Anda di halaman 1dari 47

BAB VI

ESTIMASI BEBAN PENDINGINAN

A. Macam-macam beban pendinginan


Beban panas yang menjadi beban pendinginan umumnya berasal dari
bermacam-macam sumber yang berbeda. Adapun sumber panas yang umum adalah:
1. Panas yang berasal dari sisi luar dinding berisolasi transparan (melalui konduksi).
2. Panas yang masuk melalui kaca atau bahan-bahan transparan (melalui radiasi).
3. Panas yang dibawa udara dari luar ruang pendingin.
4. Panas yang berasal dari produk/benda-benda yang didinginkan.
5. Panas yang berasal dari pekerja /operator.
6. Panas yang berasal dari peralatan yang di simpan di dalam ruangan seperti motor
listrik, lampu, peralatan listrik lainnya.

Pada prakteknya tidak selalu semua jenis sumber panas di atas merupakan beban
pendinginan tergantung dari pemakaiannya saja. Seandainya semua sumber panas itu
ada atau bahkan dari sumber lainnya tidak tertulis di atas tentu mesti di perhitungkan
juga.

B. Waktu operasi (equipment running time)


Kapasitas pendinginan yang normal dinyatakan dalam BTU/jam, tapi untuk
menghitung jumlah beban pendinginan secara keseluruhan dihitung dalam waktu 24 jam
(BTU/24 jam). Kemudian untuk menentukan besarnya kapasitas mesin yang di
perlukan, beban total itu (BTU/jam) di bagi jumlah waktu operasi. Selengkapnya
perhitungan kapasitas mesin yang diperlukan dengan menggunakan persamaan 6-1.
(6-1)

Keterangan:
Q : Kapasitas mesin yang diperlukan (BTU/jam)
Qtotal : Jumlah beban pendinginan (Btu/24 jam)
t: Jumlah waktu mesin bekerja (jam)

Walau telah dinyatakan jumlah waktu mesin bekerja, tetapi tetapi pada saat evaporator
diselimuti es (dalam batas-batas tertentu) mesin itu akan berhenti bekerja untuk 103
memberikan kesempatan agar es yang menempel pada sirip-sirip evaporator mencair
(defrost). Setelah selesai mencair semua, baru mesin itu bekerja lagi. Lapisan es itu
berasal dari uap air yang ada di dalam udara yang disirkulasikan, karena didinginkan
sampai di bawah titik bekunya maka uap air itu membeku. Dengan tertutupinya lalu
lintas sirkulasi udara melalui koil pendingin, maka koil pendingin itu jadi terisolasi,
sehingga daya guna koil pendingin itu menurun. Air hasil defrost dialirkan keluar
ruangan pendingin.

Defrost (pencairan bunga es) dilakukan secara berkala dengan jalan menaikkan
temperatur evaporator (koil pendingin) sampai di atas titik cairnya dan dipertahankan
sampai beberapa saat agar semua bunga es mencair dengan sempurna, juga memberikan
kesempatan untuk mengalir keluar ruangan. Dengan demikian usaha untuk mendapatkan
efek pendinginan yang dikehendaki tertunda dulu. Cara untuk mencairkan bunga es itu
adalah dengan jalan menghentikan kompresor bekerja, artinya membiarkan temperatur
evaporator berangsur-angsur naik akibat panas yang ada di dalam ruangan dan bunga es
mencair. Cara ini disebut sebagai “off-cycle defrosting”, pencairan bunga es dengan
jalan menghentikan kompresor bekerja. Karena panas yang digunakan untuk
mencairkan bunga es itu berasal dari udara di dalam ruangan, tentu saja waktu yang
dibutuhkan relative lama. Berdasarkan pengalaman para ahli untuk “off-cycle
defrosting” ini waktu maksimum yang diijinkan mesin beroperasi adalah 16 jam kerja
untuk sehari semalam yang 8 jam lagi untuk pencairan bunga es, artinya beban
pendinginan per 24 jam mesti dapat ditanggulangi oleh manusia selama 16 jam bekerja.
0
Bila ruangan pendingin dipertahankan pada temperatur di bawah 34 F, cara
defrost “off cycle” tak dapat digunakan lagi sebab untuk mencairkan bunga es itu
0
diperlukan temperatur lebih tinggi dari 34 F akibatnya dapat merusak produk yang
0
disimpan. Oleh sebab itu untuk temperatur di bawah 34 F beberapa cara defrost
otomatis yang digunakan, antara lain dengan menggunakan pemanas buatan pada
evaporatornya baik dengan menggunakan pemanas listrik, menggunakan air atau dengan
mengalirkan ke dalam evaporator uap panas (hot gas) yang keluar dari kompresor. Cara
defrost itu dilakukan hanya dengan maksud agar pencairan bunga es dapat dilakukan
dengan cepat dan sempurna dibanding cara “off cycle”. Cara defrost otomatis digunakan
untuk sistem pendinginan yang bekerja maksimum antara 18-20 jam kerja/sehari
semalam tergantung dari berapa kali defrost mesti dilakukan. Sekali defrost memakan
waktu berapa lama (menit) dan lain-lain. Secara umum satu kali

104
0
dalam waktu 18 jam. Pada sistim pengkondisian udara temperatur kerjanya sekitar 40 F
tak diperlukan defrost karena kemungkinan adanya isolasi evaporator oleh lapisan es
kecil sekali. Oleh karena itu pada sistem pengkondisian udara direncanakan harus kerja
terus menerus dan beban pendinginan dihitung dalam BTU/jam.

