Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN “RESIKO HIPERTERMI


BERHUBUNGAN DENGAN REAKSI IMUNISASI”
DI PUSKESMAS GAYAMAN

OLEH:
USWATUN CHASANAH
NIM: 03201013019

AKADEMI KEPERAWATAN BINA SEHAT PPNI


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
KABUPATEN MOJOKERTO
2012- 2013
LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan Keperawatan kepada An.”I” dengan diagnose keperawatan” hipertermi b/d adanya
proses imunisasi” di posyandu Dsn. Kuripan Ds. Jumeneng, Mojoanyar- Mojokerto.

Disahkan dan di setujui pada:

Hari :

Tanggal :

Mojokerto, Juni 2012

Mahasiswi

USWATUN CHASANAH

NIM: 03201013019

Pembimbing Praktek Pembimbing Akademik

dr.ROUDOTUR ROFIK ENNY SRI ROCHAINI

NIP: 197209282010011005 NIP:

Mengetahui,

Kepala PUSKEMAS GAYAMAN

Drg. WILIS PUSPITADEWI ANGGRAINI, M.Si

NIP: 19670122199403 2001


LAPORAN PENDAHULUAN
IMUNISASI

A. PENGERTIAN
- Imunisasi berasal dari kata imun kebal atau resisten dimana anak si imunisasi berarti
diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu.
- Imunisasi adalah pemberian kekebalan khusus terhadap suatu penyakit dengan
memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang
sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.
- Imunisasi adalah suatu usaha pemberian kekebalan pada bayi dan anak terhadap
vaksin. ( Depkes RI hal. 47: 2007)
B. TUJUAN IMUNISASI
- Untuk mencegah terjadinya penyakit
- Untuk memberikan kekebalan terhadap suatu jenis penyakit
- Apabila terjadi penyakit tertentu, tidak akan terlalu parah dan dapat dicegah
C. MANFAAT IMUNISASI
1. Untuk anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan
kemungkinan cacat atau kematian, dan merupakan kelompok yang paling penting
untuk mendapatkan imunisasi.
2. Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak
sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya
akan menjalani masa kanak- kanak yang nyaman.
3. Untuk Negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat
dan berasal untuk melanjutkan pembangunan Negara.
D. SASRAN IMUNISASI
1. Bayi dibawah unur 1 tahun ( 0- 11 bulan)
2. Ibu hamil (awal kehamilan- 8 bulan)
3. Wanita usia subur dan anak sekolah dasar ( kelas I- VI)
E. POKOK KEGIATAN
1. Pencegahan terhadap bayi ( imunisasi lengkap)
- Imunisasi BCG 1kali
- Imunisasi DPT 3kali
- Imunisasi polio 3kali
- Imunisasi campak 1kali
2. Pencegahan terhadap anak sekolah dasar
- Imunisasi DT
- Imunisasi TT
3. Pencegahan lengkap tehadap ibu hami/ calon mempelai wanita yaitu dengan
pemberian TT 2 kali.
F. MACAM KEKEBALAN
Kekebalan dibagi menjadi dua golongan yaitu:
1. Kekebalan spesifik
Pertahanan tubuh manusia yang secara ilmiah dapat melindungi badan dari suatu
penyakit. Mislnya: kulit, air mata, cairan khusus yang keluar dari perut adanya
reflek- reflek tertentu. Misalnya: batuk, bersin dan lain- lain
2. Kekebalan spesifik
- Genetic
Berhubungan dengan RAS ( warna kulit dan kelompok etnis. Misalnya: orang
hitam cenderung lebih resisten terhadap penyakit)
- Kekebalan yang di peroleh
Kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh anak atau oaring yang bersangkutan
 Kekebalan aktif
Dapat diperoleh setelah orang sembuh dari penyakit tertentu.
1. Alami: yang timbul setelah sembuh dari suatu penyakit. Misal: campak
2. Di dapat: yang timbul setelah diberi vaksin. Missal: DPT, POLIO dan lain-
lain
 Kekebalan pasif
Dapat diperoleh dari ibunya melalui plasenta.
1. Alami: kekebalan bayi karena mendapatkan zat kebal dari semasa dalam
kandungan. Misal: bayi kebal terhadap tetanus karena ibunya mendapat TT
