memperlihatkan informasi
komparatif anatartahun pembukuan.
 Catatan-catatan atas laporan keuangan, sebagaimana yang diperlukan
oleh GAAP, termasuk informasi mengenai biaya-biaya fungsional, daftar
penyusutan, informasi lebih lanjut mengenai sumbangan, jasa sukarela,
dan informasi signifikan lainnya yang tidak jelas dalam laporan keuangan.

35
Selain bahan-bahan untuk menyiapkan laporan hasil pemeriksaan, auditor
sering kali menyiapkan surat manajemen yang menyebutkan kelemahan sistem
pengendalian akuntansi organisasi. Secara garis besar, ada beberapa hal yang
mendasari kebutuhan akan penyiapan proses augiting tersebut, yaitu:
a. Kendali saat ini ada ditangan masyarakat. Masyarakat memilik hak untuk
bebas mengakses informasi tentang pengelolaan sumber daya keuangan
publik.
b. Kompleksitas Laporan Keuangan. Semakin kompleks laporan keuangan
yang dihasilkan, tingkat kesalahan cenderung semakin tinggi. Sekarang
ini, masyarakat semakin mampu membaca Laporan Keuangan. Namun,
kebutuhan akan tenaga profesional untuk menguji informasi Laporan
Keuangan, tetap ada.
c. Pihak manajemen yayasan memiliki kecenderungan ingin sukses dan
meminimalisir kesalahan yayasannya, sehingga kebenaran laporan
keuangan yang disajikan, perlu diverifikasi.
d. Pengendalian dan kredibilitas. Audit akan menambah pengendalian dan
kredibilitas laporan keuangan. Untuk itu, pemeriksaan atas informasi
kuangan sangat penting dilakukan untuk menghindari selahan saji dan
ungkap.
e. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan. Proses audit memberikan nilai
tambah bagi kepatuhan terhadap hukum dan peraturan.
f. Indentifikasi terhadap kelemahan sistem. Suatu yayasan memiliki
berbagai pengendalian internal. Namun, kelemahan dalam sistem
manajemen tetap perlu diidentifikasi secara terus-menerus. Jadi, auditor
dibutuhkan untuk mereview sistem tersebut.

2.6.1. Proses Audit

Untuk mencapai tujuan laporan keuangan, maka langkah-langkah berikut


dalam proses audit harus ditempuh, yaitu:
1. Perencanaan (Planning)
2. Pelaksanaan (Executing)
3. Pelaporan (Reporting)

36
Gambar 1.1
Bagan Proses Audit

37
Terminologi
Di Indonesia, permasalahan seputar agen audit sector public merupakan
hal yang serius. Ini berarti kejelasan tentang peristilahan perlu dilakukan sebelum
membahas audit dan pengawasan. Dalam buku ini, istilah auditor merupakan
sebutan bagi seseorang yang melakukan pemeriksaan eksternal di sector public,
seperti Badan Pemeriksaan Keuangan dan Kantor Akuntan Publik.
Sementara itu, peristilahan pengawas diginakan untuk menyebut auditor
internal. Saat ini, auditor internal yang ada dalam pemerintahan seperti Badan
Pengawas Keuangan dan Pembangunan, Inspektur Jendral, dan Badan Pengawas
Daerah, selalu dikaitkan dengan peristilah pengawas. Di Yayasan, pengawas
ditunjuk oleh dewan pengurus yang bias berasal dari staf bagian keuangan atau
bendahara dewan pengurus. Dalam bidang pemeriksaan keuangan, sebutan untuk
auditor dan pengawas adalah auditor.

