Anda di halaman 1dari 60

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati yang sangat

besar potensinya untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan.1 Pada saat ini

bahan alam terutama tumbuhan obat telah digunakan oleh berbagai lapisan

masyarakat di dunia, baik di negara maju maupun negara berkembang. Sekitar

80% penduduk negara berkembang masih mengandalkan pengobatan tradisional

dan 85% pengobatan tradisional dalam prakteknya menggunakan tumbuh-

tumbuhan2. Penggunaan tanaman sebagai bahan obat tradisional memerlukan

penelitian ilmiah untuk mengetahui khasiatnya dan digunakan sebagai sumber

senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru.3

Salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai pengobatan tradisional

adalah sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) yang merupakan tanaman serealia

yang mempunyai potensi besar untuk dibudidayakan di Indonesia dengan sifat

tahan kekeringan, dapat ditanam pada lahan marginal, dan tahan hama.4 Budi

daya sorgum saat ini sudah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, terutama

di Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan

Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Nusa Tenggara Timur budidaya sorgum tersebar

luas di daerah Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah

Utara, Belu, Alor, Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, dan Sumba Barat.6
2

Sorgum memiliki aktivitas antioksidan sebesar 40,46%.9 Sorgum menjadi

pangan sumber antioksidan karena keberadaan komponen fenolik seperti asam

fenolik, tanin terkondensasi, dan flavonoid.5 Senyawa fenol diketahui memiliki

sifat antibakteri, antivirus, antimutagenik, dan antikarsinogenik. Flavanoid

diketahui dapat menjadi antibakteri karena dengan mekanismenya yaitu

menghambat sintesis DNA, mengganggu fungsi dari membran sitoplasma dan

menghambat transfer energi yang diperlukan untuk metabolisme bakteri.7

Kandungan flavonoid yang terdapat pada sorgum yakni 3,06 mg katekin

ekuivalen/g.8,9 Flavonoid yang ditemukan pada sorgum dalam jumlah besar yaitu

3-deoksiantosianidin, flavon, dan flavanon.10 Adanya kandungan dari senyawa

flavonoid, saponin, polifenol sebagai senyawa antibakteri pada sorgum sangat

potensial untuk dimanfaatkan sebagai terapi terhadap infeksi bakteri termasuk

Escherichia coli.

Escherichia coli merupakan bakteri komensal, pathogen intestinal dan

pathogen ekstraintestinal yang dapat menyebabkan infeksi traktus urinarius,

meningitis, dan septicemia. Sebagian besar dari Escherichia coli berada dalam

saluran pencernaan hewan maupun manusia dan merupakan flora normal, namun

ada yang bersifat patogen yang dapat menyebabkan diare pada manusia.11,12

Diare dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus dan parasit. Penyebab diare

terbanyak adalah disebabkan oleh rotavirus, disusul oleh Escherichia coli.14

Di negara Indonesia, diare merupakan masalah kesehatan masyarakat karena

morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang


3

dilakukan oleh Subdit Diare Departemen Kesehatan pada tahun 2010 terdapat

kasus 411/1000 penduduk.13 Berdasarkan laporan Profil Kesehatan

Kabupaten/Kota perkiraan kasus Diare Provinsi NTT tahun 2011 berjumlah

200.721 kasus, yang ditangani sebanyak 111.046 kasus atau sebesar 55,3%. Pada

tahun 2012, perkiraan kasus diare berjumlah 206.216 kasus, yang ditangani

sebanyak 106.193 kasus atau sebesar 51,5%. Selanjutnya pada tahun 2013,

perkiraan kasus diare berjumlah 209.553 kasus, yang ditangani sebanyak

102.217 kasus atau sebesar 48,8%. Pada tahun 2014 ditemukan penderita yang

diare yang ditangani sebesar 86.429 kasus (80,2%) telah terjadi peningkatan,

selanjutnya pada tahun 2015 penderita diare yang ditemukan dan ditangani

sebesar 98.918 (90%).

Untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh Escherichia coli maka

diperlukan terapi antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan Escherichia

coli sehingga pengobatan antimikroba yang empiris sangat diindikasikan.

Antibiotik yang direkomendasikan yaitu trimethoprim-sulfamethoxazole untuk

anak dan golongan fluoroquinolone seperti sefalosporin dan ofloxacin untuk

dewasa. Antibiotik lainnya yang dapat diberikan yaitu amoxicillin, ampicillin,

chloramphenicol, spectinomycin, streptomycin, sulphamethoxazole,

tetracycline, trimethoprim, mecillinam, nitrofurantoin, gentamicin, nalidixic,

neomycin, ceftiofur, cefotaxim.15,16

Meskipun antibiotik digunakan sebagai tatalaksana infeksi akibat Escherichia

coli namun penggunaan antibiotik untuk mengobati penyakit dapat menimbulkan


4

masalah yang berkaitan dengan efek toksik obat, residu obat, pengembangan

mikroba resisten dan meningkatnya produksi toxin dari bakteri seperti shiga

toxin. Berkaitan dengan masalah tersebut maka perlu diupayakan alternatif

pengobatan yang lebih aman dan tidak menimbulkan efek samping seperti

pemanfaatan tanaman obat.17,18

Akibat dari pemakaian antibiotik yang dapat menyebabkan masalah yang

berkaitan dengan efek toksik obat maka peneliti tertarik untuk meneliti daya

antibakteri yang terdapat dalam ekstrak etanol sorgum (Sorghum bicolor L.

Moench) terhadap pertumbuhan Escherichia coli secara in vitro untuk

mengurangi berbagai permasalahan akibat efek toksik yang terjadi. Penelitian ini

diharapkan dapat dijadikan sebagai solusi dari peningkatan kasus resistensi

antibiotik terhadap Escherichia coli.

1.2 Pertanyaan Penelitian

a. Apakah ekstrak etanol sorgum mempunyai aktivitas antibakteri terhadap

pertumbuhan Escherichia coli ?

b. Berapakah rata-rata diameter zona hambat pertumbuhan Escherichia coli

yang terbentuk ?

1.3 Hipotesis Penelitian

H0 : Ekstrak etanol sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) tidak mempunyai

aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Escherichia coli


5

H1 : Ekstrak etanol sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) mempunyai aktivitas

antibakteri terhadap pertumbuhan Escherichia coli

1.4 Batasan Masalah

Adapun ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti adalah hanya untuk

mengetahui apakah terdapat antibakteri pada ekstrak etanol sorgum (Sorghum

bicolor L. Moench) terhadap pertumbuhan Escherichia coli dengan cara

mengukur zona hambatnya.

1.5 Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui ada tidaknya aktivitas antibakteri ekstrak etanol sorgum

(Sorghum bicolor L. Moench) terhadap pertumbuhan Escherichia coli.

b. Untuk mengetahui rata-rata diameter zona hambat pertumbuhan Escherichia

coli.

1.6 Manfaat Penelitian


1.6.1 Manfaat Bagi Peneliti
a. Menambah informasi pengetahuan dan keterampilan dalam penelitian

eksperimental.

b. Menambah pengetahuan bahwa terdapat aktivitas antibakteri dari ekstrak

sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) dalam menghambat pertumbuhan

Escherichia coli.

c. Sebagai persyaratan tugas dalam memperoleh gelar S.Ked (Sarjana

Kedokteran) di Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang.


6

1.6.2 Manfaat Bagi Institusi

a. Menambah informasi dan literature bahwa sorgum (Sorghum bicolor L.

Moench) mempunyai aktivitas antibakteri terterhadap pertumbuhan

Escherichia coli secara in-vitro.

b. Memajukan Universitas Nusa Cendana dan Fakultas Kedokteran

Universitas Nusa Cendana sebagai pusat unggulan dalam bidang

kedokteran semiringkai kepulauan melalui penelitian dalam penyelesaian

masalah kesehatan kepulauan.

1.6.3 Manfaat Bagi Masyarakat

Memberikan informasi bagi masyarakat bahwa sorgum (Sorghum bicolor L.

Moench) mempunyai efek antibakeri terhadap Escherichia coli penyebab

penyakit diare.
7

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sorgum6

Sorgum merupakan tanaman asli dari daerah tropis dan subtropis di bagian

Pasifik Tenggara dan Australia-Asia. Secara global, sorgum merupakan tanaman

pangan penting setelah gandum, padi, jagung, dan barley. Sorgum dibudidayakan di

banyak negara dan sekitar 80% areal pertanaman berada di Afrika dan Asia.

Sorgum merupakan tanaman yang termasuk family Gramineae, seperti padi,

jagung, gandum, dan tanaman lain seperti bambu dan tebu. Budi daya sorgum sudah

dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, terutama di Jawa, Sulawesi Selatan,

Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Salah satu sifat khas dari sorgum adalah toleran terhadap kekeringan dan genangan.

Sorgum mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena

mempunyai daerah adaptasi yang luas. Potensi dan keunggulan yang dimiliki sorgum

antara lain dapat ditanam pada lahan suboptimal (lahan kering, rawa, dan lahan

masam yang tersedia cukup luas di Indonesia, sekitar 38,7 juta hektar) dengan

produktivitas yang cukup tinggi, dan kandungan protein lebih tinggi dari beras.