2. Di dapat: kekebalan pada seseorang setelah pemberian serum. Missal: ADS,
ATS
- Kekebalan komunitas ( Heard community)
Kekebalan yang terjadi pada tingkat komunitas disebut imunity, apabila heard
imunity dimasyarakat rwndah, maka masyarakat tersebut akan muadah terserang
wabah. Sedangkan jika heard imunity tinggi, wabah jarang terjadi pada
masyarakat tertentu.
G. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKEBALAN
 Umur
Untuk beberapa penyakit tertentu pada bayi dan orang tua lebih mudah terserang,
dengan kata lain orang pada usia sangat muda atau usia tua lebih rentan, kurang kebal
terhadap penyakit tertentu.
 Sex
Untuk penyakit menular tertentu seperti polio dan difteri lebih parah terjadi pada
wanita dari pada pria.
 Kehamilan
Wanita yang sedang hamil umumnya lebih rentan terhadap penyakit polio,
pneumonia, serta malaria. Sebaliknya, untuk penyakitn typoid dan mmeningitis jarang
terjadi pada wanita hamil.
 Gizi
Gizi yang baik akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit infeksi tetapi
kekurangan gizi berakibat kerentanan sesorang terhadap penyakit infeksi
 Trauma
Stess adalah salah satu penyebab kerentanan seseorang terhadap penyakit infeksi
tertentu.
H. JENIS VAKSIN
 Pada dasarnya vaksin dibuat dari:
- Vaksin dari kuman hidup yang dilemahkan, seperti:
a. Virus campak dalam vaksin campak
b. Virus polio jenis vaksin dalam vaksin polio
c. Kuman TBC dalam BCG
- Vaksin dari kuman yang dimatikan:
a. Bakteri dalam vaksin DPT
b. Virus polio jenis salk dalam vaksin polio
- Vaksin yang dibuat dari protein khusus
Kuman vaksin yang dibuat dari protein khusu seperti HB
 Hal- hal yang harus diperhatikan:
a. Persyaratan pemberian vaksin
- Pada bayi yang sehat
- Vaksinasi harus baik
- Pemberian imunisasi dengan teknik yang tepat
- Mengetahui jadwal vaksinasi dengan melihat umur dan jenis vaksinasi yang
telah diterima
- Melihat jenis vaksin yang akan diberikan
- Memperhatikan dosisnyang diberikan
b. Cara oengambilan dan penyuntikan vaksin
- Bagian tegak tutup botol dibuka sampai kelihatan karetnya
- Tutup karet di anti septic dengan antiseptikan
- Ambil jarum yang steril dengan spuitnya
- Kulit yang akan disuntik di antiseptic
 Proses terjadinya reaksi pada tubuh bayi dan anak setelah imunisasi
a. Reaksi lokal
Biasanya terlihat pada tempat penyuntikan, misalnya terjadi pembengkakan yang
kadang disertai demam dan agak sakit.
b. Reaksi umum
Dapat terjadi kejang, syok dan lain- lain. Pada keadaan pertama ( reksi lokal). Ibu
tidak boleh panic sebab panas akan sembuh. Hal itu berarti kekebalan sudah
dimiliki bayi. Tapi pada keadaan kedua (reaksi umum) sebaiknya ibu konsultasi
ke dokter/ bidan.
I. JENIS VAKSIN IMUNISASI
a. Vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus)
- Difteri
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang disebut “Corynebacterium Diftheriae”
yang sifatnya sangat ganas dan menular. Seorang anak yang dapat terjangkit
penyakit ini apabila ia berhubungan langsung dengan anak lain yang menderita.
Dalam hal ini perlu dilakukan imunisasi. Maka anak akan terhindar dari difteri.
Anak yang terjangkit difteri akan mengalami demam tinggi. Selain itu pada
tenggorokan terlihat selaput putih kotor dengan cepat selaput itun meluas
kesebelah dalam dan menutupi jalan napas. Sehingga anak solah- olah tercekik.
- Tetanus
Penyakit ini sampai saat ini masih ada di dunia karena kemungkinan anak mendapat
luka tetap ada. Misalnya luka bakar, koreng, gigitan binatang, gigi berlubang,
radang telinga dan lain- lain. Luka tersebut termasuk pintu masuk kuman yang
