Anda di halaman 1dari 33

BENTUK DAN PERUBAHAN MAKNA BAHASA

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS BAHASA INDONESIA

DISUSUN OLEH :
Arizky Yanuar Ramadhan (1316020071)
Ghina Alfathina (1316020082)
Muhamad Aep Saepudin (1316020023)

KELOMPOK 2
Trouble Shooting

DOSEN MATA KULIAH :


Mega Nofria,S. Hum.,M.A.

PRODI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-
Nya yang mana penulis masih diberikannya kesabaran dan ketabahan dalam
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya yang telah ditentukan. Adapun
penulis mengangkat judul makalah dengan judul Bentuk dan Perubahan Makna
Bahasa.
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah hendak memenuhi tugas mata
pelajaran Bahasa Indonesia yang telah diberikan dosen mata kuliah, agar kami lebih
memahami pemakaian bahasa itu. Sebelumnya penulis menyadari bahwa di dalam
makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan dalam tulisan yang dibuat
oleh penulis, untuk itu penulis meminta maaf.
Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih dan mengharapkan kritik dan
saran yang dapat membangun makalah kami demi penyempurnaan dan perbaikan
makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Depok, 05 Oktober 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
A. Latar Belakang.................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan............................................................................... 1

BAB II ISI........................................................................................................... 2

A. Status Kebahasaan............................................................................. 2
1. Wacana.................................................................................. 3
2. Paragraf................................................................................. 4
3. Kalimat.................................................................................. 5
4. Klausa.................................................................................... 5
5. Frasa...................................................................................... 6
6. Kata....................................................................................... 7
7. Morfem.................................................................................. 7
8. Silabel.................................................................................... 8
9. Fonem.................................................................................... 8
10. Fona....................................................................................... 10
B. Perubahan Makna.............................................................................. 10
1. Perluasan Makna (Generalisasi)............................................ 10
2. Penyempitan Makna (Spesialisasi)........................................ 11
3. Ameliorasi / Amelioratif........................................................ 11
4. Peyorasi / Peyoratif................................................................ 12
5. Sinestesia............................................................................... 12
6. Asosiasi................................................................................. 13
C. Pengertian Makna Kata (Semantik).................................................. 13
1. Jenis Makna Kata.................................................................. 13
a) Makna Leksikal......................................................... 14
b) Makna Gramatikal..................................................... 15
c) Makna Kontekstual.................................................... 16
d) Makna Referensial..................................................... 17
e) Makna Non-referensial.............................................. 17
f) Makna Denotatif........................................................ 18
g) Makna Konotatif........................................................ 18
h) Makna Asosiatif......................................................... 19
i) Makna Istilah............................................................. 20
j) Makna Idiom.............................................................. 20
k) Makna Pribahasa........................................................ 21
l) Makna Afektif............................................................ 21
m) Makna Refleksi.......................................................... 21
D. Macam – macam Hubungan Antar Kata............................................ 21
1. Sinonim.................................................................................. 22
2. Antonim................................................................................. 22
3. Polisemi................................................................................. 22
4. Homonim............................................................................... 24
5. Hiponim dan Hipernim.......................................................... 25
6. Homograf............................................................................... 26
7. Homofon................................................................................ 26
8. Metonimia.............................................................................. 27

BAB III PENUTUP............................................................................................. 28

A. Kesimpulan.............................................................................................. 28

DAFTAR ISI....................................................................................................... 29
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan bahasa indonesia sekarang ini dapat diibaratkan seperti


mobil tua yang mesinnya rewel dan sedang melintasi jalur lalu lintas di jalan
bebas hambatan. Betapa tidak, pada satu sisi dunia pendidikan bahasa
indonesia saat ini dirundung masalah yang besar dan pada sisi lain tantangan
menghadapi melenium ketiga semakin besar. Dari aspek kualitas, pendidikan
bahasa indonesia kita memang sungguh sangat memprihatinkan dibandingkan
dengan kualitas pendidikan bangsa lain
Sejalan dengan perkembangan zaman perkembangan bahasa pun juga
ikut berkembang dan mengalami perubahan makna. Perubahan makna bahasa
memang tidak dapat dihindari.
Maka, langkah awal sebagai mahasiswa perlu adanya pembekalan
untuk penguasaan bahasa indonesia dengan baik dan benar. Oleh karena itu
kami rasa sangat penting untuk membahas judul “Bentuk dan Perubahan
Makna Bahasa” di dalam Bahasa Indonesia, dengan harapan supaya mahasiswa
dapat memajukan sistem komunikasi dan informasi bangsa dan Negara yang
baik dan benar.

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:


1. Apa yang dimaksud dengan bentuk dan perubahan makna bahasa?
2. Apa saja yang termasuk dalam satuan kebahasaan?
3. Apa saja jenis-jenis perubahan makna?
4. Apa yang dimaksud dengan makna kata dan jenis-jenisnya?
5. Apa saya macam macam hubungan antara makna kata?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah :

1. Mengetahui bentuk dan perubahan makna bahasa.


2. Mengetahui tiap-tiap satuan kebahasaan.
3. Mengetahui dan memahami makna kata.
4. Mengetahui apa saja jenis-jenis perubahan makna.
5. Mengetahui hubungan antara makna kata.
BAB II
ISI

A. Satuan Kebahasaan
Bahasa terwujud dalam satuan-satuan kebahasaan (linguistics units).
Ada sepuluh satuan kebahasaan yang dikenal dalam ilmu bahasa dewasa ini,
yaitu wacana, paragraf, kalimat, klausa, frasa, kata, morfem, silabel, fonem,
dan fona.
Satuan kebahasaan berkaitan dengan bentuk dan makna. Bentuk satuan
kebahasaan berupa deret bunyi bahasa. Bentuk tersebut bersifat acak atau
arbitrer. Sementara itu makna suatu satuan kebahasaan bersifat linier atau tetap.
Misalnya untuk mengungkapkan makna ‘lembaran-lembaran kertas yang
terjilid, dapat berisi tulisan atau kosong’ dapat digunakan bentuk buku atau
bisa juga dengan bentuk book atau bentuk lain dari berbagai bahasa. Makna di
atas bersifat tetap tetapi bentuk untuk mengungkapkan makna tersebut acak
atau tidak tetap.
Sepuluh satuan kebahasaan tersebut dapat dibagi menjadi dua yaitu
satuan kebahasaan yang belum memiliki makna atau satuan fonologis dan
satuan kebahasaan yang yang bermakna atau satuan gramatikal. Yang
termasuk satuan fonologis adalah fona atau bunyi, fonem, dan silabel atau suku
kata. Sementara itu satuan gramatikal meliputi morfem, kata, frasa, klausa,
kalimat, paragraf, dan wacana. Satuan gramatikal memiliki dua unsur yaitu
bentuk dan makna. Bentuk satuan gramatikal berupa struktur fonologis atau
urutan fonem. Sementara itu, satuan fonologis hanya memiliki bentuk.
Berikut merupakan bagan satuan-satuan kebahasaan dari yang terbesar
hingga terkecil berserta cabang linguistik yang mengkajinya.
Berikut merupakan definisi secara ringkas tiap-tiap satuan kebahasaan.

