Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hak dan kewajiban merupakan suatu hal yang terikat satu sama lain, sehingga dalam
praktiknya harus dijalankan dengan seimbang. Hak merupakan segala sesuatu yang pantas
dan mutlak untuk didapatkan oleh individu sebagai anggota warga negara sejak masih berada
dalam kandungan, sedangkan kewajiban merupakan suatu keharusan/kewajiban bagi individu
dalam melaksanakan peran sebagai anggota warga negara guna mendapat pengakuan akan
hak yang sesuai dengan pelaksanaan kewajiban tersebut. Jika hak dan kewajiban tidak
berjalan seimbang dalam praktik kehidupan, maka akan terjadi suatu ketimpangan yang akan
menimbulkan gejolak masyarakat dalam pelaksanaan kehidupan individu baik dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara.
Ada sebagian masyarakat yang merasa dirinya tidak tersentuh oleh pemerintah.
Dalam artian pemerintah tidak membantu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya,
tidak memperdulikan pendidikan dirinya dan keluarganya, tidak mengobati penyakit yang
dideritanya dan lain sebagainya yang menggambarkan seakan-akan pemerintah tidak melihat
penderitaan yang dirasakan mereka.
Selain mereka yang merasa hak-haknya sebagai warga negara belum didapat, ada
juga orang-orang yang benar-benar hak mereka sebagai warga negara telah didapat, akan
tetapi mereka tidak mau menunaikan kewajibannya sebagai warga negara. Mereka tidak mau
membela negaranya dikala hak-hak negeri ini dirampas oleh negara seberang, mereka tidak
mau tahu dikala hak paten seni-seni kebudayaan Indonesia dibajak dan diakui oleh negara
lain, dan bahkan mereka mengambil dan mencuri hak-hak rakyat jelata demi kepentingan
perutnya sendiri.
Sungguh masih banyak sekali fenomena-fenomena yang menimpa negeri ini. Hal ini
terjadi karena masyarakat kurang paham tentang hak dan kewajibannya sebagai warga
negara. Atau mereka paham tetapi hawa nafsu telah menguasai akal pikiran mereka sehingga
tertutup kebaikan di dalam jiwa mereka.
Oleh karena itu, disusunlah makalah Hak dan Kewajiban Warga Negara ini. Selain
untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, penulisan makalah ini juga
agar pembaca dapat memahami hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara Indonesia.

1
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, didapat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud Warga Negara dan Penduduk?
2. Bagaimana Konsep Hak dan Kewajiban Warga Negara dan Negara di Indonesia?
3. Apa saja Hak dan Kewajiban Warga Negara dan Negara dalam UUD 1945?
4. Bagaimana Kedudukan dan Peran Warga Negara dalam Negara?
5. Apa yang dimaksud dengan Kewarganegaraan dan Pewarganegaraan?
6. Apa yang dimaksud dengan Asas Kewarganegaraan?
7. Apa saja Problem Status Kewarganegaraan?

C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini, yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian hak dan kewajiban warga negara.
2. Mengetahui asas-asas kewarganegaraan
3. Memahami hak dan kewajiban warga negara Indonesia.
4. Memahami hak dan kewajiban mahasiswa sebagai warga negara Indonesia.
5. Mampu membedakan antara konsep kewarganegaraan dan pewarganegaraan.
6. Mampu memahami kedudukan dan peran warga dalam negara.
7. Mampu memahami dan menjelaskan problem status kewarganegaraan sehingga mampu
menemukan solusi atas problem tersebut.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Warga Negara dan Penduduk


