Anda di halaman 1dari 72

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI PT. FABINDO SEJAHTERA
Kamp. Waru RT. 01/03 Desa Pasir Jaya, Kec. Cikupa, Banten

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

EKA NOVITA CHRISTIANTI BANGUN, S.Farm.


1006835236

ANGKATAN LXXIII

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


PROGRAM PROFESI APOTEKER-DEPARTEMEN FARMASI
DEPOK
JANUARI 2012

Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012


UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI PT. FABINDO SEJAHTERA
Kamp. Waru RT. 01/03 Desa Pasir Jaya, Kec. Cikupa, Banten

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar


Apoteker

EKA NOVITA CHRISTIANTI BANGUN, S.Farm.


1006835236

ANGKATAN LXXIII

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


PROGRAM PROFESI APOTEKER-DEPARTEMEN FARMASI
DEPOK
JANUARI 2012

ii
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
iii
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah senantiasa
melimpahkan karunia dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Fabindo Sejahtera. Laporan
Praktek Kerja Profesi Apoteker ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus
dipenuhi oleh mahasiswa Program Profesi Apoteker di Departemen Farmasi
Universitas Indonesia untuk mendapakan gelar profesi Apoteker. Adapun
pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di PT. Fabindo Sejahtera ini
berlangsung mulai dari tanggal 4 Juli – 29 Juli 2011.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan dan
bimbingan yang diberikan, kepada:
1. Ibu A.Gracia Lityo, M.Sc. selaku Production Director yang telah memberikan
kesempatan melaksanakan PKPA di PT. Fabindo Sejahtera.
2. Bapak Drs. Ig. Bambang Dwiarto,Msc selaku Manajer Human Resourse
Development PT. Fabindo Sejahtera dan selaku pembimbing tugas umum di
PT. Fabindo Sejahtera atas kesabaran, perhatian dan bimbingannya..
3. Dra. Pertaminingsih W.P., Apt. selaku pembimbing tugas khusus di divisi
Research and Development PT. Fabindo Sejahtera atas kesabaran, perhatian
dan bimbingannya.
4. Ibu Dra. Maryati, M.Si., Apt., selaku pembimbing dari Program Profesi
Apoteker Departemen Farmasi FMIPA UI, yang telah memberikan petunjuk
dan masukan dalam penyusunan laporan ini.
5. Bapak Dr. Harmita, Apt., selaku Koordinator Pendidikan Profesi Apoteker
Departemen Farmasi FMIPA UI.
6. Seluruh staf HRD PT. Fabindo Sejahtera, Staf R&D, dan Staf lainnya yang
tidak dapat disebutkan namanya satu-persatu, atas bantuan yang telah
diberikan selama PKPA di PT. Fabindo Sejahtera.
7. Keluarga tercinta yang senantiasa memberi dukungan, semangat, dan kasih
sayang yang tiada henti.

iv
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
8. Teman-teman Apoteker UI Angkatan LXXIII atas kerjasama dan persahabatan
selama masa perkuliahan dan pelaksanaan PKPA, serta semua pihak yang
tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah banyak membantu
hingga terselesaikannya laporan PKPA ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini.


Namun demikian harapan penulis semoga pengetahuan dan pengalaman yang
penulis dapatkan selama Praktek Kerja Profesi Apoteker ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi pengabdian penulis di masa mendatang dan memberikan manfaat
sebesar-besarnya bagi para pembaca.

Depok, Januari 2012

Penulis

v
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ........................................................................................ i


HALAMAN JUDUL ............................................................................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI......................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................... viii

BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................. 1


1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Tujuan ........................................................................................ 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 3


2.1 Kosmetika ................................................................................... 3
2.2 Cara Pembuatan Kosmetika Yang Baik (CPKB) ........................ 12
2.3 Harmonisasi Regulasi ASEAN di Bidang Kosmetik .................. 21

BAB 3 TINJAUAN KHUSUS PT. FABINDO SEJAHTERA ................... 25


3.1 Sejarah ......................................................................................... 25
3.2 Profil Perusahaan ....................................................................... 26
3.3 Produk dan Perencanaan Produksi ............................................. 32
3.4 Penelitian dan Pengembangan (R&D) ........................................ 33
3.5 Pengawasan dan Pengendalian Mutu .......................................... 36
3.6 Perencanaan Produksi ................................................................ 41
3.7 Pergudangan ................................................................................ 42
3.8 Lingkungan Kerja dan Pengolahan Limbah ............................... 43

BAB 4 TINJAUAN KHUSUS PROSES PRODUKSI KOSMETIK PT.


FABINDO SEJAHTERA…………………………………………... 45
4.1 Produksi Skin Care ..................................................................... 45
4.2 Produksi Pancake, Eye shadow, Blush on, Face powder
dan Talkum ................................................................................. 47
4.3 Produksi Puff ............................................................................... 48
4.4 Produksi Kaleng .......................................................................... 50
4.5 Produksi Parfum dan Hoitong .................................................... 51
4.6 Produksi Lipstik .......................................................................... 53

BAB 5 PEMBAHASAN ................................................................................ 55


5.1 Bangunan dan Fasilitas ............................................................... 56
5.2 Peralatan ...................................................................................... 60
5.3 Sanitasi dan Higiene .................................................................. 60
5.4 Pengolahan, Pengemasan dan Pengawasan mutu ....................... 61
5.5 Dokumentasi dan Pencatatan ...................................................... 62

vi
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 63
6.1. Kesimpulan ................................................................................ 63
6.2. Saran .......................................................................................... 63

DAFTAR REFERENSI ...................................................................................... 64

vii
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tipe produk kosmetik dan kategorinya .............................................. 5


Tabel 2.2 Contoh klaim yang diizinkan dan yang tidak diizinkan secara umum 10

viii
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Setiap wanita tentu ingin tampil cantik, dan karena keinginan itulah upaya
perawatan kecantikan dilakukan dari perawatan wajah sampai bagian tubuh
lainnya. Dalam upaya itu pula, kosmetik dan make up menjadi sesuatu yang
sangat di butuhkan. Sebenarnya, untuk menjadi cantik bukanlah hal yang mudah,
dan muncul dalam waktu yang singkat, tetapi harus dapat dirawat dan di jaga.
Untuk merawat dan menjaga kecantikan dan kebersihan itulah biasanya
wanita menggunakan kosmetik. Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang
siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan
organ kelamin bagian luar), gigi, dan rongga mulut untuk membersihkan,
menambah daya tarik, mengaubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam
keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati
atau menyembuhkan penyakit.
Saat ini banyak sekali kosmetik yang telah beredar di masyarakat, baik
kosmetik yang baik sesuai dengan ketentuan ataupun kosmetik yang dibuat tidak
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kosmetik yang beredar di pasaran tersebut
sebenarnya harus melewati suatu proses pembuatan yang harus disesuaikan
dengan standar pembuatan kosmetika yaitu Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik
(CPKB).
Di karenakan masih banyaknya kosmetika yang tidak sesuai yang beredar
di pasaran, negara anggota ASEAN telah sepakat untuk menetapkan harmonisasi
ASEAN di bidang kosmetik yang sedianya mulai diberlakukan sejak Januari
2008. Namun di Indonesia penerapan harmonisasi ASEAN di bidang kosmetik
diterapkan secara penuh pada tahun 2011 yang mewajibkan pengusaha kosmetik
melakukan notifikasi (pencatatan) dan menyimpan data informasi produk.
Dengan adanya CPKB dan penerapan harmonisasi ASEAN seperti ini,
diharapkan kosmetik yang beredar di pasaran terjamin mutu dan kualitasnya,
sehingga dapat melindungi konsumen dari peredaran produk kosmetik yang dapat

1 Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
2

membahayakan kesehatan konsumen serta untuk menjamin bahwa produk


kosmetik yang diproduksi akan senantiasa memenuhi standar mutu dan keamanan
yang ditetapkan.
Dalam suatu Industri Kosmetik, Apoteker sebagai tenaga kefarmasian,
memiliki peran dan tanggung jawab dalam menjaga mutu dan kualitas dari suatu
kosmetik yang diproduksi. Oleh karenanya seorang apoteker dituntun untuk
memiliki banyak pengetahuan tentang kosmetik sehingga dapat menghasilkan
produk kosmetik yang baik dan juga bermutu yang sesuai dengan Cara Pembuatan
Kosmetik yang Baik (CPKB)
Oleh karena itu program pendidikan profesi apoteker Universitas
Indonesia mengadakan kerjasama dengan PT. Fabindo Sejahtera untuk
memberikan kesempatan kepada calon apoteker menyelenggarakan pelatihan
Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang dilaksanakan mulai tanggal 4 Juli
sampai dengan 29 Juli 2011.

1.2. Tujuan
1.2.1 Memahami penerapan CPKB di industri kosmetik di PT Fabindo
Sejahtera.
1.2.2 Memahami peran dan tanggung jawab Apoteker di dalam industri
kosmetik.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
BAB 2
TINJAUAN UMUM

2.1. Kosmetika
2.1.1. Definisi Kosmetika
Kosmetika adalah Sediaan/paduan bahan yang siap digunakan pada bagian
luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir &organ kelamin luar), gigi dan rongga
mulut untuk: membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampilan,
melindungi supaya dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak
dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan penyakit (Kementerian
Kesehatan, 2010).
2.1.2. Sejarah Kosmetika (Iswari Tranggono, Retno dan Latifah, Fatma, 2008)
Berdasarkan bukti arkeologi, ditemukan merkuri dan timbal yang
digunakan sebagai kosmetik pada bangsa Mesir pada 4000 tahun SM. Kosmetik
pertama yang pernah tercatat berasal dari dinasti pertama kerajaan Mesir, sekitar
3000-2907 SM. Orang-orang Mesir kuno meletakkan kendi-kendi yang berisi
wewangian di kuburan-kuburan. Sediaan minyak wangi juga digunakan oleh pria
maupun wanita Mesir kuno. Pada pertengahan abad pertama SM, kosmetik telah
banyak digunakan oleh orang-orang Romawi yaitu dengan cara menghitamkan
bulu mata dan kelopak mata, kapur untuk memutihkan warna kulit, sediaan
penghilang bulu dan menyikat gigi mereka. Penggunaan kosmetik dimaksudkan
agar penampilan terlihat muda dan sehat. Kosmetik yang berwarna dapat
menyembunyikan pipi yang pucat, bibir pucat, kuku pucat, dan kebotakan rambut.
Pada tahun 1400-an sampai 1800-an, pemutih wajah merupakan produk
kosmetik yang paling banyak digunakan. Campuran karbonat, hidroksida, dan
timbal oksida merupakan komponen yang paling banyak digunakan. Campuran
komponen ini dapat menyebabkan paralisis otot atau bahkan kematian bila
digunakan berulang-ulang. Campuran komponen tersebut digantikan zinc oksida
pada tahun 1800-an. Pada tahun 1920-an, kulit kecoklatan yang diperkenalkan
oleh Coco Channel mulai digemari. Dari ide untuk mendapatkan kulit coklat,
produk kosmetik berkembang dan diproduksi menggunakan warna-warna buatan.

3 Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
4

Seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan pada masa tersebut,


industri kosmetik juga tumbuh pesat. Hal ini menjadi cikal bakal berkembanganya
produksi kosmetik pada skala industri yang memungkinkan terciptanya produk-
produk kosmetik dengan kualitas baik dan harga terjangkau dan pada pertengahan
abad ke-dua puluh, kosmetik digunakan secara luas di seluruh dunia.
2.1.3. Penggolongan Kosmetika (Achyar. L, Lies, 1986)
Berdasarkan bahan dan penggunaannya serta untuk maksud evaluasi
produk kosmetik dibagi 2 (dua) golongan :
2.1.3.1 Kosmetik golongan I adalah :
a. Kosmetik yang digunakan untuk bayi;
b. Kosmetik yang digunakan disekitar mata, rongga mulut dan mukosa lainnya;
c. Kosmetik yang mengandung bahan dengan persyaratan kadar dan penandaan;
d. Kosmetik yang mengandung bahan dan fungsinya belum lazim serta belum
diketahui keamanan dan kemanfaatannya.
2.1.3.2 Kosmetik golongan II adalah kosmetik yang tidak termasuk golongan I.
2.1.4. Klasifikasi Kosmetika (Achyar. L, Lies, 1986)
Berdasarkan kegunaan dan cara bekerjanya kosmetika diklasifikasikan
dalam tiga golongan antara lain:
2.1.4.1 Skin Care Cosmetics
a. Kosmetik pembersih: krim dan busa pembersih muka
b. Kosmetika kondisioner : lotion, krim massage
c. Kosmetika pelindung: krim dan lotion pelembab
2.1.4.2 Make Up Cosmetics
a. Kosmetika dasar: foundation, bedak
b. Make up : lipstik, blusher, eye shadow, eyeliner
c. Perawatan kuku : cat kuku, pembersih cat kuku
2.1.4.3 Body Cosmetics
a. Sabun mandi padat-cair, perlengkapan mandi
b. Suncares dan suntan:krim sunscreen, sun oil
c. Antiperspirant & deodoran:deodorant spray-stick-roll on
d. Bleaching, Depilatory
e. Insect repellent

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
5

2.1.5. Kategori Kosmetik


Berdasarkan fungsinya kosmetik dikategorikan dalam 13 kategori, yaitu:
sediaan bayi, sediaan mandi, sediaan untuk kebersihan badan, sediaan cukur,
sediaan wangi-wangian, sediaan rambut, sediaan pewarna rambut, sediaan rias
mata, sediaan rias wajah, sediaan perawatan kulit, sediaan mandi surya, sediaan
kuku, dan sediaan higiene mulut.

Tabel 2.1. Tipe produk kosmetik dan kategorinya.


No Tipe Produk Kategori
1. Krim, emulsi, cair, cairan kental, gel, minyak Sediaan bayi
untuk kulit (wajah, tangan, kaki dan lain – Sediaan kebersihan
lain) badan
Sediaan perawatan kulit
2. Masker wajah (kecuali produk peeling/ Sediaan perawatan kulit
pengelupasan kulit secara kimiawi)
3. Alas bedak (cairan kental, pasta, serbuk) Sediaan rias wajah
Sediaan rias mata
4. Bedak untuk rias wajah, bedak badan, bedak Sediaan kebersihan
antiseptik dan lain – lain badan
Sediaan bayi
Sediaan rias wajah
Sediaan perawatan kulit
5. Sabun mandi, sabun mandi antiseptic, dan lain Sediaan bayi
– lain Sediaan mandi

6. Sediaan wangi – wangian Sediaan bayi


Sediaan wangi – wangian
7 Sediaan mandi (garam mandi, busa mandi, Sediaan mandi
minyak, gel dan lain – lain) Sediaan perawatan kulit
Sediaan bayi
8. Sediaan depilatory Sediaan rambut

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
6

9. Deodorant dan anti-perspiran Sediaan kebersihan


badan
10. Sediaan rambut Sediaan kebersihan
badan
Sediaan pewarna rambut
Sediaan bayi
11. Sediaan cukur (krim, busa cair, cairan kental, Sediaan cukur
dan lain-lain)
12. Sediaan rias mata, rias wajah, sediaan Sediaan rias mata
pembersih rias wajah dan mata Sediaan rias wajah
Sediaan perawatan kulit
13. Sediaan perawatan dan rias bibir Sediaan rias wajah
14. Sediaan perawatan gigi dan mulut Sediaan higiene mulut
15. Sediaan untuk perawatan dan rias kuku Sediaan kuku
16. Sediaan untuk organ kewanitaan bagian luar Sediaan kebersihan
badan
17. Sediaan mandi surya dan tabir surya Sediaan tabir surya
Sediaan mandi surya
18. Sediaan untuk menggelapkan kulit tanpa Sediaan menggelapkan
berjemur kulit
19. Sediaan pencerah kulit Sediaan perawatan kulit
20. Sediaan anti kerut Sediaan perawatan kulit

2.1.6. Penandaan kosmetika


Setiap produk kosmetika memerlukan penandaan sebagai identitas produk.
Penandaan adalah keterangan yang cukup mengenai manfaat, keamanan dan cara
penggunaan serta informasi lain yang dicantumkan pada etiket dan atau brosur
atau bentuk lain yang disertakan dalam kosmetika. Adapun dalam penandaan
kosmetika harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Penandaan harus memenuhi persyaratan berbentuk tulisan yang berisi
keterangan mengenai kosmetika secara objektif, lengkap dan tidak menyesatkan.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
7

b. Dapat berbentuk gambar, warna, tulisan atau kombinasi antara ketiganya atau
bentuk lainnya yang disertakan pada kemasan atau dimasukkan dalam kemasan
atau merupakan bagian dari wadah dan/atau kemasannya.
c. Harus berisi informasi yang lengkap dengan mencantumkan tidak hanya
informasi tentang kemanfaatan, tetapi juga memberikan informasi tentang hal –
hal yang harus diperhatikan berupa peringatan dan efek yang tidak diinginkan.
d. Harus berisi informasi yang objektif dengan memberikan informasi sesuai
dengan kenyataan yang ada dan tidak boleh menyimpang dari sifat kemanfaatan
dan keamanan kosmetika yang dinotifikasi.
e. Harus berisi informasi yang tidak menyesatkan dengan memberikan informasi
yang jujur, akurat, bertanggung jawab, dan tidak boleh memanfaatkan kekuatiran
masyarakat akan suatu masalah kesehatan.
f. Tidak boleh berisi informasi seolah – olah sebagai obat
g. Mudah dibaca, menggunakan huruf sekurang – kurangnya seukuran huruf
Times New Roman ukuran lima dengan latar belakang menggunakan warna
kontras serta tidak dikaburkan oleh lukisan atau gambar dengan tulisan lain,
cetakan atau ilustrasi.
h. Penandaan harus tidak mudah rusak karena air, gesekan, pengaruh udara atau
sinar matahari.
i. Penandaan harus menggunakan bahasa Indonesia dan/atau bahasa Inggris,
khusus untuk keterangan kegunaan, cara penggunaan dan peringatan serta
keterangan lain yang dipersyaratkan harus menggunakan bahasa Indonesia.

