Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KASUS RAWAT JALAN

Rhinofaringitis Akut
Victomercy Ay Elyanor Haan, S.Ked
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang
Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang
Dr. Hendrik Tokan, Sp.A ;dr. Fransiskus Taolin, Sp.A

I. PENDAHULUAN
Rhinofaringitis (juga dikenal sebagai Rhinofaringitis Akut, coryza akut, atau common
cold) adalah penyakit menular virus dari sistem pernapasan bagian atas yang mempengaruhi
terutama hidung. Gejala termasuk batuk, sakit tenggorokan, pilek, dan demam yang biasanya
selesai dalam tujuh sampai sepuluh hari, dengan beberapa gejala yang berlangsung sampai
tiga minggu. Lebih dari 200 virus yang terlibat dalam penyebab flu biasa, yang rhinoviruses
adalah yang paling umum.(1)
Common cold atau salesma merupakan infeksi primer di nasofaring dan hidung yang sering
dijumpai pada bayi dan anak. Dibedakan istilah nasofaring akut untuk anak dan common cold
untuk orang dewasa oleh karena manisfetasi klinis penyakit ini pada orang dewasa dan anak
berlainan. Pada anak infeksi lebih luas, mencakup daerah sinus paranasal, telinga tengah di
samping nasofaring, disertai demam yang tinggi. Pada orang dewasa infeksi mencakup
daerah terbatas dan biasanya tidak disertai demam yang tinggi.
Kerentanan terhadap agen yang menyebabkan rhinofaringitis akut adalah universal,
tetapi karena alasan yang kurang dimengerti kerentanan ini bervariasi pada orang yang sama
pada waktu ke waktu. Walaupun infeksi terjadi sepanjang tahun, di belahan bumi utara ada
puncak kejadian pada bulan Januari, akhir bulan April dan bulan September saat musim
sekolah dimulai. Anak menderita rata-rata lima sampai delapan infeksi setahun, dan angka
tertinggi terjadi selama umur 2 tahun pertama. Frekuensi rhinofaringitis akut berbanding
langsung dengan angka pemajanan dan pada sekolah taman kanak-kanak serta pusat
perawatan merupakan epidemi yang sesungguhnya. Kerentanan dapat bertambah karena
malnutrisi.(1,2)
Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk menambah wawasan tentang
Rhinofaringitis akut, serta sebagai prasyarat untuk mengikuti ujian di SMF/Bagian Kesehatan
Anak.
I. LAPORAN KASUS
Pasien kontrol ke Poli Anak pada tanggal 6 Oktober 2017.
IDENTITAS
Nama : An. RM
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 2 bulan 3 minggu
Agama : Islam
Alamat : Sulamu
No. MR : 476499
ANAMNESIS (Alloanamnesis dengan Ibu pasien tanggal 6 Oktober 2017)
Keluhan Utama : Demam
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poli Anak RSUD W.Z Johannes dengan keluhan panas sejak 2 hari
lalu. Panas naik turun. Tidak lama setelah panas, timbul batuk dan pilek. Batuk berdahak,
dahak putih, tidak ada darah, ingus encer. Ibu pasien juga mengatakan pasien sempat
mengalami sesak nafas. tidak terdapat muntah, maupun mencret. Nafsu makan dan minum
menurun.
Tidak ada bercak – bercak kemerahan pada tubuh pasien. Pasien tidak ada riwayat
trauma sebelumnya, Selama sakit pasien tidak ada kejang. Ibu pasien mengatakan tidak ada
Keluhan pusing, sakit kepala dan penurunan kesadaran. Dikeluarga tidak ada yang sedang
sakit seperti pasien, ataupun batuk lama.
Riwayat pengobatan : Belum mendapatkan pengobatan sebelumnya.
Riwayat imunisasi : Pasien hanya mendapatkan imunisasi Hb0 saat lahir, imunisasi yang
lain belum didapatkan karena saat itu pasien mengalami demam.
Riwayat ASI : Mendapat ASI saja sejak lahir sampai sekarang.
Riwayat kehamilan : Selama sakit ibu rutin periksa kehamilan di puskesmas setiap bulan.
Penyakit berat selama kehamilan tidak ada.
Riwayat persalinan : Ibu melahirkan secara SC di RSUD Naibonat, cukup bulan, bayi
segera menangis, BBL 2900 gram.