1. Wacana

Secara etimologis kata wacana berakar dari kata bahasa


Sansekerta vacana yang berarti ‘bacaan’. Kata tersebut masuk ke dalam
bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Baru sebagai wacanayang berarti
‘bicara’, ‘kata’, ‘ucapan’. Oleh bahasa Indonesia kata wacana diserap
dengan arti ucapan, percakapan, kuliah (Baryadi, 2002: 1).

Dari situ, istilah wacana digunakan sebagai kata untuk


menerjemahkan kata bahasa Inggris discourse. Kata discourse sendiri
berasal dari kata Latin discursus yang berarti ‘lari kian kemari’ (yang
diturunkan dari dis- yang bararti ‘dari’, ‘dalam arah yang berbeda’
dan curere yang berarti ‘lari’). Kemudian discourse diartikan sebagai
komunikasi pikiran dengan kata-kata; ekspresi ide-ide atau gagasan-
gagasan; percakapan; komunikasi secara umum; ceramah dan kotbah
(Webster, 1983: 522 dalam Baryadi, 2002: 1).

Menurut kamus linguistik, wacana didefinisikan sebagai satuan


kebahasaan terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan
gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana direalisasikan dalam bentuk
karangan yang utuh (buku, ensiklopedi, novel, dll) paragraf, kalimat atau
kata yang membawa amanat yang lengkap (Kridalaksana, 2008: 259).

Ada juga yang menyatakan bahwa wacana berarti objek atau ide
diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menumbulkan
pemahaman tertentu yang tersebar luas (Lull, 1998: 225). Leo Kleden
menyatakan bahwa wacana sebagai ucapan dalam mana seorang pembicara
menyampaikan sesuatu tentang sesuatu kepada pendengar (Kleden, 1997:
34).
Dari semua definisi yang telah dikemukakan di atas, ada benang
merah yang dapat ditarik mengenai pengertian wacana. Wacana merupakan
satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi
dalam konteks sosial. Konteks adalah sesuatu yang menyertai, bersama, dan
mendukung keberadaan wacana itu sendiri. Pengguna bahasa harus
memperhatikan konteks agar dapat menggunakan bahasa secara tepat dan
menentukan makna secara tepat pula. Dengan kata lain, pengguna bahasa
senantiasa terikat konteks dalam menggunakan bahasa.
Wacana tak sekadar kumpulan kalimat atau paragraf melainkan
sebuah konstruksi yang memiliki sifat utuh (unity) dan padu (coherent).
Sebuah wacana dikatakan utuh jika kalimat atau paragraf yang tersusun
mendukung satu topik yang sedang dibahas. Wacana juga bersifat padu jika
antar kalimat atau paragraf tersusun secara sistematis dan memiliki ikatan
timbal balik. Antarkalimat atau paragraf tidak bertentangan dan merupakan
suatu aliran penjelasan yang sistematis.

2. Paragraf

Paragraf menurut kamus linguistik adalah bagian dari wacana yang


mengungkapkan pikiran atau hal tertentu yang lengkap tetapi masih
berkaitan dengan isi seluruh wacana. Paragraf dapat terdiri dari satu atau
sekelompok kalimat yang saling berkaitan (Kridalaksana, 2008:173).
Paragraf atau sering juga disebut alinea merupakan bagian dari
suatu karangan yang penulisannya dimulai dengan baris baru dan
merupakan suatu kesatuan pikiran yang berisikan satu ide pokok dalam
rangkaian kalimat-kalimat. Jadi paragraf merupakan kumpulan beberapa
kalimat yang mengandung satu ide pokok dan merupakan bagian dari
sebuah karangan utuh yang mendukung topik pembicaraan karangan
tersebut.
Dalam satu paragraf terdapat satu kalimat utama dan satu atau lebih
kalimat penjelas. Seperti halnya wacana, setiap kalimat yang berurutan
harus memiliki hubungan timbal balik dan tidak boleh saling bertentangan.
Kalimat-kalimat yang menyusun sebuah paragraf juga harus bersifat utuh
dan padu seperti pada kasus wacana.

Contoh paragraf :

Sekarang adalah musim panas. Di setiap sore tak ada orang yang
berada di dalam rumah. Mereka suka berjalan-jalan dan duduk di tepi jalan.
Aku dan temanku sering keluar ke bioskop musim panas. Di sana ada
pohon-pohon yang rindang yang membuat udara menjadi sejuk. Kadang
filmnya kurang bagus, tetapi kami tak mempedulikannya sebab masih
banyak hiburan yang lain seperti pemandangan di langit malam. Langit
malam di musim panas sangat indah. Langit terlihat bersih dan bintang-
bintang bagaikan tersebar merata saling menampakkan sinar kecilnya. Di
sana juga sering terlihat bulan yang terlihat besar dan bersinar terang.
Sungguh ini adalah suasana yang menyenangkan.
3. Kalimat

Kalimat adalah sekelompok kata-kata yang menyatakan pikiran


lengkap dan memiliki subjek dan predikat. Subjek adalah sesuatu tentang
mana sesuatu itu dibicarakan. Predikat adalah sesuatu yang dikatakan
tentang subjek.

Namun pengertian di atas menjadi kurang sempurna karena satuan


kebahasaan yang lain yaitu klausa juga memiliki pengertian yang hampir
sama. Perbedaan mendasar terdapat pada intonasi. Kalimat adalah satuan
lingual yang diakhiri oleh lagu akhir selesai baik lagu akhir selesai turun
maupun naik (Wijana, 2009:56). Kalimat menjadi jelas ketika diucapkan.

Kesimpulannya, kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif


berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun
potensial terdiri dari klausa (Kridalaksana, 2008:103).

Contoh kalimat :
1. Budi sedang menggambar ayam di buku gambar
2. Ibu sedang memasak kentang di dapur
3. Anton sedang membawa kayu
4. Budi sedang duduk di kursi
5. Bapak sedang pergi ke ladang

4. Klausa

Klausa adalah satuan kebahasaan yang bersifat predikatif.


Maksudnya satuan lingual ini melibatkan predikat sebagai unsur intinya
(Wijana, 2009:54).
Oleh karena itu, klausa sekurang-kurangnya terdiri atas dua kata
yang mengandung hubungan fungsional subjek-predikat dan secara
fakultatif dapat diperluas dengan beberapa fungsi yang lain seperti objek
dan keterangan (Keraf, 1991:181).
Seperti penjelasan pada poin kalimat, pengertian klausa sering
mengalami silang pengertian dengan kalimat. Sebenarnya permasalahannya
ada pada intonasi pengucapan. Klausa tidak mengenal intonasi. Yang lebih
ditekankan pada klausa adalah unsur-unsur dasar seperti yang disebutkan di
atas. Walaupun demikian klausa dan kalimat memang memiliki hubungan
yang sangat erat. Sebuah kalimat tunggal terdiri dari satu klausa dan kalimat
majemuk terdiri dari dua atau lebih klausa.
Secara sederhana kamus linguistik mengatakan bahwa klausa
adalah kelompok kata yang yang sekurang-kurangnya memiliki subjek dan
predikat dan berpotensi sebagai kalimat (Kridalaksana, 2008:124).
Contoh klausa :
1. Budi sedang sibuk
2. Budi sedang mengantuk
3. Budi sedang berlari
4. Tadi malam saya sudah tidur
5. Kemarin saya sedang belanja