Daerah pengembangan sorgum di Indonesia hingga April 2013 meliputi Nusa

Tenggara, Sulawesi, Jawa, dan Sumatera. Luas panen sorgum di Nusa Tenggara
8

mencapai 15. 414 ha yang tersebar di tiga kabupaten di Nusa Tenggara Barat dan 14

kabupaten di Nusa Tenggara Timur. bagi petani di Nusa Tenggara Timur, sorgum

merupakan pangan kedua setelah jagung,diusahakan pada lahan marjinal dengan

curah hujan dan irigasi terbatas. Selain itu tanaman sorgum difungsikan sebagai

pakan ternak sehingga luas pertanaman di Nusa Tenggara Timur menyebar pada 14

kabupaten, terutama di kabupaten yang memiliki usaha ternak semi intensif.

Kabupaten Kupang, Sumba Timur, dan Belu merupakan daerah penghasil utama

sorgum di Nusa Tenggara Timur.

Gambar 2.1 Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench)

2.1.2 Klasifikasi6

Hierarki taksonomi tanaman sorgum adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Class : Monocotyledoneae

Ordo : Poales
9

Family : Poaceae

Sub family : Panicoideae

Genus : Sorghum

Species : bicolor

Sorgum termasuk kelas Monocotyledoneae (tumbuhan biji berkeping satu)

dengan subclass: Liliopsida; ordo Poales yang dicirikan melalui bentuk tanaman

ternal dengan siklus hidup semusim; famili Poaceae atau Gramineae, yaitu tumbuhan

jenis rumput-rumputan dengan karakteristik batang berbentuk silinder dengan buku-

buku yang jelas, dan genus sorgum. Genus sorgum terdiri atas 20 atau 32 spesies,

berasal dari Afrika Timur, satu spesies diantaranya berasal dari Meksiko. Tanaman

ini dibudidayakan di Eropa Selatan, Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Asia

Selatan. Di antara spesies-spesies sorgum, yang paling banyak dibudidayakan adalah

spesies Sorghum bicolor (L.) Moench.

2.1.3 Morfologi6

Morfologi tanaman sorgum mencakup akar, batang, daun, tunas, bunga, dan biji.

a. Perakaran

Sistem perakaran sorgum terdiri atas akar-akar seminal (akar-akar primer)

pada dasar buku pertama pangkal batang, akar skunder dan akar tunjang yang

terdiri atas akar koronal (akar pada pangkal batang yang tumbuh ke arah atas)
10

dan akar udara (akar yang tumbuh di permukaan tanah). Akar primer adalah

akar yang pertama kali muncul pada proses perkecambahan benih yang

berkembang dari radikula, berfungsi sebagai alat transportasi air dan nutrisi

bagi kecambah dalam tanah. Akar skunder berkembang di ruas pertama pada

mesokotil di bawah tanah yang kemudian berkembang secara ekstensif yang

diikuti oleh matinya akar primer. Akar tunjang berkembang dari primordial

buku yang berada kurang dari 1 m. Pada tanaman sorgum, bahkan akar

tunjang lebih tinggi dari akar jagung, mencapai 1,2 m di atas permukaan

tanah, berfungsi seperti jangkar bagi tanaman. Akar tunjang umumnya

berukuran lebih besar dan berwarna lebih gelap jika berada di permukan

tanah. Akar tunjang memiliki ukuran dan fungsi yang sama dengan akar

normal apabila mencapai tanah. Perakaran tanaman sorgum sanggup

menopang pertumbuhan dan perkembangan tanaman ratun hingga dua atau

tiga kali lebih kuat, dan menjadikan tanaman toleran kekeringan.

b. Batang

Batang tanaman sorgum merupakan rangkaian berseri dari ruas (internodes)

dan buku (nodes), tidak memiliki kambium. Pada bagian tengah batang

terdapat seludang pembuluh yang diselubungi oleh lapisan keras (sel-sel

parenchym). Tipe batang bervariasi dari solid dan kering hingga sukulen dan

manis. Jenis sorgum manis memiliki kandungan gula yang tinggi pada batang

gabusnya, sehingga berpotensi dijadikan sebagai bahan baku gula


11

sebagaimana halnya tebu. Ruas batang sorgum pada bagian tengah tanaman

umumnya panjang dan seragam di banding ruas pada bagian bawah dan atas

tanaman. Ruas paling panjang terdapat pada ruas terakhir (ujung tanaman),

yang berupa tangkai malai. Permukaan ruas batang sorgum mirip dengan

tanaman tebu, yaitu diselimuti oleh lapisan lilin yang tebal, kecuali pada

ujung batang. Lapisan lilin paling banyak pada bagian atas dari pelepah daun,

yang berfungsi mengurangi transpirasi sehingga sorgum toleran terhadap

kekeringan.

c. Daun

Sorgum mempunyai daun berbentuk pita, dengan struktur terdiri atas helai

daun dan tangkai daun. Posisi daun terdistribusi secara berlawanan sepanjang

batang dengan pangkal daun menempel pada ruas batang. Panjang daun

sorgum rata-rata 1 m dengan penyimpangan 10-15 cm dan lebar 5-13 cm.

Jumlah daun bervariasi antara 7-40 helai, bergantung pada varietas. Daun

melekat pada buku-buku batang dan tumbuh memanjang, yang terdiri atas

pelepah dan helaian daun. Pada pertemuan antara pelepah dan helaian daun

terdapat ligula (ligule) dan kerah daun (dewlaps). Helaian daun muda kaku

dan tegak, kemudian menjadi cenderung melengkung pada saat tanaman

dewasa. Helaian daun berbentuk lanselot, lurus mendatar, berwarna hijau

muda hingga hijau tua dengan permukaan mengkilap oleh lapisan lilin.

Stomata berada pada permuakaan atas dan bawah daun. Tulang daun lurus
12

memanjang dengan warna bervariasi dari hijau muda, kuning hingga putih,

bergantung pada varietas. Keunikan daun sorgum terdapat pada sel penggerak

yang terletak di sepanjang tulang daun. Sel ini dapat menggulung daun secara

cepat bila terjadi kekeringan, untuk mengurangi transpirasi. Pelepah daun

melekat pada ruas dan menyelimuti batang, agak tebal dan semakin tipis di

pinggir, dengan lebar sekitar 25-30 cm atau beragam, bergantung varietas,

bagian dalamnya berwarna putih dan mengkilat, sedangkan bagian luar

berwarna hijau dan berlapis lilin. Permukaan pelepah licin hingga berambut.

d. Tunas

Pada beberapa varietas sorgum, batangnya dapat menghasilkan tunas baru

membentuk percabangan atau anakan dan dapat tumbuh menjadi individu

baru selain batang utama. Ruas batang sorgum bersifat gemmiferous, setiap

ruas terdapat satu mata tunas yang bisa tumbuh sebagai anakan atau cabang.

Tunas yang tumbuh pada ruas yang terdapat di permukaan tanah akan tumbuh

sebagai anakan, sedangkan tunas yang tumbuh pada batang bagian atas

menjadi cabang. Pertumbuhan tunas atau anakan bergantung pada varietas dan

lingkungan tumbuh tanaman sorgum. Pada suhu kurang dari 180ºC memicu

munculnya anakan pada fase pertumbuhan daun ke-4 sampai ke-6. Tanaman

sorgum tahunan mampu menghasilkan anakan 2-3 kali lebih banyak dari

sorgum semusim. Kemampuan menghasilkan anakan dan tunas lebih banyak

menjadikan tanaman sorgum bisa dipanen untuk kemudian di ratun. Cabang


13

pada tanaman sorgum umumnya tumbuh bila batang utama rusak. Jumlah

cabang dan anakan bergantung pada varietas, jarak tanam, dan kondisi

lingkungan.

e. Bunga

Bunga sorgum secara utuh terdiri atas tangkai malai (peduncle), malai

(panicle), rangkaian bunga (raceme), dan bunga (spikelet). Tangkai malai

(peduncle) merupakan ruas paling ujung (terminal internode) yang menopang

malai dan paling panjang, yang terdapat pada batang sorgum. Tangkai malai

memanjang seiring dengan perkembangan malai, dan mendorong malai keluar

dari pelepah daun bendera. Ukuran panjang tangkai malai beragam,

bergantung varietas. Bagian dari tangkai malai/peduncle terlihat di antara

pangkal malai/panicle dengan pelepah daun bendera yang disebut leher malai/

exsertion. Panjang leher malai beragam, berkisar antara < 5,1 - > 20 cm.

Malai (panicle) pada sorgum tersusun atas tandan primer, sekunder, dan

tersier (gambar 2.1.3).


14

Gambar 2.1.3 Morfologi Bunga


Sorgum

f. Biji

Biji sorgum yang merupakan bagian dari tanaman memiliki ciri-ciri fisik

berbentuk bulat (flattened spherical) dengan berat 25-55 mg. Biji sorgum

berbentuk butiran dengan ukuran 4,0 x 2,5 x 3,5 mm. Berdasarkan bentuk dan

ukurannya, sorgum dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu biji berukuran

kecil (8-10 mg), sedang (12-24 mg), dan besar (25-35 mg). Biji sorgum

tertutup sekam dengan warna coklat muda, krem atau putih, bergantung pada

varietas. Biji sorgum terdiri atas tiga bagian utama, yaitu lapisan luar (coat),

embrio (germ), dan endosperm. Bagian lapisan luar biji sorgum terdiri atas

hilum dan perikarp yang mengisi 7,3-9,3% dari bobot biji. Hilum berada pada

bagian dasar biji. Hilum akan berubah warna menjadi gelap/hitam pada saat

biji memasuki fase masak fisiologis. Perikarp terdiri atas lapisan mesokarp
15

dan endocarp. Mesokarp merupakan lapisan tengah dan cukup tebal,

berbentuk polygonal, dan mengandung sedikit granula pati. Endokarp

tersusun dari sel yang melintang dan berbentuk tabung, pada endokarp

terdapat testa dan aleuron. Pada lapisan ini terdapat senyawa fenolik lapisan

testa bersifat padat dan rapat. Ketebalan lapisan testa bervariasi untuk setiap

varietas, biasanya paling tebal pada puncak biji dan yang tertipis terdapat di

dekat lembaga. Ketebalan testa di puncak biji berkisar antara 100-140 μm, dan

yang paling tipis berukuran 10-30 μm. Lapisan aleuron terdapat di atas

permukaan endosperma biji. Warna biji dipengaruhi oleh warna dan ketebalan

kulit (pericarp), terdapatnya testa serta tekstur dan warna endosperm. Warna

pada testa adalah akibat adanya tannin. Tanin berasa pahit dan bersifat

malnutrisi sehingga tidak disukai oleh burung dan tidak sesuai sebagai bahan

pangan maupun pakan. Semakin tinggi kadar tanin, semakin sedikit kerusakan

akibat serangan burung. Warna biji sorgum sangat bervariasi, mulai dari

putih, kuning hingga merah, coklat, dan ungu.

