Anda di halaman 1dari 16

KALSIFIKASI BINTANG BERDASAR SUHU

Kelas O yakni garis ion Helium, Oksigen, Nitrogen, Karbon, Silikon yang terionisasi
beberapa kali. Garis terlemah adalah garis hidrogen. Warna biru dan suhu di atas 25.000K.

Kelas B yakni bintang dengan ciri-ciri garis helium netral terlihat, Garis hidrogen lebih jelas
terlihat daripada kelas O. Terlihat juga garis oksigen dan silikon. Suhu berkisar antara
10.000-25.000K dengan warna biru.

Kelas A yaitu spektrum yang terkuat adalah hidrogen. Garis ion Mg, Si, Fe, dan Ca terlihat.
Temperatur antara 7500K-10.000K dan warna biru.

Kelas F yaitu bintang dengan spektrum hidrogen lebih lemah daripada kelas A tetapi maish
kelihatan jelas. Garis ion Ca, Fe, Cr masih terlihat. Garis logam netral terlihat. Suhu berkisar
6000K-7500K dan warna biru keputih-putihan.

Kelas G yaitu bintang dengan spektrum hidrogen lebih lemah daripada kelas F. Garis ion
logam dan netral terlihat. Warna putih kekuning-kuningan dengan suhu berkisar 5000-6000K.

Kelas K yaitu bintang dengan spektrum ion logam dna netral terlihat jelas. Garis hidrogen
lemah sekali. Pita molekul tio terlihat. Warna bintang jingga kemrah merahan dan suhu
anatara 3500-5000K.

Kelas M yaitu bintang dengan spektrum ion logam kuat. Pita molekul tio jelas, temperatur di
bawah 3500K dan berwarna merah.

CARA MENGHITUNG MASSA BENDA LANGIT

Bagaimana cara para Astronom Menghitung Massa Sebuah Benda Luar Angkasa yang
Jaraknya bukan main jauhnya ? Rumus apa yang digunakan ? Alat yang digunakan?

Rosyd Aqbar – Banyumas & Rudi – Subang


Bintang ganda visual. Kredit: scienceblogs

Singkatnya, massa dapat ditentukan mempergunakan hukum-hukum dasar Newton & Kepler.
Sedangkan jarak dari magnitudonya. Intinya adalah dari cahaya yang terpancar dari sumber
ke pengamat. Dan alat yang digunakan bukanlah sebuah alat ukur yang bisa langsung
mengukur kuantitas massa dan jarak. Untuk bisa menentukan massa dan jarak
dibutuhkan kolektor berupa teleskop dan detektor yakni ccd kamera & analisator (filter)

Massa Bintang
Pada dasarnya tidak ada alat yang bisa digunakan untuk secara langsung mengukur massa
sebuah obyek di langit. Massa suatu benda langit hanya dapat ditentukan dari pengaruh
gravitasinya pada benda langit lainnya, yaitu dari gerak orbitnya. Contohnya adalah massa
Matahari yang dapat ditentukan dengan mengamati gerak orbit planet. Dan untuk penentuan
massa bintang, secara umum hanya dapat ditentukan bila bintang itu merupakan komponen
bintang ganda.

Untuk menentukan massa bintang, Hukum Kepler ketiga dapat diterapkan dalam gerak kedua
bintang di bintang ganda.

Berdasarkan Hukum Kepler ketiga, kuadrat kala edar obyek yang mengorbit Matahari
sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-rata si obyek dari matahari. Dan hubungan Hukum
Gravitasi Newton dan Hukum Kepler ketiga bisa memberikan massa total kedua bintang
dalam sistem bintang ganda dalam hubungan :

(m1 + m2) = (d1 + d2)3 /P2

dengan (d1 + d2) = R


P = periode orbit ; m1 dan m2 = massa kedua bintang ; R = total jarak separasi antara kedua
bintang dengan pusat massa.

Hubungan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui massa komponen bintang ganda itu.

Bagaimana dengan bintang tunggal?

Dengan diketahuinya sistem keplanetan di bintang-bintang lain, penerapan Hukum Kepler


ketiga dapat digunakan untuk mengetahui massa bintang induk sistem tersebut.

