Anda di halaman 1dari 31

REFLEKSI KASUS

DIARE CAIR AKUT


Disusun untuk memenuhi syarat kepaniteraan klinik
di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Bethesda
pada Program Pendidikan Dokter tahap Profesi
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana

Disusun oleh :
Daniel Derian Chrisandi
42170135
Pembimbing :
dr. Bambang Hadi Baroto, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT BETHESDA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2018
BAB I
KASUS

A. IDENTITAS
Identitas pasien
• Nama : An. DAA
• No. RM : 02-06-50-92
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Tanggal Lahir : 31 Desember 2015
• Usia : 2 tahun
• Alamat : Tangerang
• Masuk Bangsal : 23 Juni 2018
Identitas Orang Tua (Alloanamnesis)
 Nama : Ny. B
 Usia : 34 tahun
 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
 Alamat : Tangerang

B. ANAMNESIS
Autoanamnesis dan alloanamnesis (yang dilakukan dengan orang tua pasien) pada
hari Rabu, 8 Mei 2018 pukul 15.00 di bangsal Galilea 3, kamar 3D.
1. Keluhan Utama
 BAB cair
 Nyeri perut dan saat buang air besar
 Demam

2. Riwayat Penyakit Sekarang


 1 HSMRS (12 Maret 2018)
o 1 hari SMRS pada siang hari sepulang sekolah pasien
dibagikan nasi kotak (nasi + ayam + capcay) dari acara ulang
tahun temannya. Pasien memakan nasi kotak tersebut untuk
makan siang. Sore harinya pasien masih bermain di rumah dan
tidak mengalami keluhan. Saat jam makan malam pasien juga
makan seperti biasa sebelum tidur.
 HMRS (12 Maret 2018)
o Pada pagi hari saat bangun tidur pasien mengalami demam
(39,9oC) kemudian oleh ibunya diberikan Paracetamol setiap
4 jam. Pada siang harinya ibu pasien mengatakan bahwa,
anaknya mulai mengalami mencret disertai lendir dan tidak
didapatkan darah, berbau anyir, frekuensi BAB terhitung
sebanyak 5 kali dari siang hingga sore hari. Pada sore hari
pasien masih mengalami demam disertai lemas, nyeri pada
perut dan saat buang air besar kemudian oleh orang tuanya di
bawa ke klinik sore dokter Margareta. Dokter Margareta
menyarankan untuk Opname karena pasien masih mengalami
demam (tidak dapat memasukan obat penurun panas per rectal
karena diare) dan resiko untuk mengalami dehidrasi. Setelah
dari klinik pasien langsung dibawa ke IGD Bethesda dalam
keadaan lemas, demam, dan diare.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat Kejang Demam : (+)
o Pada saat usia 1 tahun  kejang 4 kali dalam 24 jam dengan
suhu 38 o C
o Pada saat usia 5 tahun pada tahun 2016
o Pada saat usia 6 tahun pada bulan Desember 2017
 Riwayat ISK : (+)
o Pada saat usia 5 tahun bersamaan dengan muncul kejang
demam yang kedua
o Pada saat usia 6 tahun bersamaan dengan muncul kejang
demam yang ketiga.
 Riwayat Demam Typoid : (-)
 Riwayat TBC : (-)
 Riwayat Asma : (-)
 Riwayat Demam Berdarah : (-)
4. Riwayat Penyakit Keluarga
 Kejang : (+) Kakak dari ayah pasien
 Infeksi saluran kemih : (-)
 Demam Tifoid : (-)
 Demam Berdarah : (-)
 Asma : (-)
 Alergi : (-)
5. Genogram

Keterangan : = perempuan = riwayat kejang demam


= laki-laki
= pasien

6. Riwayat Pengobatan
 Paracetamol
 Asam Valproat  terapi rumatan masuk bulan ke-4
7. Riwayat Alergi
 Makanan : (-)
 Obat : (-)
 Lain-lain : (-)
8. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah anak tunggal. Ayah pasien bekerja sebagai karyawan toko, ibu
pasien seorang ibu rumah tangga. Biaya RS ditanggung oleh BPJS.
Kesan : Keadaan sosial ekonomi cukup
9. Lifestyle
Aktivitas sehari-hari : pasien merupakan anak yang aktif di sekolah dan
rumah. Kesehariannya lebih sering bermain handphone dan hobi
menggambar. Sering lupa mencuci tangan sebelum makan dan setelah
aktifitas. Pasien tinggal dengan ayah dan ibu.
Makan & minum : Pasien makan nasi, lauk pauk 3-4x/hari, tidak minum susu
setelah stop ASI.
Lingkungan: ventilasi di rumah cukup sehingga sinar matahari dapat masuk
ke dalam rumah, tidak lembab, lokasi rumah berada pinggir jalan besar.
10. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
 Perawatan ANC  ibu pasien kontrol rutin ke dokter spesialis obstetri
ginekologi di RS Bethesda. Namun ibu pasien lupa mengenai detail
frekuensi dan waktu ANC.
 Riwayat sakit saat hamil  muntah berlebih (-), jatuh saat hamil (-),
hipertensi (-), diabetes (-), demam (-)
 Sudah vaksin TT
 Penolong kelahiran : bidan di RS Bethesda
 Cara Persalinan : spontan
 Keadaan bayi : sehat, cukup bulan, menangis kuat, kemerahan, gerak
aktif, ketuban jernih
 BBL : 3400 gram
 PB : 47-48 cm
Kesan: Riwayat ANC, neonatal aterm, dan persalinan baik
11. Riwayat Makan
 Usia 0-6 bulan : ASI
 Usia 7 bulan – 2 tahun : ASI dan MPASI
 Usia 2 tahun – sekarang : makan nasi, lauk pauk 3-4x/hari,
Kesan : Pemberian ASI, MPASI, makan baik
12. Riwayat Tumbuh Kembang
 Pertumbuhan
o BB lahir : 3400 gram
o TB lahir : 47 - 48 cm
o BB sekarang : 20 kg
o TB sekarang : 120 cm