Gambar 2.1.3 Morfologi Biji Sorgum


16

2.1.4 Kandungan Bahan Aktif dalam Sorghum bicolor L. Moench

Kandungan nutrien dalam sorghum bervariasi tergantung pada varietas,

tetapi umumnya mengandung protein kasar 8,9 – 10,48%, lemak 2,5 – 3,7%, serat

kasar 1,2 – 3,01%, abu 1,2 – 6,94%, pati dan gula 61,24 – 76,6 % dengan berat kering

(BK) sekitar 88,94 – 93,31%. Komposisi asam amino sorghum cukup lengkap baik

asam amino esensial maupun non esensial dan juga mengandung vitamin penting

seperti vitamin A, vitamin K, vitamin B6, vitamin B12 dan choline.21 Selain

mengandung nutrien, sorghum juga memiliki anti-nutrien antara lain tanin, asam fitat,

proteinase inhibitor dan cyanogenic clycosides. Tanin merupakan anti-nutrien aktif

alami pada tanaman (metabolit sekunder) yang termasuk dalam golongan polifenol.

Tanin dapat berinteraksi dengan protein (baik enzim maupun non enzim) untuk

membentuk kompleks tanin-protein sehingga dapat menghambat kerja enzim-enzim

pencernaan.22 Tanin juga diketahui dapat membentuk kompleks yang stabil dengan

mineral, polimer selulosa, hemiselulosa dan pektin sehingga dapat menurunkan nilai

kecernaan dan nutrient.23

Antosianin merupakan salah satu kelas utama dari flavonoid yang paling

penting dari biji sorgum. Struktur senyawa antosianin dalam biji sorgum tidak seperti

antosianin pada umumnya, agak unik, karena tidak memiliki gugus hidroksil pada

cincin karbon (C) nomor 3 sehingga dinamakan 3-deoksiantosianin. Keunikan

tersebut menyebabkan antosianin pada sorgum lebih stabil pada pH tinggi dibanding

antosianin yang berasal dari buah-buahan atau sayuran. Antosianin dari sorgum
17

berpotensi sebagai zat pewarna alami makanan. Jenis lain adalah flavonoid dan

ditemukan pada sorgum dalam jumlah besar yaitu 3-deoksiantosianidin, flavon, dan

flavanon.10 Diemukan total fenol pada biji sorgum berbagai warna yakni sorgum

putih 4 mg GAE/g, sorgum kuning 6.03 mg GAE/g, sorgum merah 6.97 mg GAE/g,

dan sorgum coklat 10.01 mg GAE/g. Kandungan flavonoid sorgum yakni 3,06 mg

katekin ekuivalen/g.8,9

2.1.4 Manfaat Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) 6

Sorgum mengandung serat pangan dalam jumlah tinggi yang dibutuhkan

tubuh (dietary fiber), berfungsi untuk pencegahan penyakit jantung, obesitas,

penurunan hipertensi, menjaga kadar gula darah, dan pencegahan kanker usus. Pada

penderita penyakit cardiovaskuler (penyakit jantung koroner/PJK), serat pangan

berfungsi mengikat asam empedu sehingga menurunkan kadar kolesterol darah.

Sorgum mengandung mineral Fe yang tinggi dan serat pangan yang

dibutuhkan tubuh, yang tidak dimiliki oleh gandum. Unsur mineral Fe sangat

membantu dalam pembentukan sel darah merah. Sorgum juga kaya akan mineral Ca,

P dan Mg. Mineral Ca berfungsi dalam pembentukan tulang, P berfungsi memelihara

pertumbuhan dan kesehatan tulang, dan Mg berfungsi mempertahankan denyut

jantung normal dan kekuatan tulang. Senyawa yang lebih menonjol dari sorgum

dibanding jagung adalah komponen polyphenol.


18

Kandungan antosianin termasuk komponen flavonoid, turunan poliphenol

yang memiliki fungsi pemeliharaan kesehatan, diantaranya sebagai antioksidan,

pencegah kelainan jantung koroner dengan mencegah penyempitan pembuluh arteri

dan pencegah kanker. Dengan demikian, tanin dalam tepung sorgum juga memiliki

manfaat positif bagi kesehatan, sehingga tepung sorgum dapat dianjurkan untuk

dijadikan olahan pangan fungsional.

2.1.5 Mekanisme Kerja Senyawa Antibakteri Sorgum (Sorghum bicolor L.

Moench)

Penelitian yang dilakukan Parhusip tahun 2006, bahwa kandungan bahan aktif

seperti flavonoid, senyawa fenolik, dan alkaloid dalam ekstrak andaliman dapat

menyerang membran sitoplasma dan mempengaruhi integritasnya. Kerusakan pada

membran ini mengakibatkan peningkatan permeabilitas dan kebocoran sel yang

diikuti dengan keluarnya materi intraseluler. Kebocoran sel bakteri dapat disebabkan

karena rusaknya ikatan hidrofobik komponen penyusun membrane sel bakteri seperti

protein, fosfolipid, serta komponen-komponen yang berikatan secara hidrofilik

karena bereaksi dengan fenol, hal ini berakibat meningkatnya permeabilitas membran

sel dan memungkinkan masuknya senyawa-senyawa fitokimia ke dalam sel bakteri,

sehingga berakibat keluarnya substansi sel seperti protein dan asam nukleat yang

mengakibatkan kematian sel.24


19

1. Flavonoid

Senyawa-senyawa dalam flavonoid diantaranya kaemferol dan myricetin. Flavonoid

dapat melawan radikal bebas dan memiliki potensi antioksidan yang kuat sehingga

dapat mencegah kerusakan sel akibat proses oksidatif, flavonoid juga memiliki

aktivitas anti kanker. Sebagai antioksidan, flavonoid memiliki kemampuan sebagai

antiinflamasi sehingga digunakan sebagai obat herbal. Selain sebagai antioksidan,

flavonoid juga memiliki aktivitas antibakteri dengan cara membentuk kompleks

dengan protein ekstraseluler yang terdapat pada dinding sel bakteri sehingga rigiditas

dinding sel bakteri mengalami penurunan. Hal ini mengakibatkan flavonoid mampu

menerobos dinding sel lalu menerobos membran sel kemudian mendenaturasi protein

sehingga metabolisme bakteri terhenti.25

2. Fenol

Senyawa fenolik merupakan senyawa yang penting karena merupakan kelas besar

diantara senyawa-senyawa penyususn tanaman. Mekanisme antimikroba senyawa

fenolik secara in vivo adalah dengan mengganggu kerja membran sitoplasma bakteri,

termasuk diantaranya mengganggu transport aktif dan kekuatan proton. 25

3. Tanin

Tanin merupakan senyawa aktif yang bersifat polar. Penggunaan jenis pelarut yang

berbeda menyebabkan jumlah tanin yang terekstrak akan berbeda. Ekstraksi tanin

dipengaruhi oleh polaritas pelarut.26 Tanin merupakan polifenol yang ditemukan pada
20

tumbuhan, sehingga aktivitas yang ditimbulkan tannin kemungkinan sama dengan

pengaruh polifenol terhadap bakteri. Efek fisiologis dan farmakologis dari golongan

polifenol disebabkan oleh kemampuannya untuk membentuk senyawa kompleks,

baik dengan protein maupun polisakarida.27

2.2 Escherichia coli

Escherichia coli pertama kali diidentifikasi didalam flora usus dari bayi oleh

seorang dokter anak dari German yang bernama Theodor Escherich pada tahun 1885

yang kdemudian menamai bakteri ini Bacterium coli commune.28 Escherichia coli

terdapat dalam feses manusia serta hewan sehingga menjadi indikator utama yang

digunakan dalam menilai keamanan makanan, air minum ataupun sumber air untuk

masyarakat. Kehadirannya dalam makanan ataupun air mengindikasikan adanya

kontaminasi dengan feses, sehingga tak layak konsumsi.29 Sifatnya unik karena dapat

menyebabkan infeksi primer pada usus misalnya diare pada anak dan travelers

diarrhea, seperti juga kemampuannya menimbulkan infeksi pada jaringan tubuh lain

di luar usus.30 Escherichia coli adalah bakteri komensal yang dapat bersifat patogen,

bertindak sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas diseluruh dunia.28

2.2.1 Klasifikasi Escherichia coli.31

Kingdom : Prokaryotae

Phylum : Gracillcutes
21

Class : Scotobacteria

Order : Eubacteriales

Family : Enterobacteriaceae

Genus : Escherichia

Species : coli

Escherichia coli digolongkan lagi menjadi beberapa jenis antara lain,

enteropathogenic Escherichia coli (EPEC), enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC),

enteroinvasive Escherichia coli (EIEC), Shiga toxin-producing Escherichia coli

(STEC), diffusely adherent Escherichia coli, dan enteroaggregative Escherichia coli.

