Anda di halaman 1dari 15

TEKNIK PENYISIPAN DATA DENGAN METODE STEGANOGRAFI

DAN WATERMARK
Nafila Tsary Irfani (4.31.14.1.14)
Teknik Telekomunikasi - Politeknik Negeri Semarang

Abstrak
Pengiriman data/pesan dari suatu tempat ke tempat lain banyak terkendala dengan
permasalahan keamanan. Apalagi jika data/pesan tersebut merupakan data/pesan yang sangat
rahasia, sehingga tidak sembarang orang boleh membaca. Banyak cara yang dapat dilakukan
untuk menyembunyikan data/pesan yang akan dikirim. Teknik yang digunakan adalah
steganografi dengan menyisipkan pesan yang akan dikirimkan ke media lain, sehingga pesan
tersebut akan “tersembunyi” dan yang akan nampak adalah media lain yang digunakan untuk
menyisipkan pesan. Steganografi merupakan ilmu yang mempelajari, meneliti, dan
mengembangkan seni menyembunyikan sesuatu informasi. Selain itu dapat juga menggnakan
metode Watermark. Watermark dapat berupa teks seperti informasi copyright, gambar berupa
logo, data audio, atau rangkaian bit yang tidak makna. Penyisipan watermark dilakukan
sedemikian rupa sehingga watermark tidak merusak data digital yang dilindungi.
Kata Kunci : Steganografi, Watermark.

I. PENDAHULUAN
Pengiriman data/pesan dari suatu tempat ke tempat lain banyak terkendala
dengan permasalahan keamanan. Apalagi jika data/pesan tersebut merupakan
data/pesan yang sangat rahasia, sehingga tidak sembarang orang boleh membaca.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menyembunyikan data/pesan yang akan
dikirim. Pertama, menggunakan teknik kriptografi, yakni dengan menyandikan
data/pesan dengan menggunakan algoritma tertentu. Tetapi, dengan menyandikan
pesan, maka pesan akan nampak sebagai kode- kode aneh yang justru akan
membuat penasaran bagi orang yang membacanya, yang akhirnya akan berusaha
untuk mengetahui kode-kode aneh tersebut. Teknik lain adalah steganografi dengan
menyisipkan pesan yang akan dikirimkan ke media lain, sehingga pesan tersebut
akan “tersembunyi” dan yang akan nampak adalah media lain yang digunakan
untuk menyisipkan pesan. Steganografi merupakan ilmu yang mempelajari,
meneliti, dan mengembangkan seni menyembunyikan sesuatu informasi. (Niswati,
1979)
Steganografi dapat digolongkan sebagai salah satu bagian dari ilmu
komunikasi. Kata steganografi berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tulisan
tersembunyi”. Pada era informasi digital, steganografi merupakan teknik dan seni
menyembunyikan informasi dan data digital dibalik informasi digital lain, sehingga
informasi digital yang sesungguhnya tidak kelihatan.
Digital watermarking adalah teknik untuk menyisipkan informasi tertentu ke
dalam data digital yang disebut watermark. Watermark dapat berupa teks seperti
informasi copyright, gambar berupa logo, data audio, atau rangkaian bit yang tidak
makna. Penyisipan watermark dilakukan sedemikian rupa sehingga watermark
tidak merusak data digital yang dilindungi. Selain itu watermark yang telah
disisipkan tidak dapat dipersepsi oleh indra manusia, namun ia dapat dideteksi oleh
komputer dengan menggunakan kunci yang benar. Watermark yang telah disisipkan
tidak dapat dihapus dari dalam data digital, sehingga bila data digital ber-watermark
disebar dan digandakan, maka otamatis watermark di dalamnya ikut terbawa.
Watermark di dalam data digital dapat dideteksi atau diekstraksi kembali.
Watermarking berguna untuk membuktikan kepemilikan, copyright protection,
otentikasi, fingerprinting tamper profing, distribution tracing, dan sebagainya.
(Munir, n.d.)
Secara teori, semua file umum yang ada di dalam komputer dapat digunakan
sebagai media, seperti file gambar berformat JPG, GIF, BMP, atau di dalam musik
MP3, atau bahkan di dalam sebuah film dengan format WAV atau AVI. Semua
dapat dijadikan tempat bersembunyi, asalkan file tersebut memiliki bit-bit data
redundan yang dapat dimodifikasi. Setelah dimodifikasi file media tersebut tidak
akan banyak terganggu fungsinya dan kualitasnya tidak akan jauh berbeda dengan
aslinya. Data yang dikirim hasil enkripsi disembunyikan dalam cover carrier agar
dapat meningkatkan keamanan pada saat transmisi.
Banyak metoda steganografi maupun watermark yang melekatkan sejumlah
besar informasi rahasia di dalam pixel pada cover image. Karena perasaan manusia
yang tidak sempurna dalam hal visualisasi, keberadaan informasi rahasia yang
ditempelkan tersebut dapat saja tidak terlihat. Tetapi informasi rahasia tersebut
mungkin saja ditemukan, jika belum ditempatkan secara baik. Selain itu, untuk
Watermarking dapat diterapkan baik pada data digital berupa teks, citra, audio,
maupun video.