Seseorang diakui sebagai warga negara dalam suatu negara haruslah ditentukan oleh
peraturan perundang-undangan dari negara yang bersangkutan. Peraturan perundang-
undangan inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk penentuan status kewarganegaraan
seseorang.
Warga negara merupakan terjemahan kata citizens (bahasa Inggris) yang mempunyai
arti; warga negara, petunjuk dari sebuah kota, sesama warga negara, sesama penduduk, orang
setanah air; bawahan, atau kaula. Sementara kata warga negara sendiri mengandung arti
peserta, anggota atau warga dari suatu organisasi atau perkumpulan. Pengertian lain
menyatakan, bahwa warga negara adalah rakyat yang menetap di suatu wilayah dan rakyat
tertentu dalam hubungan negara (Kaelan dan Achmad Zubaidi, 2007:117). Sementara dalam
UU No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI dinyatakan dalam pasal 1 ayat 1, bahwa
warga negara adalah warga suatu negara yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-
undangan.
Pasal 26 ayat 1 UUD 1945 mengatur siapa saja yang termasuk warga negara Republik
Indonesia. Pasal ini dengan tegas menyatakan, bahwa yang menjadi warga negara adalah
orang-orang bangsa Indonesia dan orang-orang bangsa lain, misalnya peranakan Belanda,
Tionghoa, Arab yang bertempat tinggal di Indonesia, mengakui indonesia sebagai tanah
airnya, bersikap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan disahkan oleh
undang-undang sebagai warga negara. Pasal 26 ayat 3 UUD 1945 menyebutkan syarat-syarat
untuk menjadi warga negara Indonesia ditetapkan oleh undang-undang.
Dalam pasal 26 ayat 2 UUD 1945 dinyatakan bahwa penduduk ialah warga negara
Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia. Berdasarkan pengertian
warga negara dan penduduk ini, dapat disimpulkan, bahwa terdapat perbedaan antara warga
negara dan penduduk. Warga negara memerlukan penatapan/pengesahan dari peraturan
perundang-undangan agar disahkan sebagai warga negara, sementara penduduk tidak perlu
penetapan berdasarkan peraturan perundang-undangangan, hanya saja jika sudah bertempat
tinggal di indonesia, seseorang itu sudah dianggap sebagai penduduk Indonesia. Artinya,
warga negara sudah pasti penduduk, sebaliknya penduduk belum tentu warga negara.

3
Warga negara dan penduduk memiliki hak dan kewajiban yang sedikit berbeda.
Dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 2 dinyatakan, bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-
tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan
kepercayaannya itu. Artinya, semua orang yang telah berdomisili di Indonesia dalam jangka
waktu yang lama dijamin kemerdekaanya oleh negara untuk memeluk agama sesuai dengan
keyakinannya. Di sisi lain, UUD 1945 menyebutkan hak-hak khusus untuk warga negara,
bukan hak penduduk. Dalam pasal 27 ayat 2 UUD 1945 menyatakan bahwa “tiap-tiap warga
Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Pasal 31 ayat
2 menyatakan bahwa, “tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran”. Meskipun
begitu, jika orang itu adalah merupakan penduduk Indonesia, namun belum ditetapkan secara
sah oleh peraturan perundang-undangan sebagai WNI, maka yang bersangkutan belum bisa
menerima hak untuk mendapatkan pekerjaan dan pengajaran seperti yang dinyatakan dalam
pasal 27 ayat 2 dan pasal 31 UUD 1945. Jadi, hak yang diperolehnya masih terbatas hak
sebagai penduduk, belum sebagai warga Negara.
Hal yang membuktikan bahwa seseorang menjadi warga Negara tercantum pada
Keputusan presiden yang disahkan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 8 Juli 1996, Nomor
56 Tahun 1996 tentang Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia. Di pasal 4 butir 2
berbunyi “Bagi warga negara Republik Indonesia yang memiliki Kartu Tanda Penduduk
(KTP), atau Kartu Keluarga (KK), atau Akte Kelahiran, pemenuhan kebutuhan persyaratan
tertentu tersebut cukup menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP), atau Kartu Keluarga
(KK), atau Akte Kelahiran tersebut.” artinya, untuk menjadi warga negara Indonesia harus
memiliki dokumen-dokumen seperti yang tercantum dalam pasal 4 butir 2 Keppres Nomor 56
Tahun 1996 tersebut.
Selain istilah warga negara dan penduduk, terdapat juga istilah rakyat, bukan
penduduk, dan bukan warga negara/orang asing. Rakyat menunjuk pada orang-orang yang
berada di bawah suatu pemerintahan serta tunduk pada pemerintahan. Istilah rakyat biasanya
merupakan oposisi dari penguasa. Bukan penduduk adalah orang-orang yang bertempat
tinggal di suatu wilayah negara hanya untuk sementara waktu (contoh; orang luar negeri yang
sedang studi di Indonesia, pekerja kontrak luar negeri yang bekerja di Indonesia, dsb.).
Sementara, bukan warga negara atau orang asing adalah mereka yang secara hukum tidak
diakui atau bukan menjadi warga negara tersebut (contoh; turis mancanegara).