Penggolongan ini didasarkan atas faktor virulensi dan patogenitasnya.

2.2.2 Morfologi Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang pendek

yang memiliki panjang sekitar 2 µm, diameter 0,7 µm, lebar 0,4-0,7µm dan bersifat

anaerob fakultatif. Escherichia coli membentuk koloni yang bundar, cembung, dan

halus dengan tepi yang nyata.32,33 Escherichia coli dapat bertahan hidup dalam air

selama beberapa hari hingga 12 minggu tergantung dari tempratur, cahaya, pH dan

juga kompetisi dengan komponen biotik lainnya.29 Escherichia coli dapat tumbuh

pada suhu 15-48°C dan pH 5,5-8,0 dengan pertumbuhan optimum pada pH netral.

Beberapa strain Escherichia coli bisa hidup di pada pH 2,0.34


22

Gambar 2.2.2 Escherichia coli


Sumber : Centers for Disease Control and Prevention

Gambar 2.2.2 Morfologi Escherichia coli


Sumber: http://bacteriologynotes.com/morphology-of-e-coli/

2.3 Antibakteri24

Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang

dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba lain terutama bakteri. Banyak

antibiotik yang dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh. Obat yang digunakan

untuk membasmi bakteri, penyebab infeksi pada manusia, ditentukan harus

memilikisifat toksisitas selektif setinggi mungkin. Artinya, obat tersebut haruslah


23

bersifat sangat toksik untuk bakteri. Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada

antibakteri yang bersifat menghambat pertumbuhan bakteri, dikenal sebagai aktivitas

bakteriostatik, dan ada yang bersifat membunuh bakteri, dikenal aktivitas bakterisid.

Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibakteri dibagi dalam lima kelompok yaitu :

1. Antibakteri yang menghambat metabolisme sel bakteri :

Antibakteri yang termasuk dalam kelompok ini adalah sulfonamid,

trimetropin, asma p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon, dengan mekanisme kerja ini

diperoleh efek bakteriostatik. Mikroba membutuhkan asam folat untuk kelangsungan

hidupnya. Berbeda dengan mamalia yang mendapatkan asam folat dari luar, kuman

patogen harus mensintesis sendiri asam folat dari asam amino benzoat (PABA)

uuntuk kebutuhan hidupnya. Apabila sulfonamid dan sulfon menang bersaing dengan

PABA untuk diikutsertakan dalam pembentukan asam folat, maka terbentuk analog

asam folat yang nonfungsional, akibatnya, kehidupan mikroba akan terganggu.

Berdasarkan sifat kompetisi, efek sulfonamid dapat direduksi menjadi

asamtetrahidrofolat yang fungsional. P-aminosalisilat merupakan analog PABA, dan

bekerja dengan menghambat sintesis asam folat M. Tuberculosis. Sulfonamid tidak

efektif terhadap bakteri yang sensitif terhadap M. Tuberculosis dan sebaliknya

paminsalisilat tidak efektif terhadap bakteri yang sensitif terhadap sulfonamid.


24

2. Antibakteri yang menghambat sintesis dinding sel mikroba :

Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah penisilin, sefalosporin,

basitrasin, vankomisin, dan sikloserin. Dinding sel bakteri, terdiri dari peptidoglikan

yaitu suatu kompleks polimer mukopeptida. Sikloserin menghambat reaksi yang

paling dini dalam proses sintesis dinding sel yang diikuti basitrasin, vankomisin dan

diakhiri oleh penisilin dan sefalosporin, yang menghambat reaksi terakhir dalam

rangkaian reaksi tersebut. Oleh karena itu tekanan osmotik dalam sel kuman lebih

tinggi daripada di luar sel maka kerusakan dinding sel kuman akan menyebabkan

terjadinya lisis, yang merupakan dasar efel bakterisisdal pada kuman yang peka.

3. Antibakteri yang mengganggu keutuhan membran sel mikroba :

Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah polimiksin, golongan polien

serta berbagai antibakteri kemoterapeutik, umpamanya antiseptik surface active

agents. Polimiksin sebagai senyawa amonium- kuaterner dapat merusak membran sel

setelah bereaksi dengan fosfat pada membran sel mikroba. Polimiksin tidak efektif

terhadap kuman Gram-positif karena jumlah fosfor bakteri ini rendah. Kuman yang

Gram-negatif menjadi resisten terhadap polimiksin; ternyata jumlah fosfor menurun.

Antibiotik polien bereaksi dengan struktur sterol yang terdapat pada membran sel

fungus sehingga mempengaruhi permeabilitas selektif membran tersebut. Kerusakan

membaran sel menyebabkan keluarnya bebagai komponen penting dari dalam sel

mikroba yaitu protein, asam nukleat, nukleotida dan lain-lain.


25

4. Antibakteri yang menghambat sintesis protein sel mikroba :

Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah golongan obat aminoglikosid,

makrolid, linkomisin, tertrasiklin dan kloramfenikol. Sintesis protein berlangsung

diribosom, dengan bantuan mRNA dan tRNA. Pada bakteri, ribosom terdiri atas dua

subunit, yang berdasarkan konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai ribososm 30S

dan 50S. Untuk berfungsi akan bersatu pada pangkal rantai mRNA menjadi ribosom

70S. Streptomisin berikatan dengan komponen ribosom 30S dan menyebabkan kode

pada mRNA salah baca oleh tRNA pada waktu sintesis protein. Akibatnya akan

terbentuk protein yang abnormal dan nonfungsional bagi sel mikroba. Eritromisin

berikatan dengan ribosom 50S dan menghambat translokasi kompleks tRNA-peptida

dari lokasi asam amino ke lokasi peptida. Akibatnya, rantai polipeptida tidak dapat

diperpanjang karena lokasi asam amino tidak dapat menerima kompleks tRNA asam

amino yang baru. Linkomisin juga berikatan dengan ribosom 50S dan menghambat

sintesis protein. Tetrasiklin berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi

masuknya kompleks tRNA asam amino pada lokasi asam amino. Kloramfenikol

berikatan dengan ribosom 50S dan menghambat asam amino baru pada rantai

polipeptida oleh enzim peptidil transferase.

5. Antibakteri yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba :

Antibakteri yang termasuk dalam kelompok ini ialah rimfapisin dan golongan

kuinolon. Yang lainnya walaupun bersifat antibakteri, karena sitotoksisitasnya, pada


26

umumnya hanya digunakan sebagai obat antikanker tetapi beberapa obat dalam

kelompok terakhir ini dapat pula digunakan sebagai antivirus. Yang dikemukakan

disini hanya kerja obat yang berguna sebagai antibakteri, yaitu rimfapisin dan

golongan kuinolon. Rimfampisin salah satu derivat rimfapisin, berikatan dengan

enzim polimerase-RNA (pada sub unit) sehingga menghambat sintesis RNA dan

DNA girase pada kuman yang fungsinya menata kromosom yang sangat panjang

menjadi bentuk spiral sehingga bisa muat dalam sel kuman yang kecil.

2.4 Simplisia

Bahan untuk membuat ekstrak disebut simplisia. Simplisia merupakan bahan

alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun

juga dan kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan.35 Pada

umumnya pembuatan simplisia melalui tahapan sebagai berikut : 24,35

1. Pengumpulan Bahan

Waktu panen sangat erat hubungannnya dengan pembentukan senyawa aktif

didalam bagian tanaman.

2. Sortasi basah

Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran atau bahan asing lainnya

dari bahan simplisia.

3. Pencucian
27

Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya yang

melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih. Bahan

simplisia yang mengandung zat mudah larut dalam air, pencucian dilakukan

dalam waktu yang sesingkat mungkin.

4. Perajangan

Berberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan.

Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses

pengeringan.

5. Pengeringan

Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah

rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan

mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan dapat dicegah

pengurangan mutu dan perusakan simplisia. Dari hasil penelitian diketahui

bahwa reaksi enzimatik tidak akan berlangsung bila kadar air dalam simplisia

kurang dari 10%. Dengan demikian proses pengeringan sudah dapat

menghentikan proses enzimatik dalam sel bila kadar airnya dapat mencapai

kurang dari 10%. Pada dasarnya dikenal dua cara pengeringan yaitu

pengeringan secara alamiah dan buatan. Tergantung dari senyawa aktif yang

dikandung dalam bagian tanaman yang dikeringkan, maka pengeringan

alamiah dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan panas matahari

secara langsung. Cara ini untuk mengeringkan bagian tanaman yang relatif

keras seperti kayu, kulit kayu, biji dan sebagainya dan mengandung senyawa
28

aktif yang relatif stabil. Kedua, diangin-anginkan dan tidak dipanaskan

dengan sinar matahari langsung. Cara ini terutama digunakan untuk

mengeringkan bagian tanaman yang lunak seperti bunga, daun, dan

sebagainya dan senyawa aktif mudah menguap. Selanjutnya pengeringan

secara buatan menggunakan suatu alat mesin pengering yang suhu,

kelembapan, tekanan dan aliran udaranya dapat diatur. Dengan menggunakan

cara pengeringan buatan dapat diperoleh simplisia dengan mutu yang lebih

baik karena pengeringan akan merata dalam waktu pengeringan lebih cepat

tanpa dipengaruhi keadaan cuaca.