Untuk bintang tunggal, diagram Hertsprung Russel juga bisa digunakan sebagai faktor
penentu massa. Untuk bintang di Deret Utama, sifat-sifatnya memiliki keterkaitan yang erat
dengan massanya. Massa bintang menentukan berapa lama ia akan berada di deret utama.
Semakin besar massa sebuah bintang, maka semakin boros pula ia menguras hidrogennya
sehingga umurnya akan lebih singkat. Dengan mengetahui luminositas atau temperatur
sebuah bintang maka kita bisa menentukan massanya. Di deret utama, luminositas sebuah
bintang sebanding dengan pangkat 3,5 massa sebuah bintang.
Pada tahun 2004, untuk pertama kalinya bisa menentukan massa sebuah bintang secara
langsung menggunakan metode lensa mikro gravitasi. Dengan teknik ini para astronom
berhasil menentukan massa bintang dengan melihat efek yang ditimbulkan bintang pada
berkas cahaya yang melewatinya.

Jarak Bintang

Metode Paralaks
Paralaks bintang merupakan metode untuk mengukur jarak bintang

Coba acungkan jarimu di depan mata dan pejamkan mata kirimu. Lihatlah posisi jari terhadap
obyek latar belakang yang jauh. Kemudian gantilah memejamkan mata dan tutuplah mata
kananmu. Sekarang lihat lagi posisi jarimu terhadap obyek latar belakang yang sama tadi.
Sekarang jarimu akan tampak berpindah bukan? Misalnya dari kiri obyek ke kanan obyek.
Pergeseran inilah yang disebut paralaks atau beda lihat dan sudut pergeserannya disebut sudut
paralaks.

Baca juga: Bagaimana kita mengetahui umur alam semesta?

Di dalam astronomi, metode inilah yang digunakan dalam penentuan jarak. Paralaks
merupakan metode yang digunakan dengan melihat pada pergeseran dua titik tetap relatif satu
terhadap yang lain dilihat dari sudut pandang pengamat.

Kita tahu kalau Bumi mengitari Matahari dengan periode orbit 365,25 hari dan akibat gerak
edar Bumi, bintang yang dekat akan tampak bergeser letaknya dari bintang yang jauh.
Bintang tersebut seolah menempuh lintasan berbentuk elips relatif terhadap bintang – bintang
latar belakang yang jauh. Gerak yang disebut gerak paralaktik ini merupakan cerminan gerak
Bumi mengitari Matahari. Sudut yang dibentuk oleh bumi dan matahari ke bintang inilah
yang diebut paralaks bintang. Semakin jauh letak bintang, lintasan ellipsnya makin kecil,
paralaksnya juga makin kecil. Metode ini yang disebut Paralaks Trigonometri

Lihat gambar, andaikan matahari adalah jarak Bumi-Matahari, d adalah jarak Matahari –
bintang, dan p adalah sudut parallaks, didapatkan formula paralaks:

d (parsec) = 1 / p (detik busur)

Metode paralaks trigonometri hanya bisa digunakan untuk mendapatkan jarak bintang-
bintang terdekat yakni sampai 100 parsec.

Magnitudo Mutlak Bintang


Cara lain untuk mengukur jarak bintang adalah dengan mengukur terang suatu bintang dan
selanjutnya menaksir kuat cahaya sebenarnya bintang itu. Dalam pengamatan, terang suatu
bintang diukur dalam satuan magnitudo. Magnitudo merupakan ukuran terang bintang yang
kita lihat atau terang semu (magnitudo semu) bintang. Magnitudo juga merupakan besaran
lain untuk menyatakan fluks pancaran yang kita terima di Bumi per cm2 per detik (E).

Sebuah bintang yang kita lihat terang belum tentu benar-benar terang dalam hal kuat cahaya
sebenarnya. Bisa saja ia tampak “lebih terang” karena jaraknya yang dekat. Contohnya lampu
mobil yang berada jauh akan tampak lebih redup tapi begitu mendekat cahayanya jadi lebih
terang.

Karena energi yang dipancarkan sumber pada selang waktu satu detik akan melewati
pemrukaan bola itu dalam waktu satu detik juga maka:

E = L / (4π d2)

Fluks pancaran yang kita terima di Bumi itu berbanding terbalik dengan kuadrat jarak sumber
cahaya. Artinya sumber cahaya yang terletak dua kali lebih jauh akan tampak empat kali
lebih lemah cahayanya. Jika luminositas dapat diketahui, dan E bisa diukur maka jarak
bintang dapat diketahui.