Weight-for-age BOYS
5 to 10 years (z-scores)

3
55 55

50 50

45 2 45

40 40
Weight (kg)

1
35 35

0
30 30

-1
25 25

-2
20 -3 20

15 15

Months 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9
Years 5 6 7 8 9 10
Age (completed months and years)
2007 WHO Reference

Kesan : Berat badan sesuai usia dalam batas normal (Gizi baik)
Height-for-age BOYS
5 to 19 years (z-scores)

200 200
3

190 2 190

1
180 180
0
170 170
-1

160
-2 160

-3
Height (cm)

150 150

140 140

130 130

120 120

110 110

100 100

90 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9
90
Months
Years 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
Age (completed months and years)
2007 WHO Reference

Kesan : Tinggi badan sesuai usia dalam batas normal (tidak pendek)
BMI-for-age BOYS
5 to 19 years (z-scores)

36 36
3
34 34

32 32

30 30
2
28 28

26 26
BMI (kg/m²)

1
24 24

22 0 22

20 20
-1
18 18
-2
16 16
-3

14 14

12 12
Months 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9
Years 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
Age (completed months and years)
2007 WHO Reference

Kesan : IMT sesuai dengan usia dalam batas Normal


 Perkembangan
Motorik
Usia Motorik kasar Bahasa Sosial
halus
Mengangkat Memegang
3 bulan Tertawa/berteriak Bisa tersenyum
kepala mainan
Menoleh ke arah
4 bulan Membalik badan Mengamati Mengamati tangannya
suara
Menggaruk
Menirukan kata- Memasukkan
6 bulan Duduk manik-manik,
kata/mengoceh makanan ke mulut
meraih
9-10 Bangkit untuk Mengambil Berbicara satu Melambaikan tangan,
bulan berdiri kubus kata meminta
Menaruh
12 Berjalan Berbicara dua
kubus di Menirukan kegiatan
bulan berpegangan kata
cangkir
14 Mencorat- Menggunakan sendok
Berjalan sendiri Berbicara 3 kata
bulan coret garpu
Menyusun
20 Berjalan naik
menara dari Kombinasi kata Membuka pakaian
bulan tangga
kubus
Menyusun
Bicara sebagian Gosok gigi dengan
2 tahun Melempar bola menara dari
dimengerti bantuan
kubus
Mencuci dan
Berdiri 1 kaki 2 Menggoyangk Menyebut 1 mengeringkan tangan,
3 tahun
detik an ibu jari warna makan sendiri, minum
dengan cangkir

4-5 Mampu melompat Mampu Menyebut nama Memakai pakaian


tahun dan menari menggambar hewan
5-6 Mampu menendang Mampu Merangkai Patuh pada perintah
tahun menggambar kalimat dengan
dan mewarnai baik
7 tahun Aktivitas aktif Membuat Berkomunikasi Bermain dengan
prakarya lisan dan tulisan teman sebaya
Kesan : Riwayat tumbuh kembang pasien sesuai dengan usia, pasien sudah
bersekolah dan tidak ada kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah.
13. Riwayat Imunisasi
Ibu pasien menyatakan sudah membawa anaknya ke posyandu untuk imunisasi
dasar. Namun ibu pasien lupa detail jenis imunisasi, lengkap / tidaknya imunisasi,
dan waktu imunisasi. KMS sudah hilang.
Kesan : Imunisasi dasar yang diberikan kurang dapat dinilai
kelengkapannya.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada Kamis, 9 Mei 2018 pukul 15.00 Bangsal Galilea
III, Nomor 3D.
 Keadaan umum : Sedang
 Kesadaran : Compos Mentis (E4V5M6)
 Status Gizi
Berat badan : 20 kg
Tinggi badan : 120 cm
Berdasarkan BMI :
BB / (TB)2 = 20 / (1.20)2
= 13,8
BB Ideal =Usia (tahun) x 7 – 5 / 2
=7 x 7 – 5 / 2 = 22 kg
Status gizi : Rumus Waterlow
BB aktual x 100% / BB baku untuk TB aktual
= (20 x 100 % ) : 22 = 90,1 % (termasuk gizi baik)
 Vital sign
Nadi : 120x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 37 oC
 VAS :5
Status Generalis
 Kepala
- Kepala : Normocephali
- Mata : Sklera Ikterik (-/-), Conjungtiva Anemis (-/-), pupil isokor,
refleks cahaya (+/+), mata cekung (-)
- Hidung : Nafas cuping hidung (-), discharge hidung (-)
- Mulut : Mulut sianosis (-), mukosa oral kering (+)
- Telinga : Kelainan anatomi (-), edema (-), discharge telinga (-)
 Leher : Pembesaran KGB (-), nyeri tekan (-)
 Thorax :
Paru - paru
- Inspeksi : Tipe pernapasan abdomino-torakal, dinding dada
simetris, retraksi dinding dada suprasternal (-) substernal (-),
ketinggalan gerak dinding dada (-), penggunaan otot bantu napas(-)
- Palpasi : Nyeri tekan (-), ketinggalan gerak (-)
- Perkusi : Sonor kedua lapang paru
- Auskultasi : Vesikuler (+/+), wheezing (-/-), rhonki basah(-/-)
Jantung
- Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
- Palpasi : Iktus cordis teraba di SIC 4 linea midklavikula sinistra
- Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
- Auskultasi : Bunyi Jantung S1 S2 tunggal, bising (-)
Abdomen :
- Inspeksi : Jejas (-), distensi (-)
- Auskultasi : Peristaltik (+) 36 kali/menit
- Perkusi : Timpani, hepatomegali (-), splenomegali (-)
- Palpasi : Abdomen teraba supel, hepatomegali (-),
splenomegali(-),nyeri tekan (+), turgor kulit baik
Extremitas
Ekstremitas Superior Inferior
Akral Teraba hangat Teraba hangat