4
Rakyat meliputi semua orang yang ada dalam sebuah negara. Penduduk dan bukan
penduduk merupakan bagian dari rakyat. Warga negara dan bukan warga negara (orang
asing) merupakan bagian dari penduduk, dan otomatis merupakan bagian dari rakyat.

B. Konsep Hak dan Kewajiban Warga Negara dan Negara


Konsep hak dan kewajiban warga negara dan negara merupakan hubungan antara
warga negara dengan negara. Thomas Hobbes, tokoh yang mencetuskan istilah terkenal homo
homini lupus (manusia adalah srigala bagi manusia lainya/manusia pemangsa sesamanya),
mengatakan fungsi negara adalah menertibkan kekacauan atau chaos dalam masyarakat.
Meskipun negara adalah bentukan masyarakat, kedudukan negara adalah penyelenggara
ketertiban dalam masyarakat agar tidak terjadi konflik.
Hak adalah segala sesuatu yang harus di dapatkan oleh setiap orang yang telah ada
sejak lahir bahkan sebelum lahir. Di dalam Kamus Bahasa Indonesia hak memiliki pengertian
tentang sesuatu hal yang benar, milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat
sesuatu (karena telah ditentukan oleh undang-undang, aturan, dsb), kekuasaan yang benar
atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu, derajat atau martabat. Kewajiban adalah sesuatu
yang wajib dilaksanakan, keharusan atau sesuatu hal yang harus dilaksanakan.
Hak dan kewajiban warga negara memiliki hubungan timbal balik dengan hak dan
kewajiban negara. Hak yang dimiliki oleh warga negara berakibat pada kewajiban yang
harus dipenuhi oleh negara. Sebaliknya, hak negara berakibat pada kewajiban yang mutlak
dipenuhi oleh warga negara.

C. Hak dan Kewajiban Warga Negara dan Negara dalam UUD 1945
Dalam UUD 1945, hak dan kewajiban warga Negara Indonesia serta hak dan
kewajiban Negara Indonesia tercantum dalam pasal 27 sampai dengan pasal 34 yang
mencakup bidang politik dan pemerintahan, sosial, keagamaan, pendidikan dan pertahanan.
Berikut penjabarannya:
1. Hak Warga Negara Indonesia
a. Pekerjaan dan penghidupan yang layak (pasal 27 ayat 2)
b. Berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan (pasal
28)
c. Membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah
(pasal 28B ayat 1)