II. STUDI PUSTAKA


1. Steganografi
Steganography adalah seni menyembunyikan informasi untuk mencegah
pendeteksian pesan yang disembunyikan. Steganography berasal dari bahasa
Yunani yang memiliki arti penulisan terlapis (covered writing), termasuk di
dalamnya suatu metode komunikasi rahasia dalam jumlah besar yang
menyembunyikan pesan dengan sangat baik.Steganography dan Cryptography
memiliki garis besar tujuan yang sama yaitu mengamankan suatu informasi namun
terdapat perbedaan mendasar yang terletak pada cara pengamanannya.
Cryptography mengacak pesan sehingga tidak dapat terbaca, sedangkan
Steganography bertujuan untuk menyembunyikan informasi sehingga tidak dapat
terlihat.Pada cryptography, informasi yang tersimpan dalam bentuk ciphertext
dapat menimbulkan kecurigaan pada penerima sehingga dapat menyebabkan
timbulnya usaha untuk melakukan pembobolan (hacking), namun hal ini tidak
terjadi pada informasi tersembunyi (hidden message) yang diolah dengan metode
Steganography.
Secara garis besar metode Steganography terdiri dari 2 bagian utama, yaitu
proses penyembunyian data (hidden message) dan proses pengembalian data ke
bentuk semula (reveal message). Kedua proses ini dilakukan dengan menggunakan
sebuah kata kunci rahasia (secret key) yang akan digunakan di dalam prosesnya
untuk meningkatkan keamanan data. Untuk lebih jelas mengenai konsep
steganography dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Bagan Proses Penyembunyian dan Pengembalian Data Proses


