Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

INTELLIGENT SMART AND GREEN BUILDING


Laporan ini disusun untuk memenuhi penilaian praktikum mata kuliah Bangunan Pintar

Dosen Pembimbing : Dr., Drs. Hartono Budi Santoso, MT

Disusun oleh :
1. Aditiya Rachman (141734001)
2. Fithri Hifzhah Mulkillah (141734014)
3. Mohammad Anshar (14173402)

PRODI D-IV TEKNIK KONSERVASI ENERGI


JURUSAN TEKNIK KONVERSI ENERGI
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


llmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan,
sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia.
Bangsa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak akan bisa maju selama
belum memperbaiki kualitas sumber daya manusia bangsa kita. Kualitas hidup bangsa
dapat meningkat jika ditunjang dengan sistem pendidikan yang mapan. Dengan sistem
pendidikan yang mapan, memungkinkan kita berpikir kritis, kreatif, dan produktif.
Perpaduan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menghasilkan
gebrakan baru yaitu bangunan pintar yang terintegrasi dan ramah lingungan.
Kelengkapan fasilitas dan utilitas pada suatu bangunan merupakan syarat utama yang
akan memperlancar aktifitas bangunan sesuai fungsinya dan menentukan klasifikasi
bangunan. Fasilitas dan utilitas yang ada pada bangunan meliputi : listrik, air minum,
telepon, genset, pemeliharaan gedung, public, toilet, elevator, fire detection, Air
Condition serta keamanan. Selain kelengkapan, keterintegrasiannya juga mendukung.
Tidak hanya itu, penggunaan yang efisien dapat memberikan nilai tambah bangunan.
Dengan kemajuan teknologi komputer dan informasi maka untuk meningkatkan
performa operasi sistem-sistem pengguna energi digunakan Integrated Building
Management System (IBMS).
Bangunan yang dapat menerapkannya disebut Intelligent Smart Green
Building. Konsep ini bukanlah hal baru di dunia konstruksi. Namun hingga saat ini
masih banyak yang belum paham apa sebenarnya yang dimaksud dengan Intelligent
Smart Green Building dan bagaimana penerapannya.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui pengertian Intelligent, Smart and Green Buildings
2. Mengetahui kategori-kategori Intelligent, Smart and Green Buildings
3. Mengetahui manfaat Intelligent, Smart and Green Buildings
4. Mengetahui contoh bangunan yang telah menerapkan konsep Intelligent, Smart
and Green Buildings
1.3 Manfaat
1. Dapat mengetahui pengertian Intelligent, Smart and Green Buildings
2. Dapat mengetahui kategori-kategori Intelligent, Smart and Green Buildings
3. Dapat mengetahui manfaat Intelligent, Smart and Green Buildings
4. Dapat mengetahui contoh bangunan yang telah menerapkan konsep Intelligent,
Smart and Green Buildings

1.4
BAB II

INTELLIGENT, SMART AND GREEN BUILDINGS

2.1 Pengertian Intelligent Building


Integrated Building Management System (IBMS) adalah sebuah sistem kontrol dan
monitor yang digunakan pada sebuah bangunan atau gedung yang bertujuan untuk
mengintegrasikan semua sistem yang ada pada bangunan tersebut seperti, sistem
pendingin ruangan, pencahayaan, keamanan, tranportasi vertikal dan sebagainya. IBMS
tidak hanya dapat memonitor seluruh sistem elektronik yang ada, tetapi juga dapat
mengendalikan dan mengatur sistem-sistem sehingga dapat mengoptimalkan efisiensi
kerja operator.
2.2 Pengertian Smart Building
Smart building adalah bangunan yang menggunakan Building Automation System
(BAS) atau disebut juga dengan Intelligent Building System (IBS). IBS adalah teknologi
dengan instalasi yang memungkinkan seluruh perangkat fasilitas gedung untuk dapat
dirancang dan diprogram sesuai kebutuhan, keinginan & kontrol otomatis terpusat.
Penggunaan sistem ini dapat menghemat banyak energi karena seluruh peralatan
dirancang agar dapat digunakan dengan lebih efektif, efisien juga meningkatkan
keamanan dan kenyamanan bagi penghuninya.
Intelligent building terkait dengan kemampuan building dalam hal pengelolaan dan
pengontrolan operasional infrastruktur elektronik building secara terotomatisasi dan
terintegrasi termasuk ketersediaan layanan ICT seperti telekomunikasi, internet, Pay TV
dan layanan lainnya kepada para tenant. Kemudian melalui penambahan BEMS
(Building Energy Management System) yang merupakan aplikasi value added building
dalam hal pengontrolan konsumsi energy building, akan memudahkan sebuah intelligent
building menjadi green building.
Pada desain Infrastruktur Elektronik building yang konvensional, setiap subsistem
gedung masih terpisah-pisah. Seperti untuk design network telpon, komunikasi
data/internet, MATV, CCTV masih menggunakan teknologi analog.
Gambar 1 Desain Infrastruktur Elektronik Building tipe Konvensional

