Anda di halaman 1dari 24

Penyaji : Pembimbing:

Siti Hani Amiralevi dr. Lollytha C. S., Sp.KJ


I4061162037

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa


FK Untan - Rumah Sakit Umum Dustira
Cimahi
I11112008 2018
 Cemas : respon normal dan adaptif terhadap
ancaman yang menyiapkan organisme untuk
mekanisme fight or flight.
 Cemas→emosi normal
 Abnormal → intensitas dan durasinya menjadi lebih
tinggi
 Interaksi faktor-faktor biopsikososial, termasuk
kerentanan genetik yang berinteraksi dengan
kondisi tertentu, stress atau trauma yang
menimbulkan sindroma klinis yang bermakna
Anxiety
disorders

Psychoanalysis Behavioral Existential


 Teori psikoanalisis
 Kecemasan dipandang sebagai hasil konflik psikis
antara keinginan seksual atau agresif yang tidak
sadar dan ancaman yang sesuai dengan superego
atau realitas eksternal.
 Ego memobilisasi mekanisme pertahanan untuk
mencegah pikiran dan perasaan yang dapat
diterima muncul ke kesadaran
 Teori behavioral
 Ansietas merupakan respon terhadap stimulus
spesifik dari lingkungan
 Contohnya, seorang anak laki-laki yang dibesarkan oleh
ibunya yang memperlakukannya semena-mena, akan
segera merasa cemas bila ia bertemu ibunya. Melalui
proses generalisasi, ia akan menjadi tidak percaya dengan
wanita. Bahkan seorang anak dapat meniru sifat orang
tuanya yang cemas
 Teori existensial
 Ansietas yang melibatkan perasaan orang tersebut
terhadap kehidupan yang tidak memiliki arti dan
tujuan.
 Kecemasan adalah tanggapan mereka terhadap
kekosongan yang dirasakan dalam keberadaan
dan makna.
Sistem saraf
Norepinephrine
otonom

ASPEK BIOLOGIS

Neurotransmiter Serotonin

Korteks serebri GABA

NEUROANATOMIS

Sistem Limbik
 Serangan ansietas mendadak yang disertai dengan
perasaan akan mati.
 Terjadi tiba-tiba dengan intensitas kecemasan
meningkat dalam hitungan menit
 Timbul dalam beberapa periode selama satu hari
hingga beberapa kali serangan dalam setahun.
 Patopsikologi
 Terjadi akibat defense mechanism yang tidak sempurna
terhadap stimulus yang menyebabkan ansietas
 Palpitations, pounding heart, or accelerated heart rate.
 Sweating.
 Trembling or shaking.
 Sensations of shortness of breath or smothering.
 Feelings of choking.
 Chest pain or discomfort.
 Nausea or abdominal distress.
 Feeling dizzy, unsteady, light-headed, or faint.
 Chills or heat sensations.
 Paresthesias (numbness or tingling sensations).
 Derealization (feelings of unreality) or depersonalization (being detached from
one-self).
 Fear of losing control or "going crazy."
 Fear of dying.
 Note: Culture-specific symptoms (e.g., tinnitus, neck soreness, headache,
uncontrollable screaming or crying) may be seen. Such symptoms should not count
as one of the four required symptoms.
 Tatalaksana
 Selective serotonin reuptake inhibitors
 Paroxetine 5-10 mg/hari
 Paroxetine CR 12,5-25 mg/hari
 Benzodiazepine
 Alprazolam 3 x 0,25-0,5 mg
 Lorazepam 2 x 0,25-0,5 mg
 Cognitive-behavioral therapy
 Definisi
• Kondisi gangguan yang ditandai dengan kecemasan dan
kekhawatiran yang berlebihan dan tidak rasional bahkan
tidak realistik terhadap berbagai peristiwa kehidupan
sehari-hari serta tidak terbatas pada atau hanya menonjol
pada setiap lingkungan tertentu saja.
• Dialami hampir sepanjang hari, berlangsung sekurang-
kurangnya selama 6 bulan.
 Gejala Klinis
 Anxietas berlebihan, ketegangan motorik bermanifestasi
sebagai bergetar, kelelahan, dan sakit kepala, hiperaktivitas
otonom timbul dalam bentuk napas pendek, berkeringat,
palpitasi, dan disertai gejala pencernaan.
 Kecemasan yang dirasakan sulit untuk dikendalikan dan
berhubungan dengan gejala-gejala somatik dan kegelisahan
→ penderitaan & gangguan dalam fungsi sosial & pekerjaan.
• Penampilan
• Terlihat khawatir akan sesuatu, berkeringat, terlihat kurang
istirahat, gemetaran.
 Patopsikologi
 Cognitive-behavioral
 Respon terhadap persepsi bahaya yang tidak akurat
 Psychoanalytic
 Hasil dari konflik bawah sadar yang tidak tuntas
 Tatalaksana
 Selective Serotonin Reuptake Inhibitors
 Setelah 2-3 minggu klinis tidak membaik, dapat
dikombinasikan dengan benzodiazepine
 Sertraline 25-50 mg/hari
 Benzodiazepine
 Selama 2-6 minggu, tapering off 1-2 minggu
 Alprazolam 3 x 0,25 mg
 Buspirone 3 x 7,5 mg
 Terapi perilaku kognitif, perilaku suportif,
psikoterapi berorientasi tilikan
 Gangguan panik ditandai dengan adanya serangan
panik yang tidak diduga dan spontan yang terdiri
atas periode rasa takut intens yang hati-hati dan
bervariasi dari sejumlah serangan sepanjang hari
sampai hanya sedikit serangan selama satu tahun.
 Penderita agoraphobia sangat menghindari keadaan
di mana sulit meminta bantuan
 Oleh karena itu, mereka sering meminta ditemani jika pergi
ke tempat yang ramai serta tempat atau kendaraan tertutup
 Tatalaksana
 Benzodiazepine
 Alprazolam
 Lorazepam
 Selective serotonin reuptake inhibitors
 Tricyclic agents
 Clomipramine
 Imipramine
 Psikoterapi
Faktor perilaku
• Fobia  kecemasan akibat
stimuli menakutkan yang
muncul bersamaan dengan
stimuli netral lainnya