Edema -/- -/-

Capillary refill time < 2 detik < 2 detik

Tanda Dehidrasi menurut WHO


KRITERIA A B C
Keadaan umum Baik Lesu, lemas, haus Gelisah,
mengantuk, syok
Mata Biasa Cekung Sangat cekung
Mulut Biasa Kering Sangat kering
Turgor Baik Kurang Jelek
Interpretasi >= 2 tanda di kolom B : dehidrasi ringan-sedang
B. RESUME
Anak laki-laki berusia 7 tahun dibawa oleh kedua orang tuanya ke IGD RS
Bethesda dengan keluhan utama BAB cair tanpa lendir dan darah dengan
frekuensi 5x disertai demam dan lemas. Pasien sudah diberikan Parasetamol di
rumah tetapi belum membaik. Pasien baru pertama kali mengalami sakit seperti
ini. Di rumah tidak ada anggota keluarga lainnya yang mengalami hal serupa.
Menurut ibunya pasien mengalami hal ini setelah memakan nasi box dari Sekolah.
Pemeriksaan fisik menunjukkan anak dalam kondisi keadaan umum sedang,
kesadaran compos mentis, tanda vital menunjukkan denyut nadi 100x/menit, laju
napas 20 x/menit dan suhu tubuh 37 C. Pada pemeriksaan abdomen menunjukan
peningkatan bising usus dan nyeri tekan pada daerah umbilikus. Pemeriksaan
tanda-tanda dehidrasi didapatkan keadaan umum lemas dan mulut tampak kering
sehingga digolongan dehidrasi ringan-sedang.
C. DIAGNOSIS BANDING
Demam  ISK
Diare  Disentri Basiler
Disentri Amuba
Diare Cair Akut
D. PLANNING
 Pemeriksaan Darah Lengkap
 Pemeriksaan Feses (makros, mikros, dan pemeriksaan
E.histolitica)
 Pemeriksaan Urin (makros dan mikros

