Anda di halaman 1dari 43

INTERVENSI KEPERAWATAN KRISIS

“Proses Keperawatan Klien NAPZA”

DISUSUN OLEH :

AKROM FASICH WIBOWO 010216A003

BAIQ MIRA

DARIUS EDISON

IWIT WIDIASTUTI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN REGULER TRANSFER

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

UNGARAN

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyalahgunaan dan ketergantungan zat yang termasuk dalam katagori NAPZA

pada akhir-akhir ini makin marak dapat disaksikan dari media cetak koran dan majalah

serta media elektrolit seperti TV dan radio. Kecenderungannya semakin makin banyak

masyarakat yang memakai zat tergolong kelompok NAPZA tersebut, khususnya anak

remaja (15-24 tahun) sepertinya menjadi suatu model perilaku baru bagi kalangan remaja

(DepKes, 2001).Penyebab banyaknya pemakaian zat tersebut antara lain karena

kurangnya pengetahuan masyarakat akan dampak pemakaian zat tersebut serta

kemudahan untuk mendapatkannya. Kurangnya pengetahuan masyarakat bukan karena

pendidikan yang rendah tetapi kadangkala disebabkan karena faktor individu, faktor

keluarga dan faktor lingkungan.

Faktor individu yang tampak lebih pada kepribadian individu tersebut; faktor

keluarga lebih pada hubungan individu dengan keluarga misalnya kurang perhatian

keluarga terhadap individu, kesibukan keluarga dan lainnya; faktor lingkungan lebih pada

kurang positif sikap masyarakat terhadap masalah tersebut misalnya ketidakpedulian

masyarakat tentang NAPZA (Hawari, 2000). Dampak yang terjadi dari faktor-faktor di

atas adalah individu mulai melakukan penyalahgunaan dan ketergantungan akan zat. Hal

ini ditunjukkan dengan makin banyaknya individu yang dirawat di rumah sakit karena

penyalahgunaan dan ketergantungan zat yaitu mengalami intoksikasi zat dan withdrawal.
Peran penting tenaga kesehatan dalam upaya menanggulangi penyalahgunaan dan

ketergantungan NAPZA di rumah sakit khususnya upaya terapi dan rehabilitasi sering

tidak disadari, kecuali mereka yang berminat pada penanggulangan NAPZA (DepKes,

2001). Berdasarkan permasalahan yang terjadi di atas, maka perlunya peran serta tenaga

kesehatan khususnya tenaga keperawatan dalam membantu masyarakat yang di rawat di

rumah sakit untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat. Untuk itu

dirasakan perlu perawat meningkatkan kemampuan merawat klien dengan menggunakan

pendekatan proses keperawatan yaitu asuhan keperawatan klien penyalahgunaan dan

ketergantungan NAPZA (sindrom putus zat).

B. Tujuan

1. Mengetahui pengkajian analisa dari pengguna NAPZA

2. Mengetahui perumusahan masalah keperawatan pengguna NAPZA

3. Mengetahui Intervensi keperawatan pengguna NAPZA

4. Mengetahui Implementasi keperawatan pengguna NAPZA

5. Mengetahui evaluasi keperawatan pengguna NAPZA


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian NAPZA

NAPZA adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya,

meliputi zat alami atau sintetis yang bila dikonsumsi menimbulkan perubahan fungsi fisik dan

psikis, serta menimbulkan ketergantungan (BNN, 2004). NAPZA adalah zat yang

memengaruhi struktur atau fungsi beberapa bagian tubuh orang yang mengonsumsinya.

Manfaat maupun risiko penggunaan NAPZA bergantung pada seberapa banyak, seberapa

sering, cara menggunakannya, dan bersamaan dengan obat atau NAPZA lain yang dikonsumsi

(Kemenkes RI, 2010).

B. Jenis–Jenis NAPZA

NAPZA dibagi dalam 3 jenis, yaitu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Tiap

jenis dibagi-bagi lagi ke dalam beberapa kelompok.

1. Narkotika

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik

sintetis maupun bukan sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan

kesadaran dan hilangnya rasa. Zat ini dapat mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri

dan dapat menimbulkan ketergantungan.Narkotika memiliki daya adiksi (ketagihan) yang

sangat berat. Narkotika juga memiliki daya toleran (penyesuaian) dan daya habitual

(kebiasaan) yang sangat tinggi. Ketiga sifat narkotika inilah yang menyebabkan pemakai

narkotika tidak dapat lepas dari “cengkraman”-nya. Berdasarkan Undang-Undang No.35


Tahun 2009, jenis narkotika dibagi ke dalam 3 kelompok, yaitu narkotika golongan I,

golongan II, dan golongan III.

a. Narkotika golongan I adalah : narkotika yang paling berbahaya. Daya adiktifnya

sangat tinggi. Golongan ini tidak boleh digunakan untuk kepentingan apapun,

kecuali untuk penelitian atau ilmu pengetahuan. Contohnya ganja, heroin, kokain,

morfin, opium, dan lain-lain.

b. Narkotika golongan II adalah : narkotika yang memiliki daya adiktif kuat, tetapi

bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah petidin dan

turunannya, benzetidin, betametadol, dan lain-lain.

c. Narkotika golongan III adalah : narkotika yang memiliki daya adiktif ringan,

tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah kodein dan

turunannya.

2. Psikotropika

Psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun sintetis, yang

memiliki khasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang

menyebabkan perubahan khas pada aktivitas normal dan perilaku. Psikotropika adalah

obat yang digunakan oleh dokter untuk mengobati gangguan jiwa (psyche).

Berdasarkan Undang-Undang No.5 tahun 1997, psikotropika dapat dikelompokkan ke

dalam 4 golongan, yaitu :

a. Golongan I adalah : psikotropika dengan daya adiktif yang sangat kuat, belum

diketahui manfaatnya untuk pengobatan, dan sedang diteliti khasiatnya. Contohnya

adalah MDMA, ekstasi, LSD, dan STP.


b. Golongan II adalah : psikotropika dengan daya adiktif kuat serta berguna untuk

pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah amfetamin, metamfetamin,

metakualon, dan sebagainya.

c. Golongan III adalah : psikotropika dengan daya adiksi sedang serta berguna untuk

pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah lumibal, buprenorsina,

fleenitrazepam, dan sebagainya.

d. Golongan IV adalah : psikotropika yang memiliki daya adiktif ringan serta

berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah nitrazepam (BK,

mogadon, dumolid), diazepam, dan lain-lain.

C. Tahapan Pemakaian NAPZA

Ada beberapa tahapan pemakaian NAPZA yaitu sebagai berikut :

1. Tahap pemakaian coba-coba (eksperimental)

Karena pengaruh kelompok sebaya sangat besar, remaja ingin tahu atau coba-coba.

Biasanya mencoba mengisap rokok, ganja, atau minum-minuman beralkohol. Jarang yang

langsung mencoba memakai putaw atau minum pil ekstasi

2. Tahap pemakaian social

Tahap pemakaian NAPZA untuk pergaulan (saat berkumpul atau pada acara tertentu),

ingin diakui/diterima kelompoknya. Mula-mula NAPZA diperoleh secara gratis atau

dibeli dengan murah. Ia belum secara aktif mencari NAPZA.

3. Tahap pemakaian situasional

Tahap pemakaian karena situasi tertentu, misalnya kesepian atau stres. Pemakaian

NAPZA sebagai cara mengatasi masalah. Pada tahap ini pemakai berusaha memperoleh

NAPZA secara aktif.