2.1.7. Informasi Dalam Penandaan


Informasi yang diperlukan dalam penandaan kosmetik adalah:
a. Nama kosmetika, berupa nama dagang dan tidak menggunakan nama yang
dapat menyesatkan konsumen
b. Kegunaan (dikecualikan untuk kosmetika yang sudah jelas cara
penggunaannya)
c. Komposisi lengkap dan jelas, menggunakan nama bahan sesuai dengan nam
International Nomenclature Cosmetic Ingredients (INCI), bahan alam berasal dari
tumbuhan atau ekstrak tumbuhan ditulis dalam nama genus dan spesiesnya, bahan

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
8

yang berasal dari hewan dicantumkan nama hewan asal dalam bahasa Indonesia di
belakang nama bahan tersebut.
d. Bahan dengan kadar kurang dari 1% boleh ditulis tidak berurutan, bahan
pewarna dapat ditulis tidak berurutan setelah bahan lain dengan menggunakan
nomor Indeks Perwarna (Color Index/CI) serta bahan parfum dan aromatis ditulis
“perfume”, “flavor” atau “fragrance”
e. Nama dan Negara produsen (Negara tempat perusahaan yang memproduksi
kosmetika). Bila ada, dicantumkan pula :
1) Nama pemberi lisensi untuk kosmetika lisensi
2) Nama industry yang melakukan pengemasan primer untuk kosmetika yang
dikemas dalam kemasan primer oleh industry yang terpisah dari indutri
pembuat
f. Nama dan alamat lengkap produsen/importer/distributor yang bertanggung
jawab terhadap peredaran kosmetika di wilayah Indonesia.
g. Nomor bets
h. Ukuran, isi atau berat bersih mengikuti satuan metric atau metric dan sistem
imperial
i. Tanggal pembuatan dan/atau tanggal kadaluarsa dengan penulisan :
1) Terdiri dari tanggal, bulan dan tahun atau bulan dan tahun dengan format
“DDMMYY” atau “MMYY”
2) Sebelum penulisan tanggal bulan dan tahun diawali kata “ tanggal
pembuatan” (“manufacturing date”) atau singkatan “MFG” atau “tanggal
kadaluarsa” (“expired date”) atau singkatan “EXP” atau “digunakan sebelum”
(“best before”).
Bagi kosmetika yang stabilitasnya kurang dari 30 bulan harus mencantumkan
tanggal kadaluarsa
j. Peringatan/perhatian/keterangan lain yang dipersyaratkan :
1) Peringatan/perhatian/keterangan lain khususnya yang tercantum pada
peraturan tentang bahan kosmetika dalam kolom “penandaan/peringatan”
2) Peringatan pada sediaan aerosol sebagai berikut:
Perhatian ! jangan sampai kena mata dan jangan dihirup.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
9

Awas! Isi bertekanan tinggi, dapat meledak pada suhu di atas 500C, jangan
ditusuk, jangan disimpan di tempat panas, di dekat api, atau dibuang di tempat
pembakaran sampah.
3) Tanda peringatan “PERHATIAN”, “AWAS”, atau tanda peringatan lain.
4) Penandaan kosmetika harus tercantum pada wadah dan/atau pembungkus.
Apabila penandaan secara lengkap hanya tercantum pada pembungkus atau
dalam hal keterbatasan ukuran dan bentuk wadah, maka penandaan pada
wadah harus memuat informasi sekurang-kurangnya nama kosmetika, nomor
bets dan netto/ukuran/isi/berat bersih.
5) Informasi lainnya dapat dicantumkan pada pembungkus atau pada etiket
gantung, brosur, shrink wrap yang disertakan pada kosmetika.

2.1.8. Klaim Kosmetika


Klaim kosmetika adalah pernyataan berupa informasi mengenai manfaat,
keamanan dan/atau hal lain yang dicantumkan pada kosmetika. Klaim harus
memenuhi persyaratan objektif, tidak berlebihan, tidak menyesatkan, dan tidak
diklaim sebagai obat atau seolah – olah sebagai obat. Klaim keamanan dan
kemanfaatan harus berdasarkan pembuktian secara ilmiah.
2.1.8.1 Pembuktian klaim yang bersifat kualitatif secara ilmiah dapat berdasarkan
sumber pustaka dan/atau hasil uji keamanan atau kemanfaatan :
a. Sumber pustaka antara lain sebagai berikut :
1) Farmakope Indonesia atau farmakope Negara lain yang diakui
2) Kodeks kosmetika Indonesia
3) Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia
tentang Bahan Kosmetika
4) ASEAN Cosmetic Directive
b. Hasil uji keamanan atau kemanfaatan secara in vitro dan/atau in vivo
2.1.8.2 Pembuktian klaim yang bersifat kuantitatif harus berdasarkan hasil uji
kemanfaatan secara in vitro dan/atau in vivo serta dapat dilengkapi data lain yang
relevan atau mendukung.
Contoh klaim pada kosmetika yang diizinkan dan yang tidak diizinkan secara
umum dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
10

Tabel 2.2. Contoh klaim yang diizinkan dan yang tidak diizinkan secara umum
No Klaim Kosmetika Klaim yang diizinkan Klaim yang tidak diizinkan
1. Klaim  Melindungi dari  Memperbaiki tekstur kulit
kemanfaatan sinar matahari atau tekstur jaringan lemak
 Melembabkan di bawah kulit
 Membersihkan  Mengencangkan otot
kulit daerah Rahim
 Menyegarkan kulit  Mengencangkan kulit
2. Klaim keamanan  hypoallergenic
 dermatology tested
 ophthalmology
tested
3. Rekomendasi “didesain atau  Direkomendasikan oleh
diformulasikan oleh dokter, dokter gigi,
……… (apabila ada apoteker, pakar di bidang
data pendukung) kosmetika atau organisasi
profesi (IDI, PDGI,
IAI/ISFI) atau yang
sejenisnya untuk
menggunakan produk
tersebut.
 Telah diuji secara klinis
oleh fakultas…..
 Hasil uji in vitro di
laboratorium
4. Pesan kesehatan Pesan kesehatan dari
organisasi profesi di
bidang kesehatan,
seperti :
 “mandilah dua kali
sehari untuk

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
11

menjaga kesehatan”
 “untuk menjaga
kesehatan gigi,
gosoklah gigi
minimal dua kali
sehari dan gosok
gigi sebelum tidur”
5. Kata – kata atau  Tidak mengandung/ tidak
gambar menggunakan/ bebas….
(hidrokinon, merkuri,
dietilen glikol atau bahan
lain yang dilarang dalam
kosmetika)
 Gambar palang dengan
warna merah atau hijau
 “bebas”, “aman”,
“ampuh”, “membasmi”
 Menggunakan peragaan
tenaga kesehatan atau
yang mirip dengan itu
misalnya menggunakan
gambar seorang konsultan
kesehatan gigi
 Bertentangan dengan
norma kesusilaan

2.1.9. Bahan Kosmetika


Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan
pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital
bagian luar) atau gigi dan membrane mukosa mulut terutama untuk
membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan/atau memperbaiki bau
badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik (Modul 5:

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
12

Penandaan/Peringatan Untuk Bahan Kosmetika dengan Pembatasan Penggunaan,


2010). Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kosmetika harus memenuhi
standar persyaratan mutu serta persyaratan lain yang ditetapkan oleh Kodeks
Kosmetika Indonesia ataupun standar yang diakui (Modul 2: Peraturan-Peraturan
di Bidang Kosmetika, 2010). Menurut Modul 2: Peraturan-peratuan di Bidang
Kosmetika, terdapat beberapa istilah dalam bidang kosmetika antara lain:
a. Bahan Kosmetika
Bahan kosmetika adalah bahan atau campuran yang berasal dari alam dan atau
sintetik yang merupakan komponen kosmetika.
b. Bahan Pewarna
Bahan pewarna adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk
memberi dan atau memperbaiki warna pada kosmetika.
c. Bahan Pengawet
Bahan pengawet adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk
mencegah kerusakan kosmetika yang disebabkan oleh mikroorganisme.
d. Bahan Tabir Surya
Bahan tabir surya adalah bahan yang digunakan untuk melindungi kulit dari
radiasi sinar ultra violet dengan cara menyerap, memancarkan dan
menghamburkan.
e. Bahan yang Dilarang
Bahan yang dilarang merupakan bahan yang tidak boleh digunakan dalam
kosmetika.
f. Bahan Kosmetika dengan Pembatasan
Bahan kosmetika dengan pembatasan adalah bahan yang diizinkan untuk
digunakan dalam kosmetika dengan pembatasan penggunaan, kadar maksimum,
persyaratan lain dan persyaratan penandaan.

2.2. Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB)


Kosmetika yang diedarkan harus diproduksi dengan menerapkan Cara
Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB). Penerapan CPKB merupakan
persyaratan kelayakan dasar untuk menerapkan sistem jaminan mutu dan
keamanan yang diakui oleh dunia internasional.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
13

Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) adalah seluruh aspek


kegiatan pembuatan kosmetika yang bertujuan untuk menjamin agar produk yang
dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan sesuai dengan
tujuan penggunaannya. Tujuan Penerapan CPKB adalah untuk menghasilkan
kosmetika yang memenuhi spesifikasi, identitas, dan karakteristik yang
ditetapkan. Kosmetika tersebut tidak boleh mengandung bahan-bahan yang dapat
membahayakan kesehatan atau keselamatan manusia (penyakit/keracunan).
Manfaat CPKB bagi industri adalah dapat menghilangkan ketergantungan
terhadap individu melalui sistem dokumentasi dan metode pelatihan,
meningkatkan mutu dalam pengambilan keputusan oleh manajemen melalui audit
internal, pengendalian data dan dokumen serta tinjauan manajerial dan
meningkatkan kepercayaan konsumen melalui penerapan CPKB yang efektif dan
efisien, sehingga industri tersebut dapat berkembang dengan pesat. Kosmetika
yang diproduksi dapat terjamin konsistensinya, mutu kosmetika meningkat secara
berkesinambungan, nilai tambah dan daya saing produk meningkat dalam era
pasar bebas.
Dengan berkembangnya industri kosmetika yang bermutu maka konsumen
akan terlindung dari penggunaan kosmetika yang tidak memenuhi persyaratan
standar mutu dan keamanan. Aspek-aspek dalam CPKB mencakup kondisi dan
cara-cara produksi yang baik dari sejak bahan baku masuk ke pabrik sampai
menjadi produk akhir termasuk persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi
yaitu:
2.2.1 Sistem Manajemen Mutu
Sistem mutu harus dibangun, dimantapkan dan diterapkan sesuai dengan
tujuan yang ditetapkan yang dijabarkan dalam bentuk struktur organiasasi, tugas
dan fungsi, tanggung jawab, prosedur, instruksi, proses dan SDM. Sistem mutu
dibentuk dan disesuaikan dengan kegiatan perusahaan. Pelakasanaan sistem
manajemen mutu dapat menjamin bahwa keputusan meluluskan atau menolak
didasarkan atas hasil uji dan kenyataan yang dijumpai berkaitan dengan mutu.
2.2.2 Personalia
Personil harus mempunyai kualifikasi, pengetahuan, pengalaman dan
kemampuan yang sesuai dengan tugas dan fungsinya, tersedia dalam jumlah yang

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
14

cukup dan dalam keadaan sehat. Personil kunci harus mempunyai kualifikasi dan
pengalaman praktis yang memadai.
Tanggung jawab tiap-tiap personil harus dipahami secara jelas oleh
masing-masing individu. Semua personil harus dilatih dalam pelaksanaan CPKB
dan pelatihan harus dilakukan secara berkesinambungan.
Dalam struktur organisasi perusahaan, bagian produksi dan pengawasan
mutu hendaklah dipimpin oleh orang yang berbeda dan tidak ada keterkaitan
tanggung jawab satu sama lain. Kepala bagian produksi harus memperoleh
pelatihan yang memadai dan berpengalaman dalam pembuatan kosmetik. Ia harus
mempunyai kewenangan dan tanggungjawab dalam manajemen produksi yang
meliputi semua pelaksanaan kegiatan, peralatan, personalia produksi, area
produksi dan pencatatan. Kepala bagian pengawasan mutu harus memperoleh
pelatihan yang memadai dan berpengalaman dalam bidang pengawasan mutu. Ia
harus diberi kewenangan penuh dan tanggungjawab dalam semua tugas
pengawasan mutu meliputi penyusunan, verifikasi dan penerapan semua prosedur
pengawasan mutu. Ia mempunyai kewenangan menetapkan persetujuan atas bahan
awal, produk antara, produk ruahan dan produk jadi yang telah memenuhi
spesifikasi, atau menolaknya apabila tidak memenuhi spesifikasi, atau yang dibuat
tidak sesuai prosedur dan kondisi yang telah ditetapkan.
2.2.3 Bangunan dan fasilitas
Dirancang dan dibangun sesuai dengan kaidah dan dipilih lokasi yang
sesuai untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi silang dan kesalahan dalam
proses produksi dan pembuatan serta mencegah terjadinya risiko campur baur.
Bangunan harus mudah dirawat dan dibersihkan secara efektif untuk
mencegah kontaminasi produk dari lingkungan sekitar.
Bangunan didesain dengan memperhitungkan alur orang dan material serta
luas ruangan yang memadai sehingga memungkinkan penempatan peralatan dan
area yang cukup untuk karyawan bekerja.
Bangunan dan fasilitas harus dipilih pada lokasi yang sesuai, dirancang,
dibangun, dan dipelihara sesuai kaidah.
a. Upaya yang efektif harus dilakukan untuk mencegah kontaminasi dari
lingkungan sekitar dan hama.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
15

b. Produk kosmetik dan Produk perbekalan kesehatan rumah tangga yang


mengandung bahan yang tidak berbahaya dapat menggunakan sarana dan
peralatan yang sama secara bergilir asalkan dilakukan usaha pembersihan dan
perawatan untuk menjamin agar tidak terjadi kontaminasi silang dan risiko
campur baur.
c. Garis pembatas, tirai plastik penyekat yang fleksibel berupa tali atau pita dapat
digunakan untuk mencegah terjadinya campur baur.
d. Hendaknya disediakan ruang ganti pakaian dan fasilitasnya. Toilet harus
terpisah dari area produksi guna mencegah terjadinya kontaminasi.
e. Apabila memungkinkan hendaklah disediakan area tertentu, antara lain:
1) Penerimaan material;
2) Pengambilan contoh material;
3) Penyimpanan barang datang dan karantina;
4) Gudang bahan awal.
5) Penimbangan dan penyerahan;
6) Pengolahan;
7) Penyimpanan produk ruahan;
8) Pengemasan;.
9) Karantina sebelum produk dinyatakan lulus.
10) Gudang produk jadi;
11) Tempat bongkar muat;
12) Laboratorium;
13) Tempat pencucian peralatan.
f. Permukaan dinding dan langit-langit hendaknya halus dan rata serta mudah
dirawat dan dibersihkan. Lantai di area pengolahan harus mempunyai permukaan
yang mudah dibersihkan dan disanitasi.
g. Saluran pembuangan air (drainase) harus mempunyai ukuran memadai dan
dilengkapi dengan bak kontrol serta dapat mengalir dengan baik. Saluran terbuka
harus dihindari, tetapi apabila diperlukan harus mudah dibersihkan dan disanitasi.
h. Lubang untuk pemasukan dan pengeluaran udara dan pipa-pipa salurannya
hendaknya dipasang sedemikian rupa sehingga dapat mencegah timbulnya
pencemaran terhadap produk.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
16

i. Bangunan hendaknya mendapat penerangan yang efektif dan mempunyai


ventilasi yang sesuai untuk kegiatan dalam bangunan.
j. Pipa, fittting lampu, lubang ventilasi dan perlengkapan lain di area produksi
harus dipasang sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya ceruk yang sukar
dibersihkan dan sebaiknya dipasang di luar area pengolahan.
k. Laboratorium hendaknya terpisah secara fisik dari area produksi.
l. Area gudang hendaknya mempunyai luas yang memadai dengan penerangan
yang sesuai, diatur dan diberi perlengkapan sedemikian rupa sehingga
memungkinkan penyimpanan bahan dan produk dalam keadaan kering, bersih dan
rapi.
1) Area gudang hendaknya harus memungkinkan pemisahan antara
kelompok material dan produk yang dikarantina. Area khusus dan terpisah
hendaklah
2) Tersedia untuk penyimpanan bahan yang mudah terbakar dan bahan yang
mudah meledak, zat yang sangat beracun, bahan yang ditolak atau ditarik serta
produk kembalian.
3) Apabila diperlukan hendaknya disediakan gudang khusus dimana suhu dan
4) Kelembabannya dapat dikendalikan serta terjamin keamanannya.
5) Penyimpanan bahan pengemas / barang cetakan hendaklah ditata
sedemikian rupa sehingga masing-masing tabet yang berbeda, demikian pula
bahan cetakan lain tersimpan terpisah untuk mencegah terjadinya campur baur
2.2.4 Peralatan
Peralatan di desain sedemikian rupa sesuai produk yang dibuat, tidak
bereaksi dengan bahan yang diolah atau menyerap bahan dan mudah dibersihkan.
Penempatan tidak menyebabkan kemacetan aliran proses produksi dan campur
baur antar produk. Peralatan di pelihara atau di kalibrasi secara berkala untuk alat
timbang atau ukur.
2.2.5 Sanitasi dan higiene
Dilakukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi terhadap kosmetik
yang diolah. Pelakasanaan sanitasi dan higiene mencakup personalia, bangunan,
mesin-mesin, peralatan, bahan awal dan lingkungan. Protap-protap dan catatan
sanitasi dan higiene dibuat untuk diikuti secara konsisten.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
17