PEMERIKSAAN FISIK (6 Oktober 2017)


Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos Mentis

-2-
Tanda vital : HR : 116 x/menit
RR : 34x/menit
S : 38,3 0C
Antropometri : BB : 5,3 kg
PB : 52 cm
LK : 40 cm (Normochephal)
BB/U : -1-(-2) SD = Normal
PB/U : -2SD = Normal
BB/PB : -2-(-3) SD = Gizi kurang

PEMERIKSAAN FISIK
Kepala
 Bentuk dan ukuran : Normocephaly, ubun ubun menutup
 Rambut & kulit kepala: Warna hitam, tebal, distribusi merata, tidak mudah dicabut
 Mata : CA-/-, SI -/-, pupil isokor Ø 2 mm, refleks cahaya
langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+
 Telinga : Normotia, vestibulum lapang, sekret -/-
 Hidung : PCH (-), rhinore (+)
 Leher :T1-T1 faring hiperemis, Retraksi (-) pembesaran KGB (-)

Thoraks
1. Paru
Inspeksi : Bentuk dada normal, simetris dalam keadaan statis maupun dinamis,
retraksi iga (-), pernafasan abdominotorakal
Palpasi : Fremituas taktil simetris
Perkusi : sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronkhus -/- wheezing -/-
2. Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus cordis teraba pada sela iga 4 linea midklavikularis kiri
Perkusi : Batas atas jantung di ICS II linea parasternal kiri.
Batas kiri jantung di ICS V, linea midclavicula kiri.
Batas kanan jantung di ICS IV, linea sternal kanan.
Auskultasi : BJ I/II reguler, murmur (–), opening snap (-), gallop (-)

-3-
Abdomen
Inspeksi : Datar, sikatrik (-)
Palpasi : Supel
Hati : Tidak teraba
Limpa : Tidak teraba
Ginjal : Ballotement (-)
Perkusi : Timpani di seluruh lapang perut
Auskultasi : Bising usus (+)

Anus dan Rektum : Dalam batas normal


Genitalia : Laki – laki, testis sudah turun
Tulang belakang : Tidak tampak kelainan tulang belakang
Kulit : Turgor kulit baik, Tampak adanya pengelupasan kulit pada berbagai
regio
Anggota Gerak : Akral Hangat, CRT <3 detik

DIAGNOSIS KERJA
1. Rhinofaringitis Akut

RENCANA TERAPI
• Paracetamol Syrup 3 x 60 mg (1/2 sendok teh)
• Ambroxol 6 mg (1/5 tab )
• Gliseryl Guaiacolat (GG) 3/5 tablet
• Cetirizine 4 mg/hari

-4-
II. DISKUSI
1. Definisi
Rhinofaringitis Akut adalah adalah sindroma inflamasi yang terjadi pada nasofaring
yang disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme.(1,2,3)
2. Etiologi
Penyakit disebabkan oleh lebih dari 200 agen virus yang berbeda secara serologis.
Agen utamanya adalah rhinovirus, yang menyebabkan lebih dari sepertiga dari semua kasus ;
koronavirus menyebabkan sekitar 10%. Selain itu juga bisa disebabkan oleh adenovirus, dan
parainfluenza virus. Masa infektivitas berakhir dari beberapa jam sebelum munculnya gejala
sampai 1-2 hari sesudah penyakit nampak. Streptokokus grup A adalah bakteri utama yang
menyebabkan Rhinofaringitis Akut.(3,4)
3. Epidemiologi
Setiap tahunnya ±40juta orang mengunjungi pusat pelayanan kesehatan karena
faringitis. Banyak anak-anak dan orang dewasa mengalami 3-5 kali infeksi virus pada saluran
pernafasan atas. Secara global di dunia ini viral Rhinofaringitis Akut merupakan penyebab
utama seseorang absen bekerja atau sekolah. National Ambulatory Medical Care Survey
menunjukkan ±200 kunjungan ke dokter tiap 1000 populasi antara tahun 1980-1996 adalah
karena viral Rhinofaringitis Akut. Viral Rhinofaringitis Akut menyerang semua ras, etnis dan
jenis kelamin. Viral Rhinofaringitis Akut menyerang anak-anak dan orang dewasa dan lebih
sering pada anak-anak.
4. Faktor risiko
Faktor risiko
a) Usia. Bayi dan anak-anak prasekolah sangat rentan terhadap common cold karena
mereka belum mengembangkan kekebalan terhadap sebagian besar virus. Namun
sistem kekebalan tubuh belum menghasilkan adalah bukan satu-satunya yang
membuat anak-anak rentan. Namun sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna
bukan satu-satunya alasan. Anak-anak sering menghabiskan waktu dengan anak-anak
lain dan tidak berhati-hati mencuci tangan dan juga menutup mulut dan hidung saat
batuk dan bersin.
b) Imunitas. Seiring penambahan usia, semakin bagus kekebalan terhadap virus. Namun
disaat imunitas yang menurun mudah sekali untuk mendapatkan penyakit ini. (7)
c) Waktu tahun. Biasa terjadi pada musim dingin(4)