Perencanaan Audit
Perencanaan audit merupakan tahap yang vital dalam audit. Perencanaan
audit yang matang dan baik akan sangat menentukan kesuksesan audit serta
merupakan faktor penting untuk memperoleh bukti audit (evidence) yang cukup
dan kompeten Proses perencanaan audit sektor publik meliputi tahap-tahap
sebagai berikut:
1. Pemahaman atas Sistem Akuntansi Keuangan Sektor Publik
Pemahaman atas sistem akuntansi sangatlah penting. Saat ini, audit sektor
publik tidak lagi berfokus pada laporan realisasi anggaran saja, tetapi juga
pada laporan keuangan lainnya seperti neraca, surplus/defisit, dan arus kas.
Jadi, auditor harus memiliki pemahaman yang memadai tentang sistem
akuntansi keuangan yayasan.
2. Penentuan Tujuan dan Lingkup Audit
Tujuan dan lingkup audit sektor publik sangat tergantung pada mandat dari
lembaga audit yang bersangkutan. Pemeriksaan eksternal atas laporan
keuangan bertujuan untuk menilai kewajaran laporan keuangan
(memberikan opini) atas laporan keuangan entitas. Sedangkan audit atas
penyusunan laporan keuangan oleh pengawas bertujuan untuk memberikan

38
rekomendasi perbaikan sisitem pengendailian internal dan koreksi
kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan.
Dalam menentukan tujuan dan ruang lingkup. auditor harus memastikan
bahwa tujuan dan ruang lingkup audit sesuai dengan mandat dan
wewenang lembaga audit serta pengawas yang bersangkutan. Dalam
konteks audit atas laporan keuangan yayasan, pengawas memiliki
wewenang;
a. Melakukan review sistcm akuntansi dan pengendalian internal serta
memberikan rekomendasi perbaikan;
b. Melakukan pengujian dan koreksi kesalahan pencatatan akuntansi,
sehingga laporan keuangan yang dihasilkan berisi informasi yang dapat
diandalkan.
Tujuan pemahaman mandat ini adalah untuk;
 Mengetahui batasan-batasan pekerjaan audit;
 Mengidentifikasi wewenang pelaksana audit;
 Memastikan bahwa pengawas telah memenuhi persyaratan hokum
yang berlaku;
 Memberikan keyakinan tentang kesesuaian pendekatan audit
dengan kebijakan audit;
 Memastikan bahwa tujuan audit telah memenuhi kebutuhan
yayasan;
 Mengidentifikasi pihak penerima laporan hasil pemeriksaan;
3. Penilaian Resiko
Dalam pelaksanaan audit, berbagai pengujian dilakukan untuk mengetahui
risiko kesalahan: seperti penilaian risiko pengendalian (control risk), risiko
bawaan (inherent risk), clan risiko dcteksi (detection ride). Hal ini perlu
dilakukan untuk menjamin kesimpulan dan opini auditor.
4. Penyusunan Rencana Audit (Audit Plan)
Berdasarkan penjelasan mengenai tahapan kegiatan perencanaan audit
sebelumnya. rencana audit perlu memasukkan ara. yang akan diaudit,
jangka waktu pelaksanaan audit, personel yang dibutuhkan, dan sumber
daya lain yang diperlukan untuk pelaksanaan audit.

39
5. Penyusunan Program Audit
Untuk setiap area yang akan diaudit, auditor harus menyusun langkah-
langkah audit yang tertuang dalam program audit yang berisi: tujuan audit
untuk setiap area, prosedur audit yang akan dilakukan, sumber-sumber
bukti audit, dan deskripsi mengenai kesalahan (error).

Pelaksanaan Audit
Definisi Struktur Pengendalian Internal
Suatu proses yang dijalankan oleh pengurus yayasan dan didesain untuk
memberikan keyakinan yang memadai tentang:
a. Keandalan laporan keuangan;
b. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku;
c. Efektivitas dan efisiensi operasi.

