Anda di halaman 1dari 5

PERHITUNGAN JUMLAH TENAGA KERJA YANG OPTIMAL PADA CLEANING PABRIK

PERSONAL WASH PT. UNILEVER INDONESIA

Alvin Hidayat, Sri Gunani Partiwi


Jurusan Teknik Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111
Email: alvinhidayat101@ymail.com; srigunani@ie.its.ac.id

Abstrak
Produktivitas perusahaan merupakan hal yang penting bagi semua perusahaan. Kenaikan dan penurunan
produktivitas perusahaan memiliki korelasi positif dengan besaran profit yang diperoleh perusahaan. Peningkatan
produktivitas menjadi salah satu hal penting bagi PT. Unilever Indonesia. Salah satu cara meningkatkan
produktivitas adalah dengan melakukan efisiensi. Efisiensi dapat dilakukan di bagian manapun yang dianggap
kurang efisien. Pada kenyataan dilapangan, bagian cleaning service yang dipercayakan kepada pihak ketiga dilihat
kurang optimal. Bukan karena hasil yang kurang bersih, namun karena dilapangan sangat sering pekerja cleaning
service terlihat menganggur. Ini menimbulkan pemikiran bahwa beban kerja para pekerja cleaning service terlalu
rendah. Perlu dilakukan efisiensi agar dapat menurunkan anggaran perusahaan untuk pihak ketiga. Namun, untuk
melakukan efisiensi diperlukan sebuah dasar acuan yang kuat. Maka, penelitian ini diperlukan sebagai acuan
peninjauan kontrak cleaning dengan pihak ketiga.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah perhitungan beban tugas per jabatan sesuai dengan
KEP/75/M.PAN/7/2004 untuk perhitungan beban kerja. Perhitungan beban tugas tersebut membutuhkan nilai waktu
penyelesaian tugas yang dapat diperoleh menggunakan metode stopwatch time study. Setelah diketahui hasil beban
kerja cleaning seluruh area pabrik, maka dilakukan efisiensi menggunakan ECRS. Hasil dari efisiensi adalah
alternatif penggabungan beban kerja. Hasil alternatif penggabungan yang pertama adalah dengan menggabungkan
area packing line, lorong-locker, toilet-NST, dan area GHJ. Hasilnya dapat dilakukan efisiensi sejumlah 2 karyawan.
Alternatif penggabungan kedua adalah dengan menggabungkan area engineering dan area drier 6. Hasilnya dapat
dilakukan efisiensi sejumlah 1 karyawan. Alternatif penggabungan ketiga adalah dengan menggabungkan area
CMS/Proses dan area BDM. Hasilnya dapat dilakukan efisiensi sejumlah 1 karyawan. Alternatif penggabungan
keempat adalah dengan menggabungkan area boiler dan substore. Hasilnya dapat dilakukan efisiensi sejumlah 1
karyawan. Alternatif penggabungan kelima adalah dengan menggabungkan area boiler dan RMS. Hasilnya dapat
dilakukan efisiensi sejumlah 1 karyawan. Semua alternatif penggabungan dapat dilakukan bersamaan kecuali
alternatif keempat dan kelima.
Kata Kunci : Stopwatch Time Study, Efisiensi ECRS, Beban Kerja Per Area, NASA-TLX, Jumlah Optimal
Karyawan.

1. Pendahuluan para pekerja cleaning service terlalu rendah. Perlu dilakukan


Produktivitas perusahaan merupakan hal yang penting bagi efisiensi agar dapat menurunkan anggaran perusahaan untuk
semua perusahaan. Kenaikan dan penurunan produktivitas pihak ketiga. Karena sudah terjadi kesepakatan dalam kontrak,
perusahaan memiliki korelasi positif dengan besaran profit maka hanya bisa dilakukan perubahan pada kontrak
yang diperoleh perusahaan. Profit perusahaan yang menurun selanjutnya. Namun, peninjauan terhadap kontrak perlu
tentu akan menjadi ancaman bagi perusahaan tersebut. Upaya dilakukan lebih awal.
untuk melakukan peningkatan profit dapat dilakukan melalui Kesepakatan dalam kontrak tersebut tercantum besaran
salah satu faktornya yaitu peningkatan produktivitas. biaya kontrak cleaning, dan jumlah pekerja dalam kontrak.