5
d. Hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan kerkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan deskriminasi (pasal 28B ayat 2)
e. Mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, mendapat
pendidikan dn memperoleh manfaat dari IPTEK, seni dan budaya (pasal 28C ayat 1)
f. Memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk
membangun masyarakat, bangsa dan negaranya (pasal 28C ayat 2)
g. Pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan
yang sama di hadapan hukum (pasal 28D ayat 1)
h. Bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam
hubungan kerja (pasal 28D ayat 2)
i. Memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan (pasal 28D ayat 3)
j. Status kewarganegaraan (pasal 28D ayat 3)
k. Memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan
pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di
wilayah Negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali (pasal 28E ayat 1)
l. Kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan
hati nuraninya (pasal 28E ayat 2)
m. Kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat (pasal 28E ayat 3)
n. Berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan
lingkungan sosialnya, serta berhak mencari memperoleh, memiliki, menyimpan,
mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang
tersedia (pasal 28F)
o. Perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang di
bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari acaman
ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi (pasal 28G
ayat 1)
p. Bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia
dan berhak memperoleh suaka politik dari Negara lain (pasal 28G ayat 2)
q. Hidup sejatera lahir batin, bertempat tingal, dan mendapatkan lingkungan hidup
yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan (pasal 28H ayat 1)
r. Mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan
manfaat sama guna mencapai persamaan dan keadilan (pasal 28H ayat 2)

6
s. Jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai
manusia yang bermatabat (pasal 28H ayat 3)
t. Mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih
secara sewenang-wenang oleh siapapun (psal 28H ayat 4)
u. Hidup, tidak disiksa, kemerdekaan pikiran dan hati nurani, beragama, tidak
diperbudak, diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, tidak dituntut atas dasar hukum
yang berlaku surut (pasal 28 I ayat 1)
v. Bebas dari perlakuan yang bersikap deskriptif atas dasar apapun dan berhak
mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersikap deskriptif itu (pasal 28i
ayat 2)
w. Idetitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan
perkembangan zaman dan peradaban (pasal 28 I ayat 3)
x. Ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan Negara (pasal 30 ayat 1)
y. Mendapat pendidikan (pasal 31 ayat 1)

2. Kewajiban Warga Negara indonesia


a. Menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya (pasal 27
ayat 1)
b. Menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan beregara (pasal 28j ayat 1)
c. Tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan
makasud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan
kebebasan orang lain untuk memenuhi tuntutan yang adil yang sesuai dengan
pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu
masyarakat demokratis (pasal 28j ayat 2)
d. Ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan Negara (pasal 30 ayat 1)
e. Untuk pertahanan dan keamanan Negara melaksanakan sistem pertahanan dan
keamanan rakyat semesta (pasal 30 ayat 2)
f. Mengikuti pendidikan dasar (pasal 31 ayat 2)

7
3. Hak Negara Indonesia
a. Hak untuk dijunjung tinggi atas kedaulatan hukum dan pemerintahan (pasal 27
ayat 1)
b. Hak untuk dibela oleh setiap warga Negara (pasal 27 ayat3)
c. Hak untuk dipertahankan oleh warga Negara (pasal 30 ayat 1)
d. Hak untuk menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara yang
menguasai hajat hidup orang banyak (pasal 30 ayat 1)
e. Hak untuk menguasai bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya (pasal 33 ayat 3)

4. Kewajiban Negara Indonesia


a. Melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia ( pembukaan UUD 1945
alinea lV)
b. Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah
tanggung jawab Negara, terutama pemerintah (pasal 28i ayat 4)
c. Menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-
masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaan itu (pasal 29 ayat 2)
d. Untuk pertahanan dan keamanan Negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan
dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara
Republik Indonesia, sebagai keamanan utaman, dan rakyat sebagai kekuatan pendukung.
(pasal 30 ayat 2)
e. Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan
Angkatan Udara sebagai alat Negara bertugas mempertahankan, melindungi dan
memelihara keutuhan dan kedaulatan Negara (pasal 30 ayat 3)
f. Kepolisian Negara Republik Indoesia sebagai alat Negara yang menjaga keamanan
dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta
menegakkan hukum (pasal 30 ayat 4)
g. Membiayai pendidikan dasar (pasal 31 ayat 2)
h. Mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa (pasal 31 ayat 3)