dikenal sebagai “dostridium tetani” kuman ini akan berkembang biak dan
membentuk racun yang berbahaya. Racun ini lah yang merusak susunan sel syaraf
pusat pusat tulang belakang yang menjadi dasar timbulnya gejala penyakit. Gejala
tetanus yang khas adalah kejang dan kaku secara menyeluruh. Otot dinding perut
akan terasa keras dan tegang seperti papan. Mulut dan kaki sukar dibuka. Serta
muka menyeringai menyerupai set5an. Clostridium masuk tubuh bayi yang kurang
terawatt. Dan untuk itu cara mencegahnya adalah dengan poemberian imunisasi
aktif pada ibu hamil trimester akhir.
- Pertusis
Dikenal dengan batuk rajan. Disebabkan oleh kuman “Bardetelia Pertusis” gejala
penyakit ini sangat khas yaitu anak tiba- batuk keras dan berlangsung terus menerus
sukar untuk berhenti, muka merah kebiruan, keluar air mata serta kadang- kadang
sampai muntah. Bila penyakit ini di derita oleh bayi, maka akan mengakibatkan
suatu komplikasi yang sering terjadi adalah kejang, kerusakan otak atau radang
paru.
 Vaksin DPT
- Terdiri dari tixoid difteri, bakteri pertusis, dan tetanus toxoid
- Kadang disebut triple vaksin
- Vaksin dapat disimpan pada suhu 2-80C
- Kemasan yang digunakan 5cc untuk DPT
- Dosisnya adalah 0,5cc
 Kekebalan
Daya proteksi/ daya lindung vaksin difteri cukup baik yaitu sebesar 80- 90% dan
daya vaksin tetanus sangat baik yaitu sebesar 90- 95%, sedangkan daya proteksi
vaksin pertusis msih rendah yaitu50 -60%
 Reaksi imunisasi
Reaksi yang mungkin terjadi biasanya akan terjadidemam ringan, pembengkakan
dan rasa nyeri di sekitar daerah penyuntikan 1- 2 hari
 Efek samping
Kadang terdapat efek samping yang berat, seperti demam tinggi atau kejang yang
biasanya disebabkan oleh unsure pertusisnya bila hanya diberikan DT tidak akan
menimbulkan efek samping demikian.
 Kontra indikasi
Imunisasi DPT tidak boleh di berikan pada anak yang sedang dalam keadaan
sakit
 Cara imunisasi
- Diberikan 3x
- Sejak bayi berumur 2 bulan dengan selang waktu antara 2 penyuntikam
minimal 4 minggu
- Imunisasi yang pertama dilakukan pada usia 1, 5 tahun- 2 tahun.1 tahun
setelah imunisasi dasar ke 3
- DPT 1 diberikan pada umur 2 bulan. DPT 2 diberikan pada umur 4 bulan,
DPT 3 diberikan pada umur 6 bulan, DPT 4 diberikan pada umur 18- 24
bulan, DPT 5 diberikan pada umur 3 tahun.
- Diberikan secara IC atau IM 1/3 tengah muscular deltoid
b. Vaksin hepatitis
 Manfaat:
Untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis B. vaksin dimasukkan untuk
mendapatkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B. vaksin tersebut
merupakan bagian virus hepatitis B yang dinamakan Hbs Ag yang dapat
menimbulkan penyakit.
 Penyimpanan:
Dalam lemari es pada suhu 4- 80C
 Cara pemberian:
Imunisasi aktif dilakukan dengan cara pemberian suntikan dasar 3x dengan jarak
waktu 1 bulan antara suntikan 1 dan 2, serta jarak waktu 5 bulan antara suntikan 2
dan 3. Pada saat ini Hb diberikan dengan DPT yang disebut DPT combo.
 Dosis
Bayi 0,5 ml, anak 1,0 ml, diberikan secara IM atau SC pada penderita yang
cenderung mengalami perdarahan ( hemophilia)
 Kontra indikasi
- Hipersensitifitas terhadap komponen vaksin
- Penderita infeksi berat yang disertai kejang
c. Vaksin polio
Vaksin berbentuk cairan berwarna merah muda jernih atau orange puca. Dikemas
dalam kotak kecil dilengkapi dengan pipet untuk meneteskan.
 Manfaat:
Untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit polio. Terdapat 2 jenis vaksin
dalam peredaran darahyang masing- masing mengandung virus polio. Tipe I, II,