2.2.6 Proses Produksi


Proses produksi mulai dari bahan awal sampai dengan produk jadi harus
sesuai dengan Prosedur Operasional Baku (POB) yang ditetapkan sebagai berikut:
2.2.6.1 Air
a. Air harus mendapat perhatian khusus karena merupakan bahan penting.
Peralatan untuk memproduksi air dan sistem pemasokannya harus dapat memasok
air yang berkualitas. Sistem pemasokan air hendaknya disanitasi sesuai Prosedur
Tetap.
b. Air yang digunakan untuk produksi sekurang-kurangnya berkualitas air
minum. Mutu air yang meliputi parameter kimiawi dan mikrobilologi harus
dipantau secara berkala, sesuai prosedur tertulis dan setiap ada kelainan harus
segera ditindak lanjuti dengan tindakan koreksi.
c. Pemilihan metoda pengolahan air seperti deionisasi, destilasi atau filtrasi
tergantung dari persyaratan produk. Sistem penyimpanan maupun pendistribusian
harus dipelihara dengan baik.
d. Perpipaan hendaklah dibangun sedemikian rupa sehingga terhindar dari
stagnasi dan resiko terjadinya pencemaran.
2.2.6.2 Verifikasi material (bahan)
a. Semua pasokan bahan awal (bahan baku dan bahan pengemas) hendaklah
diperiksa dan diverifikasi mengenai pemenuhannya terhadap spesifikasi yang
telah ditetapkan dan dapat ditelusuri sampai dengan produk jadinya.
b. Contoh bahan awal hendaklah diperiksa secara fisik mengenai pemenuhannya
terhadap spesifikasi yang ditetapkan, dan harus dinyatakan lulus sebelum
digunakan.
c. Bahan awal harus diberi label yang jelas.
d. Semua bahan harus bersih dan diperiksa kemasannya terhadap kemungkinan
terjadinya kebocoran, lubang atau terpapar.
2.2.6.3 Pencatatan bahan
a. Semua bahan hendaklah memiliki catatan yang lengkap mengenai nama bahan
yang tertera pada label dan pada bukti penerimaan, tanggal penerimaan, nama
pemasok, nomor bets dan jumlah.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
18

b. Setiap penerimaan dan penyerahan bahan awal hendaklah dicatat dan


diperiksa secara teliti kebenaran identitasnya.
2.2.6.4 Material ditolak (reject)
Pasokan bahan yang tidak memenuhi spesifikasi hendaknya ditandai,
dipisah dan untuk segera diproses lebih lanjut sesuai Prosedur Tetap.
2.2.6.5 Sistem penomoran bets
a. Setiap produk antara, produk ruahan dan produk akhir hendaklah diberi nomor
identitas produksi (nomor bets) yang dapat memungkinkan penelusuran kembali
riwayat produk.
b. Sistem pemberian nomor bets hendaknya spesifik dan tidak berulang untuk
produk yang sama untuk menghindari kebingungan / kekacauan.
c. Bila memungkinkan, nomor bets hendaknya dicetak pada etiket wadah dan
bungkus luar.
d. Catatan pemberian nomor bets hendaknya dipelihara.
2.2.6.6 Penimbangan dan pengukuran
a. Penimbangan hendaknya dilakukan di tempat tertentu menggunakan peralatan
yang telah dikalibrasi.
b. Semua pelaksanaan penimbangan dan pengukuran harus dicatat dan dilakukan
pemeriksaan ulang oleh petugas yang berbeda.
2.2.6.7 Prosedur dan pengolahan
a. Semua bahan awal harus lulus uji sesuai spesifikasi yang ditetapkan.
b. Semua prosedur pembuatan harus dilaksanakan sesuai prosedur tetap tertulis.
c. Semua pengawasan selama proses yang diwajibkan harus dilaksanakan dan
dicatat.
d. Produk ruahan harus diberi penandaan sampai dinyatakan lulus oleh Bagian
Pengawasan Mutu.
e. Perhatian khusus hendaknya diberikan kepada kemungkinan terjadinya
kontaminasi silang pada semua tahap proses produksi.
f. Hendaknya dilakukan pengawasan yang seksama terhadap kegiatan
pengolahan yang memerlukan kondisi tertentu, misalnya pengaturan suhu,
tekanan, waktu dan kelembaban.
g. Hasil akhir proses produksi harus dicatat.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
19

2.2.6.8 Produk kering


a. Masalah yang sering muncul dalam pengolahan produk kering adalah debu
dan cara pengendaliannya.
b. Pencegahan yang dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengendali debu
(dust collector) di ruang penimbangan, pencampuran dan pengemasan primer
serta terpisah dari ruang produksi basah.
c. Produk basah
Diproduksi sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya kontaminasi mikroba atau
kontaminasi lainnya.
2.2.7 Pengawasan Mutu
CPKB merupakan bagian dari sistem jaminan mutu (Quality Assurance)
yang akan memastikan bahwa produk yang dihasilkan diproduksi dan dikontrol
secara konsisten dan dapat dipercaya.
Sistem manajemen pengawasan mutu yang memadai sangat diperlukan.
Semua aspek CPKB harus dilakukan di bawah Bagian Pengawasan Mutu untuk
menjamin konsistensi mutu kosmetika yang dihasilkan.
2.2.8 Dokumentasi
Merupakan bukti untuk menunjukkan pemenuhan tehadap pelaksanaan
CPKB. Setiap tahapan kegiatan produksi didokumentasi secara tertulis untuk
mencegah kesalahan yang mungkin timbul dari komunikasi lisan/verbal ataupun
yang tertulis dengan bahasa sehari-hari.
Dokumentasi mencakup riwayat setiap bets mulai dari bahan awal sampai
menjadi produk jadi termasuk aktivitas pemeliharaan peralatan, penyimpanan,
pengawasan dan pendistribusian serta hal – hal lain yang terkait dengan CPKB.
2.2.9 Audit Internal
Merupakan kegiatan penilaian dan pengujian terhadap seluruh atau
sebagian dari aspek produksi dan pengendalian mutu untuk meningkatkan sistem
mutu. Pelaksanaan audit internal dapat diperluas sampai tingkat pemasok dan
kontraktor. Aktivitas audit meliputi perencanaan dan penjadwalan, pelaksanaan
pengkajian dokumen, mempersiapkan pelaksaan audit, pelaksanaan audit,
pelaporan dan pelaksanaan tidak lanjut.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
20

2.2.10 Penyimpanan
Area penyimpanan didesain sedemikian rupa untuk memungkinkan
penyimpanan yang memadai dari berbagai hasil tahapan produksi (bahan awal,
produk jadi, produk karantina, produk lulus uji/ditolak, produk
kembalian/penarikan dari peredaran)
Dibangun pada lokasi dan menggunakan bahan yang sesuai dengan
peruntukkannya sehingga bahan yang disimpan dapat terlindung dan aman dari
orang yang tidak berkepentingan terhadap penyimpanan.
Area cukup luas untuk memungkinkan penyimpanan yang memadai dan
dalam kondisi yang baik, sehingga mencegah terjadinya campur baur dan
kerusakan bahan, dilengkapi dengan fasilitas penyimpanan yang diperlukan
seperti sistem penerangan yang memadai, AC, alat pengamanan (alarm tanda
kebakaran, pakaian pelindung untuk petugas, pemadam kebakaran, forklift, dan
sebagainya). Area penyimpanan untuk produk karantina hendaknya diberi batas
secara jelas.
2.2.11 Kontrak Produksi dan Pengujian
Kontrak produksi dan pengujian dilakukan apabila fasilitas produksi dan
pengujian tidak memadai sesuai dengan jenis produk yang akan dibuat.
Kesepakatan (kontrak) dibuat dengan jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman atau
salah penafsiran yang dapat berakibat tidak memuaskannya mutu atau pekerjaan.
Tugas dan tanggung jawab masing – masing pemberi kontrak dengan penerima
kontrak harus disebuntukan secara jelas. Keputusan akhir terhadap hasil pengujian
suatu produk merupakan tanggung jawab pemberi kontrak.
Persyaratan sebagai penerima kontrak :
a. Produksi : penerima kontrak menerapkan CPKB dalam melakukan proses
produksinya
b. Pengujian : laboratorium telah terkualifikasi
2.2.12 Penanganan Keluhan dan Penarikan Produk
Keluhan adalah laporan mengenai produk yang mengalami kerusakan
(defect), efek yang tidak diinginkan atau merugikan yang disampaikan oleh
konsumen atau pihak internal maupun eksternal perusahaaan. Harus ada personil
yang bertanggung jawab menangani atau menyelidiki keluhan, mengidenfikasi

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
21

produknya, mengatur penarikan dan memonitor terjadinya efek yang tidak


diinginkan. Semua kegiatan penanganan keluhan dan penarikan produk dilakukan
sesuai POB serta dicatat (terdokumentasi). Penarikan produk adalah suatu proses
yang dilakukan oleh orang/perusahaan yang bertanggung jawab atas penempatan
produk di pasaran untuk menarik produknya dari semua jalur distribusi. penarikan
produk dilakukan sehubungan dengan produk yang mempunyai cacat mutu kritis
atau menimbulkan efek yang tidak diinginkan secara serius yang mempunyai
risiko terhadap kesehatan pemakai atau keamanan.
Penarikan produk dapat dilakukan secara :
Sukarela : keluhan dari konsumen
Wajib : dari badan otoritas setempat (BPOM) perlu dibuat sistem
penarikan kembali produk yang bermasalah dengan cepat dan efektif mengandung
“tiomerosal”.

2.3. Harmonisasi Regulasi ASEAN Di Bidang Kosmetik


Harmonisasi regulasi ASEAN di bidang kosmetik merupakan regulasi
baku di bidang kosmetik yang disetujui oleh negara anggota ASEAN untuk
diterapkan di masing-masing negara. Skema harmonisasi regulasi ASEAN di
bidang kosmetik (ASEAN Harmonized Cosmetic Regulatory Scheme/AHCRS)
terdiri dari schedule A dan schedule B.
a. Schedule A
Merupakan pengakuan para anggota negara ASEAN terhadap persetujuan
registrasi kosmetik atau yang dikenal dengan Mutual Recognition Arrangement
(MRA). Hal ini berarti registrasi kosmetik yang diproses dan disetujui oleh satu
negara diterima dan diakui oleh Negara anggota ASEAN lainnya yang
menandatangani MRA tersebut. Schedule A berlangsung dari tahun 2003 hingga
tahun 2007.
b. Schedule B
Merupakan penerapan peraturan kosmetik ASEAN (ASEAN Cosmetic
Directive/ ACD). Hal ini merupakan perubahan sistem pengawasan kosmetik dari
persetujuan sebelum beredar (pre-market approval) menjadi sitem pengawasan
setelah beredar (post-market surveillance). Seluruh negara ASEAN sepakat untuk

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
22

menerapkan Schedule B mulai 1 Januari 2008. Dalam sidang ASEAN Cosmetic


Committee (ACC) Indonesia telah menyatakan tidak akan mengikuti Schedule A
tetapi mengikuti Schedule B yang akan menerapkan ACD pada 1 Januari 2008.
Namun sampai saat ini Indonesia belum menetapkan Harmonisasi ASEAN di
bidang kosmetik dikarenakan hambatan regulasi dan pertimbangan bahwa
industry kosmetik yang terdapat di Indonesia lebih banyak terdiri dari industri
kecil dan rumahan sehingga pada tahun 2008 ini Indonesia belum menetapkan
ACD. Ditargetkan pada tahun 2011, Indonesia telah menetapkan peraturan
kosmetik ASEAN.

2.3.1. Tujuan AHCRS


Tujuan AHCRS yaitu untuk menghilangkan hambatan teknis dengan
menyelaraskan peraturan dan persyaratan teknis di ASEAN tanpa mengabaikan
mutu dan keamanan kosmetik. Hal ini akan membantu perdagangan kosmetik di
antara negara ASEAN dan meningkatkan persaingan industri kosmetik ASEAN di
tingkat global. Negara ASEAN mendukung visi harmonisasi regulasi di bidang
kosmetik karena akan memberikan manfaat bagi semua pihak terkait, antara lain:
2.3.1.1 Konsumen (pilihan yang lebih luas terhadap kosmetik yang aman dan
bermutu).
2.3.1.2 Pemerintah (sistem regulasi lebih sederhana).
2.3.1.3 Industri kosmetik (membuka ASEAN sebagai pasar tunggal dengan 500
juta konsumen). Pemerintah menyarankan sejak awal agar setiap industri
kosmetik aktif mengikuti segala informasi tentang AHCRS dan berpartisipasi
dalam penyebaran informasi, seminar, workshops, dan lain-lain untuk
meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang AHCRS.
2.3.1.4 Peraturan Kosmetik ASEAN (ASEAN Cosmetic Directive/ACD)
2.3.1.5 ACD (ASEAN Cosmetic Directive) adalah peraturan ASEAN di bidang
Kosmetik yang menjadi acuan peraturan bagi negara anggota ASEAN dalam
pengawasan kosmetik yang beredar di ASEAN. ACD diberlakukan pada 1 Januari
2008. Industri atau perusahaan yang akan mengedarkan kosmetik bertanggung
jawab terhadap mutu dan keamanan kosmetik yang diedarkan. Untuk itu, industri
atau perusahaan harus:

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
23

a. Menotifikasikan produknya kepada Badan POM RI.


b. Menyimpan data mutu dan keamanan produknya (Product Information File/
PIF) yang siap untuk diperiksa sewaktu-waktu oleh petugas Badan POM RI.
c. Melakukan monitoring mutu dan keamanan produknya yang telah beredar
dipasaran.
Manfaat penerapan ACD adalah sebagai berikut:
a. Siklus perdagangan kosmetik menjadi relatif singkat.
b. Hasil inovasi kosmetik dapat lebih cepat sampai pada konsumen.
c. Konsumen akan memiliki kesempatan lebih luas untuk memilih produknya.
d. Industri kosmetik terpacu membuat database keamanan bahan dan produknya.

Dampak ACD Terhadap Industri Kosmetik


Industri kosmetik atau perusahaan yang mengedarkan kosmetik
bertanggung jawab penuh terhadap mutu dan keamanan produknya. Untuk itu,
setiap industri atau perusahaan kosmetik harus memahami dan mematuhi semua
ketentuan ACD. Untuk mempersiapkan hal tersebut, industri atau perusahaan
kosmetik diatas diharapkan bekerja sama dengan pemerintah baik langsung
ataupun melalui asosiasi perusahaan kosmetik (PERKOSMI). Langkah-langkah
yang harus dilakukan oleh industri kosmetik untuk memenuhi ketentuan ACD:
a. Memahami semua ketentuan ACD beserta lampiran-lampiran, yaitu bahan
yang dilarang, dibatasi dan diizinkan (bahan pengawet, pewarna dan tabir surya).
b. Memastikan bahwa semua ketentuan ACD dan dokumen teknisnya telah
dipenuhi, khususnya ketentuan tentang mutu dan keamanan kosmetik.
c. Menyampaikan notifikasi kepada Badan POM RI bila kosmetik tersebut akan
diedarkan di wilayah Indonesia serta membayar biaya notifikasi sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bila kosmetik akan diekspor ke
negara ASEAN lainnya, notifikasi dilakukan pada pemerintah di negara tersebut.
d. Menjamin ketersediaan informasi mengenai data teknis dan keamanan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ACD tentang PIF, sehingga siap untuk
diperiksa atau diminta setiap saat oleh petugas pengawas Badan POM RI.
e. Melakukan monitoring mutu dan efek yang tidak dikehendaki yang terjadi
setelah kosmetik dipasarkan. Bila terjadi efek yang tidak dikehendaki segera

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
24

melaporkannya pada Badan POM RI. Peran Badan POM RI Berkenaan dengan
Diberlakukannya ACD Badan POM RI mempunyai komitmen untuk melindungi
konsumen dengan memastikan bahwa kosmetik yang beredar memenuhi
ketentuan ACD dan mendorong kemajuan industri kosmetik. Untuk itu, Badan
POM RI melakukan kegiatan sebagai berikut:
1) Pelayanan notifikasi
2) Pemberian Komunikasi Informasi dan Edukasi kepada konsumen pelaku
usaha, seperti sosialisasi dengan penyuluhan keamanan dalam pelatihan teknis
dan memberikan informasi.
3) Pelaksanaan Post-Market Surveillance (PMS)/ Product Safety Evaluation
(PSE) setelah produk dinotifikasi.
4) Pengawasan iklan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5) Pengumuman kepada masyarakat mengenai produk yang tidak memenuhi
persyaratan keamanan ACD.
6) Pemberian sanksi administratif bagi perusahaan yang melanggar ketentuan
ACD sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (pemberian
surat peringatan, penarikan produk, penghentian sementara kegiatan).
7) Tindakan pro justicia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Pengawasan Kosmetik Setelah Beredar (Post Marketing Surveillance/
PMS) adalah pengawasan yang dilakukan oleh Badan POM RI untuk memastikan
bahwa kosmetik yang beredar sesuai dengan ketentuan ACD. Kegiatan PMS
meliputi pemeriksaan sarana untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan
ACD, melakukan pemeriksaan dokumen PIF dalam rangka evaluasi terhadap
mutu dan keamanan kosmetik. Selain itu, melakukan sampling di industri atau
importir atau distributor atau pengecer untuk diuji di laboratorium. melakukan
monitoring terhadap efek yang tidak diinginkan. Petugas Badan POM RI dapat
meminta laporan pengujian laboratorium dari industri atau perusahaan kosmetik
jika diperlukan.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
BAB 3
TINJAUAN KHUSUS PT. FABINDO SEJAHTERA

3.1 Sejarah Umum Perusahaan


Pada tahun 1968, Mr. Kuntoro Lie, Mr. Tjong dan pengusaha dari
Hongkong mendirikan perusahaan kosmetik yang diberi nama “PT. Samfong
Cosmetic” yang berdomosili di Jalan Kertajaya Penjaringan Jakarta Utara, dengan
jumlah karyawan sebanyak 100 orang. Jenis Produk yang dihasilkan antara lain
bedak, talcum, dan perfume yang sampai saat ini masih dipertahankan, karena
banyak pelanggan yang masih fanatik dengan produk tersebut. Pada awalnya,
perusahaan hanya memproduksi Compact Powder, yang sampai sekarang dikenal
dengan nama “Rose 68” dan “Perfume Gloria”.
Pada tanggal 19 Mei 1991, pabrik PT. Samfong Cosmetic mengalami
kebakaran, sehingga pabriknya pindah di daerah muara karang blok C Jakarta
Barat. Lokasi kantor PT. Samfong Cosmetic ada di jalan Hayam Wuruk No. 108
Jakarta Pusat.
Pada bulan Mei 1992, kantor pindah ke Grogol Permai Blok E No. 3,
selama 6 bulan dan pindah lagi di jalan Hayam Wuruk No. 108, karena kantor di
Blok E No. 3 Grogol kebakaran.
Pada bulan April 1994, Mr. Kuntoro Lie mendirikan pabrik kosmetik di
Cikupa Tangerang yang diberi nama “PT. Fabindo Sejahtera” yang dipimpin oleh
bapak Davy Lityo, Msc putra sulung dari Mr. Kuntoro Lie. Dengan Adanya
perusahaan baru tersebut terjadi perubahan pemegang saham, di mana seluruh
saham PT. Samfong Cosmetic dibeli oleh PT.Fabindo Sejahtera, dengan Bapak
Davy Lityo sebagai pemilik tunggal perusahaan tersebut. Pada awalnya, pabrik ini
hanya terdiri dari 3 gedung utama dan 1 office yaitu kantor pusat yang terletak di
Blok E No. 3 Grogol Permai (setelah selesai diperbaiki).
Dari tahun 1995 sampai sekarang, PT. Fabindo Sejahtera telah
mengadakan banyak pembenahan, perombakan, ekspansi, dan investasi baru
berupa pembangunan gedung-gedung baru (gudang dan ruang produksi),
penambahan mesin-mesin baru, dan prasarana lainnya.