4. Tahap habituasi (kebiasaan)

Tahap ini untuk yang telah mencapai tahap pemakaian teratur (sering), disebut juga

penyalahgunaan NAPZA, terjadi perubahan pada faal tubuh dan gaya hidup. Teman lama

berganti dengan teman pecandu. Ia menjadi sensitif, mudah tersinggung, pemarah, dan

sulit tidur atau berkonsentrasi, sebab narkoba mulai menjadi bagian dari kehidupannya.

Minat dan cita-citanya semula hilang. Ia sering membolos dan prestasi sekolahnya

merosot. Ia lebih suka menyendiri daripada berkumpul bersama keluarga.

5. Tahap ketergantungan

Ia berusaha agar selalu memperoleh NAPZA dengan berbagai cara. Berbohong, menipu,

atau mencuri menjadi kebiasaannya. Ia sudah tidak dapat mengendalikan penggunaannya.

NAPZA telah menjadi pusat kehidupannya. Hubungan dengan keluarga dan teman-teman

rusak. Pada ketergantungan, tubuh memerlukan sejumlah takaran zat yang dipakai, agar ia

dapat berfungsi normal. Selama pasokan NAPZA cukup, ia tampak sehat, meskipun

sebenarnya sakit. Akan tetapi, jika pemakaiannya dikurangi atau dihentikan, timbul gejala

sakit. Hal ini disebut gejala putus zat (sakaw). Gejalanya bergantung pada jenis zat yang

digunakan. Orang pun mencoba mencampur berbagai jenis NAPZA agar dapat merasakan

pengaruh zat yang diinginkan, dengan risiko meningkatnya kerusakan organ-organ tubuh.

Gejala lain ketergantungan adalah toleransi, suatu keadaan di mana jumlah NAPZA yang

dikonsumsi tidak lagi cukup untuk menghasilkan pengaruh yang sama seperti yang

dialami sebelumnya. Oleh karena itu, jumlah yang diperlukan meningkat. Jika jumlah

NAPZA yang dipakai berlebihan (overdosis), dapat terjadi kematian (Harlina, 2008).
D. Faktor Risiko Penyalahgunaan NAPZA

Menurut Soetjiningsih (2004), faktor risiko yang menyebabkan penyalahgunaan NAPZA

antara lain faktor genetik, lingkungan keluarga, pergaulan (teman sebaya), dan karakteristik

individu.

1. Faktor Genetik

Risiko faktor genetik didukung oleh hasil penelitian bahwa remaja dari orang tua kandung

alkoholik mempunyai risiko 3-4 kali sebagai peminum alkohol dibandingkan remaja dari

orang tua angkat alkoholik. Penelitian lain membuktikan remaja kembar monozigot

mempunyai risiko alkoholik lebih besar dibandingkan remaja kembar dizigot.

2. Lingkungan Keluarga

Pola asuh dalam keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap penyalahgunaan

NAPZA. Pola asuh orang tua yang demokratis dan terbuka mempunyai risiko

penyalahgunaan NAPZA lebih rendah dibandingkan dengan pola asuh orang tua dengan

disiplin yang ketat. Fakta berbicara bahwa tidak semua keluarga mampu menciptakan

kebahagiaan bagi semua anggotanya. Banyak keluarga mengalami problem-problem

tertentu. Salah satunya ketidakharmonisan hubungan keluarga. Banyak keluarga

berantakan yang ditandai oleh relasi orangtua yang tidak harmonis dan matinya

komunikasi antara mereka. Ketidakharmonisan yang terus berlanjut sering berakibat

perceraian. Kalau pun keluarga ini tetap dipertahankan, maka yang ada sebetulnya adalah

sebuah rumah tangga yang tidak akrab dimana anggota keluarga tidak merasa betah.

Orangtua sering minggat dari rumah atau pergi pagi dan pulang hingga larut malam. Ke

mana anak harus berpaling? Kebanyakan diantara penyalahguna NAPZA mempunyai


hubungan yang biasa-biasa saja dengan orang tuanya. Mereka jarang menghabiskan

waktu luang dan bercanda dengan orang tuanya (Jehani, dkk, 2006).

3. Pergaulan (Teman Sebaya)

Di dalam mekanisme terjadinya penyalahgunaan NAPZA, teman kelompok

sebaya (peer group) mempunyai pengaruh yang dapat mendorong atau mencetuskan

penyalahgunaan NAPZA pada diri seseorang. Menurut Hawari (2006) perkenalan

pertama dengan NAPZA justru datangnya dari teman kelompok. Pengaruh teman

kelompok ini dapat menciptakan keterikatan dan kebersamaan, sehingga yang

bersangkutan sukar melepaskan diri. Pengaruh teman kelompok ini tidak hanya pada saat

perkenalan pertama dengan NAPZA, melainkan juga menyebabkan seseorang tetap

menyalahgunakan NAPZA, dan yang menyebabkan kekambuhan (relapse). Bila

hubungan orangtua dan anak tidak baik, maka anak akan terlepas ikatan psikologisnya

dengan orangtua dan anak akan mudah jatuh dalam pengaruh teman kelompok. Berbagai

cara teman kelompok ini memengaruhi si anak, misalnya dengan cara membujuk,

ditawari bahkan sampai dijebak dan seterusnya sehingga anak turut menyalahgunakan

NAPZA dan sukar melepaskan diri dari teman kelompoknya.

Marlatt dan Gordon (1980) dalam penelitiannya terhadap para penyalahguna

NAPZA yang kambuh, menyatakan bahwa mereka kembali kambuh karena ditawari oleh

teman-temannya yang masih menggunakan NAPZA (mereka kembali bertemu dan

bergaul). Kondisi pergaulan sosial dalam lingkungan yang seperti ini merupakan kondisi

yang dapat menimbulkan kekambuhan. Proporsi pengaruh teman kelompok sebagai

penyebab kekambuhan dalam penelitian tersebut mencapai 34%.


4. Karakteristik Individu

a. Umur

Berdasarkan penelitian, kebanyakan penyalahguna NAPZA adalah mereka yang

termasuk kelompok remaja. Pada umur ini secara kejiwaan masih sangat labil,

mudah terpengaruh oleh lingkungan, dan sedang mencari identitas diri serta

senang memasuki kehidupan kelompok. Hasil temuan Tim Kelompok Kerja

Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba Departemen Pendidikan Nasional

menyatakan sebanyak 70% penyalahguna NAPZA di Indonesia adalah anak usia

sekolah (Jehani, dkk, 2006). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2004)

proporsi penyalahguna NAPZA tertinggi pada kelompok umur 17-19 tahun (54%).

b. Pendidikan

Menurut Friedman (2005) belum ada hasil penelitian yang menyatakan apakah

pendidikan mempunyai risiko penyalahgunaan NAPZA. Akan tetapi, pendidikan

ada kaitannya dengan cara berfikir, kepemimpinan, pola asuh, komunikasi, serta

pengambilan keputusan dalam keluarga.Hasil penelitian Prasetyaningsih (2003)

menunjukkan bahwa pendidikan penyalahguna NAPZA sebagian besar termasuk

kategori tingkat pendidikan dasar (50,7%). Asumsi umum bahwa semakin tinggi

pendidikan, semakin mempunyai wawasan/pengalaman yang luas dan cara

berpikir serta bertindak yang lebih baik. Pendidikan yang rendah memengaruhi

tingkat pemahaman terhadap informasi yang sangat penting tentang NAPZA dan

segala dampak negatif yang dapat ditimbulkannya, karena pendidikan rendah

berakibat sulit untuk berkembang menerima informasi baru serta mempunyai pola

pikir yang sempit.


c. Pekerjaan

Hasil studi BNN dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia tahun 2009

di kalangan pekerja di Indonesia diperoleh data bahwa penyalahguna NAPZA

tertinggi pada karyawan swasta dengan prevalensi 68%, PNS/TNI/POLRI dengan

prevalensi 13%, dan karyawan BUMN dengan prevalensi 11% (BNN, 2010).