-5-
5. Gejala
Gejala dan tanda yang ditimbulkan tergantung pada mikroorganisme yang menginfeksi.
Gejala Rhinofaringitis Akut meliputi gejala peradangan pada faring ( faringitis) dan hidung.
Secara garis besar Rhinofaringitis Akut menunjukkan tanda dan gejala-gejala seperti, nyeri
tenggorokan, faring yang hiperemis, tonsil membesar, pinggir palatum molle yang hiperemis,
kelenjar limfe pada rahang bawah teraba dan nyeri bila ditekan dan bila dilakukan
pemeriksaan darah mungkin dijumpai peningkatan laju endap darah dan leukosit bila bakteri
penyebabnya, selain ditemukan gejala pada faring, dapat pula ditemukan gejala yang
berkaitan dengan hidung, seperti hidung tersumbat dan pilek,. Selain itu juga dapat
ditemukan gejala seperti nafsu makan berkurang, myalgia, sakit kepala. Demam juga dapat
terjadi pada pasien dengan Rhinofaringitis Akut, terutama pada bayi atau anak – anak.

Faringitis Viral
Rinovirus menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian akan menimbulkan
faringitis. Demam disertai rinorea, mual, nyeri tenggorokan dan sulit menelan. Pada
pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza, Coxsachievirus, dan
cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Coxsachievirus dapat menimbulkan lesi
vesicular di orofaring dan lesi kulit berupa maculopapular rash. (3,4,5)

Gambar 2.4. Viral Pharyngitis

-6-
Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis, juga menimbulkan gejala
konjungtivitis terutama pada anak. Epstein-Barr virus (EBV) menyebabkan faringitis yang
disertai produksi eksudat pada faring yang banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di
seluruh tubuh terutama retroservikal dan hepatosplenomegali. Faringitis yang disebabkan
HIV menimbulkan keluhan nyeri tenggorok, nyeri menelan, mual dan demam. Pada
pemeriksaan tampak faring hiperemis, terdapat eksudat, limfadenopati akut di leher dan
pasien tampak lemah.

Faringitis Bakterial
Nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang-kadang disertai demam dengan suhu yang
tinggi dan jarang disertai dengan batuk. Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring
dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul
bercak petechiae pada palatum dan faring. Kelenjar limfa leher anterior membesar, kenyal
dan nyeri pada penekanan.

Gambar 2.4. Streptococcal Pharyngitis

Faringitis akibat infeksi bakteri streptococcus group A dapat diperkirakan


dengan menggunakan Centor criteria, yaitu :
- demam
- Anterior Cervical lymphadenopathy
- Tonsillar exudates
- absence of cough

-7-
Tiap kriteria ini bila dijumpai diberi skor 1. bila skor 0-1 maka pasien tidak
mengalami faringitis akibat infeksi streptococcus group A, bila skor 1-3 maka pasien
memiliki kemungkian 40% terinfeksi streptococcus group A dan bila skor 4 pasien
memiliki kemungkinan 50% terinfeksi streptococcus group A.