25 Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
26

Pada tahun 2001, PT. Fabindo Sejahtera mulai mengembangkan bisnisnya


dengan produk Skin Care-nya, yang diikuti dengan Sanitary Napkins pada tahun
berikutnya.
Hasil ekspansi secara keseluruhan yang telah dilakukan oleh PT. Fabindo
Sejahtera selama ini ialah adanya 12 gedung yang digunakan dengan tanah seluas
6 Ha. Hingga saat ini, PT. Fabindo Sejahtera telah mengeluarkan 5 macam produk
kosmetik yang diperuntukkan bagi semua kalangan, dari bayi sampai dewasa, dan
sanitary napkins product. Selain itu, PT. Fabindo Sejahtera juga telah memiliki
agen atau distributor yang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia, dengan total
karyawan sekitar 1000 orang, termasuk seluruh tim marketing yang ada.
PT. Fabindo Sejahtera yang dipimpin Bapak Davy Lityo, Msc berupaya
secara maksimal mengembangkan perusahaan dari semua sektor antara lain:
a. Memperbaiki dan melengkapi struktur organisasi mulai dari unsur Manajer
sampai dengan pelaksana.
b. Mengembangkan manajemen perusahaan secara profesional yang didukung
oleh sumber daya manusia yang memadai
c. Memperluas dan membangun sarana produksi perkantoran maupun
pergudangan yang representatif dengan mengutamakan fungsi, keindahan,
kebersihan, serta lingkungan yang sejuk.
d. Mengembangkan dan mendatangkan mesin-mesin baru, dengan teknologi baru
dengan tujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi.
e. Memperkuat marketing di seluruh Indonesia antara lain di Jakarta, Medan, dan
Makasar, serta merintis untuk eksport antara lain ke Malaysia, Singapura, dan
Thailand.
f. Mengembangkan jenis-jenis produk kosmetik secara lengkap macam produk
kosmetik yang ada di pasaran.

3.2 Profil Perusahaan


3.2.1 Visi dan Misi
Visi dari PT. Fabindo Sejahtera adalah menjadi salah satu dari perusahaan
kosmetika terkemuka di Indonesia; membentuk sebuah jaringan distribusi
kosmetika yang luas dengan cara membuat produk inovatif, aman dengan harga

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
27

terjangkau demi kepuasan konsumen; dan menjadi sebuah perusahaan kosmetika


yang mencurahkan perhatiannya atas proses produksi, pemasaran, pengadaan dan
senantiasa ikut dalam kancah teknologi terkini.
Misi dari PT. Fabindo Sejahtera adalah menghasilkan sebuah perangkat
produk kosmetika yang indah, cocok dipakai dalam segala kesempatan;
menyajikan layanan serta menjalin kemitraan yang baik dengan pelanggannya;
menggalakkan masyarakat Indonesia agar mencintai produk kosmetika Negara
sendiri; membangun angkatan tenaga kerja yang merdeka, profesional dan
terampil.

3.2.2 Struktur Organisasi


Dalam suatu perusahaan pasti memiliki struktur organisasi. Struktur
organisasi berfungsi untuk (cek inet atau literature lain) sehingga pembagian
tugas, wewenang, dan tanggung jawab dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.
3.2.2.1 Komisaris
Komisaris bertugas untuk mengawasi jalannya perusahaan dengan memastikan
bahwa perusahaan tersebut telah melakukan praktek-praktek transparasi,
kemandirian, akuntabilitas, dan praktek keadilan menurut ketentuan yang berlaku.
3.2.2.2 Direktur Produksi
Membawahi :
a. Manajer Research and Development
Manajer Research and Development bertanggung-jawab atas spesifikasi bahan
baku, spesifikasi bahan pengemas, catatan formula produk, laporan hasil
pengembangan (setiap tiga bulan), catatan validasi formula/ produk, laporan hasil
pengujian produk (setiap tiga bulan), kumpulan registrasi formula, kumpulan
dokumentasi produk, laporan hasil evaluasi produksi dan laporan kegiatan R&D.
b. Manajer Produksi
Manajer Produksi bertanggung-jawab atas terlaksananya perencananaan produksi,
jadwal produksi bulanan, jadwal penggunaan dan perawatan mesin, prioritas
produksi, jadwal pembelian bahan baku, pengembangan metode kerja yang lebih
efisien, evaluasi realisasi produk, petunjuk pelaksanaan kerja yang aman, jadwal
pendidikan dan pelatihan CPKB dan laporan produksi (bulanan).

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
28

c. Manajer Quality Control


Manajer Quality Control bertanggung-jawab atas perencanaan daftar
status bahan baku, daftar status bahan pengemas, daftar proses penyimpangan
produksi, daftar produk cacat, daftar sanitasi mesin dan bangunan, daftar alat
kalibrasi, tindakan lanjut dalam keluhan konsumen, daftar pengembalian produk,
penyempurnaan SOP dan laporan penyimpangan.
d. Manajer Material Management
Manajer Material Management bertanggung-jawab atas catatan perubahan
persediaan bahan baku, catatan perubahan persediaan bahan penunjang, catatan
perubahan persediaan bahan jadi, catatan perubahan persediaan spare part, catatan
perubahan persediaan ATK, Catatan penerimaan produk retur, catatan kendala dan
solusi pengelolaan persediaan, dan laporan persediaan (bulanan dan kuartalan).
3.2.2.3 Direktur Operasional dan Informasi Teknologi
Membawahi :
a. Manajer National Sales
National Sales Manager bertanggung-jawab atas terlaksananya data makro
ekonomi, perkiraan penjualan (setiap tahun dan setiap tiga bulan), target penjualan
(setiap tahun dan setiap tiga bulan), strategi penjualan (produk, harga, distribusi
dan promosi), jadwal distribusi produk, data realisasi penjualan (per produk dan
per area), semua evaluasi realisasi penjualan setiap tiga bulan dan laporan
bulanan.
b. Manajer Regional Sales
Manajer Regional Sales bertanggung-jawab atas analisis realisasi
penjualan vs target, rencana strategi , jadwal pengiriman barang, data realisasi
penjualan, Hasil Evaluasi Penjualan ( HEP ), laporan HEP dan solusi, jadwal
pembayaran klaim, modul keterampilan menjual, dan jadwal promosi (event).
c. Counter Manager
Counter Manager bertanggung-jawab atas target penjualan (selling out) ke
counter, daftar counter potensial, hasil pengamatan program penjualan
kompetitor, program pelatihan SPG (Sales Promotion Girl), analisis efektivitas
kerja SPG, dan laporan realisasi selling out.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
29

d. Manajer National Marketing


Manajer National Marketing bertanggung-jawab atas terlaksananya analisis
makro ekonomi, tersedianya perkiraan atau forecast penjualan (tahunan dan tiga
bulanan), tersedianya marketing mix strategy (produk, harga, distribusi dan
promosi), jadwal rencana program marketing, data pasar, evaluasi program
marketing secara 3 (tiga) bulanan dan laporan bulanan.
e. Manajer National Key Account
Key Account Manager bertanggung-jawab atas MOU dengan outlets Head Office
dari NOO (New Open Outlet), surat kepada Outlet berkenaan dengan rencana
program promosi serta new product launching, menyusun program promosi
peningkatan penjualan, kegiatan kompetitor, existing display, pricing policy,
mengevaluasi volume usaha yang berhubungan dengan Key Account Outlet,
laporan NOO dan existing outlet.
f. Manajer Brand Rivera
Brand Manager Rivera bertanggung-jawab atas target penjualan, brand
positioning strategy, jadwal peluncuran produk baru, pricing policy – price
discount / banded, jadwal promosi – event / demo, jadwal kunjungan ke
distributor, customer satisfaction, jadwal dan anggaran promosi, target
dibandingkan dengan realisasi dan realisasi penjualan (setiap bulan dan setiap tiga
bulan).
g. Manajer Brand Fanbo
Brand Manager Fanbo bertanggung-jawab atas target penjualan, brand
positioning strategy, jadwal peluncuran produk baru, pricing policy – price
discount / banded, jadwal promosi – event / demo, jadwal kunjungan ke
distributor, customer satisfaction, jadwal dan anggaran promosi, target
dibandingkan dengan realisasi dan realisasi penjualan (setiap bulan dan setiap tiga
bulan).
h. Manajer Brand Sofie Bamby
Brand Manager Sofie Bamby bertanggung-jawab atas target penjualan,
brand positioning strategy, jadwal peluncuran produk baru, pricing policy – price
discount/banded, jadwal promosi – event/demo, jadwal kunjungan ke distributor,

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
30

customer satisfaction, jadwal dan anggaran promosi, target dibandingkan dengan


realisasi dan realisasi penjualan (setiap bulan dan setiap tiga bulan).
3.2.2.4 Direktur Administrasi dan Keuangan
Membawahi :
a. Manajer Finance
Manajer Finance bertanggung-jawab atas rencana anggaran penerimaan
(tahunan/kuartalan), rencana anggaran belanja (tahunan/kuartalan), rencana cash
flow (kuartalan/bulanan), laporan realisasi anggaran penerimaan/belanja
(kuartalan), laporan evaluasi penyimpangan realisasi anggaran
(semester/kuartalan) dan laporan realisasi surplus/defisit anggaran.
b. Manajer Akunting
Manajer Akunting bertanggung-jawab atas catatan perkembangan asal,
catatan perkembangan hutang, catatan perkembangan modal, catatan
perkembangan penerimaan penjualan, catatan perkembangan biaya produksi,
catatan perkembangan biaya administrasi dan umum, catatan perkembangan
penerimaan lain-lain, laporan realisasi anggaran penerimaan/belanja (kuartalan),
laporan evaluasi penyimpangan realisasi anggaran (semester/kuartalan) dan
laporan realisasi surplus/defisit anggaran.
c. Manajer HRD
HRD Manager bertanggung-jawab atas daftar pekerjaan yang masih
diperlukan, spesifikasi pemangku jabatan, jadwal rekrutmen, jadwal pelatihan
dasar, jadwal pelatihan lanjutan, laporan hasil evaluasi kerja dan laporan status
dan lokasi kerja karyawan (bulanan).
d. Manajer Legal and General Affair
Manajer Legal and General Affair bertanggung-jawab atas terlaksananya
jadwal perawatan bangunan dan kendaraan, menyimpan catatan pembayaran
premi dan klaim, jadwal pembayaran premi karyawan tetap, jadwal pembayaran
premi karyawan kontrak/HL, laporan perkembangan, pengelolaan kebun, humas
dengan masyarakat penegak hukum, jadwal pemberian bantuan kepada
masyarakat lingkungan pabrik, surat izin usaha dan rencana masing-masing izin
usaha, daftar kekayaan seperti bangunan, kendaraan, dan tanah, serta bertanggung
jawab mengkaji peraturan perundangan yang terkait dengan perusahaan.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
31

e. Manajer Product Development


Manajer Product Development bertanggung-jawab terhadap trend
keinginan konsumen, daftar ide produk-produk baru, target harga jual produk
baru, segmen pasar, siklus hidup produk baru, dan laporan tahapan siklus hidup
produk baru (setiap tiga bulan).

3.2.3 Lokasi dan Tata Letak Perusahaan


PT. Fabindo Sejahtera berlokasi di Kampung Waru Rt 01/03, Desa Pasir
Jaya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Indonesia. Dan
memiliki kantor pusat di Komplek Perkantoran Kota Grogol Permai Blok E No. 3
di Jalan Prof. Dr. Latumenten No. 19, Jakarta Barat. Didirikan tahun 1968. Luas
area PT. Fabindo Sejahtera Cikupa adalah 6 Ha dan luas bangunan 16.133,99 m2.
PT. Fabindo Sejahtera memiliki ruang-ruang produksi yang
dikelompokkan berdasarkan jenis produknya. Dimana ruang mixing dan filling
dipisahkan. Ruang filling memiliki tata letak mesin bertipe garis untuk
meningkatkan efisiensi produksi dan menjaga kenyamanan karyawan. Wilayah
perusahaan dilengkapi dengan mushala, kantin, koperasi, ruang istirahat
karyawan, taman buah, tambak ikan, loker untuk karyawan dan sarana kesehatan
berupa lapangan voli.
3.2.4 Ketenagakerjaan
PT. Fabindo Sejahtera memiliki tenaga kerja yang terdiri dari karyawan
tetap dan karyawan tidak tetap yang berjumlah 609 orang. Jam kerja pada PT.
Fabindo Sejahtera sesuai dengan aturan Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi yaitu 40 jam per minggu. Pembagian jam kerja setiap hari Senin
sampai Jumat terbagi dalam normal shift, dua shift, tiga shift dan long shift. Shift
ini diberlakukan sesuai dengan kebutuhan produksi. Normal shift pada jam 08:00
sampai jam 17:00 WIB. Dua shift, shift pertama pada jam 07:00 sampai jam 15:30
WIB, shift kedua pada jam 15:30 sampai jam 24:00 WIB. Tiga shift, shift pertama
pada jam 07:00 sampai jam 15:30 WIB, shift kedua pada jam 15:30 sampai jam
24:00 WIB dan shift ketiga pada jam 24:00 sampai jam 07:30 WIB. Sedangkan
Long Shift jam 07:00 sampai jam 19:00 WIB dan jam 19:00 sampai jam 07:00
WIB.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
32

PT. Fabindo Sejahtera memberikan fasilitas dan tunjangan untuk


kesejahteraan karyawan. Fasilitas yang tersedia antara lain mushola, koperasi,
ruang istirahat karyawan, taman buah, tambak ikan, loker, sarana olahraga, kantin
dan kamar mandi. Sedangkan tunjangan yang diberikan meliputi asuransi tenaga
kerja, asuransi kesehatan, tunjangan hari raya (THR) dan jaminan hari tua.
Perusahaan juga memperhatikan kebutuhan para karyawannya, yaitu tersedia upah
lembur, tour (2 kali setahun), tunjangan kematian, motor (untuk supervisor),
mobil (untuk manajer), rumah dinas (untuk manajer), mess, pakaian kerja dan
tunjangan kesehatan (rawat inap dan rawat jalan sejumlah satu kali gaji).
Cuti yang dapat diambil oleh karyawan adalah cuti kerja, cuti hamil (3
bulan), cuti nikah, cuti anak khitanan dan cuti bila ada anggota keluarga dalam
satu rumah yang meninggal dunia. Lamanya cuti kerja dibatasi 12 hari dalam satu
tahun. Di PT. Fabindo Sejahtera juga terdapat masa pensiun, yaitu setelah
berumur 55 tahun dan uang pensiun yang mereka dapat adalah sesuai dengan
peraturan pemerintah. Karyawan di departemen produksi diwajibkan mengenakan
sepatu karet bergigi, sarung tangan, penutup kepala dan masker. Untuk karyawan
pada laboratorium pengawasan mutu (Quality Control) diharuskan mengenakan
jas laboratorium.

