Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH EVALUASI EKONOMI DI BIDANG KESEHATAN

by Chi Square on October 26, 2017 in Ekonomi Kesehatan

PENDAHULUAN

Evaluasi ekonomi didefinisikan sebagai perbandingan antara konsekuensi dari dua atau
lebih rangkaian alternative dari suatu keputusan. Biaya yang terjadi merupakan biaya yang
digunakan untuk menjalankan aktivitas yang merupakan implementasi dari suatu keputusan yang
akan menghasilkan outcome baik berupa outcome positif ataupun outcome negatif.

Evaluasi ekonomi memberikan penilaian terhadap efisiensi, yang menilai hubungan antara
hasil yang dicapai dan input yang digunakan dalam hal ini adalah uang yang digunakan teknik
evaluasi ekonomi mampu menyediakan berbagai cara untuk menanggulangi masalah dengan
menggunakan berbagai pertimbangan pilihan masyarakat.

Evaluasi ekonomi mempunyai peranan penting dalam menanggulangi berbagai masalah


manajemen, penekanannya terletak pada penentuan bagaimana penyediaan pelayanan kesehatan
yang terbaik, bukan penentuan prioritas dalam investasi.

Masalah teknis yang selalu terjadi dalam evaluasi ekonomi adalah kurangnya informasi dan
satuan dari dampak pelayanan kesehatan. Masalah lain yang timbul adalah adanya perbedaan
pendapat mengenai teknik yang digunakan dan perbedaan tentang strategi Primary Health Care
(PHC). Secara selektif, PHC dianggap pelayanan yang paling efektif dari segi biaya dengan
menggunakan teknik CBA.

Evaluasi ekonomi dapat juga dilakukan pada program kesehatan. Evaluasi ekonomi dapat
didefinisikan sebagai suatu penilaian secara kuantitatif dari apa yang diharapkan/diinginkan oleh
masyarakat dalam melakukan investasi pada suatu proyek atau program, dimana
harapan/keinginan dinilai dari segi biaya dan konsekuensinya. Dimana, konsekuensi adalah hasil
positif atau manfaat dari suatu program.

TINJAUAN PUSTAKA

Evaluasi Ekonomi Pada Program Kesehatan


Evaluasi ekonomi pada program kesehatan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Evaluasi parsial
Evaluasi parsial setidaknya mengandung salah satu komponen dari evaluasi secara penuh. Pada
evaluasi ini terdiri dari analisis akuntansi biaya, biaya dari kesakitan yang terjadi dan penelitian
identifikasi biaya. Penelitian tentang biaya kesakitan biasanya digunakan untuk menghitung
beban biaya dari sakitnya, dimana hal ini akan berkaitan dengan keuntungan secara ekonomis
biaya intervensi pencegahan tersebut dilakukan
2. Evaluasi intermediet
3. Evaluasi secara penuh
Pada evaluasi ini seluruh aspek biaya dan keuntungan dari intervensi yang terjadi
diperhitungkan. Terdapat 2 metode yang sering digunakan untuk melakukan evaluasi ekonomi
secara penuh pada intervensi kesehatan yang sudahdilaksanakan yaitu cost effectiveness analysis
dan cost benefit analysis. Pada CEA, evaluasi yang dihasilkan akan menggunakan terminology
biaya per unit dari perbaikan outcome kesehatan yang dicapai. Bila biaya netto dari suatu
intervensi adalah negative maka intervensi tersebut dikatakan sebagai cost saving. Bila pada
suatu keadaan dimana ratio cost effectiveness tidak bermakna, maka digunakanlah Cost Benefit
Analysis ( CBA ), dimana outcome kesehatan yang dicapai akan dikonversikan ke dalam nilai
uang. Metode ini jarang digunakan pada kesehatan karena ketidaksetujuan terhadap validitas dan
kesesuaian dalam mengukur status kesehatan dan hidup.

Evaluasi Ekonomi dalam Pelayanan Kesehatan


Lubis (2009) menyebutkan bahwa teknik evaluasi ekonomi mampu menyediakan berbagai
cara untuk menanggulangi masalah dengan menggunakan berbagai pertimbangan pilihan
masyarakat. Evaluasi ekonomi mempunyai peranan penting dalam menanggulangi berbagai
masalah manajemen, penekanannya terletak pada penentuan bagaimana penyediaan pelayanan
kesehatan yang terbaik, bukan penentuan prioritas dalam investasi.

Masalah teknis yang selalu terjadi dalam evaluasi ekonomi adalah kurangnya informasi
dan satuan dari dampak pelayanan kesehatan. Masalah lain yang timbul adalah adanya perbedaan
pendapat mengenai teknik yang digunakan dan perbedaan tentang strategi Primary Health Care
(PHC). Secara selektif, PHC dianggap pelayanan yang paling efektif dari segi biaya dengan
menggunakan teknik CBA.

Langkah – langkah yang harus dilalui dalam evaluasi ekonomi dalam pelayanan kesehatan
adalah : (1) identifikasi berbagai biaya dan berbagai konsekuensinya sehingga tidak
menimbulkan kesalahan dalam memperhitungkan kebutuhan kesehatan masyarakat dan
konsekuensinya; (2) perhitungan biaya dan konsekuensi tersebut. Hal ini berkaitan dengan
dampak terhadap status kesehatan dan faktor – faktor yang mempengaruhinya. Pendekatan yang
biasa dipakai adalah penggunaan indikator kesehatan secara umum, yaitu tahun penyesuaian
hidup berkualitas (quality adjusted life years) dan hari kehilangan hidup dalam keadaan sehat (
healthy days of life lost) dan pemilihan unit of effect yang sesuai dengan luaran antara; (3)
penilaian dan pengukuran biaya tersebut serta konsekuensinya dengan konsep opportunity cost
dan teknik shadow pricing dan (4) penyesuaian biaya dan konsekuensi untuk waktu yang
berbeda, misalnya program pencegahan yang memiliki dampak yang lama, hasilnya tidak dapat
dilihat langsung seperti program pengobatan penyakit. Untuk itu dilakukan metode discounting
dengan asumsi bahwa orang lebih menyukai manfaat yang cepat diperoleh dari pada yang lama.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengambil keputusan berdasarkan


langkah tersebut adalah: (1) jumlah sumber daya yang tersedia untuk diteliti; (2) adanya suatu
pilihan yang jelas dalam penggunaan sumber daya yang akan dievaluasi; (3) penggunaan
teknologi yang cukup dikenal sebagai dasar dalam menentukan pilihan; (4) tersedianya waktu
yang cukup untuk penelitian dan (5) pengambil keputusan diharapkan dapat menerima hasil
penelitian dan tidak berubah – ubah fikiran.

Terdapat 4 macam desain penelitian atau metoda dalam penelitian ekonomi pada berbagai
program kesehatan. Yaitu:

1. Cost Minimization Analysis (CMA)


Merupakan teknik yang didesain untuk melakukan pilihan diantara beberapa alternatif
yang mungkin dilakukan dengan mendapatkan otucome yang setara dengan melakukan
identifikasi biaya yang dibutuhkan atau dikeluarkan dari alternatif-alternatif tersebut CMA
merupakan alat yang sederhana yang digunakan untuk membandingkan biaya dari dua atau lebih
program dimana tujuannya adalah untuk mengidentifikasi alternatif dengan biaya yang terendah.
Jadi pada CMA adalah obat dengan biaya yang paling rendah, bila seluruh sumber daya
digunakan. Bila tidak tersedia data untuk mendukung alternatif terapi yang digunakan, maka
harus digunakan metode yang lain. CMA hanya menunjukkan biaya yang diselamatkan dari.

2. Cost Effectiveness Analysis (CEA)


CEA merupakan suatu metoda yang didesain untuk membandingkan antara outcome
kesehatan dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan program tersebut atau intervensi
dengan alternatif lain yang menghasilkan outcome yang sama. Outcome kesehatan diekspresikan
dalam terminologi yang obyektif dan terukur seperti jumlah kasus yang diobati, penurunan
tekanan darah yang dinyatakan dalam mmHg, dan lain-lain dan bukan dalam terminologi
moneter. Dalam evaluasi ekonomi pengertian efektivitas berbeda dengan penghematan biaya,
dimana penghematan biaya mengacu pada persaingan alternatif program yang memberikan biaya
yang lebih murah, sedangkan efektivitas biaya tidak semata-mata mempertimbangkan aspek
biaya yang lebih rendah. Dalam mempertimbangkan pilihan suatu produk ataupun jenis
pelayanan kesehatan yang akan dipilih tetap harus mempertimbangkan efektivitas biaya bila:

CEA membantu memberikan alternatif yang optimal yang tidak selalu berarti biayanya
lebih murah. CEA membantu mengidentifikasi dan mempromosikan terapi pengobatan yang
paling efisien. CEA sangat berguna bila membandingkan alternatif program atau alternatif
intervensi dimana aspek yang berbeda tidak hanya program atau intervensinya tetapi juga
outcome klinisnya ataupun terapinya. Dengan melakukan perhitungan terhadap ukuran2 efisiensi
( cost effectiveness ratio ), alternatif dengan perbedaan biaya, rate efikasi yang berbeda dan rate
keamanan maka perbandingan akan dilakukan secara berimbang.
Outcome kesehatan yang digunakan sebagai denominator pada cost effectiveness ratio dapat
dinyatakan dalam satuan unit seperti jumlah tahun yang berhasil diselamatkan atau indeks dari
kegunaan atau kebutuhan seperti QALYs. Banyak orang menggunakan QALYs sebagai
denominator outcome CUA, tetapi saat ini banyak ahli telah merekomendasikan pada CEA
sedapat mungkin menggunakan QALYs.

3. Cost Benefit Analysis (CBA)


Pada penelitian CBA, alternatif yang dipilih tidak mempunyai outcome yang sama. Baik
outcome maupun biaya yang terjadi dihitung dan diukur dengan menggunakan satuan uang. Cost
Benefit Ratio dihitung dengan membedakan alternatif mana yang mempunyai keuntungan yang
relatif lebih besar dibandingkan dengan biaya yang terjadi. Penelitian CBA dilakukan bila
sumber daya terbatas dan pilihan harus dilakukan terhadap beberapa alternatif yang paling
menguntungkan. Kesulitan utama pada penelitian tipe ini adalah mengkonversikan outcome
klinis dalam ukuran moneter. Penelitian tipe ini lebih bermanfaat dalam analisis pelayanan
kesehatan secara ekonomis dibandingkan kegunaannya dalam pengobatan kepada pasien.

Metode Analisis Biaya Manfaat


Pelaksanaan analisis pada proyek yang mempunyai umur ekonomis yang relatif panjang
dan memberikan manfaat serta menimbulkan biaya pada saat yang berbeda-beda harus
memperhatikan konsep uang. Analisis harus dilakukan dengan menghitung seluruh manfaat dan
biaya dari suatu proyek selama umur proyek yang bersangkutan dan dihitung dalam nilai
sekarang.

Adanya faktor ketidak pastian tentang hal yang terjadi dimasa datang dan diskonto, maka
perlu ditentukan konsep uang yang akan datang ( future value) dan nilai uang sekarang (present
value) karena hampir semua proyek mempunyai umur yang lebih panjang dari satu tahun dan
manfaat proyek tersebut tidak diterima seluruhnya pada suatu saat. Biaya proyek juga
dikeluarkan dalam waktu yang berbeda-beda selama umur proyek yang bersangkutan. Diskonto
biasanya disamakan dengan tingkat bunga, meskipun dalam analisis manfaat dan biaya faktor
diskonto tidak selalu sama dengan suku bunga.