Infrastruktur Smart Building dirancang untuk men-deliver layanan multiservices


(voice, video, data, picture, building automation and management system) dalam suatu
jaringan yang terintegrasi. Jaringan terintegrasi berbasis IP memungkinkan aplikasi
pengelolaan building yang terintegrasi pula (Integrated Building Management System)
dengan mudah dapat dijalankan.
2.2.1. Kategori – kategori Smart Building
Performance Based Definitions
Dengan mengoptimalkan performa bangunan yang dibuat untuk efisiensi
lingkungan dan pada saat itu juga mampu menggunakan dan mengatur sumber
energi bangunan dan meminimalkan life cost perangkat dan utilitas bangunan.
Smart building menyediakan efisiensi tinggi, kenyamanan dan kesesuaian dengan
lingkungan dengan mengoptimalkan penerapan struktur, sistem, servis dan
manajemen. Smart building juga harus mampu beradaptasi dan memberikan respon
cepat dalam berbagai perubahan kondisi internal maupun external dan alam
menghadapi tuntutan users.
4. Services Based Definitions
Dalam tujuan utamanya bangunan harus mampu menyediakan kualitas servis
bagi user. Japanese Intelligent Building Institute (JIBI) mendefinisikan smart
building atau intelligent building adalah sebuah bangunan dengan fungsi servis
komunikasi, otomatisasi bangunan dan mampu menyesuaikan dengan aktivitas
user. Di Jepang 4 aspek layanan servis dibagi menjadi 4 sesuai dengan key issue
smart building yaitu:
1. Layanan dalam menerima dan menghubungkan informasi serta mendukung
efisiensi control manajemen
2. Menjamin kepuasan dan kenyamanan user yang bekerja atau berada di
dalamnya
3. Merasionalkan manajemen bangunan dalam menyediakan layanan administrasi
yang murah.
4. Perubahan yang cepat, fleksibel dan ekonomis dalam responnya terhadap
sosiologi lingkungan, komplektivitas dan bermacam-macamnya tuntutan
pekerjaan serta strategi bisnis.
System Based Definitions
Smart building harus memiliki sebuah teknologi dan system teknologi yang
digabungkan. Chinese Intelligent Building Design Standard mengeluarkan standar
yang harus dimiliki smart building yaitu menyediakan otomatisasi bangunan,
system jaringan komunikasi, optimalisasi integrasi komposisi dalam struktur,
sitem, servis, manajemen dalam menyediakan efisiensi tinggi, kenyamanan dan
ketenangan bagi users. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bangunan
smart building atau intelligent building haruslah memenuhi aspek-aspek
perancangan seperti:
1. Menyediakan informasi dan mengoptimalkan performa building system dan
fasilitas.
2. Aktif dalam memonitor dan mendeteksi kesalahan dan kekurangan dalam
building systems.
3. Mengintegrasikan system untuk dalam kegiatan bisnis, real time report dan
manajemen operasi utilitas, energy dan kenyamanan users.
4. Menggabungkan tools, teknologi, sumber energy dan layanan dalam
mengkontribusikan konservasi energy dan sustainability atau keberlanjutan
lingkungan.
2.2.2. Detail Smart Building
1. FTTH (Fiber To The Home) GPON
FTTH GPON merupakan jaringan fiber optik yang menjadi single platform
network akan mendeliver semua layanan di dalam kawasan seperti layanan telpon,
internet, TV/video, dan termasuk aplikasi pengontrolan dan pengeloloaan gedung
di kawasan yang terintegrasi yaitu BAS, CCTV, Access Control, BEMS, IBMS dll.
Melalui teknologi FTTH, maka dapat menghemat biaya dan mampu mengurangkan
biaya operasional serta memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan.
2. BAS (Building Automation System)
Building automation system (BAS) adalah sebuah pemrograman, komputerisasi,
intelligent network dari peralatan elektronik yang memonitor dan mengontrol
sistem dalam sebuah gedung
BAS berbasis kontrol komputer untuk mengkoordinasi, mengorganisasi, dan
mengoptimasi kontrol subsistem pada gedung seperti keamanan, kebakaran atau
keselamatan, elevator, dan lain-lain.
Proses pengontrolan dan pemonitoran terhadap peralatan dapat dilakukan secara
otomatis dan bersifat real time.
Dengan BAS menjadikan pengelolaan building menjadi efektif, cepat tanggap
terhadap potensi risiko, mudah dikontrol dan dapat menghemat biaya
3. IP-PBX (Internet Protocol Private Branch Exchange)
Internet Protocol Private Branch Exchange (IP PBX) adalah PABX yang
menggunakan teknologi IP (Internet Protocol), merupakan perangkat switching
komunikasi telepon dan data berbasis teknologi IP yang mengendalikan ekstension
telepon analog (TDM) maupun ekstension IP Phone. Fungsi-fungsi yang dapat
dilakukan antara lain penyambungan, pengendalian, dan pemutusan hubungan
telepon, translasi protokol komunikasi, translasi media komunikasi atau
transcoding, serta pengendalian perangkat-perangkat IP Teleponi seperti VoIP
Gateway, Access Gateway, dan Trunk Gateway.
IP PBX juga mendukung multilayanan seperti Voicemail & Voice Conference,
Interactive Voice Response (IVR), Automatic Call Distribution (ACD), Computer
Telephony Integration (CTI), Unified Messaging System (UMS), Fax Server &
Fax on Demand, Call Recording System, Billing System, serta Web-based
Management System.
4. IBS (Cellular Repeater Solution)
Kawasan sebagai kawasan bisnis membutuhkan infrastruktur penguat signal
cellular (indoor dan outdoor) yang dapat mengakomodasi berbagai platform
operator. Untuk memenuhi requirement tersebut akan disediakan Infrastruktur
penguat signal. Infrastruktur dibangun dengan teknologi single infrastructure
multi operator, artinya repeater antena selular (GSM, 3G,HSDPA) dan
antenna CDMA akan dilayani dengan menggunakan single infrastructure. Hal
ini tentu akan sangat cost efficient pada investasi, memudahkan operasi
maintenance, dan meningkatkan estetika gedung di kawasan .
Layanan Penguat Signal mencakup elemen pelayanan sebagai berikut :
 Coverage and Signal Quality, menyediakan layanan perluasan coverage
dengan signal quality yang sesuai dengan SLA yang telah disepakati.
 Preventive Maintenance, berupa perawatan sederhana dengan melakukan
kunjungan rutin untuk memeriksa kondisi power supply (battery back up),
cabling, grounding system, dan supporting facilities yang lain.
 Network Management System (NMS), yang berfungsi sebagai sistem untuk
memantau setiap gangguan yang terjadi pada setiap site secara terus-menerus,
24 jam sehari 7 hari seminggu
 Trouble Shooting, memastikan bahwa setiap gangguan yang terjadi dapat
segera teratasi melalui mekanisme Complaint Handling dan Problem Solving
 Upgrade dan Reinstall, meliputi updating software dan penggantian hardware
yang telah keluar release / versi terbarunya.