3.3 Produk dan Perencanaan Produksi


Produk kosmetik yang dihasikan oleh PT. Fabindo sejahtera berupa skin
care, produk dekoratif, sanitary napkins, dan produk bayi. Beberapa merek telah
dikeluarkan oleh PT. Fabindo, diantaranya yaitu Fanbo®, Daisy®, Rivera®,
Bamby®, dan Sofie®.
Fanbo® merupakan kosmetik untuk skin care, body care, produk dekoratif,
aksesoris yang terdiri dari pancake, loose powder, eye shadow, lipcare, lipstik,
pensil alis, blush on, lulur, body lotion, cleansing milk, face tonic, parfum, puff,
talcum, dan hoitong. Daisy® merupakan produk dekoratif dan aksesoris yang
terdiri dari pancake, loose powder, lipstik, pensil lipstik, eye shadow, blush on,
dan puff. Rivera® merupakan kosmetik untuk skin care, body care, produk
dekoratif, aksesoris yang terdiri dari pancake, eye shadow, lipstik, pensil alis,
liquid eye liner, mascara, blush on cleansing milk, face tonic, parfum, puff, face

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
33

paper, moisturizer, liquid foundation, cream foundation, facial mask powder,


facial mask peel-off, facial peeling scrub, facial peeling cream, facial massage
cream, facial wash, eye and lip make up remover, whitening, krim malam, dan
krim siang. Bamby® merupakan produk untuk bayi yang terdiri dari diapers,
diapers rash cream, baby cologne, baby hair lotion, baby shampoo, baby oil, hair
and bath baby, minyak kayu putih, minyak telon, lotion pengusir nyamuk dan
bedak tabur. Sofie® merupakan produk yang menghasilkan sanitary napkins
berupa pembalut dan pantyliners.
Sebagian besar produk tersebut diproduksi berdasarkan jumlah permintaan
dan kebutuhan. Bagian produksi akan menerima forecast, yaitu data yang berisi
perkiraan jumlah produk yang akan diserap oleh pasar, dari bagian pemasaran dan
planning order dari bagian penjualan. Planning order yaitu permintaan dari
bagian penjualan bila ada produk yang kurang. Forecast dan planning order
tersebut yang akan digunakan sebagai acuan untuk membuat rencana produksi.
Kemudian rencana produksi akan dipilah-pilah sesuai dengan prioritas kebutuhan
menjadi planning mingguan. Prioritas tersebut salah satunya adalah adanya stok
produk yang kosong atau stok produk yang dibawah buffer stock.
Forecast diterima setiap bulan dan direvisi setiap 3 bulan. Forecast
mengacu pada rencana produksi per semester (6 bulan). Selain digunakan untuk
membuat rencana produksi, forecast juga digunakan sebagai acuan untuk
memesan bahan baku dan bahan penunjang serta acuan perencanaan kebutuhan
tenaga kerja.
Secara garis besar tugas pokok perencanaan produksi meliputi
perencanaan dalam pemesanan bahan baku, pemesanan material, pengaturan
kebutuhan tenaga kerja, pengaturan pemakaian mesin atau alat produksi, dan
pengaturan penjadwalan shift kerja.

3.4 Penelitian dan Pengembangan Produk (Research and Development)


Banyak produk yang tidak dapat bertahan lama dalam pasar, sehingga
menjadi perhatian bagi manajemen dalam perusahaan. Masalah yang demikian
akan menjadi tantangan yang cukup besar bagi perencanaan pemasaran, karena

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
34

mereka dipaksa untuk melahirkan dan mengembangkan gagasan tentang produk


baru.
Gagasan atau rencana pengembangan produk baru yang akan dibuat
diperoleh dari product development bagian pemasaran yang terlebih dahulu telah
melakukan survey pasar mengenai produk kosmetik yang sedang trend di
masyarakat, namun tetapi dikonsultasikan kepada bagian reasearch and
development (R&D). Product development dalam hal ini merencanakan mengenai
jenis produk apa yang akan dibuat, dan R&D akan membuat konsep dan formula
dari produk tersebut.
Alur dari pengembangan produk adalah sebagai berikut :
a. R&D menerima usulan produk dari product development.
b. Pihak R&D mulai melakukan langkah-langkah yaitu dengan studi literatur,
biasanya pihak R&D melihat dari buku-buku, ataupun berasal dari supplier, dan
dari studi literatur tersebut dipilih bahan-bahan yangefektif dan efisien.
c. Setelah pihak R&D melakukan studi literatur, pihak R&D memberitahukan
kepada pihak product development, dan pihak product development memberikan
pemberitahuan balik tentang sediaan yang sesuai yang diinginkan oleh pihak
marketing untuk nantinya akan disesuaikan antara karakteristik formula dengan
bentuk sediaan serta kemasan yang akan digunakan apakah kompatibilitas atau
tidak.
d. Setelah semua sesuai, dilakukan trial untuk basis, jika basis telah sesuai zat
aktiv dapat dimasukkan ke dalam basis yang telah dilakukan trial, lihat bagaimana
hasilnya perlihatkan kepada product development, jika sesuai keinginan dan tidak
kompatibel dengan zat aktif, maka tunggu persetujuan dari product development.
e. Lalu, cari supplier dengan spesifikasi bahan yang diinginkan, jika sediaan
telah dibuat, lakukan evaluasi, dan stabilitas dengan menggunakan kemasan.
R&D bertugas untuk menterjemahkan suatu ide menjadi kenyataan,
menetapkan bahwa produk yang dikembangkan sesuai dengan keinginan
marketing dan sesuai dengan peraturan dari BPOM serta meyakinkan produk bisa
dibuat di produksi dengan acceptable cost. Tugas dan tanggung jawab R&D
sebagai berikut :

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
35

3.4.1 Penelitian
Gagasan atau rencana produk baru yang akan dibuat diperoleh dari
product development bagian pemasaran yang terlebih dahulu telah melakukan
survey pasar mengenai produk kosmetik yang sedang in di masyarakat. Setelah
disepakati bersama antara pihak R&D dan Product development mengenai
produk jenis apa yang ingin dibuat, R&D akan membuat konsep dan formulanya.
3.4.2 Pengembangan
Tahap fase pengembangan produk adalah:
a. Pemilihan formula
Tahap pertama sebelum menentukan pemilihan formula harus ditetapkan
terlebih dahulu bentuk sediaan yang akan dibuat. Setelah menentukan bentuk
sediaan,maka seorang formulator harus menentukan ingredient yang akan
digunakan dalam formula. Sumber informasi formula dan ingredient yang dapat
digunakan adalah literatur suplier, referensi buku-buku kosmetik, melihat produk
paten, jurnal dan internet.
Hal utama yang perlu diperhatikan dalam tahap pemilihan formula yaitu
raw material. Sifat raw material yang perlu diperhatikan adalah compatibility,
bentuk aktif raw material, keamanan, konsentrasi, pengawet yang digunakan,
lama pemesanan, expired date, pH dan harga.
Setelah penentuan formula, R&D juga harus melakukan pemilihan
kemasan yang sesuai. Kemasan yang dipilih didiskusikan juga dengan product
development dan disesuaikan dengan bentuk sediaan yang dibuat.
b. Pemilihan metode pembuatan
Metode pembuatan terbagi 2, yaitu cold process (pembuatan tanpa
pemanasan, seperti gel, parfum, cologne gel, krim gel dan emulsi) dan hot process
(pembuatan dengan pemanasan, seperti emulsi). Pemilihan metode pembuatan
harus memperhatikan bentuk raw material dan bentuk sediaan/produk. Setelah
itu, R&D akan melakukan trial pembuatan produk dalam skala lab.
Kemudian akan dilakukan pengujian berupa uji stabilitas (stabilitas
dipercepat, didalam botol inert, selama 3 bulan dengan suhu 43°C), compatibility
test (dalam kemasan, dengan suhu 43°C, Rh 75%) dan keamanan produk.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
36

Parameter yang diamati adalah organoleptik, warna, bau, pemisahan, penampilan


fisik, viskositas, pH, kadar zat aktif.
c. Scale up
Merupakan pembuatan produk dalam skala yang agak besar yaitu 100 –
200 kg. Seorang formulator harus bertanggung jawab mengikuti dan mengamati
tahapan pembuatan (minimal 3 bets pertama) Proses pembuatan pada scale up
akan disesuaikan dengan mengkonversikan cara pembuatan skala lab. Dari scale
up ini akan didapatkan suatu verifikasi mengenai proses pembuatan yang
sebelumnya telah dikonversikan dari skala laboratorium ke skala produksi.
d. Proses produksi
Proses produksi kosmetik harus dibawah aturan CPKB. Beberapa
peralatan yang dipergunakan untuk proses produksi diklasifikasikan sebagai
berikut: mixing/emulsification tank, dispensing/grinding mills, homogenizer dan
filling equipment.
3.4.3 Quality control
Pengawasan mutu berfungsi untuk menjamin agar produk yang dihasilkan
memenuhi standar dan konsisten. Tahapan pengawasan mutu yaitu pengujian
spesifikasi bahan awal, kontrol dalam proses, pengawasan fasilitas penyimpanan
dan distribusi serta kontrol mikrobiologi.

3.5 Pengawasan dan Pengendalian Mutu


Bagian pengawasan mutu terbagi dalam pengawasan mutu bahan baku
(raw material), selama produksi (In Process Control) dan setelah produksi (finish
good). Pengawasan mutu dibagi menjadi 5 sub bagian yang memiliki tugas lebih
spesifik, yaitu analis mikrobiologi, staf packaging, analis raw material, analis In
Process Control dan QC line (analis barang jadi/finish goods)
Ruangan dan personalia di QC terdiri dari lima ruangan untuk analisis,
yaitu ruang IPC, ruang instrument, ruang pemeriksaan produk jadi, ruang
pemeriksaan kemasan dan ruang mikrobiologi. Staf QC disyaratkan untuk
menggunakan jas laboraturium dan penutup kepala. Staf QC juga mengalami
rolling shift dan tugas agar semua staf mahir dalam semua pemeriksaan.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
37

Kalibrasi alat pada ruangan QC dilakukan oleh pihak eksternal pabrik.


Pihak yang bertanggung jawab untuk proses kalibrasi akan ditentukan oleh bagian
teknik.
3.5.1 Pengawasan Mutu Sebelum Proses Produksi
3.5.1.1 Pemeriksaan Bahan Baku (Raw Material)
Pengawasan ini dilakukan untuk semua bahan baku dan bahan pembantu lainnya
yang digunakan dalam proses produksi. Bagian inspeksi bahan baku (analis raw
material) berperan penting pada awal keputusan apakah suatu bahan yang akan
digunakan selama proses produksi layak untuk digunakan, diterima (released)
atau ditolak untuk digunakan (rejected). Bahan-bahan yang ditolak akan
dikembalikan pada perusahaan pemasok (supplier).
Raw material yang dipasok dari suplier baru, akan diperiksa oleh R&D.
Kemudian R&D akan menentukan batas persyaratan dari bahan tersebut
berdasarkan hasil pemeriksaan raw material yang didapat dan CoA (Certificate of
Analysis) dari suplier. Persyaratan raw material ini akan diberikan kepada QC,
sebagai acuan dalam pemeriksaan raw material selanjutnya.
Jenis Pengujian yang digunakan pada raw material antara lain:
a. Sensory testing, harus dilakukan oleh orang-orang yang berpengalaman dan
memiliki indra yang peka (dapat mendeteksi sedikit perubahan). Karena sensory
testing ini sifatnya subyektif maka diperlukan dua orang atau lebih untuk
menentukan bahwa COA (Color, Odor, Appeareance) suatu produk telah
memenuhi spesifikasi atau sesuai dengan standar.
b. Pengukuran nilai kelembapan (moisture content) suatu zat dengan Moisture
Analyzer.
c. Pengukur nilai daya hantar listrik, kadar garam (salinitas) dan kadar zat padat
terlarut (TDS) dengan Conductifity.
d. Pengukur kehalusan dari sampel yang diperiksa dengan Analytical Sieve
shaker.
e. Analisa kation dan anion dari larutan sampel dengan Photometer.
f. Pengukuran nilai tapped density dari sampel powder, granules atau flakes
dengan Automated tap Density tester. Tap density adalah suatu metoda

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
38

pengukuran densitas suatu zat yang berbentuk serbuk dengan cara tapping dimana
volume zat yang telah diketahui bobotnya tersebut diukur dengan gelas ukur.
g. Gram Square Meter, pengujian bahan-bahan non wover, absorbent tissue,
release paper dan wood pulp

GSM

h. Pemeriksaan Coating Silicon, untuk uji coating silicon pada release paper.
i. Pengujian strike trough dan rewet pada produk sanitary napkin. Strike trough
adalah uji kecepatan daya serap dengan menggunakan lister tester, sedangkan
rewet adalah uji pembasahan kembali dengan alat yang bernama wetback.
j. Titrasi digunakan alat volumetric karl Fischer titrator
k. Mengukur pH digunakan alat pH meter
l. Mengukur nilai indeks bias dan % brix suatu zat dengan refraktometer dan
thermometer digital.
m. Uji pemeriksaan bilangan asam, penyabunan, iodium,hidroksil dan ester.
3.5.1.2 Pemeriksaan Bahan Pengemas (Packaging)
Jenis uji pada kemasan kosmetik:
a. Uji kemasan kontainer
b. Uji kemasan box satuan
c. Uji kemasan plastik dan botol, diukur berat, dimensi, over flow capacity,
separation force.
d. Uji kemasan tabung lipstik
e. Uji stiker label, yang diukur adalah dimensi dan bobot.
3.5.2 Pengawasan Mutu Selama Proses Produksi
3.5.2.1 Pemeriksaan Fisika/Kimia
Pemeriksaan selama proses produksi meliputi pemeriksaan pada produk
skin care dan decorative. Pemeriksaan skin care terdiri dari pemeriksaan
viskositas, pH, warna dan berat jenis. Pemeriksaan compact powder, two way
cake dan eye shadow berupa penampilan (performance), aroma, warna dan drop
test. Sedangkan untuk lipstik diperlukan uji titik lebur, penampilan (performance),
swetting dan kekerasan.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
39

3.5.2.2 Pemeriksaan Mikrobiologi


Pemeriksaan mikrobiologi dilakukan pada produk ruahan meliputi
pemeriksaan Angka Lempeng Total (ALT) serta pemeriksaan kapang dan khamir.
QC melakukan pemeriksaan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh
R&D. Bila hasil yang didapat berada diluar persyaratan yang telah ditentukan
maka analis dapat mengulang pemeriksaan satu kali lagi. Namun bila hasil yang
didapat tetap positif, maka analis QC dapat melaporkan hasil tersebut pada bagian
R&D. R&D akan menentukan apakah produk akan ditambahkan pengawet, perlu
penambahan proses sterilisasi atau produk di reject.
a. Uji Angka Lempeng Total, media yang digunakan antara lain:
TSA (Tryptone Soya Agar), proses inkubasi selama 48-72 Jam dengan suhu 30-
35° C.
TSB (Tryptone Soya Broad) + Tween, digunakan untuk pengayaan bakteri.
b. Uji mikrobiologi pemeriksaan kapang khamir, diinkubasi selama 120-168 jam
pada suhu 25-27°C.

3.5.3 Pengawasan Mutu Setelah Proses Produksi


3.5.3.1 Pemeriksaan Produk
Pemeriksaan produk jadi (finish goods) meliputi pemeriksaan berat,
penampilan (performance), uji kebocoran, kesesuaian nomor batch dan
pemeriksaan mikrobiologi. Jenis Uji untuk produk jadi kosmetik antara lain:
a. Sensory test, meliputi pengujian terhadap penampilan, aroma, warna dan
kejernihan. Harus dilakukan oleh orang-orang yang berpengalaman dan memiliki
indra yang peka (dapat mendeteksi sedikit perubahan). Karena sensory testing ini
sifatnya subyektif maka diperlukan dua orang atau lebih untuk menentukan bahwa
COA (Color, Odor, Appeareance) suatu produk telah memenuhi spesifikasi atau
sesuai dengan standar serta untuk menghindari subyektifitas dalam mengambil
keputusan.
b. Uji pH, untuk menentukan tingkat keasaman suatu larutan. Pengukuran
dilakukan berdasarkan banyaknya ion H+ yang terdapat dalam larutan.
c. Uji Viskositas dengan viscometer Brookfield.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
40

d. Breakage test, untuk mengukur daya patah lipstick dengan menahan beban
dalam satuan pound (lb)
e. Squeeze test, untuk mengukur daya tekan lipstick dengan menahan beban
dalam satuan pound (lb)
f. Uji titik lebur, tujuannya adalah untuk menentukan tempat penyimpanan
produk jadi.
g. Drop test, yaitu uji yang dilakukan dengan menjatuhkan produk pada
ketinggian tertentu untuk mengukur kekuatan press produk Pancake.
h. Uji distribusi partikel dengan sieve shaker “Retsch” atau ayakan mesh untuk
mengetahui ukuran partikelnya.
i. Uji nilai tapped density dari sampel talk dengan Automated tap Density tester.
j. Uji Sweating, untuk mengamati apakah produk lipstick yang dihasilkan akan
berkeringat (mengeluarkan bintik-bintik air pada permukaan produk) bila
disimpan pada suhu ruang dalam jangka waktu yang cukup lama.
k. Pemeriksaan bakteri pathogen.
l. Pemeriksaan kebocoran pada sachet.
3.5.3.2 Pemeriksaan Mikrobiologi
Pemeriksaan mikrobiologi dilakukan seperti pemeriksaan mikrobiologi
pada raw material. Apabila didapat hasil positif, pemeriksaan dapat diulangi.
Namun bila tetap didapat hasil positif, pihak QC akan melaporkan hal tersebut
pada pihak R&D. Dan R&D akan menentukan apakah produk pass atau reject.
a. Uji Angka Lempeng Total, media yang digunakan antara lain:
TSA (Tryptone Soya Agar), proses inkubasi selama 48-72 Jam dengan suhu 30-
35° C.
TSB (Tryptone Soya Broad) + Tween, digunakan untuk pengayaan bakteri.
b. Uji mikrobiologi pemeriksaan kapang khamir, diinkubasi selama 120-168 jam
pada suhu 25-27°C.