Proses penyembunyian data pada metode steganography adalah salah satu
bagian yang memegang peranan penting di dalam proses secara keseluruhan dimana
pada bagian ini, penyembunyian data yang merupakan inti dari metode
steganography dilakukan. Pada proses penyembunyian data ini diperlukan
ketepatan dalam perhitungan bit – bit warna serta bit – bit data karena jika terjadi
sedikit kesalahan saja pada perhitungan maka akan berakibat pada rusaknya data
yang dikirimkan sehingga data tidak akan dapat dikembalikan ke dalam bentuk
semula. Selain itu ukuran keberhasilan pada metode steganography juga
dipengaruhi oleh proses penyembunyian data dimana hasil dari proses
penyembunyian data yang berupa stego image haruslah menyerupai gambar asli
(cover image) sehingga tidak terjadi kecurigaan dari pihak lain yang melihatnya.
Selain itu faktor efisiensi data juga perlu dipertimbangkan dalam
penyembunyian data sehubungan dengan perbandingan besarnya data yang
disembunyikan dengan kualitas stego image yang dihasilkan (semakin besar data
yang disembunyikan maka kualitas stego image yang dihasilkan semakin rendah).
Besar data yang dapat dihasilkan oleh metode steganography secara umum
mencapai sekitar 5 hingga 10 persen dari ukuran file citra digital.
Untuk menyembunyikan data dengan menggunakan metode Steganography
membutuhkan dua buah file, pertama adalah sebuah file citra digital yang akan
digunakan sebagai untuk menyembunyikan informasi yang disebut sebagai Cover
Image dan sebuah file dengan tipe bebas (dapat berupa file gambar, dokumen, text,
media dan sebagainya) yang hendak disembunyikan ke dalam citra digital, dengan
menggabungkan kedua file tersebut dan memproses dengan suatu algoritma maka
akan terbentuk suatu file citra digital yang disebut Stego Image sebagai pembawa
pesan (carrier), selanjutnya pada proses pengiriman data, file stego image yang akan
dikirimkan, sehingga data secara aman telah tersembunyi di dalam citra.
Pada metode steganography tidak diperkenankan menggunakan format citra
digital yang termasuk dalam kategori lossy (misal : JPEG, 8-bit BMP, dan
sebagainya) namun format yang dipakai harus merupakan losslessimage format
(misal : 24-bit BMP, 32-bit BMP) karena diperlukan suatu media pembawa yang
dapat menyimpan bit-bit data tanpa menghilangkan suatu bagian dari bit-bit data
tersebut. Contoh metode penyembunyian data dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Penyembunyian data dengan metode Steganography Garis
Garis besar dari proses penyembunyian data dengan metode steganography adalah
terdapat suatu cover image dan sebuah hidden message yang mengandung suatu
data yang akan dikirimkan tanpa ingin diketahui oleh pihak lain . Dengan
menggunakan suatu secret key maka dilakukan suatu proses penggabungan antara
data dengan cover image yang akan menghasilkan suatu stego image yang siap
untuk dikirimkan. (Noertjahyana, Hartono, & Gunadi, n.d.)
Ada beberapa metode yang dapat digunakan sebagai teknik penyembunyian
suatu informasi digital ke dalam informasi digital lainnya (steganography),
diantaranya adalah:
1. Least Significant Bit Insertion (LSB)
LSB merupakan sebuah metode yang lazim digunakan oleh para peneliti pada
sebuah steganografi. Hal ini disebabkan karena LSB merupakan sebuah
metode steganografi yang paling sederhana, cepat, dan mempunyai kapasitas
penyisipan suatu informasi digital yang cukup besar. LSB menyisipkan sebuah
informasi rahasia pada bit rendah atau bit yang paling kanan dari sebuah data
pixel yang menyusun sebuah informasi digital yang menjadi media
penampung suatu informasi rahasia.
2. Masking and Filtering
Metode ini biasanya dibatasi pada image 24 bit warna dan image grayscale.
Beberapa literatur menyatakan bahwa metode ini mirip dengan watermark,
dimana suatu image diberi tanda (marking) untuk menyembunyikan pesan
rahasia. Hal ini dapat dilakukan dengan memodifikasi luminance image
dibeberapa bagiannya. Metode ini memiliki ketahanan (robustness) terhadap
kompresi, dan cropping. Namun, memiliki batasan kapasitas tertentu pada
informasi yang akan disembunyikan.
3. Algorithm and Transformation
Metode ini merupakan metode steganografi yang jauh lebih kompleks dari
metode-metode sebelumnya, artinya tingkat kesulitan dalam penerapan
metode ini lebih tinggi. Untuk menyembunyikan sebuah informasi digital pada
media penampungnya dilakukan dengan memanfaatkan Discerete Cosine
Transformation (DCT) dan Wavelet Compression. DCT digunakan pada file-
file terkompresi, seperti JPEG. Metode ini terjadi di domain frekuensi dari
sebuah file digital, bukan pada domain spasial.
4. Spread Spectrum Methode
Metode ini dalam menyembuyikan suatu informai digital adalah dengan
mengkodekan informasi rahasia dan disebarkan ke setiap spektrum frekuensi
yang memungkinkan. Namun, metode ini masih mudah diserang, yaitu dengan
cara penghancuran atau pengrusakan dari kompresi dan proses image
(gambar). (Marzuki, 2011)