8
i. Memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari
anggaran pendapatan dan belanja Negara serta dari anggaranpendapatan dan belanja
daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional (pasal 31
ayat4)
j. Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai
agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahtraan umat manusia
(pasal 31 ayat 5)
k. Memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia degan
menjamin kebebasan masyarakat dalam memeihara dan mengembangkan nilai-nilai
budayanya (pasal 32 ayat 1)
l. Menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional
(pasal 32 ayat2)
m. Mempergunakan bumi dan air dan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat (pasal 33 ayat 2)
n. Memelihara fakir miskin dan anak-anak yang terlantar (pasal 34 ayat 1)
o. Mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan
masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan matabat kemanusiaan (pasal 34
ayat 2)
p. Bertanggung jawab atas penyedian fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak (pasal 34 ayat 3)

Hak dan kewajiban Negara terhadap warga. Negara pada dasarnya merupakan kewajiban
dan hak warga Negara terhadap Negara. Contoh :

a. Hak menimbulkan kewajiban


1. Hak warga Negara untuk mendapatkan pengajaran menimbulkan kewajiban bagi
Negara dalam menyediakan sarana untuk proses pembelajaran.
2. Hak Negara untuk dibela menimbulkan kewajiban bagi warga Negara untuk
melakukan pembelaan Negara.

9
b. Kewajiban yang menimbulkan hak
1. Kewajiban warga Negara untuk menjunjung hukum dan pemerintahan dengan tidak
ada kecualinya menimbulkan hak bagi Negara agar hukum dan pemerintahnnya
dijunjung tinggi oleh warga Negara.
2. Kewajiban Negara untuk menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak menimbulkan hak bagi warga Negara untuk memperoleh
fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan dan fasilitas pelayanan umum yang
layak.

D. Kedudukan dan Peran Warga Negara dalam Negara


Kedudukan warga negara di dalam suatu negara sangat penting statusnya terkait dengan
hak dan kewajiban yang dimiliki sebagai warga negara. Perbedaan status / kedudukan sebagai
warga negara sangat berpengaruh terhadap hak dan kewajiban yang dimiliki baik yang
mencangkup bidang politik, ekonomi, sosial budaya maupun hankam. Berikut dijabarkan
mengenai kedudukan warga negara dalam negara :
1. Dengan memiliki status sebagai warga negara, maka orang akan memiliki hubungan
dengan negara. Hubungan itu berwujud status sebagai warga negara, peran sebagai warga
negara, serta hak dan kewajiban sebagai warga negara.
2. Sebagai warga negara, maka ia memiliki hubungan timbal balik yang sederajat dengan
negaranya.
3. Secara teori, status warga negara meliputi status pasif, aktif, negatif dan positif.
4. Peran (role) warga negara juga meliputi peran yang pasif, aktif, negatif, dan positif
(Cholisin, 2000).

Berkaitan dengan peran (role) warga negara, dapat dijelaskan bahwa peran warga
negara adalah sebagai berikut:
1. Peran pasif adalah kepatuhan warga negara terhadap semua peraturan perundang –
undangan yang berlaku.
2. Peran aktif merupakan aktivitas warga negara untuk terlibat (berpatisipasi serta ambil
bagian dalam kehidupan bernegara, terutama dalam mempengaruhi keputusan publik.
3. Peran positif merupakan aktivitas warga negara untuk meminta pelayanan dari negara
untuk memenuhi kebutuhan hidup.

10
4. Peran negatif merupakan aktivitas warga negara untuk menolak campur tangan negara
dalam persoalan pribadi.

E. Kewarganegaraan dan Pewarganegaraan


Kewarganegaraan (citizenship) artinya keanggotaan yang menunjukan hubungan atau
ikatan antara negara dengan warga negara. Kewarganegaraan diartikan dengan segala jenis
hubungan dengan suatu negara yang mengakibatkan adanya kewajiban negara itu untuk
melindungi orang yang bersangkutan.

1. Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan sosiologis.


Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan hukum antara orang-
orang dengan negara yang mengakibatkan ketundukan warga negara terhadap negara,
ditandai dengan adanya akta kelahiran, surat pernyataan dan lain sebagainya.
Kewarganegaraan dalam arti sosiologis tidak ditandai oleh adanya ikatan hukum tapi ikatan
emosional, perasaan, ikatan keturunan, ikatan tanh air, dan lain-lain.

2. Kewarganegaraan dalam arti formil dan materiil


Kewarganegaraan dalam arti formil di mana warga kewarganegaraan seseorang
mengakibatkan orang tersebut memiliki pertalian hukum serta tunduk pada hukum negara
yang bersangkutan. Kewaraganegaraan dalam arti materil, di mana orang yang sudah
memiliki kewarganegaraan tidak jatuh pada kewenangan negara lain.

Sementara itu sekaitan dengan pewarganegaraan, Pasal 1 ayat 3 UU No. 12 Tahun 2006
menyatakan, bahwa “Pewarganegaraan adalah tata cara bagi orang asing untuk memperoleh
Kewarganegaraan Republik Indonesia melalui permohonan”. Secara singkat dapat dikatakan,
bahwa pewarganegaraan adalah cara memperoleh kewarganegaraan, yang selanjutnya disebut
dengan naturalisasi.

11
F. Asas Kewarganegaraan
Pada umumnya penentuan kewarganegaraan dilihat dari segi kelahiran seseorang. Ada
2 (dua) macam asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran yaitu ius soli dan ius sanguinis.
Kedua istilah ini berasal dari bahasa Latin. Ius berarti hukum, dalil, atau pedoman.
Sedangkan soli berasal dari kata solum yang berarti negeri, tanah, atau daerah. Dengan
demikian, ius soli berarti pedoman yang berdasarkan tempat atau daerah. Dan sanguinis
berasal dari kata sanguis yang berarti darah. Dengan demikian, ius sanguinis berarti pedoman
yang berdasarkan darah atau keturunan.

Penegasan Asas Kewarganegaraan dalam UU No. 12 Tahun2006


Dalam Penjelasan Umum UU No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik
Indonesia, dijelaskan bahwa Indonesia menganut 4 (empat) asas umum, yaitu: asas ius
sanguinis (law of the blood), asas ius soli (law of the soil ), asas kewarganegaraan tunggal,
dan asas kewarganegaraan ganda terbatas.

Asas ius sanguinis tercermin dari ketentuan Pasal 4 yang menyatakan bahwa: “anak
yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu Warga Negara Indonesia”
(huruf e), “anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah Warga Negara
Indonesia dan ibu warga negara asing” (huruf c), “anak yang lahir dari perkawinan yang sah
dari seorang ayah warga negara asing dan ibu Warga Negara Indonesia” (huruf d), dan
seterusnya. UU No. 12 Tahun 2006 juga mengakomodir asas ius sanguinis terhadap anak
yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu Warga Negara Indonesia, tapi ayahnya
tidak memiliki kewarganegaraan (stateless) atau hukum negara asal ayahnya tidak
memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut (vide Pasal 4 huruf d).
Selanjutnya terkait dengan asas ius soli terbatas, UU No. 12 Tahun 2006 juga
mengakomodir setiap anak yang lahir di Indonesia dapat dikategorikan sebagai Warga
Negara Indonesia. Namun, dengan catatan (batasan) bahwa anak yang lahir di wilayah negara
Indonesia tersebut merupakan hasil dari perkawinan yang ayah dan ibunya tidak mempunyai
kewarganegaraan (stateless) atau tidak diketahui keberadaannya. Kemudian, asas
kewarganegaraan tunggal dan asas kewarganegaraan ganda terbatas. Kedua asas ini memiliki
korelasi, dimana pada prinsip nya UU No. 12 Tahun 2006 hanya menentukan asas
kewarganegaraan tunggal bagi setiap orang, yaitu Warga Negara Indonesia, baik itu diperoleh
berdasarkan asas ius sanguinis ataupun asas ius soli. Namun, bagi anak yang lahir dari