3.5.4 Pemeriksaan Barang Retur


Barang retur yang datang akan dikualifikasi oleh staf pergudangan. Setelah
itu pihak QC akan memeriksa barang. QC akan menentukan status barang retur
rework atau reject. Pihak QC juga akan mendiskusikan kondisi barang dengan

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
41

bagian PPIC. Barang-barang yang termasuk barang retur adalah produk


kadaluarsa, produk yang mengalami kerusakan kemasan/isi dan produk slow
moving.

3.6 Perencanaan Produksi


Suatu perencanaan yang matang sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan
guna dijadikan sebagai acuan bagi derap langkah aktivitas perusahaan. Dengan
perencanaan yang matang maka upaya yang dilaksanakan sesudah melalui
perhitungan yang cermat mampu mengatasi berbagai kendala yang telah
diperhitungkan sebelumnya dengan tindakan-tindakan antisipasi.
Perencanaan produksi merupakan suatu langkah awal bagi perusahaan
untuk dapat melakukan kegiatan produksinya. Perencanaan produksi yaitu
merencanakan kegiatan-kegiatan produksi, agar apa yang telah direncanakan
dapat terlaksana dengan baik. aktivitas untuk menetapkan produk yang
diproduksi, jumlah yang dibutuhkan, kapan produk tersebut harus selesai dan
sumber-sumber yang dibutuhkan. Rencana produksi menjadi dasar pembuatan
anggaran operasi, keperluan SDM dan jam kerja biasa atau lembur. Kemudian
untuk menetapkan peralatan dan tingkat persediaan.
Tujuan perencanaan dan pengendalian produksi:
a. Mengusahakan agar perusahaan dapat berproduksi secara efisien dan efektif.
b. Mengusahakan agar perusahaan dapat menggunakan modal seoptimal
mungkin.
c. Mengusahakan agar pabrik dapat menguasai pasar yang luas. Untuk dapat
memperoleh keuntungan yang cukup bagi perusahaan.
PPIC (Production Planning & Inventory Control) bertanggung jawab atas
perencanaan produksi dan stock level barang (barang jadi, bahan penunjang dan
bahan baku). PPIC akan menerima forecast dari marketing, untuk nantinya diolah
sebagai rencana produksi instock, buffer stock, sales.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
42

3.7 Pergudangan
Departemen pergudangan memiliki fungsi antara lain : menerima bahan
baku dan pengemas (incoming material), menyimpan bahan baku, pengemas serta
barang jadi (finish goods), dan mendistribusikan barang jadi (finish goods)
Pergudangan di PT. Fabindo Sejahtera terbagi atas gudang bahan baku,
gudang bahan pengemas/penunjang, gudang barang jadi, gudang retur dan gudang
spare parts. Gudang yang tersedia berupa 6 gudang, yang terdiri dari 4 gudang
besar dan 2 gudang kecil. Gudang besar memiliki luas 30×60 m2, yang digunakan
untuk menyimpan bahan pengemas, bahan pengemas dan bahan baku, barang jadi,
serta barang jadi dan bahan baku. Sedangkan gudang kecil digunakan untuk
menyimpan barang retur dan gudang spare parts. Gudang juga dilengkapi dengan
ruang timbang dan ruangan dengan suhu 18°C yaitu untuk penyimpanan parfum,
lipstik dan bahan yang harus disimpan pada suhu dingin (cold storage).
Penyimpanan dilakukan dengan sistem raking. Gudang bahan baku dilengkapi
dengan alat hygro-termometer untuk mengukur suhu dan kelembapan.
Pada umumnya pergudangan tidak memerlukan persyaratan khusus namun
tetap perlu diperhatikan faktor keamanan, kebersihan, suhu, dan kelembaban
ruangan gudang.
Semua barang dan bahan yang masuk akan dimasukkan ke rak karantina.
Kemudian barang dan bahan akan disampling oleh bagian QC, untuk menentukan
apakah barang bisa released/reject. Barang akan disimpan sampai ada hasil dari
QC. Setelah hasil pemeriksaan didapat, QC akan menempelkan label pass/reject.
Sistem pengeluaran barang pada pergudangan PT. Fabindo Sejahtera
merupakan sistem batch number dan sistem FIFO (first in first out). Kentungan
dari sistem tersebut adalah agar barang dan bahan terhindar dari kerusakan, bahan
yang digunakan dalam proses produksi akan selalu fresh sehingga mengurangi
kerugian.
PT. Fabindo Sejahtera melakukan pengawasan berjenjang guna memenuhi
SOP yang ada. Selain itu pabrik juga mengadakan seminar, pembinaan untuk
personalia dan fungsional serta meeting bulanan untuk memberikan pelatihan
guna memenuhi persyaratan CPKB.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
43

3.8 Lingkungan Kerja dan Pengolahan Limbah


3.8.1 Pengolahan limbah
Limbah yang dihasilkan PT Fabindo Sejahtera terdiri dari :
a. Limbah padat
Merupakan limbah dari sisa-sisa produksi kosmetik, bahan baku, bahan
pengemas, ataupun bahan penunjang lainnya yang berbentuk padat, seperti sisa
Pancake, kaleng, kertas, kardus, plastik. Penanganan limbah padat seperti serbuk
sisa Pancake dilakukan dengan cara ditimbun di dalam tanah, yang telah disetujui
oleh Dinas Lingkungan Hidup. Lokasi penimbunan berada di wilayah pabrik,
tetapi di uji terlebih dahulu apakah limbah padat tersebut mengandung bahan B3
atau tidak, jika mengandung maka pabrik akan menjual kepada pihak yang
berwenang untuk dimusnahkan. Untuk limbah padat seperti kaleng, kertas,
kardus, plastik yang masih memiliki nilai jual, akan dijual. Untuk sampah-sampah
domestik lalu dibakar pada tungku yang disediakan.
b. Limbah Cair
Pada PT. Fabindo Sejahtera, limbah cair akan diolah dengan metode penyaringan
sederhana. Penyaringan dilakukan didalam dua drum dengan kapasitas 400 Liter.
Lapisan penyaringan terdiri dari ijuk, arang/batu apung, ijuk, pasir dan ijuk. PT.
Fabindo Sejahtera akan mengembangkan sistem IPAL (Instalasi Pengolahan Air
Limbah) yang ada.
3.8.2 Pengolahan air
Pengolahan air dilakukan dengan sumber air yang berasal langsung dari
tanah tempat PT Fabindo Sejahtera. Air yang diolah akan digunakan untuk air
minum dan air untuk produksi. Air minum proses pengolahannya tidak lebih
kompleks dari air produksi. Sedangkan air produksi, air yang dihasilkan harus
benar-benar bebas mikroba.
Proses pengolahan air sebagai berikut, air asin yang disedot dari
pengeboran dari tanah, diubah menjadi air tawar dengan clarifyer lalu dialirkan
ke tangki penampungan, dari tangki penampungan dialirkan ke media filter yang
terdiri dari dua, yaitu sand filter dan carbon filter setelah dialirkan ke media filter,
lalu air dialirkan ke tangki softener yang berisi media resin untuk mengurangi
rasa asin/kesadahan. Selanjutnya dialirkan ke penampungan RO I, yaitu membran

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
44

yang digunakan untuk menyaring partikel yang lebih halus, dan untuk mengurangi
TDS dari air. Air dari hasil penyaringan dengan RO I memiliki kadar 20 TDS,
setelah itu air disaring dalam penampungan RO II, untuk menyaring partikel yang
lebih halus lagi, yaitu memiliki kadar 0-3 TDS. Air yang dihasilkan dari
penyaringan menggunakan RO II akan di tampung pada penampungan air untuk
produksi, yaitu aquademin (air bebas mineral). Air dari hasil pengolahan akan
dianalisa oleh bagian pengawasan mutu (QC).

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
BAB 4
TINJAUAN KHUSUS
PROSES PRODUKSI KOSMETIK PT. FABINDO SEJAHTERA

PT. Fabindo Sejahtera telah menghasilkan banyak produk kosmetik


dekoratif, skin care, bodycare, parfum dan asesoris dibawah naungan beberapa
merek kosmetik antara lain Fanbo, Rivera, Daisy dan Bambi. PT. Fabindo
Sejahtera tidak hanya memproduksi kosmetik untuk merek-mereknya sendiri
namun juga menerima maklun untuk beberapa perusahaan farmasi dan kosmetik
Indonesia. Ruang produksinya terdiri atas ruang produksi skincare, ruang
produksi pancake, ruang produksi lipstik, ruang produksi
eyeshadow/BO/FP/talkum, ruang produksi obat tradisional, ruang produksi
kaleng, ruang produksi parfum, ruang produksi hoitong, dan ruang produksi puff.

4.1. Produksi Skincare


Salah satu produk yang dihasilkan oleh PT Fabindo Sejahtera adalah
produk-produk skincare yang berfungsi sebagai perawatan kulit. Proses produksi
dimulai dari penerimaan bahan baku dari gudang, disimpan dalam suatu ruangan
penyimpanan bahan baku, untuk selanjutnya dilakukan penimbangan.
Proses produksi ini mengikuti LPP (Lembar Petunjuk Produksi) yang telah
diberikan oleh bagian perencanaan produksi. Di dalam LPP berisi petunjuk atau
prosedur dari proses produksi.
Setelah proses penimbangan, lalu lanjut ke proses pencampuran (mixing),
terdapat 3 mesin mixing dengan kapasitas yang berbeda yaitu 750 kg untuk krim,
1000 kg untuk face toner, gel, facial wash, cleansing gel dan shampoo, 2000 kg
untuk krim. Mesin untuk pembuatan krim terdapat 2 tangki yaitu tangki kecil dan
tangki besar, tangki kecil digunakan untuk mencampur fase minyak, dan tangki
besar digunakan untuk pencampuran fase air.
Tahap awal pembuatan produk diawali dengan pembuatan massa premix I
yaitu aquademin yang telah ditara, ditambahkan pengawet I, diaduk hingga
homogen. Pada wadah lain, yaitu tangki lainnya dimasukkan sejumlah aquademin

45 Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
46

yang telah ditimbang dalam jumlah tertentu kemudian dipanaskan hingga 55-60ºC
ditambahkan pengawet II diaduk hingga larut sempurna. Sedikit demi sedikit zat
pengental ditambahkan dengan cara ditaburkan, material ini harus dijaga agar
tidak menggumpal, diaduk dengan propelan turbin dan blade dengan kencang
sambil disirkulasi dengan inline CKL dengan kecepatan 1000 rpm selama 45
menit. Setelah itu di cek kehalusan dan homogenitas bahan kemudian pemanasan
dilanjuntukan di tangki utama hingga suhu 70-80º C. Massa yang telah homogen
ini lalu ditambahkan masa premix I diaduk hingga larut sempurna. Gliserin
ditambahkan kedalam massa tersebut, diaduk dengan pengadukan kecepatan
tinggi, suhu dipertahankan pada suhu 70-80ºC selama 20 menit hingga halus dan
terbentuk gel encer.
Pada tangki fase minyak, dimasukkan fase minyak yang akan digunakan
dipanaskan hingga suhu 70-80º C hingga meleleh sempurna dan diaduk hingga
homogen. Fase minyak yang telah homogen ini kemudian dimasukkan ke dalam
tangki utama pada suhu 70-80ºC sambil diaduk dengan propelar turbin dan blade
dengan kencang sambil disirkulasi dengan inline homogenizer dengan kecepatan
1000 rpm. TEA ditambahkan untuk mencapai pH optimal dengan pengadukan
kecepatan tinggi selama 15 menit. Emulsi yang telah terbentuk didinginkan
hingga suhu mencapai 40ºC kemudian ditambahkan fragrance, diaduk dengan
propelar turbin dan blade dengan kecepatan rendah dan disirkulasi hingga material
benar-benar homogen. Setelah itu ditambahkan scrub pada suhu pendinginan 30º
C dengan pengadukan perlahan. Sampel diambil untuk diperiksa oleh QC, setelah
bulk lulus QC, bulk ditransfer kedalam tong yang sudah disanitasi untuk
dilakukan proses filling atau pengisian ke dalam kemasan. Hasil mixing tersebut
disimpan dalam ruang karantina selama 3 hari untuk krim dan liquid sedangkan
face toner dapat langsung dikemas, penyimpanan selama 3 hari tersebut sambil
menunggu QC melakukan pemeriksaan untuk meluluskan atau menolak,
Pengisian produk ke dalam kemasan dilanjuntukan dengan pemberian stiker,
pencantuman nomer bets dan tanggal kadaluarsa lalu di seal. Pencantuman nomer
bets dan tanggal kadaluarsa dilakukan secara otomatis dengan mesin
menggunakan sensor. QC akan memeriksa uji pada produk jadi, jika memenuhi

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
47

syarat maka produk jadi akan dimasukkan ke gudang produk jadi dan siap
dipasarkan.
Pembersihan untuk alat-alat produksi dilakukan dengan menyemprotkan
air refoksid ke dalam tangki lalu memberikan ampolit yaitu berupa desinfektan,
lalu siram dengan air biasa, setelah dikeluarkan tambahkan aquademin, lalu
keringkan, setelah kering semprot dengan alkohol. Untuk pembersihan alat-alat
lain yang ukurannya lebih kecil dilakukan dalam ruang pembersihan sesuai
dengan SOP yang ada.

4.2. Produksi pancake, eyeshadow, blush on, face powder dan talkum
Pancake, eye shadow, blush on dan face powder merupakan kosmetik
dekoratif yang bertujuan semata-mata untuk mengubah penampilan, yaitu agar
tampak lebih cantik dan noda-noda atau kelainan pada kulit tertutupi. Secara garis
besar proses pembuatan produk-produk tersebut sama, yaitu melalui proses
mixing, filling dan packing. Pada pembuatan Pancake, eye shadow dan blush on
pada proses filling mengalami proses pengepresan sedangkan face powder dan
talkum langsung dimasukkan kedalam kemasan primernya. Pada proses mixing,
filling, dan packing kemasan primer dilakukan pada ruangan grey area, sedangkan
packing sekunder pada ruangan black area. Penimbangan formula dilakukan oleh
personil gudang. Bahan-bahan yang akan diproduksi diletakkan dalam satu palet
yang kemudian akan dimasukkan ke dalam tangki mixing. Terdapat dua mesin
mixing yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan produksi yaitu mesin
mixing kapasitas 125 kg dan 500 kg. Selain mesin tersebut, pada proses mixing
juga dibutuhkan mesin micropulvizer, mesin pemanas, teko dan colour chart.
Pada pembuatan two way cake, tahap awal mixing yang dilakukan adalah premix
warna. Pada tahap ini talk, titanium oksida dan pigmen yang telah sesuai dengan
colour chart dicampur dan diaduk dalam tangki mixing, kemudian dilewatkan
dalam mesin micropulverizer sampai halus kemudian disisihkan. Pada wadah lain,
yaitu pada teko, dibuat campuran pengawet sejumlah bahan seperti pengawet dan
pelarut serta nomcort TiO dimasukkan dan dipanaskan hingga melebur sempurna
pada suhu 60-70°C. Setelah itu suhu diturunkan hingga 40-50° C, kemudian
ditambahkan ekstrak akar mulberi dan vitamin E asetat, diaduk hingga homogen.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
48

Kedalam tangki mixing dimasukkan kembali premix warna dan bahan


pengisi kemudian dicampur dan diaduk selama 30 menit hingga homogen. Setelah
itu ditambahkan campuran pengawet dan fragrance, proses mixing dilanjuntukan
kembali hingga benar-benar homogen selama 15 menit. Massa ini dilewatkan ke
mesin pulverizer, sampel diambil sedikit dicetak dalam godet, warna diperiksa
sesuai standar. Setelah lulus QC, bulk ditransfer dalam drum yang telah disanitasi
ditimbang berat bulk yang dihasilkan dan dihitung jumlah bulk yang hilang.
Proses selanjutnya adalah proses filling atau pengisian massa kedalam
kemasan primer. Massa dalam drum dimasukkan ke dalam mesin hopper yang
telah diatur volume pengisiannya. Dalam mesin hopper, bulk akan dilewatkan
dalam agitator untuk menstabilkan campuran massa agar tidak menggumpal
setelah itu akan dialirkan ke mesin cetak atau filling Kemwal. Pada conveyor
posisi godet (wadah Pancake) diatur sebelum masuk ke mesin cetak. Berat bulk
yang tercetak diperiksa kemudian dilakukan uji drop test produk tiap 30 menit.
Produk setengah jadi disimpan pada rak dan ditempatkan pada kotak kayu serta
diberi identitas produk pada rak. Sampel di periksa oleh QC, produk setengah jadi
dimasukkan ke dalam gudang WIP (work in process) hingga hasil uji dari QC
memenuhi syarat. Setelah itu produk siap di kemas.
Proses pengemasan terdiri dari dua tahap yaitu pengemasan kemasan
primer dan kemasan sekunder. Mesin dan alat yang digunakan antara lain mesin
ink jet print, stampel nomor bets, tanggal dan produk dan mesin shrink tunnel.
Dalam pengemasan sekunder terdapat proses penyiapan container Pancake, proses
memasukkan produk setengah jadi dalam container Pancake dan pemasangan
cellophane. Dalam pengemasan sekunder terdapat proses pemasukkan puff dalam
container, pengkodean nomor bets penempelan label produk, pembentukan box
sebagai wadah sekunder dan penyegelan produk dengan plastik shrink. Kemudian
dimasukkan ke dalam wadah karton besar dan dimasukkan dalam gudang produk
jadi.