2. Watermark
Teknik watermarking pada citra secara umum terdiri dari 2 tahapan: 1)
penyisipan watermark (watermark embedding), dan 2) ekstraksi atau pendeteksian
watermark (watermark detection). Penyisipan watermark dapat dipandang sebagai
superposisi data watermark pada citra dengan suatu cara sedemikian sehingga
superposisi tersebut tidak mempengaruhi persepsi visual terhadap citra. Gambar 1
memperlihatkan sebuah encoder yang melakukan penyisipan watermark. Encoder
E menerima masukan berupa citra I, watermark w, kunci penyisipan k, dan
menghasilkan citra ber-watermark, Iˆ .
Gambar 5. Proses Penyisipan Watermark
Citra asal I dan citra ber-watermark Iˆ hampir mirip secara statisik, atau secara
visual mempunyai persepsi yang sama. Secara matematis, penyisipan watermark
ditulis sebagai

Watermark harus dapat diekstraksi atau dideteksi kembali bergantung pada


nature algoritma watermarking. Pada beberapa algoritma watermarking, watermark
dapat diekstraksi dalam bentuk yang eksak, sedangkan pada sebagian algoritma
yang lain, kita hanya dapat mendeteksi apakah watermark terdapat di dalam citra,
sehingga prosedurnya dinamakan pendeteksian watermark .

Gambar 6 . Proses ekstraksi/verifikasi watermark


Gambar 6 memperlihatkan prosedur untuk melakukan ekstraksi dan selanjutnya
verifikasi watermark. Prosedur terdiri dari sebuah decoder untuk mengekstraksi
watermark dan komparator untuk melakukan pembandingan. Decoder D menerima
masukan berupa citra J (J bisa berupa citra ber-watermark Iˆ atau citra tanpa
watermark, bahkan mungkin citra yang sudah mengalami distorsi. Jika tidak ada
distorsi, J = Iˆ ), kunci k, dan menghasilkan watermark terekstraksi w’. Secara
matematis proses ini ditulis sebagai

Decoder dapat mengikutsertakan citra asal yang belum diberi watermark


(non-blind watermarking) atau tidak sama sekali (blind watermarking), karena
beberapa skema watermarking memang menggunakan citra asal dalam proses ini
untuk meningkatkan hasil ekstraksi yang lebih baik. Selanjutnya, watermark
terekstraksi w’ dibandingkan dengan watermark asli w dengan fungsi komparator
C (umumnya sebuah correlator) untuk menghasilkan keputusan berupa keluaran
biner (1 menyatakan cocok, 0 menyatakan sebaliknya):