Cost Utility Analysis


Cost Utility Analysis mirip dengan Cost Effectiveness Analysis tetapi outcome yang
dihasilkan diukur dengan ukuran status kesehatan seseorang. Outcome biasanya diukur dengan
quality adjusted life years ( QALYs).

Harapan hidup merupakan salah satu ukuran outcome yang potensial dalam analisis
pengambilan keputusan atau analisis biaya efektivitas, dimana ukuran yang sering digunakan
adalah QALYs ( quality adjusted life years ).

Perhitungan QALYs dilakukan berdasarkan pada perkiraan penggunaan berbagai sumber


daya untuk menghasilkan status sehat. Perkiraan penggunaan tersebut merujuk pada nilai-nilai
yang biasa digunakan atau disukai oleh orang banyak dan nilai ini akan berbeda untuk setiap
negara.
Cost utility analysis pada intervensi kesehatan dan dalam pengukuran dari penyakit,
perbedaan derajat dalam masalah kesehatan ditandai dengan menggunakan angka dengan skala
dari 0 sampai dengan 1. Penggunaan skala tersebut dihitung dari beratnya hidup yang digunakan
dalam Quality Adjusted of Life (QALYs) and Disability Adjusted Life Years ( DALYs).
Penilaian keduanya merupakan skala yang controversial, dimana DALYs adalah melihat adanya
devaluasi dari hidup seseorang akibat adanya kecacatan atau penyakit kronis.

Konsep Efisiensi di Bidang Kesehatan


Efisiensi pada dasarnya adalah rasio antara output dan input. Farrel (1957) menyatakan
bahwa efisiensi merupakan salah satu parameter kinerja yang secara teoritis mendasari seluruh
kinerja suatu organisasi. Efisiensi juga dide-finisikan sebagai kesuksesan dalam meng-
akomodasi output semaksimal mungkin dari sejumlah input yang ada.

Menurut Ozcan (2008) efisiensi dapat ditingkatkan dengan memperhatikan hal-hal yang
tercantum sebagai berikut.
a. Meningkatkan output
b. Mengurangi input
c. Jika kedua output dan input ditingkatkan, maka tingkat kenaikan untuk output harus lebih besar
daripada tingkat kenaikan untuk input
d. Jika kedua output dan input diturunkan, maka tingkat penurunan untuk output harus lebih
rendah daripada tingkat penurunan untuk input

Metode yang digunakan untuk mengukur efisiensi, berdasarkan sifatnya dibagi menjadi
dua yaitu metode parametrik dan metode non parametrik. Wulansari, 2010 menjelaskan ada
beberapa metode parametrik, diantaranya analisis rasio dan Stochastic Frontier Analysis (SFA).
Analisis rasio merupakan pendekatan yang memberikan informasi mengenai hubungan antara
satu input dan satu output, kelemahannya tidak dapat digunakan untuk kasus dengan banyak
input terhadap output. Sedangkan Stochastic Frontier Analysis (SFA) hanya mampu
mengakomodasi satu output dengan banyak input.

Penelitian Ramadany, 2011 melakukan analisis tingkat efisiensi pelayanan kesehatan di


tiap kabupaten/kota se-Jawa Timur dengan menggunakan metode DEA-CCR, yaitu dengan
menggunakan 9 variabel input dan 2 variabel output. Variabel output yang digunakan adalah
pasien rawat inap dan pasien rawat jalan sedangkan variabel inputnya adalah rumah sakit,
puskesmas, sarana kesehatan desa, sarana persalinan, klinik, tenaga paramedis, asisten medis dan
tenaga kesehatan lainnya serta anggaran kesehatan. Penelitian tersebut menggunakan semua
variabel input dan output yang dimasukkan ke model DEA-CCR padahal belum diketahui
pengaruh dari masing-masing variabel dan biasanya variabel input dan output tersebut masih
berkorelasi.
Kesimpulan
Evaluasi ekonomi pada program kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu Evaluasi
parsial, Evaluasi intermediet dan Evaluasi secara penuh

Teknik evaluasi ekonomi mampu menyediakan berbagai cara untuk menanggulangi


masalah dengan menggunakan berbagai pertimbangan pilihan masyarakat.
Masalah teknis yang selalu terjadi dalam evaluasi ekonomi adalah kurangnya informasi
dan satuan dari dampak pelayanan kesehatan. Masalah lain yang timbul adalah adanya perbedaan
pendapat mengenai teknik yang digunakan dan perbedaan tentang strategi Primary Health Care
(PHC).

Cost Minimization Analysis (CMA) Merupakan teknik yang didesain untuk melakukan
pilihan diantara beberapa alternatif yang mungkin dilakukan dengan mendapatkan otucome yang
setara dengan melakukan identifikasi biaya yang dibutuhkan atau dikeluarkan dari alternatif-
alternatif tersebut

Cos Effectiveness Analysis adalah metode manajemen guna menilai efektifitas dari suatu
program atau intervensi dengan membandingkan nilai biaya (cost) dengan outcome yang
dihasilkan.
Jadi, Cost Benefit Analysis (CBA) adalah suatu proses sistematis yang digunakan untuk
menghitung serta membandingkan biaya dan manfaat dari suatu proyek, keputusan maupun
kebijakan pemerintah.

Cost Utility Analysis mirip dengan Cost Effectiveness Analysis tetapi outcome yang
dihasilkan diukur dengan ukuran status kesehatan seseorang. Outcome biasanya diukur dengan
quality adjusted life years ( QALYs)

Efisiensi pada dasarnya adalah rasio antara output dan input. Metode yang digunakan untuk
mengukur efisiensi, berdasarkan sifatnya dibagi menjadi dua yaitu metode parametrik dan
metode non parametric.

Daftar Pustaka

Ari Probandari. 2007. Cost Effectiveness Analysis dalam Penetuan Kebijakan Kesehatan:
Sekedar Konsep atau Aplikatif. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol.10. Uviversitas
Sebelas Maret

Elsa pudji setiawati. Evaluasi ekonomi


Pada pelayanan kesehatan. bagian ilmu kesehatan masyarakat Fakultas kedokteran unpad

Nita Cahayani, Dkk. 2012. Kajian Tentang Tingkat Efisiensi Pelayanan Kesehatan Rumah Skait
Umum Pemerintah Kabupaten/Kota Di Jawa Timur Menggunakan Metode PCF-DEA. Jurnal
Sains dan Seni ITS. Surabaya

N Nuryadi. 2012. Cost Benefit Analysis Antara Pembelian Alat CT-Scan. Jurnal. Universitas
Jember

Riszqiyanti Ramandany. Dkk. Analisis Tingkat Efisiensi Pelayanan Kesehatan Di Tiap


Kabupaten/Kota Se-Jawa Timur Dengan Metode Data Envelopment Analysis (DEA). 2010.
Statistika MIPA ITS. Surabaya
Wuri Emira, DKK. 2012. Cost Benefit Analysis dan Cost Effectiveness Analysis terhadap Poli
THT (Telinga, Hidung, Dan Tenggorokan) dengan Poli Mata di Poliklinik Kurma Sejahtera.
Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Airlangga

Evaluasi ekonomi didefinisikan sebagai perbandingan antara konsekuensi dari dua atau lebih
rangkaian alternative dari suatu keputusan.1,2 Biaya yang terjadi merupakan biaya yang
digunakan untuk menjalankan aktivitas yang merupakan implementasi dari suatu keputusan yang
akan menghasilkan outcome baik berupa outcome positif ataupun outcome negatif. Evaluasi
ekonomi memberikan penilaian terhadap efisiensi, yang menilai hubungan antara hasil yang
dicapai dan input yang digunakan dalam hal ini adalah uang yang digunakan.1 Yang
dimaksud dengan biaya disini adalah biaya yang digunakan dalam pelayanan kesehatan 1 dimana
terdapat 5 elemen yang mungkin berhubungan dengan biaya yang terjadi pada pelayanan
kesehatan yaitu:1•Penggunaan sumber daya untuk dapat melakukan pengobatan. •Sebagai
contoh: pada terapi yang menggunakan obat, maka aspek-aspek yang terlibat adalah produksi
obat, distribusi obat, waktu yang digunakan untuk memproduksi obat tersebut, proses
manajemen dan monitoring •Sumber daya kesehatan yang digunakan untuk mengobati efek
samping yang terjadi akibat pengobatan yang dilakukan. •Bila sakit yang akan timbul berhasil
dicegah, sumber daya dalam hal ini biaya yang berhasil disimpan atau dihemat haruslah
dihitung. 1

•Biaya untuk proses diagnostik ataupun rujukan yang harus dilakukan termasuk rekomendasi
yang diberikan oleh farmasis termasuk hal yang harus diperhitungkan •Hidup yang berhasil
diperpanjang karena adanya terapi, biaya untuk pelayanan kesehatan yang dikonsumsi selama
perpanjangan hidup tersebut termasuk yang juga harus diperhitungkan. Hidup yang berhasil
diperpanjang ini dikuantifikasikan dalam bentuk uang merupakan hal yang masih diperdebatkan.
Keseluruhan biaya yang terjadi tersebut dihitung dan dijumlahkan dan hal ini merupakan biaya
yang terjadi dalam pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Biaya ini merupakan biaya yang
tertuang dalam cost effectiveness ratio. Dua aspek yang merupakan konsekuensi dalam evaluasi
ekonomi yaitu efektivitas dan utiliti dimana keduanya dikaitkan dengan cost effectiveness
analysis dan cost utility analysis. Efektivitas sendiri mengacu pada tujuan dari pelayanan
kesehatan ataupun pengobatan yang dilakukan, dimana ukuran yang digunakan adalah years of
lived saved yaitu jumlah tahun yang diselamatkan dikalikan dengan rata-rata harapan hidup
seseorang. Sedangkan utiliti merupakan ukuran yang digunakan untuk penyesuaian dari lamanya
hidup seseorang yang berkualitas yang dinilai dalam angka dengan skala antara 0 – 1. Bila utiliti
dikalikan dengan years of life maka hasilnya adalah quality adjusted life years atau QALYs.12