E. Dampak Penyalahgunaan NAPZA

a. Akibat zat itu sendiri

Termasuk di sini gangguan mental organik akibat zat, misalnya intoksikasi yaitu

suatu perubahan mental yang terjadi karena dosis berlebih yang memang

diharapkan oleh pemakaiannya. Sebaliknya bila pemakaiannya terputus akan

terjadi kondisi putus zat.

 Ganja : pemakaian lama menurunkan daya tahan sehingga mudah terserang

infeksi. Ganja juga memperburuk aliran darah koroner.

 Kokain : bisa terjadi aritmia jantung, ulkus atau perforasi sekat hidung,

jangka panjang terjadi anemia dan turunnya berat badan.

 Alkohol : menimbulkan banyak komplikasi, misalnya : gangguan lambung,

kanker usus, gangguan hati, gangguan pada otot jantung dan saraf, gangguan

metabolisme, cacat janin dan gangguan seksual.

 Akibat bahan campuran/pelarut : bahaya yang mungkin timbul : infeksi,

emboli.

 Akibat cara pakai atau alat yang tidak steril akan terjadi infeksi,

berjangkitnya AIDS atau hepatitis.


b. Terhadap kehidupan mental emosional

Intoksikasi alkohol atau sedatif-hipnotik menimbulkan perubahan pada kehidupan

mental emosional yang bermanifestasi pada gangguan perilaku tidak wajar.

Pemakaian ganja yang berat dan lama menimbulkan sindrom amotivasional. Putus

obat golongan amfetamin dapat menimbulkan depresi sampai bunuh diri.

c. Terhadap kehidupan social

Gangguan mental emosional pada penyalahgunaan obat akan mengganggu

fungsinya sebagai anggota masyarakat, bekerja atau sekolah. Pada umumnya

prestasi akan menurun, lalu dipecat/dikeluarkan yang berakibat makin kuatnya

dorongan untuk menyalahgunakan obat. Dalam posisi demikian hubungan anggota

keluarga dan kawan dekat pada umumnya terganggu. Pemakaian yang lama akan

menimbulkan toleransi, kebutuhan akan zat bertambah. Akibat selanjutnya akan

memungkinkan terjadinya tindak kriminal, keretakan rumah tangga sampai

perceraian. Semua pelanggaran, baik norma sosial maupun hukumnya terjadi

karena kebutuhan akan zat yang mendesak dan pada keadaan intoksikasi yang

bersangkutan bersifat agresif dan impulsif (Alatas, dkk, 2006).

F. Tanda dan Gejala NAPZA

Tanda dan Gejala Penggunaan NAPZA

a. Tanda-tanda di rumah :

 Hilangnya minat dalam aktifitas keluarga.

 Tidak patuh terhadap aturan keluarga.

 Hilang/berkurangnya rasa tanggung jawab.


 Bersikap kasar baik secara verbal maupun fisik Menurun/meningkatnya nafsu makan

secara tiba-tiba.

 Mengaku sering kehilangan barang atau uang.

 Tidak pernah pulang ke rumah tepat waktu.

 Tidak mengatakan kepada siapapun kemana mereka pergi.

 Terus-menerus meminta maaf terhadap segala perbuatannya.

 Menghabiskan banyak waktunya berdiam diri di dalam kamar bila sedang di rumah.

 Sering berbohong mengenai aktifitas mereka

 Menemukan benda-benda, seperti kertas pembungkus rokok, pipa hisap, gelas kecil,

sisa-sisa serbuk maupun jarum suntik dan lain-lainnya yang mencurigakan.

b. Tanda-tanda di sekolah/tempat kerja :

 Sering tiba-tiba pingsan di sekolah/tempat kerja.

 Acapkali bolos masuk sekolah/kerja.

 Kehilangan minat dalam kegiatan belajar.

 Tertidur di dalam kelas/saat bekerja

 Buruk dalam penampilan sehari-hari

 Tidak pernah mengerjakan tugas pekerjaan rumah.

 Tidak mematuhi bahkan menentang aturan sekolah/otoritas.

 Perilaku yang buruk di setiap kegiatan sekolah/pekerjaan

 Penurunan konsentrasi, perhatian dan memori.

 Tidak pernah memberitahukan orang tua/wali jika ada pemanggilan/pertemuan

dengan guru.
c. Tanda-tanda kelainan fisik dan emosional :

 Teman/kelompok sering berganti-ganti.

 Pasangan/pacar yang juga sering berganti-ganti.

 Tercium bau-bauan aneh seperti bau alkohol, mariyuana, dan rokok dari nafas

atau badan.

 Perubahan perilaku dan mood yang tidak dapat dijelaskan.

 Sering melawan aturan, bersikap negatif, paranoid (ketakutan dan curiga),

destruktif (merusak), tampak cemas.

 Tidak pernah tampak kegembiraan seperti yang seharusnya

 Selalu tampak lelah/hiperaktif yang berlebihan.

 Penurunan/peningkatan berat badan yang drastis.

 Kadang tampak depresi, mudah sedih dan tertekan.

 Seringkali menipu, berbohong atau kedapatan mencuri.

 Mengaku memerlukan uang/sebaliknya merasa punya uang lebih.

 Umumnya penampilannya kotor dan tidak terurus.

Gejala yang timbul diantaranya : bicara cadel, gerakan tidak terkoordinir, kesadaran

menurun, vertigo, dilatasi pupil, jalan sempoyongan, konjungtiva merah, nafsu makan

bertambah, mullut kering, denyut jantung cepat, panik, curiga, banyak keringat, mual

muntah, halusinasi dan mengantuk.Dan jika putus zat maka gejala yang terjadi sebagai

berikut : gelisah, berkeringat, denyut jantung cepat, tremor ditangan, mual muntah,

kejang otot, cemas, agresif, halusinasi, delirium, insomnia, pupil melebar, murung,

depresi berat dan ada tindakan bunuh diri.


d. Ciri-ciri Pengguna NAPZA

 Keinginan yang tak tertahankan untuk mengkonsumsi salah satu atau lebih zat yang

tergolong NAPZA.

 Kecenderungan untuk menambah dosis sejalan dengan batas toleransi tubuh yang

meningkat.

 Ketergantungan psikis, yaitu apabila penggunaan NAPZA dihentikan akan

menimbulkan kecemasan, depresi dan gejala psikis lain.

 Ketergantungan fisik, yaitu apabila pemakaian dihentikan akan menimbulkan gejala

fisik yang disebut gejala putus zat (withdrawal syndrome). Withdrawal Syndrome

terlihat dari beberapa aktivitas fisik seperti orang yang mengalami sakaratul maut,

meronta, berteriak maupun melakukan aktivitas lain yang menunjukkan bentuk

bahwa dia membutuhkan sebuah zat psikotropika.

e. Ciri-ciri Pengguna NAPZA

1. Ciri Fisik

 Berat badan turun drastic

 Mata cekung dan merah, muka pucat dan bibir kehitaman.