Gambar 2 Jaringan Penguat Sinyal Indoor Multioperator

5. IP-CCTV (Internet Protocol Closed Circuit Television)


Internet Protocol Closed Circuit Television (IP-CCTV) merupakan teknologi
CCTV baru untuk keamanan dan pengawasan yang memiliki banyak keuntungan
yang unik. Dengan teknologi IP maka kamera CCTV mengirim rekaman video
langsung dari link Ethernet.
Dengan IP-CCTV maka pengguna tidak perlu memberikan space dan
mengeluarkan budget tertentu untuk instalasi kabel. Pengguna dapat meletakkan
kamera di lokasi strategis dan tersembunyi.
IP-CCTV yang memiliki fitur lain seperti VoIP yang memungkinkan perangkat
untuk mengirim dan menerima panggilan telepon – misalnya menelepon otoritas
atau badan keamanan.
Hal-hal tersebut di atas yang menjadikan IP-CCTV sebagai perangkat favorit
sejumlah perusahaan atau individu, dalam rangka meningkatkan keamanan.
6. Fire Alarm System
Fire Alarm System merupakan suatu sistem terintegrasi yang didesain dan
dibangun untuk mendeteksi adanya gejala kebakaran, untuk kemudian memberi
peringatan (warning) dalam sistem evakuasi dan ditindak lanjuti secara otomatis
maupun manual dengan sistem instalasi pemadam kebakaran (fire fighting
System).
Sistem adalah suatu sistem wajib untuk perkantoran, gedung bertingkat maupun
area publik lainnya yang mana sistem ini adalah indikator awal dari terjadinya
kebakaran. Dengan menggunakan sistem ini dapat mencegah kebakaran yang dapat
menghilangkan asset materi maupun nyawa seseorang dengan
mengetahui potensi kebakaran sejak dini. Pengecekan rutin terhadap fungsi
detector, fire alarm system.
7. Public Announcement (PA)
Public Announcmement merupakan infrastruktur sound system di gedung kawasan
yang terdeliver dalam bentuk speaker yang tersebar pada setiap sudut gedung di
kawasan.
8. Access Control
Access Control merupakan infrastruktur untuk mengontrol jalur keluar masuk
gedung pada pintu masuk gedung, pintu pada ruangan-ruangan di dalam gedung,
dan pengaturan kontrol akses di elevator dan lokasi-lokasi kritikal lainnya
9. E-Office
E-Office adalah layanan Office Automation yang disediakan bagi pelanggan
korporasi melalui konsep Software as a Service (SaaS) sebagai layanan nilai
tambah dari akses jaringan. SaaS adalah metode pengiriman aplikasi yang
menggunakan skema pembayaran bulanan/berlangganan seperti berlangganan jasa
telekomunikasi atau jasa lainnya.
10. Hosted Contact Center
Produk layanan Hosted CC (HCC) adalah produk yang memberikan solusi dinamis
outsourcing teknologi Contact Center dengan ber-basis IP yang memungkinkan
suatu perusahaan/klien dapat membangun dan mengoperasikan unit call centernya
dengan investasi yang relatif minim dan melakukan layanan dimanapun dia berada.
11. Digital Signage

Gambar 3 Digital Signage


Digital signage ditampilkan di public area di kawasan dalam bentuk Digital
signs seperti LCD, LED, plasma displays atau projector. Manfaat dari digital
signage disbanding media promosi tradisional yang bersifat static (traditional static
signs) adalah contentnya dapat diupdate secara mudah, real time dan animasi ,
aplikasi multimedia dapat ditampilkan.
Digital Signage akan menyajikan berbagai content yang terdiri dari :
 Information – menyediakan infrormasi yang diperlukan tenant & penumpang
seperti promosi, location guide, breaking news, Flight Schedule, take off
/departure, announcement dsb.
 Entertainment – Sarana hiburan untuk penumpang seperti video on demand,
movie trailers, Music JukeBox dsb.
 Branding – Media ini dapat digunakan untuk meningkatkan loyalitas
pelanggan dengan mengirimkan pesan2 branding (branding messages).
 Advertisement – Menampilkan content komersial seperti advertorial content
o Live feed – menyajikan berita terkini dan berita yang terkait dengan
informasi
Manfaat Layanan Digital Signage :
o Menyajikan content yang informatif, inovatif dan dapat menjadi media hiburan
(edutainment) bagi penumpang
o Mendapatkan revenue tambahan dari periklanan dan content komersial karena
lokasi dan penumpang merupakan target market premium
Perangkat yang diperlukan :
1. Streaming Multimedia Server
2. Content Server
3. Controlling dan Programing Server
4. Network
5. LCD TV
12. BEMS (Building Energy Manajement Systems)
Building Energy Manajement System merupakan pemenuhan secara
bersamaan Intelligent Building dan Green Building. Dengan BEMS akan
meningkatkan efisiensi pemakaian dan cost pengeluaran energi building menuju
Green Building.
BEMS Solution terdiri dari 2 bagian yaitu Facility dan Energy Management
Solution.
Energy Management Solution meliputi :
 Manajement Portal
 Control
 Meter Data Manager
 Analyzing Service
 Tenant Management
13. IBMS (Integrated Building Manajement System)
Dengan menggunakan IBMS (Integrated Building Management System) maka
perangkat-perangkat electronic yang terhubung dalam satu system dapat
berkomunikasi satu sama lain secara fungsi. Misal ketika fire alarm mendeteksi
adanya kebakaran akan menginstruksikan IP-CCTV untuk merekam kejadian,
memerintahkan Acces Control mengatur jalur evakuasi, menginstruksikan IP PBX
untuk menghubungi pihak-pihak terkait.
2.2.3. Keuntungan Penerapan Smart Buildings
1. Cost Savings dan Reduced Lifecycle Costs.
Single IP Network dapat menghemat cost baik dari sisi Capex (pembangunan
infrastruktur) maupun pemeliharaan (O&M cost).
2. Generate Revenue Stream.
single IP Network dapat menjadi generator revenue dengan memberikan
layanan ICT kepada tenant, seperti telepon, layanan komunikasi data/internet
dan layanan TV/video.
3. Improved Health, Safety and Security.
Semua pihak yang berada pada gedung di kawasan seperti karyawan, penghuni
atau tenant akan merasakan perasaan yang aman karena seluruh lingkungan
mereka termonitor dan terkontrol 24/7/365. Mendapatkan manfaat atas
kemampuan monitoring secara remote pada seluruh sudut gedung di kawasan
yang menghasilkan pengontrolan maksimal dan efisien.
4. Enabling Workplace Productivity.
Personil manajeman gedung dapat dihemat dan berfokus pada pekerjaan-
pekerjaan lain karena kemampuan monitoring dan control dilakukan oleh
system dan dapat dipantau dari lokasi manapun.
5. Environmentally Responsible.
Dengan ketersedian teknologi integrated building management system yang
berbasis IP, dapat melakukan optimalisasi pengelolaan lighting dan HVAC
system sehingga lingkungan bisnis di kawasan menjadi hemat energi dan
mengurangi emisi karbon (Green area).
2.2.4. Penerapan Konsep Smart Buildings
A. The Edge, Amsterdam, Belanda