Tabel perbedaan antara nasofaring karena virus dan bakteri :

Virus Bakteri

Demam ringan atau tanpa demam Demam ringan sampai sedang

Jumlah sel darah putih normal atau agak Jumlah sel darah putih meningkat ringan sampai
meningkat sedang

Kelenjar getah bening normal atau Pembengkakan ringan sampai sedang pada
sedikit membesar kelenjar getah bening

Tes apus tenggorokan memberikan hasil Tes apus tenggorokan memberikan hasil positif
negative untuk strep throat

Pada biakan di laboratorium tidak


Bakteri tumbuh pada biakan di laboratorium
tumbuh bakteri

-8-
6. Patogenesis

mikroorganisme Masuk melalui Serang mukosa Mikroorganisme


patogen masuk hidung hidung patogen serang
nasofaring

Gerakan silia
mendorong mukosa
Inflamasi pada hidung
ke posterior
(nasofaring)

Inflamasi pada Rangsang Edema


nasofaring reseptor batuk mukosa
di hidung : n.
trigeminal

Adenoid Rangsang demam


membesar reseptor batuk : Hidung
Sekresi tersumbat
n. mukus
glossofaringeus

Nyeri
tengorokan pilek

batuk

-9-
infeksi virus:

Virus masuk melalui bagian


depan hidung kemudian berikatan dengan reseptor (ICAM 1) yang terdapat pada sel di nasal
dan adenoid yang terdapat di dalam rongga nasofaring.

Setelah virus berikatan dengan reseptornya, virus masuk ke dalam sel yang akan diserang
dan mendudukinya. virus akan bereplikasi dalam sel yang terinfeksi dan akan melepaskan
virus virus baru sedangkan sel yang terinfeksi akan mati.
Dengan jumlah virus yang sedikit saja,kira – kira 1 – 30 partikel virus bisa
menyebabkan infeksi. Virus membutuhkan waktu 8 - 12 jam untuk berplikasi dan
membentuk virus baru,. Inilah yang disebut periode inkubasi. Sedangkan untuk menimbulkan
gejala membutuhkan waktu kira – kira 36 – 72 jam.(4,6)
7. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis Rhinofaringitis Akut dapat dimulai dari anamnesa yang
cermat dan dilakukan pemeriksaan temperature tubuh dan evaluasi tenggorokan, sinus,
telinga, hidung dan leher. Pada Rhinofaringitis Akut dapat dijumpai faring yang hiperemis,
eksudat, tonsil yang membesar dan hiperemis, pembesaran kelenjar getah bening di leher.
8. Pemeriksaan Penunjang
Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat membantu dalam penegakkan diagnose
antara lain yaitu :
- pemeriksaan darah lengkap
- Throat culture

- 10 -
Namun pada umumnya peran diagnostic pada laboratorium dan radiologi tidak
diperlukan. Pemeriksaan penunjang dilakukan apabila gejala sudah berlangsung selama 10
hari atau dengan demam > 37,8 ◦ C
9. Penatalaksanaan
a. Non medikamentosa
- Minum banyak cairan untuk membantu mengencerkan dahak selain itu Minum
air akan mencegah dehidrasi dan menjaga tenggorokan lembab. Beberapa
dokter merekomendasikan bahwa orang dengan pilek harus minum setidaknya
delapan sampai 10 gelas air setiap hari.
- Tirah baring
b. Medikamentosa
Rhinofaringitis Akut biasanya adalah self limiting disease sehingga pengobatan
yang dilakukan adalah pengobatan secara simtomatk saja.
- Antibiotik tidak diperlukan apabila penyebabnya adalah virus. Jika diduga
penyebabnya adalah streptococcus group A diberikan antibiotik yaitu
Penicillin G Benzatin 50.000 U/kgBB/IM dosis tunggal atau amoksisilin
50mg/kgBB dosis dibagi 3kali/hari selama 10 hari dan pada dewasa 3x500mg
selama 6-10 hari atau eritromisin 4x500mg/hari

- Untuk demam, nyeri tenggorok dan nyeri badan : menggunakan obat – obat
analgesik seperti acetaminofen, ibuprofen, atau naproxen. Acetaminofen atau
paracetamol bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin. Ibuprofen
dan naproxen adalah jenis obat NSAID ( non steroid anti inflamatory drugs)
Ibuprofen bekerja dengan cara menghentikan Enzim Sikloosigenase yang
berimbas pada terhambatnya sintesis prostaglandin sebagai mediator
inflamasi. Aktivitas antipiretik (penurun panas) bekerja di hipotalamus dengan
meningkatkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah). Jangan memberikan
aspirin pada anak – anak karena dapat menimbulkan reye’s syndrome.