4.3. Produksi Puff


Puff merupakan produk aksesoris kosmetik yang digunakan untuk
menyapukan bedak ke wajah. PT. Fabindo Sejahtera memproduksi puff yang

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
49

terdapat dalam produk Pancake (compact powder) dan produk bedak tabur wajah
(loose powder). Selain itu PT. Fabindo Sejahtera juga memproduksi puff yang
dipasarkan dalam kemasan satuan (merk Daisy® dan Fanbo®). Puff diproduksi
dalam ruangan black area dimana operator produksi diwajibkan menggunakan
cap (tutup kepala), seragam dan masker, serta diwajibkan untuk membersihkan
tangan minimal 2 jam sekali dengan menyemprotkan alkohol.
Bahan baku yang digunakan adalah katun, busa, satin, foil, dan lem. Untuk
bahan katun dan satin diperoleh dengan mengimpor dari China. Untuk bahan busa
memiliki ketebalan yang berbeda-beda. Untuk nomor 02 memiliki busa yang lebih
tipis, digunakan untuk puff Pancake. Sedangkan untuk nomor 03 memiliki busa
yang agak tebal, digunakan untuk puff yang dipasarkan dalam kemasan satuan.
Tahap pembuatannya yaitu katun, busa, dan satin akan dipotong sesuai
ukuran yang dibutuhkan. Kemudian satin diberi label dengan menggunakan hot
stamp. Lalu katun, busa, serta satin dilem dan dipress menjadi puff dengan
menggunakan alat air cylinder. Puff yang akan dipasarkan dalam kemasan satuan
dikemas dalam kemasan plastik yang kemudian dilewatkan pada mesin seal. Puff
yang telah dikemas tersebut kemudian disusun dalam box, lalu disimpan dalam
gudang penunjang. Sedangkan puff yang akan digunakan untuk produk bedak
disimpan di ruangan WIP (Work in Process).
Setiap tahap pemotongan, pelabelan, dan penyatuan bahan-bahan puff,
masing-masing disortir kembali secara manual. Apabila ada barang yang kotor,
rusak atau cacat, barang tersebut harus dipisahkan dan dibuang. Hal ini dilakukan
untuk mencegah terjualnya produk yang rusak yang dapat memicu keluhan dari
pelanggan dan dapat mengurangi mutu produk dari PT. Fabindo itu sendiri.
Selain memproduksi puff untuk kebutuhan sendiri, PT. Fabindo sejahtera
juga menerima produksi puff untuk merk lain, seperti Wardah®, Cempaka Mas®,
Mustika Ratu®, Puteri®, dan Venus®. Namun yang sampai sekarang masih terus
diproduksi adalah puff untuk produk Venus®.
Jumlah karyawan yang bekerja di bagian ini sejumlah 37 orang,
diantaranya 3 pria dan selebihnya wanita.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
50

4.4. Produksi Kaleng


PT. Fabindo Sejahtera membuat kemasan untuk produknya sendiri,
berupa kemasan primer seperti godet dan juga kemasan kaleng yang digunakan
nantinya akan digunakan untuk kemasan face powder dan pancake. Ruangan
produksi kaleng dan godet berada terpisah dari ruang produksi kosmetik.
4.4.1 Godet
Godet merupakan wadah primer untuk produk Pancake yang terdiri atas
godet 505, godet fanbo 68, godet fanbo fantastic two way cake,godet fanbo
fantastic compact, godet rivera blue two way cake, godet rivera blue compact,
godet marck’s venus compact, godet marck’s venus two way cake, dan godet daisy
slim compact serta godet untuk produk fanbo eye shadow kit.
Godet yang diproduksi terdapat dalam berbagai macam bentuk seperti
lingkaran, seperempat lingkaran, dan kotak, kotak agak pipih. Proses produksi
dilakukan dengan menggunakan mesin yaitu mesin yang masih dikerjakan secara
manual dan mesin yang sudah otomatis.
Bahan yang digunakan dalam proses pembuatan godet ini berupa :
a. Coil aluminium, yaitu aluminium yang sudah berupa gulungan besar
aluminium yang nantinya akan di pasang dalam mesin otomatis dan mesin dapat
mengulurkan coil aluminium tersebut ke dalam mesin pencetaknya dengan
bantuan limit switch. Cetakan yang dihasilkan berupa godet berbentuk lingkaran,
dengan dengan tekstur dibawahnya yang dihasilkan dari mold saat dicetak. Bahan
coil aluminium ini digunakan untuk produk fanbo rose 68 compact, dan daisy slim
compact.
b. Aluminium sheet, aluminium ini berupa lembaran-lembaran yang akan dicetak
dengan mesin manual, mesin dijalankan dengan menggunakan pedal yang
dikendalikan oleh personil. Sekali mencetak untuk aluminium sheet ini dapat
menghasilkan beberapa godet, karena aluminium sheet saat pecetakan dapat
ditumpuk, cetakan yang dihasilkan dalam bentuk kotak dengan tekstur pada
dasrnya disesuaikan dengan mold yang digunakan. Bahan aluminium sheet ini
digunakan untuk produk-produk fanbo fantastic two way cake,fanbo fantastic
compact, rivera blue two way cake,rivera blue compact, marck’s venus compact,
marck’s venus two way cake, fanbo eye shadow kit.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
51

4.4.2 Kaleng
Kaleng yang diproduksi terdiri dari 4 jenis yaitu 211 L, 211 S, 219 L, 219
SP. Kaleng berfungsi sebagai kemasan primer untuk produk face powder. Bahan
yang digunakan berupa tinplate. Kaleng yang dibuat terdiri dari top, body, bottom.
Dan kaleng yang akan dibuat, sudah tercetak desain dari supplier.
Proses dari pembuatan kaleng adalah sebagai berikut :
a. Lembaran tinplate yang sudah tercetak desain dipotong berdasarkan ukuran
panjang dan pendek yang diinginkan.
b. Lembaran-lembaran tersebut disusun, kemudian digulung dengan mesin
penggulung, sekali penggulung dihasilkan 5 lembar gulungan tinplate.
c. Lalu sambung sisi satu dengan sisi lainnya, kemudian lem tinpleate tersebut.
d. Press hasil sambungannya dihasilkan bagian body dari kaleng.
e. Buat bagian top dan bottom, pada bagian top beri lubang untuk penutup
kaleng.
f. Lakukan pengepresan dan penempelan bagian top dan bottom yang sudah jadi.

4.5. Produksi Parfum dan Hoitong


4.5.1 Produksi parfum
Parfum adalah minyak hasil ekstraksi dari tumbuh-tumbuhan yang
dipadukan dengan beberapa zat kimia serta air yang diracik dan mengeluarkan
wewangian. Ruang produksi parfum terdiri atas ruang mixing dan filling yang
menyatu dengan ruang pengemasan. Tidak ada pengaturan suhu atau kelembaban
didalamnya. Ruangan difasilitasi dengan 3 buah kipas angin dan 3 buah blower
untuk mensirkulasi udara didalam ruangan. Setiap harinya diproduksi sebanyak
1600 lusin parfum. Proses diawali dengan proses mixing, terdapat dua jenis tangki
yang digunakan yaitu tangki spavil 75 kg dan tangki 300 kg, dimana
penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan.
Pada wadah stainless steel ditimbang sejumlah solubilizer dan penjernih
yang kemudian dipanaskan hingga suhu 40º C hingga membentuk cairan jernih.
Setelah itu pemanasan dihentikan dan dilakukan pendinginan dengan chiller
hingga temperatur kamar. Ketika suhu telah dingin, dimasukkan fragrance ke
dalam larutan tersebut sambil diaduk hingga bahan-bahan larut sempurna dan

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
52

jernih. Kemudian larutan tersebut dimasukkan ke dalam tangki mixing utama


bersama dengan sejumlah alkohol sesuai dengan formula. Kedua larutan tersebut
kemudian diaduk homogen dan dimasukkan sejumlah aquademin sedikit demi
sedikit hingga jernih. Bulk yang sudah tercampur homogen diambil sampelnya
untuk diperiksa oleh QC, setelah lulus pengujian QC, bulk ditransfer ke dalam
holding tank yang telah disanitasi.
Bulk parfum dalam holding tank kemudian ditransfer ke dalam tangki
celup untuk proses pengisian parfum. Sebelum proses pengisian parfum dilakukan
terlebih dahulu botol 5K disiapkan dan dicuci dengan alkohol 96% kemudian
dikeringkan untuk siap digunakan. Botol-botol tersebut kemudian dimasukkan
dalam tangki celup dan di vakum selama 5 menit dengan tekanan 50 bar dan
setelah itu siap untuk diangkat ke meja penyedotan manual. Di atas meja ini
volume parfum yang berlebih akan dibuang hingga batas leher botol dan botol
dicuci dengan alkohol agar tidak licin.
Proses selanjutnya adalah pemasangan plug atau penutup mulut botol
parfum yang terbuat dari plastik yang kemudian akan diletakkan pada meja
khusus penampungan yang alasnya berlubang-lubang untuk menampung sisa
tirisan parfum yang dapat diproses kembali. Botol tersebut kemudian diletakkan
dimeja pengering, ditempelkan label pada badan botol diletakkan di conveyer line
untuk dilakukan proses pengkodean nomer bets dan tanggal kadaluarsa. Botol siap
ditutup dan dikemas dalam dus satuan yang kemudian dimasukkan ke dalam dus
lusinan hingga kemasan terluar yaitu karton.
4.5.2 Produksi Hoitong
Hoitong merupakan suatu bedak dingin yang dapat digunakan sebagai
masker pada wajah, dan juga dapat digunakan sebagai pengosok pada perhiasan
atau assesoris yang telah berubah warna.
Proses produksi dilakukan dengan pencampuran bahan baku yang
didapatkan dari gudang, mixing dilakukan dalam sutu ruangan mixing dan
dilakukan dalam keadaan basah. Hasil mixing di simpan dalam drum yang telah
disanitasi terlebih dahulu dan kemudian langsung dicetak, bila tidak langsung
dicetak maka kering dan susah untuk di cetak.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
53

Setelah di cetak lalu ditempatkan dalam rak-rak untuk dikeringkan.


Pengeringan hoitong memerlukan waktu yang lama yaitu dengan diangin-
anginkan saja selama 2 bulan dalam suatu ruangan. Setelah hoitong kering lalu
siap untuk dikemas, hoitong di letakkan dalam wadah kemasan di letakkan pada
conveyor line sambil disemprot parfum, lalu di tutup dan diberi nomer bets dan
tanggal kadaluarsa dengan sensor. Lalu diseal persatuan selanjutnya di kemas
dalam dus isi 6, lalu di kemas dalam dus besar untuk selanjutnya akan disimpan di
gudang dan siap di pasrkan.

4.6. Produksi Lipstik


Produksi lipstik PT Fabindo Sejahtera dibawah merek Rivera Blue
terdapat 25 macam nomor lipstik, Rivera wet and Glam, dan Fanbo matte terdapat
10 macam nomor lipstik serta Fanbo Fantastik terdapat 20 nomor lipstik.
Banyaknya lipstik yang dihasilkan tergantung permintaan dari PPIC ( Production
Planning & Inventory Control) setiap harinya.
Ruangan produksi lipstik terdiri atas 2 area yaitu black area dan grey area.
Pada saat berada di black area, personil masih menggunakan pakaian kerja biasa
sehari-hari. Di ruangan black area tersebut terjadi proses pengemasan sekunder,
pemasukan produk-produk ke dalam dus, serta pelewatan produk yang telah
dikemas ke dalam mesin seal.
Untuk dapat masuk ke dalam ruangan grey area, personil harus
mengenakan pakaian khusus, penutup kepala, masker dan sarung tangan, serta
alas kaki yang telah disediakan, dan personil dapat mengenakannya pada ruang
ganti pakaian.
Pada ruang grey area terjadi proses mixing, filling, dan flamming, serta
pengemasan primer. Dalam ruangan produksi lipstik terdapat 4 mesin untuk
proses mixing dengan kapasitas 100 kg, 30 kg, 15 kg, 1 kg serta 1 mesin tambahan
untuk menghaluskan pigmen dan minyak. 4 mesin lain untuk proses filling atau
pengisian yang terdiri dari 2 mesin automatis, dan 2 mesin manual dengan
kapasitas masing-masing ± 30 kg.
Tahap pembuatan awal lipstik diawali dengan pembuatan basis lipstik,
bahan-bahan yang telah ditimbang yang di dapat dari bagian gudang di panaskan

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
54

hingga suhu 80ºC hingga meleleh sempurna dalam water bath. Setalah itu, basis
lipstik dimasukkan ke dalam mesin mixing sesuai dengan kapasitas yang akan
dibuat dan ditambahkan bahan tambahan lainnya dan mesin dibiarkan memutar
selama seharian penuh. Setelah seharian penuh, lipstik di keluarkan dari mesin
mixing dan ditempatkan dalam wadah berupa ember yang telah disanitasi dan di
lapisi plastik untuk dibekukan dan di tempatkan dalam tempat penyimpanan
(WIP), dan beberapa dari hasil diambil oleh QC untuk diperiksa.
Untuk proses pengisian, produk hasil mixing dicairkan kembali dengan
suhu 80-90º C dan di pindahkan ke mesin hopper untuk ditransfer ke dalam
mesin-mesin pengisian, dan diisikan ke dalam cetakan, cetakan di letakkan di atas
mesin pendingin. Setelah terbentuk bisa dilakukan proses flamming agar
permukaan lipstik tersebut lebih mengkilap ataupun tidak dilakukan proses
flamming , lipstik yang telah jadi, dikemas dalam wadah primer sekaligus juga
dilakukan penyortiran produk yang gagal. lalu di tempatkan kembali dalam
tempat penyimpanan WIP selama sehari untuk nantinya lipstik ditutup, diberi
nomor bets, dan expired date pada kemasan primer serta kemasan sekunder,
dikemas kemasan sekunder berupa boks satuan dan boks lusinan, serta di segel.
Produk kemudian siap untuk di kirim ke gudang.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
BAB 5
PEMBAHASAN

FT. Fabindo Sejahtera merupakan salah satu perusahaan kosmetik


terkemuka di Indonesia, yang berdiri sejak tahun 1968, telah memproduksi
berbagai jenis produk kosmetika dengan beberapa brand terkenal, seperti Fanbo,
Daisy, Rivera, Bamby, dan Sofie. Dalam memproduksi produk-produk
kosmetiknya, PT. Fabindo Sejahtera tidak luput dari pengawasan BPOM, yang
bertindak sebagai regulator dalam pengawasan sediaan farmasi, makanan dan
kosmetik di Indonesia. Peraturan Kepala BPOM RI No. HK.00.05.4.1745 Tentang
Kosmetik menyatakan bahwa industri kosmetik harus memenuhi persyaratan Cara
Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB). Keputusan Kepala BPOM RI No.
HK.00.05.4.3870 tentang Pedoman Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik
menginformasikan bahwa tujuan dari CPKB yaitu guna melindungi masyarakat
dari penggunaan kosmetik yang tidak memenuhi persyaratan standar mutu dan
keamanan yang dapat merugikan masyarakat, meningkatkan nilai tambah dan
daya saing produk kosmetik Indonesia dalam menghadapi era pasar bebas.
Penerapan CPKB ini masih terus diupayakan pelaksanaannya di lingkungan
pabrik PT. Fabindo Sejahtera.
Sejak Januari 2011 Indonesia telah menerapkan harmonisasi ASEAN di
bidang kosmetik. Program ini mewajibkan pengusaha kosmetik melakukan
notifikasi (pencatatan) produk dan menyimpan Data Informasi Produk (DIP).
Kewajiban notifikasi muncul setelah negara-negara ASEAN bersepakat untuk
mengharmonisasi standar dan peraturan registrasi persyaratan teknis mengenai
kosmetik. Tujuannya agar di negara-negara ASEAN terdapat satu standar aturan
yang pasti dan tidak berbeda-beda satu negara dengan Negara lain. Tujuan lainnya
agar daya saing produk kosmetik meningkat ketika kosmetik bebas masuk ke tiap
negara ASEAN tanpa harus mengabaikan mutu produk dan keamanan produk
tersebut. Untuk itulah sangat diperlukan penerapan CPKB agar produk Indonesia
tidak kalah bersaing dengan produk dari Negara ASEAN lainnya

55 Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
56

Harmonisasi ASEAN menyebabkan perubahan sistem evaluasi yang


menitikberatkan pada post market surveillance terhadap seluruh obat tradisional
dan kosmetik yang diedarkan di seluruh Negara ASEAN, dimana pengawasan
dilakukan setelah produk beredar. Pelaku usaha industri kosmetik diwajibkan
untuk memberikan notification letter, dimana pelaku usaha akan bertanggung
jawab penuh terhadap keamanan mutu dan klaim manfaat kosmetika yang
dinotiifkasi. Dampak yang akan timbul dengan adanya Harmonisasi ASEAN
adalah adanya produk dari negara ASEAN yang dapat beredar di negara-negara
ASEAN. Hal ini tentunya akan menguntungkan bagi produsen, namun juga
menjadi suatu tantangan apakah produk lokal dapat memenuhi standar yang telah
ditetapkan dan bermutu tinggi sehingga mampu bersaing secara kompetitif dengan
produk dari negara-negara ASEAN lainnya. Dengan adanya Harmonisasi ASEAN
tersebut maka PT. Fabindo Sejahtera harus terus berupaya agar kosmetik yang
diproduksi dapat memenuhi persyaratan untuk dapat bersaing dalam hal mutu
produk di kawasan ASEAN. Berikut akan dijabarkan mengenai masing-masing
unsur CPKB yang telah diterapkan oleh PT. fabindo Sejahtera dikaitkan dengan
dokumen CPKB yang ada.