Jenis Pengendalian Internal


Berikut ini merupakan jenis-jenis pengendalian internal.
1. Organisasi Penyerahan wewenang dan tanggung jawab, termasuk jalur
pelaporan untuk semua aspek operasi dan pengendaliannya, harus
disebutkan secara rinci dan jelas.
2. Pemisahan Tugas Salah satu fungsi utama pengendalian adalah
pemisahan tugas dan tanggung jawab. Apabila kedua hal tersebut
digabungkan, maka pencatatan dan pemerosesan transaksi yang transparan
serta akuntabel akan dihasilkan. Artinya, pemisahan tugas dapat
mengurangi risiko terjadinya manipulasi maupun kesalahan yang
disengaja;
3. Fisik Pengendalian ini berhubungan dengan pengawasan aset. Jadi
prosedur dan keamanan yang memadai harus dirancang untuk memberi
keyakinan bahwa akses-baik akses langsung maupun akses tidak langsung-
terhadap aset terbatas pada personel yang berwenang.
4. Persetujuan dan Otorisasi Seluruh transaksi harus diotorisasi dan
disetujui oleh orang yang berwenang.

40
5. Akuntansi Pengecekan aras keakuratan pencatatan, penghitungan jumlah
total, rekonsiliasi. pemakaian nomor rekening. jurnal. dan akuntansi untuk
dokumen.
6. Personel Harus ada prosedur yang menjamin bahwa personel mempunyai
kemampuan yang sesuai dengan tanggung jawabnya.
7. Supervisi Setiap sistem pengendalian internal harus mencakup supervisi
arau pengwasan langsung oleh pengelola yang bertanggung iawab atas
transaksi dan proses pencatatan sehari-hari.
8. Pengelola Ini merupakan pengendalian yang dilakukan oleh pengelola di
luar tugas rutinnya: termasuk pengendalian secara keseluruhan, fungsi
pengendalian internal. dan prnscdur review khusus.

Pengendalian Organisasional
Pengendalian ini berkaitan dengan cara yayasan yang diaudit mengelola
karyawannya. Beberapa Ciri berikut harus ada dalam sebuah yayasan:
1. Perekrutan dan pelatihan personel yang jujur serta komponen;
2. Pemisahan fungsi;
3. Pembagian tugas dalam fungsi akuntansi;
4. Tanggung jawab yang dirinci dengan baik untuk semua personel;

Pengendalian Supervisory
Aspek penting dalam pengendalian adalah supervisi pengelola terhadap
aktivitas yayasan yang diaudit secara keseluruhan serta keefektifan pengendalian
internal khusus lainnya. Supervisi yang efektif dapat dilakukan dengan pelibatan
diri pengelola pada titik-titik penting dari sistem pengendalian internal, yaitu
laporan keuangan serta analisis laporan keuangan dan selisih anggaran. Di
yayasan yang besar, tanggung jawab untuk mengawasi dan mengendalikan
didelegasikan ke unit pengendalian internal.
Pengendalian organisasional dan pengendalian supervisory merupakan hal
yang mendasar bagi auditor dalam mengevaluasi sistem yang berlaku. Jika ada
unsur pengendalian yang hilang, maka auditor tidak akan mempunyai keyakinan
yang memadai terhadap pengendalian internal khusus lainnya. Oleh karena itu,

41
auditor harus selalu mempertimbangkan aspek pengendalian tersebut sebelum
proses audit dilakukan.