5. Frasa

Pada dasarnya frasa adalah gabungan kata. Namun tak semua


gabungan kata merupakan frasa. Frasa merupakan gabungan kata yang tidak
melewati batas fungsi. Yang dimaksud dengan fungsi adalah istilah seperti
subjek, predikat, objek, dan keterangan (Wijana, 2009:46).
Menurut Gorys Keraf, frasa merupakan gabungan dua atau lebih
kata yang mana masing-masing kata tetap mempertahankan makna dasar
katanya dan setiap kata pembentuknya tidak berfungsi sebagai subjek dan
predikat dalam konstruksi itu. Hal ini penting untuk membedakan frasa
dengan kata majemuk dan frasa dengan kalimat atau klausa. Kata majemuk
juga merupakan gabungan kata namun kata-kata yang bergabung tersebut
telah melahirkan pengertian baru dan setiap kata tidak lagi mempertahankan
maknanya. Misalnya kambing hitam sebagai kata majemuk bukan berarti
kambing yang hitam melainkan orang yang dipersalahkan, sedangkan
sebagai frasa kambing hitam berarti kambing yang hitam.
Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa frasa adalah
gabungan kata yang mana setiap kata tetap mempertahankan makna masing-
masing dan gabungan kata tersebut tidak melewati batas fungsi. Dalam
sebuah frasa hanya terdapat satu kata sebagai unsur inti atau unsur pusat.
Kata-kata yang lain hanyalah sebagai unsur penjelas.

Berdasarkan jenis kata atau kategorinya, frase dibedakan menjadi 5 yaitu :


1. Frase kata depan, contohnya : di mobil, di rumah, di kamar mandi,
di meja, di buku, di almari, di kulkas, di genting, di motor, di rak
buku.
2. frase kata keterangan, contohnya : tahun depan, senin depan,
minggu depan, tadi sore, tadi malam, tadi pagi, esok hari, dini hari,
nanti siang, nanti malam.
3. Frase kata sifat. Contohnya : sangat kecil, sangat panjang, panjang
sekali, pendek sekali, sangat cantik, sangat pintar, tinggi sekali.
4. Frase kata kerja. Contohnya : sedang menulis, sedang
menggendong, sedang menimba, sedang makan, sedang minum,
sedang berlari, sedang berenang, sedang memikul.
5. Frase kata benda. Contohnya : gedung wanita, gedung DPR, rumah
tahanan, balai desa, balai pertemuan.

6. Kata

Kata adalah bentuk bebas yang terkecil yang tidak dapat dibagi
menjadi bentuk bebas yang lebih kecil lagi (Wijana, 2009:33). Berdasarkan
kamus linguistik, kata adalah satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri,
terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem; satuan terkecil dari
leksem yang telah mengalami proses morfologis; morfem atau kombinasi
morfem yang oleh ahli bahasa dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat
diujarkan sebagai bentuk yang bebas (Kridalaksana, 2008: 110).
Sementara itu, Gorys Keraf menjelaskan bahwa pengertian kata
tidak dapat dipisahkan dengan pengertian arti. Arti adalah hubungan antara
tanda berupa lambang bunyi ujaran dengan hal atau barang yang
diwakilinya. Jadi kata merupakan lambang bunyi ujaran tentang suatu hal
atau peristiwa. Seperti halnya manusia yang memiliki nama demikian juga
benda dan peristiwa yang juga memiliki lambang bunyi ujaran berupa kata
yang memiliki arti atau makna.

Contoh kata :
 makan
 rumah
 pakaian, dll

7. Morfem

Morfem adalah satuan gamatikal terkecil yang berperan sebagai


pembentuk kata (Wijana, 2009:33). Sebagai pembentuk kata morfem
merupakan satuan kebahasaan yang terkecil yang maknanya secara relatif
stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil
(Kridalaksana, 2008:157). Dalam bahasa Indonesia morfem juga dapat
berupa imbuhan.
Dalam morfem dikenal istilah morfem dasar yaitu morfem yang
dapat berdiri sendiri seperti lari, datang, tidur, dsb. Ada juga morfem terikat
yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri seperti awalan ber-, me(N-),
akhiran –kan, -i, dsb. selain itu dikenal juga istilah morfem dasar yaitu
bentuk yang merupakan dasar pembentukan kata polimorfemik (kata yang
terdiri dari lebih dari satu morfem) misalnya rumah, alat, meja, dsb.
Sebuah morfem dasar dengan sendirinya sudah membentuk kata.
Namun sebaliknya, konsep kata tidak saja meliputi morfem dasar tetapi juga
meliputi semua bentuk gabungan antara morfem dasar dengan morfem
terikat atau morfem dasar dengan morfem dasar.
Contoh morfem :
1. Morfem Dasar
 Kerja
 Pergi
 Makan
 Buku
 Sekolah
2. Morfem Terikat
 ber-
 per-
 per-an
 me-,
 di-
 -an
 -lah

8. Silabel

Dalam kamus linguistik, silabel atau suku kata dapat dilihat dari
tiga sudut pandang yaitu sudut fisiologi, artikulasi, dan fonologi. Dari sudut
fisiologi, suku kata adalah ujaran yang terjadi dalam satu denyut yakni pada
satu penegasan otot pada waktu penghembusan udara dari paru-paru. Dari
sudut artikulasi, silabel adalah regangan ujaran yang terjadi dari satu puncak
kenyaringan di antara dua unsur yang tak berkenyaringan. Dari sudut
fonologi silabel adalah struktur yang terjadi dari satu fonem atau urutan
fonem bersama dengan ciri lain seperti kepanjangan atau tekanan
(Kridalaksana, 2008:230).
Dari pengertian tersebut diambil benang merah bahwa silabel
adalah satuan ritmis yang terkecil. Artinya satuan yang memiliki puncak
kenyaringan yang lazimnya diduduki oleh bunyi-bunyi vokal (Wijana,
2009:28). Bunyi konsonan berperan sebagai lembah suku.

Contoh silabel :

Kata kaki berasal dari suku kata ka- dan -ki.


Kata tangan berasal dari suku kata ta- dan -ngan.

9. Fonem

Fonem adalah bunyi-bunyi yang berpotensi sebagai pembeda


makna (Wijana, 2009:22). Salah satu cara menentukan sebuah fonem dalam
sebuah sistem bahasa adalah dengan pasangan minimal. Pasangan minimal
adalah dua buah kata yang memiliki satu bunyi yang berbeda. Misalnya kata
tali dan tari. Dalam kedua kata tersebut terapat dua bunyi berbeda yaitu [l]
dan [r]. Dengan demikian bunyi [l] dan [r] dalam bahasa Indonesia adalah
fonem.
Fonem itu bukan huruf. Tetapi fonem adalah bunyi dari huruf, dan
huruf adalah lambang dari bunyi. Jumlah huruf ada 26 (huruf a sampai z);
jumlah fonem lebih dari 26 (beberapa huruf melambangkan lebih dari satu
fonem). Juga ada fonem yang dilambangkan oleh dua huruf, yaitu fonem
/kh/, /ng/, /ny/, dan /sy/.