Sebuah teknik watermarking yang bagus harus memenuhi persyaratan


berikut:
 Imperceptibility: keberadaan watermark tidak dapat dipersepsi oleh indera
visual. Hal ini bertujuan untuk menghindari gangguan pengamatan visual.
 Key uniqueness: kunci yang berbeda seharusnya menghasilkan watermark
yang berbeda. Ini berarti penggunaan kunci yang salah dapat menyebabkan
hasil ekstraksi/deteksi watermark yang salah pula.
 Noninvertibility: secara komputasi sangat sukar menemukan watermark
bila diketahui hanya citra ber-watermark saja.
 Image dependency: satu kunci menghasilkan sebuah watermark tunggal,
tetapi watermark bergantung pada isi citra. Salah satu pendekatan yang
digunakan adalah membangkitkan watermark dari nilai hash (message
digest) citra asli, sebab nilai hash bergantung pada isi citra.
Image watermarking dapat dibedakan menjadi beberapa kategori :
1. Berdasarkan persepsi manusia, image watermarking dibedakan menjadi
visible watermarking dan invisible watermarking. Watermarking tak-tampak
(invisible) sudah ditunjukkan pada Gambar 3 dimana watermark tidak dapat
dipersepsi oleh indera visual. Watermarking tak-tampak ini dimungkinkan
karena sistem visual manusia yang tidak dapat mendeteksi perubahan kecil
pada citra. Selain itu, sebuah citra mengandung banyak redundansi yang dapat
dimanfaatkan untuk menyisipkan watermark.
2. Berdasarkan tingkat kokokohan watermark, image watermarking dibedakan
menjadi secure watermarking, robust watermarking, dan fragile watermarking.
Secure watermarking berarti watermark harus tetap bertahan terhadap non-
malicious attack dan malicious attack. Suatu serangan digolongkan sebagai
non malicious attack yaitu manipulasi yang normal terjadi selama penggunaan
citra ber-watermark, misalnya kompresi, operasi penapisan, penambahan
derau, penskalaan, penyuntingan, operasi geometri, dan cropping. Serangan
tersebut dapat merusak atau menghancurkan watermark di dalam data digital.
Jika akibat serangan tersebut watermark masih dapat diekstraksi, maka skema
watermarking yang digunakan dikatakan kokoh (robust). Serangan
digolongkan sebagai malicious attack, yaitu serangan yang tujuan utamanya
adalah menghilangkan atau membuat watermark tidak dapat dideteksi. Dalam
membahas malicious attack, penyerang diasumsikan mengetahui algoritma
watermarking. Aplikasi secure watermarking misalnya untuk perlindungan
copyright, karena watermark tidak boleh hancur atau dihapus dari citra. Robust
watermarking berarti watermark harus tetap bertahan terhadap non-malicious
attack. Pada fragile watermarking, watermark dikatakan mudah rusak (fragile)
jika ia berubah, rusak, atau malah hilang jika citra dimodifikasi.
Fragile watermarking ditujukan pada aplikasi yang tujuannya untuk
memverifikasi isi (content) citra, misalnya untuk otentikasi data dan bukti
kepemilikan (ownership) citra, dimana watermark yang hilang atau berubah
adalah pertanda bahwa citra sudah dirusak (tamper), dan verifikasi watermark
di dalam citra dapat digunakan untuk menunjukkan kepemilikan citra.

III. PERBEDAAN
Beberapa perbedaan antara steganografi dan watermark, sebagai berikut :
Steganografi Watermark
Mengirim pesan rahasia apapun Perdulingan copyright, pembuktian
tanpa menimbulkan kecurigaan kepemilikan.
Aman, sulit dideteksi sebanyak Robustness, sulit dihapus.
mungkin menampung pesan
Point to point One to many
Media penampung tidak punya arti Media penampung justru yang
apa-apa diberi proteksi, watermark tidak ada
rahasia, tidak mementingkan
kapasitas.
(Munir, 2004)
IV. APLIKASI
1. Steganografi
Berikut ini adalah contoh aplikasi teknik Steganografi dengan menggunakan
metode LSB :
Pengujian yang dilakukan adalah menyembunyikan file dokumen ke dalam file
gambar. Proses yang dilakukan adalah dengan melakukan pengacakan pada
gambar asli untuk selanjutnya memasukkan data dokumen ke dalam file gambar
dengan menggunakan metode LSB. File gambar asli dapat dilihat pada gambar
1, Proses pengacakan gambar dapat dilihat pada gambar 2, serta Hasil dari
proses steganografi dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 1. Citra Digital Asli

Gambar 2. Pengacakan Citra Digtal

Gambar 3. Citra Digital Hasil Steganografi


Untuk mengetahui penurunan kualitas pada citra digital akan digunakan
histogram yang tersedia pada aplikasi pengolahan gambar Macromedia
Firework MX 2004.Hasil histogram dari citra digital pada gambar 4 dan 5.