Peningkatan produktivitas menjadi salah satu hal penting Dalam kenyataan, cleaning pabrik personal wash dilakukan
untuk PT. Unilever Indonesia. oleh 22 orang karyawan PT.ISS pada shift pertama. Jumlah
Efisiensi adalah salah satu cara meningkatkan karyawan tersebut membersihkan area pabrik personal wash
produktivitas. Efisiensi dapat dilakukan dibagian yang seluas 1.154.351,43 meter persegi. PT. Unilever Indonesia
dianggap kurang efisien dalam menggunakan sumberdaya. ingin melakukan efisiensi melalui pengurangan karyawan PT.
Pada kenyataan di lapangan, bagian cleaning service yang ISS di pabrik personal wash, akan tetapi PT. Unilever
dipercayakan kepada pihak ketiga dilihat kurang optimal. Indonesia belum memiliki perhitungan jumlah pekerja optimal
Bukan karena hasil yang kurang bersih, namun karena untuk melakukan pekerjaan tersebut. Pembaruan kontrak
dilapangan sangat sering pekerja cleaning service terlihat sebelumnya akan dilakukan PT. Unilever Indonesia dengan
menganggur. Ini menimbulkan pemikiran bahwa beban kerja

1
menghitung jumlah karyawan yang optimal sebagai bahan 3. Pada tahap pengolahan data, terdapat tiga tahap yang harus
dasar penentuan nilai kontrak. dilakukan yaitu tahap perhitungan waktu standar
Jumlah karyawan optimal untuk cleaning sangat penting menggunakan Stopwatch time study, tahap perhitungan beban
nilainya bagi PT. Unilever Indonesia. Apabila karyawan yang kerja area sesuai KEP/75/M.PAN/7/2004 dan tahap efisiensi
ada melebihi jumlah optimal, maka terjadi pemborosan input jumlah karyawan menggunakan metode ECRS. Dari tahapan
selama kontrak berlangsung. Besarnya nilai pemborosan ini diperoleh alternatif efisiensi yang dimungkinkan
tersebut bergantung pada selisih jumlah karyawan dan lama pelaksanaannya.
kontrak. Apabila karyawan yang ada kurang dari jumlah 4. Tahap analisis dan interpretasi akan diberikan penjelasan
optimal, maka telah terjadi pembebanan pekerjaan yang mengenai hasil pengolahan data. Penjelasan berupa
melebihi kapasitas pekerja. Akibat yang mungkin terjadi penerjemahan hasil dan korelasinya dengan tujuan penelitian.
adalah pembersihan kurang optimal, titik-titik kotor terus 5. Tahap yang terakhir yaitu tahap penarikan kesimpulan.
bertambah, probabilitas kecelakaan kerja meningkat, stress Pada tahap ini dilakukan penarikan kesimpulan dari
karyawan meningkat. Akibat fatal yang mungkin terjadi dilakukannya penelitian ini.
adalah demo karyawan yang salah arah, seperti yang terjadi di
daerah bekasi, karyawan pihak ketiga menuntut kepada 3. Metode Stopwatch Time Study
perusahaan yang memberikan kontrak. Stopwatch time study adalah pengukuran waktu kerja
Jonder sihotang (2012) menuliskan di berita SH News secara langsung yang dilakukan dengan alat ukur waktu
tentang demonstrasi salah arah tersebut. Akibatnya kebijakan stopwatch. Menurut Sritomo (2008) penelitian dengan
pemerintah membatasi karyawan outsourcing di beberapa stopwatch time study memiliki beberapa tahapan yang harus
bagian tertentu. Menurut keputusan pemerintah hanya ada dilakukan. Berikut ini adalah urutan langkah dalam stopwatch
lima jenis pekerjaan yang boleh menggunakan pihak ketiga time study.
yaitu cleaning service, keamanan, transportasi, katering dan  Definisi pekerjaan yang akan diteliti untuk diukur
pemborongan pertambangan. Hal tersebut tercantum dalam waktunya dan beritahukan maksud dan tujuan pengukuran
peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi republik ini kepada pekerja yang dipilih untuk diamati dan
indonesia nomor 19 tahun 2012 tentang syarat-syarat supervisor yang ada.
penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada  Catat semua informasi yang berkaitan erat dengan
perusahaan lain Bab 3, bagian kesatu, pasal 17 nomor 3. PT. penyelesaian pekerjaan seperti lay out,
Unilever Indonesia mengalami perubahan yaitu pengurangan karakteristik/spesifikasi mesin atau peralatan kerja lain
karyawan outsourcing pada gudang dan penambahan jumlah yang digunakan, dan lain-lain
karyawan tetap. Hal tersebut membuat PT. Unilever Indonesia  Bagi operasi kerja dalam elemen kerja sedetail-detailnya
melakukan penambahan anggaran. Bukan hal yang tidak tapi masih dalam batas-batas kemudahan untuk
mungkin jika terjadi kericuhan kembali akan mengarahkan pengukuran waktunya
kebijakan pemerintah untuk mengurangi bagian yang boleh  Amati, ukur dan catat waktu yang dibutuhkan oleh
diserahkan kepada pihak ketiga atau kemungkinan terburuk operator untuk menyelesaikan elemen-elemen kerja
pemerintah dapat melarang penggunaan karyawan outsourcing tersebut
secara keseluruhan.  Tetapkan jumlah siklus kerja yang harus diukur dan
dicatat. Teliti apakah jumlah siklus kerja yang
2. Data dan Metodologi Penelitian dilaksanakan ini sudah memenuhi syarat atau tidak ? Tes
Berikut merupakan gambaran kerangka berpikir dalam pula keseragaman data yang diperoleh
pelaksanaan penelitian yang terdiri dari empat tahapan utama.  Tetapkan rate of performance dari operator saat
Tahapan-tahapan ini tersusun secara berurutan dimulai dari melaksanakan aktivitas kerja yang diukur dan dicatat
tahap identifikasi, tahap pengumpulan dan pengolahan data, waktunya tersebut. Rate of performance ini ditetapkan
tahap analisa dan interpretasi dan yang terakhir yaitu tahap untuk setiap elemen kerja yang ada dan hanya ditujukan
penarikan kesimpulan dan saran. untuk performance operator. Untuk elemen kerja yang
1. Pada tahap identifikasi akan dilakukan penentuan secara penuh dilakukan oleh mesin maka performance
perumusan masalah yang ada pada PT. Unilever Indonesia dan dianggap normal (100%).
tujuan penelitian.Tujuan dari penelitian ini adalah Menghitung Pada uji kecukupan data menggunakan rumus sebagai berikut.
workload karyawan cleaning pabrik personal wash dan
menentukan jumlah optimal karyawan cleaning pabrik
personal wash.
2. Pada langkah pengumpulan data, akan dilakukan
pengambilan data primer dan data sekunder.Data primer disini
merupakan data pengukuran waktu kerja karyawan. Data
pengukuran waktu kerja didapatkan dengan melakukan Dengan
pengamatan langsung dan wawancara.Sedangkan data N’ = Jumlah sampel yang dibutuhkan
sekunder merupakan data yang diperoleh dengan pengamatan N = Jumlah data yang diambil
tidak langsung yang diperoleh dari pihak objek penelitian X = Data waktu yang dibaca oleh stopwatch untuk tiap-tiap
PT.Unilever Indonesia yaitu data profil perusahaan, data individu pengamatan
jumlah karyawan, data alur pekerjaan dan peta area pabrik Pada Uji Keseragaman data menggunakan Rumus berikut.
personal wash.
2
4. Metode Pengukuran Beban Kerja berdasarkan
KEP/75/M.PAN/2004
Beban kerja dapat diperoleh dengan pendekatan tugas per
tugas jabatan sesuai dengan keputusan menteri pendayagunaan
Dengan aparatur negara nomor KEP/75/M.PAN/7/2004. Metode ini
BKA = Batas kontrol atas tepat digunakan untuk pekerjaan dengan hasil yang beragam.
BKB = Batas kontrol bawah Pekerjaan cleaning memiliki keberagaman, antara lain
Xbar = Rata-rata data menyapu, mengepel, dan mengelap (dusting).Sehingga, sangat
q = Standar deviasi data cocok dilakukan pengukuran workload dengan metode ini.
P = performance rating Berdasarkan keputusan menteri pendayagunaan aparatur
Xi = data ke-i negara nomor KEP/75/M.PAN/7/2004 terdapat beberapa hal
n = jumlah data yang harus diketahui terlebih dahulu agar dapat dilakukan
Pada Perhitungan waktu normal digunakan rumus sebagai perhitungan dengan metode ini. Berikut ini adalah informasi
berikut. yang diperlukan.
 Uraian tugas beserta jumlah beban setiap tugas
Waktu Normal = Total Waktu Aktual x Performace Rating  Waktu penyelesaian tugas
 Jumlah waktu per hari rata-rata
Pada perhitungan waktu standar digunakan rumus sebagai Setelah diketahui informasi diatas, langkah selanjutnya adalah
berikut. menghitung dengan rumus yang sudah ditetapkan. Berikut ini
adalah rumus penentuan jumlah tenaga kerja.