Sekarang, andaikan semua bintang berjarak sama dari kita, magnitudo semu dapat dianggap
sebagai ukuran terang sebenarnya bintang. Bintang yang luminositasnya besar akan memiliki
magnitudi kecil sedangkan bintang dengan luminositas kecil akan memiliki magnitudo yang
besar. Nah untuk menentukan kuat cahaya sebenarnya sebuah bintang, maka didefinisikan
besaran magnitudo mutlak yaitu magnitudo bintang andaikan bintang diamati pada jarak yang
sama yaitu 10 parsec.

Jika ada dua bintang dengan magnitudo mutlak M1 dan M2 maka berlaku persamaan Pogson
:

Baca juga: Menanti Sang Lintang Kemukus Dini Hari

M1 – M2 = -2,5 log (L1/L2)


Kredit: Swinburne University of Technology

Modulus Jarak
Jika jarak bintang dalam parsec adalah d dan fluks pancaran E dan magnitudo semu bintang
m dan kita andaikan si bintang diamati dari jarak 10 parsec. Dan jika diandaikan fluks
pancaran bintang E’, maka menurut persamaan Pogson: m – M = 2,5 log (E/E’) dan
luminositas bintang L, maka : m – M = 2,5 log [(L/(4π d2)) / (L /(4π 102))]

Maka, selisih magnitudo semu dan magnitudo mutlak akan memberikan harga jarak bintang
dari pengamat setelah dikoreksi terhadap serapan antar bintang.

m – M = – 5 + 5 log d

Besaran m – M tersebut disebut modulus jarak.

Cepheid Sebagai Lilin Penentu Jarak


Tahun 1784, John Goodricke menemukan kalau bintang Cepheid berubah cahayanya secara
berkala dan diduga merupakan komponen bintang ganda. Tapi pada tahun 1914 Shapley
menemukan kalau bintang ini berubah-ubah cahayanya bukan karena Cepheid merupakan
bintang ganda gerhana melainkan bintang ini berdenyut.

Pada bintang Cepheid juga ditemukan hubungan antara luminositas dan periode perubahan
cahaya. Hubungan ini menyatakan semakin terang suatu Cepheid, makin besar periodenya.
Untuk mengetahui jarak variabel Cepheid di galaksi lain, diambil hubungan titik nol yakni
titik pada periode dimana magnitudo mutlaknya nol. Untuk mendapatkan hubungan titik nol,
dapat ditentukan dengan membandingkannya dengan Cepheid dalam Galaksi kita pada gugus
bintang yang jaraknya sudah diketahui.
Kredit : CSIRO

Dengan mengandaikan Cepheid yang diamati memiliki sifat sama dengan Cepheid di Galaksi
kita, maka periode perubahan cahaya dan luminositasnya dianggap sama juga. Karena
luminositas dianggap sama maka Magnitudo mutlak bisa diketahui dari hubungan : M – Mο =
-2,5 log (L/Lο)

Maka modulus jarak bisa diketahui dengan m dari pengamatan pada bintang variabel Cepheid
galaksi lain yang diamati, dan jarak pun bisa diketahui : m – M = – 5 + 5 log d

. Hukum III Kepler


Pada hukum ini Kepler menjelaskan tentang periode revolusi setiap planet yang melilingi
matahari. Hukum Kepler III berbunyi :
Kuadrat perioda suatu planet sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-ratanya dari
Matahari.

Secara matematis Hukum Kepler dapat ditulis sebagai berikut :

Keterangan :
T1= Periode planet pertama
T2= Periode planet kedua
r1 = jarak planet pertama dengan matahari
r2 = jarak planet kedua dengan matahari

Persamaan ini dapat diturunkan dengan menggabungkan 2 persamaan hukum Newton , yaitu
hukum gravitasi Newton dan hukum II Newton untuk gerak melingkar beraturan. Penurunan
rumusnya yaitu sebagai berikut :

Persamaan hukum Newton II :

Karena

Maka

Keterangan :
m = massa planet yang mengelilingi matahri
a = percepatan sentripetal planet
v = kecepatan rata-rata planet
r = jarak rata-rata planet dari matahari

Persamaan hukum gravitasi Newton :

Fg = Gaya gravitasi matahari


m1 = massa matahari
m2 = massa planet
r = jarak rata-rata planet dan matahari
Artikel Penunjang : Pengertian, Rumus dan Aplikasi Hukum Gravitasi

Digabungkan kedua rumus diatas sehingga menjadi :

m2 pada ruas kiri dan m pada ruas kanan merupakan sama-sama massa planet sehingga dapat
dihilangkan.