C. Perhitungan beban pendinginan

Guna menyederhanakan perhitungan, beban pendingin itu dibagi dalam


beberapa macam beban panas tergantung dari asalnya panas itu bersumber. Setelah
didapatkan beban panas/tiap sumber baru dijumlahkan untuk mendapatkan jumlah total
beban pendinginan yang harus diatasi oleh mesin pendingin. Untuk sistem pendinginan
komersial jumlah beban pendinginan dibagi atas 4 kelompok beban panas secara
terpisah, seperti misalnya:
1. Beban panas dari dinding (the wall gain load)

Walaupun dinding bagian dalam diisolasi, tetapi karena tak ada isolasi yang
sempurna, maka tetap terjadi perpindahan kalor dari panas ke dingin. Pada setiap sistem
pendinginan pasti terjadi beban panas melalui dinding dan merupakan salah satu bagian
dari dari beban pendinginan. Tetapi untuk sistem penyejuk (chiller) biasanya beban
melalui dinding dianggap tidak ada, sebab luas dinding bagian chiller kecil dan
terisolasi dengan baik sehingga bocoran panas melalui dinding demikian kecil
bandingkan beban pendinginan secara total. Sebaliknya untuk sistem pengkondisian
udara untuk perumahan, komercial, untuk ruangan-ruangan penyimpanan (cold-
storage)justru beban panas melalui dinding merupakan bagian beban yang paling besar.
2. Beban panas dari pertukaran udara (the air change load)

Pada saat pintu ruangan yang dikondisikan terbuka, udara panas dari luar akan
masuk menggantikan sebagian udara dingin yang ada di dalam ruangan. Tentunya hal
ini akan mempengaruhi temperatur udara dalam ruangan pendingin. Panas dari udara ini
akan merupakan bagian dari beban pendinginan. Pada beberapa pemakaian, beban panas
udara ini tidak merupakan beban yang harus diperhitungkan. Seperti misalnya untuk
pendinginan cairan (liquid chiller) dimana tidak ada pintu atau lubang haluan lainnya
yang dapat menyebabkan mengalirnya beban panas. Sebaliknya pada sistem
pengkondisian udara beban panas udara ini mesti diperhitungkan. Udara panas itu dapat
masuk ke ruangan melalui celah-celah jendela, pintu atau bocoran lainnya atau
disengaja dialirkan masuk (tentu dalam batas tertentu) untuk ventilasi. Jika jumlah
penghuni suatu ruangan yang dikondisikan cukup banyak tentu udara segar (fresh air)
105
yang harus dimasukan banyak pula, sehingga sering kali beban panas dari udara ini
menjadi bagian terbesar dari beban pendinginan total.

Pada bidang pengkondisian udara (AC) udara segar itu disebut beban infiltrasi
atau beban ventilasi. Disebut beban ventilasi kalau udara segar yang sengaja dimasukan
untuk maksud ventilasi saja, untuk menggantikan udara yang telah kurang oksigennya
dengan udara segar. Sedangkan beban infiltrasi, jika udara segar yang masuk itu
merupakan udara infiltrasi yang masuk melalui celah-celah pintu, jendela dan bagian
lain dari rumah atau ruangan. Pada setiap sistem pengkondisian udara akan terdapat
salah satu dari beban udara, ventilasi atau infiltrasi, tetapi tidak kedua-duanya. Pada
setiap pendinginan untuk komersial, pintu-pintu dan celah-celah diberi perapat (seal)
yang baik, sehingga kalaupun ada kebocoran hanya dalam jumlah yang kecil. Dengan
demikian pada sistem pendinginan untuk komercial yang harus diperhitungkan adalah
beban panas dari udara yang masuk saat pintu terbuka.
3. Beban panas dari produk

Panas dari produk yang didinginkan sampai dapat mencapai temperatur kamar
pendingin merupakan beban yang harus ditanggulangi mesin pendingin. Macam-macam
produk dapat didinginkan seperti misalnya bahan makanan dan juga elektroda las,
betonan, plastik, karet dan segala jenis cairan. Bila suatu ruangan didinginkan untuk
maksud sebagai ruangan penyimpanan (cold storage), biasanya produk itu didinginkan
terlebih dahulu sebelum dimasukan ke dalam ruangan penyimpanan, sehingga dengan
demikian beban panas dari produk tidak jadi masalah lagi. Tetapi seandainya produk
yang disimpan itu bertemperatur di atas temperatur ruangan pendingin, tentu saja
produk itu mengeluarkan sejumlah panas yang menjadi bagian dari beban pendinginan
total. Ada juga produk yang dimasukkan bertemperatur di bawah temperatur ruangan
pendingin, dengan demikian sudah mengurangi beban pendinginan total. Seperti
0 0
misalnya es krim, es krim dibekukan pada temperatur antara 0 sampai 10 F, tetapi

0
disimpan pada temperatur 10 F. pada kasus ini justru produklah yang menyerap panas
dari udara di ruangan penyimpanannya.
Beban panas produk merupakan bagian dari beban pendinginan total, hanya
pada saat penurunan temperatur produk ke temperatur ruangan penyimpanan. Setelah
dicapai temperatur ruangan, tentu tidak ada lagi beban produk. Satu hal yang
dikecualikan adalah untuk produk buah-buahan dan sayur-sayuran yang tetap masih
mengeluarkan sejumlah panas respirasi walaupun telah dicapai temperatur

106
penyimpanannya. Ada 2 macam aplikasi pendinginan yaitu pendinginan sementara dan
terus menerus. Pada sistem pendinginan terus menerus (chilling coolers) produk yang
telah didinginkan sampai mencapai temperatur tertentu, setelah itu produk disimpan di
ruangan penyimpanan dan coolers itu diisi lagi dengan produk baru. Dengan demikian
beban produk tetap ada yang merupakan bagian terbesar dari beban pendinginan total.
Contoh lainnya adalah pendinginan cairan ( liquid chilling). Sedangkan pada sistem
pengkondisian udara tidak ada beban yang terus menerus terjadi, di sini jumlah beban
pendinginan total selalu berubah dari minimal ke maksimum atau sebaliknya,
tergantung pada keadaan dan pemakaian.
4. Beban panas dari alat-alat (beban tambahan)

Selain berbagai beban di atas ada juga beban tambahan seperti misalnya pada
saat ada beberapa pegawai/operator yang bekerja untuk selang waktu tertentu, juga
adanya perlengkapan lain yang dipakai (lampu, kipas angin, dan lain lain). Pada sistem
pendinginan komersial beban tambahan ini kecil jumlahnya, tetapi pada sistem
pengkondisian udara justru besar jumlahnya. Baban panas dari manusia, peralatan,
dianggap sebagai beban terpisah. Aplikasinya misalnya di gereja, gedung, bioskop,
restaurant, dan lain lain.