𝑊𝑊𝑊𝑊 = 𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊 𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁 𝑥𝑥 (1 + 𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎)
𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴 (𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊)
𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽ℎ 𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾 =
Berikut ini adalah hasil perhitungan waktu standar 𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝛴𝑖𝑖𝑖𝑖 (𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊)
menggunakan Stopwatch time study.
Waktu penyelesaian tugas diperoleh dari waktu standar
Tabel 3.1 Perhitungan Waktu Standar Menyapu penyelesaian kerja. Sedangkan Waktu kerja efektif diperoleh
Waktu Waktu dari total waktu kerja yang disediakan perusahaan dalam satu
Elemen Kerja Rating RA (%)
Rata-rata Normal Standart hari. Sehingga dapat digunakan rumus sebagai berikut.
Sweeping (sapu biasa) 2,25426 1,083 2,44212 16% 2,83285931
Mengambil hasil menyapu 17,7656 1,083 19,24609 16% 22,3254688 𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠
Menyapu dengan kapi 17,8132 1,167 20,78202 16% 24,1071404 Jumlah Karyawan =
Tabel 4.46 Perhitungan Waktu Standar Moping 𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇 𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘
Waktu Waktu Berikut ini adalah rekap hasil perhitungan beban kerja area
Elemen Kerja Rating RA (%)
Rata-rata Normal Standart Area Waktu (Menit) Beban Kerja
Mempersiapkan alat dan air 67,652 1 67,652 12% 75,77024 2241,853591 534%
Packline 1-13
Pel Basah 4,489 1 4,489 16% 5,20724
mengumpulkan air 7,634074 1 7,6340741 16% 8,855525926 Lorong-Locker 44,20082486 11%
mengeruk air 4,391739 1 4,3917391 16% 5,094417391 Toilet-NST 101,4176767 24%
pel kering 7,095294 1 7,0952941 16% 8,230541176 GHJ PW 154,2543851 37%
Pembersihan alat 43,1925 1 43,1925 16% 50,1033
peras pel 16,40372 1 16,403721 16% 19,02831628 Engineering 148,7041822 35%
poles 43,1925 1 43,1925 18% 50,96715 Drier 6 71,62151245 17%
Tabel 4.47 Perhitungan Waktu Standar Dusting CMS/Proses 510,2943903 121%
Elemen Kerja Rata-rata Rating Waktu Normal RA Waktu Standart BDM 243,7978093 58%
Menyiapkan alat 22,70933333 1,083333333 24,60177778 22% 30,01416889 Boiler 80,07880522 19%
Mengelap 9,894210526 1,083333333 10,71872807 12% 12,00497544 Substore 479,0706745 114%
membersihkan alat 11,97842105 1,083333333 12,97662281 22% 15,83147982
RMS PW 278,2430921 66%
Tabel 4.48 Perhitungan Waktu Standar Toilet
Waktu Waktu MILL 384,6522202 92%
Elemen Kerja Rata-rata Rating RA (%)
Normal Standart Office PW 363,9229355 87%
Mengambil sampah 15,0804 1,1667 17,5938 16% 20,408808 Drier 371,1872895 88%
membuang kumpulan sa 32,65947 1,1667 38,10272 16% 44,1991544
membersihkan kloset 82,47875 1,1667 96,22521 16% 111,621242
5. Konsep ECRS
menggosok lantai 50,00964 1,1667 58,34458 16% 67,6797167
menyiram 57,43308 1,1667 67,00526 16% 77,7260974
Konsep ECRS adalah suatu metode untuk melakukan
siram pendahuluan 32,09848 1,1667 37,44823 16% 43,4399495 improvement pada suatu proses tertentuk. ECRS merupakan
wastafel 14,24333 1,1667 16,61722 16% 19,2759778 kepanjangan dari Eliminte, Combine, Rearrange, dan Simplify.
handsoap 40,78278 1,1667 47,57991 16% 55,1926926 Eliminate adalah pengurangan terhadap sesuatu yang tidak
cermin 11,14708 1,1667 13,00493 16% 15,0857194 diperlukan. Combine adalah mengkombinasikan dua hal atau
urinoir 87,986 1,1667 102,6503 11% 113,94187 lebih agar lebih efisien. Rearrange adalah penataan kembali
alat lap cermin 14,51238 1,1667 16,93111 16% 19,6400889 terhadap beberapa proses agar lebih efisien dan efektif.
