Anda di halaman 1dari 7

1.

Kasus Korupsi

KPK Tangkap Tangan Panitera PN Jakpus

01 Jul 2016, 17:24 WIB, Liputan6.com,Jakarta

Seorang panitera pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ditangkap


tangan oleh Tim Satuan Tugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis 30
Juni 2016. Panitera Pengganti tersebut berinisial S. Anggota Komisi III DPR
Ruhut Sitompul mendukung langkah KPK yang kembali melakukan operasi
tangkap tangan Panitera PN Jakarta Pusat. Kendati demikian, ia mengaku sedih
karena bertambah lagi jajaran penegak hukum di institusi yang sama yang
tersangkut kasus korupsi. Kita acungi jempollah. Bagi kami, Demokrat, tetap
dukung KPK mau siapapun yang OTT, kita dukung," ujar Ruhut saat dihubungi di
Jakarta, Jumat (1/6/2016).

Ruhut berujar, rakyat Indonesia menjadi miskin karena ulah koruptor.


Namun ia heran, korupsi tetap saja masih merajalela. "Apalagi yang ditangkap ini
dari lembaga pengadilan," ujar dia. Ia menambahkan, Komisi III DPR berencana
memanggil Mahkamah Agung (MA) terkait maraknya penangkapan oknum
pengadilan oleh KPK. Ia pun mengaku heran dengan banyaknya oknum di
lembaga peradilan yang ditangkap karena kasus korupsi. Kok kejadian lagi.
Memang pengadilan kita harus direformasi dan semua aparat penegak hukum
harus ikut bertanggung jawab. Baik itu pengacara, jaksa, hakim, dan masyarakat.
Janganlah kita coba nyogok-nyogok gitu. Melemahkan iman mereka. Tapi para
aparat, apalagi dia di pengadilan kan mewakili Tuhan, jangan tergoda ucap
mantan pengacara itu. Ruhut pun meminta pelaku tersebut diberi sanksi seberat-
beratnya. Apalagi panitera mempunyai peluang karir menjadi hakim. Dihukum
seberat beratnya. Kalau remunerasi gajinya dinaikkan. Enggak kurang kok itu.
Apa sih yang dicari, kok sampai begitu. Masalah hukum lagi. Sudah kebangetan.
Jadi kita acungi jempol buat KPK. Ruhut menandaskan.

1
2. Faktor Korupsi

1. Penegakan hukum tidak konsisten. Penegakan hukum hanya sebagai make-up


politik,bersifat sementara dan sellalu berubah tia pergantian pemerintahaan.
2. Penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang karena takut dianggap bodoh bila
tidak menggunakan kesempatan.
3. Rendahnya pendapatan penyelenggaraan negara.
4. Budaya imbalan jasa dan hadiah.
5. Budaya permisif atau serba membolehkan, tidak mau tahu menggangap biasa
bila ada korupsi karena sering terjadi. Tidak peduli dengan orang lain asal
kepentingannya sendiri terlindungi.
6. Gagalnya pendidikan agama dan etika
7. Kurangnya gaji atau pendapatan pegawai negeri dibandingkan dengan
kebutuhan yang makin meningkat.
8. Latar belakang kebudayaan kultur Indonesia yang merupakan sumber atau
sebab meluasnya korupsi.

3. Bentuk pemerintah yang harus dilakukan untuk menghindari korupsi


Di awali dengan penetapan anti korupsi sedunia oleh PBB pada tanggal 9
Desember 2004, Presiden telah mengeluarkan instruksi Presiden Nomor 5 tahun
2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, yang menginstruksikan secara
khusus Kepada Jasa Agung Dan kapolri:

1. Mengoptimalkan upaya – upaya penyidikan Penuntutan terhadap tindak


pidana korupsi untuk menghukum pelaku dan menyelamatkan uang negara.
2. Mencegah dan memberikan sanksi tegas terhadap penyalah gunaan
wewenang yg di lakukan oleh jaksa (Penuntut Umum) Anggota polri dalam
rangka penegakan hukum.
3. Meningkatkan Kerjasama antara kejaksaan dgn kepolisian Negara RI,
selain denagan BPKP, PPATK, dan intitusi Negara yang terkait denagn upaya
penegakan hukum dan pengembalian kerugian keuangan negara akibat tindak
pidana korupsi.

2
Kebijakan selanjutnya adalah menetapkan Rencana aksi nasional Pemberantasan
Korupsi (RAN-PK) 2004-2009. Langkag – langkah pencegahan dalam RAN-PK
di prioritaskan pada :
1. Mendesain ulang layanan publik.
2. Memperkuat transparasi, pengawasan, dan sanksi pada kegiatan
pemerintah yang berhubungan Ekonomi dan sumber daya manusia.
3. Meningkatkan pemberdayaan pangkat – pangkat pendukung dalam
pencegahan korupsi.

4. Peran Pemerintah dan Mayarakat dalam Memberantas Korupsi


Peran Pemerintah :
Partisipasi dan dukungan dari masyarakat sangat dibutuhkan dalam mengawali
upaya-upaya pemerintah melalui KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan
aparat hukum lain.KPK yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi untuk
mengatasi, menanggulangi, dan memberantas korupsi merupakan komisi
independen yang diharapkan mampu menjadi martir bagi para pelaku tindak
KKN.
Adapun agenda KPK adalah sebagai berikut :

1. Membangun kultur yang mendukung pemberantasan korupsi.


2. Membangun kepercayaan masyarakat.
3. Mewujudkan keberhasilan penindakan terhadap pelaku korupsi besar.
4. Memacu aparat hukum lain untuk memberantas korupsi.