12
perkawinan campuran (kewarganegaraan) orang tuanya, yang kemudian mengakibatkan si
anak tersebut berkewarganegaraan ganda, maka setelah berusia 18 (delapan belas) tahun atau
sudah menikah, maka anak tersebut harus menyatakan memilih salah satu
kewarganegaraannya (vide Pasal 6).
Selain asas kewarganegaraan di atas, masih ada satu lagi cara untuk menentukan
kewarganegaraan seseorang, yaitu unsur pewarganegaraan (naturalisasi), di mana
kewarganegaraan seseorang dapat diminta / dimohonkan kepada negara yang diinginkan.
Artinya, jika ada orang asing yang ingin menjadi warga negara di suatu negara, maka ia harus
melakukan permohonan kepada negara yang bersangkutan untuk dijadikan sebagai warga
negara dan melepas kewarganegaraan asalnya.
Di Indonesia, bagi orang asing yang ingin menjadi WNI melalui proses naturalisasi
diatur dalam pasal 9 UU No. 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan RI. Dalam pasal 9
tersebut dinyatakan bahwa: permohonan perwaganegaraan dapat diajukan oleh pemohon jika
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin.
b. Pada waktu mengajukan Replubik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut –
turut atau paling singkat 10 (sepuluh puluh) tahun tidak berturut – turut
c. Sehat jasmani dan rohani
d. Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara pancasila dan Undang Undang
Dasar Negara Replubik Indinesia
e. Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan
pidana penjara 1 (satu) tahun atau lebih
f. Jika dengan memperoleh kewarganegaraan Replubik Indonesia, tidak menjadi
Kewarganegaraan ganda.
g. Mempunyai pekerjaan dan / atau berpenghasilan tetap, dan
h. Membayar uang perwaganegaraan ke kas negara.
Di samping itu, seseorang warga negara Indonesia dapat kehilangan kewarganegaraan jika
terdapat hal-hal berikut:
a. Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri.
b. Tidak menolak atau melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang
bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu.
c. Dinyatakan hilang kewarganegaraan oleh Presiden atas permohonannya sendiri.
d. Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari presiden.

13
e. Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing
atau bagian dari negara asing tersebut.
f. Turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan untuk suatu negara
asing.
g. Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang
dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain atas
namanya.
h. Bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia selama lima tahun
berturut-turut bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan dengan sengaja
tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia sebelum jangka
waktu lima tahun tiu berakhir dan setiap lima tahun berikutnya yang bersangkutan tidak
mengajukan pernyataan ingin tetap menjadi warga negara Indonesia kepada perwakilan RI
yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan padahal perwakilan RI
tersebut telah memberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan tidak menjadi tanpa
kewarganegaraan.
i. Perempuan warga negara Indonesia yang kawin dengan laki-laki warga asing
kehilangan kewarganegaraan RI jika menurut hukum negara asal suaminya, kewarganegaraan
istri mengikuti kewarganegaraan suami sebagai akibat perkawinan tersebut.
j. Laki-laki warga negara Indonesia yang kawin dengan perempuan warga asing
kehilangan kewarganegaraan RI jika menurut hukum negara asal istrinya, kewarganegaraan
suami mengikuti kewarganegaraan istri sebagai akibat perkawinan tersebut. Atau jika ingin
tetap menjadi warga negara RI dapat mengajukan surat pernyataan mengenai keinginannya
kepada pejabat atau perwakilan RI yang wilayahnya meliputi tempat tinggal perempuan atau
laki-laki tersebut, kecuali pengajuan tersebut mengakibatkan kewarganegaraan ganda. Surat
pernyataan dapat diajukan oleh perempuan setelah tiga tahun sejak tanggal perkawinannya
berlangsung.
k. Setiap orang yang memperoleh kewarga negaraan RI berdasarkan keterangan yang
kemudian hari dinyatakan palsu atau dipalsukan, tidak benar, atau terjadi kekeliruan
mengenai orangnya oleh instansi yang berwenang, dinyatakan batal kewarganegaraannya.