Panjang lintasan yang dilalu planet merupakan keliling lintasan orbit planet. Keliling orbit
planet dapat dirumuskan dengan 2 x phi x r, dimana r adalah jarak rata-rata planet dari
matahari. Diketahui bahwa kecepatan rata-rata planet merupakan perbandingan antara
keliling orbit dan periode panet, sehingga :

Konstanta k = T2/r3 juga yang diperoleh oleh Kepler ditemukan dengan cara perhitungan
menggunakan data astronomi Tycho Brahe. Hasilnya juga sama dengan yang diperoleh
menggunakan rumus kedua Hukum Newton diatas.
SUPERNOVA
adalah ledakan dari suatu bintang di galaksi yang memancarkan energi lebih banyak daripada
nova. Peristiwa supernova ini menandai berakhirnya riwayat suatu bintang. Bintang yang
mengalami supernova akan tampak sangat cemerlang dan bahkan kecemerlangannya bisa
mencapai ratusan juta kali cahaya semula bintang tersebut, beberapa minggu atau bulan
sebelum suatu bintang mengalami supernova, bintang tersebut akan melepaskan energi yang
setara dengan energi matahari yang dilepaskan matahari seumur hidupnya, ledakan ini
meruntuhkan sebagian besar material bintang dengan kecepatan 30.000 km/s (10% kecepatan
cahaya) dan melepaskan gelombang kejut yang mampu memusnahkan medium antarbintang.

Ada beberapa jenis supernova. Tipe I dan II bisa dipicu dengan satu dari dua cara, baik
menghentikan atau mengaktifkan produksi energi melalui fusi nuklir. Setelah inti bintang
yang sudah tua berhenti menghasilkan energi, maka bintang tersebut akan mengalami
keruntuhan gravitasi secara tiba-tiba menjadi lubang hitam atau bintang neutron, dan
melepaskan energi potensial gravitasi yang memanaskan dan menghancurkan lapisan terluar
bintang.

Rata-rata supernova terjadi setiap 50 tahun sekali di galaksi seukuran galaksi Bima Sakti.
Supernova memiliki peran dalam memperkaya medium antarbintang dengan elemen-elemen
massa yang lebih besar. Selanjutnya gelombang kejut dari ledakan supernova dapat
membentuk formasi bintang baru.

CARA MENGUKUR SUHU MATAHARI

Hukum Pergeseran Wien


Jika suatu benda misalnya logam dipanaskan terus pada suhu tinggi maka warna
pijarnya berubah mulai dari pijar merah ( kira-kira C ) sampai ke putih 9 kira-kira C ).
Bentuk grafik antara intensitas radiasi cahaya terhadap panjang gelombangnya dinamakan
grafik , pada berbagai suhu. Untuk suhu yang lebih tinggi , panjang gelombang untuk
intensitas maksimum bergeser ke panjang gelombang yang lebih pendek.
Wilhelm Wien pada tahun 1896 menyatakan hukumnya yang dikenal dengan hukum
Pergeseran Wien : Panjang gelombang untuk intensitas cahaya maksimum berkurang dengan
meningkatnya suhu.
Bila suhu benda terus ditingkatkan, intensitas relative dari spectrum cahaya yang dipancarkan
berubah. Ini menyebabkan pergeseran dalam warna-warna spectrum yang diamati, yang dapat
digunakan untuk menaksir suhu suatu benda seperti pada gambar

Gambar 2 Grafik Pergeseran Wien


Gambar diatas menunjukkan grafik antara intensitas radiasi yang dipancarkan oleh suatu
benda hitam terhadap panjang gelombang (grafik I –l) pada berbagai suhu. Total energi kalor
radiasi yang dipancarkan adalah sebanding dengan luas di bawag grafik. Tampak bahwa total
energi kalor radiasi radiasi meningkat dengan meningkatnya suhu (menurut hokum Stefan-
Bolztman. Energi kalor sebanding dengan pangkat empat suhu mutlak.
Radiasi kalor muncul sebanding suatau spectra kontinu, bukan spectra diskret seperti garis-
garis terang yang dilihat dalam spectra nyala api. Atau garis-garis gelap yang dapat dilihat
dalam cahaya matahari (garis Fraunhofer) (Spektra adalah bentuk tunggal spectrum) Sebagai
gantinya, semua panjang gelombang hadir dalam distribusi energi kalor yang luas ini. Jika
suhu bendahitam meningkat, panjang gelombang untuk intensitas maksimum (lm) bergeser
ke nilai panjang gelombang yang lebih pendek.
Pengukuran spectra benda hitam menunjukkan bahwa panjang gelombang untuyk intensitas
maksimum (lm) berkurang dengan meningkatnya suhu, seperti pada persamaan berikut :