dan III. Vaksin yang mengandung virus polio I, II, III yang masih hidup tetapi
dilemahkan.
 Penyimpanan:
Dalam lemari pendingin dengan suhu 2- 80C
 Cara pemberian:
- Cara pemberianmelalui mulut dalam bentuk cairan atau pil. Jika dalam
bentuk cairann sebanyak 2 tetes
- Di Indonesia dipakai vaksin sabin yang diberikan peroral
- Imunisasi ini diberikan sejak baru lahir. Kemudian polio I pada umur 2
bulan, polio II pada umur 4 bulan, polio III pada umur 6 bulan. Polio IV
diberikan pada umur 18 bulan, polio V di berikan pada umur 5 tahun.
- Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan imunisasi BCG.
Vaksin hepatitis B dan DPT bulan ke 2 kecuali campak.
 Kontra indikasi:
Tidak boleh diberikan pada seorangpun yang sedang sakit
d. Vaksin campak
Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang termasuk kelompok ini
ovirus dan bias dicegah dengan imunisasi. Penyakit campak dapat menyerang
setiap anak yang tidak kebal. Dinegara berkambang yang diserang adalah anak-
anak usia dibawah 2 tahun. Sedangkan di Negara yang telah maju, yang diserang
adalah anak- nak prasekolah. Penyakit ini jarang menyebabkan kematian. Akan
tetapi pada anak social ekonomi rendah penyakit ini dapat menyebabkan
kerusakan mata. Selain itu kematian karena terjadi radang paru.
 Penularan:
Dapat terjadi melalui udara ( berasal dari secret hidung dan tenggorokan
penderita).masa penularan sudah terjadi sebelum gejala yang khas berupa ruam-
ruam pada kulit muncul. Masa inkubasi terjadi antara 8- 13 hari (umumnya 10
hari)
 Cara pemberian:
- Di berikan pada usia 9 bulan
- Imunisasi ini diberikan dengan cara suntikan SC di lengan kiri atas
- Dosis yang diberikan 0,5cc
 Kontra indikasi:
Anak dengan infeksi akut yang disertai demam, defisiensi imunologi dan wanita
hamil.
 Reksi sampingan:
Demam ringan, kemerah- merahan pada kulit.
e. Vaksin BCG
Vaksin hidup yang telah dilemahkan, dikemas dalam ampul juga pelarutnya
berbentuk kering beku seperti campak
 Cara pemakaian:
- Bila akan di pakai dilarutkan dahulu
- Setelah dilarutkan segera dipakai, slema 3 jam dan sisanya harus dibuang
- Bila vaksin berada dalam spuit tidak boleh lebih dari 15 menit
 Dosis pemberian:
- Penyuntikan: IC di daerah insentro m. deltoideus
- Bayi < 1 tahun: 0,05ml, > 1 tahun:0,1 ml
- Daerah yang akan disuntik dibersihkan dengan ETHER jangan memakai alcohol.
- Sangat superficial, sehingga terbentuk satu lepuk berdiameter 8-10mm
 Reaksi lokal:
1-2 minggu timbul indurasi dan eritema ditempat suntikan→pustula → pecah
menjadi ulkus → sembuh dalam waktu 8- 12 minggu dengan meninggalkan tanda
parut.
 Reaksi regional:
- Kadang- kadang terjadi pembesaran kelenjar ketiak atau leher terasa padat, tidak
sakit atau demam
- Tidak perlu pengobatan akan sembuh sendiri dalam waktu 3- 6 bulan.
 Kontra indikasi:
- Vaksin tidak boleh diberikan intra vena
- Bila sudah di larutkan, vaksinharus di simpan pada suhu 2- 80C hanya tahan
selama 8 jam
- Anak yang mendapatkan transfuse darah, imunisasi harus di tunda paling lambat
sedikit 3 bulan
- Setelah imunisasi, test tuberculin pada anak harus d tunda sampai 2 bulan. Karena
mungkin akan terjadi reaksi negative palsu
- Hati- hati pada anak yang hipersensitif terhadap kaneomisin dan kanamisin.
 Dosis dan cara pemberian:
Vaksin Dosis Cara pemberian
BCG 0,05cc Intracutan di daerah musculus
deltoideus sebelah kiri
DPT 0,5cc IM
Hepatitis B 0,5cc IM
Polio 2 tetes Mulut
Campak 0,5cc Subcutan daerah lengan kiri
atas
DAFTAR PUSTAKA
Arief, Mansyur. 2000. Kapita Selekta Kedokteran II. Jakarta: Medika Aesoulaplus