Dalam kalimat sate pedas enak rasanya, huruf e melambangkan tiga


fonem, yaitu:

fonem /e/ dalam kata sate [sate]


fonem /ә/ dalam kata pedas [pәdas]
fonem /∑/ dalam kata enak [∑nak]

Dalam kalimat orang itu membawa beo, huruf o melambangkan dua


fonem, yaitu:
fonem /o/ dalam kata orang [orang]
fonem /O/ dalam kata beo [beO]

Ukuran untuk menentukan satu bunyi merupakan fonem atau bukan


adalah dapat atau tidak bunyi itu membedakan makna. Perhatikan fonem /ә/
dan /∑/ sebagai pembeda makna dalam deret kata berikut:

seret [sәrәt] = ‘tersendat-sendat; tidak lancar,


seret [s∑r∑t] = ‘menarik suatu benda menyusur tanah’
apel [apәl] = ‘nama buah’
apel [ap∑l] = ‘wajib mengikuti upacara; melapor

Fonem /ᵑ/, /ñ/ ,/x/ dan /Š/ masing-masing dilambangkan dengan


<ng>,<ny>,<kh>,dan <sy>

Meƞaƞa = menganga
ñañi = nyanyi
maxluk = makhluk
Šarat = syarat

Dalam contoh di atas tampak bagaimana fonem dapat mengubah


makna atau menimbulkan makna baru.
10. Fona

Fona atau bunyi bahasa adalah satuan bunyi yang dihasilkan alat
ucap manusia dan diamati dalam fonetik sebagai fon atau dalam fonologi
fonem (Kridalaksana, 2008:38). Ada dua jenis bunyi bahasa yaitu vokoid
yaitu bunyi yang dihasilkan dengan arus udara yang tidak mengalami
rintangan (Wijana, 2009:16). Misalnya [a], [i], [e], dsb. Jenis yang kedua
adalah kontoid yaitu bunyi yang dihasilkan dengan arus udara yang
mengalami rintangan atau hambatan (Ibid, 2009:18). Misalnya [p], [r], [t],
dsb.
Kalau dalam fonetik, misalnya, kita meneliti bunyi /a/ yang berbeda
pada kata-kata misalnya, lancar, tawa, dan lain, maka dalam fonemik kita
meneliti apakah perbedaan bunyi itu mempunyai fungsi sebagai pembeda
makna atau tidak. Jika bunyi itu membedakan makna, maka bunyi tersebut
kita sebut fonem, dan jika tidak membedakan makna adalah bukan fonem.

B. Perubahan Makna

Kata-kata dalam bahasa tertentu mengalami perubahan arti. Perubahan


makna kata terdapat 6 jenis perubahan arti, antara lain :

1. Perluasan makna (Generalisasi)

Generalisasi adalah suatu proses perubahan makna kata dari yang


khusus ke yang lebih umum atau dari yang lebih sempit ke yang lebih luas.

Contoh :

 Pada kata “berlayar” dahulu adalah suatu kegiatan melaut dengan


menggunakan perahu layar. Saat ini meskipun tidak menggunakan
perahu layar, apapun yang berkenaan dengan pergi ke laut disebut
dengan “berlayar.”
 Makna kata “papan” kini juga meluas menjadi perwujudan dari harta
benda dalam konteks kalimat tertentu. Berbeda dengan sebelumnya,
“papan” dimaknai hanya sebagai lempengan hasil dari potongan kayu
yang digunakan untuk bahan dasar bangunan.
 Makna kata “jurusan” dahulu hanyalah sebutan dari trayek sebuah
angkutan umum. Kini jurusan lebih umum digunakan sebagai
spesialisasi konsentrasi keilmuan tertentu dalam sebuah universitas
 Kata bapak dahulu bermakna ayah, sekarang semua orang yang lebih
tinggi kedudukannya disebut bapak.
 Bapak saya mempunyai adik tiga orang. (makna dasar/lama : orang
tua laki-laki, makna sekarang/baru: semua laki-laki yang lebih tua/
lebih tinggi kedudukannya)

2. Penyempitan makna (Spesialisasi)

Perubahan makna spesialisasi adalah kebalikan dari generalisasi


yang pada katanya mengalami perubahan makna menyempit dari makna
sebelumnya.

Contoh :

 Kata pembantu dahulu adalah kata yang dimanai sebagai siapa saja
yang meringankan beban orang lain atau suka membantu disebut
dengan pembantu. Namun saat ini kata “pembantu” mengalami
penyempitan makna menjadi seorang yang berprofesi sebagai
pembantu rumah tangga.
 Guru dahulu dimaknai sebagai siapa saja yang mengajarkan atau
membimbing seseorang. Saat ini guru lebih dikenal sebagai profesi
yang mengajar dan mendidik anak-anak di sekolah.
 Kata sarjana dahulu bermakna cendekiawan/orang pandai,
sekarang gelar kesarjanaan.
 Nasinya bau jangan dimakan. (makna baru : basi, bau busuk)
 Anak kami yang pertama lulus sarjana. (makna baru : sarjana/
lulusan perguruan tinggi – makna asal/ lama : orang pandai)
 Di desa itu didirikan madrasah oleh yayasan Islam. (makna baru :
sekolah berasaskan agama Islam/ TPA, MAN, MTS)

3. Ameliorasi/ Amelioratif

Ameliorasi adalah makna yang baru dianggap lebih baik, lebih


terhormat daripada makna yang lama /semula (yang bermakna sama).

Contoh :

 Kata istri dianggap lebih baik dan terhormat daripada bini.


 Kata melahirkan dianggap lebih baik daripada beranak.
 Kata tunawisma dianggap lebih baik daripada gelandangan.
 Kata buta memiliki makna seseorang yang memiliki kekurangan
dalam penglihatannya. Setelah diameliorasikan, kata “buta”
berubah menjadi “tuna netra” dengan makna kata yang sama.
 Kata bui setelah diameliorasikan berubah menjani “lembaga
pemasyarakatan.”
4. Peyorasi/Peyoratif

Peyorasi adalah proses perubahan makna kata menjadi lebih jelek


atau lebih rendah daripada makna semula atau kata-kata yang dipandang
lebih rendah/ buruk jika digunakan.

Contoh :

 Kata cerai dirasakan lebih kasar daripada kata talak.


 Kata mendengkur dirasakan lebih kasar daripada kata nyenyak.
 Kata penjara dirasakan lebih kasar daripada kata lembaga
pemasyarakatan.
 Bentuk kata istri kini lebih sering di dengan dengan sebutan “bini.”
 Pada kata menurunkan dalam konteks tertentu memiliki makna
melepaskan jabatan pada seseorang. Kini lebih populer dengan
sebutan “melengserkan.”

5. Sinestesia

Sinestesia adalah perubahan makna kata akibat pertukaran


tanggapan dua indra yang berbeda /perubahan makna kata yang timbul
karena tanggapan dua indera yang berbeda.

Contoh :

 Kata-katamu sungguh pedas untuk didengar. Kata pedas seharusnya


ditanggapi oleh indra perasa (bibir/mulut) tetapi justru ditanggapi
oleh indra pendengaran.
 Pendengaranmu sungguh sangat tajam. Kata tajam seharusnya
ditanggapi oleh indra perasa (kulit), tetapi justru ditanggapi oleh
indra pendengaran.
 Luar biasa, indah sekali suaranya.Kata indah pada hakikatnya hanya
bisa diinderakan oleh mata saja. Namun dalam konteks kalimat, kata
“indah” juga dapat diinderakan oleh indera lainnya.
 Wanita itu sungguh manis dan cantik. Pada hakikatnya, kata
“manis” hanya dapat diinderakan oleh indera pengecap.
6. Asosiasi

Asosiasi adalah perubahan makna kata akibat persamaan sifat


(makna yang dihubungkan dengan benda lain yang dianggap mempunyai
kesamaan sifat. (makna kias).

