Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMASETIKA SEDIAAN LIQUIDA


“DOMPERIDONE”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Praktikum Farmastika Sediaan Liquida

Oleh:

Fitra Nandha (16020201037/2016)


Mailatullia K (16020200050/2016)
M. Riadi Surya (16020200048/2016)
Nur Arzy S (16020200061/2016)
Septy H (16020201070/2016)
Syafiatul Fitri (16020200078/2016)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


STIKES RUMAH SAKIT ANWAR MEDIKA
SIDOARJO
2018
BAB 1

PENDAHALUAN

1. TINJAUAN PUSTAKA
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang
terlarut, misal terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran
pelarut yang saling bercampur. (Anonim, 2004) Larutan merupakan sediaan cair yang
mengandung bahan kimia terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling, kecuali
dinyatakan lain. (Anief, M, 2005)
Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan,
maka zat padat tadi terbagi secara molekuler dalam cairan tersebut. Pernyataan
kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 20o, kecuali
dinyatakan lain menunjukan 1 bagian bobot zat padat atau 1 bagian volume zat cair
larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian
tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu kamar. (Anief, M., 2005)
Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, maka
penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan
keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik, jika larutan diencerkan atau
dicampur. (Anonim, 1995)
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang
terdispersi dalam fase cair. Sediaan yang digolongkan sebagai suspensi adalah sediaan
seperti tersebut di atas dan tidak termasuk kelompok suspensi yang lebih spesifik,
seperti suspensi oral, suspensi topikal, dan lainlain. Beberapa suspensi dapat langsung
digunakan, sedangkan yang lain berupa sediaan padat yang harus dikonstitusikan
terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan.
Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel yang terdispersi
dalam pembawa cair yang bertujuan untuk penggunaan pada kulit. Beberapa suspensi
yang diberi etiket sebagai lotio termasuk dalam golongan ini. (Anonim, 1995)
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk
halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus
halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila digojok perlahanlahan, endapan harus
segera terdispersi kembali. Dapat ditambahkan zat tambahan untuk menjamin
stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah digojok
dan dituang. Suspensi sering disebut pula mikstur gojog (mixtura agitandae). Bila
obat dalam suhu kamar tidak larut dalam pelarut yang tersedia maka harus dibuat
mikstur gojog atau disuspensi. (Anief, 2006)
Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah :
1. Ukuran partikel
Semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya (dalam
volume yang sama ). Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan
keatas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap,
sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil
ukuran partikel.
2. Kekentalan (viscositas)
Dengan menambah viscositas cairan maka gerakan turun dari partikel yang
dikandungnya akan diperlambat. Tatapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak
boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang.
3. Jumlah partikel (konsentrasi)
Makin besar konsentrasi pertikel, makin besar kemungkinan terjadi endapan
partikel dalam waktu yang singkat.
4. Sifat / muatan partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari babarapa macam
campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan
terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam
cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam, maka kita
tidak dapat mempengaruhinya. (Anonim, 2004 )

Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi


1. Metode pembuatan suspensi
 Metode dispersi
Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah
terbentuk kmudian baru diencerkan.
 Metode praesipitasi
Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik yang
hrndak dicampur dengan air. Setelah larut diencerkan dengan larutan pensuspensi
dalam air.

2. Sistem pembentukan suspensi


 System flokulasi
1. partikel merupakan agregat yang bebas
2. sedimentasi terjadi capat
3. sediment terbentuk cepat
4. sediment tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah
terdispersi kembali seperti semula
5. wujud suspensi kurang menyenangkan sebab sedimentasi terjadi cepat dan
diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih dan nyata.
 System deflokulasi
1. partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain
2. sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing partikel mengendap
terpisah dan ukuran partikel adalah minimal
3. sediment terbentuk lambat
4. akhirnya sediment akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi
lagi.
(Anonim, 2004)

Keuntugan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut :


a. Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat
memperlambat terlepasnya obat.
b. Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan. c. Obat
dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan, karena rasa
obat yang tergantung kelarutannya.
Kerugian bentuk suspensi antara lain sebagai berikut :
a. Rasa obat dalam larutan lebih jelas.
b. Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya
pulveres, tablet, dan kapsul.
c. Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar
kandungan dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator .
( Anief, M., 1987 )