 Buang air besar dan air kecil kurang lancar.

 Sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas.

 Tanda berbintik merah seperti bekas gigitan nyamuk dan ada bekas luka sayatan.

 Terdapat perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan.

 Sering batuk-pilek berkepanjangan.

 Mengeluarkan air mata yang berlebihan.


 Mengeluarkan keringat yang berlebihan.

 Kepala sering nyeri, persendian ngilu.

2. Ciri Emosi

 Sangat sensitif dan cepat bosan.

 Jika ditegur atau dimarahi malah membangkang.

 Mudah curiga dan cemas.

 Emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul atau berbicara kasar kepada

orang disekitarnya, termasuk kepada anggota keluarganya. Ada juga yang berusaha

menyakiti diri sendiri.

3. Ciri Perilaku

 Malas dan sering melupakan tanggung jawab/tugas rutinnya.

 Menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga.

 Di rumah waktunya dihabiskan untuk menyendiri di kamar, toilet, gudang, kamar

mandi, ruang-ruang yang gelap.

 Nafsu makan tidak menentu.

 Takut air, jarang mandi.

 Sering menguap.

 Sikapnya cenderung jadi manipulatif dan tiba-tiba bersikap manis jika ada maunya,

misalnya untuk membeli obat.

 Sering bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit

dan pulang lewat tengah malam.

 Selalu kehabisan uang, barang-barang pribadinya pun hilang dijual

 Suka berbohong dan gampang ingkar janji.


 Sering mencuri baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun pekerjaan.

4. Ciri-ciri Kecanduan NAPZA

 Air mata berlebhan

 Banyak lender dari hidung

 Diare

 Bulu kuduk berdiri

 Sukar tidur

 Menguap

 Jantung berdebar-debar

 Ngilu pada sendi

G. Akibat Penyalahgunaan NAPZA

3 (tiga) aspek akibat langsung penyalahgunaan NAPZA antara lain :

1. Secara fisik

Penggunaan NAPZA akan mengubah metabolisme tubuh seseorang. Hal ini terlihat

dari peningkatan dosis yang semakin lama semakin besar dan gejala putus obat.

Keduanya menyebabkan seseorang untuk berusaha terus-menerus mengkonsumsi

NAPZA.

2. Secara psikis

Berkaitan dengan berubahnya beberapa fungsi mental, seperti rasa bersalah, malu dan

perasaan nyaman yang timbul dari mengkonsumsi NAPZA. Cara yang kemudian

ditempuh untuk beradaptasi dengan perubahan fungsi mental itu adalah dengan

mengkonsumsi lagi NAPZA.


3. Secara social

Dampak sosial yang memperkuat pemakaian NAPZA. Proses ini biasanya diawali

dengan perpecahan di dalam kelompok sosial terdekat seperti keluarga, sehingga

muncul konflik dengan orang tua, teman-teman, pihak sekolah atau pekerjaan. Perasaan

dikucilkan pihak-pihak ini kemudian menyebabkan si penyalahguna bergabung dengan

kelompok orang-orang serupa, yaitu para penyalahguna NAPZA juga.

H. Gejala Klinis Penyalahgunaan NAPZA

1. Perubahan Fisik

Gejala fisik yang terjadi tergantung jenis zat yang digunakan, tapi secara umum dapat

digolongkan sebagai berikut :

Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel), apatis (acuh

tak acuh), mengantuk, agresif, curiga Bila kelebihan dosis (overdosis) : nafas sesak,

denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, nafas lambat/berhenti, meninggal

Bila sedang ketagihan (putus zat/sakau) : mata dan hidung berair, menguap terus

menerus, diare, rasa sakit diseluruh tubuh, takut air sehingga malas mandi, kejang,

kesadaran menurun. Pengaruh jangka panjang, penampilan tidak sehat, tidak peduli

terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan kropos, terhadap bekas

suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada pengguna dengan jarum suntik).

2. Perubahan Sikap dan Perilaku

Prestasi sekolah menurun,sering tidak mengerjakan tugas sekolah, sering membolos,

pemalas, kurang bertanggung jawab.

Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk dikelas atau

tampat kerja. Sering berpegian sampai larut malam,kadang tidak pulang tanpa memberi
tahu lebih dulu Sering mengurung diri, berlama-lama dikamar mandi, menghindar

bertemu dengan anggota keluarga lain dirumah Sering mendapat telepon dan didatangi

orang tidak dikenal oleh keluarga, kemudian menghilang Sering berbohong dan minta

banyak uang dengan berbagai alasan tapi tak jelas penggunaannya, mengambil dan

menjual barang berharga milik sendiri atau milik keluarga, mencuri, terlibat tindak

kekerasan atau berurusan dengan polisi. Sering bersikap emosional, mudah

tersinggung, marah, kasar sikap bermusuhan, pencuriga, tertutup dan penuh rahasia.

3. Alat Yang Digunakan

Ada beberapa peralatan yang dapat menjadi petunjuk bahwa seseorang mempunyai

kebiasaan menggunakan jenis NAPZA tertentu. Misalnya pada pengguna Heroin, pada

dirinya, dalam kamarnya, tasnya atau laci meja terdapat antara lain :

Jarum suntik insulin ukuran 1 ml,kadang-kadang dibuang pada saluran air di kamar

mandi, botol air mineral bekas yang berlubang di dindingnya, Sedotan minuman dari

plastic, Gulungan uang kertas,yang digulung untuk menyedot heroin atau kokain,

kertas timah bekas bungkus rokok atau permen karet, untuk tempat heroin dibakar.

Kartu telepon, untuk memilah bubuk heroin, Botol-botol kecil sebesar jempol,dengan

pipa pada dindingnya.

I. Komplikasi Dari Penyalahgunaan NAPZA

lain : HIV infeksi, Hepatitis B dan C, Gastritis, Penyakit kulit kelamin, Bronchitis dan

Chirosis hepatis. Masalah kesehatan yang muncul : depresi system pernafasan, depresi pusat

pengatur kesadaran, kecemasan yang sangat berat sampai panic, perilaku agresif, gangguan

daya ingat, gangguan ADL, gangguan system musculoskeletal missal nyeri sendi dan otot,

serta perilaku mencederai diri.


J. Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA

Pencegahan penyalahgunaan NAPZA, meliputi (BNN, 2004) :

1. Pencegahan primer

Pencegahan primer atau pencegahan dini yang ditujukan kepada mereka, individu,

keluarga, kelompok atau komunitas yang memiliki risiko tinggi terhadap penyalahgunaan

NAPZA, untuk melakukan intervensi agar individu, kelompok, dan masyarakat waspada

serta memiliki ketahanan agar tidak menggunakan NAPZA. Upaya pencegahan ini

dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses tumbuh

kembang anak dapat diatasi dengan baik.

2. Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder ditujukan pada kelompok atau komunitas yang sudah

menyalahgunakan NAPZA. Dilakukan pengobatan agar mereka tidak menggunakan

NAPZA lagi.

3. Pencegahan tersier

Pencegahan tersier ditujukan kepada mereka yang sudah pernah menjadi penyalahguna

NAPZA dan telah mengikuti program terapi dan rehabilitasi untuk menjaga agar tidak

kambuh lagi. Sedangkan pencegahan terhadap penyalahguna NAPZA yang kambuh

kembali adalah dengan melakukan pendampingan yang dapat membantunya untuk

mengatasi masalah perilaku adiksinya, detoksifikasi, maupun dengan melakukan

rehabilitasi kembali.

