Anda di halaman 1dari 5

BAB I

Pendahuluan : Huruf Kapital

A. Latar belakang
Pembekuan darah merupakan proses yang terjadi setelah cedera. Sistem
pembekuan darah membutuhkan faaktor tertentu di dalam darah dan trombosit
agar dapat berfungsi secara adekuat. Individu yang mengalami defisiensi
faktor tersebut atau trombosit cenderung mengalami perdarahan; mereka tidak
lebih mudah mengalami perdarahan dibanding individu lain yang tidak
mengalami masalah kesehatan tersebut, dan perdarahan sulit dihentikan.
Selain faktor pembekuan darah yaitu faktor ke VIII, IX, dan XI, trombosit
juga berperan dalam pembekuan darah dan sangat penting untuk pembentukan
pembekuan darah. Beberapa proses penyakit dapat mengakibatkan
penghancuran trombosit dan dapat mengakibatkan reduksi dalam pembekuan.
Masa perdarahan memanjang saat terjadi gangguan pembekuan (Kyle dan
Carman, 2014).
Trombosit yang menurun disebut dengan trombositopenia. Dimana
trombositopenia adalah suatu kekurangan trombosit, yang merupakan bagian
dari pembekuan darah. Pada orang normal jumlah trombosit di dalam sirkulasi
berkisar antara 150.000-450000/ul, rata-rata berumur 7-10 hari kira-kira 1/3
dari jumlah trombosit di dalam sirkulasi darah mengalami penghancuran di
dalam limpa oleh karena itu untuk mempertahankan jumlah trombosit supaya
tetap normal di produksi 150.000-450000 sel trombosit perhari. Jika jumlah
trombosit kurang dari 30.000/mL, bisa terjadi perdarahan abnormal meskipun
biasanya gangguan baru timbul jika jumlah trombosit mencapai kurang dari
10.000/mL. (Sudoyo, dkk ,2006).
Salah satu masalah kesehatan yang menyebabkan penurunan trombosit
yaitu Idiopatik Trombositopenia purpura (ITP). Penyakit ini dianggap sebagai
respon imun setelah infeksi virus yang menghasilkan antibodi antitrombosit.
Antibodi tersebut menghancurkn trombosit, yang dapat mengkibatkan
perkembangan petekie, purpura, dan memar berlebihan. Petekie merupakan
perdarahan berbentuk seperti tanda titik yang terjadi di mana saja pada tubuh
dan tidak hilang jika direnggangkan. Purpura merupakan area perdarahan
yang lebih luas, tempat darah yang berakumulasi di bawah jaringan, purpura
berwarna keunguan. ITP biasanya berkembang sekitar 1 sampai 4 minggu
setelah infeksi virus dan paling umum terjadi pada anak yang masih kecil.
Dalam beberapa bulan, sebagian besar anak akan sembuh secara spontan.
Komplikasi, walaupun jarang terjadi, meliputi perdarahan berat dan
perdarahan pada organ vital dan perdarahan intrakranial (Kyle dan Carman,
2014).
Perkiraan insiden ITP adalah 100 kasus per 1 juta orang per tahun dan
sekitar setengah dari kasus-kasus ini terjadi pada anak-anak dengan usia
puncak 5 tahun. Dimana jumlah kasus pada anak laki-laki dan perempuan
sama perbandingannya. Insiden ITP pada anak-anak antara 4,0 – 5,3 per
100.000. Berdasarkan etiologi, ITP dibagi menjadi dua yaitu primer dan
sekunder. Berdasarkan awitan penyakit dibedakan tipe akut bila kejadiannya
kurang atau sama dengan 6 bulan dan kronik bila lebih dari 6 bulan. ITP akut
umumnya terjadi pada anak usia antara 2 – 6 tahun. 7 – 28% anak dengan ITP
akut berkembang menjadi kronis (WHO, 2012). Namun, pada orang dewasa,
ITP paling sering terjadi pada wanita muda, 72% pasien selama 10 tahun
adalah perempuan dan 70% wanita ini usianya kurang dari 40 tahun. Dimana
ITP ini bermanifestasi sebagai trombositopenia yang mengancam jiwa dengan
jumlah trombosit yang sering kurang dari 10.000/mm3. Antibodi IgG yang
ditemukan pada membran trombosit dan meningkatnya pembuangan dan
penghancuran trombosit oleh sistem makrofag. Trombositopenia berat/kronis
dan tidak menjalani terapi dapat mengakibatkan kematian akibat kehilangan
darah atau perdarahan dalam organ-organ vital (Sylvia & Wilson, 2006).