14
G. Problem Status Kewarganegaraan
Akibat adanya kewarganegaraan, khususnya asas kewarganegaraan yang dilihat dari sisi
kelahiran berupa asas ius soli dan ius sanguinis, menyebabkan munculnya problem status
kewarganegaraan yang disebut dengan apatride dan bipatride. Problem status
kewarganegaraan ini terjadi dikarenakan perbedaan asas kewarganegaraan yang digunakan
oleh negara negara di dunia. Berikut penjelasan menngenai apatride dan bipatride:
1. Apatride istilah untuk seseorang yang tidak mempunyai status kewarganegaraan.
2. Bipatride istilah untuk seseorang yang mempunyai status kewarganegaraan ganda (dua
kewarganegaraan).
Pada hakikatnya, seseorang tidak bisa berada dalam kondisi apatride (tidak memiliki
kewarganegaraan) dan juga tidak boleh berada dalam kondisi bipatride (memiliki
kewarganegaraan ganda). Jika hal ini terjadi , maka akan berimbas pada hak dan kewajiban
yang bersangkutan dalam hubungan dengan negara.
Orang Amerika serikat negara penganut asas tempat lahir / ius sanguinis dan
melahirkan anak di China.Sang anak tidak diakui sebagai warga negara Amerika serikat
karena tidak dilahirkan di AS yang menganut asas tempat lahir. Sebaliknya sang anak tidak
juga diakui sebagai warga negara china yang menganut asas keturunan karena orang tuanya
bukan orang China. Artinya, sang anak menjadi bipartide (memiliki kedua
kewarganegaraan).
Untuk mengatasi problem status kewarganegaraan ini, jika anak dalam kondisi
apartide, maka orang tua sang anak harus segera memohon, mengurus, dan meminta
kewarganegaraan dari negara yang diinginkan untuk sang anak. Jika anak berada dalam
kondisi biparide, maka yang bersangkutan boleh memiliki kewarganegaraan ganda sampai
berusia 17 tahun atau belum menikah, setelah itu yang bersangkutan mutlak harus
melepaskan salah satu kewarganegaraan yang dia miliki. Untuk itu dia memilki dua hak,
yaitu hak opsi dan hak repudiasi. Hak opsi adalah hak untuk memilih salah satu
kewarganegaraan dan hak repudiasi adalah hak untuk menolak satu kewarganegaraan
lainnya.

15
III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hak dan kewajiban warga negara berarti kekuasaan yang benar atas sesuatu dan yang
harus dilakukan oleh penduduk sebuah negara. Setiap negara mempunyai kebebasan dan
kewenangan untuk menentukan asas kewarganegaraan. Hak dan kewajiban Warga Negara
Indonesia ditetapkan dalam UUD 1945 yaitu tercantum di dalam pasal 27, pasal 28, pasal 29,
pasal 30, dan pasal 31.

Sebagai agent of change mahasiswa berperan besar membawa perubahan dalam diri
bangsa Indonesia, untuk itu diperlukan generasi mahasiswa yang bertanggung jawab serta
memiliki kesadaran dan bisa mengimplementasikan hak dan kewajiban sebagai warga negara
Indonesia.

16
DAFTAR PUSTAKA

Juliardi, Budi. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Rajawali


Pers.

Hilipito, Indy. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia. 2014.


(https://www.academia.edu/9770354/Pengertian_Hak_and_Kewajiban_Warga_Negara
diakses pada 26 Mei 2015, pukul 13:40)

17