Simplify adalah penyederhanaan suatu proses sehingga lebih
efisien. Berikut ini adalah hasil kombinasi beban kerja area.

3
Tabel 4.65 Hasil Kombinasi Area Menggunakan ECRS dengan alasan yang sama dengan kombinasi C4 yaitu
Kombinasi peleburan beban area boiler. Jadi, hasil antara C4.1 dan C4
Area Eksisting Waktu Workload Perhitungan ECRS Hasil Manning hanya satu yang dapat dilaksanakan.
Packline 1-13 4 2241,854 534% 6
Lorong-Locker 44,20082 11% 1
Toilet-NST 1 101,4177 24% 1
C1 605% 7 Kesimpulan
GHJ PW 1 154,2544 37% 1 Berdasarkan pengolahan data serta analisis yang telah
Engineering 1 148,7042 35% 1
Drier 6 1 71,62151 17% 1
C2 52% 1 dilakukan sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal terkait
CMS/Proses 2 510,2944 121% 2
C3 180% 2
dengan penelitian ini, yaitu antara lain :
BDM 1 243,7978 58% 1
Boiler 1 80,07881 19% 1
1. Berdasarkan metode pengukuran beban kerja sesuai
C4 134% 2
Substore 2 479,0707 114% 2 KEP/75/M.PAN/7/2004 diperoleh beban kerja eksisting
RMS PW 1 278,2431 66% 1 ------------- 66% 1 untuk masing-masing area. Pada area packing line
MILL 1 384,6522 92% 1 ------------- 92% 1
Office PW 2 363,9229 87% 1 ------------- 87% 1 workload area sebesar 534%, area lorong-locker
Drier 2 371,1873 88% 1 ------------- 88% 1 workload area sebesar 11%, area toilet-NST workload
Team Leader/
2 ----------- ------------ 1 ------------- ------ area sebesar 24%, area GHJ workload area sebesar 37%,
Supervisor 1
Total 22 22 17 area engineering workload area sebesar 35%, area drier 6
workload area sebesar 17%, area CMS/Proses workload
Tabel 4.66 Alternatif Kombinasi Untuk Penggabungan area sebesar 121%, area BDM workload area sebesar
Cleaning Area Boiler Dan RMS 58%, area boiler workload area sebesar 19%, area
Boiler 1 80,07881 19% 1
RMS PW 1 278,2431 66% 1
C4.1 87% 1 substore workload area sebesar 114%, area RMS
workload area sebesar 66%, area mill workload area
6. Analisis Alternatif Kombinasi sebesar 92%, area office PW workload area sebesar 87%,
Efisiensi dengan ECRS ini diperoleh menggunakan area drier workload area sebesar 88%.
kombinasi beban kerja area yang memungkinkan untuk 2. Jumlah optimal karyawan yang diperoleh menggunakan
digabungkan. Kombinasi yang dicoba dilakukan ada 4 metode ECRS dengan mengkombinasikan area yang
kombinasi yaitu C1, C2, C3, C4, dan C4.1. kombinasi beban kerjanya kurang optimal. Hasil alternatif
dilakukan dengan berbagai pertimbangan selain besaran beban penggabungan yang pertama adalah dengan
kerja, seperti faktor jarak, kesamaan elemen kerja, dan menggabungkan area packing line, lorong-locker, toilet-
sebagainya. NST, dan area GHJ. Hasilnya dapat dilakukan efisiensi
Kombinasi C1 menggabungkan packing line dengan sejumlah 2 karyawan. Alternatif penggabungan kedua
lorong-locker, toilet-NST, dan GHJ. Penggabungan 4 area adalah dengan menggabungkan area engineering dan
tersebut dapat mengurangi jumlah tenaga kerja hingga 2 area drier 6. Hasilnya dapat dilakukan efisiensi sejumlah
orang. Kombinasi ini dilakukan karena faktor kedekatan jarak 1 karyawan. Alternatif penggabungan ketiga adalah
area. Empat area tersebut dilantai yang sama, dan tidak ada dengan menggabungkan area CMS/Proses dan area
pintu yang membatasi antar area. Sehingga, dimungkinkan BDM. Hasilnya dapat dilakukan efisiensi sejumlah 1
dilakukan penggabungan beban kerja dengan kombinasi C1. karyawan. Alternatif penggabungan keempat adalah
Kombinasi C2 menggabungkan area engineering dan drier dengan menggabungkan area boiler dan substore.