Gambar 4 The Edge


Gambar 6 Tampak Dashboard pada Aplikasi

Bangunan perkantoran di Amsterdam, perusahaan Deloitte Konsultan (The


Edge), telah diakui sebagai Smart Building paling ramah lingkungan dan
berkelanjutan sejak dibuka pada tahun 2014. Deloitte mengoleksi banyak data harian
untuk melihat betapa canggihnya bangunan berinteraksi dan beradaptasi dengan
pekerja. Perusahaan konsultan ini menggunakan data-filled dashboards untuk
mengetahui segalanya mulai dari penggunaan energi hingga persediaan makanan yang
perlu disetok ulang.
Bangunan ini memiliki teknologi yang tak tertandingi sampai kebiasaan pekerja
dan kecerdasan yang tak terhingga seperti kemampuan untuk menyediakan apapun
yang dibutuhkan pekerja ketika dibutuhkan. Seperti, Bangunan ini menggunakan
applikasi mobile yang mengetahui ketika pekerja meninggalkan rumah untuk pergi
bekerja, sehingga ketika sampai di kantor mereka dapat langsung menuju lahan parkir
yang kosong. Dan dapat terlihat juga kecanggihannya ketika terdapat sedikit pekerja
pada suatu ruang maka secara otomatis pencahayaan akan diredupkan atau bahkan
dimatikan jika kosong. Setiap lokasi di bangunan akan menyesuaikan lampu dan suhu
udara dengan perseorangan. Contohnya, jika seseorang yang lebih sensitif dengan
terang pencahayaan, maka bangunan akan otomatis meredupkan pencahayaan untuk
mengantisipasi ketika ia memasuki lokasi baru. Bangunan ini memancarkan 6000
lampu panel dioda, dari Philips yang dibuat khusus, dijalankan menggunakan
Ethernet-powered sistem. Pada panel terdapat sensor -gerakan, cahaya, suhu,
kelembaban, infrared- sebagai plafond/langit-langit digital. Philips LoE LED sistem
telah digunakan di seluruh bagian bangunan untuk mengurangi energi yang
dibutuhkan sebesar 50% dibanding lampu konvesional TL-5.
Selain itu applikasi dari bangunan ini juga dapat memastikan jadwal setiap
pekerja, yang dapat memastikan bahwa pekerja itu berada pada tempat yang tepat
pada waktu yang tepat –pertemuan, rapat, dan sebagainya. Karna pada kantor ini
semua orang tidak memiliki ruang pribadi.

Gambar 6 Tampak Dashboard dari Employee Device


Applikasi ini menghubungkan antara pekerja dengan bangunan/ kantor. Pekerja
dapat menggunakannya untuk mencari kolega, menyesuaikan rutinitas olahraga
mereka dengan perubahan iklim.
Penerapan ramah lingkungan pada bangunan, antara lain :
 Atap solar panel dan ventilasi udara
 Pengolahan air hujan
 Dan sebagainya
“The Edge” dipertimbangkan sebagai smart building ter-ramah lingkungan di
dunia, berdasarkan U.K.-based Building Research Establishment Environmental
Assessment Method yang memberikan nilai berkelanjutan tertinggi yakni 98,4%.
Secara keseluruhan bangunan ini memproduksi 102% dari energinya.
B. Leadenhall Street, London, Inggris

Gambar 7 122 Leadenhall Street

Gedung yang juga dikenal dengan nama Cheesegrater ini memiliki tinggi
225 meter. Memiliki spesifikasi smart building dengan penggunaan sistem
canggih guna memantau penggunaan lampu. Begitu pul pada tiap tujuh lantai
yang telah terpasang sistem yang mengtur agar tiap sudut memiliki sirkulasi
udara tanpa hambatan. Hal ini mengurangi kebutuhan sistem pendingi sehingga
lebih hemat energi dan ramah lingkungan

C. The Gates’s Home, Washington, Amerika

Gambar 8 Tampak dari Rumah Bill Gates

Kediaman Bill Gates di Washington ini dikategorikan sebagai smart


building. Rumah tersebut dilengkapi dengan berbagai teknologi yang berisi
program yang bekerja secara otomatis dan mengatur berdasarkan pilihan elemen
yang tersedia seperti musik, pencahayaan, suhu, serta pengaturan lainnya. Setiap
pengunjung yang masuk ke dalam suatu ruangan maka sejumlah elemen yang
ada di ruanga tersebut akan menyesuaikan dan berubah sesuai dengan
keinginan.