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah lengkap pada Selasa, 8 Mei 2018
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
Hemoglobin 12.7 g/dl 10.2-15.2
Leukosit 28.33 H ribu/mmk 5-17
Hitung jenis
Eosinofil 1.4 % 1-5
Basofil 0.6 % 0-1
Segmen neutrofil 77.6 H % 32-52
Limfosit 10.5 L % 23-53
Monosit 11.2 H % 2-11
Hematokrit 39 % 35-49
Eritrosit 4.82 Juta/mmk 4-5.3
RDW 11.4 % 11.5-14.5
MCV 80.9 Fl 80-94
MCH 26.4 Pg 26-32
MCHC 32.6 g/dl 32-36
Trombosit 223 Ribu/mmk 150-450
MPV 5.6 Fl 7.2-11.1
PDW 18.4 Fl 9-13
Golongan darah 0
Kesan: Pada pemeriksaan darah menunjukan tanda ke arah infeksi
Pemeriksaan feses rutin pada Selasa, 8 Mei 2018
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI
RUJUKAN
Makroskopik
Warna Coklat
Bau Amis
Konsistensi Cair
Lender Positif
Sel
Leukosit 10-20 /LPB Negatif
Sel eritrosit 4-5 /LPB Negatif
Sel epitel Negatif /LPB Negatif
Telur cacing
Ascaris lumbricoides Negatif /LPK Negatif
Ankylostoma Negatif /LPK Negatif
duodenale
Oxyuris vermicularis Negatif /LPK Negatif
Taenia sp Negatif /LPK Negatif
Strongyloides sterco Negatif /LPK Negatif
Trichuris trichiura Negatif /LPK Negatif
Sisa makanan
Serat damaging Negatif LPB Negatif
Granula amilum Negatif LPB Negatif
Globul lemak Negatif LPB Negatif
Kuman
Entamoeba histolitica Positif Negatif
Entamoeba coli Negatif Negatif
Giardia lamblia Negatif LPB Negatif
Kista negatif LPB Negatif
Kesan : pada pemeriksaan feses didapatkan lendir, darah, dan parasit E.
Histolitica
Pemeriksaan urin rutin pada Selasa, 8 Mei 2018
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
Warna Kuning
Berat Jenis <= 1.005 1.003 – 1.030
pH 6.50 4.5 – 8.0
Glukosa negatif mg/dl negatif
Protein negatif mg/dl negatif
Lekosit pucat negatif
Lekosit gelap +1
Sel gliter negatif
Eritrosit negatif
Epitel +1
Ca Oxalat negatif
Asam Urat negatif
Triple Fosfat negatif
Bacteria negatif
Jamur negatif
Sil. Hyalin negatif
Sil. Granula negatif
Sil. Epitel negatif
Sil. Eritrosit negatif
Sil Leukosit negatif
Lain-lain negatif
Kesan: Pada pemeriksaan urin masih dalam batas normal
F. DIAGNOSIS
Disentri amoeba dengan dehidrasi derajat ringan-sedang
G. RENCANA TERAPI
 Terapi Cairan (Cairan RL)
BB = 20 kg
10 kg pertama : 10 x 100 ml = 1000 ml
10 kg selanjutnya : 10 x 50 ml = 500 ml
Kebutuhan cairan 20 kg : 1000 + 500 ml = 1500 ml
Hidrasi per oral 2/3 kebutuhan cairan harian = 2/3 x 1500 = 1000 ml
Per infus  1/3 kebutuhan cairan harian = 500 ml
Kebutuhan cairan x jenis infus/ 24 (jam) x 60 (menit)
= 500 x 60/24x60 = 20,8 = 21 tpm mikro
Atau
= 500 x 20 / 24x60 = 6,9 = 7 tpm makro
 Antipiretik (jika demam)
Jika demam dapat diberikan paracetamol oral 10 mg/kgBB/x = 10 x 20 = 200
mg/x, dapat diberikan paracetamol sirup sediaan 120mg/5ml dengan dosis 10
ml/hari diminum 4x2 cth sehari.
R/ paracetamol syr 120 mg/5 ml No I
S.p.r.n 4.d.d 2 cth (demam)
 Antibiotik
Dosis Metronidazole : 30 mg/kgBB/hari, terbagi 3 dosis, selama 5 hari
Dosis yang dibutuhkan : 30 x 20 = 600 mg/hari , terbagi 3 dosis = 200
mg/kali
R/ metronidazole syrup 125 mg/5 ml No. I
S. 3.d.d. cth 2 pc
 Nutrisi
Makanan dengan menu yang sama saat anak sehat sesuai umur tetap
diberikan untuk mencegah kehilangan berat badan dan sebagai pengganti
nutrisi yang hilang
 Oralit
Diberi dengan dilarutkan dalam 200 ml air tiap kali BAB
R/ Oralit Sachet 200 ml No VI
S. ad. Lib (sesuka)
 Zinc
Usia diatas 6 bulan diberi tablet Zink 20 mg/hari , diberikan selama 10 hari.
R/ Zink Syr 10 mg/5 ml No I
S.1.d.d 2 cth
H. FOLLOW UP HARIAN
9 Mei 2018 10 Mei 2018
S: Demam (+), BAB cair (+), > 5x, Demam (-), BAB cair (+), 3x hari ini,
darah (-), lender (+), muntah (-) lender (-), darah (-), muntah (-)
KU: Sedang, Composmentis KU: Sedang, Composmentis
VS: T= 37,5°C; RR: 20x/mnt; HR= VS: T= 36,8°C; RR: 20x/mnt; HR=
122x/mnt 120x/mnt
Status Lokalis Status Lokalis
Kepala : mata cekung (-), napas cuping Kepala : mata cekung (-), napas
hidung (-), bibir kering (+) cuping hidung (-), bibir kering (-)
Thorax: Dinding dada simetris, suara Thorax: Dinding dada simetris, suara
paru vesikuler (+/+), rhonki(-/-), paru vesikuler (+/+), rhonki(-/-),
wheezing (-/-), dan jantung dalam wheezing (-/-), dan jantung dalam
batas normal. batas normal.
Abdomen: distensi (-), peristaltik (+), Abdomen: distensi (-), peristaltik (+),
nyeri tekan (+) nyeri tekan (-)
Eks: akral teraba hangat , CRT <2 dtk Eks: akral teraba hangat , CRT <2 dtk
, nadi kuat dan regular.
, nadi kuat dan regular.
A: Disentri Amoeba dengan dehidrasi A: Disentri Amoeba dengan dehidrasi
ringan-sedang ringan-sedang
P: Infus RL 21 tpm P: Infus RL 21 tpm
Paracetamol 4 x 10 cc Metronidazole 3 x 10 cc
Metronidazole 3 x 10 cc Oralit 200 ml
Oralit 200 ml Zink 1x 10 cc
Zink 1x 10 cc