Depkes RI 1989. Modul Latihan Imunisasi. Jakarta: Direktoriat Jendral DNM dan PUP

Depkes RI 1989. Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Program Imunisasi. Jakarta:


Direktorat Jendral RI
ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK SEHAT
I. PENGAKAJIAN
Tanggal: 20 juni 2012
Tempat: Dsn. Kuripan Ds. Jumeneng, Mojoanyar
Waktu: 09.00
A. Data Subjektif
1. Identitas Anak
Nama : An. “I”
Jenis kelamin : laki- laki
Umur : 2 bulan
Agama : Islam
Pendidikan :-
Pekerjaan :-
Suku/ bangsa : Jawa/ Indonesia
Alamat : Dsn. Kuripan Ds. Jumeneng- Mojoanyar
Tempat Tanggal Lahir: Mojokerto, 17 April 2012
BB Sekarang : 5,2 kg
2. Identitas Ibu
Nama : Ny. “E”
Umur : 23 Tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT
Suku/ bangsa : Jawa/ Indonesia
Alamat : Dsn. Kuripan Ds. Jumeneng- Mojoanyar
3. Identitas Ayah
Nama : Tn. “A”
Umur : 31 Tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : Swasta
Suku/ bangsa : Jawa/ Indonesia
Alamat : Dsn. Kuripan Ds. Jumeneng- Mojoanyar
B. Data Objektif
BB: 5,2 kg
TB:
 Status Gizi
Berat Badan Normal: umur ( bulan) + 9
2
:2+9
2
: 11
2

: 5, 5 kg

Status gizi: BB anak X 100% = 5, 2 X 100% = 94,5%

BB normal 5, 5

Jadi status gizi anak adalah normal.

II. INTERVENSI
a. Memberikan penjelasan mengenai cara penanganan efek dari imunisasi
R/ penanganan yang tepat akan membantu mempermudah proses reaksi dari
imunisasi
b. Memberikan penjelasan mengenai manfaat imunisasi
R/ imunisasi diberikan untuk memberikan kekebalan secara aktif pada bayi
c. Memberikan penjelasan tentang efek samping dari imunisasi
R/ efek samping imunisasi biasanya muncul 2 jam setelah di lakukannya
imunisasi. Ibu di berikan penjelasan mengenai efek samping dari imunisasi
agar tidak salah presepsi
d. Memberikan antipiretik (paracetamol) 3 x ¼
R/ antipiretik dapat menurunkan demam ( suhu tubuh yang tinggi )
III. IMPLEMENTASI

Diagnosa Jam Implementasi Ttd

Resiko terjadinya 09.45 WIB a. Menjelaskan mengenai cara


hipertermi b/d penanganan efek dari
imunisasi DPT imunisasi
combo
09.50 WIB b. Menjelaskan mengenai
manfaat imunisasi

09.55 WIB c. Menjelaskan tentang efek


samping dari imunisasi
d. Menjelaskan fungsi dan
10.05 WIB pemberian antipiretik

IV. EVALUASI

a. Ibu mampu mengulangi penjelasan tentang manfaat imunisasi


b. Ibu mampu mengulangi penjelasan tentang efek samping dari imunisasi
c. Ibu mampu mengulangi penjelasan tentang penanganan efek samping imunisasi