6. Penggabungan C2 dapat mengurangi jumlah tenaga kerja 1 Hasilnya dapat dilakukan efisiensi sejumlah 1 karyawan.
orang. Kombinasi ini dilakukan dengan pertimbangan beban Alternatif penggabungan kelima adalah dengan
kerja dan karakteristik area yang sama, sehingga banyak menggabungkan area boiler dan RMS. Hasilnya dapat
elemen kerja yang sama. dilakukan efisiensi sejumlah 1 karyawan. Semua
Kombinasi C3 menggabungkan CMS dan BDM. alternatif penggabungan dapat dilakukan bersamaan
Penggabungan C3 dapat mengurangi jumlah tenaga kerja kecuali alternatif keempat dan kelima. Jadi total
sebanyak 1 orang. Kombinasi ini dilakukan karena faktor karyawan optimal untuk pekerjaan cleaning pabrik
kedekatan area, dan kondisi yang hampir sama yaitu suhu di personal wash adalah 17 karyawan.
kedua area ini lebih tinggi dibandingkan dengan area lainnya.
Kondisi tersebut berlaku juga untuk jenis lantai yang sama Daftar Pustaka
disebabkan antisipasi suhu yang tinggi. Kombinasi ini sangat Arumsari, Rahadiani. (2009). Perhitungan Kebutuhan Jumlah
mungkin dilakukan dengan pertimbangan tersebut. Karyawan berdasarkan Analisis Beban Kerja untuk
Kombinasi C4 menggabungkan area boiler dengan Meningkatkan Produktivitas Kerja. Laporan Tugas
substore. Penggabungan 2 area pada C4 dapat mengurangi Akhir. Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh
jumlah karyawan sebanyak 1 orang. Kombinasi ini hanya Nopember
didasarkan pada besarnya beban kerja. Perbedaan yang Asri, Raras Mayang. (2012). Analisa Beban Kerja dan Job
signifikan adalah kondisia area boiler diluar pabrik sehingga Analysis untuk Menentukan Jumlah Optimal
terbuka tanpa dinding, sedangkan substore berada di lantai 3 Karyawan dan Pemetaan Karyawan Berdasar pada
dalam pabrik. Sehingga perlu dilakukan perhitungan Karakteristik dan Kemampuan Kerja. Laporan Tugas
movement boiler-substore. Setelah dilakukan perhitungan Akhir. Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh
beban kerja movement dan dijumlahkan, hasilnya masih bisa Nopember
dilakukan kombinasi 2 area ini. Depnakertrans. (2012). Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Kombinasi C4.1 adalah alternatif lain penggabungan Transmigrasi Nomor 12 Tahun 2012. [Online]
boiler, namun dengan RMS. Kombinasi C4.1 dilakukan Available at :
4
http://www.depnakertrans.go.id/uploads/doc/perunda
ngan/194328070350ab0fa438f1a.pdf [Accessed 15
September 2013]
Didomenico, A dan Nussbaum, A.M. (2008). “Interactive
effects of physical and mental workload on subjective
workload assessment”, Science Direct, Vol.38, hal.
977–983
MENPAN. (2004). Pedoman Perhitungan Kebutuhan
Pegawai Berdasarkan Beban Kerja Dalam Rangka
Penyusunan Formasi Pegawai Negeri Sipil.
Keputusan Nomor : KEP/75/M.PAN/7/2004, Jakarta
Meyers, E.F . (1992). “Motion Study and Time Study”. New
Jersey : Prentice Hall
Nawawi, Hadari. (2000). Manajemen Strategik Organisasi
Non Profit Bidang Pemerintahan. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press
Pratama, Hanif Galih. (2013). Penentuan Alokasi Jumlah
Pekerja Melalui Study Kerja dan Simulasi pada
Proses Canner (Study Kasus : PT Great Giant
Pineapple, Lampung) . Laporan Tugas Akhir.
Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Sihotang, Jonder. (2012). Nasib Buruh Kontrak Menyedihkan.
[Online] Available at: www.shnews.co/detile-8887-
nasib-buruh-kontrak-yang-menyedihkan-.html
[Accessed 7 September 2013]
Sophiana, Tiffany. (2006). Perancangan standar waktu kerja
dan perhitungan jumlah tenaga kerja optimal pada
bagian medical equipment.Laporan Tugas Akhir.
Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Wignjosoebroto, Sritomo. (2008). Ergonomi Studi Gerak dan
Waktu: Teknik Analisis Untuk Peningkatan
Produktivitas Kerja. Surabaya : Guna Widya