D. Wisma 46, Jakarta, Indonesia

Gambar 9 Wisma 46

Dibuka pada tahun 1995 Wisma 46 adalah sebuah bangunan tertinggi di


Indonesia. Merupakan sebuah pencakar langit setinggi 262 m (hingga pucuk
antena) yang terletak di komplek Kota BNI di Jakarta Pusat, Indonesia. Menara
perkantoran bertingkat 46 ini selesai tahun 1996 yang dirancang oleh Zeidler
Roberts Partnership (Zeidler Partnership Architects) dan DP Architects Private
Ltd. Menara ini terletak di sebuah tanah seluas 15 hektare di pusat kota.
Memiliki luas 140,028 m². Menara ini berisi 23 elevator yang dapat mencapai
kecepatan 360 mpm dalam model berkecepatan super tinggi.
Bangunan World Class Standard ini telah tersertifikasi ISO 9001/2000
pada kepuasan pelanggan dan manajemen tim mengenai pelayanan berstandard
internasional. Berlokasi sangat strategis, yakni 45 menit dari bandara, 10 menit
dari stasiun kereta api dan 5 menit dari terminal bus. Menggunakan CCTV yang
aktif 24 jam serta tim keamanan yang selalu siaga. Wisma 46 telah dilengkapi
dengan sistem Fire Alarm, floor-to-floor tahan api, alat pemadam api, dan
pendeteksi asap yang sesuai aturan NFPA dan undang-undang. Alat ini
diperbaiki dan diuji secara rutin. Para staff Wisma 46 terlatih untuk cepat
tanggap pada keadaan darurat. Bangunan ini juga dilengkapi flexible air-
conditioning, akses jaringan bawah tanah dan 100% back-up elektrik generator.
2.3 Pengertian Green Building
Green building didefinisikan oleh Environmental Protection Agency (EPA) sebagai
struktur bangunan yang environmentally responsible dan menggunakan sumber daya
secara efisien di seluruh siklus hidupnya. Konsep ini memperluas dan melengkapi tujuan
dari bangunan biasa yang selama ini hanya fokus kepada nilai ekonomi, utilitas, kekuatan
dan kenyamanan bangunan. Green building dirancang untuk mengurangi dampak
menyeluruh akibat pembangunan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, melalui:
a. Penggunaan energi, air dan sumber daya lain secara efisien.
b. Perlindungan kesehatan penghuni bangunan dan peningkatan produktivitas
karyawan.
c. Meminimalisir timbunan limbah, polusi, dan degradasi lingkungan.
Sebagai contoh, green building dapat memanfaatkan material bangunan yang ramah
lingkungan atau berkelanjutan dalam konstruksinya (misalnya material hasil reuse dan
recycle, atau terbuat dari sumber daya terbarukan); menciptakan lingkungan indoor yang
sehat dan tidak tercemar polutan (yaitu dengan mengurangi pemakaian produk yang
mengemisikan polutan); serta perancangan landscape yang dapat meminimalisir
pemakaian air.
Green Building Council Indonesia adalah lembaga mandiri (non government) dan
nirlaba (not-for profit) yang berkomitmen terhadap pendidikan masyarakat dalam
mengaplikasikan praktik-praktik terbaik lingkungan dan memfasilitasi transformasi
industri bangunan global yang berkelanjutan. Green Building Council Indonesia atau
GBCI ditunjuk oleh KLH sebagai Lembaga Sertifikasi Bangunan Ramah Lingkungan
yang pertama di Indonesia. GBCI merupakan Emerging Member dari World Green
Building Council (WGBC) yang berpusat di Toronto, Kanada. WGBC saat ini
beranggotakan 73 negara dan hanya memiliki satu GBC di setiap negara.
Meskipun belakangan ini banyak pengembang properti maupun perumahan yang
menyatakan bahwa bangunannya berkonsep green building, pihak GBCI menyatakan
saat ini baru ada dua gedung di Indonesia yang secara resmi telah memiliki sertifikasi
Green Building. Dua gedung tersebut adalah Menara BCA di Grand Indonesia Jakarta,
dan gedung milik PT. Dahana di Subang. Keduanya mendapatkan sertifikasi Greenship
Platinum dari GBCI. Greenship adalah rating tools yang telah ditetapkan oleh GBCI
sebagai sistem penilaian yang menjembatani konsep bangunan ramah lingkungan dan
prinsip keberlanjutan dengan praktik yang nyata.
Green building (juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan yang
berkelanjutan) mengacu pada struktur dan menggunakan proses yang bertanggung jawab
terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien di seluruh siklus hidup-bangunan:
mulai dari penentuan tapak untuk desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, renovasi
pembongkaran, dan. Hal ini membutuhkan kerjasama yang erat dari tim desain, arsitek,
insinyur, dan klien di semua tahapan proyek. Praktik Green Building memperluas dan
melengkapi desain bangunan klasik keprihatinan ekonomi, utilitas, daya tahan, dan
kenyamanan.
Green construction ialah sebuah gerakan berkelanjutan yang mencita-citakan
terciptanya konstruksi dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan pemakaian produk
konstruksi yang ramah lingkungan, efisien dalam pemakaian energi dan sumber daya,
serta berbiaya rendah. Gerakan konstruksi hijau ini juga identik dengan sustainbilitas
yang mengedepankan keseimbangan antara keuntungan jangka pendek terhadap resiko
jangka panjang,dengan bentuk usaha saat ini yang tidak merusak kesehatan, keamanan
dan kesejahteraan masa depan.
2.3.1. Konsep Green Building
Konsep pembangunan berkelanjutan dapat ditelusuri dengan energi (minyak
terutama fosil) krisis dan pencemaran berwawasan lingkungan pada tahun 1970. Gerakan
green building di Amerika Serikat berasal dari kebutuhan dan keinginan untuk lebih
hemat energi dan ramah lingkungan konstruksi praktek. Ada sejumlah motif untuk
membangun hijau, termasuk manfaat lingkungan, ekonomi, dan sosial. Namun, inisiatif
keberlanjutan yang modern panggilan untuk desain terpadu dan sinergis untuk kedua
konstruksi baru dan dalam perkuatan struktur yang ada. Juga dikenal sebagai desain yang
berkelanjutan, pendekatan ini mengintegrasikan membangun siklus hidup dengan setiap
praktik hijau digunakan dengan tujuan desain-untuk menciptakan sinergi antara praktek
yang digunakan.
Pembangunan yang berkelanjutan harus mencerminkan tindakan yang mampu
melestarikan lingkungan alamnya. Pembangunan berkelanjutan mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut.