Contoh :

 Kata kursi dimaknai sebagai suatu alat yang digunakan untuk duduk.
Jika diasosiasikan dengan konteks lainnya, maka kata “kursi” dapat
dimaknai sebagai kedudukan, jabatan, atau pangkat.
 Ia memberi amplop kepada petugas sehingga urusannya cepat selesai.
Kata amplop berasosiasi dengan sogok atau suap. (uang)
 Nilai matematikaku merah. Kata merah berasosiasi dengan jelek,
tidak baik.
 Perkaranya sudah dipetieskan. (sudah tidak diselidiki lagi)
 Masa lalunya yang hitam sudah berlalu (pengalaman buruk)
 Dia masih terlalu hijau untuk berumah tangga. (muda)
 Dari kacamata hukum, perbuatan itu dianggap melanggar UU. (sudut
pandang)

C. Pengertian Makna Kata (Semantik)

Seperti yang kita ketahui, ‘kata’ merupakan satuan terkecil dalam


bahasa yang memiliki arti atau makna. Istilah ‘kata’ dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan bahasa yang diucapkan atau dituliskan
yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat
digunakan dalam berbahasa. Mansoer Pateda (2001) berpendapat jika istilah
makna kata merupakan kata kata dan istilah yang membingungkan. Untuk
mengkaji tentang makna kata, terdapat kajian khusus dalam linguistik, yakni
kajian semantik. Kajian makna kata menurut penggolongan semantik
merupakan cabang linguistik yang secara khusus meneliti dan mengkaji makna
kata, asal usul kata tersebut, perkembangan penggunaan kata, serta penyebab
terjadinya perubahan makna kata. Abdul Chaer (1994) dan J.W.M Verhaar
(1996) mengemukakan pendapat serupa tentang pengertian semantik, yakni
cabang studi linguistic (kebahasaan) yang membahas arti atau makna.

1. Jenis Jenis Makna Kata

Penggunaan kata yang beragam dalam keseharian menimbulkan


makna kata yang beragam pula dilihat dari sudut pandang yang berbeda
beda. Jenis jenis makna kata yang secara umum banyak di kenal di
masyarakat antara lain: makna konotasi, makna denotasi, makna leksikal,
makna gramatikal, makna kontekstual, dan sebagainya. Tidak ada
penggolongan pasti tentang jenis jenis makna kata. Berbagai ahli di dunia
telah mengemukakan pendapatnya mengenai penggolongan makna kata,
beberapa di antaranya adalah Abdul Chaer, Geoffrey Leech, serta Dr.
Muhammad Mukhtar Umar.

Jenis Jenis Makna Kata menurut Abdul Chaer

Abdul Chaer menggolongkan makna kata menjadi 13 jenis, yang


meliputi: makna leksikal, makna gramatikal, makna kontekstual, makna
referensial, makna non-referensial, makna denotatif, makna konotatif,
makna konseptual, makna asosiatif, makna kata, makna istilah, makna
idiom, dan makna peribahasa.

a) Makna Leksikal

Makna Leksikal dapat juga disebut makna sebenarnya. Makna


Leksikal merupakan makna yang sesuai dengan hasil observasi indra
yang dimiliki manusia, sehingga makna yang tercipta merupakan
makna yang sebenarnya, apa adanya, dan terdapat dalam kamus
(makna dalam kamus sering disebut dengan makna dasr atau makna
konkret). Makna ini bersifat tetap dan pasti karena mengikuti kamus
yang ada. Kamus yang menjadi acuan dalam bahasa Indonesia yakni
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Misalnya leksem ‘kuda’ merupakan
sejenis binatang berkaki empat yang digunakan sebagai alat
transportasi atau ‘air’ bermakna sejenis barang cair yang biasa
digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Contoh lain makna leksikal :

 Makan : (dalam KBBI) – memasukkan makanan pokok ke dalam


mulut serta menguyahnya dan menelannya; arti lainnya –
memakai, memerlukan, atau menghabiskan (waktu, biaya, dan
lain sebagainya).
 Lari : (dalam KBBI) – melangkah dengan kecepatan tinggi; arti
lainnya – hilang atau senyap; arti lainnya – pergi (keluar) tidak
dengan cara baik (tidak sah), kabur.
 Tidur : (dalam KBBI) – dalam keadaan berhenti (mengaso)
badan dan kesadarannya (biasanya dengan memejamkan mata).
 Meja : (dalam KBBI) – perkakas (perabot) rumah yang
mempunyai bidang datar sebagai daun mejanya dan berkaki
sebagai penyangganya (bermacam – macam bentuk dan
gunanya).
b) Makna Gramatikal

Sesuai namanya, makna gramatikal merupakan makna yang


muncul akibat dari adanya proses gramatikal atau proses tata bahasa.
Proses gramatikal antara lain: proses kompisisi, proses reduplikasi,
proses afiksasi, serta proses komposisi atau kalimatisasi. Misalnya,
proses aplikasi awalan (prefiks) ber- pada kata ‘baju’, menjadi
‘berbaju’, melahirkan makna gramatikal ‘mengenakan atau
memakai baju’. Lalu pada kata ‘berkuda’ memiliki makna
gramatikal mengendarai kuda. Contoh lain pada proses komposisi
kata dasar ‘sate’ dan ‘lontong’, menjadi kata ‘sate lontong,’
menimbulkan makna gramatikal ‘sate bercampur lontong’.

Contoh lainnya :

1. (Jalanan, Jalan-jalan, Jalanlah)


– Polisi merzia pengemis dan anak jalanan di Tanah Abang
Jakart Pusat.
– Saat liburan sekolah, kami sekeluarga jalan-jalan di taman
kota.
– Jalanlah menuju rumah yang telah lama kau tinggalkan!
2. (Makanan, Makan-makan, Makan siang)
– Menjelang berbuka puasa, warga memberikan makanan
pada pengguna jalan.
– Kami sekeluarga mengadakan acara makan-makan di
resto ternama di kota Jakarta.
– Jam istrirtahat menjadi kesempatan kita untuk makan
siang.
3. (Setiap hari, Hari libur, Hari-hari)
– Ia mendapat gaji setiap hari ketika pulang kerja.
– Hari libur kali ini, kami berlibur ke Bali.
– Tetaplah di sini temani hari-hariku yang sunyi.
4. (Berlari, Lari-lari, Melarikan diri)
– Rangga berlari mengejar cinta di bandara.
– Setiap pagi saya lari-lari kecil keliling lapangan.
– Pencuri motor berhasil melarikan diri.
5. (Melompat, Lompat-lompat, Lompat tali)
– Anjing melompat melewati selokan.
– Anak kambing itu lompat-lompat kegirangan.
– Adik bermain lompat tali di halaman.
c) Makna Kontekstual

Makna kontekstual merupakan makna dari sebuah kata atau


leksem yang muncul berdasarkan suatu konteks tertentu.

Berikut disertakan contoh makna kontekstual agar para


pembaca lebih memahami apa dan bagaimana makna kontekstual
itu.

1. Kaki ibu terluka karena tidak sengaja menginjak pecahan gelas.

2. Ketika baru sampai di kaki gunung Merapi, Andi sudah


memutuskan untuk pulang.