6. Sortasi kering

Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir dari

pembuatan simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing

seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotor-pengotor

lain yang masih tertinggal pada simplisia kering.

7. Pengepakan dan penyimpanan

Wadah yang dipakai untuk pengepakan tidak beracun dan tidak bereaksi

dengan isinya sehingga tidak menyebabkan terjadinya reaksi serta

penyimpangan warna, bau, rasa dan sebagainya pada simplisia. Selain itu,

wadah harus melindungi simplisia dari cemaran mikroba, kotoran dan

serangga serta mempertahankan senyawa aktif yang mudah menguap. Wadah

juga harus mampu mencegah pengaruh sinar, masuknya uap air dan gas-gas

lainnya yang dapat menurunkan mutu simplisia dari cemaran mikroba,


29

kotoran dan serangga serta mempertahankan senyawa aktif yang mudah

menguap. Wadah juga harus mampu mencegah pengaruh sinar, masuknya uap

air dan gas-gas lainnya yang dapat menurunkan mutu simplisia. Untuk

simplisia yang tidak tahan terhadap sinar diperlukan wadah yang dapat

melindungi simplisia dari cahaya.

2.5 Ekstraksi

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut

sehingga terpisah dari bahan yang tidak larut dengan pelarut cair. Senyawa aktif yang

terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak

astiri, alkaloid, flavonoid, dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang

tepat.

2.5.1 Metode Ekstraksi

A. Ekstraksi Dengan Pelarut

Pembagian metode ekstraksi menurut DitJen POM tahun 2000: 35

1. Cara Dingin

a. Maserasi

Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi

dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.

Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel
30

yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dengan karena adanya

perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar

sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang

sehingga terjadi keseimbanga konsentrasi antara larutan di luar sel dan di

dalam sel. Keuntungannya adalah cara pengerjaan dan peralatan sederhana

biaya operasional relatif rendah, prosesnya relatif hemat penyari, tanpa

pemanasan. Kelemahannya prosesnya lama, tidak dapat digunakan untuk

bahan-bahan yang mempunyai tekstur keras seperti benzoin, tiraks, dan lilin.

b. Perkolasi

Perkolasi adalah proses penyarian simplisia dengan jalan melewatkan

pelarut yang sesuai secara lambat pada simplisia dalam suatu percolator.

Perkolasi bertujuan supaya zat berkhasiat tertarik seluruhnya dan biasanya

dilakukan untuk zat berkhasiat yang tahan ataupun tidak tahan pemanasan.

Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan

penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai

keadaan jenuh. Gerak kebawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya

sendiri dan cairan di atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung

untuk menahan. Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain: gaya

berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adesi, daya

kapiler dan daya geseran (friksi). Keuntungan metode perkolasi adalah tidak

membutuhkan langkah tambahan yaitu sampel padat telah terpisah dari

ekstrak. Kerugiannya adalah kontak antara sampel padat tidak merata atau
31

terbatas dibandingkan dengan metode refluks, dan pelarut menjadi dingin

selama proses perkolasi sehingga tidak melarutkan komponen secara efisien.

2. Cara Panas

a. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya

selama waktu tertentu dan dalam jumlah pelarut terbatas yang relatif

konstan dengan adanya pembanding balik keuntungan refluks adalah

untuk mengekstraksi sampel-sampel yang bertekstur kasar dan tahan

pemanasan langsung. Kerugiannya adalah membutuhkan total volum

pelarut yang besar dan sejumlah manipulasi dari operator.

b. Sokletasi

Sokletasi adalah metode ekstraksi untuk bahan yang tahan panas

dengan cara meletakan bahan yang akan diekstraksi dalam sebuah kantong

ekstraksi (kertas saring) pada sebuah alat ekstraksi dari gelas yang bekerja

secara kontinu. Keuntungan sokletasi adalah proses ekstraksi simplisia

sempurna, pelarut yang digunakan sedikit, proses isolasi lebih cepat.

Kerugiannya adalah tidak dapat digunakan untuk mengisolasi senyawa

yang termolabil atau bahan tumbuhan yang peka terhadap suhu dan

memerlukan energi listrik.


32

c. Digesti

Digesti adalah perendaman dan pengadukan secara kontinyu pada

temperatur yang lebih tinggi dari temperatur kamar yaitu 40C-50C. Cara ini

dilakukan untuk simplisia yang pada suhu biasa tidak tersari dengan baik.

d. Infus

Infus adalah ekstraksi menggunakan pelarut air pada temperatur

penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur

terukur 90C) selama 15menit. Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari

yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu

sari yang diperoleh dengan cara ini boleh disimpan lebih dari 24 jam.

e. Dekok

Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 90º C

selama 30 menit. Cara ini dapat dilakukan untuk simplisia yang mengandung

bahan aktif yang tahan terhadap pemanasan.

B. Ekstraksi Cara Lain

1. Ekstraksi berkesinambungan

Proses ekstraksi yang dilakukan berulangkali dengan pelarut yang

berbeda atau resirkulasi cairan pelarut dan prosesnya tersusun berurutan

beberapa kali. Proses ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pelarut

dan dirancang untuk bahan dalam jumlah besar yang terbagi dalam

beberapa bejana ekstraksi.36


33

2. Superkritikal Karbondioksida

Penggunaan prinsip superkritik untuk ekstraksi serbuk simplisia dan

umumnya digunakan gas karbondioksida. Dengan variabel tekanan dan

tempratur akan diperoleh spesifikasi kondisi polaritas tertentu yang sesuai

untuk melarutkan golongan senyawa kandungan tertentu. Penghilangan cairan

pelarut dengan mudah dilakukan karenaa karbondioksida memguap dengan

mudah sehingga hamper langsung diperoleh ekstrak.36

3. Ekstraksi Ultrasonik

Merupakan metode maserasi yang dimodifikasi dengan menggunakan

bantuan ultrasound (sinyal dengan frekuensi tinggi, 20 kHz). Wadah yang

berisi serbuk sampel ditempatkan dalam wadah ultra-sonic dan ultrasound.

Hal ini dilakukan untuk memberikan tekanan mekanik pada sel hingga

menghasilkan rongga pada sam-pel. Kerusakan sel dapat menyebabkan

peningkatan kelarutan senyawa dalam pelarut dan meningkatkan hasil

ekstraksi.37

4. Ekstraksi Energi Listrik

Energy listrik digunakan dalam bentuk medan listrik atau medan

magnet yang dapat mempercepat proses dan menyebarkan gelombang tekanan

berkecepatan ultrasonic.36
34

2.6 Pelarut

Pelarut organik berdasarkan konstanta elektrikum dapat dibedakan menjadi

yaitu pelarut polar dan pelarut non polar. Menurut Guenther pada tahun 1987, syarat

pelarut yang digunakan harus dapat melarutkan semua senyawa dengan cepat dan

harus mempunyai titik didih yang cukup rendah. Hal ini supaya pelarut mudah

diuapkan tanpa menggunakan suhu tinggi, namun titik didih pelarut tidak boleh

terlalu rendah karena akan mengakibatkan kehilangan akibat penguapan. Selanjutnya

pelarut harus bersifat inert artinya pelarut tidak bereaksi dengan komponen minyak

dan terakhir pelarut tersebut murah dan mudah didapatkan. Etanol merupakan cairan

yang mudah menguap, mudah terbakar, tidak berwarna, dan merupakan alkohol yang

paling sering digunakan dalam kehidupan sehari- hari karena sifatnya yang tidak

mudah beracun. Etanol memiliki titik didih yaitu 78ºC.24,38 Air sering disebut sebagai

pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air bersifat tidak berwarna,

tidak berasa dan tidak berbau. Titik didih air adalah 100ºC. 24

2.7 Uji Aktivitas Antibakteri38

Tingkat aktifitas suatu senyawa anti mikroba dapat dilakukan dengan

beberapa metoda diantaranya metoda difusi agar dan metode dilusi . Metoda difusi

agar adalah suatu prosedur yang bergantung pada difusi senyawa antimicrobial

kedalam agar. Senyawa antimicrobial tersebut diserapkan pada kertas cakram yang

berdiameter 6 mm. Kertas cakram ditempatkan pada permukaan media yang telah
35

diinokulasikan dengan bakteri pathogen atau jamur yang akan diuji. Setelah

diinkubasi selama 24 jam pada temperatur 37ºC, diamati diameter daerah hambatan

di sekitar kertas cakram. Daerah hambatan yang terbentuk sebagai daerah bening

disekitar kertas cakram menunjukkan mikroorganisme yang diuji telah dihambat oleh

senyawa yang berdifusi kedalam kertas cakram.

Metoda yang paling sering digunakan adalah metoda difusi agar yang

digunakan untuk menentukan aktivitas antibakteri. Kerjanya dengan mengamati

daerah yang bening, yang mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan

mikroorganisme oleh antibakteri pada permukaan media agar. Metoda difusi ini

dibagi atas beberapa cara :

1. Cara silinder plat

Cara ini dengan memakai alat pecadang berupa silinder kawat. Pada

permukaan media pembenihan dibiakkan mikroba secara merata lalu

diletakkan pencadang silinder harus benar-benar melekat pada media,

kemudian diinkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Setelah inkubasi,

pencadang silinder diangkat dan diukur daerah hambat pertumbuhan mikroba.