11 Mei 2018
S: Demam (-), BAB cair (-), darah (-),
lender (-), muntah (-)
KU: Baik, Composmentis
VS: T= 36,8°C; RR: 20x/mnt; HR=
120x/mnt
Status Lokalis
Kepala : mata cekung (-), napas cuping
hidung (-), bibir kering (-)
Thorax: Dinding dada simetris, suara
paru vesikuler (+/+), rhonki(-/-),
wheezing (-/-), dan jantung dalam
batas normal.
Abdomen: distensi (-), peristaltik (+),
nyeri tekan (-)
Eks: akral teraba hangat , CRT <2 dtk
, nadi kuat dan regular.
A: Disentri Amoeba dengan dehidrasi
ringan-sedang
P: Infus RL 21 tpm
Metronidazole 3 x 10 cc
Oralit 200 ml
Zink 1x 10 cc
Besok BLPL
I. EDUKASI
 Oralit, berikan segera bila anak diare, untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi
 Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut, mengurangi lama dan beratnya
diare, mencegah berulangnya diare selama 2-3 bulan dan dapat
mengembalikan nafsu makan anak
 Makanan tetap diteruskan dengan menu yang sama pada waktu anak sehat
untuk mencegah kehilangan berat badan serta pengganti nutrisi yang hilang
 Antibiotik hanya diberikan pada diare berdarah, kolera dan diare dengan
masalah lain
 Segera kembali ke petugas kesehatan bila ada demam, tinja berdarah, muntah
berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare makin sering atau
belum membaik dalam 3 hari
 Menjaga higienitas dengan mencuci tangan sesudah aktivitas dan sebelum
makan
J. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad sanam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Definisi

Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali
dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari satu minggu (IDAI,
2014). Disentri merupakan kumpulan gejala penyakit seperti diare berdarah, lendir
dalam tinja, dan nyeri saat mengeluarkan tinja (IDAI, 2014). Disentri berasal dari
bahasa Yunani, yaitu dys (gangguan) dan enteron (usus), yang berarti radang usus yang
menimbulkan gejala meluas dengan gejala buang air besar dengan tinja berdarah, diare
berkonsistensi cair dengan volume sedikit, buang air besar dengan tinja bercampur
lendir (mucus) dan nyeri saat buang air besar (Farrar, 2013).

B. Epidemiologi

Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang


termasuk di Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan
pada anak, terutama usia di bawah 5 tahun. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2007 diperoleh bahwa diare masih merupakan penyebab kematian bayi
terbanyak yaitu 42% dibandingkan pnemonia 24%.
Prevalensi diare klinis adalah 9,0% (rentang: 4,2% - 18,9 %), tertinggi di Provinsi
NAD (18,9%) dan terendah di DI Yogyakarta (4,2%) yang dapat dilihat pada gambar
di bawah ini.
Berdasarkan pola penyebab kematian semua umur, diare merupakan penyebab
kematian peringkat ke 13 dengan proporsi 3,5%. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel
di bawah ini:

Prevalensi diare tertinggi adalah pada anak umur 12-23 bulan, diikuti umur 6-11
bulan dan umur 23-45 bulan seperti pada Gambar a.1. Dengan demikian seperti yang
diprediksi, diare banyak diderita oleh kelompok umur 6-35 bulan karena anak mulai
aktif bermain dan berisiko terkena infeksi

C. Etiologi

Penyebab disentri dibagi atas 2 bagian besar yaitu berdasarkan penyebabnya yaitu
bakteri dan amoeba.
- Disentri basiler
Disentri basiler disebabkan oleh kuman Shigella, s.p.. Shigella sendiri adalah basil
non motil gram negatif dalam family enterobacteriaceae. Ada 4 spesies dari Shigella
yaitu S. dysentriae, S. flexneri, S. bondii dan S. sonnei. Karena kekebalan tubuh kita
bersifat serotype spesifik maka seseorang dapat terinfeksi lebih dari 1 kali dengan tipe
yang berbeda-beda. Genus ini dapat menginvasi sel epitel intestinal dan menyebabkan
infeksi yang dapat menimbulkan gejala ringan hingga berat (Corwin, 2103).

- Disentri amoeba

Disentri dapat juga disebabkan oleh amoeba atau yang sering disebut amoebiasis.
Pada umumnya disebabkan oleh Entamoeba histolytica yang merupakan protozoa usus
yang sering hidup menjadi mikroorganisme apatogen di usus besar manusia. Apabila
kondisi seperti sistem imun yang rendah timbul, protozoa ini dapat menjadi pathogen
dengan cara membentuk koloni di dinding usus dan menembus dinding usus sehingga
menyebabkan ulserasi. Siklus hidup amoeba ini ada 2 bentuk yaitu bentuk trofozoit
dan bentuk kista (Nelson, 2015).

Bentuk trofozoit ada 2 macam, yaitu trofozoit komensal (berukuran < 10 mm) dan
trofozoit patogen (berukuran > 10 mm). Trofozoit komensal dapat dijumpai di lumen
usus tanpa menyebabkan gejala penyakit. Bila pasien mengalami diare, maka trofozoit
akan keluar bersama tinja. Sementara trofozoit patogen yang dapat dijumpai di lumen
dan dinding usus (intraintestinal) maupun luar usus (ekstraintestinal) dapat
mengakibatkan gejala disentri. Diameternya lebih besar dari trofozoit komensal (dapat
sampai 50 mm) dan mengandung beberapa eritrosit di dalamnya (Robin, 2014). Hal
ini dikarenakan trofozoit patogen sering menelan eritrosit (haematophagous
trophozoite). Bentuk trofozoit ini bertanggung jawab terhadap terjadinya gejala
penyakit namun cepat mati apabila berada di luar tubuh manusia. Bentuk kista juga
ada 2 macam, yaitu kista muda dan kista dewasa. Bentuk kista hanya dijumpai di
lumen usus. Bentuk kista bertanggung jawab terhadap terjadinya penularan penyakit
dan dapat hidup lama di luar tubuh manusia serta tahan terhadap asam lambung dan
kadar klor standard di dalam sistem air minum. Diduga kekeringan akibat penyerapan
air di sepanjang usus besar menyebabkan trofozoit berubah menjadi kista (Nelson
2015).