3. Ayah memotong kaki meja di ruang belajar karena terlalu


tinggi.

Perhatikanlah ketiga kalimat di atas. Ketiga kalimat tersebut


menggunakan satu kata yang sama yaitu “kaki“. Akan tetapi,
berdasarkan konteks dari masing-masing kalimat, kata “kaki” akan
memiliki makna yang berbeda pula.

 Pada kalimat (1), kata “kaki” berarti alat gerak pada tubuh
manusia/ makhluk hidup.
 Sedangkan pada kalimat (2), kata “kaki” berarti bagian bawah
dari suatu tempat.
 Hal ini berbeda pada kalimat (3), kata “kaki” berarti bagian
bawah dari sebuah benda.

Terlihat jelas bahwa penggunaan kata yang sama akan


menimbulkan arti yang berbeda jika konteks penggunaannya
dalam kalimat berbeda pula. Perhatikan kembali contoh berikut.

4. Bagus sedang belajar di kamar.

5. Walaupun mendapat nilai sedang, Koko tetap merasa senang


dan puas.

Kedua kalimat di atas sama-sama menggunakan kata


“sedang“. Nah sekarang kita periksa apakah makna dari kata
“sedang” akan sama pada kedua kalimat tersebut.

 Pada kalimat (4), kata “sedang” menunjukkan suatu aktivitas


yang dilakukan.
 Sedangkan pada kalimat (5), kata “sedang” menunjukkan
suatu nilai yang biasa-biasa saja (tidak tinggi tetapi juga tidak
rendah).

d) Makna Referensial

Makna referensial memiliki arti, yakni maka yang memiliki


referensi atau acuannya dalam dunia nyata. Misalnya kata ‘saya’,
pada kalimat (“Tadi saya bertemu dengan Ani”, Kata Anwar pada
Budi) makna kata ‘saya’ mengacu pada Ani, sedangkan pada kalimat
(“Saya ingin berjumpa dengan dia”, kata Budi) makna kata ‘saya’
mengacu pada Budi.

Contoh lainnya :

1. “Bupati Tegalsari telah memutuskan akan membangun hunian


sementara untuk tempat tinggal para pendatang yang telah
mempunyai pekerjaan.” Kata “hunian” termasuk ke dalam
kata bermakna referensial. Arti dari kata “hunian” adalah
tempat tinggal atau kediaman yang dihuni.
2. “Di zaman modern ini, hampir semua pekerjaan dapat
dipersingkat menggunakan robot berbasis komputer.” Kata
“komputer” termasuk ke dalam kata bermakna referensial. Arti
dari kata “komputer” adalah alat elektronik otomatis yang
dapat digunakan untuk menghitung atau mengolah data secara
cermat sesuai dengan yang diinstruksikan, kemudian dapat
memberikan hasil pengolahan, serta dapat menjalankan sistem
multimedia.
3. “Tubuh anak itu tidak tahan terhadap serangan virus dan
bakteri karena tidak mempunyai antibodi.” Kata “antibodi”
termasuk ke dalam kata bermakna referensial. Arti dari kata
“antibodi” adalah zat yang dibentuk dalam darah dan berfungsi
untuk memusnahkan bakteri atau virus.

e) Makna Non-referensial

Makna non-referensial merupakan lawan dari makna


referensial. Makna non-referensial merupakan makna pada kata
yang tidak memiliki acuan di dunia nyata. Sebagai contoh kata ‘dan’,
‘atau’, ‘karena’, ‘maka’, ‘sebab’, ‘jika’. Kata kata tersebut tidak
memiliki acuan yang jelas.
Contoh lainnya :

1. “Aku mengambil keputusan menikah untuk menyenangkan


hati mereka, kedua orang tuaku”, ucap Santi lirih. Kata “aku”
mengacu pada Santi, sedangkan kata “mereka” mengacu pada
orang tua Santi. Kata “aku” dan “mereka” termasuk ke dalam
kata bermakna non referensial.
2. “Aku berfoto tepat di depan Monas, di sini aku merasa sangat
kecil”. Kata “di sini” termasuk ke dalam kata bermakna non
referensial. Kata tersebut secara khusus mengarah ke “wilayah
sekitar Monas”.

f) Makna Denotatif

Makna denotatif seperti yang telah kita ketahui merupakan


makna asli, makna asal, atau pun makna sebenarnya yang diimiliki
sebuah kata dan tidak memiliki makna tersembunyi lain di
dalamnya. Hampir sama dengan makna leksial, makna denotatif
mengacu pada makna yang ada pada kamus atau literatur bahasa
lain. Contoh kata ‘bunga’ memiliki artian denotatif tanaman bunga
yang tumbuh di taman.

Contoh lain makna denotatif:

(1) Sikat gigi merek X diklaim oleh produsennya sebagai sikat


gigi yang direkomendasikan oleh empat dari lima dokter gigi
di dunia.
(2) Noda rendang di bajuku sulit hilang meski telah aku rendam
semalaman dan aku sikat berkali – kali.
(3) Setiap pagi dan sore hari, ia rutin menyapu halaman
rumahnya.
(4) Sapu yang dibeli Dita di pasar tadi ternyata kualitasnya jelek,
buktinya baru dipakai beberapa jam ijuknya sudah lepas
kemana – mana.
(5) Sapu terbang hanya ada di dongeng – dongen sihir seperti
Harry Potter karangan J.K. Rowling.

g) Makna Konotatif

Makna konotatif merupakan kebalikan dari makna denotative.


Makna konotatif merupakan makna lain yang ditambahkan pada
sebuah kata yang berhubungan dengan nilai rasa seseorang atau
kelompok yang menggunakan kata tersebut. Misalnya, kata ‘kurus’,
‘ramping’, dan ‘kerempeng’ merupakan kata-kata yang bersinonim.
Kata ‘kurus’ mengacu pada keadaan tubuh seseorang yang lebih
kecil dari ukuran normal. Kata ‘ramping’ yang bersinonim dengan
kata ‘kurus’ memiliki konotasi positif, yaitu nilai yang
mengenakkan, atau dengan kata lain oerang akan senang apabila
dikatakan ramping. Sedangkan kata ‘kerempeng’ merupakan
sinonim kata ‘kurus’ yang memiliki makna konotatif negative, atau
orang akan merasa tidak senang atau tidak nyama jika dikatakan
kerempeng. Contoh lainnya kata ‘bunga’ yang berarti tanaman yang
cantik akan memiliki makna yang sama dengan kata ‘bunga’ pada
frasa ‘bunga desa’ yang memiliki arti gadis tercantik atau yang
menjadi incaran pemuda di suatu desa.