2. Cara cakram

Cakram kertas yang berisi antibiotik diletakkan pada media agar yang

telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar tersebut.
36

3. Cara cup plat

Cara ini juga sama dengan cara cakram, dimana dibuat sumur pada

media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur

tersebut diberi antibiotik yang akan di uji.

Metoda dilusi digunakan untuk mengukur MIC (minimum inhibitory

concentration atau kadar hambat minimum, KHM) dan MBC (minimum bactercidal

concentration atau kadar bunuh minimum, KBM). Caranya dengan membuat

pengenceran antibakteri pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji.

Larutan uji antibiotik pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM. Larutan yang ditetapkan sebagai

KHM selanjutnya dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji

ataupun antibiotik, dan diikubasi selam 18-24 jam. Media cair yang tetap terlihat

jernih setelah diinkubasi ditetapkan sebagai KBM.


37

2.8 Kerangka Teori

Escherichia coli

Infeksi

Pengobatan

Antibiotik Bahan Herbal

Mudah mengalami Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench)


resistensi

Flavanoid Fenol Tanin

Merusak permeabilitas Mengganggu kerja membran Menghambat enzim reverse


dinding dan membran sel sitoplasma bakteri, termasuk transkriptase dan DNA
diantaranya mengganggu transport topoisomerase
aktif dan kekuatan proton.

Pertumbuhan Escherichia Coli


terhambat

Skema 2.1 Kerangka Teori


38

BAB 3

KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep

Variabel Bebas Variabel Terikat

Ekstrak Sorgum
Hambatan Pertumbuhan
(Sorghum bicolor L.
Escherichia coli
Moench)

- Suhu
- Waktu
- Inkubasi
Keterangan : - Sterilisas
- Nutrisi dalam media

: Diteliti
Variabel Kontrol

: Tidak diteliti

3.2 Identifikasi Variabel

Variabel dalam penelitian yang terlibat dalam “uji potensi aktivitas antibakteri

ekstrak sorgum (sorghum bicolor l. moench) terhadap pertumbuhan Escherichia coli

secara in vitro” adalah sebagai berikut :


39

1. Variabel bebas : Ekstrak sorgum (sorghum bicolor l. moench)

2. Variabel terikat : Hambatan Pertumbuhan Escherichia coli

penyebab diare

3. Variabel kontrol : Suhu, waktu inkubasi, sterilisasi, nutrisi dalam media

3.3 Defenisi Operasional

No Variabel Defenisi Cara Pengukuran Kriteria Objektif Skala

1 Ekstrak Jumlah sediaan pekat Gelas ukur dan Konsentrasi Rasio

sorgum yang diperoleh dengan pengenceran serial. ekstrak sorgum

(sorghum mengekstraksi zat 100%, 75%, 50%,

bicolor l. aktif dari sorgum 25%, 10%, dan

moench) menggunakan pelarut 5%.

yang sesuai yaitu

etanol 70%35

2 Konsentrasi Konsentrasi terendah Observasi kekeruhan 1. Terlihat Nominal

Hambat dari antibiotika atau dibandingkan dengan kekeruhan

Minimum antimikrobial yang kontrol positif dan 2. Tidak terlihat

(KHM) dapat menghambat kontrol negatif, kekeruhan

pertumbuhan mikroba konsentrasi paling

tertentu18 rendah yang tidak


40

menunjukan

kejernihan adalah

KHM.

3 Diameter Diameter zona hambat Mengukur diameter 1. Mempu-nyai Nominal

Daya pertumbuhan E. Coli terpanjang zona aktivitas

Hambat adalah diameter bening di sekitar antibakteri

terpanjang daerah Cakram menggunakan (Diameter zona

dimana E. Coli tidak penggaris. hambat ≥ 6mm)

tumbuh di sekitar 2. Tidak

cakram dan ditandai mempunyai

dengan adanya daerah aktivitas

bening di sekitar antibakteri

cakram.33 (Diameter zona

hambat < 6mm).


41

3.4 Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan

rancangan penelitian Posttest Only Control Group Design.

K (+) K (-) P1 P2 P3 P4 P5 P6

X (+) X (-) X1 X2 X3 X4 X5 X6

DK(+) DK(-) DK1 DK2 DK3 DK4 DK5 DK6

Skema 3.2 Rancangan Penelitian

Keterangan :

S : Sampel ( Escherichia coli )

M : Media Mueller Hinton Agar

K(-) : Kelompok kontrol negatif (akuades steril )

P1-6 : Berturut-turut kelompok perlakuan 1, 2, 3, 4, 5, dan 6


42

X(+) : Perlakuan dengan menggunakan disk sefalosporin

X(-) : Perlakuan berupa kontak dengan kontrol negatif (akuades steril) selama 24

jam (inkubasi)

X1-6 : Berturut-turut perlakuan berupa kontak dengan ekstrak sorgum konsentrasi

100%, 75%, 50%, 25%, 10%, dan 5% selama 24 jam (inkubasi )

DK(+) : Data perlakuan dengan kontrol positif ( disc sefalosporin 5 μg)

DK(-) : Data perlakuan dengan kontrol negatif (akuades steril)

DP1-6 : Berturut-turut data perlakuan dengan ekstrak sorgum konsentrasi 100%,

75%, 50%, 25%, 10%, dan 5%, selama 24 jam (inkubasi)

3.5 Lokasi dan Waktu Penelitan

Lokasi penelitian : Laboratorium Biosains Universitas Nusa Cendana

Kupang dan Laboratorium Fakultas Kedokteran

Universitas Nusa Cendana Kupang

Waktu penelitian : Juni 2017


43

3.6 Sampel Penelitian


3.6.1 Sampel Penelitian

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Escherichia coli yang

diperoleh dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kupang. Bakteri yang

diperoleh diuji terlebih dahulu dengan pewarnaan gram dan uji biokimia untuk

memastikan bakteri tersebut merupakan spesies Escherichia coli.

3.6.2 Pengulangan Perlakuan

Besar sampel yang digunakan sesuai dengan besar kekeruhan McFarland.

Dalam penelitian ini digunakan 10 kelompok, yaitu pemberian ekstrak etanol

sorgum konsentrasi 100%, 75%, 50%, 25%, 10%, 5%, kontrol positif, dan kontrol

negatif yaitu akuades. Penentuan jumlah pengulangan menggunakan rumus

federer dengan menggunakan 8 kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri

atas :

kelompok I : ekstrak sorgum 100%

kelompok II : ekstrak sorgum 75%

kelompok III : ekstrak sorgum 50%

kelompok IV : ekstrak sorgum 25%

kelompok V : ekstrak sorgum 10%

kelompok VI : ekstrak sorgum 5%

kelompok VII : sefalosporin sebagai kontrol positif

kelompok VIII : aquades sebagai kontrol negatif.


44

Penentuan jumlah pengulangan menggunakan rumus federer, dengan

perlakuannya (t) = 8 adalah sebagai berikut:

(t-1)(r-1) ≥ 15

(8-1)(r-1)

7 (r-1) ≥ 15

7r-7≥ 15

7r ≥ 22

r ≥ 3,12

r~3

Jadi, jumlah replikasi atau pengulangan (r) yang dipakai adalah 3 , artinya pada

kelompok I -VIII (8 variabel) dilakukan sebanyak 3 kali percobaan.


45

3.7 Alur Penelitian dan Cara Kerja

3.7.1 Alur Penelitian


Izin penggunaan laboratorium

Pengumpulan Sorgum Penyiapan bakteri


(Sorghum bicolor L. Moench) Escherichia coli

Persiapan alat dan bahan

Pembuatan ekstrak etanol sorgum Pemeriksaan gram dan


Pembiakan bakteri tes biokimia bakteri
(Sorghum bicolor L. Moench)

Pembuatan stok
konsentrasi Pembuatan suspensi bakteri

Pengujian aktivitas
antibakteri ekstrak etanol

Pengamatan setelah diinkubasi


selam 24 jam pada suhu 37º C

Analisis data dan


penyusunan laporan hasil

Skema 3.3 Alur Penelitian


46

3.7.2 Alat, Bahan, dan Cara Kerja


- Alat
Alat yang digunakan antara lain :

Cawan petri, autoklaf (All American, 2017), timbangan atau neraca

(Ohaus Scout Pro, 2017), rak dan tabung reaksi (Pyrex, 2017), jarum ose,

cakram kosong, lampu bunsen, inkubator (Memmret, 2017), gelas ukur

(Pyrex, 2017), mikropipet (Gilson, 2017), Tabung Erlenmeyer (Pyrex, 2017),

penggaris / jangka sorong, Rotary evaporator (Eyela CCA-111, 2017),

Alumunium foil, Sendok, blender, pinset, kain flanel, labu ekstraktor, Hot

plate, Pipet ukur dan syringe filter 0.2 µm.

- Bahan

Bahan yang dibutuhkan antara lain :

Media tryptone soya broth (Merck, 2017), aquades steril, air,

Escherichia coli, sorgum 100 gram, etanol 70%, media Muller Hilton Agar

(Merck, 2017), media Nutrient Agar (Merck, 2017), larutan akuades steril.