EVALUASI EKONOMI PADA PROGRAM KESEHATAN

Analisis ekonomi pada program-program kesehatan masyarakat secara umum diidentifikasi


dengan menghitungnya terhadap nilai uang. Salah satu keterbatasan dalam analisis ekonomi
adalah tidak diperhitungkannya nilai dari rasa sakit ataupun penderitaan yang dialami yang
dinyatakan dalam uang. Dalam proses pengambilan keputusan hal tersebut termasuk yang
dipertimbangkan tetapi dalam analisis ekonomi yang terfokus pada akuntansi biaya hal ini
tidaklah dipertimbangkan.3Evaluasi ekonomi pada program kesehatan dapat diklasifikasikan
sebagai berikut : •Evaluasi parsial. Evaluasi parsial setidaknya mengandung salah satu
komponen dari evaluasi secara penuh. Pada evaluasi ini terdiri dari analisis akuntansi biaya,
biaya dari kesakitan yang terjadi dan penelitian identifikasi biaya. Penelitian tentang biaya
kesakitan biasanya digunakan untuk menghitung beban biaya dari sakitnya, dimana hal ini akan
berkaitan dengan keuntungan secara ekonomis biaya intervensi pencegahan tersebut dilakukan.
•Evaluasi intermediet •Evaluasi secara penuh. Pada evaluasi ini seluruh aspek biaya dan
keuntungan dari intervensi yang terjadi diperhitungkan. Terdapat 2 metode yang sering
digunakan untuk melakukan evaluasi ekonomi secara penuh pada intervensi kesehatan yang
sudah dilaksanakan yaitu cost effectiveness analysis dan cost benefit analysis. Pada CEA,
evaluasi yang dihasilkan akan menggunakan terminology biaya per unit dari perbaikan outcome
kesehatan yang dicapai. Bila biaya netto dari suatu intervensi adalah negative maka intervensi
tersebut dikatakan sebagai cost saving. Bila pada suatu keadaan dimana ratio cost effectiveness
tidak bermakna, maka digunakanlah Cost Benefit Analysis ( CBA ), dimana outcome kesehatan
yang dicapai akan dikonversikan ke dalam nilai uang. Metode ini jarang digunakan pada
kesehatan karena ketidaksetujuan terhadap validitas dan kesesuaian dalam mengukur status
kesehatan dan hidup. Terdapat 4 macam desain penelitian atau metoda dalam penelitian ekonomi
pada berbagai program kesehatan. yaitu:1•Cost Minimization Analysis (CMA) Merupakan
teknik yang didesain untuk melakukan pilihan diantara beberapa alternatif yang mungkin
dilakukan dengan mendapatkan otucome yang setara dengan melakukan identifikasi biaya yang
dibutuhkan atau dikeluarkan dari alternatif-alternatif tersebut.1 CMA merupakan alat yang
sederhana yang digunakan untuk membandingkan biaya dari dua atau lebih program dimana
tujuannya adalah untuk mengidentifikasi alternatif dengan biaya yang terendah.1,2 Jadi pada
CMA adalah obat dengan biaya yang paling rendah, bila seluruh sumber daya digunakan. Bila
tidak tersedia data untuk mendukung alternatif terapi yang digunakan, maka harus digunakan
metode yang lain.1,2 CMA hanya menunjukkan biaya yang diselamatkan dari 4

satu pengobatan atau program terhadap pengobatan ataupun program yang lain.2•Cost
Effectiveness Analysis (CEA) CEA merupakan suatu metoda yang didesain untuk
membandingkan antara outcome kesehatan dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan
program tersebut atau intervensi dengan alternatif lain yang menghasilkan outcome yang sama.1
Outcome kesehatan diekspresikan dalam terminologi yang obyektif dan terukur seperti jumlah
kasus yang diobati, penurunan tekanan darah yang dinyatakan dalam mmHg, dan lain-lain dan
bukan dalam terminologi moneter.1Dalam evaluasi ekonomi pengertian efektivitas berbeda
dengan penghematan biaya, dimana penghematan biaya mengacu pada persaingan alternatif
program yang memberikan biaya yang lebih murah, sedangkan efektivitas biaya tidak semata-
mata mempertimbangkan aspek biaya yang lebih rendah.3 Dalam mempertimbangkan pilihan
suatu produk ataupun jenis pelayanan kesehatan yang akan dipilih tetap harus
mempertimbangkan efektivitas biaya bila: CEA membantu memberikan alternatif yang optimal
yang tidak selalu berarti biayanya lebih murah. CEA membantu mengidentifikasi dan
mempromosikan terapi pengobatan yang paling efisien.3 CEA sangat berguna bila
membandingkan alternatif program atau alternatif intervensi dimana aspek yang berbeda tidak
hanya program atau 5

intervensinya tetapi juga outcome klinisnya ataupun terapinya. Dengan melakukan perhitungan
terhadap ukuran2 efisiensi ( cost effectiveness ratio ), alternatif dengan perbedaan biaya, rate
efikasi yang berbeda dan rate keamanan maka perbandingan akan dilakukan secara
berimbang.3Outcome kesehatan yang digunakan sebagai denominator pada cost effectiveness
ratio dapat dinyatakan dalam satuan unit seperti jumlah tahun yang berhasil diselamatkan atau
indeks dari kegunaan atau kebutuhan seperti QALYs. Banyak orang menggunakan QALYs
sebagai denominator outcome CUA, tetapi saat ini banyak ahli telah merekomendasikan pada
CEA sedapat mungkin menggunakan QALYs3•Cost Benefit Analysis (CBA) Pada penelitian
CBA, alternatif yang dipilih tidak mempunyai outcome yang sama.1 Baik outcome maupun
biaya yang terjadi dihitung dan diukur dengan menggunakan satuan uang. Cost Benefit Ratio
dihitung dengan membedakan alternatif mana yang mempunyai keuntungan yang relatif lebih
besar dibandingkan dengan biaya yang terjadi. Penelitian CBA dilakukan bila sumber daya
terbatas dan pilihan harus dilakukan terhadap beberapa alternatif yang paling menguntungkan.
Kesulitan utama pada penelitian tipe ini adalah mengkonversikan outcome klinis dalam ukuran
moneter.1 Penelitian tipe ini lebih bermanfaat dalam analisis pelayanan kesehatan secara
ekonomis dibandingkan kegunaannya dalam pengobatan kepada pasien.16

•Cost Utility Analysis Cost Utility Analysis mirip dengan Cost Effectiveness Analysis tetapi
outcome yang dihasilkan diukur dengan ukuran status kesehatan seseorang. Outcome biasanya
diukur dengan quality adjusted life years ( QALYs).1Harapan hidup merupakan salah satu
ukuran outcome yang potensial dalam analisis pengambilan keputusan atau analisis biaya
efektivitas, dimana ukuran yang sering digunakan adalah QALYs ( quality adjusted life years
).3Perhitungan QALYs dilakukan berdasarkan pada perkiraan penggunaan berbagai sumber daya
untuk menghasilkan status sehat. Perkiraan penggunaan tersebut merujuk pada nilai-nilai yang
biasa digunakan atau disukai oleh orang banyak dan nilai ini akan berbeda untuk setiap
negara.3Cost utility analysis pada intervensi kesehatan dan dalam pengukuran dari penyakit,
perbedaan derajat dalam masalah kesehatan ditandai dengan menggunakan angka dengan skala
dari 0 sampai dengan 1. Penggunaan skala tersebut dihitung dari beratnya hidup yang digunakan
dalam Quality Adjusted of Life (QALYs) and Disability Adjusted Life Years ( DALYs).
Penilaian keduanya merupakan skala yang controversial, dimana DALYs adalah melihat adanya
devaluasi dari hidup seseorang akibat adanya kecacatan atau penyakit kronis.47

Metode Evaluasi Ekonomi di Bidang Kesehatan

Yang dimaksud dengan evaluasi ekonomi adalah suatu aktivitas yang


berkaitan dengan :

1. Input dan sekaligus output atau cost dan consequences

2. Memperhatikan masalah pilihan (choice), mengingat sumber daya itu

terbatas sehingga tidak mungkin untuk dapat memproduksi semua

output, karenanya pemilihan harus dilakukan.

Ada 4 langkah yang harus dilakukan dalam mengerjakan evaluasi

ekonomi :

a. Identifikasi

b. Mengukur

c. Menilai

d. Membandingkan

Ada 2 ciri pokok evaluasi ekonomi, yaitu :

a. Membandingakan dua pilihan atau lebih.

b. Menghitung biaya maupun hasilnya (consequences)

Namun dalam pelaksanaannya, bisa bersifat :

Modul Ekonomi Kesehatan_Prodi S1 KesMas FKM UDINUS

By Eti Rimawati 2004

10

Full economics evaluation , bila kedua kriteria tersebut dapat dipenuhi.

Partial economics evaluation, bila evaluasi dilakukan hanya pada satu

bagian saja. Dan kelemahannya, tidak bisa menjawab pertanyaan tentang

efisiensi.

Sumbangan ekonomi terhadap bidang kesehatan :

tercapainya efisiensi

efektivitas
optimalisasi dari alokasi

mobilisasi dan utilisasi sumber daya kesehatan

Beberapa Metode :

1. Teknik Evaluasi Ekonomi

CBA (Cost Benefit Analysis)

CEA (Cost Effctivness Analysis)

Cost Analysis

Demand dan Supply Pelayanan Kesehatan

2. Teknik Analisis Ekonomi

BEP (Break Even Point)

ROI (Return of Investmen)

Payback Period, dll

3. Keuangan

Metode RR keuangan (akuntansi)

neraca keuangan, laba-rugi

http://eprints.dinus.ac.id/6213/1/I_EKONOMI_KESEHATAN.pdf

http://docplayer.info/301702-Evaluasi-ekonomi-pada-pelayanan-kesehatan.html

Analisis Ekonomi Kesehatan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakan
Analisis ekonomi adalah proses pemeriksaan statistik dan indikator pasar untuk menentukan
kemungkinan rencana untuk alokasi sumber daya. Analisis dapat diarahkan untuk
mengembangkan rencana ekonomi tertentu atau kebijakan, atau dapat digunakan untuk benar-
benar memahami status ekonomi. Dalam rangka untuk melakukan analisis ekonomi dasar, adalah
penting untuk memahami hubungan antara sumber daya dan kebutuhan, sejarah baru-baru ini
ekonomi yang bersangkutan, dan tujuan atau prakiraan dalam waktu dekat.
Analisis ekonomik merupakan salah satu analisis yang digunakan pada model teknik
fundamental. analisis ini cenderung digunakan untuk mengetahui keadaan-keadaan yang bersifat
makro dari suatu keadaan ekonomi. Unsur-unsur makroekonomi yang biasa dianalisis melalui
analisis ekonomik ini adalah faktor tingkat bunga, pendapatan nasional suatu negara, kebijakan
moneter dan kebijakan fiskal yang diterapkan oleh suatu negara. analisis ini digunakan untuk
mengetahui potensi dari faktor makro yang pastinya menjadi salah satu faktor yang
memengaruhi tingkat pengembalian dari investasi.
Analisis ekonomi kadang-kadang dapat dilakukan hanya untuk menjelaskan keadaan saat ini
ekonomi tertentu, tetapi juga dapat dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk menetapkan dan
mencapai tujuan ekonomi di masa depan. Jika, misalnya, pemerintah meramalkan suatu
kelangkaan pangan yang akan datang, mungkin ingin mulai subsidi pertanian untuk membantu
mengurangi risiko ekonomi kekurangan. Dengan melakukan analisis ekonomi, mungkin dapat
menentukan cara membuat subsidi dan program bantuan yang paling sesuai dengan situasi tanpa
melelahkan sumber daya keuangan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu analisis ekonomi di bidang kesehatan?