Faktor psikoanalitik
(Sigmund Freud)
• konflik yg tidak terselesaikan
 repression  displacement
 symbolization
 Definisi
 Bentuk fobia mengacu kepada ketakutan yang berlebihan
terhadap benda, lingkungan, atau situasi yang spesifik. Fobia
spesifik adalah ketakutan yang kuat dan menetap terhadap
benda atau situasi,
 Gejala Klinis
 Ansietas saat pasien berhadapan dengan benda atau
keadaan tertentu atau bahkan saat pasien hanya
mengantisipasi berhadapan dengan benda dan keadaan
tersebut
 Patopsikologi
 Rasa cemas adalah sinyal untuk menyadarkan ego, bahwa
dorongan terlarang di alam bawah sadar yang akan memuncak
dan untuk menyadarkan ego untuk melakukan mekanisme
pertahanan melawan daya insting yang mengancam.
 Fobia merupakan hasil konflik yang terpusat pada masalah
masa kanak-kanak yang tidak terselesaikan. Jika tindakan
represi untuk mencegah cemas gagal, sistem ego seseorang
akan mengaktifkan mekanisme pertahanan yang berupa
“mengalihkan” (displacement), dimana masalah yang tidak
selesai dari masa kanak-kanak akan dialihkan kepada objek
atau situasi yang memiliki kemampuan untuk membangkitkan
rasa cemas.
 Objek atau situasi tersebut menjadi simbol dari masalah yang
dahulu dialaminya (Symbolization).
 Tatalaksana
 Behavior therapy
 Virtual therapy
 Hipnosis
 Family therapy
 Ketakutan terhadap interaksi sosial seperti bertemu
orang baru atau presentasi
 Cenderung muncul saat remaja atau pasca transisi
dalam kehidupan sehari-hari seperti pada
pernikahan atau berpindah tempat kerja
 Patopsikologi  Tatalaksana
 Social phobia lebih  Psikoterapi
banyak terjadi pada  Selective Serotonin
pasien yang orang Reuptake Inhibitors
tuanya mengidap
panic disorder  β-blockers
 Orang tua dengan  Benzodiazepine
panic disorder kurang
peduli dan justru lebih
protektif
 Terjadi behavioral
inhibition