- Cara Kerja

Pada penelitian uji aktivitas bakteri diperlukan beberapa tahapan

penngerjaan, tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sterilisasi Alat

Sterilisasi alat dilakukan sebelum semua peralatan digunakan, yaitu

dengan cara membungkus semua peralatan dengan menggunakan

kertas coklat kemudian dimasukan dalam Autoklaf (All american,


47

2017) pada suhu 121ºC dengan tekanan 15 Psi (Per Square Inchi)

selama 15 menit. Alat yang tidak tahan panas tinggi seperti yang

terbuat dari plastik sisterilisasi dengan alkohol 70%. 39

2. Pembuatan Ekstrak Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench)

Sorgum utuh ditimbang sebanyak 100 gram. Sorgum dicuci

hingga bersih dengan air mengalir untuk membersihkan sisa kotoran

(tanah atau debu yang tertinggal di biji sorgum. Setelah itu sorgum

direbus dalam air selama 5 menit agar melunakan biji sorgum. Sorgum

ditiriskan dan didinginkan kemudian sorgum digiling menggunakan

blender kecepatan 1 selama 3 menit dan diayak dengan menggunakan

ayakan 40 mesh.40 Hasil ayakan ditimbang dan dimaserasi dengan

etanol 70%. Hasil maserasi kemudian diuapkan menggunakan rotary

evaporator pada suhu 40°C sampai diperoleh ekstrak kental. Ekstrak

dimasukan dalam botol dan ditimbang.

3. Pengenceran Ekstrak Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench)

Pengenceran bertujuan untuk menghasilkan beberapa konsentrasi yang

akan digunakan dalam uji daya hambat pertumbuhan Escherichia coli.

Pengenceran dalam penelitian ini yaitu 100%, 75%, 50%, 25%, 10%,

dan 5%.
48

4. Uji Fitokimia

- Flavanoid

Untuk mendeteksi flavonoid dalam ekstrak sorgum maka ekstrak kental

0,5 g dilarutkan dalam etanol kemudian dimasukan dalam tabung reaksi.

Serbuk Mg dan HCL pekat ditambahkan ke dalam tabung reaksi. Hasil

tersebut ditambah amil alkohol, dikocok dengan kuat dan dibiarkan hingga

memisah. Bila terdapat flavonoid maka akan terbentuk warna merah atau

coklat pada lapisan amil alkohol41

- Saponin

Ekstrak kental 0,5 g dicampur dengan 10 ml air panas kemudian

didinginkan dan dikocok hingga muncul buih. Larutan didiamkan

selama 2 menit, kemudian diteteskan HCL 2N. Bila terdapat senyawa

saponin dalam ekstrak maka akan terbentuk buih mantap selama 10

menit.41

- Tanin

Sebanyak 1 gram ekstrak kental dicampur dengan 10 ml aquadest panas

dan dipanaskan kurang lebih satu jam. Larutan kemudian didinginkan

dan disaring dengan kertas saring. Sebanyak 5 ml larutan FeCl3 1%

ditambahkan lalu amati warnanya, jika terbentuk warna biru tua atau hijau

kehitaman maka hal itu menunjukan adanya senyawa golongan tannin. 41


49

- Alkaloid

Ekstrak kental sebanyak 0.5 g dicampur dengan 1 ml HCL 2N dan 9 ml

aquadest panas. Larutan dipanaskan selama 2 menit, kemudian didinginkan

dan disaring lalu filtratnya dibagi dua. Filtrate pertama diteteskan pada kertas

saring kemudian disemprot dengan pereaksi Dragendorf, sisanya dimasukan

dalam tabung reaksi dan ditambahkan pereaksi Dragendorf. Sampel positif

terdapat alkaloid bila terbentuk warna merah atau jingga.41

5. Pembuatan Media

a. Tryptone soya broth

Larutkan 8 gram bubuk tryptone soya broth dalam 1 liter akuades,

setelah semua bahan tercampur, medium dipanaskan hingga mendidih dengan

hot plate lalu disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit,

setelah agak dingin disimpan dalam lemari pendingin dan dapat digunakan.24

b. Muller Hinton Agar

Larutkan serbuk Muller Hinton Agar sebanyak 38 gram dilarutkan dengan

satu liter akuades. Media selanjutnya disterilkan dalam autoklaf pada suhu

121ºC selama 15 menit.24


50

6. Persiapan Inokulum

a. Peremajaan Bakteri

Nutrient agar sebanyak 20 gram dilarutkan dalam 1 liter akuades

di dalam tabung erlenmeyer, lalu dipanaskan diatas hot plate dan dituang ke

dalamtabung steril yang ditutup dengan alumunium foil. Media tersebut

disterilkan didalam autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit. Media yang

telah steril dibiarkan pada suhu ruangan selama 30 menit sampai media

memadat pada kemiringan 30ºC, lalu mikroba uji (Escherichia coli)

diinokulasikan sebanyak 1 ose ke dalam medium NA dan diinkubasikan

pada suhu 37ºC selama 24 jam. Peremajaan dilakukan dalam kondisi

steril didalam Laminar Air Flow (LAF).42

b. Pembuatan Larutan McFarland

Larutan standar McFarland dibuat dengan cara mencampur 9,95 ml

asam sulfur 1% dengan 0,05ml barium klorida 1%. Segel tabung larutan

McFarland dengan wax, parafilm atau bahan lain yang sejenis untuk

mencegah penguapan. Perbandingan dengan larutan standar ini dimaksudkan

untuk menggantikan perhitungan bakteri satu per satu dan untuk

memperkirakan kepadatan sel yang akan digunakan pada prosedur

pengujian antimikroba.Keuntungan dari penggunaan standar McFarland

adalah tidak dibutuhkannya waktu inkubasi yang cukup untuk

memperoleh jumlah kepadatan bakteri yang diinginkan. Sedangakan


51

kerugiannya, akan terjadi perbedaan pandangan untuk menilai tingkat

kekeruhan dari sel bakteri. Untuk menilai kekeruhannya dapat

digunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 600 nm (setara

dengan panjang gelombang Escherichia coli)39

c. Pembuatan suspensi bakteri ( Escherichia coli)

Pembuatan suspensi bakteri dilakukan dengan cara mencampurkan

NaCl 0,9% dengan beberapa koloni bakteri yang dicampur dengan larutan

NaCl disesuaikan dengan kekeruhan yang sama dengan larutan McFarland

0,5 yaitu sebanding dengan 1,5 x 108 bakteri39

7. Persiapan Kontrol

a. Pembuatan kontrol pada uji KHM :

Untuk kontrol positif, ditimbang 1g sefalosporin dilarutkan dalam

1ml akuades. Kemudian diambil dengan cara : 0,5 mL larutan sefalosporin

ditambahkan 0,1 mL bakteri uji 1,5x108 CFU/ml dan ditambah 0,9 mL

TSB. Untuk kontrol negatif, sebanyak 0,9 mL TSB dalam tabung reaksi

ditambahkan 0,5 mL larutan akuades dan ditambahkan 0,1 mLbakteri uji 1,5x

108 CFU/ml.24

b. Pembuatan kontrol pada uji DDH :

Untuk kontrol negatifnya hanya menggunakan akuades, lalu nanti diteteskan

diatas cakram kosong.39


52

8. Uji Mikrobiologi

Uji mikrobiologi pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

konsentrasi hambat minimum (KHM) dan diameter daya hambat (DDH).

Untuk tahapan pengujian masing-masing uji mikrobiologi tersebut antara lain:

a. Uji KHM:24

- Pada masing-masing tabung reaksi dimasukkan suspensi bakteri

sebanyak 0,1 mL dengan menggunakan mikropipet (sesuai standar larutan

McFarland) lalu ditambahkan pula 0,9 mL tryptone soya broth.

- Inkubasi selama 24 jam dengan suhu 37º C.

- Diamati tabung yang jernih atau tidak adanya presipitasi,

bandingkan pula dengan kontrol negatif, konsentrasi terendah dinyatakan

sebagai nilai KHM.

- Setelah uji KHM selesai dilanjutkan dengan melakukan uji DDH.

b. Uji DDH 40:

- Setelah biakan cair kuman sesuai dengan larutan standar

McFarland, jarum ose steril dicelupkan ke dalam biakan cair kuman.

- Setelah dicelupkan ke dalam biakan cair kuman, jarum ose tersebut

digoreskan pada seluruh permukaan medium Mueller Hinton Agar.

Prosedur dilakukan 3 kali da putar cawan petri dengan sudut 60º setiap

satu prosedur selesai untuk memastikan persebaran pertumbuhan

biakan merata.
53

- Kemudian cawan petri didiamkan 3-5 menit pada suhu kamar tetapi tidak

lebih dari 15 menit supaya medium benar-benar kering. Setelah medium

dalam cawan petri kering, letakan cakram steril dengan pinset. Satu cawan

petri bisa terdapat 1-4 cakram. Setiap cakram ditetesi ekstrak etanol

sorgum dengan KHMnya, dan kontrol negatif (akuades).

- Lalu diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC.

- Kemudian dilakukan pengamatan pada cawan petri yaitu dengan cara

menghitung zona hambat pertumbuhan pada masing-masing zona di

sekitar cakram, perhitungan dilakukan dengan cara mengukur diameter

daya hambat (DDH) pertumbuhan Escherichia coli pada media Muller

Hinton Agar dengan menggunakan penggaris atau jangka sorong.

3.8 Analisis Data

3.8.1 Identifikasi Data

Identifikasi data yang diambil merupakan data pimer atau langsung

dari objek penelitian. Data yang diteliti memiliki skala data berupa skala

rasio untuk variabel bebas ( konsentrasi ekstrak etanol sorgum dan kontrol

negatif (akuades steril) dan nominal untuk variabel terikat ( KHM dan DDH

dari Escherichia coli ) .


54

3.8.2 Jenis Pengolahan Data

Analisis data yang digunakan adalah uji statistik one way anova.