2. Konsep analisis ekonomi?

3. Konsep luaran/output dari program kesehatan?

4. Konsep biaya dari program kesehatan?

5. Teknik analisis ekonomi?

6. Konsep efisiensi di bidang kesehatan?

C. Manfaat
1. Dapat mengetahui analisis ekonomi di bidang kesehatan?
2. Dapat mengetahui konsep analisis ekonomi?

3. Dapat mengetahui konsep luaran/output dari program kesehatan?

4. Dapat mengetahui konsep biaya dari program kesehatan?

5. Dapat mengetahui teknik analisis ekonomi?

6. Dapat mengetahui konsep efisiensi di bidang kesehatan?

BAB II

ANALISIS EKONOMI DI BIDANG KESEHATAN

A. Pengertian
Analisis ekonomi adalah proses pemeriksaan statistik dan indikator pasar untuk menentukan
kemungkinan rencana untuk alokasi sumber daya. Analisis dapat diarahkan untuk
mengembangkan rencana ekonomi tertentu atau kebijakan, atau dapat digunakan untuk benar-
benar memahami status ekonomi. Dalam rangka untuk melakukan analisis ekonomi dasar, adalah
penting untuk memahami hubungan antara sumber daya dan kebutuhan, sejarah baru-baru ini
ekonomi yang bersangkutan, dan tujuan atau prakiraan dalam waktu dekat.
Analisis ekonomik merupakan salah satu analisis yang digunakan pada model teknik
fundamental. analisis ini cenderung digunakan untuk mengetahui keadaan-keadaan yang bersifat
makro dari suatu keadaan ekonomi. Unsur-unsur makroekonomi yang biasa dianalisis melalui
analisis ekonomik ini adalah faktor tingkat bunga, pendapatan nasional suatu negara, kebijakan
moneter dan kebijakan fiskal yang diterapkan oleh suatu negara. analisis ini digunakan untuk
mengetahui potensi dari faktor makro yang pastinya menjadi salah satu faktor yang
memengaruhi tingkat pengembalian dari investasi.

B. Konsep Analisis Ekonomi


Analisis ekonomi kadang-kadang dapat dilakukan hanya untuk menjelaskan keadaan saat ini
ekonomi tertentu, tetapi juga dapat dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk menetapkan dan
mencapai tujuan ekonomi di masa depan. Jika, misalnya, pemerintah meramalkan suatu
kelangkaan pangan yang akan datang, mungkin ingin mulai subsidi pertanian untuk membantu
mengurangi risiko ekonomi kekurangan. Dengan melakukan analisis ekonomi, mungkin dapat
menentukan cara membuat subsidi dan program bantuan yang paling sesuai dengan situasi tanpa
melelahkan sumber daya keuangan.
Analisis Ekonomi di bedakan menjadi 3 golongan yaitu : Ekonomi Deskripsif, Teori
Ekonomi dan Ekonomi Terapan
1. Ekonomi Deskripsif

Adalah analisis ekonomi yang menggambarkan keadaan yang sebenarnya wujud dalam
perekonomian. Setiap Ilmu Pengetahuan bertujuan untuk menganalisis kenyataan yang wujud di
alam semesta dan di dalam kehidupan manusia. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui
kenyataan yang wujud. Ilmu Ekonomi adalah salah satu ilmu sosial. Di dalam ilmu sosial
tidaklah mudah untuk mengetahui sifat sebenarnya dari kenyataan yang wujud. Ini sukar di
jelaskan karena produksi pangan bukan saja di pengaruhi oleh harganya tetapi oleh banyak faktor
lain seperti iklim, harga barang lain dan keadaan ekonomi.

2. Teori Ekonomi
Adalah pandangan – pandangan yang menggambarkan sifat hubungan yang wujud dalam
kegiatan ekonomi dan ramalan tentang peristiwa yang terjadi apabila suatu keadaan yang
mempengaruhinya mengalami perubahan. Dalam teori ekonomi yang terapkan adalah gambaran
umum dan yang di sederhanakan mengenai kegiatan ekonomi dan sifat – sifat hubungan
ekonomi.

3. Ekonomi Terapan

Merupakan cabang ilmu ekonomi yang menelaah tentang kebijakan yang perlu di laksanakan
untuk mengatasi masalah – masalah ekonomi. Salah satu peranan teori ekonomi adalah berfungsi
sebagai landasan dalam merumuskan kebijakan – kebijakan ekonomi. Dalam perekonomian
tujan – tujuan yang ingin di capai adalah :

a) Mencapai pertumbuhan ekonomi yang cepat.


b) Mencapai kestabilan harga – harga.
c) Mengatasi masalah pengangguran.
d) Mewujudkan distribusi pendapatan yang merata.

C. Konsep Biaya Dari Program Kesehatan


Biaya kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan
atau memanfaatkan berbagi upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga,
kelompok dan masyarakat. Dari pengertian diatas maka biaya kesehatan dapat ditinjau dari dua
sudut yakni :
a) Penyedia pelayanan kesehatan

Biaya kesehatan dari sudut penyedia pelayanan kesehatan adalah besarnya dana yang
harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan.

b) Pemakai jasa pelayanan kesehatan


Biaya kesehatan dari sudut pemakai jasa pelayanan adalah besarnya dana yang harus
disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa pelayanan.
1. Macam-macam Biaya Kesehatan
Biaya kesehatan banyak ragamnya, tergantung pada kompleksitas pelayanan kesehatan
yang diselenggarakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Secara umum biaya kesehatan
dibedakan atas dua macam :
a) Biaya pelayanan kedokteran
Biaya yang dimaksud adalah yang dibtuhkan untuk penyelenggaraan dan atau memanfaatkan
pelayanan kedokteran, yakni yang tujuan utamanya untuk mengobati penyakit serta memulihkan
kesehatan penderita.
b) Biaya pelayanan kesehatan masyarakat
Biaya yang dimaksud adalah yang dibtuhkan untuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat, yakn dengan tujuan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit.
2. Syarat pokok pembiayaan kesehatan
Suatu biaya kesehatan yang baik haruslah memenuhi beberapa syarat pokok yakni :
a) Jumlah, tersedianya dana dalam jumlah yang cukup dalam arti dapat membiayai
penyelenggaraan seluruh upaya kesehatan yang dibutuhkan serta tidak menyulitkan masyarakat
yang memanfaatkannya.
b) Penyebaran, mobilisasi dana kesehatan yang ada sesuai dengan kebutuhan.
c) Pemanfaatan, Alokasi dana pelayanan disesuaikan dengan tingkat pemanfaatan pelayanan
kesehatan yang dibutuhkan.

3. Upaya yang dilakukan untuk rnengatur penyebaran dan pemanfaatan dana banyak
macamnya, yang umumnya berkisar pada:
a) Peningkatan efektivitas
Peningkatan efektivitas dilakukan dengan mengubah penyebaran atau alokasi penggunaari
sumber dana. Berdasarkan pengalarnan yang dimiliki, maka alokasi tersebut lebih diutamakan
pada upaya kesehatan yang menghasilkan dampak vang lebih besar, misalnya mengutamakan
upaya pencegahan, bukan pengobatan penvakit.
b) Peningkatan efisiensi
Peningkatan efisiensi dikaitkan dengan memperkenalkan berbagai mekanisme pengawasan
dan pengendalian. Mekanisme yang dimaksud antara lain:
1) Standar minimal pelayanan
Dengan disusunnya standar minimal pelayanan (minimum stein clard) akan dapat dihindari
pemborosan. Pada dasarnya ada dua macam standar minimal yang sering dipergunakan yakni:
Ø Standar minimal sarana
Contoh standar minimal sarana ialah standar minimal rumah sakit dan standar minimal
laboratorium.
Ø Standar minimal tindakan
Contoh standar minimal tindakan ialah tata cara pengobatan dan perawatan penderita, dan
daftar obat-obat esensial.
Dengan adanya standard minimal pelayanan ini, bukan saja pemborosan dapat dihindari
dan dengan demikian akan dapat ditingkatkan efisiensinya, tetapi juga sekaligus dapat pula
dipakai sebagai pedoman dalam menilai mutu pelayanan.
c) Kerjasama
Bentuk lain yang diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi ialah memperkenalkan konsep
kerjasama antar berbagai sarana pelayanan kesehatan. Sebagaimana telah disebutkan, ada dua
benttjk kerjasama yang dapat dilakukan yakni:
1) Kerjasama institusi: Misalnya sepakat secara bersama-sama membeli peralatan kedokteran yang
mahal (cost sharing) dan jarang dipergunakan. Dengan pembelian dan pemakaian bersama ini
dapat dihematkan dana yang tersedia serta dapat pula dihindari penggunaan Peralatan yang
rendah (under utilization). Dengan demikian. Efisiensi juga akan meningkat.
2) Kerjasama sistem: Bentuk kerjasama sistem Yang Paling Populer ialah sistem rujukan, Yakni
adanya hubungan kerja sama timbal balik antara satu sarana kesehatan dengan sarana kesehatan
lainnya.

4. Perbedaan pelayanan kedokteran dengan pelayanan kesehatan masyarakat


a) pelayanan kedokteran adalah sebagai berikut :
1) Tenaga pelaksananya terutama adalah dokter
2) Perhatian utamnya pada penyembuhan penyakit
3) Sasaran utamnya adalah perseorangan atau keluarga Kurang memperhatikan efisiensi
4) Tidak boleh menarik perhatian karena bertentangan dengan etik dokter
5) Menjalankan fungsi perseorangan dan terikat dengan undang-undang
6) Penghasilan diperoleh dari imbal jasa
7) Bertanggung jawab hanya pada penderita
8) Tidak dapat memonopoli upaya kesehatan dan bahkan mendapat saingan.
9) Masalah administrasi sangat sederhana.
b) pelayanan kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut :
1) Tenaga tenaga pelaksananya terutama adalah ahli kesmas
2) Perhatian utamnya pada pencegahan penyakit penyakit
3) Sasaran utamnya adalah masyarakat keseluruhan
4) Selalu memperhatikan efisiensi
5) Menarik perhatian masyarakat misalnya penyuluhan masyarakat
6) Menjalankan fungsi mengorganisir masyarakat dan didukung dengan undang-undang
7) Penghasilan merupakan gaji dari pemerintah
8) Bertanggung jawab kepada seluruh masyarakat
9) Dapat memonopoli upaya kesehatan
10) Menghadapi berbagai persoalan kepemimpinan.

D. Teknik Analisis Ekonomi


Ekonomi teknik adalah memuat tentang bagaimana membuat sebuah keputusan (decision
making) dimana dibatasi oleh ragam permasalahan yang berhubungan dengan seorang engineer
sehingga menghasilkan pilihan yang terbaik dari berbagai alternatif pilihan. Keputusan yang
diambil berdasarkan suatu proses analisa, teknik dan perhitungan ekonomi.
Analisa ekonomi teknik melibatkan pembuatan keputusan terhadap berbagai penggunaan
sumber daya yang terbatas. Konsekuensi terhadap hasil keputusan biasanya berdampak jauh ke
masa yang akan datang, yang konsekuensinya itu tidak bisa diketahui secara pasti , merupakan
pengambilan keputusan dibawah ketidakpastian.
Hubungan umum antara kegiatan-kegiatan dalam proses disain dan langkah-langkah dari
prosedur analisis ekonomi diperlihatkan dalam tabel Berikut:
Proses Disain Teknik Prosedur Analisis Ekonomi Teknik

a. Perlu definisi masalah


f. Mengenal, merumuskan dan mengevaluasi masalah
Perlu perumusan masalah dan
g. Membuat kelayakan dari alternatif-alternatif
evaluasi h. Membuat aliran dana untuk setiap alternatif-
b. Synthesis dari masalah dan alternatif
alternatif-alternatif i. Penentuan criteria
c. Analisis, optimasi dan evaluasi j. Analisis dan perbandingan dari alternatif-
d. Spesifikasi alternatif yang alternatif
diinginkan k. Pemilihan alternatif yang diharapkan
e. Komunikasi l. Pemantauan unjuk kerja dan pasca evaluasi