Keterangan :
λm = panjang gelombang dengan intensitas maksimum (m)
T = suhu mutlak benda hitam (K)

C = tetapan pergeseran Wien = 2,90 x 10-3 m K

Jika suatu benda padat dipanaskan maka benda itu akan memancarkan radiasi kalor.
Pada suhu normal, kita tidak menyadari radiasi elektromagnetik ini karena intensitasnya
rendah. Pada suhu lebih tinggi ada cukup radiasi inframerah yang tidak dapat kita lihat tetapi
dapat kita rasakan panasnya jika kita mendekat ke benda tersebut.
Gambar 3 Perbandingan grafik I –  antara grafik

Rayleigh-Jeans dan grafik hasil eksperimen

Konsistensi antara Hukum Pergeseran Wien dengan Hukum Stefan-Boltzmann dapat


diperiksa dengan menghitung kembali suhu mutlak permuakan matahari. Anggap bahwa
puncak kepekaan mata terjadi pada kira-kira 500nm ( cahaya biru kehijauan ) bertepatan
dengan untuk Matahari ( benda hitam ), maka suhu matahari menurut hukum pergeseran
Wien adalah

Soal No.1

Radiasi bintang X pada intensitas maksimum terdeteksi pada panjang gelombang 580 nm.
Jika tetapan pergeseran Wien adalah 2,9 × 10– 3 mK maka suhu permukaan bintang X
tersebut adalah…

A. 3000 K

B. 4000 K

C. 5000 K

D. 6000 K

E. 7000 K

Pembahasan
Data:
λm = 580 nm = 580 × 10−9 meter
Tetapan Wien = 2,9 × 10– 3
mK
T =....

λm T = tetapan Wien
(580 × 10−9)T = 2,9 × 10 – 3

T = 2,9 × 10– 3 : 580 × 10−9 = 5000 K

Soal No.2
Jika radiasi matahari pada intensitas maksimum adalah warna kuning dengan panjang
gelombang 510 nm maka suhu permukaan matahari adalah…..
(Tetapan pergeseran Wien adalah 2,9 . 10−3 mK )
3
A. 1,69 x 10 K
B. 2,69 x 103 K
3
C. 3,69 x 10 K
D. 4,69 x 103 K
E. 5,69 x 103 K

Pembahasan
λm = 510 nm = 510 × 10−9 m

Soal No.3
Sebuah bintang dengan temperatur permukaannya 10500 K akan memancarkan spektrum
benda hitam yang berpuncak pada panjang gelombang
−7
A. 2,76 x 10 meter
B. 2,76 x 10−7 nanometer
−5
C. 2,76 x 10 meter
−5
D. 2,76 x 10 nanometer
E. 2,76 x 10−5 centimeter
(Astronomy seleksi kabupaten 2009)
Pembahasan
T = 10 500 K
λm =....

Soal No.4
Gambar di bawah adalah spektrum sebuah bintang.
Berdasarkan spektrum bintang ini, tentukanlah temperatur bintang tersebut.
A. 20.000 K

B. 15.500 K

C. 12.250 K

D. 7.250 K

E. 5.250 K

(Astronomi Propinsi 2009)

Pembahasan
λm = 4 000 Å = 4 000 × 10−10 m

T =....T = 2,9 × 10−3 / λm

T = 2,9 × 10−3 / 4 000 × 10−10

T = 7 250 K

Soal No. 5

Temperatur permukaan sebuah bintang adalah 12000 K, dan misalkan temperatur permukaan
Matahari adalah 6000 K. Jika puncak spektrum Matahari berada pada panjang gelombang
5000 Angstrom, pada panjang gelombang berapakah puncak spektrum bintang yang
mempunyai temperatur 12000 K?

A. 5000 Angstrom

B. 10000 Angstrom

C. 2500 Angstrom

D. 6700 Angstrom

E. 1200 Angstrom