K. Terapi dan Rehabilitasi


1. Detoksifikas

Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan detoksifikasi. Detoksifikasi adalah

upaya untuk mengurangi atau menghentikan gejala putus zat, dengan dua cara yaitu:

a. Detoksifikasi Tanpa Subsitusi

Klien ketergantungan putau (heroin) yang berhenti menggunakan zat yang mengalami

gajala putus zat tidak diberi obat untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut. Klien

hanya dibiarkan saja sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri.

b. Detoksifikasi dengan Substitusi

Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan memberikan jenis opiat misalnya kodein,

bufremorfin, dan metadon. Substitusi bagi pengguna sedatif-hipnotik dan alkohol dapat

dari jenis anti ansietas, misalnya diazepam. Pemberian substitusi adalah dengan cara

penurunan dosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Selama pemberian

substitusi dapat juga diberikan obat yang menghilangkan gejala simptomatik, misalnya

obat penghilang rasa nyeri, rasa mual, dan obat tidur atau sesuai dengan gejala yang

ditimbulkan akibat putus zat tersebut (Purba, 2008).

2. Rehabilitasi

Yang dimaksud dengan rehabilitasi adalah upaya memulihkan dan mengembalikan

kondisi para mantan penyalahguna NAPZA kembali sehat dalam arti sehat fisik,

psikologik, sosial, dan spiritual. Dengan kondisi sehat tersebut diharapkan mereka akan

mampu kembali berfungsi secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari.Menurut Hawari

(2006) jenis-jenis rehabilitasi antara lain :

a. Rehabilitasi Medik
Dengan rehabilitasi medik ini dimaksudkan agar mantan penyalahguna NAPZA

benar-benar sehat secara fisik. Termasuk dalam program rehabilitasi medik ini

ialah memulihkan kondisi fisik yang lemah, tidak cukup diberikan gizi makanan

yang bernilai tinggi, tetapi juga kegiatan olahraga yang teratur disesuaikan dengan

kemampuan masing-masing yang bersangkutan.

b. Rehabilitasi Psikiatrik

Rehabilitasi psikiatrik ini dimaksudkan agar peserta rehabilitasi yang semula

bersikap dan bertindak antisosial dapat dihilangkan, sehingga mereka dapat

bersosialisasi dengan baik dengan sesama rekannya maupun personil yang

membimbing atau mengasuhnya. Termasuk rehabilitasi psikiatrik ini adalah

psikoterapi/konsultasi keluarga yang dapat dianggap sebagai “rehabilitasi”

keluarga terutama bagi keluarga-keluarga broken home. Konsultasi keluarga ini

penting dilakukan agar keluarga dapat memahami aspek-aspek kepribadian

anaknya yang terlibat penyalahgunaan NAPZA,bagaimana cara menyikapinya bila

kelak ia telah kembali ke rumah dan upaya pencegahan agar tidak kambuh.

c. Rehabilitasi Psikososial

Dengan rehabilitasi psikososial ini dimaksudkan agar peserta rehabilitasi dapat

kembali adaptif bersosialisasi dalam lingkungan sosialnya, yaitu di rumah, di

sekolah/kampus dan di tempat kerja. Program ini merupakan persiapan untuk

kembali ke masyarakat. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali dengan pendidikan

dan keterampilan misalnya berbagai kursus ataupun balai latihan kerja yang dapat

diadakan di pusat rehabilitasi. Dengan demikian diharapkan bila mereka telah


selesai menjalani program rehabilitasi dapat melanjutkan kembali ke

sekolah/kuliah atau bekerja.

d. Rehabilitasi Psikoreligius

Rehabilitasi psikoreligius memegang peranan penting. Unsur agama dalam

rehabilitasi bagi para pasien penyalahguna NAPZA mempunyai arti penting dalam

mencapai penyembuhan. Unsur agama yang mereka terima akan memulihkan dam

memperkuat rasa percaya diri, harapan dan keimanan. Pendalaman, penghayatan

dan pengamalan keagamaan atau keimanan ini akan menumbuhkan kekuatan

kerohanian pada diri seseorang sehingga mampu menekan risiko seminimal

mungkin terlibat kembali dalam penyalahgunaan NAPZA.

e. Forum Silaturahmi

Forum silaturahmi merupakan program lanjutan (pasca rehabilitasi) yaitu program

atau kegiatan yang dapat diikuti oleh mantan penyalahguna NAPZA (yang telah

selesai menjalani tahapan rehabilitasi) dan keluarganya. Tujuan yang hendak

dicapai dalam forum silaturahmi ini adalah untuk memantapkan terwujudnya

rumah tangga/keluarga sakinah yaitu keluarga yang harmonis dan religius,

sehingga dapat memperkecil kekambuhan penyalahgunaan NAPZA.

f. Program Terminal

Pengalaman menunjukkan bahwa banyak dari mereka sesudah menjalani program

rehabilitasi dan kemudian mengikuti forum silaturahmi, mengalami kebingungan

untuk program selanjutnya. Khususnya bagi pelajar dan mahasiswa yang karena

keterlibatannya pada penyalahgunaan NAPZA di masa lalu terpaksa putus sekolah

menjadi pengangguran; perlu menjalani program khusus yang dinamakan program


terminal (re-entry program), yaitu program persiapan untuk kembali melanjutkan

sekolah/kuliah atau bekerja.


BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

Setiap melakukan pengkajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat.

A. IDENTITAS KLIEN

Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang: nama

klien, panggilan klien, jenis kelamin (pria > wanita), usia (biasanya pada usia produktif),

pendidikan (segala jenis/ tingkat pendidikan beresiko menggunakan NAPZA), pekerjaan

(tingkat keseriusan/ tuntutan dalam pekerjaannya dapat menimbulkan masalah), status

(belum menikah, menikah atau bercerai), kemudian nama perawat, tujuan, waktu, tempat

pertemuan, topik yang akan dibicarakan.

1. Alasan masuk

Biasanya karena timbul gejala-gejala penyalahgunaan NAPZA (fsikososial) atau mungkin

klien mengatakan tidak tahu, karena yang membawanya ke RS adalah keluarganya.

Alasan masuk tanyakan kepada klien dan keluarga.

2. Faktor Predisposisi

Kaji hal-hal yang menyebabkan perubahan perilaku klien menjadi pecandu/ pengguna

NAPZA, baik dari pasien maupun keluarga.

3. Fisik

Pengkajian fisik difokuskan pada sistem dan fungsi organ akibat gejala yang biasa timbul

dari jenis NAPZA yang digunakan seperti tanda-tanda vital, berat badan,dll.

B. PSIKOSOSIAL
1. Genogram

Buatlah genogram minimal tiga generasi yang dapat menggambarkan hubungan klien

dan keluarga.

2. Konsep diri

a. Gambaran diri : Klien mungkin merasa tubuhnya baik-baik saja

b. Identitas : Klien mungkin kurang puas terhadap dirinya sendiri

c. Peran : Peran klien dalam keluarga

d. Ideal diri : Klien menginginkan keluarga dan orang lain menghargainya

e. Harga diri : Kurangnya penghargaan keluarga terhadap perannya

3. Hubungan social

Klien penyalahgunaan NAPZA biasanya menarik diri dari aktivitas keluarga maupun

masyarakat. Klien sering menyendiri, menghindari kontak mata langsung, sering

berbohong dan lain sebagainya.