Siklus hidup dari E.histolytica adalah kista matur yang masuk secara oral akan
melalui proses excystation yang akan menjadi stadium trofozoit dimana lebih aktif dan
bermultiplikasi di usus besar dan menyebabkan ulserasi. Beberapa trofozoit dapat
menyebar ke ekstraintestinal dan menyebabkan abses di daerah lain seperti hepar dan
otak. Beberapa akan berkembang menjadi kista kembali dan keluar melalui feses dan
dapat menginfeksi orang lain kembali yang terpapar (Corwin, 2013).

D. Patofisiologi
Trofozoit yang mula-mula hidup sebagai komensal di lumen usus besar

dapat berubah menjadi patogen sehingga dapat menembus mukosa usus dan

menimbulkan ulkus. Akan tetapi faktor yang menyebabkan perubahan ini

sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Diduga baik faktor kerentanan

tubuh pasien, sifat keganasan (virulensi) amoeba, maupun lingkungannya

mempunyai peran. Amoeba yang ganas dapat memproduksi enzim

fosfoglukomutase dan lisozim yang dapat mengakibatkan kerusakan dan

nekrosis jaringan dinding usus (Corwin, 2013).

E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada disentri amoeba dapat berbeda-beda tergantung atas proses
invasi yang timbul serta penyebaran yang terjadi (Nelson, 2015).
 Carrier (Cyst passer)
Pasien dalam kondisi ini tidak akan timbul gejala apa pun, hal ini disebabkan
karena amoeba yang berada di lumen usus besar tidak mengadakan proses invasi ke
dinding usus besar. Meskipun begitu seseorang dengan kondisi seperti ini masih dapat
menularkan ke orang lain melalui feses yang mengandung kista dari E.histolytica.
(Nelson, 2015).

 Disentri amoeba ringan

Pasien dengan disentri amoeba ringan timbul gejalanya akan perlahan-lahan.


Penderita biasanya mengeluhkan perut kembung, terkadang juga mengeluhkan nyeri
perut ringan yang hilang timbul. Diare yang timbul dapat 4 – 5 kali sehari dengan tinja
yang berbau busuk dan terkadang dapat ditemukan lendir serta darah. Nyeri tekan yang
dapat timbul berdasarkan atas lokasi dimana ulkus tersebut timbul. Keadaan umum
pasien pada umumnya baik dengan tanpa demam atau subfebris (Nelson, 2015).

 Disentri amoeba sedang


Keluhan serta gejala klinis yang timbul lebih berat dibandingkan dengan disentri
ringan tetapi pasien tetap dapat melakukan kegiatan sehari-hari tanpa gangguan. Pada
tinja sering ditemukan lendir serta darah. Pasien dapat mengeluhkan demam, lemah,
serta nyeri perut (Nelson, 2015).

 Disentri amoeba berat


Keluhan yang timbul akan lebih berat dimana akan timbul diare yang lebih banyak
dengan darah yang lebih banyak juga. Dapat timbul demam tinggi serta rasa mual.
Pada kondisi ini juga sering ditemukan gejala anemia yang disebabkan oleh hilangnya
darah melalui saluran cerna (Nelson, 2015).

F. Penegakan Diagnosis (IDAI, 2014)


 Anamnesis
 Lama diare berlangsung, frekuensi diare sehari, warna dan konsistensi tinja, lendir
dan darah dalam tinja
 Muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun, BAK terakhir, demam,
sesak, kejang, kembung
 Jumlah cairan yang masuk selama diare
 Jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare, mengonsumsi makanan
yang tidak biasa
 Penderita diare disekitarnya dan sumber air minum
 Pemeriksaan fisik
 Keadaan umum, kesadaran dan tanda vital
 Tanda utama dehidrasi
 Tanda gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, seperti napas cepat dan
dalam (asidosis metabolik), kembung (hipokalemia), kejang (hipo atau hipernatremia)
 Pemeriksaan fisik abdomen
 Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan Feses
- Pemeriksaan Darah
G. Tata Laksana

Menurut Kemenkes RI (2011), prinsip tatalaksana diare pada balita adalah LINTAS
DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung oleh Ikatan Dokter Anak
Indonesia dengan rekomendasi WHO. Rehidrasi bukan satu - satunya cara u ntuk
mengatasi diare tetapi memperbaiki kondisi usus serta mempercepat
penyembuhan/menghentikan diare dan mencegah anak kekurangan gizi akibat diare
juga menjadi cara untuk mengobati diare. Adapun program LINTAS DIARE yaitu:

1. Rehidrasi menggunakan Oralit osmolalitas rendah

2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut - turut

3. Teruskan pemberian ASI dan Makanan

4. Antibiotik Selektif

5. Nasihat kepada orang tua/pengasuh

1. Oralit

Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga dengan
memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah
tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang. Oralit saat ini yang beredar di pasaran
sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat mengurangi rasa
mual dan mun tah. Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk
mengganti cairan yang hilang. Bila penderita tidak bisa minum harus segera di bawa
ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan melalui infus . Pemberian
oralit didasarkan pada de rajat dehidrasi (Kemenkes RI, 2011).

a. Diare tanpa dehidrasi

Umur < 1 tahun : ¼ - ½ gelas setiap kali anak mencret

Umur 1 – 4 tahun : ½ - 1 gelas setiap kali anak mencret

Umur diatas 5 Tahun : 1 – 1½ gelas setiap kali anak mencret

b. Diare dengan dehidrasi ringan sedang

Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya
diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.

c. Diare dengan dehidrasi berat

Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk
di infus.