D. Faktor perpindahan panas melalui dinding (wall gain load)


Jumlah beban panas yang dipindahkan melalui bidang ruangan pendingin
tiap satuan waktu merupakan fungsi dari 3 faktor dari persamaan 6-2.
Q = A . U . ∆t (6-2)
Dimana:
Q = jumlah panas yang dipindahkan (BTU/jam)
2
A = luas permukaan dinding bagian dalam (ft )
2

U = angka koefisien perpindahan panas (BTU/jam/der. F/ft )

Faktor U atau koefisien perpindahan panas adalah ukuran jumlah panas yang
2
mengalir melalui luas permukaan dinding tiap 1 ft dari satu sisi ke sisi yang lain
0
dengan perbedaan tiap 1 F. Harga faktor U (BTU/jam) tergantung dari tebalnya dinding
dan material yang dipakai, dalam hal ini diusahakan agar perpindahan panas dapat
dicegah sebesar mungkin maka material yang digunakan untuk ruang penyimpanan
tentu dipilih bahan isolator yang baik dengan demikian dicari harga faktor U yang
serendah mungkin.
107
Berpatokan pada persamaan 6-2, jika faktor U telah ada maka jumlah panas
yang mengalir melalui dinding akan bergantung pada luas permukaan dinding dan pada
perbedaan temperatur diantara dua sisi dinding itu. Faktor U dinyatakan dalam
0 2
BTU/jam. F. ft maka jumlah total panas yang mengalir melalui suatu dinding tiap-tiap
2
jam dapat dicari dengan mengalikan faktor U dengan luas tembok (ft ) dan dengan
0

perbedaan temperatur diantara kedua sisi dinding ( F).

Carilah jumlah panas panas yang mengalir per jam melalui suatu dinding berukuran 12ft
0 2
x 22ft, jika faktor U dari tembok itu = 0,18 BTU/jam. F.ft dan perbedaan temperatur
0 0
diantara kedua sisi 45 F dan 100 F.
Jawab :
2
Luas tembok = 12 x 22 = 264 ft
0

Perbedaan temperatur = 100 – 45 = 55 F

Q = 264 x 0,18 x 55
Q = 2613,6 BTU/jam

Karena faktor U dinyatakan dalam jam, maka Q juga dinyatakan dalam jam. Untuk
mencari harga Q total dalam 24 jam, maka harga Q di atas dikalikan 24. Oleh karena itu
pers 6-2 jadi berubah :
Q = A . U . ∆t . 24 (6-3)

E. Menentukan harga faktor U (determination of the U faktor)


Harga faktor U untuk bermacam-macam jenis dinding yang di pakai pada ruang
pendingin dapat dilihat pada tabel 6-1 sampai 6-3.
Contoh 2:

Dari tabel 6-1 (Lampiran 1, 159), carilah harga faktor U dinding yang terdiri dari 4 inch
ubin keramik (clay-tile) dan berinsulasikan kayu gabus setebal 6 inch.
Jawab :

Dari gambar ke 3 pada Tabel 6-1 didapat keterangan tentang ubin keramik 4 inch dan
0 2
insulasi 6 inch. Faktor U-nya 0,046 BTU/jam. F.ft .
Faktor U untuk tiap jenis dinding tembok dapat segera dihitung kalau
konduktivitas bahan yang dipakai sudah diketahui. Konduktivitas panas dari bahan yang
umum dipakai untuk ruangan pendingin dapat dilihat dalam tabel-tabel, juga biasanya
diberikan oleh pabrik pembuatan bahan dinding tembok tertentu. Pada tabel 6-4 dapat
108
dilihat konduktivitas panas dari bahan yang biasa dipakai pada ruangan pendingin.
Faktor konduktivitaspanas juga disebut faktor k dan dinyatakan dalam BTU/jam, faktor
itu menyatakan jumlah panas yang mengalir melalui penampang material tembok
2 0
dinding seluas 1 ft , tebalnya 1 inch untuk perbedaan temperatur tiap 1 F.
Faktor k atau konduktivitas panas dipakai hanya untuk bahan bahan yang
homogen saja dan harga faktor k selalu untuk bahan dinding setebal 1 inch, sedangkan
faktor C (thermal conductance) dapat digunakan untuk bahan yang homogen maupun
tidak homogen dan biasanya nilai faktor C itu tergantung dari tebalnya bahan. Untuk
sembarang bahan yang homogen, faktor C dapat dicari dengan cara membagi harga
faktor K dengan tebalnya material yang digunakan x inch. Persamaan untuk yang
homogen disajikan pada persamaan 6-4.
C=k/x (6-4)
Dimana:
x = tebal material/bahan,
inch Contoh 3:
Carilah besarnya harga faktor C untuk kayu gabus setebal 4 inch.
Jawab:
0 2

Dari tabel 6-4 (Lampiran 4, 162), didapat faktor k = 0,30 BTU/jam. F.inch.ft

0 2
C = 0,30/4 = 0,075 BTU/ jam. F.ft

Rongga udara

Gambar 6-1 blok beton

Karena jumlah perpindahan panas melalui bahan bahan yang non homogen, seperti
misalnya pada Gambar 6.1, akan bervariasi pemakaiannya dengan berlapis-lapis
material yang berlainan, maka faktor C nya harus dicari dengan suatu cara yang didapat
dari percobaan-percobaan. Tahanan panas dari suatu material merupakan kebalikan
(invers) dari kemampuan suatu bahan untuk mengalirkan panas. Oleh karenanya tahan
109
panas dari suatu tembok dapat dinyatakan sebagai rentetan dari beberapa koefisien
perpindahan panas. Tahanan panas suatu material (over-all thermal resistance) = 1/U.
tahanan panas untuk masing-masing bahan 1/k atau 1/C atau x/k. 1.k dan 1/C untuk
bahan tunggal (single material ) hanya dari satu sisi ke permukaan sisi lainnya, belum
termasuk tahanan panas lapisan udara (thin fil of air). Untuk mencari besarnya tahanan
panas untuk suatu aliran panas dari satu sisi dinding ke sisi lain, tahanan film udara
kedua sisi mesti diperhitungkan juga. Koefisien film udara untuk kecepatan angina rata-
rata dapat dilihat pada Tabel 6-5A (Lampiran 5, 163). Jika suatu tembok terdiri dari
beberapa lapisan material berbeda, maka total tahanan panasnya merupakan jumlah
tahanan dari masing-masing bahan yang tergabung dalam tembok itu termasuk juga
lapisan film udara.
1/U = 1/f1 + x/k1 + x/k2 + … + 1/fd (6-5)
Atau:

U=

Dimana :

1/f1 = harga 1/C (conductance ) dari permukaan lapisan sisi luar tembok, langit-langit,
lantai
Contoh 4:

Hitunglah harga faktor U untuk dinding yang terdiri dari lempengan-lempengan batu
campura setebal 12 inch, insulasi kayu gabus 5 inch, luarnya dilapisi plesteren semen
setebal 0,6 inch.
Jawab :
Dari tabel 6-4 didapat:
12 inch lempengan batu campuran C = 0,53
Insulasi kayu gabus k = 0,30
Plesteren semen k = 8,00
Dari tabel 6-5a didapat :
Permukaan dalam f d = 1,65
Permukaan luar f1 = 4,00
1/U = ¼ + 1/0,53 + 5/0,3 + 0,6/8 + 1/1,65
= 0,25 + 1,887 + 16,67 + 0,075 + 0,606
= 19,488
110
2
Jadi U = 1/19,488 = 0,051314 BTU/jam/der.F/ft
Secara umum, lapisan bahan-bahan tembok kecuali insulasi mempunyai harga
1/C (conductance) yang kecil, akibatnya tentu mempunyai efek yang kecil pula. Oleh
karena itu pada instalasi pendingin yang kecil, lebih efisien kalau hanya dianggap
lapisan insulasi saja sebagai faktor U.

F. Perbedaan temperatur diantara dinding ruangan pendingin


Perbedaan temperatur yang dimaksud di sini adalah perbedaan temperatur di
dalam ruangan yang didinginkan/direncanakan dengan temperatur udara di dalam
ruangan. Temperatur dalam ruangan dipertahankan pada temperatur tertentu tergantung
pada jenis produk yang disimpan dan juga terhadap lamanya waktu produk itu
disimpan, untuk menentukan temperatur ruangan pendingin untuk jenis produk tertentu
dapat dilihat pada tabel 6-10 sampai 6-13 (Lampiran 10 - Lampiran 13, hal: 173-179).

Temperatur udara luar tergantung pada lokasi ruangan pendingin itu berada.
Untuk ruangan yang berada di dalam ruangan lain, maka temperatur udara luar diambil
sama dengan temperatur udara didalam ruangan itu. Jika dinding – dinding ruang
pendingin yang direncanakan terkena langsung cahaya matahari, maka temperatur udara
luarlah yang dipilih. Pada tabel 6-6 (Lampiran 6, 164) diperlihatkan temperatur udara
luar rata-rata pada kondisi normal. Tapi tabel ini tidak tepat jika digunakan untuk
menghitung beban untuk pengkondisian udara (AC).

G. Perbedaan temperatur diantara lantai dan langit-langit

Jika ruang pendinginnya (cooler) terdapat di dalam ruang lain dan diantara
langit-langit ruang pendingin dengan langit-langit bangunan induk terdapat ruang antara
sehingga udara dapat bersirkulasi dengan bebas, maka atap ruangan pendingin itu
dianggap sama temperaturnya dengan dinding-dinding bagian dalam. Sebaliknya jika
langit-langit ruang pendingin langsung terkena sinar matahari, maka langit-langit
dianggap sama seperti atap bangunan. Demikian juga halnya dengan lantai, kecuali jika
lantai ruang pendingin itu langsung berada diatas tanah. Untuk temperatur tanah di
bawah plesteran/aduakan hanya berkisar sedikit bedanya dan selalu dianggap lebih
rendah daripada temperatur ruangan pada musim panas. Untuk mencari perbedaan
temperatur lantai dengan tanah dapat dilihat pada tabel 6-6A (Lampiran 6, 167). Tabel
ini dibuat berdasarkan temperatur bola kering (dry bulb) di musim dingin.

111
Ada 2 macam temperatur yaitu temperatur bola kering (dry bulb) dan temperatur
bola basah (wet bulb ), temperatur dry bulb biasanya lebih tinggi disbanding wet bulb-
nya. Gunanya ke 2 macam temperatur itu adalah untuk mengetahui property udara. Pada
pengukuran temperatur yang lazim dilakukan, adalah temperatur bola kering (dry-bulb).

H. Pengaruh radiasi matahari

Jika dinding ruangan pendingin terkena pengaruh pantulan sinar radiasi, baik
dari matahari, maupun dari benda lain yang memancarkan panasnya, maka temperatur
permukaan dinding luar selalu dianggap lebih tinggi dari temperatur udara sekitarnya.
Contoh gamblang yang dapat ditunjukkan adalah jika sebuah mobil parkir di tempat
terbuka pada saat matahari terbit, temperatur dinding luar mobil (yang terbuat dari
logam) akan lebih panas daripada temperatur udara sekelilingnya. Berapa lebih
panasnya tergantung pada jumlah panas radiasi yang mengenai permukaan mobil itu dan
juga tergantung pada faktor pantulan permukaan. Permukaan yang yang berwarna muda
dan licin cenderung untuk memantulkan lebih banyak sinar dan juga menyerap panas
radiasi lebih sedikit dibanding permukaan yang kasar dan bewarna gelap.

Setiap terjadi kenaikan temperatur pada dinding luar akan membawa dampak
pada perbedaan temperatur di dalam ruangan dan di luar ruangan. Perbedaan temperatur
itu tergantung pada posisi matahari dengan demikian tidak selalu tepat, untuk itu
diperlukan faktor koreksi yang dapat dilihat pada tabel 6-7 (Lampiran 7, 170). Harga
dari tabel itu ditambahkan pada perbedaan temperatur normal. Untuk dinding yang
menyerong letaknya, dapat diambil harga rata-ratanya.