4. Spiritual

a. Nilai dan keyakinan : Menurut masyarakat, NAPZA tidak baik untuk kesehatan.

b. Kegiatan ibadah : Tidak menjalankan ibadah selama menggunakan NAPZA.

C. STATUS MENTAL

1. Penampilan.

Penampilan tidak rapi, tidak sesuai dan cara berpakaian tidak seperti biasanya dijelaskan.

2. Pembicaraan

Amati pembicaraan yang ditemukan pada klien, apakah cepat, keras, gagap, membisu,

apatis dan atau lambat. Biasanya klien menghindari kontak mata langsung, berbohog atau

memanipulasi keadaa, bengong/linglung.


3. Aktivitas motoric

Klien biasanya menunjukkan keadaan lesu, tegang, gelisah, agitasi, Tik, grimasen, termor

dan atau komfulsif akibat penggunaan atau tidak menggunakan NAPZA

4. Alam perasaan.

Klien bisa menunjukkan ekspresi gembira berlebihan pada saat mengkonsumsi jenis

psikotropika atau mungkin gelisah pada pecandu shabu.

5. Afek

Pada umumnya, afek yang muncul adalah emosi yang tidak terkendai. Afek datar muncul

pada pecandu morfin karena mengalami penurunan kesadaran.

6. lnteraksi selama wawancara

Secara umum, sering menghindari kontak mata dan mudah tersingung. Pecandu

amfetamin menunjukkan perasaan curiga.

7. Persepsi.

Pada pecandu ganja dapat mengalami halusinasi pengelihatan

8. Proses piker

Klien pecandu ganja mungkin akan banyak bicara dan tertawa sehingga menunjukkan

tangensial. Beberapa NAPZA menimbulkan penurunan kesadaran, sehingga klien

mungkin kehilangan asosiasi dalam berkomunikasi dan berpikir.

9. lsi pikir

a. Pecandu ganja mudah percaya mistik, sedangkan amfetamin menyebabkan paranoid

sehingga menunjukkan perilaku phobia.

b. Pecandu amfetamin dapat mengalami waham curiga akibat paranoidnya.

10. Tingkat kesadaran


Menunjukkan perilaku bingung, disoreientasi dan sedasi akibat pengaruh NAPZA.

11. Memori

Golongan NAPZA yang menimbulkan penurunan kesadaran mungkin akan menunjukkan

gangguan daya ingat jangka pendek.

12. Tingkat konsentrasi dan berhitung

Secara umum klien NAPZA mengalami penurunan konsentrasi. Pecandu ganja mengalami

penurunan berhitung.

13. Kemampuan penilaian

Penurunan kemampuan menilai terutama dialami oleh klien alkoholik. Gangguan

kemampuan penilaian dapat ringan maupun bermakna.

14. Daya tilik diri

Apakah mengingkari penyakit yang diderita atau menyalahkan hal-hal diluar dirinya.

D. KEBUTUHAN

Lakukan observasi tentang:

a. Makan

b. BAB/BAK,

c. Mandi

d. Berpakaian

e. lstirahat dan tidur

f. Penggunaan obat

g. Pemeliharaan kesehatan

h. Kegiatan di dalam rumah

i. Kegiatan di luar rumah


E. MEKANISME KOPING

Maladaptif.

F. MASALAH LPSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN

Klien NAPZA tentu bermasalah dengan psikososial maupun lingkungannya.

G. PENGETAHUAN KURANG

Biasanya tentang mekanisme koping dan akibat penyalahgunaan NAPZA

H. ASPEK MEDIK

Sesuaikan dengan terapi medik yang diberikan.

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri

Devinisi: Rentan melakukan perilaku yang individu menunjukkan bahwa ia dapat

membahayakan dirinya sendiri secara fisik, emosional , dan/atau seksual.

Faktor resiko: Masalah kesehatan mental (mis, depresi, psikosis, gangguan kepribadian,

penyalahgunaan obat)

2. Resiko keracunan

Devinisi: Rentan pada pemajanan pada, atau memekai/minum, obat atau produk yang

berbahaya secara tidak sengaja dalam dosis yang memeadai, yang mengganggu

kesehatan.

Faktor Resiko: Eksternal (akses pada obat terlarang yang berpotensi terkontaminasi oleh

aditif beracun). Internal ( gangguaan emosional)

3. Ketidakefektifan koping
Devinisi: Ketidakmampuan untuk membentuk penilaian valid tantang stresor,

ketidakadekuatan pilihan respons yang dilakukan, dan/atau ketidakmampuan

untuk menggunakan sumber yang tersedia.

Batasan karakteristik: Penyalahgunaan zat.

Faktor yang berhubungan: ketidakadekuatan kesempatan untuk bersiap terhadap stresor,

krisis situasi.

4. Harga diri rendah

Devinisi: Evaluasi diri/perasaan negatif tentang diri sendiri atau kemampuan diri

berlangsung lama.

Batasan karakteristik: kegagalan hidup berulang, menolak umpan balik positif tentang

diri sendiri

Faktor yang berhubungan: kegagalan berulang, kurang kasih sayang.

5. Gangguan identitas pribadi.

Devinisi: Ketidakmampuan mempertahankan persepsi diri yang utuh dan komplet.

Batasan karakteristik: ketidakefektifan koping

Faktor yang berhubungan: Pemajanan zat kimia toksik.

J. INTERVENSI KEPERAWATAN (NIC NOC)

1. Dx Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri

NOC

(1407) Konsekuensi ketagihan zat

Devinisi: keparahan dalam perubahan status kesehatan dan fungsi sosial karena

kecanduan zat

 (140701) Penurunan aktifitas fisik secara terus-menerus


 (140702) Gangguan kronis fungsi motorik

 (140703) Penurunan daya tahan yang kronis

 (140704) Kelelahan kronis

(1904) Kontrol resiko: Penggunaan obat terlarang

Devinisi: Tindakan individu untuk mengerti, mencegah, mengeliminasi, atau mengurangi

ancaman kesehatan yang berkaitan dengan penyalahgunaan obat-obatan.

 (190419) Mengidentifikasi faktor resiko penyalahgunaan obat-obatan

 (190402) Mengetahui konsekuensi terkait penyalahgunaan obat-obatan

 (1904200 Mengenali kemampuan untk merubah prilaku

 (190403) memonitor lingkungan sekitar terkait faktor yang mendukung

penyalahgunaan obat.

NIC

(4354) Manajeman perilaku: menyakiti diri

1. Tentukan motif atau alasan tingkah laku

2. Instruksikan pasien untuk melakukan strategi koping ( misal latihan asertif, impuls

kontrol, kontrol training, dan relaksasi ototprogresif) dengan cara yang tepat.

3. Bantu pasien ntuk mengidentifikasi situasi dan atau perasaan yang mungkin

memicu perilaku menyakiti diri.

4. Gunakan pendekatan yang tenang dan tidak menghukum pada saat menghadapi

perilaku menyakiti diri.