5.1. Bangunan dan Fasilitas


Pabrik PT. Fabindo Sejahtera terletak di daerah pedesaan, jauh dari jalan
utama dan jauh dari polusi udara, tanah dan air. Pabrik memiliki area gudang, area
produksi, area pengolahan air, area pengolahan limbah, bengkel pembuatan wadah
kaleng, laboratorium, dan tempat pencucian peralatan. Area gudang meliputi
gudang bahan baku, gudang bahan pengemas, dan gudang barang jadi. Area
produksi merupakan suatu ruangan besar yang terbagi-bagi atas area produksi skin
care, pancake, puff, hoitong, talkum/eye shadow/blush on, parfum dan lipstik.
Pabrik juga dilengkapi dengan sarana penyediaan air bersih, kamar kecil, tempat
cuci tangan, kamar ganti pakaian, tempat sampah dan sarana pembuangan air
limbah. Hal ini menunjukkan bahwa pabrik telah memiliki fasilitas sanitasi yang
terencana dan teratur.
Berdasarkan fungsinya, penyediaan air bersih dibagi atas dua yaitu air
untuk MCK (mandi, cuci, kakus) dan air demi kebutuhan produksi. Air yang

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
57

digunakan untuk keperluan MCK bersumber dari satu sumur dengan kedalaman
100 m, tanpa pengolahan lebih lanjut. Sedangkan air yang digunakan untuk
keperluan produksi bersumber dari empat sumur dengan kedalaman 40 m. Air
yang digunakan untuk proses produksi merupakan air tanpa mineral sehingga air
harus mendapatkan pengolahan lebih lanjut. Air tanah yang tersedia ditampung
pada bak penampung yang kemudian ditambahkan koagulan didalam clasifier.
Lalu air diolah dengan mengalirkan pada bak penampung yang berisi Softener,
dengan media yang digunakan adalah Resin, dimana hal ini bertujuan untuk
mengurangi kesadahan atau rasa asin dari air tersebut. Memang sumber air yang
berada di area pabrik merupakan air yang mengandung tingkat kesadahan yang
tinggi, oleh karena itu diperlukan pengolahan khusus agar tingkat kesadahan
berkurang. Setelah itu air diolah melewati RO I (Reverse Osmosis I) dan
dilanjuntukan dengan RO II (Reverse Osmosis II). Selanjutnya pengolahan
dilanjuntukan pada EDI (Electric Dicharge Ion). Sehingga air yang didapat
memiliki TDS = 0. Bila pH air yang didapat berada dibawah standar, akan
dilakukan adjustment pH sehingga mencapai pH yang diharapkan. Air yang telah
melalui proses diatas akan ditampung pada bak penampungan. Air yang akan
digunakan pada proses produksi akan melewati lampu UV untuk membunuh
bakteri yang ada pada air. Akhirnya akan didapat air untuk produksi dengan TDS
< 1, tanpa mineral, dengan pH 5,5 – 7,5 dan bebas bakteri.
Pada saat ini PT. Fabindo Sejahtera melakukan pengolahan limbah dengan
menggunakan sistem penyaringan yang sederhana. Air limbah hasil produksi
dilewatkan pada saringan yang terdiri dari ijuk, arang/batu apung, ijuk, pasir dan
ijuk. Penyaringan ini berfungsi untuk menyaring kotoran fisik yang terdapat pada
limbah cair. Sistem IPAL yang ada akan terus dikembangkan sehingga
menggunakan sistem IPAL yang lebih memadai dan sesuai dengan persyaratan
dari BPOM.
Ruang produksi Skin Care dilengkapi dengan lantai epoksi, dinding beton,
siku-siku ruangan yang melengkung, atap yang mudah dibersihkan, penerangan
dan ventilasi udara yang memadai. Hampir seluruh ruangan produksi difasilitasi
hal tersebut, kecuali ruang produksi Hoitong. Ruang produksi Skin Care
dilengkapi dengan ruangan grey area dan black area. Pada kedua ruangan

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
58

tersebut, dilakukan uji mikrobiologi secara berkala untuk menjamin bahwa ruang
produksi telah bersih dan tidak terkontaminasi bakteri-bakteri yang dapat
menyebabkan rusaknya atau terdegradasinya produk dalam waktu yang cepat.
Ruang produksi parfum terdiri dari ruang mixing dan ruang filling yang
tergabung dengan ruang packing. Tidak seperti ruangan produksi lainnya, ruang
produksi parfum saat ini tidak dilengkapi dengan black area dan grey area (masih
dalam perencanaan renovasi). Walaupun parfum yang diproduksi berbahan dasar
alkohol, namun ruangan mixing dan filling belum dilengkapi dengan pengatur
suhu dan kelembaban. Ruangan ini difasilitasi dengan 3 kipas angin dan 3 blower
untuk sirkulasi udara. Selain itu ruangan filling dan packing tidak tertutup rapat,
yang berkontak langsung dengan udara luar. Dalam ruangan ini pegawai yang
bekerja terlihat memakai alat pelindung diri yang kurang memadai, yaitu hanya
berupa baju laboratorium dan beberapa pekerja tidak menggunakan masker. Hal
ini sebaiknya penting untuk diperhatikan, karena bau parfum yang menyengat
dapat mengganggu kesehatan pekerja apabila terpapar parfum terus-menerus.
Oleh karena itu sebaiknya didisain masker khusus untuk pekerja di bagian parfum,
yang dapat menetralisir bau menyengat dan menghambat penghirupan yang
terlalu berlebihan dari aroma parfum. Selain itu sebaiknya ruang black area dan
grey area juga segera dipisahkan dengan alasan menjaga higienitas produk.
Hoitong adalah bedak tabur dengan konsep tradisional yang mampu
menyerap minyak. Hoitong juga memiliki fungsi sebagai masker atau bedak
dingin,yang dapat mengurangi jerawat dan menghaluskan kulit. Hoitong
merupakan salah satu produk yang memiliki tingkat penjualan yang tinggi setelah
parfum. Selain dipasarkan di Indonesia, hoitong juga diekspor ke Malaysia.
Ruang produksi hoitong telah direnovasi menjadi dua bagian yaitu grey area dan
black area, yang terdiri dari ruang mixing, cetak, pengeringan, filling dan packing.
Karena masih dalam tahap renovasi, ruangan ini masih belum sepenuhnya
menerapkan CPKB. Lantainya masih terbuat dari keramik dan belum dilapisi oleh
epoksi. Pada pertemuan antara lantai dan dinding membentuk sudut mati sehingga
dapat mendeposit debu dan mempersulit saat pembersihan ruangan. Pada ruang
pengeringan sirkulasi udara kurang berjalan dengan lancar sehingga kondisi
ruangan menjadi agak lembab. Hal ini mengakibatkan waktu pengeringan yang

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
59

dibutuhkan menjadi lebih lama dari seharusnya. Namun hal ini sedang diupayakan
oleh pihak Research and Development PT. Fabindo Sejahtera untuk menemukan
metode pengeringan yang lebih efektif dan efisien.
Ada beberapa fasilitas yang masih perlu dilengkapi dan diperbaiki. Salah
satu contohnya adalah mengenai penerangan pada ruang mixing Pancake masih
kurang memadai, ada beberapa lampu yang tidak dilengkapi dengan penutup kaca
sehingga dapat menyimpan banyak debu dan sulit dibersihkan. Selain itu lantai
pada ruang mixing hoitong yang masih berupa lantai keramik menyebabkan lantai
menjadi licin akibat sisa-sisa serbuk pada saat mixing. Hal ini dapat
membahayakan pekerja karena dapat terpeleset. Oleh karena itu ruang produksi
Hoitong sebaiknya memerlukan penanganan segera agar sesuai dengan CPKB,
sehingga kebersihan produk tetap terjaga dan mencegah terjadinya kecelakaan
kerja.
Selain ruang produksi, ruangan yang perlu diperhatikan adalah
laboratorium. Laboratorium Quality Control (QC) telah memenuhi CPKB, yang
mengharuskan pemisahan ruang untuk masing-masing pemeriksaan.
Laboratorium terdiri dari ruang IPC (in process control), instrument, pemeriksaan
finish goods, pemeriksaan packaging dan ruang mikro. Laboratorium Research
and Development juga memiliki peralatan dan bahan yang cukup lengkap, dengan
alat trial yang telah disesuaikan sedemikian rupa dengan alat di ruang produksi.
PT. Fabindo Sejahtera masih belum memiliki departemen Quality Assurance
(QA), sehingga bagian itu masih dipegang oleh QC dan dikerjakan bersama-sama
dengan R&D. Namun sebaiknya perlu dipikirkan lebih mendalam untuk
memisahkan bagian QC dengan QA sehingga pekerjaan QC dapat lebih terfokus
menangani mutu yang dihasilkan dari proses produksi. Sejauh ini bila ada keluhan
dari konsumen, keluhan akan diterima oleh bagian QC dan selanjutnya akan
diteruskan ke bagian R&D untuk diidentifikasi permasalahannya. Namun PT.
Fabindo Sejahtera selalu berusaha untuk mengupayakan produk yang dihasilkan
bermutu baik, sehingga kasus keluhan konsumen atau penarikan barang jadi
jarang terjadi. PT. Fabindo Sejahtera juga terus berusaha menyempurnakan
kondisi ruang-ruang produksinya agar sesuai dengan CPKB. Kekurangan-

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
60

kekurangan yang ada saat ini berusaha untuk diperbaiki dengan mengadakan
renovasi secara bertahap.

5.2. Peralatan
Secara garis besar, peralatan yang digunakan PT. Fabindo Sejahtera telah
memenuhi persayaratan CPKB. Pabrik menggunakan peralatan dan perlengkapan
produksi yang sesuai dengan jenis produk. Peralatan yang digunakan pada
produksi di desain agar tidak bereaksi dengan bahan-bahan kosmetik yang sedang
diproses, tidak mengadsorbsi dan tidak melepaskan serpihan atau bagian dari
peralatan yang dapat mencemari produk. Peralatan-peralatan besar seperti tangki
mixing, hopper dan alat-alat lain berbahan stainless steel menggunakan stainless
steel grade 316 yang tahan terhadap korosi. Peralatan yang digunakan untuk
menimbang, mengukur, menguji dan mencatat ditara atau dikalibrasi secara
berkala agar fungsinya berjalan dengan baik, tepat serta akurat. Setiap peralatan
memiliki prosedur tetap yang terdiri dari spesifikasi alat, panduan operasional
penggunaan, cara pembersihan dan cara kalibrasi. Kalibrasi di PT. Fabindo
sejahtera dilakukan satu tahun sekali dan diperoleh sertifikat kalibrasi.
Namun ada beberapa peralatan yang kurang atau belum sesuai dengan
CPKB. Pada ruang mixing Pancake belum dilengkapi dengan dust collector untuk
menghisap debu yang ada. Pengumpulan dan pembersihan debu dilakukan secara
manual menggunakan vakum cleaner. Begitu pula pada ruang hoitong.

5.3. Sanitasi dan Higiene


Pada setiap aspek produk kosmetik selalu dilakukan upaya untuk
menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan. Upaya
tersebut selalu ditingkatkan oleh perusahaan terhadap tenaga kerja, bangunan,
peralatan, bahan, proses produksi, pengemas dan setiap hal yang dapat menjadi
sumber pencemaran produk. Higiene dari personil/karyawan merupakan salah
satu hal penting yang harus diperhatikan. Personil/karyawan diwajibkan mencuci
tangan dan menyemprotkan alkohol 70 % setiap memasuki ruang produksi,
mereka juga diwajibkan mengenakan pakaian khusus yang hanya dikenakan di
ruang produksi agar produk tidak terkontaminasi benda-benda asing. Selama

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
61

melakukan pekerjaannya karyawan diharuskan menahan diri untuk tidak makan


dan minum atau melakukan pekerjaan yang dapat mengakibatkan pencemaran
terhadap produk.
Peralatan yang langsung kontak dengan produk juga diwajibkan
mendapatkan sanitasi yang baik. Pembersihan alat dilakukan oleh pihak produksi
sebelum dan sesudah alat digunakan untuk proses produksi. Pemeliharaan
beberapa mesin-mesin produksi beserta peralatannya dilakukan sesuai jadwal
yang telah ditetapkan, ada alat yang diperiksa harian, mingguan, bulanan dan
tahunan. Kebersihan saat proses produksi juga harus dijaga, pada produksi
Pancake misalnya digunakan kain lap dan kuas untuk membersihkan godetnya
serta untuk membersihkan kaca pada container Pancake.

5.4. Pengolahan, Pengemasan dan Pengawasan Mutu


Pengolahan, pengemasan serta pengawasan mutu pada PT. Fabindo
Sejahtera dilaksanakan dengan mengikuti ketentuan tertulis sehingga dapat
menghasilkan produk seperti yang dikehendaki. Untuk pengolahan dan
pengemasan, PT. Fabindo Sejahtera menggunakan bahan baku dan pengemas
yang telah memenuhi persyaratan mutu yang berlaku sehingga tidak
membahayakan. Bahan baku dan bahan kemas dari supplier sebelum digunakan
untuk mengemas produk jadi terlebih dahulu diperiksa oleh pihak QC apabila
memenuhi syarat maka akan digunakan untuk produksi, namun apabila tidak
memenuhi syarat di reject dan di kembalikan ke supplier. Menurut CPKB Bahan
baku dan persyaratan mutunya belum ditetapkan dalam buku resmi dapat
mengacu pada sumber lain yang disetujui oleh Direktur Jenderal Pengawasan
Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, hal inilah yang
juga dialami PT. Fabindo Sejahtera mengingat industri dan teknologi di bidang
kosmetik berkembang pesat dengan adanya inovasi-inovasi baru maka banyak
bahan baku baru yang muncul dan belum di update oleh BPOM sehingga
persyaratan mutunya mengacu kepada data-data atau dokumen eksternal.
Produk akhir PT. Fabindo Sejahtera harus memenuhi standar mutu dan
persyaratan yang ditetapkan. Selain itu pada kemasan harus mancantumkan kode
produksi dan tanggal kadaluarsa secara jelas dan tidak boleh merugikan atau

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
62

membahayakan konsumen. Pengawasan mutu PT. Fabindo Sejahtera dilakukan


pada awal produksi (pre process control), selama proses produksi (in process
contol), setelah proses produksi (post process control). Pengawasan pada awal
produksi dilakukan oleh QC bagian pemeriksaan bahan baku yang memeriksa
bahan baku yang datang. Selanjutnya jika bahan-bahan tersebut memenuhi
persyaratan akan diproses untuk pembuatan produk kosmetik yang diinginkan.
Sebelum diedarkan di pasaran, produk akhir akan diperiksa secara organoleptik,
fisika, kimia, dan mikrobiologi oleh QC line. Produk jadi tersebut harus
dikarantina dahulu selama beberapa hari sebelum dipasarkan. Produk akhir yang
dikarantina akan diperiksa apakah sudah sesuai dengan standar mutu yang telah
ditetapkan. Produk dapat dipasarkan bila hasil pemeriksaan menunjukkan produk
telah memenuhi standar mutu produk.

5.5. Dokumentasi dan Pencatatan


Seluruh kegiatan produksi, pengujian dan analisis sampel selalu
didokumentasikan dengan baik oleh PT. Fabindo Sejahtera. Pencataan tersebut
sangat penting untuk meningkatkan keefektifan pengawasan kosmetik. Catatan ini
akan disimpan dalam file-file dokumen guna menelusuri jika terdapat keluhan dari
konsumen di kemudian hari.

Universitas Indonesia
Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
6.1.1 PT. Fabindo Sejahtera belum sepenuhnya menerapkan CPKB karena
keterbatasan sumber daya manusia, tempat dan operasionalnya, namun PT.
Fabindo Sejahtera berupaya menuju arah penerapan CPKB seluruhnya.
6.1.2 Apoteker memegang peranan yang sangat penting dalam industri
kosmetik, sebagai formulator, pengawas produksi, dan pengambil keputusan agar
produk yang dihasilkan tetap bermutu baik.

6.2 Saran
6.2.1 Setiap peralatan yang digunakan, baik untuk produksi maupun untuk
mengevaluasi produk, sebaiknya dikalibrasi dan divalidasi secara berkala.
6.2.2 Sebaiknya CPKB (Cara Pembuatan Kosmetika Yang Baik) diterapkan
secara menyeluruh, misalnya dengan mempertimbangkan adanya satu departemen
lagi yakni Departemen Quality Assurance (QA)
6.2.3 Personel atau karyawan merupakan unsur penting dalam produksi dan
mutu produk yang dihasilkan, untuk itu karyawan perlu terus dibina dan dilatih
sehingga produk yang dihasilkan senantiasa sesuai dengan standar yang
diterapkan. Hal ini termasuk dengan pemberian pelatihan mengenai cara
menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat saat bekerja.
6.2.4 PT. Fabindo Sejahtera senantiasa meningkatkan produknya melalui
pengembangan yang tiada henti, alangkah baiknya bila produk baru ini terus
ditingkatkan promosinya sehingga mendapatkan konsumen yang terus bertambah
dan pada akhirnya menjadi setia terhadap produk-produk PT. Fabindo Sejahtera.

63 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012


64

DAFTAR REFERENSI

Achyar. L, Lies. (1986). Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta: Pusat Penelitian dan
Pengembangan PT. Kalbe Farma.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2004). Harmonisasi ASEAN Dalam Bidang
Regulasi Kosmetik. Badan Pengawas Obat dan Makanan: Jakarta.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2008). Peraturan Kosmetika di Indonesia.
Badan Pengawas Obat dan Makanan: Jakarta.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2010). Penandaan/Peringatan Untuk
BahanKosmetika dengan Pembatasan Penggunaan. Badan Pengawas Obat
dan Makanan: Jakarta.
Iswari Tranggono, Retno dan Latifah, Fatma. (2008). Buku Pegangan Ilmu
Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT.Gramedia.
Kementerian Kesehatan. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 1176/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Notifikasi
Kosmetika. Jakarta : Kementerian Kesehatan.
Primadiati, Rachmi. (2001). Kecantikan, Kosmetika dan Estetika. Jakarta: PT.
Gramedia.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Eka Novita Christianti Bangun, FMIPA UI, 2012