I. Perhitungan beban panas dari dinding


Beban panas dari dinding termasuk lantai dan langit-langit harus dicari satu
persatu untuk kemudian dijumlahkan. Jika beberapa dinding atau bagian dari dinding
berbeda konstruksinya serta mempunyai faktor U yang berbeda, maka beban panasnya
mesti dihitung secara terpisah. Tetapi untuk dinding yang mempunyai nilai-nilai yang
sama, dapat dihitung secara gabungan. Juga bila terdapat perbedaan U yang kecil atau
beda luas dinding yang sedikit saja, maka perbedaan itu dapat dianggap tidak ada.
Contoh 5:
Sebuah lemari pendingin (walk in cooler) berukuran 18 ft x 22 ft x 12 ft, ditempatkan di
sudut barat daya sebuah took di Dallas, Texas (lihat Gambar 6.2). Dinding lapisan selatan
dan barat lemari itu menghadap ke arah selatan dan barat gedungnya. Tinggi 112
toko itu 16 ftsehingga ada jarak antara dinding atas lemari dengan langit-langit selebar 4
0
ft. temperatur udara di dalam toko itu dipertahankan 80 F dan temperatur di dalam
0
lemari pendingin diinginkan 35 F. Carilah beban panas dari dinding lemari pendingin
itu jika konstruksinya terdiri dari :
a. Dinding luar, bagian selatan dan barat terdiri dari 6 inch bata (clay tile), 6 inch
kayu gabus (cork board), 0,5 inch lapisan plesteran semen (dari sisi dalam).

b. Dinding dalam, bagian utara dan timur terdiri dari : 1 inch lempengan kayu, 2
sisi, diganjal kayu 2 x 4 dilapisi kayu gabus kasar setebal 3 5/8 inch (granulated
cork).
c. Langit-langit, bahannya sama seperti dinding bagian utara dan selatan

d. Lantai terdiri dari 4 inch kayu gabus lempengan yang ditaruh diatas adukan
semen (slab) setebal 5 inch, kemudian bagian atasnya dilapisi betonan setebal 3
inch.

Gambar 6.2 Denah toko


Jawab:
Luas permukaan dinding
 2
Utara 12 x 18 = 216 ft
 2
Barat 12 x 22 = 264 ft
 2
Selatan 12 x 18 = 216 ft
 2
Timur 12 x 22 = 264 ft
 2
Langit-langit 18 x 22 = 396 ft

113

2
Lantai 18 x 22 = 396 ft
Faktor U dari tabel 6-1, 6-2, 6-3.
Untuk dinding bagian utara dan timur U = 0,079 BTU/jam/der.F/ ft
2
Untuk dinding selatan dan barat = 0,045
Untuk lantai = 0,066
Untuk langit-langit = 0,079
Temperatur udara luar di Dallas pada musim panas, diambil dari dari tabel 6-6 adalah
0 0
92 F. Temperatur tanah di Dallas, dari tabel 6-6A adalah sebesar 70 F
Dinding Temp. Temp. Beda temp. Faktor Beda temp.
bagian luar Dalam normal koreksi dari setelah
tabel 6-7 dikoreksi
Utara 80 35 45 0 45
Selatan 92 35 57 4 61
Barat 92 35 57 6 63
Timur 80 35 45 0 45
Langit- 80 35 45 0 45
langit
lantai 70 35 35 0 35
Dengan menggunakan persamaan 6-2, didapat:
Dinding utara 216 x 0,078 x 45= 767,88 BTU/jam
Dinding barat 264 x 0,045 x 63= 748,44 BTU/jam
Dinding selatan 216 x 0,045 x 61= 592,92 BTU/jam
Dinding timur 264 x 0,079 x 45= 938,52 BTU/jam
Langit-langit 396 x 0,079 x 45= 1407,78BTU/jam
Lantai 396 x 0,066 x 35= 914,76 BTU/jam +
5370,30 BTU/jam
Total beban panas = 5370,30 x 24 = 128887,2 BTU/jam

Untuk lemari pendingin yang kecil dapat dihitung dengan cara yang singkat,
demikian juga untuk lemari pendingin yang besar asal saja harga faktor U dan perbedaan
temperaturnya sama. Tabel 6-18 (Lampiran 18, 185) menunjukan faktor beban panas
2
(BTU/24 jam ft ) yang dibuat atas dasar tebalnya insulasi dinding dan juga pada perbedaan
temperatur dinding. Untuk mendapatkan beban panas dalam BTU/24 jam dengan cara
singkat, kalikan saja jumlah total luas dinding bagian luar (termasuk lantai dan langit-langit)
dengan faktor panas dari tembok yang sesuai (tabel 6-18), jadi :

114
Beban panas dinding = luas permukaan bagian luar x faktor panas dari tembok.
Untuk mendapatkan faktor panas dari tembok yang sesuai dari tabel 6-18, carilah dulu
tebalnya insulasi ujung kiri tabel, kemudian bergeser kearah kanan untuk mencari beda
2
temperatur dinding dan didapat beban panas dinding dalam BTU/24 jam/ ft
Contoh 6:
Anggap saja tembok-tembok lemari pendingin diisolasi dengan kayu gabus setebal 4
0
inch dan perbedaan temperaturnya diantara tembok-tembok adalah 55 F. Dari tabel 6-
2
18 didapat panas tembok-tembok sebesar 99 BTU/24 jam/ ft

J. Perhitungan beban panas dari udara


Beban panas di sini ternyata terjadi karena adanya pertukaran udara dari luar ke
dalam ruangan pendingin, baik dengan sengaja maupun melalui celah-celah pintu atau
jendela. Berapa besarnya beban panas itu sulit untuk mendapatkan jumlah panas melalui
udara secara tepat, kecuali kalau udara ventilasi, karena memang telah diketahui berapa
jumlahnya. Jika jumlah berat udara luar yang masuk ke ruangan pendingin dalam waktu
24 jam sudah diketahui, maka beban panasnya dapat di hitung atas dasar perbedaan
enthalpy udara dalam ruang pendingin enthalpy udara luar, dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :

Beban panas udara (air change load) = W. (hl – hd) (6-6)

Dimana:
W = berat udara yang masuk ke ruangan pendingin selama 24 jam (lb/24 jam)
hl = enthalpy udara luar (BTU/lb)
hd = enthalpy udara dalam (BTU/ lb)

3
untuk menghitung jumlah udara, biasanya digunakan satuan ft dan jarang digunakan lb.
3
Untuk menghitung jumlah panas udara (ft ) luar yang masuk ke ruangan dapat dipakai
tabel 6-8A dan 6-8B (Lampiran 8, 171), karena pada kedua tabel ini tercantum berbagai
kondisi udara dalam dan udara luar. Dan untuk mencari jumlah beban panas dalam 24
jam, kita tinggal mengalikan jumlah udara yang mengalir masuk setiap 24 jam dengan
faktor yang tepat diambil dari tabel 6-8A dan 6-8B. Jika jumlah udara ventilasi
3 3
dinyatakan dalam satuan ft / menit (cfm) harus diubah dulu jadi ft /24 jam, dikalikan
60 lalu 24.