Pengendalian terhadap Kelengkapan dan Keakuratan Transaksi


Ada empat teknik pengendalian yang berhubungan secara khusus dengan
kelengkapan dan keakuratan pemrosesan transaksi. Ada yang bersifat preventif
maupun detektif namun kebanyakan sistem merupakan kombinasi dari keduanya.
Keempat teknik tersebut adalah:
1. Sequence Checking Dokumen kunci harus diberi nomor urut dan secara
runtin
dicek untuk mendapatkan keyakinan bahwa tidak ada pencatatan yang
hilang.
2. Perbandingan (Comparison) Perbandingan antara sekumpulan dokumen
atau catatan akuntansi dengan dokumen atau catatan akuntansi yang
lainnya untuk mendeteksi ada tidaknya bukti-bukti atau catatan yang
hilang.
3. Pengendalian Keseluruhan Jumlah sekumpulan dokumen atau catatan
pada awal proses harus dibandingkan dengan jumlah yang ada pada saat
proses tersebut sudah selesai untuk memberi keyakinan tentang
kelengkapan dan keakuratannya. Idealnya, jumlah tersebut harus dicek
oleh seseorang yang independen.
4. Reperformance Reperformance adalah teknik pengendalian di mana suatu
prosedur dilakukan oleh seorang personel dan kemudian dilakukan
kembali secara independen oleh seorang lainnya, lalu hasilnya
dibandingkan dengan hasil asli. Teknik ini biasa digunakan untuk
mengecek hasil perhitungan.

Rancangan Pengendalian untuk Menjaga Aset


Pengelola bertanggung lawab untuk menjaga aset-aset yayasan.
Pengendalian dalam kategori ini merupakan hal yang signifikan bagi auditor,
terutama dalam hubungannya dengan keterjadian dah keberadaan sebuah aset.
Pembatasan akses terhadap aset adalah contoh pengendalian preventif, sementara

42
stoktake secara berkala adalah pengendalian detektif yang cukup relevan dalam
sebuah audit. Keabsahan pengendalian ini bergantung pada pemisahan antara
fungsi penjagaan/pengadaan dengan pencatatan.

Pengendalian Dokumentasi
Pengendalian ini membantu memastikan bahwa sistem dibuat sesuai
dengan tu|uan awal. yaitu memberikan pemahaman yang jelas kepada personel
organisasi mengenai tugas dan tanggung jawabnya, serta membuat pencatatan
transaksi dengan benar secara sederhana.
Jika sebuah sistem pengendalian mencakup preventif dan detektif. maka
pengendalian detektif akan lebih efektif karena biasanya pengendalian jenis ini
dapat diuji kepatuhannya secara lebih efisien daripada pengendalian preventif.
Selain itu pengendalian detektif juga dilakukan secara berkala dan tidak pada tiap
transaksi.

Keterbatasan Pengendalian Internal


Dalam semua hal, tidak ada sistem pengendalian internal yang dapat
menjamin administrasi yang efesien kelengkapan dan keakuratan pencatatan.
Setiap sistem pengendalian memiliki keterbatasan seperti:
1. Pengendalian internal yang bergantung pada pemisahan tugas dapat
dihindari dengan kolusi.
2. Otorisasi dapat diabaikan oleh seseorang yang mempunyai kedudukan
tertentu atau oleh pengelola
3. Personel keliru dalam memahami perintah karena kelalaian, tidak
perhatian, maupun kelelahan.

Berikut ini adalah ciri-ciri sistem pengendalian yang baik:


1. Independen dalam prosedur pemrosesan;
2. Harus ada kolusi untuk melewatinya;
3. Dilakukan oleh personel dcngan senioritas yang memadai;
4. Dilakukan secara tepat waktu.