Peran Masyarakat :
Bentuk-bentuk peran serta mayarakat dalam pemberantasan tindak pidana
korupsi menurut UU No. 31 tahun 1999 sebagai berkut :

1. Hak Mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya dugaan tindak


pidana korupsi.

3
2. Hak untuk memperoleh layanan dalam mencari, memperoleh, dan memberikan
informasi adanya dugaan telah tindak pidana korupsi kepada penegak hukum.
3. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kpada
penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi.
4. Hak memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporan yg di berikan
kepada penegak hukum waktu paling lama 30 hari.
5. Hak untuk memperoleh perlindungan hukum.
6. Penghargaan pemerintah kepada mayarakat

4. Dasar Hukum Pemberantasan Korupsi


1) UU No. 3 tahun 1971 tentang pemberantasan korupsi.
2) UU No. 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih danm
bebas dari KKN.
3) UU No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
4) PP No.71 tahun 2000 tentang tatacara pelaksanaan peran serta masyarakat dan
pemberian penghargaan dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
korupsi.
5) UU No. 15 tahun 2002 tentang komisi pemberantasan tindak pidana korupsi.
6) UU No. 30 tahun 2002 tentang komisi pemberantasan tindak pidana korupsi.
7) UU No. 7 tahun 2006 tentang United Nation Convention Againest Corruption.

4
5. Solusi Kelompok

Seharusnya pemerintah lebih tegas terhadap terpidana korupsi misalnya


dengan memaksimalkan hukum.Seorang hakim harus mengacu kepada tujuan
dalam menetapkan hukuman, Karena hakim memiliki kewenangan dalam
menentukan hukuman terhadap koruptor, maka hakim bisa merujuk atau
menjadikan bahan pertimbangan bentuk-bentuk sanksi mengenai korupsi yang
ada dalam hukum negara.

Selain itu Supremasi Hukum juga harus lebih ditegakan untuk


memberantas korupsi di Indonesia, hukum harus jadi yang utama di negara ini,
lembaga peradilan harus bebas dari segala tindakan siapapun, sebagai benteng
para pencari keadilan, lembaga peradilan harus memberikan jaminan rasa adil
bagi setiap warga tanpa pandang bulu.

Jangan ada ungkapan lagi bahwa hukum menampakkan ketegasannya


hanya terhadap orang-orang kecil dan lemah, sementara jika berhadapan dengan
orang-orang yang kuat, memiliki kekuasaan hukum menjadi lemah dan
bersahabat.

Penegakan supremasi hukum harus adil tanpa pandang bulu, baik orang
lemah, orang kuat, orang miskin, orang kaya, anak petani, anak pejabat. Kalau
melakukan korupsi harus ditindak sesuai hukum yang berlaku. Pengadilan harus
memiliki kewibawaan di depan para pencari keadilan, sehingga siapapun tidak
akan coba-coba untuk menurunkan kewibawaan lembaga peradilan.

Kemudian harus ada perubahan kebudayaan yang mengacu pada tata


pikir, kesadaran dan perilaku seluruh bangsa Indonesia mulai dari pejabat yang
tertinggi sampai rakyat kecil.

Sedangkan bagi para pejabat dihimbau untuk mematuhi pola hidup


sederhana dan memiliki tanggung jawab yang tinggi dan melakukan pencatatan
terhadap kekayaan pejabat yang mencolok. Juga para pegawai selalu diusahakan
kesejahteraan yang memadai dan ada jaminan masa tua serta melakukan

5
penerimaan pegawai berdasarkan prinsip keterampilan teknis dengan menciptakan
pemerintahan yang jujur dan disiplin kerja yang tinggi dan berusaha melakukan
organisasi dan rasionalisasi organisasi pemerintahan melui pengurangan jumlah
departemen beserta jabatan di bawahnya.

Kemudian bagi masyarakat dan mahasiswa harus memiliki tanggung


jawab guna melakukan partisipasi politik dan kontrol sosial terkait dengan
kepentingan publik, tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh, melakukan kontrol
sosial pada setiap kebijakan mulai dari pemerintahan desa hingga ke tingkat
pusat/nasional, membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang
penyelenggaraan peme-rintahan negara dan aspek-aspek hukumnya, mampu
memposisikan diri sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif dalam setiap
pengambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat luas.

6
DAFTAR PUSTAKA

Idtesis.2013. “Faktor Penyebab Korupsi” (online), (https://idtesis.com/faktor-


penyebab-korupsi/, di unduh tangal 5 Oktober 2016)

Winarno, Supardi. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan. Solo: PT. Tiga Serangka

Wiranuari, Andri.2016. “KPK Tangkap Tangan Panitera PN Jakpus, Ruhut


Acungkan Jempol” (online), (http://news.liputan6.com/read/2544682/kpk-
tangkap-tangan-panitera-pn-jakpus-ruhut-acungkan-jempol, di unduh tanggal 5
Oktober 2016)