115
Contoh 7:
3
350 ft /menit udara luar dipakai sebagai udara ventilasi. Temperatur udara dalam
0 0
dipertahankan pada temperatur 35 F. sedangkan kondisi udara luar 85 F dry bulb dan
humiditynya 50 %
Carilah beban panas dari udara dalam BTU/24
jam. Jawab :
3
Jumlah udara dalam 24 jam = ft /menit x 60 x 24
= 350 x 60 x 24
3
= 504.000 ft /24 jam
Dari tabel 6-8A atas dasar temperatur ruang pendingin, temperatur udara masuk dan %
3 3
humidity, didapat jumlah panas/ ft sebesar 1,86 BTU/ ft .
Jadi jumlah beban panas udara ventilasinyanya
= 3 3
ft /24 jam x BTU/ ft
=
504.000 x 1,86
=
937.440 BTU/24 jam

Selain udara ventilasi yang masuk ke dalam ruangan pendingin, juga udara infiltrasi
melalui pintu yang terbuka. Jumlah udara yang masuk ke dalam ruangan melalui
infiltrasi dalam waktu 24 jam tergantung dari ukuran dan likasi pintu, jumlah pintu,
sering tidaknya pintu itu dibuka, lamanya pintu terbuka, dan lain-lain. Karena kombinasi
faktor-faktor di atas sulit untuk dapat dihitung secara pasti, karena itu diambil langkah
praktis yaitu dengan cara memperkirakan sering tidaknya pintu itu dibuka, lamanya
pintu terbuka, volume bagian dalam dari ruang pendingin dan juga jenis pemakaiannya.

Tabel 6-9A dan 6-9B (Lampiran 9, 172) adalah tabel perkiraan berapa kali
pergantian udara tiap 24 jam untuk berbagai ukuran kamar pendingin. Pada tabel-tabel
itu tercantum pemakaian rata-rata. Menurut buku Data ASHRAE pemakaian rata-rata
dan pemakaian yang sering adalah sebagai berikut:

Pemakaian rata-rata (biasa), pintu lemari ruang pendingin tidak terlalu sering
dibuka tutup, jumlah produksi yang disimpan jumlahnya tidak terlalu banyak,

Pemakaian yang sering (heavy usage ), biasanya dijumpai di restoran, pasar besar
dan ramai, dapur-dapur hotel yang temperatur sekelilingnya cukup panas dan
jumlah produk yang disimpan banyak dan sering keluar masuk.

116
Contoh 8:

Sebuah lemari pendingin besar berukuran 10 ft x 17 ft x 12 ft, di buat dari kayu gabus
setebal 4 inch yang ke 2 sisinya dilapisi kayu setebal 1 inch. Temperaturnya udara luar
0
95 F dan kandungan uap air relatifnya 50 %. Temperatur dalam lemari dipertahankan
0
pada temperatur 35 F dan pemakaiannya biasa biasa saja (rata-rata).
Carilah beban panas pertukaran udara (BTU/24 jam)
Jawab :

Karena tebal dinding lemari rata-rata 6 inch (4 inch + 2 inch x 1 inch) maka ukuran
dalam lemari berkurang 1 ft
3
Volume dalam lemari = 9 ft x 16 ft x 11 ft = 1584 ft
3 3
Dari tabel 6-8A didapat beban tiap ft udara sebesar 2,49 BTU/ ft . Jadi jumlah panas
dari pertukaran udara adalah sebesar 21637,44 x 2,49 = 53877,2256 BTU/jam

K. Perhitungan beban panas dari produk

Beban panas dari produk akan muncul kalau produk disimpan bertemperatur
lebih tinggi dari temperatur ruang pendinginnya. Jika temperatur ruang pendingin
dipertahankan di atas temperatur beku produk maka jumlah panas yang dikeluarkan
oleh produk tergantung dari temperatur ruangannya. Juga terhadap berat produk, panas
jenis dan temperatur masuk produk. Jumlah panas dari produk dapat dicari dari
persamaan 6-7.
Q = W x c x ( T2 – T1 ) (6-7) Dimana:

Q = jumlah panas (BTU)\


W = berat produk (lb)

\c = panas jenis produk diatas temperatur beku (BTU/lb/der.F


T2 = temperatur ruang pendingin (der.F)
T1 = temperatur produk saat masuk (der.F)

Contoh 9:
0
Seribu dua ratus lb daging sapi tanpa lemak, bertemperatur 55 F didinginkan
0
pada ruangan pendingin yang bertemperatur 25 F dalam waktu 24 jam
Jawab :
Dari tabel 6-12 (Lampiran 12, 177), diketahui bahwa panas jenis untuk daging segar
0

tanpa lemak di atas titik bekunya adalah 0,75 BTU/ F.


Maka jumlah beban panas produk dapat dicari:
Q = 1200 x 0,75 x (55-35)
= 1200 x 0,75 x 20
= 18.000 BTU/24 jam

Perhatikan pada perhitungan di atas tidak ada sangkut pautnya dengan waktu yang 24
jam itu dan hasil yang didapat merupakan beban panas yang mesti dikeluarkan dari
ruang pendingin selama 24 jam. Jika waktu yang diinginkan kurang dari 24 jam, maka
beban total untuk 24 jam itu mesti di bagi dengan waktu operasi yang diinginkan, maka
persamaam di atas jadi berbentuk :

Q= (6-8)

Contoh 10:

Anggap saja soal pada di atas itu dikerjakan dalam waktu 6 jam kerja. Carilah jumlah
panas produk yang mesti dibuang tiap jam kerja.
Jawab :

Q=
Q = 72.000 BTU/jam kerja
Bandingkan hasil yang didapat pada contoh sebelumnya.
Bila produk didinginkan dan disimpan di bawah titik bekunya, beban panas
produkn itu di hitung dalam 3 urutan, yaitu :

1. Panas yang dikeluarkan produk dari temperatur masuk sampai ke temperatur


bekunya
2. Panas yang dikeluarkan produk pada saat dibekukan
3. Panas yang dikeluarkan produk dari temperatur beku sampai ke temperatur
ruang pendingin.