(Data kasus ITP di rumah sakit terutama di ruangan hemato-onkologi RSUD


Ulin Banjarmasin)
B. Manfaat Penulisan
1. Instalasi Rumah sakit
Agar dapat digunakan sebagai masukan dalam melaksanakan
asuhan keperawatan pada pasien dengan Idiopathic trombositopenia
purpura (ITP) serta dapat meningkatkan mutu atau kualitas pelayanan
kesehatan pada pasien.
2. Instalasi pendidikan
Agar dapat digunakan sebagai wacana dan pengetahuan tentang
perkembangan ilmu keperawatan, terutama kajian pada pasien dengan
Idiopathic trombositopenia purpura (ITP)
3. Penulis
Untuk menambah pengetahuan, pemahaman, dan pendalaman
tentang perawatan pada pasien dengan Idiopathic trombositopenia
purpura (ITP).
4. Pasien dan keluarga
Pasien dan keluarga dapat mengetahui cara pencegahan,
perawatan, penyebab, tanda dan gejala, serta pertolongan pertama yang
dilakukan jika mengalami Idiopathic trombositopenia purpura (ITP)

C. Batasan Masalah
Penulis hanya melakukan asuhan keperawatan kepada An. S dengan
Masalah Idiopathic trombositopenia purpura (ITP)
di ruang Hematologi – Onkologi di RSUD Ulin Banjarmasin selama 3 hari
mulai dari tanggal 11Desember 2017 – 13 Desember 2017.

D. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui
Asuhan keperawatan yang benar pada pasien Idiopathic trombositopenia
purpura (ITP)

2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus penulisan laporan ini adalah agar penulis mampu :
a. Melaksanakan pengkajian pada pasien dengan Idiopathic
trombositopenia purpura (ITP)
b. Menegakkan Diagnose keperawatan pada pasien dengan Idiopathic
trombositopenia purpura (ITP)
c. Melakukan perencanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan
Idiopathic trombositopenia purpura (ITP)
d. Melaksanakan intervensi keperawatan pada pasien dengan Idiopathic
trombositopenia purpura (ITP)
e. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan yang telah di lakukan pada
pasien dengan Idiopathic trombositopenia purpura (ITP)

E. Metode
Metode yang digunakan yaitu menggunakan metode anamnesa, pemeriksaan
fisik, observasi, tinjauan diagnostic, studi literatur.
a. Anamnesa
Anamnesa merupakan suatu istilah yang dapat diartikan sebagai
wawancara terhadap pasien. Tehnik anamnesis yang baik hendaknya
disertai dengan empati. Empati mendorong keinginan pasien agar sembuh
karena rasa percaya terhadap dokter. Anamnesis dapat langsung dilakukan
pada pasien (auto-anamnesis) atau terhadap keluarganya (allo-anamnesis)
bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk diwawancarai.
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik merupakan untuk menentukan respon pasien terhadap
penyakit/berfokus pada respon yang ditimbulkan pasien akibat masalah
kesehatan yang sudah di diagnose oleh dokter.
c. Observasi
Dilakukan untuk mendapatkan data secara subjektif dan objektif
d. Tinjauan Diagnostik
Dilakukan untuk dapat menegakkan diagnose
e. Studi Literatur
Mengumpulkan bahan-bahan dari berbagai sumber baik dari buku maupun
internet.