43
Prosedur Pengujian Pengendalian
Auditor tidak boleh yakin pada pengendalian Internal hanya berdasarkan
evaluasi sistem pendahuluan. Auditor harus melakukan pengujian kepatuhan
untuk mendapatkan keyakinan yang memadai bahwa sisrem pengendalian yang
ada berfungsi baik selama periode tersebut. Perlu dicatat bahwa yang diuji adalah
pengendaliannya, bukan transaksinya. Karena alasan ini. auditor harus mencatat
dan memeriksa semua pengecualian yang didapat selama penguiian pengendalian,
tanpa memandang jumlah rupiah yang terlihat. Pengecualian adalah kejadian di
mana prosedur pengendalian belum dilakukan dengan baik, tanpa melihat ada
tidaknya kesalahan secara kuantitatif.
Apabila pengujian pengendalian mengungkapkan bahwa tidak ada
pengecualian yang terjadi, ini berarti ada prosedur pengendalian internal berfungsi
secara efektif dalam membatasi pengujian substantif terhadap informasi yang
relevan pada catatan akuntansi organisasi.
Apabila pengujian pengendalian mengungkapkan bahwa ada pengecualian
yang terjadi. ini berarti ada prosedur pengendalian yang tidak dipatuhi dan auditor
harus mencari alasannya. Auditor perlu membuktikan apakah pengecualian
tersebut hanya untuk pos tertentu atau mewakili keseluruhan prosedur
pengendalian dan apakah pengecualian tersebut menyebabkan adanya kesalahan
dalam catatan akuntansi. Apabila penjelasan yang didapat bisa meyakinkan
auditor bahwa pengecualian tersebut hanya tertentu saja, maka auditor harus
melakukan pengujian lebih lanjut. Apabila hasilnya mengindikasikan bahwa
prosedur tersebut tidak berjalan dengan baik selama periode berjalan, maka
auditor tidak bisa meyakini prosedur pengendalian yang ada. Dalam kondisi
seperti ini, auditor tidak dapat memberi batasan pada pengujian substantif
Jika auditor memperoleh keyakinan bahwa prosedur pengendalian telah
dilakukan dengan baik, maka auditor harus mendapatkan bukti secara keseluruhan
mengena: keefektifan pengendalian selama periode tersebut. Beberapa alternatif
prosedur yang dapat dilakukan antara lain;
1. Hasil pengujian pengendalian sebelumnya.
2. Berdasarkan pertanyaan yang dibuat, apakah pengendalian tetap sama
untuk waktu yang tersisa sampai berakhirnya periode tertentu

44
3. Sifat dan ukuran transaksi serta jumlah akun yang terlibat.
4. Pengujian substantif yang akan dilakukan tanpa melihat kecukupan
prosedur pengendalian.
Jika terjadi perubahan sistem pengendalian internal selama masa review,
maka auditor harus mengevaluasi serta menguji pengendalian internal sebelum
dan sesudah adanya perubahan.

Unsur Struktur Pengendalian Internal


Pengendalian internal memiliki lima unsur pokok sebagai berikut:
1. Lingkungan Pengendalian;
2. Pcnaksiran Risiko;
3. Informasi dan Komunikasi;
4. Aktivitas Pengendalian;
5. Pemantauan.

Lingkungan Pengendalian
Lingkungan Pengendalian menggambarkan keseluruhan sikap yayasan
yang mempengaruhi dan tindakan personel mengenai pengendalian dalam suatu
entitas anatara lain;
1. Nilai intefritas dan etika;
2. Komitmen terhadap kompetensi;
3. Filosofi dan gaya operasi pengelola;
4. Struktur yayasan
5. Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab;
6. Kebijakan dan praktek sumber daya manusia.

Penaksiran Risiko
Penaksiran risiko untuk tujuan pelaporan keuangan adalah identifikasi,
analisis, dan pengelolaan risiko entitas yang berkaitan dengan penyusunan laporan
keuangan sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berterima Unun (PABU). Penaksiran
risiko mencakup pertimbangan khusus risiko yang timbul dari;
1. Perubahan standar akuntansi;

45
2. Hukum dan peraturan baru;
3. Perubahan yang berkaitan dengan revisi sistem dan teknologi baru yang
digunakan untuk pengolahan informasi;
4. Pertumbuhan entitas yang pesat yang menuntut perubahan fungsi
pengolahan serta pelaporan informasi dan karyawan yang terlibat dalam
fungsi tersebut.