1. Cost Utility Analisis


Cost Utility Analysis (CUA) atau analisis penggunaan biaya. Pada analisa ini dampak
dari program disesuaikan oleh angka status kesehatan, pilihan atau berat ringannya kegunaan.
Secara umum ini berarti bahwa seseorang dapat memperkirakan kualitas dari umur kehidupan
yang dicapai. Tidak hanya perhitungan yang kasar. Pendekatan ini terutama berguna untuk
beberapa pengobatan kesehatan atau program-program yang memperpanjang kehidupan,
misalnya obat anti hipertensi atau kemoterapi untuk beberapa jenis kanker, atau menurunkan
angka kesakitan dari kematian. CUA adalah biaya tambahan dari sustu program yang
memberikan dampak tambahan perbaikan kesehatan yang melengkapi program. Perbaikan
kesehatan tersebut diukur dalam bentuk Quality Adjusted Lie Years (QALY) atau umur
kehidupan yang disesuaikan kualitasnya. Hasilnya yaitu berupa suatu rasio biaya.
2. Cost Effectiveness Analisis
Cost-Effectiveness Analysis (CEA) atau analisis efektifitas biaya. Dalam evaluasi
ekonomi ini dampak dari program diukur mendekati cara yang alami, atau unit fisik misalnya
umur kehidupan yang dicapai atau ketepatan diagnosis dari kasus. Tidak ada usaha yang dibuat
untuk memberi harga atau nilai pada dampak. CEA mempertimbangkan satu unsur tunggal untuk
dampak yaitu umur kehidupan yang dicapai, namun ada beberapa CEA yang mempunyai
beberapa dampak. CEA mencari cara pencapaian output yang maksimal dengan jumlah biaya
telah ditentukan, berarti metode ini mencari maksimal output dengan biaya yang tertentu.
3. Cost Benefits Analysis
Cost Benefit Analysis (CBA) atau analisis manfaat biaya. CBA berusaha membuat nilai
pada dampak dari program dalam bentuk uang, sedemikian untuk membuat sama dengan biaya.
CBA merupakan bentuk terluas dari analisis ekonomi, dimana seseorang dapat memastikan
apakah dampak yang bermanfaat dari suatu program sesuai dengan biayanya. CBA merupakan
pemilihan cara tertentu dalam memproduksi output semaksimal mungkin. Teknik CBA yang
dipakai dalam planning programming budgeting system (PPBS) menilai manfaat maupun biaya
dari suatu program dan menetapkan apakah program tersebut menguntungkan atau tidak. Studi
CBA ini membandingkan beberapa program dengan tujuan yang berbeda.

E. Konsep Efisiensi di Bidang Kesehata


Ada beberapa aspek sistem kesehatan yang dapat dilihat efisiensinya yakni sebagai berikut
:
1. Efisiensi produktif.
Sebuah puskesmas atau RS mencapai efisiensi produktif jika memproduksi kuantitats output
dengan kuantitas input seminimal mungkin, atau memproduksi semaksmimal mungkin
kuaantitas output dengan kuantiats input yang tersedia (Clewer dan Perkins, 1998). Pada setting
Puskesmas, output tersebut msailnya “jumlah pasien yang diobati”
2. Efisiensi teknis.
Sebuah puskesmas atau RS mencapai efisiensi teknis jika memproduksi kuantitats output
dengan kombinasi biaya seminimal mungkin, atau memproduksi semaksmimal mungkin
kuaantitas output dengan biaya yang tersedia (Clewer dan Perkins, 1998).
3. Efisiensi alokatif.
Efisiensi alokatif terjadi jika, dengan distribusi pendapatan yang ada di masyarakat, tidak
mungkin merealokasikan sumber

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Analisis ekonomik merupakan salah satu analisis yang digunakan pada model teknik
fundamental. analisis ini cenderung digunakan untuk mengetahui keadaan-keadaan yang bersifat
makro dari suatu keadaan ekonomi. Unsur-unsur makroekonomi yang biasa dianalisis melalui
analisis ekonomik ini adalah faktor tingkat bunga, pendapatan nasional suatu negara, kebijakan
moneter dan kebijakan fiskal yang diterapkan oleh suatu negara. analisis ini digunakan untuk
mengetahui potensi dari faktor makro yang pastinya menjadi salah satu faktor yang
memengaruhi tingkat pengembalian dari investasi.
Analisis ekonomi kadang-kadang dapat dilakukan hanya untuk menjelaskan keadaan saat ini
ekonomi tertentu, tetapi juga dapat dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk menetapkan dan
mencapai tujuan ekonomi di masa depan. Jika, misalnya, pemerintah meramalkan suatu
kelangkaan pangan yang akan datang, mungkin ingin mulai subsidi pertanian untuk membantu
mengurangi risiko ekonomi kekurangan. Dengan melakukan analisis ekonomi, mungkin dapat
menentukan cara membuat subsidi dan program bantuan yang paling sesuai dengan situasi tanpa
melelahkan sumber daya keuangan.

B. Saran
Dalam penyusunan makalah ini tentu masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu kami
harap kritik dan saran pembaca untuk kami jadikan bahan acuan dalam pembuatan makalah
selanjutnya agar lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Ade Fatma. 2009. Ekonomi Kesehatan. Medan: USU Press

Murti, Bhisma. 2011. Ekonomi Kesehatan. Diakses dari website : www.fk.uns.ac.id pada
tanggal 07 April 2014 jam 08.00 WIB
Yuwono, Slamet Riyadi. Ekonomi Kesehatan (Health Economic) dan
Kewirausahaan (Entrepreneurship). PPT Dosen IKM KP – FK. UNAIR

http://dokumen.tips/documents/cost-effectiveness-55ab4f16e182f.html

Diposkan oleh dr. Suparyanto, M.Kes di 08.20


http://dr-suparyanto.blogspot.co.id/2014/07/pembiayaan-kesehatan.html

Diposkan oleh Suhadi Hadi di 13.30


http://kebunhadi.blogspot.co.id/2012/11/pembiayan-kesehatan.html

« Sumber Keterbelakang Masyarakat

MAFIA ROKOK »

Tehnik Evaluasi Ekonomi (Economic Evaluation)

28 November 2009 by asep0ustom

Umumnya studi dan evaluasi ekonomi bertujuan untuk mencari jawaban atas:

1. Apakah sumber-sumber daya yang tebatas jumlahnya sudah digunakan seoptimal


mungkin?
2. Apakah hasil yang dicapai sudah setimpal dengan jumlah biaya yang dikeluarkan?

Evaluasi ekonomi dapat juga dilakukan pada program kesehatan. Evaluasi ekonomi dapat
didefinisikan sebagai suatu penilaian secara kuantitatif dari apa yang diharapkan/diinginkan oleh
masyarakat dalam melakukan investasi pada suatu proyek atau program, dimana
harapan/keinginan dinilai dari segi biaya dan konsekuensinya. Dimana, konsekuensi adalah hasil
positif atau manfaat dari suatu program.

Evaluasi program dilaksanakan dengan menggunakan tehnik analisa ekonomi. Prinsip analisa
berdasarkan pembiayaan dan konsekuensi suatu program pelayanan atau kegiatan lain, kemudian
dibuatkan berbagai alternatif (pilihan) yang sesuai dengan definisi di atas.

Analisa ekonomi yang dapat diterapkan di bidang kesehatan adalah:


Financial Analysis

Analisis yang menyangkut pola pembiayaan termasuk sumber-sumber pembiayaan dan pola
pemanfaatan biaya baik untuk investasi, operasional dan pemeliharaan (biaya rutin termasuk gaji
upah).

Cost Analysis

Analisa biaya pada sistem kesehatan pada dasarnya sama dengan analisa di bidang lainnya.
Mengukur nilai dari semua sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan suatu pelayanan
kesehatan tertentu. Mengukur hasilnya menggunakan standar/indeks. Mengukur mutu/kualitas
pelayanan dan pengaruh dari pelayanan (upaya kesehatan tersebut), namun hal ini sulit untuk
dilaksanakan.

Hasil dari pengukuran ini membantu dalam:

– perencanaan anggaran

– penentuan tarif dan subsidi

– alokasi serta realokasi dari berbagai anggaran pembiayaan

– dapat mengusahakan penghematan

Cost Minimization Analysis

Cara ini memerlukan studi epidemiologis lebih dahulu. Digunakan biasanya jika terdapat dua
atau lebih intervensi terhadap suatu kegiatan tetapi menghasilkan suatu outcome yang sama.
tehnik ini bertujuan untuk menentukan jenis intervesi mana yang lebih murah.

Cost Effectiveness Analysis

Tehnik ini untuk mencari intervensi yang paling menguntungkan dalam mencapai suatu tujuan
tertentu dengan cara membandingkan hasil suatu kegiatan dan biayanya. Cara ini mengevaluasi
salah satu dari hal sebagai berikut:

– intervensi mana yang dapat mencapai suatu hasil yang telah ditaretkan dalam
pembangunan kesehatan dengan biaya paling rendah.

– Intervensi mana yang dapat mencapai hasil yang paling menguntungkan denan alokasi
biaya yang telah ditetapkan. Hasilnya dapat dinyatakan dalam biaya perunit output, atau output
(hasil) per unit sumber biaya.

Cost Benefit Analysis


Menilai manfaat berikut biaya dari suatu proyek/program dan menetapkan apakah
proyek/program itu berguna atau tidak. Bila benefit cost ratio (manfaat bagi biaya) lebih besar
dari satu berarti program itu bermanfaat.

Cost Utility Analysis

Tehnik mirip dengan Cost Effectivness Analysis. Hasil dari suatu program diukur dari aspek
penggunaan/pemanfaatanya. Dapat dititik beratkan pada minimizing cost (menekan biaya) atau
maximizing effect (memperbesar hasil). Hasil dinyatakan dalam biaya per quality adjsuted life
year (QALY) atau QALY per unit sumber biaya.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Ekonomi Kesehatan


2.1.1 Ekonomi
Ekonomi adalah ilmu untuk membuat pilihan. Sumber daya di alam terbatas, sedang keinginan
(wants) manusia tidak terbatas. Demikian juga jumlah dokter, perawat, obat-obatan, tempat tidur
kesehatan meningkat. Karena itu sumber daya kesehatan harus digunakan dengan efisien dan
berkeadilan (equitable).(Murti,2011)
Ekonomi juga dipelajari pada berabgai tingkatan. Kita dapat mempelajari kepututsan rumah
tangga dan perusahaan, atau kita dapat mempelajari interaksi rumah tangga dan perusahaan pada
pasar barang dan jasa tertentu. Kita juga dapat mempelajari operasi perekonomian sebagai suatu
keseluruhan, yang hanyalah merupakan jumlah dari segala kegiatan para pembuatan kepututsan
ini pada semua pasar yang ada. (N.G. Mankiw,2006)