Contoh lain makna konotatif:

 Lagu ‘Gugur Bunga’ diciptakan untuk menghormati dan


mengenang jasa para bunga bangsa yang gugur di medan
(Artinya: Lagu ‘Gugur Bunga’ diciptakan untuk menghormati
dan mengenang jasa para pahlawan yang gugur di medan
perang.)
 Dia merupakan tangan kanan pimpinan organisasi tersebut,
sehingga kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. (Artinya:
Dia merupakan orang kepercayaan pimpinan organisasi
tersebut, sehingga kemampuannya tidak perlu diragukan lagi.)
 SMA 3 Jayakarsa menyapu bersih semua medali emas di ajang
Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun ini (Artinya: SMA 3
Jayakarsa memenangkan semua medali emas di ajang
Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun ini.)
 Ari berkeringat dingin menunggu giliran wawancara kerjanya
siang ini. (Artinya : Ari gugup menunggu giliran wawancara
kerjanya siang ini.)
 Rubah itu tertangkap tangan ketika akan memangsa telur –
telur ayam milik warga. (Rubah itu tertangkap langsung saat
kejadian ketika akan memangsa telur – telur ayam milik
warga.)

h) Makna Asosiatif

Makna asosiatif merupakan makna kata yang muncul karena


adanya hubungan kata tersebut dengan hal lain di luar bahasa. Misal
pada kata ‘hitam’ yang berasosiasi pada sesuatu yang jahat atau
negatif. Begitu pula dengan kata ‘putih’ yang berasosiasi dengan hal
hal yang suci, kebenaran, ataupun kebaikan.
Contoh lainnya :

 Andi memang anak kepala batu, bahkan orang tuanya saja


sudah menyerah untuk menasehatinya. (anak kepala batu =
anak yang keras kepala)
 Nasehat yang diberikan untuk Romi hanya akan masuk telinga
kanan keluar telinga kiri, ia tidak pernah mendengarkan
dengan serius setiap nasihat yang dilontarkan untuknya.
(masuk telinga kanan keluar telinga kiri = tidak didengarkan
dengan sungguh-sungguh)
 Bisnis Paytren Ustad Yusuf Mansyur kini telah menggurita,
banyak orang yang tertarik untuk bergabung ke dalamnya.
(menggurita = mempunyai banyak cabang)
 Pak Rudi tertangkap tangan KPK saat berusaha menyuap
pegawai pajak untuk memuluskan usahanya. (tertangkap
tangan = dipergoki dan ditangkap)
 Antrian pendaftaran pegawai CPNS mengular hingga ke
badan jalan dan mengakibatkan lalu lintas terganggu.
(mengular = memanjang)

i) Makna Istilah

Makna istilah merupakan kebalikan dari makna kata. Makna


istilah bersifat jelas, tidak meragukan, serta hanya digunakan pada
suatu bidang keilmuan ataupun kegiatan tertentu saja. Misal kata
‘lengan’ dan ‘tangan’ pada ilmu kedokteran, keduanya merupakan
bagian anatomi tubuh tang berbeda. Istilah ‘lengan’ mengacu pada
bagian tubuh mulai dari bagian siku sampai ke pangkal bahu,
sedangkan istilah ‘tangan’ mengacu pada bagian tubuh mulai dari
jari jari tangan hingga ke siku.

j) Makna Idiom

Makna idiom atau makna idiomatic merupakan makna kata


yang terdapat pada kelompok kata tertentu, di mana makna yang
terbentuk berbeda dengan makna asli dari kata tersebut. Asal usul
kemunculan makna kata tersebut atau frasa tersebut tidak diketahui.
Pengertian makna idiom hampir mirip dengan makna konotasi.
Sebagai contoh pada frasa ‘ringan tangan’ bukan berarti tangan
tersebut harus memiliki bobot yang ringan, melainkan penggunaan
frasa tersebut mengacu pada sifat ‘yang suka menolong’.
k) Makna Peribahasa

Makna peribahasa memiliki pengertian yang mirip dengan


makna idiom, yakni makna yang timbul karena pembentukan frasa
atau kumpulan kata tertenu. Bedanya dengan makna idiom, makna
peribahasa memiliki asal usul yang masih dapat ditelusuri. Contoh
makna peribahasa terdapat pada kalimat ‘dua orang tersebut bagai
anjing dan kucing’, ‘frasa anjing dan kucing’ memiliki makna ‘tidak
pernah akur’, makna ini masih berasosiasi bahwa hewan kucing dan
anjing pada kenyataannya memang selalu berkelahi ketika bertemu.
Contoh lain pada frasa ‘selebar daun kelor’, frasa tersebut bermakna
sempit atau kecil, makna ini berasosiasi pada kenyataan jika daun
kelor merupakan daun yang kecil.

l) Makna Afektif

Makna afektif merupakan makna yang berhubungan dengan


perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau objek yang
dibicarakan. Makna afektif akan lebih terlihat perbedaannya dengan
makna lain bila digunakan secara lisan. Sebagai contoh kalimat
‘mohon tenang’ dan ‘tutup mulut kalian’ memiliki pesan yang sama,
yakni meminta seseorang untuk diam. Namun, kalimat ‘mohon
tenang’ memiliki makna yang terdengar halus, sedangkan kalimat
‘tutup mulut kalian’ memiliki makna dengan konteks yang lebih
kasar.

m) Makna Refleksi

Makna refleksi merupakan makna yang muncul pada saat


penutur merespon apa yang dia lihat. Makna refleksi akan lebih
ekspresif ketika digunakan secara lisan, contoh makna refleksi
seperti: aduh, wah, oh, astaga, ah, yah.

D. Macam-Macam Hubungan Antara Makna Kata


Setiap kata atau gabungan beberapa kata memiliki makna yang berbeda.
Makna ini tergantung pada pengucapan, penyusunan kata, atau penggunaan
kata dalam suatu kalimat. Berbagai makna kata yang timbul ini kemudian
dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan hubungannya masing-
masing. Macam-macam hubungan makna kata tersebut adalah sinonim,
antonim, polisemi, homonim, hiponim dan hipernim, homograf, homofon, dan
metonimia. Agar lebih memahami setiap hubungan makna kata tersebut,
berikut disajikan penjelasan yang disertai dengan contoh pada masing-masing
jenisnya.

1. Sinonim

Sinonim seringkali disebut sebagai persamaan kata atau padanan


kata. Definisi sinonim sendiri adalah kata yang memiliki bentuk yang
berbeda akan tetapi mempunyai kemiripan arti. Kata-kata sinonim dapat
saling menggantikan satu sama lain. Contoh:

1. Target = Sasaran
2. Sukar = Sulit
3. Mempunyai = Memiliki
4. Ahli = Pakar
5. Agunan = Jaminan
6. Asa = Harapan
7. Bisa = Dapat
8. Daur = Siklus
9. Ekonomis = Hemat
10. Endemi = Wabah

2. Antonim

Antonim seringkali disebut dengan lawan kata. Hubungan makna ini


digunakan untuk menyatakan hubungan makna yang berlawanan terhadap
suatu kata. Contoh:

1. Abadi >< Fana


2. Aktual >< Basi
3. Anomali >< Normal
4. Deduksi >< Induksi
5. Gagal >< Berhasil
6. Bersih >< Kotor
7. Besar >< Kecil
8. Macet >< Lancar

3. Polisemi

Polisemi merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan kata


yang memiliki banyak makna. Makna ini bergantung pada konteks kalimat
atau pola kalimat. Contoh:
No. Kata Kalimat Makna

1. Kepala Kepala ayah terasa sakit sejak tadi pagi. Bagian tubuh

Warga menuntut pertanggungjawaban


kepala desa atas korupsi yang Pemimpin desa
dilakukannya.