- Batuk : menggunakan obat expectoran atau mukolitik

- Hidung tersumbat : bisa menggunakan decongestan. Decongestan adalah alfa


agonis yang bekerja dengan menyebabkan vasokontriksi sehingga menurukan
volume mukosa dan bisa mengurangi hidung tersumbat.

 Decongestan sistemik : efedrin, fenilpropanolamin, fenilefrin

- 11 -
 Decongestan oral : oxymetazolin, xylometazolin yang merupakan
derivat imidazolin. Karena efeknya dapat menyebabkan depresi
susunan saraf pusat bila banyak terabsorbsi terutama pada bayi dan
anak-anak, maka sediaan ini tidak boleh untuk bayi dan anak-anak.
Jika digunakan berlebihan bisa bisa menyebabkan rinitis
medikamentosa.(2,9)

10. Pencegahan

 Jaga kebersihan tangan dan cuci tangan dengan benar memakai sabun.
 Segera cuci tangan dengan sabun cair jika tangan kotor karena terkena sekresi
pernafasan, misalnya setelah bersin atau batuk.
 Hindari menyentuh mulut, hidung atau mata.
 Tutup hidung dan mulut bila bersin dan batuk.

11. Komplikasi
 Sinusitis paranasal
Gejala umum lebih berat, nyeri kepala bertambah, rasa nyeri dan tekan biasanya di
daerah sinus frontalis dan maksilaris. Proses sinusitis sering menjadi kronis dengan
gejala malaise, cepat lelah dan sukar berkonsentrasi pada anak besar. Kadang-kadang
disertai dengan sumbatan hidung dan nyeri kepala yang hilang timbul, bersin yang
terus-menerus disertai skret purulen dapat unilateral maupun bilateral. Komplikasi
sinus harus dipikirkan apabila di dapat pernapasan melalui mulut menetap dan
rangsang faring yang menetap tanpa sebab yang tetap. Pengobatan dengan antibiotika.
 Dapat terjadi penutupan tuba Eustachii dengan gejala tuli atau infeksi menembus
lansung kedaerah telingah tengah yang menyebabkan otitis media akut (OMA).
Gejala OMA pada anak kecil dan bayi dapat disertai suhu badab yang mendadak
tinggi (hiperpireksia), kadang-kadang menyebabkan demam dan disertai gejala
muntah dan diare.
 Penyebaran infeksi nasofaring kebawah dapat menyebabkan saluran nafas bagian
bawah seperti laryngitis, trakeitis, bronchitis dan broncopneumonia.(2,8,9)
12. Prognosis
Umumnya prognosis adalah baik. Pasien dengan Rhinofaringitis Akut biasanya
sembuh dalam waktu 1-2 minggu.
Ad vitam : bonam

- 12 -
Ad sanationam : bonam
Ad fungsionam : bonam

III. KESIMPULAN
Telah dilaporkan satu laporan kasus anak laki-laki berusia 2 bulan 3 minggu dengan
diagnosis Rhinofaringitis akut. Tatalaksana yang diberikan adalah antipiretik untuk
demamnya, dekongestan dicampur dengan antihistamin dan KIE pada orang tua pasien.

- 13 -
DAFTAR PUSTAKA

1. Alsagaff, Hood & H. Abdul Mukty. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru.
Surabaya : Airlangga University Press.
2. Ballenger JJ. 1994. Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher.
Alih bahasa staf ahli bagian THT FK UI. Jilid 1. Edisi 13. Jakarta: Binarupa
Aksara.
3. Behrman, Richard E., dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Volume 2,
Edisi 15. Jakarta: EGC
4. George L. Adams M.D, Lawrence R. Boies Jr. M.D, Peter A. Higler M.D.
1989. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC
5. Guyton, Arthur, dkk. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
6. Martini, Frederic H. Seiger, Charles. Nath, Judi L. 2008. Fundamentals of
Anatomy & Physiology. San Fransisco: Benjamin-Cummings Publishing
Company.
7. Morgan, Geri, Hamilton, Carole. 2003. Obtetri dan Ginekologi: Panduan
Praktik, Edisi 2. Jakarta: EGC.
8. Munir, Delfitri, dkk. 2006. Epistaksis. Departemen Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok, Bedah Kepala leher. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara.
9. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. 2005. Buku Kuliah 2 Ilmu
Kesehatan Anak. Jakarta: Infomedika.

- 14 -