Menurut Lubis (2009) secara garis besar teori ekonomi dapat


dibagi atas dua yaitu:
1. Micro Economics
Merupakan sesuatu yang spesifik dan merupakan sesuatu yang didefinisikan sebagai bagian dari
ilmu ekonomi yang menganalisis bagian-bagian yang kecil dari seluruh kegiatan perekonomian.
Hal yang dianalisis adalah bagian dan sistem ekonomi seperti: Perilaku konsumen, Supply,
Demand, Elastisitas Supply dan Demand, pasar dan sebagainya.
2. Macro Economics
Merupakan sesuatu yang bersifat Agregat dan merupakan analisis atas seluruh kegiatan
perekonomian. Analisis bersifat global dan tidak memperhatikan kegiatan ekonomi yang
dilaksanakan oleh unit-unit kecil dalam perekonomian. Menganalisis kajian sektor-sektor
kesehatan dan hubunganya dengan pembangunan ekonomi. Yang termasuk didalamnya antara
lain: Fiskal dan moneter terhadap pembiayaan kesehatan, Kebijakan kesehatan dan lain-lain.
2.1.2 Ilmu Ekonomi
Ilmu Ekonomi menurut Samuelson (1995) adalah ilmu mengenai pilihan yang mempelajari
bagaimana orang memilih sumber daya produksi yang langka/terbatas, untuk memperoduksi
berbagai komoditi dan mendistribusikannya keanggota masyarakat untuk dikomsumsi.
Ilmu ekonomi merupakan ilmu mengenai bagaimana individu atau masyarakat, dengan atau
tanpa uang menggunakan sumberdayayang terbatas dengan berbagai pilihan penggunaannya,
untuk keperluan konsumsi saat ini atau dimasa mendatang. Ilmu ini mengkaji semua biaya dan
manfaat dari perbaikan pola alokasi sumber daya yang ada.
Definisi ini tidak terbatas hanya pada kegiatan yang berkaitan dengan manusia saja, akan tetapi
dapat diterapkan pada semua kegiatan yang menghadapi keterbatasan atau kelangkaan sumber
daya sehingga pilihan harus ditentukan. Oleh karena itu sering dijelaskan bahwa ekonomi adalah
suatu ilmu mengenai keterbatasan atau kelangkaan sumber daya dan penentuan pilihannya.
Batasan tersebut terlihat pada analisis untuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan
sumber daya dan pilihannya. Bidang dari ilmu ekonomi ini disebut dengan Positive economics.
Positive Economics vs Normative Economics
Positive economics merupakan bidang yang berkaitan dengan “Apa yang terjadi”, atau “apa
yang telah terjadi”, dan “Apa yang akan terjadi”. Positive Ekonomi merupakan ilmu ekonomi
yang bersifat deskriptif, mempelajari tentang bagaimana komoditas diproduksi, didisitribusi,
dikonsumsi dalam keterbatasan sumber daya.
Disamping itu ada lagi yang disebut dengan Normative Economics, yaitu bidang ilmu ekonomi
yang lebih banyak membicarakan tentang “apa yang seharusnya terjadi”, bukan apa yang
terjadi. Normative economics selalu berkaitan dengan norma-norma atau standar yang harus
diterapkan, biasanya ketidaksesuaian mengenai hal-hal normatif akan sulit diatasi dengan
mempergunakan observasi empiris. Normatif ekonomi merupakan ilmu ekonomi yang bersifat
perspektif, mempelajari bagaimana menentukan yang seharusnya. Misalnya hal mengenai
adanya pasar bebas bagi jasa pelayanan kesehatan merupakan hal yang berkaitan
dengan Normative economics, bila berhubungan dengan nilai kebebasan konsumen untuk
memilih. Sedangkan Positive economics bila berkaitan dengan bagaimana perilaku pasar bebas
dan bagaimana praktek sehari-hari.
Walaupun Positive Economics tidak menentukan bagaimana seharusnya sesuatu dilaksanakan,
akan tetapi bidang ini tetap penting bagi pembuatan kebijaksanaan. Misalnya sebagai pedoman
dalam memperkirakan akibat dari berbagai tujuan dan kebijaksanaan yang telah dipilih.
Menurut UU kesehatan tahun 2009 Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental,
spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Menurut Mills dan Gillson (1999) mendefinisikan ekonomi kesehatan sebagai
penerapan teori, konsep dan teknik ilmu ekonomi dalam sektor kesehatan. Ekonomi kesehatan
berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut:
1 Alokasi sumber daya diantara berbagai upaya kesehatan
2 Jumlah sumber daya yang dipergunakan dalam pelayanan kesehatan
3 Pengorganisasian dan pembiayaan dari berbagai pelayanan kesehatan
4 Efisiensi pengalokasian dan penggunaan berbagai sumber daya
5 Dampak upaya pencegahan, pengobatan dan pemulihan kesehatan pada individu dan
masyarakat (Mills & Gillson, 1999)
Ilmu ekonomi kesehatan merupakan ilmu-ilmu sosial yang berarti tidak bebas nilai, dan
merupakan salah satu cabang dari ilmu ekonomi seperti halnya cabang lainnya seperti ilmu
ekonomi lingkungan, welfares economics dan sebagainya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan status kesehatan akan terlihat pada gambar
di bawah ini:

Gambar 01. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan


(sumber: Aditama,2006)
2.2 Ekonomi Kesehatan
Menurut Mills dan Gillson (1999) mendefinisikan ekonomi kesehatan sebagai penerapan teori,
konsep dan teknik ilmu ekonomi dalam sektor kesehatan. Ekonomi kesehatan berhubungan
dengan hal-hal sebagai berikut :
1. Alokasi sumber daya diantara berbagai upaya kesehtan.
2. Jumlah sumber daya yang dipergunakan dalam pelayanan kesehatan.
3. Pengorganisasian dan pembiayaan dari berbagai pelayanan kesehatan.
4. Efisiensi pengalokasian dan penggunaan berbagai sumber daya.
5. Dampak upaya pencegahan , pengobatan dan pemulihan kesehatan pada individu dan
masyarakat.
Menurut Kharman (1964) menjelaskan bahwa ekonomi kesehatan itu merupakan aplikasi
ekonomi dalam bidang kesehatan. Secara umum ekonomi kesehatan akan berkonsentrasi pada
industri kesehatan. Ada 4 bidang yang tercakup dalam ekonomi kesehatan yaitu :
1. Peraturan (regulation)
2. Perencanaan (planning)
3. Pemeliharaan kesehatan ( the health maintenance ) atau organisasi
4. Analisis Cost dan benefict
Pembahasan dalam ilmu ekonomi kesehatan mencakup costumer (dalam hal ini pasien /
pengguna pelayanan kesehtan) provider ( yang merupkan profesional investor, yang terdiri dari
publik maupun private), pemerintah ( government).
Ilmu ekonomi kesehatan berperan dalam rasionalisasi pemilihan dan pelaksanaan kegiatan yang
berkaitan dengan pelayanan kesehatan terutama yang menyangkut penggunaan sumber daya
yang terbatas. Dengan diterapkannya ilmu ekonomi dalam bidang kesehtan, maka kegiatan yang
akan di laksanakan harus memenuhi kriteria efisiensi atau apakah kegitan tersebut bersifat Cost
Efective. Ada kalanya menerapkan ilmu ekonomi harus memenuhi kriteria interest-eficient,
sedangkan pada kesehatan adalah interest-individu.
PPEKI (1989), menyatakan bahwa ilmu ekonomi kesehatan adalah penerapan ilmu ekonomi
dalam upaya kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan untuk mencapai derajat
kesehatan yang optimal. Perubahan mendasar terjadi pada sektor kesehatan, ketikan sektor
kesehatan menghadapi kenyataan bahwa sumberdaya yang tersedia (khususnya dana) semakin
hari semakin jauh dari mencukupi. Keterbatasan tersebut mendorong masuknya disiplin ilmu
kesehatan dalam perencanaan, managemen dan evaluasi sektoe kesehatan.
Terdapat banyak definisi ekonomi kesehatan. Salah satunya mendefinsikan ekonomi kesehatan
sebagai ilmu yang mempelajari suplai dan demand sumber daya pelayanan kesehatan dan
dampak sumber daya pelayanan kesehatan terhadap populasi. Tentu saja definisi hanya
merepresentasikan sebagian kecil topik yang dipelajari dalam ekonomi kesehatan. Ekonomi
kesehatan perlu dipelajari, karena terdapat hubungan antara kesehatan dan ekonomi. Kesehatan
mempengaruhi kondisi ekonomi, dan sebaliknya ekonomi mempengaruhi kesehatan. Sebagai
contoh:

1. Kesehatan yang buruk seorang menyebabkan biaya bagi orang tersebut karena
menurunnya kemampuan untuk menikmati hidup, memperoleh penghasilan,
atau bekerja dengan efektif. Kesehatan yang lebih baik memungkinkan seorang
untuk memenuhi hidup yang lebih produktif.
2. Kesehatan yang buruk individu dapat memberikan dampak dan ancaman bagi
orang lain.
3. Seorang yang terinfeksi penyakit infeksi dapat menular ke orang lain.
Misalnya, AIDS
4. Kepala rumah tangga pencari nafkah yang tidak sehat atau sakit akan
menyebabkan penurunan pendapatan keluarga, makanan dan perumahan yang
buruk bagi keluarga
5. Anggota keluarga yang harus membantu merawat anggota keluarga yang sakit
akan kehilangan waktu untuk mendapatkan penghasilan dari pekerjaan
6. Pekerja yang memiliki kesehatan buruk akan mengalami menurunan
produktivitas

Jadi pelayanan kesehatan yang lebih baik akan memberikan manfaat bagi individu dan
masyarakat keseluruhan jika membawa kesehatan yang lebih baik. Status kesehatan penduduk
yang baik meningkatkan produktivitas, meningkatkan pendapatan per kapita, meningkatkan
pertumbuhan ekonomi negara (Murti,2011).

2.3 NEED, DEMAND, DAN WANT


Need (kebutuhan) adalah kuantitas barang atau pelayanan yang disecara objektif dipandang
terbaik untuk digunakan memperbaiki kondisi kesehatan pasien. Need biasanya ditentukan oleh
dokter, tetapi kualitas pertimbangan dokter tergantung pendidikan, peralatan, dan kompetensi
dokter.
Demand (permintaan) adalah barang atau pelayanan yang sesungguhnya dibeli oleh pasien.
Permintaan tersebut dipengaruhi oleh pendapat medis dari dokter, dan juga faktor lain seperti
pendapatan dan harga obat. Demand berbeda dengan need dan want. Wants (keinginan) adalah
barang atau pelayanaan yang diinginkan pasien karena dianggap terbaik bagi mereka (misalnya,
obat yang bekerja cepat). Wants bisa sama atau berbeda dengan need (kebutuhan).(Murti,2011)

Gambar 02. Need, demand, want (sumber: Murti,2011)

2.4 DEMAND DAN SUPPLY


Demand (permintaan) adalah apa yang diminta orang. Penyediaan (supply) adalah apa yang
disediakan. Salah satu prinsip ekonomi menyatakan, pada pasar sempurna (perfect market),
demanddan supply ditentukan secara independen. Artinya, produsen menentukan supply,
konsumen menentukan demand. Harga barang naik atau turun hingga jumlah yang disuplai sama
dengan jumlah yang diminta, yaitu tercapainya ekuilbrium. Prinsip dasar ekonomi lainnya
menyatakan, demand akan sama dengan supply pada pasar sempurna. Meskipun demand dan
supply hkesehatan dan pelayanan kesehatan tidak mengikuti pasar sempurna, tetapi bebrapa
aspek suply da demand tetap berlaku.
Demand terhadap pelayanan kesehatan dapat dihitung berdasarkan:
1 Bed occupancy
2 Jumlah kunjungan rawat jalan
3 Jumlah tes diagnostik, dan sebagainya.(Murti,2011)