Budi memang anak yang kepala batu. Sebagai kiasan

Bagian pada
2. Akar Kelapa memiliki akar serabut.
tumbuhan

Akar keributan ini hanyalah karena salah Awal mula,


paham. penyebab

Kakiku sudah mengakar karena Kaku, susah


menunggumu sedari tadi pagi. bergerak

Kakak membutuhkan transfusi darah


3. Darah Arti sebenarnya
golongan AB secepatnya.

Sebagai
Ayah berkata kita masih keturunan darah
ungkapan atau
biru.
kiasan

Adik selalu saja mengekor kemana ibu Mengikuti,


4. Ekor
pergi membuntuti

Aku tidak sengaja menginjak ekor kucing


Arti sebenarnya
itu.

Sebagai
Ekor mataku tidak pernah kedutan selama
ungkapan atau
ini.
kiasan
Konon, ibu hamil tidak diperbolehkan
5. Buah Arti sebenarnya
makan buah nanas.

Sebagai
Aku selalu menunggu buah tangan dari
ungkapan atau
ayah selepas pulang kantor.
kiasan

Mereka kini mendapat buah dari


Hasil
kekejaman mereka kepada anak yatim.

4. Homonim

Homonim diartikan sebagai kata yang memiliki penulisan dan


pengucapan yang sama akan tetapi maknanya berbeda. Perbedaan kata
homonim akan terlihat jelas jika sudah diaplikasikan dalam sebuah
kalimat. Contoh:

No. Kata Kalimat Makna

1. Bisa Setiap orang bisa sukses. Dapat

Bisa ular kobra sangat mematikan. Racun

Beruang lapar itu menyerbu


2. Beruang Hewan
perkemahan.

Andi kini menjadi orang yang


Kaya
beruang.

3. Hak Pendidikan adalah hak setiap anak. Milik

Rani berjalan pincang karena hak Bagian dari sepatu


sepatunya patah. wanita
Gito memperbaiki genting yang
4. Genting Atap rumah
bocor.

Ibu tidak pernah panik walaupun


Situasi gawat
dalam keadaan genting.

Harus ada selang antara waktu makan


5. Selang Jeda waktu
dan tidur.

Ayah mencari selang untuk Alat untuk


menyiram tanaman. menyalurkan air

5. Hiponim dan Hipernim

Hiponim dan hipernim saling berkaitan satu sama lain. Arti dari
hiponim adalah kata khusus, sedangkan hipernim adalah kata umum. Kata-
kata yang tergolong dalam hiponim terkandung dalam suatu kelompok
tertentu. Contoh:

No. Hipernim Hiponim

1. Mamalia sapi, kambing, kuda, kelinci

2. Reptil cicak, komodo, kadal, bunglon

3. Buah durian, nangka, mangga, anggur

4. Grup band ungu, slank, sheila on 7, wali

5. Peralatan elektronik TV, kulkas, radio, komputer


6. Homograf

Homograf berarti sama tulisan. Hal ini berasal dari kata “homo”
yang berarti sama, dan “graph” yang berarti tulisan. Homograf adalah
semua kata yang ejaannya sama akan tetapi berbeda pada pengucapannya.
Makna kata dalam homograf juga berbeda satu sama lain. Contoh:

No. Kata Makna 1 Makna 2

1. Apel Jenis buah Upacara

2. Tahu Jenis makanan Mengerti

3. Mental Kondisi kejiwaan Terlempar

4. Memerah Kata kerja Kata sifat menjadi merah

5. Teras Beranda rumah Inti

7. Homofon

Homofon diartikan sebagai kata yang mempunyai lafal yang sama


tetapi berbeda dalam hal ejaan dan maknanya. Hal ini sesuai dari asal
katanya yaitu “homo” yang berarti sama, dan “foni” yang
berarti bunyi. Contoh:

No. Pelafalan Kata Makna

1. Bang Bank lembaga keuangan

Bang Panggilan untuk kakak laki-laki

2. Sangsi Sangsi Ragu-ragu

Sanksi Hukuman
3. Jarum Jarum Alat Jahit

Djarum Merk Rokok

4. Tang Tang Alat penjepit

Tank Kendaraan perang

5. Masa Masa Waktu

Massa Ukuran berat benda

8. Metonimia

Metonimia sebenarnya merupakan salah satu jenis majas


perbandingan. Majas ini mengungkapkan sebuah benda atau barang hanya
dengan merk atau labelnya yang sudah terkenal di masyarakat.
Penggunaan metonimia sering ditemukan dalam kalimat. Contoh:

No. Kalimat Makna

1. Ayah pergi ke kantor naik Honda setiap pagi. motor

2. Ibu mencuci baju dengan Rinso. deterjen

Kakak rajin mengumpulkan uang agar bisa membeli


3. laptop
Apple.

4. Adik selalu minum Bendera setiap pagi. susu

maskapai
5. Garuda selalu terpercaya dari tahun ke tahun.
pesawat
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Bentuk dan Perubahan dalam makna bahasa bahwasanya sebagai hasil


asosiasi antara kata – kata yang di isolasikan (berdiri sendiri).
2. Satuan kebahasaan terdiri dari wacana, paragraf, kalimat, klausa, frasa,
kata, morfem, silabel, fonem, dan fona.
3. Perubahan makna kata terdapat 6 jenis perubahan arti, antara lain,
generalisasi, spesialisasi, ameliorasi, peyorasi, sinestesia, dan asosiasi.
4. Makna dari kata merupakan satuan terkecil dalam bahasa yang memiliki
arti atau makna. Jenis – jenis makna kata terdiri dari makna leksikal,
makna gramatikal, makna kontekstual, makna referensial, makna non-
referensial, makna denotatif, makna konotatif, makna asosiatif, makna
istilah, makna idiom, makna peribahasa, makna afektif, dan makna
refleksi.
5. Macam-macam hubungan antara makna kata adalah sinonim, antonim,
polisemi, homonim, hiponim dan hipernim, homograf, homofon, dan
metonimia
DAFTAR PUSTAKA

Baryadi, I. Praptomo. 2002. Dasar-Dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa.


Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli.
_________________. 2011. Morfologi dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Penerbit
Sanata Dharma.
Keraf, Gorys. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia
Widia Sarana Indonesia.
Kridalaksana, Harimurti. 1989. Pembentukan Kata dalam Bahasa
Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
___________________. 2008. Kamus Linguistik (Edisi 4). Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Purwoko, Herudjati. 2008. Discourse Analysis: Kajian Wacana bagi Semua Orang.
Jakarta: Penerbit Indeks.
Samsuri. 1988. Berbagai Aliran Linguistik Abad XX. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,
Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sugono Dendy (Pemred). 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi
Keempat). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wijana, I Dewa Putu. 2009. Berkenalan dengan Linguistik. Yogyakarta: Pustaka
Araska.

Hidayat, Rosyid. Makalah Perubahan Makna Kata.04 Oktober 2017.


http://gingsool.blogspot.co.id/2013/11/perubahan-makna-kata.html
Yatmono, Abdullah. Contoh frasa, klausa, dan kalimat yang benar.04 Oktober
2017.
https://gurubasaindo.blogspot.co.id/2016/08/contoh-frasa-klausa-dan-kalimat-
yang-benar.html
Fatimah, Loli. Fonem dan Grafem.04 Oktober 2017.
http://lolyfatimah.blogspot.co.id/2013/06/fonem-dan-grafem.html

Malik. 15 Contoh Makna Gramatikal dan Leksikan Lengkap


http://mengakujenius.com/15-contoh-makna-gramatikal-dan-leksikal-lengkap/

-makna-kata.html
Rosyid Hidayat