Sebelumnya dilakukan uji normalitas dengan menggunakan uji

shapiro-wilk untuk mengetahui distribusi data. Oleh karena data tidak

terdistribusi normal dan tidak homogen maka dilakukan alternatif

analisis lainnya menggunakan uji kruskal-wallis. Analisis data menggunakan

program statistik.
55

DAFTAR PUSTAKA

1. Ramdhani F. Uji Aktivitas Antibakteri Dari Ekstrak Etanol 96 % Kulit Batang

Kayu Jawa (Lannea coromandelica). [Skripsi], Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah: 2015.

2. Gana, A.K. 2008. Effect of organic and inorganic fertilizers on sugarcane

production. African Journal of General Agriculture. Vol.4, No.1,March 31,

2008

3. Akbar, H.R. 2010. Isolasi dan Identifikasi Golongan Flavanoid Daun

Dandang Gendis (Clinacanthus nutans) Berpotensi sebagai Antioksidan.

[Skripsi]. Institut Pertanian Bogor.

4. Hill S. Virulence Factors in Fecal Escherichia coli from Humans and

Animals. [Guelph,Ontario,Canada]: The University of Guelph; 2013.

5. Annonim. Escherichia coli (E.coli) Infection [Internet]. Lousiana Office of

Public Health-Infectious Disease Epidemiology Section; 2016. Diambil dari:

www.infectiousdisease.dhh.louisiana.gov

6. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian.

2013. Sorgum Inovasi Teknologi dan Pengembangan. Jakarta: IAARD Press

7. Cushine, T. P. T., Lamb, A. J. 2005. “Antimicrobial Activity of

Flavonoid”.International Journal of Antimicrobial Agents. 26: 343, 356

8. Rhodes DH, Hoffmann L, Rooney WL, Ramu P, Morris GP, Kresovich S.

Genome-wide association study of grain polyphenol concentrations in global


56

sorghum [Sorghum bicolor (L.) Moench] germplasm. J. Agric. Food Chem.

2014; 62: 10916-27.

9. Moraes EA, Marineli RS, Lenquist SA, Steel CJ, Menezes CB, Queiros VA et

al. Sorgum flour fractions: correlations among polysaccharides, phenolic

compounds, antioxidant activity and glycemic index. Journal food chemistry.

2015; 180: 116-123.

10. Awika, J.M. and L.W. Rooney. 2004. Review: Sorghum phytochemical and

their potential impact on human health. J. Phytochem. 65: 1199-1221

11. Bonyadian., Momtaz H., Rahimi E., Habibian R., Yasdani A., and Zamani A.

(2010). Identification & characterization of Shiga toxinproducing Escherichia

coli isolates from patients with diarrhoea in Iran. Indian J Med Res 132, hal

328-331.

12. Bettlelheim K.A. (2000). Role of non O157 VTEC. J. Appl. Symp. Microbiol.

Suppl.

13. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Buku Pedoman

Pengendalian Penyakit Diare. Direktorat Jenderal Pengendalian dan

Penyehatan Lingkungan. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

14. Monem MA., Mohamed EA., Awad ET., Ramadan AHM., and Mahmoud

HA. (2014). Multiplex PCR as emerging technique for diagnosis of

enterotoxigenic Escherichia coli isolates from pediatric watery diarrhea.

Journal of American Science, Vol 10 No (10).


57

15. Annonim. Escherichia coli (E.coli) Infection [Internet]. Lousiana Office of

Public Health-Infectious Disease Epidemiology Section; 2016. Diambil dari:

www.infectiousdisease.dhh.louisiana.gov

16. Cushine, T. P. T., Lamb, A. J. 2005. “Antimicrobial Activity of

Flavonoid”.International Journal of Antimicrobial Agents. 26: 343, 356

17. Puspodewi D, Darmawati S, Maharani ET. Daya Hambat Daun Asam Jawa

(Tamarindus indica ) Terhadap Pertumbuhan Salmonella typhi Penyebab

Demam Tifoid. In: The 2nd University Research Coloquium 2015. Semarang:

Fakultas Kesehatan dan Kebidanan Universitas Muhamadiyah Semarang;

2015. hal. 45–50.

18. Monica W., Mahatmi H, Besung. K. Pola Resistensi Salmonella Typhi Yang

Diisolasi Dari Ikan Serigala (Hoplias malabaricus) Terhadap Antibiotik. J

Ilmu dan Kesehat Hewan. 2013;1(2):64–9.

19. Suarni dan S. Singgih. 2002. Karakteristik sifat fisik dan komposisi kimia

beberapa varietas/galur biji sorgum. J. Stigma X(2): 127-130.

20. Suarni dan M. Yasin. 2011. Jagung sebagai sumber bahan pangan fungsional.

IPTEK Tanaman Pangan 4(2): 181-193.

21. Etuk, E. B., Ifeduba, A.V., Okata, U.E., Chiaka, I., Okoli, Ifeanyi, C.,

Okeudo, N.J., Esonu, B.O., Udedibie, A.B.I. dan Moreki, J.C. (2012).

Nutrient composition and feeding value of sorghum for livestock and poultry:

a review. Journal of Animal Science Advances 2: 510 – 524.


58

22. Rahman, I.E.A. dan Osman, M.A.W. (2011). Effect of sorghum type

(Sorghum bicolor) and traditional fermentation on tannins and phytic acid

contents and trypsin inhibitor activity. Journal of Food, Agriculture and

Environment 9: 163 – 16

23. Schons, P.F., Battestin, V. dan Macedo, G.A. (2012). Fermentation and

enzyme treatments for sorghum. Brazilian Journal of Microbiology 43(1): 89

– 97.

24. Nuraina. Uji aktivitas antimikroba ekstrak daun Garcinia benthami Pierre

dengan metode dilusi. [Skripsi], Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah:

2015.

25. Alfiah I. Aktivitas Antibakteri Fraksi Etil Asetat Ekstrak Etanol Daun Pepaya

Gunung (Carica pubescens Lenne & K. Koch) Terhadap Bakteri Salmonella

typhi Secara In Silico dan In Vitro. [Malang]: Fakultas Sains dan Teknologi,

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang; 2016.

26. Okoye EI. Preliminary Phytochemicaal Analysis and Antimicrobial Activity

of Seed of Carica Papaya. J Basic Phys Res. 2011;2(1):66–9.

27. Mahtuti EY. Pengaruh Daya Antimikroba Asam Tanat Terhadap

Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi Secara In Vitro. Universitas Airlangga

Surabaya; 2004.

28. Agung Fitri Kusuma S. Makalah Escherichia coli. Universitas Padjajaran:

2010.
59

29. Hill S. Virulence Factors in Fecal Escherichia coli from Humans and

Animals. [Guelph,Ontario,Canada]: The University of Guelph; 2013.

30. Syahrurachman A, Chatim A, W.K. AS, Karuniawati A, Santoso AUS, Bela

BMFHB, et al. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Staf

Pengajar Bagian Mikrobiologi FKUI, editor. Tanggerang: Binarupa Aksara

Publisher;

31. Geo F. Brooks M, Janet S. Butel P, Stephen A. Morse P. Jawetz, Melnick,

&Adelberg Mikrobiolgi Kedokteran. 23 ed. Elferia RN, Ramadhani D,

Karolina S, Indriayani F, editor. Jakarta: EGC; 2008.

32. Smith-Keary P. F., 1988, Genetic Elements in Escherichia coli, Macmillan

Molecular biology series, London, p. 1-9, 49-54

33. Jawetz E., J. L. Melnick, E. A. Adelberg, G. F. Brooks, J. S. Butel, L. N.

Ornston, 1995, Mikrobiologi Kedokteran, ed. 20, University of California,

San Francisco.

34. Welch RA. The Genus Escherichia. Prokaryotes. 2006;6:60–71.

35. Departemen Kesehatan RI. Parameter Standar Umum.Ekstrak Tumbuhan

Obat.2000. diakses : 16 April 2017. Tersedia dari:

http://www.putrimayasari.unja.ac.id.

36. Istiqomah. Perbandingan Metode Ekstraksi Maserasi dan Sokletasi Terhadap

Kadar Piperin Buah Cabe Jawa (Piperis retrofracti fructus ).[Skripsi]. Jakarta:

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah; 2013.
60

37. Mukhriani. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, dan Identifikasi Senyawa Aktif. J

Kesehat. 2014;VII(2).

38. Puspita P. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bawang Putih (Allium Sativum

Linn) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus In Vitro.2008. diakses: 12 Juli

2017. Tersedia dari: http://core.ac.uk.

39. Dima LLRH, Lolo WA. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Kelor

(Moringa oleifera L.) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus

aureus. 2016;1-7.

40. Amanda dan Putri. 2016. Tepung Sorgum Coklat Utuh Terfermentasi Ragi

Tape. Malang : Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No 2 : 458-467

41. Setyani W, Setyowati H, Ayuningtyas D. Pemanfaatan Ekstrak

Terstandarisasi Daun Som Jawa (Talinum paniculatum(Jacq.) Gaertn) Dalam

Sediaan Krim Antibakteri Staphylococcus aureus. J Frmasi Sains dan

Komunitas. 2016;13(1).

42. Kurniwati S, Murwani S, Winarso J. Perbandingan Potensi Antibakteri

Ekstrak Air dengan Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera) terhadap

Pertumbuhan Bakteri Pseudomonas aeruginosa NN-1-PKH secara In Vitro.

Program Studi Pendidikan Dokter Hewan, Program Kedokteran Hewan

Universitas Brawijaya: 2012.