2.2 Efektifitas dan Efisiensi Sistem Kesehatan


2.2.1 Sistem
Sistem adalah suatu keterkaitan di antara elemen-elemen pembentuknya dalam pola tertentu
untuk mencapai tujuan tertentu (System is interconnected parts or elements in certain pattern of
work). Berdasarkan pengertian ini dapat diinterpretasikan ada dua prinsip dasar suatu sistem,
yakni: (1) elemen, komponen atau bagian pembentuk sistem; dan (2) interconnection, yaitu
saling keterkaitan antar komponen dalam pola tertentu. Keberadaan sekumpulan elemen,
komponen, bagian, orang atau organisasi sekalipun, jika tidak mempunyai saling keterkaitan
dalam tata-hubungan tertentu untuk mencapi tujuan maka belum memenuhi kriteria sebagai
anggota suatu sistem.
2.2.2 Sistem Kesehatan
Sistem Kesehatan adalah suatu jaringan penyedia pelayanan kesehatan (supply side) dan orang-
orang yang menggunakan pelayanan tersebut (demand side) di setiap wilayah, serta negara dan
organisasi yang melahirkan sumber daya tersebut, dalam bentuk manusia maupun dalam bentuk
material
Sistem kesehatan tidak terbatas pada seperangkat institusi yang mengatur, membiayai, atau
memberikan pelayanan, namun juga termasuk kelompok aneka organisasi yang memberikan
input pada pelayanan kesehatan, terutama sumber daya manusia, sumber daya fisik (fasilitas dan
alat), serta pengetahuan/teknologi (WHO SEARO, 2000). Organisasi ini termasuk universitas
dan lembaga pendidikan lain, pusat penelitian, perusahaan kontruksi, serta serangkaian
organisasi yang memproduksi teknologi spesifik seperti produk farmasi, alat dan suku cadang.
WHO mendefinisikan sistem kesehatan sebagai seluruh kegiatan yang mana mempunyai maksud
utama untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan. Mengingat maksud tersebut di atas, maka
termasuk dalam hal ini tidak saja pelayanan kesehatan formal, tapi juga tidak formal, seperti
halnya pengobatan tradisional. Selain aktivitas kesehatan masyarakat radisional seperti promosi
kesehatan dan pencegahan penyakit, peningkatan keamanan lingkungan dan jalan raya ,
pendidikan yang berhubungan dengan kesehatan merupakan bagian dari sistem.
Sistem kesehatan paling tidak mempunyai 4 fungsi pokok yaitu: Pelayanan kesehatan,
pembiayaan kesehatan, penyediaan sumber daya dan stewardship/ regulator. Fungsi-fungsi
tersebut akan direpresentasikan dalam bentuk subsistem dalam sistem kesehatan, dikembangkan
sesuai kebutuhan. Masing-masing fungsi/subsistem akan dibahas tersendiri. Di bawah ini
digambarkan bagaimana keterkaitan antara fungsi-fungsi tersebut dan juga keterkaitannya
dengan tujuan utama Sistem Kesehatan.

2.2.3 Sistem Kesehatan di Indonesia


Indonesia sebenarnya telah memiliki sistem kesehatan sejak 1982 melalui sistem kesehatan
nasional. Untuk Indonesia batasan tentang Sistem Kesehatan dikenal dengan nama SKN (Sistem
Kesehatan Nasional) yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
131/Menkes/SK/II/2004 sebagai pengganti SKN tahun 1982 yang sudah tidak relevan akibat
perubahan iklim politik di Indonesia serta diterapkannya otonomi daerah sesuai dengan UU No.
22 tahun 1999 (Adisamito, 2010).
Sistem kesehatan di Indonesia berada dalam kebijakan desentralisasi, yang mempunyai berbagai
fungsi, yaitu:
1. Fungsi penyusun kebijakan dan regulator
2. Fungsi pelayanan
3. Fungsi pendanaan
4. Fungsi pengembangan sumber daya manusia
Level negara terdiri dari:
1. Desa
2. Kecamatan
3. Kabupaten
4. Propinsi
5. Negara
Undang-undang No 22 tahun 1999 dan Undang-undang No 32 tahun
2004 mengatur menyatakan bahwa sektor kesehatan merupakan sektor yang terdesentralisasi.
Salah satu fungsi yang terdesentralisasi adalah fungsi pelayanan, misalnya: rujukan kesehatan -
rujukan pemerintah ke swasta atau swasta ke pemerintah terbagi atas tingkatan:

1. Strata 1: Puskesmas, Praktik tenaga kesehatan, klinik, apotik,


laboratorium, toko obat, optik, dan lain-lain
2. Strata 2: Praktik tenaga kesehatan spesialis, RS tipe C dan B, apotik,
laboratorium, toko obat, optik, balai-balai kesehatan
3. Strata 3: Praktik tenaga kesehatan spesialis konsultan, RS tipe A dan B,
apotik, laboratorium, toko obat, optik, pusat-pusat unggulan nasional

Pelaku pelayanan meliputi:

1. Pelayanan Kesehatan Primer: Dokter Praktek Swasta, Bidan, BP swasta,


Puskesmas
2. Pelayanan Kesehatan Sekunder dan Tertier: RS Pemerintah dan RS Swasta
3. Pelayanan Farmasi
4. Pelayanan Laboratorium, dan lain-lain
Fungsi lain adalah fungsi pendanan, yaitu:

1. Pemerintah pusat: Dana APBN untuk Jamkesmas, Jampersal, Subsidi ke


RS, dan lain-lain
2. Pemerintah Daerah: APBD, termasuk Jamkesda
3. Masyarakat: Membayar langsung
4. Swasta: Memberikan sumbangan

Alasan pemerintah mendanai pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut :

1. Tanpa ada dana pemerintah Pelayanan kesehatan merupakan komoditi


dagang
2. Hanya masyarakat mampu yang dapat menikmatinya
3. Masyarakat miskin tidak akan mendapat pelayanan

Mekanisme pendanaan pemerintah dapat dilihat dalam gambar berikut:

Fungsi berikutnya adalah Fungsi Sumber Daya Manusia:

1. Pendidikan tenaga kesehatan: Fakultas Kedokteran, FKM, Fakultas


2. Keperawatan dan lain-lain
3. Pendayagunaan dan pengembangan tenaga kesehatan: Proses rekrutmen,
pengembangan, penyebaran tenaga kesehatan, dll

2.2.4 Karakteristik Pelayanan Kesehatan


Pelayanan kesehatan berbeda dengan barang dan pelayanan ekonomi lainya. Pelayanan
kesehatan atau pelayanan medis sangat heterogen, terdiri atas banyak sekali barang dan
pelayanan yang bertujuan memelihara, memperbaiki, memulihkan kesehatan fissik dan jiwa
seorang. Karena sifat yang sangat heterogen, pelayaanan kesehatan sulit diukur secara
kuantitatif. Beberapa karakteristik khusus pelayanan kesehatan sebagai berikut (Santerre dan
Neun, 2000):

1. Intangibility. Tidak seperti mobil atau makanan, pelayanan kesehatan tidak


bisa dinilai oleh panca indera. Konsumen (pasien) tidak bisa melihat,
mendengar, membau, merasakan, mengecap pelayanan kesehatan.
2. Inseparability. Produksi dan konsumsi pelayanan kesehatan terjadi secara
simultan (bersama). Makanan bisa dibuat dulu, untuk dikonsumsi
kemudian. Tindakan operatif yang dilakukan dokter bedah pada saat yang
sama digunakan oleh pasien.
3. Inventory. Pelayanan kesehataan tidak bisa disimpan untuk digunakan pada
saat dibutuhkan oleh pasien nantinya.
4. Inkonsistensi. Komposisi dan kualitas pelayanan kesehatan yang diterima
pasien dari dari seorang dokter dari waktu ke waktu, maupun pelayanan
kesehatan yang digunakan antar pasien, bervariasi.

Jadi pelayanaan kesehatan sulit diukur secara kuantitatif. Biasanya pelayanan kesehatan diukur
berdasarkan ketersediaaan (jumlah dokter atau tempat tidur rumah sakit per 1,000 penduduk)
atau penggunaan (jumlah konsultasi atau pembedahan per kapita).(Murti,2011)

2.2.4 Ciri-ciri Sektor Kesehatan


Aplikasi ilmu ekonomi pada sektor kesehatan perlu mendapat perhatian terhadap sifat dan ciri
khususnya sektor kesehatan. Sifat dan ciri khusus tersebut menyebabkan asumsi-asumsi tertentu
dalam ilmu ekonomi tidak berlaku atau tidak seluruhnya berlaku apabila diaplikasikan untuk
sektor kesehatan. (Lubis,2011)
Ciri khusus tersebut antara lain:

1. Kejadian penyakit tidak terduga. Adalah tidak mungkin untuk memprediksi


penyakit apa yang akan menimpa kita dimasa yang akan datang, oleh karena itu
adalah tidak mungkin mengetahui secara pasti pelayanan kesehatan apa yang
kita butuhkan dimasa yang akan datang. Ketidakpastian (uncertainty) ini berarti
adalah seseorang akan menghadapi suatu risiko akan sakit dan oleh karena itu
ada juga risiko untuk mengeluarkan biaya untuk mengobati penyakit tersebut.
2. Consumer Ignorance. Konsumer sangat tergantung kepada
penyedia (provider) pelayanan kesehatan. Oleh karena pada umumnya
consumer tidak tahu banyak tentang jenis penyakit, jenis pemeriksaan dan jenis
pengobatan yang dibutuhkannya. Dalam hal ini Providerlah yang menentukan
jenis dan volume pelayanan kesehatan yang perlu dikonsumsi oleh konsumer.
3. Sehat dan pelayanan kesehatan sebagai hak. Makan, pakaian, tempat tinggal
dan hidup sehat adalah elemen kebutuhan dasar manusia yang harus senantiasa
diusahakan untuk dipenuhi, terlepas dari kemampuan seseorang untuk
membayarnya. Hal ini menyebabkan distribusi pelayanan kesehatan sering
sekali dilakukan atas dasar kebutuhan (need) dan bukan atas dasar kemampuan
membayar (demand).
4. Ekstemalitas. Terdapat efek eksternal dalam penggunaan pelayanan kesehatan.
Efek eksternal adalah dampak positif atau negatif yang dialami orang lain
sebagai akibat perbuatan seseorang. Misalnya imunisasi dari penyakit menular
akan memberikan manfaat kepada masyarakat banyak. Oleh karena itu
imunisasi tersebut dikatakan mempunyai social marginal benefit yang jauh
lebih besar dari private marginal benefit bagi individu tersebut. Oleh karena itu
pemerintah harus dapat menjamin bahwa program imunisasi harus benar-benar
dapat terlaksana.
5. Pelayanan kesehatan yang tergolong pencegahan akan mempunyai ekstemalitas
yang besar, sehingga dapat digolongkan sebagai “komodity masyarakat”,
atau public goods. Oleh karena itu program ini sebaiknya mendapat subsidi atau
bahkan disediakan oleh pemerintah secara gratis. Sedangkan untuk pelayanan
kesehatan yang bersifat kuratif akan mempunyai ekstemalitas yang rendah dan
disering disebut dengan private good, hendaknya dibayar atau dibiayai sendiri
oleh penggunanya atau pihak swasta.
6. Non Profit Motive. Secara ideal memperoleh keuntungan yang maksimal (profit
maximization) bukanlah tujuan utama dalam pelayanan kesehatan. Pendapat
yang dianut adalah “Orang tidak layak memeperoleh keuntungan dari penyakit
orang lain”.
7. Padat Karya. Kecendrungan spesialis dan superspesialis menyebabkan
komponen tenaga dalam pelayanan kesehatan semakin besar. Komponen
tersebut bisa mencapai 40%-60% dari keseluruhan biaya.
8. Mixed Outputs. Yang dikonsumsi pasien adalah satu paket pelayanan, yaitu
sejumlah pemeriksaan diagnosis, perawatan, terapi dan nasihat kesehatan. Paket
tersebut bervariasi antara individu dan sangat tergantung kepada jenis penyakit.
9. Upaya kesehatan sebagai konsumsi dan investasi. Dalam jangka pendek, upaya
kesehatan terlihat sebagai sektor yang sangat konsumtif, tidak
memberikan return on investment secara jelas. Oleh sebab itu sering sekali
sektor kesehatan ada pada urutan bawah dalam skala prioritas pembangunan
terutama kalau titik berat pembangunan adalah pembangunan ekonomi. Akan
tetapi orientasi pembangunan pada akhirnya adalah pembangunan manusia,
maka pembangunan sektor kesehatan sesuangguhnya adalah suatu investasi
paling tidak untuk jangka panjang.
10. Restriksi berkompetisi. Terdapat pembatasan praktek berkompetisi. Hal ini
menyebabkan mekanisme pasar dalam pelayanan kaesehatan tidak bisa
sempurna seperti mekanisme pasar untuk komodity lain. Dalam mekanisme
pasar, wujud kompetisi adalah kegiatan pemasaran (promosi, iklan dan
sebagainya). Sedangkan dalam sektor kesehatan tidak pernah terdengar adanya
promosi discount atau bonus atau banting harga dalam pelayanan kesehatan.
Walaupun dalam prakteknya hal itu sering juga terjadi dalam pelayanan
kesehatan.
11. Banyak teori dan praktek yang telah dikembangkan dibidang ini, walaupun
dalam banyak hal kerangka ilmu (body of knowledge) nya masih relatif kecil
dibandingkan dengan subdisiplin ekonomi yang lain. (Lubis,2009)