Gambar 4. Histogram Asli

Gambar 5. Hasil Steganografi


Dengan melihat pada hasil histogram, hasil stego image dengan menggunakan
metode LSB nampak terputus-putusm hal ini disebabkan oleh proses
pemotongan 3 bit paling akhir untuk setiap titik warna yang diganti dengan bit
data.
2. Watermark
Image watermarking mempunyai banyak penggunaan dalam kehiduan sehari-
hari, di bawah ini disebutkan beberapa diantaranya:
a. Memberi label kepemilikan (ownership) atau copyright pada citra digital.
Watermark menyatakan informasi yang menyatakan pemilik citra atau
pemegang hak penggandaan (copyright). Informasi tersebut bisa berupa
identitas diri (nama, alamat, dsb), atau gambar yang menspesifikasikan
pemilik. Klaim pihak lain yang mengaku sebagai pemilik citra tersebut
dapat dibantah dengan membandingkan watermark yang diekstrak dengan
watermark pemilik citra. Persyaratan yang dibutuhkan untuk aplikasi
semacam ini adalah watermark harus tak-tampak (invisible) dan kokoh
(robust).
b. Otentikasi atau tamper proofing.
Pemilik citra menyisipkan watermark ke dalam citra untuk membuktikan
apakah citra yang disimpan atau yang beredar masih asli atau sudah berubah
(tamper proofing). Jika watermark yang diekstraksi tidak tepat sama dengan
watermark asli, maka disimpulkan citra sudah tidak otentik lagi.
Keotentikan pemilik juga dapat ditunjukkan karena hanya pemilik yang
mengetahui kunci. Kunci yang salah akan menghasilkan ektraksi
watermark yang salah pula. Persyaratan yang dibutuhkan untuk aplikasi
semacam ini adalah watermark harus tak- tampak dan fragile.
c. Fingerprinting (traitor-tracing)
Pemilik citra mendistribusikan citra yang sama ke berbagai distributor.
Sebelum didistribusikan, setiap citra disisipkan watermark yang berbeda
untuk setiap distributor, seolah-olah cetak jari distributor terekam di dalam
citra. Karena watermark juga berlaku sebagai copyright, maka distributor
terikat aturan bahwa ia tidak boleh menggandakan citra tersebut dan
menjualnya ke pihak lain. Misalkan pemilik citra menemukan citra ber-
watermark tersebut beredar secara ilegal di tangan pihak lain. Ia kemudian
mengekstraksi watermark di dalam citra ilegal itu untuk mengetahui
distibutor mana yang telah melakukan penggandaan ilegal, selanjutnya ia
dapat menuntut secara hukum distributor nakal ini. Persyaratan yang
dibutuhkan untuk aplikasi semacam ini adalah watermark harus tak-tampak
(invisible) dan kokoh (robust)
d. Aplikasi medis
Citra medis seperti foto sinar-X diberi watermark berupa ID pasien dengan
maksud untuk memudahkan identifikasi pasien. Informasi lain yang dapat
disisipkan adalah hasil diagnosis penyakit. Lebih lanjut mengenai aplikasi
ini akan dijelaskan pada bagian tersendiri sebagai studi kasus. Persyaratan
yang dibutuhkan untuk aplikasi semacam ini adalah watermark harus tak-
tampak (invisible) dan fragile.
e. Covert communication
Untuk sistem komunikasi di negara-negara di mana kriptografi tidak
dibolehkan, watermarking dapat digunakan untuk menyisipkan informasi
rahasia. Informasi tersebut disisipkan ke dalam citra, citra dikirim melalui
saluran komunikasi publik, dan penerima mengekstraksi informasi di
dalamnya. Aplikasi semacam ini sama seperti steganografi.