Dasar Teori
II.1.1 Pengertian Suspensi, yaitu:
1. Menurut Dirjen POM (2014), suspensi adalah sediaan cair yang mengandung
partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.
2. Menurut Bambang (2007), suspensi adalah suatu bentuk sediaan yang
mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam
cairan pembawa.
3. Menurut Ansel (1989), suspensi adalah sediaan obat yang terbagi dengan halus
yang ditahan dalam suspensi dengan menggunakan pembawa yang sesuai.
4. Menurut Syamsuni (2006), suspensi adalah sediaan cair yang mengandung
partikel tidak larut dalam bentuk halus yang terdispersi ke dalam fase cair.
II.1.2 Jenis-Jenis Suspensi
Jenis-jenis suspensi menurut Syamsuni (2006), yaitu :
1. Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk
halus yang terdispersi dalam fase cair dengan bahan pengaroma yang sesuai yang
ditujukan untuk pemakaian oral.
2. Suspensi topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam
bentuk halus yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan
pada kulit.
3. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus
yang ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
4. Suspensi oftalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel
sangat halus yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata.
5. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan cair steril berupa suspensi serbuk dalam
medium cair yang sesuai dan tidak boleh menyumbat jarum suntiknya (syringe
ability) serta tidak disuntikkan secara intravena atau ke dalam larutan spinal.
6. Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan
pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan
untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai.
II.1.3 Faktor-Faktor yang berpengaruh dalam proses pembuatan sediaan suspensi
menurut Bambang (2007), yaitu:
1. Proses pembasahan.
2. Interaksi antar partikel.
3. Elektrokinetik.
4. Agregasi.
5. Laju sedimentasi.
Menurut Syamsuni (2006), yaitu:
1. Ukuran partikel
Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta
daya tekan ke atas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel
merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antara luas
penampang dengan daya tekan ke atas terdapat hubungan linier. Artinya semakin kecil
ukuran partikel semakin besar luas penampangnya (dalam volume yang sama).
Sedangkan semakin besar luas penampang partikel, daya tekan ke atas cairan akan
semakin besar, akibatnya memperlambat gerakan partikel untuk mengendap.
Sehingga, untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan
memperkecil ukuran partikel.
2. Kekentalan (Viskositas)
Kekentalan suatu cairan memengaruhi pula kecepatan aliran cairan tersebut,
semakin kental suatu cairan, kecepatan alirannya semakin turun atau semakin kecil.
Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan memengaruhi pula gerakan turun partikel
yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian, dengan menambah kekentalan atau
viskositas cairan, gerakan turun partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Perlu
diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah
dikocok dan dituang.
3. Jumlah partikel (Konsentrasi)
Jika di dalam suatu ruangan terdapat partikel dalam jumlah besar, maka partikel
akan sulit melakukan gerakan bebas karena sering terjadi benturan antara partikel
tersebut. Oleh benturan ini akan menyebabkan terbentuknya endapan zat tersebut,
oleh karena itu semakin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinannya
terjadi endapan partikel dalam waktu yang singkat.
4. Sifat atau muatan partikel
Suatu suspensi kemungkinan besar terdiri atas beberapa macam campuran bahan
yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi
antar bahan yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena
sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam, kita tidak dapat memengaruhinya.
II.1.4 Bahan Pensuspensi (Suspending agent)
Suspending agent adalah bahan pengental untuk menaikkan viskositas dari suspensi,
umumnya bersifat mudah mengembang di dalam air (hidrokoloid) (Syamsuni, 2006).
Menurut Syamsuni (2006), bahan pensuspensi atau suspending agent dapat
dikelompokkan menjadi:
1. Bahan pensuspensi dari alam
Bahan alam dari jenis gom sering disebut “gom atau hidrokoloid”. Gom dapat
larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk
musilago atau lendir. Bahan pensuspensi ini terbagi menjadi dua, yaitu :
a. Gom arab meliputi akasia, chondrus, tragakan, dan algin.
b. Bahan pensuspensi alam bukan gom adalah tanah liat.
2. Bahan pensuspensi sintesis
Bahan ini terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Derivat selulosa, contohnya metil selulosa (methosol, tylose),
karboksimetilselulosa (CMC), dan hidroksimetil selulosa.
b. Golongan organik polimer, contohnya adalah carbophol 934.
II.1.5 Metode Pembuatan
Menurut Bambang (2007), terdapat beberapa metode dalam proses pembuatan sediaan
suspensi, yaitu:
1. Metode flokulasi
Dalam sistem flokulasi, partikel obat terflokulasi merupakan agregat yang bebas
dalam ikatan lemah. Sistem ini peristiwa sedimentasi cepat terjadi dan partikel
mengandap sebagai flok (kumpulan partikel). Sedimen terbentuk dalam keadaan
“terbungkus” dan bebas, tidak membentuk “cake” yang keras dan padat serta mudah
terdispersi kembali ke bentuk semula. Sistem ini kurang disukai karena sedimentasi
cepat terjadi dan terbentuk lapisan yang jernih dan nyata di atasnya.
2. Metode deflokulasi
Dalam metode deflokulasi, partikel terdeflokulasi mengendap perlahan dan
akhirnya membentuk “cake” yang keras dan sukar terdispersi kembali. Pada metode
ini partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain, dan masing-
masing partikel mengendap secara terpisah. Jika kecepatan pengendapan dapat
ditahan dalam jangka waktu yang lama, metode ini lebih disukai karena tidak terjadi
lapisan yang bening (berkabut) dan terbentuk endapan secara perlahan.
3. Metode kombinasi
Kecepatan (laju) sedimentasi harus sekecil mungkin sehingga partikel tetap dalam
bentuk dispersi merata dan apabila terbentuk endapan (cake) maka dengan mudah
terdispersi kembali dengan penggojokan ringan, sehingga stabilitas suspensi menjadi
optimal. Kondisi ideal ini dapat dicapai dengan penggabungan kedua metode di atas.
II.1.6 Keuntungan dan Kurangan
Keuntungan suspensi menurut Syamsuni (2006); Anief (1987), yaitu:
1. Ukuran partikel lebih kecil sehingga lebih mudah diabsorbsi.
2. Suspensi injeksi mudah disuntikkan dan tidak menyumbat jarum suntik.
3. Dapat menutupi bau dan rasa dari obat karena menggunakan sirup simplex.
Kekurangan suspensi menurut Syamsuni (2006), yaitu:
1. Masalah dalam proses pembuatan suspensi (cara memperlambat penimbunan
partikel serta menjaga homogenitasnya).
2. Terjadinya agregasi yang membuatnya tidak terdistribusi merata.
II.2 Uraian Bahan
II.2.1 Alkohol (Dirjen POM, 1979; Rowe et al, 2009)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Etanol, alkohol, ethyl alcohol, ethyl hydroxide.
Rumus Molekul : C2H5OH
Berat Molekul : 46,07 g/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah


bergerak; bau khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang
tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam
eter P.
Khasiat : Sebagai antimikroba (membunuh mikrobakterium),
desinfektan (membunuh bakteri pada alat laboratorium), penetral kulit.
Kegunaan : Desinfektan (membunuh bakteri pada alat laboratorium).
Peyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya,
ditempat sejuk, jauh dari nyala api.

II.2.2 Aqua Destilata (Dirjen POM, 1979; Rowe et al, 2009)


Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
Rumus Molekul : H2O
Berat Molekul : 18,02 g/mol
H–O–H
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak mempunya rasa,


tidak berbau.
Kelarutan : Tercampur dengan pelarut yang paling polar.
Khasiat : Dapat melarutkan berbagai zat.
Kegunaan : Pelarut.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
II.2.3 Chloramphenicol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : CHLORAMPHENICOLUM
Nama lain : Kloramfenikol
Rumus molekul : C11H12Cl2,N2O5
Berat molekul : 323,13 g/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng


memanjang, putih sampai putih kelabu atau putih kekuningan, tidak berbau, rasa
sangat pahit.
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 400 bagian air, dalam 2,5
bagian etanol (95%) P dan dalam 7 bagian propilenglikol P, sukar larut dalam
kloroform P dan dalam eter P.
Khasiat : Antibiotik (menghambat atau membunuh
mikroorganisme).
Kegunaan : Zat aktif.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
II.2.4 Methyl paraben (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi : METHYLIS PARABENUM
Nama lain : Metil paraben
Rumus molekul : C8H8O3
Berat molekul : 152,15 g/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur putih,


tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar.
Kelarutan : Sukar larut dalam air, dalam benzene, dan dalam
karbon tetraklorida. Mudah larut dalam etanol dan eter.
Khasiat : Pengawet antimikroba.
Kegunaan : Zat tambahan.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
II.2.5 Na CMC (Rowe et al, 2009; MSDS, 2005)
Nama resmi : CARBOXYMETHYLCELLULOSE SODIUM
Nama lain : Aquasorb, xylo-mucine, cellulose gum.
Rumus Molekul : C17H25O14Na2
Berat Molekul : 90.000-700.000 g/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Padatan berwarna putih.