Jumlah oralit
Umur yang diberikan Jumlah oralit yang disediakan di rumah
tiap BAB

< 12 bulan 50 - 100 ml 400 ml/hari ( 2 bungkus)

1 - 4 tahun 100 - 200 ml 600 - 800 ml/hari ( 3 - 4 bungkus)

> 5 tahun 200 - 300 ml 800 - 1000 ml/hari (4 - 5 bungkus)

Dewasa 300 - 400 ml 1200 - 2800 ml/hari


Tabel 2. Kebutuhan Oralit per Kelompok Umur

2. Zinc

Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat
menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase ), dimana ekskresi enzim
ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga
berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan
fungsi selama kejadian diare (Kemenkes RI, 2011).

Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan
diare, mengurangi frek uensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta
menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Berdasarkan bukti
ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak mengalami diare.

Dosis pemberian Zinc pada balita:

a. Umur < 6 bulan : ½ tablet (10 mg) per hari selama 10 hari

b. Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari selama 10 hari.

Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti. Cara pemberian
tablet zinc : Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, sesudah larut
berikan pada anak diare (Kemenkes RI, 2011).

3. Pemberian ASI/makanan

Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita
terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat
badan. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering di beri ASI. Anak yang minum
susu formula juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan atau lebih
termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan makanan yang
mudah dicerna da n diberikan sedikit lebih sedikit dan lebih sering. Setelah diare
berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu
pemulihan berat badan (Kemenkes RI, 2011).

4. Pemberian antibiotika hanya atas indikasi

Antibiotika tidak boleh dig unakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare pada
balita yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita
diare dengan darah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera (Kemenkes RI,
2011).

Di tingkat pelayanan primer semua diare berdarah selama ini dianjurkan untuk diobati
sebagai shigellosis dan diberi antibiotik kotrimoksazol. Jika dalam 2 hari tidak ada
perbaikan, dianjurkan untuk kunjungan ulang untuk kemungkinan mengganti
antibiotiknya. Yang paling baik adalah pengobatan yang didasarkan pada hasil
pemeriksaan tinja rutin, apakah terdapat amuba vegetatif. Jika positif maka berikan
metronidazol dengan dosis 50 mg/kg/BB dibagi tiga dosis selama 5 hari. Jika tidak ada
amuba, maka dapat diberikan pengobatan untuk Shigella.

5. Pemberian Nasihat

Menurut Kemenkes RI (2011), ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita
harus diberi nasehat tentang:

1. Cara memberikan cairan dan obat di rumah

2. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila :

a. Diare lebih sering

b. Muntah berulang

c. Sangat haus

d. Makan/minum sedikit

e. Timbul demam

f. Tinja berdarah
g. Tidak membaik dalam 3 hari.

J. Upaya Pencegahan

Pencegahan diare menurut Pedoman Tatalaksana Diare Depkes RI (2011) adalah


sebagai berikut:

1. Pemberian ASI

ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibodi dan zat
- zat lain yang dikandungnya. ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare pada
bayi yang baru lahir. Pemberian ASI eksklusif mempunyai daya lindung 4 kali lebih
besar terhadap diare daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu botol. Flora
usus pada bayi - bayi yang disusui mencegah tumbuhnya bakteri penyebab diare
(Depkes RI, 2011).

Pada bayi yang tidak diberi ASI secara penuh, pada 6 bulan pertama kehidupan resiko
terkena diare adalah 30 kali lebih besar. Pemberian susu formula merupakan cara lain
dari menyusui. P enggunaan botol untuk susu formula biasanya menyebabkan risiko
tinggi terkena diare sehingga bisa mengakibatkan terjadinya gizi buruk (Depkes RI,
2011).

2. Pemberian Makanan Pendamping ASI

Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap mulai
dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Pada masa tersebut merupakan masa yang
berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian makanan pendamping ASI dapat
menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diare ataupun penyakit lain yang
menyebabkan kematian (Depkes RI, 2011).

Ada beberapa saran yang dapat meningkatkan cara pemberian makanan pendamping
ASI yang lebih baik yaitu :

a) Memperkenalkan makanan lunak, ketika anak berumur 4 - 6 bulan tetapi masih


meneruskan pemberian ASI. Menambahkan macam makanan sewaktu anak berumur
6 bulan atau lebih. Memberikan makanan lebih sering (4 kali sehari) setelah anak
berumur 1 tahun, memberikan semua makanan yang dimasak dengan baik 4 - 6 kali
sehari dan meneruskan pemberian ASI bila mungkin.

b) Menambahkan minyak, lemak dan gula ke dalam nasi/bubur dan biji - bijian untuk
energi. Menambahkan hasil olahan susu, telur, ikan, daging, kacang – kacangan, buah
- buahan dan sayuran berwarna hijau ke dalam makanannya. Mencuci tangan sebelum
menyiapkan makanan dan menyuapi anak, serta menyuapi anak dengan sendok yang
bersih.

c) Memasak atau merebus makanan dengan benar, menyimpan sisa makanan pada
tempat yang dingin dan memanaskan dengan benar sebelum diberikan kepada anak

(Depkes RI, 2011)

3. Menggunakan air bersih yang cukup

Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fecal - oral
mereka dapat ditularkan dengan memasukkan kedalam mulut, cairan atau benda yang
tercemar dengan tinja misalnya air minum, jari - jari tangan, makanan yang disiapkan
dalam panci yang dicuci dengan air tercemar (Depkes RI, 2011).

Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang benar - benar bersih mempunyai
resiko menderita diare lebih kecil dibandingkan dengan masyarakat yang tidak
mendapatkan air bersih (Depkes RI, 2011).

Masyarakat dapat mengurangi resiko terhadap serangan diare yaitu dengan


menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari
sumbernya sampai penyimpanan di rumah (Depkes RI, 2011).

Yang harus diperhatikan oleh keluarga adalah :

a) Air harus diambil dari sumber terbersih yang tersedia.

b) Sumber air harus dilindungi dengan menjauhkannya dari hewan, membuat lokasi
kakus agar jaraknya lebih dari 10 meter dari sumber yang digunakan serta lebih rendah,
dan menggali parit aliran di atas sumber untuk menjauhkan air hujan dari sumber.

c) Air harus dikumpulkan dan disimpan dalam wadah bersih. Dan gunakan gayung
bersih bergagang panjang untuk mengambil air.

d) Air untuk masak dan minum bagi anak harus dididihkan.

(Depkes RI, 2011)

4. Mencuci Tangan

Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam


penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun,
terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan
makanan, sebelum menyuapi makanan anak dan sebelum makan, mempunyai dampak
dalam kejadian diare (Depkes RI, 2011).

5. Menggunakan Jamban

Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban


mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko terhadap penyakit diare.
Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban, dan keluarga harus
buang air besar di jamban (Depkes RI, 2011).

Yang harus diperhatikan oleh keluarga :

a) Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat dipakai oleh
seluruh anggota keluarga.

b) Bersihkan jamban secara teratur.

c) Bila tidak ada jamban, jangan biarkan anak - anak pergi ke tempat buang air besar
sendiri, buang air besar hendaknya jauh dari rumah, jalan setapak dan tempat anak -
anak bermain serta lebih kurang 10 meter dari sumber air, hindari buang air besar tanpa
alas kaki.
(Depkes RI, 2011)

6. Membuang Tinja Bayi yang Benar

Banyak orang beranggapan bahwa tinja anak bayi itu tidak berbahaya. Hal ini tidak
benar karena tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak - anak dan
orangtuanya. Tinja bayi harus dibuang secara bersih dan benar, berikut hal - hal yang
harus diperhatikan:

a) Kumpulkan tinja anak kecil atau bayi secepatnya, bungkus dengan daun atau kertas
koran dan kuburkan atau buang di kakus.

b) Bantu anak untuk membuang air besarnya ke dalam wadah yang bersih dan mudah
dibersihkan. Kemudian buang ke dalam kakus dan bilas wadah nya atau anak dapat
buang air besar di atas suatu permukaan seperti kertas koran atau daun besar dan buang
ke dalam kakus.

c) Bersihkan anak segera setelah anak buang air besar dan cuci tangannya

(Depkes RI, 2011)

7. Pemberian Imunisasi Campak

Diare sering timbul menyertai campak sehingga pemberian imunisasi campak juga
dapat mencegah diare oleh karena itu beri anak imunisasi campak segera setelah
berumur 9 bulan (Depkes RI, 2011).

Anak harus diimunisasi terhadap campak secepat mungkin setelah usia 9 bulan. Diare
dan disentri sering terjadi dan berakibat berat pada anak - anak yang sedang menderita
campak dalam 4 mingggu terakhir. Hal ini sebagai akibat dari penurunan kekebalan
tubuh penderita. Selain imunisasi campak, anak juga harus mendapat imunisasi dasar
lainnya seperti imunisasi BCG untuk mencegah penyakit TBC, imunisasi DPT untuk
mencegah penyakit diptheri, pertusis dan tetanus, serta imunisasi polio yang berguna
dalam pencegahan penyakit polio (Depkes RI, 2011).

H. Prognosis
Prognosis ditentukan dari berat ringannya penyakit, diagnosis dan pengobatan dini
yang tepat serta kepekaan amoeba terhadap obat yang diberikan. Pada umumnya
prognosis amebiasis adalah baik terutama pada kasus tanpa komplikasi.

BAB III

DAFTAR PUSTAKA

Farrar J, Hotez FJ, Junghanss T, Kang G, Lalloo D, White N. Acute diarrhea.


Manson’s Tropical Diseases. Elsevier; 2013.

Corwin, EJ, Buku saku patofisiologi , 3 edn, EGC, Jakarta. 2013

Departement Kesehatan RI, Buku Saku Lintas Diare, Jakarta 2011

IDAI. Pedoman Pelayanan Medis Jilid I. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak
Indonesia. 2014

Nelson Textbook of Pediatrics 18th Edition. Saunders Elsevier, Philadelphia 2015

Kumar, V., Cotran, R.S., dan Robbins S.L. Buku Ajar Patologi. Edisi 7 ; ali Bahasa,
Brahm U, Pendt ;editor Bahasa Indonesia, Huriawati Hart anto, Nurwany Darmaniah,
Nanda Wulandari. - ed.7 - Jakarta: EGC. 2013

WHO, IDAI. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: WHO
Indonesia, 2011.