1. Memberi kemungkinan pada kelangsungan hidup dengan jalan melestarikan


fungsi dan kemampuan ekosistem yang mendukungnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung.
2. Memanfaatkan sumber daya alam dengan memanfaatkan teknologi yang tidak
merusak lingkungan.
3. Memberikan kesempatan kepada sektor dan kegiatan lainnya untuk berkembang
bersama-sama di setiap daerah, baik dalam kurun waktu yang sama maupun
kurun waktu yang berbeda secara berkesinambungan.
4. Meningkatkan dan melestarikan kemampuan dan fungsi ekosistem untuk
memasok, melindungi, serta mendukung sumber alam bagi kehidupan secara
berkesinambungan.
5. Menggunakan prosedur dan tata cara yang memerhatikan kelestarian fungsi dan
kemampuan ekosistem untuk mendukung kehidupan, baik masa kini maupun
masa yang akan datang.
Suatu bangunan dapat disebut sudah menerapkan konsep bangunan hijau apabila
berhasil melalui suatu proses evaluasi tersebut tolak ukur penilaian yang dipakai adalah
Sisterm Rating.
Sistem Rating adalah suatu alat yang berisi butir-butir dari aspelk yang dinilai yang
disebut rating dan setiap butir rating mempunyai nilai. Apabila suatu bangunan berhasil
melaksanakan butir rating tersebut, maka mendapatkan nilai dari butir tersebut. Kalau
jumlah semua nilai yang berhasil dikumpulkan bangunan tersebut dalam melaksanakan
Sistem Rating tersebut mencapai suatu jumlah yang ditentukan, maka bangunan tersebut
dapat disertifikasi pada tingkat sertifikasi tersebut.
Sistem Rating dipersiapkan dan disus;un oleh Green Building Council yang ada di
negara-negara tertentu yang sudah mengikuti gerakan bangunan hijau. Setiap negara
tersebut mempunyai Sistem Rating masing-masing. Sebagai contoh : Amerika Serikat
mempunyai LEED Rating (Leadership Efficiency Environment Design). Ada 6 (enam)
aspek yang menjadi pedoman dalam evaluasi penilaian Green Building:
1. Tepat Guna Lahan (Approtiate Site Development / ASD)
2. Efisiensi dan Konservasi Energi (Energy Efficiency & Conservation / EEC)
3. Konservasi Air (Water Conservation / WAC)
4. Sumber dan Siklus Material (Material Resource and Cycle / MRC)
5. Kualitas Udara & Kenyamanan Ruang (Indoor Air Health and Comfort / IHC)
6. Manajemen Lingkungan Bangunan (Building and Environment
Management /BEM)
Green building menyatukan array yang luas dari praktek, teknik, dan keterampilan
untuk mengurangi dan akhirnya menghilangkan dampak bangunan terhadap lingkungan
dan kesehatan manusia. Hal ini sering menekankan mengambil keuntungan dari sumber
daya terbarukan, misalnya, menggunakan sinar matahari melalui solar pasif, surya aktif,
dan fotovoltaik teknik dan menggunakan tanaman dan pohon-pohon melalui atap hijau,
taman hujan, dan pengurangan air hujan run-off. Banyak teknik lain yang digunakan,
seperti menggunakan kayu sebagai bahan bangunan, atau menggunakan beton kerikil
atau permeabel dikemas bukan beton atau aspal konvensional untuk meningkatkan
pengisian air tanah. Di sisi estetika arsitektur hijau atau desain yang berkelanjutan adalah
filosofi merancang bangunan yang harmonis dengan fitur alam dan sumber daya sekitar
situs. Ada beberapa langkah kunci dalam merancang bangunan berkelanjutan:
menentukan ‘hijau’ bahan bangunan dari sumber-sumber lokal, mengurangi beban,
sistem mengoptimalkan, dan menghasilkan di tempat energi terbarukan.
Aplikasi dari konstruksi hijau pada tahap perencanaan terlihat pada beberapa desain
konstruksi yang memperoleh award sebagai desain bangunan yang hemat energi, dimana
sistem bangunan yang didesain dapat mengurangi pemakaian listrik untuk pencahayaan
dan tata udara.Selain itu berbagai terobosan baru dalam dunia konstruksi juga
memperkenalkan berbagai material struktur yang saat ini menggunakan limbah sebagai
salah satu komponennya, seperti pemakaian flyash, silica fume pada beton siap pakai dan
beton pra cetak. Selain itu terobosan sistem pelaksanaankonstruksi juga memperkenalkan
material yang mengurangi ketergantungan dunia konstruksi pada pemakaian material
kayu sebagai perancah.
Pemakaian material/bahan bangunan yang banyak digunakan seperti kaca, beton,
kayu, asphalt, baja dan jenis metal lainnya ditengarai dapat menimbulkan efek
pemanasan global yang signifikan dan menyebabkan perubahan iklim di dunia. Ingat kan
penggunaan kaca gelap/ kaca yag dapat memantulkan cahaya matahari yang biasanya
digunkan pada gedung-gedung tinggi/bertingkat yang biasa disebut dengan kaca film
ribben. Jelas-jelas itu sangat merugikan karena menghantarkan cahaya matahari kembali
ke atmosfer bumi dan terjadilah penumpukan sehingga suhu bumi semakin panas. Empat
aspek utama yang perlu dipertimbangkan dalam membangun green building yaitu:
1. Material
Material yang digunakan untuk membangun haruslah diperoleh dari alam,
merupakan sumber energi terbarukan yang dikelola secara berkelanjutan, atau
bahan bangunan yang didapat secara lokal untuk mengurangi biaya transportasi.
Daya tahan material bangunan yang layak sebaiknya tetap teruji, namun tetap
mengandung unsur bahan daur ulang, mengurangi produksi sampah, dan dapat
digunakan kembali atau didaur ulang.
2. Energi
Penerapan panel surya diyakini dapat mengurangi biaya listrik bangunan. Selain
itu, bangunan juga selayaknya dilengkapi jendela untuk menghemat penggunaan
energi (terutama untuk lampu serta AC). Untuk siang hari, jendela sebaiknya
dibuka untuk mengurangi pemakaian listrik. Jendela tentunya juga dapat