(7150) Terapi keluarga

1. Identifikasi bagaimana keluarga mengatasi masalah.

2. Tentukan jika ada anggota keluarga yang harus menghadapi penyalahgunaan zat.
3. Berikan pendidikan dan informasi

4. Bantu keluarga meningkatkan energi koping yang ada.

5. Berbagi rencana terapi dengan keluarga

2. Dx Resiko keracunan

NOC

(1911) Perilaku keamanan pribadi

Devinisi: Tindakan pribadi untuk mancegah cedera fisik pada diri yang tidak disengaja

 ( 191113) Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang

 ( 191119) Menghindari perilaku beresiko tinggi

(1904) Kontrol resiko: Penggunaan obat terlarang

Devinisi: Tindakan individu untuk mengerti, mencegah, mengeliminasi, atau mengurangi

ancaman kesehatan yang berkaitan dengan penyalahgunaan obat-obatan.

 (190419) Mengidentifikasi faktor resiko penyalahgunaan obat-obatan

 (190402) Mengetahui konsekuensi terkait penyalahgunaan obat-obatan

 (1904200 Mengenali kemampuan untk merubah prilaku

 (190403) memonitor lingkungan sekitar terkait faktor yang mendukung

penyalahgunaan obat.

NIC

(4500) Pencegahan penggunaan zat terlarang

1. Bantu individu untuk mentoleransi peningkatan level stres dengan tepat

2. Kurangi hal-hal yang menyinggung perasaan atau frustasi terhadap lingkungan

yang penuh stres.


3. Instruksikan oarng tua dan guru mengenai identifikasi tanda dan gejala kecanduan

4. Bantu individu untuk mengidentifikasi strategi dalam mengurangi ketergantungan

obat subtitusi

5. Dorong keputusan yang bertanggung jawab untuk membuat pilihan mengenai

gaya hidup.

(4510) Perawatan penggunaan obat terlarang

1. Tingkatkan hubungan saling percaya dengan batasan yang jelas.

2. Informasikan klien bahwa frekuensi dan volume penyalahgunaan zat terlarang

bisa mengakibatkan disfungsi yang bervariasi antara satu orang dengan orang lain.

3. Instruksikan klien mengenai efek penggunaan zat terlarang.

4. Bantu pasien dalam mengembangkan mekanisme kopingyang efektif dan sehat.

5. Pantau penggunaan narkoba selama pengobatan.

6. Pantau penyakit menular, mengobati dan memberikan bantuan untuk

memodifikasi prilaku.

3. Dx Ketidakefektifan koping

NOC

(1212 ) Tingkat Stres

Devinisi: Keparahan sebagai manifestasi dari tekanan fisik atau mental dari faktor2 yang

mengganggu keseimbangan yang ada.

 (121201) Peningkatan tekanan darah

 (121204) Pelebaran pupil

 (121206) Sakit kepala berat


 (121209) Diare

 (121221) Depresi

 (121222) Kecemasan

 (121223) Kecurigaan

 (121219) Ledakan emosi

 (121220) Mudah marah

(0422 ) Koping

Devinisi: Tindakan pribadi untuk mengelola stres yang membebani kemampuan individu

 .... (130201) Mengidentifikasi pola koping yang efektif.

 .... (130202) Mengidentifikasi pola koping yang tidak efektif

 .... (130208) Adaptasi perubahan gaya hidup

 .... (130210) Menggunakan prilaku untuk mengurangi stres.

NIC

(4370) Latihan Kontrol Impuls

1. ... Bantu pasien untuk mengidentifikasi masalah atau situasi yang membutuhkan

tindakan yang menguras energi.

2. ... Dukung pasien untuk menghadiahi diri sendiri terkait keberhasilan yang di capai

3. ... Pilih strategi pemecahan masalah yg tepat sesuai dgn tingkat perkembangan

pasien

4. ... Sediakan dukungan yang positif terhadap usaha yang berhasil


(5230) Peningkatan koping

1. Kenali latar belakang pasien /spiritual pasien

2. Dukung penggunaan sumber2 spiritual jika diinginkan

3. Bantu pasien untuk mengklarifikasi kesalah fahaman

4. Instruksikan pasien untuk menggunakan tekhnik relaksasi sesuai kebutuhan

5. Dukung keterlibatan keluarga dengan cara yang tepat

6. Sediakan informasi aktual mengenai diagnosis penanganan dan prognosis

4. Dx Harga diri rendah

NOC

(1205 ) Harga Diri

Definisi: Penilaian harga diri sendiri.

 (120502) Penerimaan terhadap keterbatasan diri

 (120504) Mempertahankan kontak mata

 (120505) Menghargai orang lain

 (120507) Komunikasi terbuka

 (120519) Perasaan tentang nilai diri

(1215) Kesadaran Diri

Definisi: Pengetahuan tentang kekuatan,batasan,nilai,perasaan,sikap,pikiran dan

kebiasaan seseorang dlm hubungan nya dgn lingkungan dan orang lain.

 (121501) Membedakan diri dari lingkungan

 (121502) Membedakan diri dari orang lai


 (121504) Mengakui kemampuan mental pribadi

 (121508) Mengenali keterbatasan emosi scr pribadi

 (121513) Mempertahankan kesadaran tentang isarat internal terhadap situasi

NIC

(5400) Peningkatan Harga Diri

1. Monitor pernyaan pasien mengenai harga diri

2. Monitor tingkat harga diri dari waktu ke waktu dgn tepat

3. Dukung kontak mata pada saat berkomunikasi dgn orang lain

4. Dukung tanggung jawab pada diri sendiri dgn tepat

5. Bantu pasien unt menemukan penerimaan diri

6. Bantu pasien unt mengidentifikasi respon positif dari orang lain

7. Fasilitasi lingkungan dan aktivitas2 yang akan meningkatkan harga diri

5. Dx Gangguan identitas pribadi.

NOC

(1630) Perilaku penghentian penyalahgunaan obat terlarang

Devinisi: Tindakan pribadi untuk menyingkirkan penggunaan obat terlarang yang

berbahaya untuk kesehatan

 (163001) Mengekspresikan keinginan untuk berhenti menggunakan obat

terlarang

 (163005) Mengembangkan strategi untuk menyingkirkan penggunaan obat

terlarang

 (163011) Menggunakan strategi untuk mengatasi gejala putus obat


 (163018) Menggunakan terapi alternatif

 (163021) Berpartisipasi dalam program putus obat

(2609) Dukungan keluarga selama perawatan

Devinisi: Kapasitas dari sebuah keluarga untuk menunjukkan dan menyediakan

dukungan emosional kepada individu yang menjalai perawatan

 ( 260907) Anggota keluarga memberikan dorongan pada anggota keluarga yang

sakit

 ( 260905) Meminta informasi mengenai kondisi pasien

 (260910)bekerjasama dengan anggota keluarga yang sakit dalam menentukan

perawatan

 (260911) bekerjasama dengan penyedia layanan kesehatan dalam menentukan

perawatan

(1407) Konsekuensi ketagihan zat

Devinisi: Keparahan dalam perubahan status kesehatan dan fungsi sosial karena

kecanduan zat terlarang.

 (140701) Penurunan aktifitas fisik secara terus-menerus

 (140702) Gangguan kronis fungsi motorik

 (140703) Penurunan daya tahan yang kronis

 (140704) Kelelahan kronis

NIC

(6160) Intervensi krisis

1. Berikan keamanan.
2. Mulai pencegahan awal untuk keamanan klien atau orang lain yang berada pada

resiko melukai secara fusik.

3. Bantu klien untuk memutuskan tindakan - tindakan tertentu sesuai kebutuhan.

4. Bantu dalam mengembangkan koping baru dan kemampuan menyelesaiakan

masalah.