Untuk bagian 1 dan 3, persamaan 6-7 dapat digunakan. Untuk bagian 1, T1 adalah
temperatur produk pada saat masuk dan T2 adalah temperatur bekunya. Untuk T2 dapat
dilihat dari tabel 6-10 sampai 6-13. Untuk bagian 3, T1 adalah temperatur beku produk
yang disimpan dan T2 adalah temperatur ruang pendinginnya. Sedangkan untuk bagian
dua dapat dicari dari persamaan :
Q = W x h if (6-9) Dimana :

W = berat produk ( lb )
118
Hif = panas laten dari produk (BTU/lb)

Jika proses pendinginan dan pembekuan produk itu dihitung dalam waktu 24
jam, maka jumlah ke 3 bagian itu merupakan beban panas produk selama 24 jam. Jika
waktu prosesnya diinginkan kurang dari 24 jam, maka jumlah ke 3 bagian di atas mesti
di kalikan 24 dan dibagi lagi dengan jumlah jam kerja yang diinginkan.
Contoh 11:
0
Tujuh ratus lima puluh lb daging ungags bertemperatur 40 F didinginkan dan kemudian
0
dibekukan sampai temperatur -5 F dalam waktu 12 jam kerja. Carilah jumlah beban
panas tiap-tiap jam kerja.
Jawab :
Dari tabel 6 – 12 didapat :
a. Panas jenis di atas temperatur beku b.
Panas jenis di baeah temperatur beku c.
Panas laten
d. Temperatur bekunya (freezing point)
Maka jumlah beban panasnya sebagai berikut :
a. Di atas temperatur bekunya

b. Di bawah temperatur bekunya

c. Panas latennya

Jumlah total panas dari produk:


7702,5 + 8880 + 79500 = 96082,5 BTU

Jadi beban panas produk tiap jam kerja adalah sebesar :

Q=
= 192165 BTU/ jam kerja

L. Faktor pendinginan mula (chilling rate faktor)


Beban panas maksimum terjadi pada saat permulaan proses pendinginan di
mulai, karena pada saat ini mesin pendingin menerima beban penuh dibandingkan
beban rata-rata tiap jam kerja. Oleh karena itu mesin pendingin tidak akan mampu
119
menghadapi beban maksimum inin. Nah, untuk mengatasi beban maksimum itu maka
pada saat menghitung beban panas total digunakan suatu faktor yang disebut faktor
faktor pendinginan mula (chilling rate faktor). Maksud menggunakan faktor
pendinginan mula ini adalah untuk meningkatkan jumlah kapasitas pendinginan dari
suatu instalasi pendingin, sehingga beban dengan demikian mesin akan mampu
mengatasi beban maksimum pada saat proses pendinginan dimulai.

Tentu saja dengan menggunakan hasil perhitungan yang dipengaruhi faktor


pendinginan mula akan didapat kapasitas mesin pendingin yang lebih besar. Faktor
pendinginan mula untuk bermacam-macam jenis produk dapat dilihat pada tabel 6-10
sampai 6-13. Faktor yang diberikan pada tabel itu dapat didapat dari hasil pengetesan
yang dilakukan dan atas dasar perhitungan dan perbandingan waktu yang dibutuhkan
untuk mengatasi beban maksimum dengan waktu untuk pendinginan total. Sebagai
contoh, hasil tes pada daging sapid an babi didapat bahwa beban pada saat pendinginan
permulaan adalah 50% lebih besar disbanding beban pendinginan rata-rata. Untuk
mencari jumlah pendinginan maksimum adalah dengan mengalikan kapasitas
pendinginan rata-rata dengan angka 1,5. Angka faktor ini diberikan pada tabel-tabel di
atas secara kebalikannya, maka angka untuk daging sapid an babi di atas adalah 0,67
(1/1,5).
Bila faktor pendinginan mula digunakan, maka persamaan 6-7 jadi :

Q= (6-10)

Secara umum faktor pendinginan mula ini tidak digunakan untuk perhitungan pada
bagian pembekuan sampai bagian akhir suatu proses pendinginan. Chilling rate faktor
digunakan hanya untuk pendinginan mula-mula saja (dari temperatur masuk sampai
dengan temperatur beku, atau temperatur ruang pendinginan jika temperatur ruang
pendinginannya di atas temperatur beku produk ), tetapi tidak digunakan pada ruang
penyimpanan karena temperatur produk masuk telah lebih rendah daripada temperatur
ruangannya sendiri. Pada ruang penyimpanan beban panas yang mesti diatasinya
relative kecil jumlahnya disbanding ruang pendingin yang digunakan untuk mengatasi
jumlah beban panas awal sampai dengan akhir.

M. Panas respirasi
Buah-buahan dan sayuran tetap hidup walaupun sudah dipanen dan disimpan
dalam ruangan pendingin, tetap mengalami perubahan alamiah, misalnya warnanya jadi
120
kuning dan lain-lain. Faktor yang lebih penting adalah perubahan yang dihasilkan akibat
respirasi ini adalah bahwa selama proses berlangsung oksigen dari udara bergabung
dengan karbo-hidrat yang terdapat di dalam jaringan-jaringan buah-buahan dan sayuran
dan akan menghasilkan karbo dioksida serta panas. Panas itu disebut panas respirasi dan
harus dianggap sebagian dari beban panas produk buah-buahan/sayuran yanf disimpan
dalam ruang pendingin. Jumlah panas respirasi tergantung pada jenis dan temperatur
produk. Panas respirasi untuk berbagai jenis buah-buahan dan sayuran dapat dilihat pada
tabel 6-14 (Lampiran 14, 181). Karena panas respirasi dinyatakan dalam BTU/lb/jam,
maka beban panas yang terjadi akibat panas respirasi didapat dengan mengalikan berat
produk total dengan panas respirasi dari tabel 6-14.
Q (BTU/24 jam) = berat jumlah produk (lb) x panas respirasi (BTU/lb/jam) x 24 jam

N. Beban panas dari pembungkus produk

Kalau produk didinginkan di dalam wadahnya seperti misalnya susu dalam botol
atau karbon, telur dalam karton, buah-buahan dan sayuran dalam keranjang dan lain-
lain, maka panasyang dikeluarkan oleh pembungkusnya/wadahnya pada saat masuk
sampai sesuai temperaturnya dengan temperatur didalam ruangan harus dianggap
sebagai bagian dari panas produk. Besarnya panas ini dapat dicari dengan menggunakan
persamaan 6-7.