meningkatkan kesehatan dan produktivitas penghuninya. Green building juga
harus menggunakan lampu hemat energi, peralatan listrik hemat energi lain, serta
teknologi energi terbarukan seperti turbin angin dan panel surya.
3. Air
Penggunaan air dapat dihemat dengan menginstal sistem tangkapan air hujan.
Cara ini akan mendaur ulang air yang misalnya dapat digunakan untuk menyiram
tanaman atau menyiram toilet. Gunakan pula peralatan hemat air, seperti
pancuran air beraliran rendah, tidak menggunakan bathtub di kamar mandi,
menggunakan toilet flush hemat air atau toilet kompos tanpa air, dan memasang
sistim pemanas air tanpa listrik.
4. Kesehatan
Gunakan bahan-bahan bagunan dan furnitur yang tidak beracun serta produk
dapat meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, untuk mengurangi risiko
asma, alergi, dan penyakit lainnya. Bahan-bahan yang dimaksud adalah bahan
bebas emisi, rendah atau non-VOC, dan tahan air untuk mencegah datangnya
kuman dan mikroba lainnya. Kualitas udara dalam ruangan juga dapat
ditingkatkan melalui sistim ventilasi dan alat-alat pengatur kelembaban udara.
Penerapan aspek Green Building dari segi desain bangunan yaitu:
a. Bentuk dan Orientasi Bagunan
Gedung Menteri Kementerian Pekerjaan Umum memiliki bentuk massa bangunan
yang tipis, baik secara vertikal maupun horizontal. Sisi tipis di puncak gedung
didesain agar mampu menjadi shading bagi sisi bangunan dibawahnya sehingga
dapat membuat bagian tersebut menjadi lebih sejuk. Pada desain gedung ini
memiliki area opening yang lebih banyak di sisi timur. hal ini dikarenakan cahaya
pada sore hari (matahari barat) lebih bersifat panas dan menyilaukan.
b. Shading & Reflektor
Shading light shelf bermanfaat mengurangi panas yang masuk ke dalam gedung
namun tetap memasukan cahaya dengan efisien. Dengan light shelf, cahaya yang
masuk kedalam bangunan dipantulkan ke ceilin. Panjang shading pada sisi
luar light shelfditentukan sehingga sinar matahari tidak menyilaukan aktifitas
manusia di dalamnya. Cahaya yang masuk dan dipantulkan ke ceiling tidak akan
menyilaukan namun tetap mampu memberikan cahaya yang cukup.
c. Sistem Penerangan
Sistem penerangan dalam bangunan menggunakan intelegent
lighting system yang dikendalikan oleh main control panel sehingga nyala lampu
dimatikan secara otomatis oleh motion sensor & lux sensor. Dengan begitu,
penghematan energy dari penerangan ruang akan mudah dilakukan.
d. Water Recycling System
Water Recycling System berfungsi untuk mengolah air kotor dan air bekas
sehingga dapat digunakan kembali untuk keperluan flushing toilet ataupun sistem
penyiraman tanaman. Dengan sistem ini, penggunaan air bersih dapat dihemat
dan menjadi salah satu aspek penting untuk menunjang konsep green building.
Manfaat Pembangunan Green Building:
1. Manfaat Lingkungan
a. Meningkatkan dan melindungi keragaman ekosistem
b. Memperbaiki kualitas udara
c. Memperbaiki kualitas air
d. Mereduksi limbah
e. Konservasi sumber daya alam
2. Manfaat Ekonomi
a. Mereduksi biaya operasional
b. Menciptakan dan memperluas pasar bagi produk dan jasa hijau
c. Meningkatkan produktivitas penghuni
d. Mengoptimalkan kinerja daur hidup ekonomi
3. Manfaat Sosial
a. Meningkatkan kesehatan dan kenyamanan penghuni
b. Meningkatkan kualitas estetika
c. Mereduksi masalah dengan infrastruktur local
Prinsip – prinsip Perilaku dan Praktek Green Buiding antara lain adalah :
A. Reduce
Contoh penerapannya yaitu Efisiensi material, SDM, energi, dan air serta
Minimalisasi limbah aktivitas dan limbah fasilitas.
B. Reuse
Contoh penerapannya yaitu Efisiensi material dan Minimalisasi limbah kegiatan
proyek.
C. Recycle
Contoh penerapannya yaitu Pemanfaatan limbah di luar dan di dalam proyek.
D. Protect Nature
Contoh penerapannya yaitu Mengurangi kerusakan lingkungan, Memperbaiki
kerusakan lingkungan dan Menciptakan lingkungan kerja yang hijau.
E. Safety
Contoh penerapannya yaitu Pencegahan kecelakaan kerja dan Pengurangan
kecelakaan kerja.
F. Quality
Contoh penerapannya yaitu Quality assurance terhadap mutu dan desain proyek,
proses perencanaan, dan prosedur operasional standar dan Quality control
terhadap implementasi konstruksi.
G. Life cycle cost.
Contoh penerapannya yaitu Pemilihan umur pakai material.
2.3.2. Penerapan Konsep Green Building
A. Bullitt Center, Seattle
Gedung ini adalah model sejati keberlanjutan, yang dinobatkan sebagai
salah satu gedung perkantoran paling ramah lingkungan di dunia. Semua feature
dan fasilitas yang ada seolah merupakan organisme hidup. Gedung ini memiliki
575 panel surya di atapnya, yang tak hanya mampu menyuplai listrik untuk
gedung tersebut, tetapi juga untuk penduduk sekitar terutama di musim panas.
Gedung ini didesain menggunakan zero energi, air, maupun limbah.
Arsiteknya juga menambahkan tangga unik, untuk melihat Kota Seattle dari
atas kawasan Puget Sound. Sehingga, siapapun akan lebih memilih menaiki
tangga ini dibandingkan naik lift. Nuansa hemat energi dan hidup sehat
terpancar jelas di sini.
Gambar 11 Bullitt Center
B. Pixel Building, Melbourne
Pada 2010, gedung ini dinobatkan sebagai gedung perkantoran paling
ramah lingkungan di dunia. Gedung dengan desain pixel warna warni ini
yang dipenuhi aneka fitur inovasi. Mampu mencukupi kebutuhan airnya
sendiri juga netralitas karbon adalah bukti bahwa bangunan pun bisa
menyediakan kebutuhannya sendiri.