Informasi dan Komunikasi


Fokus utama kebijakan dan prosedur pengendalian yang berkaitan dengan
sistem akuntansi tertuju pada apakah transaksi telah dilaksanakan dengan cara
mencegah salah saji yang patensial atas asersi manajemen dalam laporan
keuangan. Oleh karena itu, sistem akuntansi yang efektif dapat memberikan
keyakinan yang memadai bahwa transaksi yang dicatat atau terjadi adalah (1) Sah;
(2) Telah diotorisasi; (3) Telah dicatat; (4) Telah dinilai secara wajar; (5) Telah
digolongkan seara wajar; (6) Telah dicatat dalam periode yang seharusnya; dan
(7) Telah dimasukkan ke dalam buku pembantu serta telah diringkas dengan
benar.

Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dirancang
untuk memberikan keyakinan bahwa petunjuk yang dibuat oleh pengelola telah
dilaksanakan dengan baik. Kebijakan dan prosedur ini akan memberikan
keyakinan bahwa tindakan yang diperlukan untuk mengurangi risiko dalam
pencapaian tujuan entitas telah dilaksanakan.

46
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Laporan keuangan yayasan dibutuhkan bagi para pemakai kepentingan
untuk menilai bagaimana jasa yang diberikan yayasan serta bagaimana
kemampuan yayasan dalam memberikan jasa tersebut. Laporan keuangan juga
digunakan untuk mengetahui mekanisme pertanggungjawaban dan aspek kinerja
pengelola yayasan.
Laporan keuangan yang dimiliki yayasan terdiri dari laporan posisi
keuangan dimana terdapat informasi mengenai asset, kewajiban, asset bersih, dan
informasi mengenai hubungan diantara unsure-unsur tersebut. Laporan aktivitas
yang menyajikan mengenai perubahan yang terjadi dalam kelompok asset bersih.
Laporan arus kas bertujuan untuk menyajikan informasi mengenai penerimaan
dan pengeluaran kas dalam suatu periode. Yang didalamnya mengungkapkan
mengenai aktivitas pendanaan dan aktivitas investasi yayasan. Serta Catatan atas
laporan keuangan yang merupakan bagian dari laporan keuangan yang tak
terpisahkan karena berisikan penjelasa – penjelasan rinci atas akun – akun dalam
laporan keuangan.
Pengelola yayasan harus mempelajari bagaimana menyusun laporan
keuangan dan menganalisis laporan tersebut agar dapat memahami kondisi
keuangan dari aktivitas yayasan tersebut dengan benar. Sistem pengendalian
keuangan (akuntansi) merupakan serangkaian prosedur yang melindungi praktek
manajemen secara umum maupun dari segi keuangan. Prosedur pengendalian
akuntansi bertujuan agar:
 Informasi keuangan reliabel (dapat dipercaya) sehingga pengelola
dapat memperoleh informasi yang akurat untuk perencanaan program dan
keputusan lainnya
 Aktiva dan catatan-catatan organisasi tidak dicuri, disalahgunakan,
atau dirusak dengan sengaja
 Kebijakan-kebijakan yayasan diikuti.
 Peraturan-peraturan pemerintah terpenuhi

47
Sistem pengendalian akuntansi diperlukan untuk memastikan pencatatan
yang tepat atas barang yang didermakan, sumbangan, dan penerimaan lainnya.
Laporan keuangan dan pengembalian informasi harus dicatat secara akurat serrta
tepat waktu, dan memenuhi peraturan pemerintah lainnya. Dalam mencapai tujuan
tersebut, yayasan perlu menetapkan prosedur yang jelas untuk menangani per
bidang, termasuk sistem check and balance.

48
DAFTAR PUSTAKA

Bastian dan Indra. 2006. Akuntansi Sektor Publik: Suatu Penganter. Jakarta : Erlangga
Bastian dan Indra. 2007. Akuntansi Yayasan dan Lembaga Publik. Jakarta : Erlangga
Halim, Abdul. 2017. Akuntansi Sektor Publik : Teori, Konsep, dan Aplikasi. Jakarta :
Salemba Empat

49

Anda mungkin juga menyukai