Kelarutan : Praktis tidak larut dalam aseton, etanol (95%), eter,
dan toluena.
Khasiat : Bahan utama perawatan luka, patch dermatologis,
dan perekatan muco untuk menyerap luka eksudat.
Kegunaan : Suspending agent (meningkatkan viskositas).
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, kering, dan sejuk.
II.2.6 Polysorbatum (Dirjen POM, 1979; Sweetnam, 2009; Rowe et al, 2006)
Nama resmi : POLYSORBATUM-80
Nama lain : Polisorbat-80
Rumus molekul : C64H124O26
Berat molekul : 1310 g/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan kental seperti minyak, jernih, kuning, bau


asam lemak, khas.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P, dalam
etil asetat P dan dalam methanol P, sukar larut dalam parafin cair P dan dalam minyak
biji kapas P.
Khasiat : Meningkatkan kekentalan.
Kegunaan : Zat tambahan.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
II.2.7 Propilenglikol (Dirjen POM, 1979; Rowe et al, 2009)
Nama resmi : PROPYLENGLYCOLUM
Nama lain : Propilenglikol
Rumus molekul : C3H802
Berat molekul : 76,10 g/mol

Rumus struktur :

Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau,


rasa agak manis, dan higroskopis.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan etanol (95%) P
dan dengan kloroform P, larut dalam 6 bagian eter P, tidak dapat campur dengan eter
minyak tanah P dan dengan minyak lemak.
Khasiat : Antimikroba (menghambat atau membunuh bakteri)
dan desinfektan (membunuh mikroorganisme pada benda mati.
Kegunaan : Zat tambahan dan pelarut.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
II.2.8 Sakarosa (Dirjen POM, 1995; Rowe et al, 2006)
Nama resmi : SUCROSUM
Nama lain : Sakarosa
Rumus molekul : C12H22O11
Berat molekul : 342,30 g/mol
Rumus struktur :
Pemerian : Hablur putih atau tidak berwarna, massa hablur atau
berbentuk kubus, atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa manis, stabil di udara.
Larutannya netral terhadap lakmus.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut
dalam air mendidih, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan eter.
Khasiat : Meningkatkan viskositas.
Kegunaan : Zat tambahan dan pemanis.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Anief, M. A. 1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Anief, M. A. 1987. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ansel, H.C. 1989. Pengatar Bentuk sediaan Farmasi Edisi 4. Jakarta: UI Press.
Aulton, M. E. 1988. Pharmaceutics, The Science of Dosage From Design. London:
Churcill Livingstone.
Bambang, P. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi Ke-IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Dirjen POM. 2014. Farmakope Indonesia Edisi Ke-V. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI.
MSDS. 2005. Carboxymethyl Cellulose Sodium MSDS. Texas: Science Lab.
Pratiwi, Sylvia T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Bandung: Erlangga.
Prayoga, L. 2015. Proses Sterilisasi dan Penanganan Kontaminas. Jawa Tengah:
Unsoed
Rowe, R.C., et al. 2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients 5th edition. London:
Pharmaceutical Press.
Rowe, R.C., et al. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition. London:
Pharmaceutical Press.
Sirait, M. 2016. ISO Indonesia Informasi Spesialite Obat, Volume 50. Jakarta: PT.
ISFI Penerbitan.
Sukandar, E.Y dkk. 2008. Iso Farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI Penerbitan.
Sweetnam, S.C. 2009. Martindale 36 th edition. London: Pharmaceutical Press.
Syamsuni, H. A., 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Tjay, T.H., Rahardja, K. 2002. Obat-obat Penting Edisi ke 7. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media
Komputindo.

Scribe

Anda mungkin juga menyukai