2.2.3 Efisiensi Sistem Kesehatan


Ada beberapa aspek sistem kesehatan yang dapat dilihat efisiensinya yakni sebagai berikut :

1. Efisiensi produktif. Sebuah puskesmas atau RS mencapai efisiensi produktif


jika memproduksi kuantitats output dengan kuantitas input seminimal
mungkin, atau memproduksi semaksmimal mungkin kuaantitas output
dengan kuantiats input yang tersedia (Clewer dan Perkins, 1998). Pada
setting Puskesmas, output tersebut msailnya “jumlah pasien yang diobati”
2. Efisiensi teknis. Sebuah puskesmas atau RS mencapai efisiensi teknis jika
memproduksi kuantitats output dengan kombinasi biaya seminimal mungkin,
atau memproduksi semaksmimal mungkin kuaantitas output dengan biaya
yang tersedia (Clewer dan Perkins, 1998).
3. Efisiensi alokatif. Efisiensi alokatif terjadi jika, dengan distribusi
pendapatan yang ada di masyarakat, tidak mungkin merealokasikan sumber
daya untuk meningkatkan kesejahteraan seorang (dalam arti kepuasan yang
diperoleh dari mengkonsumsi barang) tanpa menyebabkan kesejahteraan
paling tidak seorang lainnya menjadi lebih buruk. Efisiensi alokatif terjadi
jika input maupun output digunakan sebaik mungkin dalam ekonomi
sehingga tidak mungkin lagi diperoleh perbaikan kesjahteraan.

2.3 Keseimbangan Pasar


2.3.1 Keseimbangaan Ekonomi
Keseimbangan ekonomi adalah keadaan di mana kekuatan ekonomi yang seimbang dan tidak
adanya pengaruh eksternal, (keseimbangan) nilai dan variabel ekonomi tidak akan berubah. Ini
adalah titik di mana kuantitas yang diminta dan kuantitas yang ditawarkan sama. Keseimbangan
pasar, misalnya, mengacu pada suatu kondisi dimana harga pasar yang dibentuk melalui
kompetisi seperti bahwa jumlah barang atau jasa yang dicari oleh pembeli adalah sama dengan
jumlah barang atau jasa yang dihasilkan oleh penjual. Pasar suatu macam barang dikatakan
berada dalam keseimbangan (equilibrium) apabila jumlah barang yang diminta di pasar tersebut
sama dengan jumlah barang yang ditawarkan. Secara matematik dan grafik hal ini ditunjukkan
dengan kesamaan D = S, yakni pada perpotongan kurva permintaan dengan kurva penawaran.
Pada posisi keseimbangan pasar ini tercipta harga keseimbangan (equilibrium price) dan jumlah
keseimbangan (equilibrium quantity).

Keseimbangan Pasar

Gambar 03 Keseimbangan Pasar

D = S

Keterangan:
D : jumlah permintaan
S : jumlah penawaran
K : Titik keseimbangan
Po : harga keseimbangan
Qo : jumlah keseimbangan
Harga Keseimbangan (equilibrium price) dan jumlah keseimbangan suatu komoditi ditentukan
oleh permintaan dan penawaran pasar dari komoditi yang bersangkutan dalam suatu sistem bebas
usaha. Harga keseimbangan adalah tingkat harga dimana jumlah suatu komoditi yang ingin
dibeli oleh konsumen dalam suatu saat tertentu tepat sebanding atau sama dengan jumlah
penawaran yang ingin ditawarkan oleh para produsen. Pada tingkat harga yang lebih tinggi
jumlah barang yang diminta akan lebih sedikit dari pada jumlah yang ditawarkan. Akibatnya
terjadi kelebihan (surplus) yang akan menekan harga ke arah tingkat keseimbangan. Ditingkat
harga yang berada dibawah tingkat keseimbangan, jumlah barang yang diminta melebihi jumlah
yang ditawarkan. Maka akibat yang ditimbulkan yakni kekurangan (shortage) akan mendorong
harga naik menuju tingkat keseimbangan. Jadi harga keseimbangan, sekali dicapai akan
cenderung bertahan.
Catatan:

1. Pasar adalah pertemuan antara permintaan dan penawaran akan sesuatu barang. Pasar
tidak harus banyak pembeli dan ditempat tertentu, tetapi pasar bisa terjadi hanya oleh satu
orang pembeli dan penjual.
2. Seorang pembeli yang memiliki penilaian subyektif tinggi terhadap suatu barang, dia
berani membeli dengan harga tinggi, dalam kurva permintaan terletak dibagian atas.
Sebaliknya seorang pembeli yang memiliki penilaian subyektif rendah terhadap suatu
barang, dia mempunyai permintaan harga yang rendah, dalam kurva permintaan terletak
dibagian bawah.
3. Seluruh titik kurva permintaan konsumen menggambarkan permintaan berbagai
konsumen berdasarkan penilaian subyektif yang terungkap dalam harga permitaannya.
Harga dipengaruhi oleh biaya produksi, pengusaha yang biaya produksi rendah akan
menawarkan harga rendah dan sebaliknya. Seluruh titik kurva penawaran pengusaha
menggambarkan berbagai konsumen harga penawaran berbagai pengusaha yang
besarnnya ditentukan oleh biaya produksi masing-masing.
4. K adalah pertemuan antara permintaan dan penawaran. Pada situasi tersebut, pembeli
dengan penilaian subyektif lebih rendah, tidak akan membeli barang. Pengusaha yang
biaya produksi lebih mahal tidak akan menawarkan barangnya.
5. Pembeli yang memiliki penilaian subyektif sama dengan harga pasar disebut pembeli
marjinal, bila harga naik diatas harga tersebut dia tidak akan membeli. Penjual yang
biaya produksi sama dengan harga pasar tidak akan menawarkan barangnya jika
harganya dibawah batas tersebut.
6. Permintaan yang didukung dengan daya beli paling sedikit sama dengan harga pasar
disebut sebagai permintaan efektif. Permintaan efektif akan bertambah bila harga naik
dan sebaliknya.

2.3.2 Keadilan (Equity) yang perlu dicapai dalam Ekonomi Kesehatan


Keseimbanagn pasar dalam ekonomi kesehatan lebih kepada keadilan yang harus dicapai.
Keadilan (equity) tidak sama dengan kesamaan (equality). Untuk bisa adil tidak harus semua
mendapatkan porsi yang sama.

1. Horizontal equity. “Equal treatment for equaal need/ condition”


2. Vertical equity. “Unequal treatment for unequal need/ condition”, dan “Health
financing based on ability to pay”.

BAB 3
KESIMPULAN

Ekonomi kesehatan sebagai ilmu yang mempelajari suplai dan demand sumber daya pelayanan
kesehatan dan dampak sumber daya pelayanan kesehatan terhadap populasi. Tentu saja definisi
hanya merepresentasikan sebagian kecil topik yang dipelajari dalam ekonomi kesehatan.
Ekonomi kesehatan perlu dipelajari, karena terdapat hubungan antara kesehatan dan ekonomi.
Kesehatan mempengaruhi kondisi ekonomi, dan sebaliknya ekonomi mempengaruhi kesehatan.
Ada beberapa aspek sistem kesehatan yang dapat dilihat efisiensinya yakni efisiensi produktif,
efisiensi teknis, dan efisiensi alokatif. Kemajuan intervensi di bidang pencegahan, pengobatan
dan rehabilitasi penyakit (ilmu kedokteran) tidak akan mampu meningkatkan status kesehatan
masyarakat secara adil (equal) bila tidak dibarengi dengan pengelolaan sistem kesehatan yang
tepat, yaitu dengan memaksimalkan manfaat untuk kepentingan masyarakat banyak. Sistem
kesehatan yang teapt juga akan membuat suatu negara mencapai tujuan normatif sistem
kesehatan, yakni peningkatan efisiensi, mutu, ekuitas, dan kesinambungan pelayanan kesehatan.
Keseimbangan ekonomi adalah keadaan di mana kekuatan ekonomi yang seimbang dan tidak
adanya pengaruh eksternal, (keseimbangan) nilai dan variabel ekonomi tidak akan berubah. Ini
adalah titik di mana kuantitas yang diminta dan kuantitas yang ditawarkan sama. Keseimbangan
pasar, misalnya, mengacu pada suatu kondisi dimana harga pasar yang dibentuk melalui
kompetisi seperti bahwa jumlah barang atau jasa yang dicari oleh pembeli adalah sama dengan
jumlah barang atau jasa yang dihasilkan oleh penjual.

DAFTAR PUSTAKA

Adisamito, Wiku. 2010. Sistem Kesehatan. Jakarta : Rajawali Press.


Effendi, Ferry, & Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas:Teori dan Praktik
dalam Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika
Lubis, Ade Fatma. 2009. Ekonomi Kesehatan. Medan: USU Press
Murti, Bhisma. 2011. Ekonomi Kesehatan. Diakses dari website : www.fk.uns.ac.id pada
tanggal 07 April 2014 jam 08.00 WIB
Longenecker, Justin G. 2001. Kewirausahaan : Manajemen usaha kecil. Jakarta : Salemba 4.
Siswanto. 2007. Peran Riset Sistem dan Kebijakan Kesehatan dalam Pembangunan Kesehatan.
Majalah Kedokteran Indonesia, Volume: 57, Nomor: 3. Diakses dari Website
: www.googlescholar.com pada tanggal 14 April 2014.
Trisnantoro, Laksono. 2011. Memahmi Sistem Kesehatan. Diakses dari
website www.kebjikan.kesehatan.indonesia.org pada tangga; 14 April 2014
Yuwono, Slamet Riyadi. Ekonomi Kesehatan (Health Economic) dan
Kewirausahaan (Entrepreneurship). PPT Dosen IKM KP – FK. UNAIR