Gambar 12 Gracon
C. John and Frances Angelo’s Law Center, Maryland
Gedung ini didesain dengan semangat mengatasi emisi pemanasan
global dan menetralitas iklim. Bambu, kayu bersertifikat, dan beton yang
dibuat dari bahan-bahan daur ulang adalah sebagian kecil dari teknologi
ramah lingkungan yang dimiliki gedung ini.

Gambar 13 University of Baltimore


D. Vancouver Convention Center West, Vancouver
Kombinasi teknologi ramah lingkungan dengan pengoperasianya yang
keren membuatnya berbeda dari bangunan lain.Atapnya adalah kebun hijau
seluas 24 ribu meter persegi (terbesar di AS dan Kanada), yang ditanami
400 ribu tanaman lokal dan rerumputan. Ada empat sarang lebah, ventilasi,
cahaya alami di dalam gedung, dan masih banyak hal menarik lainnya.

Gambar 14 Vancouver Convention Center


2.3.3. Tantangan Penerapan Konsep Green Building di Indonesia
Indonesia telah memasang target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca
sebesar 26% pada tahun 2020. Hal ini seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan
Emisi Gas Rumah Kaca (RAN – GRK). Demi mendukung upaya nasional tersebut
Pemerintah Kota Jakarta telah berkomitmen untuk turut mengurangi emisi gas rumah
kaca melalui Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2012 tentang Bangunan Gedung
Hijau. Berdasarkan peraturan tersebut, seluruh gedung di Jakarta mulai April 2013
harus memenuhi persyaratan gedung ramah lingkungan atau green building.
Dibandingkan negara tetangga, Singapura, Indonesia saat ini memang jauh
tertinggal dalam menerapkan green building. Saat ini di Singapura telah terdapat
setidaknya 11.000 bangunan yang bersertifikasi green building. Diantara tantangan dari
penerapan konsep green building di Indonesia adalah saat ini biaya pembangunan green
building di Indonesia saat ini lebih mahal dari bangunan biasa.
Bintang Nugroho, Deputy of Organization and Events Green Building Council
Indonesia menyebutkan, cost untuk membangun green building bersertifikasi platinum
lebih tinggi 10% dari gedung biasa, gold (6%), silver (3%), sementara sertifikasi bronze
tidak ada bedanya.
Pemerintah Singapura mengatasi tantangan ini dengan memberikan insentif
berupa uang bagi pengembang yang membangun gedung dengan konsep green
building. Menurut Ignesjz Kemalawarta, Ketua Badan Sertifikasi dan Advokasi Real
Estat Indonesia (REI), Pemerintah Indonesia bisa memberikan insentif antara lain
berupa pemotongan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Meskipun demikian, seiring
berjalan waktu, biaya pembangunan green building pasti akan turun. Sebagai
perbandingan, di Amerika Serikat saat ini biaya pembangunan green building tidak
berbeda dengan bangunan biasa.
Walaupun harus mengeluarkan biaya besar di awal konstruksinya, konsep green
building justru akan mengurangi biaya operasional bangunan. Naning Adiwoso,
Chairman GBCI menyatakan bahwa sebuah gedung komersil yang mengikuti standar
penilaian Greenship biasanya mampu melakukan penghematan energi antara 26%
sampai 40% setiap bulannya. Penghematan tersebut bersumber pada berkurangnya
volume penggunaan AC, penerangan gedung, serta penggunaan air. Ketua Umum
Asosiasi Manajemen Properti Indonesia (AMPRI), Irwan Sendjaja menambahkan
bahwa biaya operasional gedung yang semakin meningkat dapat diatasi dengan
menerapkan konsep green building. Menurutnya, sebuah gedung yang disewakan akan
menghabiskan biaya operasional listrik lebih hemat 20 – 30% tiap bulannya. Meskipun
investasi awal saat pembangunan lebih besar dari bangunan biasa, namun saat
operasional justru pengelola gedung mendapatkan keuntungan dari penghematan
penggunaan energi dan air.
Selain itu, menurut Direktur Manager IEN Consultant Poul E Kristensen,
dengan konsep hemat energi yang tepat, konsumsi energi suatu gedung dapat
diturunkan hingga 50%, dengan hanya menambah investasi sebesar 5% saat
pembangunannya. IEN merupakan konsultan green building di Kuala Lumpur,
Malaysia. Keberhasilan menekan konsumsi energi hingga 50% tersebut telah terbukti
dalam pembangunan green building di Malaysia. ”Dengan iklim dan tipikal gedung
yang sama, gedung hemat energi di Indonesia diperkirakan juga dapat menekan
konsumsi energi dengan persentase yang sama,” ujarnya.
Director of Rating and Technology Green Building Council Indonesia (GBCI)
Rana Yusuf Nasir mengatakan 98% gedung di Jakarta merupakan bangunan eksisting
dan 2% merupakan bangunan baru. Hal ini juga menjadi tantangan lain bahwa sebagian
besar bangunan eksisting di Jakarta belum sesuai dengan konsep green building.
Menurut Hadjar Seti Adji, Green Program Representative Manager PT Pembangunan
Perumahan (persero), konsep green building dapat terbagi menjadi dua yaitu Passive
Design yang dikerjakan oleh arsitek dan Active Design yang dikerjakan oleh mekanik.
Sebuah bangunan dapat diperbaiki menjadi green building dengan merubah passive
design dan active design-nya. Konsep perubahan bangunan menjadi green building
akan lebih baik diterapkan di passive design-nya karena akan mengemat biaya yang
banyak. Contohnya adalah perencanaan sirkulasi udara yang baik sehingga mengurangi
penggunaan AC. Selain itu, perubahan orientasi arah bangunan juga dapat mengurangi
panas dalam ruangan. Dengan teknolgi sensor pencahayaan yang sensitif terhadap
gerakan manusia, efisiensi energi juga dapat lebih ditingkatkan.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Integrated Building Management System (IBMS) adalah sebuah sistem kontrol
dan monitor yang digunakan pada sebuah bangunan atau gedung yang bertujuan
untuk mengintegrasikan semua sistem yang ada pada bangunan tersebut seperti,
sistem pendingin ruangan, pencahayaan, keamanan, tranportasi vertikal dan
sebagainya.
2. Smart building adalah bangunan yang menggunakan Building Automation
System (BAS) atau disebut juga dengan Intelligent Building System (IBS).
3. Green building didefinisikan oleh Environmental Protection Agency (EPA)
sebagai struktur bangunan yang environmentally responsible dan menggunakan
sumber daya secara efisien di seluruh siklus hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA

A.K., Rintulebda. 9 November 2012. Green Building Solusi Global Warming.


http://www.undip.ac.id/index.php/arsip-berita-undip/78-latest-news/2068-green-building-
solusi-global-warming
Solusi Smart Building untuk PT. USADI; 2013; Produk Telkom Indonesia
http://www.rcrwireless.com/20161110/big-data-analytics/smart-building-edge-tag31-tag99
http://www.mongabay.co.id/2016/12/28/10-green-building-terbaik-2016-yang-begitu-
menginspirasi/
http://Makalah Green Buliding/MAKALAH GREEN BUILDING.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Green_building