f. Piracy protection
Watermark di dalam citra digunakan untuk mencegah perangkat keras
melakukan penggandaan yang tidak berizin. Aplikasi semacam ini
membutuhkan kolaborasi dengan perangkat keras
Berikut adalah aplikasi pada Watermark:
Persyaratan umum watermarking, yaitu tidak dapat dipersepsi
(invisibility), aman (tidak dapat diakses oleh orang yang tidak berhak), dan
kokoh terhadap usaha untuk merusak atau menghilangkan watermark juga
berlaku pada citra medis, tetapi ada persyaratan tambahan lain, yaitu reversible.
Seperti diketahui, tradisi medis sangat ketat dengan kualitas citra biomedis,
yaitu tidak dibolehkan mengubah bit di dalam citra karena dapat memepngaruhi
diagnosis. Oleh karena itu, metode watermarking harus reversible, yaitu citra
asal harus dapat dikembalikan lagi secara tepat . Skema reversible
watermarking terdiri dari penyisipan watermark ke dalam citra asal dan suatu
cara sedemikian sehingga bila watermark diekstraksi, citra asal dapat diperoleh
kembali. Riset mengenai reversible watermarking telah dilakukan. Misalnya,
Trichili, seperti disebutkan di dalam mengusulkan pinggir semu (virtual border)
di dalam citra sebagai area watermarking. EPR disisipkan pada bit LSB
pinggiran tersebut.
Yongho Cho dkk di dalam mengusulkan metode watermarking yang
cocok untuk citra medis. Penyisipan watermark dapat dilakukan dalam ranah
spasial dan dalam ranah frekuensi. Dalam ranah spasial, mula-mula tentukan
bagian non-ROI, yaitu bagian latar belakang di dalam citra. Bagian latar
belakang ini tidak berarti (meaning-less), sehingga kita mencegah kerusakan
pada citra. Penyisipan watermark dilakukan dalam ranah spasial pada bagian
ini. Caranya, hitung nilai hash bagian non-ROI, lalu nilai hash ditambahkan
pada bagian non-ROI. Dalam ranah frekuensi, kita menyisipkan watermark satu
dimensi w pada koefisien DCT citra tersebut. Penyisipan dan ekstraksi
watermark dalam ranah frekuensi mirip dengan skema yang diusulkan oleh
Cox, bedanya citra asal dibagi ke dalam blok- blok yang berukuran 8 x 8, lalu
koefisien DCT setiap blok dihitung, dan penyisipan watermark dihitung dengan
rumus yang dikemukakan oleh Cox. Watermark berupa barisan bilangan riil
yang mempunyai distribusi normal dengan N(0, 1). Faktor skala α dipilih hati-
hati sehingga tidak merusak citra. Gambar dibawah memperlihatkan
watermarking pada citra MRI. Gambar a adalah citar asli dan gambar b adalah
citra yang diberi watermark.

Gambar a citra asli, b ber-watermark


DAFTAR PUSTAKA

Marzuki, I. (2011). RANCANG BANGUN APLIKASI UNTUK PENYISIPAN TEXT DAN


FILE KE DALAM IMAGE DAN AUDIO FILE DENGAN METODE LEAST
SIGNIFICANT BIT (LSB).
Munir, R. (n.d.). Sekilas Image Watermarking untuk Memproteksi Citra Digital dan
Aplikasinya pada Citra Medis.
Munir, R. (2004). Steganografi dan Watermarking Departemen Teknik Informatika Institut
Teknologi Bandung.
Niswati, Z. A. I. (1979). STEGANOGRAFI BERBASIS LEAST SIGNIFICANT BIT ( LSB
) UNTUK MENYISIPKAN GAMBAR KE DALAM CITRA GAMBAR, 5(2), 181–
191.
Noertjahyana, A., Hartono, S., & Gunadi, K. (n.d.). APLIKASI METODE
STEGANOGRAPHY PADA CITRA DIGITAL DENGAN MENGGUNAKAN
METODE LSB ( LEAST SIGNIFICANT BIT ).