5. Hubungkan pasien dan keluarga dengan sumber-sumber di komunitas

(4510) perawatan penggunaan zat terlarang

1. Bantu pasien mengembangkan mekanisme koping yang efektif

2. Pantau penggunaan narkoba selama pengobatan

3. Pantau penyakit menular

4. Bantu pasien dalam mengembangkan diri, dan mendorong upaya positif dan

motivasi

5. Dorong klien untuk berpartisipasi dalam program dukungan sendiri selama dan

setelah perawatan

6. Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam upaya pemulihan.

Perlu diingat bahwa diagnosa keperawatan di ruang detoksifikasi bisa berulang di

ruang rehabilitasi karena timbul masalah yang sama saat dirawat di ruang rehabilitasi.

Salah satu penyebab muncul masalah yang sama adalah kurangnya motivasi klien untuk

tidak melakukan penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Hal lain yang juga berperan

timbulnya masalah pada klien adalah kurangnya dukungan keluarga dalam membantu

mengurangi penyalahgunaan dan penggunaan zat.


Masalah keperawatan yang sering terjadi di ruang detoksifikasi adalah selain masalah

keperawatan yang berkaitan dengan fisik juga masalah keperawatan seperti:

a. Risiko terjadinya perubahan proses keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan

keluarga dalam merawat anggota keluarga pengguna NAPZA

Intervensi Keperawatan

 Keluarga mampu mengenal dengan baik anggota keluarga pengguna NAPZA.

Intervensi :

1. Bersama keluarga diskusikan tentang criteria remaja pengguna NAPZA.

2. Latih keluarga mengenali remaja pengguna NAPZA.

3. Motivasi keluarga untuk selalu mengenali remaja pengguna NAPZA.

4. Berikan kesempatan bertanya hal yang belum mengerti.

5. Evaluasi kembali hal-hal yang sudah didiskusikan.

6. Berikan pujian atas keberhasilan keluarga selama interaksi.

 Keluarga mampu mengambil keputusan terhadap remaja pengguna NAPZA.

Intervensi :

1. Bersama keluarga diskusikan tentang akibat dari remaja pengguna NAPZA

2. Latih keluarga mengenali akibat dari remaja pengguna NAPZA.

3. Motivasi keluarga untuk selalu mengenali akibat remaja pengguna NAPZA.

4. Berikan kesempatan bertanya hal yang belum mengerti.

5. Evaluasi kembali hal-halyang sudah didiskusikan.

6. Berikan pujian atas keberhasilan keluarga selama interaksi.

 Keluarga mampu merawat keluarga dengan remaja pengguna NAPZA.

Intervensi :
1. Bersama keluarga diskusikan tentang cara mencegah dan merawat remaja

pengguna NAPZA.

2. Latih keluarga cara mencegah dan merawat remaja pengguna NAPZA.

3. Motivasi keluarga untuk selalu mencegah dan merawat remaja pengguna

NAPZA.

4. Berikan kesempatan bertanya hal yang belum mengerti.

5. Evaluasi kembali hal-hal yang sudah didiskusikan.

6. Berikan pujian atas keberhasilan keluarga selama interaksi.

 Keluarga mampu memodifikasi remaja pengguna NAPZA.

Intervensi :

1. Bersama keluarga diskusikan tentang cara memodifikasi lingkungan rumah

remaja pengguna NAPZA.

2. Latih keluarga cara memodifikasi dari remaja pengguna NAPZA.

3. Motivasi keluarga untuk selalu melakukan modifikasi remaja pengguna NAPZA

4. Berikan kesempatan bertanya hal yang belum mengerti.

5. Evaluasi kembali hal-hal yang sudah didiskusikan.

6. Berikan pujian atas keberhasilan keluarga selama interaksi.

 Keluarga mampu menggunakan sumber daya untuk penanganan remaja pengguna

NAPZA.

Intervensi :

1. Bersama keluarga diskusikan tentang penggunaan sumber daya masy untuk

remaja pengguna NAPZA.

2. Latih keluarga menggunakan sumber daya untuk remaja pengguna NAPZA.


3. Motivasi keluarga untuk selalu menggunakan sumber daya untuk remaja

pengguna NAPZA.

4. Berikan kesempatan bertanya hal yang belum mengerti.

5. Evaluasi kembali hal-hal yang sudah didiskusikan.

6. Berikan pujian atas keberhasilan keluarga selama interaksi.

K. EVALUASI

Evaluasi penyalahgunaan dan ketergantungan zat tergantung pada penanganan yang

dilakukan perawat terhadap klien dengan mengacu kepada tujuan khusus yang ingin dicapai.

Sebaiknya perawat dan klien bersama-sama melakukan evaluasi terhadap keberhasilan yang

telah dicapai dan tindak lanjut yang diharapkan untuk dilakukan selanjutnya.

Jika penanganan yang dilakukan tidak berhasil maka perlu dilakukan evaluasi kembali

terhadap tujuan yang dicapai dan prioritas penyelesaian masalah apakah sudah sesuai dengan

kebutuhan klien. Klien relaps tidak bisa disamakan dengan klien yang mengalami kegagalan

pada sistem tubuh. Tujuan penanganan pada klien relaps adalah meningkatkan kemampuan

untuk hidup lebih lama bebas dari penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Perlunya evaluasi

yang dilakukan disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan, akan lebih baik perawat

bersama-sama klien dalam menentukan tujuan ke arah perencanaan pencegahan relaps.


BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penyalahgunaan zat adalah penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai setelah

terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukkan kondisi yang parah dan sering dianggap

sebagai penyakit. Adiksi umumnya merujuk pada perilaku psikososial yang berhubungan

dengan ketergantungan zat. Gejala putus zat terjadi karena kebutuhan biologik terhadap obat.

Toleransi adalah peningkatan jumlah zat untuk memperoleh efek yang diharapkan. Gejala

putus zat dan toleransi merupakan tanda ketergantungan fisik (Stuart dan Sundeen, 2012).

B. Saran

Diharapkan kepada pembaca untuk memberikan kritik dan sarannya agar bermanfaat untuk

kita semua terutama bagi kami penulis.


Daftar Pustaka

Badan Narkotika Nasional. Ringkasan Eksekutif: Survei Nasional Perkembangan


Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia Tahun 2011 (Kerugian Sosial dan
Ekonomi).2011.
Badan Narkotika Nasional. Laporan Akhir Survei Nasional Perkembangan
PenyalahgunaNarkoba Tahun Anggaran 2014. 2014.
Sadock BJ, Saddock VA. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatric : Behavior
Sciences/ Clinical Psychiatric. 10th ed. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins;2007.
SubstanceAbuseandMentalHealthServicesAdministration:. Results from the 2011
National Survey on Drug use and Health: Summary of National Findings. 2012
ContractNo.: NSDUH Series H-44, HHS Publication No. (SMA) 12-4713.
Ouyang H, Liu S, Zeng W, Levitt RC, Candiotti KA, Hao S. An emerging new paradigmin opioid
withdrawal: a critical role for glia-neuron signaling in the periaqueductal gray.
TheScientificWorldJournal. 2012;2012:940613.
Jaffe, J., and Jaffe, A. B. Opioid-Related Disorder. Kaplan & Sadock's ComprehensiveTextbook
of Psychiatry Seventh Edition.
Richard D. Howland MJM. Lippincott's Illustrated Reviews: Pharmacology. 3 ed: Lippincott
Williams & Wilkins; 2006.

Anda mungkin juga menyukai