O. Perhitungan beban tambahan (miscellaneous load)

Beban tambahan berasal dari panas yang dikeluarkan oleh sinar lampu dan motor
listrik yang dioperasikan didalam ruangan pendingin dan juga panas dari badan orang
yang bekerja di dalam ruangan itu. Besarnya panas yang dikeluarkan sinar lampu adalah
3,42 BTU/watt.jam. Panas dari motor listrik dan manusia dapat dilihat dari tabel 6-15
dan tabel 6-16 (Lampiran 15 dan 16, 182-183). Jadi untuk menghitungnya adalah

sebagai berikut :
Sinar lampu
Motor listrik : faktor dari
Manusia : faktor dari tabel 6-

P. Penggunaan faktor keselamatan (safety faktor)


Jumlah total beban pendinginan untuk waktu 24 jam adalah jumlah dari semua
jenis beban panas yang telah dibicarakan di atas. Untuk pengamanan ditambahkan 5%
121
sampai dengan 10 %. Besarnya persentasi ini tergantung dari tingkat kepercayaan atas
informasi yang digunakan pada saat mengadakan perhitungan sebelumnya, biasanya
diambil 10%. Setelah ditambahkan faktor pengaman, maka total beban panas untuk 24
jam dibagi dengan jumlah waktu operasi yang diinginkan, maka didapat beban rata-
rata/jam kerja. Beban/jam inilah yang digunakan untuk memilih peralatan dari mesin
pendingin.

Q. Cara pendek untuk menghitung beban pendinginan

Selama masih memungkinkan beban pendinginan dapat dicari dengan prosedur


seperti yang telah diuraikan di atas, tetapi untuk ruang pendingin yang kecil (volumenya
3
di bawah 1600 ft ) dan digunakan untuk penyimpanan secara umum, produknya selalu
berganti-ganti dari hari ke hari tidak mungkin mencari beban pendingian dengan cara
yang betul-betul teliti. Pada kasus ini, ada cara pendek untuk menghitung beban
pendinginan dengan menggunakan beberapa faktor yang didapat dari percobaan-
percobaan. Kalau cara pendek yang digunakan, maka beban pendinginannya dipisah
menjadi 2 bagian :
1. Beban dari dinding
2. Beban pemakaian (the usage or service load).

Beban dari dinding dapat dihitung seperti pada sub bab I (perhitungan beban panas dari
dinding), dan beban pemakaian dapat dicari dengan persamaan:
Beban pemakaian = volume bagaian dalam x faktor pemakaian.
Perhatiakan, bahwa faktor-faktor pemakaian yang ditulis pada tabel 6-17 (Lampiran 17,
184) akan bergantung dari volume bagian dalam ruangan pendingin serta perbedaan
temperatur antara dalam dan luar. Juga hanya digunakan untuk pemakaian yang normal
dan berat saja, mengenai klasifikasi normal dan berat telah di bicarakan pada sub bab J
(perhitungan beban panas dari udara). Bila menggunakan cara perhitungan yang pendek
tidak perlu memakai faktor penggunaan. Jumlah beban total dibagi jumlah waktu
operasi, maka akan didapat beban panas rata-rata tiap-tiap jam kerja, yang nantinya
hasil rata-rata ini digunakan untuk mengadakan pemilihan komponen utama mesin
pendingin.

122
Lampiran 1

Tabel 6.1 Heat transfer coefficient (U) for cold storage rooms

159
Lampiran 2

Tabel 6.2 Heat transfer coefficient (U) for cold storage rooms

160
Lampiran 3

Tabel 6.3 Heat transfer coefficient (U) for cold storage rooms

161
Lampiran 4

Tabel 6.4 Thermal conductivity of materials used in cold storage rooms

162
Lampiran 5

Tabel 6.5 Faktor U untuk kaca atau gelas

Tabel 6.5A Surface Conductance (f) for building structures

163
Lampiran 6

Tabel 6.6 Refrigerations design ambient temperature guide

164
Lampiran 6

Tabel 6.6 (Lanjutan)

165
Lampiran 6

Tabel 6.6 (Lanjutan)

166
Lampiran 6

Tabel 6.6A Design ground temperatur

167
Lampiran 6

Tabel 6.6A (Lanjutan)

168
Lampiran 6

Tabel 6.6A (Lanjutan)

169
Lampiran 7

Tabel 6.7 Allowance for solar radiation

170
Lampiran 8

3 0
Tabel 6.8A Btu/ft of air removed in cooling to storage conditions above 30 F

3 0
Tabel 6.8B Btu/ft of air removed in cooling to storage conditions below 30 F

171
Lampiran 9

Tabel 6.9A Average air changes per 24 hours for storage rooms
0
above 32 F due to door opening and infiltration

Tabel 6.9B Average air changes per 24 hours for storage rooms
0
below 32 F due to door opening and infiltration

172
Lampiran 10

Tabel 6.10 Design data for fruit storage

173
Lampiran 10

Tabel 6.10 (Lanjutan)

174
Lampiran 11

Tabel 6.11 Design data for vegetable storage

175
Lampiran 11

Tabel 6.11 (Lanjutan)

176
Lampiran 12

Tabel 6.12 Design data for meat storage

177
Lampiran 12

Tabel 6.12 (Lanjutan)

178
Lampiran 13

Tabel 6.13 Design data for miscellaneous storage

179
Lampiran 13

Tabel 6.13 (Lanjutan)

180
Lampiran 14

Tabel 6.14 Reaction heat from fruits and vegetables

181
Lampiran 15

Tabel 6.15 Heat equivalent of electric motors

182
Lampiran 16

Tabel 6.16 Heat equivalent of occupancy

183
Lampiran 17

Tabel 6.17 Usages heat gain, Btu/24 Hr for one cubic feet interior capacity

184
Lampiran 18

Tabel 6.18 Wall heat gain

185